Anda di halaman 1dari 14

POLIEMBRIONI

TRI PURWA NINGRUM


BIOLOGI F 2018
18308141064 Biologi Perkembangan Tumbuhan
Poliembrioni

Poliembrioni merupakan peristiwa dimana dalam


satu biji terdapat lebih dari satu endosperm.
Peristiwa poliembrioni ini sering dijumpai pada
nangka, jeruk dan mangga (Hakim & Fauzi,
2008).
Pada biji poliembrioni terdapat embrio seksual
(embrio zigotik) dan embrio aseksual (embrio
nucellar).
POLIEMBRIONI

Braun (1859) mengelompokkan dalam empat kategori


kasus poliembrioni :
Peleburan dua atau lebih bakal biji,
Beberapa kantung embrio di nucellus dari bakal biji
yang sama,
Beberapa sel kantung embrio yang sama
berkembang menjadi embrio, dan
Pembelahan dari proembrio tersebut.
Peleburan dua atau lebih bakal biji

POLIEMBRIONI

Poliembrioni pada Eulophia epidendraea (sigaran proembrio)


Peleburan dua atau lebih bakal biji

Umumnya pada Gimnosperm (pada Angiosperm, umum pada anggrek)


Pada Eulophia epidendraea, ada 3 pemicu poliembrio:
Zygot membelah tak beraturan, sehingga menghasilkan massa sel sepanjang ujung
chalaza, pertumbuhan serentak membentuk banyak embrio.
Proembrio, memunculkan tunas-tunas kecil yang memungkinkan pertumbuhan
menjadi embrio.
Embrio yang memiliki sulur (filament) bercabang-cabang dan memungkinkan
tumbuh embrio.

TERBENTUK dari sel-sel dalam kantong embrio,


selain sel telur

Umumnya berasal dari sinergid (embrio bisa


haploid/diploid), Pada Aristolochia bracteata, Poa
alpina,& Sagittaria graminea, poliembrio dari 1 atau ke 2
sinergid yg telah dibuahi >1 tabung polen yg masuk.

Pembentukan embrio dari sel antipodal (sangat jarang).


Mis. Pada Paspalum crobiculatum, Ulmus americana, dll
(biasanya embrio gagal dewasa).
TERBENTUK >1 kantong embrio
dalam satu ovula SATU

Dari sel induk


Great Nature Fashion megaspora yang sama

DUA
Great
Nature
Dari dua atau lebih sel
Fashion
induk megaspora

TIGA

Dari sel-sel nuselar

Dendrophthoe neelghrrensis, (berasal dari 2 sel induk megaspora)


AKTIVASI SEL-SEL SPOROFITIK PADA OVUL = EMBRIO
ADVENTIF
Embrio berasal dari jaringan maternal sporofitik (nuselus /
integumen). Contoh: Citrus, Mangifera (C.grandis; C limonà
monoembrio) C. microcarpa, C. reticulata, C.unshiu(tercatat biji 40
embrio).
Embrio nuselar dapat dibedakan dari embrio zigotik (posisinya di
daerah lateral kantong embrio; bentuk tidak teratur; suspensor
kurang berkembang).
Embrio dari integumen: pd Euonymus (berasal dari sel –sel
epidermal & subepidermal di daerah mikropilar/kalazal). Dendrophthoe neelghrrensis (embrio nuselar)
KLASIFIKASI POLIEMBRIONI

POLIEMBRIONI SPONTAN POLIEMBRIONI INDUKSI


Ernst (1901;1910) membedakan poliembrioni
spontan menjadi

Poliembrioni Sejati
Dua atau lebih embrio terdapat dalam kantong lembaga.
Embrio berasal dari zigot/embrio yang sudah ada (Eulophia,
Vanda), dan sinergid (Sagittaria) dari sel antipoda (Ulmus)
atau dan nuselus/integumen (Citrus, Spiranthes).

Poliembrioni Palsu
Embrio terdapat dalam kantong embrio satu ovulum yang
sama atau pada plasenta

POLIEMBRIONI SPONTAN
APOMIKSI

Siklus normal seksual (Amphimiksis). Melibatkan 2 proses:


Miosis: pembelahan sel sporofitik diploid --> 4 sel haploid.
Great Nature Fashion Fertilisasi (syngami): fusi gamet jantan dan gamet betina.

Menurut Maheswari (1950) apomiksis pada tumbuhan Angiospermae dibedakan menjadi :


Great
Nature
Apomiksis tidak berulang : sel induk megaspora mengalami pembelahan meiosis secara
Fashion
normal, terbentuk embryo sac yang haploid. Embrio mungkin bberasal dari sel telur yang
tidak dibuahi (parthenogenesis haploid) atau berasal dari sel lain pada gametofit
Apomiksis berulang : Kantong embrio berasal dari arkesporium (apospori generatif) atau
bagian lain dan nuselus (apospori somatik). Semua inti sel yang menyusun kantong
embnio bersifat diploid. Embrio berasal dan sel telur yang tidak dibuahi (parthenogenesis
diploid) atau dan sel lain pada gametofit (apogami diploid).
Apomiksi (reproduksi aseksual): tidak melibatkan miosis &
syngami. 2 kategori apomiksi:
Reproduksi vegetatif: perbanyakan dengan bagian
tanaman selain biji propagul
Agamospermi: perbanyakan dengan biji, tetapi embrio
tidak hasil miosis & syngami.
Agamospermi

Embrio adventif
berasal dari sel-sel diploid sporofitik
(nuselus/integumen).Kantong embrio seksual berkembang
dgn normal, embrio zigotik berkembang/degenerated,
bersama embrio apomiksi (Citrus, Orchidaceae, dll)

DIPLOSPORI
sel induk megaspora (MMC) berkembang menjadi kantong embrio (tdk tereduksi), embrio
terbentuk dari telur yg tidak dibuahi (partenogenesis)/dari sel-sel lainnya pada kantong
embrio (apogameti). Contoh: Ixerisdentata (triploid), Taraxcum (poliploid).

APOSPORI
sel somatik nuselus secara langsung membentuk kantong embrio diploid, & telur diploid
secara partenogenesis berkembang jadi embrio. Contoh: Hieracium sp.
DAFTAR PUSTAKA
Bhojwani, S.S. dan Bhatnagar, S.P. 1979. The Embriology of Angiosperm. New Delhi: Vikas Publishing House PNT LTD
Castle, W.S. 1981. A Riview of Citrus Seed Biology and Its Relationship to Nursery Practicec. Proc. Int. Soc. Citriculture. 1 : 113 – 119.
Hakim, L., & Fauzi, M. A. (2008). Pengaruh Ukuran Kotiledon TerhadapPertumbuhan Semai Ulin (Eusyderoxylon zwageri T. Et B). Jurnal Pemuliaan Tanaman
Hutan 2 (1), 2-5.
Krezdorn, A.H. 1985. Polyembriony Apomixis-Nucellar Embriony. Paper Dep. Fivit Crop. University of Florida.7.p.
Maheswari, P., and S.R. Swamy. 1957. Poliembriony and In-vitro Culture of Embryos of Citrus and Mangivera. Int.The Indiana. J. Hort. 15 : 275 – 282.
Pichot, C., Fady, B., & Hochu, I. (2000). Lack of mother tree alleles in zymograms of Cupressus dupreziana A. Camus embryos. Ann. For. Sci. 57: 17–22.
Simbolon, H., and G. Panggabean. 1986. Some Aspects of Citrus With Special Reference ti Indonesia. Bul. Hort. 14 (1) 32 – 40.
Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Rajawali Press. Jakarta. 238 h.
Yudono, P, (1995). Ilmu Biji. Dikat Kuliah Fak. Pertanian UGM.Yogyakarta