Anda di halaman 1dari 11

Trias Epidemilologi ( http://repository.uinsu.ac.id/5523/1/DIKTAT%20DASAR%20EPID.

pdf)
Didalam epidemiologi deskriptif dipelajari bagaimana frekuensi penyakit berubah menurut
perubahan variabel-variabel epidemiologi yang terdiri dari orang (person), tempat (place) dan
waktu (time). Epidemiologi terdapat Hubungan asosiasi dalam bidang adalah hubungan
keterikatan atau saling pengaruh antara dua atau lebih variabel, dimana hubungan tersebut
dapat bersifat hubungan sebab akibat maupun yang bukan sebab akibat.
Dalam kaitanya dengan penyakit terdapat hubungan karasteristik antara Karakteristik Segitiga
Utama. Yaitu host, agent dan improvment. Serta terdapat interaksi antar variabel epidemologi
sebagai determinan penyakit. Ketiga faktor dalam trias epidemiologi terus menerus dalam
keadaan berinteraksi satu sama lain. Jika interaksinya seimbang, terciptalah keadaan seimbang.
Begitu terjadi gangguan keseimbangan, muncul penyakit. Terjadinya gangguan keseimbangan
bermula dari perubahan unsur-unsur trias itu. Perubahan unsur trias yang petensial
menyebabkan kesakitan tergantung pada karakteristik dari ketiganya dan interakksi antara
ketiganya.
Karakteristik Penjamu
Pejamu adalah tempat yang dinvasi oleh penyakit. Penjamu dapat berupa manusia, hewan
atapun tumbuhan. Manusia mempunyai karakteristik tersendiri dalam menghadapi ancaman
penyakit, yang bisa berupa:
a. Resistensi: kemampuan dari penjamu untuk bertahan terhadap suatu infeksi. Terhadap
suatu infeksi kuman tertentu, manusia mempunyai mekanisme pertahanan tersendiri dalam
menghadapinya.
b. Imunitas: kesanggupan host untuk mengembangkan suatu respon imunologis, dapat secara
alamiah maupun perolehan (non-ilmiah), sehingga tubuh kebal terhadap suatu penyakit
tertentu. Selain mempertahankan diri, pada jenis-jenis penyakit tertentu mekanisme
pertahanan tubuh dapat menciptakan kekebalan tersendiri. Misalnya campak, manusia
mempunyai kekebalan seumur hidup, mendapat imunitas yang tinggi setelah terserang
campak, sehingga seusai kena campak sekali maka akan kebal seumur hidup.
c. Infektifnes (infectiousness): potensi penjamu yang terinfeksi untuk menularkan penyakit
kepada orang lain. Pada keadaan sakit maupun sehat, kuman yang berada dalam tubuh
manusia dapat berpindah kepada manusia dan sekitarnya.
Karakteristik Agen
Agen adalah penyebab penyakit yang dapat terdiri dari berbagai jenis yaitu agen biologis (virus,
bakteri, fungi, riketsia, protozoa, metazoa); Agen nutrien (Protein, lemak, karbohidrat, vitamin,
mineral, dan air); Agen fisik: Panas, radiasi, dingin, kelembaban, tekanan; Agen kimia (Dapat
bersifat endogenous seperti asidosis, diabetes (hiperglikemia), uremia, dan eksogenous (zat
kimia, alergen, gas, 16 debu, dll.); dan agen mekanis (Gesekan, benturan, pukulan yang dapat
menimbulkan kerusakan jaringan). Adapun karakteristik dari agen berupa :
a. Infektivitas: kesanggupan dari organisma untuk beradaptasi sendiri terhadap lingkungan dari
penjamu untuk mampu tinggal dan berkembangbiak (multiply) dalam jaringan penjamu.
Umumnya diperlukan jumlah tertentu dari suatu mikroorganisma untuk mamppu
menimbulakan infeksi terhadap penjamunya. Dosis infektivitas minimum (minimum
infectious dose) adalah jumlah minimal organisma yang dibutuhkan untuk menyebabkan
infeksi. Jumlah ini berbeda antara berbagai spesies mikroba dan antara individu.
b. Patogenensis: kesanggupan organisma untuk menimbulakan suatu reaksi klinik khusus yang
patologis setelah terjadinya infeksi pada penjamu yang diserang. Dengan perkataan lain,
jumlah penderita dibagi dengan jumlah orang yang terinfeksi.hampir semua orang yang
terinfeksi dengan virus smaalpox menderita penyakit (high pathogenenicity), swedangkan
orang yang terinfeksi polivirus tidak semua jatuh sakit (low pathogenenicity).
c. Virulensi: kesanggupan organisma tertentu untuk menghasilakan reaksi patologis yang berat
yang selanjutnya mungkin menyebabkan kematian. Virulensi kuman menunjukkan beratnya
(suverity) penyakit.
d. Toksisitas: kesanggupan organisma untuk memproduksi reaksi kimia yang toksis dari
substansi kimia yang dibuatnya. Dalam upaya merusak jaringan untuk menyebabkan penyakit
berbagai kuman mengeluarkan zat toksis.
e. Invasitas: kemampuan organisma untuk melakukan penetrasi dan menyebar setelah memasuki
jaringan.
f. Antigenisitas: kesanggupan organisma untuk merangsang reaksi imunologis dalam penjamu.
Beberapa organisma mempunyai antigenesitas lebih kuat dibanding yang lain. Jika menyerang
aliran darah (virus measles) akan lebih merangsang immunoresponse dari yang hanya
menyerang permukaan membran (gonococcuc).
Karakteristik Lingkungan
a. Topografi: situasi lingkungan tertentu, baik yang natural maupun buatan manusia yang
mungkin mempengaruhi terjadinya dan penyebaran suatu penyakit tertentu.
b. Geografis: keadaan yang berhubungan dengan struktur geologi dari bumi yang berhubungan
dengan kejadian penyakit.
Didalam epidemiologi dekriptif, terdapat tiga variabel determinan yaitu orang, tempat dan waktu.
Frekuensi penyakit berubah menurut perubahan variabel-variabel epidemiologi tersebut.
 Person (Orang)
Variabel orang yang mempengaruhi penyakit adalah karakteristik dan atribut dari anggota
populasi. Perbedaaan rate penyakit berdasarkan orang menunjukkan sumber paparan yang
potensial dan berbeda-beda pada faktor host. Adapun beberapa variable orang adalah
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Kelas sosial
4. Jenis pekerjaan
5. Penghasilan
6. Ras dan suku bangsa (etnis)
7. Agama
8. Status perkawinan
9. Besarnya keluarga – umur kepala keluarga
10. Struktur keluarga
11. Paritas
 Place (Tempat)
Varibel tempat adalah karakteristik lokal dimana orang hidup, bekerja dan berkunjung.
Perbedaan insiden berdasarkan tempat menunjukkan perbedaan susunan penduduk atau
lingkungan mereka tinggal. Pentingnya variabel tempat di dalam mempelajari etiologi suatu
penyakit dapat digambarkan dengan jelas pada penyelidikan wabah dan penyelidikan terhadap
kaum migran.
Beberapa varibel tempat :
1. Batas-batas daerah pemerintahan (desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi)
2. Kota dan pedesaan
3. Daerah atau tempat berdasarkan batas-batas alam
4. Negara-negara
5. Regional – global
 Time (Waktu)
Variabel waktu dapat menganalisis perbedaan cara pandang dari kurva epidemik. Hubungan
antara waktu dan penyakit merupakan kebutuhan dasar di dalam analisis epidemiologi oleh
karena perubahan penyakit menurut waktu menunjukkan factor etiologis. Beberapa pola
penyakit :
1. Sporadis (jarang terjadi dan tidak teratur)
2. Penyakit endemis (kejadian dapat diprediksi)
3. Epidemis (kejadian yang tidak seperti biasa/KLB)
4. Propagating epedemik (penyakit yang terus meningkat sepanjang waktu)
Interaksi Agen, Host, dan Lingkungan
Faktor agent adalah penyebab penyakit berupa biologis, fisik, kimia. Faktor host adalah
karakteristik personal, perilaku, presdisposisi genetik dan immmunologic. Faktor lingkungan
adalah keadaan eksternal (selain agent) yang mempengaruhi proses penyakit baik berupa fisik,
biologis atau sosial.

Keseimbangan dari segitiga epidemiologi diatas akan mempengaruhi status kesehatan. Berlaku
untuk penyakit menular maupun tidak menular
Interaksi antara agen penyakit dan lingkungan
Keadaan dimana agen penyakit langsung dipengaruhi oleh lingkungan dan terjadi pada saat pre-
patogenesis dari suatu penyakit. Misalnya: Viabilitas bakteri terhadap sinar matahari, stabilitas
vitamin sayuran di ruang pendingin, penguapan bahan kimia beracun oleh proses pemanasan.
Interaksi antara Host dan Lingkungan
Keadaan dimana manusia langsung dipengaruhi oleh lingkungannya pada fase pre-patogenesis.
Misalnya: Udara dingin, hujan, dan kebiasaan membuat dan menyediakan makanan.
Interaksi antara Host dan Agen penyakit
Keadaan dimana agen penyakit menetap, berkembang biak dan dapat merangsang manusia untuk
menimbulkan respon berupa gejala penyakit. Misalnya: Demam, perubahan fisiologis dari tubuh,
pembentukan kekebalan, atau mekanisme pertahanan tubuh lainnya.
- Interaksi yang terjadi dapat berupa sembuh sempurna, cacat, ketidakmampuan, atau kematian.
Interaksi Agen penyakit, Host dan Lingkungan
Keadaan dimana agen penyakit, manusia, dan lingkungan bersama-sama saling mempengaruhi
dan memperberat satu sama lain, sehingga memudahkan agen penyakit baik secara langsung atau
tidak langsung masuk ke dalam tubuh manusia. Misalnya: Pencemaran air sumur oleh kotoran
manusia, dapat menimbulkan Water Borne Diseas.

Definisi skrining ( dapus 1 dan 2)


Menurut US Commiission on Chronic Illness (1951)
 Identifikasi dugaan penyakit yang tidak diketahui atau kelainan dengan penerapan tes (uji),
pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat diterapkan secara cepat.
Skrining adalah deteksi dini dari:
penyakit pada individu yang tidak/belum menunjukkan tanda atau gejala dari penyakit
tersebut.
 suatu penyakit,
 prekursor dari suatu penyakit,
 kerentanan terhadap suatu penyakit
pada individu yang tidak/belum menunjukkan tanda atau gejala dari penyakit tersebut.
 adalah usaha untuk mengidentifikasi penyakit/kelainan yang secara klinis belum jelas dengan
menggunakan test, pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat
untuk membedakan orang-orang yang kelihatannya sehat, benar2 sehat dengan tampak
sehat tetapi sesungguhnya menderita kelainan.
Uji Skrining
 Memisahkan secara jelas orang yang sehat mungkin mempunyai penyakit dari pada orang
orang yang sehat yang mungkin tidak mempunyai penyakit
 Tidak ditujukan untuk menjadi diagnostik. Orang dengan tes positif atau temuan dicurigai
harus dirujuk ke dokter mereka untuk diagnosis dan perlakuan pengobatan
Test Skrining dapat dilakukan dengan
 Pertanyaan/Kuesioner:
misal: MAST (Michigan Alcohol Screening Test) utk mengidentifikasi risiko alkoholism
 Pemeriksaan Fisik:
misal: pemeriksaan tekanan darah
 Pemeriksaan Laboratorium:
misal: pemeriksaan gula darah, HPV
 X-ray, termasuk diagnostic imaging:
misal: mammografi DUM
Jenis Penyakit Yang Tepat Untuk Skrining
 merupakan penyakit yang serius
 pengobatan sblm gejala muncul harus lebih untung dibandingkan dengan setelah gejala
muncul
 prevalens penyakit pre klinik harus tinggi pada populasi yang diskrining
Type Of Screening
1. mass screening
2. selective screening
3. single disease screening
4. case finding screening
5. multiphasic screening
Syarat sebuah test skrining yang baik
 Murah
 Mudah dilakukan
 Hanya sedikit memberi rasa tidak nyaman
 Valid (bisa membedakan sakit dengan tidak sakit)
 Reliable (konsisten, istikomah)
Aspek Epidemiologi Skrining Test
Validitas
Kemampuan dari suatu pemeriksaan/test untuk menentukan individu mana yang mempunyai
penyakit/berisiko (tidak normal) dan individu mana yang tidak mempunyai penyakit
(normal/sehat).
Validitas dari:
Pengobatan fase dari tes skrining preklinik
 Pengobatan pada DPCP lebih baik sebelum gejala muncul
 DPCP = detectable preclinical phase (Fase preklinik yang dapat dideteksi)
Contoh:
kanker serviks dpcp panjang, 10 tahun. Uji (tes) Papanicoulaou smear (Pap smear) akan
efektif. Kanker paru , dpcp pendek, maka skrining tidak efektif
Prevalens dpcp tinggi pada populasi
 biaya program skrining, diarahkan pada kasus terdeteksi
 skrining terbatas
 deteksi kanker payudara untuk wanita yang punya riwayat keluarga
 kanker kandung kemih pada pekerja yang terpapar
Hipertensi contoh penyakit yang baik diskrining
 serius , mortalitas tinggi ; terdokumentasi
 pengobatan dini , menurunkan mortalitas & morbiditas
 prevalensi tinggi di populasi, 20 %
PKU (Phenyl Keton Urea)
 penyakit jarang ; bayi lahir tanpa ada fenilamin hidroksilase
 akumulasi fenilamin , mental retardasi
 1 antara 15.000 kelahiran
 jenis Skrining: akurat; murah ; sederhana;
 PKU skrining seluruh bayi
Indikator Untuk Menilai Validitas ada 2:
1. Sensitivitas
2. Spesifitas
 Sensitivitas adalah kemampuan dari suatu skrining test untuk mengidentifikasi secara benar
orang-orang yang mempunyai penyakit/ berisiko .
 Spesifitas adalah: kemampuan dari suatu skrining test untuk mengidentifikasi secara benar
orang-orang yang sehat atau yang tidak mempunyai penyakit/ berisiko.
Sebuah tes skrining yang ideal adalah yang mempunyai sensitivitas dan spesifisitas tinggi yang
berarti validitasnya juga tinggi. Validitas sebuah tes skrining didasarkan atas akurasinya dalam
mengidentifikasi individu ke dalam sakit dan tidak sakit. Untuk tujuan ini sebuah tes skrining
harus dibandingkan dengan sebuah atau beberapa gold standard test yang menyatakan bahwa
seseorang adalah benar-benar sakit atau tidak sakit. Sayangnya gold standard test adalah sebuah
alat diagnostik yang sering kali kurang nyaman, mahal dan invasif.
Kalkulasi dasar dari sensitifitas dan spesifisitas

 Sensitifitas dari tes adalah TP / (TP + FN) yaitu proporsi dari orang yang sakit yang hasil
tesnya positif
 Spesifisitas dari tes adalah TN/(TN +FP) yaitu proporsi dari orang yang sehat yang hasil
tesnya negative
 TP atau True Positive adalah orang yang sakit dan hasil tesnya dinyatakan positif oleh tes
diagnostic
 FP atau False Positive adalah orang yang sehat/ tidak sakit tapi hasil tesnya dinyatakan positif
oleh tes diagnostic
 TN atau True Negative adalah orang yang sehat/tidak sakit dan hasil tesnya dinyatakan
negatif oleh tes diagnostic
 FN atau False Negatif adalah orang sakit tapi hasil tesnya dinyatakan negatif oleh tes
diagnostic
“Gold Standard”
True Positif : Positif Berdasarkan Skrining Test Dan Positif Atau Sakit Berdasarkan “Gold
Standard”
True Negatif : Negatif Berdasarkan Skrining Test dan Negatif /Sehat/Tidak Sakit Berdasarkan
“Gold Standard”
False Positif : Positif Berdasarkan Skrining Test Tetapi Negatif Atau Tidak Sakit/Sehat
Berdasarkan “Gold Standard”
False Negatif : Negatif Berdasarkan Skrining Test Tetapi Positif Atau Sakit Berdasarkan “Gold
Standard”
Evaluasi dari Skrining Tes

Contoh:
 Diasumsikan dalam 1000 populasi, terdapat 100 orang dengan penyakit dan 900 tanpa
penyakit (prevalensi 10%).
 Sebuah tes skrining dipakai untuk mengidentifikasi 100 orang yang sakit.
 Hasilnya adalah sebagai berikut:
Positive predictive value (PPV) atau nilai ramal positif (NRP). Adalah proporsi pasien yang tes
nya positif dan betul menderita sakit. Dengan kata lain “Jika tes seseorang positif, berapa
probabilitas dia betul-betul menderita penyakit?” Rumus: PPV = a/(a+b).
Negative predictive value (NPV) atau nilai ramal negatif (NRN). Adalah proporsi pasien yang
tes nya negatif dan betul-betul tidak menderita sakit. Bisa juga dikatakan “Jika tes seseorang
negatif, berapa probabilitas dia betul-betul tidak menderita penyakit?” Rumus: NPV = d/(c+d).
True positive: Adalah mereka yang tes nya poistif dan berpenyakit. True positive rate (TPR)
adalah proporsi mereka yang tes nya positif terhadap seluruh pospulasi yang berpenyakit.
Rumus: TPR = a/(a+c). TPR tidak lain adalah sensitivitas.
False positive: Adalah mereka yang tes nya positif padahal sebenarnya mereka tidak
berpenyakit. False positive rate (FPR) adalah proporsi mereka yang tes nya positif terhadap
seluruh populasi yang tidak berpenyakit. Rumusnya FPR = b/(b+d). Ternyata FPR = 1 –
spesifisitas.
True negative: Adalah mereka yang tesnya negatif dan benar-benar tidak berpenyakit. True
negative rate (TNR) adalah proporsi mereka yang tesnya negatif terhadap populasi yang benar-
benar tidaka sakit. Rumusnya TNR = d/(b+d), dan ini adalah spesifisitas.
False negative: Adalah mereka yang test nya negatif padahal sebenarnya mereka berpenyakit.
False negative rate (FNR) adalah proporsi mereka yang tesnya negatif terhadap seluruh populasi
yang berpenyakit. Rumusnya FNR = d/(b+d).
Efek samping sebuah skrining.
Sepintas kelihatan dengan skrining kita bisa mengetahui berapa kemungkinan seseorang
menderita sakit, sehingga ini merupakan hal yang harus selalu dikerjakan. Meskipun demikian
skrining membawa konsekuensi biaya, sehingga harus ditimbang antara manfaat dan
mudaratnya, terutama pada subkelompok yang prevalensi penyakitnya rendah.
Ada dua hal yang harus diperhatikan yakni: false positive (positif palsu) dan false negative
(negatif palsu).
 False positives, yakni mereka yang tesnya positif tetapi sebenarnya tidak berpenyakit.
 False negatives, yakni mereka yang tesnya negatif padahal sebenarnya mereka berpenyakit.
Konsekuensi dari false positive adalah pasien merasa takut yang berlebihan sampai kepada cara
diagnosis yang mahal dan invasif atau bahkan pengobatan yang tidak perlu (over treatment).
Sebaliknya bila test nya adalah false negative, pasien akan merasa aman-aman saja, padahal ia
sebenarnya mempunyai penyakit. Akibatnya diagnosis menjadi terlambat dan pengobatan yang
seharusnya dilakukan menjadi tidak dilakukan sehingga morbiditas dan mortalitaspun dan
akhirnya biaya yang dibutuhkan juga meningkat.