Anda di halaman 1dari 84

EMBRYO RESCUE SECARA IN VITRO DAN

PRODUKSI BIBIT AREN (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.)

MIRZA ARSIATY ARSYAD

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Embryo Rescue secara In
Vitro dan Produksi Bibit Aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.) adalah benar
karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam
bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di
bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.

Bogor, Oktober 2013

Mirza Arsiaty Arsyad


NIM A253100061
RINGKASAN

MIRZA ARSIATY ARSYAD. Embryo Rescue secara In Vitro dan Produksi


Bibit Aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.). Dibimbing oleh SUDARSONO,
AGUS PURWITO dan DINY DINARTI.

Aren merupakan tanaman asli kepulauan Indo-Melayu yang termasuk dalam


famili Arecaceae (palmaceae). Aren memiliki peran penting sebagai tanaman
penghasil bahan bakar nabati (BBN), sehingga dibutuhkan penelitian dan
pengembangan dari tanaman ini. Penyediaan bahan tanam merupakan kendala
utama dalam pengembangan budidaya dan pemuliaan tanaman aren.
Permasalahan penyediaan bahan tanam (bibit aren) di Indonesia disebabkan oleh
adanya dormansi benih dan penggunaan benih matang fisiologi sebagai bahan
tanam. Teknik embryo rescue dapat dijadikan terobosan untuk memperoleh bibit
aren dalam waktu relatif singkat. Tujuan dari penelitian ini adalah: mengevaluasi
1) pengaruh umur embrio zigotik dan efektifitas dua komposisi media dasar
terhadap kemampuan berkecambah dan perkembangan embrio zigotik pada
embryo rescue aren, 2) pengaruh pra-perlakuan dan penambahan ZPT (sitokinin),
dan 3) pengaruh penambahan kombinasi ZPT (auksin dengan atau tanpa sitokinin)
terhadap pertumbuhan embrio zigotik secara in vitro dan produksi bibit aren.
Percobaan pertama, embrio zigotik yang diisolasi dari buah muda dan tua
aren dikulturkan dalam media Y3 atau WPM tanpa penambahan ZPT. Percobaan
kedua sub-unit pertama, embrio zigotik muda dengan atau tanpa pra-perlakuan
dikulturkan dalam media Y3 dengan penambahan sitokinin berupa air kelapa
(100, 150 dan 200 ml/l) atau BAP (5 ppm). Percobaan kedua sub-unit kedua,
penambahan NAA (1 atau 5 ppm), kinetin (5 ppm), BAP (5 ppm), kombinasi
NAA (1 atau 5 ppm)+kinetin (1 atau 5 ppm), atau NAA (1 atau 5 ppm)+BAP (5
ppm) dalam media Y3 untuk regenerasi planlet.
Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa viabilitas dan perkecambahan
embrio zigotik muda (92%) lebih baik dibandingkan embrio zigotik tua (72%). Di
lain pihak, komposisi media dasar (Y3 atau WPM) tidak berpengaruh nyata
terhadap perkecambahan embrio. Pada beberapa embrio zigotik yang dikulturkan
memperlihatkan abnormalitas perkembangan haustorium dan apokol sebesar 32%
dan 26%. Persentase planlet yang berasal dari embrio zigotik pada percobaan ini
berkisar 6%-25%.
Hasil dari percobaan kedua menunjukkan bahwa penambahan ZPT sitokinin
(air kelapa atau BAP) tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan
embrio zigotik, sedangkan embrio zigotik muda dengan pra-perlakuan
menunjukkan pembentukan tunas dan akar terbaik. Penambahan ZPT (dengan
atau tanpa sitokinin) memberikan pengaruh positif pada panjang akar dari embrio
zigotik. Penambahan kombinasi NAA (5 ppm)+BAP (5 ppm) menghasilkan
jumlah planlet tertinggi. Planlet berhasil diregenerasi melalui embryo rescue dan
dipindah ke tanah.
Kata kunci : air kelapa, aren, auksin, embryo rescue dan sitokinin
SUMMARY

MIRZA ARSIATY ARSYAD. Embryo Rescue through In Vitro


Technique and Production of Sugar Palm (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.)
Seedlings. Supervised by SUDARSONO, AGUS PURWITO and DINY
DINARTI.

Sugar palm is a member of Arecaceae (palmaceae) originated from Indo-


Malayan archipelago. Sugar palm may have important position as biofuel
producing crop. Hence, research and development of sugar palm need to be done.
Availability of planting material is one of significant constraints to develop sugar
palm for cultivation and breeding program. The main constraints of planting
material (sugar palm seedlings) in Indonesia are the seed dormancy and the use of
physiologically mature seed as planting material. Embryo rescue technique can be
applied as a breakthrough to obtain sugar palm seedlings in a relatively short time.
The objectives of the experiment were to evaluate: 1) the effect of zygotic embryo
age and basal medium composition on germination and development of rescued
zygotic embryo of sugar palm, 2) the effect of pre-treatment and cytokinins and 3)
the effect of PGR combination (auxin with or without cytokinin) in vitro embryo
culture and seedlings production of sugar palm.
In exp. 1, zygotic embryos isolated from immature and mature sugar palm
fruit were cultured on Y3 or WPM medium without of plant growth regulators. In
exp. 2. sub-unit 1, immature zygotic embryos with or without pre-treatment were
cultured onto Y3 medium containing cytokinin in the form of coconut water (100,
150 and 200 ml/l) or BAP (5 ppm). In exp. 2. sub-unit 2, addition of NAA (1 or 5
ppm), kinetin (5 ppm), BAP (5 ppm), a combination of NAA (1 or 5 ppm)+kinetin
(5 ppm), or NAA (1 or 5 ppm)+BAP (5 ppm) in Y3 medium for plantlet
regeneration.
The result showed that the viability and germination of immature zygotic
embryo (92%) was better than the mature one (72%). On the other hand, the
composition of the basal medium (Y3 or WPM) did not significantly affect
embryo germination. Some of the culture zygotic embryo developed abnormal
development of haustorium and cotyledonary petiole, at 32% and 26%,
respectively. The percentage of planlets from zygotic embryo in this experiment
range from 6%-25%.
The results showed that cytokinin (coconut water or BAP) did not affect
growth of the rescued zygotic embryo, whereas immature embryo with pre-
treatment led to the highest shoot and root formations, respectively. On the other
hand, addition of PGR (auxin with or without cytokinin) showed positive effects
on length of root from the zygotic embryos. A combination of NAA (5
ppm)+BAP (5 ppm) gave the highest number planlets. The plantlet of sugar palm
were successfully regenerated from rescued embryos and transferred into soil.
Keywords : auxin, coconut water, cytokinin, embryo rescue and sugar palm
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2013
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
EMBRYO RESCUE SECARA IN VITRO DAN
PRODUKSI BIBIT AREN (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.)

MIRZA ARSIATY ARSYAD

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Dewi Sukma, SP. M.Si.
Judul Tesis : Embryo Rescue secara In Vitro dan Produksi Bibit Aren (Arenga
pinnata (Wurrnb) Merr.)
Nama : Mirza Arsiaty Arsyad
NIM : A253100061

Disetujui oleh

Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M .Sc.

Ketua

Dr. Ir. A Dr. Ir. Diny Dinarti, M.Si


Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana


Pemuliaan dan Bioteknologi
Tanaman

Dr. Ir. Trikoesoem~yas, M.Sc.

Tanggal Ujian: 25 Juli 2013 Tanggal Lu1us: o4 OCT 2013


Judul Tesis : Embryo Rescue secara In Vitro dan Produksi Bibit Aren (Arenga
pinnata (Wurmb) Merr.)
Nama : Mirza Arsiaty Arsyad
NIM : A253100061

Disetujui oleh

Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M.Sc.


Ketua

Dr. Ir. Agus Purwito, M.Sc. Agr. Dr. Ir. Diny Dinarti, M.Si
Anggota Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana


Pemuliaan dan Bioteknologi
Tanaman

Dr. Ir. Trikoesoemaningtyas, M.Sc. Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr.

Tanggal Ujian: 25 Juli 2013 Tanggal Lulus:


PRAKATA
Bismillaahirrahmaanirrahiimi
Alhamdulillah, puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas segala
pertolongan, berkah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian
dan penulisan tesis yang berjudul “Embryo Rescue secara In Vitro dan Produksi
Bibit Aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.)” sebagai syarat memperoleh gelar
Magister Sains pada Sekolah Pascasarjana di Institut Pertanian Bogor.
Penulis menyampaikan jazakumullahu khairan katsira‟ kepada berbagai pihak
yang telah memberikan bantuan, motivasi, bimbingan dan doa selama kegiatan
penelitian dan penulisan tesis, serta selama penulis menempuh masa studi di IPB:
1. Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M.Sc, Dr. Ir. Agus Purwito, M.Sc.Agr dan Dr. Ir. Diny
Dinarti, M.Si. selaku komisi pembimbing yang telah meluangkan waktu,
memberikan saran, bimbingan serta arahan kepada penulis dalam melakukan
penelitian ini.
2. Dr. Ir. Trikoesoemaningtyas, M.Sc. selaku Ketua Mayor Pemuliaan dan
Bioteknologi Tanaman.
3. Dr. Dewi Sukma, SP. M.Si. selaku penguji pada ujian tesis.
4. Seluruh staf pengajar yang telah mencurahkan ilmunya selama menempuh
pendidikan.
5. Ayahanda H. M. Arsyad B. dan ibunda Hj. Nurhayati Dunuyaali, terima kasih
atas segala doa, bantuan moril dan kasih sayang yang diberikan.
6. Kepada seluruh keluarga besar H. Dunuyaali, terima kasih atas motivasi dan
doanya.
7. Kepada sahabat-sahabatku yang telah bersama dari awal masa studi penulis,
terima kasih atas kebersamaan, persahabatan, bantuan serta motivasi yang
diberikan.
8. Kepada rekan-rekan di Laboratorium Biologi Molekuler Tanaman dan
Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman IPB angkatan 2010, atas persahabatan,
kebersamaan dan bantuannya.
9. Kepada semua pihak yang turut membantu dalam penelitian ini tetapi tidak
dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas bantuan dan kerja samanya.
Penulis mendedikasikan tesis ini kepada orang tua tercinta Ayahanda H. M.
Arsyad B. dan Ibunda Hj. Nurhayati Dunuyaali, serta tante tersayang Hj. Husnah
Dunuyaali. Akhirnya dengan segenap kerendahan hati, penulis berharap semoga
hasil penelitian yang tertuang dalam tesis ini dapat memberikan manfaat bagi para
pembacanya.

Bogor, Oktober 2013

Mirza Arsiaty Arsyad


DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL xviii
DAFTAR GAMBAR xix
DAFTAR LAMPIRAN xx
GLOSARIUM xxi
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 3
Manfaat Penelitian 3
Alur Penelitian 3
2 TINJAUAN PUSTAKA 5
Penyebaran dan Morfologi Aren 5
Potensi dan Eksplorasi Aren 9
Kultur Jaringan Palma 10
Kultur Embrio (Embryo Rescue) 11
Zat Pengatur Tumbuh 12
3 Umur Embrio dan Jenis Media Dasar Berpengaruh pada
Keberhasilan Embryo Rescue Aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.)
secara In Vitro 14
Abstrak 14
Pendahuluan 15
Bahan dan Metode 16
Hasil dan Pembahasan 18
Simpulan 28
Saran 28
4 Penambahan Zat Pengatur Tubuh dan Pra-Perlakuan Meningkatkan
Keberhasilan Embryo Rescue Aren secara In Vitro 29
Abstrak 29
Pendahuluan 29
Bahan dan Metode 31
Hasil dan Pembahasan 33
Simpulan 46
Saran 46
5 PEMBAHASAN UMUM 47
6 SIMPULAN DAN SARAN 49
Simpulan 49
Saran 49
DAFTAR PUSTAKA 50
RIWAYAT HIDUP 61

DAFTAR TABEL
Halaman
1. Perbandingan produksi bio-etanol dari beberapa bahan baku 1

2. Pengaruh umur embrio zigotik aren dan jenis media dasar


terhadap persentase pembentukan apokol
(%) pada 6 MST 21

3. Uji Kruskal-Wallis bentuk dan warna apokol aren pada 6 MST 24

4. Rekapitulasi persentase bentuk dan warna apokol (%) pada 6 MST 24

5. Uji Kruskal-Wallis bentuk dan warna haustorium aren pada 6 MST 26

6. Rekapitulasi persentase bentuk dan warna haustorium (%)


pada 6 MST 26

7. Persentase planlet aren (%) pada 24 MST 28

8. Rekapitulasi interaksi penambahan sitokinin dan


pra-perlakuan terhadap seluruh peubah pada 12 MST 39

9. Penambahan ZPT (sitokinin) dan pra-perlakuan terhadap


Rata-rata panjang tunas dan akar aren pada 12 MST 39

10. Penambahan ZPT (sitokinin) dan pra-perlakuan terhadap


rata-rata panjang tunas dan akar aren (cm) pada 12 MST 40

11. Penambahan ZPT (auksin dengan dan tanpa sitokinin) terhadap


persentase apokol aren (%) pada 12 MST 41

12. Penambahan ZPT (auksin dengan dan tanpa sitokinin) terhadap


persentase bertunas dan berakar aren (%) pada 12 MST 41

13. Penambahan ZPT (auksin dengan dan tanpa sitokinin) terhadap


rata-rata panjang tunas dan akar aren (cm) pada 12 MST 42
14. Planlet aren siap aklimatisasi dan transplanting (%)
hasil dari percobaan penambahan sitokinin dan
pra-perlakuan (32 MST) 45

15. Planlet aren siap aklimatisasi dan transplanting (%),


hasil dari percobaan penambahan ZPT (auksin dengan atau
tanpa sitokinin) (32 MST) 46

DAFTAR GAMBAR

Halaman
1 Bagan alur penelitian embryo rescue secara in vitro dan
produksi bibit aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.) 4

2. Pohon aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.) 5

3. Tandan bunga betina (atas) dan tandan bunga jantan (bawah) 7

4. Irisan melintang buah aren (atas) dan biji aren (bawah) 8

5. Tipe perkecambahan benih aren 9

6. Sumber eksplan. Buah muda (a), buah tua (b),


embrio dan endosperma (c), embrio muda (d),
dan embrio tua (e) 16

7. Kecambah aren (kiri), haustorium (a), apokol (b).


Embrio aren (kanan), dan bagian basal embrio (c) 19

8. Bentuk apokol, normal (a) dan abnormal (b).


Warna apokol, putih (c), kuning kehijauan (d),
cokelat muda dan putih (e) dan cokelat (f) 23

9. Bentuk haustorium, normal (a) dan abnormal (b).


Warna haustorium (c-g), putih (c), kuning kehijauan (d),
cokelat dan putih (e), cokelat muda (f) dan cokelat (g) 25

10. Planlet aren (24 MST) berasal dari embrio muda yang
dikulturkan dalam media WPM 27

11. Planlet aren (kiri), pembentukan tunas tanpa akar (a).


Kecambah aren (kanan), apokol (b), akar (c),
dan pembengkakan pada apokol (d). 34

12. Tahapan keluarnya tunas dari apokol. celah pada apokol (a),
celah melebar (b), tunas mulai keluar dari apokol (c),
tunas telah keluar dari apokol (d), dan daun baru telah terbentuk (e) 35
13. Planlet aren siap aklimatisasi (32 MST) 43

14. Planlet dalam botol kultur (12 MST) (a), planlet (12 MST) (b),
planlet siap diaklimatisasi (32 MST) (c), planlet diaklimatisasi (d-e),
planlet siap dipindah ke tanah (f), dan bibit aren (g) 44

15. Bibit aren (48 MST) hasil embryo rescue yang dikulturkan
dalam media dengan penambahan ZPT (auksin dengan atau
tanpa sitokinin) 45

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Komposisi air kelapa 59

2. Komposisi media Y3 (Eeuwens 1976 dan vitamin dari


Morel dan Wetmore 1951) 60

3. Komposisi media WPM (Brent Mc Cown dan Greg Lloyd 1981) 60


GLOSARIUM

Apokol : Bagian kecambah tempat berkembangnya radikula dan


plumula pada aren

BSP : Bulan setelah polinasi

Endosperma : Jaringan nutrisi pada biji (albumen)

Eksplan : Jaringan yang diambil dari tempat asalnya dan ditransfer ke


media buatan untuk pertumbuhan atau pemeliharaan

Embrio zigotik : Embrio hasil fertilisasi antar gamet jantan dengan betina

Haustorium : Struktur pada bagian embrio yang berfungsi melakukan


penetrasi pada jaringan endosperma untuk mengambil
makanan

HSP : Hari setelah polinasi

MST : Minggu setelah tanam

Perkecambahan : Munculnya tunas dan akar dari benih/biji setelah melewati


fase dormansi

Planlet : Tanaman yang dipelihara dalam botol kultur atau secara in


vitro

Planlet lengkap : Planlet yang memiliki daun dan akar

Planlet tunas : Planlet yang hanya dilengkapi dengan tunas tanpa adanya
akar

Plumula : Kotiledon pada tanaman rumput-rumputan dan tanaman


monokotil lainnya yaitu daun yang sangat termodifikasi
terdiri dari skutelum dan koleoptil
1

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sumber energi utama di Indonesia saat ini berasal dari bahan bakar fosil
yaitu minyak bumi dan batubara. Kebutuhan energi ini akan terus meningkat
seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi di
Indonesia. Ditjen Migas melaporkan tahun 2010 penduduk Indonesia
mengkonsumsi 388.241 ribu barel bahan bakar minyak (BBM) dan terus
mengalami peningkatan setiap tahun. Peningkatan kebutuhan ini berbanding
terbalik dengan ketersedian sumber energi karena bahan bakar fosil bersifat tidak
dapat diperbaharui. Terbukti, sejak tahun 2004 hingga 2012 cadangan minyak
bumi Indonesia terus mengalami penurunan sebesar 1.2 miliar barel (Ditjenmigas
2010). Jika hal ini dibiarkan terjadi terus-menerus maka dikhawatirkan beberapa
tahun mendatang Indonesia akan mengalami krisis energi. Oleh karena itu,
diperlukan suatu sumber energi alternatif yang dapat menggantikan peran bahan
bakar fosil sebagai sumber bahan bakar utama.
Salah satu sumber energi alternatif yang dapat dikembangkan adalah energi
yang berasal dari bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel. Penggunaan BBN telah
diatur dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 1 tahun 2006, tentang
penyediaan dan pemanfaatan BBN sebagai bahan bakar lain serta Keputusan
Presiden Republik Indonesia No. 10 tahun 2006 tentang pengembangan BBN
untuk percepatan pengurangan kemiskinan dan pengangguran. BBN sangat
potensial untuk dikembangkan karena sumber energi ini bersifat terbarukan.
Selain itu, Indonesia sebagai negara agraris memiliki berbagai sumber daya alam
yang dapat dieksplorasi untuk mengembangkan BBN. Menurut BPPP, Indonesia
memiliki berbagai jenis tanaman penghasil minyak yang dapat diolah menjadi
BBN, di antaranya: kosambi (Schleichera oleosa Merr.), nyamplung
(Calophyllum inophyllum L.), wijen (Sesamum indicum L.), kemalakian (Croton
tiglium), jarak kepyar (Ricinus comunis L.), bunga matahari (Helianthus annus
L.), kemiri minyak (Aleurites trisperma Blanco), kelapa (Cocos nucifera L.), sagu
(Metroxylon sago) dan aren (Arenga pinnata Merr.). Tanaman yang akan
dikembangkan sebagai sumber BBN sebaiknya bukan berasal dari tanaman
pangan untuk menjaga kestabilan pangan nasional.

Tabel 1. Perbandingan produksi bio-etanol dari beberapa bahan baku


Parameter Singkong Molases Nira Aren
Harga Pokok Produksi
6.500 6.000 6.375
(Rp/l)
Biaya Proses (Rp/l) 1.200 1.750 2.455
Biaya Bahan Baku (Rp/l) 4.800 4.250 3.920
Perbandingan
1 l = 6 kg 1 l = 4 kg 1 l = 14 l
(Bio-etanol = Bahan baku)
Produksi Bahan Baku/ha 35 ton/tahun 3.2 ton/tahun 957.000 l/7 tahun
Produksi Bio-etanol/ha 5.800 l/tahun 800 l/tahun 68.350 l/7 tahun
Sumber : Tenda et al. (2011)
2

Aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.) merupakan tanaman potensial yang


berasal dari kepulauan Indo-Melayu dan menyebar hingga ke seluruh wilayah
Indonesia. Aren dapat ditemukan di sebagian besar wilayah tropis Asia Tenggara
dan Asia Selatan (Mogea et al. 1991). Tanaman yang termasuk dalam famili
Arecaceae (Palmaceae) ini dilaporkan memiliki nilai ekonomi tinggi yang
berpotensi untuk dikembangkan (Effendi 2010). Sebagai multiple purpose tree,
hasil aren yang bernilai ekonomi tinggi adalah nira (BPPP 2009; Sangian dan
Tongkukut 2011), pati (Alam dan Saleh 2009), ijuk (Mogea et al. 1991), serat
(Ishak et al. 2011) serta buahnya (Siregar 2005). Di samping itu, aren juga dapat
dikembangkan dalam sistem agroforestri (Solikin 2012). Nira yang dipanen dari
tandan bunga jantan merupakan bahan baku BBN yang ramah lingkungan
(Effendi 2010). Produksi nira untuk setiap pohon dapat mencapai 15 l/hari dengan
rendemen gula 12% dan kadar etanol 70-90% (BPPP 2009; Effendi 2010). Tenda
et al. (2011) menyatakan penggunaan nira aren sebagai bahan baku BBN juga
sangat ekonomis dibandingkan dengan sumber bahan baku BBN utama lainnya
yaitu singkong dan molases tebu (Tabel 1). Ditinjau dari segi pemanfaatannya
maka aren termasuk tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan lebih luas
sebagai tanaman penghasil BBN.
Tahap awal pengembangan aren sebagai tanaman penghasil BBN adalah
meningkatkan jumlah populasi tanaman. Berdasarkan data Ditjenbun (2011) luas
areal tanaman aren tahun 2010 mencapai 66.309 ha dan pendataan 2011
mengalami peningkatan menjadi 66.441 ha. Pertanaman aren umumnya masih
belum dibudidayakan dan merupakan perkebunan rakyat (Tenda et al. 2010).
Aren tergolong ke dalam tanaman hepaxanthic palm yaitu tanaman yang memiliki
pertumbuhan terbatas (Mujahidin et al. 2003). Pertumbuhan yang terbatas serta
pemanfaatan tanaman secara terus-menerus dapat mengakibatkan kelangkaan
tanaman sehingga perlu dilakukan budidaya secara intensif dan ekstensif.
Perbanyakan tanaman aren dilakukan secara konvensional melalui benih.
Perbanyakan melalui teknik ini membutuhkan waktu 1-12 bulan atau bahkan
mencapai 24 bulan sebagai akibat adanya dormansi benih. Dormasi benih aren
diakibatkan oleh peningkatan kandungan lignin dan tanin pada kulit benih
(Widyawati et al. 2009) dan adanya inhibitor perkecambahan (asam absisat) pada
kulit serta endosperma aren (Asikin dan Puspitaningtyas 2000). Upaya pematahan
dormansi dilakukan dengan berbagai metode, diantaranya: secara mekanis/fisik
(Saleh 2004; Rofik dan Murniati 2008), kimia (Sirait 2010; Saleh 2003), media
tanam (Usman 2006) dan pencahayaan (Saleh dan Wardah 2010). Selain
dormansi, kendala lain yang ditemui pada perbanyakan bibit aren adalah
penggunaan benih matang fisiologis sebagai bahan tanam, sedangkan untuk
pematangan benih membutuhkan waktu 36 bulan. Penelitian berbagai tingkat
kematangan benih sebagai bahan tanam oleh Usman (2006) menunjukkan daya
berkecambah benih dari buah muda (kulit buah berwarna hijau) hanya sebesar
7.5%, sedangkan benih dari buah tua (matang fisiologis) mencapai 26.7%. Kedua
faktor tersebut menjadi penghambat perbanyakan bibit untuk budidaya dan
program pemuliaan tanaman aren di Indonesia.
Embryo rescue merupakan teknik kultur jaringan dengan menumbuhkan
embrio muda pada kondisi lingkungan optimal (Taji et al. 2002). Manfaat utama
dari penerapan teknik ini adalah memperpendek siklus pemuliaan tanaman karena
bahan tanam yang digunakan berupa embrio zigotik muda (Tamaki et al. 2011).
3

Pemanfaatan lain dari embryo rescue adalah memperoleh bibit tanaman dari hasil
persilangan antar spesies (Cisneros dan Tel-Zur 2010; Clarke et al 2006), benih
tanpa endosperma (Arsyad 2008), benih dengan endosperma abnormal (Sukendah
2008) dan benih dengan dormansi panjang (Kukharchyk dan Kastrickaya 2006).
Tujuan lain dari penerapan embryo rescue pada perbanyakan tanaman adalah
secara tidak langsung dapat memperpanjang umur produktif tanaman.
Keberhasilan regenerasi embrio zigotik muda pada kultur jaringan
dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya: umur embrio (Gebologlu et al.
2011), jenis media dasar (Muniran et al. 2008), jenis dan konsentrasi zat pengatur
tumbuh (ZPT) yang digunakan (Setiawan 2006), serta perlakuan embryo zigotik
(eksplan) sebelum dikulturkan dalam media perlakuan (Maciel et al. 2010).
Dengan demikian, untuk memperoleh informasi mengenai faktor-faktor penentu
keberhasilan embryo rescue aren, maka dilakukanlah penelitian embryo rescue
secara in vitro dan produksi bibit aren.

Tujuan Penelitian

Tujuan umum penelitian ini adalah mengembangkan protokol baku embryo


rescue untuk memproduksi bibit tanaman aren dalam waktu singkat. Tujuan
khusus dari penelitian ini adalah :
1. Mengevaluasi pengaruh umur embrio zigotik dan efektifitas dua komposisi
media dasar terhadap kemampuan berkecambah dan perkembangan embrio
zigotik pada embryo rescue aren.
2. Mengevaluasi pengaruh pra-perlakuan dan penambahan sitokinin dalam
media kultur in vitro terhadap perkembangan embrio zigotik muda melalui
embryo rescue dan pertumbuhan planlet aren.
3. Mengevaluasi pengaruh penambahan ZPT (auksin dengan atau tanpa
sitokinin) ke dalam media kultur in vitro terhadap perkembangan embrio
zigotik muda melalui embryo rescue dan pertumbuhan planlet aren.

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat :


1. Diperoleh informasi umur embrio dan jenis media dasar terbaik untuk
digunakan pada embryo rescue aren.
2. Diperoleh informasi penerapan ZPT terbaik dan pra-perlakuan untuk
digunakan pada embryo rescue aren.
3. Diperoleh protokol baku embryo rescue aren secara in vitro yang efektif dan
metode penyediaan bibit aren secara massal dalam waktu lebih singkat
dibandingkan melalui benih.

Alur Penelitian

Penelitian ini terbagi dalam dua percobaan utama. Percobaan pertama


adalah umur embrio dan jenis media dasar berpengaruh pada keberhasilan embryo
4

rescue aren dan percobaan kedua adalah penambahan ZPT dan pra-perlakuan
meningkatkan keberhasilan embryo rescue aren secara in vitro. Percobaan kedua
terdiri atas dua sub-unit percobaan, yaitu: 1) pengaruh pra-perlakuan dan
penambahan ZPT (sitokinin) terhadap embryo rescue aren, dan 2) pengaruh
penambahan ZPT (auksin dengan atau tanpa sitokinin) terhadap embryo rescue
aren. Bagan alur penelitian tersaji pada Gambar 1.

Buah Aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.)

Embrio Zigotik Aren

Percobaan 1
Umur Embrio dan Jenis Media Dasar
Berpengaruh pada Keberhasilan
Embryo Rescue Aren

Percobaan 2
Penambahan Zat Pengatur Tumbuh dan Pra-perlakuan
Meningkatkan Keberhasilan Embryo Rescue
Aren secara In Vitro

Pengaruh Pengaruh Penambahan


Pra-perlakuan dan ZPT (Auksin dengan
Penambahan ZPT atau Tanpa Sitokinin)
(Sitokinin) terhadap terhadap Embryo Rescue
Embryo Rescue Aren Aren

Planlet Aren

Aklimatisasi

Bibit Aren

Gambar 1. Bagan alur penelitian embryo rescue secara in vitro dan produksi bibit
aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.)
5

2 TINJAUAN PUSTAKA

Penyebaran dan Morfologi Aren

Ditinjau dari aspek botani, aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.) termasuk
dalam kelompok tumbuhan berkeping satu (monocotyledon) dari famili Arecaceae
(Palmaceae). Pohon aren ditemukan tumbuh di daerah Asia Tenggara sampai
kepulauan Ryuku di Jepang dan tersebar ke Vietnam hingga Himalaya bagian
timur. Aren juga ditemukan pada beberapa daerah di Afrika dan Kepulauan
Pasifik sebagai tanaman introduksi (Mujahidin et al. 2003). Sentral tanaman aren
di Indonesia berada pada provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Utara,
Sulawesi Selatan, Sumatera Utara dan Sumatera Barat (Soeseno 2000).
Pohon aren tumbuh soliter dan tidak berumpun seperti pohon palem lainnya
(Gambar 2). Batangnya ditutupi oleh serabut-serabut hitam kasar (ijuk) dan
pelepah daun tua tetap melekat memenuhi batang. Tinggi pohon sekitar 10-20 m
dan diameter batang 30-65 cm. Batang pohon disokong oleh akar serabut
berwarna hitam dan sangat kuat, tersebar hingga sepuluh meter atau lebih dengan
kedalaman tiga meter. Sistem perakaran tersebut sangat cocok untuk menahan
erosi pada lahan-lahan miring. Akar aren juga memiliki kemampuan untuk
mengikat air sehingga dapat juga ditanam pada daerah relatif kering (Mujahidin et
al. 2003).

Gambar 2. Pohon aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.). Sumber: Haynes (1998)
6

Daun aren termasuk tipe daun menyirip yaitu tipe daun majemuk dimana
semua anak daun tersusun pada perpanjangan ibu tulang daun (rakis). Bagian
bawah helaian daun terdapat lapisan lilin. Daun majemuk aren memiliki panjang
6-12 meter dan umumnya tersusun melingkar (spiral) ke arah kanan tetapi ada
juga yang ditemukan melingkar ke arah kiri. Satu tangkai daun majemuk terdiri
dari 80-155 helai anak daun yang tersusun menyirip ganjil. Panjang tangkai daun
1-2.5 meter. Bagian pangkal tangkai daun merupakan pelepah yang menempel
kuat melingkari batang. Satu pohon aren terdapat 3-6 daun majemuk. Jumlah daun
yang terbentuk dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tumbuhnya. Selama siklus
hidup pohon aren dapat menghasilkan sekitar 50 daun (Mujahidin et al. 2003).
Aren termasuk tanaman yang memiliki pertumbuhan terbatas (hepaxanthic
palm). Hepaxanthic palm ialah jenis palem yang pertumbuhan batang dan
pembentukan daun barunya (pertumbuhan vegetatif) terhenti pada periode waktu
tertentu dan dilanjutkan dengan pembentukan bunga, pematangan buah lalu mati.
Terhentinya pertumbuhan vegetatif ditandai oleh munculnya 2-3 daun terpendek
secara bersamaan di ujung batang tanaman. Hal ini merupakan indikator bahwa
pembentukan bunga (masa generatif) akan dimulai. Periode pembentukan bunga
sangat dipengaruhi oleh ketinggian lingkungan tumbuh. Pada dataran rendah
pembentukan bunga memerlukan waktu 5-7 tahun, sedangkan pada dataran tinggi
dapat mencapai 12-15 tahun (Mujahidin et al. 2003).
Aren tergolong dalam tanaman berumah satu (monoecious) (Gambar 3).
Bunga berbentuk malai yang diselubungi oleh beberapa seludang dan tersusun
dalam tandan. Tandan bunga muncul dari setiap pelepah atau bekas pelepah daun.
Posisi munculnya tandan bunga dimulai dari bagian atas tanaman ke arah bawah.
Bunga aren terdiri atas dua bunga jantan dan satu bunga betina. Bunga betina
terletak di antara bunga jantan. Seiring dengan perkembangannya, tandan bunga
betina dan tandan bunga jantan mengalami perubahan. Pada tandan bunga betina,
bunga jantan akan gugur dan menyisakan bunga betina setelah malai bunga keluar
dari seludang. Tandan bunga jantan memiliki dua tipe perkembangan yang terlihat
setelah malai bunga keluar dari seludangnya. Tipe pertama, perkembangan hanya
terjadi pada bunga jantan sedangkan tipe kedua bunga betina gugur setelah bunga
jantan mekar (Mujahidin et al. 2003).
Bunga betina tersusun dari untaian bunga berbentuk butiran kecil. Tandan
bunga betina terdiri dari ± 38 malai dengan 112-132 bunga betina setiap malai.
Bunga betina berwarna hijau muda, terdiri atas dua kelopak luar, tiga kelopak
dalam dan tiga mahkota bunga. Kepala putik terbelah tiga dan tidak memiliki
tangkai. Bakal buah beruang tiga dan masing-masing ruang terdapat satu bakal
biji. Jumlah tandan betina berkisal 3-9 tandan (Effendi 2010; Mujahidin et al.
2003).
Tandan bunga jantan (Gambar 3) umumnya muncul setelah tandan bunga
betina muncul seluruhnya, tetapi terkadang tanda bunga betina kembali muncul
setelah tandan bunga jantan lalu diikuti dengan munculnya tandan bunga jantan
secara berselang seling. Satu pohon aren umumnya dapat menghasilkan 7-15
tandan bunga jantan. Bunga jantan memiliki kelopak bunga berwarna hijau dan
tiga mahkota bunga berbentuk kapsul berwarna ungu. Mahkota bunga akan
terbuka ketika benang sari siap untuk membuahi bunga betina. Benang sari
berwarna kuning dengan panjang 1.8 cm dan bertangkai putih dengan panjang 1.3
cm. Satu bunga jantan terdapat 111-122 benang sari (Mujahidin et al. 2003).
7

Gambar 3. Tandan bunga betina (atas) dan tandan bunga jantan (bawah)

Buah aren berbentuk bulat panjang dengan ujung melengkung ke dalam.


Diameter buah 3-5 cm (Gambar 4). Kelopak bunga tetap melekat hingga buah
matang. Buah muda berwarna hijau muda dan setelah matang berwarna hijau tua
hingga kuning kecoklatan. Setiap buah terdapat 1-3 biji yang berwarna hitam
ketika telah matang. Buah aren mengandung konsentrasi asam oksalat mencapai
12.989 µg/g yang dapat mengakibatkan iritasi kulit (Effendi 2010; Broschat dan
Meerow 2000). Serbuk sari (pollen) yang membuahi bunga betina diduga berasal
dari pohon lain karena adanya berbedaan waktu muncul kedua tandan bunga
tersebut. Penyerbukan bunga diduga dilakukan oleh angin, lebah atau lalat kecil
(Mujahidin et al. 2003). Penyebaran tanaman ini secara alami dibantu oleh
musang (Mogea et al. 1991).
Susunan biji aren terdiri dari kulit biji (testa), endosperma dan embrio.
Jaringan testa disusun oleh sel-sel sklereid, sedangkan jaringan endosperma dan
embrio disusun oleh sel-sel parenkim. Embrio benih tersusun dari sel-sel hidup
yang aktif secara fisiologis dan banyak mengandung air untuk mempertahankan
kehidupan sel penyusunnya (Widyawati et al. 2009). Biji aren termasuk benih
rekalsitran karena kandungan airnya relatif tinggi pada waktu dipanen (Gambar
4). Penurunan kandungan air benih dapat menurunkan daya berkecambah benih
aren (Rabaniyah 1997).
8

Kulit biji yang telah matang berwarna hitam dan keras. Di bagian sisi
dalamnya terdapat lapisan tipis berwarna coklat. Sebagian besar kandungan dalam
biji merupakan pati yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Benih aren
memiliki embrio yang cukup unik, tidak berada di ujung maupun di pangkal biji
akan tetapi berada di sisi kanan atau kiri bagian tengah biji. Embrio aren
berbentuk kerucut tumpul dengan ukuran 1-2 mm. Embrio terdiri dari sumbu
embrionik dan bakal daun tunggal yang diselubungi bakal seludang (coleoptile).
Terdapat pula modifikasi bakal daun yang disebut scutellum. Sumbu embrionik
merupakan kesatuan dari bakal akar dan basisnya (cotyledonary petiole)
(Mujahidin et al. 2003).
Perkecambahan benih aren dimulai dari bagian lateral (Gambar 5).
Perkecambahan benih secara alami dimulai dengan munculnya tonjolan pada
bagian lateral biji. Setelah mencapai panjang tertentu bagian ujung apokol
membengkak. Pada bagian inilah akan muncul plumula dan radikula.
Perkembangan benih aren melalui kultur jaringan dimulai dengan
menggembungnya embrio sehingga ukurannya lebih besar (Rofik dan Murniati
2008; Widyawati et al. 2009).

Gambar 4. Irisan melintang buah aren (atas) dan biji aren (bawah)
9

Gambar 5. Tipe perkecambahan benih aren. Sumber: Broschat dan Meerow


(2000)

Potensi dan Eksplorasi Aren

Hasil utama tanaman aren adalah nira. Nira tersebut dapat diolah menjadi
bahan bakar nabati (BBN), gula merah, gula semut, alkohol dan cuka. Nira aren
mengandung kadar etanol 70-90%. Potensi etanol yang berasal dari nira aren
dapat mencapai 20.160 l/ha/tahun. Jika dihitung dari luasan pertanaman aren yang
ada dan hanya 50% yang berproduksi, maka tanaman aren berperan menyumbang
etanol sebesar 610 juta l/tahun (Effendi 2010). Gula semut merupakan bentuk lain
dari gula merah. Bahan baku untuk pembuatan gula semut adalah nira segar yang
sama dengan bahan baku untuk pembuatan gula merah. Keduanya dibedakan dari
bentuk fisik produk akhir. Gula merah dalam bentuk produk cetakan, sedangkan
gula semut berbentuk kristal yang lolos saringan 18-20 mesh (Lay dan Karouw
2008). Pembuatan cuka aren dilakukan melalui proses fermentasi gula-gula
sederhana menjadi alkohol dan fermentasi alkohol lebih lanjut menjadi asam
asetat. Nira aren segar yang manis jika dibiarkan tetap tersimpan dalam bumbung
bambu maka akan mengalami fermentasi. Hal ini disebabkan karena nira aren
mengandung sel-sel Saccharomyces tuac. Nira yang telah mengalami fermentasi
memiliki kadar etanol 4% dan jika dibiarkan berlangsung terus maka akan
terbentuk asam cuka dengan rata-rata kadar etanol sebesar 1.2% (Baharuddin et
al. 2009). Pohon aren yang telah tua dan kurang produktif umumnya ditebang
untuk dimanfaatkan sebagai sumber pati. Pati atau tepung aren yang diperoleh
dari empulur batang merupakan bahan baku pembuatan starch noodle. Semakin
10

tua umur dari batang aren, maka viskositas pati semakin tinggi dan sangat sesuai
untuk digunakan dalam pembuatan starch noodle (Alam dan Saleh 2009).
Hasil sampingan aren berupa buah yang dapat diolah menjadi kolang kaling.
Daun/lidi dan ijuk sebagai bahan baku kerajinan tangan. Batang pohon aren dapat
diambil tepung/patinya untuk digunakan sebagai bahan makanan. Hasil-hasil
sampingan ini dapat menjadi sumber pendapatan tambahan petani (Rindengan dan
Manaroinsong 2009). Aren dapat juga berfungsi sebagai tanaman konservasi pada
lahan miring (>30%) dengan populasi tanaman 100-200 pohon/ha. Jarak tanam
disesuaikan dengan kondisi lahan misalnya 5 m x 10 m atau 10 m x 10 m.
Populasi tanaman per satuan luas, hanya 50% yang produktif menghasilkan nira
(BPPP 2009).
Berdasarkan eksplorasi plasma nutfah aren di Tomohon diperoleh tiga
aksesi aren tipe Dalam, yaitu aksesi aren Tara-tara, Pinaras dan Woloan. Aksesi
aren Tara-tara memiliki produksi dan kadar gula nira tertinggi dibandingkan
aksesi lainnya. Produksi nira per hari untuk aksesi aren asal Tara-tara, Pinaras dan
Woloan masing-masing berkisar 25-38 l; 24.16-36.8 l dan 24-30 l. Waktu
penyadapan per tandan 6.3 bulan untuk Tara-tara, 6.5 bulan untuk Pinaras dan 5.2
bulan untuk Woloan. Hasil nira (optimal) per mayang untuk aksesi aren Tara-tara
6.237 l, aren Pinaras 5.850 l dan aren Woloan 4.860 l (Tenda 2009).
Eksplorasi aren di Kalimantan Selatan memperoleh tiga aksesi aren tipe
Dalam dan satu aksesi aren tipe Genjah. Aksesi Dalam Anduhum di Kabupaten
Hulu Sungai Tengah memiliki produksi nira dan kadar gula nira tertinggi. Seleksi
dilakukan berdasarkan karakter produksi dan kadar gula nira keempat aksesi aren
tersebut karena memiliki keragaman tinggi. Keragaman karakteristik keempat
aksesi sangat tinggi, sehingga memungkinkan dilakukan seleksi maupun materi
persilangan untuk mendapatkan varietas unggul aren (Tenda et al 2008).

Kultur Jaringan Palma

Kultur jaringan ialah suatu metode untuk mengisolasi bagian tanaman


seperti protoplasma, sel, jaringan dan organ serta menumbuhkannya dalam
kondisi aseptik dalam medium hara (Gunawan 1987). Teknik kultur jaringan
dilakukan untuk membuktikan kebenaran teori totipotensi sel. Totipotensi sel
merupakan kemampuan setiap sel apabila diletakkan dalam lingkungan yang
sesuai akan tumbuh menjadi tanaman yang sempurna (Nugroho dan Sugianto
1996).
Pemanfaatan kultur jaringan dalam bidang pertanian, antara lain: membantu
perbanyakan vegetatif tanaman dalam rangka penyediaan bibit dari induk
superior, memperoleh tanaman bebas dari penyakit, membantu proses konservasi
dan preservasi plasma nutfah tanaman dan produksi persenyawaan kimia untuk
keperluan farmasi dan pewarna untuk industri makanan dan kosmetik (Gunawan
1995). Teknik kultur jaringan juga dapat digunakan untuk manipulasi jumlah
kromosom melalui bahan kimia atau meregenerasikan jaringan tertentu,
menghasilkan tanaman haploid dan double haploid yang homogen melalui kultur
anter atau mikrospora, polinasi in vitro dan pertumbuhan embrio yang secara
normal abortif, hibridisasi somatik melalui teknik fusi protoplasma antar spesies,
11

variasi somaklonal dan transfer DNA atau organel untuk memperoleh sifat
tertentu (Gunawan 1987).
Kultur jaringan palma yang dilakukan oleh Mashud dan Manaroinsong
(2007) melaporkan tanaman kelapa kopyor yang diperbanyak melalui teknik
kultur jaringan berpotensi menghasilkan buah kopyor sebesar 90%. Penambahan
GA3 0.46 µM ke dalam media cair Eeuwens (Y3) dan 4.6 µM pada media semi
solid Y3 merupakan konsentrasi GA3 optimal dan dapat mengecambahkan
masing-masing 80% dan 90% embrio zigotik kelapa (Pech y Aké et al. 2007).
Penelitian Bustaman et al. (2004) pada kultur embrio pinang sirih yang ditanam
pada media MS dengan penambahan 4 ppm NAA memberikan pembentukan
tunas terbaik.
Kultur jaringan Acrocomia aculeate pada media Y3 dengan penambahan 9
mM pikloram atau 2.4-D dengan atau tanpa kombinasi 1mM TDZ memperoleh
kalus embriogenik setelah dikulturkan selama 60 hari, selanjutnya embrio somatik
diperoleh dengan menginduksi kalus embrogenik menggunakan 9 mM pikloram
(Moura et al. 2009). Kultur jaringan kurma yang dilakukan oleh Al-Khateeb
(2008) menggunakan berbagai konsentrasi dan jenis sumber karbon (sukrosa,
glukosa, fruktosa dan maltosa) pada media MS menunjukkan kualitas dan
kuantitas pertumbuhan tunas yang optimal pada konsentrasi sumber karbon 30 g/l
dan 60 g/l, sedangkan fruktosa menghasilkan berat kering tertinggi dibandingkan
jenis sumber karbon lainnya.
Penelitan Putih et al. (2003) pada kultur tunas aren menghasilkan persentase
eksplan hidup dan persentase eksplan berkalus tertinggi dengan penambahan
kombinasi NAA 1 ppm dan BAP 1 ppm, namun kalus yang diperoleh belum dapat
membentuk akar dan tunas. Ismail (1994) membuktikan bahwa kultur embrio
zigotik aren yang ditanam pada media Tisserat dan De Mason dengan
penambahan kombinasi zat pengatur tumbuh berupa kombinasi 22 µM 2.4-D dan
9.8 µM 2iP, kombinasi 50 µM 2.4-D dan 10 µM kinetin, kombinasi 100 µM IAA
dan 10 µM kinetin dan kombinasi 100 µM NAA dan 10 µM kinetin menghasilkan
pertumbuhan akar dan tunas normal berturut-turut sebesar 86.7%; 80%; 80% dan
82%.

Kultur Embrio Zigotik (Embryo Rescue)

Kultur embrio pertama kali dilakukan oleh Charles Bonnet pada abad ke 18
melalui kultur embrio Phaseolus dan Fagopyrum. Keberhasilan meregenerasikan
tanaman dari embrio muda dipengaruhi oleh kematangan serta komposisi media
kultur. Semakin muda umur dari eksplan embrio zigotik, maka komposisi media
kultur yang digunakan semakin lengkap (Sharma et al. 1996).
Kegunaan kultur embrio adalah untuk mengecambahkan embrio zigotik
menjadi tanaman lengkap. Kultur embrio secara harfiah sering disinonimkan
dengan embryo rescue, akan tetapi untuk lebih tepatnya embryo rescue diartikan
sebagai teknik kultur jaringan dengan cara menumbuhkan embrio zigotik muda
pada kondisi lingkungan yang optimal. Teknik ini dilakukan pada embrio yang
memiliki masa dormansi panjang, embrio zigotik hibrida hasil persilangan antar
spesies yang tidak kompatibel dengan endospermanya, embrio zigotik dengan
endosperma abnormal atau tanpa endosperma serta mengintrograsian materi
12

genetik pada suatu spesies. Selain itu dari segi fisiologis perkembangan embrio,
kultur embrio juga digunakan untuk mempelajari tahap perkembangan embrio dan
kemampuan regenerasi dari bagian-bagian embrio, sitologi serta filogenetik
molekuler (Gunawan 1987; Davey dan Anthony 2010).
Tahapan penting dalam kultur embrio adalah cara mengisolasi embrio dari
dalam benih. Isolasi embrio umumnya dilakukan dengan penyayatan dan
pemisahan jaringan-jaringan disekitar embrio tersebut. Untuk memudahkan
penyayatan dapat dilakukan perendaman benih di dalam air selama selang waktu
tertentu. Pada embrio yang berukuran lebih kecil atau sangat kecil, penyayatan
dapat dilakukan dengan bantuan mikroskop dan embrio harus segera dipindah ke
dalam medium pertumbuhan (Pardal 1993).

Zat Pengatur Tumbuh

Zat pengatur tumbuh (ZPT) adalah senyawa organik yang berfungsi


merangsang pertumbuhan tanaman. Pada teknik kultur jaringan ZPT digunakan
untuk mengarahkan pertumbuhan eksplan. Pertumbuhan dan morfogenesis
tanaman secara in vitro dikendalikan oleh keseimbangan dan interaksi antara ZPT
endogen (fitohormon) dan ZPT eksogen yang diserap dari media tumbuh (Pierik
1987). Tanpa penambahan ZPT dalam media tanam, maka pertumbuhan tanaman
akan terhambat bahkan dapat tidak tumbuh sama sekali.
ZPT dalam tanaman terdiri dari lima kelompok yaitu auksin, sitokinin,
giberelin, etilen dan asam absisat yang memiliki ciri khas dan pengaruh yang
berbeda terhadap proses fisiologis tanaman (Abidin 1983). Faktor-faktor yang
perlu mendapat perhatian dalam penggunaan ZPT, antara lain : 1) jenis ZPT yang
akan digunakan, 2) konsentrasi ZPT, 3) urutan penggunaan, 4) periode masa
induksi dalam kultur tertentu, dan 5) kelemahan aktifitasnya. ZPT yang sering
digunakan pada kultur jaringan adalah auksin dan sitokinin. (Gunawan, 1995).
Auksin merupakan salah satu golongan fitohormon yang berperan dalam
menginduksi pemanjangan sel dan juga dalam kasus tertentu pembelahan sel.
Golongan persenyawaan ini dapat pula mempengaruhi dominasi apikal,
penghambatan pucuk aksilar dan adventif serta inisiasi pengakaran (Wattimena et
al. 1992). Dalam kultur jaringan auksin digunakan secara luas untuk merangsang
pertumbuhan kalus, suspensi sel dan organ. Auksin alami adalah IAA (Indole
Acetic Acid), sedangkan auksin sintetik antara lain NAA, IBA, NAA, pikloram,
NOA, 4-CPA dan 2.4.5-T (Gunawan 1987).
Konsentrasi dan jenis auksin yang digunakan ditentukan oleh faktor-faktor
berikut : 1) tipe pertumbuhan dan perkembangan yang dikehendaki, 2) konsentrasi
auksin di dalam eksplan pada waktu eksplan tersebut diambil, 3) kemampuan
jaringan yang dikulturkan pada saat eksplan tersebut diambil, dan 4) interaksi
antara auksin yang diberikan secara eksogen dan auksin endogen. Faktor-faktor
lain yang mempengaruhi aktivitas auksin sintetis adalah: a) kemampuan senyawa
tersebut untuk dapat menembus lapisan kutikula atau epidermis yang berlilin, b)
sifat translokasi di dalam tanaman, c) perubahan auksin menjadi senyawa yang
tidak aktif di dalam tanaman (destruksi atau pengikatan), d) interaksinya dengan
hormon tumbuh lain, e) spesies tanaman, f) fase pertumbuhan, dan g) lingkungan
(suhu, radiasi dan kelembaban) (Wattimena 1988).
13

Menurut Wattimena (1988), auksin dalam tubuh tanaman berperan dalam


proses perpanjangan sel melalui dua cara, yaitu:
a. Mengaktifkan pompa ion.
Auksin mengaktifkan pompa ion pada plasma membran sehingga
dapat mempertahankan pH sekitar 4 pada dinding sel. Dinding sel menjadi
longgar, tekanan dinding sel menjadi berkurang, air masuk ke dalam sel dan
terjadi pembesaran dan perpanjangan pada sel.
b. Mengaktifkan enzim-enzim yang berperan dalam pembuatan komponen sel.
Setelah pembesaran sel, keutuhan dinding sel terganggu (retak).
Auksin mengaktifkan pembuatan komponen-komponen dinding sel dan
menyusun kembali ke dalam suatu matriks dinding sel yang utuh.
Sitokinin pertama kali ditemukan oleh Haberlandt (1913). Bentuk dasar
sitokinin adalah adenin (6-amino purine). Golongan sitokinin sangat penting
dalam pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis. Sitokinin yang biasa
digunakan dalam kultur jaringan ialah Kinetin (6-furfuryl amino purine), Zeatin
(4-hydroxyl-3-methyl-trans-, 2-butenyl amino purine), BAP atau BA (6-benzyl
amino purine/6-benzyl adenine), PBA (6-benzylamino-9-2-tetrahydropyranyl-9H-
purine) , 2 Cl-4 PU dan 2.6-Cl-4 PU dan tidiazuron (Gunawan 1987).
Sitokinin berperan dalam metabolisme asam nukleat dan sintesis protein.
Sitokinin memiliki cincin adenin, yaitu basa purin yang terdapat pada DNA dan
RNA. Sitokinin dapat pula mencegah terjadinya penguningan daun yang
umumnya timbul pada proses penuaan (senescence). Warna kuning pada daun
disebabkan oleh perombakan butir-butir klorofil, tetapi sitokinin mengaktifkan
beberapa perombakan dari butir-butir klorofil dan protein (Wattimena 1988).
Air kelapa telah lama diketahui sebagai sumber senyawa-senyawa aktif yang
diperlukan untuk perkembangan embrio. Air kelapa tidak hanya mengandung
unsur hara makro yang berupa nitrogen dan karbon, tetapi juga unsur hara mikro
dan diphenylurea (Wattimena 1988). Unsur nitrogen yang terkandung dalam air
kelapa berupa protein yang tersusun dari asam amino. Dibandingkan asam amino
yang terdapat pada susu sapi, asam amino yang terkandung dalam air kelapa
memiliki konsentrasi lebih tinggi. Sementara unsur karbon dapat dijumpai dalam
bentuk karbohidrat sederhana seperti glukosa, sukrosa, dan fruktosa. Jika diteliti
lebih jauh, air kelapa juga mengandung beragam vitamin. Di antaranya vitamin C,
niasin, asam pantotenat serta riboflavin. Peranan dari air kelapa ialah untuk
mendorong pertumbuhan pada kalus, kultur suspensi dan morfogenesis.
Konsentrasi air kelapa yang umum digunakan dalam kultur jaringan berkisar
10–20% (George dan Sherrington 1984). Penelitian Yong et al. (2009)
menunjukkan konsentrasi komposisi dari air kelapa (Lampiran 1).
14

UMUR EMBRIO DAN JENIS MEDIA DASAR


BERPENGARUH PADA KEBERHASILAN EMBRYO RESCUE
AREN (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.) SECARA IN VITRO*

Abstrak

Penyediaan bibit merupakan salah satu kendala pengembangan tanaman


aren untuk budidaya dan pemuliaan tanaman. Embryo rescue diharapkan dapat
menjadi alternatif solusi penyediaan bibit aren. Penelitian yang dilakukan
bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh umur embrio zigotik dan komposisi
media dasar terhadap perkecambahan dan perkembangan embrio zigotik pada
embryo rescue aren secara in vitro. Embrio zigotik yang berasal dari buah aren
muda dan tua dikultur pada media dasar Y3 atau WPM tanpa penambahan ZPT.
Hasil yang diperoleh menunjukkan kemampuan hidup dan perkecambahan embrio
zigotik aren terbaik diperoleh pada eksplan embrio muda (92%) dibandingkan
embrio tua (72%). Komposisi media dasar (Y3 atau WPM) tidak berpengaruh
nyata terhadap perkecambangan embrio aren. Haustorium dan apokol dalam
kultur in vitro ada yang berkembang menjadi bentuk-bentuk abnormal dengan
persentase hingga 32% (untuk haustorium) dan 26% (untuk apokol).
Perkembangan haustorium dan apokol abnormal tidak berpengaruh terhadap
planlet yang terbentuk dari embrio zigotik. Persentase planlet yang terbentuk dari
embrio zigotik aren berkisar 6%-25% pada umur embrio zigotik dan jenis media
yang dievaluasi.

Kata kunci : aren, embrio muda, embrio tua, WPM, Y3.

* Bagian dari tesis ini telah memasuki tahap review untuk dipublikasikan pada Jurnal Buletin
Palma
15

PENDAHULUAN

Penyediaan bahan tanam (bibit) menjadi salah satu kendala dalam


pengembangan aren di Indonesia (Widyawati et al. 2009). Perkecambahan benih
aren secara alami membutuhkan waktu 1 hingga 12 bulan, atau bahkan 24 bulan
akibat adanya dormansi pada kulit. Selain dormansi, benih aren juga
membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mencapai masak fisiologis, yaitu
sekitar 36 bulan setelah polinasi (BSP) (Haris 1994). Kedua faktor ini menjadi
penghambat utama dalam pengadaan bibit untuk keperluan budidaya dan
pemuliaan tanaman aren di Indonesia.
Embryo rescue merupakan teknik untuk menumbuhkan embrio muda pada
kondisi lingkungan optimal secara in vitro (Taji et al. 2002). Teknik embryo
rescue telah digunakan untuk memperoleh bibit dari hasil persilangan tanaman
antar spesies (Viloria et al. 2005), benih tanpa endosperma (Arsyad 2008), benih
dengan endosperma abnormal (Sukendah et al. 2008) atau benih dengan dormansi
panjang (Uma et al. 2011; Ning et al 2007). Kelebihan utama embryo rescue ialah
mempercepat perolehan bibit tanaman karena bahan tanaman yang digunakan
berupa embrio zigotik muda.
Keberhasilan penerapan embryo rescue sangat dipengaruhi oleh umur
embrio zigotik dan komposisi media dasar yang digunakan. Hasil studi pada
tanaman jarak pagar menunjukkan bahwa penggunaan eksplan yang semakin
muda semakin meningkatkan keberhasilan kultur in vitro (Al-Hafiizh 2012).
Gebologlu et al. (2011) melaporkan embryo rescue tomat yang berumur 28-32
hari setelah polinasi (HSP) mampu berkecambah lebih baik dibandingkan embrio
yang berumur 20, 24 dan 36 hari setelah polinasi (HSP). Embryo rescue pada
kelapa makapuno yang dilakukan oleh Islam et al. (2009) menggunakan embrio
zigotik umur 9, 10 dan 11 BSP menunjukkan respon yang berbeda. Binott et al.
(2008) juga melaporkan bahwa umur embrio berpengaruh nyata terhadap
perkembangan eksplan embrio jagung dalam kultur in vitro.
Komposisi media dasar yang digunakan juga berpengaruh terhadap
perkembangan eksplan. Embrio muda yang ditumbuhkan secara in vitro
membutuhkan media dengan kandungan garam-garam organik lebih lengkap
dibandingkan embrio tua (Taji et al. 2002). Selain itu, komposisi media dasar
berpengaruh terhadap kemampuan mematahkan dormansi embrio Prunus avium
ketika dilakukan embryo rescue meskipun dalam penelitian tersebut diberi
penambahan ZPT (Kukharchyk dan Kastrickaya 2006). Dalam penelitian yang
lain, Muniran et al. (2008) melaporkan pembentukan akar pada embrio zigotik
muda kelapa sawit Dura dipengaruhi oleh komposisi media dasar. Pembentukan
perakaran terbaik diperoleh dengan menanam embrio zigotik muda pada media
berbasis Eeuwens (Eeuwens 1976) dan kurang baik jika menggunakan media N6
(Chu et al. 1975) dan Murashige dan Skoog (Murashige dan Skoog 1962).
Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengevaluasi pengaruh
umur embrio zigotik terhadap kemampuan berkecambah dan perkembangan
kecambah dalam embryo rescue aren. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan
untuk menguji efektifitas dua komposisi media dasar yang digunakan dalam
mengkulturkan embrio zigotik aren secara in vitro.
16

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2011 sampai dengan Oktober


2012. Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Molekuler Tanaman,
Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Institut Pertanian
Bogor, Dramaga, Bogor.

Bahan dan Alat

Bahan tanaman (eksplan) yang digunakan ialah embrio zigotik aren yang
diperoleh dari pertanaman di sekitar Bogor, Jawa Barat (Desa Cinangneng dan
Cihideung). Embrio zigotik diisolasi dari buah aren muda (± 15 BSP) dan buah
aren tua (± 30 BSP) (Matana, Staf peneliti Balai Penelitian Tanaman Palma,
wawancara langsung). Karakteristik buah aren muda yang digunakan, antara lain:
kulit buah berwarna hijau, endosperma bertekstur kenyal berwarna putih
transparan dan kulit biji berwarna kuning dan tipis. Karakteristik buah aren tua
yang digunakan, antara lain: kulit buah berwarna hijau kekuningan, endosperma
bertekstur keras berwarna putih dan kulit biji berwarna coklat dan tebal (Gambar
6).

a b

e
d

Gambar 6. Sumber eksplan. Buah muda (a), buah tua (b), embrio dan endosperma
(c), embrio muda (d), dan embrio tua (e)
17

Media dasar yang digunakan dalam penelitian terdiri atas media berbasis
Eeuwens atau Y3 (Eeuwens 1976) dan media berbasis Woody Plant Medium atau
WPM (Lloyd dan McCown 1981) (Lampiran 2 dan 3). Ke dalam media berbasis
Y3 ditambahkan komposisi vitamin yang dikembangkan oleh Morel dan Wetmore
(1951). Selain vitamin, ke dalam kedua media juga ditambahkan sukrosa 60.000
mg/l, arang aktif 2.500 mg/l, agar 7.000 mg/l. pH media diatur hingga mencapai
5.5-5.8 dengan penambahan NaOH (0,1 N) atau HCl (0,1 N). Bahan lain yang
digunakan adalah alkohol 70%, alkohol 96%, tween 20, larutan cairan pemutih
komersial (bleach), detergen, aquades, spiritus, label, plastik, karet gelang, korek
api, perekat bening dan tissue.
Alat-alat yang digunakan ialah Laminar Air Flow Cabinet (LAFC),
autoclave, timbangan analitik, kompor, magnetic stirer, lampu bunsen, pH meter,
alat gelas standar (gelas piala, gelas ukur, petridis, pipet, botol kultur dan batang
pengaduk), alat diseksi (pinset, gunting, skalpel dan pisaunya), saringan, sprayer
rak kultur, alat tulis-menulis dan kamera digital.

Sterilisasi Bahan Tanam

Persiapan eksplan dimulai dengan memotong buah aren untuk diambil


bijinya. Endosperma yang diperoleh dipotong membentuk balok pada bagian yang
berisi embrio, dicuci dengan detergen dan dibilas dengan aquades steril.
Selanjutnya, potongan-potongan endosperma disterilkan dalam cairan pemutih
komersial dengan konsentrasi 20% dan 10%, masing-masing selama 15 menit. Ke
dalam larutan cairan pemutih komersial ditambahkan Tween 20 sebanyak dua
tetes sebagai pengemulsi. Setelah sterilisasi dalam cairan pemutih komersial 10%,
selanjutnya embrio zigotik diisolasi dari balok endosperma dan direndam dalam
cairan pemutih komersial 5% selama 15 menit. Selanjutnya, embrio zigotik dibilas
tiga kali dengan aquades steril dan embrio zigotik siap ditanam dalam media
perlakuan. Embrio zigotik dalam media in vitro diinkubasi dalam ruang kultur
pada suhu 24-250C dengan lama penyinaran 24 jam.

Rancangan Percobaan

Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua


faktor. Faktor pertama dua macam embrio zigotik, yaitu embrio zigotik muda dan
embrio zigotik tua aren dan faktor kedua dua jenis media dasar, yaitu media Y3
dan media WPM. Unit percobaan terdiri atas lima botol masing-masing dengan
satu embrio zigotik dan diulang lima kali. Dalam satu set percobaan digunakan
100 embrio zigotik.
Model linier RAL faktorial (Mattjik dan Sumertajaya 2006) ialah :
Yij = µ + αi + βj + (αβ)ij + εijk
Keterangan :
Yij = Pengamatan pada faktor A taraf ke -i faktor B taraf ke -j dan ulangan
ke -k
µ = Rataan umum
αi = Pengaruh utama faktor A
18

βj = Pengaruh utama faktor B


αβij = Komponen interaksi dari faktor A dan B
εijk = Pengaruh acak

Pengamatan dan Analisis Data

Pengamatan mulai dilakukan enam MST. Peubah yang diamati meliputi :


a. Persentase pembentukan apokol, dihitung dengan rumus:

% pembentukan apokol =

Keterangan : x = jumlah eksplan membentuk apokol,


y = jumlah eksplan total yang ditanam.
b. Perkembangan haustorium dan apokol (bentuk dan warna), diamati
menggunakan sistem skoring.
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F pada taraf nyata α 5%
dan jika hasil uji F menunjukkan berbeda nyata, maka dilakukan uji lanjut
Duncan Multiple Range Test (DMRT). Data skoring (bentuk dan warna) dianalisis
menggunakan uji Kruskal-Wallis. Semua analisis data dilakukan dengan
menggunakan Statistical Analysis System (SAS) versi 9.0 (SAS Institute Inc.,
USA) atau Minitab versi 15 (Minitab Inc.,USA).

Regenerasi Planlet

Setelah dilakukan pengamatan pada enam MST, embrio aren tetap


dipelihara dan disubkultur ke dalam media kultur dengan penambahan ZPT (air
kelapa atau BAP). Konsentrasi penambahan air kelapa yang dilakukan adalah 100,
150 dan 200 ml/l, sedangkan konsentrasi BAP adalah 5 ppm. Pengamatan kembali
dilakukan pada 24 MST yang meliputi jumlah planlet yang terbentuk. Jumlah
seluruh satuan percobaan yang diamati berjumlah 54 embrio zigotik aren (jumlah
eksplan yang tidak mengalami kontaminasi).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perkecambahan embrio zigotik aren

Kecambah yang berkembang dari benih aren terdiri atas dua bagian utama
yaitu haustorium dan apokol (Gambar 7a dan 7b). Haustorium pada aren dan
palma lainnya berperan sebagai organ penyerapan dan penyimpanan cadangan
makanan selama proses perkecambahan embrio. Apokol merupakan bagian
kecambah tempat berkembangnya radikula dan plumula pada aren (Meerow
2004).
Perkembangan embrio zigotik aren diawali dengan membengkaknya ukuran
embrio zigotik hingga ukurannya menjadi kurang lebih dua kali ukuran awal.
19

Pembesaran ukuran embrio zigotik diduga disebabkan oleh imbibisi air ke dalam
jaringan selama proses perkecambahan. Embrio zigotik aren dalam percobaan ini
berkembang lebih lanjut sehingga muncul tonjolan dari bagian basal embrio
(Gambar 7c.) dan berkembang menjadi struktur apokol (cotyledonary petiole).
Apokol yang terbentuk akan semakin memanjang hingga menembus ke dalam
media tanam secara in vitro. Terbentuknya apokol menjadi indikator bahwa
embrio zigotik pada embryo rescue ini telah berkecambah.
Dalam percobaan ini proses perkecambahan embrio zigotik mulai terlihat
1-2 MST. Eksplan embrio zigotik muda dan tua mampu berkembang membentuk
apokol dalam media in vitro yang digunakan. Di akhir 6 MST seluruh embrio
zigotik yang ditanam belum dapat membentuk planlet. Asikin dan Puspitaningtyas
(2000) melaporkan perkecambahan embrio aren secara in vitro mulai terjadi 1-2
MST. Dalam studinya, Asikin dan Puspitaningtyas (2000) juga melaporkan
terjadinya pemanjangan apokol sebagai awal perkecambahan embrio secara in
vitro sebagaimana yang diamati dalam penelitian embryo rescue aren dalam
percobaan ini.
Kontaminasi juga terjadi selama proses perkecambahan eksplan, namun
penyebaran kontaminan dapat diatasi dengan melakukan subkultur pada media
steril lainnya. Kontaminasi yang terjadi disebabkan oleh cendawan dan bakteri.
Kontaminasi oleh cendawan ditandai dengan adanya spora-spora cendawan
berwarna putih, hijau atau jingga di sekitar permukaan media. Kontaminasi yang
disebabkan oleh bakteri ditandai dengan munculnya lendir berwarna putih pada
permukaan media.

Gambar 7. Kecambah aren (kiri), haustorium (a), apokol (b). Embrio aren
(kanan), dan bagian basal embrio (c)
20

Persentase Pembentukan Apokol

Hasil analisis ragam menunjukkan tidak terdapat pengaruh interaksi antara


umur embrio dan jenis media dasar terhadap persentase pembentukan apokol.
Umur embrio sebagai faktor tunggal berpengaruh nyata terhadap pembentukan
apokol, sedangkan jenis media dasar tidak berpengaruh nyata terhadap
pembentukan apokol. Data persentase pembentukan apokol tersaji pada Tabel 2.
Hasil analisis menunjukkan persentase perkecambahan mempunyai pola
yang sama untuk kedua umur embrio pada dua jenis media yang berbeda. Dalam
dua jenis media yang digunakan, embrio zigotik muda menghasilkan persentase
pembentukan apokol lebih tinggi dibandingkan embrio zigotik tua (Tabel 2). Hasil
ini mengindikasikan bahwa embrio zigotik muda masih berada pada fase juvenil
sehingga memiliki kemampuan regeneratif yang lebih baik dibandingkan embrio
tua. Hasil ini sejalan dengan penelitian Murashige dan Huang (1985), embrio
muda terdiri dari sel-sel yang memiliki kemampuan totipotensi yang tinggi. Sel-
sel tersebut menyerupai sel-sel meristemoid pada kalus. Penelitian lain yang
dilakukan oleh Karunaratne dan Periyapperuma (1990) dan Mirici et al. (2005)
menunjukkan bahwa embrio zigotik muda memiliki aktifitas pembelahan sel,
perkembangan organel serta kemampuan regeneratif lebih tinggi dibandingkan
pada embrio zigotik yang lebih tua. Kultur embrio muda umumnya membentuk
kecambah lebih tinggi dibandingkan embrio tua, hal ini disebabkan karena
mekanisme inkompatibilitas eksplan (embrio zigotik muda) berdampak negatif
hanya dalam jangka waktu singkat (Geogre et al. 2008).
Di samping kemampuan regeneratif yang tinggi, kandungan hormon
endogen juga ikut mempengaruhi proses perkecambahan embrio zigotik muda.
Kandungan hormon endogen yang berperan dalam perkecambahan embrio sangat
dipengaruhi oleh umur eksplan (Kucera et al 2005). Penelitian Etienne et al.
(1993) menyatakan embrio zigotik mengandung hormon IAA dengan konsentrasi
yang tinggi pada awal fase perkembangannya. Konsentrasi IAA tertinggi
diperoleh pada fase awal torpedo dan semakin menurun secara progresif pada saat
embrio mencapai fase maturasi. Selain IAA, embrio zigotik juga mengandung
hormon endogen ABA. IAA berperan dalam perkembangan embrio, sedangkan
ABA berperan dalam pematangan embrio. Fu et al. (2006) melaporkan telah
mendeteksi keberadaan hormon endogen auksin (IAA), asam absisat (ABA),
giberelin (GA3 dan GA4) dan sitokinin (DHZR, IPA, ZR) pada embrio muda
jagung. Charriere et al. (1999) menambahkan konsentrasi hormon endogen auksin
(IAA) embrio zigotik muda Helianthus annuus dipengaruhi oleh media yang
digunakan.
Penggunaan embrio muda sebagai eksplan juga dilaporkan dapat
meningkatkan jumlah perolehan planlet (Uranbey 2011). Perolehan planlet
Sternbergia fischeriana pada penelitian Mirici (2011) semakin meningkat dengan
menggunakan eksplan bebas kontaminan berupa embrio zigotik muda. Oleh sebab
itu, pemanfaatan embrio muda sebagai eksplan pada embryo rescue aren
merupakan alternatif yang tepat terkait dengan upaya penyediaan bibit aren secara
berkelanjutan.
21

Tabel 2. Pengaruh umur embrio zigotik aren dan jenis media dasar terhadap
persentase pembentukan apokol (%) pada 6 MST
Media
Umur Embrio Rataan
Y3 WPM
Muda 88 96 92a
Tua 68 76 72b
Rataan 78 86 82
Keterangan : Angka pada kolom yang sama diikuti huruf berbeda, berbeda nyata pada DMRT
α 5%

Dari hasil pengamatan diduga embrio zigotik aren membutuhkan jenis


media dasar dengan komposisi senyawa anorganik sederhana untuk
perkecambahannya. Meskipun WPM memiliki komposisi media lebih sederhana,
akan tetapi untuk sejumlah hara makro, mikro dan vitamin WPM memiliki
konsentrasi lebih tinggi dibandingkan media Y3. Jika kedua media dibandingkan,
maka diketahui bahwa konsentrasi kalsium (Ca), magnesium (Mg), sulfur (S),
boron (B), mangan (Mn), seng (Zn) dan vitamin B (piridoksin, tiamin, niasin)
pada media WPM lebih tinggi dibandingkan media Y3.
Kalsium berperan sebagai penyeimbang anion dalam tanaman dan penyusun
struktur dinding dan membran sel, sedangkan defisiensi kalsium pada tanaman
mengakibatkan kehilangan turgor dan kerusakan sel (Simon 2006; George et al.
2008). Magnesium merupakan atom sentral penyusun molekul klorofil dan
berperan dalam berbagai aktifitas enzimatik terutama yang berkaitan dengan
transfer fosfat (Shaul 2002; Lasa et al. 2000). Sulfur dimanfaatkan oleh tanaman
untuk mensintesis lipid (George et al. 2008). B, Mn dan Zn merupakan nutrisi
mikro yang sering ditambahkan ke dalam media kultur jaringan (Gunawan 1987).
Boron berperan dalam elongasi sel, sintesis asam nukleat dan diferensiasi sel
(Lauchli 2002). Mangan merupakan salah satu nutrisi mikro penyusun protein sel
yang berperan sebagai struktur metalloprotein dalam proses fotosintesis dan
respirasi tanaman. Selain itu, Mn juga dibutuhkan untuk aktifitas beberapa jenis
enzim (George et al. 2008). Penelitian Schwambach et al. (2005) membuktian
bahwa Zn dibutuhkan untuk pembentukan akar adventif pada Eucalyptus
globulus. Diduga Zn merupakan kompenen enzim yang terlibat dalam sintesis
precursor IAA, Triptofan. Vitamin merupakan substansi nitrogen yang memiliki
fungsi katalistik pada proses enzimatik dan dibutuhkan dalam jumlah kecil oleh
tanaman (Doods dan Robert 1999). Tiamin (vitamin B1) berperan penting dalam
metabolisme karbohidrat dan biosintesis beberapa asam amino (George et al.
2008). Selain tiamin, piridoksin (vitamin B6) dan niasin (vitamin B3) telah umum
digunakan dalam kultur embrio zigotik, beberapa diantara: kelapa sawit (Thuzar et
al. 2011), Helianthus hibrida (Chandler dan Beard 1983), jeruk lemon (Viloria et
al. 2005) dan kenari (Kaur et al 2006).
Hasil yang diperoleh didukung oleh Sanchez-Zamora et al. (2006) yang
melaporkan bahwa persentase perkecambahan tertinggi kultur embrio kenari
diperoleh dengan mengkulturkan embrio zigotik dalam media WPM (81%) dan
berbeda nyata dari media MS, NGE dan DKW. Meitram dan Sharma (2006)
menyatakan pertumbuhan planlet dari kultur embrio Calamus latifolia Roxb.
(panjang tunas dan akar sebesar 7.48 cm dan 6.70 cm) dan Calamus tenuis Roxb.
22

(panjang tunas dan akar sebesar 5.4 cm dan 6.16 cm) terbaik diperoleh pada media
WPM dibandingkan media Y3 atau MS, meskipun dalam penelitian tersebut
diberi penambahan ZPT. Hasil percobaan ini berbeda dengan hasil yang diperoleh
dari penelitian kultur jaringan palma lain. Media dasar Y3 merupakan salah satu
media dasar yang umum digunakan dalam kultur jaringan palma. Beberapa
penelitian kultur jaringan palma yang menggunakan media Y3, antara lain: kelapa
(Fernando et al. 2002), kurma (Asemota et al. 2007) dan Euterpe edulis Mart.
(Guerra dan Handro 1998), kelapa sawit (Srisawat dan Kanchanapoom 2005;
Muniran et al. 2008).

Abnormalitas Perkembangan Apokol

Apokol yang berkembang dari embrio zigotik aren yang dikulturkan dalam
percobaan ini digolongkan sebagai apokol normal atau abnormal. Apokol normal
memiliki tekstur permukaan mulus dengan diameter 1-2 mm (Gambar 8a).
Sebaliknya, apokol abnormal ditandai dengan adanya retakan-retakan pada
permukaan apokol. Diameter apokol abnormal umumnya juga lebih besar dan
lebih pendek dari apokol normal (Gambar 8b).
Hasil uji Kruskal-Wallis (Tabel 3) menunjukkan bahwa umur embrio
zigotik dan jenis media dasar tidak berpengaruh nyata terhadap bentuk apokol. Z
bernilai negatif diperoleh pada embrio zigotik muda dan media WPM, sedangkan
Z dengan nilai positif diperoleh pada embrio zigotik tua dan media Y3. Hal ini
menunjukkan bahwa embrio zigotik tua dan media Y3 cenderung menghasilkan
bentuk abnormal lebih tinggi dibandingkan embrio zigotik muda dan media
WPM.
Rekapitulasi persentase apokol (Tabel 4) memperlihatkan bahwa bentuk
normal mendominasi bentuk apokol. Bentuk apokol normal tertinggi diperoleh
oleh embrio muda (88%), sedangkan terendah pada embrio tua (60%). Untuk
media Y3 dan WPM persentase apokol normal sebesar 66% dan 82%. Bentuk
apokol abnormal tertinggi diperoleh pada media Y3 yaitu sebesar 34%, sedangkan
terendah diperoleh pada embrio zigotik muda (12%). Perbedaan kedua tipe bentuk
mengindikasikan terjadinya aktifitas elongasi dan pembelahan sel selama proses
perkecambahan. Seiring dengan meningkatnya aktifitas pembelahan dan
diferensiasi sel, maka tekanan pada subepidermal ikut meningkat. Peningkatan
tekanan ini menyebabkan terbentuknya celah atau retakan-retakan pada lapisan
epidermis (Ribeiro et al. 2012).
Selain bentuk, apokol juga memperlihatkan adanya perbedaan warna.
Perbedaan warna ini terdiri atas empat yaitu putih, kuning kehijauan, cokelat
muda dan putih serta cokelat (Gambar 8c). Dari hasil uji Kruskal-Wallis diketahui
bahwa warna apokol sangat dipengaruhi oleh umur embrio zigotik tetapi tidak
dipengaruhi oleh jenis media dasar (Tabel 3). Khusus untuk warna apokol, Z
bernilai negatif diperoleh pada embrio zigotik muda dan media Y3, sedangkan Z
bernilai positif ditunjukan oleh embrio zigotik tua dan media WPM. Hal ini
mengindikasikan bahwa embrio zigotik tua dan media WPM cenderung
menghasilkan pencokelatan lebih tinggi pada apokol dibandingkan embrio zigotik
muda dan media Y3.
23

Persentase warna apokol didominasi oleh warna kuning kehijauan untuk


semua perlakuannya (Tabel 4). Persentase warna terendah pada Y3 dan embrio
muda adalah warna cokelat, sedangkan pada media WPM dan embrio tua adalah
warna cokelat muda dan putih. Dari pengamatan diketahui bahwa bentuk normal
apokol umumnya berwarna kuning kehijauan. Terdapatnya perbedaan warna pada
apokol aren yang diduga disebabkan oleh akumulasi senyawa fenolik (browning).
Pencokelatan merupakan suatu karakter munculnya warna cokelat atau hitam pada
eksplan sebagai akibat pelukaan atau reaksi biokimia. Warna cokelat yang
terbentuk diakibatkan oleh reaksi hidrolisasi sekunder O-quinon atau kelebihan O-
difenol (Santoso dan Nursandi 2003). Pencokelatan adalah salah satu hambatan
dalam perbanyakan tanaman palma secara in vitro (Melo et al. 2001; Zouine et al.
2007). Namun dalam percobaan ini abnormalitas dan pencoklatan yang terjadi
pada apokol tidak mengakibatkan terhambatnya perkecambahan embrio zigotik
aren.

a b

c d

e f

Gambar 8. Bentuk apokol, normal (a) dan abnormal (b). Warna apokol, putih (c),
kuning kehijauan (d), cokelat muda dan putih (e) dan cokelat (f)
24

Tabel 3. Uji Kruskal-Wallis bentuk dan warna apokol aren pada 6 MST
Perlakuan n Median Z Nilai P
Bentuk
Umur embrio Muda 46 1 -0.95
0.064tn
Tua 36 1 0.95
Jenis media Y3 39 1 0.84
0.104tn
WPM 43 1 -0.84
Warna
Umur embrio Muda 46 2 -2.42
0.002**
Tua 36 2 2.42
Jenis media Y3 39 2 -.1.30
0.089tn
WPM 43 2 1.30
Keterangan : Uji Kruskal-Wallis, tidak nyata (tn) P>0.05, berbeda nyata (*) pada 0.01<P<0.05,
berbeda sangat nyata (**) pada P<0.01. n = jumlah eksplan

Tabel 4. Rekapitulasi persentase bentuk dan warna apokol (%) pada 6 MST
Apokol (%)
Perlakuan Bentuk Warna (skor)
Normal Abnormal 1 2 3 4
Media :
Y3 66 34 0 32 5 2
WPM 82 18 0 29 5 9
Rataan 74 26 0 61 10 11
Umur :
Muda 88 12 0 40 5 1
Tua 60 40 0 21 5 10
Rataan 74 26 0 61 10 11
Keterangan : Skoring warna apokol, putih (1), kuning kehijauan (2), cokelat muda dan putih (3)
dan cokelat (4)

Abnormalitas Haustorium

Haustorium yang menjadi bagian dari embrio zigotik aren menunjukkan


respon berbeda. Bentuk haustorium yang diamati juga terdiri atas dua tipe bentuk
yaitu bentuk normal (Gambar 9a) dan abnormal (Gambar 9b). Haustorium normal
tetap berbentuk kerucut, sedangkan haustorium abnormal menunjukan perubahan
bentuk menjadi tidak beraturan dan terdapat retakan pada permukaannya.
Hasil uji Kruskal-Wallis (Tabel 5) menunjukkan bahwa jenis media dasar
tidak berpengaruh terhadap bentuk haustorium. Namun, umur embrio zigotik
berpengaruh nyata terhadap bentuk haustorium. Z bernilai negatif untuk bentuk
haustorium diperoleh pada embrio zigotik tua dan media WPM. Hasil ini
mengindikasikan embrio zigotik tua dan media WPM menghasilkan bentuk
abnormal lebih rendah dibandingkan embrio zigotik muda dan media Y3.
25

Bentuk normal mendominasi bentuk haustorium dari embrio zigotik aren


yang dikulturkan. Bentuk haustorium normal tertinggi diperoleh pada embrio tua
yaitu 78%, sedangkan terendah pada embrio zigotik muda (58%). Penelitian
Ribeiro et al. (2012) membuktikan perubahan bentuk haustorium pada macaw
palm mulai terlihat 2 hari setelah tanam (HST). Pembesaran pada haustorium
kurma diakibatkan aktivitas pembelahan mitosis pada epithelium, sehingga
mengakibatkan terbentuknya lapisan tipis pada sel-sel haustorium (DeMason
1985). Sugimuma dan Murakami (1990) menambahkan perubahan bentuk
haustorium kelapa berkaitan dengan fungsinya sebagai organ penyerapan dan
penyimpanan cadangan makanan.
Warna haustorium yang terlihat enam MST juga menunjukkan perbedaan
pada setiap eksplannya. Warna haustorium dari embrio muda atau tua terbagi
dalam lima warna yang berbeda. Kelima warna haustorium yang diperoleh
tersebut adalah putih, kuning kehijauan, putih dan cokelat, cokelat muda dan
hitam (Gambar 9c-g). Uji Kruskal-Wallis menunjukkan warna haustorium sangat
dipengaruhi oleh umur embrio zigotik tetapi tidak dipengaruhi oleh jenis media
dasar. Z bernilai negatif pada warna haustorium dihasilkan oleh embrio zigotik
muda dan media WPM. Dari analisis tersebut diketahui bahwa pencokelatan
haustoium nampak lebih jelas pada embrio zigotik tua dan penanaman pada media
Y3.

a b

c d e

f g

Gambar 9. Bentuk haustorium, normal (a) dan abnormal (b). Warna haustorium
(c-g), putih (c), kuning kehijauan (d), cokelat dan putih (e), cokelat
muda (f) dan cokelat (g)
26

Rekapitulasi persentase warna haustorium (Tabel 6) menunjukkan bahwa


warna haustorium sebagian besar memperlihatkan warna cokelat muda, kecuali
pada embrio zigotik tua. Warna haustorium tertinggi terdapat pada warna cokelat
muda (39%), sedangkan persentase warna haustorium terendah diperoleh pada
warna kuning kehijauan (4%). Akumulasi senyawa fenolik menyebabkan
terjadinya pencokelatan (browning) eksplan yang terlihat lebih jelas pada bagian
haustorium. Ribeiro et al. (2012) melaporkan pencokelatan pada haustorium
macaw palm mulai terlihat pada lima HST. Pembelahan sel jaringan meristematik
secara intensif menyebabkan pecahnya lapisan sel subepidermal, sehingga
senyawa fenolik pada bagian tersebut terdorong ke lapisan epidermis.
Terakumulasinya senyawa-senyawa ini di bagian epidermis menyebabkan
perubahan warna menjadi lebih gelap (cokelat) pada eksplan.

Tabel 5. Uji Kruskal-Wallis bentuk dan warna haustorium aren pada 6 MST
Perlakuan n Median Z Nilai P
Bentuk
Muda 50 1 1.72
Umur embrio 0.033*
Tua 50 1 -1.72
Y3 50 1 1.03
Jenis media 0.201tn
WPM 50 1 -1.03
Warna
Muda 50 2 -0.95
Umur embrio 0.002**
Tua 50 2 0.95
Y3 50 2 0.84
Jenis media 0.104tn
WPM 50 2 -0.84
Keterangan : Uji Kruskal-Wallis, tidak nyata (tn) P>0.05, berbeda nyata (*) pada 0.01<P<0.05,
berbeda sangat nyata (**) pada P<0.01. n = jumlah eksplan

Tabel 6. Rekapitulasi persentase bentuk dan warna haustorium (%) pada 6 MST
Haustorium (%)
Perlakuan Bentuk Warna (Skor)
Normal Abnormal 1 2 3 4 5
Media :
Y3 62 38 9 2 5 20 14
WPM 74 26 8 2 8 19 13
Rataan 68 32 17 4 13 39 27
Umur :
Muda 58 42 5 4 11 23 7
Tua 78 22 12 0 2 16 20
Rataan 68 32 17 4 13 39 27
Keterangan : Warna haustorium, putih (1), kuning kehijauan (2), cokelat dan putih (3) dan
cokelat (4)
27

Regenerasi Planlet

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemindahan kecambah ke dalam


media Y3 dengan penambahan air kelapa 100 dan 150 ml/l menghasilkan
persentase regenerasi planlet tertinggi yaitu masing-masing 2% (3 planlet),
sedangkan air kelapa 200 ml/l dan BAP 5 ppm hanya dapat menghasilkan
persentase planlet masing-masing sebesar 1% (1 planlet). Embrio zigotik muda
atau tua dapat membentuk planlet masing-masing sebesar 2% (4 planlet),
sedangkan embrio yang ditanam dahulu dalam media WPM atau Y3 sebelum
disubkultur pada media ber-ZPT dapat membentuk planlet masing-masing sebesar
3% (5 planlet) dan 2% (3 planlet) (Tabel 7).
Planlet yang diperoleh pada percobaan ini belum dapat diaklimatisasi
(Gambar 10). Hal ini disebabkan karena pertumbuhan planlet belum mencapai
pertumbuhan optimal sehingga dikhawatirkan planlet tidak dapat bertahan hidup
selama tahap aklimatisasi. Terdapat juga embrio zigotik yang tidak menunjukkan
adanya perkembangan (stagnan) (17%) meskipun telah disubkultur ke dalam
media ber-ZPT.

Gambar 10. Planlet aren (24 MST) berasal dari embrio muda yang dikulturkan
dalam media WPM
28

Tabel 7. Persentase planlet aren (%) pada 24 MST


Media subkultur Total
Perlakuan Awal
AK1 (x) AK2 (x) AK3 (x) BAP5 (x)
Muda Y3 0 (3) 1 (5) 0 (6) 0 (6) 1
Muda WPM 2 (5) 1 (3) 0 (3) 0 (4) 3
Tua Y3 0 (0) 1 (3) 1 (3) 0 (1) 2
Tua WPM 1 (4) 0 (2) 0 (1) 1 (5) 2
Total 3 (12) 3 (13) 1 (13) 1 (16) 8 (54)
Persentase (%) 25 23 8 6 15
Keterangan : AK1 = air kelapa 100 ml/l, AK2 = air kelapa 150 ml/l, AK3 = air kelapa 200 ml/l,
BAP5 = BAP 5 ppm. x = jumlah total eksplan yang ditanam

SIMPULAN

Kemampuan hidup dan perkecambahan embrio zigotik aren terbaik


diperoleh pada eksplan embrio zigotik muda (92%) dibandingkan embrio zigotik
tua (72%). Komposisi media dasar (Y3 atau WPM) tidak berpengaruh nyata
terhadap perkecambangan embrio zigotik aren. Jenis media dasar yang digunakan
tidak berpengaruh terhadap bentuk, warna apokol dan haustorium aren. Umur
embrio memberikan pengaruh nyata terhadap bentuk hastorium, tetapi tidak
berpengaruh nyata terhadap bentuk apokol. Perkembangan haustorium dan apokol
abnormal tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan planlet yang diperoleh.
Persentase planlet yang terbentuk dari embrio zigotik aren selama periode
pengamatan berkisar antara 6%-25% planlet.

SARAN

Dalam penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengevaluasi peranan


penambahan ZPT dalam media kultur serta penerapan pra-perlakuan pada embryo
rescue aren sehingga dapat meningkatkan keberhasilan konversi embrio zigotik
menjadi planlet aren.
29

PENAMBAHAN ZAT PENGATUR TUMBUH DAN


PRA-PERLAKUAN MENINGKATKAN KEBERHASILAN
EMBRYO RESCUE AREN SECARA IN VITRO

Abstrak

Aren merupakan tanaman asli Asia tenggara yang termasuk dalam famili
Arecaceae (palmaceae). Tujuan dari percobaan ini adalah: mengevaluasi pengaruh
1) pra-perlakuan dan penambahan sitokinin dalam media, 2) penambahan
kombinasi auksin dan sitokinin ke dalam media terhadap perkembangan embrio
zigotik muda dan pertumbuhan planlet dalam embryo rescue aren. Percobaan satu,
embrio zigotik muda dengan atau tanpa pra-perlakuan dikulturkan pada media Y3
dengan penambahan sitokinin berupa air kelapa (100, 150 dan 200 ml/l) atau BAP
(5 ppm). Percobaan dua, penambahan ZPT (NAA 1 ppm, NAA 5 ppm, kinetin 5
ppm, BAP 5 ppm, NAA 1 ppm+kinetin 5 ppm, NAA 5 ppm+kinetin 5 ppm, NAA
1 ppm+BAP 5 ppm dan NAA 5 ppm+BAP 5 ppm) ke dalam media Y3 untuk
regenerasi planlet. Hasil menunjukkan bahwa penambahan sitokinin (air kelapa
atau BAP) tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan embrio, sedangkan
embrio dengan pra-perlakuan menunjukkan pertumbuhan tunas dan akar terbaik.
Penambahan auksin dengan atau tanpa sitokinin berpengaruh positif terhadap
panjang akar dari embrio zigotik aren. Kombinasi NAA 5 ppm+BAP 5 ppm
menghasilkan jumlah planlet tertinggi. Planlet berhasil diregenerasikan melalui
embryo rescue dan dipindahkan ke tanah.

Kata kunci : aren, air kelapa, auksin, embrio muda dan sitokinin

PENDAHULUAN

Tanaman aren merupakan multi porpose tree spesies dimana seluruh


bagian dari tanaman ini dapat digunakan dan tidak terbuang (Atjung 1990).
Produk utama tanaman aren adalah nira yang dipanen dari tandan bunga jantan
(mayang). Nira memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena merupakan bahan baku
bahan bakar nabati (BBN), gula, alkohol dan cuka (Hasibunan 2011; Effendi
2010; Baharuddin et al. 2007; Baharuddin et al. 2009).
Nira mulai diproduksi oleh tanaman pada umur 5-8 tahun (Tenda et al.
2011). Jumlah tanda produktif hanya 4-6 tanda dan dengan masa sadap 2-3 bulan.
Dengan demikian, masa sadap aren berkisar 8-18 bulan. Setelah itu, bunga jantan
masih terbentuk, namun kurang produktif. Nira dapat dihasilkan tanaman 15
l/hari/tanaman. Tanaman akan mati lima tahun setelah berbunga (BPPP 2009).
Peningkatan produksi nira aren dilakukan melalui penerapan pupuk
(anorganik dan organik) dan penanaman varietas unggul (Malingkay et al. 2012;
Tenda et al. 2011). Pemberian pupuk NPK 1.200 g/pohon/tahun dan pupuk
organik 800 g/pohon/tahun meningkatkan produksi nira mencapai 17.2-17.5
l/pohon/hari (Malingkay et al. 2012), sedangkan penanaman varietas Kutai Timur
30

(Kutim) menghasilkan produksi nira sebesar 11-17 l/hari (Tenda et al. 2011).
Namun hingga saat ini belum diperoleh informasi mengenai teknik yang berfungsi
untuk memperpanjang umur produksi dari pohon induk aren.
Penyediaan bibit sebagai bahan tanam merupakan salah satu kendala yang
dihadapi dalam program pengembangan tanaman aren. Faktor yang berpotensi
menjadi penghambat penyediaan bibit aren adalah adanya dormansi benih (Asikin
dan Puspitaningtyas 2000). Upaya pematahan dormansi benih aren dengan
perlakuan fisik (Rofik dan Murniati 2008), kimiawi (Asikin dan Puspitaningtyas
2000; Indrawati 1999), ZPT (Sirait 2010; Saleh dan Wardah 2010) atau
penanaman benih dalam berbagai media perkecambahan benih (Rofik dan
Murniati 2008) belum mampu mengatasi masalah dormansi benih aren.
Salah satu solusi yang diharapkan dapat digunakan untuk mengatasi
masalah dormansi sekaligus memperpanjang umur produktif pohon aren adalah
melalui embryo rescue secara in vitro. Teknik embryo rescue dilakukan untuk
memperoleh planlet dengan mengkulturkan embrio zigotik muda dalam media in
vitro (Cisneros et al 2012). Penanaman embrio zigotik muda dalam media in vitro
yang mengandung berbagai nutrisi tertentu bermanfaat untuk mematahkan
dormansi (Stojicic et al 2012), mempercepat perolehan bibit tanaman (Liu et al.
2004) dan mempercepat siklus pemuliaan tanaman (Murphy 2007). Selain itu,
pemanenan buah dalam kondisi masih muda untuk diambil embrio zigotiknya
secara tidak langsung dapat memperpanjang umur produktif pohon aren. Hal ini
disebabkan karena hasil fotosintesis yang ditujukan untuk pematangan buah dapat
dialihkan ke proses sintesis nira atau proses metabolisme lainnya sehingga pohon
induk dapat berproduktif dalam jangka waktu yang lebih lama.
Penambahan ZPT ke dalam media in vitro dan pra-perlakuan embrio zigotik
muda sebelum ditanam dalam media in vitro diduga berpengaruh positif terhadap
pertumbuhan dan perkembangan embrio muda menjadi planlet. Arsyad et al.
(2013) melaporkan penambahan air kelapa (100 dan 150 ml/l) dan pra-perlakuan
menghasilkan jumlah planlet lebih tinggi dibandingkan penambahan air kelapa
200 ml/l dan BAP 5 ppm pada embryo rescue aren. Mashud (2009) juga
melaporkan penggunaan air kelapa 100 ml/l berpengaruh positif terhadap
perkecambahan embrio zigotik kelapa Dalam Mapanget. Penelitian penggunaan
ZPT α-naphthaleneacetic acid (NAA) dan 6-benzylaminopurine (BAP) telah
dilaporkan pada embryo rescue kelapa sawit (Alves et al. 2011) dan air kelapa
pada embryo rescue kelapa kopyor (Sukendah et al. 2008). Ismail (1994) juga
melaporkan penggunaan ZPT auksin (2.4 D, IBA, IAA dan NAA) dan sitokinin
(BAP, 2ip dan kinetin) pada kultur embrio zigotik aren. Dalam penelitian lain,
pra-perlakuan berpengaruh pada perkembangan embrio zigotik muda peach palm
(Maciel et al. 2010).
Percobaan ini dilakukan untuk mengatasi masalah dormansi benih aren
melalui embryo rescue. Tujuan dari percobaan ini adalah mengevaluasi pengaruh
1) pra-perlakuan dan penambahan sitokinin dalam media kutur in vitro, 2)
penambahan ZPT (auksin dan atau sitokinin) ke dalam media kultur in vitro
terhadap perkembangan embrio zigotik muda melalui embryo rescue dan
pertumbuhan planlet aren.
31

BAHAN DAN METODE

Waktu, Tempat, dan Bahan Tanam (Eksplan)

Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2011 sampai Oktober 2012.


Bertempat di Laboratorium Biologi Molekuler Tanaman, Departemen Agronomi
dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Bogor.
Eksplan yang digunakan adalah embrio zigotik muda aren yang diperoleh dari
pertanaman di sekitar Bogor, Jawa Barat (Desa Cinangneng) dan Maros, Sulawesi
Selatan (Desa Kaluku). Embrio zigotik diisolasi dari buah aren muda (±15 BSP)
(Matana, Staf peneliti Balai Penelitian Tanaman Palma, wawancara langsung).
Karakteristik buah aren muda yang digunakan pada percobaan ini adalah kulit
buah berwarna hijau, endosperma bertekstur kenyal berwarna putih transparan dan
kulit biji berwarna kuning dan tipis.

Sterilisasi Eksplan

Sterilisasi eksplan dimulai dengan memotong buah aren untuk diambil


bijinya. Biji/endosperma dipotong membentuk balok pada bagian yang berisi
embrio lalu biji dicuci dengan detergen dan dibilas dengan aquades steril.
Potongan balok endosperma disterilkan dalam larutan cairan pemutih komersial
(bleach) dengan konsentrasi 20% dan 10%, masing-masing selama 15 menit. Dua
tetes Tween 20 ditambahkan ke dalam cairan pemutih komersial sebagai
pengemulsi. Selanjutnya embrio zigotik diisolasi dari balok endosperma dan
disterilisasi dalam cairan pemutih komersial 5% selama 15 menit. Embrio-embrio
zigotik dibilas tiga kali dengan aquades steril untuk dibersihkan dari cairan
pemutih komersial dan embrio zigotik siap untuk ditanam dalam media perlakuan.
Setelah ditanam dalam botol kultur, embrio zigotik diinkubasi dalam ruang kultur
pada suhu 24-250C dengan lama penyinaran 24 jam.

Media Dasar Kultur In Vitro dan Aklimatisasi

Media dasar yang digunakan adalah media berbasis Eeuwens atau Y3


(Eeuwens 1976) (Lampiran 2). Ke dalam media berbasis Y3 ditambahkan
komposisi vitamin yang dikembangkan oleh Morel dan Wetmore (1951). Media
juga ditambahkan sukrosa 60.000 mg/l, arang aktif 2.500 mg/l, agar 7.000 mg/l.
pH media diatur hingga mencapai 5.5-5.8 dengan penambahan NaOH (0,1 N) atau
HCl (0,1 N).
Aklimatisasi dilakukan menggunakan wadah gelas plastik yang terlebih
dahulu diberi lubang pada bagian dasar wadah. Selanjutnya wadah diisi dengan
arang sekam yang telah disterilisasi menggunakan autoclave. Setelah wadah diisi
dengan arang sekam steril, planlet ditanam dan disimpan pada suhu ruang. Setelah
satu minggu dalam suhu ruang, planlet dipindahkan ke luar ruangan dengan tujuan
agar planlet dapat beradaptasi dengan lingkungan luar. Planlet dipindahkan ke
polibag yang berisi media tanam (campuran tanah, pupuk kandang dan arang
sekam) setelah akar dan daun baru terbentuk.
32

Pengaruh penambahan ZPT sitokinin dan pra-perlakuan

Percobaan ini tersusun dalam RAL dengan dua faktor. Faktor pertama
penambahan ZPT sitokinin, yaitu air kelapa muda 100, 150, 200 ml/l dan BAP 5
ppm. Faktor kedua adalah pra-perlakuan, yaitu dengan dan tanpa pra-perlakuan.
Pra-perlakuan dilakukan dengan menanam embrio zigotik pada media Y3 tanpa
penambahan ZPT selama enam minggu. Setelah enam minggu di media pra-
perlakuan, embrio zigotik aren yang telah membentuk apokol (kecambah)
disubkultur ke dalam media perlakuan yang mengandung ZPT. Pra-perlakuan
yang diberikan diharapkan mampu mendorong perkembangan embrio zigotik
mengarah ke pembentukan plantlet yang baik dan dalam waktu yang lebih cepat,
kecambah aren yang lebih seragam dan kepastian bahwa eksplan yang ditanam
dalam media perlakuan terbebas dari mikroba kontaminan. Unit percobaan terdiri
atas lima botol dan diulang lima kali. Di dalam masing-masing botol kultur
ditanaman dengan satu embrio zigotik. Jumlah seluruh satuan percobaan adalah
200 embrio zigotik.
Model linier RAL faktorial menurut Mattjik dan Sumertajaya (2006) ialah :
Yij = µ + αi + βj + (αβ)ij + εijk
Keterangan :
Yij = Pengamatan pada faktor A taraf ke-i faktor B taraf ke-j dan ulangan ke-k
µ = Rataan umum
αi = Pengaruh utama faktor A
βj = Pengaruh utama faktor B
αβij = Komponen interaksi dari faktor A dan B
εijk = Pengaruh acak

Pengaruh penambahan ZPT (auksin dengan atau tanpa sitokinin)

Percobaan disusun dalam RAL satu faktor, dengan delapan perlakuan


penambahan ZPT, yaitu: penambahan NAA (1 ppm atau 5 ppm); kinetin (5 ppm) atau
BAP (5 ppm). Selain itu, perlakuan penambahan kombinasi BAP (5 ppm) dengan
NAA (1 ppm atau 5 ppm), atau kombinasi kinetin (5 ppm) dengan NAA (1 ppm atau
5 ppm). Unit percobaan terdiri atas lima botol kultur dengan lima ulangan. Satu
embrio zigotik ditanam dalam setiap botol sehingga seluruh total embrio zigotik
muda aren yang ditanam berjumlah 200 embrio.
Model linier RAL faktor tunggal menurut Mattjik dan Sumertajaya (2006) :
Yij = µ + τi + βj + εij
Keterangan :
i = 1, 2, …, t dan j = 1, 2, …, r
Yij = Pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
µ = Rataan umum
τi = Pengaruh perlakuan ke-i
εij = Pengaruh acak pada perlakuan ke-i ulangan ke-i

Pengamatan dan Analisis Data

Untuk kedua percobaan, pengamatan dilakukan terhadap semua kultur yang


terbebas dari kontaminasi pada 12 minggu setelah tanam (MST). Peubah yang
33

diamati, meliputi: (a) Persentase pembentukan apokol dari eksplan, (b) Persentase
eksplan yang bertunas, (c) Persentase eksplan yang berakar, (d) Panjang tunas,
dan Panjang akar yang berkembang dari eksplan yang dikulturkan.
Pada 32 MST, pengamatan kembali dilakukan untuk menghitung persentase
pembentukan planlet dari total embrio zigotik aren yang dikulturkan. Persentase
planlet dihitung dari jumlah planlet yang berkembang dari eksplan dibagi dengan
jumlah total eksplan yang diamati dikalikan dengan 100%.
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F pada taraf nyata α 5%
dan jika hasil uji F menunjukkan berbeda nyata, maka dilakukan uji lanjut
Duncan Multiple Range Test (DMRT). Analisis data dilakukan dengan
menggunakan Statistical Analysis System (SAS) versi 9.0 (SAS Institute Inc.,
USA).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada akhir percobaan (12 MST) terlihat pertumbuhan embrio zigotik muda
aren dapat mencapai pembentukan tunas dan akar. Penambahan ZPT (auksin
dengan atau tanpa sitokinin) diduga sebagai salah satu faktor yang menentukan
keberhasilan pembentukan akar dan tunas pada embrio zigotik yang dikulturkan.
Selain itu, melalui kultur in vitro eksplan yang berupa embrio zigotik dapat
kontak langsung dengan media tanam sehingga masalah dormansi tidak lagi
menghambat pertumbuhan embrio zigotik aren. Hasil yang diperoleh pada
percobaan ini lebih baik dibanding penelitian Saleh dan Wardah (2010) dan Saleh
et al. (2008) yang melaporkan perkecambahan biji aren secara konvensional
belum dapat membentuk bibit pada 12 MST.
Pertumbuhan embrio zigotik aren menunjukkan pertumbuhan morfologi
spesifik yaitu didahului dengan pemanjangan apokol, induksi akar kemudian
disusul oleh keluarnya tunas dari dalam apokol (Mujahidin et al. 2003).
Pembentukan akar dimulai dari ujung apokol yang membengkak, sedangkan
pembentukan tunas berasal dari celah yang berada pada apokol. Selain itu,
terdapat fenomena dimana tunas dapat terbentuk tanpa didahului oleh
pembentukan akar (Gambar 11a), namun pada tahap aklimatisasi planlet tersebut
tidak dapat bertahan hidup (mati).
Akar terbentuk sebagai perpanjangan apokol dan dimulai dari ujung apokol
yang membengkak (Saleh dan Wardah 2010). Secara visual terdapat perbedaan
diameter antara akar dan apokol yang diperoleh pada percobaan ini. Diameter akar
terlihat lebih kecil dibandingkan diameter apokolnya (Gambar 11c). Di samping
itu, akar yang terbentuk umumnya berwarna kuning sedangkan apokol memiliki
empat warna yang berbeda (putih, kuning kehijauan, cokelat dan putih serta
cokelat). Kedua hal ini menjadi indikator untuk mengetahui terbentuknya akar
pada kecambah aren.
Pembentukan tunas pada kecambah aren dimulai dengan munculnya retakan
di tengah atau sela-sela apokol (Mogea et al. 1991). Retakan apokol akan semakin
memanjang dan akhirnya membentuk celah. Dari celah apokol yang terbentuk
akan keluar tunas yang pada awalnya hanya sebagian kecil dari ukurannya.
Seiring dengan bertambahnya periode in vitro, tunas ini akan semakin membesar
34

hingga seluruh bagian dari tunas keluar dari apokol. Tunas yang keluar pertama
kali berbentuk duri landak, runcing dan tajam (Gambar 12).

Gambar 11. Planlet aren (kiri), pembentukan tunas tanpa akar (a). Kecambah
aren (kanan), apokol (b), akar (c), dan pembengkakan pada apokol
(d).
35

a b

c d

Gambar 12. Tahapan keluarnya tunas dari apokol. Celah pada apokol (a), celah
melebar (b), tunas mulai keluar dari apokol (c), tunas telah keluar
dari apokol (d), dan daun baru telah terbentuk (e)
36

Pengaruh penambahan ZPT sitokinin dan pra-perlakuan

Pengamatan pada percobaan ini dilakukan pada 12 MST. Hasil analisis


ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara penambahan sitokinin
(air kelapa atau BAP) dan pra-perlakuan terhadap persentase eksplan bertunas,
persentase berakar, panjang tunas dan panjang akar. Data rekapitulasi interaksi
penambahan sitokinin dan pra-perlakuan tersaji pada Tabel 8.
Kombinasi penambahan air kelapa 200 ml/l dan dengan pra-perlakuan
cenderung menghasilkan persentase eksplan bertunas tertinggi yaitu sebesar 46%,
sedangkan kombinasi BAP 5 ppm dan tanpa pra-perlakuan cenderung
menghasilkan persentase berakar tertinggi (12%). Kombinasi penambahan BAP 5
ppm dan dengan pra-perlakuan memiliki kecenderungan untuk menghasilkan rata-
rata panjang tunas tertinggi (0.82 cm). Rata-rata panjang akar tertinggi cenderung
dihasilkan oleh kombinasi penambahan air kelapa 200 ml/l dan dengan pra-
perlakuan (0.35 cm).
Pada percobaan ini embrio zigotik muda aren telah dapat bertunas dan
berakar, akan tetapi persentase pembentukannya masih relatif kecil (Tabel 8).
Terdapat satu kombinasi perlakuan (air kelapa 200 ml/l dan tanpa pra-perlakuan)
yang tidak memperlihatkan pembentukan tunas (0%). Terdapat juga dua
kombinasi yang tidak menunjukkan adanya pembentukan akar. Kedua kombinasi
tersebut adalah kombinasi perlakuan air kelapa 100 ml/l dan tanpa pra-perlakuan
serta kombinasi air kelapa 150 ml/l dan tanpa pra-perlakuan (0%). Keragaman
kemampuan tumbuh eksplan diduga dipengaruhi oleh genotipe eksplan. Hal ini
disebabkan karena meskipun embrio berasal dari buah yang sama, namun
fertilisasi yang terjadi berasal dari serbuk sari yang berbeda sehingga genotipe
ketiga embrio dalam satu buah juga ikut berbeda. Gebologlu et al. (2011)
menyatakan keberhasilan kultur embrio zigotik dipengaruhi oleh beberapa faktor,
di antaranya: genotipe, umur embrio dan ZPT.
Analisis ragam menunjukan bahwa penambahan sitokinin berupa air kelapa
atau BAP ke dalam media kultur tidak berpengaruh nyata terhadap persentase
eksplan bertunas (Tabel 9). Perlakuan pra-perlakuan sebagai faktor tunggal
memberikan pengaruh sangat nyata terhadap persentase embrio zigotik muda yang
bertunas. Terjadi peningkatan pembentukan tunas seiring meningkatnya
kandungan air kelapa dalam media. Terlihat bahwa embrio zigotik muda yang
terlebih dahulu ditanam dalam media tanpa penambahan ZPT menghasilkan
persentase bertunas lebih tinggi dan berbeda nyata dari eksplan yang dikulturkan
langsung dalam media ber-ZPT (tanpa pra-perlakuan).
Dari data persentase bertunas yang diperoleh diketahui bahwa air kelapa 200
ml/l cenderung menghasilkan persentase tunas tertinggi (23%), meskipun tidak
berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal ini diduga karena air kelapa
mengandung hormon endogen yang memacu pembelahan sel dari embrio zigotik
muda aren. Yong et al. (2009) melaporkan air kelapa mengandung hormon
endogen yang terdiri atas: auksin dan sitokinin. Selain itu, air kelapa juga
mengandung asam amino, vitamin, gula (sukrosa, glukosa dan fruktosa), gula
alkohol (manitol, sorbitol dan mio-inositol), senyawa nitrogen (etanolamin dan
amonium), asam organik dan enzim. Gula dan gula alkohol merupakan sumber
energi untuk pertumbuhan kultur jaringan tanaman. Salah satu proses yang
membutuhkan energi adalah penyerapan unsur hara dari dalam media. Asam
37

amino merupakan sumber N-organik yang siap diasimilasi dan dapat mendorong
pertumbuhan sel dalam kultur apabila nitrat dan amonium kurang tersedia. Asam
organik berfungsi meningkatkan pertumbuhan sel dalam media yang hanya
mengandung amonium sebagai sumber N. Vitamin berfungsi pada reaksi
enzimatik (Mashud 2009). Penambahan air kelapa pada media kultur
meningkatkan kandungan fosfat (P) dalam media sehingga dapat mengurangi
subkultur pada kultur jaringan Cyamopsis tetragonolobust (Mohammad dan Ali
2010). Penelitian lain yang dilakukan oleh Peixe et al. (2007) menambahkan
penambahan air kelapa dalam media kultur dapat mensubtitusi peran zeatin pada
kultur jaringan zaitun.
Hasil yang diperoleh didukung oleh penelitian Asif et al. (2001) yang
melaporkan bahwa air kelapa 200 ml/l menghasilkan perkecambahan dan
pertumbuhan embrio zigotik pisang tertingggi (93.8%) dibandingkan air kelapa
100 ml/l (87.5%) dan 300 ml/l (68,8%). Nasib et al. (2008) membuktikan
penambahan air kelapa 200 ml/l ke dalam media kultur mengahasilkan rata-rata
jumlah tunas lebih tinggi (7.2) dibandingkan penambahan air kelapa 150 ml/l dan
tanpa penambahan air kelapa (6.7 dan 5.5) pada kultur jaringan kiwi. Namun hasil
berbeda diperoleh Sukendah et al. (2008) pada embryo rescue kelapa kopyor.
Sukendah et al. (2008) melaporkan air kelapa tidak memberikan peningkatan yang
signifikan terhadap pertumbuhan planlet pada kultur embrio kelapa kopyor asal
Sumenep. Media dengan air kelapa 200 ml/l justru menghasilkan jumlah dan lebar
daun lebih rendah dibandingkan media dengan konsentrasi air kelapa lebih kecil
atau tanpa air kelapa.
Perlakuan penambahan sitokinin atau pra-perlakuan secara tunggal tidak
berpengaruh nyata terhadap persentase akar yang terbentuk dari embrio zigotik
muda aren. Persentase berakar tertinggi untuk perlakuan penambahan sitokinin
cenderung dihasilkan oleh penambahan BAP 5 ppm (10%) ke dalam media. Di
antara ketiga konsentrasi penambahan air kelapa, penambahan air kelapa 200 ml/l
cenderung menghasilkan persentase pembentukan akar lebih baik (6%)
dibandingkan penambahan air kelapa 100 dan 150 ml/l (5%). Untuk perlakuan
pra-perlakuan, persentase akar cenderung lebih tinggi pada perlakuan dengan
penanaman terlebih dahulu dalam media kultur tanpa ZPT (9%) (Tabel 9).
Dari percobaan ini diketahui sitokinin dapat menginduksi pembentukan akar
meskipun tanpa penambahan auksin eksogen dalam media kultur. Keseimbangan
nisbah sitokinin dan auksin endogen diduga menjadi salah satu penyebab
terbentuknya akar dari embrio zigotik aren yang dikulturkan. Keseimbangan
antara auksin dan sitokinin sebagai ZPT sangat dibutuhkan untuk pembentukan
meristem akar pada kultur jaringan (George et al. 2008). Selain itu, penambahan
BAP dalam media kultur dapat memicu biosintesis etilen pada jaringan eksplan
(Wang et al. 2002). Pernyataan tersebut didukung oleh Stepanova et al. (2005),
terjadi akumulasi IAA pada jaringan tudung akar Arabidopsis thaliana seiring
dengan meningkatnya konsentrasi etilen. Penelitian lain yang dilakukan oleh
Ruzicka et al. (2007) menunjukkan bahwa etilen berperan dalam mengaktifkan
auxin signaling pathway dan mengatur pertumbuhan akar dengan mendorong
biosintesis serta transpor auksin.
Pola pertumbuhan dari embrio zigotik aren diduga pula menjadi salah satu
penyebab tingginya eksplan berakar pada penambahan BAP. Penambahan BAP
menginduksi terjadinya pembelahan sel pada jaringan apokol sehingga ketika
38

apokol telah mencapai panjang tertentu maka induksi akar dimulai dengan
didahului oleh pembengkakan pada ujung apokol. BAP merupakan ZPT yang
tergolong ke dalam sitokinin sintesis. Golongan sitokinin ini mempengaruhi
berbagai proses fisiologi dan berperan penting dalam sitokinesis atau pembelahan
sel serta morfogenesis pada kultur jaringan tanaman (Wattimena 1988; Gunawan
1987; Barciszewski et al. 1999).
Analisis ragam menunjukkan bahwa panjang tunas dan akar tidak
dipengaruhi oleh penambahan sitokinin dalam media. Berbeda dengan
penambahan sitokinin, perlakuan pra-perlakuan secara tunggal sangat
berpengaruh terhadap panjang tunas, tetapi tidak berpengaruh terhadap panjang
akar yang terbentuk dari embrio zigotik aren. Rata-rata panjang tunas dan akar
tertinggi cenderung diperoleh pada penambahan BAP 5 ppm ke dalam media
kultur, masing-masing sebesar 0.40 cm dan 0.24 cm. Pada perlakuan pra-
perlakuan, rata-rata panjang tunas dan akar lebih tinggi dihasilkan oleh perlakuan
dengan pra-perlakuan (0.56 cm dan 0.86 cm).
Penambahan BAP dalam media in vitro pada percobaan ini memperlihatkan
pengaruh yang lebih superior dalam menginduksi panjang tunas dan akar eksplan
dibandingkan penambahan air kelapa di ketiga konsentrasinya. Hasil ini didukung
oleh Gnasekaran et al. (2010), air kelapa umum digunakan sebagai senyawa
organik kompleks pada kultur jaringan karena mengandung 1,3-Diphenylurea
yang memiliki pengaruh yang sama dengan sitokinin. Namun, air kelapa juga
memiliki faktor penyebab dormansi alami seperti asam absisik (ABA). Selain itu
air kelapa dapat berubah menjadi senyawa toksin jika terlalu lama kontak dengan
udara bebas. Srivastava (2002) menyatakan Diphenylurea menginduksi
pembelahan sel lebih rendah dibandingkan sitokinin adenine dengan rasio
pembelahan sel 1:100. Di samping itu, diduga air kelapa mengandung
monosakarida dengan kandungan gula setara 60 g/l. Peningkatan konsentrasi gula
menyebabkan meningkatnya tekanan osmotik media sehingga mengakibatkan
terhambatnya pembentukan akar. Asemota et al. (2007) melaporkan bahwa
peningkatan konsentrasi sukrosa hingga 90 g/l menurunkan pembentukan dan
pemanjangan akar pada kultur jaringan kurma.
Penanaman terlebih dahulu embrio zigotik muda dalam media tanpa
penambahan ZPT menghasilkan persentase bertunas, persentase berakar, panjang
tunas serta panjang akar lebih tinggi dibandingkan eksplan yang dikulturkan
langsung dalam media ber-ZPT (Tabel 9 dan 10). Hal ini mengindikasikan bahwa
media tanpa ZPT (free hormone medium) berperan dalam proses pematangan
jaringan embrio zigotik muda aren. Selama proses pematangan, terjadi akumulasi
pati, protein (Peran-Quesada et al. 2004), lipid dan enzim (Davies 2004) yang
dibutuhkan untuk proses perkecambahan dan pertumbuhan embrio. Sanputawong
dan Te-chato (2011) juga melaporkan mengkulturkan embrio kelapa sawit dalam
media tanpa penambahan ZPT selama 2 bulan menyebabkan terjadi stres pada
embrio. Kondisi stress embrio ini berkaitan dengan hidrolisis dan mobilitas
cadangan makanan yang dibutuhkan selama perkecambahan dan pertumbuhan
embrio (Sarasan et al. 2005). Diduga pula perlakuan pra-perlakuan juga
mempengaruhi konsentrasi hormon endogen dalam jaringan embrio zigotik. Feher
et al. (2003) menambahkan pra-perlakuan dapat berperan dalam mengubah
keseimbangan hormon endogen dalam jaringan embrio zigotik.
39

Tabel 8. Rekapitulasi interaksi penambahan sitokinin dan pra-perlakuan terhadap


seluruh peubah pada 12 MST
Penambahan Sitokinin Tanpa Pra-perlakuan Dengan Pra-perlakuan
dalam media Y3 (Σx / n) (Σx / n)
Persentase bertunas (%)
AK 1 7 (1/19) 29 (6/18)
AK 2 5 (1/21) 31 (6/17)
AK 3 0 (0/25) 46 (8/20)
BAP 5 4 (1/24) 37 (8/18)
Persentase berakar (%)
AK 1 0 (1/19) 9 (2/18)
AK 2 0 (0/21) 10 (1/17)
AK 3 4 (1/25) 8 (2/20)
BAP 5 12 (3/24) 9 (2/18)
Panjang Tunas (cm)
AK 1 0.03 (1/19) 0.60 (6/18)
AK 2 0.05 (1/21) 0.44 (6/17)
AK 3 0 (0/25) 0.46 (8/20)
BAP 5 0.09 (1/24) 0.82 (8/18)
Panjang Akar (cm)
AK 1 0 (1/19) 0.02 (2/18)
AK 2 0 (0/21) 0.02 (1/17)
AK 3 0.04 (1/25) 0.35 (2/20)
BAP 5 0.27 (3/24) 0.20 (2/18)
Keterangan : AK1 = air kelapa 100 ml/l, AK2 = air kelapa 150 ml/l, AK3 = air kelapa 200 ml/l,
BAP5 = BAP 5 ppm. Σx = jumlah eksplan bertunas atau berakar. n = jumlah total
eksplan setiap perlakuan.

Tabel 9. Penambahan sitokinin dan pra-perlakuan terhadap persentase tunas dan


akar aren (%) pada 12 MST
Persentase tunas Persentase akar
Perlakuan
(Σx / n) (Σx / n)
Penambahan sitokinin
dalam media Y3 :
Air kelapa 100 ml/l 18 (7/37) 5 (2/37)
Air kelapa 150 ml/l 18 (7/38) 5 (1/38)
Air kelapa 200 ml/l 23 (8/45) 6 (3/45)
BAP 5 ppm 20 (9/42) 10 (5/42)
Pra-perlakuan :
Tanpa Pra-perlakuan 4b (3/89) 4 (4/89)
Dengan Pra-perlakuan 36a (28/73) 9 (7/73)
Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang berbeda, berbeda nyata pada uji DMRT
taraf α 1%. Σx = jumlah eksplan bertunas atau berakar. n = jumlah total eksplan
setiap perlakuan.
40

Tabel 10. Penambahan ZPT (sitokinin) dan pra-perlakuan terhadap rata-rata


panjang tunas dan akar aren (cm) pada 12 MST
Panjang Tunas Panjang Akar
Perlakuan
(Σx / n) (Σx / n)
Penambahan sitokinin
dalam media Y3 :
Air kelapa 100 ml/l 0.31 (7/37) 0.01 (2/37)
Air kelapa 150 ml/l 0.23 (7/38) 0.01 (1/38)
Air kelapa 200 ml/l 0.20 (8/45) 0.18 (3/45)
BAP 5 ppm 0.40 (9/42) 0.24 (5/42)
Pra-perlakuan :
Tanpa pra-perlakuan 0.04b (3/89) 0.08 (4/89)
a
Dengan pra-perlakuan 0.58 (28/73) 0.16 (7/73)
Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang berbeda, berbeda nyata pada uji DMRT
taraf α 1%. Σx = jumlah eksplan bertunas atau berakar. n = jumlah total eksplan
setiap perlakuan

Pengaruh penambahan ZPT (auksin dengan atau tanpa sitokinin)

Media yang digunakan pada percobaan ini adalah media Y3 dengan


penambahan ZPT sesuai perlakuan masing-masing. Percobaan dilakukan dengan
mengkulturkan embrio muda dalam media mengandung ZPT auksin (NAA),
sitokinin (kinetin atau BAP) serta kombinasi keduanya. Pengamatan dilakukan 12
MST. Setelah 12 MST, di beberapa embrio zigotik muda pada masing-masing
perlakuan terlihat telah dapat membentuk tunas atau akar.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pembentukan apokol tidak
dipengaruhi oleh penambahan auksin dengan atau tanpa sitokinin. Tabel 11
menunjukkan bahwa pembentukan apokol tertinggi terdapat pada penambahan
kombinasi NAA 5 ppm dan BAP 5 ppm dalam media (96%), sedangkan
persentase pembentukan apokol terendah terdapat pada penambahan NAA 5 ppm
dan penambahan kombinasi NAA 5 ppm dan kinetin 5 ppm (80%). Hasil ini tidak
sejalan dengan hasil Alves et al. (2011), penambahan NAA dan BAP menjadi
inhibitor perkecambahan embryo rescue kelapa sawit hibrida (Elaeis oleifera x
Elaeis guineensis). Ini disebabkan karena meskipun embrio zigotik yang
digunakan berumur masih muda akan tetapi embrio tersebut telah dapat
mensintesis hormon endogen sendiri.
Analisis ragam menunjukkan bahwa persentase eksplan bertunas dan
berakar tidak dipengaruhi oleh penambahan auksin dengan atau tanpa sitokinin ke
dalam media kultur. Penambahan auksin dengan atau tanpa sitokinin tidak
berpengaruh terhadap rata-rata panjang tunas, namun sangat berpengaruh nyata
terhadap rata-rata panjang akar. Data tersaji pada Tabel 12 dan 13.
Penambahan kombinasi NAA 5 ppm dan BAP 5 ppm cenderung
menghasilkan persentase embrio zigotik muda bertunas tertinggi dibanding
perlakuan lainnya (51%), sedangkan persentase bertunas terendah cenderung
dihasilkan oleh penambahan NAA 5 ppm (4%). Di sisi lain, penambahan
kombinasi NAA 5 ppm dan BAP 5 ppm cenderung menghasilkan rata-rata
panjang tunas tertinggi dari seluruh penambahan auksin dengan atau tanpa
41

sitokinin (1.46 cm), sedangkan penambahan kombinasi NAA 1 ppm dan BAP 5
ppm cenderung menghasilkan panjang tunas terendah (0.11 cm). Hasil ini
didukung oleh Ogunsola dan Ilori (2008), penambahan BAP 0,6-3 mg/l dan NAA
0.1-0.2 mg/l pada kultur embrio Synsepalum dulcificum Daniel menghasilkan
jumlah tunas tertinggi.
Persentase berakar pada embrio zigotik muda tertinggi cenderung diperoleh
pada penambahan kinetin 5 ppm (55%), sedangkan persentase terendah terdapat
pada penambahan kombinasi NAA 1 ppm dan BAP 5 ppm (15%). Penambahan
kombinasi NAA 5 ppm dan kinetin 5 ppm menghasilkan panjang akar tertinggi
(5.17 cm), sedangkan panjang akar terendah diperoleh pada penambahan NAA 5
ppm ke dalam media (0.74 cm). Hasil yang diperoleh berbeda dari penelitian
Laplaze et al. (2007), penambahan kinetin dengan konsentrasi 0.1-0.5 µM penjadi
inhibitor pemanjangan akar primer. Berbeda dari hasil yang diperoleh Laplaze et
al. (2007), Debi et al. (2004). membuktikan bahwa kinetin 1 µM menginduksi
elongasi sel-sel akar padi. Oleh sebab itu, diduga kombinasi kinetin dan NAA
dengan konsentrasi 5 ppm bersinergis untuk memicu pembelahan dan elongasi sel
pericycle pada jaringan akar.

Tabel 11. Penambahan ZPT (auksin dengan dan tanpa sitokinin) terhadap
persentase apokol aren (%) pada 12 MST
Perlakuan n Persentase apokol (%)
NAA 1 ppm 19 88
NAA 5 ppm 20 80
Kinetin 5 ppm 15 95
BAP 5 ppm 18 89
NAA 1 ppm + Kinetin 5 ppm 15 81
NAA 5 ppm + Kinetin 5 ppm 18 80
NAA 1 ppm + BAP 5 ppm 19 86
NAA 5 ppm + BAP 5 ppm 17 96
Keterangan : n = jumlah total eksplan setiap perlakuan

Tabel 12. Penambahan ZPT (auksin dengan dan tanpa sitokinin) terhadap
persentase bertunas dan berakar aren (%) pada 12 MST
Persentase Bertunas Persentase Berakar
Penambahan ZPT dalam media Y3 :
(Σx / n) (Σx / n)
NAA 1 ppm 38 (6/19) 36 (6/19)
NAA 5 ppm 4 (1/20) 19 (4/20)
Kinetin 5 ppm 41 (7/15) 55 (7/15)
BAP 5 ppm 29 (5/18) 16 (3/18)
NAA 1 ppm + Kinetin 5 ppm 23 (5/15) 24 (6/15)
NAA 5 ppm + Kinetin 5 ppm 15 (2/18) 48 (8/18)
NAA 1 ppm + BAP 5 ppm 5 (1/19) 15 (3/19)
NAA 5 ppm + BAP 5 ppm 51 (8/17) 54 (9/17)
Keterangan : Σx = jumlah eksplan bertunas atau berakar. n = jumlah total eksplan setiap
perlakuan
42

Tabel 13. Penambahan ZPT (auksin dengan dan tanpa sitokinin) terhadap rata-rata
panjang tunas dan akar aren (cm) pada 12 MST
Panjang Tunas Panjang Akar
Penambahan ZPT dalam media Y3 :
(Σx / n) (Σx / n)
NAA 1 ppm 0.76 (6/19) 1.17b (6/19)
NAA 5 ppm 0.43 (1/20) 0.74b (4/20)
Kinetin 5 ppm 0.85 (7/15) 3.04ab (7/15)
BAP 5 ppm 0.62 (5/18) 0.77b (3/18)
NAA 1 ppm + Kinetin 5 ppm 0.43 (5/15) 2.68ab (6/15)
NAA 5 ppm + Kinetin 5 ppm 0.62 (2/18) 5.17a (8/18)
NAA 1 ppm + BAP 5 ppm 0.11 (1/19) 0.96b (3/19)
NAA 5 ppm + BAP 5 ppm 1.46 (8/17) 4.73a (9/17)
Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang berbeda, berbeda nyata pada uji DMRT
taraf α 1%. Σx = jumlah eksplan bertunas atau berakar. n = jumlah total eksplan
setiap perlakuan

Pembentukan Plantlet dan Keberhasilan Aklimatisasi

Pada 32 MST, pengamatan kembali dilakukan untuk jumlah planlet yang


dapat diaklimatisasi di kedua percobaan yang dilakukan. Planlet yang akan
diaklimatisasi terlebih dahulu diseleksi berdasarkan beberapa kriteria. Kriteria
planlet siap aklimatisasi adalah daun pertama dan akar lateral telah terbentuk serta
planlet memiliki penampakan yang vigor (Gambar 13). Seleksi ini dilakukan
untuk meningkatkan jumlah planlet yang dapat bertahan hidup selama proses
aklimatisasi. Tahapan aklimatisasi planlet yang diperoleh dari embrio zigotik aren
tersaji pada Gambar 14 dan 15. Persentase bentuk apokol dari planlet siap
aklimatisasi didominasi oleh bentuk abnormal, yaitu sebesar 100% atau 7 planlet
(untuk percobaan penambahan sitokinin dan pra-perlakuan) dan 77% atau 17
planlet (untuk percobaan penambahan auksin dengan atau tanpa sitokinin). Bentuk
apokol normal hanya diperoleh pada percobaan penambahan auksin dengan atau
tanpa sitokinin sebesar 22% atau 5 planlet.
Persentase planlet yang dapat diaklimatisasi pada percobaan penambahan
sitokinin dan pra-perlakuan sebesar 4% (7 planlet dari 162 eksplan), sedangkan
planlet yang dapat dipindahkan (transplanting) ke tanah hanya 3% (5 planlet)
(Tabel 14). Dari pengamatan yang dilakukan terdapat empat perlakuan yang tidak
menghasilkan planlet siap aklimatisasi. Keempat perlakuan tersebut adalah
kombinasi penambahan air kelapa 100 ml/l dan tanpa pra-perlakuan, kombinasi
penambahan air kelapa 150 ml/l dan tanpa pra-perlakuan, kombinasi penambahan
200 ml/l dan tanpa pra-perlakuan serta kombinasi penambahan 150 ml/l dan
dengan pra-perlakuan. Rendahnya persentase planlet yang dapat diaklimatisasi
disebabkan oleh akar dan tunas yang belum terbentuk sempurna, sehingga
dikhawatirkan tidak mampu bertahan hidup selama proses aklimatisasi. Nizam
dan Te-chato (2009) menyatakan aklimatisasi merupakan tahapan penting dari
mikropropagasi dengan tingkat keberhasilan rendah. Hal ini disebabkan karena
aklimatisasi merupakan tahap transisi planlet dari lingkungan kultur yang optimal
ke lapang.
43

Percobaan penambahan ZPT (auksin dan atau tanpa sitokinin) menghasilkan


planlet siap aklimatisasi sebesar 16% (22 planlet) dan jumlah planlet yang dapat
dipindah ke tanah sebesar 9% (12 planlet) (Tabel 15). Jumlah planlet siap
aklimatisasi tertinggi diperoleh pada perlakuan penambahan kombinasi NAA 5
ppm dan BAP 5 ppm yaitu sebesar 8 planlet, sedangkan dari 8 planlet yang telah
di aklimatisasi hanya 4 planlet yang dapat dipindah ke tanah. Penambahan NAA 5
ppm dan penambahan kombinasi NAA 1 ppm dan BAP 5 ppm dalam media in
vitro tidak menghasilkan planlet siap aklimatisasi. Penelitian Oliveira et al. (2008)
menyatakan keberhasilan aklimatisasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan
fotosintesis dan transisi tanaman dari kondisi heterotropik ke autotropik selama
tahap aklimatisasi. Salah satu faktor penentu keberhasilan aklimatisasi adalah
akumulasi karbohidrat selama kultur (Doods dan Roberts 1999).

Gambar 13. Planlet aren siap aklimatisasi (32 MST)


44

a b

d c

f g

Gambar 14. Planlet dalam botol kultur (12 MST) (a), planlet (12 MST) (b),
planlet siap diaklimatisasi (32 MST) (c), planlet diaklimatisasi (d-e),
planlet siap dipindah ke tanah (f), dan bibit aren 48 MST (g)
45

Gambar 15. Bibit aren (48 MST) hasil embryo rescue yang dikulturkan dalam
media dengan penambahan ZPT (auksin dengan atau tanpa sitokinin)

Tabel 14. Planlet aren siap aklimatisasi dan transplanting (%) hasil dari
percobaan penambahan sitokinin dan pra-perlakuan (32 MST)
Persentase Planlet (%)
Sitokinin Pra-perlakuan
Aklimatisasi (Σx/n) transplanting (Σx/n)
AK 1 Tanpa 0 (0/19) 0 (0/19)
AK 2 Tanpa 0 (0/21) 0 (0/21)
AK 3 Tanpa 0 (0/25) 0 (0/25)
BAP 5 Tanpa 8 (2/24) 0 (2/24)
AK 1 Dengan 11 (2/18) 11 (2/18)
AK 2 Dengan 0 (0/17) 0 (0/17)
AK 3 Dengan 5 (1/20) 5 (1/20)
BAP 5 Dengan 11 (2/18) 11 (2/18)
Total 4 (7/162) 3 (5/162)
Keterangan : AK1 = air kelapa 100 ml/l, AK2 = air kelapa 150 ml/l, AK3 = air kelapa 200 ml/l,
BAP 5 = BAP 5 ppm. Tanpa = tanpa pra-perlakuan, dengan = dengan pra-perlakuan
Σx = jumlah planlet. n = jumlah total eksplan setiap perlakuan
46

Tabel 15. Planlet aren siap aklimatisasi dan transplanting (%), hasil dari
percobaan penambahan ZPT (auksin dengan atau tanpa sitokinin) (32
MST)
Persentase (%)
Penambahan ZPT
Aklimatisasi (Σx/n) Transplanting (Σx/n)
NAA 1 ppm 21 (4/19) 11 (2/19)
NAA 5 ppm 0 (0/19) 0 (0/19)
Kinetin 5 ppm 33 (5/15) 20 (3/15)
BAP 5 ppm 11 (2/18) 6 (1/18)
NAA 1 ppm+Kinetin 5 ppm 11 (2/18) 6 (1/18)
NAA 5 ppm+Kinetin 5 ppm 7 (1/15) 7 (1/15)
NAA 1 ppm+BAP 5 ppm 0 (0/19) 0 (0/19)
NAA 5 ppm+BAP 5 ppm 47 (8/17) 24 (4/17)
Total 16 (22/140) 9 (12/160)
Keterangan :. Σx = jumlah planlet. n = jumlah total eksplan setiap perlakuan

SIMPULAN

Perlakuan dengan pra-perlakuan menghasilkan pertumbuhan embrio zigotik


muda terbaik, sedangkan penambahan ZPT sitokinin tidak menunjukkan pengaruh
nyata terhadap pertumbuhan embrio zigotik aren. Penambahan ZPT (auksin
dengan atau tanpa sitokinin) berpengaruh nyata hanya terhadap panjang akar.
Persentase planlet yang diperoleh dari embryo rescue aren siap aklimatisasi adalah
4% (untuk penambahan ZPT sitokinin dan pra-perlakuan) dan 16% (untuk
penambahan ZPT auksin dengan atau tanpa sitokinin). Dari kedua percobaan yang
dilakukan penambahan kombinasi NAA 5 ppm dan BAP 5 ppm ke dalam media
in vitro menghasilkan regenerasi planlet tertinggi, yaitu 8 planlet.

SARAN

Penelitian kultur jaringan aren selanjutnya disarankan untuk melakukan


evaluasi jenis senyawa organik serta ZPT lain untuk meningkatkan perolehan
planlet dari embrio zigotik aren. Di samping itu, tahap aklimatisasi planlet aren
merupakan tahapan yang memiliki persentase keberhasilan yang rendah sehingga
disarankan pada penelitian selanjutnya untuk melakukan optimasi tahapan
aklimatisasi planlet aren.
47

5 PEMBAHASAN UMUM

Dormansi benih merupakan masalah utama pada perbanyakan bibit aren


secara konvensional. Pematahan dormansi benih aren secara konvensional telah
banyak dilakukan, akan tetapi hasil yang diperoleh dianggap masih kurang. Hal
ini disebabkan karena teknik perkecambahan benihnya masih membutuhkan benih
matang fisiologi sebagai bahan tanam (Rofik dan Murniati 2008; Sirait 2010;
Marito 2008), sedangkan pematangan benih aren membutuhkan waktu relatif lama
yaitu sekitar 36 bulan (Haris 1994). Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu metode
perbanyakan bibit aren yang dapat memecahkan masalah dormansi sekaligus
mempersingkat waktu perolehan bibit aren. Salah satu teknik yang dapat
digunakan dalam memecahkan kedua kendala tersebut adalah melalui embryo
rescue secara in vitro.
Embryo rescue merupakan suatu teknik in vitro dengan mengisolasi embrio
zigotik muda secara aseptik dan menumbuhkannya dalam media yang
mengandung garam-garam mineral dan gula (Bridgen 1994). Penelitian embryo
rescue telah banyak dilakukan dengan menggunakan berbagai metode, di
antaranya: umur embrio, jenis media dasar, pra-perlakuan, konsentrasi ZPT dan
bahan aktif (air kelapa) (Gebologlu et al. 2011; Sanchez-Romero et al. 2007;
Alves et al. 2011; Sukendah et al 2008). Namun, hingga saat ini belum diperoleh
informasi mengenai perbanyakan bibit aren melalui teknik embryo rescue.
Penelitian embryo rescue secara in vitro dan produksi bibit aren terbagi atas
dua percobaan utama. Percobaan pertama adalah pengaruh umur embrio dan jenis
media dasar terhadap perkecambahan embrio zigotik aren. Percobaan kedua
terdiri atas dua sub-unit percobaan yang terdiri dari: 1) pengaruh penambahan
ZPT sitokinin dan pra-perlakuan dan 2) pengaruh penambahan ZPT (auksin
dengan atau tanpa sitokinin).
Percobaan pertama menunjukkan bahwa perkecambahan terbaik diperoleh
oleh embrio zigotik muda (± 15 BSP), sedangkan media Y3 atau WPM tidak
menunjukkan pengaruh nyata terhadap perkecambahan embrio zigotik. Terdapat
abnormalitas bentuk pada apokol dan haustorium. Abnormalitas ini disebabkan
oleh aktifitas pembelahan sel pada jaringan apokol serta haustorium yang
menyebabkan terbentuk retakan pada jaringan epidermisnya. Selain abnormalitas
bentuk apokol dan haustorium, diperoleh juga perbedaan warna pada kedua organ
tersebut. Pada apokol terbagi dalam empat warna berbeda yaitu putih, kuning
kehijauan, cokelat muda dan putih serta cokelat, sedangkan haustorium terbagi
atas lima warna yaitu putih, kuning kehijauan, cokelat dan putih, cokelat muda
dan cokelat. Abnormalitas dan warna apokol serta haustorium tidak dipengaruhi
oleh jenis media dasar Y3 atau WPM. Akan tetapi, umur embrio zigotik
berpengaruh pada abnormalitas bentuk haustorium serta warna apokol dan
haustorium.
Percobaan kedua pada pengaruh penambahan ZPT sitokinin dan pra-
perlakuan tidak menunjukkan adanya pengaruh interaksi keduanya. Dua belas
MST, embrio zigotik muda telah bertunas dan berakar. Dari ketiga konsentrasi air
kelapa (100, 150 dan 200 ml/l) dan BAP 5 ppm, penambahan BAP 5 ppm
cenderung menghasilkan pertumbuhan embrio zigotik terbaik meskipun di antara
keempat perlakuan tidak berbeda nyata. Penanaman terlebih dahulu dalam media
48

Y3 tanpa penambahan ZPT menghasilkan pertumbuhan embrio terbaik


dibandingkan dengan tanpa pra-perlakuan. Percobaan kedua penambahan ZPT
(auksin dengan atau tanpa sitokinin) berpengaruh nyata hanya pada peubah
panjang akar. Pertumbuhan embrio zigotik muda cenderung terbaik diperoleh
pada penambahan NAA 5 ppm dan BAP 5 ppm. Regenerasi planlet yang
diperoleh dari kedua percobaan utama pada penelitian ini dapat diaklimatisasi,
namun persentase bibit yang diperoleh masih relatif rendah.
Pemanfaatan teknik embryo rescue tidak hanya terfokus pada perbanyakan
tanaman secara in vitro. Pada beberapa kasus, teknik embryo rescue juga dapat
digunakan untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman. Penggunaan eksplan
embrio zigotik muda membuka peluang untuk menginduksi keragaman genetik
melalui somatik embryogenesis, fusi protoplasma (Susanto 2001) hingga transfer
genetik (Clarke et al. 2006).
Penelitian Ramon dan Hanneman (2002) memperoleh kentang yang resisten
terhadap patogen Phytophthora infestans melalui embryo rescue. Alves et al.
(2011) mengoptimasi protokol embryo rescue pada persilangan kelapa sawit
Elaeis oleifera (H.B.K) Cortes x Elaeis guineensis Jacq. untuk memperoleh
tanaman yang resisten terhadap patogen. Akinbo et al. (2010) melaporkan embryo
rescue sebagai suatu metode untuk mengembangkan dan multiplikasi populasi
backcross pada Mannihot esculenta Crantz hasil persilangan antar spesies
Mannihot esculenta ssp. Flabelifolia. Hirsch et al. (2001) meningkatkan
keragaman genetik pada genus Actinidia hasil persilangan interspesifik melalui
embryo rescue. Oleh sebab itu, jika optimasi protokol embryo rescue aren telah
diperoleh, maka memperbanyak bibit aren secara massal dalam waktu singkat,
meningkatkan kualitas bibit aren serta memperpanjang masa produktif dari pohon
induk benih dapat dilakukan dalam upaya pengembangan tanaman aren di
Indonesia.
49

6 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa: 1) umur embrio zigotik
yang baik untuk digunakan sebagai eksplan pada embryo rescue aren adalah
embrio zigotik muda (±15 BSP). Media WPM dapat digunakan sebagai media
dasar untuk mengecambahkan embrio zigotik aren. 2) Respon pertumbuhan dan
perkembangan terbaik diperoleh melalui penanaman eksplan embrio zigotik
dalam media tanpa ZPT sebelum disubkultur ke media ber-ZPT (dengan pra-
perlakuan), sedangkan penambahan air kelapa 100 ml/l merupakan penambahan
ZPT (sitokinin) yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan embrio
zigotik aren. 3) Penambahan ZPT (auksin dengan atau tanpa sitokinin) terbaik
untuk pertumbuhan dan perkembangan eksplan adalah penambahan kombinasi
NAA 5 ppm dan BAP 5 ppm.

Saran

Penelitian embryo rescue aren selanjutnya disarankan untuk mengevaluasi


pengaruh genotipe, penyadapan mayang serta posisi buah pada tandan terhadap
pertumbuhan dan perkembangan embrio zigotik aren. Penelitian kultur jaringan
aren disarankan tidak hanya terbatas pada teknik embryo rescue, akan tetapi juga
dilakukan pada teknik kultur jaringan lain sehingga membuka peluang
dilakukannya perbaikan kualitas tanaman melalui rekayasa genetik.
50

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 1983. Dasar-dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh.


Bandung (ID): Angkasa.
Akinbo O, Abuschagne M, Fregene M. Embryo rescue as a method to develop
and multiply a backcross population of cassava (Mannihot esculenta Crantz)
from interspecific cross of Mannihot esculenta ssp. Flabelifolia. Afr. J.
Biotechnol. 9:7058-7062.
Al-Hafiizh E. 2012. Studi induksi dan pendewasaan embrio somatik jarak pagar
(Jatropha curcas L.) dengan berbagai jenis eksplan dan zat pengatur tumbuh.
[Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Al-Khateeb. 2008. Regulation of in vitro bud formation of date palm (Phoenix
dactylifera L.) cv. Khanezi by different carbon sourse. Bioresourse Technol.
99:6550-6555.
Alam N, Saleh MS. 2009. Karakteristik pati dari batang pohon aren pada berbagai
fase pertumbuhan. J. Agroland. 16:199-205.
Alves SAO, de Lemos OF, Filho BGDS, da Silva ALL . 2011. In vitro protocol
optimization for development of interspecific hybrids of oil palm (Elaeis
oleifera (H.B.K) Cortes x Elaeis guinensis Jacq.). J. Biotechnol. Biodiver.
2:1-6.
Arsyad MA. 2008. Pertumbuhan anak semai anggrek Dendrobium yang berasal
dari protocorm kultur polong hijau pada berbagai media Secara In Vitro
[Skripsi]. Makassar (ID): Universitas Hasanuddin.
Arsyad MA, Sudarsono, Purwito A, Dinarti D. 2013. Umur embrio dan jenis
media dasar berpengaruh pada keberhasilan embryo rescue aren (Arenga
pinnata (Wurmb) Merr.) secara in vitro. Bul. Palma, siap terbit.
Asemota O, Eke CR, Odewale JO. 2007. Date palm (Phoenix actylifera L.) in
vitro morphogenesis in response to growth regulators, sucrose and nitrogen.
Afr. J. Biotechnol. 6:2353-2357.
Asif MJ, Mak CK, Othman RY. 2001. In vitro zygotic embryo culture of wild
Musa acuminate ssp. Malaccensis and factors affecting germination and
seedling growth. Plant Cell Tiss. Organ Cult. 67:267-270.
Asikin D, Puspitaningtyas DM. 2000. Studi perkecambahan biji aren (Arenga
pinnata (Wurm) Merr.) secara in vitro dan in vivo. Di dalam: Prosiding
Seminar Hasil Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi III. 2000 Maret 7-
9; Cibinong, Indonesia. Cibinong (ID). hlm 411-419.
Atjung. 1990. Tanaman yang Menghasilkan Minyak, Tepung, dan Gula. Jakarta
(ID): CV. Yayasanguna
Baharuddin, Muin M, Bandaso H. 2007. Pemanfaatan nira aren (Arenga pinnata
Merr) sebagai bahan pembuatan gula kristal. J. Perennial. 3:40-43.
Baharuddin, Syahidah, Yatni N. 2009. Penentuan mutu cuka nira aren (Arenga
pinnata) bedasarkan SNI 01-4371-1996. J. Perennial. 5:31-35.
Barciszewski J, Rattan SIS, Siboska G, Clark BFC. 1999. Kinetin: 45 years on.
Plant Sci. 148:37-45.
Binott JJ, Songa JM, Ininda J, Njagi EM, Machuka J. 2008. Plant regeneration
from immature embryos of Kenyan maize inbred lines and their respective
51

single cross hybrids through somatic embryogenesis. Afr. J. Biotechnol.


7:981-987.
Bridgen MP. 1994. A review of plant embryo culture. Hort. Sci. 29:1243-1246.
Broschat TK, Meerow AW. 2000. Ornamental Palm Horticulture. Florida
(USA): University Press of Florida.
[BPPP] Balai Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2009. Aren, sumber energi
alternatif. Warta Penelitian Pengembangan Pertanian. 31:1-3.
Bustaman T, Rozen N, Kurniawan W. 2004. Effect of NAA and BAP
concentration on embryo culture of pinang sirih (Areca catechu L.) by in
vitro. J. Stigma. 12:209-213.
Chandler JM, Beard BH. 1983. Embryo culture of Helianthus hybrid. Crop Sci.
23:1004-1007.
Charriere F, Sotta B, Migniac E, Hanhne G. 1999. Induction of adventitious shoot
or somatic embryos on in vitro cultured zygotic embryos of Helianthus
annus: variation of endogenous hormone levels. Plant Physiol. Biochem.
37:751-757.
Chu CC, Wang CC, Sun CS. 1975. Establisment of an efficient medium for anther
culture of rice through comparative experiment on the nitrogen sources. Sci.
Sinica. 18:659-668.
Cisneros A, Garcia RB, Tel-Zur N. 2012. Creation of novel interspecific-
interploid Hylcereus hybrids (Cactaceae) via embryo rescue. Euphytica.
189:433-443.
Cisneros A, Tel-Zur N. 2010. Embryo rescue and plant regeneration following
interspecific crosses in the genus Hylocreus (Cactaceae). Euphytica. 174:73-
82.
Clarke HJ, Wilson JG, Kuo I, Lulsdorf MM, Mallikarjuna N, Kuo J, Siddique
KHM. 2006. Embryo rescue and plant regeneration in vitro of selfed chickpea
(Cicer arietinum L.) and its wild annual relatives. Plant Cell Tiss. Organ
Cult. 85:197-204.
Davey MR, Anthony P. 2010. Plant Cell Culture: Essential Methods. West
Sussex (GB): John Wiley & Sons, Ltd.
Davies PJ. 2004. Plant Hormones: Biosynthesis, Signal Transduction, Action !.
London (GB): Kluwer Academic Publishers.
Debi BR, Taketa S, Ichii M. 2004. Cytokinin inhibits lateral root initiation but
stimulates lateral root elongation in rice (Oryza sativa). J. Plant Physiol.
162:507-5015.
DeMason DA. 1985. Histochemieal and ultrastructural changes in the haustorium
of date (Phoenix dactylifera L.). Protoplasma I26:168-177.
[Ditjenbun] Direktorat Jenderal Perkebunan. 2011. Statistik perkebunan: tree crop
estate statistic 2009-2011. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Perkebunan.
[Ditjenmigas] Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. 2010. Statistik Minyak
Bumi. [Internet]. [diunduh 2013 Mei 20]:1-11. Tersedia pada:
http://prokum.esdm.go.id/Publikasi/Statistik/Statistik%20Minyak%20Bumi.p
df.
Doods AH, Roberts LW. 1999. Experiments in Plant Tissue Culture 3rd Ed.
Cambridge (GB). Cambridge University Press.
Eeuwens CJ. 1976. Mineral requirements of culture coconut tissue. Physiol. Plant.
36:23-24.
52

Effendi DS. 2010. Prospek pengembangan Tanaman Aren (Arenga pinnata Merr)
mendukung kebutuhan bioetanol di Indonesia. Perspektif. 9:36-46.
Etienne H, Sotta B, Montoro P, Miginiac E, Carron MP. 1993. Comparation of
endogenous ABA and IAA contents in somatic and zygotic of Hevea
brasiliensis (Mull. Arg.) during ontogenesis. Plant Sci. 92:111-119.
Feher A, Pasternak TP, Dudits D. 2003. Transition of somatic plant cells to an
embryogenic state. Plant Cell Tissue Organ Cult. 74:201–228.
Fernando SC, Weerakoon LK, Karunaratne SM, Santha ES. 2002. A cost effective
medium for producing embryo cultured coconut plants. Cocos. 14:45-52.
Fu FL, Feng ZL, Qu BY, Li WC. 2006. Relation between induction rate of
embryonic callus and endogenous hormones content in Maize. J. Nuclear
Agr. Sci. [Internet]. [diunduh 2013 Mar 20]:01. Tersedia pada:
http://en.cnki.com.cn/Article_en/ CJFDTOTAL-HNXB2 00601003.htm.
Gebologlu N, Bozmaz S, Aydin M, Çakmak P. 2011. The role of growth
regulators, embryo age and genotypes on immature embryo germination and
rapid generation advancement in tomato (Lycopersicon esculentum Mill.).
Afr. J. Biotechnol. 10:4895-4900.
George EF, Hall MA, Klerk GJ. 2008. Plant Propagation by Tissue Culture 3rd
Edition. Netherland (NL): Springer.
George EF, Sherrington PD. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture: Handbook
and Directory of Commercial Laboratories. England (GB): Exegetic Ltd.
Gnasekaran P, Rathinam X, Sinniah UR, Subramaniam S. 2010. A study on the
use of organic additives on the protocorm-like bodies (PLBS) growth of
Phalaenopsis violacea Orchid. J. Phytol. 2:029-033.
Guerra MP, Handro W. 1998. Somatic embryogenesis and plant regeneration in
different organs of Euterpe edulis Mart. (Palmae): Control and structural
features. J. Plant Res. 111:65–71.
Gunawan LW. 1987. Teknik Kultur Jaringan. Bogor (ID): Pusat Antar Universitas
(PAU) IPB.
Gunawan LW. 1995. Teknik Kultur In Vitro dalam Hortikultura. Jakarta (ID):
Penebar Swadaya
Haris TCN. 1994. Developmental and germination studies of the sugar palm
(Arenga Pinnata Merr.) seed [Disertasi]. Malaysia (MY): University
Pertanian Malaysia.
Hasibuan MA. 2011. Etnobotani masyarakat suku Angkola (studi kasus di Desa
Padang Bujur sekitar Cagar Alam Dolok Sibual-buali, Kabupaten Tapanuli
Selatan, Sumatera Utara). [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Haynes J. (1998). Arenga pinnata (Wurmb) Merr. [Internet]. [diunduh 2013 Mei
20]. Tersedia pada: http://www. Plantapalm.com/vpe/photos/Species/
arenga_pinnata.htm.
Hirsch AM, Testolin R, Brown S, Chat J, Fortune D, Bureau JM, Nay DD. 2001.
Embryo rescue from interspecific crosses in the genus Actinidia (kiwifruit).
Plant Cell Rep. 20:508-516.
Indrawati R. 1999. Pengaruh perlakuan pematahan dormansi dan kedalaman
tanam terhadap viabilitas benih aren (Arenga pinnata (Wurmb.) Merr.)
[Skripsi]. Bogor (ID): Instititut Pertanian Bogor.
53

Ishak MR. Sapuan SM. Leman Z. Rahman MZA. Anwar UMK. 2011.
Characterization of sugar palm (Arenga pinnata) fibres: tensile and thermal
properties. J. Therm Calorim. 109:981-989.
Islam MN, Cedo MLO, Namuco LO, Borromeo TH, Aguilar EA. 2009. Effect of
fruit age on endosperm type and embryo generation of Makapuno coconut. J.
Gene Conserve. 32:708-722.
Ismail JBT. 1994. Kajian perkecambahan dan kultur in vitro enau (Arenga
pinnata) [Disertasi]. Malaysia (MY): University Pertanian Malaysia.
Karunaratne S, Periyapperuma P. 1990. Culture of immature embryos of coconut,
Cocos nucifera L: callus proliferation and somatic embryogenesis. Cocos.
8:13-22.
Kaur R, Sharma N, Kumar K, Sharma DR, Sharma SD. 2006. In vitro germination
of walnut (Juglans regia L.) embryos. Sci. Horti. 109:385-388.
Kucera B, Cohn MA, Leubner-Metzger G. 2005. Plant hormone interactions
during seed dormancy release and germination. Seed Science Research
15:281-307.
Kukharchyk N, Kastrickaya M. 2006. Embryo rescue techniques in Prunus L. J.
Fruit Ornam. Plant Res. 14:129-135.
Laplaze L, Benkova E, Casimiro I,Maes L, Vanneste S, Swarup R, Weijers D, Calvo
V, Parizot B, Herrera-Rodriguez BM et al. 2007. Cytokinins act directly on
lateral root founder cells to inhibit root initiation. Plant Cell. 19:3889–3900.
Lasa B, Frechilla S, Alcu M, Gonzalez-Moro B, Lamsfus C, Aparicio-Tejo PM.
2000. Effect of low and high levels of magnesium on the response of
sunflower plant grown with ammonium and nitrate. Plant Soil. 225:167-174.
Lauchli A. 2002. Functions of boron in higher plants: resent advances and open
questions. Plant Biol. 4:190-192.
Lay A, Karouw S. 2008. Mutu gula aren dan perubahannya selama penyimpanan
(studi kasus di Desa Hariang-Lebak Provinsi Banten). Bul. Palma. 35:77-84
Li Z, Pinkham L, Campbell NF, Espinosa AC, Conev R. 2009. Development of
triploid daylily (Hemerocallis) germplasm by embryo rescue. Euphytica.
169:313-318.
Liu GS, Qi DM, Zhang WD, Liu JS, Li HJ. 2004. Highly efficient embryo
germination in in vitro shortens the breeding cycle in Leymus chinensis. In
Vitro Cell. Dev. Biol. 40:321-324.
Lloyd G, McCown B. 1981. Commercially feasible micropropagation of mountain
laurel, Kalmia latifolia, by use of shoot-tip culture. Comb. Proc. Int. Plant
Prop. Soc. 30:421-426.
Maciel SDA, Junior PCPF, da Silva RA, Scherwinski-Pereira. 2010. Morpho-
anatomical characterization of embryogenic calluses from immature zygotic
embryo of peach palm during somatic embryogenesis. Acta. Sci. Agron.
32:263-267.
Malingkay RB. Mashud N, Nur M. 2012. Pengaruh pemupukan terhadap
pertumbuhan dan produksi nira tanaman aren (Arenga pinnata Merr.). Di
dalam: Seminar Nasional Aren, Aren untuk Pangan dan Energi Alternatif
Terbarukan. 2012 Septembet 26; Balikpapan (ID): Indonesia.
Marito R. 2008. Berbagai metode pemecahan dormansi biji aren (Arenga pinnata
Merr.) [Skripsi]. Medan (ID): Universitas Sumatera Utara.
54

Mashud N. 2009. Pertumbuhan embrio kelapa dalam Mapanget pada media Y3


yang disubstitusi dengan air kelapa. Bul. Palma. 37:138-144.
Mashud N, Manaroinsong E. 2007. Teknologi kultur embrio untuk pengembangan
kelapa kopyor. Bul. Palma. 33:44.
Mattjik AA. Sumertajaya IM. 2006. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi
SAS dan Minitab. Bogor (ID): IPB press.
Meerow AW. 2004. Palm Seed Germination. Florida (US): Cooperative
Extension Service.
Meitram B, Sharma GJ. 2006. In vitro zygotic embryo germination of Calamus
latifolius Roxb. and Calamus tenuis Roxb. J. Food Agr. Env. 4:306-309.
Melo BD, Pinto JEBP, Luz JMQ, Peixoto JR, Juliatti FC. 2001. Diferentes
antioxidantes no controle da oxidação, germinação e desenvolvimento das
plântulas na cultura in vitro de embriões da guarirobeira Syagrus oleracea
(Mart.) Becc. Ciênc. Agrotec. Lavras. 25:1301-1306.
Mirici S, Parmaksiz I, Ozcan S, Sancak C, Uranbey S,. Sarihan EO, Gumuscu A,
Gurbuz B, Arslan N. 2005. Efficient in vitro bulblet regeneration from
immature embryos of endangered Sternbergia fischeriana. Plant Cell Tissue
Organ Cult. 80:239–246.
Mogea J, Seibert B, Smits W. 1991. Multipurpose palm: the sugar palm (Arenga
pinnata (Wurmb) Merr.). Agroforest. Sys. 13:111-129.
Mohammad S, Ali M. 2010. Effect of coconut water on callus growth of
cyamopsis tetragonolobust. Pharmacia. 1:25-27.
Morel G, Wetmore RM. 1951. Fern callus tissue culture. Am. J. Bot. 38:141-143.
Moura EF, Motoike SY, Ventrella MC, Junior AQDS, Carvalho M. 2009.
Somatic embryogenesis in macaw palm (Acrocomia aculeate) from zygotic
embryos. Sci. Hort. 119:447-454.
Mujahidin, Sutrisno, Dian L, Tri H, Izu AF. 2003. Aren Budidaya dan
Prospeknya. Bogor (ID): Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor,
LIPI.
Muniran F. Bhore S, Shah F. 2008. Micropropagation of Elaeis guineensis Jacq.
Dura: Comparison of three basal media for efficient regeneration. Indian J.
Exp. Bio. 46:79-82.
Murashige T, Huang LC. 1985. Organogenesis in vitro: structural, physiological,
and biochemical aspects. Di dalam: Biotechology in International
Agricultural Research. International Agricultural Research Center (IARCs)
and Biotehnology; 1984 April 23-27; Manila (PH): IRRI. hlm 227-240.
Murashige T, Skoog F. 1962. A revised medium for rapid growth and bioassay
with tobacco tissue. Physiol. Plant. 15:473-497.
Murphy JD. 2007, Plant Breeding and Biotechnology. Cambridge (GB).
Cambridge University Press.
Nasib A, Ali K, Khan S. 2008. An optimized and improved method for the in
vitro propagation of kiwifruit (Actinidia deliciosa) using coconut water. Pak.
J. Bot. 40:2355-2360.
Ning GG, Bai SP, Bao MZ, Liu L.2007. Factors affecting plantlet regeneration
from in vitro cultured immature embryos and cotyledons of Prunus mume
“Xue mei”. In vitro Cell Dev. Biol. Plant. 43:95–100.
55

Nizam K. Te-chato S. 2009. Optimizing of root induction in oil palm planlets for
acclimatization by some potent plant growth regulators (PRGs). J. Agr.
Technol. 5:371-383.
Nugroho, Sugianto. 1996. Teknik Kultur Jaringan. Jakarta (ID): Penebar
Swadaya.
Ogunsola KE, Ilori CO. 2008. In vitro propagation of miracle berry (Synsepalum
dulcificum Daniel) through embryo and nodal cultures. J. Biotechnol. 7:244-
248.
Oliveira LMD, Paiva R, de Santana JRF, Alves E, Nogueira RC, Pereira FD.
2008. Effect of cytokinin on in vitro development of autotrophism and
acclimatization of Annona glabra L. In Vitro Cell. Dev. Biol-Plant. 44:128-
135.
Pardal SJ. 1993. Pengaruh umur embrio dan genotipe tanaman terhadap
pertubuhan kultur embrio muda kedelai (Glycine max (L). Merr.) secara in
vitro [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Pech y Aké A, Maust B, Orozco-Segovia A, Oropeza. 2007. The effect of
gibberellic acid on in vitro germination of coconut zygotic embryos and their
conversion into planltlets. In Vitro Cell. Dev. Biol.-Plant. 43:247-253.
Peixe A, Raposo A, Laourenco R, Cardoso H, Macedo E. 2007. Coconut water
and BAP successfully replaced zeatin in olive (Olea europaea L.)
micropropagation. Sci. Hort. 113:1-7.
Peran-Quesada R, Sanchez-Romero C, Barcelo-Munoz A, Pliego-Alfaro F. 2004.
Factors affecting maturation of avocado somatic embryos. Sci. Hort. 102:61-
73.
Pierik RLM. 1987. In Vitro Culture of Higher Plants. Netherlands (NL):
Martinus Nijhoff Publishers.
Presiden Republik Indonesia. 2006. Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 1
tahun 2006 Tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
(Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain. Jakarta (ID): Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. 2006. Keputusan Presiden Republik Indonesia No.
10 tahun 2006 Tentang Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati
untuk Percepatan Pengurangan Kemiskinan dan Pengangguran. Jakarta (ID):
Jakarta.
Putih R, Satria B, Thaib R. 2003. Upaya perbanyakan vegetatif enau (Arenga
pinnata (Wurmb) Merr.) melalui regenerasi tunas secara in vitro. Stigma.
11:208-212.
Rabaniyah R. 1997. Pengaruh cara penyimpanan terhadap daya simpan dan
perkecambahan benih aren (Arenga pinnata (Wumrb) Merr.). B. Pert. 6:33-
38.
Ramon M, Hanneman RE. 2002. Introgression of resistance to late blight
(Phytopthora infestans) from Solanum pinnatisectum into S. tuberosum using
embryo rescue and double pollination. Euphytica. 127:421-432.
Ribeiro LM, Oliveira DMT, Garcia QDS. 2012. Structural evaluations of zygotic
embryos and seedlings of the macaw palm (Acrocomia aculeata, Arecaceae)
during in vitro germination. Trees. 26:851–863.
Rindengan B dan Manaroinsong E. 2009. Aren, tanaman perkebunan penghasil
bahan bakar nabati (BBM). Pusat Penelitian Pengembangan Perkebunan. 1-
22.
56

Rofik A, Murniati E. 2008. Pengaruh perlakuan deoperkulasi benih dan media


perkecambahan untuk meningkatkan viabilitas benih aren (Arenga pinnata
(Wurmb) Merr.). Bul Agron. 36: 33-40.
Ruzicka K, Ljung K, Vanneste S, Podhorska R, Beeckman T, Frimi J, Benkova E.
2007. Ethylene regulates root growth through effects on auxin biosynthesis.
Plant Cell. 19:2197-2212.
Saleh MS. 2003. Peningkatan kecepatan berkecambah benih aren yang diberi
pelakuan fisik dan lama perendaman KNO3. Agroland. 4:436-330.
Saleh MS. 2004. Pematahan dormansi benih aren secara fisik pada berbagai lama
ekstraksi buah. Agrosains. 6:79-83.
Saleh MS, Adelina E, Murniati E, Budiarti T. 2008. Pengaruh skarifikasi dan
media tumbuh terhadap viabilitas benih dan vigor kecambah aren. J.
Agroland. 15:182-190.
Saleh MS, Wardah. 2010. Perkecambahan benih aren dalam kondisi terang dan
gelap pada berbagai konsentrasi GA3. J. Agrivigor. 10:18-25.
Sanchez-Romero C, Peran-Quesada R, Marquez-Martin B, Barcelo-Munoz A,
Pliego-Alfaro F. 2007. In vitro recsue of immature avocado (Persea
Americana Mill.) embryos. Sci. Horti. 111:365-370.
Sanchez-Zamora MA, Cos-Terrer J, Frutos-Tomas D, Garca-Lopez. 2006.
Embryo germination and proliferation in vitro of Juglans regia L. Sci. Horti.
108:317-321.
Sangian HF, Tongkukut S. 2011. Study of bio-ethanol preparation from arenga
palm sugar. J. Ilmiah Sains. 11:159-167.
Sanputawong S, Te-chato S. 2011. Analysis of somaclonal variation of callus,
somatic embryo and plant regeneration of in vitro oil palm (Elaeis guineensis
Jacq). J. Agr. Technol. 7:531-545.
Santoso U, Nursandi F. Kultur Jaringan Tanaman. Malang (ID): Universitas
Muhammadiyah Malang Pres.
Sarasan V, Ramsay MM, Robert AV. 2005. Rescue of endangered palms by in
vitro methods: the case of „bottle palm‟. Netherland (NL): Springer.
Schwambach J, Fadanelli C, Fett-Neto AG. 2005. Mineral nutrition and
adventitious rooting in microcuttings of Eucalpyptus globules. Tree Physiol.
25:487-494.
Sharma DR, Kaur R, Kumar. 1996. Embryo rescue in plant: review. Euphytica.
89: 325-337.
Shaul O. 2002. Magnesium transport and function in plant: the tip of iceberg.
BioMetals. 15: 309-323.
Setiawan EP. 2006. Pengaruh konsentrasi air kelapa dan casein hydrolysat pada
kultur embrio mangga (Mangifera indica L.) dalam media B5 modifikasi
[Skripsi]. Malang (ID): Universitas Muhammaduyah Malang.
Simon EW. 2006. The symptoms of calcium deficiency in plants. New
phytologist. 80:1-15.
Sirait D. 2010. Pengaruh skarifikasi bagian-bagian benih dan konsentrasi asam
giberelat (GA3) terhadap perkecambahan benih aren (Arenga pinnata L.)
[Skripsi]. Medan (ID): Universitas Sumatera Utara.
Siregar EBM. 2005. Inventarisasi jenis palem (Arecaceae) pada kawasan hutan
dataran rendah di stasiun penelitian Sikundur (Kawasan Ekosistem Leuser)
Kab. Langkat. e-USU Repository [internet]. [diunduh 2013 Juni 21]; 1-11.
57

Tersedia pada: http://library.usu.ac.id/download/fp/hutan-edi% 20batara12


.pdf
Soeseno S. 2000. Bertanam Aren. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Solikin. 2012. Diversity of food plants in agroforestri in the pasuruan regency. Di
dalam: Seminar Nasional: Kedaulatan Pangan dan Energi; 2012 Juni;
Madura, Indonesia, Jawa Timur (ID): Universitas Trunojoyo; [diunduh 2013
Mei 20]. Tersedia pada: http://pertanian.trunojoyo.ac.id/semnas/wp-
content/uploads/DIVERSITY-OF-FOOD-PLANTS-IN-AGROFORESTRI-
IN-THE-PASURUAN-REGENCY1.pdf
Srisawat T, Kanchanapoom K. 2005. The influence of physical conditions on
embryo and protoplast culture oil palm (Elaeis guineensis Jacq.). Sci. Asia.
31:23-28.
Srivastava LM. 2002. Plant Growth and Development: Hormones and
Enviroment. London (GB): Academic Press.
Sugimuma Y, Murakami T. 1990. Structure and fuction of the haustorium in
germinating coconut palm seed. Jarq. 24:1-14.
Sukendah, Sudarsono, Witjaksono, Khumaida N. 2008. Perbaikan teknik kultur
embrio kelapa kopyor (Cocos nucifera L.) asal Sumenep Jawa Timur melalui
penambahan bahan aditif dan pengujian periode subkultur. Bul. Agron. 36:16-
23
Susanto A. 2001. Somatic embryogenesis and protoplast isolation and culture in
papaya (Carica papaya L.). Malaysia (MY): University Putra Malaysia.
Stepanova AN, Hoyt JM, Hamilton AA, Alonso JM. 2005. A link between
ethylene and auxin uncovered by the characterization of two root-specific
ethylene-insensitive mutants in Arabidopsis. Plant Cell. 17:2230-2242.
Stojicic D, Janosevic D, Uzelac B, Cokesa V, Budimir S. 2012. In vitro zygotic
embryo culture of Pinus peuce Gris.: optimization of culture conditions
affecting germination and early seedling growth. Arch. Biol. Sci. 64:503-509.
Tamaki M, Urasaki N, Nakamura I, Motomura K, Adaniya S. 2011. Shortening
the breeding cycle of papaya (Carica papaya L.) by culturing embryos treated
with ethrel. Plant Cell Tiss Organ Cult. 106: 225-233.
Taji A, Kumar P, Lakshmanan P. 2002. In Vitro Plant Breeding. United State of
America (US): Haworth.
Tenda ET, Maskromo I, Miftahorachman. 2008. Karakteristik empat aksesi aren
(Arenga pinnata Merr.) di Kalimantan Selatan. Bul.Palma. 35:67-76.
Tenda ET. 2009. Eksplorasi aren (Arenga pinnata Merr.) di Tomohon, Sulawesi
Utara. Bul. Palma. 37:114-118.
Tenda ET, Maskromo IS, Heliyanto H. 2010. Eksplorasi Plasma Nutfah aren
(Arenga pinnata Merr.) di Kutai Timur, Provinsi Kalimantas Timur. 38:88-
94.
Tenda ET, Pandin D, Maskromo I. 2011. Potensi pengembangan aren genjah
Kutim. Di dalam: Prosiding Seminar Nasional Inovasi Perkebunan 2011.
hlm. 45-57. [diunduh 2013 Mei 20]. Tersedia pada:
http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/wp-content/uploads/2012/04/perkebu
nan_prosdENIP11_MP_Elsje.pdf
Thuzar M, Vanavichit A, Tragoonrung S, Jantasuriyarat C. Efficient and rapid
plant regeneration of oil palm zygotic embryos cv. „Tenera‟ through somatic
embryogenesis. Acta Physiol. Plant. 33:123-128.
58

Uma S, Lakshmi S, Saraswathi MS, Akbar A, Mustaffa MM. 2011. Embryo


rescue and plant regeneration in banana (Musa spp.). Plant Cell Tissue Organ
Cult. 105:105-111.
Uranbey. 2011. In vitro bulblet regeneration from immature embryos of
endangered and Endemic Muscari azureum. Arch. Biol. Sci. 63:209-215.
Usman MA. 2006. Pengaruh tingkat kemasakan dan pematahan dormansi benih
aren (Arenga pinnata (Wurmb.) Merr.) pada kondisi media yang berbeda
[Skripsi]. Bogor (ID): Instititut Pertanian Bogor.
Wang KLC, Li H, Ecker JR. 2002. Ethylene biosynthesis and signaling networks.
Plant Cell. 131-151.
Viloria Z, Grosser JW, Bracho B. 2005. Immature embryo rescue, culture and
seedling development of acid citrus fruit derived from interploid
hybridization. Plant Cell Tiss. Organ Cult. 82:159–167.
Wattimena GA. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Bogor (ID): Pusat Antar
Universitas (PAU) IPB.
Wattimena GA, Gunawan LW, Mattjik NA, Syamsudin E, Wiendi NMA,
Ernawati A. 1992. Bogor (ID): Pusat Antar Universitas (PAU) IPB.
Widyawati N, Tohari, Yudono P, Soemardi I. 2009. Permeabilitas dan
perkecambahan benih aren (Arenga pinnata (Wurmb.) Merr). J. Agron.
Indonesia. 37:152-158.
Yong JWH, Ge L, Ng YF, Tan SN. 2009. The chemical composition and
biological properties of coconut (Cocos nucifera L.) water. Molecules.
14:5114-5164.
Zouine J. Hadrami IE. 2007. Effect of 2.4-D, glutamine and BAP on embryogenic
suspension culture of date palm (Phoenix dactylifera L.). Sci. Horti. 112:221-
226
59

Lampiran 1. Komposisi air kelapa


No. Komponen Kimia Konsentrasi (mg/100 g)
1 Gula total 2.61*
2 Kalsium 24
3 Besi 0.29
4 Magnesium 25
5 Fosfat 20
6 Kalium 250
7 Natrium 105
8 Seng 0.1
9 Tembaga 0.04
10 Mangan 0.142
11 Selen 0.001
12 Asam askorbat 2.4
13 Tiamin 0.03
14 Riboflavin 0.057
15 Niasin 0.08
16 Asam pantotenat 0.043
17 Piridoksina 0.032
18 Folat total 0.03
19 Lipid total 0.2*
20 Alanina 0.037*
21 Arginina 0.118*
22 Asam aspartat 0.07*
23 Sistina 0.014*
24 Asam glutamina 0.165*
25 Glisina 0.034*
26 Histidina 0.017*
27 Isoleusina 0.028*
28 Leusina 0.053*
29 Lisina 0.032*
30 Metionina 0.013*
31 Fenilalanina 0.037*
32 Prolina 0.03*
33 Serina 0.037*
34 Tirosina 0.022*
35 Triptofan 0.008*
36 Protein 0.72*
37 Treonina 0.026*
38 Valina 0.044*
39 Auksin Ada
40 1.3-Diphenylurea Ada
41 Sitokinin Ada
Keterangan : * = g/100 g. Sumber : Yong et al. (2009).
60

Lampiran 2. Komposisi media Y3 (Eeuwens 1976 dan vitamin dari Morel dan
Wetmore 1951)
No. Komponen Kimia Konsentrasi (mg/l)
1 NH4Cl 535
2 KNO3 2020
3 MgSO4.7H2O 247
4 CaCl2.2H2O 294
5 NaH2PO4.2H2O 312
6 KI 8.2
7 H3BO3 3.1
8 MnSO4.4H2O 11.2
9 ZnSO4.7H2O 7.2
10 CuSO4.5H2O 0.25
11 CoCl2.6H2O 0.24
12 NaMoO4.H2O 0.24
13 NiCl.6H2O 0.024
14 Fe2SO4.7H2O 13.9
15 Na2EDTA 37.3
16 Myo-inositol 100
17 Pyridoxine-HCl 0,05
18 Thiamine-HCl 0,05
19 Nicotinic Acid 0.05
20 Ca-D-pantothenate 0.05
21 Biotin 0.05

Lampiran 3. Komposisi media WPM (Brent McCown dan Greg Lloyd 1981)
No. Komponen Kimia Konsentrasi (mg/l)
1 NH4NO3 400
2 Ca(NO3)2.4H2O 576
3 CaCl2.2H2O 96
4 KH2PO4 170
5 H3BO3 6,2
6 Na2MoO4.2H2O 0,25
7 FeSO4.7H2o 27,8
8 Na2EDTA 37,3
9 MnSO4.4H2O 22,3
10 ZnSO4.7H2O 8,6
11 MgSO4.7H2O 370
12 Myo-inositol 100
13 Niacin 0,5
14 Pyridoxine-HCl 0,5
15 Thiamine-HCl 1
61

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan pada tanggal 15 Juni


1985. Penulis merupakan anak tunggal dari pasangan ayah Drs. H. M. Arsyad B.
dan ibu Dra. Hj. Nurhayati Dunuyaali.
Penulis mengenyam pendidikan dasar dan menengah di SDN Komp. IKIP
dan SLTP Negeri 6 Makassar. Pada tahun 2000 melanjutkan pendidikan ke SMU
Negeri 2 Makassar. Tahun 2003, penulis memperoleh kesempatan untuk
melanjutkan studi pada Program S1 Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas
Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar dan lulus tahun 2008. Tahun 2010,
penulis diterima di Program Studi Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman Sekolah
Pascasarjana IPB.
Selama studi jenjang S1, tahun 2007-2008 penulis bekerja sebagai asisten
tenaga ahli pada Penelitian Pengembangan Tanaman Hias Kabupaten Bantaeng,
Sulawesi Selatan. Tahun 2009 penulis bekerja sebagai analis data pada Proyek
Pendataan Barang Milik Negara (BMN) Kementerian Pekerjaan Umum. Tahun
2010 penulis bekerja pada Badan Pusat Statistika Provinsi Sulawesi Selatan
sebagai analis data SP 2010.