Anda di halaman 1dari 66

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA Tn. A DENGAN DIAGNOSA MEDIS FISTULA ANI


DENGAN TINDAKAN FISTULOTOMI
DI RUANG IBS

DISUSUN OLEH :

Nama : Thomas Erik Helvin


NIM : 2018.C.10a.0988

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI SARJANA KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2021/2022
1

LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan Keperawatan Ini Disusun Oleh :


Nama : Thomas Erik Helvin
NIM : 2018.C.10a.0988
Program Studi : S1 Keperawatan
Judul : “Laporan pendahuluan dan Asuhan keperawatan pada Tn.
H dengan Diagnosa Fistula Ani di RSUD Dr. Doris
Sylvanus Palangka Raya”
Telah melaksanakan asuhan keperawatan sebagai persyaratan untuk
menempuh Praktik Praklinik Keperawatan IV (PPK IV) Pada Program Studi S-1
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Eka Harap Palangka Raya.

PEMBIMBING PRAKTIK

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

(Rimba Aprianti, S.Kep., Ners ) (Hazelel Poni, S.Kep., Ners)

Mengetahui,

Ketua Prodi Sarjana Keperawatan

Meilitha Carolina, Ners., M.Kep


2

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan anugerah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Laporan
Pendahuluan yang berjudul “Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan
Pada Ny. R Dengan Diangnosa Medis Faktur Femur Di Sistem Muskuloskeletal
RS”. Laporan pendahuluan ini disusun guna melengkapi tugas (PPK IV).
Laporan Pendahuluan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh
karena itu, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada :
1. Ibu Maria Adelheid Ensia, S.Pd., M.Kes., selaku Ketua STIKes Eka Harap
Palangka Raya.
2. Ibu Meilitha Carolina, Ners, M.Kep., selaku Ketua Program Studi Ners
STIKes Eka Harap Palangka Raya.
3. Ibu Ika Paskaria, S.Kep., Ners selaku koordinator Praktik Pra Klinik
Keperawatan IV Program Studi Sarjana Keperawatan.
4. Ibu Rimba Aprianti, S. Kep., Ners selaku Pembimbing Akademik yang telah
banyak memberikan arahan, masukkan, dan bimbingan dalam penyelesaian
asuhan keperawatan ini.
5. Hazelel Poni, S.Kep Selaku Pembimbing Lahan yang telah banyak memberi
arahan, masukan dan bimbingan dalam penyelesaian laporan pendahuluan
dan Asuhan Keperawatan ini
6. Semua pihak yang telah banyak membantu dalam pelaksaan kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini.
Saya menyadari bahwa laporan pendahuluan ini mungkin terdapat kesalahan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca dan mudah-mudahan laporan pendahuluan
ini dapat mencapai sasaran yang diharapkan sehingga dapat bermanfaat bagi kita
semua.
Palangka Raya, 27 Oktober 2021

Thomas Erik Helvin


3

DAFTAR ISI

SAMPUL ..................................................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................i
KATA PENGANTAR ...........................................................................................ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN .....................................................................................1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan...............................................................................................2
1.4 Manfaat Penulisan.............................................................................................2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................4
2.1 Konsep Penyakit Fistula Ani.............................................................................4
2.1.1 Definisi Fistula Ani.................................................................................4
2.1.2 Anatomi FIsiologi....................................................................................4
2.1.3 Etiologi....................................................................................................6
2.1.4 Klasifikasi................................................................................................7
2.1.5 Fatosiologi (WOC) .................................................................................8
2.1.6 Manifestasi Klinis .................................................................................11
2.1.7 Komplikasi ...........................................................................................11
2.1.8 Pemerikasaan Penunjang ......................................................................12
2.1.9 Penatalaksanaan Medis .........................................................................13
2.2 Fistulotomi/Fistulektomi .................................................................................14
2.3 Manajemen Asuhan Keperawatan ...................................................................16
2.2.1 Pengkajian Keperawatan ........................................................................16
2.2.2 Diagnosa Keperawatan ...........................................................................17
2.2.3 Intervensi Keperawatan ..........................................................................17
2.2.4 Implementasi Keperawatan ....................................................................18
2.2.5 Evaluasi Keperawatan ............................................................................22
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN .................................................................23
3.1 Pengkajian ...................................................................................................23
3.2 Diagnosa ......................................................................................................27
3.3 Intervensi .....................................................................................................28
3.4 Implementasi ...............................................................................................30
3.5 Evaluasi .......................................................................................................33
BAB 4 PENUTUP ................................................................................................35
4.1 Kesimpulan .................................................................................................36
4.2 Saran ............................................................................................................37
DAFTAR PUSTAKA
1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan zaman menyebabkan perubahan pada pola hidup masyarakat
seperti kebiasaan konsumsi fast food, paparan zat kimia dan kurangnya aktivitas
fisik yang menyebabkan penyakit, salah satunya kanker. Kanker adalah istilah
umum untuk satu kelompok besar penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel
abnormal di luar batas normal yang kemudian dapat menyerang bagian tubuh
yang berdampingan atau menyebar ke organ lain (WHO, 2017) dalam (Gentry,
2017). Karakteristik dan pola hidup masyarakat yang tidak sehat menjadi
tantangan dalam pengendalian kanker dan berdampak pada peningkatan
prevalensi kanker yang tidak terkendali. Salah satu jenis kanker dengan faktor
risiko terkait perilaku yang tidak sehat adalah kanker kolorektal (Dirseciu, 2017).
Kanker kolorektal adalah kanker yang terdapat pada kolon dan rektum.
Kanker ini disebut kanker kolon atau kanker rektum bergantung dari mana kanker
tersebut berawal. Kanker kolon dan kanker rektum sering digabungkan bersama
karena memiliki banyak kesamaan (American Cancer Society, 2015) dalam
(Harahap, 2019). Kanker rektum merupakan salah satu dari keganasan pada
rektum yang terjadi akibat timbulnya di mukosa/epitel dimana lama kelamaan
timbul nekrose dan ulkus (Nugroho, 2011). Rektum merupakan bagian 15 cm
terakhir dari usus besar dan terletak di dalam rongga panggul di tengah tulang
pinggul. Rektum adalah bagian dari usus besar pada sistem pencernaan yang
disebut dengan traktus gastrointestinal (Oliver, 2013) .
Kanker rektum adalah kanker ketiga yang banyak terjadi didunia dengan
presentasi 11,2% atau 1.849.518 kasus dari jumlah seluruh penderita kanker
diseluruh dunia, dan kanker kedua dengan jumlah kematian 9.2% atau 880.792 di
tahun 2018 . Dalam kurun waktu 5 tahun terjadi 1.021.005 kasus di Asia dengan
43.324 kasus baru setiap tahunnya. Di Indonesia, kanker rektum adalah kanker
yang sering terjadi baik pada pria dan wanita, prevalensi tahun 2013 sampai 2018
terjadi 32.069 kasus dengan 14.112 kasus baru di tahun 2018, di Kalimantan
Tengah sendiri ada 734 pasien mengalami kanker dengan rawat jalan dan 218
orang dengan rawat inap (The Global Cancer Observatory, 2019).
2

Berdasarkan masih tingginya prevalensi angka kejadian Kanker Rektum di


Indonesia, dan juga melihat dari segi sebab akibat yang dapat di timbulkan, maka
saya tertarik untuk membahas lebih lanjut tentang asuhan keperawatan pada
Fistula Ani.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, maka dapat
dirumuskan masalah dalam laporan pendahuluan ini adalah : Bagaimana
pemberian asuhan keperawatan dengan pada Tn. H dengan Diagnosa Fistula Ani
di RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan penulisan ini adalah untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman
langsung tentang bagaimana menerapkan Asuhan Keperawatan pada pasien
Fistula Ani.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mahasiswa dapat melengkapi Asuhan Keperawatan pada Tn. T dengan
Fistula Ani.
1.3.2.2 Mahasiswa dapat melakukan pengkajian pada pasien dengan dengan
Fistula Ani.
1.3.2.3 Mahasiswa dapat menganalisa kasus dan merumuskan masalah
keperawatan pada pasien dengan Intra Fistula Ani.
1.3.2.4 Mahasiswa dapatmenyusun asuhan keperawatan yang mencakup
intervensi pada pasien dengan Fistula Ani.
1.3.2.5 Mahasiswa dapatmelakukan implementasi atau pelaksanaan tindakan
keperawatan pada pasien dengan Fistula Ani.
1.3.2.6 Mahasiswa dapat mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan yang
diberikan kepada pasien dengan Fistula Ani.
1.3.2.7 Mahasiswa dapat mendokumentasikan hasil dari asuhan keperawatan
yang telah dilaksanakan pada pasien dengan Fistula Ani.
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Mahasiswa
3

Diharapkan agar mahasiswa dapat menambah wawasan dan ilmu


pengetahuan dengan menerapkan proses keperawatan dan memanfaatkan ilmu
pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Program Studi S1
Keperawatan Stikes Eka Harap Palangka Raya.
1.4.2 Bagi Klien dan Keluarga
Klien dan keluarga mengerti cara perawatan pada penyakit dengan Fistula
Ani secara benar dan bisa melakukan keperawatan di rumah dengan mandiri.
1.4.3 Bagi Institusi
3.4.3.1 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai sumber bacaan tentang Fistula Ani dengan Asuhan
Keperawatannya.
3.4.3.1 Bagi Institusi Rumah Sakit
Memberikan gambaran pelaksanaan Asuhan Keperawatan dan
Meningkatkan mutu pelayanan perawatan di Rumah Sakit kepada pasien dengan
Fistula Ani melalui Asuhan Keperawatan yang dilaksanakan secara komprehensif.
1.4.4 Bagi IPTEK
Sebagai sumber ilmu pengetahuan teknologi, apa saja alat-alat yang dapat
membantu serta menunjang pelayanan perawatan Pada Fistula Ani yang berguna
bagi status kesembuhan klien.
4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Penyakit
2.1.1 Definisi Fistula Ani
Fistula ani merupakan suatu kondisi terdapatnya saluran atau terowongan
antara regio anorektal dengan kulit di sekitar anus. Orificium internal sering kali
berada di kanalis anal dan orificium eksternal berada di kulit perianal. Fistula ani
terjadi akibat adanya abses anorektal yang telah keluar.  Abses anorektal
merupakan suatu kondisi akut, sedangkan fistula memperlihatkan fase kronis
(Oliveira PG, Sousa JB, Almeida RM 2015).
Fistula ani adalah terbentuknya saluran di antara ujung usus besar dan kulit di
sekitar anus atau dubur. Kondisi ini disebabkan oleh adanya infeksi yang
berkembang menjadi benjolan berisi nanah (abses) di area kulit sekitar anus
Hokkanen, et al. (2019).
Penyakit fistula ani (anal fistula) adalah terbentuknya saluran kecil di
antara ujung usus besar dan kulit di sekitar anus. Fistula sendiri yaitu saluran
penghubung antara dua bagian tubuh atau pembuluh darah Ratto, et al. (2019).
Dari beberpa pendapat ahli diatas saya menyimpukan bahwa Fistula Ani
adalah adalah terbentuknya saluran kecil di antara ujung usus besar dan kulit di
sekitar anus yang disebabkan infeksi yang berkembang menjadi benjolan berisi
nanah di area kulit sekitar anus.

2.1.2 Anatomi Fisiologi Rektum


Rektum adalah bagian saluran pencernaan akhir dengan panjang 12-13 cm
yang berakhir di saluran anal dan membuka di eksterior di anus. Mukosa saluran
anal tersusun dari kolumna rectal yang berupa lipatan-lipatan vertical yang
masing- masing berisi arteri dan vena. Rektum juga terdapat sfingter ani interna
yang terdapat otot polos dan sfingter ani eksterna yang terdapat otot rangka.
Keduanya dipersarafi oleh saraf yang berbeda. Sfingter ani interna dipersarafi
oleh saraf tidak sadar (involunter) dan sfingter ani eksternal dipersarafi oleh
saraf yang bisa dikehendaki (volunter). Sfingter ani eksterna diatur oleh N.
Pudendus yang merupakan bagian dari saraf somatik, sehingga ani eksterna
5

berada di bawah pengaruh kesadaran kita (volunter). Kedua sfingter ini


mengendalikan proses defekasi.

Proses defekasi diawali oleh terjadi refleks defekasi akibat ujung – ujung
serabut saraf rektum terangsang ketika dinding rektum teregang oleh massa feses.
Sensasi rektum ini berperan penting pada mekanisme kontinen dan juga sensasi
pengisian rektum merupakan bagian integral penting pada defekasi normal. Hal
ini dapat digambarkan sebagai berikut : pada saat volume kolon sigmoid menjadi
besar, serabut saraf akan memicu kontraksi dengan mengosongkan isinya ke
dalam rektum. Studi statistika tentang fisiologi rektum ini mendeskripsikan tiga
tipe dari kontraksi rektum yaitu :

1. Simple contraction yang terjadi sebanyak 5 – 10 siklus/menit


2. Slower contractions sebanyak 3 siklus/menit dengan amplitudo diatas 100
cmH2O
3. Slow Propagated Contractions dengan frekuensi amplitudo tinggi.

Gambar 1 Rektum, Anal Fistula

Distensi dari rektum menstimulasi reseptor regang pada dinding rektum,


lantai pelvis dan kanalis analis. Bila feses memasuki rektum, distensi dinding
rektum mengirim signal afferent yang menyebar melalui pleksus mienterikus yang
merangsang terjadinya gelombang peristaltic pada kolon desenden, kolon sigmoid
dan rektum sehingga feses terdorong ke anus. Setelah gelombang
6

peristaltik mencapai anus, sfingter ani interna mengalami relaksasi oleh adanya


sinyal yang menghambat dari pleksus mienterikus dan sfingter ani eksterna pada
saat tersebut mengalami relaksasi secara volunteer dan terjadilah defekasi.

Pada permulaan defekasi, terjadi peningkatan tekanan intraabdominal oleh


kontraksi otot–otot kuadratus lumborum, muskulus rectus abdominis, muskulus
obliqus interna dan eksterna, muskulus lunteers abdominis dan diafraghma.
Muskulus puborektalis yang mengelilingi anorectal junction kemudian akan
relaksasi sehingga sudut anorektal akan menjadi lurus. Perlu diingat bahwa area
anorektal membuat sudut 900 antara ampulla rekti dan kanalis analis sehingga
akan tertutup. Jadi pada saat lurus, sudut ini akan meningkat sekitar 1300 – 1400
sehingga kanalis analis akan menjadi lurus dan feses akan dievakuasi. Muskulus
sfingter ani eksterna kemudian akan berkonstriksi dan memanjang ke kanalis
analis. Defekasi dapat dihambat oleh kontraksi sfingter ani eksterna yang berada
di bawah pengaruh kesadaran (volunteer). Bila defekasi ditahan, sfingter ani
interna akan tertutup, olunt akan mengadakan relaksasi untuk mengakomodasi
feses yang terdapat di dalamnya. Mekanisme olunteer dari proses defekasi ini
nampaknya diatur oleh susunan saraf pusat. Setelah proses evakuasi feses selesai,
terjadi Closing Reflexes. Muskulus sfingter ani interna dan muskulus puborektalis
akan berkontraksi dan sudut anorektal akan kembali ke posisi sebelumnya. Ini
memungkinkan muskulus sfingter ani interna untuk memulihkan tonus ototnya
dan menutup kanalis analis.

2.1.3 Etiologi
Etiologi fistula ani belum diketahui secara jelas, tetapi biasanya diawali
oleh infeksi anorektal. Beberapa mikroba yang menjadi etiologi abses anorektal
adalah Bacteroides fragilis, Peptostreptococcus, Prevotella, Fusobacterium,
Porphyromonas, Clostridium, Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Abses
perianal dapat menyebabkan adanya ruang kosong yang menetap, membentuk
kista atau fistula antara kanalis analis dengan kulit perianal. Kebanyakan fistula
berawal dari kelenjar dalam di dinding anus atau rektum. Kadang-kadang fistula
merupakan akibat dari pengeluaran nanah pada abses anorektal. Tetapi lebih
sering penyebabnya tidak dapat diketahui.
7

Fistula sering ditemukan pada penderita penyakit crohn. Penyakit crohn


adalah suatu keadaan inflamasi kronis dengan etiologi yang tidak diketahui, bisa
mengenai setiap bagian saluran alimentarius dari esophagus hingga rectum.
Penyakit crohn paling sering terjadi pada ileum terminal dan usus halus. Selain
itu, anal fistula juga sering didapati pada penderita tuberculosis, diverticulitis, dan
kanker atau cedera anus maupun rectum.

Fistula pada anak-anak biasanya merupakan cacat bawaan, dimana fistula


tertentu lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. Fistula yang menghubungkan
rektum dan vagina bisa merupakan akibat dari terapi sinar X, kanker, penyakit
Crohn, dan cedera pada ibu selama proses persalinan.

Fistula merupakan penyakit yang erat hubungannya dengan immune system


atau daya tahan tubuh setiap individu. Jika seorang penderita merasakan kelelahan
seperti saat bepergian jauh, begadang, dan terlalu kelelahan serta telat makan,
maka akan berdampak pada memperburuknya penyakit tersebut. Fistula juga
sangat erat kaitannya dengan pola makan. Penyebabnya adalah peradangan di
dalam dubur tepatnya dari kelenjar anal (krypto-glandular) didaerah linea dentata.
Jika peradangan sampai kebawah kulit disekitar dubur, kulit menjadi merah, sakit
dan ada benjolan, penderita biasanya merasa meriang. Anal fistula lebih banyak
diderita pria daripada wanita.

2.1.4 Klasifikasi
Selain fistula simple, Parks membagi fistula ani menjadi 4 type:
1. Intersphinteric fistula
Berawal dalam ruang di antara muskulus sfingter eksterna dan interna dan
bermuara berdekatan dengan lubang anus.
2. Transphinteric fistula
Berawal dalam ruang di antara muskulus sfingter eksterna dan interna,
kemudian melewati muskulus sfingter eksterna dan bermuara sepanjang satu atau
dua inchi di luar lubang anus, membentuk huruf ‘U’ dalam tubuh, dengan lubang
eksternal berada di kedua belah lubang anus (fistula horseshoe)
3. Suprasphinteric fistula
8

Berawal dari ruangan diantara m. sfingter eksterna, dan interna dan membelah
ke atas muskulus pubrektalis lalu turun di antara puborektal dan m.levator ani lalu
muncul satu atau dua inchi di luar anus.
4. Ekstrasphinteric fistula
Berawal dari rektum atau colon sigmoid dan memanjang ke bawah, melewati
muskulus levator ani dan berakhir di sekitar anus. Fistula ini biasa disebabkan
oleh abses appendiceal, abses diverticular, atau Crohn’s Disease.

2.1.5 Patofisiologi
Penyebabnya adalah peradangan di dalam dubur tepatnya dari kelenjar
anal (krypto-glandular) didaerah linea dentata. Jika peradangan sampai kebawah
kulit disekitar dubur , kulit menjadi merah , sakit dan ada benjolan , penderita
biasanya merasa meriang. Dengan bertambahnya kumpulan nanah maka rasa sakit
sakit juga akan bertambah, keadaan ini oleh awam sering disebut bisul.Pada
tahap ini pemberian antibiotik saja tidak akan dapat menyembuhkan abses , tetapi
nanah harus juga hilang. Jika abses ini pecah maka gejala diatas akan hilang.
Abses dapat pecah sendiri (spontan) atau harus dibuka (incisi) dalam
narkose.Pembukaan dalam narkose umumnya dapat dilakukan dalam rangka rawat
jalan tetapi penderita harus puasa makan dan minum selama 6 jam sebelum
dilakukan tindakan.
Setelah nanah keluar dan luka mengering , ada dua kemungkinan yaitu
sembuh sama seka.li atau sembuh dengan meninggalkan lubang kecil yang terus
menerus mengeluarkan cairan nanah terkadang bercampur darah. Meskipun
tidak sakit tetapi akan mengganggu kehidupan sehari-hari. Kondisi ini disebut
anal fistula.
Infeksi dari kelenjar Peradangan Inflamasi usus
2.1.5.2 WOC anus (cyptoglandular) berkepanjangan

Terbentuk abses Mengeluarkan darah


perianal

FISTULA ANI

B1 B2 B3 B4 B5 B6

MK: tidak ada Terbentuk lubang saluran kecil Nyeri reaksi Spinger Ani Spingter ani
masalah baru di antara infeksi mengalami mengalami
keperawatan ujung usus kerusakan kerusakan
besar dan
Keterbatasan MK :
Terbentuk aktivitas
Peradangan Inkontinesia Terbentuk
Rembesan rembesan
pada anus Fekal
berupa darah berupa darah
atau feses Ketidakmampuan atau feses
mengakses toilet
Reaksi
infeksi
MK :Risiko Keluar melalui
MK : Risiko lubang dan tak
Pendarahan terkontrol
Gangguan
MK : Nyeri akut Eliminasi Urin

MK : Gangguan MK : Risiko
Integritas Kulit Infeksi
10

FISTULA ANI

TINDAKAN OPERATIF

Pre Operatiif Intra Operatiif Post Operatiif

Prosedur tindakan Pembedahan Luka Pembedahan


pembedahan

Kurang terpapar Terputusnya Respon Serabut


informasi kontinitas jaringan Lokal
lunak

MK : Ansietas MK : Nyeri Akut


MK : Risiko
Pendarahan
11

2.1.6 Manifestasi Klinis


Pus atau feses dapat bocor secara konstan dari lubang kutaneus. Gejala lain
mungkin pasase flatus atau feses dari vagina atau kandung kemih, tergantung pada
saluran fistula. Fistula bisa terasa sangat nyeri atau bisa mengeluarkan nanah atau darah.
Biasanya ditandai dengan adanya sejenis bisul dibagian anus yang tidak bisa sembuh-
sembuh. Didalam bisul tersebut adalah terowongan/canal yang menembus ke saluran
pembuangan/ rectum. Bisa ada satu, dua atau lebih lobang. Fistula juga ditandai dengan
demam, batuk serta rasa gatal disekitar anus dan lubang fistula. Pada pemeriksaan fisik
pada daerah anus, dapat ditemukan satu atau lebih external opening atau teraba fistula
di bawah permukaan. Pada colok dubur terkadang dapat diraba indurasi fistula dan
internal opening.

2.1.7 Komplikasi
Fistula ani merupakan penyakit yang dapat kambuh kembali setelah perawatan.
Tanpa perawatan dan pengobatan yang tepat, gejalanya akan semakin memburuk.
Komplikasi juga bisa terjadi apabila anal fistula tidak diobati dengan tepat. Salah satu
komplikasi yang mungkin terjadi akibat fistula ani adalah ketidakmampuan untuk
mengontrol pergerakan usus. Kondisi ini dapat mengganggu atau memengaruhi
kebiasaan buang air.
Komplikasi pada anal fistula dapat terjadi langsung setelah operasi atau tertunda.
a. Komplikasi terjadi secara langsung
- Perdarahan
- Impaksi fekal
Impaksi fekal adalah masa atau kumpulan feses yang mengeras di dalam rektum.
Impaksi terjadi akibat retensi dan akumulasi materi feses dalam waktu lama
- Hemorrhoid
Pelebaran pembuluh darah vena di bagian bawah dari saluran cerna, yaitu rektum
dan anus (dubur).
b. Komplikasi terjadi secara tunda
- Inkontinensia
Munculnya inkontinensia berkaitan dengan banyaknya otot sfingter yang terpotong,
khususnya pada pasien dengan fistula kompleks seperti letaktinggi dan letak posterior.
Drainase dari pemanjangan secara tidak sengaja dapat merusak saraf - saraf kecil dan
menimbulkan jaringan parut lebih banyak. Apabila pinggiran fistulotomi tidak tepat,
12

maka anus dapat tidakrapat menutup, yang mengakibatkan bocornya gas dan feces.
Risiko ini juga meningkat seiring menua dan pada wanita.
- Rekurens
Terjadi akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukaan primer atau
mengidentifikasi pemanjangan fistula ke atas atau ke samping. Epitelisasi dari bukaan
interna dan eksterna lebih dipertimbangkan sebagai penyebab persistennya fistula.
Risiko ini juga meningkat seiring penuaan dan pada wanita.
- Stenosis analis
Proses penyembuhan menyebabkan fibrosis pada kanalis anal.
- Penyembuhan luka yang lambat
Penyembuhan luka membutuhkan waktu ± 12 minggu, kecuali ada penyakit lain
yang menyertai (seperti penyakit Crohn)

2.1.8 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang pada penderita anal fistula meliputi:
- Fistulografi
Injeksi kontras melalui pembukaan internal, diikuti dengan anteroposterior, lateral
dan gambaran X-ray oblik untuk melihat jalur fistula.
- Ultrasound endoanal / endorektal
Menggunakan transduser 7 atau 10 MHz ke dalam kanalis ani untuk membantu
melihat differensiasi muskulus intersfingter dari lesi transfingter. Transduser
water-filled ballon membantu evaluasi dinding rectal dari beberapa ekstensi
suprasfingter.
- MRI
MRI dipilih apabila ingin mengevaluasi fistula kompleks untuk memperbaiki
rekurensi.
- CT- Scan
CT Scan umumnya diperlukan pada pasien dengan penyakit crohn atau irritable
bowel syndrome yang memerlukan evaluasi perluasan daerah inflamasi. Pada umumnya
memerlukan administrasi kontras oral dan rektal.
- Barium Enema
Untuk fistula multiple, dan dapat mendeteksi penyakit inflamasi usus.
- Anal Manometri
13

Evaluasi tekanan pada mekanisme sfingter berguna pada pasien tertentu seperti pada
pasien dengan fistula karena trauma persalinan, atau pada fistula kompleks berulang
yang mengenai sphincter ani.

2.1.9 Penatalaksanaan Medis


Pengobatan pada penderita anal fistula akan terus berlangsung seumur hidup
pasien. Karenanya peningkatan kesadaran dan deteksi dini akan mencegah komplikasi
penyakit ini menjadi kronis. Berikut ini merupakan penatalaksanaan medis pada
penderita anal fistula.
a. Terapi Konservatif dengan pemberian analgetik, antipiretik serta profilaksis
antibiotik jangka panjang untuk mencegah fistula rekuren.
b. Terapi pembedahan :
- Fistulotomi
Fistel di insisi dari lubang asalnya sampai ke lubang kulit, dibiarkan terbuka,
sembuh per sekundam intentionem. Dianjurkan sedapat mungkin dilakukan
fistulotomi.
- Fistulektomi
Jaringan granulasi harus di eksisi keseluruhannya untuk menyembuhkan fistula.
Terapi terbaik pada fistula ani adalah membiarkannya terbuka.
- Seton
Benang atau karet diikatkan malalui saluran fistula. Terdapat dua macam Seton,
cutting Seton, dimana benang Seton ditarik secara gradual untuk memotong
otot sphincter secara bertahap, dan loose Seton, dimana benang Seton ditinggalkan
supaya terbentuk granulasi dan benang akan ditolak oleh tubuh dan terlepas sendiri
setelah beberapa bulan.
- Advancement Flap
Menutup lubang dengan dinding usus, tetapi keberhasilannya tidak terlalu
 besar.
- Fibrin Glue
Menyuntikkan perekat khusus (Anal Fistula Plug/AFP) ke dalam saluran fistula
yang merangsang jaringan alamiah dan diserap oleh tubuh. Penggunaan fibrin glue
memang tampak menarik karena sederhana, tidak sakit, dan aman, namun
keberhasilan jangka panjangnya tidak tinggi, hanya 16%.
14

2.2 Fistulotomi/Fistulektomi
2.2.1 Definisi
Definisi Fistulotomy merupakan tindakan bedah untuk mengobati anal fistula
dengan cara membuka saluran yang menghubungkan anal canal dan kulit kemudian
mengalirkan pus keluar.

2.2.2 Ruang lingkup


Kelainan perianal yang menimbulkan saluran penghubung yang abnormal antara
kulit dan anal canal yang membutuhkan tindakan pembedahan
2.2.3 Indikasi operasi
Untuk mengalirkan pus serta menutup saluran fistula serta mempertahankan
fungsi defekasi tetap, normal d. meacam operasi : fistulotomi simple – seton.
2.2.4 Kontra indikasi
Fistel perional yang disebabkan proses keganasan
2.2.5 Diagnosis Banding
- Inflammatory bowel disease
- Hydradenitis superativa
- Sinus pilonidal
2.2.6 Pemeriksaan penunjang
CT Scan, fistilografi MRI Setelah memahami,menguasai dan mengerjakan modul
ini maka diharapkan seorang ahli bedah mempunyai kompetensi operasi fistulotomi dan
fistulektomi serta penerapannya dapat dikerjakan di RS Pendidikan dan RS jaringan
pendidikan
2.2.7 Kompetensi terkait dengan modul/ List of skill
Tahapan Bedah Dasar ( semester I-III )
- Persiapan pre operasi
 Anamnesis
15

 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan penunjang
 Informed consent
- Asisten II, asisten I pada saat operasi
- Follow up pasca operasi
Tahapan Bedah Lanjut (semester IV-VII ) dan Chief Residen ( Semester VIII-IX )
- Persiapan Pra operasi
 Anamnesis
 Pemeriksaan Fisik
 Pemeriksaan penunjang
 Informed Consent
- Melakukan Operasi ( Bimbingan dan Mandiri )
 Penanganan komplikasi
 Follow up dan rehabilitasi
2.2.8 Teknik Operasi
Posisi pasien litotomi atau knee chest :
1. Dilakukan anestesi regional atau general
2. Sebelum melakukan operasi sangat penting untuk meraba adanya jaringan
fibrotik saluran fistel di daerah perianal maupun dekat linea dentate, sehingga
dapat ditentukan asal dari fistel
3. Dengan tuntunan rektoskopi dicari internal opening dengan cara memasukkan
methilen blue yang dapat dicampuri perhidrol
4. Bila internal opening belum terlihat dilakukan sondage secara perlahan dengan
penggunaan sonde tumpul yang tidak kaku kedalam fistula dan ujung sonde
diraba dengan jari tangan operator yang ditempatkan dalam rektum.
5. Bila internal opening telah ditemukan, dengan tuntunan sonde, dapat dilakukan
fistulatomi yaitu dengan cara insisi fistula searah panjang fistula dan dinding
fistula dilakukan curettage untuk pemeriksaan patologi. Hati-hati jangan sampai
memotong sfingter eksterna.
6. Luka operasi ditutup dengan tampon.
2.2.9 Komplikasi Operasi
16

Komplikasi yang dapat timbul berupa perdarahan, inkontinensia fecal, retensio


urine, infeksi, serta komplikasi akibat anesthesia.
2.2.10 Perawatan pasca Bedah
Hari pertama penderita sudah diperbolehkan makan. Antibiotika dan analgetik
diberikan selama 3 hari. Pelunak faeces dapat diberikan pada penderita dengan riwayat
konstipasi sebelumnya. Tampon anus dibuka setelah 2x24 jam atau jika terdapat
perdarahan dapat dibuka sebelumnya. Rawat luka dilakukan setiap hari. Setelah
penderita mampu mobilisasi, penderita diminta rendam duduk 2x sehari dengan larutan
Permanganas Kalikus selama 20 menit.
2.3 Manajemen Asuhan Keperawatan
2.3.1 Pengkajian
2.3.1.1 Anamnesis
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan proses
yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi
dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan
menggunakan tiga metode, yaitu wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik (Bolat &
Teke, 2020). Pengkajian adalah fase pertama proses keperawatan, Data yang
dikumpulkan meliputi (Lestari et al., 2019) :

2.3.1.2 Identitas
1) Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan,
tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa medik, alamat, semua data
mengenai identitaas klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya.
2) Identitas penanggung jawab

Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan jadi
penanggung jawab klien selama perawatan, data yang terkumpul meliputi nama, umur,
pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.

2.3.1.3 Riwayat Kesehatan


1) Keluhan utama
Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh klien saat pengkajian.
Biasanya keluhan utama yang klien rasakan adalah nyeri abdomen pada kuadran kanan
atas.
2) Riwayat kesehatan sekarang
17

Kaji secara umum perjalanan penyakitnya sampai dengan muncul keluhan seperti
nyeri dapat dikaji dengan PQRST, paliatif atau provokatif (P) yaitu focus utama keluhan
klien, quality atau kualitas (Q) yaitu bagaimana nyeri atau gatal dirasakan oleh klien,
regional (R) yaitu nyeri/gatal menjalar kemana, Safety (S) yaitu posisi yang bagaimana
yang dapat mengurangi nyeri/gatal atau klien merasa nyaman dan Time (T) yaitu sejak
kapan klien merasakan nyeri/gatal tersebut.
3) Riwayat kesehatan yang lalu

Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit sama atau pernah di riwayat
sebelumnya.

4) Riwayat kesehatan keluarga


Mengkaji ada atau tidaknya keluarga klien pernah menderita penyakit kolelitiasis.
2.3.1.4 Pemeriksaan fisik
1) Keadaan Umum :
a) Penampilan Umum
Mengkaji tentang berat badan dan tinggi badan klien
b) Kesadaran
Kesadaran mencakup tentang kualitas dan kuantitas keadaan klien.
c) Tanda-tanda Vital
Mengkaji mengenai tekanan darah, suhu, nadi dan respirasi (TPRS)
2) Sistem endokrin
Mengkaji tentang keadaan abdomen dan kantung empedu. Biasanya pada penyakit
ini kantung empedu dapat terlihat dan teraba oleh tangan karena terjadi
pembengkakan pada kandung empedu.
2.3.1.5 Pola aktivitas
1) Nutrisi
Dikaji tentang porsi makan, nafsu makan
2) Aktivitas
Dikaji tentang aktivitas sehari-hari, kesulitan melakukan aktivitas dan anjuran
bedrest.
3) Aspek Psikologis
Kaji tentang emosi, Pengetahuan terhadap penyakit, dan suasana hati.
4) Aspek penunjang
a. Hasil pemeriksaan Laboratorium (bilirubin, amylase serum meningkat)

Obat-obatan satu terapi sesuai dengan anjuran dokter.


18

2.3.2 Diagnosa Keperawatan


2.3.2.1 Diagnosa keperawatan Pre operatif
1. Ansietas berhubungan dengan rencana operasi, (D.0080. Hal:180).
2.3.2.2 Diagnosa Intra Operasi
1. Risiko perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan, (D.0012.
Hal:42).
2.3.2.3 Diagnosa Post Operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencidera fisik (prosedur operasi),
(D.0077. Hal:172).
19

2.3.1 Intervensi Keperawatan


INTERVENSI PRE OPERATIF
Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi
No Diagnosa Keperawatan
(SLKI) (SIKI)
1. Ansietas berhubungan dengan Tujuan : Reduksi Ansietas (I.09314. Hal 387)
krisis situasional Setelah dilakukan tindakan keperawatan Observasi
1x 30 menit diharapkan tingkat ansietas 1. Identifikasi saat tingkat ansietas berubah
menurun (misalnya kondisi, waktu stressor)
Kriteria hasil : 2. Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
1. Perilaku tegang menurun (5) 3. Monitor tanda-tanda ansietas (verbal maupun
2. Perilaku gelisah menurun (5) non verbal)
3. Verbalisasi kebingungan menurun Terapeutik
(5) 4. Ciptakan suasana terapeutik untuk
4. Verbalisasi khawatir akibat kondisi menumbuhan kepercayaan
yang dihadapi menurun (5) 5. Temani pasien untuk mengurangi kecemasan,
5. Diaforesis menurun (5) jika memungkinkan
6. Tremor menurun (5) 6. Pahami situasi yang membuat ansietas
7. Pucat menurun (5) 7. Dengarkan dengan penuh perhatian
8. Konsentrasi membaik (5) 8. Gunakan pendekatan yang tenang dan
meyakinkan
9. Tempatkan barang pribadi yang memberikan
kenyamanan
10. Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu
kecemasan
11. Diskusikan perencanaan realistis tentang
peristiwa yang akan datang
Edukasi
12. Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang
mungkin dialami
13. Anjurkan keluarga tetap bersama pasien, jika
perlu
14. Anjurkan melakukan kegiatan yang tidak
20

kompetitif, sesuai kebutuhan


15. Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
16. Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi
ketegangan
17. Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri
yang tepat
18. Latih teknik relaksasi
Kolaborasi
19. Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika
perlu
21

INTERVENSI INTRA OPERATIF

Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi


No Diagnosa Keperawatan
(SLKI) (SIKI)
1 Resiko Perdarahan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pencegahan Perdarahan (SIKI I.02067 Hal. 283)
berhubungan dengan Tindakan selama 1×1 Jam diharapkan Perdarahan Observasi :
pembedahan klien menurun. Kondisi klien membaik 1. Monitor tanda dan gejala perdarahan
2. Monitor nilai hematokrit/hemoglobin sebelum
dengan kriteria hasil :
dan setelah kehilangan darah
1. Tekanan darah membaik (5) 3. Monitor tanda-tanda vital ortostatik
4. Monitor koagulasi (mis. prothrombin time (PT),
2. Denyut nadi membaik (5)
partial thromboplastin time (PTT), fibrinogen
3. Suhu tubuh membaik (5) degradasi fibrin dan/atau platelet.
Terapeutik :
1. Pertahankan bed rest selama perdarahan
2. Batasi tindakan invasif, jika perlu
3. Gunakan kasur pencegah dekubitus
4. Hindari pengukuran suhu rektal
Edukasi :
1. Jelaskan tanda dan gejala perdarahan
2. Anjurkan meningkatkan asupan cairan untuk
menghidari konstipasi
2. Anjurkan meningkatkan asupan makanan dan
vitamin K
3. Anjurkan menghindari aspirin dan antikoagulan
4. Anjurkan segera melapor jika terjadi perdarahan
Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian obat pengontrol
perdarahan, jika perlu
2. Kolaborasi pemberian produk darah, jika perlu
3. Kolaborasi pemberian pelunak tinja, jika perlu
22

INTERVENSI POST OPERATIF

Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi


No Diagnosa Keperawatan
(SLKI) (SIKI)
1 Nyeri akut berhubungan Tujuan : Manajemen Nyeri (I.08238. Hal.201)
dengan agen pencedera Setelah dilakukan tindakan keperawatan Observasi
fisiologis 1x1 jam diharapkan tingkat nyeri menurun 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durrasi,
frekuensi, kualitas, insensitas nyeri
Kriteria hasil : 2. Identifikasi sekala nyeri
1. Frekuensi nadi membaik (5) 3. Identifikasi faktor yang memperberat dan
2. Pola nafas membaik (5) memperingan nyeri
3. Keluhan nyeri menurun (5) Terapeutik
4. Meringis menurun (5) 4. Berikan teknik nonfarmakologis untuk
5. Gelisah menurun (5) mengirangi rasa nyeri ( mis. TENS,
6. Kesulitan tidur menurun (5) hipnosis,akupresur, trapi musik, biofeedback,
trapi pijat, aroma terapi, teknik imajinasi
terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi
bermain)
5. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa
nyeri
6. Pasilitasi istirahat dan tidur
7. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam
pemilihan strategi meredakan nyeri
Edukasi
8. Jelasksan penyebab, periode,dan pemicu nyeri
9. Jelaskan strategi meredakan nyeri
10. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
11. Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
12. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
13. Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
23

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Mahasiswa : Thomas Erik Helvin

NIM : 2018.C.10a.0988

Ruang Praktek : OK?IBS

Tanggal Praktek : 4-6 November 2021

Tanggal & Jam Pengkajian : 4 November 2021 & 08.00 WIB

3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas Pasien
Nama : Tn. A
Umur : 31
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku/Bangsa : Dayak/Indonesia
Agama : Kristen
Pekerjaan : PNS
Pendidikan : S1
Status Perkawinan : Menikah
Alamat : Jl. Beliang
Tgl MRS : 3 November 2021
Diagnosa Medis : Fistula Ani
3.1.2 Riwayat Kesehatan /Perawatan

3.1.2.1 Keluhan Utama /Alasan di Operasi :

Klien mengatakan merasakan Nyeri di area anusnya yang muncul saat


bergerak dan ingin BAB, rasanya seperti di tusuk – tusuk di area anus dengan
durasi ±3 menit.

23

3.1.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang :


24

Klien masuk Rumah Sakit pada tanggal 3 November 2021 pukul 07.30 WIB
dengan keluhan nyeri pada area anus saat beraktivitas yang dirasakan kurang lebih 1
minggu yang lalu dengan diagnosa medis Fistula Ani dan disarankan rawat inap. Dan
akan dilakukan tindakan operasi. Klien operasi pada tanggal 4 November 2021 pukul
08.00 WIB di ruangan OK, kemudian klien puasa 8 jam sebelum operasi dilakukan.

3.1.2.3 Riwayat Penyakit Sebelumnya (riwayat penyakit dan riwayat operasi)

Klien mengatakan sebelumnya tidak pernah masuk rumah sakit, dan tidak
ada riwayat operasi, klien tidak ada riwayat alergi terhadap obat-obatan.

3.1.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada yang sama dengan penyakit klien

GENOGRAM KELUARGA :

Keterangan :

: Laki-laki
: Perempuan
: Meninggal
: Meninggal
: Klien
... : Tinggal Serumah
: Hubungan Keluarg

3.1.3 Pemerikasaan Fisik

3.1.3.1 Keadaan Umum :


25

Kesadaran compos menthis, klien tampak cemas, klien tampak gelisah,


klien tampak tegang, klien tampak terpasang infus RL 20 tpm, klien tampak meringis
dan terpasang kateter.

3.1.3.2 Tanda-tanda Vital :

TTV klien, suhu tubuh klien/ S = 36,8°C tempat pemeriksaan axilla, nadi/HR
= 92 x/menit dan pernapasan/ RR = 22 x/menit, tekanan darah/BP = 120/80 mmhg.

3.1.3.3 Pre Operatif :

Serah terima Tn. A umur 31 Tahun operasi dari ruangan Dahlia ke OK/IBS
pukul 08.00 WIB tanggal 4 November 2021, dengan diagnosa medis Fistula ani
dengan tindakan Fistulotomi, TTV klien, suhu tubuh klien/ S = 36,6°C tempat
pemeriksaan axilla, nadi/HR = 92 x/menit dan pernapasan/ RR = 22 x/menit, tekanan
darah/BP 120/80 mmhg. Klien mengatakan takut/cemas dengan keadaanya, skala
cemas 2, klien tampak cemas, klien tampak gelisah, klien tampak tegang. Persiapan
operasi klien puasa 8 jam sebelum operasi, di berikan injeksi sedacum 5 mg.

Masalah Keperawatan : Ansietas

3.1.3.4 Intra Operatif :

Tempat operasi di OK, mulai anestesi pukul 08.30 WIB jenis anastesi spinal
klien diberikan injeksi bupivacaine , regivell 5 mg, ondansetron 2 mg. klien
terpasang dan infus NaCl 0,9% 20 tpm, Disiapkan satu kantung darah di BDRS,
klien tidak ada asma, Posisi klien saat dioperasi adalah litotomi, tindakan operasi
pembedahan Fistulotomi, klien tampak dilakukan pembedahan di fistula searah
panjang fistula dan dinding fistula, perdarahan sebanyak 30 cc, mulai operasi pukul
08.30 WIB dan selesai pukul 09.30 WIB, terpasang kateter. Tingkat kesadaran GCS
: E2 V3 M2 (Somnolen), jalan napas paten tidak ada obstruksi jalan napas. TTV
klien, suhu tubuh klien/ S = 36,5 °C tempat pemeriksaan axilla, nadi/HR = 90
x/menit dan pernapasan/ RR = 22 x/menit, tekanan darah/BP 140/100 mmhg. Klien
dipindahkan ke ruangan recovery room (RR) pukul 09.30 WIB

Masalah Keperawatan : Resiko Perdarahan

3.1.3.5 Post Operatif :


26

Klien mengatakan merasakan Nyeri di area anusnya yang muncul saat


bergerak dan rasanya seperti di tusuk – tusuk di area anus dengan durasi ±3 menit.
tampak meringis menahan nyeri, klien tampak gelisah, tampak luka post operasi
pada anal tertutup perban, diberikan injeksi katerolac 10 mg,

ondansetron 2 mg dan klien tampak terpasang infus NaCl 0,9% 20 tpm, terpasang
kateter.

Observasi Recovery Room

- Airway

Jalan nafas paten tidak obstruksi jalan nafas

- Breathing

Gerakan dinding dada simetris, irama nafas teratur, pola nafas teratur, suara
nafas vesikuler, Saturasi O2 98 %, RR : 22x/menit.

- Circulation

Td : 120/80 mmHg, N : 90x/menit, nadi teraba, irama regular, sianosis (-), CRT
< 2 detik, terpasang infus RL 20 tpm

- Dissability

- GCS : E2 V3 M2 (Somnolen)

- Exposure

- Suhu : 36,60C

- Serah terima pasien post operasi dari RR (IBS) ke ruangan perawatan Dahlia
pukul 10.30 WIB
Aldrete Score : 7

No. Kriteria Score Score


1. Warna Kulit
1) Kemerahan/normal 2
2) Pucat 1 1
3) Sianosisi 0
2. Aktifitas Mototrik
1) Gerak 4 anggota tubuh 2
27

2) Gerak 2 anggota tubuh 1 1


3) Tidak ada gerakan 0
3. Pernafasan
1) Nafas dalam, batuk dan 2 2
tangis kuat
2) Nafas dangkal dan 1
adekuat
3) Apnea atau nafas tidak 0
adekuat
4. Tekanan Darah
1) ± 20 mmHg dari pre 2 2
operasi
2) 20-50 mmHg dari ore 1
operasi
3) ±50 mmHg dari pre 0
Operasi
5. Kesadaran
1) Sadar penuh mudah 1 1
dipanggil
2) Bangun jika dipanggil
3) Tidak ada respon

3.1.3.6 Penatalaksanaan Medis


Nama Obat Pre Rute Dosis Indikasi

injeksi sedacum 5 IV 1x5 mg Adalah obat golongan benzodiazepin


mg yang diberikan sebelum operasi, untuk
mengatasi rasa cemas, membuat pikiran
dan tubuh menjadi rileks, serta
menimbulkan rasa kantuk dan tidak
sadarkan diri.

Sectriacson

Profilas
28

Nama obat Rute Dosis Indikasi


Intra
bupivacaine IV 1x3mg Adalah salah satu obat anestesi lokal dari
12,5-150 mg golongan amida yang menghambat
pembentukan dan konduksi impuls saraf.
Penghambatan rangsangan nyeri yang
dikirimkan oleh saraf menuju otak inilah
yang digunakan untuk memberikan efek
bius ketika bupivakaine diinjeksikan
regivell 5 mg IV 1x5 mg Digunakan untuk mengatasi nyeri atau
sebagai anestesi (obat bius) selama
operasi, seperti pembedahan dan prosedur
melahirkan, pembedahan abdomen
bawah, bedah urologi, dan bedah kaki
bawah termasuk pinggang
ondansetron 2 IV 1x2 mg Adalah obat yang digunakan untuk
mg mencegah serta mengobati mual dan
muntah yang bisa disebabkan oleh efek
samping kemoterapi, radioterapi, atau
operasi

Nama obat Rute Dosis Indikasi


Post
ondansetron 2 IV 1x2 mg Adalah obat yang digunakan untuk
mg mencegah serta mengobati mual dan
muntah yang bisa disebabkan oleh efek
samping kemoterapi, radioterapi, atau
operasi
injeksi IV 1x8 mg Digunakan setelah operasi atau prosedur
katerolac 10 medis yang bisa menyebabkan nyeri.
mg menimbulkan rasa kantuk dan tidak
sadarkan diri.
29

3.1.3.7 Data Penunjang (Radiologis, Laboraturium, Penunjang Lainnya)

A. Laboratorium Tanggal 03 Noveber 2021


Nama Pemeriksaan Nilai Normal Hasil Satuan

RBC 4.0 – 10.0 6.7X103 /UL

HGB 3.50 – 5.50 4X106 /UL

HCT 11.0 – 70.0 14.5 /DL.

MCH 37.0 – 50.0 43.3 %.


27 – 31 28.3 PL
PLT
100 – 300 173X103 /’Dl
RDW
35.0 – 56.0 44.9 /UL
PDW
15.0 – 17.0 15.5 %
Glukosa Random

Palangka Raya, 3 November 2021


Mahasiswa,
30

PRIORITAS MASALAH

DATA SUBYEKTIF DAN KEMUNGKINAN MASALAH


DATA OBYEKTIF PENYEBAB
Pre Operasi Prosedur tindakan Ansietas
pembedahan
DS : Pasien mengatakan

merasa takut operasi gagal
Kurang terpapa informasi
dan merasa cemas
DO :
- Klien tampak cemas
(slala cemas 2)
- Klien tampak gelisah
- Klien tampak tegang
- Persiapan operasi
klien puasa 8 jam
sebelum operasi
- Terpasang kateter
- TTV :
TD : 120/80mmHg
N : 92x/menit
RR : 22x/menit
S : 36,80C
Intra Operatif Pembedahan Risiko Pendarahan

DS :
Terputusnya kontinuitas
Do : jaringan lunak
- Klien diberikan
injeksi bupivacaine
12,5 - 150mg,
regivell 5 mg,
sedacum 5 mg,
katerolac 10 mg,
ondansetron 2mg.
- Posisi klien
saat dioperasi
adalah
litotomi
- Tindakan
operasi
fistulotomi
- Klien tampak
dilakukan
pembedahan di
fistula searah
panjang fistula dan
dinding fistula
- Pembedahan
dilakukan selama 1
jam
- Tingkat kesadaran
GCS : E2 V3 M2
(Somnolen)
31

- TTV :
TD : 140/100mmHg N :
90x/menit RR :
22x/menit S : 36,60C
- Klien dipindahkan
ke ruangan
Recovery Room
(RR) pukul
- 09.30 WIB
Post Operatif Luka pembedahan Nyeri Akut
DS : Klien mengatakan ↓
merasakan Nyeri di area Respons Serabut Lokal
anusnya yang muncul saat
bergerak dan rasanya seperti
di tusuk – tusuk di area anus
dengan durasi ±3 menit.
tampak meringis menahan
nyeri. l.
DO :
- Klien tampak meringis
menahan nyeri
- Skala nyeri 6
- Terpasang Kateter
- Klien tampak gelisah
- Tampak luka post
operasi pada area
rectum.
- Jalan nafas paten tidak
ada obstruksi jalan
nafas
- Gerakan dinding dada
simetris, irama nafas
teratur, pola nafas
teratur, suara nafas
vesikuler, Saturasi O2
98 %, RR :
22x/menit.
- Td : 120/80 mmHg, N :
90x/menit, nadi teraba,
irama regular, sianosis
(-), CRT < 2 detik,
terpasang infus RL 20
tpm
- Dissability
GCS : E2 V3 M2
(Somnolen)
- Suhu : 36,50C
- Serah terima pasien post
operasi dari RR (IBS) ke
ruangan perawatan
sakura pukul 05.00 WIB
- Aldrete Score : 7
32

PRIORITAS MASALAH

Pre Operatif

1. Ansietas berhubungan dengan Kurang terpapar informasi ditandai dengan klien


mengatakan takut/cemas dengan keadaannya, klien tampak cemas, klien tampak
gelisah, klien tampak tegang, persiapan operasi klien puasa 12 jam sebelum
operasi. TTV : TD 120/80 mmHg, N : 92x/menit, RR : 22x/menit, S : 36,80C.

Intra Operatif

2. Risiko perdarahan berhubungan dengan Tindakan pembedahan ditandai


dengan klien diberikan injeksi bupivacaine, regivell 5 mg, sedacum 5 mg,
katerolac 10 mg, ondansetron 2 mg, posisi klien saat dioperasi adalah
litotomi, tindakan operasi uretrotomi, klien tampak dilakukan pembedahan di
genitalia, perdarahan sebanyak 30 cc, pembedahan dilakukan selama 1 jam,
tingkat kesadaran GCS : E2 V3 M2 (Somnolen), klien tampak terpasang
infus RL 20 tpm ditangan kiri, klien dipindahkan ke ruangan Recovery
Room (RR) pukul 04.00 WIB dan hasil TTV : Suhu tubuh klien/ S = 36,5 °C
tempat pemeriksaan axilla, nadi/HR = 90 x/menit dan pernapasan/ RR = 22
x/menit, tekanan darah/BP 140/100 mmhg

Post Operatif

3. Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (prosedur operasi)


ditandai dengan klien mengatakan Klien mengatakan merasakan Nyeri di area
anusnya yang muncul saat bergerak dan ingin BAB, rasanya seperti di tusuk –
tusuk di area anus dengan durasi ±3 menit, klien tampak meringis menahan
nyeri, klien tampak gelisah, tampak luka post operasi pada area anus.
27

3.3 Rencana Keperawatan


Nama Pasien : Tn. A
Ruang Rawat : Keperawatan Perioperatif
Intervensi Pre Operatif
Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria hasil) Intervensi Rasional
1. Ansietas berhubungan Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor tanda-tanda ansietas 1. Supaya dapat mengetahui tanda-
dengan Kurang terpapar keperawatan selama 1 × 30 Menit (verbal dan nonverbal) tanda ansietas
informasi ditandai diharapkan Ansietas klien dapat 2. Ciptakan suasana terapeutik 2. Supaya perilaku tegang klien
dengan klien menurun. Kondisi klien membaik untuk menumbuhkan menurun.
mengatakan takut/cemas dengan kriteria hasil : kepercayaan
dengan keadaannya, - Perilaku tegang menurun (5) 3. Motivasi mengidentifikasi 3. Supaya klien tidak cemas
klien tampak cemas, - Perilaku gelisah menurun (5) situasi yang memicu kecemasan
klien tampak gelisah, - Verbalisasi kebingungan 4. Diskusikan perencanaan realistis 4. Agar dapat mengetahui tentang
klien tampak tegang, menurun (5) tentang peristiwa yang akan penyakitnya
persiapan operasi klien - Verbalisasi khawatir akibat datang
puasa 12 jam sebelum kondisi yang dihadapi menurun 5. Jelaskan prosedur, termasuk 5. Agar dapat mengetahui tentang
operasi. TTV : TD (5) sensasi yang mungkin dialami penyakitnya
120/80 mmHg, N : - Diaforesis menurun (5) 6. Latih teknik relaksasi 6. Agar klien dapat rileks
92x/menit, RR : - Tremor menurun (5)
0
22x/menit, S : 36,8 C. - Pucat menurun (5)
- Konsentrasi membaik (5)
28

Intervensi Intra Operatif

Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria hasil) Intervensi Rasional


1. Risiko perdarahan Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor tanda dan gejala 1. Untuk mengetahui gejala
berhubungan dengan keperawatan selama 1 × 1 Jam perdarahan perdarahan
Tindakan pembedahan diharapkan Kondisi klien 2. Monitor nilai 2. Untuk memhetahui nilai
ditandai dengan klien membaik dengan kriteria hasil : hematokrit/hemoglobin sebelum hematokrit/hemoglobin sebelum
diberikan injeksi - Tingkat kesadaran membaik dan setelah kehilangan darah dan setelah kehilangan darah
bupivacaine, regivell 5 (5) 3. Batasi tindakan invasf 3. Agar tidak banyak kehilangan
mg, sedacum 5 mg, - Tekanan darah membaik (5) darah
katerolac 10 mg, - Denyut nadi membaik (5) 4. Kolaborasi pemberian obat 4. Berkerja sama dengan dokter
ondansetron 2 mg, - Suhu tubuh membaik (5) pengontrol perdarahan, jika dalam pemberian obat
posisi klien saat perlu
dioperasi adalah
litotomi, tindakan
operasi uretrotomi, klien
tampak dilakukan
pembedahan di genitalia,
perdarahan sebanyak 30
cc, pembedahan
dilakukan selama 1 jam,
tingkat kesadaran GCS
: E2 V3 M2
(Somnolen), klien
tampak terpasang infus
RL 20 tpm ditangan
kiri, klien dipindahkan
ke ruangan Recovery
Room (RR) pukul 04.00
WIB dan hasil TTV :
Suhu tubuh klien/ S =
36,5 °C tempat
pemeriksaan axilla,
nadi/HR = 90 x/menit
dan pernapasan/ RR = 22
x/menit, tekanan
darah/BP 140/100 mmhg
29

Intervensi Post Operatif

Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria hasil) Intervensi Rasional


1. Nyeri Akut berhubungan Setelah dilakukan intervensi 1x1 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, 1. Selalu memantau perkembangan
dengan agen pencedera jam maka nyeri klien menurun, durasi, frekuensi, kualitas, nyeri
fisik (prosedur operasi) dengan Kriteria Hasil : intensitas nyeri
2. Identifikasi faktor yang 2. Mencari tahu faktor memperberat
ditandai dengan klien
- Frekuensi nadi membaik (5) memperberat dan memperingan dan memperingan nyeri agar
mengatakan Klien - Pola nafas membaik (5) nyeri mempercepat proses kesembuhan.
mengatakan merasakan - Keluhan nyeri menurun (5) 3. Kontrol lingkungan yang 3. Memberikan kondisi lingkungan
Nyeri di area anusnya - Meringis menurun (5) memperberat rasa nyeri. yang nyaman untuk membantu
yang muncul saat - Gelisah menurun (5) meredakan nyeri
bergerak dan ingin BAB, - Kesulitan tidur menurun (5) 4. Berikan teknik nonfarmakologis 4. Salah satu cara mengurangi nyeri
rasanya seperti di tusuk – - Airway normal 5. Ajarkan teknik nonfarmakologis 5. Agar klien atau keluarga dapat
- Breathing normal untuk mengurangi rasa nyeri melakukan secara mandiri ketika
tusuk di area anus dengan
- Circulation normal nyeri kambuh
durasi ±3 menit, klien - Dissability normal 6. Kaloborasi dengan dokter 6. Bekerja sama dengan dokter
tampak meringis menahan - Exposure normal pemberian analgetik, jika perlu. dalam pemberian dosis obat
nyeri, klien tampak - Aldrete Score normal
gelisah, tampak luka post
operasi pada area anus.
30

3.4 Implementasi Dan Evaluasi Keperawatan


Nama Pasien : Tn. A
Ruang Rawat : Keperawatan Perioperatif
Hari/Tanggal Implementasi Evaluasi ( SOAP ) Tanda tangan dan
Nama Perawat

1. Pre Operatif Diagnosa 1 S : Klien mengatakan sudah mengetahui


tentang penyakitnya
Kamis, 4 1. Memonitor tanda-tanda ansietas O:
November (verbal dan nonverbal) - Klien tidak tampak cemas lagi
2. Menciptakan suasana terapeutik - Klien tidak tampak gelisah lagi
2021 Pukul : untuk menumbuhkan kepercayaan - Klien tidak tampak tegang lagi
08.00 WIB 3. Memotivasi mengidentifikasi - Pasien sudah puasa 12 jam
situasi yang memicu kecemasan sebelum operasi
4. Mendiskusikan perencanaan - TD: 120/80 mmHg, Thomas Erik Helvin
realistis tentang peristiwa yang akan N: 92x/m,
datang S: 36,80C,
5. Menjelaskan prosedur, termasuk RR: 22 x/m
sensasi yang mungkin dialami A : Masalah Ansietas teratasi.
6. Melatih teknik relaksasi P : Hentikan intervensi
31

Hari/Tanggal Implementasi Evaluasi ( SOAP ) Tanda tangan dan


Nama Perawat

2. Intra Operatif Diagnosa 2 S:-


Kamis, 4 Oktober O:
1. Memonitor tanda dan gejala
2021 Pukul : perdarahan - Injeksi
2. Memonitor nilai - Posisi klien saat dioperasi adalah
08.30 WIB hematokrit/hemoglobin sebelum litotomi
dan setelah kehilangan darah - Tindakan operasi uretrotomi
3. Membatasi tindakan invasf
- Klien tampak dilakukan
4. Berkolaborasi pemberian obat pembedahan di genitalia
pengontrol perdarahan, tidak perlu - Pembedahan dilakukan selama
Injeksi Kalnex 500mg 1 jam Thomas Erik Helvin
- Jumlah perdarahan 30cc
- Tingkat kesadaran GCS : E2 V3
M2 (Somnolen)
- Klien tampak terpasang infus RL
20 tpm ditangan kiri.
- Tekanan darah membaik
TD : 140/100 mmHg
- Denyut nadi membaik
32

N : 88 x/menit
- Suhu tubuh membaik
- S : 36,6 0C
- Klien dipindahkan ke ruangan
Recovery Room (RR) pukul 04.00
WIB
A : Masalah Risiko Perdarahan teratasi
P : Hentikan intervensi
33

Hari/Tanggal Implementasi Evaluasi ( SOAP ) Tanda tangan dan


Nama Perawat

3. Post Operatif Diagnosa 1 S : Klien mengatakan nyerinya


Kamis,4 berkurang
Oktober 2021 1. Mengidentifikasi lokasi, O :
Pukul : 05.00 karakteristik, durasi, frekuensi, - Klien masih meringis
WIB kualitas, intensitas nyeri - Klien tampak masih gelisah
2. Mengidentifikasi faktor yang
memperberat dan memperingan - Nampak terpasang kateter
nyeri - Tampak luka post operasi pada
3. Mengontrol lingkungan yang anus
memperberat rasa nyeri. - Skala nyeri 5
4. Memberikan teknik - Airway
nonfarmakologis Jalan nafas paten tidak ada Thomas Erik Helvin
5. Mengajarkan teknik obstruksi jalan nafas
nonfarmakologis untuk mengurangi - Breathing
rasa nyeri Gerakan dinding dada simetris,
6. Melakukan kolaborasi dalam irama nafas teratur, pola nafas
pemberian injeksi katerolac (1 amp) teratur, suara nafas vesikuler,
10 mg (IV) Saturasi O2 99 %, RR :
22x/menit.
- Circulation
Td : 120/80 mmHg, N :
92x/menit, nadi teraba, irama
regular, sianosis (-), CRT < 2
detik, terpasang infus RL 20 tpm
- Dissability
GCS : E2 V3 M2 (Somnolen)
34

- Exposure
Suhu :
36,60C
- Aldrete Score : 7
A : Masalah Nyeri Akut teratasi
sebagian.
P : Lanjutkan intervensi No. 1, 2, 3, 4,
5
35

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kanker kolorektal adalah kanker yang terdapat pada kolon dan rektum. Kanker ini
disebut kanker kolon atau kanker rektum bergantung dari mana kanker tersebut berawal.
Kanker kolon dan kanker rektum sering digabungkan bersama karena memiliki banyak
kesamaan (American Cancer Society, 2015) dalam (Harahap, 2019). Kanker rektum
merupakan salah satu dari keganasan pada rektum yang terjadi akibat timbulnya di
mukosa/epitel dimana lama kelamaan timbul nekrose dan ulkus (Nugroho, 2011). Rektum
merupakan bagian 15 cm terakhir dari usus besar dan terletak di dalam rongga panggul di
tengah tulang pinggul. Rektum adalah bagian dari usus besar pada sistem pencernaan yang
disebut dengan traktus gastrointestinal (Oliver, 2013) .

Asuhan Keperawatan hasil pengkajian pada Tn. T berdasarkan laporan kasus diatas
maka penulis menyimpulkan beberapa hal : Diagnosa yang diangkat sesuai dengan
prioritas masalah pada laporan kasus ini adalah : Nyeri Akut berhubungan dengan agen
pencedera fisik ditandai dengan luka post operasi, P : Nyeri pada luka post operasi di
abdomen kiri, Q: nyeri terasa nyut nyutan, R: nyeri dirasakan di daerah abdomen kiri, S:
skala nyeri 4 (sedang), T: nyeri dirasakan ± 2 menit, pasien tampak protektif , pasien
tampak meringis, pasien tampak berhati hati saat bergerak, pemeriksaan TTD : TD: 155/95
mmHg, N:85 x/menit, R:20 x/menit. S:37oC, Risiko Infeksi berhubungan dengan efek
prosedur infansiv ditandai dengan luka abdomen kiri post operasi, pasien mengatakan nyeri
pada bagian luka post op, area luka teraba hangat, area luka tampak kemerahan, area luka
sedikit membengkak, tapi masih dalam keadaan normal, pasien tampak meringis, nilai
leukosit 10.500, pemeriksaan TTD : TD: 155/95 mmHg, N:85 x/menit, R:20 x/menit.
S:37oC dan Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan pasien
lemah post operasi, pasien mengatakan masih merasa lemas, pasien mengarakan nyeri saat
bergerak Pasien membutuhkan bantuan untuk bergerak, tonus otot menurun, pasien tampak
lemas, pasien diet air dan gula, pasien tidak dapat mengakses toilet, perpasang infus di
tangan kiri, terpasang kantong kolostomi.

Intervensi yang muncul pada laporan kasus Tn. T adalah : Indentifikasi lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan intensitas nyeri, identifikasi skala nyeri,

35
36

indentifikasi respon nyeri non verbal, identifikasi factor yang memperberat dan
memperingan nyeri, identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri, identifikasi
pengaruh budaya terhadap respon nyeri, identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup,
monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan, monitor efek samping
pengguanaan analgetik, berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri,
kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan), fasilitasi istirahat dan tidur, pertimbangan jenis dan sumber nyeri dalam
pemilihan strategi meredakan nyeri., jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri,
anjurkan monitor rasa nyeri, anjurkan menggunakan analgetik secara tepat, ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri kolaborasi, kolaborasi pemberian analgetik,
monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik, batasi jumlah pengunjung, berikan
perawatan kulit pada area edema, cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
dan lingkungan pasien, pertahankan teknik aseptic pada pasien beresiko tinggi, jelaskan
tanda dan gejala tinggi infeksi, ajarkan cara mencuci tangan dengan benar, ajarkan etika
batuk, ajarkan cara memeriksa luka atau luka operasi, kolaborasi pemberian imunisasi,
identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia, monitor tingkat kemandirian,
identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, berhias, dan makan, sediakan
lingkungan yang terapeutik, siapkan keperluan pribadi, dampingi dalam melakukan
perawatan diri sampai mandiri, fasilitasi untuk menerima keadaan ketergantungan,
fasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri, jadwalkan
rutinitas perawatan diri, anjurkan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan.
Implementasi atau pelaksanaan keperawatan merupakan tahap ke empat dalam
proses keperawatan, dimana rencana perawatan dilaksanakan, pada tahap ini perawat siap
menjelaskan dan melaksanakan intervensi dan aktivitas yang telah dicatat dalam rencana
keperawatan, agar implementasi perencanaan ini tepat waktu dan efektif terhadap biaya,
perlu mengidentifikasi prioritas perawatan klien kemudian bila telah dilaksanakan,
memantau dan mencatat respon klien terhadap setiap intervensi dan
mendokumentasikannya.
Evaluasi adalah fase kelima dan fase terakhir proses keperawatan. Dalam konteks
ini, evaluasi adalah aktivitas yang direncanakan, berkelanjutan, dan terarah ketika klien
dan profesional kesehatan menentukan kemajuan klien menuju pencapaian tujuan/hasil,
dan keefektifan rencana asuhan keperawatan. Dari hasil evaluasi data pada Rabu, 27
37

Oktober 2021 yang didapat dengan 3 (tiga) masalah yang diangkat teratasi sesuai dengan
tujuan dan kriteria hasil dengan diagnosa keperawatan yaitu, Nyeri akut, Risiko infeksi,
dan Defisit Perawatan Diri.

4.2 Saran
Dalam melakukan perawatan Tumor Rektum hendaknya dengan hati-hati, cermat dan teliti
serta selalu menjaga sopan santun, maka akan mempercepat proses penyembuhan. Perawat
perlu mengetahui data dari pasien, perawat harus mampu mengetahui kondisi klien secara
keseluruhan sehingga intervensi yang diberikan bermanfaat untuk kemampuan fungsional
pasien, perawat harus mampu berkolaborasi dengan tim kesehatan lain dan keluarga untuk
mendukung adanya proses keperawatan serta dalam pemberian asuhan keperawatan
diperlukan pemberian pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang penyakit,
penyebab, pencegahan, dan penanganan.
38

DAFTAR PUSTAKA

Hokkanen, et al. (2019). Prevalence of Anal fistula in the United Kingdom.


World Journal of Clinical Cases, 7(14), 1795–1804.

Brunner dan Suddarth. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
EGC.

Ratto, et al. (2019). Contemporary Surgical Practice in The Management of


Anal Fistula: Results from An International Survey. Techniques in
Coloproctology, 23(8), 729–741.

American Society of Colon & Rectal Surgeons. Diseases & Conditions.


Abscess and Fistula Expanded Information.
National Health Service UK (2019).

Anal Fistula.
Cleveland Clinic (2019). Anal Fistula.

Johns Hopkins Medicine. Conditions and Diseases. Anal Fistula.


Poggio, J.L. Medscape (2020).

Onkelen RV. Anal Fistulas. New perspectives on treatment and pathogenesis. 2015.
Available from: https://www.werkgroepcoloproctologie.nl/wp-
content/uploads/2018/03/Anal-fistulas-New-perspectives-on-treatment-and-
pathogenesis-1.pdf

Drugs & Diseases. Fistula-in-Ano.


WebMD (2018).

PPNI, T. P. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):


Definisi dan Indikator Diagnostik ((cetakan III) 1 ed.). Jakarta: DPP
PPNI.

PPNI, T. P. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI): Definisi


dan Tindakan Keperawatan ((cetakan II) 1 ed.). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI, T. P. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI): Definisi


dan Kreteria Hasil Keperawatan ((cetakan II) 1 ed.). Jakarta: DPP
PPNI.
39
40

SATUAN ACARA PENYULUHAN


1.1 Topik
“Manajemen Nyeri”
1.1.1 Sasaran
1.1.1.1 Program
Memenuhi kebutuhan pengetahuan melalui Pendidikan Kesehatan berupa edukasi
apa itu Manajemen Nyeri.
1.1.1.2 Penyuluhan
Memberikan edukasi dengan materi Manajemen Nyeri.
1.1.2 Tujuan
1.1.2.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari pendidikan kesehatan pada Tn. A adalah ; Tn. A A dan
keluarga mampu memahami apa itu Manajemen Nyeri.
1.1.2.2 Tujuan Khusus
1.1.2.2.1 Mengetahui apa itu Nyeri
1.1.2.2.2 Mengetahui penyebab Nyeri
1.1.2.2.3 Mengetahui factor-faktor yang menyebabkan Nyeri
1.1.2.2.4 Mengerti cara mencegah Nyeri
1.1.3 Materi
Adapun garis besar materi dalam pendidikan kesehatan adalah;
1. Pengertian dari Nyeri
2. Penyebab dari Nyeri
3. Penyebab Nyeri
4. Cara mencegah Nyeri
5. Cara Menangani Nyeri
1.1.4 Metode
Adapun metode yang digunakan dalam kegiatan pendidikan kesehatan pada Ny.A
dan keluarga meliputi :
1. Ceramah
Ceramah adalah pesan yang bertujuan memberikan nasehat dan petunjuk-petunjuk
sementara ada audiens yang bertindak sebagai pendengar.
41

2. Tanya jawab
Metodetanya jawab adalah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan
pertanyaan-pertanyaan lalu memberikan jawaban ataupun sebaliknya.
1.1.5 Media
Adapun media yang digunakan dalam kegiatan pendidikan kesehatan tentang Malaria
pada Tn.A adalah :
1. Leaflet
Leaflet merupakan bentuk publikasi singkat dalam bentuk selebaran yang berisi
informasi mengenai suatu hal atau peristiwa.
42

1.1.6 Waktu Pelaksanaan


1. Hari/Tanggal : Kamis, 4 November 2021
2. Pukul : 11.00 S/d Selesai
3. Alokasi Waktu : 20 menit
No Kegiatan Waktu Metode

1 Pembukaan : 1. Menjawab salam


2. Mendengarkan
1. Membuka kegiatan dengan dan
mengucapkan salam memperhatikan
2. Menjelaskan tujuan dari tujuan
penyuluhan
3. Menyebutkan materi yang
akan diberikan
4. Kontrak waktu penyampaian 2 menit
materi
2 Pelaksanaan :
Menjelaskan tentang :
1. Pengertian dari Nyeri
2. Penyebab dari Nyeri
3. Penyebab Nyeri
4. Cara mencegah Nyeri
Mendengar,
5. Cara Menangani Nyeri
memperhatikan,
5 menit

Demonstrasi dan Mempraktekkan


rasa aman dan nyaman (nyeri)

3
Mempraktikan
5 menit

4 Evaluasi :

Menanyakan pada peserta tentang


materi yang telah diberikan, dan
meminta kembali peserta untuk Tanya Jawab
mengulang materi yang telah
43

disampaikan. 6 menit

5 Terminasi : 1. Mendengarkan
2. Menjawab salam
1. Mengucapkan terimakasih atas 2 menit
perhatian peserta
2. Mengucapkan salam penutup

1.1.7 Tugas Pengorganisasian


1) Moderator : Thomas Erik Helvin
Moderator adalah orang yang bertindak sebagai penengah atau pemimpin sidang
(rapat, diskusi) yang menjadi pengarah pada acara pembicaraan atau pendiskusian
masalah.
Tugas :
1. Membuka acara penyuluhan
2. Memperkenalkan dosen pembimbing dan anggota kelompok
3. Menjelaskan tujuan dan topik yang akan disampaikan
4. Menjelaskan kontrak dan waktu presentasi
5. Mengatur jalannya diskusi
2) Penyaji : Thomas Erik Helvin
Penyaji adalah menyajikan materi diskusi kepada peserta dan memberitahukan
kepada moderator agar moderator dapat memberi arahan selanjutnya kepada
peserta-peserta diskusinya.
Tugas :
1. Menyampaikan materi penyuluhan
2. Mengevaluasi materi yang telah disampaikan
3. Mengucapkan salam penutup
3) Fasilitator : Thomas Erik Helvin
Fasilitator adalah seseorang yang membantu sekelompok orang, memahami tujuan
bersama mereka dan membantu mereka membuat rencana guna mencapai tujuan
tersebut tanpa mengambil posisi tertentu dalam diskusi.
Tugas :
1. Memotivasi peserta untuk berperan aktif selama jalannya kegaiatan
2. Memfasilitasi pelaksananan kegiatan dari awal sampai dengan akhir
3. Membuat dan megedarkan absen peserta penyuluhan
44

4. Membagikan konsumsi
4) Simulator : Thomas Erik Helvin
Simulator adalah sebagai simulasi atau objek fisik benda nyata yang
didemonstrasikan.
5) Dokumentator : Thomas Erik Helvin
Dokumentator adalah orang yang mendokumentasikan suatu kegiatan yang
berkaitan dengan foto, pengumpulan data, dan menyimpan kumpulan dokumen pada
saat kegiatan berlangsung agar dapat disimpan sebagai arsip.
Tugas :
1. Melakukan dokumentasi kegiatan penyuluhan dalam kegiatan pendidikan
kesehatan.
6) Notulen : Thomas Erik Helvin
Notulen adalah sebutan tentang perjalanan suatu kegiatan penyuluhan, seminar,
diskusi, atau sidang yang dimulai dari awal sampai akhir acara. Ditulis oleh seorang
Notulis yang mencatat seperti mencatat hal-hal penting. Dan mencatat segala
pertanyaan dari peserta kegiatan.
Tugas :
1. Mencatat poin-poin penting pada saat penyuluhan berlangsung.
2. Mencatat pertanyaan-pertanyaan dari audience dalam kegiatan penyuluhan.

1.1.8 Denah Pelaksanaan


Setting Tempat :

Keterangan:

: Moderator dan Penyaji

: Peserta
45
46
47

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN No. Dokumen
Jln. Beliang No.110 Palangka Raya
Telp/Fax. (0536) 3227707
e-mail: stikesekaharap110@yahoo.com
BERITA ACARA No. Revisi
BIMBINGAN PRAKTIK Tgl berlaku
Halaman 1

Pada hari Kamis tanggal 04 (Empat) bulan November tahun 2021, telah
dilaksanakan bimbingan online/virtual melalui Zoom Meeting pada mahasiswa Prodi
Sarjana Keperawatan Tingkat III-B TA. 2020-2021. Praktik Praklinik Keperawatan IV
mulai pukul 09 : 00 WIB sampai dengan pukul 17 : 30 WIB.

Kegiatan/Topik Bimbingan : Pre Conference Kelompok V (Kep Perioperatif)


Jumlah peserta : 6 Mahasiswa (Kelompok V)
Peserta yang hadir : 6 Mahasiswa
Peserta tidak hadir : 0 Mahasiswa

Demikian berita acara bimbingan ini dibuat agar dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya.

Pembimbing Akademik, PembimbingLahan,

Rimba Aprianti, S.Kep.,Ners HazelelPoni , S.Kep.,Ners

Mengetahui,
KUP PS Sarjana Keperawatan

Meilitha Carolina, Ners.,M.Kep


48

Dokumentasi Kehadiran

Nama Mahasiswa Keterangan


(Foto kehadiran di Room Zoom Meeting)
1. Sapta Sarjana Keperawatan 4B Gen X is inviting you to a
2. Igo Gunawan scheduled Zoom meeting.
3. Thomas Erik Helvin
4. Bella Azsaria Topic: Pre Conference PPK IV Tingkat 4B
5. Melatia Paska Time: Nov 4, 2021 09:00 PM Jakarta
6. Sarpika Yena Amalia
Join Zoom Meeting
https://us02web.zoom.us/j/5629825849?
pwd=cTlvcmNvMG02bXRmL1FMY3pTWnZtQT09

Meeting ID: 562 982 5849


Passcode: genxb2018
49

Sarjana Keperawatan 4B Gen X is inviting you to a


scheduled Zoom meeting.

Topic: Pre Conference PPK IV Tingkat 4B


Time: Nov 4, 2021 03:00 PM Jakarta

Join Zoom Meeting


https://us02web.zoom.us/j/5629825849?
pwd=cTlvcmNvMG02bXRmL1FMY3pTWnZtQT09

Meeting ID: 562 982 5849


Passcode: genxb2018
50
51

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN No. Dokumen
Jln. Beliang No.110 Palangka Raya
Telp/Fax. (0536) 3227707
e-mail: stikesekaharap110@yahoo.com
BERITA ACARA No. Revisi
BIMBINGAN PRAKTIK Tgl berlaku
Halaman 2

Pada hari Jumat tanggal 05 (Lima) bulan November tahun 2021, telah dilaksanakan
bimbingan online/virtual melalui Zoom Meeting pada mahasiswa Prodi Sarjana Keperawatan
Tingkat III-B TA. 2020-2021. Praktik Praklinik Keperawatan IV mulai pukul 09:00 WIB
sampai dengan pukul 17:00 WIB.

Kegiatan/Topik Bimbingan : Bimbingan Askep Kelompok V (Kep Perioperatif)


Jumlah peserta : 6 Mahasiswa (Kelompok V)
Peserta yang hadir : 6 Mahasiswa
Peserta tidak hadir : 0 Mahasiswa

Demikian berita acara bimbingan ini dibuat agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Pembimbing Akademik, PembimbingLahan,

Rimba Aprianti, S.Kep.,Ners HazelelPoni , S.Kep.,Ners

Mengetahui,
KUP PS Sarjana Keperawatan

Meilitha Carolina, Ners.,M.Kep


52

Dokumentasi Kehadiran

Nama Mahasiswa Keterangan


(Foto kehadiran di Room Zoom Meeting)
1. Sapta Sarjana Keperawatan 4B Gen X is inviting you to a
2. Igo Gunawan scheduled Zoom meeting.
3. Thomas Erik Helvin
4. Bella Azsaria Topic: Pre Conference PPK IV Tingkat 4B
5. Melatia Paska Time: Nov 5, 2021 09:00 AM Jakarta
6. Sarpika Yena Amalia
Join Zoom Meeting
https://us02web.zoom.us/j/5629825849?
pwd=cTlvcmNvMG02bXRmL1FMY3pTWnZtQT09

Meeting ID: 562 982 5849


Passcode: genxb2018
53

Sarjana Keperawatan 4B Gen X is inviting you to a


scheduled Zoom meeting.

Topic: Pre Conference PPK IV Tingkat 4B


Time: Nov 5, 2021 15:30 AM Jakarta

Join Zoom Meeting


https://us02web.zoom.us/j/5629825849?
pwd=cTlvcmNvMG02bXRmL1FMY3pTWnZtQT09

Meeting ID: 562 982 5849


Passcode: genxb2018
54

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN No. Dokumen
Jln. Beliang No.110 Palangka Raya
Telp/Fax. (0536) 3227707
e-mail: stikesekaharap110@yahoo.com
BERITA ACARA No. Revisi
BIMBINGAN PRAKTIK Tgl berlaku
Halaman 3

Pada hari Sabtu tanggal 06 (Enam) bulan Novemberer tahun 2021, telah
dilaksanakan bimbingan online/virtual melalui Zoom Meeting pada mahasiswa Prodi Sarjana
Keperawatan Tingkat III-B TA.2020-2021. Praktik Praklinik Keperawatan IV mulai pukul
14:00 WIB sampai dengan pukul 17:00 WIB.

Kegiatan/Topik Bimbingan : Post Conference Kelompok V (Kep Perioperatif)


Jumlah peserta : 6 Mahasiswa (Kelompok V)
Peserta yang hadir : 6 Mahasiswa
Peserta tidak hadir : 0 Mahasiswa

Demikian berita acara bimbingan ini dibuat agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Pembimbing Akademik, PembimbingLahan,

Rimba Aprianti, S.Kep.,Ners HazelelPoni , S.Kep.,Ners

Mengetahui,
KUP PS Sarjana Keperawatan

Meilitha Carolina, Ners.,M.Kep


55

Dokumentasi Kehadiran

Nama Mahasiswa Keterangan


(Foto kehadiran di Room Zoom Meeting)
1. Sapta Sarjana Keperawatan 4B Gen X is inviting you to a
2. Igo Gunawan scheduled Zoom meeting.
3. Thomas Erik Helvin
4. Bella Azsaria Topic: Konsultasi PPK 4 Tingkat 4B
5. Melatia Paska Time: Oct 06, 2021 09: 00 AM Jakarta
6. Sarpika Yena Amalia
Join Zoom Meeting
https://us02web.zoom.us/j/5629825849?
pwd=cTlvcmNvMG02bXRmL1FMY3pTWnZtQT09

Meeting ID: 562 982 5849


Passcode: genxb2018

Sarjana Keperawatan 4B Gen X is inviting you to a


scheduled Zoom meeting.

Topic: Konsultasi PPK 4 Tingkat 4B


Time: Oct 06, 2021 15: 30 AM Jakarta

Join Zoom Meeting


https://us02web.zoom.us/j/5629825849?
pwd=cTlvcmNvMG02bXRmL1FMY3pTWnZtQT09

Meeting ID: 562 982 5849


Passcode: genxb2018
56

Anda mungkin juga menyukai