Anda di halaman 1dari 430

KEBUDAYAAN TOLAKl

TIDAK DIPERJUALBELIKAN
Proyek Bahan Pustaka Lokal Konten Berbasis Etnis Nusantara
Perpustakaan Nasional, 2011

SERI ETNOGRAFI INDONESIA


NO: 3

KEBUDAYAAN TOLAKI

oleh
Abdurrauf Tarimana

Perpustakaan Nasional Balai Pustaka


Republik Indonesia
Perum Penerbitan dan Percetakan
BALAI PUSTAKA

BP No. 3444

CL-04

Hak pengarang dilindungi undang-undang

Cetakan pertama - 1989


Cetakan kedua - 1993

301.2
Tar Tariiuana, A b d u r r a u f
k Kebudayaan Tolaki / oleh Abdurrauf Tarimana. — cet 2.
— Jakarta : Baiai Pustaka, 1993.
X, 423 hlm. : ilus. ; bibl. ; indeks. ; 21 cm. — (Seri BP no.
3444).
(Seri Etnografi Indonesia no. 3)
1. Kebudayaan Indonesia-Tolaki. I. Judul. II. Seri.

ISBN 979 — 4 0 7 — 1 9 6 — X

Perancang kulit: Koenljaraningrat


KATA PENGANTAR

Kalo adalah sentra dari keterpaduan segala unsur kebudayaan


suku bangsa Tolaki yang diam di wilayah daratan propinsi Sula-
wesi Tenggara, tepatnya di kabupaten Kendari d a n Kolaha. Sebe-
narnya Kalo adalah lambang yang tetap d i p a n d a n g keramat dan
sakral oleh semua anggota suku bangsa tadi, d a n selalu tampil
dalam berbagai bentuk upacara ritual. Bagi mereka, Kalo men-
cangkup seluruh p e r w u j u d a n adat istiadat, mulai dari sistem
kehidupan sosial - ekonomi yang bercorak tradisional, sistem
budaya yang menyangkut bahasa, seni dan keagamaan, sampai
pada sistem pengkonsepsian untuk m e m a n d a n g manusia dalam
kaitan eratnya dengan alam semesta.
Usaha membedah kebudayaan suku bangsa Tolaki oleh A. Tari-
m a n a pantas kita hargai. M a n f a a t n y a akan besar sekali demi
kepentingan nasional. Setidak-tidaknya, pembaca akan tahu
bahwa ternyata ada suku bangsa Tolaki yang berdiam di Sulawesi
sebagai salah satu dari sekian ratus suku bangsa yang memadu
dalam bangsa Indonesia.
Bagaimanapun, kebudayaan suku bangsa Tolaki adalah kebu
dayaan bangsa Indonesia juga.

Balai Pustaka

5
SERI E T N O G R A F I INDONESIA

Sudah Terbii.
1. Dr. Junus Melalatoa, Kebudayaan Gayo (1982)
2. P r o f . Dr. Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa (1984)
3. Dr. Abdurrauf Tarimana, Kebudayaan Tolaki (1989)

Akan Terbit:

P r o f . Dr. Koentjaraningrat, Kebudayaan-Kebudayaan di Irian


Jaya.
P r o f . Dr. Ny. Tapiomas Ichromi, Dr. H. Nooy-Palm, Dra. Ny.
Priyanti P a k a n , Kebudayaan Toraja.
Dr. S. Ekojati, Kebudayaan Sunda.
Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, Kebudayaan Bati.
Drs. Hans Daeng, Kebudayaan-Kebudayaan di Flores.

6
Untuk:
Kedua Almarhum Ayah dan Ibu yang tercinta,
Istri yang kekasih, dan
Anak-anakku, harapanku.

7
PRAKATA

Ketika saya mengantar Dr. P.M. Lawalata ke lapangan terbang


Wolter Mongonsidi hendak kembali ke U j u n g P a n d a n g setelah
mengajar seminggu lamanya di Universitas Haluoleo di Kendari,
beliau m e n g a n j u r k a n saya untuk menemui Professor Dr. Koentja-
raningrat dengan maksud studi promosi dalam bidang antropologi
pada Universitas Indonesia di J a k a r t a . Atas a n j u r a n itu saya ke
Jakarta dan berhasil dapat menemui Professor Dr. Koentjara-
ningrat pada akhir Desember 1976. Sebelumnya saya tidak kenal
beliau secara langsung kecuali melalui karya-karya tulis beliau.
Saya mulai belajar pada Jurusan Antropologi Fakultas Sastra
UI pada 28 Pebruari 1977 berdasarkan panggilan beliau selaku
Ketua Jurusan Antropologi pada waktu itu. P a d a 10 Januari 1979
saya dinyatakan oleh Ketua Jurusan Antropologi telah memenuhi
syarat untuk meneruskan studi d o k t o r ini. Saya kembali ke Ken-
dari m e n g a d a k a n penelitian lapangan. Mulai menulis disertasi ini
sejak awal 1980 atas bimbingan beliau bersama Dr. Parsudi Supar-
lan mulai September 1981. Sebelum disertasi ini selesai ditulis,
Ketua P r o m o t o r memberi kesempatan kepada saya untuk
memperluas pengetahuan saya dalam sub bidang antropologi sim-
bolik di bawah bimbingan Professor Dr. J . J . Fox, Professorial
Fellow Research School of Pasific Sludies Deparlmenl of Anthro-
pology, A N U , C a n b e r r a , Auslralia selama tiga bulan mulai 11 Ok-
tober 1982 sampai 10 Januari 1983, yang beliau bertindak mem-
bimbing saya selaku anggota p r o m o t o r . T a n p a beliau-beliau
selaku p r o m o t o r adalah tidak mungkin disertasi ini berwujud
seperti ini, sehingga saya secara sadar sungguh-sungguh merasa
berutang budi yang tidak dapat dibalas dengan bentuk apa pun,

9
kecuali ucapan penghargaan yang setinggi-tingginya dan terima
kasih yang sebanyak-banyaknya.
Selama studi lebih kurang empat semester di J u r u s a n Antro-
pologi tersebut di atas, saya telah secara langsung m e n d a p a t k a n
t a m b a h a n pengetahuan dari Professor Dr. K o e n t j a r a n i n g r a t , Pro-
fessor Dr. H a r s j a W. Bachtiar, Dr. S. Budhisantoso, Dr. J.
Vredenbregt, Dr. Parsudi Suparlan, Dr. Nico Kalangi, Dr.
E . K . M . Masinambouw, Dr. M. J u n u s Melalatoa, Dra. Meutia
Swasono, Drs. Suleiman, Drs. A m r i Marsali, M . A . , dan D r a .
Yamine, M . A . ; Beliau-beliau inilah yang memberikan dasar-dasar
pengetahuan saya sehubungan dengan disertasi ini, sehingga sudah
sewajarnya jikalau saya pada saat ini m e n g h a t u r k a n banyak
terima kasih.
Jasa-jasa baik dari para karyawan P e r p u s t a k a a n Fakultas Sas-
tra dan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial UI, Museum Pusat, dan Arsip
Nasional di J a k a r t a , Perpustakaan Pusat U N H A S di U j u n g Pan-
dang, Perpustakaan U N H A L U di Kendari, dan terakhir pada
Australian National University Library, A N U , di C a n b e r r a , se-
muanya turut menentukan penyelesaian disertasi ini. Kepada
mereka saya mengirimkan salam dan terima kasih.
Demikian juga Letjen Edy Sabara selaku G u b e r n u r Kepala
Daerah Propinsi Sulawesi Tenggara, yang saya adalah staf beliau,
telah memberikan izin tugas belajar program d o k t o r ini berikut
bantuan biaya dalam meringankan beban biaya sendiri; demikian
pula G u b e r n u r Anumerta Drs. Abdullah Silondae yang saat itu
selaku Rektor Universitas Haluoleo, dan Drs. La Ode Malim,
Rektor Universitas Haluoleo berikutnya, yang saya pada waktu itu
adalah dosen tetap dalam statusnya sebagai universitas swasta,
telah memberikan izin tugas belajar ini berikut fasilitas yang ada.
T a n p a ketiga beliau ini adalah mustahil bagi saya untuk menyusun
disertasi ini, sehingga sudah seyogyanya saya sebagai anak
mengucapkan banyak terima kasih yang sedalam-dalamnya dan
setinggi-tingginya terhadap mereka sebagai orang tua. Kepada
pimpinan Universitas Haluoleo Negeri, Professor E. Agussalim
M o k o d o m p i t , M . A . , yang telah memberikan izin meninggalkan

10
lugas untuk pergi ke Australia dalam rangka studi ini tak lupa saya
menghaturkan banyak terima kasih yang tak terhingga.
Akhirnya kepada kawan-kawan mahasiswa dalam 1KA jurusan
Antropologi Fakultas Sastra UI yang telah memberikan parti-
sipasinya kepada saya selama di J a k a r t a , dan para mahasiswa
U N H A L U yang telah m e m b a n t u saya dalam penelitian lapangan
di Kendari dan di Kolaka, serta loyalitas dari kawan-kawan
mahasiswa ANU di C a n b e r r a asal Indonesia, bagi saya adalah
sangat berharga yang tidak dapai saya balas.

J a k a r t a , 19 Agustus 1985
A.T.

I1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 5
PRAKATA 9
I. P E N D A H U L U A N 19
1. Latar Belakang 19
2. Fokus d a n R u a n g Lingkup 20
3. Kerangka Teori d a n Konsep-Konsep yang Diguna-
kan 25
4. Studi L a p a n g a n 37
5. Uraian Singkat Isi Disertasi 44

II. G A M B A R A N U M U M 46
1. Lingkungan Alam Sulawesi Tenggara 46
2. Asal Mula d a n Persebaran Orang Tolaki 50
2.1. Asal Mula O r a n g Tolaki d a n Berdirinya Ke-
rajaan 50
2.2. Wilayah Persebaran Orang Tolaki 54
3. Administrasi Pemerintafian di Sulawesi Tenggara . . 55
3.1. P e m e r i n t a h a n Z a m a n Kolonial Belanda d a n
• P e n d u d u k a n Jepang 55
3.2. Administrasi Pemerintahan di Sulawesi Teng-
gara Dewasa ini 58
4. K e p e n d u d u k a n di Sulawesi Tenggara 61
5. H u b u n g a n O r a n g Tolaki dengan Suku-Suku Bangsa
Lain di Indonesia 63

III. B A H A S A T O L A K I 66
1. Beberapa Ciri Khas Bahasa Tolaki 66

13

PNRI
2. Bahasa Tolaki d a n Persebarannya 70
3. P e n g g u n a a n Bahasa Tolaki dan Sistem Peng-
golongannya 70
4. Bahasa Tolaki sebagai Alat Ekspresi dan Komuni-
kasi dan H u b u n g a n n y a dengan Kalo 74

IV. M A T A P E N C A H A R I A N O R A N G T O L A K I 78
1. C o r a k Kehidupan E k o n o m i 78
2. Bercocok T a n a m , Berburu d a n Beternak, serta
Meramu 79
2.1. Bercocok T a n a m di L a d a n g 79
2.2. M e n a n a m Padi di Sawah 82
2.3. Berkebun T a n a m a n J a n g k a P a n j a n g 83
2.4. Berburu d a n Beternak 85
2.5. M e r a m u 88
3. Konsep Pemilikan 89
4. T u k a r M e n u k a r dan Redistribusi 92
5. Integrasi Berbagai Sistem E k o n o m i 94
6. Asas Mata Pencaharian Orang Tolaki dan H u b u n g -
annya dengan Kalo 95

V. SISTEM TEKNOLOGI TRADISIONAL ORANG


TOLAKI 98
1. Jenis Alat-alat 98
2. Bahan Dasar P e m b u a t a n dari Tiap Alat-Peralatan . 102
3. Teknik P e m b u a t a n dari Alat-Peralatan 103
4. Bentuk dari Tiap Alat-Peralatan 104
5. Asas Teknologi Tradisional O r a n g Tolaki dan
H u b u n g a n n y a dengan Kalo 106

VI. O R G A N I S A S I S O S I A L O R A N G T O L A K I 108
1. Sistem Kekerabatan 108
1.1. Tipe Sistem Kekerabatan Orang Tolaki 108
1.2. Keluarga Inti dan Kelompok Kekerabatan . . . . 116
1.3. Lingkaran H i d u p 124
1. Kelahiran 124
14

PNRI
2. P e r k a w i n a n 141
3. Kematian 166
2. Sistem Politik dan Stratifikasi Sosial 179
2.1. Organisasi Politik K e r a j a a n 179
2.2. Komuniti dan Pola P e m u k i m a n 193
2.3. Stratifikasi Sosial Tradisional d a n Masa Kini . 198
3. Sistem Kekerabatan d a n Organisasi Politik dan
Stratifikasi Sosial Orang Tolaki dan H u b u n g a n n y a
dengan Kalo 204
3.1. P e r a n a n Kalo dalam U p a c a r a 205
3.2. P a n d a n g a n - p a n d a n g a n Orang Tolaki terhadap
Kalo sebagai Simbol 206

VII. K O S M O L O G I D A N S I S T E M K E A G A M A A N 217
1. Alam Semesta dan Isinya, dan Asal Manusia 217
2. T u h a n , Dewa, dan Manusia 226
3. Dunia Nyata d a n Dunia Gaib: Kekuatan Sakti dan
Kekuatan Sosial 231
3.1. Konsepsi Orang Tolaki Mengenai Kekuatan
Sakti 232
3.2. Konsepsi Orang Tolaki mengenai Kekuatan
Sosial 234
4. U p a c a r a - U p a c a r a Keagamaan 235
4.1. Sistem U p a c a r a Keagamaan Orang Tolaki . . . . 235
4.2. Fungsi U p a c a r a p a d a Orang Tolaki 239
5. H u b u n g a n A n t a r a Kosmologi dan Sistem Keagama-
an Orang Tolaki dengan Kalo 241
6. A g a m a Islam dan Lain-lain A g a m a di Sulawesi
Tenggara 243

VIII. K E S E N I A N T R A D I S I O N A L O R A N G T O L A K I . . . . 245
1. Seni Sebagai Ekspresi Keagamaan 245
2. Prinsip-prinsip P e n a t a a n dan Perhiasan R u a n g . . . . 247
3. Bentuk-bentuk Kesenian 255
3.1. Seni Disain dan Seni Rias Tradisional 255

15

PNRI
3.2. Seni Vokal, Seni Instrumental, dan Seni Sastra
Tradisional 256
3.3. Seni Tari Tradisional 258
4. H u b u n g a n A n t a r a Kesenian O r a n g Tolaki dengan
Kalo 261

IX. KLASIFIKASI S I M B O L I K D A L A M K E B U D A Y A A N
TOLAKI 262
1. Klasifikasi D u a 263
1.1. Klasifikasi Dua p a d a Manusia 263
1.2. Klasifikasi Dua p a d a A l a m 267
1.3. Klasifikasi Dua p a d a Masyarakat 271
1.4. Klasifikasi D u a pada Binatang dan T u m b u h -
tumbuhan 274
1.5. Klasifikasi Dua p a d a P e k e r j a a n d a n Permain-
an ..276
2. Lain-lain Klasifikasi Simbolik: Klasifikasi Tiga d a n
Klasifikasi Lima 277
3. Percerminan Klasifikasi D u a , Klasifikasi Tiga, dan
Klasifikasi Lima p a d a Kalo 279

X. F U N G S I K A L O 283
1. Kalo Sebagai Ide dalam Kebudayaan d a n Sebagai
Kenyataan dalam Kehidupan Orang Tolaki 283
2. Kalo sebagai Fokus dan Pengintegrasi Unsur-unsur
Kebudayaan Tolaki 288
3. Kalo sebagai P e d o m a n H i d u p untuk Terciptanya
Ketertiban Sosial dan Moral 293
4. Kalo sebagai Pemersatu u n t u k pertentangan Kon-
septual dan Sosial dalam Kebudayaan Tolaki d a n
dalam Kehidupannya 294

XI. RINGKASAN DAN P E N U T U P 298


BIBLIOGRAFI 313
LAMPIRAN-LAMPIRAN 331

16

PNRI
LAMPIRAN I : Beberapa Mitos 331
1. Mitos O h e o 331
2. Mitos Wekoila 340
3. Mitos O n g g a b o 341
4. Mitos P a s a ' e n o 345

LAMPIRAN II : Bunyi Bahasa Tolaki 347


1. Bunyi Vokal 347
2. K o n s o n a n 348

LAMPIRAN III : Ciri-ciri M o r f o l o g i d a n Semantik 348


LAMPIRAN IV : Struktur Kalimat .' 355
LAMPIRAN V : C o n t o h Kata d a n Kalimat dalam
Bahasa Tolaki yang M e n u n j u k k a n
Ciri-ciri Penggolongan Bahasa Tolaki 357
1. Penggolongan Bahasa Tolaki Me-
nurut Lapisan Sosial Pemakainya . 357
2. Beberapa C o n t o h Kata dan Kalimat
yang Biasa Dipakai oleh Seseorang
Orang tua, Ulama, J u r u Bicara
A d a t , d a n Seorang D u k u n 358

LAMPIRAN VI : Doa-doa Membuat dan Memasang


Jerat 359
LAMPIRAN VII : D o a Memasang Cincin Hidung Kerbau 360
L A M P I R A N VIII : Kerangka Teknologi Orang Tolaki . . . 362
L A M P I R A N I X . A : P a r a d i g m a Istilah Kekerabatan dalam
Bahasa Tolaki 368
L A M P I R A N I X . B : Keterangan L a m p i r a n I X . A 372
LAMPIRAN X : Mantera M e m a n d i k a n Bayi dalam
U p a c a r a Kelahiran 374
LAMPIRAN XI : Dialog D u a J u r u Bicara dalam Upa-
cara Perkawinan 374
LAMPIRAN XII : Bunyi A k a d Nikah, Ijab Qabul, dan
Ta'lik 381

17

PNRI
L A M P I R A N XIII : Kata-kata P a m i t a n O r a n g Meninggal
dengan Keluarga yang Ditinggal (Di-
sampaikan oleh Keluarga Dekatnya) . 382
L A M P I R A N XIV : Kata-kata P e n y a m b u t a n T e r h a d a p Pe-
ngantin P e r e m p u a n oleh Pihak Mer-
tuanya 384
LAMPIRAN XV : Teks P e n y u m p a h a n Seorang Mokole
(Raja) 385
L A M P I R A N XVI : Kata-kata P e n y a m b u t a n Seorang R a j a 387
L A M P I R A N XVII : M a n t e r a - m a n t e r a Bagi K e m a k m u r a n
d a n Kesejahteraan Negeri d a n Pendu-
duknya 388
GLOSARI 396
INDEKS 415
DAFTAR NAMA INFORMAN 423

18

PNRI
I
PENDAHULUAN

1. L A T A R B E L A K A N G
Kalau ditinjau bibliografi Kennedy, akan tampak bahwa
karangan-karangan tentang manusia dan kebudayaan di Indonesia
sangat banyak. N a m u n kalau bibliografi itu ditinjau lebih men-
dalam akan t a m p a k bahwa amat banyak karangan mengenai ke-
budayaan suku-suku bangsa tertentu, tetapi sangat kurang menge-
nai kebudayaan beberapa suku bangsa lain tertentu. Di antara
kebudayaan suku-suku bangsa yang kurang dideskripsi adalah
kebudayaan suku bangsa Tolaki. Dalam bibliografi Kennedy
hanya disebut 14 judul mengenai kebudayaan Tolaki.*)
Dalam zaman p e m b a n g u n a n di negara kita dewasa ini kita
masih merasakan kurangnya pengetahuan tentang kebudayaan
suku-suku bangsa di Indonesia ini. Sumber untuk pengetahuan itu
adalah tulisan etnografi, terutama etnografi yang ditulis sekarang.
Dalam rangka apa yang terurai di atas, pengetahuan mendalam
mengenai kebudayaan Tolaki, ialah salah satu di antara suku-suku
bangsa di Indonesia yang kini kurang dikenal, menjadi sangat pen-
ting.
Orang Tolaki yang akan dibicarakan di sini adalah suatu suku
bangsa yang mendiami wilayah-wilayah daratan dari Kabupaten
Kendari d a n Kabupaten Kolaka, yaitu dua kabupaten dari empat
kabupaten di Propinsi Sulawesi Tenggara. Dua kabupaten lainnya
adalah Kabupaten Buton dan Kabupaten M u n a yang terletak di

*) Lihat R. Kennedy, el al., Bibliography of Indonesian Peoples and Cuhures (1955:


116-117)

19

PNRI
bagian kepulauan dari propinsi ini. Orang Tolaki, baik mereka
yang tinggal di desa-desa dan hidup dari bertani tradisional,
maupun mereka yang tinggal di kota dan hidup sebagai pegawai
atau sebagai pengusaha, sampai sekarang rupa-rupanya masih me-
mandang penting dalam kebudayaannya suatu lambang pusat
yang keramat yang disebut kalo. Dalam menyusun etnografi
mengenai kebudayaan Tolaki ini, saya akan secara khusus mem-
beri perhatian kepada lambang yang keramat ini.

2. FOKUS DAN RUANG L I N G K U P

Hal yang ingin saya tunjukkan adalah, sampai berapa jauh kalo
dalam kebudayaan Tolaki dapat dianggap sebagai pusat yang me-
ngaitkan menjadi satu, unsur-unsur yang ada dalam kebudayaan
Tolaki sebagai suatu sistem yang terintegrasi. Saya ingin menun-
jukkan proses pengintegrasian itu pada tingkat-tingkat yang ber-
beda-beda dan lapangan yang berbeda-beda seperti lapangan
sosial, ekonomi dan politik. Kemudian saya juga ingin menunjuk-
kan fungsi kalo dalam kehidupan upacara dan ritus serta dalam
kesenian, dan akhirnya juga fungsi kalo sebagai simbol yang
mengekspresikan konsepsi orang Tolaki mengenai alam semesta
dan isinya.

Secara harfiah kalo adalah suatu benda yang berbentuk lingkar-


an, cara-cara mengikat yang melingkar, dan pertemuan-pertemu-
an atau kegiatan bersama di mana pelaku membentuk lingkaran.
Sebagai benda lingkaran kalo dibuat dari rotan, dan a d a j u g a ber-
bagai jenis kalo yang dibuat dari bahan lain, yaitu: emas, besi,
perak, benang, kain putih, akar, daun pandan, bambu, dan dari
kulit kerbau. Adapun cara membuat benda-benda itu menjadi ber-
bentuk lingkaran sehingga disebut kalo pada dasarnya adalah
dengan jalan mempertalikan atau mempertemukan kedua ujung
dari bahan-bahan tersebut pada suatu simpul. Suatu jenis kalo-
yang dibuat dari bahan tertentu dari bahan-bahan tersebut di atas,
ada yang digunakan untuk beberapa keperluan, dan ada yang di-
gunakan hanya untuk satu keperluan.

20

PNRI
Berdasarkan bahan pembuatannya dan tempat penggunaannya
maka kalo itu banyak jenisnya. Kalo dari rotan itu ada yang
disebut kalo sara, yaitu kalo yang digunakan sebagai alat upacara
perkawinan adat, upacara pelantikan raja di zaman kerajaan, upa-
cara penyambutan adat bagi para pejabat pemerintah yang ber-
kunjung ke daerah atau ke desa-desa, upacara perdamaian atas
suatu sengketa, alat bagi sejumlah tokoh adat untuk menyampai-
kan sesuatu soal yang penting kepada raja, alat untuk menyampai-
kan undangan pesta keluarga. Kalo sara ini dalam penggunaannya
dilengkapi dengan wadah anyaman dari tangkai daun palam, dan
kain putih sebagai alas dari wadah tersebut.
Jenis kalo lain yang dibuat dari rotan ada yang disebut kalo tusa
i tonga, yaitu kalo yang dipakai sebagai pengikat tiang tengah
rumah. Ada juga kalo yang disebut kalo holunga, yaitu kalo yang
dipakai untuk mengikat hulu parang, alat-alat produksi lainnya,
serta senjata. Ada juga kalo yang disebut kalo o wongge, yaitu
kalo sebagai pengikat dan penguat aneka-ragam wadah; ada yang
disebut kalo ohotai, kalo o taho, kalo ohopi, yaitu macam-macam
kalo yang digunakan untuk menangkap ayam hutan dan aneka-
ragam burung; dan ada yang disebut kalo o oho, yaitu kalo yang
digunakan untuk menangkap kerbau liar, kuda, dan anuang; serta
ada yang disebut kalo selekeri, yaitu kalo yang digunakan sebagai
cincin hidung kerbau.
Kalo dari emas disebut kalo eno-eno, yaitu kalo yang digunakan
sebagai alat upacara sesaji, alat tebusan atas pelanggaran janji
untuk melangsungkan upacara peminangan gadis dalam rangkai-
an perkawinan, sebagai salah satu dari mas kawin, dan dipakai
sebagai kalung perhiasan bagi wanita. Kalo dari besi disebut kalo
kalelawu, yaitu kalo yang digunakan sebagai cincin hidung ker-
bau, seperti halnya dengan kalo selekeri tersebut di atas. Kalo dari
perak disebut kalo sambiala, kalo bolosu, dan kalo o langge, yaitu
kalo yang masing-masing dipakai perhiasan dada, perhiasan pada
pergelangan tangan, dan perhiasan pada pergelangan kaki, baik
bagi anak-anak maupun bagi gadis remaja.
Kalo dari benang ada yang disebut kalo kale-kale, yaitu kalo
yang dipakai sebagai pengikat pergelangan tangan dan kaki bayi;

21

PNRI
dan ada yang disebut kalo ula-ula, yaitu kalo yang digunakan
sebagai alat pekabaran tentang adanya orang meninggal. Kalo dari
kain putih disebut kalo lowani, yaitu kalo yang dipakai di kepala
sebagai tanda berkabung; dan kalo dari kain biasa disebut kalo
usu-usu, yaitu kalo yang dipakai di kepala sebagai pengikat dan
penutup kepala bagi orang tua.
Kalo dari akar atau kulit kayu disebut kalo pebo, yaitu kalo
yang dipakai sebagai pengikat pinggang bagi orang dewasa; dan
yang khusus dari akar bahar disebut kalo kalepasi, yaitu kalo yang
dipakai sebagai perhiasan bagi orang dewasa; serta kalo dari akar
hawa disebut kalo parahi atau kalo mbotiso, yaitu kalo yang di-
gunakan sebagai tanda atau patok pemilikan tanah hutan untuk
selanjutnya diolah menjadi sebuah ladang atau kintal. Kalo dari
daun pandan disebut kalo kalunggalu, yaitu kalo yang dipakai
sebagai pengikat kepala bagi gadis remaja. Kalo dari bambu
disebut kalo kinalo, yaitu kalo .yang digunakan sebagai penjaga
kintal dan tanaman yang ada di dalamnya. Akhirnya kalo dari
kulit kerbau disebut kalo parado, yaitu kalo yang digunakan
untuk menangkap kerbau liar.
Kalo sebagai cara-cara mengikat yang melingkar disebut mowe-
wei (membelitkan), mombali (melingkari); dan sebagai pertemu-
an-pertemuan atau kegiatan bersama di mana pelaku membentuk
lingkaran disebut metaboriri (duduk melingkar dalam keadaan
makan bersama), meobu-obu (duduk melingkar dalam merun-
dingkan sesuatu secara bersama-sama), metomusako (berdiri ber-
keliling dalam menangkap ternak, dan dalam melakukan tarian
masai), dan modinggu (menumbuk padi secara bersama-sama
dengan mengelilingi sebuah lesung sambil membunyikan lesung
dan alu).
Konsep kalo dalam kebudayaan Tolaki sangat luas ruang ling-
kupnya. Menurut para informan kalo itu secara u m u m meliputi o
sara (adat-istiadat), khususnya sara owoseno Tolaki atau sara
mbu'uno Tolaki, yaitu adat pokok, yang merupakan sumber dari
segala adat-istiadat orang Tolaki yang berlaku dalam semua aspek
kehidupan mereka. Kalo sebagai adat pokok dapat digolongkan
ke dalam apa yang disebut: (1) sara wonua, yaitu adat pokok

22

PNRI
dalam pemerintahan; (2) sara mbedulu, yaitu adat pokok dalam
hubungan kekeluargaan dan persatuan pada umumnya; (3) sara
mbe'ombu, yaitu adat pokok dalam aktivitas agama dan keper-
cayaan; (4) sara mandarahia, yaitu adat pokok dalam pekerjaan
yang berhubungan dengan keahlian dan keterampilan; dan (5) sara
monda'u, mombopaho, mombakani, melambu, dumahu. meoti-
oti, yaitu adat pokok dalam berladang, berkebun, beternak, ber-
buru, dan menangkap ikan.
Adat pokok dalam pemerintahan mengatur dan menetapkan
hak dan kewajiban, fungsi dan tugas seorang raja dan aparatnya,
mengatur dan menetapkan struktur organisasi dan personalia un-
tuk menyelenggarakan pemerintahan, dan mengatur hak rakyat
dan kewajiban terhadap raja dan negeri, dan mengatur hubungan
antara raja dan rakyat.
Adat pokok dalam hubungan kekeluargaan dan persatuan pada
umumnya mengatur hubungan antar anggota keluarga inti, antar
anggota kelompok kerabat, dan antar golongan bangsawan dan
bukan bangsawan. Dalam adat pokok kekeluargaan dan persatu-
an ini tercakup apa yang disebut sara mberapu, yaitu adat per-
kawinan, yang mengatur dan menetapkan tatacara memilih
j o d o h , mana yang boleh dan mana yang terlarang, tatacara
melamar, peminangan, dan pernikahan, tatacara memilih tempat
menetap sesudah nikah, menetapkan jenis warisan dan bingkisan
bagi pengantin, soal perceraian dan tanggung jawab pemeliharaan
anak sesudah perceraian. Juga dalam adat pokok kekeluargaan
dan persatuan ini tercakup apa yang disebut merou, yaitu aturan
sopan santun yang harus ditaati oleh seseorang dalam mengujar
kata-kata dan membuat isyarat kepada seseorang lainnya untuk
menyampaikan maksudnya.
Ada pokok dalam aktivitas agama dan kepercayaan ialah
mengatur dan menetapkan tempat-tempat upacara, alat-alat upa-
cara, tatacara berdoa, perlakuan terhadap dukun, dan penyeleng-
garaan upacara keagamaan. Dalam adat pokok ini tercakup apa
yang disebut mombado, yaitu adat pantang untuk melakukan hal-
hal yang terlarang oleh ajaran agama dan kepercayaan. Pantangan
itu adalah misalnya: kawin dengan saudara kandung, menganiaya

23

PNRI
hewan bagi suami yang istrinya sementara baru mulai mengan-
dung, memaki-maki hama t a n a m a n .
Adat pokok dalam pekerjaan yang berhubungan dengan keahli-
an dan keterampilan mengatur bagaimana cara-cara pengambilan
bahan, proses persiapannya, dan proses pembuatannya. Dalam
adat pokok ini tercakup apa yang disebut mepori, yaitu ketelitian,
ketekunan dalam mengerjakannya demikian pula hal cara-cara
pemanfaatan hasil keahlian dan keterampilan sehingga tahan lama
dalam pemakaiannya. Keahlian dan keterampilan itu adalah misal-
nya: memandai parang dan alat-alat produksi dan senjata, meng-
anyam tikar, membuat alat-alat tenda dan tirai untuk perhiasan
kamar.
Adat pokok dalam pertanian, bercocok tanam, menggembala
kerbau, berburu, dan menangkap ikan, masing-masing mengatur
dan menetapkan cara-cara memilih lokasi perladangan, cara
mengolah menurut fase-fasenya, cara-cara menanam dan memeli-
hara tanaman, cara memetik hasil, dan cara-cara pemanfaatan
hasil; cara-cara memelihara kerbau, cara-cara menggembalakan
kerbau, tatacara pembagian daging ternak potong; cara-cara ber-
buru dan memasang jerat dan perangkap, tatacara pembagian
daging buruan; cara-cara membuat alat-alat penangkap ikan,
cara-cara menangkap ikan, dan tatacara pembagian hasil tangkap-
an kepada para anggota keluarga. Dalam adat bercocok tanam
tercakup apa yang disebut o wua, yaitu adat-istiadat yang harus
ditaati oleh petani agar tanamannya dapat tumbuh subur, berbuah
lebat, dan apa yang disebut o lawi, yaitu adat-istiadat yang harus
ditaati oleh petani agar padinya dapat memproduksi lebih, bernilai
tambah. Dalam adat beternak, berburu, dan menangkap ikan ter-
cakup apa yang disebut o sapa, yaitu adat-istiadat yang harus di-
taati oleh penggembala, pemburu, dan penangkap ikan, agar ker-
baunya dapat berkembang biak, agar usaha perburuannya dan
penangkapan ikannya senantiasa berhasil secara berkelanjutan.
Tampak gejala di sini bahwa kalo itu pada orang Tolaki
menyangkut seluruh adat-istiadatnya dalam segala wujudnya.
Dengan demikian kalo dalam kebudayaan Tolaki bisa dikaitkan
dengan bahasa, sistem teknologi tradisional, sistem ekonomi tradi-

24

PNRI
sional, organisasi sosial tradisional, religi, dan kesenian mereka
secara keseluruhan.

Di atas telah disebut bahwa kalo juga merupakan simbol. Kalo


sebagai simbol mengekspresikan konsepsi orang Tolaki mengenai
unsur manusia, unsur alam, unsur masyarakat, dan unsur kebuda-
yaannya, dan juga mengekspresikan komunikasi antara manusia
dengan unsur-unsur tersebut di atas. Kecuali itu kalo juga melam-
bangkan persatuan antara segala hal yang bertentangan dan tam-
pak bertentangan dalam alam sekitar manusia.
Kalo dengan artinya sebagai benda lingkaran yang dipakai atau
digunakan dalam berbagai keperluan upacara, sebagai cara-cara
mengikat yang melingkar, sebagai pertemuan atau kegiatan ber-
sama, sebagai konsep yang bermakna adat-istiadat, dan sebagai
simbol yang mengekspresikan konsepsi orang Tolaki mengenai
manusia dan alam semesta dengan isinya, dan kebudayaan orang
Tolaki secara keseluruhan inilah yang merupakan ruang lingkup
dari tulisan ini dalam usaha saya m e n u n j u k k a n bahwa kalo orang
Tolaki itu adalah fokus*' yang dapat mengintegrasikan unsur-
unsur yang ada dalam kebudayaan Tolaki.

Dalam disertasi ini data yang disajikan dalam bab-bab berikut-


nya mencoba memperlihatkan dan membuktikan bahwa kalo ada-
lah fokus yang mengintegrasikan kebudayaan Tolaki. Penyajian
data tersebut dapat dilakukan karena penggunaan kerangka teori
untuk analisanya.

3. KERANGKA TEORI DAN K O N S E P - K O N S E P YANG DI-


GUNAKAN
Dalam perpustakaan antropologi, masalah integrasi kebudayaan

*) Dengak ku/o sebagai lokus kebudayaan Tolaki di sini saya maksud unsur kebudayaan
yang merupakan suatu unsur pusat dalam kebudayaan Tolaki, sehingga mendominasi
banyak aktivitas atau pranata lain dalam kehidupan masyarakatnya. Fokus kebudayaan
dari suatu masyarakat, oleh R. Linton (1936: 402-404) disebut cullurul interest atau
social interes!, yaitu suatu kompleks unsur-unsur kebudayaan yang tampak amat
digemari warga masyarakatnya sehingga tampak seolah-olah mendominasi seluruh
kehidupan masyarakat yang bersangkutan (lihat Koentjaraningrat 1981: 230).

25

PNRI
telah didekati oleh para ahli, dengan mempergunakan kerangka teori:
(1) struktural-fungsional (Malinowski 1922; Radcliffe-Brown
1922; De Josselin de Jong 1934: Levi-Strauss 1962); (2) antropo-
logi-psikologi (Benedict 1934); dan (3) teori mengenai simbol
sebagai sarana untuk integrasi (Geertz 1973).*)

B. Malinowski mengembangkan suatu teori untuk menganalisa


fungsi dari kebudayaan manusia, yaitu teori yang disebutnya afunc-
tional theory ofculture atau suatu teori fungsional tentang kebudaya-
an. Teori beliau ini mengambil gagasan yang menggunakan gagasan
dasar dari learning theory atau teori belajar dalam psikologi. Beliau
berkenalan dengan teori belajar itu karena pergaulannya dengan ahli-
ahli psikologi aliran behaviorisme seperti N.E. Miller dan J. Dollard di
Universitas Yale, Amerika Serikat, ketika beliau berkunjung di sana
selama setahun pada 1942. Teori belajar ini melatarbelakangi
pemikiran beliau menghubungkan serangkaian unsur kebudayaan
dengan serangkaian kebutuhan dasar dalam naluri manusia, dan teori
ini diuraikan oleh beliau dalam buku yang berjudul A Scientific
Theory of Culture and Other Essays (1944).**]

Inti dari teorinya adalah pendirian bahwa segala aktivitas


kebudayaan itu tidak lain, bermaksud memenuhi dan memuaskan
suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri makhluk manusia
yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya. Sebagai contoh,
salah satu unsur kebudayaan itu adalah misalnya kesenian, yang ter-
jadi karena mula-mula manusia ingin memuaskan kebutuhan
nalurinya akan k e i n d a h a n . Demikian juga misalnya, ilmu
pengetahuan timbul karena manusia ingin memenuhi kebutuhannya
akan tahu. Namun ada banyak juga aktivitas kebudayaan terjadi
karena kombinasi dari beberapa macam kebutuhan manusia. Dengan
teori itu, kata Malinowski, seorang peneliti dapat menganalisa dan

*) Tidak semua acuan tersebut saya baca sendiri tetapi saya kutip melalui karya-karya
Koentjaraningrat 1964: 60-78: 1975: 135-165; 1980: 160-243. Kecuali itu saya baca
karya-karya dari A . R . Radcliffe-Brown 1922 (1979: 188-204); B. Malinowski 1922
(1972: 509-518); 1944 (1954); demikian C. Levi-Strauss (1966: 135-216; 1979- 31-54)-
R.F. Benedict 1934: 1-51; C. Geertz 1973: 87-141; 1983: 73-146); dan P. Suparlan 1981-
V11-X1V.
**) Buku ini baru terbit setelah beliau meninggal.

26

PNRI
menerangkan banyak masalah dalam kehidupan masyarakat dan
kebudayaan manusia.
Jikalau teori fungsional tentang kebudayaan dari Malinowski
dikembangkan berdasarkan teori tentang belajar dalam psikologi,
maka teori social-slructure atau struktur sosial dari A.R.
Radcliffe-Brown dikembangkan berdasarkan teori-teori tentang
gejala alam dalam ilmu alam. Radcliffe-Brown berpendirian,
bahwa kalau ilmu antropologi itu mau maju sebagai ilmu, antro-
pologi harus mengembangkan suatu pendekatan dan metodologi
yang serupa dengan pendekatan dan metodologi yang diperguna-
kan oleh ilmu-ilmu alam dan eksakta.
Dalam kehidupan masyarakat terjadi banyak kejadian sosial
dan gejala sosial yang menurut pola-pola tertentu dan pola-pola
itu dapat dikembalikan kepada unsur-unsur hubungan yang paling
asasi dari kehidupan masyarakat yaitu social structure atau
struktur sosial. Suatu uraian yang jelas mengenai apa yang dimak-
sudkan oleh Radcliffe-Brown dengan istilah social struclure itu
diberikannya dalam pidato pengukuhannya sebagai ketua lembaga
antropologi Royal Anlhropological Inslitute o f G real Britain and
Ireland dalam tahun 1939.*' Dalam pidato beliau yang berjudul
On Social Structure itu beliau menerangkan bahwa:
1. Masyarakat yang hidup di tengah-tengah alam semesta ini ter-
diri dari serangkaian gejala-gejala sosial, sebagaimana halnya
dalam alam semesta ini yang terdiri dari gejala-gejala alam.
2. Masyarakat yang hidup juga merupakan suatu kias dari gejala
alam, yang dapat dipelajari dengan menggunakan metodologi
yang sama seperti yang digunakan untuk mempelajari gejala-
gejala alam.
3. Suatu masyarakat yang hidup merupakan juga suatu sistem
sosial, yang mempunyai struktur seperti halnya bumi, orga-
nisma, makhluk atau molekul.
4. Ilmu sosial yang mempelajari struktur dan sistem-sistem sosial
dalam kehidupan masyarakat adalah sama halnya dengan ilmu
geologi yang mempelajari struktur kulit bumi.

*) Judul On Social Structure ini juga dimuai dalam bukunya Structure anti Function in
Primitive Society (1952: 188-204).

27

PNRI
5. Sualu struktur sosial merupakan total dari jaringan hubungan
antara person-person dan kelompok-kelompok person, yaitu
suatu total jaringan hubungan yang terdiri dari dua dimensi.
Dua dimensi itu adalah hubungan diadik, yaitu hubungan anta-
ra pihak kesatu (seorang person atau suatu kelompok person)
dengan pihak kedua (person atau kelompok person lainnya);
dan hubungan diferensial, yaitu hubungan antara satu pihak
dengan beberapa pihak yang berbeda-beda, atau sebaliknya.
6. Bentuk dari suatu struktur sosial adalah tetap, dan kalau
berubah, proses perubahan itu biasanya sangat lambat, sedang-
kan wujud dari struktur sosial, yaitu person-person atau kelom-
pok-kelompok person yang ada di dalamnya, selalu berubah
dan berganti. Perubahan dari suatu struktur sosial dapat terjadi
karena akibat perang atau revolusi.
7. W u j u d dari struktur dapat diobservasi oleh seorang peneliti
masyarakat di lapangan, tetapi analisanya harus sampai pada
pengertian tentang bentuknya yang bersifat lebih abstrak.
8. Seorang ahli ilmu sosial yang mendeskripsikan suatu struktur
sosial, baik dalam dimensi diadik m a u p u n dalam dimensi dife-
rensialnya, dapat mengerti latar belakang kehidupan kekera-
batan, ekonomi, religi, mitologi, dan sektor-sektor lain dalam
kehidupan masyarakat yang menjadi pokok perhatiannya.
Teori struktur sosial ini oleh Radcliffe-Brown sendiri belum se-
muanya dapat diterapkannya sampai beliau meninggal, kecuali
dalam analisanya mengenai sistem kekerabatan unilineal dan upa-
cara agama beserta mitologinya, dalam tiga macam masyarakat,
yaitu masyarakat berburu di A n d a m a n dan Australia, dari masya-
rakat peternak dan petani di Afrika. Analisa dan keterangan beliau
mengenai tiga macam masyarakat tersebut, masing-masing diurai-
kannya dalam buku-bukunya: The Andamans Is/anders (1922),
The Social Organizalion of Australian Tribes (1930-1931), dan
A f rica n System of Kinship and Marriage (1950).
Teori struktur sosial tidak hanya berkembang dalam ilmu an-
tropologi di Inggris dan di Amerika, tetapi juga berkembang
dalam ilmu antropologi di Indonesia melalui sarjana-sarjana an-
tropologi dari negeri Belanda, yang pada umumnya mengadakan
28

PNRI
penelitian lapangan di banyak masyarakat di Indonesia. Salah se-
orang sarjana antropologi bangsa Belanda, yang dikenal mengem-
bangkan teori struktur sosial, ialah J . P . B . de Josselin de Jong.
Beliau menggunakan istilah "sociaate struktuur" untuk pengerti-
an yang sama dengan struktur sosial.

Teori de Josselin de Jong sociaate struktuur atau struktur sosial


untuk penyelidikan masyarakat dan kebudayaan di Indonesia ber-
sumber dari teori F.D.E. van Ossenbruggen tentang sistem fede-
rasi lima desa di Jawa yang dikenal dengan sebutan sistem maca-
fat, dan juga melalui pandangan W . H . Rassers tentang struktur
masyarakat Jawa dalam bentuk moiety. Menurut De Josselin de
Jong struktur sosial yang dirumuskan oleh Rassers itu merupakan
asas organisasi dari masyarakat semua suku bangsa di Nusantara.
Perincian dari pandangannya mengenai struktur sosial di Indo-
nesia itu adalah sebagai berikut:
1. Pada zaman dahulu masyarakat-masyarakat di Indonesia ter-
diri dari beberapa persekutuan yang berdasarkan ikatan keke-
rabatan, yang disebut dan (klen), yang kadang-kadang ber-
dasarkan kaidah keturunan patrilineal,kadang-kadang kaidah
matrilineal, dan yang biasanya bersifat e.xogam, yang diatur
menurut adat yang disebut circulerend comnubium atau asy-
metrisch comnubium, yaitu adat perkawinan di mana klen A
mengambil gadis dari klen B, klen B mengambil gadis dari
klen C, dan klen C mengambil gadis dari klen A, sehingga
membentuk lingkaran. Jumlah klen paling sedikit harus tiga,
dan tentu dapat ditambah dengan jumlah tak terbatas.
2. Dalam susunan kemasyarakatan maka klen pemberi gadis
harus dianggap lebih tinggi daripada klen penerima gadis.
3. Sehubungan dengan adat perkawinan tadi ada suatu adat per-
tukaran harta benda. Pihak pemberi gadis memberi benda-
benda yang bersifat wanita sedangkan pihak laki-laki mem-
berikan benda-benda yang bersifat pria kepada pihak lawan-
nya.
4. Seluruh jumlah klen tadi terbagi ke dalam dua golongan, yang
disebut moiety atau paruh masyarakat, yaitu golongan yang

29

PNRI
saling bersaingan dalam hal tertentu dan yang saling kerja
sama dalam hal lainnya.
5. Seseorang individu menjadi anggota dari dua persekutuan,
yakni: persekutuan klen dan persekutuan paruh masyarakat.
Biasanya seseorang individu menjadi anggota dari dua perse-
kutuan tersebut melalui garis salah satu dari kedua orang tua-
nya. Kalau ia menjadi anggota klen melalui garis ayah, maka
ia menjadi anggota paruh masyarakat melalui garis ibu, atau
sebaliknya. Sistem keanggotaan tersebut berdasarkan prinsip
keturunan dubbel-anilaterai
6. Perpecahan dari masyarakat di dalam berbagai persekutuan
tadi itu biasanya diliputi oleh suatu faham persatuan, yang di-
letakkan pada salah satu kelompok keluarga yang dianggap
tertua dan dianggap keturunan langsung dari nenek moyang
yang pertama, asal dari seluruh rumpun suku bangsa.
7. Susunan masyarakat dalam bentuk kedua paruh masyarakat
dalam kombinasi dengan susunan klen-klen, menyebabkan
adanya penggolongan masyarakat yang menjadi dasar untuk
mengklasifikasikan semua pengertian yang ada dalam semesta
sekitar manusia. Dasar klasifikasi adalah dua paruh masya-
rakat. Paruh yang satu diasosiasikan dengan pengertian laki-
laki, dan paruh yang lain dengan pengertian perempuan. Kla-
sifikasi simbolik atas laki-laki dan perempuan inilah yang
menjadi dasar dari semua klasifikasi yang ada mengenai alam
sekitar manusia, seperti klasifikasi atas langit dan bumi, laut
dan gunung, api dan air, dan seterusnya.
8. Sistem klasifikasi tersebut erat bersangkut paut dengan suatu
sistem nilai. Satu paruh masyarakat dengan segala hal yang di-
klasifikasikan ke dalamnya dianggap oleh adat lebih baik,
lebih tinggi, lebih kuat, lebih terhormat dan sebagainya
daripada segala hal yang diklasifikasikan ke dalam paruh
lawannya.
9. Seluruh susunan kemasyarakatan tadi berhubungan erat
dengan religi karena tiap-tiap persekutuan di dalam masya-
rakat dianggap keturunan dari sejenis binatang atau tumbuh-
an yang dihormati dengan berbagai upacara keagamaan dan

30

PNRI
pantangan atau tabu, yang merupakan kompleks kepercayaan
yang oleh Josselin de Jong disebut totemisme.
10. Upacara-upacara keagamaan yang penting itu merupakan se-
rangkaian upacara inisiasi dalam lingkaran hidup individu,
mulai dari sejak lahirnya sampai matinya.
11. Upacara-upacara keagamaan tadi diperkuat oleh adanya him-
punan kesusastraan mitologi mengenai beberapa tokoh pah-
lawan yang melambangkan kedua paruh masyarakat tadi.
Tokok-tokoh pahlawan tadi dianggap penjelmaan dari
dewa-dewa, sehingga tokoh-tokoh pahlawan itu merupakan
tujuan pemujaan dari semua upacara keagamaan yang dilaku-
kan.
12. Dewa-dewa itu biasanya dipandang terdiri atas dua atau tiga
dewa atau dua atau tiga golongan dewa. Dewa yang pertama
mewakili aspek baik dan hidup, dewa yang kedua mewakili
aspek buruk dan maut. Sepasang dewa itu sungguhpun ber-
lawanan sifatnya, namun dianggap sangat erat bersangkut
paut, karena keduanya pada hakikatnya hanya merupakan
dua aspek dari dewa yang ketiga, ialah dewa tertinggi dan pen-
cipta alam.
13. Dewa yang mewakili aspek buruk dan maut mengandung di
dalam dirinya sifat-sifat dualistis. Selain ia diasosiasikan
dengan kematian, dengan bumi, dengan keburukan, sehingga
ia dianggap dekat dengan manusia, ia juga adalah anggota
dari alam dewata sehingga dekat kepada hal-hal yang tinggi
dan baik. Sifat dualistis dari dewa ini tampak di dalam
mitologi, di dalam diri seseorang tokoh yang seringkali
berlaku sebagai perantara dunia manusia dengan alam
dewata.
14. Susunan dewa-dewa di dalam kepercayaan rakyat mempenga-
ruhi susunan pimpinan masyarakat yang seringkali melam-
bangkan tokoh-tokoh dewa-dewa tersebut di atas.
Rumusan mengenai sociaate struktuur kebudayaan di Indonesia
yang diuraikan oleh Josselin de Jong itu, memang tampak tak
jauh berbeda dengan teori Rassers mengenai inti kebudayaan Jawa
yang dianalisanya melalui berbagai adat-istiadat orang Jawa.
31

PNRI
Konsep De Josselin de'Jong yang terurai di atas, dikemukakan-
nya dalam karangannya yang terkenal De Maleische Archipe! ats
Ethnologisch Studieveld (1935). Selama menjadi guru besar antro-
pologi pada Universitas Leiden, dalam kuliah-kuliahnya, ia meng-
a n j u r k a n para mahasiswanya untuk menguji hipotesanya itu.
Dengan a n j u r a n n y a itu maka ada beberapa ahli antropologi di
negeri Belanda dan di Indonesia muridnya yang melaksanakan
penelitian mengenai berbagai daerah di Indonesia, antara lain:
J . P . Duyvendak, yang meneliti organisasi sosial masyarakat
Seram di Maluku; P . A . E . van W o u d e n , C. N o o t e m b o m , M . M .
Nicholspeyer, yang meneliti beberapa daerah di Nusa Tenggara
Timur; H . J . Fredericy dan R.E. Down yang meneliti organisasi
sosial di Sulawesi Selatan dan Tengah; H. Scharer yang meneliti
Kalimantan; Koes S a r d j o n o , yang meneliti mitologi anak gembala
di Jawa; dan lain-lain (Koentjaraningrat 1980: 205-207).

C. Levi-Strauss dalam menerapkan teori struktural-fungsional,


mempunyai konsep yang disebut konsep "segitiga kuliner".
Konsep ini bersumber dari logika berpikir dalam filsafat. Ia
berpendirian bahwa cara-cara berpikir elementer dari akal manu-
sia itu cenderung untuk mengklasifikasikan alam dan masyarakat
sekitarnya ke dalam dua golongan berdasarkan ciri-ciri yang kon-
tras, bertentangan, atau kebalikannya, yaitu suatu cara yang
disebut binary opposition (oposisi pasangan). Klasifikasi atas dua
golongan itu adalah misalnya: bumi-langit, hidup-maut, manusia-
binatang, manusia-dewa, pria-wanita, atau hitam-putih, kiri-
kanan, depan-belakang, kerabat-orang luar dan sebagainya.
Konsep elementer pembagian ke dalam dua golongan yang sifat-
nya relatif itu telah menimbulkan konsep akan adanya golongan
ketiga yang dapat menempati kedua kedudukan dalam kedua
pihak dari suatu pasangan binari. Pihak ketiga itu dalam cara ber-
pikir bersahaja dianggap merupakan suatu golongan antara yang
memiliki ciri-ciri dari kedua belah pihak, n a m u n tidak bercampur,
melainkan saling terpisah dalam keadaan yang berlainan. Dengan
demikian timbullah gagasan rangkaian segitiga, misalnya: manu-
sia-roh halus-dewa, hidup-maut-hidup di akhirat, bumi-gunung-

32

PNRI
langit, dan sebagainya. Konsep ini digunakan oleh Levi-Strauss
dalam menganalisa sistem kekerabatan dan mitologi.
Konsep Levi-Strauss yang terurai di atas diterangkannya dalam
bukunya yang berjudul The Savage Mind (1962), dan di dalam
bunga rampainya Struclural Anlhropology (1963). Bukunya yang
memuat analisanya tentang sistem kekerabatan dari enam suku
bangsa, yakni: Trobriand, Sinai, Debu, Kabutu, Cherkesa dan
Tonga, adalah buku yang berjudul The Elementary Slructures of
Kinship (1969); sedangkan bagaimana caranya menganalisa mito-
logi itu termuat di dalam bukunya yang berjudul The Siriicmrcil
Study ofMyth (1955).
Meskipun ketiga tokoh struktural-fungsional: Malinowski,
Radcliffe-Brown, dan Levi-Strauss, mempunyai kesamaan dalam
memandang masyarakat manusia dan kebudayaannya sebagai
kompleks unsur-unsur yang saling terkait antara satu sama lain
oleh adanya suatu asas masyarakat dan kebudayaan, tetapi
masing-masing saling berbeda. Jika Malinowski memandang asas
dari kompleks unsur-unsur kebudayaan itu terletak pada fungsi-
nya sebagai upaya manusia dalam rangka memenuhi dan memuas-
kan kebutuhan-kebutuhannya, maka Radcliffe-Brown meman-
dang asas dari kompleks unsur-unsur masyarakat itu terletak pada
struktur sosial yang melandasi tingkah laku interaksi manusia
dengan sesamanya dalam kehidupannya sehari-hari yang nyata,
baik yang bersifat timbal-balik langsung maupun tak langsung.
Sedangkan pada pandangan Levi-Strauss, baik asas dari kompleks
unsur-unsur masyarakat maupun asas dari kompleks unsur-unsur
kebudayaan, terletak pada sistem berpikir universal dari manusia
dan yang abstrak dan sering terpendam dalam sub sadarnya.
Pendekatan antropologi-psikologi yang dilakukan oleh R.F.
Benedict ialah mengembangkan konsep " p o l a k e b u d a y a a n " yang
bersumber dari pengetahuannya mengenai psikologi dan psiko-
analisa. Dengan konsepnya itu ia memandang bahwa kebudayaan-
kebudayaan manusia tidak hanya sebagai suatu himpunan dari
unsur-unsur saja yang terlepas satu sama lain, tetapi sebagai suatu
kompleks unsur yang saling terjaring, yang mengandung arti dan
memancarkan suatu watak atau jiwa. Arti watak atau jiwa yang

33

PNRI
terkandung di dalam segala adat-istiadat, cita-cita, anggapan-
anggapan, pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan emosi-emosi
dari sebagian besar individu dalam masyarakat itu adalah suatu
kesatuan. Jiwa dan watak tersebut itulah yang dimaksudkan oleh
Benedict dengan pauern of culture atau " p o l a k e b u d a y a a n . "
Konsepnya tentang pola kebudayaan ini digunakannya dalam
penelitiannya mengenai tiga suku bangsa, yaitu: suku bangsa
Pueblo di New Mexico, suku bangsa Dobu di Pulau Trobriand
dan suku bangsa Kwakiutl di pantai utara barat Amerika.

Konsep Benedict yang terurai di atas termuat di dalam bukunya


yang berjudul Patlems of Culture (1934). Selain itu ia juga
menulis sebuah buku hasil penelitian dengan menggunakan kon-
sepnya itu, ialah bukunya mengenai pola kebudayaan Jepang
dalam zaman Perang Pasifik, yang berjudul The Chrysantliemun
and Sword (1946). Kini kedua buku tersebut telah diterjemahkan
dalam bahasa Indonesia.

Pendekatan lain dari integrasi kebudayaan, ialah pendekatan


antropologi-religi. Salah satu pendekatan antropologi-religi
adalah kerangka lima komponen dari religi yang dikembangkan
oleh Koentjaraningrat, ahli antropologi Indonesia yang banyak
menulis mengenai teori antropologi sejak tahun lima puluhan
(1958) sampai dewasa ini (1980). Konsep dan kerangka lima kom-
ponen dari religi yang dikembangkan oleh Koentjaraningrat terse-
but di atas berasal dari teori dan konsep E. Durkheim (1912) ten-
tang asas religi. Menurut Durkheim asas atau inti dari suatu religi
adalah emosi keagamaan yang bersumber pada kesadaran kolektif
para warga klen, dan sebaliknya kesadaran kolektif mengintensif-
kan emosi keagamaan yang ditimbulkan dalam upacara-upacara
totem yang bersifat saere (keramat) itu.*'
Berdasarkan teori dan konsep Durkheim tersebut, maka untuk
keperluan analisa antropologi dan sosiologi, Koentjaraningrat

*) Teori dan konsep E. Durkheim tentang asas religi diuraikannya di dalam karyawan
sana berjudul Les lormes Elementuires r/e la Vie Relif-ieuse (1912) dan kini buku
tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Ihe elemenlary
forms of the religious life (1962) oleh Joseph Ward Swain.

34

PNRI
memecah konsep religi itu ke dalam lima k o m p o n e n yang mempu-
nyai peranannya sendiri-sendiri, tetapi m e r u p a k a n bagian-bagian
dari suatu sistem yang berkaitan erat satu dengan lain. Kelima
k o m p o n e n itu adalah: (1) emosi keagamaan; (2) sistem keyakinan;
(3) sistem ritus dan upacara; (4) peralatan ritus dan upacara; dan
(5) u m a t agama.
Emosi keagamaan merupakan suatu getaran yang menggerak-
kan jiwa manusia, yang menyebabkan manusia mempunyai serba
religi. Menurut Koentjaraningrat, k o m p o n e n emosi keagamaan
inilah yang m e r u p a k a n k o m p o n e n u t a m a dari gejala religi, yang
m e m b e d a k a n suatu sistem religi dari semua sistem sosial budaya
yang lain dalam masyarakat manusia.
Sistem keyakinan dalam suatu religi berwujud pikiran dan
gagasan manusia menyangkut keyakinan d a n konsepsinya tentang
sifat-sifat T u h a n , w u j u d dari alam gaib (kosmologi), terjadinya
.alam d a n dunia (kosmogoni), zaman akhirat (ecsyatologi), wujud
dan ciri-ciri kekuatan sakti, roh nenek moyang, roh alam, dewa-
dewa, roh j a h a t , h a n t u , dan makhluk-makhluk halus lainnya.
Kecuali itu sistem keyakinan juga menyangkut sistem nilai dan
sistem n o r m a yang mengatur tingkah laku manusia. Sistem ke-
yakinan tersebut biasanya terkandung dalam kesusastraan suci,
baik tertulis m a u p u n lisan, yang isinya berupa a j a r a n doktrin, taf-
siran, serta penguraiannya; d a n juga berupa dongeng-dongeng
suci dan mitologi dalam bentuk prosa dan puisi. Semua kesusas-
traan suci, dongeng suci dan mitologi di atas menceritakan dan
melukiskan kehidupan roh, dewa, dan makhluk-makhluk halus
dalam dunia gaib lainnya.
Sedangkan sistem ritus dan upacara berwujud aktivitas dan tin-
d a k a n manusia dalam melaksanakan kebaktiannya terhadap
T u h a n , dewa, roh nenek moyang, dan makhluk halus lainnya, dan
dalam usahanya untuk berkomunikasi dengan T u h a n dan peng-
huni dunia gaib lainnya itu. Aktivitas dan tindakan kebaktian di-
maksud biasanya berlangsung berulang-ulang, baik tiap hari, tiap
musim, m a u p u n kadang-kadang saja. Suatu ritus atau upacara
biasanya terdiri dari suatu kombinasi aktivitas dan tindakan,
seperti: berdoa, bersujud, bersaji, berkorban, m a k a n bersama,

35

PNRI
menari dan menyanyi, berprosesi, berseni-drama suci, berpuasa
intoxikasi, bertapa, dan bersamadi.
Dalam melaksanakan ritus dan upacara biasanya dipergunakan
aneka ragam sarana dan peralatan, seperti: tempat dan gedung
pemujaan (masjid, langgar, gereja, pagoda, stupa dan lain-lain),
patung dewa, patung orang suci, alat bunyi-bunyian suci, lonceng
dan lain-lain), dan para pelaku upacara seringkali harus mengena-
kan pakaian yang juga dianggap mempunyai sifat suci (jubah pen-
deta, jubah biksu, mukemah dan lain-lain).
Komponen kelima dari sistem religi adalah umatnya, atau kesa-
tuan sosial yang menganut sistem keyakinan dan yang melaksana-
kan sistem ritus serta upacara itu. Adapun kerangka lima kom-
ponen sistem religi dari Koentjaraningrat yang terurai di atas
terdapat di dalam buku beliau yang berjudul Sejarah Teori Antro-
pologi (1980: 80-83).
Akhirnya ada teori mengenai simbol sebagai sarana integrasi
unsur-unsur kebudayaan yang antara lain dikembangkan oleh C.
Geertz. Ahli antropologi Amerika yang banyak menulis mengenai
Indonesia ini, memandang setiap unsur-unsur suatu kebudayaan
juga sebagai suatu sistem simbol, dan ada satu unsur di antara
banyak unsur kebudayaan, yang berfungsi sebagai pusat yang
mengintegrasikan unsur-unsur lainnya, yakni unsur upacara.
Geertz berkata: upacara dengan sistem-sistem simbol yang ter-
dapat di dalamnya berfungsi sebagai pengintegrasi etos kebudaya-
an dan pandangan hidup. Konsep "integrasi sistem-sistem simbol"
ini digunakan oleh Geertz dalam menganalisa beberapa unsur
kebudayaan Jawa dan kebudayaan Maroco (Geertz 1973; 1983).
Dengan " s i m b o l " di sini dimaksud oleh Geertz sesuatu yang dapat
berupa sebagai: benda, peristiwa, kelakuan atau tingkah laku
seseorang, dan berupa ucapan-ucapan (Geertz 1973: 91-94).*»
Sedangkan unsur-unsur kebudayaan sebagai sistem-sistem simbol

*) Definisi dan keterangan-keterangan yang lain mengenai simbol itu dapat juga dilihat:
A . N . Whitehead 1928: 12-15; L.A. White 1940: 451-463; 1949: 22-39; E. Cassirer 1944:
25; 1955: 60; S.K. Langer 1951: 60; M. Eliade 1952; 47-166; 1957: 136-138; G. Reichel-
Dolmatoff 1971: 94-124; R. Firth 1975: 77-79; R . H . Hook 1979: 267-292; S.T. Achen
1981; dan T. Chetwynd 1982.

36

PNRI
telah diuraikan oleh Geertz, dalam bukunya yang berjudul Local
Knowledge: Further Essays in Interpretive Anthropology (1983).
Dengan berbagai kerangka teori dan konsep-konsep ini, saya
melihat bahwa pada kebudayaan Tolaki ada sistem-sistem simbol
yang berfokus pada simbol utama atau simbol penting yang men-
jadi pengintegrasi sistem-sistem simbol, yang beroperasi pada
tingkat-tingkat yang berbeda-beda, yang tercermin baik pada
tingkat upacara maupun pada tingkat kehidupan di luar upacara.

Simbol utama yang saya maksud di sini adalah kalo orang


Tolaki. Kalo pada tingkat upacara berfungsi mengungkapkan
sesuatu atau beberapa aspek integrasi antara orientasi nilai
budaya, etos atau jiwa kebudayaan dan pandangan hidup manusia
penganut kebudayaan yang bersangkutan, yang merupakan
unsur-unsur yang paling hakiki bagi eksistensi kebudayaan manu-
sia, berfungsi juga untuk mengungkapkan kaitannya dengan
simbol-simbol lain yang digunakan manusia, dan berfungsi juga
untuk menjembatani hubungan timbal-balik antara manusia
dengan lingkungan sosialnya, dan dengan lingkungan alam seki-
tarnya. Kalo pada tingkat kehidupan biasa di luar upacara ber-
fungsi mewujudkan asas-asas pembagian dua dan pembagian liga
yang tercermin dalam bentuk kategori-kategori simbolik dua dan
tiga, dan berfungsi juga sebagai unsur tertinggi dari unsur-unsur
serta sub unsur kebudayaan Tolaki yang lain, sehingga menyebab-
kan semua unsur kebudayaannya saling berkaitan satu dengan
yang lain. Dengan perkataan lain, kalo sebagai ide dalam
kebudayaan Tolaki adalah lambang dari orientasi nilai budaya-
nya, etosnya dan pandangan hidupnya, dan lambang dari bahasa-
nya sebagai alat ekspresi dan komunikasi, demikian halnya sistem
ekonomi, sistem teknologi, organisasi sosial, sistem pengetahuan,
sistem religi, dan kesenian.

4. STUDI L A P A N G A N

Lokasi Penelitian. Pengumpulan bahan-bahan mengenai bebe-


rapa unsur kebudayaan Tolaki dalam rangka penulisan disertasi

37

PNRI
ini, saya lakukan pada beberapa lokasi, yaitu p a d a delapan buah
desa dalam wilayah Kabupaten Kendari d a n Kabupaten Kolaka.
Lima buah desa terletak di Kabupaten Kendari, dua desa di anta-
ranya dalam kota, yaitu: Kemaraya d a n Wua-wua; dan tiga desa
lainnya di daerah pedalaman, yaitu: Tawanga, Sambeani, dan
Meraka. Tiga buah desa terletak di Kabupaten Kolaka, satu desa
di antaranya dalam kota, yaitu Watuliandu, dan dua desa lainnya
di daerah pedalaman, yaitu W u n d u l a k o d a n Mowewe (lihat Peta
1).

Penetapan lokasi penelitian secara selektif tersebut, saya


lakukan atas pertimbangan b a h w a desa-desa tersebut merupakan
contoh dari banyak desa yang paling dominan didiami oleh orang
Tolaki.

Para Informan. Saya juga memilih sejumlah informan dengan


cara demikian, yaitu beberapa camat dan kepala desa dari
kalangan orang Tolaki sebagai pejabat pemerintah; dan sejumlah
tokoh adat, yang disebut putobu (bekas kepala distrik), tono-
motuo (bekas kepala kampung), pabitara (bekas hakim adat), dan
tolea (juru bicara dalam urusan perkawinan); serta sejumlah
d u k u n , yang disebut mbuakoi (dukun umum), mbusehe ( d u k u n
padi), dan mbuowai (dukun penyakit).

Selain dari beberapa informan tersebut, saya juga memilih enam


i n f o r m a n kunci, ialah A. H a m i d H a s a n , Arsjamid, dan Husen A.
Chalik, masing-masing tinggal di kota Kendari; dan A b d . Rachim,
Nehru D u n d u , dan Mangarati, masing-masing tinggal di Kolaka.*'
Penetapan enam informan kunci tersebut juga didasarkan p a d a
pertimbangan bahwa mereka adalah orang Tolaki yang terpan-
dang banyak mengetahui seluk beluk kalo dan beberapa hal yang
ada hubungannya dengan unsur-unsur kebudayaan Tolaki.

*) Identitas dari para informan tersebut tercantum dalam Daftar Nama Informan (lihat
hlm. 473-414)

38

PNRI
Sumber: Dibuat berdasarkan Rencana Penelitian Lapangan

PETA. 1. LOKASI PENELITIAN

39

PNRI
Data Ktnografi. Sebagai orang Tolaki pada dasarnya saya tentu
memiliki pengetahuan secara umum mengenai masyarakat dan
kebudayaan Tolaki. Perhatian secara khusus mengenai kalo ini
timbul sejak saya bekerja dalam p a m o n g p r a j a di daerah ini mulai
tahun 1965 dan sebagai anggota DPRD-1 pada 1971-1976; di
waktu itu, saya selalu mengadakan kunjungan di tempat pada
hampir semua desa di Sulawesi Tenggara.
Namun kegiatan penelitian saya mengenai kalo yang pada mula-
nya bersifat eksploratif itu nanti dimulai pada 1976, yakni ketika
menjelang persiapan saya untuk memulai studi S3 dalam bidang
antropologi. Pengumpulan data secara lebih mendalam berlang-
sung selama sembilan bulan dari Pebruari sampai September
j 979,.)
Untuk mengungkapkan apa makna simbolik kalo bagi orang
Tolaki berdasarkan kerangka teori dan konsep yang saya guna-
kan, maka saya tidak mengumpulkan semua sub unsur dari unsur
kebudayaan dalam kehidupan sosial-budaya orang Tolaki, tetapi
saya membatasi diri pada unsur-unsur yang penting untuk dikait-
kan dengan kalo, dan pada mengenai lingkungan alam, asal mula
dan persebaran orang Tolaki, mengenai kerajaan dan identitas
orang Tolaki, mengenai penduduk dan perkiraan jumlah orang
Tolaki, serta mengenai kontaknya dengan suku bangsa lain.
Bahan mengenai kalo yang dikumpulkan adalah meliputi, an-
tara lain: asal mula kalo dan perkembangannya, arti istilah kalo

*) Istilah "etnografi" berasal dari ethnos (suku bangsa, bangsa), dan graphein (pelukis-
an), yang berarti "pelukisan tentang bangsa-bangsa," suatu istilah yang umum
dipakai di Eropa Barat untuk menyebut " b a h a n keterangan yang termaktub dalam
karangan-karangan tentang masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar
Eropa, serta segala metode untuk mengumpulkan dan mengumumkan bahan itu"
(Koentjaraningrat 1979: 22). Data etnografi mengenai suku bangsa Tolaki yang pernah
ditulis oleh orang Belanda dan Jerman itu saya muat pada Bibliografi. Bahan-bahan
tersebut sempat saya kumpulkan dalam bentuk fotocopy yang saya peroleh sebagian di
Musium Pusat Jakarta, dari teman saya orang Belanda Dinah Bergink dari Amster-
dam, dan sebagian lagi dari Lihrary Store, ANU Canberra, Australia, ketika saya
beberapa bulan belajar di sana.
Saya melaksanakan pengumpulan data tersebut, setelah saya dinyatakan memenuhi
syarat oleh Ketua Jurusan Antropologi Fakultas Sastra UI untuk meneruskan studi Sj
ini pada 10 Januari 1979.

40

PNRI
itu sendiri, bahan pembuatannya, bentuk, macam, dan bagian-
bagiannya, penggunaan dan peranannya dalam banyak aspek
kehidupan masyarakat Tolaki, proses upacara di mana kalo itu
digunakan, makna simbolik pada kalo, baik dalam konteks upa-
cara maupun di luar upacara, dan sikap orang Tolaki terhadap
kalo masa kini.
Beberapa unsur kebudayaan Tolaki yang penting untuk dikait-
kan langsung dengan kalo adalah: (1) bahasa dan alat komunikasi,
yang meliputi bahan mengenai ciri-ciri menonjol dari bahasa ini
menurut wilayah geografi dan menurut lapisan sosial pemakainya;
(2) sistem ekonomi, yang meliputi mata pencaharian, sistem tek-
nologi dan produksi, konsep dan sistem pemilikan, tukar-
menukar dan redistribusi, dan integrasi berbagai sistem ekonomi;
(3) sistem teknologi pembuatan alat-peralatan dan perlengkapan
hidup, yang meliputi jenis alat-peralatan dan perlengkapan hidup,
bahan dasar pembuatannya, dan teknik pembuatannya; (4) orga-
nisasi sosial, yang meliputi sistem kekerabatan, komuniti dan pola
pemukiman, stratifikasi sosial, serta organisasi kerajaan dan
pemerintahan masa kini; (5) sistem pengetahuan, yang meliputi
konsepsi-konsepsi mengenai T u h a n , dewa, roh, kesaktian, alam,
manusia, hidup dan maut, serta hari akhirat; (6) sistem religi, yang
meliputi agama, sistem keyakinan, dan sistem upacara; dan (7)
kesenian, yang meliputi jenis kesenian, alat-alat kesenian, dan
beberapa motif perhiasan.
Dalam pengumpulan bahan-bahan terurai di atas, saya telah
menempuh tiga macam teknik, yakni: (1) observasi biasa dalam
mengamati misalnya: jalannya upacara-upacara dan rentetan ke-
giatan di dalamnya; (2) wawancara bebas dan mendalam mengenai
banyak hal, antara lain mengenai arti, makna simbol-simbol
dalam kalo, baik dalam konteks upacara maupun di luar upacara
dalam kehidupan ke hari-hari, demikian simbol-simbol lainnya;
dan (3) mengedarkan daftar pertanyaan untuk dijawab oleh
responden dalam rangka saya mensurvei mengenai sikap orang
Tolaki masa kini terhadap kalo, dengan teknik sampling.
Sesuatu atau beberapa hal yang belum jelas yang berkaitan
dengan gejala yang diamati, saya catat untuk dijadikan salah satu

41

PNRI
rangkaian dari hal-hal yang perlu saya wawancarakan dengan in-
f o r m a n . Wawancara dengan seorang informan, selain saya laku-
kan di rumahnya, juga dilakukan di rumah kepala desa, dan juga
sewaktu-waktu wawancara itu saya lakukan di rumah saya sendiri.
Khususnya untuk mengisi jawaban responden atas daftar per-
tanyaan yang saya siapkan, saya mendapat bantuan dari beberapa
mahasiswa Unhalu, yang sebelumnya saya latih dalam cara berha-
dapan dengan responden.
Kartu catatan, alat potret dan alat rekaman adalah alat-alat
yang saya gunakan untuk mencatat bahan-bahan observasi dan in-
formasi, menfoto peristiwa upacara dan alat-alat upacara, dan
merekam mantera-mantera atau doa-doa.
Survei mengenai Sikap Orang Tolaki Masa kini terhadap nilai
dan Peranan Kalo. Dalam usaha mengumpulkan bahan mengenai
sikap orang Tolaki terhadap nilai kalo dan peranannya, setelah
suku bangsa ini mengalami nilai-nilai baru sebagai akibat dari
dinamika sosial dan perubahan budaya,*» saya menggunakan me-
tode kuesioner dan untuk itu perlu menyusun sampel dari orang
Tolaki. Cara menyusun sampel itu adalah dengan menetapkan
suatu sampel yang sangat minimal, yang saya tarik berdasarkan
tabel Confident Belt for Proportiom dengan probabilitas 95% dan
batas eror 4% (Koentjaraningrat 1977:135) dalam stratifikasi:
jenis kelamin pria—wanita (50% : 50%); beragama Islam—Protes-
tan (91% : 9%); tingkat umur pemuda—orang tua (67% : 33%);
dan tingkat pendidikan tidak terpelajar (tidak sekolah dan tidak
tamat SD) dan terpelajar (tamat SD, tamat S L T P / S L T A , sarjana)
yang berbanding (93% : 7%).**)

Perincian jumlah responden dari tiap stratifikasi terurai di atas,


saya cantumkan dalam Bagan 1. Jumlah responden 384 dimaksud ter-

*) Mengenai adanya dinamika perubahan budaya dari suatu suku bangsa lihat buku
Malinowski, The Dynamics of Cuitural Change (1961).
**) Prosentase-prosentase perbandingan antara dua-dua stratifikasi di atas, saya susun
berdasarkan komposisi jumlah penduduk Sulawesi Tenggara (menurut jenis kelamin,
agama, umur, tingkat pendidikan) pada 1980 (Sulawesi Tenggara Dalam Angka 1980).

42

PNRI
sebar pada delapan desa di lokasi penelitian. Di lima desa di
Kabupaten Kendari berjumlah 248 (62,5%) responden, dan di tiga
desa di Kabupaten Kolaka berjumlah 136 (37,5%).*)

BAGAN 1. JUMLAH RESPONDEN (MENURUT JENIS KELAMIN,


AGAMA, UMUR, DAN TINGKAT PENDIDIKAN)

Keterangan: N = Jumlah Responden; Pr = Pria; Wn = Wanita; Is = Islam; Kr =


Kristen Protestan; Pm = P e m u d a (20-39 th); Ot = Orang tua (40 th ke atas);
Tt = Tidak terpelajar (tidak sekolah, tidak tamat SD); T = Terpelajar
(tamat SD, Tamat S L T P / S L T P , Sarjana).

*) Demikian juga prosentase perbandingan antara jumlah responden di Kabupaten Ken-


dari dan Kabupaten Kolaka, saya tarik berdasarkan jumlah penduduknya masing-
masing (Sulawesi Tenggara dalam Angka 1980).

43

PNRI
5. U R A I A N S I N G K A T ISI DISERTASI
Isi disertasi ini terdiri atas 11 bab. Sesudali uraian mengenai
pendahuluan pada bab I kemudian disusul dengan uraian menge-
nai gambaran umum Sulawesi Tenggara dalam bab II, bab-bab
berikutnya mulai dari bab III sampai bab VIII adalah uraian-urai-
an mengenai tujuh unsur kebudayaan Tolaki, yaitu bahasa, mata
pencaharian, sistem teknologi tradisional, sistem kekerabatan,
sistem politik dan stratifikasi sosial, kosmologi dan sistem-sistem
keagamaan, dan kesenian. Bab IX mengenai sistem klasifikasi
simbolik, bab X mengenai fungsi kalo, dan bab XI adalah penu-
tup.
Pada pendahuluan saya kemukakan latar belakang, fokus dan
ruang lingkup, beberapa teori dan konsep sebagai pendekatan,
dan metode pengumpulan data. Sedangkan pada gambaran umum
Sulawesi Tenggara saya memberikan uraian mengenai lingkungan
alam Sulawesi Tenggara, asal mula dan persebaran orang Tolaki,
administrasi pemerintahan di Sulawesi Tenggara, dan mengenai
kontak hubungan dengan dunia luar. G a m b a r a n umum ini dapat
merupakan bahan bagi pengenalan pertama mengenai orang
Tolaki sebelum kita memasuki uraian-uraian selanjutnya
mengenai kebudayaan dan kalo orang Tolaki itu.
Uraian mengenai bahasa Tolaki berkisar pada beberapa ciri
khas mengenai fonem, m o r f e m , dan sintaksis bahasa Tolaki;
bahasa Tolaki dan persebarannya; penggunaan bahasa Tolaki dan
sistem penggolongannya; dan kalo sebagai bahasa simbolik.
Uraian mengenai mata pencaharian orang Tolaki berkisar menge-
nai bercocok tanam di ladang, menanam padi di sawah, berkebun
tanaman jangka panjang, berburu dan beternak, hak atas pemilik-
an, tukar menukar redistribusi benda-benda ekonomi, integrasi
berbagai sistem ekonomi, dan asas mata pencaharian orang Tolaki
yang saya hubungkan dengan kalo.
Uraian mengenai sistem teknologi tradisional orang Tolaki ber-
kisar pada jenis alat-peralatan, bahan dasar pembuatan dari tiap
alat-peralatan, tehnik-tehnik dan upacara pembuatannya, dan
asas teknologi tradisional orang Tolaki yang dikaitkan dengan

44

PNRI
kalo. Uraian mengenai sistem kekerabatan dan sistem politik dan
stratifikasi sosial berkisar pada tipe sistem kekerabatan orang
Tolaki, keluarga inti dan kelompok kekerabatan, dan lingkaran
hidup; dan sistem politik kerajaan, pola-pola pemukiman, stratifi-
kasi sosial, dan sistem politik dikaitkan dengan kalo.
Uraian mengenai kosmologi dan sistem-sistem keagamaan meli-
puti konsepsi-konsepsi orang Tolaki mengenai alam semesta dan
isinya, dan asal manusia; demikian mengenai Tuhan, dewa, roh,
dan manusia; dunia nyata dan dunia gaib: kekuatan sakti dan
kekuatan sosial; dan mengenai sistem-sistem keagamaan dan
upacara-upacaranya; dan hubungan antara sistem keagamaan
orang Tolaki dengan kalo. Uraian mengenai kesenian tradisional
orang Tolaki berkisar pada seni sebagai ekspresi keagamaan, prin-
sip-prinsip penataan dan perhiasan ruang, dan bentuk-bentuk ke-
senian, serta hubungan antara kesenian orang Tolaki dengan kalo.
Uraian mengenai sistem klasifikasi simbolik orang Tolaki meli-
puti klasifikasi simbolik dua dan tiga, dan kalo sebagai simbol dari
klasifikasi dua dan tiga. Uraian khusus mengenai kalo meliputi
kalo sebagai ide dalam kebudayaan dan sebagai kenyataan dalam
kehidupan orang Tolaki, sebagai fokus kebudayaan dan penginte-
grasi unsur-unsur kebudayaan Tolaki, sebagai pedoman hidup un-
tuk terciptanya ketertiban moral dan sosial, dan sebagai pemer-
satu atau mediator untuk pertentangan-pertentangan atau yang
bertentangan.
Uraian penutup merupakan pernyataan dan penjabaran dari apa
yang telah dibahas dalam bab-bab terdahulu, telah m e n u n j u k k a n
bahwa kalo adalah fokus kebudayaan Tolaki yang berfungsi
sebagai pengintegrasi unsur-unsur kebudayaan Tolaki itu. Dalam
kesimpulan itu saya juga menunjukkan bagaimana implikasi pen-
tingnya kalo sebagai fokus kebudayaan bagi studi-studi mengenai
dinamika dan perubahan kebudayaan, atau bagi studi-studi lain-
nya mengenai kebudayaan, atau bagi studi-studi lainnya mengenai
kebijaksanaan program-program pembangunan berdasarkan kon-
sep-konsep dan teori-teori menyangkut integrasi kebudayaan.

45

PNRI
II
GAMBARANUMUM

1. L I N G K U N G A N A L A M S U L A W E S I T E N G G A R A
O r a n g Tolaki mendiami wilayah daerah Kabupaten Kendari dan
Kabupaten Kolaka di Sulawesi Tenggara. Keduanya adalah
masing-masing bekas wilayah Kerajaan Konawe dan Kerajaan
Mekongga. Dalam kedua wilayah kabupaten ini terdapat 22
kecamatan, 210 buah desa. Dua kabupaten lainnya dari empat
kabupaten di Sulawesi Tenggara adalah Kabupaten Buton dan
Kabupaten M u n a . Dua kabupaten tersebut pertama berada pada
wilayah daratan Sulawesi Tenggara, dan dua kabupaten berikut-
nya berada pada wilayah kepulauan di bagian selatan (Pemda
Sultra 1977-1978).
Wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara ini berada pada posisi 120°
45 dan 124° 6' B.T. dan pada posisi 3° dan 6° L.S. Sebagai
bagian dari wilayah Kepulauan Indonesia dan bagian dari Pulau
Sulawesi, wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara berbatasan dengan
Propinsi Sulawesi Tengah dan Propinsi Sulawesi Selatan pada
sebelah utara, Laut Banda pada sebelah timur, Laut Flores pada
bagian selatan, dan Teluk Bone pada bagian barat (lihat Peta 2).
Luas wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara meliputi 38.140 km-,
suatu wilayah yang c u k u p luas untuk suatu jumlah penduduk yang
sangat kurang (831.554 jiwa), di mana luas wilayah Kabupaten
Kendari dan Kabupaten Kolaka meliputi 26.110 km 2 dengan pen-
duduk 371.445 jiwa yang di dalamnya termasuk orang Tolaki.
P e r m u k a a n bumi wilayah propinsi ini, khususnya wilayah
Kabupaten Kendari dan Kabupaten Kolaka terdiri dan ditandai
oleh gunung-gunung dan lembah daratan yang luas, yang ditutupi

46

PNRI
P E T A 2: Geografi Kabupaten Kendari
dan Kabupaten Kolaka

47

PNRI
hutan lebat tetapi juga belukar dan alang-alang akibat perladang-
an liar oleh penduduk; sedangkan wilayah Kabupaten Buton dan
Kabupaten Muna terdiri dari pulau-pulau yang mengandung batu
karang dan ditumbuhi hutan bakau. Pada hampir seluruh wilayah
propinsi ini mengalir sungai-sungai yang bermuara pada pantai-
pantai laut yang cukup indah untuk obyek pariwisata. Sama hal-
nya dengan lain-lain daerah di Indonesia, daerah ini mengalami
musim h u j a n dalam waktu antara bulan Desember sampai Mei,
dan musim kemarau pada bulan Juni sampai Nopember setiap
tahun. Namun kadang-kadang dialami adanya musim kemarau
panjang dan hujan lokal. Suhu rata-rata antara 25° —27° C; curah
hujan pada musim hujan rata-rata 2000 mm dan pada musim ke-
marau rata-rata 500 mm, sedangkan hari hujan rata-rata 13 hari
pada musim hujan, dan rata-rata enam hari pada musim kemarau
(Treffers 1914: 195; Pemda Sultra 1977 — 1978; Kadit Agraria
Sultra 1977-1978).
Dipandang dari sudut kekayaan alam wilayah Sulawesi Teng-
gara dapat dipandang memang kaya. Kekayaan ini berupa: ke-
kayaan hutan, kekayaan laut, sungai dan rawa, dan kekayaan
bahan mineral. Dari sekian banyak kekayaan alam tersebut di atas
saya perlu menyebut beberapa di antaranya yang dipandang khas
bagi daerah Sulawesi Tenggara, yakni: (1) jenis-jenis kayu mahal
seperti kayu jati, kayu hitam (ebony), kayu bayam (intsiabyuga),
dan kayu damar (agaiha spp); (2) berbagai jenis ikan seperti ikan
cakalang (auxistezard), ikan teri (Stolephorus), cumi-cumi, serta
hasil laut lainnya; teripang, agar-agar, mutiara; dan (3) berbagai
jenis bahan tambang seperti nikkel dan aspal (Treffers 1914:
188-200; Pemda Sultra 1977: 10).
Topografi tanah tampak berbukit-bukit bersambung dengan pe-
gunungan, yang di tengahnya ada danau; ditumbuhi hutan lebat
berwarna kelabu, tanahnya kemerahan yang merupakan kom-
pleks tanah yang subur, permukaan tanah yang sedikit bertingkat-
tingkat dan berombak-ombak, dan lembah daratan yang dikeli-
lingi oleh gunung (lihat Peta 3).
Orang Tolaki pada umumnya suka memilih tempat pemukiman
pada lokasi-lokasi tertentu di daratan yang "tidak jauh dari

48

PNRI
Sumber: Direktorat Agraria Propinsi Sulawesi Tenggara, 1980

PETA 3. T O P O G R A F I T A N A H DI KABUPATEN KENDARI DAN DI KABUPATEN


KOLAKA PROPINSI SULAWESI T E N G G A R A

49

PNRI
gunung, dekat sebuah sungai dan ada juga yang tinggal tidak j a u h
dari pantai. Daratan luas ditumbuhi hutan rimba, di sana hidup
sejumlah jenis hewan buruan seperti: rusa, anuang, ayam hutan,
dan hewan ternak seperti: kerbau, kuda, kambing, maupun hewan
yang sewaktu-waktu menjadi musuh mereka dan hama tanaman
seperti: ular, babi, dan kera. Gunung-gunung penuh dengan ber-
bagai jenis kayu yang berguna bagi kebutuhan mereka sehari-hari
dan untuk kebutuhan perdagangan. Sungai dan rawa penuh
dengan ikan tawar yang dapat dimanfaatkan, juga berperanan
sebagai prasarana transportasi. Sewaktu-waktu sungai yang besar
seperti Konawe 'eha dan Lasolo dapat banjir dan meluap di
musim h u j a n dan tidak jarang menghanyutkan kompleks pe-
mukiman mereka. Areal alang-alang yang begitu luas sebagai
akibat perladangan liar oleh penduduk, menyebabkan sewaktu-
waktu timbul erosi.
Lingkungan hidup yang demikian potensinya itu, dan kurang
mendapat kunjungan dari luar, kecuali petugas dari pemerintah,
menyebabkan orang Tolaki hidup secara terisolasi, sedangkan
jarang ada orang Tolaki yang merantau ke daerah lain seperti
orang Buton, Muna, atau orang Bugis misalnya.*

2. ASAL M U L A D A N P E R S E B A R A N O R A N G TOLAKI

2.1. Asal Mula Orang Tolaki dan Berdirinya Kerajaan


Dari manakah asal mula orang Tolaki dan kapankah mereka
bermukim di daratan Sulawesi Tenggara ini, belum dapat kita
ketahui secara pasti, walaupun kita bisa membuat suatu dugaan.
Untuk hal itu saya menggunakan empat buah cerita rakyat,
yakni: (1) Oheo, yang menceritakan bahwa orang pertama nenek
moyang suku bangsa Tolaki berasal dari Pulau Jawa, khususnya
dari daerah kaki Gunung A r j u n a , kemudian kawin dengan Ana-

*) Lingkungan alam tempat pemukiman orang Buton, orang M u n a , demikian orang Bugis
di Bone, yang kurang potensinya untuk pertanian itu, menyebabkan bahwa ada di
antara mereka yang harus hidup sebagai nelayan dan pelajar.

50

PNRI
wai Nggu/uri, salah seorang dari tujuh gadis bidadari bersaudara
yang berasal dari langit; (2) Pasa'eno, yang menceritakan bahwa
ia adalah putra dari Wesande, seorang wanita tanpa suami, yang
menjadi hamil karena minum air yang tertampung pada daun
ketika ia memotong pandan di hutan rimba di pegunungan hulu
Sungai Mowewe (Kruijt 1922: 694; Van der Klift 1925: 68-69); (3)
Wekoila dan Larumbatangi, yang menceritakan tentang dua orang
bersaudara kandung wanita-pria, yang turun dari langit dengan
menumpang pada sehelai sarung (Treffers 1914: 203; Kruijt 1921:
962); dan (4) Onggabo, yang menceritakan tentang seorang laki-
laki raksasa yang berasal dari sebelah timur melalui Sungai Kona-
we'eha, dan yang datang di Olo-Oloho, ibu kota pertama kerajaan
Konawe, dan kawin dengan Elu, cucu Wekoila (Treffer 1914).*»

Hasil analisa yang akan lebih mendekati kebenaran mengenai


bahan-bahan tersebut, secara obyektif hanya dapat dicapai apa-
bila dilakukan penelitian kerja sama dengan para ahli linguistik,
filologi, dan arkeologi. Namun demikian untuk sementara saya
menduga bahwa orang Tolaki itu datang ke wilayah daratan Sula-
wesi Tenggara ini dari arah utara dan timur. Mungkin mereka
yang datang dari arah utara itu berasal dari Tiongkok Selatan
yang melalui Pilipina Kepulauan Mindanao, Sulawesi Utara, Hal-
mahera dan Sulawesi bagian timur, terus memasuki muara Sungai
Lasolo atau Sungai Konawe'eha dan akhirnya memilih lokasi
pemukiman pertama di hulu sungai itu, yakni pada suatu lembah
yang luas, yang dinamakan Ando/aki (Sarasin 1905: 374; Kruijt
1921: 428).
Orang Tolaki pada mulanya menamakan dirinya Tolahianga
(orang dari langit).**» Mungkinkah yang dimaksudkan di sini
dengan istilah "langi't" adalah kerajaan langit, yakni Cina seperti
yang dimaksudkan oleh M. Granat (Needhan 1973: 53). Kalau

*) Teks lengkap dari keempat cerita rakyat itu tercantum dalam Lampiran I).
**) Istilah Tolangianga terdiri dari kata asal hianga yang berarti "langit, kayangan," to
berarti " O r a n g , " dan Ia adalah awal dari suatu nama. Jadi Tolangianga berarti orang
langit, turun dari langit (Keterangan dari Informan: A. Hamid Hasan).

51

PNRI
demikian maka mungkinkah kata hiu yang dalam bahasa Cina
berarti " l a n g i t " dihubungkan dengan kata heo (Tolaki) yang ber-
arti "ikut pergi ke langit." Mereka yang datang dari arah selatan
mungkin berasal dari Pulau Jawa melalui Buton dan Muna dan
memasuki muara Sungai Konawe'eha, d a n ' t e r u s memilih lokasi
pemukiman di Toreo, di L o n d o n o , dan di Besulutu.

Seperti apa yang telah disebutkan di atas menurut cerita


mitologi, Kerajaan Konawe dan Kerajaan Mekongga masing-
masing didirikan oleh dua orang bersaudara kakak-adik, ialah
Wekoila dan Larumbalangi. Pusat Kerajaan Konawe mula-mula
berlokasi di Olo-Oloho di pinggir Sungai Konawe'eha di desa
Uepai yang sekarang, kemudian pindah ke U n a ' a h a . Adapun
Kerajaan Mekongga, mula-mula berlokasi di Bende, dan kemu-
dian pindah ke Wundulako. Mula-mula raja bergelar Mokole,"]
tetapi lama kemudian untuk Raja Mekongga, gelar itu berubah
menjadi Bokea.**] Kerajaan Konawe pernah tenggelam karena
wabah penyakit yang digambarkan sebagai keganasan biawak
raksasa dan kerbau berkepala dua, yang menghabiskan manusia di
Konawe, demikian juga kekalutan dalam Kerajaan Mekongga
digambarkan sebagai keganasan burung garuda.

Dalam situasi demikian datanglah Latuanda, seorang dukun,


dan menyelamatkan penduduk dari wabah yang digambarkan se-
bagai pembunuh biawak dan kerbau tersebut. Sementara itu tiba-
lah Onggabo yang mengawini gadis, sisa wabah, bernama Elu,

*) Gelar mokole ini tidak hanya dipakai oleh orang Tolaki, tetapi juga oleh orang Mori,
orang Bungku, orang Luwu di Baibunta, dan Morenene. Menurut orang tua-tua istilah
mokole berasal dari kata kole yang berarti " p e r a h u " , dengan awalan mo. Ada juga
yang berpendapat lain ialah bahwa gelar itu berasal dari kata mokolelei yang berarti
" m a m p u mengunjungi orang b a n y a k . " Moko berarti " d a p a t " , lelei berarti "mengun-
junginya atau mengelilinginya," dan ada pula yang mengatakan bahwa gelar itu
berasal dari kata oleo yang berarti " m a t a h a r i " dengan awalan moko menjadi
moko'oleo yang kemudian berubah menjadi mokole, maksudnya " o r a n g yang sifat-
sifatnya identik dengan m a t a h a r i " .
**) Istilah bokeo berarti " b u a y a , " maksudnya seseorang raja yang ditakuti karena kekua-
saannya, laksana takutnya orang terhadap buaya. Ada juga berpendapat bahwa istilah
yang berarti buaya ini, maksudnya adalah raja yang menguasai wilayah pinggir laut.

52

PNRI
gelar Kambuka Sioropo Korembutanodan dari perkawinan itu
lahirlah putra-putri Onggabo yang keturunannya kemudian mene-
ruskan babat tanah Konawe. Mereka dikenal oleh penutur silsilah
raja-raja sebagai nama-nama yang tersusun dengan tata urut seba-
gai berikut, yaitu: Sangia Mbina'uti, Sangia Inato, dan Sangia
NggiboburuSituasi yang sama terjadi di Mekongga di mana
penduduk negeri Mekongga diselamatkan oleh Larumbalangi
setelah ia memimpin usaha pemulihan kekalutan yang digambar-
kan sebagai pembunuhan burung kongga (garuda) itu. Jadilah ia
raja pertama Kerajaan Mekongga, dan diteruskan kemudian oleh
cucu-cucunya, yang berturut-turut bernama Mumualo, Lomba-
Lombosa a t a u Sangia Nilulo, dan Laduma a t a u Sangia
Nibandera*** (Kruijt 1922: 692).

Hal yang sukar diketahui dengan pasti adalah masa pemerintah-


an dari tiap raja tersebut. Suatu kekecualian adalah Raja Sangia
Ngginoburu dan Raja Sangia Nibandera yang masa pemerintahan-

*) Elu berarti "yatim-piatu, sisa satu-satunya"; kambuka ialah ijuk, maksudnya ram-
but wanita"; sioropo ialah sembilan depa panjangnya, maksudnya " r a m b u t yang
paling panjang dari seorang gadis yang cantik rupawan"; dan korembutano adalah
turunan Raja Konawe dari dinasti Wekoila.
**) Istilah sangia berarti " d e w a , " yang dipakai untuk menyebut seorang raja setelah
mangkat. Menurut kepercayaan orang Tolaki roh seorang raja setelah meninggal
pergi ke langit dan berdiam di sana sebagai dewa langit. Istilah mbina'uti berasal dari
kata pau yang berarti " p a y u n g , " dengan sisipan in dan akhiran ti menjadi pina'uti
atau mbina'uti setelah kata ini didahului oleh kata sangia, yang berarti raja yang
dipayungi, maksudnya raja yang selalu dipayungi di mana-mana ia pergi, Istilah inato
berasal dari kata ate yang berarti " a t a p " dengan awalan in menjadi inato yang berarti
" d i a t a p i , " maksudnya raja yang setelah mangkat, mayatnya disimpan dalam sebuah
rumah khusus, seperti yang dimaksudkan oleh Sarasin (1905: 352) sebagai Totenhaus
bei Meraka. Istilah nginoburu berasal dari kata keburu yang berarti " k u b u r " dengan
sisipan in menjadi konoburu atau ngginoburu setelah kata ini didahului oleh kata
sangia, yang berarti raja yang dikuburkan menurut aturan Islam. Kuburan raja
tersebut masih ada sekarang di Una'aha, ibu kota Kerajaan Konawe.
***) Raja Laduma dengan gelar Sangia Nibandera, maksudnya: raja yang diberi hadiah
bendera dari Datuk Luwu atas jasanya membantu Kerajaan Luwu memenangkan
peperangan antara Kerajaan Luwu dan Kerajaan Sopeng. Sedangkan istilah laduma
itu sendiri berasal dari kata duma yang berarti " j u m a d , " maksudnya: Laduma
adalah raja pertama Mekongga yang menganut agama Islam. Demikian dikisahkan
oleh raja-raja di Mekongga. Bendera tersebut masih tersimpan oleh ahli warisnya di
Wundulako.

53

PNRI
nya dapat diperkirakan p a d a zaman Islam berdasarkan cerita se-
j a r a h setempat, bahwa kedua R a j a Tolaki itu adalah raja-raja
yang pertama setelah meninggal dikubur secara Islam.*» Hingga
kini k u b u r a n dari kedua raja tersebut masih ada dan dipelihara
oleh t u r u n a n n y a .
Sebelum d u a kerajaan ini berdiri, telah ada beberapa kerajaan
kecil, yaitu: Padangguni, Besulutu, T a m b o s u p a , Wawolesea,
L a m b o d a n Konde'eha. Menurut para penutur silsilah raja-raja,
hingga kini masih terdapat sisa-sisa peninggalan dari kerajaan-
k e r a j a a n kecil tersebut, baik sebagai peninggalan arkeologi
m a u p u n etnografika, misalnya reruntuhan istana R a j a Wawolesea
di Toreo. Menurut cerita sejarah kerajaan-kerajaan ini bubar
karena peperangan antara satu sama lain atau karena serang-
an dari k e r a j a a n lain di luar Sulawesi Tenggara, misalnya pepe-
rangan antara Padangguni dengan Besulutu, yang menyebabkan
timbulnya Kerajaan Konawe, antara Wawolesea dengan Kerajaan
Banggai, dan antara L a m b o dengan K o n d e ' e h a yang menyebab-
kan timbulnya Kerajaan Mekongga.

2.2. Wilayah Persebaran Orang Tolaki


Dari Andolaki inilah orang Tolaki kemudian terpencar ke utara
sampai Routa, ke barat sampai Konde'eha liwat Mowewe dan
L a m b o kemudian ada yang sampai di Mekongga, ke selatan sam-
pai di Olo-Oloho atau Konawe liwat Ambekaeri d a n Asinua, dan
ke timur sampai di L a t o m a dan Asera. Orang Tolaki yang ber-
mukim pertama di L a n d o n o dan Besulutu kemudian menyebar ke-
wilayah sebelah timur meliputi wilayah m u a r a Sungai Konawe'eha
dan Sungai Lasolo, ke wilayah sebelah selatan meliputi wilayah
Kendari selatan di P u ' u n g g a l u k u , Tinanggea, Kolono, dan
M o r a m o , dan ada yang menyeberang ke Pulau Wawoni'i (Pingak
1963).
Orang Tolaki yang berdiam di wilayah Kerajaan Mekongga di
Kabupaten Kolaka sekarang m e n a m a k a n dirinya orang Mekong-

*) Cerita sejarah ini dikisahkan oleh A. Hamid Hasan.

54

PNRI
ga, dan mereka yang berdiam di wilayah Kerajaan Konawe, yakni
bagian wilayah Kabupaten Kendari sekarang* menamakan dirinya
orang Konawe, dan mereka yang berdiam di wilayah pesisir hulu
Sungai Konawe'eha bagian utara Kerajaan Konawe dan bagian
utara Kerajaan Mekongga menamakan dirinya orang To Laiwui
(lihat Peta 4).

3. ADMINISTRASI P E M E R I N T A H DI SULAWESI TENG-


GARA

3.1. Pemerintahan Zaman Kolonial Belanda dan Pendudukan


Jepang
Mula datangnya Belanda di Sulawesi Tenggara ini, khususnya di
tanah Tolaki ini dan kerja sama dengan Raja Konawe bersama de-
ngan rakyatnya diawali dengan suatu kontrak pada hari Senin, 21
Desember 1885, suatu kontrak yang ditandatangani oleh masing-
masing pihak Belanda, ialah Bensbach dan Faber van Straten, dan
pihak Tolaki, ialah Raja Laiwui, Sapati, dan Kapitan (IG 1888:
165-171). Menurut kisah orang-orang tua di kalangan orang
Tolaki kontrak ini diadakan dalam rangka menenangkan hati
rakyat yang tidak menerima kedatangan Belanda di daerahnya.
Dua puluh tahun kemudian ialah tahun 1905 orang Tolaki melan-
jutkan perlawanan terhadap Belanda yang berakhir 1916 dengan
diadakannya perjanjian 1917. Perjanjian ini ditandatangani oleh
masing-masing pihak: pihak Belanda, oleh G.G. van Reil dan T.B.
Houdhar; dan pihak orang Tolaki, oleh Sao-Sao, La Tombili, dan
Rakawula. Sao-Sao diangkat menjadi Raja Laiwui (1917-1928)
yang kemudian digantikan oleh putranya Tekaka (1928-1955).
Ketika Belanda datang di daerah ini, kedua kerajaan tersebut
telah lama mengalami kekalutan. Tidak dilantiknya mokole baru,
pengganti Mokole Lakidende gelar Sangia Ngginoburu setelah
mangkat dan pemerintahan kerajaan dijalankan oleh Suleman-
dara, menyebabkan dua wilayah kerajaan, yakni wilayah sebelah
timur di Ranome'eto dan wilayah sebelah barat di Latoma me-
misahkan diri lepas dari pusat Kerajaan di U n a ' a h a . Mereka tidak

55

PNRI
PETA 4: Persembahan Orang Tolaki

56

PNRI
mau tunduk terhadap kepemimpinan Sulemandara. Demikian
halnya pada Kerajaan Mekongga setelah tidak adanya pengganti
Bokeo Laduma gelar Sangia Nibandera, wilayah Kerajaan
Mekongga bagian sebelah utara juga berontak. Kondisi negatif
demikian d i m a n f a a t k a n oleh Belanda untuk menguasai. Berhasil-
lah Belanda m e m b u j u k Sao-Sao, Sapati di Ranome'eto untuk ber-
satu dengan Belanda m e m a d a m k a n perlawanan orang Tolaki
terhadap Belanda. Sebagai jasanya, ia menjadi Raja Laiwui, suatu
kerajaan baru untuk menenggelamkan Kerajaan Konawe.
Struktur wilayah Kerajaan Konawe sebagai SiwoleMbatohu dan
Pitu Dula Batu serta Tolu Mbulo Anakia Mbutobu*] dirubah
menjadi sebagai wilayah-wilayah distrik. Gelar Mokole sebagai
gelar raja diganti dengan gelar sangia. Jabatan sapati tetap, hanya
beralih wilayah dari Ranome'eto ke Abuki, demikian halnya
jabatan ponggawa dari berlokasi di T o n g a ' u n a beralih ke Po'asia.
Jabatan-jabatan lainnya semuanya ditiadakan. Pada tingkat
wilayah kampung, yakni jabatan tonomotuo, pabitara, posudo
tetap dipertahankan sebagai pemangku adat, dan untuk urusan
pemerintahan umum diangkat Kepala Kampung, dan Sareang
sebagai Wakil Kepala Kampung. J a b a t a n - j a b a t a n : lama/aki, o
ladu, mbu'akoi, mbuowai, mbusehe**) tidak lagi merupakan pim-
pinan resmi tetapi sisa sebagai pemangku adat. Jabatan-jabatan
resmi dalam struktur Kerajaan Konawe yang ditiadakan tersebut
karena pejabat-pejabatnya nyata-nyata menentang Belanda, se-
d a n g k a n j a b a t a n - j a b a t a n yang tetap d i p e r t a h a n k a n adalah
mereka yang berjasa terhadap Belanda, paling kurang karena
mereka mengakui penunjukan Sao-Sao, Sapati di Ranome'eto
selaku Raja Laiwui oleh Belanda.
Jepang mendarat di Kendari 24 Januari 1942. Terjadi pertem-
puran antara tentara Jepang dengan sisa-sisa Belanda yang masih
tinggal di Kendari. Berkuasalah Jepang di daerah ini sampai 14
Agustus 1945. Setelah Jepang kalah pada Sekutu pada 1945,
N1CA masuk di Kendari. Kembalinya Belanda di daerah ini seba-

*) Arti dari istilah-istilah Tolaki ini lihat hlm. 181-187


**) Arti istilah-istilah Tolaki ini lihat hlm. 181-182.

57

PNRI
gai NICA ditentang oleh penduduk. Dengan senjata rampasan
dan dengan semangat heilio dari Jepang, penduduk mengadakan
perlawanan terhadap NICA dalam rangkaian perjuangan Repu-
blik Indonesia mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17
Agustus 1945.
Pada masa pendudukan Jepang di daerah ini hampir tak ada
perubahan, kecuali berupa penggantian beberapa istilah wilayah
kekuasaan dan jabatan penguasa ke dalam istilah bahasa Jepang,
misalnya: istilah afdeeling diganti dengan istilah ken, demikian
onderafdeeling diganti dengan istilah bun ken, yang masing-
masing nama jabatannya adalah Ken Kan Rikan, dan Bun Ken
Kan Rikan. Istilah distrik atau onderdistrik diganti dengan istilah
gun, demikian istilah kampung, diganti dengan istilah son, yang
masing-masing nama jabatannya adalah Gunco, dan Sonco (lihat
IDKD 1980: 3).
Dalam zaman kekuasaan Belanda dan Jepang, baik Kerajaan
Konawe maupun Kerajaan Mekongga menjadi hancur. Kerajaan
Konawe tenggelam dan muncul kerajaan baru yang diberi nama
Kerajaan Laiwui, yang kemudian merupakan bagian dari Afdeel-
ing Buton en Laiwui di Bau-Bau. Kerajaan Laiwui sendiri beribu
kota di Kendari. Kerajaan Mekongga dimasukkan ke dalam
Afdeeling Luwu en Mekongga di Palopo. Kerajaan Mekongga
sendiri beribu kota di Kolaka.

3.2. Administrasi Pemerintahan di Sulawesi Tenggara Dewasa Ini


Sejak 27 April 1964 Sulawesi Tenggara terbentuk sebagai pro-
pinsi berpisah dari Propinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara,
dengan ibu kotanya Kendari.*' Sejak terbentuknya hingga
sekarang propinsi ini terdiri dari empat kabupaten, yaitu
Kabupaten Kendari dengan ibu kota Kendari, Kabupaten Buton
dengan ibu kota Bau-Bau, Kabupaten Kolaka dengan ibu kota
Kolaka, dan Kabupaten Muna dengan ibu kota Raha.

*) Sulawesi Tenggara terbentuk sebagai propinsi dengan Perpu Nomor 2 Talnm 1%4
juncto Undang-undang N o m o r 13 Tahun 1964.

58

PNRI
Pada saai itu keempat kabupaten dari propinsi ini hanya terdiri
atas 40 kecamatan, dan 391 desa, 4 ) dengan perincian sebagai
berikut: (1) Kabupaten Kendari 12 kecamatan, yakni, Tinanggea,
Lainea, W a w o n i ' i , M o r a m o , R a n o m e ' e t o , Lambuya, W a w o t o b i ,
S a m p a r a , Kendari, Lasolo U n a ' a h a , dan Asera; (2) Kabupaten
Buton 15 kecamatan, yakni: Binongko, T o m i a , Kaledupa, Wangi-
wangi, Lasalimu, Pasar W a j o , Sampolawa, Batauga, Wolio,
Kapuntori, G u , Mawasangka, Kabaena, Poleang, dan Rumbia;
(3) Kabupaten Kolaka 6 kecamatan, yakni: W u n d u l a k o , Tira-
wuta, Mowewe, Kolaka, Lasusua, dan Pakue; dan (4) Kabupaten
M u n a 7 kecamatan, yakni: Tiwori Kepulauan, Kabawo, Lawa,
T o n g k u n o , Katobu, W a k o r u m b a , dan Kulisusu. Kini jumlah 40
kecamatan itu telah dimekarkan menjadi 45 kecamatan, yakni: 3
kecamatan di Kabupaten Kendari: M a n d o n g a , Poasia, dan
Sorupia; dan 2 kecamatan di Kabupaten Buton, yakni: Betoam-
bari, dan Surawolio. Demikian juga j u m l a h desa mengalami
pemekaran pada setiap tahun sehingga jumlah 391 desa pada 1967
menjadi 696 desa pada 1982, dengan perincian: di Kabupaten Ken-
dari 257 desa, di Kabupaten Buton 210 desa, di Kabupaten Kolaka
119 desa, dan di Kabupaten Muna 110 desa (STDA 1982: 10-14).

G u b e r n u r Kepala Daerah sebagai administrator dan kepala


pemerintahan sejak terbentuknya propinsi ini telah dijabat
berturut-turut oleh J. Wayong, La Ode Hadi dan J a c o b Silondae
selaku Wakil G u b e r n u r , E. Sabara, Abdullah Silondae, dan kini
sedang dijabat oleh Alala. J. Wayong dari Sulawesi Utara, Arifin
Sugianto dari Sulawesi Selatan, dan lain-lainnya dari Sulawesi
Tenggara. Pimpinan DPRD-I selaku unsur pemerintah daerah se-
jak terbentuknya propinsi ini telah dijabat berturut-turut oleh:
Sjafiuddin (ketua) dan M u h . D j a f a r (wakil ketua); La Ode Manar-
fa (ketua) dan A. Hamid Hasan (wakil ketua); Abdullah Silondae
(ketua), Madjid J u n u s dan La Ode Maliki (masing-masing wakil
ketua); dan kini sementara dijabat oleh: Madjid J u n u s (ketua),

*) Jumlah ini adalah hasil penggabungan dari 2013 kampung yang letaknya sangat ter-
pencil dan jarang penduduknya.

59

PNRI
Amir Sayito dan La Ode Abdul Aziz (wakil-wakil ketua).

Dalam menjalankan fungsi-fungsi administrasi pemerintahan


dan tugas-tugas pembangunan di daerah ini, baik unsur pemerin-
tah daerah m a u p u n ' u n s u r aparat pusat di daerah, banyak meng-
alami h a m b a t a n , kesulitan, dan tantangan sebagai akibat dari
kondisi sosial-budaya dan ekonomi masyarakat setempat yang
masih terkebelakang. Dengan kondisi sosial-budaya dan ekonomi
di sini saya maksud tingkat pendidikan yang masih rendah, sikap
mental tradisional, sistem perekonomian rakyat tradisional, letak
pemukiman penduduk yang terpencar-pencar, alat komunikasi
dan transportasi yang terbatas, dan kurangnya tenaga manusia un-
tuk mengolah potensi alam yang ada. Kondisi keterbelakangan
tersebut disadari oleh pimpinan pemerintahan setempat sehingga
tampaknya dalam menjalankan tugas-tugas administrasi pemerin-
tahan dan pembangunan di daerah ini kondisi yang dimaksud
dijadikannya cambuk bagi usaha-usaha mengejar ketinggalan.
Jika J. W a j o n g baru dapat melakukan rehabilitasi-rehabilitasi
sarana pemerintahan desa, sarana pendidikan, dan sarana per-
ekonomian rakyat karena rusak akibat kekacauan sebelumnya
selama lebih kurang 10 tahun, kemudian dilanjutkan oleh La Ode
Hadi, maka E. Sabara, gubernur pada periode Repelita I dipan-
dang oleh masyarakat Sulawesi Tenggara sebagai pimpinan peme-
rintahan yang telah dapat meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi
pembangunan daerah ini selanjutnya. E. Sabara menitikberatkan
pembangunan di daerah ini pada sektor transmigrasi dan pe-
mukiman penduduk, serta sektor pendidikan tinggi. E. Sabara di-
anugerai suatu gelar tradisional yang disebut Mandarano Wonua
oleh DPRD-I Sulawesi Tenggara. Abdullah Silondae selaku
gubernur berikutnya hanya melanjutkan apa yang telah dilakukan
oleh E. Sabara. Satu hal yang agak spesifik dalam menjalankan
tugas administrasi pemerintahan dan pembangunan di daerah

*) Mandarano Wonua itu berarti: " O r a n g yang ahli dalam pemerintahan di Sulawesi
Tenggara." Penganugrahan gelar ini ditetapkan dalam Keputusan DPRD-I Sulawesi
Tenggara Nomor 2 Tahun 1979.

60

PNRI
ini adalah gagasan dari Alala, Gubernur Kepala Daerah sekarang,
yaitu apa yang disebut "Gersamata" (Gerakan Desa M a k m u r
Merata), yaitu suatu gagasan yang oleh Alala dititikberatkan
pada usaha nyata dalam meningkatkan produktivitas ekonomi
rakyat di pedesaan, dengan memakai pendekatan yang sesuai
dengan potensi di desa yang bersangkutan dalam menetapkan
sasarannya, dan pendekatan yang terintegrasi dalam pelaksanaan-
nya oleh pemerintah daerah dan unsur-unsur dinas dan jawatan di
daerah bersama-sama dengan warga masyarakat desa itu sendiri.
Gagasan ini dirumuskan oleh Alala secara sadar karena ia ber-
tekad untuk membawa masyarakat Sulawesi Tenggara ini siap
"tinggal l a n d a s " pada Repelita VI mendatang.*'
Aparat pemerintah sebagai pelayan u m u m masyarakat dalam
menjalankan tugas-tugas administrasi pemerintahan dan opera-
sional pembangunan di daerah ini pernah kurang memperhatikan
f a k t o r adat-istiadat setempat sehingga a k i b a t n y a warga
masyarakat setempat tidak begitu aktif berpartisipasi dalam
kegiatan pembangunan. Hal ini segera disadari oleh pemerintah
setempat, dan kini hambatan itu telah mulai diatasi.

4. K E P E N D U D U K A N DI SULAWESI T E N G G A R A
Data sensus dan statistik Daerah Sulawesi Tenggara 1961
m e n u n j u k k a n bahwa jumlah penduduk Propinsi Sulawesi Teng-
gara itu hanya meliputi 559.595 jiwa. Sampai 1982 jumlah itu
mencapai 1.009.538 jiwa, yang tersebar dalam wilayah-wilayah di
keempat kabupaten, yaitu: di Kabupaten Kendari 340.441 jiwa, di
Kabupaten Buton 331.057 jiwa, di Kabupaten Kolaka 159.796
jiwa, dan di Kabupaten M u n a 178.244 jiwa. Jumlah penduduk di
Sulawesi Tenggara itu kecil dibandingkan dengan jumlah pen-
duduk propinsi-propinsi lain di Indonesia. Di Kabupaten Kendari
dan Kabupaten Kolaka jumlah itu hanya meliputi 200.237 jiwa di
mana di dalamnya termasuk orang Tolaki (Tabel 1).
Rata-rata laju pertumbuhan penduduk di Sulawesi Tenggara

*) Gagasan ini diuraikan oleh Alala, di dalam Buku Gerakan Desa M a k m u r Merata (GER-
S A M A T A ) di Sulawesi Tenggara (1984).

61

PNRI
selama 10 t a h u n pertama 1961 — 1971 adalah 2 , 5 % ; dan 10 tahun
terakhir 1971 — 1981 adalah 3 , 1 % . Laju p e r t u m b u h a n penduduk
demikian tidak hanya karena kelahiran tetapi terutama masuknya
transmigrasi Jawa dan Bali, yang sampai 1982 telah mencapai
jumlah 91.933 jiwa. J u m l a h penduduk di Sulawesi Tenggara
dibandingkan dengan luas wilayahnya 38.140 km 2 m e n u n j u k k a n
kepadatan penduduk per-km 2 adalah 15 jiwa (1961), 19 jiwa
(1971), dan 25 jiwa (1980). P e n d u d u k di daerah ini lebih banyak
tersebar di wilayah Kabupaten Buton dan M u n a daripada di
Kabupaten Kendari dan Kabupaten Kolaka (STDA 1982): 16-29).
P e n d u d u k Sulawesi Tenggara terdiri atas penduduk asli, yaitu
orang Tolaki yang bermukim di daratan Sulawesi Tenggara, di
wilayah Kabupaten Kendari dan Kabupaten Kolaka; orang Buton
dan orang M u n a yang masing-masing bermukim di Kepulauan

T A B E L 1.
JUMLAH PENDUDUK DAERAH PROPINSI (MENURUT KABUPATEN
DAN TAHUN)

Kabupaten
Tahun Jumlah
Buton Muna Kendari Kolaka

1 2 3 4 5 6

1961 252.262 111.766 159.478 35.088 559.595


1971 300.434 154.024 189.968 69.694 714.120
1972 301.274 155.035 197.871 77.533 731.713
1973 291.668 156.585 203.908 92.508 744.669
1974 295.330 157.837 205.410 98.671 757.248
1975 293.862 156.914 217.065 100.529 768.370
1976 304.337 163.646 247.564 109.772 825.319
1977 306.308 163.772 251.191 110.529 831.554
1978 305.028 165.291 255.888 118.291 844.498
1979 311.793 164.561 270.023 122.657 869.034
1980 317.124 174.057 306.675 144.446 942.302
1981 323.195 176.801 331.423 155.220 986.639
1982 331.057 178.244 340.441 157.796 1.009.538

Sumber: Sulawesi Tenggara Dalam Angka (1982: 17).

62

PNRI
Buton dan M u n a ; dan sejumlah penduduk pendatang dari Sula-
wesi Selatan (Bugis, Makasar, T o r a j a ) , dari Sulawesi Utara (Mina-
hasa dan Sangir), dari Sulawesi Tengah (Bungu dan Mori), dari
A m b o n , dan dari Pulau Jawa d a n Bali sebagai transmigran. Pen-
duduk pendatang itu pada u m u m n y a bermukim di kota-kota pada
keempat kabupaten di Sulawesi Tenggara. Kecuali penduduk
transmigran memilih tempat p e m u k i m a n pada wilayah Kabupaten
Kendari dan Kabupaten Kolaka.
Untuk mengetahui jumlah dari tiap variasi penduduk itu dengan
pasti adalah mustahil, karena data statistik suku bangsa, baik
pada kantor desa m a u p u n pada kantor sensus tidak ada. N a m u n
demikian khusus untuk jumlah orang Tolaki sebagai suatu per-
kiraan dapat saja ditetapkan dengan menggunakan data etnis Sen-
sus 1930 (Volkstelling 1930) di mana orang Tolaki pada saat itu
berjumlah sekitar 102.619 orang (2,46% dari jumlah penduduk
Sulawesi Selatan dan Tenggara 1930) dan yang dapat dihitung
dengan menggunakan standar rata-rata kenaikan penduduk sam-
pai 1961 (1,05%) dan sampai 1977 (2,04%). Dengan demikian
jumlah orang Tolaki hingga 1978 diperkirakan berkisar 147.333
jiwa (40% dari jumlah penduduk Kabupaten Kendari dan
Kabupaten Kolaka). P a d a 1913 pernah dicatat adanya 13.560
orang wajib p a j a k p a d a 16 distrik dalam wilayah Kerajaan Laiwui
atau Kabupaten Kendari sekarang (Treffers 1914 : 202).

Dengan bertambahnya jumlah p e n d u d u k Sulawesi Tenggara ini


menjadi 941.634 jiwa (BPS 1980 : 190 — 191) dan dengan jumlah
penduduk Kabupaten Kendari dan Kabupaten Kolaka yang men-
jadi 450.863 jiwa, m a k a dengan sendirinya j u m l a h orang Tolaki
mengalami k e t a m b a h a n pula, ialah kira-kira menjadi 150.427
jiwa.

5. HUBUNGAN ORANG TOLAKI DENGAN SUKU-SUKU


B A N G S A LAIN DI I N D O N E S I A
L a m a sebelum ada campur tangan pemerintah j a j a h a n Belanda
di. Sulawesi Tenggara dalam 1885, orang Tolaki telah biasa
mengadakan hubungan dengan daerah-daerah Bungku, Mori,

63

PNRI
Moronene, M u n a , Buton, Tarnate, A m b o n dan Timor. Sesudah
itu juga ada hubungan dengan orang T o r a j a , Bugis, Makassar,
Minahasa, dan orang Jawa yang datang sebagai transmigran.
Kontak dengan suku bangsa lain itu menjadi lebih intensip setelah
Indonesia merdeka hingga dewasa ini dengan masuknya penduduk
dari Pulau Jawa dan Bali sebagai transmigran sejak 1967.
Di kalangan orang Tolaki tua-tua masih biasa terdengar suatu
ungkapan yang menggambarkan adanya hubungan-hubungan itu,
demikian bunyinya: uluno o Goa, worokono o Bone, wotoluno
Konawe, huleno Wolio, kareno Tarinate, yang artinya: kepalanya
Goa, lehernya Bone, tubuhnya Konawe, jantungnya Wolio,
kakinya Tarnate. Ada juga yang menambahkan dengan ponduno
o Luwu, panino Mandara, yang artinya: mulutnya Luwu, sayap-
nya Mandar. Apa makna ungkapan ini masih harus diselidiki lebih
lanjut. Menurut orang Tolaki ungkapan ini menggambarkan
seekor ayam yang mereka namakan manu rasa wula (ayam jantan
keemasan), yang dipotong dan dibagi oleh Sawerigading dengan
cara demikian.^ Menurut hemat saya, ayam jantan keemasan me-
lambangkan kekuasaan Sawerigading yang dibagi-bagikan kepada
putra-putranya yang menjadi raja pada tiap wilayah tersebut
ataukah simbol watak dan kepribadian dari tiap suku-bangsa ini,
dan ataukah bahwa kebudayaan suku-suku bangsa di Sulawesi
dan Maluku ini merupakan satu kebudayaan yang telah saling
pengaruh-mempengaruhi karena faktor teritorial, histori, dan
secara mitologi oleh ikatan k e k e l u a r g a a n dari dinasti
Sawerigading.
Kedatangan suku-suku bangsa tersebut di tanah Tolaki ini
selain karena motif mencari nafkah melalui perdagangan dan per-
tanian, juga untuk mengajarkan agama Islam. Dalam rangka itu
terutama orang Bungku, Buton, Bugis dan Makasar dari Selayar,
yang datang mengajarkan kepandaian mengaji Al Quran kepada
penduduk. Adapun orang Cina yang juga datang ke daerah ini,

*) Ungkapan ini sering saya dengar dari H. Hasan di Ambaipua, H. Masnur P u u w a t u di


Mandonga, Lowa di W u n d u l a k o , M u h a m m a d Saleh di Mowila, L a t a m o r o di Rate-
Rate, W u t o g o di Tawanga, dan Labawo di Pehanggo.

64

PNRI
memilih tempat di pinggir pantai misalnya: di Lasolo, di Tinang-
gea, di Wolo untuk membuka toko dan membeli hasil hutan dan
hasil laut, berupa rotan, damar, kulit hewan, tanduk, agar-agar,
dan ikan teripang (Treffers 1914: 188-200)
Seperti halnya dengan adat beberapa suku bangsa di Nusantara
antara lain: orang Batak, T o r a j a , Dayak, dan beberapa suku
bangsa di Irian, pada orang Tolaki ada unsur adat yang disebut
oleh Belanda "koppensnellen" (mengayau, penggal kepala).
Dalam rangka kontak antara suku bangsa sering terjadi peristiwa
perang. Namun perang itu berakhir dengan suatu perdamaian
yang menghasilkan suatu ikatan persahabatan. Dalam banyak
cerita sejarah dari kalangan orang tua-tua masih diperoleh
keterangan mengenai hal ini (Sarasin 1905: 374-375); Schuurmans
1934: 211).
Pada dasarnya orang Tolaki tidak suka merantau ke negeri lain
secara perseorangan atau dalam bentuk satu keluarga kecuali
apabila mengikuti pemimpin atau rajanya yang pindah, seperti
yang terjadi ketika Haluoleo pergi ke Muna dalam proses kepin-
dahannya ke Buton untuk menjadi Sultan di sana. Haluoleo mem-
bawa 40 keluarga orang Tolaki dan bermukim di salah satu desa di
Muna, yaitu desa Konawe. Pada zaman Belanda, karena tidak
senang terhadap p e n j a j a h , ada yang mengungsi ke Pulau Banggai
dan ke propinsi Sulawesi Tengah bagian Timur. Tadulako, yang
kini menjadi nama universitas di Sulawesi Tengah, kata orang
Tolaki, adalah nama seorang panglima perang orang Tolaki yang
menetap di Sulawesi Tengah.*' Kini telah banyak orang Tolaki
pergi merantau untuk menempuh pendidikan, menjadi pegawai,
atau masuk tentara, misalnya di Ujung Pandang, Manado, Am-
bon, Surabaya, Jakarta; dan ada juga wanita Tolaki yang pergi ke
negeri Belanda untuk mengikuti suaminya orang Belanda yang
menjadi tentara.

*) Kisah mengenai Tadulako ini berasal dari informan A. Hamid Hasan, dan Abdullah
(bekas Camat Ranome'eto Kabupaten Kendari).

65

PNRI
III
BAHASA TOLAKI

1. BEBERAPA CIRI KHAS BAHASA TOLAKI


Penelitian terhadap bahasa Tolaki belum banyak dilakukan
oleh para Sarjana, kecuali H. van der Klift yang pernah menulis
karangan dengan judul Mededeelingen overde tua/ van Mekongga
(1918),"' dan suatu naskah yang ditulis oleh M . J . Gouveloos
dengan judul Spraakkunsl der Tolaki*") yang tak diterbitkan. Saya
sendiri, atas permintaan Lembaga Pembinaan Bahasa dan Sastra
Indonesia dan Daerah, pernah menulis sebuah karangan yang ber-
judul Imbuhan dalam Bahasa Tolaki (1973) untuk menjadi bahan
seminar yang pada waktu itu diadakan di Jakarta. Atas biaya Pro-
yek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Sulawesi
Selatan, J . F . Pattiasina dkk. telah meneliti bahasa Tolaki ini dan
menulis dua karangan dengan judul Struktur Bahasa Tolaki
(1978), dan Morfologi dan Sintaksis Bahasa Tolaki (1982).***'
Dari beberapa bahan hasil penelitian tersebut, khususnya
penelitian saya sendiri dan Pattiasina dkk. ada suatu kesimpulan
sementara sebagai berikut:
1. Ciri-ciri fonologi dalam bahasa Tolaki itu adalah ciri-ciri yang
menunjukkan bahwa bahasa ini adalah bahasa vokalis. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa fonem vokal dalam bahasa Tolaki
terdiri atas lima vokal tunggal (V), yaitu:

*) Judul itu berarti: "catatan-catatan tentang bahasa M e k o n g g a " . Orang Mekongga


adalah orang Tolaki di Kolaka.
**) Judul itu berarti: " T a l a Bahasa T o l a k i " .
***) Kedua karangan ini masih dalam bentuk naskah stensil.

66

PNRI
Contoh penggunaan dalam kata dari tiap fonem tersebut di atas
tercantum dalam Lampiran II. 1. Penggunaan fonem vokal dalam

*) Vokal: ii, ee, aa, oo, dan uu, dalam penulisan kata-kata dalam Bahasa Tolaki yang ter-
dapat dalam karangan ini, ditulis dalam b e n t u k ! , e, a, 5, u.
**) Model pengelompokkan fonem konsonan di atas, saya mengikuti model K.L. Pike
(1963: 7).

67

PNRI
silabe tampak dalam struktur satu kata (KV), dua suku kata
(KVKV, VKV, KVV), tiga suku kata (KVKVKV, VKVKVKV, KV-
VKVKV, KVKVVKV, dan KVKVKVV). Ciri vokalis itu terutama
terlihat dalam penggabungan fonem vokal dalam suku kata yang
bisa berjumlah dua, tiga, dan empat suku kata.
2. Di dalam pembentukan kata maka yang digunakan adalah im-
buhan (affixes) yang terbagi atas awalan <prefix), akhiran (suffix),
dan sisipan (infix), serta sejumlah imbuhan kombinasi (simulfix).
Contoh: ka + awalan mo- menjadi: monggu (makan);
ka + sisipan -in- menjadi: kina (nasi);
ka + akhiran -/' menjadi: kui (makanlah),
ka + imbuhan kombinasi: me- , -in- , -ako menjadi:
mekina'ako (nasi sebagai bekal).
Masing-masing imbuhan tersebut terdiri atas: 17 buah, 2 buah, 6
buah, dan 15 buah. Selain itu terdapat juga sejumlah imbuhan
persona, yang meliputi: persona nominatif 11 buah, persorta aku-
satif enam buah, dan persona posesif 11 buah, serta beberapa
morfem aspek yang terletak pada sebelum dan sesudah imbuhan
persona (lihat Lampiran II.2)
3. Dalam proses pembentukan kata ditemui bentuk perubahan-
perubahan morfofonemis yang menyangkut: p, t, k, menjadi: mb,
nd, ngg, apabila diawali dengan morfem mo-, po-, atau di dalam
gabungan kata tertentu sebagai kompositum (lihat Lampiran III).
Contoh itu adalah sebagai berikut:
/ p / - paku - mombakw, / t / - ta'a - monda'; / k / - ka - mongga\
/ p / - paku - pow&aku; / t / - t a ' a - ponda'a; / k / - ka - pongga.

4. Ciri-ciri struktur kalimat dalam bahasa Tolaki adalah ciri-ciri


yang m e n u n j u k k a n gejala inversi, reduplikasi. Gejala inversi tam-
pak tidak hanya pada struktur (SP) dan (SPO) tetapi juga pada
struktur (WSPOL), yaitu: waktu (keterangan waktu), Subyek,
Obyek, dan Lokasi (keterangan tempat). Sedangkan gejala
reduplikasi tampak pada struktur hubungan kalimat dengan
kalimat dalam suatu konteks cerita. Selain ciri-ciri tersebut di atas,

68

PNRI
P E T A 5: Perse barali Baliasa Tolaki

69

PNRI
t a m p a k juga bahwa kalimat diklasifikasikan ke dalam d u a
golongan, yaitu kalimat inti, dan kalimat t u r u n a n . Kalimat inti
dengan struktur klausa intransitif, transitif, dan ekuasional; dan
kalimat turunan adalah kalimat yang diturunkan dari pola kalimat
inti melalui proses sintaksis transformasi. Kalimat ini dapat
membentuk kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat negatif atau
kalimat pasif (lihat Lampiran IV).

2. BAHASA TOLAKI DAN PERSEBARANNYA


Bahasa Tolaki adalah salah satu bahasa yang tergolong dalam
keluarga bahasa Bungku-Laki (Kruijt 1921). Di dalam keluarga
bahasa itu termasuk pula bahasa Mori. Bahasa Tolaki bersama
dengan bahasa M a p u t e , Landawe, Moronene, dan bahasa Laiwui
termasuk kelompok bahasa Bungku (Esser 1927). Sedangkan
bahasa Tolaki itu sendiri mempunyai paling sedikit dua dialek,
yaitu dialek bahasa Konawe, dan dialek bahasa Mekongga.
Bahasa Mori terdiri atas bahasa-bahasa di sekitar Danau M a t a n a .
P e n d u d u k yang berbahasa Tolaki sebagai cabang dari keluarga
bahasa Bungku-Laki yang berpusat di wilayah sekitar Danau
M a t a n a bergeser ke arah selatan di hulu Sungai Lasolo dan
Konawe'eha yang mula-mula berlokasi di Andolaki, lokasi pemu-
kiman pertama orang Tolaki. Selanjutnya bahasa ini bergeser' ke
timur sampai di pesisir Sungai Lasolo dan Sungai Lalindu di
Kecamatan Asera; ke tenggara sampai di wilayah-wilayah
Kecamatan Mowewe, Tirawuta, L a m b u y a , U n a ' a h a , Wawotobi,
Lasolo, Sambara, M a n d o n g a , Kendari, R a n o m e ' e t o , P u ' u n g g a -
luku, Tinanggea, M o r a m o , dan Wawoni'i; ke selatan sampai di
wilayah Kecamatan W u n d u l a k o dan Kolaka; dan ke barat sam-
pai di wilayah Kecamatan Lasusua dan P a k u e (lihat Peta 5).

3 . P E N G G U N A A N B A H A S A T O L A K I DAN P E N G G O L O N G -
ANNYA
Ditinjau dari segi lapisan sosial pemakainya, dalam bahasa
Tolaki seperti juga banyak bahasa yang lain, tampak bervariasi ke

70

PNRI
dalam beberapa gaya. Orang Tolaki sendiri membedakan adanya
tiga jenis bahasa Tolaki, yaitu: tulura anakia (bahasa golongan
bangsawan), tulura lolo (bahasa golongan menengah), dan tulura
ata (bahasa golongan budak).
Bahasa golongan bangsawan adalah bahasa yang dipakai dalam
berkomunikasi antara sesama golongan bangsawan. Jikalau se-
orang dari golongan menengah atau dari golongan budak ber-
bicara yang ditujukan kepada seseorang golongan bangsawan
maka ia juga menggunakan kata-kata dalam bahasa bangsawan.
Contoh bahasa bangsawan misalnya perkataan: ipetaliando ing-
gomiu mombe'ihi, artinya: wahai engkau yang dipertuan diper-
silakan mengisi. Maksudnya: silakan makan. Jika kata "silakan
m a k a n " ini diucapkan dalam bahasa golongan menengah yang di-
lakukan oleh seorang golongan menengah untuk sesamanya,
maka akan demikian: leundo ponga, artinya: marilah makan.
Contoh lain: ipe'ekato inggomiu mekoli, artinya: silakan tuan
naik keranjang untuk beristirahat, maksudnya: tidur; jika kata
" t i d u r " ini diucapkan dalam bahasa golongan menengah, maka
akan berbunyi: lakoto poi'so artinya: pergi tidur. Bahasa
bangsawan ini dalam wujudnya penuh dengan aturan sopan san-
tun. Bahasa ini juga disebut bahasa mombokulaloi (melebihkan,
meninggikan), bahasa mombe'owose (membesarkan), bahasa
metabea (memohon), dan bahasa mombona'ako (menghargai).
Bahasa bangsawan pada hakekatnya adalah pelahiran suatu pan-
dangan yang melihat golongan bangsawan sebagai manusia yang
lebih dalam banyak hal karena darah keturunannya, ilmunya, dan
kekuasaannya yang lebih tinggi.
Bahasa golongan menengah adalah bahasa yang dipakai di
kalangan u m u m masyarakat. Berbeda dengan bahasa golongan
bangsawan yang penuh dengan perasaan melebihkan, mening-
gikan, membesarkan, pada bahasa ini antara pembicara dengan
pendengar tak ada perbedaan derajat meskipun berbeda umur,
dan status sosial dalam masyarakat. Contoh bahasa golongan
menengah misalnya: leundo atopongga, artinya: mari kita makan:
akuto mo'iso, artinya: saya sudah akan tidur; imbe nggo
lako'amu, artinya ke mana hendak Kau pergi.

71

PNRI
Bahasa golongan budak adalah bahasa yang dipakai dalam
kalangan b u d a k . Bahasa ini disebut juga bahasa dalo langgai
(bahasa orang b o d o h - b o d o h ) , m a k s u d n y a : b a h a s a yang kurang
mengikuti a t u r a n bahasa u m u m agar m u d a h dipahami oleh pen-
dengarnya. Bahasa ini t a m p a k dalam w u j u d tulura bendelaki
(bahasa gagah tetapi sesungguhnya kosong isinya), tulura ma-
gamba (bahasa yang m e n u n j u k k a n kesombongan) d a n dalam wu-
j u d tulura te'oha-oha (bahasa yang paling kasar kedengarannya)
sebagai lawan dari bahasa sopan santun, seperti yang berlaku pada
bahasa golongan bangsawan. C o n t o h dari bahasa golongan b u d a k
ini adalah misalnya: akuto mongga me'aroakuto, artinya: saya
sudah akan m a k a n karena saya sudah lapar; akutolako merum-
bahako mokombo'i songguto, artinya: saya sudah a k a n pergi ber-
baring karena saya sudah mengantuk.*)
Ditinjau dari segi teknik berbicara dan m a k n a pembicaraan serta
maksud dan t u j u a n pembicaraan, tentu juga ada dalam bahasa
Tolaki, berbagai gaya bahasa seperti bahasa resmi, bahasa akrab,
bahasa kiasan d a n sebagainya, tetapi yang khusus dalam bahasa
Tolaki adalah bahasa lambang kalo, yaitu bahasa isyarat dengan
menggunakan kalo sebagai alat ekspresi dan komunikasi. T a n p a
berkata-kata, penerima bahasa lambang kalo telah dapat memahami
maksud dan t u j u a n dari pemakai bahasa lambang kalo, karena kalo
itu sendiri mengandung m a k n a tertentu.
Selain dari gaya bahasa seperti di atas, orang Tolaki juga mengenal
adanya bahasa yang disebut tulura ndonomotuo (bahasa orang tua-
tua), tulura mbandita atau tulura andeguru (bahasaulama), tulura
ndolea atau tulura mbabitara (bahasa upacara adat), dan tulura
mbu'akoi (bahasa dukun). Bahasa orang tua-tua adalah bahasa yang
dipakai oleh orang tua-tua dalam memberikan nasihat, petuah,
a j a r a n - a j a r a n leluhur bagi hidup d a n kehidupan, terutama kepada
generasi m u d a . Bahasa ulama adalah bahasa seorang ulama dalam
berbicara mengenai ilmu dan pengetahuan tentang dunia hakiki,
dunia metafisika, dunia gaib dan dunia akhirat. Bahasa upacara

*) Bahan mengenai variasi bahasa Tolaki di atas adalah hasil wawancara saya dengah
A. Hamid Hasan dan Arsjamid.

72

PNRI
adat adalah bahasa yang dipakai oleh juru bicara dalam urusan
adat perkawinan dan urusan peradilan. Dalam peradilan adat
bahasa ini tampak dalam wujud harapan-harapan agar pihak yang
bersengketa dapat damai. Sedangkan dalam urusan perkawinan
misalnya dalam peminangan bahasa ini tampak dalam wujud
kata-kata mempertemukan agar kedua belah pihak dapat saling
cocok dalam apa yang harus diputuskan menurut wajarnya sesuai
dengan ketentuan adat yang berlaku. Seorang juru bicara dalam
urusan perkawinan biasanya mengemukakan pernyataan-per-
nyataan yang banyak memperdengarkan pujian terhadap pihak
keluarga wanita, dan merendahkan pihak keluarga pria, serta
kata-kata yang melukiskan hal-hal yang lucu sehingga upacara
menjadi lebih ramai dan lebih akrab. Bahasa dukun adalah ba-
hasa seorang dukun yang tampak baik terutama pada upacara-
upacara yang bersifat ritual maupun dalam saat-saat membicara-
kan mengenai makhluk halus dan dunia gaib. Bahasa dukun
banyak mengandung pernyataan-pernyataan menyembah, memu-
ja, memuji, dan minta perlindungan terhadap makhluk halus, roh
nenek moyang, dewa, dan Tuhan, agar dirinya, dan banyak
orang, serta khususnya orang yang diupacarakan menjadi ter-
hindar dari aneka-ragam bala dan bencana, serta mengharapkan
berkali- dari mereka. Bahasa dukun ini disebut juga tulura mesom-
ba (bahasa menyembah) dan tulura mongoni-ngoni (bahasa minta
berkah.*'
Pembicaraan mengenai penggunaan bahasa Tolaki dan peng-
golongannya terurai di atas adalah varietas linguistik. Hubungan sis-
tematik dengan faktor-faktor sosiolinguistik yang menentukan seleksi
dari salah satu varietas itu tampak pada peranan dan status peserta
dalam interaksi (pembicara dan pendengar), dan pada topik yang
dibicarakan. Kerangka inilah yang saya gunakan dalam melukiskan
jenis-jenis bahasa Tolaki terurai di atas, misalnya ulama mempunyai
status dan peranan tertentu dan oleh karena itu menggunakan jenis
bahasa tertentu dengan yang mempunyai status dan peranan yang

*) Uraian mengenai bahasa orang tua, bahasa ulama, bahasa j u r u bicara adat, dan bahasa
d u k u n terurai di atas diberikan oleh Ndau, seorang tokoh adat, dan ulama Islam.

73

PNRI
berbeda. Demikian pula dengan topik: untuk bahasa ilmu
pengetahuan misalnya. Peranan peserta baik pembicara maupun
pendengar dalam saat tertentu dapat konstan, dan pada saat yang lain
peserta dapat berubah. Demikian halnya topik yang dibicarakan dapat
konstan dan dapat pula divariasikan.
Perbedaan-perbedaan yang nampak pada variasi bahasa Tolaki
menurut lapisan sosial pemakainya terurai di atas adalah perbedaan-
perbedaan yang beisifat gramatikal, dan ungkapan-ungkapan yang
dipakai hanya terbatas pada penggunaan dalam masing-masing
golongan dan tidak dipakai di luar golongan yang bersangkutan, di
mana struktur gramatikal dan penggunaan kata dan ungkapan
tersebut sama untuk semua golongan. Adapun perbedaan antara satu
golongan dengan golongan yang lain merupakan perbedaan isi atau
makna saja disebabkan oleh perbedaan status sosial: bangsawan
mempunyai perhatian berbeda dengan rakyat, ulama berorientasi
pada agama, sedangkan cendekiawan pada ilmu pengetahuan,
dukun karena pekerjaannya lebih banyak berbicara tentang peng-
obatan, dan lain-lain.
Contoh kata dan ungkapan dari tiap variasi bahasa terurai di atas,
saya berikan dalam teks bahasa Tolaki yang saya terjemahkan secara
harfiah (lihat Lampiran V).

4. BAHASA TOLAKI SEBAGAI ALAT EKSPRESI DAN KOMU-


NIKASI DAN H U B U N G A N N Y A DENGAN KALO
Bagaimana sekarang hubungan antara bahasa Tolaki dengan
bahasa lambang yaitu bahasa kalo, yang telah disebut di atas?
Hubungan antara asas bahasa Tolaki itu dengan kalanya, menurut
hemat saya sebaiknya dilihat dari dua segi, yakni segi bahasa sebagai
alat ekspresi dan segi bahasa sebagai alat komunikasi (Langer 1951:
103-104; Mussen dan Rosezweig 1971: 408).
Bahasa kalo sebagai bahasa simbolik adalah ekspresi orang Tolaki
mengenai segala sesuatu yang dipersepsikan sebagai sepotong rotan
yang dibentuk menjadi lingkaran dengan kedua ujungnya diikat
dengan suatu simpul (lihat hlm. 19). Bentuk lingkaran atau bulat ini
adalah gambaran segala sesuatu yang bulat dan mula penciptaannya

74

PNRI
oleh pencipianya, yang selanjutnya mengalami perubahan dari yang
bulat menjadi terbagi-bagi ke dalam unsur-unsur. Dengan segala
sesuatu di sini saya maksud manusia dengan segala aspeknya, alam
dengan segala unsurnya, masyarakat dengan segala aspek-aspek
sosialnya, demikian juga hewan dan t u m b u h a n , dan segala benda
alamiah dan budaya.
Menurut orang Tolaki unsur-unsur dari segala sesuatu tersebut di
atas masing-masing pada dasarnya hanya terdiri atas dua atau tiga un-
sur. Adapun unsur-unsur yang terdiri atas empat, lima, dan
seterusnya, kata orang Tolaki, hal itu merupakan penjabaran dari
unsur-unsur dasar dua dan tiga di atas. Namun segala sesuatu ter-
sebut terdiri dari unsur-unsur tetapi kata mereka hal itu "tidak
harus dipisah-pisahkan," melainkan " h a r u s dipandang sebagai
satu kesatuan yang bulat yang satu saling mengikat yang lain.""'
Bentuk-bentuk ekspresi inilah yang disimpulkan oleh orang Tolaki
di dalam kalonya.
Kalo sebagai alat komunikasi adalah alat yang dipakai oleh orang
Tolaki dalam berkomunikasi secara timbal-balik antara orang
seorang, keluarga dengan keluarga, golongan dengan golongan dalam
konteks kehidupan sosial, dan dalam berkomunikasi dengan unsur-
unsur alam dan lingkungan sekitarnya serta dengan dunia gaib.
Komunikasi-komunikasi tersebut, kata mereka, harus dilakukan un-
tuk mewujudkan dan mempertahankan prinsip-prinsip kesatuan dan
persatuan atau integrasi dan solidaritas masyarakat pada khususnya
seperti yang disimbolkan di dalam kalo itu sendiri, agar tidak timbul
oposisi dan ketidak-serasian dalam tala kehidupan mereka sehari-hari
sebagai suatu masyarakat.
Penampilan kalo sebagai wujud ekspresi dan alat komunikasi
tersebut nampak pada peristiwa-peristiwa seperti yang digambar-
kan sebagai berikut:
1. Peristiwa di mana seseorang, yang karena merasa sangat malu atas
perlakuan seseorang lainnya yang tidak sopan terhadapnya di
depan umum, melakukan reaksi keras berupa ancaman pengani-

*) Bahan ini adalah hasil wawancara dengan informan Wutogo, seorang tokoh adat, yang
pernah memegang jabatan Pulobit (Kepala distrik). Beliau sekarang masih hidup dan
tinggal di Desa Tawanga Kecamatan W'awotobi, Kabupaten Kendari.

75

PNRI
ayaan terhadap orang yang memperlakukannya demikian untuk
membela harga dirinya. Dalam situasi yang demikian muncullah
pihak ketiga menampilkan kalo di antara keduanya yang sedang
ancam-mengancam satu sama lain. T a n p a komentar dari
ketiganya, peristiwa ancam-mengancam tersebut berhenti secara
otomatis di mana keduanya lalu saling m a a f - m e m a a f k a n satu
sama lain karena bagi mereka kalo itu adalah identik dengan perka-
taan: "jangan, mohon maaf, ampun, engkau, dia, dan aku, serta
kita sekalian adalah satu kesatuan, satu di dalam tiga, dan tiga di
dalam s a t u . " Menganiaya dia berarti menganiaya dirimu sendiri,
dan menganiaya aku serta kita sekaliannya. Dengan tampilnya kalo
itu dalam suasana demikian maka damailah keduanya. Bila ter-
nyata salah s^tu dari keduanya atau kedua-duanya menolak
adanya kalo dalam peristiwa itu, m a k a ia telah dipandang
terkutuk dan akibatnya mereka harus dikeluarkan dari warga
orang Tolaki atau menghukum mereka dengan ketentuan adat
yang berlaku. Namun hal ini konon jarang terjadi.
2. Peristiwa di mana dua orang utusan yang datang kepada suatu
keluarga untuk maksud menyampaikan undangan sesuatu pesta
atau pekabaran mengenai adanya orang meninggal dengan meng-
gunakan kalo. Sesungguhnya utusan itu tanpa mengatakan apa
maksud kedatangannya, keluarga yang dikunjungi secara otomatis
telah memahami bahwa maksud mereka adalah pekabaran
mengenai adanya orang meninggal, atau pemberitahuan mengenai
akan adanya perkawinan, karena kalo itu sendiri dengan atributnya
telah m e n u n j u k k a n tanda atau simbol yang bermakna " o r a n g
mati" atau makna "laki dan perempuan." Namun untuk memper-
jelas keterangan mengenai hal itu masih perlu ada suatu dialog an-
tara kedua belah pihak, misalnya menanyakan: siapa yang mening-
gal, kapan dimakamkan, atau siapa yang akan kawin dan kapan di-
selenggarakan.
3. Peristiwa di mana kalo itu digunakan dalam upacara-upacara.
Tanpa banyak komentar kecuali bahasa yang formal saja, peserta
upacara telah memahami maksud dan jalannya upacara karena
kalo itu sendiri telah diperlakukan sebagai berbicara sehingga
memberi keterangan kepada peserta upacara akan upacara apa

76

PNRI
yang sedang dilakukan dan apa maksudnya, bahwa upacara yang
sedang dilakukan itu adalah upacara perkawinan, atau upacara
kematian, atau upacara penyambutan raja, dan atau upacara
pelantikan raja misalnya.
Penampilan-penampilan kalo pada peristiwa-peristiwa terurai di
atas, bagi orang Tolaki, merupakan cara-cara yang paling baik dan
terpuji untuk menyatakan ekspresi alam pikirannya, perasaannya, dan
kehendaknya di satu pihak, dan untuk menyampaikan maksudnya di
lain pihak. Orang, atau keluarga, atau golongan masyarakat yang
selalu menggunakan kalo untuk menyampaikan maksud tertentu
kepada orang atau keluarga dan atau golongan lain dipandang merou,
me'irou (sopan santun, berakhlak baik, terpuji, terhormat, tahu adat,
tahu aturan, berbudi pekerti yang tinggi). Singkatnya ia adalah
manusia yang sesungguhnya. Sebaliknya mereka yang tidak berlaku
demikian dipandang tidak sopan, tidak tahu adat, te'oha-oha (som-
bong, berlagak pintar). Di sini nampak kalo sebagai asas dari adat-
istiadat dalam berbahasa.
Kini kalo sebagai bahasa lambang orang Tolaki telah pula
mengalami perubahan dalam cara pemakaiannya. Perubahan itu tam-
pak pada gejala adanya sedikit penjelasan yang menyertai kalo itu
sehingga makna kalo sebagai bahasa lambang itu lebih cepat diresapi
oleh terutama mereka yang telah mulai tidak mengenal apa makna
kalo itu, misalnya kalangan pemuda orang Tolaki, dan oleh mereka
dari kalangan yang bukan orang Tolaki, karena sekarang ini upacara
perkawinan misalnya sering juga dihadiri oleh pihak dari luar.
Perubahan itu tampak juga pada gejala di mana seseorang meng-
gunakan kupiahnya sebagai pengganti kalo untuk menyatakan
maksudnya, karena pada saat itu sangat mendesak dan ia sedang
tidak membawa kalo. Kupiah itu diperlakukan sebagai kalo.

77

PNRI
IV
MATA P E N C A H A R I A N ORANG TOLAKI

1. C O R A K K E H I D U P A N E K O N O M I

Mata pencaharian pokok orang Tolaki adalah bercocok tanam


di ladang, m e n a n a m padi di sawah, berkebun tanaman jangka
p a n j a n g , beternak kerbau dan lain-lain. Sebagai mata pencaharian
sampingan, ada di antara mereka yang sewaktu-waktu meramu
misalnya menggali ubi hutan, berburu rusa, anuang, ayam hutan
dan berbagai jenis burung, serta m e n a n g k a p ikan di rawa-rawa
dan di sungai.
Selain itu khususnya pria memotong rotan dan mengambil damar,
dan menganyam keranjang rotan, dan ada di antaranya yang meman-
dai besi, emas, dan perak; dan khususnya wanita menganyam tikar,
aneka ragam wadah, dan menenun kain, serta menjahit kain-kain
perhiasan, yang semuanya dapat dijual.
O r a n g Tolaki yang kini tinggal di pinggiran kota tidak lagi
melakukan kegiatan tersebut di atas, tetapi mereka berjual-beli
dengan m e m b u k a kios di pinggir-pinggir j a l a n , dan ada juga yang
m e m b u k a toko di pasar. Orang Tolaki yang tinggal di kota pada
u m u m n y a hidup sebagai pegawai, pengusaha, dan sebagai buruh
kasar.

Orang Tolaki di desa-desa dalam melakukan kegiatan pengolah-


an tanah ladang, bersawah, dan berkebun t a n a m a n j a n g k a pan-
jang, berburu dan beternak, dan lain-lain kegiatan keterampilan
masih menggunakan cara-cara berdasarkan teknologi tradisional.
Proses kegiatan pengolahan tanah sampai pada pemetikan hasil
bercocok tanam di ladang dan di sawah m e r u p a k a n kegiatan dari
para anggota keluarga inti dan anggota kerabat lainnya secara

78

PNRI
gotong-royong. Hasil produksi baik padi maupun hasil buruan
dan ternak tidak hanya dinikmati oleh keluarga yang bersangkut-
an tetapi juga ikut dinikmati oleh kerabat di lingkungan tetangga
dan pemerintah setempat sebagai hadiah.

2. BERCOCOK T A N A M , BERBURU DAN B E T E R N A K ,


SERTA M E R A M U

2.1. Bercocok Tanam di Ladang


Padi ditanam pada umumnya di ladang. Pengolahan tanah untuk
suatu ladang penanaman padi dilakukan secara berpindah-pindah
pada lokasi-lokasi yang dipandang subur dan dapat menghasilkan pro-
dyksi yang diharapkan. Pengolahan melalui proses tertentu secara
tradisional, yakni melalui apa yang mereka sebut: mosaleHmemotong
rumput dan akar), monduehi (menebangi pohon), Intimmu (mem-
bakar), mo'enggai (membersihkan sisa ranting dan akar yang tidak
ikut terbakar), inewala(memagari keliling ladang), molcisu (menanam
dengan sistem menugal), hiosaira (membersihkan tanaman dari rum-
put dengan sistem menyabit), meie'ia inimo (menjaga tanaman padi
dari hama ketika mulai berbuah sampai saat penuaian), mosowi
(menuai padi), molonggo (menghitung jumlah padi), dan terakhir
nwwiso i ala (menyimpan padi di lumbung). Keseluruhan aktivitas
pengolahan tanah ladang secara berurutan di atas sampai pada
pemetikan hasil dinamakan monda'u, yakni melakukan pekerjaan
berladang selama satu tahun panen, kira-kira enam bulan lamanya
(Sarasin 1905: 373: Van der Klift 1922: 439-441).*>
Pengolahan suatu tanah ladang selain merupakan kegiatan utama
dari anggota rumah tangga yang bersangkutan juga mendapat
bantuan tenaga kerja dari tetangga-tetangga yang terdekat secara

*) Bagaimana sistem produksi dan teknologi pengolahan potensi alam lingkungan dari
suatu suku bangsa (lihat misalnya C.D. Forde. Habilal, Ecology & Societv; A Georgru-
phical Introduction lo Elhnology, 1934; khusus untuk suku bangsa Jawa dan banyak
suku bangsa di Indonesia, (lihat Koentjaraningrat 1964; 1972; 1975; 1984); dan salah
satu tulisan etnografi yang paling lengkap yang dihiasi dengan gambar-gambar ter-
masuk di dalamnya mengenai teknologi pengolahan tanah perladangan adalah
mengenai orang Iham, yang ditulis oleh H. Morrison, Life in A Long Ifouse (1962).

79

PNRI
gotong-royong.*' Tenaga kerja terdiri dari pria dan wanita. Pria
m e n g e r j a k a n p e r o m b a k a n h u t a n , p e m b a k a r a n , pembersihan sisa
ranting d a n a k a r yang tidak ikut t e r b a k a r , d a n pemagaran, se-
d a n g k a n wanita melakukan serangkaian kegiatan pembersihan
ladang d a n pemeliharaan t a n a m a n sampai saatnya b e r b u a h , serta
d i l a n j u t k a n dengan p e n j a g a a n t a n a m a n padi yang telah mulai
masak dari gangguan h a m a sampai tiba saatnya menuai padi. Pe-
n a n a m a n padi di ladang, penuaian padi d a n penyimpanan padi di
l u m b u n g m e r u p a k a n kegiatan bersama a n t a r a pria d a n wanita,
biarpun p a d a dasarnya kegiatan-kegiatan ini adalah tanggung
j a w a b dari wanita.
Lokasi perladangan biasanya merupakan suatu kompleks yang ter-
diri dari sejumlah bidang tanah ladang yang saling berbatasan satu
sama lain. Demi kelancaran pekerjaan di ladang, karena kompleks
p e r k a m p u n g a n berada pada lokasi yang agak j a u h dari kompleks
perladangan, m a k a di tengah suatu kompleks perladangan, setiap
r u m a h tangga yang tergabung di dalamnya membangun rumah
masing-masing yang n a m p a k n y a berdamping-dampingan. Rumah
semacam ini hanya dibangun untuk keperluan sementara selama satu
tahun panen. Di belakang atau di samping tiap rumah dibangun lum-
bung padi masing-masing. Kompleks perladangan seperti ini tidak
hanya berada pada salah satu bagian wilayah di belakang perkam-
pungan tetapi hampir pada semua wilayah di delapan p e n j u r u
m a t a angin.
H a m p i r setiap fase pengolahan tanah ladang sampai pada fase

*) Istilah gotong-royong merupakan istilah dari bahasa Jawa yang berarti: mengerjakan
sesuatu pekerjaan secara bersama-sama yang hasilnya dinikmati bersama pula. Kini
istilah ini telah menjadi bahasa Indonesia yang berarti sifat kekeluargaan dari bangsa
Indonesia yang suka tolong-menolong, bantu-membantu antara sesamanya dalam ber-
bagai aspek kehidupan masyarakat di Indonesia. Pada suku-suku bangsa di Indonesia
masih kita dapatkan adanya istilah-istilah bahasa daerah masing-masing yang ber-
makna identik dengan istilah gotong-royong, yang merupakan aneka-warna makna
gotong-royong (lihat Koentjaraningrat, M. J. Melalatoa, T, Siahaan, Mattulada, dan A.
Marzali, dalam Berita Antropologi, Terbitan Khusus 1977). Pada suku bangsa Tolaki
sendiri istilah gotong-royong adalah identik dengan istilah-istilah: mete'alo-alo (saling
memberi bantuan), samaturu (ikut serta), mepoko'aso (menjadi satu), dan medulu (ber-
satu) dalam arti: medulu mbenao (satu dalam perasaan), medulu mbona (satu dalam
pendapat), dan medulu mbo'ehe (satu dan kehendak).

80

PNRI
terakhir pemetikan hasil selalu dirangkaikan dengan sesuatu upacara
keagamaan yang bertujuan terutama memuja sanggoleo mbae (roh,
padi, dewi padi), dan untuk menolak bala dari makhluk halus, baik
bala berupa kecelakaan yang dilimpahkan pada manusia maupun
berupa bala yang menimbulkan kerusakan tanaman melalui gangguan
hama: tikus, babi, burung pipit, pianggang, ulat dan lain-lain.
Upacara-upacara itu adalah: monaliu nda'u (upacara tahunan perta-
nian), merondu (upacara potong hutan), mombotudu (upacara
menanam padi), mombewulanako (upacara awal menuai padi),
molonggo (upacara penghitungan jumlah padi hasil panen), dan
terakhir mowiso i ala (upacara penyimpanan padi di lumbung).
Dalam upacara peladangan, sering kalo muncul untuk dipakai
sebagai: (1) patok hutan, tanah bakal diolah untuk perladangan; (2)
alat upacara ritual pada setiap upacara di atas; (3) tanda pantangan un-
tuk menjaga tanam-tanaman di ladang; dan (4) pengikat alat-alat pro-
duksi. Kalau pada umumnya kalo dibuat dari rotan, maka di sini ada
di antaranya yang dibuat dari akar kayu, yakni kalo yang dipakai
sebagai patok hutan dan alat upacara pembukaan hutan, dan
khususnya kalo untuk alat upacara penanaman dan penuaian padi
dipakai kalung emas, dan kalo untuk tanda penjaga tanaman dibuat
dari b a m b u , sedangkan kalo untuk pengikat alat-alat produksi
tetap dipakai rotan.
Selain fungsi-fungsi di atas, kalo juga mempunyai fungsi agama
dan ilmu gaib dan merupakan lambang komunikasi timbal-balik
antara manusia dengan T u h a n dan dewa, khususnya dewi padi.
Menurut keyakinan mereka tanpa sistem hubungan demikian, me-
reka bersama tanamannya tidak mungkin diberkahi oleh Tuhan
dan dewa, dan hal ini berarti bahwa ada kemungkinan bagi
mereka mengalami bala, d a n juga tanaman tidak berbuah, tidak
memproduksi lebih, tidak bernilai tambah. Asas hubungan ter-
sebut, bagi mereka, tidak hanya diwujudkan melalui kalo tetapi
juga harus dikonkritkan melalui tingkah laku dan perbuatan nyata
dengan menaati serangkaian tata tertib dari apa yang mereka sebut
masing-masing: o wua dan olawi. Dengan o wua dimaksud buah,
maksudnya suatu tanaman hanya dapat berbuah lebat apabila
petani senantiasa menaati segala tata cara dan tata tertib, baik

81

PNRI
berupa pantangan-pantangan m a u p u n sebagai keharusan-ke-
harusan dalam proses pengolahan tanah, penanaman, dan pemeli-
haraan tanaman. Demikian halnya o lawi, yakni hasil produksi mele-
bihi dari target, khususnya tanaman padi. Harapan-harapan
mereka agar tanaman berbuah lebat dan memproduksi lebih dari
target dinyatakan melalui mantera-mantera, atau doa-doa dalam
suatu upacara oleh seorang d u k u n padi.*'

2.2. Menanam Padi di Sawah


Kecuali menanam padi di ladang, ada pula orang Tolaki yang
menanam padi di sawah. Sawah hanya terdapat di Lambuya, di Rate-
rate, di Tinondo, dan di Mowewe. Namun kini setelah pemerintah
membangun irigasi di beberapa tempat, antara lain di Pu'unggalaku,
di Ameroro, di Wundulako, orang Tolaki mulai lebih intensif belajar
mengolah sawah dan sementara itu pemerintah setempat telah
melarang penduduk berladang liar yang belum sepenuhnya ditaati.
Menanam padi di sawah bagi orang Tolaki belumlah merupakan
pekerjaan yang menarik dibandingkan dengan adat mereka untuk ber-
cocok tanam di ladang. Mereka tidak begitu tahan berdiri di tengah
sawah untuk mencangkul, dan membuat pematang. Belum banyak
dari mereka sebagai penggarap tanah sawah yang pandai meng-
gunakan bajak yang ditarik oleh kerbau atau sapi. Mereka pada
umumnya menggarap sawah tadah hujan, atau sawah pasang surut.
Penggunaan tenaga gotong-royong dalam proses kegiatan pengolahan
tanah sampai pemetikan hasil hanya tampak pada penanaman bibit
dan pada penuaian padi. Tenaga pria mencangkul dan membajak
tanah, tenaga wanita menghambur dan menanam bibit serta menuai
padi. Namun kadang-kadang pria ikut membantu.
Lokasi persawahan biasanya selain menjadi satu pada suatu wilayah
dataran yang luas, juga ada di antaranya yang terpencar secara
terpisah, tergantung pada adanya lokasi yang memungkinkan un-
tuk digarap sebagai tanah persawahan. Karena lokasi ini tidak
jauh dari lokasi perkampungan, maka tidak semua dari mereka

*) Keterangan mengenai o wua dan o lawi ini, saya peroleh dari Bina, seorang dukun padi
Besulutu, dan Ndau, seorang dukun di Tawanga.

82

PNRI
mendirikan r u m a h di kompleks t a n a h persawahan, karena mereka
masih d a p a t dengan m u d a h pulang-pergi dari rumah ke sawah.
U n t u k sekedar tempat bernaung, istirahat d a n m a k a n siang, ada
di antaranya yang mendirikan p o n d o k - p o n d o k di pinggiran batas
sawah dengan hutan belukar.. Di situ juga mereka mengikat ker-
bau atau sapi p e m b a j a k n y a ketika saat m e m b a j a k , dan menyim-
pan alat dan perkakas yang dipakainya sehari-hari.
Tidak seperti pada proses kegiatan peladangan yang hampir
seluruhnya dilakukan dengan upacara-upacara, m a k a dalam ke-
giatan di sawah tidak ada sesuatu upacara yang dilakukan, karena
bagi mereka, bersawah b u k a n cara bertani yang turun-temurun,
tetapi m e r u p a k a n hal yang b a r u . Tak ada pantangan-pantangan
dan keharusan-keharusan di dalamnya u n t u k ditaati. Juga
peranan kalo di sini hampir tidak n a m p a k , kecuali sebagai tanda-
tanda orang-orangan yang digantungkan pada rentangan-rentang-
an tali di sawah ketika padi mulai berbuah, d a n yang dipasang di
sekeliling bidang sawah sebagai alat p e n j a g a t a n a m a n terhadap
h a m a burung pipit dan larangan untuk tidak diganggu oleh tangan
usil.

2.3. Berkebun Tanaman Jangka Panjang


Sebagai m a k a n a n tambahan selain beras, orang Tolaki juga
menanam sagu (Metroxylon sp). Sagu ditanam pada tanah-tanah
berlumpur di pinggir-pinggir sungai dan rawa. Proses pemelihara-
annya sangat m u d a h . T a n a m a n - b a r u diberi pagar perpohon untuk
menghalangi gangguan babi. Setelah t u m b u h dan mulai ber-
batang, tidak lagi diperlukan pagar tetapi cukuplah dibersihkan
rumput di sekitar p o h o n .
Pengolahan sagu untuk menjadi bahan yang siap untuk di-
masak cukup sederhana. Proses pengolahan sagu adalah demi-
kian: mowuwu (melubangi batang sagu untuk memeriksa apa
sudah cukup mengandung tepung sagu), mondusa (mendirikan
suatu bangunan di atas tiang untuk memproses pemisahan tepung
sagu dari ampasnya), mondue (menebang batang sagu), mowota
(membelah-belah batang setelah dipotong-potong menurut ke-
perluan), sumoku (memukul-mukul bulir sampai menjadi serbuk),

83

PNRI
lumanda (menginjak-injak serbuk setelah dicampur dengan air un-
tuk diendapkan), dan terakhir sumandu (endapan sagu yang
masih basah dimasukkan ke dalam basung). Keseluruhan proses
pengolahan ini disebut sumaku (menokok). Hidangan makanan
dari sagu disebut sinonggi (makanan yang dimakan dengan
memakai alat yang disebut o songgi = dua stik dari bambu).*'
Lain halnya dengan sistem pengolahan padi di ladang yang
penuh dengan upacara dan ritus, maka dalam sistem pengolahan
sagu tidak diperlukan upacara kecuali pengucapan mantera-
mantera pada saat untuk sumandu, karena sagu tidak merupakan
makanan pokok orang Tolaki, seperti sementara orang mengata-
kan. Tidak semua orang Tolaki pemakan sagu dan pandai meno-
kok sagu, tetapi semua mereka adalah pemakan nasi, pandai
mengolah tanah ladang padi, dan tekun mengikuti upacara-
upacara berkenaan dengan pemujaan dewi padi. Tidak semua
orang Tolaki menanam sagu, tetapi bisanya memelihara apa yang
lelah ada sebagai warisan dari nenek-moyangnya.
Tanaman jangka panjang lainnya, seperti: kelapa, mangga, durian,
langsat, kopi, kapok, pinang, dan lain-lain ditanam pada kintal-kintal
dan pada halaman-halaman rumah di kampung. Penanamannya tidak
dilakukan pada areal tersendiri untuk tiap jenis tanaman tetapi
ditanam bercampur secara berselang-seling. Pada dasarnya jarak an-
tara pohon dengan pohon tak ada ukuran tertentu apalagi mengikuti
suatu garis lurus. Nanti setelah membesar barulah diadakan pe-
jarakan dengan jalan memotong pohon yang rapat.
Pemeliharaan tanaman semacam ini tidak dilakukan secara terus
menerus tetapi hanya bila ada kesempatan sisa waktu bekerja di
ladang sehingga kurang produktif dalam arti ekonomi. Buah kelapa
hanya diproses sampai menjadi minyak goreng, dan nanti apabila ada
pembeli yang menawarkan barulah diproses menjadi kopra. Durian
dan langsat hanya sampai dijual di pasar, demikian halnya mangga.

*) Ada satu buku etnografi mengenai sagu yang saya anggap cukup lengkap yang
melukiskan aneka-ragam sagu dan teknik pengolahannya oleh banyak suku bangsa di
dunia, khususnya pada daerah-daerah tropik, yang ditulis oleh K. Ruddel, et al, dengan
judul: Palm Sago: A Tropical Slarch from Marginal Lands (1978).

84

PNRI
Pinang hanya sebagai bahan untuk makan sirih dan batangnya di-
jadikan lantai rumah.
2.4. Berburu dan Beternak
Untuk bahan protein mereka memelihara ternak kerbau, kambing
dan ayam, di samping menangkap ikan di rawa-rawa dan di sungai,
berburu rusa dan anuang serta menangkap unggas seperti ayam hutan
dan berjenis-jenis burung yang dapat dimakan. Kuda dipelihara untuk
angkutan dan sebagai kuda tunggangan, juga dipergunakan untuk ber-
buru rusa. Anjing dipelihara semata-mata untuk berburu. Kini telah
banyak dipelihara sapi dan itik.
Rusa dan anuang ditangkap selain menggunakan anjing oleh se-
jumlah pemburu yang berpengalaman, juga memasang ranjau dari
bambu, menggali lubang tanah, memasang jerat, dan ada yang pan-
dai mengejar rusa dengan kuda. Ayam hutan ditangkap dengan me-
masang jerat di hutan, dan juga yang menggunakan ayam kam-
pung sebagai u m p a n . Berjenis-jenis burung dapat ditangkap
dengan memasang jerat di hutan-hutan dan di atas pohon-pohon
yang sedang berbuah, serta ada juga sejumlah pemuda yang pan-
dai menyumpit burung. Dengan menggunakan keranjang, pan-
cing, panah, dan umpan, serta tuba mereka menangkap ikan di
rawa dan sungai. Ikan gabus dan kerang merupakan hasil pro-
duksi yang memadai.
Kerbau sebagai ternak digembalakan setiap hari oleh hanya seorang
anak gembala di suatu padang rumput tidak jauh dari rumah. Setelah
kenyang kemudian kerbau dibawa kembali dan diikat pada tiang tam-
batannya di pinggir rumah atau di bawah kolong. Untuk makanan
sorenya jika gembala tidak sempat membawa kerbaunya ke tempat
pengembalaan, cukuplah kerbau diberi makan di tempat tambalan-
nya. Sewaktu-waktu kerbau dilepas jauh dan lama sehingga dapat
menjadi liar dan berkembang biak di hutan. Untuk menangkapnya
kembali orang membuat o boso (pagar perangkap), atau ditangkap
dengan parado (jerat dari kulit kerbau dengan menggunakan kerbau
jinak sebagai umpan), dan atau pinelambu (diburu oleh sejumlah
pemburu yang ahli dengan menggunakan anjing pemburu karena
dibutuhkan dagingnya untuk pesta). Kerbau selain untuk dimakan
dagingnya tetapi terutama kerbau mempunyai peranan khusus dalam

85

PNRI
masyarakat Tolaki sebagai lambang kekayaan dan kesejahteraan bagi
pemiliknya, seperti juga pada orang T o r a j a (Nooy-Palm 1979: 200).
Kulitnya dijadikan penutup beduk dan ada yang dijual pada orang
Cina. Tanduknya menjadi perhiasan bumbungan rumah dan atau un-
tuk bahan gasing. Kambing hanya dilepas bebas dan pada sore hari
dihalau pulang ke kandang di bawah kolong atau di pinggir rumah di
dalam halaman. Daging kambing hanya semata-mata untuk hidangan
pada hari lebaran dan pada upacara-upacara ritual. Ayam juga dilepas
bebas dan p a d a malam hari dikurung dan atau bertengger di atas
bumbungan rumah. Daging dan telurnya selain untuk bahan konsumsi
rumah tangga, ada juga yang dijual sewaktu-waktu sekedar untuk
pembeli garam dan sabun. Orang Tolaki juga memelihara ayam jan-
tan untuk sabungan, seperti orang T o r a j a dan orang Bali misalnya
(Geertz 1973: 412-425).
Gejala adanya kegotongroyongan dalam rangkaian aktivitas ber-
buru dan beternak ini hanya tampak pada saat berburu rusa dengan
anjing, berburu rusa dengan kuda, dan dalam membuat pagar
perangkap untuk menangkap kerbau liar. Berburu semata-mata
adalah aktivitas orang pria. Selain itu anak laki-laki menggembalakan
kerbau. Wanita bertugas menangkap ikan dan mengambil kerang-
kerangan di rawa dan di sungai, memelihara kambing dan ayam, yang
dibantu oleh anak-anaknya. A d a semacam pembagian ayam bagi
anak-anak dalam suatu rumah tangga untuk dipeliharanya dan
diperlakukan sebagai miliknya.
Dalam berburu dan beternak dikaitkan dengan kepercayaan
agama dan ilmu gaib, ada semacam kepercayaan yang mereka
sebut o sapa (runcingan yang tajam), maksudnya adalah bahwa
agar senantiasa berhasil dalam usaha berburu dan beternak dan
tidak menimbulkan bala bagi pemburu, anjing dan kudanya, serta
peternak dan hewan ternaknya, maka pemburu dan peternak ha-
rus senantiasa menaati aturan dan tatacara dalam berburu dan
beternak sampai pada bagaimana cara membagi hasil buruan dan
m e m a n f a a t k a n hasil ternak. Kesalahan yang timbul dalam hal ini,
akan menyebabkan kegagalan dan kecelakaan terhadap mereka
yang melakukan kesalahan itu.
Peranan kalo dalam berburu tampak sebagai lambang dari
86

PNRI
wilayah berburu itu. Kecuali itu sebagian terbesar dari jerat, alat
penangkap dan pembunuh hewan buruan serta cara-cara berburu
adalah mengikuti modelnya kalo. Jikalau membuat dan me-
masang jerat dan alat penangkap lainnya di pohon atau di atas
tanah, mereka mengucapkan doa-doa yang bermakna bahwa se-
ekor hewan di mana pun adanya, ke mana pun perginya selalu
akan tidak keluar dari lingkaran bumi yang bulat di bawah naung-
an langit yang melengkung; yang berarti pula bahwa seekor hewan
selalu akan menginjakkan kakinya atau memasukkan kepalanya
pada segala benda yang bulat atau melingkar. Demikian pula
hanya seorang pemburu selalu akan bertemu dengan hewan buru-
annya, tombak akan selalu mengena sasarannya, karena baik
orang berburu, hewan buruan m a u p u n tombak dan sasarannya
berada dalam satu ruang bumi dan langit yang bulat (lihat doa-doa
membuat dan memasang jerat pada lampiran VI).
Penggunaan kalo dalam peternakan tampak dalam pemelihara-
an ternak kerbau dan ayam. Pada setiap ekor kerbau yang ditang-
kap dengan maksud untuk dijinakkan, harus dipasangkan cincin
pada hidungnya, yakni apa yang mereka sebut selekeri (lingkaran
rotan) atau kate lawu (lingkaran besi). Penggunaan kedua alat ini,
selain sebagai penahan tali kekang, juga dimaksudkan agar kerbau
tidak jauh berjalan meninggalkan tuannya, biarpun ia dilepas
bebas. Kata orang Tolaki: "kiniku sina noki'i, no'ai'i, nosile'i
selekerino, kale lawuno, mombenasa'ito noteboso, hende la owala
i ra 'ino, l o 'oto n o 'ohe lako mondae, nopehawa lau-lau 'ito laikano
ombuno ronga walakano." Artinya: apabila kerbau melihat, men-
cium, dan menjilat cincin hidungnya, maka ia merasa terkurung
oleh pagar, seperti ada pagar di depannya, sehingga ia enggan
pergi jauh, ia mengingat selalu rumah tuannya dan tiang tam-
batannya.*'
Lain halnya dengan ayam yang tidak dikenakan semacam cincin
tetapi diperlakukan sebagai mewujudkan ide kalo. Seekor ayam, un-
tuk pertama kalinya dipelihara, sebelum diikat, dikelilingkan
mengitari tiang rumah tengah rumah di bawah kolong rumah se-

*) Kata-kata tersebut di atas dan teks doa memasang cincin kerbau yang saya muat pada
Lampiran VII adalah dituturkan oleh Bina, seorang d u k u n yang tinggal di Besulutu.

87

PNRI
banyak empat kali dan kemudian sehelai buluh sayapnya disisipkan di
tanah pada tiang tersebut dengan maksud agar ayam ke mana pun
perginya akan selalu kembali ke rumah tuannya. Itulah sebabnya,
kata orang Tolaki: "o mami keno arindo pinali to'oto keno tesia,
kareno tala 'iato nggo ruraino, panino tata 'ieto notepokuku norabu 'i o
iitsa, ieto nggiro 'o anota onggoto telako mondae rongga teluma. " Ar-
tinya: apabila ayam telah dikelilingkan pada tiang rumah maka ia
tidak akan menghilang, kakinya akan senantiasa dirasakan saling
terikat, sayapnya senantiasa tertutup ditarik oleh tiang, oleh karena itu
ia tidak akan dapat berjalan jauh dan terbang.*'
Orang Tolaki berdoa ketika hendak melepas ayamnya, demikian:
"ingo 'o o mami, keno telakoki ni'ino o tusa ronga tepolika auki telako
mondae, teluma, tesia, ie keno la ieki ma ki'oki. " A r t i n y a : hai ayam,
jika tiang ini dapat berjalan dan pindah, maka engkau dapat berjalan
jauh, terbang, hilang, tetapi jika tidak demikian halnya, maka engkau
tidak dapat melakukannya.**'
Nyata bagi kita bahwa makna penggunaan kalo dalam berburu dan
beternak adalah sebagai alat penarik bagi hewan buruan, dan alat
penjaga bagi hewan ternak, dan juga berfungsi untuk menjembatani
hubungan timbal-balik antara pemburu dengan hewan buruannya,
dan antara peternak dengan hewan ternaknya. i
2.5. Meramu
Pada musim-musim kekurangan makanan, orang Tolaki mengolah
sejenis ubi hutan yang disebut uwikoro (gadung). Ubi gadung ini tidak
ditanam tetapi tumbuh sendiri di hutan.
Pengolahan ubi gadung ini melalui fase-fase tertentu pula. Mula-
mula ubinya digali dengan menggunakan sepotong kayu yang dirun-
cing. Ubi yang sudah digali kemudian dikumpulkan untuk dikupas
kulitnya. Dengan menggunakan keranjang, kumpulan ubi yang sudah
dikupas kemudian dipikul dan dibawa ke suatu/tempat di pinggir
sungai untuk diiris-iris dan selanjutnya dimasukkan ke dalam suatu
wadah penampungan yang khusus dibuat untuk itu, yaitu wadah yang
*) Keterangan demikian saya peroleh dari Ndau, seorang tokoh adat dan sewaktu-waktu
bertindak sebagai dukun yang tinggal di Tawanga.
**) Doa melepas ayam ini diueapkan oleh Tie, seorang dukun wanita yang tinggal di
Kadia.

88

PNRI
disebut o lile. Penampungan ubi bersama air dan cairan berbusa asal
dari kulit kayu yang disebut wilalo, dimaksudkan agar racun yang ada
pada ubi itu menjadi tawar. Setelah dua atau tiga hari ubi itu berada
dalam penampungan barulah diangkat dan dimasukkan ke dalam
keranjang bambu untuk mengeluarkan getahnya yang beracun.
Apabila semua getah beracun dan cairan berbusa telah menetes
keluar dan tampaknya sudah kering barulah ubi itu dikeluarkan dari
keranjang bambu dan dipindahkan ke dalam beberapa keranjang asal
dari daun enau, yang disebut sawera, untuk merendam ubi itu ke
dalam sungai, dengan maksud agar ubi itu menjadi bersih dari racun
dan cairan berbusa. Fase terakhir dari proses pengolahan ubi gadung
ini adalah menjemur di sinar matahari agar baunya menjadi hilang,
dan dalam keadaan demikian, ubi ini sudah dapat dikukus untuk
dimakan.
Salah satu fase dari proses di atas yang dapat digantikan dengan
cara lain, adalah fase penampungan ubi di dalam wadah o lile ter-
sebut. Cara lain yang saya maksudkan adalah cara yang disebut
ni'awui, yaitu mencampurkan abu dapur dengan ubi itu, dan kemu-
dian menjemurnya sampai kering. Fase berikutnya adalah sama
seperti cara pertama, yaitu merendamnya ke dalam air dan
seterusnya. Cara ni'awui ini hanya dapat dilakukan apabila jumlah ubi
yang akan diolah terbatas atau hanya untuk kebutuhan yang sifatnya
mendesak.
Pekerjaan mengolah ubi gadung ini pada dasarnya adalah pekerja-
an wanita, namun kadang-kadang apabila diperlukan, pria ikut juga
membantu. Pekerjaan ini hanya merupakan aktivitas anggota
keluarga inti dan tidak memerlukan bantuan dari pihak kerabat lain-
nya.

3. KONSEP P E M I L I K A N
Areal tanah bekas ladang, lokasi tumbuhnya pohon sagu, lokasi
melepaskan kerbau, lokasi tempat perburuan, rawa dan bagian
batang sungai tempat menangkap ikan, kintal yang penuh tanam-
an yang biasanya terdapat kubur leluhur, pekarangan yang telah
ditinggalkan karena harus pindah ke perkampungan lain, semua-
nya menurut hukum adat pertanahan orang Tolaki, merupakan
89

PNRI
tanah yang dikuasai atau dimiliki oleh suatu keluarga, baik karena
keluarga itu pernah secara langsung mengolahnya, maupun
karena tanah itu tanah warisan secara turun ternurun.
Hingga kini tanah-tanah dimaksud di atas masih dikenal seba-
gai: (1) ana homa atau ana sepu (belukar bekas perladangan); (2) o
galu (tanah persawahan); (3) o epe (lokasi tanaman sagu); (4)
walaka (areal tempat melepaskan kerbau); (5) lokua (areal tempat
berburu); (6) arano atau pinokotei (rawa atau bagian batang sungai
tempat menangkap ikan); (7) waworaha (areal tanaman jangka pan-
jang); dan (8) pombahora (kintal yang ditinggalkan).*'
Hutan belukar adalah satu areal tanah bekas perladangan yang
akan tumbuh kembali menjadi hutan rimba. Biasanya suatu hutan
belukar, merupakan suatu kompleks bekas olahan dari banyak
keluarga yang tergabung dalam suatu keluarga asal dari satu
nenek moyang. Menurut hukum adat pertanahan orang Tolaki,
tanah hutan belukar tersebut dapat diolah kembali oleh yang ber-
sangkutan setelah setiap sembilan tahun. Kini hak penguasaan
tanah ini telah tidak diakui oleh pemerintah setempat.
Tanah unit penanaman sagu adalah suatu areal tanah di pinggir
sungai dan di sekitar rawa di mana tumbuh sejumlah rumpun sagu
milik dari suatu keluarga asal dari satu nenek moyang. Dibanding-
kan dengan tanah-tanah yang dikuasai di atas, maka rupanya
tanah unit penanaman sagu ini merupakan tanah milik warisan
yang paling panjang prosesnya sampai beberapa lapis generasi,
karena tanaman sagu sukar punahnya. Sagu dapat dijual per-
batang atau perumpun dan terutama untuk bahan pelengkap dari
mas kawin sesudah kerbau, gong, tempayan, dan kalung emas.
Sagu biasanya dipandang sebagai simbol kesejukan, kesuburan,
umur panjang, seperti halnya dengan pohon pisang dan kedon-
dong.
Tanah pelepasan kerbau adalah suatu areal tanah yang sangat
luas yang biasanya meliputi tanah gunung, bukit, dan dataran yang
*) Tanah-tanah milik adat semacam ini terdapat juga pada lain-lain suku bangsa, antara
lain: patuanan (tanah warisan) di Ambon; panyampeto (tanah ladang), pawatasan
(tanah demarkasi) di Kalimantan; wewengkon (tanah demarkasi) di Jawa; prabunian
(tanah demarkasi) di Bali; dan \am-\am\torluk di Angkola, limpo di Sulawesi Selatan,
nuru di Buru, payar di Bali, paer di Lombok, dan ulayat di Minangkabau (Ter Haar
1948: 91).

90

PNRI
ditumbuhi oleli alang-alang, belukar, dan hutan rimba yang dibatasi
oleh sungai, gunung di sebelahnya, atau dengan ngarai yang dalam.
Suatu areal tempat melepaskan kerbau selain hanya dimiliki oleh
suatu keluarga inti, juga pada umumnya menjadi milik bersama dari
suatu keluarga asal dari satu nenek moyang. Masing-masing keluarga
inti dari suatu keluarga keturunan satu nenek moyang (artinya satu
klen kecil) dapat melepaskan kerbau di dalamnya. Untuk tidak tim-
bulnya perselisihan dalam menentukan kerbaunya masing-masing,
maka setiap keluarga inti menetapkan tanda-tanda pemilikan tertentu
melalui suatu musyawarah, sehingga suatu keluarga tidak salah
mengambil kerbau yang bukan miliknya, misalnya: sinere biri (tanda
pada telinga), ataupinole iku (tanda pada ekor). Apabila ada kerbau
dari lain areal pelepasan kerbau yang masuk ke dalam areal ini,
maka kerbau tersebut dipandang telah menjadi milik dari pemilik
areal yang dimasuki.
Tanah areal melepaskan kerbau itu juga dapat diwariskan secara
turun temurun. Hingga kini tanah-tanah semacam ini telah jarang
adanya karena, kerbau-kerbau yang ada di dalamnya telah
menghilang atau habis dicuri pada masa kekacauan D l / T I I . Kecuali
itu pemerintah setempat juga tidak mengakui tanah seperti itu sebagai
hak ulayat suatu kelompok keluarga atau klen tertentu.
Areal tempat berburu rusa dan tempat menangkap berjenis-jenis
burung merupakan hak ulayat keluarga-keluarga dari suatu klen kecil
tertentu, karena merupakan tempat yang biasa dimasuki oleh leluhur-
nya untuk berburu dan menangkap burung. Tanah ini pula hingga kini
tidak mendapatkan pengakuan sebagai hak penguasaan.
Bagian batang sungai tempat menangkap ikan adalah suatu bagian
sungai yang telah dijinakkan kedalaman lubuknya dan derasnya arus
dengan jalan menyalurkan sebagian airnya ke jurusan yang lurus.
Areal ini merupakan milik sementara dari suatu keluarga inti karena
sewaktu-waktu sungai itu banjir dan meluap airnya sehingga rusak.
Sedangkan areal rawa yang dijinakkan merupakan milik tetap dari
keluarga-keluarga dari suatu klen kecil tertentu. Dalam keadaan
sungai yang sudah dangkal dan tidak deras barulah orang melepas-
kan air tuba dan menangkap ikan dengan memakai keranjang
penangkap.

91

PNRI
T a n a h kinial adalah satu areal tanah yang di atasnya tumbuh
t a n a m a n jangka p a n j a n g seperti: kelapa, durian, mangga, langsat,
pinang yang merupakan milik keluarga inti dan atau milik keluarga
asal satu nenek moyang yang diwariskan secara turun temurun. Kini
tanah-tanah semacam ini telah diakui oleh pemerintah sebagai hak
milik dari pewarisnya. Suatu tanah kintal selain ditandai dengan
adanya t a n a m a n tahunan juga di dalamnya terdapat k u b u r a n
k a k e k / n e n e k dan keluarganya. Dalam h u b u n g a n ini orang Tolaki
sesungguhnya enggan menjual tanah-tanah semacam ini karena berar-
ti telah menjual kuburan leluhurnya. Namun kini pada kenyataannya
telah banyak tanah-tanah kintal ini diambil alih oleh pemerintah
setempat untuk pembangunan dengan suatu ganti rugi yang meliputi
harga tanaman, harga tanah, dan biaya pemindahan kubur. Dalam
keadaan yang demikian sering timbul sengketa keluarga karena
banyak cucu yang muncul menuntut pembagian.
T a n a h pekarangan adalah bidang tanah dalam kompleks per-
k a m p u n g a n di mana rumah berdiri. Selain ditanami dengan
t a n a m a n t a h u n a n juga dengan tanaman musiman terutama ubi
dan sayur. Suatu pekarangan dapat diperluas ke arah belakang
rumah sampai batas k e m a m p u a n pengolah yang bersangkutan.
P a d a musim-musim tanam di ladang dan di sawah, rumah dan pe-
karangan biasanya ditinggalkan lama oleh pemiliknya pergi ke
lokasi perladangan atau persawahan yang tidak begitu j a u h dari
kompleks p e r k a m p u n g a n . Suatu tanah pekarangan lama-kelama-
an berubah statusnya menjadi tanah kintal setelah orang tua me-
ninggal dan tanah tersebut diwariskan kepada anak dan selanjut-
nya kepada cucu. Begitulah seterusnya secara t u r u n - t e m u r u n .

4. T U K A R M E N U K A R DAN REDISTR1BUSI*'
P a d a dasarnya oiarpun telah ada uang sebagai alat tukar, baik
sebelum dan setelah zaman kolonial Belanda dan Jepang m a u p u n
sesudahnya, orang Tolaki lebih suka untuk tukar menukar dengan

*) Tiga model dari tukar menukar, yakni: reciprucily, redislribulion, market exchange
(lihat karya-karya, antara lain: M. Mauss, The Gifl: Forms and Funclions of Exchange
in Archaic Sociely (1954) dan K. Polanji, Trade and Murket in Ihe Early Empires (1957).

92

PNRI
barang, terutama dengan beras. Beras dapat ditukarkan dengan
barang apa saja yang dibutuhkan, misalnya dengan kerbau,.kuda,
ayam, alat senjata, alat peralatan pertanian dan alat produksi
pada umumnya, dengan alat-alat rumah tangga, dan sebagainya,
baik secara langsung di rumah maupun melalui pasar. Kecuali bagi
mereka yang kebetulan tidak memproduksi banyak padi.
Setiap pemilik sesuatu barang produksi tidaklah secara mutlak
hanya dinikmati olehnya sendiri tetapi harus dinikmati oleh pihak
lain. Bagian dan dengan ukuran tertentu dari suatu barang pro-
duksi diberikan atau dihadiahkan kepada pemerintah setempat,
antara lain untuk mokole (raja), putobu (kepala distrik), dan
lonomoluo (kepala kampung), pabilara (hakim adat), d a n p o s u d o
(wakil kepala kampung), serta kepada lain-lain anggota keluarga
dalam suatu rukun tetangga, misalnya kepada janda, duda, dan
anak yatim-piatu, dan siapa saja yang hadir pada saat penghitung-
an jumlah padi, pada saat pemotongan padi, pada saat pemotong-
an ternak, atau hasil buruan. Mereka yang memberikan bantuan
tenaga dalam pekerjaan tertentu tidaklah harus diberikan imbalan
berupa uang tetapi berupa barang produksi yang berhubungan
dengan pekerjaan tersebut, misalnya bantuan menanam padi di-
berikan imbalan berupa gabah sisa bibit, bantuan menuai padi di-
berikan imbalan berupa padi, dan seterusnya.
Kepada pemerintah setempat diberikan sejumlah ikat padi,
yang idealnya sebanyak aso ulu atau satu kepala (115 ikat padi =
50 x 2 ikat dan setiap hitungan 10 ditambah tiga ikat); daging
berupa ramokole (daging bagian pinggul) khusus untuk raja dan
kepala distrik, o ulu (kepala kerbau) untuk kepala kampung,
daramole (daging bagian tangan) untuk wakil kepala kampung,
dan o ate (daging hati) untuk hakim adat. Istilah-istilah: "aso ulu,
ramokole, o ulu dan daramole, serta o ate " a d a l a h istilah-istilah
yang artinya mengandung makna simbolik.* )

*) Istilah "aso ulu" (satu kepala) mengandung m a k n a simbolik yang menggambarkan


bahwa lima tokoh pemimpin masyarakat Tolaki: raja, kepala distrik, kepala k a m p u n g ,
wakil kepala kampung, dan hakim adat, kelimanya merupakan satu kesatuan, satu
kepala, yang digambarkan dalam 115 ikat padi (masing-masing dalam pembagian 23

93

PNRI
Pemberian sesuatu jenis produksi kepada pemerintah setempat dan
kepada kaum kerabat dan tetangga lainnya didasarkan pada pan-
dangan mereka bahwa hal ini merupakan syarat mutlak bagi
kelangsungan usaha tani mereka agar produksi senantiasa melebihi,
bernilai tambah, melimpah. Pandangan ini terkandung dalam ajaran-
ajaran poko'k mereka dalam mata pencaharian yang mereka sebut: o
wua, o lawi, dan o sapa (lihat hlm.: 70: 76). Selain dari prinsip di atas,
khususnya pemberian kepada kaum kerabat dan tetangga merupakan
manifestasi dari proses tukar menukar hasil produksi masing-masing
sebagai apa yang disebut mombekakaka'ako (saling menikmati
makanan hasil produksi satu sama lain). Kenyataan tukar-menukar ini
merupakan salah satu bentuk dari perwujudan prinsip reciprocity
(timbal-balik) yang menggejala pada banyak masyarakat pedesaan di
dunia (Schneider 1974: 97-155).

5. INTEGRASI BERBAGI SISTEM EKONOMI


Di atas telah dikemukakan beberapa jenis tanah milik dan jenis ber-
cocok tanam yang dilakukan padanya, yang kesemuanya itu
merupakan kekayaan suatu keluarga inti. Dari sekian banyak macam
bercocok tanam tersebut maka padi merupakan pusat, inti produksi
karena peranannya sebagai alat tukar yang paling utama. Padi ber-
fungsi sebagai uang. Namun ukuran kekayaan dari suatu keluarga
bukan terletak pada banyaknya padi yang diproduksikan tetapi pada
adanya kerbau, ternak pada umumnya, barang-barang pusaka dan
luasnya areal tanaman sagu, karena padi bisa habis dalam jangka
waktu tertentu dibandingkan dengan ternak, tanaman sagu, dan
barang milik warisan lainnya.

ikat, atau 10 x 2 ikat + 3 ikat); bilangan " d u a " adalah lambang klasifikasi dua atas
jasmani dan rokhani, dan bilangan " t i g a " adalah lambang dari masing-masing:
semangat, bayangan semangat, dan unsur pemersatu dari keduanya. Dua pertama
disebut sanggoleo mbae (roh padi, dewi padi), dan satu lainnya disebut pinokororo (un-
sur yang memperkuat). Istilah "ramokole" (daging bagian pinggul) adalah lambang
beban yang menunjukan bahwa raja berfungsi sebagai pemikul beban masyarakat;
demikian seterusnya: "o ulu" (kepala sebagai penghulu masyarakat di suatu kampung,
"daramole" (daging bagian tangan) adalah lambang penguat dari kedudukan kepala
kampung) dan "o ate" (daging hati) adalah lambang kesucian, keadilan, yang
merupakan fungsi dari pabitara (hakim adat).

94

PNRI
T a n g g u n g j a w a b pemeliharaan d a n p e m a n f a a t a n setiap macam
produksi dalam sistem ekonomi orang Tolaki bukanlah terpusat pada
seorang person dalam suatu keluarga inti tetapi masing-masing ang-
gotanya mempunyai tanggung jawab tertentu. Ayah misalnya bertang-
gung j a w a b t e r h a d a p tanah milik dengan segala a p a yang ada di
atasnya, seperti: k e r b a u , t a n a m a n t a h u n a n , d a n p o h o n sagu
khususnya. Ibu bertanggung jawab terhadap tanaman padi dan segala
barang r u m a h tangga, dan anak-anak bertanggung j a w a b terhadap
ternak kambing dan ayam. Barang-barang pusaka dan pemelihara-
annya terletak p a d a tanggung j a w a b suami-istri, n a m u n dalam hal
p e m a n f a a t a n n y a harus ada persetujuan dari kakek atau nenek.
Kalau mereka telah meninggal m a k a ikut serta p a m a n d a n bibi dari
kedua belah pihak suami d a n istri yang menyetujui p e m a n f a a t a n
barang-barang tersebut.
Dengan demikian m a k a kita d a p a t m e n y a t a k a n b a h w a integrasi
berbagai sistem ekonomi dalam m a s y a r a k a t orang Tolaki terletak
p a d a p e r a n a n padi di satu pihak d a n p a d a p e r a n a n keluarga di lain
p i h a k . Dari sekian banyak jenis b a r a n g p r o d u k s i m a k a sesungguh-
nya hanya a d a tiga jenis di a n t a r a n y a yang paling berperanan
dalam e k o n o m i keluarga, yakni: t e r n a k , sagu, d a n b a r a n g - b a r a n g
p u s a k a . Binatang ternak mewakili identitas ayah, b a r a n g - b a r a n g
p u s a k a mewakili identitas ibu, d a n r u m p u n sagu adalah identitas
anak.

6. A S A S M A T A P E N C A H A R I A N O R A N G TOLAKI DAN
H U B U N G A N N Y A D E N G A N KALO
Semua uraian mengenai m a t a pencaharian orang Tolaki, yang
meliputi masalah-masalah tentang bercocok t a n a m di ladang,
m e n a n a m padi di sawah, t a n a m a n sagu d a n lain t a n a m a n j a n g k a
panjang» b e r b u r u dan beternak, k o n s e p pemilikan, d a n integrasi
berbagai sistem ekonomi, m e n u n j u k k a n k e p a d a kita b a h w a sistem
e k o n o m i orang Tolaki m e r u p a k a n sistem-sistem yang berlan-
d a s k a n p a d a asas-asas tertentu. Asas-asas itu adalah: asas
alamiah, asas tradisional, d a n asas kekeluargaan.
Asas alamiah t a m p a k dalam h u b u n g a n n y a dengan jenis pro-
duksi, yang diusahakan dan dihasilkan tergantung p a d a kondisi

95

PNRI
dan potensi alam dan lingkungannya. Asas tradisional nyata
dalam kaitannya dengan sistem teknologi pengolahan dan peman-
faatan hasil, yang senantiasa menurut ketentuan adat-istiadat
yang berlaku secara turun temurun, baik dalam menggunakan
alat-peralatan yang masih sederhana m a u p u n dalam pengadaan
upacara-upacara ritual yang bersifat religi-magi atau keagamaan
dan ilmu gaib. Demikian asas kekeluargaan tampak dalam
hubungannya dengan kenyataan bahwa hampir semua usaha
pengolahan tanah dan pemetikan hasil tidak hanya dilakukan oleh
anggota suatu keluarga inti tetapi juga atas kerja sama dengan se-
jumlah anggota dalam ikatan keluarga satu nenek moyang. Hasil-
nya pun tidak hanya dinikmati oleh pemiliknya sendiri tetapi juga
disyaratkan untuk dinikmati oleh sesama keluarga dan tetangga
terdekat dan pemerintah setempat dalam kadar tertentu. Asas
kekeluargaan ini tidak hanya untuk memelihara hubungan timbal-
balik antara keluarga dengan keluarga atau antara rakyat dan
pemerintah, tetapi juga untuk memelihara hubungan timbal-balik
antara manusia dengan makhluk gaib. Kenyataan terakhir ini
diwujudkan dalam upacara doa syukur menikmati nasi pertama
padi yang dihasilkan, di m a n a sejumlah anggota keluarga dan
tetangga diundang untuk makan bersama, dan disajikan sejumlah
hidangan lainnya dalam bentuk persembahan yang dihidangkan
untuk makhluk halus melalui tempat-tempat sajian tertentu di
pohon, di sungai, dan di tempat-tempat lain yang dipandang suci.
Selanjutnya, bagaimana hubungan antara asas mata pencahari-
an orang Tolaki dengan kalonya? H u b u n g a n itu tampak pada tiga
kenyataan yang digambarkan di bawah ini sebagai berikut:
1. Kenyataan bahwa kalo selalu digunakan sebagai tanda pemilik-
an, dan tanda larangan, penjaga tanaman terhadap gangguan
hama dan gangguan orang lain. Selain itu kalo secara simbolik
adalah ganti diri dari pemilik tanah dan tanaman di atasnya;
2. Kenyataan bahwa kalo selalu digunakan dalam upacara ritual
dari hampir setiap fase pengolahan tanah, penanaman padi,
dan pemetikan hasil. Penyelenggaraan suatu upacara ritual
dengan menggunakan kalo adalah mutlak dilakukan demi
suksesnya seluruh rangkaian kegiatan pengolahan tanah, peme-

96

PNRI
liharaan t a n a m a n , dan pemetikan hasil, karena hasil yang di-
inginkan, kata mereka, adalah berkat adanya dukungan dari
unsur-unsur alam nyata termasuk sesama manusia itu sendiri,
dan alam gaib. H u b u n g a n demikian hanya dapat diwujudkan
di dalam dan setelah diadakan suatu upacara di mana kalo di-
gunakan, karena makna simbolik dari kalo adalah berfungsi
mewujudkan hubungan timbal-balik dari unsur-unsur upacara
tersebut, yakni: hubungan timbal balik antara manusia dengan
sesamanya, manusia dengan hewan, ternaknya, manusia de-
ngan tumbuhan atau tanamannya, manusia-manusia dengan
api, angin, air dan tanah, manusia dengan waktu dan ruang,
dan manusia dengan makhluk halus dan dewa-dewa, khusus-
nya dewi padi. Semua unsur ini terlihat dalam konteks upacara;
3. Kenyataan bahwa ikutnya unsur pemerintah setempat,
keluarga dan tetangga terdekat menikmati hasil produksi
tanaman dan ternak potong, sesungguhnya, bagi orang Tolaki,
adalah perwujudan dari prinsip kalo itu sendiri, yakni medulu
(kesatuan dan persatuan). Kenyataan ini merupakan wujud
dari usaha mereka untuk memelihara dan mempertahankan
hubungan sosial mereka yang serasi, selaras dan seimbang,
serta berkesinambungan.
Kini setelah pemerintah setempat mulai melarang berladang liar
untuk mengintensipkan sistem irigasi bersawah, dan melarang ber-
buru dan menangkap burung dalam rangka upaya pelestarian ling-
kungan alam, serta mulai menerapkan sistem teknologi tepat guna
dalam beternak, maka peranan kalo dalam sistem ekonomi tradisi-
onal orang Tolaki sebagaimana dikemukakan di atas telah mulai
bergeser. Peranan kalo mulai bergeser dari sebagai alat upacara
untuk semua fase pengolahan tanah sampai pemetikan hasil per-
ladangan, menjadi hanya sebagai alat upacara pergantian tahun
pertanian; dari sebagai tanda pemilikan tanah hutan bakal per-
ladangan menjadi hanya sebagai penjaga kebun tanaman jangka
panjang, dari sebagai alat penangkap hewan buruan dan penang-
kap burung menjadi hanya sebagai cincin hidung kerbau dan sapi.

97

PNRI
v
SISTEM TEKNOLOGI T R A D I S I O N A L O R A N G TOLAKI

Dalam banyak tulisan etnografi tentang sistem teknologi dari


banyak masyarakat di dunia, yang disusun oleh para ahli antropo-
logi sejak akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20, tampak
paling sedikit delapan macam sistem peralatan dan unsur ke-
budayaan fisik, yang dipakai oleh manusia yang hidup dalam
masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesa-
an yang hidup dari pertanian, yaitu: (1) alat-alat produktif; (2)
senjata; (3) wadah; (4) alat-alat menyalakan api; (5) makanan,
minuman, dan bahan pembangkit gairah; (6) pakaian dan perhias-
an; (7) tempat berlindung dan perumahan; dan (8) alat-alat trans-
por! (Beals & Hoijer 1953: 287-414; Koentjaraningrat 1979: 359).
Dalam mendeskripsi sistem teknologi tradisional orang Tolaki,
saya hanya membatasi diri pada sekedar menyebut macam, bahan
dan pemakaian dari tiap jenisnya, dan sebaliknya lebih meluas
pada uraian mengenai bentuk dan teknik pembuatannya karena
hal itu sangat berhubungan dengan konsep kalo itu sendiri. Oleh
karena itu penguraian mengenai sistem teknologi tradisional orang
Tolaki ini saya bagi ke dalam lima urutan, yakni: (1) jenis alat-
alat; (2) bahan dasar pembuatan; (3) teknik pembuatan; (4) ben-
tuk dari tiap alat-peralatan; dan (5) asas teknologi tradisional
orang Tolaki dan hubungannya dengan kalo.

1. J E N I S A L A T - A L A T
Alat-alat produktif. Macam alat-alat produktif tradisional
orang Tolaki meliputi: alat-alat bertani ladang, menokok sagu,
berburu, beternak, dan menangkap ikan. Alat-alat bertani ladang
adalah misalnya: o pade (parang), o pali (kampak), rambaha (batu

98

PNRI
asahan), potasu (tugal), saira (sabit), o sowi (tuai), pehcie (peng-
ikat padi), o nohu (lesung), o alu (alu), o duku (tampi beras). Alat-
alat untuk menokok sagu adalah misalnya: o suli dan larasu/u (ke-
duanya untuk membela batang sagu), o saku (alat memecah bulir
sagu), landaka (keranjang besar untuk memeras air sagu), dan o
ani (tempat pengendapan sagu). Alat-alat untuk berburu dan
menangkap hewan liar adalah misalnya: karada (tombak), o
sungga (bambu runcing), o taho, ohotai, ohopi (ketiganya adalah
alat menangkap ayam hutan dan menangkap burung), lu'oi (ran-
jau), katilombu (lubang perangkap), wotika (alat tusuk), parado
(tali penangkap kerbau liar), dan o boso (pagar perangkap). Alat-
alat untuk beternak adalah misalnya: walaka (tiang tambatan ker-
bau), o lo (tali), selekeri dan ka/elawu (cincin hidung kerbau).
Akhirnya alat-alat untuk menangkap ikan di sungai dan di rawa
adalah misalnya: o kabi (kail), o pinibi (bubu), sa'ulawi
(anyaman bambu), soramba (tombak berkait), o pape (panah),
dan lupai (tubah).
Senjata. Senjata tradisional'orang Tolaki yang paling utama
adalah ta'awu (parang panjang, sejenis kelewang), kinia (perisai),
karada (tombak), kasai (tombak berkait). Alat-alat senjata ini
khusus dipakai oleh kaum pria. Senjata untuk kaum wanita ada-
lah o piso (pisau). Adapun keris juga dipakai untuk senjata tetapi
alat ini bukan hasil memandai orang Tolaki. Mereka membelinya
dari orang Bugis atau dari orang Jawa.
Wadah. Banyak macam wadah buatan orang Tolaki, seperti
misalnya: kombilo (tempat menyimpan barang-barang anyaman),
o lepa (bakul tempat menyimpan bahan-bahan makanan), pangisa
(tempat menyimpan barang-barang perhiasan), o bungge (tempat
menyimpan barang-barang pakaian wanita), burua (peti tempat
menyimpan barang-barang pakaian pria), o baki (keranjang), o
basu (basung), o kuro (periuk), dan kawali (kuali). Orang Tolaki
juga memakai kuningan yang mereka beli dari orang Buton.
Alat-alat Membuat dan Menyalakan Api. Orang Tolaki tradisi-
onal membuat api dengan menggunakan dua jenis alat, yakni: o
tinggu (alat membuat api darj batu dan waru), dan o eri
(alat membuat api dari bambu). Mereka juga mengenal tiga alat

99

PNRI
untuk menyalakan api, yakni: peahi (alat meniup àpi asal dari
pelepah sagù), liliali (alat meniup api asal dari bambú), dan sosoa
(alat menyalakan api asal dari potongan kayu bulat yang di-
lubang dan alat ini khusus dipakai dalam menempah besi).
Alat-alat Makan dan Milium. Untuk menyebutkan alat-alat
makan dan minum orang Tolaki, saya terlebih dahulu menyebut-
kan beberapa macam hidangan makanan dan minumannya. Ma-
kanan utama orang Tolaki adalah: kina (nasi), kemudian sinonggi
(sagú). O gandu (jagung) dan lain-lain wanggole (ubi-ubian) hanya
sebagai makanan ekstra. Mereka juga makan daging yang disebut
la'inahu (daging dari kerbau,rusa, anuang, kambing, ayam, dan
berjenis-jenis ikan dan siput), dan sejumlah jenis bahan sayuran
yang disebut purorembu atau purondawa (serat, daun, cendawan,
dan macam-macam umbut), serta sejumlah bahan untuk sambal,
seperti: pe'anihi atau oh io (garam), o saha atau o lada (lombok),
lusuna (bawang), o inunde (jeruk), serta lain-lain bahan masakan.
Minuman utama adalah: o kopi (kopi), pongasi (air beras yang
diberi ragi), ineawi (air tuak dari enau, o ara (arak). Sebagai bahan
perangsang mereka momama (makan tembakau), mowule (makan
sirih), dan mo'ombi (merokok).
Sebelumnya orang Tolaki memakai alat-alat makan dan minum
dari bahan porselin yang mereka beli di toko, mereka memakai
alat makan dan minum yang disebut: siwole (anyaman untuk
nasi), o aha (tempat lauk-pauk), o dula (tempat makanan dari
sagú), o boku (tempat kuah), o bila (tempat minum), dan o songgi
(alat makanan sagù). Alat-alat makan dan minum yang mereka
telah miliki sebagai harta pusaka buatan Cina, Jepang, dan Eropa
adalah seperti: o pingga (piring porselin), o tonde (gelas porselin),
o benggi, lambaga, wuapangi, takara, koloi (masing-masing
adalah jenis-jenis tempayan, tempat menyimpan minuman keras).
Selain itu mereka juga memiliki barang-barang kuningan yang di-
beli dari Buton, yaitu: o randa (alas piring), patako (tempat
hidangan sirih), usaka (lesung kecil tempat menumbuh sirih),
kolunggu (tempat kapur sirih).
Alat-alat Pakaian dan Perhiasan. Orang Tolaki pernah memakai
pakaian tradisional dari bahan fuya, yang mereka sebut kinawo, yaitu

100

PNRI
bahan pakaian yang diproses dari kulit kayu yang dinamakan usangi
dan wehuko (masing-masing sejenis pohon kayu yang khusus untuk
pakaian). Pada z a m a n p e n d u d u k a n Jepang mereka menanam kapas
dan memproses pemintalan benang dan menenun kain. Hingga kini
tersimpan oleh pemiliknya suatu tenunan sarung yang dipandang
tenunan tradisional orang Tolaki, yang disebut sawu ulu (sarung
kepala, sarung utama, sarung pokok). Alat-alat kelengkapan tubuli
lainnya adalah o songgo (songko), usu-usu (penutup kepala), o babu
(baju), o lembi (cawat), saluaro (celana), pebo (ikat pinggang). Kalau
orang Tolaki ke luar rumah untuk pergi berkunjung ke rumali
tetangga ia membawa o kadu (kantung untuk bahan-bahan sirih dan
pinang serta kapur sirih khusus untuk pria orang tua), o be'u (tempat
sirih dan pinang khusus untuk wanita orang tua), hudaka (tempat
rokok khusus untuk orang muda), dan taitasi (tas).
Perhiasan banyak jenisnya, seperti: kalunggalu (ikat kepala pada
wanita), o/7i//-<7Wi//(anting-anting), eno-eno (kalung), sambiala (kalung
pada badan), bolosu (gelang pada lengan dan pada pergelangan
tangan), kale-kale (gelang pada tangan), o langge (gelang pada kaki),
dan kalepasi (gelang tangan dari akar bahar). Sejumlah perhiasan
rumah adalah seperti: o tenda (perhiasan pada langit-langit), la bere
(perhiasan pada sepanjang dinding kamar dan ruangan tamu
khususnya pada saat pesta). Perlu juga disebut di sini beberapa
macam anyaman, seperti: ambahi mbo'iso'a (tikar tidur), ambahi
mbererehu'a (tikar tempat duduk), dan ambaliimbombuai'a (tikar un-
tuk menjemur), serta siwole uwa (anyaman khusus untuk tempat
meletakkan kalo, yang dipandang sebagai salali satu atribut kato
dalam upacara).
Alat-alat Perlindungan. Banyak- alat perlindungan tradisional
Tolaki, seperti: pineworu (tempat berlindung sementara), laika
wuta (pondok berlantai tanah di tengah ladang), o bora (tudung),
payu (tempat berlindung yang dipindah-pindahkan), patande
(dangau), o ala (lumbung), dan Iciika (rumah tempat tinggal).
Khusus untuk rumah istana raja disebut komali.
Alat-Alat Transpor. Alat transport tradisional di darat adalah:
kapinda (alat alas kaki), o tigo (alat berjalan di lumpur), o soda (alat
pikulan di bahu), kalabandi (alat pikulan di kepata), kalaia (alat

101

PNRI
usungan orang sakit), lembara (alat usungan mayat), o sama (alat
pikulan pada kerbau), o teke (alat pikulan pada kuda). Sedangkan alat
transport di sungai dan di rawa adalah seperti: o nia (rakit), o bangga
(perahu sampan), dan lain-lain londoi (batangan yang mengapung).

2. B A H A N DASAR P E M B U A T A N DARI T I A P ALAT-


PERALATAN
Pada dasarnya bahan-bahan yang dipakai alat-peralatan dari suatu
suku bangsa pasti sesuai dengan bahan-bahan potensi alam dan
lingkungan sekitarnya di mana ia hidup (Forde 1934). Sesuai dengan
potensi alam dan lingkungan sekitarnya, m a k a alat peralatan orang
Tolaki terbuat dari salah satu atau penggabungan dari bahan-bahan
mentali sebagai tersebut di bawah ini:
1) T a n a h , khususnya tanah liât, adalah bahan mentali untuk pem-
buatan periuk, kuali, dan cerek.
2) Batu adalah bahan mentah untuk alat menyalakan api, dan untuk
.mengasah.
3) Aneka ragam tumbuhan, seperti: kayu bulat untuk tugal, lesung,
alu, pembela batang sagù, pagar perangkap, tiang tambatan ker-
bau, tempat menampung tepung sagù, peniup api dalam menem-
pah besi, ramuan alat perlindungan, dan untuk rakit dan perahu
sampan; kulit kayu untuk fuya, tali; akar untuk pengikat; bambù
untuk alat-alat berburu, menangkap ikan, menyalakan api, ramuan
alat perlindungan, dan untuk mengambil air; daun pandan dan lain-
lain semacamnya untuk wadah dan tikar; anggrek untuk tikar dan
macam-macam anyaman; rotan untuk keranjang dan sebagai
bahan pengikat dari semua jenis alat-peralatan yang memerlukan
ikatan; bahan-bahan mentah dari pohon enau, misalnya: warunya
untuk menyalakan api, tangkainya untuk nyiru dan anyaman
wadah untuk atribut kato, airnya untuk gula merah, tuak dan arak,
dan sabutnya untuk tali dan sikat kaki.
4) Aneka ragam tanaman, seperti: sagù, yang kulitnya, tangkainya,
dan daunnya untuk ramuan rumah, dan pelepahnya untuk wadah;
demikian kelapa, yang sabutnya untuk tali dan sikat kaki, tem-
purungnya untuk piring makan.

102

PNRI
5) Kulit dan tanduk hewan, misalnya: kulit kerbau dan kambing un-
tuk penutup gendang, selain itu kulit kerbau juga dipakai untuk tali
penangkap kerbau liar; tanduk kerbau untuk gantungan dan untuk
perhiasan ruangan, demikian halnya dengan tanduk rusa dan tan-
duk anuang, kecuali itu tanduk kerbau dipakai juga untuk hiasan
b u m b u n g a n rumali, dan tanduk rusa juga dipakai untuk alai
pengait tali penangkap kerbau liar.
6) Besi, emas dan kuningan adalah bahan-bahan mentali untuk alat-
ala! produktif, senjata dan perhiasan, misalnya: besi untuk parang,
kampak, pisau, kelevvang, penggali lubang, dan mata panali; emas
untuk anting-anting, kalung, gelang, cincin; serta kuningan lainnya
untuk gelang badan, gelang kaki.

3. TEKNIK P E M B U A T A N DARI A L A T - P E R A L A T A N
Teknik-teknik pembuatan alat-peralatan yang telali disebut di atas
pada u m u m n y a meliputi teknik-teknik: memandai, mengikat,
dipukul-pukul, dibentuk, meraut, menganyam, memintal, ditenun,
melubang, menusuk, memasak, menyiram dengan air mendidih,
diragi, diuapkan, disadap, dibakar, dikunyah, d i t u m b u k , ditanam,
diiris, dijemur, dimasukkan di b a m b ù , dikuliti, dicat, dipotong,
disambung, dilapis, dijahit, dirangkai, digulung, diwarna, disusun,
diatapi, didirikan di atas tiang, dijejer (lihat Lampiran VII).
Membuat periuk tanah misalnya, orang harus mengerjakan melalui
proses yang panjang, yakni: menggali, memikul ke rumali, menjemur
sampai kering, m e n u m b u k sampai halus, menyiram dengan air,
memijit dan membentuk dengan tangan, dan dengan bantuan alai
khusus pemukul, selanjutnya dianginkan, dan terakhir dibakar dan
dicelup dalam suatu cairan khusus. Demikian misalnya membuat gula
merah dari air enau, proses adalah: memukul-mukul batang
bunganya, memotong bunganya, menampung airnya dengan perian,
memikul ke rumali, dimasak di kuali, dituang dalam tempurung,
dikeringkan, dan terakhir dibungkus dengan daun o win (sejenis daun
palam). Begitu seterusnya misalnya membuat minyak kelapa, pro-
sesnya adalah: memetik buahnya dengan memanjat, mengupas sabut-
nya, membelah bijinya, mengukur kelapanya, memisahkan santannya

103

PNRI
dari ampasnya, memasak, dan terakhir memisahkan minyaknya dari
ampasnya.
Sebagai misal lain adalah proses pembuatan tikar, langit-langit,
dan tirai. Pembuatan tikar dari bahan pandan atau agel melalui
proses demikian: memotong daunnya di hutan, memikulnya ke
rumah, memisahkan daunnya dari bukunya, menjemur, menggu-
lung, menyimpan untuk beberapa hari sampai kering betul, men-
celup dalam cairan warna yang diinginkan, membelah-belah dan
merapihkan, menganyam, dan terakhir membungkus dan menjahit
pinggirnya. Membuat langit-langit dan tirai, prosesnya adalah:
membuat patron, memotong-motong kain dasar, dan terakhir men-
jahitnya.
Sebagai misal terakhir dapat disebut memandai parang. Proses
pembuatan parang diavvali dengan pembuatan bangunan penem-
pahan besi, membakar dan memukul besinya dengan martil ber-
ganti-ganti sampai model yang diinginkan terbentuk, mengikir
semua sisi permukaannya, memasang hulunya, mengasahnya, dan
akhirnya mengikat hulunya dengan ikatan khusus yang disebut
holunga (ikatan rotan yang dianyam).

4. BENTUK DARI T I A P A L A T - P E R A L A T A N
Setiap benda fisik selalu mempunyai bentuk terlentu dan terdiri
dari bagian-bagian tertentu pula (Young 1976). Alat-peralatan
orang Tolaki, seperti juga pada lain-lain suku bangsa di dunia
(Beals & Hoijer 1959: 287-414), bentuknya meliputi bentuk-
bentuk: lingkaran, bulat, persegi, memanjang, meruncing, dan
kombinasi dari bentuk-bentuk tersebut (lihat Lampiran VIII).
Alat-alat dengan bentuk lingkaran adalah misalnya: tampi,
jerat, lobang perangkap, cincin hidung kerbau, wadah sebagai pi-
ring makan, kalung, gelang perhiasan, tudung. Bentuk bulat
adalah misalnya: periuk, dan wadah penampungan air. Bentuk
persegi adalah misalnya: kampak, pagar perangkap, barang-
barang tempat menyimpan pakaian dan perhiasan, kipas menyala-
kan api, tempat rokok, wadah anyaman untuk kalo, semua alat

104

PNRI
perlindungan kecuali t u d u n g yang melingkar, alat usungan mayat,
alat a n g k u t a n p a d a hewan, rakit. Bentuk m e m a n j a n g adalah
misalnya: p a r a n g biasa, parang p a n j a n g (kelewang). Bentuk me-
runcing adalah misalnya: t o m b a k , dan semua jenis alat penusuk.
Kombinasi dari bentuk-bentuk di atas adalah misalnya: lesung,
alu, alat-alat pembelah sagù, tiang t a m b a t a n kerbau, peniup api
p a d a p e n e m p a h a n besi (semuanya kombinasi bentuk bulat dan
m e m a n j a n g ) , dan tenda d a n tabir perhiasan ruangan r u m a h yang
b e n t u k n y a adalah kombinasi lingkaran dan segi empat (lihat Lam-
piran V i l i ) .
Alat-alat di atas masing-masing apabila kita hendak m e n u n j u k k a n
struktur bagian-bagiannya, maka sesungguhnya alat-alat itu selalu ter-
diri dari dua atau tiga bagian, yakni: bagian atas dan bagian bawah,
atau bagian di dalam dan bagian di luar; atau bagian atas, bagian
tengah, dan bagian bawah; atau bagian k a n a n , bagian a n t a r a , dan
bagian kiri; atau bagian m u k a , bagian j a r a k , dan bagian belakang;
atau bagian di dalam, bagian antara, bagian di luar. Sebagai misal saya
ambii salah satu dari alat p r o d u k t i f , yaitu parang. Alat ini dapat
dibedakan antara dua bagian, yakni: bagian besi yang diasah, yakni
matanya sebagai bagian m u k a , dan bagian yang tidak diasah, yakni
punggungnya sebagai bagian belakang. P a r a n g tersebut juga terdiri
atas tiga bagian, yakni: m a t a n y a sebagai kepala, bagian antara
matanya dengan hulunya sebagai dadanya, dan bagian hulunya sendiri
sebagai anggotanya.
Demikian misalnya saya ambii contoh salah satu dari wadah, seper-
ti periuk. Alat ini terdiri dari bagian mulut sebagai bagian atas, bagian
leher sebagai bagian tengah, dan bagian perut sebagai bagian bawah.
Demikian juga misalnya anyaman tikar terdiri dari bagian kepala
sebagai bagian atas, bagian pusat sebagai tengah, dan bagian kaki
sebagai bagian bawah, serta bagian-bagian pinggir sebagai bagian
kanan dan kiri. A n y a m a n tenda misalnya terdiri atas bagian pusat
sebagai kepala, bagian tengah kanan dan kiri, m u k a dan belakang
sebagai bagian leher, dan bagian ke empat sisinya sebagai tubuh. Alat
perlindungan misalnya rumah terdiri atas bagian loteng sebagai
kepala, bagian ruangan tengah sebagai b a d a n , d a n bagian kolong
rumah sebagai kaki, serta sisi-sisi rumah sebagai kanan dan kiri, muka

105

PNRI
dan belakang. Akhirnya misalnya dari alat-alat transport, seperti
perahu atau rakit terdiri dari bagian haluan sebagai kepala, bagian
tengah sebagai b a d a n , dan bagian buritan sebagai kaki, dan kedua
sisinya sebagai tangan kanan d a n kiri.

5 . ASAS T E K N O L O G I T R A D I S I O N A L O R A N G T O L A K I DAN
HUBUNGANNYA DENGAN KALO
Dari uraian-uraian mengenai sistem teknologi tradisional orang
Tolaki, yang meliputi jenis alat-peralatan hidup, bahan mentah pem-
buatannya, sistem p e m b u a t a n n y a p e m a k a i a n n y a , serta bentuk dan
struktur bagian-bagiannya yang telah dikemukakan di atas menunjuk-
kan kepada kita bahwa sistem teknologi tradisional orang Tolaki
m e r u p a k a n sistem yang berlandaskan p a d a asas-asas tertentu.
Landasan sistem teknologinya dalam memproses alat-peralatan dan
perlengkapan hidup mereka adalah asas lingkaran atau bulatan, asas
persegi e m p a t , dan asas ikatan atau lilitan, serta asas analogi, iden-
tifikasi dan representasi. Asas lingkaran atau bulatan dan persegi em-
pat n a m p a k pada hampir semua bentuk alat-peralatan, baik secara
sendiri m a u p u n secara kombinasi. Dalam hampir semua cara mem-
buat alat-alat tampak teknik mengikat, melilit untuk menghubungkan
satu sama lain dari bagian-bagiannya. Sedangkan asas analogi,
asosiasi dan identifikasi n a m p a k pada bentuk dan struktur bagian-
bagian suatu alat-peralatan sebagai gambaran dari konsepsi mereka
mengenai diri sebagai manusia, sebagai hewan d a n t u m b u h a n , serta
sebagai benda-benda alam fisik lainnya yang terdapat dalam
lingkungannya.
Sebagai contoh saya ambil misal seperti: parang dan sejenisnya
adalah g a m b a r a n tubuh manusia, t o m b a k sebagai penis, periuk
sebagai buah, kalung sebagai kepala, leher, atas bagian tubuh manusia
yang bulat, demikian seperti rumah sebagai p o h o n , dan perahu
sebagai ikan. Sedangkan struktur bagian-bagian dari suatu alat-
peralatan selalu terdiri atas dua atau tiga bagian sebagai analogi,
asosiasi, d a n identifikasi mereka mengenai struktur bagian-bagian
alam (langit dan bumi atau dunia atas, dunia tengah dan dunia
bawah), bagian-bagian tubuh manusia (kepala, badan, dan anggota)

106

PNRI
demikian hewan yang diidentikkan dengan manusia, dan lain-lain ben-
da fisik.
Selanjutnya, bagaimana hubungan antara asas sistem teknologi
tradisional orang Tolaki dengan kalonyal Hubungan itu nampak pada
kenyataan-kenyataan yang digambarkan di bawah ini.

1. Kenyataan bahwa pada umumnya alat-peralatan memerlukan


pengikat rotan, yang teknik mengikatnya adalah selalu identik
dengan model ikatan kalo yang melilit, melingkar, dan membulat.
Semua hulu dari alat-alat produktif dan senjata selalu diikat
dengan teknik khusus yang disebut holunga (ikatan melingkar
yang dianyam); demikian semua wadah anyaman diperkuat
bobotnya dengan lingkaran rotan yang dipilin, dan hampir
semua dari model perhiasan identik dengan model kalo yang
melingkar, membulat.
2. Kenyataan yang unik adalah, bahwa tiang tengah dari suatu
bangunan di atas tiang, utamanya rumah tempat tinggal, selalu
diikat dengan ikatan rotan yang juga disebut kalo.
3. Kenyataan bahwa model dari semua jenis jerat penangkap hewan
liar dan unggas yang bahannya asal dari rotan atau akar selalu
mengikuti model kalo.
4. Selain model kalo nampak pada teknik mengikat dari alat-
peralatan tersebut dan pada sebagian dari bentuk-bentuknya, juga
struktur unsur dua atau tiga dari alat-peralatan yang telali
dilukiskan di atas selalu tercermin di dalam struktur unsur dua atau
tiga dari kalo itu.
Meskipun orang Tolaki pada masa kini telali ada sebagian keeil
yang mendirikan rumah dengan sepenuhnya meninggalkan teknik ikat
dari rotan, karena bangunan rumah itu adalah bangunan permanen
dari batu semen, tetapi masih juga tampak peranan kalo itu sebagai
pengikat tiang tengah rumah tersebut. Pengikat kalo tersebut tampak
bergeser dari tiang tengah rumah bagian ruang tengah pindah ke
bagian ruang loteng. Kalo pengikat tiang tengah rumah itu bergeser
dari bahan rotan ke bahan kain putih.

107

PNRI
VI
ORGANISASI SOSIAL ORANG TOLAKI

Pembicaraan mengenai organisasi sosial dalam masyarakat orang


Tolaki, saya bagi atas dua kerangka uraian, yakni: (1) mengenai
sistem kekerabatan; dan (2) mengenai sistem politik dan stratifikasi
sosial.
Uraian mengenai sistem kekerabatan meliputi tipe sistem kekera-
batan termasuk istilah kekerabatan dan analisanya, keluarga inti dan
kelompok kekerabatan, dan lingkaran hidup. Uraian mengenai sistem
politik dan stratifikasi sosial meliputi organisasi politik kerajaan, pola-
pola pemukiman desa dan kota, dan stratifikasi sosial tradisional dan
masa kini. Semua uraian tersebut dihubungkan dengan ka/o.

1. SISTEM K E K E R A B A T A N
1.1. Tipe Sistem Kekerabatan Orang Tolaki
Dalam masyarakat orang Tolaki seperti pada semua masyarakat
(Fox 1981) sistem hubungan kekerabatan terjadi karena keturunan
dan perkawinan. Hubungan kerabat karena keturunan disebut meo-
hai (hubungan saudara), dan anamotuo (hubungan orang tua), se-
dangkan hubungan karena perkawinan disebut pinetpno (hubungan
suami-istri, hubungan keluarga istri dan hubungan keluarga suami).
Hubungan saudara tampak sebagai apa yang disebut mekotukombo
(hubungan saudara kandung), yang terdiri atas tiga macam, yaitu:
meohai aso ama aso ina (hubungan saudara kandung seayah dan
seibu), meohai aso ama suere ina (hubungan saudara kandung seayah
lain ibu), meohai aso ina suere ama (hubungan saudara kandung seibu
lain ayah). Selain hubungan saudara sebagai saudara kandung ada
juga hubungan saudara yang disebut meopoteha (hubungan saudara
sepupu). Hubungan saudara sepupu ini juga terdiri atas tiga macam,
108

PNRI
yaitu: meopoteha monggo aso (hubungan sepupu derajat. satu),
meopoteha monggo ruó (hubungan sepupu derajat dua), dan
meopoteha monggo tolu (hubungan sepupu derajat tiga).
Hubungan dengan orang tua tampak dalam unsur-unsur yang di-
sebut mbeo'ana (hubungan orang tua-anak) dan mbeopue (hubung-
an kakek atau nenek-cucu). Hubungan orang tua-anak terdiri dari
unsur-unsur sebagai mbeo'ana kotukombo (hubungan orang tua —
anak kandung) dan mbeolaki'ana (hubungan paman atau bibi-
kemenakan). H u b u n g a n paman atau bibi dengan kemenakan ter-
diri pula atas unsur mbeolaki'ana nggotukombo (hubungan
paman atau bibi-kemenakan kandung) dan unsur mbeolaki'ana
mboteha (hubungan paman atau bibi-kemenakan sepupu).
Masing-masing paman sepupu, bibi sepupu, dan kemenakan ter-
diri pula atas tiga unsur, yakni: sebagai sepupu derajat satu,
sebagai sepupu derajat dua, dan sebagai sepupu derajat tiga.
Selanjutnya hubungan antara kakek atau nenek dengan cucu ter-
diri dari tiga tingkat, baik ke atas maupun ke bawah, yakni:
meopue-mbue (hubungan kakek atau nenek dengan cucu),
meopuetuko-mbuetuko (hubungan piut dengan cici), dan
meopuesele-mbuesele (hubungan buyut dengan cece). Menurut
orang Tolaki kakek atau nenek itu ada tujuh lapis. Lapisan ketujuh
yang disebut puembitulapi (kakek atau nenek lapisan ketujuh) tidak
dikenal lagi dan dipertanyakan oleh cucunya lapisan terbawah; oleh
karena itu ada istilah puembinesuko'ako yang berarti kakek atau
nenek yang dipertanyakan. Masing-masing tiga unsur hubungan
kakek atau nenek dengan cucu, piut dengan cici, dan buyut dengan
cece ini pula terdiri atas yang sekandung dan yang sepupu, dan
selanjutnya yang sepupu ini pula terdiri atas tiga, yakni: yang
sepupu derajat satu, yang sepupu derajat dua, dan yang sepupu
derajat tiga, sehingga dikenal terdiri dari 15 unsur.*)
Hubungan dengan keluarga istri atau dengan keluarga suami terdiri
dari apa yang disebut meowali atau meosanggina (hubungan suami-
istri secara timbal-balik), meobaisa (hubungan mertua-menantu
secara timbal-balik), dan meo'ela (hubungan suami dengan saudara

* Lihat Bagan 2. Kerabat Sedarah para Orang Tolaki

109

PNRI
laki-laki istri secara timbal-balik), meohine (hubungan suami dengan
saudara perempuan istri atau hubungan istri dengan saudara laki-
laki suami secara timbal-balik, meobea (hubungan istri dengan
saudara perempuan suami secara timbal-balik), dan meo'asa
(hubungan suami dengan suami dari istri-istri bersaudara kandung
atau hubungan istri dengan istri dari suami-suami bersaudara kan-
dung secara timbal-balik).

110

PNRI
H u b u n g a n suami-istri selain dikenal sebagai meowali atau meo-
sanggina dalam pengertian monogini juga dikenal sebagai meosa'o
atau meosa'olowa (hubungan istri dengan istri dari seorang suami
secara timbal-balik) dalam pengertian poligini. Akibatnya dikenal
pula adanya meo'awo (hubungan ayah tiri atau ibu tiri dengan
anak tiri secara timbal-balik). H u b u n g a n mertua-menantu disebut
meobaisa, dan h u b u n g a n ini terdiri dari meobaisa nggotukombo
(hubungan mertua dengan menantu k a n d u n g ) d a n meobaisa mbo-
teha ( h u b u n g a n mertua dengan m e n a n t u k e m e n a k a n ) .
Sistem Istilah Kekerabatan dalam Bahasa Tolaki. Sistem istilah
kekerabatan dalam bahasa Tolaki mengenal 20 istilah sapaan dan
88 istilah acuan, yang semuanya terdaftar p a d a tabel 4.

TABEL 4.
ISTILAH KEKERABATAN D A L A M BAHASA TOLAKI D E N G A N
DENOTASINYA

Istilah Kekerabatan
No. Denotasinya
Istilah Sapaan Istilah Acuan

1. kotukombo : saudara kandung seayah dan seibu


saudara kandung seayah lain ibu, sau
dara kandung seibu lain ayah
2. k ak a i kSka : abang, kakak
3. kaka langgai : abang
4. kaka ndina : kakak
5. kaka nggotukombo : abang, kakak kandung
6. kaka mboteha : abang, kakak sepupu
7. ndukaka abang, kakak (panggilan sayang
sayang)
8. i hai : adik
9. hai langgai : adik laki-laki
10. hai ndina : adik perempuan
11. hai nggotukombo : adik kandung
12. hai mboteha : adik sepupu
13. nduhai adik (panggilan sayang-sayang)
14. poteha : sepupu
15. poteha monggo aso : sepupu derajat satu
16. poteha monggo ruo : sepupu derajat dua
17. poteha monggo tolu : sepupu derajat tiga

111

PNRI
Istilah Kekerabatan
No. Denotasinya
Istilah Sapaan istilah Acuan

18. ama i ama : ayah


19. ina i ina : ibu
20. ana ana : anak
21. ana langgai : anak laki-laki
22. ana ndina : anak perempuan
23. 'ana iliwua ; anak sulung
24. ana iliwua langgai : anak sulung laki-laki
.25. ana iliwua ndina : anak sulung perempuan
26. anai'uhu : anak bungsu
27. anai'uhu langgai : anak bungsu laki-laki
28. anai'uhu ndina : anak bungsu perempuan
29. anaitoriga : anak tengah
30. tinda iliwua : adik dari anak sulung
31. tinda anai'uhu : anak kedua dari bungsu
32. mama irama : paman
33. mama nggotukombo; paman kandung (saudara kandung laki-
laki dari ayah dan ibu)
34. mama mbeteha ; paman sepupu (saudara sepupu dari
ayah dan ibu)
35. mama n'donia : paman muda (lebih muda usia dari-
pada kemenakan)
36. naina i naina : bibi
37. naina nggotukombo : bibi kandung (saudara kandung perem-
puan dari ayah dan ibu)
38. naina mboteha : bibi sepupu (saudara sepupu perempuan
dari ayah dan ibu)
39. naina ndonia : bibi muda (lebih muda usia daripada ke-
menakan)
40. laki'ana i laki'ana : kemenakan (anak dari saudara kandung)
41. laki'ana langgai : kemenakan laki-laki
42. laki'ana ndina : kemenakan perempuan
43. laki'ana m b u ' u - : kemenakan kandung (anak kandung
mba'a dari saudara kandung)
44. laki'ana mboteha : kemenakan sepupu (anak kandung dari
saudara sepupu)
45. laki'ana motuo : kemenakan tua (lebih tua usia daripada
paman atau bibi)
46. o wali, langgai : suami
47. o wali, sanggina : istri

112

PNRI
Istilah Kekerabatan
No. Denotasinya
Istilah S a p a a n Istilah A c u a n

48. wali n d o n i a : suami m u d a (lebih m u d a usia daripada


istri)
49. wali m o t u o : istri tua (lebih tua usia daripada suami)
50. sa'elowa, s a ' o : istri dari suami ego
51. baisa ibaisa : mertua (ayah dan ibu dari istri, ayah dan
ibu dari suami)
m e n a n t u (suami dari anak,-istri dari
anak)
52. baisa langgai : mertua laki-laki
53. baisa ndina : mertua p e r e m p u a n
54. baisa m b u ' u m b a ' a : mertua kandung (ayah dan ibu kandung
dari istri, ayali d a n ibu k a n d u n g dari
suami); menantu k a n d u n g (suami dari
anak kandung, istri dari anak kandung)
55. baisa m b o t e h a : mertua sepupu (paman dan bibi dari istri,
p a m a n dan bibi dari suami);
m e n a n t u sepupu (suami dari kemena-
kan, istri dari k e m e n a k a n )
56. baisa ndonia : saudara m u d a dari mertua (lebih m u d a
usia d a r i p a d a menantu)
57. baisa lai' baisa laki'ana : m e n a n t u k e m e n a k a n (suami dari ke-
ana m e n a k a n , istri dari k e m e n a k a n )
58. baisa awo baisa awo : •mertua tiri (ayah tiri dan ibu tiri dari istri,
ayali tiri dan ibu tiri dari suami); menan-
tu tiri (suami dari anak tiri dan istri dari
anak tiri)
59. baisa baisa m b u e : mertua kakek, mertua nenek (kakek
mbue dan nenek dari istri, kakek dan nenek
dari suami)
60. awo i awo : ayah tiri, ibu tiri, anak tiri
61. amaawo : ayah tiri
62. ina a w o : ibu tiri
63. ana awo : anak tiri
64. ela i ela : ipar laki-laki (saudara kandung laki-laki
dari istri, suami dari saudara k a n d u n g
perempuan)
65. ela n g g o t u k o m b o ipar k a n d u n g laki-laki (saudara kan-
dung laki-laki dari istri, suami
dari saudara kandung perempuan)

K E B U D A Y A A N TOLAKI - 8 113

PNRI
Istilah Kekerabatan
No. Denotasinya
Istilah Sapaan Istilah Acuan

66. ela mboteha : ipar sepupu laki-laki (saudara sepupu


dari istri, suami dari saudara sepupu
perempuan)
67. hine i hine : ipar perempuan (saudara perempuan
dari istri), ipar laki-laki (saudara laki-laki
dari suami, suami dari saudara perem-
puan yang disapa dan disebut oleh
saudara perempuan dari istri)
68. hine nggotukombo : ipar kandung perempuan (saudara kan-
dung perempuan dari istri), ipar kandung
laki-laki (saudara kandung laki-laki dari
suami, suami dari saudara kandung
perempuan yang disapa dan disebut oleh
saudara kandung perempuan dari istri)
69. hine mboteha : ipar sepupu perempuan (saudara sepupu
perempuan dari istri, saudara sepupu
laki-laki dari suami), ipar sepupu laki-laki
(suami dari saudara sepupu perempuan
yang disapa dan disebut oleh saudara
perempuan dari istri)
70. bea i bea : saudara perempuan dari suami, istri dari
saudara laki-laki yang disapa dan disebut
oleh saudara perempuan dari suami
71. bea nggotukombo : saudara kandung perempuan dari suami,
istri dari saudara kandung laki-laki yang
disapa dan disebut oleh saudara kandung
dari suami
72. bea mboteha : saudara sepupu perempuan dari suami,
istri dari saudara sepupu laki-laki yang
disapa dan disebut oleh saudara sepupu
suami
73. asa i asa : suami dari saudara, perempuan dari istri,
istri dari saudara laki-laki dari suami
74. asa nggotukombo : suami dari saudara kandung perempuan
dari istri, istri dari saudara kandung dari
suami
75. asa mboteha : suami dari saudara sepupu perempuan
dari istri, istri dari saudara sepupu laki-
laki dari suami

114

PNRI
Istilah Kekerabatan
No. Denotasinya
Istilah Sapaan Istilah Acuan

76. pue i pue : kakek, nenek (ayah dan ibu dari masing-
masing ayah dan ibu)
77. pue langgai : kakek
78. pue ndina : nenek
79. pue m b u ' u m b a ' a : kakek dan nenek kandung
80. pue mboteha : kakek dan nenek sepupu
81. pue ndonia : kakek muda, nenek muda (lebih muda
usia daripada cucu)
82. pue tuko : ayah dan ibu dari kakek dan nenek (piut
dan biut)
83. pue sele : ayah dan ibu dari piut dan biut (buyut)
84. pue usa-usa : ayali dan ibu dari buyut
85. pue mbinesukoako : ayah dan ibu dari ayali dan ibu dari buyut
86. :matembue : leluhur
87. mbue i mbue : cucu (anak dari anak)
88. mbue tuko ' : cici (anak dari cucu)
89. mbue sele : cece (anak dari cici)
90. mbue motuo : cucu tua (lebih tua usia dari kakek dan
nenek)

Semua ke-88 istilah kekerabatan acuan dalam bahasa Tolaki


seperti terurai di atas, saya analisa dengan mengikuti model
analisa k o m p o n e n dari W . H . Goedenough (1964: 221-237). Dalam
lampiran IX mengenai model tersebut, ternyata bahwa istilah-
istilah kekerabatan dalam bahasa Tolaki itu dapat dikelompokkan
ke dalam 17 kelompok (KL), yang masing-masing kelompok dapat
mempunyai 14 kemungkinan h u b u n g a n untuk adanya h u b u n g a n
antara satu kelompok dengan lainnya.*'Pengelompokan berdasar-
kan asas-asas h u b u n g a n kekerabatan yang telah digunakan oleh
para ahli antropologi. Asas-asas itu adalah: (1) angkatan; (2) pen-
cabangan keturunan; (3) umur; (4) jenis kelamin dari para kera-
bat; (5) jenis kelamin dari para kerabat yang m e n g h u b u n g k a n ; (6)
jenis kelamin dari si pembicara; (7) perbedaan antara kerabat
" d a r a h " d a n kerabat " k a r e n a k a w i n " ; (8) keadaan hidup atau
w a f a t dari kerabat yang m e n g h u b u n g k a n ; (9) polaritas; dan (10)
u m u r dari kerabat yang m e n g h u b u n g k a n . Asas pertama sampai

*) Mengenai hal ini lihat lampiran IX. 1 dan IX. 2.

115

PNRI
dengan asas kedelapan berasal dari A.L. Kroeber (1909: 176), asas
kesembilan berasal dari G . P . Murdock (1949: 101), dan asas ke-
sepuluh berasal dari Koentjaraningrat ((1974: 138).

1.2. Keluarga Inti dan Kelompok Kekerabatan


Keluarga Inti dan Rumah Tangga. Sebagai akibat dari perkawin-
an terjadi keluarga inti, yang dalam bahasa Tolaki disebut o rapu
(rumpun pohon), maksudnya " r u m p u n keluarga" yang terdiri
atas meowali mbeo'ana (ayah, ibu, dan sejumlah anak), termasuk
di dalamnya kategori ayah tiri, ibu tiri, dan anak tiri. Adanya
kategori "tiri' di sini adalah akibat poligini, ialah seorang yang
beristri lebih dari satu dan atas akibat dari seorang janda yang
kawin lagi. Adapun anak angkat yang disebut ana nio'ana (anak
yang dipelihara sebagai anak kandung) dalam segi-segi sosial ter-
tentu dibedakan dari anak kandung sendiri.
Hubungan antara anggota keluarga inti dalam sistem kekerabatan
orang Tolaki menurut norma-norma yang mengatur peranan sosial
tiap anggota yang bersangkutan, misalnya hubungan antara seorang
ayah dan seorang ibu dengan anak-anaknya telah tercermin di dalam
makna dari istilah-istilah sapaan: ama (ayah), ina (ibu) dan ana (anak).
Istilah ama sesungguhnya berarti orang yang berperanan sebagai
pelindung, pemelihara, dan penanggung jawab anak dalam memenuhi
kebutuhannya sejak kecil sampai memasuki gelanggang perkawinan.
Demikian istilah ina berarti orang yang berperanan sebagai pengasih
dan penyayang kepada anak sejak kecil hingga dewasa memasuki
gelanggang perkawinan. Begitu pula istilah ana berarti orang
diharapkan berperanan sebagai pembantu kelak masa tua dan selaku
penerus nama baik keluarga. A d a p u n istilah awo (ayah-, ibu- dan
anak-tiri) berarti orang yang masing-masing diperlakukan sebagai
pembawa yang lain di satu pihak dan sebagai pengikut di lain
pihak. Ini berarti bahwa ayah tiri harus diperlakukan sebagai ayah
kandung, demikian juga ibu tiri sebagai ibu kandung, dan anak
tiri sebagai anak kandung.
Asas-asas hubungan tersebut dalam kehidupan sehari-hari tam-
pak dalam wujud peranan-peranan dan aktivitas-aktivitas sebagai
berikut:
116

PNRI
1) Peranan dan aktivitas hubungan timbal-balik' antara ayah dan
ibu sebagai meowali (berkawan satu sama lain). Keduanya
masing-masing saling bantu membantu dalam masalah-ma-
salah keluarga; suami mencintai istri dan istri menghargai
suami. Tak ada perbedaan antara suami dan istri dalam hal
berat-ringannya beban kewajiban dan tanggung jawab ke-
luarga, kecuali dalam hal pembagian tugas pekerjaan; ayah
lebih banyak bertanggung jawab ke luar, dan ibu lebih banyak
bertanggung jawab ke dalam rumah tangga.
2) Peranan dan aktivitas hubungan timbal-balik antara ayah dan anak
sebagai meo'ama meo'ana (anak berayah, ayah beranak). Anak
mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari ayah, dan
sebaliknya ayah m e n d a p a t k a n bantuan daripadanya dan
mengharap untuk menjadi penggantinya. Demikian peranan dan
aktivitas hubungan timbal-balik antara ibu dan anak sebagai
meo'ina meo'ana (anak beribu, ibu beranak). Anak mendapatkan
limpahan kasih sayang dan bimbingan dari ibu, dan sebaliknya ibu
mendapatkan bantuan daripadanya.
3) Peranan dan aktivitas hubungan timbal-balik diadik antara ketiga-
tiganya ayah, ibu dan anak berupa mbeo'ana di mana ayah, ibu,
anak masing-masing merasa ikut menentukan jatuh bangunnya
rumah tangga keluarga.
Hubungan-hubungan yang bersifat timbal-balik terurai di atas ada
yang berbentuk horisontal, yakni hubungan antara ayah dan ibu, dan
antara anak dengan anak, dan ada yang berbentuk vertikal antara
ayah-ibu dan anak, serta ada pula yang berbentuk silang secara ter-
pisah, yakni hubungan antara ayah dengan anak, dan ibu dengan
anak, serta hubungan-hubungan antara ayah dengan anak perempuan
dan antara ibu dengan anak laki-laki. Dalam interaksi sehari-hari un-
tuk hal-hal tertentu ayah akan lebih mendalam berhubungan dengan
anak lelakinya daripada dengan anak perempuannya, sebaliknya ibu
akan lebih mendalam berhubungan dengan anak perempuannya
daripada anak lelakinya, dan untuk hal-hal tertentu lainnya hubungan-
hubungan itu akan bersifat sebaliknya. Gejala pertama tampak kalau
ayah atau ibu melakukan pekerjaan tertentu yang menyangkut tugas-
nya sebagai ayah atau sebagai ibu, dan gejala kedua tampak kalau
117

PNRI
misalnya ibu bertengkar dengan anak p e r e m p u a n n y a atau ayah
bertengkar dengan anak laki-lakinya. Tampillah masing-masing
sebagai penengah atau pendamai. Ayah berada di pihak anak perem-
puan dan ibu berada di pihak anak laki-Iaki.

Asas-asas h u b u n g a n struktural-fungsional yang bersifat timbal-


balik langsung maupun tak langsung di antara individu-individu dalam
keluarga inti terurai di atas, dan di a n t a r a individu-individu dalam
kelompok kekerabatan terurai p a d a him. 121-126, terdapat juga
pada lain-lain suku bangsa di dunia (Radcliffe-Brown 1930, 1950;
Lévi-Strauss 1969), seperti telah saya sebut pada pendahuluan
(lihat him. 26-28; 36-38).
Suatu rumah tangga orang Tolaki tidak hanya terdiri dari ayah,
ibu dan sejumlah anak tetapi juga terdiri dari ipar-ipar yang belum
kawin, atau mertua j a n d a , mertua d u d a , p a m a n d u d a , atau j a n d a ,
atau dengan kemenakan yang yatim-piatu. A d a di antaranya yang
tinggal untuk sementara d a n a d a pula yang menetap. Oleh karena
itu tak mengherankan jikalau rumah orang Tolaki itu adalah
biasanya r u m a h besar. Seorang suami yang beristri lebih dari satu
adalah kepala rumah tangga dari tiap istrinya sebab j a r a n g ada
istri yang mau tinggal bersama dengan istri m u d a di satu r u m a h .

A d a p u n rumah p a d a u m u m n y a berbentuk segi empat yang ber-


ukuran 5 x 7 meter atau 7 x 9 meter sebagai induk r u m a h , yang
pada t a h a p berikutnya disambung dengan bangunan t a m b a h a n
pada sisi rumah induk sehingga ukuran menjadi lebih besar (Sara-
sin 1905: 361-362). R u m a h didirikan di atas tiang kayu b u n d a r
atau tiang kayu balok dan b a n g u n a n diikat dengan rotan, a t a p n y a
dibuat dari rumbia, sedangkan lantai dan dinding dibuat dari
b a m b ù , batang pinang atau dari kayu p a p a n . Kini telah banyak
orang Tolaki mendirikan r u m a h di atas tanah dengan lantai batu.
Jikalau seseorang memasuki rumah orang Tolaki m a k a segera ia
mengetahui bahwa rumah itu terdiri dari tiga tingkat, yakni:
tingkat bagian tengah r u m a h , yang berfungsi sebagai tempat tidur,
ruang m a k a n , dan ruangan untuk tamu; tingkat bagian lotengun-
tuk tempat menyimpan alat-alat pertanian, barang pusaka, dan di
zaman dahulu kadang-kadang sebagai tempat tidur gadis-gadis
118

PNRI
r e m a j a ; dan a d a p u n tingkat bagian kolong rumali d i m a n f a a t k a n
sebagai tempat mengikat ternak.
Bentuk dari bagian tengah r u m a h yang berfungsi sebagai mang-
an tidur, ruangan dapur dan m a k a n , serta ruangan tamu, merupa-
kan ruangan yang terdiri dari bagian-bagian tertentu yang meng-
g a m b a r k a n m a k n a simbolik sebagai tempat yang dihuni oleh suatu
keluarga inti. Bagian-bagian tertentu dimaksud ialah: (1) ruangan
bagian kanan rumah di mana di depannya ditempatkan pintu ru-
m a h , di belakangnya adalah tempat tidur anak laki-laki, dan di
tengahnya adalah ruangan tamu; bagian ruangan ini dapat di-
perluas ke sisi k a n a n guna m e n a m p u n g p a m a n duda, mertua
d u d a , dan sewaktu-waktu untuk t a m u yang bermalam; (2) ruangan
bagian kiri r u m a h di m a n a di depannya ditempatkan dapur, di
belakangnya adalah tempat tidur anak p e r e m p u a n , dan di tengah-
nya adalah ruangan m a k a n ; bagian ruang ini dapat pula diperluas
ke sisi kiri guna m e n a m p u n g bibi j a n d a , mertua j a n d a ; (3) ruangan
bagian belakang adalah ruangan yang sepenuhnya dipakai untuk
tempat tidur ayah dan ibu serta anak yang masih kecil. Ada juga
r u m a h yang d a p u r n y a terpisah dari rumah induk yang didirikan di
bagian belakang atau di bagian sisi kiri dari rumah induk. Apabila
ada anak perempuan dari keluarga inti yang menghuni rumah se-
macam ini kawin m a k a bagian-bagian ruangan t a m b a b a n pada sisi
kanan dan kiri rumah induk menjadi tempat tidur dari suami-istri
yang baru kawin itu untuk sementara sebelum mereka membuat
r u m a h sendiri.
T a m p a k dalam komposisi bagian-bagian r u m a h di sini gambaran
simbolik bahwa bagian kanan ruangan rumah adalah gambaran aspek
anak laki-laki, dan bagian kiri ruangan rumah sebagai gambaran
aspek anak perempuan, serta bagian belakang ruangan rumah
adalah gambaran aspek pemersatu antara keduanya yang dilam-
bangkan dengan tempat tidur ayah dan ibu serta anak-anak yang
masih kecil. Sedangkan bagian ruangan tambahan pada sisi kanan
dan kiri menggambarkan aspek pertalian keluarga di luar keluarga
inti (lihat gambar 1).

119

PNRI
G A M B A R 1.
BENTUK R U M A H O R A N G TOLAKI D A N
BAGIAN-BAGIANNYA

Dilihat dari sisi kiri

120

PNRI
PNRI
Kelompok Kekerabatan. Kelompok kekerabatan yang lebih besar
dari keluarga inti adalah keluarga luas, keluarga kindred, dan keluarga
ambilineal.
Keluarga luas orang Tolaki disebut mbeohai kotukombo mbeowali
mbeo'ana, yakni kesatuan keluarga-keluarga saudara sekandung dan
suami atau istri serta anak-anaknya. Kesatuan keluarga-keluarga ini
m e r u p a k a n satu kesatuan ekonomi rumah tangga. P a d a orang
Tolaki keluarga kindred itu disebut (1) mbeopoteha mbeowali
mbeo'ana, yakni kelompok kerabat dari semua saudara sepupu
derajat satu sampai sepupu derajat tiga bersama dengan istri-istri
dan suami-suami mereka dan anak-anak mereka; (2) mbeo'eia
mbeohine mbeowali mbeo'ana, yakni kelompok kerabat dari
saudara-saudara sekandung istri dengan suami dan istri mereka
dan anak-anak mereka; dan (3) mbeopoteha mbeo'eia mbeohine
mbeombea mbeo'asa asa mbeowali mbeo'ana, yakni kelompok
kerabat dari semua saudara sekandung istri dan saudara-saudara
sepupu istri (dari pihak ayah maupun ibu istri) derajat satu sampai
derajat tiga ditambah dengan semua suami dan istri mereka dan
anak-anak mereka. Selanjutnya kelompok kerabat ambilineal pada
orang Tolaki disebut mbe'aso mbue, yakni kelompok kerabat asal
dari satu nenek moyang (lihat Bagan 3).
Keluarga luas pada orang Tolaki terdiri atas sejumlah kerabat yang
biasanya tinggal bersama di satu bagian dari sebuah desa di dalam
rumah tangga secara berdekat-dekatan. Karena adat sesudah
nikah, m a k a keluarga luas pada orang Tolaki lebih bervariasi ke
dalam keluarga luas yang uxorilokal daripada yang utrolokal.*'
Dalam menjalankan fungsi-fungsi sosial yang bersifat korporasi itu,
mereka menetapkan seorang ego sebagai pemimpin yang dipilih
dari kalangan mereka yang tertua usia atau dapat dialihkan
kepada seorang anggota yang lebih muda tetapi mempunyai fungsi
tertentu dalam masyarakat. Fungsi-fungsi sosial yang dimaksud
diwujudkan dalam bidang ekonomi, misalnya bantu membantu
dalam pengolahan tanah dan menanam padi di ladang dan di
sawah; dalam bidang pendidikan dan kesehatan, misalnya ramai-

*) M e n g e n a i hal ini lihai u r a i a n t e n t a n g p o l a m e n e t a p s e s u d a h n i k a h p a d a h a l . 158-160-

122

PNRI
ramai memberi sumbangan kepada anggota yang memerlukan ban-
tuan pendidikan anaknya atau biaya perawatan di rumah sakit, dan
dalam pengasuhan anak atau generasi berikutnya; dan dalam
bidang agama, misalnya sama-sama menziarahi kubur ayah atau
ibu, demikian kakak dan nenek yang telah meninggal pada saat dua
atau tiga hari sebelum hari puasa dan sehari sesudah lebaran bagi
mereka yang beragama Islam, demikian halnya bagi mereka yang
beragama Kristen menjelang hari Natal dan sesudah tahun baru.

Adapun w u j u d dari kelompok kekerabatan kindred pada orang


Tolaki dalam tiga bentuk yang telah disebutkan di atas, adalah
warga yang masih saling kenal mengenal karena masih terdiri dari
saudara-saudara sepupu sampai derajat tiga, biarpun masing-
masing tinggal terpencar pada bagian-bagian wilayah dari bebe-
rapa desa, tetapi mereka juga pada saat-saat tertentu berkumpul
untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan fungsi-fungsi
sosial dari kelompok kerabat. Karena prinsip keturunan yang
berlaku bagi mereka adalah bilateral, maka dalam menetapkan
seorang ego sebagai pemimpin dalam melakukan fungsi-fungsi
sosial dimaksud, mereka biasanya memilih seorang tokoh yang
cukup dikenal oleh para anggota kerabat kindred karena wibawa-
nya, apakah melalui garis keturunan pria ataukah melalui garis
keturunan wanita. Fungsi-fungsi sosial yang mereka lakukan
dalam pertemuan-pertemuan yang bersifat kadang kala itu adalah
misalnya: bergotong-royong dalam urusan-urusan perkawinan,
dan kematian, serta dalam melaksanakan upacara-upacara kelom-
pok yang bersifat ritual, misalnya upacara pergantian tahun perta-
nian dan upacara wabah penyakit yang dilakukan secara besar-
besaran. Selain gotong-royong dalam hal-hal ini, juga dalam per-
temuan-pertemuan itu pimpinan kelompok biasanya memberikan
nasihat atau petuah kepada warga kelompok dalam rangka meme-
lihara norma-norma dan adat tradisional, dan dalam rangka mem-
bina rasa identitas kelompok, kekuasaan dan gengsi.

Sedangkan kelompok kerabat ambilineal pada orang Tolaki, yang


juga telah disebutkan di atas, adalah kelompok kerabat yang warga
nya amat banyak sehingga tidak saling kenal mengenal, karena ang-

123

PNRI
gotanya terdiri dari saudara-saudara di luar sepupu, juga karena ting-
gal sendiri-sendiri terpencar di banyak desa yang sangat berjauhan
letaknya. Karena prinsip keturunan yang berlaku bagi mereka adalah
ambilineal, seperti bilateral, tetapi mengacu ke suatu nenek moyang
tertentu, maka dalam memperhitungkan hubungan kekerabatan,
mereka mengambil seseorang nenek moyang yang cukup dikenal
karena peranannya selama hidupnya untuk pangkal perhitungannya,
melalui garis pria dan garis wanita kedua-duanya. Untuk melakukan
fungsi-fungsi sosialnya yang bersifat melambangkan kesatuan adat
circumsriptive), maka tokoh nenek moyang yang mereka ambil selaku
lambang kesatuan merupakan seorang tokoh yang harus selalu diingat
nama dan sejarahnya oleh warganya.
Hingga sekarang kita masih dapat mengenal beberapa kelompok
kerabat ambilineal besar orang Tolaki melalui nama dari tokoh nenek
moyangnya, seperti antara lain: Sangia Mbina'uti, Sangia Inato,
Sangia Ngginoburu, Sangia Nibandera dan Sangia Pasa'eno.
Tokoh nenek moyang Sangia Ngginoburu dan Sangia Nibandera
tidak hanya diingat melalui sejarahnya tetapi hingga sekarang ku-
burnya masih dipelihara dan sewaktu-waktu diziarahi oleh sese-
orang pejabat orang Tolaki merasa diri berasal dari keturunan itu.

1.3. Lingkaran Hidup


Uraian mengenai peristiwa-peristiwa penting sekitar lingkaran
hidup, saya pusatkan pada: (1) kelahiran, yang dikaitkan dengan masa
kanak-kanak, masa remaja, dan masa bertunangan; (2) perkawinan,
yang dikaitkan dengan wanita yang pantang dan wanita yang ideal un-
tuk dijadikan istri, proses penyelenggaraan perkawinan, beberapa
macam perkawinan, pola menetap sesudah nikah, warisan dan
bingkisan yang diberikan sesudah nikah, dan perceraian; dan (3)
kematian, yang dikaitkan dengan soal penyebab kematian, perawatan
si sakit, persiapan menjelang kematian, suasana perkabungan dan
pemakaman, dan upacara-upacara peringatan peristiwa-peristiwa
kematian.
1. Kelahiran. Lahirnya sejumlah anak dalam suatu keluarga, bagi
orang Tolaki, merupakan suatu keberuntungan bagi keluarga itu,
karena secara ideal anak adalah wulele-(bunga) dari keluarga itu sen-
124

PNRI
diri, baik sebagai keluarga inti m a u p u n keluarga asal dari satu ke-
lompok kerabat. Dengan bunga di sini dimaksud tidak hanya per-
hiasan dan keharuman yang menyenangkan bagi keluarga, tetapi
juga terutama secara ideal kelak bunga menjadi buah yang akan
dinikmati oleh keluarga dalam arti anak akan bertenaga yang ha-
silnya bermanfaat bagi keluarga, dan seterusnya buah kelak dita-
nam dan akhirnya berbunga lagi (dalam arti anak setelah dewasa
dikawinkan lagi dan melahirkan anak lagi dan seterusnya). Selain
itu anak diharapkan oleh keluarga menjadi generasi penerus bagi
kedua orang tuanya sebagai keturunan yang senantiasa memeran-
kan keharuman dan nama terpuji untuk secara terus menerus
mempertahankan nama baik keluarganya. Oleh karena itu, jikalau
suatu pasangan suami tidak punya anak, orang Tolaki mengang-
gap hal itu sangat disayangkan. Gejala inilah yang menyebabkan
mengapa pada saat-saat tertentu di mana terjadi pertemuan
setelah lama berpisah sering terdengar seseorang anggota keluarga
saling bertanyakan berapa a n a k m u , atau cucumu.
Peranan lain yang dimainkan oleh seorang anak dalam suatu
keluarga inti adalah bahwa ia adalah iliwua (buah pertama, maksud-
nya anak sulung), anai'uhu (anak yang terakhir disusui, maksudnya
anak bungsu) dan ia adalah anaitonga (anak tengah), demikian me-
mainkan peranan sebagai langgai (jantan, laki-laki) dan o tina
atau o more (betina, wanita). Selaku anak sulung ia adalah bakal
pengganti kedua orang tuanya sebagai pemelihara adik-adiknya
apabila orang tua telah lanjut usia atau meninggal, sebagai anak
bungsu ia adalah bakal pemelihara kedua orang tua yang kurang
berdaya untuk berdiri sendiri, sebagai anak tengah ia adalah pen-
damai dari pertengkaran yang timbul antara anak sulung dan anak
bungsu, sebagai laki-laki ia adalah pelindung dari saudara-saudara
kandung perempuannya, dan sebaliknya sebagai perempuan ia ada-
lah tempat melipur lara bagi saudara-saudara laki-lakinya. Bagi
keluarga asal satu kakek-nenek seorang anak adalah laki'ana
(penopang dari anak paman-bibi, maksudnya kemenakan) dan
poteha (penengah dari sekian banyak anak-anak dari paman-bibi,
maksudnya sepupu). Sebagai kemenakan dan sepupu ia adalah
masing-masing sebagai potensi kekuatan dan penghubung dari an-

125

PNRI
tara anggota keluarga asal dari satu nenek-moyang. Dengan lain
perkataan lahirnya seorang anak dari suatu keluarga inti merupa-
kan potensi bagi memperkuat kedudukan dan peranan keluarga
asal dari satu nenek-moyang dalam kehidupan masyarakat yang
lebih luas.
Itulah sebabnya maka apabila diadakan upacara mesosambakai
(penyambutan kelahiran bayi pertama) sedapat mungkin semua
unsur keluarga asal dari satu nenek-moyang diundang untuk
menghadirinya. Begitu pula halnya pada upacara mepokui
(potong rambut) dan upacara manggilo (sunatan), serta upacara
mepakawi atau medulu (perkawinan). Upacara kelahiran dan
potong rambut adalah dua jenis upacara yang diselenggarakan
secara berurutan dalam tenggang waktu masa bayi.
Salah satu peristiwa yang terjadi dalam rangkaian upacara ke-
lahiran adalah peristiwa di mana sang bayi dipasangkan kale-kale
(ikatan pada kedua pergelangan tangan dan kakinya). Hal yang
sama terjadi pula pada peristiwa potong rambut. Bedanya hanya
terletak pada bahan ikatan. P a d a yang pertama digunakan bahan
benang warna putih, dan pada yang kedua digunakan bahan lo-
gam putih. Gelang ikatan-ikatan tersebut adalah identik dengan
kalo dalam versinya yang lain. Pemakaian alat ini dimaksudkan
agar si bayi tidak diganggu oleh makhluk halus dan lain-lain jenis
gangguan. Menurut mereka bahwa pada keempat ujung anggota
badan si bayi merupakan jalur bagi masuknya gangguan makhluk
halus. Selain itu dimaksudkan agar unsur-unsur tubuh dan aspek-
aspek jiwa si bayi senantiasa saling terikat satu sama lain. Inilah
makna simbolik dari penggunaan kalo dalam versinya sebagai
kale-kale tersebut.
Upacara kelahiran dilakukan sesudah anak berumur empat
hari. Bila persiapannya belum rampung m a k a upacara dapat di-
tunda sampai pada umur tujuh hari. Sedangkan upacara potong
rambut dilakukan setelah si bayi berumur 40 hari atau lebih.
Pemotongan rambut tidak hanya bagi anak sulung tetapi setiap
anak.
Waktu yang cocok untuk upacara, baik untuk upacara kelahir-
an maupun untuk upacara potong rambut adalah pada siang hari

126

PNRI
menjelang matahari naik. Tempat diadakannya upacara kelahiran
yang ditandai dengan pemandian bayi adalah di rumah tempat
kelahiran bayi, yang dilakukan oleh seorang dukun wanita.
Sedangkan upacara potong rambut dilakukan di rumah orang tua
anak atau di rumah kakeknya, yang dilakukan oleh seorang imam
dan dilengkapi oleh empat orang anggotanya yang ikut bersama
membaca kitab Bersanji.
Baik upacara pemandian bayi maupun upacara potong rambut
dihadiri oleh segenap keluarga asal dari satu kakek-nenek atau
meluas sampai keluarga dalam lingkungan saudara sepupu sampai
tiga kali, dan ditambah dengan para anggota tetangga yang ber-
dekatan. Mereka yang hadir, ada yang menyumbang berupa tenaga
terutama bekerja di dapur dan ada pula yang menyumbang berupa
bahan makanan. Ada pula keluarga yang datang tidak hanya
sekedar menghadiri upacara potong rambut khususnya tetapi
mengikutkan anaknya untuk dipotong rambutnya karena keluarga
itu tidak dapat menyelenggarakannya sendiri berhubung kurang
mampu.
Baik untuk upacara kelahiran atau pemandian bayi maupun untuk
upacara potong rambut bayi disediakan alat-alat upacara. Alat-alat
upacara untuk upacara kelahiran adalah meliputi: watu mbesosam-
bakai (batu khusus untuk memandikan bayi), pingga mbebahoa
(piring besar khusus untuk memandikan bayi), lanu motaha (daun
agel bercat merah), lanu momata (daun agel asli belum diberi cat),
tawa nese (daun irut), tumbu mbundi (pucuk pisang), tawa rema
(daun enau), tawa mbundi (daun pisang), tawa towo'a (daun temu
lawak), tawa doule (daun doule, sejenis tumbuhan subur).^
Dan alat-alat untuk upacara potong rambut adalah berupa: empat
puluh biji ketupa nabi (nasi rasul), empat puluh biji lapa-lapa (nasi
lebaran), satu sisir pisang, dua piring kina barasandi (hidangan
nasi bersanji), satu piring mangkok berisi beras yang di dalamnya
ditanamkan satu biji telur ayam dan satu helai daun irut), satu biji
kelapa muda yang dilubangi, minyak kelapa, hidangan kepala
kambing, dan gunting pemotong rambut.**^ Rumah tempat
diadakannya upacara, waktu penyelenggaraannya, dan sejumlah
*) Lihat gambar 2
**) Lihat gambar 3

127

PNRI
alat-alat u p a c a r a yang digunakan di dalamnya mengandung
makna simbolik tertentu.*'

GAMBAR 2. DUA JENIS T U M B U H A N ALAT U P A C A R A MKSOSAMBAKAI

*) Upacara kelahiran bayi harus diselenggarakan pada rumah di mana bayi dilahirkan
mengandung simbolik bahwa si bayi kelak dalam hidupnya akan senantiasa mencintai
rumahnya, kampungnya, atau tanah airnya. Waktu upacara menjelang matahari naik
bermakna simbolik sebagai cita dari orang tua kiranya si anak berumur p a n j a n g , nasib-
nya baik, kuat dan sehat wal a f i a t . Batu, piring, daun-daun agel, irut, pucuk pisang,
enau, dan temu lawak, dan lain-lain semuanya menggambarkan kiranya si bayi kelak
dalam hidupnya senantiasa tubuh dan jiwanya sehat wal afiat, cepat t u m b u h , dan
berkembang, daya ketahanan fisik, dan mental, dan berguna bagi keluarga. Nasi raul,
nasi lebaran, dan hidangan lainnya menggambarkan idealisme orang tua kiranya
anaknya kelak hidup dalam suasana m a k m u r dan sejahtera. Khususnya kelapa muda
melambangkan pandangan bahwa bayi, anak adalah generasi penerus, dan telur ayam
adalah lambang bahwa bayi, anak adalah makhluk manusia yang masih suci, dan me-
rupakan potensi hidup di masa mendatang.

128

PNRI
GAMBAR 3. SITUASI U P A C A R A P O T O N G R A M B U T

129

PNRI
Upacara kelahiran atau pemandian bayi ditandai dengan pencelup-
an batu khusus ke dalam piring pusaka yang berisi air dan alat-alat
upacara yang telali disebut di atas, oleh dukun sambil membaca
mantera (lihat lampiran X). Sesudah doa ini diucapkan barulah si bayi
dimandikan. Pemandian bayi serupa ¡ni dilakukan selanjutnya pada
besoknya. dan seterusnya sampai empat hari berturut-turut. Bayi
diberi berselimut sesudah dimandikan oleh dukun dan kemudian
diserahkan kepada ibunya untuk menggendongnya sebentar,
demikian pula kepada ibunya. Sementara ¡tu terdengarlah kata-kaia
dari para keluarga yang hadir dalam upacara: "lewalikoto ona o ina"
(engkau kini telah menjadi seorang ibu), "tewalikoto ona o ama"
(engkau kini telah menjadi seorang ayah). Kata-kata ¡ni ditujukan
kepada masing-masing suami-istri yang kini telah melahirkan anak
mereka yang sulung. Selain itu terdengar pula kata-kata dari mereka,
yang ditujukan kepada seorang ayah atau ibu dari dua pasang suami-
istri yang melahirkan si bayi, demikian: "pembuekomiulo"(bahwa
engkau telah bercucu), atau "tewalimbuekomiuto" (menjadilah
engkau kini kakek-nenek).

Upacara potong rambut ditandai dengan pembacaan kitab Ber-


sanji oleh imam mesjid dan sejumlah orang yang pandai membaca
Al Q u r ' a n . Sebelum pembacaan kitab Bersanji, orang mula-mula
berdiri berkeliling dan melagukan kata-kata sanjungan terhadap
Nabi M u h a m m a d , yang berbunyi: "sallallahu Allah Muhammad
hadissallallahu Allah wassa/lah" sambil secara berturut-turut orang
memotong rambut si bayi yang digendong oleh seorang anak remaja.
Bila bayi laki-laki yang dipotong rambutnya, maka yang menggen-
dong adalah anak laki-laki rernaja, dan bila bayi perempuan yang
demikian maka yang menggendong adalah anak perempuan remaja.
Mereka yang memotong rambut si bayi ialah lima orang dari antara
peserta pembaca Bersanji yang dipandang memiliki berkah termasuk
di dalamnya imam yang memimpin upacara. Sementara itu para un-
dangan menyerahkan sejenis sumbangan yang ditaruh di tengah
hidangan makanan bersanji.
Dengan selesainya upacara pemandian seorang anak maka
resmilah ia menjadi anggota baru sebagai anak, atau kemenakan,
atau sepupu, atau cucu. Ñama yang diberikan oleh ayahnya atau
130

PNRI
pamannya atau kakeknya segera dipakai sebagai nama memanggil
dan menyebut untuk ayahnya dan ibunya serta untuk kakek-
neneknya, misalnya nama bayi ialah Ambo, maka nama ini
dipakai untuk memanggil dan menyebut ayahnya, ibunya, dan
kakek-neneknya, seperti demikian: Amano i Ambo (Ayahnya
Ambo), Inano i Ambo (Ibunya Ambo), Pueno i Ambo (Kakek-
Neneknya Ambo). Nama seseorang anak kadang-kadang mengan-
dung arti atau makna tertentu yang m e n u n j u k k a n nama tempat
atau waktu mana ia dilahirkan, ada juga nama yang diberikan
sebagai pepowangu (menggunakan nama leluhur) untuk meng-
ingatkan kembali nenek moyangnya, dan kadang-kadang juga
nama yang mengandung arti ideal yang diharapkan oleh orang
tuanya dapat merupakan nasib yang baik, status dan peranan
anak kelak dalam hidupnya dalam, mengabdikan dirinya di masya-
rakat. Misalnya: Pili O/eo Pimbiriri (nama yang berarti: mengejar
matahari yang terang benderang), maksudnya: kiranya si anak
kelak menjadi orang yang rajin, berani berjuang menegakkan
kebenaran laksana matahari yang menyinarkan cahayanya ke selu-
ruh penjuru alam.

Penggunaan nama anak sulung secara khusus untuk memanggil


dan menyebut seseorang ayah, ibu, kakek-nenek mengandung
makna bahwa anak sulung itu diharapkan menjadi identifikasi
dan representasi dari orang tuanya, leluhurnya sebagai penerus
generasi mendatang. Memberikan nama seseorang anak dengan
nama leluhur mengandung makna sebagai media mencari jejak
hubungan antara satu keluarga dengan lainnya bahwa mereka
masih merupakan satu keluarga dari satu nenek moyang. Selain
itu mengandung makna bahwa dengan menggunakan nama itu di-
harapkan kiranya sifat dan karakter dari si pemakai nama dimak-
sud sama dengan sifat dan karakter kakek-nenek yang dipandang
terpuji.
Secara ideal jumlah anak suatu keluarga inti yang diharapkan
adalah lima atau tujuh atau sembilan, demikian juga diharapkan
kiranya anak-anak tidak hanya terdiri dari laki-laki atau wanita
saja, tetapi terdiri dari laki dan perempuan. Namun pada kenyata-
annya kadang-kadang harapan yang demikian tidak terpenuhi,
131

PNRI
nuingkin kurang atau lebili dari jumlali serta mungkin lianya laki-
laki atau hanya perempuan. Kalau lianya ada anak perempuan
maka liai itu biasanya dipakai sebagai alasan bagi ayali unluk
kawin lagi dengan tujuan untuk melahirkan anak laki-Iaki, karena
menurut orang Tolaki tidak adanya anak laki dalam suatu keluarga
inti merupakan liai yang tidak menguntungkan baginya diban-
dingkan dengan adanya anak perempuan, biarpun gejala terakhir
ini juga kurang ideal. Motivasi ini didasarkan pada pandangan
bahwa anak laki-Iaki merupakan faktor kekuatan dan ketahanan
bagi keluarga tersebut secara keseluruhan dilihat dari banyak segi
kehidupan keluarga.
Masa Kanak-kanak. Jikalau pada masa bayi seorang anak
dilipuli oleli suasana pemeliharaan yang keiat dari ibunya bersama
dengan seorang poteana*] ialah inang pengasuh pembantu khusus
ibu dalam memelihara bayi, ;naka pada masa kanak-kanak se-
orang anak penuh dilipuli dengan jenjang suasana permainan baik
di dalam rumali bersama dengan pengasuhnya atau kakak-
kakaknya dan di dalam halaman rumahnya sanipai pada jauh
pergi ke rumah-rumah paman-bibinya, suasana pendidikan baik di
dalam rumah tangga maupun di sekolah, serta latihan-latihan
mengenai aneka ragam keterampilan.
Sebutan bagi tingkah laku anak dalam fase permainan ini
adalah kombolambuano i laika (kelincalian anak bergerak dalam
rumah sehingga sukar dikendalikan), komomakatiano (kelincahan
dan kenakalan anak bergerak di luar rumah), dan kombombaka-
niano (suasana aktivitas anak memburu dan menangkap ternak).
Bagi orang Tolaki aktivitas permainan bagi anak adalah selain

*) Pelearía adalah sebutan orang Tolaki uniuk seorang svanita pengasuh anak, yang niem-
bantu sang ibu dalam pengasuhan anaknya mutai sejak bayi sampai masa dewasa.
Kadang-kadang seorang anak dalam suatu keluarga inti mempunyai wanita pengasuh
sendiri-sendiri. la tidak perlu diberi upah secara tersendiri tetapi menjadi anggota tang-
gungan dari keluarga di mana ia mengasuh. Wanita pengasuh ini mempunyai hak untuk
mencrima salali satu jenis mas kawin yang disebut sura pe'aiw, yaitu sejenis barang
yang harus dibayarkan oleh pihak keluarga pengantin pria kepada pihak keluarga
pengantin wanita. Barang itu disebul rune-ranemba'uhu (sejumlah lembar sarung ganti
rugi pengasuhan anak), posiku o liulo (alat menyalakan lampu damar yang dipakai
dalam pengasuhan anak), boku mbebahoa dan lumbu-lambu (keduatiya adalah alat
memandikan anak asuhan).

132

PNRI
berfungsi melatili jasmaninya, juga memberikan kesempatan un-
tuk mengenal lingkungan sekitarnya dan lingkungan sosialnya
baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan
masyarakat yang lebili luas. Dengan bermain seorang anak dapat
berintegrasi dengan sesama saudara sepupu-sepupunya, paman-
bibinya, kakek dan neneknya. Seorang anak laki-laki biasanya
meminta kepada pamannya untuk dibuatkan alat-alat permainan,
demikian anak perempuan kepada bibinya. Begitu pula kakek dan
nenek bila sewaktu-wáktu mengunjungi cucu-cucunya sering
membawakan sesuatu alai permainan. Jenis permainan yang pa-
ling digemari adalah misalnya: melwle (main gasing), mepido
(main kemiri) bagi anak laki-laki, dan mekaiende (main batu
kerikil), mebe/e (memainkan tempurung kelapa) bagi anak perem-
puan, sedangkan ada pula beberapa jenis permainan yang di-
mainkan oleli baik laki-laki maupun oleli anak perempuan.
Bentuk pendidikan rumah tangga baik sebelum zaman adanya
sekolah maupun sesudahnya orang Tolaki mendidik anak-anak-
nya dalam bentuk pembiasaan-pembiasaan. Membiasakan tata-
cara makan, tatacara bicara dan berlaku sopan terliadap kedua
orang tuanya, paman-bibi, dan kakek-neneknya, mengajarkan
hai-hai yang baik dan yang buruk baik dalam mendongeng mau-
pun dalam bentuk pesan-pesan. Materi pendidikan yang paling
utama diajarkan kepada anak-anak adalah bagaimana anak kelak
bisa hidup dan dapat berperanan selaku orang yang berguna bagi
dirinya sendiri, keluarganya dan bagi orang lain dalam konieks
kehidupan masyarakat luas. Melalui ajaran-ajaran demikian
diharapkan kiranya anak menjadi orang yang mesida (rajin), man-
dara (pandai dan cekatan), kototo (ulet, teratur), sabara (sabar),
pindara, mola 'a (pintar, berilmu), pesawa (baik budi pekerti), ehe
medida (suka bersatu), sumua'i me'cinamoiiio mepeohai (senang
terhadap kerabat dan sanak saudara), dan mombemeiri'ako
(mengasihi sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan). Se-
muanya itu bagi orang Tolaki adalah kunci keberliasilan hidup
anak untuk mewujudkan misinya sebagai anak pinokomberahi-
ralii, ialali anak yang kepadanya menjadi tunipuan harapan dari
kedua orang tuanya untuk membawa dan melanjutkan nama baik
keluarga.
133

PNRI
Pendidikan anak dalam keluarga selain menjadi tanggung
jawab orang tua, juga menjadi tugas kakek-nekek. Seorang cucu
kadang kala harus berada di sisi kakek-neneknya. Adapun pen-
didikan agama mulai masuk masyarakat orang Tolaki, setelah
mereka menganut agama Islam dan setelah agama Protestan
masuk dan mempengaruhi suatu bagian kecil dari orang Tolaki.
Untuk mendapatkan pendidikan, seorang anak Tolaki biasanya
dikirim ke desa lain di mana ada lembaga pendidikan agama.
Anak-anak itu belajar membaca Q u r ' a n dan menerima pendidikan
dalam a j a r a n - a j a r a n agama Islam dari seorang guru mengaji.
Mereka yang beragama Protestan mendapatkan pendidikan
agama pada sekolah-sekolah Zending yang mulai pada sekitar
1920.*'
Berkat adanya usaba pemerintah setempat anak-anak orang
Tolaki mulai memasuki sekolah, biarpun mulanya anak-anak itu
hanya terbatas pada anak-anak bangsawan dan keluarga-keluarga
yang terhitung mampu yang dipaksa-paksa oleh seorang mandur
sekolah. Kini pada umumnya anak-anak orang Tolaki telah me-
masuki sekolah berkat kesadaran orang tuanya yang telah tinggi
untuk manfaat pendidikan sekolah sambii di samping itu tetap
melangsungkan pendidikan keluarga dan pendidikan agama.
Selain materi pendidikan keluarga, pendidikan agama, dan pen-
didikan di sekolah, untuk menyiapkan anak memasuki masa
remaja dan gelanggang rumah tangga nanti, orang Tolaki mewa-
jibkan anak-anaknya untuk melakukan latihan-latihan ketangkas-
an dan keterampilan, seperti: latihan memanjat, berenang,
mengikuti ayahnya pergi berburu, menangkap ikan, dan meng-
olah tanah ladang khusus bagi anak laki-laki; dan bagi anak
perempuan adaiah latihan-latihan memasak, menjahit, meng-
anyam tikar, dan latihan-latihan dalam rumah membantu ibu.
Suatu peristivva yang sangat berkesan di hati seorang anak di
masa kanak-kanaknya adaiah peristiwa diadakannya upacara
sunatan. Sunatan, bagi orang Tolaki, selain merupakan suatu
peristiwa ritus juga adaiah suatu fase yang harus dilalui oleh anak-
anak untuk memasuki masa remajanya. Untuk pengertian "sunat-

*) Liliat hlm. 116 di bawah.

134

PNRI
an", orang Tolaki memakai istilah-istilah: "mesuna", "mang-
gilo", dan "mewaka". Mesuna berarti melukai kulit bagian alat
kelamin; manggilo masih lanjutan dari mesuna, yang berarti
mereka yang diperlakukan demikian, masing-masing diusung oleh
dua orang laki-laki remaja dan diiringkan sepanjang jalan dengan
tarian umo'ara (tarian perang), seperti juga pada penyambutan
tamu, dan dengan pukulan gong, mulai dari rumah tempat sunat-
an menuju ke rumah tempat pesta sunatan untuk dibayat dan dia-
jarkan membaca kalimat sahadah, "ashshadu alla ilaha ilallah,
wa ashhadu anna Muhammadarrasulullah". Terakhir mewaka
berarti hitanan khusus bagi anak laki-laki yang dilakukan oleh
seorang mbuwaka (dukun hitanan).
Biasanya mesuna dan manggilo dilakukan secara beramai-ramai
oleh banyak anak laki-laki dan anak perempuan. Pestanya pada
umumnya dirangkaikan dengan pesta perkawinan atau dengan
pesta kematian yang terakhir, yakni pesta penguburan, namun
ada juga yang mengadakannya secara tersendiri, sedangkan
mewaka tidak memerlukan adanya suatu pesta.^
Anak-anak yang hendak disunat terlebih dahulu dipingit dalam
sebuah rumah selama empat hari empat malam. Selama dalam
pingitan, mereka melatih diri untuk kurang tidur, sedikit makan
dan minum, tidak banyak bicara, membersihkan badan dan meng-
hiasi tubuh, memotong kuku dan metirangga (mengecet kuku
dengan tirangga, ialah sejenis d a u n . y a n g dapat memerahkan
kuku). Setelah demikian, barulah mereka disunat dengan cara
melukai bagian kulit dari alat kelamin oleh seorang ibu yang
disebut o sando (dukun wanita) bagi anak perempuan dan oleh
seorang pegawai mesjid bagi anak laki-laki. Selanjutnya mereka
diberi pakaian berkain sarung yang dililitkan pada samjbai bawah
ketiak dan kalunggalu (ikat kepala) bagi perempuan, dan kopiah
bagi anak laki-laki. Muka mereka diberi hiasan berupa bedak dari
tepung beras bercampur kunyit serta bau wangi sanggula (bahan
wangi khusus bagi orang Tolaki). Sesudah itu barulah mereka

*) Tidak seperti pada orang Jawa yang mengadakan pesta sesudah disunat (Geertz I960);
demikian pengamatan saya pada orang Buton, Muña dan orang Bugis.

135

PNRI
diusung menuju rumali pesta dengan cara seperti vang lelah saya
sebutkan di aias. Sebelum mereka menaiki langga rumali pesta,
mereka telali disambut d e h banyak orang sambii menghamburkan
beras kuning dan taburan bunga vang semerbak baunya ke
hadapan mereka, seperti halnya dengan pengantin laki-laki tatkala
hendak memasuki halaman dan menaiki tangga rumali tempat
pengantin dalam upacara perkawinan. Sesudah dibayat dan
mengucapkan kalimat sahadah barulali mereka boleh bubar dan
dapat mengikuti tarian u m u m , yang disebut mollilo (suatu tarian
masal orang Tolaki)." 1
l.ain halnya dengan proses jalannya acara hilanan. Beberapa
orang anak laki-laki yang telali mengetahui bahwa usianya telali
sampai limuk liitanan, yakni kira-kira 10 lahun, setelah men-
dapatkan petunjuk mengenai hai ini dari pamannya, dan bukan
et a ri ayahnya aiau dari ibunya, dengan diam-diam karena ter-
larang untuk diketahui oleh kedua orang tuanya, pergi ke rumah
dukun hilanan. Mereka masing-masing membawa seekor ayam
jantan sebagai yang disyaratkan oleh dukun hitanan, dan mem-
bawa pula alat-peralatan hitanan, yakni: sucluku (sejenis tabung
dari bambù); o lembi (cawat dari kain) dan selembar kain sarung
untuk menutup alat kelamin mereka setelah dihiian.
Mereka datang ke rumali dukun hitanan menjelang sore bari
untuk mendapatkan p e t u n j u k - p e t u n j u k mengenai lata cara
hitanan yang harus mereka taati, yakni amara lain: mereka harus
merendam diri di sungai mulai sesudah magrib sampai menjelang
s'ubuli, masing-masing terlarang untuk merintih sakit tatkala
kelaminnya dipotong bagian ujung kulit kelamin, terlarang untuk
mengerang sakit memanggil ayali atau ibu tatkala merasa kesa-
kitan sebab menurut dukun siapa yang berlaku demikian maka
ayali alau ibunya akan cepat meninggal.
Setelah memperoleh petunjuk-petunjuk demikian, maka be-
rangkallah mereka ke sebuah sungai untuk merendam diri. Dukun
hilanan akan ke tempat itu setelah menjelang subuh untuk mereka
dihitan olehnya. Untuk mengurangi rasa dingin dan menahan rasa
lapar seria gangguan nyamuk, mereka menyalakan api di pinggir

*) Liliai G a m b a r 4

136

PNRI
G A M B A R 4. SUASANA MENARI MASAL DALAM U P A C A R A
PERKAWINAN
137

PNRI
sungai dan masing-masing membawa bekal m a k a n a n dan mi-
numan. Apabila ada di antara mereka yang ternyata banyak
mengeluarkan dàrah ketika kelaminnya dipotong oleh dukun, hai
itu berarti bahwa ia telah banyak berbuat dosa terhadap kedua
orang tuanya. Demikian kepercayaan mereka.
Kedua orang tuanya nanti mengetahui bahwa ia telah dihitan
apabila pada pagi hari besoknya ia dilihat berjalan kemiringan
menuju rumahnya. Setibanya di rumah ia segera dipersiapkan un-
tuk berbaring istirahat dan barulah ayahnya atau abangnya pergi
ke hutan untuk mempersiapkan bahan-bahan ramuan pengobatan
baginya. Bahan itu disebut rui nggonggamo (sejenis daun berduri),
yang sebelum dipakai, daun itu dikeringkan dahulu dengan asap
dan kemudian ditumbuk menjadi berupa serbuk. Bahan pengo-
batan yang diberikan oleh d u k u n adalah daun sirih yang
dimamah, .yang setelah dua hari harus diganti dengan serbuk ini,
dan selanjutnya pada setiap hari harus diganti. Selama dalam
perawatan, si penderita harus menaati aturan-aturan perawatan,
seperti: alat-alat pengobatannya yang tidak boleh disentuh oleh
perempuan biarpun ibunya dan saudara-saudara perempuannya,
harus selalu mengganti obatnya di sungai, dan alat kelaminnya
tidak boleh dilihat dan apalagi disentuh oleh perempuan. Bila
tidak demikian maka lukanya akan lama sembuhnya. Kini telah
jarang orang Tolaki menghitan dengan sistem ini. Mereka telah
lebih suka dihitan di rumah sakit, atau secara masal di lapangan
sehari sesudah hari raya Idul Adha, atau secara sendiri-sendiri di
rumahnya oleh seorang tenaga medis.
Setelah anak menjalani peristiwa sunatan dan hitanan yang
telah saya gambarkan di atas, maka dipasangkanlah kepadanya
sebuah ikatan pada pinggangnya, yang disebut pebo (suatu ikatan
kalo yang dililitkan pada pinggang seseorang baik laki-laki
maupun perempuan). Bahan ikatan pinggang tersebut dibuat dari
sejenis kulit kayu, atau dari sejenis akar pohon yang keras, tahan
dari putus. Ikat pinggang ini dipakai terus sampai akhir hayat dari
seseorang. M a k n a simbolik dari kalo dalam versinya sebagai pebo
ini adalah gambaran dari hubungan yang erat antara unsur tubuh
dan jiwa martusia. Pemakaian ikatan kalo pada pinggang sese-
138

PNRI
orang Tolaki adalah dimaksudkan agar hubungan erat antara
tubuh dan jiwa tersebut senantiasa terpelihara adanya. Kondisi
ini, menurut pandangan mereka, adalah mutlak demi kelangsung-
an eksistensi hidup manusiawi. Tanpa kondisi yang demikian
adalah mustahil bagi seseorang untuk mampu mengatasi masalah-
masalah yang timbul dalam hidupnya. Kondisi yang dimaksud di
sini adalah keadaan hubungan yang bersifat timbal-balik antara
unsur-unsur tubuh dengan unsur-unsur jiwa manusia, yang meng-
gambarkan hubungan yang serasi, seimbang, dan selaras. Kepin-
cangan yang terjadi di antara keduanya akan menimbulkan gejala
kelainan fisik dan mental.
Masa Remaja. Bagi orang Tolaki masa remaja seorang anak
secara biologi ditandai dengan apa yang disebut mo'anandonia
bagi anak laki-laki. ialah telah mengalami hitanan dan telah
memiliki dasar-dasar kemampuan jasmani berupa ketangkasan
dan keterampilan, dan dengan moluale bagi anak perempuan,
ialah telah mengalami haid dan telah memiliki kemampuan mem-
bantu dalam rumah tangga. Seorang anak perempuan seperti itu
sering juga disebut uwano'ito, ialah anak telah pantas untuk
memasuki kehidupan rumah tangga.*'
Dalam masa remaja ini orang tua dan paman-bibi mulai meren-
canakan untuk m e n j o d o h k a n anaknya. Usaha untuk itu dimulai
dengan bertunangan. Remaja "Tolaki pada zaman dahulu tidak
mengenal pacaran, kecuali kadang-kadang sesudah resminya
upacara bertunangan yang biasanya berlangsung selama paling
pendek satu tahun. Lama kelamaan tradisi semacam ini mulai
hilang; anak-anak remaja Tolaki masa kini pada umumnya telah
berpacaran sebelum bertunangan. Usaha m e n j o d o h k a n ini di-
mulai dengan inisiatif orang tua laki-laki. Dalam rangka menjatuh-
kan pilihan wanita mana yang akan dilamar untuk dikawinkan
dengan anak lelakinya, orang tua berpegang teguh pada mewujud-
kan prinsip perkawinan ideal, yakni memilih dari anak-anak
wanita saudara-saudara sekandungnya dengan kekecualian anak
wanita saudara kandung laki-laki, atau anak-anak wanita dari

*) Anak laki-laki Tolaki yang beragama Protestan juga ada di antaranya yang mengalami
khitanan, dan ada pula yang tidak.

139

PNRI
saudara-saudara sepupunya sampai pada tingkat di luar saudara
sepupu asalkan masih terhitung dalam pertalian kerabat asal satu
nenek moyang.
Bertunangan. Saat bertunangan mulai berlaku sesudah
diresmikan melalui sualu upacara, yang disebut upacara
meloso'ako atau moawo niwu/e. Upacara ini adalah meminang, di
mana kedua orang tua dan sejumlah anggota kerabat dari pihak
laki-laki mengunjungi kedua orang tua perempuan di rumahnya
dengan dihadiri oleh banyak kerabatnya pula. Upacara ini
dilakukan setelah didahului dengan upacara sebeiumnya, yakni
upacara mondutudu, ialah upacara menjajagi kemungkinan
apakah pihak keluarga gadis yang diidamkan dapat menerima
idaman orang tua laki-laki. Upacara mendutudu ini pula diadakan
setelah didahului dengan metiro (mengintai gadis idaman)* 1
Dalam masa bertunangan secara tradisiona), si pemuda dan
keluarganya diwajibkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan
yang diminta oleh orang tua gadis, antara lain membuka ladang
pertanian, mengolah sagù, membantu mendirikan rumali, dan
lain-lain bantuan biaya keluarga si gadis. Semua kewajiban ini
merupakan latihan dan ujian bagi calon suami atau menantu agar
ia mampu menjalankan peranannya nanti kelak setelah ia kawin.
Kalau ternyata ia tidak menjalankan latihan dan ujian tersebut
secara memuaskan, perkawinan bisa dibatalkan biarpun pihak
keluarga gadis harus membayar apa yang disebut mondutu o ra'i,
ialah denda menutup malu.
Sebaliknya hai ini terjadi juga jika selama masa bertunangan itu
pihak orang tua gadis sebagai calon m e r t u a a t a u ipar ternyata tidak
berlaku wajar terhadapnya dan pihak keluarganya. Si pemuda dan
pihaknya bisa membatalkan perkawinan dengan menebus denda
penutup malu seperti tersebut di atas.
Makna yang tersembunyi dalam pranata bertunangan ini adalah
agar masing-masing calon suami dan calon istri saling kenal
mengenal akan sifat dan perlakuan satu sama lain biarpun secara
tidak langsung, karena selama bertunangan itu keduanya dilarang
untuk saling bergaul langsung berbeda dengan pemuda dan
*) Lihat uraian mengenai proses penyelenggaraaii perkawinan pada hlm. 148-159)

140

PNRI
pemudi zaman sekarang. N a m u n kadang-kadang terjadi juga
adanya pemuda yang bertunangan itu membuat hamil calon istri-
nya. Bila hai ini terjadi maka jadi malulah keluarga pihak laki-
laki. Tak ada jalan lain yang ditempuh kecuali segera mengawin-
kan mereka dengan tidak menempuh prosedur seperti yang telah
ditetapkan dahulu ketika upacara peminangan. Gejala lain yang
sangat pula memalukan kedua belah pihak yang terjadi dalam
masa bertunangan apabila salah satu dari calon suami-istri ini
menyeleweng karena digoda oleh pemuda atau gadis lain yang ber-
akibat gagalnya perkawinan. Upacara damai mondutu o ra'i yang
telah disebut di atas adalah satu-satunya jalan pemecahan masalah
ini.
Oleh karena itu dalam kata-kata terakhir yang dikemukakan
oleh lolea (juru bicara) pada upacara peminangan mengandung
makna agar kedua belah pihak berkewajiban menjaga agar jangan
sampai terjadi hal-hal seperti terurai di atas unluk terhindar dari
malu. Kata orang Tolaki, konio kohanu nde pino'oliako i daoa
(tak ada malu yang dapat dijual di pasar), maksudnya: biarpun
ada cara menutup malu tetapi malu tetap malu yang senantiasa
menjadi buah mulut orang yang tak berkeputusan.
2. Perkawinan. Para ahli antropologi mengartikan ¡stilali per-
kawinan sebagai ... " i k a t a n h a k - h a k " (Leach 1961: 105). W . H .
Goodenough (1970: 12-13) mendefinisikan " p e r k a w i n a n " sebagai
... a transaction and resulting contract in which a person
(male or female, corporate or individual; in person or by pro-
xy) establishes a continuing claim to the right of sexual acces
to a woman—this right having priority over rights of sexual
acces others currently have or may subsequently acquire in
relation to her (except in a similar transaction) u n t i l j h e con-
tract resulting from the transaction is terminated—and in
which the women involved is eligible to bear children.*'
*) Arti definisi Goodenough tersebut adalah ... suatu catatan sipil dan kontrak yang
berakibat, di mana seseorang (laki atau perempuan, kelompok atau perscorangan,
dengan sendiri atau dengan wakil) menetapkan hak memiliki secara terus menerus
tubuh perempuan—hak memiliki ini lebih didahulukan daripada hak memiliki orang
lain terhadap tubuh perempuan tersebut sekarang maupun nanti (kecuali pada transaksi
yang sama) sampai kontrak yang diakibatkan oleh transaksi tersebut di atas
diakhiri—dan di mana perempuan tersebut memenuhi syarat melahirkan anak.

141

PNRI
Salah satu dari empat definisi perkawinan yang nampak pada
banyak masyarakat suku bangsa di dunia hasil penelitian para ahli
antropologi adalah definisi yang dikemukakan oleh Keesing (1981 :
252) sebagai berikut:
Marriage is characteristically not a relationship between indi-
viduals but a contract between groups (often, between corpo-
rations). The relationship contractually established in mar-
riage may endure despite the death of one partner (or even of
both).**
Orang Tolaki memakai tiga istilah ialah medulu yang berarti
berkumpul, bersatu; dan mesangginà yang berarti makan bersama
daiam satu piring; sedangkan istilah yang paling u m u m berlaku
adalah merapu yang berarti merumpun, keadaan ikatan suami-
istri, anak-anak, mertua-menantu, paman-bibi, ipar, kemenakan,
sepupu, kakek-nenek, dan cucu, yang merupakan suatu pohon
yang rimbun dan rindang. Dengan istilah-istilah itu dimaksud
bahwa seseorang yang kawin itu telah bersatu dalam ikatan
sebagai anggota dari suatu rumpun keluarga yang tergabung
dalam ikatan erat dengan semua anggota kerabat, baik dari pihak
istri maupun dari pihak suami, dan ia diharapkan akan melahir-
kan banyak keturunan yang akan semakin memperbesar rumpun
itu laksana rimbunnya suatu rumpun pohon. Ikatan rumpun itu
disebut asombue (satu ikatan keluarga asal dari satu nenek-
moyang) yang merupakan pohon keluarga.

Dalam uraian-uraian selanjutnya mengenai perkawinan pada


orang Tolaki ini perlu juga dikemukakan: (1) mengenai perem-
puan mana yang terlarang dan paling ideal untuk dijadikan istri
meskipun telah saya singgung sedikit di atas; (2) proses penyeleng-
garaan perkawinan; (3) jenis perkawinan; (4) pola menetap se-
sudah nikah; (5) warisan dan bingkisan nikah; dan (6) perceraian.

*) Arti definisi Keesing tersebut a d a l a h d e m i k i a n :


Secara hakiki p e r k a w i n a n b u k a n l a h suatu k e t e r h u b u n g a n a n t a r a individu-individu
tetapi s u a t u k o n t r a k a n t a r a k e l o m p o k (sering, a n t a r a keluarga d e n g a n keluarga).
K e t e r h u b u n g a n yang bersifat k o n t r a k itu yang d i t e t a p k a n d a l a m p e r k a w i n a n d a p a t ber-
t a h a n w a l a u p u n mëninggal salah seorang d i a n t a r a n y a ( a t a u p u n k e d u a - d u a n y a ) .

142

PNRI
Keenam hal ini akan saya kemukakan berturut-turut di bawah
ini.
Wanita yang Pantang dan Wanita yang Ideal untuk Dijadikan
Istri. Masalah incest tabu, yakni pantangan kawin dengan perem-
puan anggota keluarga dekat, telah sering dikaji dan dibahas oleh
para ahli antropologi, psikologi, kedokteran, dan agama,*) dalam
usaha mereka menjawab pertanyaan menyangkut latar belakang
adanya pantangan tersebut. Untuk maksud yang sama saya sebut
beberapa jenis perkawinan yang terlarang bagi orang Tolaki.
Perkawinan terlarang tersebut adalah: me'alo meo'ina (kawin
dengan ibu kandung atau ibu tiri); me'alo meo'ana (kawin dengan
anak kandung atau anak tiri); me'alo meonaina (kawin dengan
bibi kandung); me'alo meokotukombo (kawin dengan saudara
kandung); me'alo meolaki'ana (kawin dengan anak saudara kan-
dung laki-laki); me'alo meohine (kawin dengan saudara kandung
istri) kecuali mosoro o rongo (levirat dan sororat); tumutuda
(kawin dengan saudara kandung ipar perempuan); mosula inea
(kawin silang); dan me'alo meobaisa (kawin dengan janda mertua
atau j a n d a menantu, atau j a n d a anak kandung). Selanjutnya
mengenai hal ini lihat Bagan 2 (Kruijt 1922: 432-435).

Tiap macam pantangan kawin tersebut di atas biasanya juga di-


langgar, dan yang sering dilanggar adalah: me'alo meohine,
tumutuda dan mosula inea, sedangkan yang jarang terjadi adalah
enam macam lainnya. Pelanggaran terhadap pantangan me'alo
meohine pada zaman dahulu sebelum agama Islam berkembang di
daerah Tolaki biasanya dibiarkan tetapi pada zaman sekarang
pelanggaran tersebut tidak dapat lagi ditoleransi sehingga jika ter-
paksa harus terjadi maka istri pertama harus diceraikan. Pelang-
garan terhadap tumutuda dan mosula inea, baik dahulu maupun
sekarang, biasanya ditoleransi dengan mengadakan suatu upa-
cara, yang disebut mosehe yang bermaksud menolak bala atas

*) Hasil kajian dan bahasan tersebut dapat dilihat karya-karya misalnya: Freud, Totem
and Taboe (1917); E.A. Westemark, Recenl Theories of Exogamy (1934); Murdock,
Social Slructure (1949)| Levi-Strauss, The Elementary Struclures of Kinship (1969); dan
Fox, The Lamp of Incest (1980).

143

PNRI
Keterangan X — Terlarang kawin; 1 — dengan ibu k a n d u n g atau ibu tiri; 2 —
dengan bibi: 3 — dengan s a u d a r a k a n d u n g dan dengan saudara
sepupu (anak saudara kandung laki-laki ayali); 4 — dengan saudara
k a n d u n g istri; 5 — luimtiudg (kawin bersusun); 6 — mosula inea
(kawin silang); 7 — dengan j a n d a mertua; 8 — anak k a n d u n g atau
anak tiri; 9 — dengan anak k e m e n a k a n ; dan 10 — j a n d a m e n a n t u .

S u m b e r : Hasil W a w a n c a r a d e n g a n B e b e r a p a T o k o h A d a t

BAGAN 4.PEREMPUAN YANG PANTANG UNTUK DIJADIKAN


ISTRI

144

PNRI
pelanggaran tersebut (Kruijt 1922: 433). Pelanggaran terhadap
pantangan kawin lainnya tidak ada jalan keluarnya, sehingga bila
terjadi, pelakunya harus dibunuh secara diam-diam atau dibuang
dari masyarakat dan zaman kini mereka diperhadapkan di muka
sidang pengadilan.
Timbul pertanyaan sekarang, asas apakah yang melatarbela-
kangi pantangan kawin itu? Jikalau saya bertanya kepada orang
Tolaki mengenai hal ini, maka jawabannya adalah macam-
macam, antara lain: karena takut akan kutukan nenek moyang,
akan murkalah Allah, dan akan bencana bagi. pelakunya dan bagi
keluarga serta kehidupan pada umumnya. Dalam sebuah mitos
yang disebut mitos kolo'iinba, dituturkan bahwa pada zaman
dahulu pernah terjadi adanya dua orang bersaudara kandung
kawin. Akibat perkawinan itu mereka terkutuk dan timbul banjir
besar sehingga tanah runtuh di tempat kejadian. Keduanya teng-
gelam di dalam telaga tersebut. Hingga kini telaga tersebut masih
ada, kolo'iinba namanya, menurut nama gadis yang dikawinkan
itu, ialah imba, dan ko/o berarti bersetubuh (Kruijt 1922)*'.
Saya sendiri belum pernah mendengar adanya pelanggaran se-
macam ini. Kasus yang pernah saya temukan adalah me'alo meo'-
ana, apakah itu anak kandung ataukah anak tiri. Ketika itu saya
mendengar cemohan dari masyarakat dengan kata-kata: "seperti
saja tak ada orang yang mau mengawini a n a k n y a " , " m e n g a p a ia
tidak merasa jijik dengan anaknya sendiri", dan " m e n g a p a ter-
hadap anaknya ia masih b e r n a f s u " . Cemohan lain yang sering
terdengar adalah terhadap pelanggaran me'alo meolaki'ana
dengan berkata: " m e n g a p a ia tak berpikir bahwa kemenakannya
itu tidak lain dari anak kandungnya sendiri',, demikian terhadap
pelanggaran me'alo meonaina dengan perkataan: bukankah
bibinya sama dengan ibunya sendiri," dan terhadap pelanggaran
me'alo meobaisa: " b u k a n k a h metuanya itu sama dengan ibunya
sendiri," atau " b u k a n k a h menantunya itu sama dengan anaknya

*) Mitos ini dituturkan oleh Nehru D u n d u , seorang tokoh adat, yang banyak berkecim-
pung dalam urusan-urusan adat perkawinan. Mitos ini katanya, dituturkan kepadanya
oleh seorang wanita tua bernama Tie, tinggal di Sambilamdo.

145

PNRI
sendiri" Dari jawaban-jawaban mengenai sebab adanya pan-
tangan kawin dan cemohan-cemohan terhadáp orang yang
melanggarnya saya akhirnya berkesimpulan bahwa pantangan
kawin pada adat perkawinan orang Tolaki itu dilatarbelakangi
pertama-tama oleh asas exogami keluarga inti dalam rangka
mewujudkan tujuan perkawinan, yakni: merumpun seperti telah
saya kemukakan di atas, dapat dicapai. A d a p u n mitos dan
serangkaian kepercayaan akan timbulnya k u t u k a n , bala bencana
atas akibat pelanggaran pantangan kawin tersebut adalah
serangkaian usaha nenek moyang untuk menegakkan norma ini
(Kirk 1970).
Selanjutnya perempuan yang paling ideal untuk dijadikan istri
adalah poteha monggo aso (sepupu sekali); poteha monggo ruo
sepupu derajat dua); dan poteha menggotolu (sepupu derajat
tiga). Perkawinan dengan saudara sepupu tersebut dí atas juga
perkawinan mekaputi (ikat mengikat). Sebagai lawannya dan
sudah itu yang kini sering terjadi adalah perkawinan di luar
sepupu yang disebut merapu ndono suere.. (kawin dengan orang
lain). Dengan demikian sistem pengambilan gadis dalam sistem
perkawinan ini dikategorikan sebagai perkawinan antara saudara
sepupu seperti pada umumnya dilakukan dalam masyarakat suku-
suku bangsa di Indonesia, di India dan di Birma (Keesing 1981:
265)
Perkawinan yang ideal semacam ini pada dasarnya ditujukan
pada adanya harapan agar harta kekayaan tidak j a t u h pada pihak
lain di luar lingkungan luas dan agar potensi dan integrasi
keluarga asal dari satu nenek moyang tetap terbina dan diperta-
hankan. Sedangkan adanya laki-laki yang memilih gadis di luar
batas lingkungan kerabatnya didasarkan pada gagasan untuk
memperluas lingkungan kerabatnya dan dalam rangka suatu tu-
juan politik penguasaan wilayah tertentu yang dikehendaki. Ke-
nyataan tersebut terakhir ini biasanya terjadi pada zaman kerajaan
di zaman dahulu. Seorang raja atau putranya kawin dengan gadis
yang kerabatnya mendiami suatu wilayah yang dikehendaki dalam

*) Lihat Bagan 5.

146

PNRI
rangka strategi politiknya. Gejala ini j u g a m e r u p a k a n salah satu
sebab dari orang Tolaki untuk m e l a k u k a n poligini.
Alasan lain yang sifatnya ideal dari poligini ini prinsipnya
adalah u n t u k t u j u a n ekonomi d a n t u j u a n sosial. Di satu pihak
dengan h a r a p a n kiranya dengan perkawinan itu si suami bersama
istrinya dapat menikmati sebagian dari harta kekayaan istrinya
pemberian orang tuanya dalam b e n t u k bingkisan d a n warisan, d a n
di lain pihak dengan perkawinan itu, ia sebagai suami dapat mem-
bantu keluarga istrinya yang k u r a n g m a m p u . Ini tidak berarti
bahwa tidak ada orang Tolaki yang berpoligini karena alasan lain
di luar itu. Jumlah orang Tolaki yang melakukan poligini lebih
kecil daripada monogini (lihat Tabel 2).

Keterangan : 1 — sepupu sekali dari pihak Ibu; 2 — sepupu tingkat dua dari
pihak Ibu; 3 — sepupu tingkat tiga dari pihak Ibu; 1° — sepupu
sekali dari pihak Ayah; 2° .— sepupu tingkat dua dari pihak Ayah;
3° — s e p u p u tingkat tiga dari pihak Ayah; 4° 4 — sepupu di luar
sepupu dari kedua belah pihak dari Ibu dan dari Ayah.

Bagan 5 . P E R K A W I N A N A N T A R A S A U D A R A S E P U P U DALAM SISTEM


P E R K A W I N A N O R A N G TOLAKI
147

PNRI
Piases Penyelenggaraan Perkawinan. Inisiatif dan proses ter-
jadinya suatu perkawinan dilakukan sepenuhnya dengan giat oleh
keluarga pihak calón suami. Secara ideal dan normatif proses
penyelenggaraan suatu perkawinan dilakukan melalui lima tahap,
yaitu: (1) tahap metiro (mengintip, meninjau calón istri); (2) tahap
mondütudu (pelamaran jajagan); (3) tahap meloso'ako (pelamar-
an yang sesungguhnya); (4) tahap mondongo niwule (meminang);
dan (5) tahap mowindahako (upacara nikah).
Metiro adalah tahap yang paling awal dari rangkaian pertemu-
an, ritus dan upacara yang menuju ke perkawinan. P a d a metiro,
kedua orang tua calón suami mengadakan kunjungan resmi ke
rumah orang tua istri yang diidamkan untuk mengamati secara

Tabel 2.

Jumlah Poligini dan Monogini di Delapan I)esa di Kabupalen


Kendari (Lima Desa) dan di Kabupalen Kolaka (Ti«a Desa)

Kabupalen Jumlah
Monogami Poligami
Desa
Kabupalen Kendari
Kemaraya 412 8 420
Wua-wua 317 6 323
Tawanga 143 2 145
Sambeani 150 4 154
Meraka 143 3 146

Kabupalen Kolaka
Watuliandu 367 5 372
Wundulako 333 7 340
Mowewe 313 4 317

Jumlah 2178 39 2217

Sumber: Hasil Wawaneara dengan Para Kepala Desa 1980.

148

PNRI
diam-diam keadaan si gadis dan apa-apa yang sedang dilakukan-
nya di rumah. Apabila si gadis ternyata tidak sedang tidur tetapi
sibuk bekerja di dapur, menjahit, atau sedang menganyam misal-
nya, maka si pengunjung meninggalkan suatu.benda berupa se-
buah bungkusan kain yang isinya terdiri dari sirih-pinang, uang
logam, dan lain-lain perhiasan wanita, tanpa diketahui si empunya
rumah. Hal ini disebut monggolupe (meninggalkan, melupakan
benda tertentu di rumah orang tua si gadis yang diidamkan). Apa-
bila setelah tiga atau tujuh hari sesudah benda tadi ternyata tidak
dikembalikan kepada pemiliknya maka hal itu berarti bahwa niat
mereka telah dikabulkan dan ini berarti pula bahwa tahap kedua
dapat dilakukan.
MondUiudu (lamaran pendahuluan) adalah tahap kedua, di
mana kedua orang tua, sejumlah anggota keluarga pihak calon
suami, dan seorang tolea (juru bicara) hadir ke rumah orang tua
calon istri untuk melakukan pelamaran yang pertama. Orang tua
calon istri telah pula mengundang sejumlah anggota keluarganya
untuk mengikuti upacara pelamaran ini. Dengan menggunakan
kalo, juru bicara menyampaikan kata-kata lamarannya kepada
keluarga si gadis. Dalam peristiwa ini terjadilah dialog antara
kedua belah pihak melalui juru bicara masing-masing. Bagaimana
isi dari tiap dialog ini pada dasarnya pihak laki-laki bertanyakan
kepada pihak perempuan, apa orang tua si gadis mempunyai sebi-
dang tanah hutan belukar yang dapat diolah, ditanami dan di-
pelihara oleh pihak laki-laki, yang dijawab oleh pihak perempuan 1
bahwa kami mempunyai bidang tanah tersebut tetapi apakah
pihak laki-laki mampu mengolahnya karena tanah dimaksud me-
miliki banyak duri, bambu, akar melintang,*' lagi pula kurus
tanahnya. " J i k a engkau berkeinginan untuk itu maka aniinggi-
tinggi'iki o /ulumu (engkau harus membunyikan lututmu), mak-
sudnya: apakah calon suami dan keluarganya manlpu fisik untuk

* ) D e n g a n istilah " t a n a h h u t a n b e l u k a r " d i sini d i m a k s u d m a k n a s i m b o l i k dari " g a d i s " ,


d a n istilah lain: d u r i , b a m b u , a k a r a d a l a h g a m b a r a n dari k e a d a a n s i g a d i s y a n g m a s i h
s e r b a k u r a n g d a l a m hal ilmu d a n p e n g e t a h u a n d a n k e t e r a m p i l a n , s e r t a k e a d a a n
k e l u a r g a si g a d i s y a n g s e r b a kesulitan k a r e n a m i s k i n . U n g k a p a n - u n g k a p a n ini a d a l a h
g a m b a r a n d a r i t a t a k r a m a y a n g m e r e n d a h k a n diri, b i a r p u n tidak s e s u n g g u h n y a .

149

PNRI
bertindak dan melakukan fungsi sebagai suami, atau menantu,
atau i p a r , " kata juru bicara pihak perempuan kepada juru bicara
pihak laki-laki. Dengan tegas dijawab oleh juru bicara pihak laki-
laki bahwa ia telah siap untuk itu. Dengan demikian diterimalah
lamaran pendahuluan ini.*'
Meloso'ako (pelamaran sesungguhnya) adalah tahap peminang-
an resmi yang juga dilakukan dalam suatu upacara kalo. Dalam
upacara tersebut dibicarakan dan dimusyawarahkanlah mengenai:
popolo atau o somba (mas kawin)**' yang harus menjadi beban
keluarga pihak laki-laki; waktu dan tempat penyelenggaraan
upacara nikah dan pesta perkawinan, dan bagaimana sifat dan
bentuk pesta perkawinan yang akàn diselenggarakan. Benda-
benda mas kawin adalah: o benggi (tempayan), karandu (gong),
kiniku (kerbau), pu'u ndawaro (rumpun sagù), dan o kasa (kain
katun putih).***1 Jumlah tiap benda mas tadi tergantung dari dera-
jat sosial dari gadis yang akan dikawini. Mas kawin itu menurut
nilainya terdiri dari tiga macam: (1) pu'uno (dasarnya, pokoknya)
yang dinilai dengan o kasu (pohon, batang); (2) wawono, tawano,
ihino (masing-masing berarti: bagian atas dari pohon, daun, buah)
yang dinilai dengan o mata (suatu harta yang dinyatakan dengan
" s e b u a h , sepotong, seutas, selembar, dan seterusnya"); dan (3)
sara pe'ana (adat pengasuhan bayi), maksudnya: ganti rugi
pengasuhan bayi perempuan, yang dinilai dengan boku mbebahoa
(wadah pemandian bayi), tambu-tambu (timbah air memandikan
bayi), posiku o huto like-like mata (alat menyalakan lampu damar

*) Teks lengkap dari dialog dimaksud dapal dibaca Lampiran X.


**) Islilah "o somba" (mas kawin) dimaksudkan landa penyembahan terhadap keluarga
pihak keluarga perempuan, karena saal itu hakikalnya pihak keluarga perempuan
adalah pihak yang ditinggikan.
***) Benda-benda mas kawin tersebul merupakan benda-benda yang mengandung makna
simbolik. Tempayan adalah simbol dari idealisme kekayaan harta, demikian gong
adalah simbol kekeluargaan dan kerukunan, kerbau adalah simbol kemakmuran,
rumpun sagù adalah simbol kesuburan dan kesejahteraan, dan kain katun putih
adalah simbol kesucian dan kedamaian. Melalui benda-benda simbolik ini setiap
keluarga orang Tolaki mengharapkan kiranya dapat hidup dalam suasana yang ber-
kecukupan, kesatuan dan persatuan, makmur dan sejahlera dalam suasana yang suei,
adii dan damai.

150

PNRI
untuk tidak tidur dalam menjaga bayi).*' A d a p u n tempat dan
waktu pesta perkawinan pada umumnya ditetapkan untuk dise-
lenggarakan di rumah orang tua atau pihak keluarga perempuan
dan di dalam waktu yang dipandang baik, yakni di bulan haji pada
hari malam bulan molambu-malaomehe (hari malam 14 an 15
bulan di langit).
Mondongo niwule (meminang) adalah tahap penghantaran
sirih-pinang dan biaya penyelenggaraan pesta perkawinan,
berupa: sejumlah uang dan beras, sejumlah ekor kerbau sesuai
jumlah yang telah ditetapkan dalam musyawarah pada tahap
sebelum ini oleh kedua belah pihak. Pada zaman dahulu biaya
pesta perkawinan ditanggung sepenuhnya oleh pihak perempuan
sebagai imbalan dari mas kawin yang menjadi tanggungan pihak
laki-laki. Sebetulnya inti maksud dari tahap ini adalah selain
penghantaran sirih pinang tetapi juga calon suami memberikan
bingkisan kepada calon istrinya, berupa apa yang disebut pombe-
babuki-pombesawuki (pakaian lengkap, perhiasan, dan aneka
ragam benda kosmetik).
Akhirnya mowindahako (upacara nikah) adalah tahap penye-
lenggaraan upacara pernikahan secara adat yang disusul dengan
pengucapan akad nikah menurut ajaran Islam bagi mereka yang
beragama Islam atau menurut a j a r a n Kristen bagi mereka yang
beragama Kristen Protestan. Dalam upacara pernikahan secara
adat ini pihak laki-laki melalui juru bicaranya menunjukkan dan
mengumumkan secara resmi semua benda-benda mas kawin
dengan jumlahnya masing-masing sesuai apa yang telah ditetap-
kan pada saat peminangan, dan diterimakan kepada pihak
keluarga perempuan melalui juru bicaranya pula.
Kelima tahap penyelenggaraan perkawinan yang telah digam-
barkan di atas kadang-kadang juga dipersingkat menjadi hanya
tiga tahap, yakni: meloso'ako, mondongo niwule, dan mowin-
dahako, di mana dua tahap sebelumnya digabungkan ke dalam
tahap ketiga. Biasa juga karena alasan tertentu ketiga tahap

*) Perincian jenis dan jumlah mas kawin untuk tii.p golongan orang Tolaki menurut dera-
jat sosialnya terdapat dalam Tabel 3.

151

PNRI
TABEL 3
J E N I S DAN J U M L A H MAS K A W I N O R A N G T O L A K !
M E N U R U T D E R A J A T SOSIALNYA

Nilai Mas Kawin


Golongan Pu 'uno Wawöho, Tawano, Sara pe 'ana
Ih ino
1. A n a k ici 16 kasu 800/400/300 mena 1 buah wadah
(Bangsawan) (mokole *) (mokole & putobu) tempat mandi
8 kasu bayi; 1 lembar
(putobu**) sarung; 1 buah
4 kasu 160/80/40 mata mata lampu
(tak ada (tak ada jabatan ) dan 1 buah
jabatan) mata uang
logam (tak ada
perbedaan)
2. Tonomotuo 4 kasu 160/140/120 mata idem,
(Golongan (pejabat) (pejabat) kecuaii sarung
biasa) 2 kasu 80/40/20 mata
(bukan (bukan pejabat)
pejabat)
3. O ala 10/8/4 mata idem,
(Budak) (budak tawanan kecuaii sarung
perang)
2/1 mata (budak
belian)

Kcterangan : *) — Raja Konawe dan Raja Mekongga; **) — Penguasa Wilayah


(Kepala Distrik = Camat).

Suinber : llasil uawaneara dari banyak tokoh adat Orang Tolaki dan pengamat-
an sondil i dalani banyak mcngikuli upacara pcrkawinan.

152

PNRI
tersebut dilaksanakan sekaligus, yang disebut morumba ndo/e
(merombak hutan secara sekaligus tanpa melalui fase-fasenya).
Gejala tersebut terakhir ini adalah suatu hai yang terpaksa
dilakukan karena misalnya perempuan telali liamil sebagai akibat
dari hubungan seksual yang telali terjadi secara sembunyi.
Mengamati tahap-tahap proses penyelenggaraan perkawinan
dalam masyarakat orang Tolaki yang .telali saya gambarkan di
atas, tampak suatu hai yang mendasar, yakni bahwa mulai tahap
kedua sampai tahap kelima dar¡ proses perkawinan itu selalu saja
diadakan upacara dengan menggunakan kalo. Tanpa kalo, sesua-
tu upacara dalam rangkaian perkawinan dipandang tidak sah.
Tak ada upacara semacam ini tanpa kalo. Asas berikutnya adalah
asas perwakilan yang dimainkan oleh dua juru bicara, baik pihak
laki-laki maupun pihak perempuan, yang masing-masing me-
lakonkan peranan hubungan antara kedua belali pihak secara
timbal-balik. Asas terakhir yang nampak dalam peristiwa ini
adalah asas kesatuan dan persatuan antara kedua belali pihak di
kalangan keluarga pihak laki-laki dan keluarga pihak perempuan.
Asas-asas ini lebih jelas bagi kita apabila kita menelaah isi dari tiap
dialog antara kedua juru bicara.*''
Suatu upacara perkawinan menurut adat orang Tolaki yang
telah saya sebutkan di atas sesungguhnya didahului dengan acara
metirangga (pengantin diberi berhias) dan pe'eka (pengantin laki-
laki menaiki rumah pengantin perempuan), dan disudahi dengan
modada ina nggae (pengucapan akad nikah) dan teposuangge
walino (pengantin laki-laki memasuki kamar dan kelambu istri-
nya). Rangkaian acara-acara tersebut dilukiskan di bawah ini.
Baik pengantin laki-laki maupun pengantin perempuan di
rumah masing-masing pada malam yang bersamaan diberi berhias
oleh seorang alili untuk menghadapi acara pernikahan esoknya.
Malam itu diramaikan oleh kunjungan dari pihak kerabat yang
diundang untuk hadir memberikan doa restu dan doa selamat bagi
pengantin. Setiap tamu yang menemui pengantin mengambil
bahan rías yang telah dipersiapkan dalam sebuah piring, dan

*) Lihat Lampiran XI

153

PNRI
dengan ibu jari ia mengenakannya di bagian paras pengantin. A d a
juga di a n t a r a tamu yang memberikan k a d o kepada pengantin,
biarpun pada acara resepsi pernikahan masih ada kesempatan un-
tuk itu.
Pengantin laki-laki dengan r o m b o n g a n n y a , a p a k a h dengan
jalan kaki a t a u k a h memakai kendaraan seperti kuda dan kini
dengan mobil, m e n u j u ke rumah pengantin p e r e m p u a n . Para ang-
gota r o m b o n g a n terdiri dari ahli rias pengantin, kedua orang tua-
nya, p e n d a m p i n g orang tua pengantin, sejumlah orang pembawa
alat-alat perlengkapan mas kawin dan peti pakaian pengantin laki-
laki, juru bicara, dan sejumlah anggota r o m b o n g a n dari kerabat
dan tetangga terdekat. Biasanya seorang ahli rias adalah juga
seorang d u k u n yang bertanggung j a w a b atas segala h a m b a t a n
yang timbul dalam perjalanan m e n u j u r u m a h pengantin perem-
puan.
Di pintu gerbang r u m a h pengantin p e r e m p u a n telah berdiri se-
j u m l a h gadis remaja yang cantik-cantik sebagai pagar ayu, yang
siap menanti tibanya r o m b o n g a n pengantin laki-laki. Tetapi
sayang sekali bahwa rombongan tidak langsung bisa memasuki
pekarangan rumah karena pintu gerbang dihalangi oleh barisan
gadis-gadis tadi yang menuntut sejumlah pembayaran agar rom-
bongan dapat langsung memasuki pekarangan r u m a h . " I t u soal
kecil," kata pendamping orang tua pengantin laki-laki sambil
mengeluarkan dari dompetnya sejumlah kepingan uang logam
atau lembaran uang kertas. Karena pada dasarnya para gadis di-
b e n a r k a n oleh adat untuk tidak m e m b u k a jalan masuk pekarang-
an r u m a h sebelum menerima bayaran sampai tiga kali, maka
mereka tetap menuntut tamunya itu untuk melakukan demikian.
Dengan demikian masuklah pengantin bersama r o m b o n g a n n y a .
Di atas tangga tampak sejumlah ibu-ibu yang m e n g h a m b u r k a n
beras kuning ke atas kepala dan m u k a pengantin d a n rombongan-
nya. H a m b a t a n kedua bagi r o m b o n g a n pengantin adalah bahwa
pintu masuk rumah tertutup oleh barisan gadis-gadis r e m a j a pula.
Mereka juga menuntut bayaran seperti yang terjadi pada pintu
pekarangan r u m a h . Kata p e n d a m p i n g orang tua pengantin, " s e -
dangkan memasuki pintu pekarangan saya mau apalagi memasuki

154

PNRI
pintu r u m a h , " sambii melakukan apa yang dikehendaki oleh para
gadis remaja. Loloslah pengantin laki-laki beserta rombongannya
mernasuki rumah dan langsung disilahkan oleh pemilik rumah un-
tuk mengambil tempat duduk yang telah dipersiapkan.
Setelah semua pihak baik dari keluarga pengantin laki-laki
maupun keluarga pengantin perempuan mengambil tempat duduk
saling berhadap-hadapan, dan dalam suasana yang hening bening,
maka dilakukanlah acara mombesara, yakni acara puncak dari
adat perkawinan orang Tolaki, seperti telah saya sebut di atas
sebagai mowindahako. Acara ini, yang diperanani oleh dua orang
juru bicara dari masing-masing kedua belali pihak pengantin laki-
laki dan pihak pengantin perempuan, dengan perantaraan kalo,
intinya terletak pada penyerahan mas kawin kepada pihak
keluarga pengantin perempuan.
Setelah juru bicara pihak laki-laki meletakkan atribut kalo di
depan juru bicara pihak perempuan. maka ia mulai berkata-kata
sebagai kata pendahuluan dari dialognya dengan juru bicara pihak
perempuan. Kata-kata pendahuluan ini ditujukan kepada juru
bicara, orang tua dan keluarga pihak pengantin perempuan,
pemangku adat dan pemerintah setempat, yang isinya adalah
meminta izin untuk memulai dialognya dengan juru bicara pihak
perempuan. Keizinan akan segera diberikan kepada' juru bicara
pihak laki-laki setelah semua keluarga pihak perempuan yang di-
perlukan telah hadir. Isi dialog antara kedua juru bicara tersebut
adalah berkisar pada beberapa hai, yakni: (1) kesiapan benda-
benda mas kawin dari pihak laki-laki untuk segera diserahkan
kepada pihak perempuan; (2) permohonan pihak laki-laki kepáda
pihak perempuan untuk menerima mas kawin yang telah diper-
hadapkan dengan rasa kekeluargaan yang dalam; (3) pernyataan
pihak perempuan akan kesungguhan pihak laki-laki dalam usaha-
nya menyambung tali persaudaraan dan memperluas hubungan
kekeluargaan; dan (4) serangkaian ungkapan-ungkapan yang
menggambarkan suasana gembira dan lucu sebagai rasa syukur
atas lancarnya proses pelaksanaan acara.*'

*) Teks lengkap dari tiap dialog antara kedua juru bicara tersebut dapat dibaca pada Lam-
piran XI.7

155

PNRI
Sesudah penyerahan mas kawin pengantin laki-laki mengucap-
kan akad nikah dan khotbah perkawinan yang diajarkan oleh se-
orang imam setelah terlebih dahulu ayah atau wali pengantin
perempuan mengalihkan hak mengawinkan gadisnya kepadanya.
Dengan sikap duduk berlutut di atas tumitnya sambil menjabat
tangan kanan imam, pengantin laki-laki mengucapkan akad
nikah, yang dilanjutkan dengan pembacaan Ijab Qabul oleh
imam, demikian juga doa nikah, dan terakhir pengantin laki-laki
mengucapkan ta'lik talak untuk dirinya sendiri dan sighat ta'lik
untuk atas ñama istrinya,*'¡yang diakhiri dengan penandatangan-
an surat nikah olehnya sendiri, imam, dan dua orang saksi.
Acara selanjutnya adalah pengantin laki-laki memasuki kamar
dan ranjang di mana istrinya sedang dipingit. Untuk keempat dan
kelima kalinya pengantin laki-laki dan pengiringnya menemui rin-
tangan untuk masuk karena pintu kamar dan kelambu sedang di-
bentengi oleh sejumlah gadis yang menuntut pula bayaran. Di sini
tampak pengiring pengantin laki-laki tidak segan-segan menge-
luarkan sejumlah kepingan uang logam atau uang kertas yang di-'
terimakan kepada gadis-gadis yang merintangi jalanan masuk.
Dengan demikian mudahlah bagi pengantin untuk memasuki
kamar dan kelambu istrinya. Dalam keadaan yang demikian
tibalah saatnya bagi suaminya untuk membuka waru mata (tutup
mata) istrinya tetapi tidak begitu saja secara langsung. la harus
meminta izin kepada ahli riasnya, ialah seorang ibu yang duduk di
depan pengantin perempuan. Izin dimaksud adalah berupa bayar-
an terhadapnya seperti bayaran-bayaran sebelumnya. Maka
duduklah keduanya suami-istri bersanding di atas ranjang yang in-
dah dan dengan bau wangi semerbak, dikelilingi oleh gadis-gadis
remaja. Sementara itu terdengarlah teriakan dan tawa yang me-
nyemarakkan suasana.
Tak lama kemudian keluarlah kedua mempelai dari ranjang dan
kamarnya dengan diantarkan oleh ahli riasnya menuju ke pe-
laminan yang telah dipersiapkan di depan para tamu yang telah
lama menunggu untuk memberikan ucapan selamat dan doa restu

*) Bunyi akad nikah, [jab Qabul, dan ta'lik lalak dan sighat ta'lik dapat dibaca pula pada
Lampiran XII.

156

PNRI
bagi mereka. Pengantin selain didampingi oleh ahli riasnya juga
oleh dua pemuda dan gadis cilik yang masing-masing duduk di
samping kedua pengantin, sambil mengipas ke arah pengantin.
Dalam suasana demikian beramai-ramailah para tamu memberi-
kan ucapan selamat dan memberikan sesuatu kado. Di hadapan
pengantin terdapat sebuah meja yang di atasnya tersimpan gulu-
ngan rokok dan korek apinya dalam sebuah piring. Setiap tamu
yang berjabat tangan dengan pengantin kepadanya disodorkan
rokok oleh pengantin perempuan dan rokok itu dibakar oleh
pengantin laki-laki, dan ada juga tamu yang mengambil sendiri
rokok itu dan membakarnya sendiri.
Akhirnya acara upacara perkawinan ini disudahi dengan suatu
tarian masai yang tidak hanya dilakukan oleh para tamu tetapi
juga oleh kedua mempelai dan seluruh anggota keluarga besar dari
masing-masing pihak mempelai. Tarian biasanya berlangsung
dalam waktu yang sangat panjang hingga sampai menjelang
memasuki subuh.*'

Beberapa Macam Perkawinan. Kategori dari macam-macam


perkawinan orang Tolaki, dapat didasarkan atas dua tinjauan,
pertama, hubungan keluarga perempuan mana yang dijadikan
istri, dan kedua, cara yang ditempuh oleh pihak laki-laki dalam
melaksanakan fase-fase proses penyelenggaraan perkawinan.
Berdasarkan tinjauan pertama maka ada enam macam perka-
winan, ialah: (1) me'alo meopoteha (perkawinan dengan saudara
sepupu); (2) mombokomerambi peohai'a (perkawinan di luar
saudara sepupu) untuk mempererat hubungan persaudaraan asal
dari satu nenek moyang; (3) merapu ndono suere (perkawinan
dengan orang lain di luar hubungan asal dari satu nenek moyang)
untuk memperluas ruang kekerabatan; (4) mosula inea (perkawin-
an silang); (5) tumutuda (perkawinan paralel); dan (6) mosoro o
rongo (perkawinan sororat atau levirat).**'

*) Bagaimana suasana upacara pernikahan tersebul dapat dilihat G a m b a r 6.


**) Mengenai perkawinan macam keempat dan kelima di atas dapat dilihat keterangan
Kruijt (1922: 433)

157

PNRI
Berdasarkan tinjauan k^dua maka dikenal pula adanya tujuh
macam perkawinan, ialah: (1 )mowindahako (perkawinan yang di-
dahului dengan suatu masa bertunangan); (2) mombolasuako
(perkawinan lari); (3) umo'api (perkawinan rampas); (4) me/ang-
gahako (perkawinan karena sudah hamil di luar nikah); (5) me-
bualako (perkawinan yang terjadi karena pihak ketiga melaporkan
kepada orang tua mereka atau kepada imam bahwa keduanya
telah berhubungan secara sembunyi); (6) tekale (perkawinan yang
terjadi karena keduanya tertangkap basah sedang melakukan
hubungan seks); dan (7) pinokombedu/u (perkawinan paksa).
Perkawinan yang disebut mombolasuako dan umo'api pada
hakikatnya adalah perkawinan yang melanggar adat. Namun demi
tertibnya masyarakat, ada suatu adat yang dapat menyelesaikan-
nya, yakni adat mesokei (membentengi), yang merupakan usaha
untuk m e m b u j u k pihak keluarga yang menjadi malu karenanya,
dengan membayar sejumlah ganti rugi yang dituntut oleh pihak
yang dirugikan, setelah diperhadapkan kalo kepadanya. Bila tidak
demikian, maka akan timbul suatu suasana dendam darah yang
bisa menjadi suatu rangkaian bunuh membunuh antara keluarga
atau antara desa dengan desa, yang tidak berkesudahan. Itulah
sebabnya ada hukum adat ganti rugi yang diserahkan kepada
pihak yang dirugikan, seekor kerbau sebagai pengganti untuk
tidak dibunuh, dan kain katun putih sebagai lambang perdamai-
an. Perkawinan lari dan rampas semacam ini, di mana-mana ter-
dapat pada banyak suku bangsa di Nusantara ini, antara lain:
silariang pada orang Makassar (Matulada 1962); kawin lari pada
orang A m b o n (Subyakto 1975).

Pola Menetap Sesudah Nikah. Sesudah nikah untuk sementara


pengantin baru tetap tinggal hidup bersama dalam rumah tangga
orang tua istri untuk selama jangka waktu tertentu, sampai orang-
tua merasa ikhlas dan telah yakin bahwa anak dan menantunya
telah mampu untuk berdiri sendiri lepas dari tanggungan mereka.
Selain pertimbangan demikian juga rasa rindu orang tua dan ke-
inginan untuk menyaksikan lahirnya cucu merupakan motif
utama yang membuat lama pengantin berada di dalam rumah-
tangga orang tua istri.

158

PNRI
GAMBAR 5. SUASANA PERKAWINAN MENURUT ADAT ORANG
TOLAKI

159

PNRI
Rumali dan halaman yang dipersiapkan bagi mereka untuk
hidup sendiri, terletak di sekitar tempat kediaman orang tua istri.
Demikian pola menetap sesudah nikah pada orang Tolaki adalah
realisasi dari prinsip mereka, yakni watuke morena (mengikuti
istrinya, uxorilokal). Kalau pengantin perempuan adalah seorang
anak bungsu, maka ia tidak diperkenankan untuk bèrpisah
dengan orang tuanya. Apabila di kemudian hari orang tua mening-
gal maka merekalah yang mewarisi rumah dan kintal orang tua
dengan segala isinya. Jikalau sejak semula pengantin memilih tem-
pat tinggal di sekitar orang tua istri, dan lama kemudian orang tua
istri telali tiada karena meninggal, sedangkan kerabat istri juga
tidak ada yang tinggal di situ, maka pengantin baru biasanya
memilih tempat tinggal di sekitar tempat kediaman orang tua
suami sebagai prinsip watuke langgaino (mengikuti suaminya,
utrolokaf). Sering juga karena alasan tertentu, misalnya karena
suaminya p i n d a h k e tempat bekerja, pengantin dapat memilih tem-
pat tinggal bàru terpisah jauh dari wilayah kediaman kerabat istri
maupun kerabat suami sebagai prinsip mesinggalako dowo
(memisahkan diri, neolokal.)*] Namun mereka masih tetap
sewaktu-waktu kembali menengok kampung halaman di mana
orang tua istri dan orang tua suami bertempat tinggal, apalagi
karena di sana masih terdapat tanah warisan dari masing-masing
orang tua.

Warisan dan Bingkisaji Sesudah Nikah. Seorang anak nanti


memperoleh '¡¡ari (warisan) dari ayahnya sesudah kawin. Orang
yang pertama mewarisi bai ta milik ayali bila ia meninggal adalah
ibu. Bila ibu meninggal dan masih ada anak yang belum menda-
patkan warisan, maka anak itu menerima warisan dari orang
tuanya atas pengaturan pamannya dari pihak ayah. Sepanjang
paman dipandang kurang adii oleh kemenakannya, maka kepala
desa ikut sebagai penengah.
Keeuali " w a r i s a n " , ¡stilali /¡ari juga berarti " b i n g k i s a n , " yakni
bingkisan orang tua mempelai laki-laki kepada pengantin perem-

*) Mengenai istilah-istilah: uxorilokal, ulrolokal, dan neotokal, lihat Koentjaraningrat,


Beberapa Pokok Antropologi Sosia! (1974: 103-113).

160

PNRI
TABEL 4
J U M L A H P A S A N G A N SUAMI-ISTRI O R A N G T O L A K I
DENGAN POLA MENETAP
Uxorilokal, Utrolokal, dan Neolokal Sesudah Nikah

P o a Menetap
Desa Uxorilokal Utrolokal Neolokal Jumlah
Responden
Pondidaha 14 5 1 20
Sambaani 21 — — 21
Wawotobi 20 11 — 31
Pehanggo 8 — — 8
Puriala 9 5 6 20
Jumlah 72 21 7 100

Sumber : Hasil Wawancara

puan dan demikian sebaliknya. Terdapat dua jenís harta warisan,


yakni: (1) harta benda di atas tanah, berupa: ternak dan tanaman
tahunan, kintal dan sawah; dan (2) harta benda di dalam rumah,
berupa: alat-peralatan dapur, alat-perlengkapan tidur, senjata,
dan alat-alat produksi. P a d a umumnya jenis harta benda tersebut
pertama diwariskan kepada anak laki-laki, dan harta benda ter-
sebut kedua diwariskan kepada anak perempuan, kecuali alat-alat
senjata tetap menjadi hak dari anak laki-laki. Kalau suatu
keluarga tidak mempunyai anak laki-laki maka orang yang berhak
mewarisi harta benda di atas tanah adalah semua anak; sebaliknya
apabila seorang tidak mempunyai anak perempuan maka yang
berhak mewarisi harta bendanya dalam rumah adalah anak laki-
laki bungsu dan anak yang paling disayangi oleh ibu.
Perbandingan jumlah nilai jenis warisan yang diperoleh oleh
setiap anak tergantung dari tingkat senioritas dan tingkat pengab-
dian anak kepada orang tuanya. Dengan demikian anak sulung
menerima lebih banyak daripada anak-anak lainnya; anak laki-
161

PNRI
laki lebih banyak daripada anak perempuan, kakak lebih banyak
daripada adik; dan secara khusus anak bungsu diberikan warisan
istimewa karena dipandang sebagai anak yang paling disayangi
dan paling setia tinggal bersama dengan kedua orang tua hingga
menjelang akhir hayatnya. Warisan khusus ini berupa rumah
terakhir orang tua serta isinya seperti telah saya singgung di atas.
Bingkisan diberikan kepada pengantin perempuan oleh orang
tua pengantin laki-laki, demikian sebaliknya kepada pengantin
perempuan oleh orang tua pengantin laki-laki. Bingkisan ini
diberikan pada saat pengantin mengadakan kunjungan resmi
kepada masing-masing orang tua mereka pada kesempatan pertama
sesudah nikah.^ Biasanya pengantin baru mula-mula berkun-
jung ke rumah orang tua pengantin laki-laki dan selanjutnya ke
rumah orang tua pengantin perempuan pada kesempatan berikut-
nya. Pengantin perempuan memperoleh bingkisan dari mer-
tuanya, berupa: alat dapur, pakaian, dan perhiasan; dan pengan-
tin laki-laki memperoleh bingkisan dari mertuanya juga, berupa:
parang dan batu asahan. Pengantin perempuan pada saat pertama
berkunjung ke rumah mertuanya — pada saat mana ia men-
dapatkan bingkisan — disambut dengan upacara yang disebut
rambahi nggare (alas kaki), yakni suatu upacara resmi di mana
suatu benda pusaka diperhadapkan kepadanya yang duduk ber-
dampingan dengan suaminya sambil mendengarkan kata-kata
penyambutan yang menyatakan kesayangan (lihat Lampiran
XIII).
Si istri sebagai menantu dan sebagai ipar kemudian m e n j a m a h
benda tersebut dan selanjutnya bersalamanlah ia dengan mer-
tuanya, ipar-iparnya, dan sekalian keluarga pengantin laki-laki
yang sempat hadir pada upacara ini.
Adanya bingkisan dari orang tua kepada pengantin dan peris-
tiwa upacara rambahi nggare tersebut khususnya kepada pengan-
tin perempuan merupakan lambang pernyataan rasa persatuan,
dan peringatan terhadap pengantin perempuan bahwa kekal
*) Pemberian bingkisan kepada masing-masing mempelai pengantin sesudah nikah oleh
masing-masing merlua secara timbal-balik merupakan salali satu perwujudan dari prin-
sip reciprocily. Mengenai prinsìp reciprocily ini lihat Malinowski, The Argonauti of the
Western Fasific (1944); dan J. Van Ball, Reciprocily and the Posilion of Women (1975).

162

PNRI
tidaknya ikatan persatuan itu banyak tergantung pada pengantin
perempuan.
Perceraian. Perceraian adalah gejala sosial rumah tangga yang
umum terjadi di semua masyarakat di dunia ini. Bagi orang Tolaki
istilah tepobinda atau tepowu'oli adalah dua istilah yang dipakai
untuk pengertian " p e r c e r a i a n " . Perceraian terjadi karena salali
satu sebab tersebut sebagai berikut, yakni: salali satu dari apakah
istri yang tidak dapat memenuhi kewajibannya, yang tidak
menghargai orang tua dan kerabat suaminya, ataukah suami yang
bersikap demikian terhadap orang tua dan kerabat istrinya, karena
istri yang berzina, suami yang tombalaki, ialah suami yang me-
nyimpan uang dan bahan-bahan kebutuhan rumah tangga yang
seharusnya merupakan tugas dan kewajiban istri, atau suami yang
inpoten, atau istri yang mandul, atau istri yang tidak mau dimadu.
Pada umumnya perceraian disebabkan oleh gejala tersebut pada
urutan pertama di atas.
Penyelesaian urusan suatu perceraian dilakukan di muka sidang
adat di tingkat desa. Bila tidak selesai urusan itu dapat dilanjutkan
ke tingkat yang lebih tinggi, yakni di tingkat kecamatan, atau ke
tingkat pengadilan negeri kabupaten. Pejabat desa yang bertang-
gung jawab untuk menyelesaikan urusan perceraian adalah: talea
(juru bicara), pabitara (hakim adat), tonomotuo (kepala desa)
yang didengarkan pertimbangannya, dan o ima (imam desa).
Turut hadir dalam sidang musyawarah adat perceraian ialah ang-
gota keluarga kedua belah pihak suami-istri, terutama ayah dan
ibu masing-masing. Dalam sidang adat ini didengarkan dan diper-
timbangkan alasan suami sehingga hendak mentalak atau
menerima permintaan istrinya untuk ditalaknya, dan selanjutnya
oleh istrinya dikemukakan tanggapannya. Selain itu suami juga
melaporkan inventarisasi harta kekayaan rumah tangga dan perin-
cian harta benda yang akan diserahkan kepada bekas istrinya dan
anak-anaknya lengkap dengan alasan-alasan penyerahannya.
Hasil keputusan sidang adat dapat digugat oleh bekas istri.
Dalam rangka pembagian harta kekayaan rumah tangga si suami
harus telah mifTigetahui bahwa harta kekayaan asal milik istri
sebelum perkawinan dan asal dari warisan orang tuanya tetap men-
163

PNRI
jadi milik istri dan dikembalikan kepadanya. Pemberian kepada
istrinya diambilnya dari harta kekayaan hasil usaha bersama s d a -
ma dalam ikatan suami-istri, n a m u n tjdak demikian halnya apabila
perceraian itu dilakukan karena atas permintaan pihak istri.
Terhadap anak-anaknya yang terpaksa harus tetap diasuh oleh
ibunya, ayah selain menghadiahkan sejumlah harta kekayaan
kepada ibu anak-anaknya jiiga berkewajiban pada setiap saat
mengirimkan biaya hidup sehari-hari bagi anak-anaknya. P a d a
Tabel 5 saya t u n j u k k a n berapa jumlah kasus perceraian untuk
jangka waktu tertentu.
Tanggung jawab pemeliharaan anak selanjutnya berada se-
penuhnya pada pihak ibunya dan ayah hanya bersifat m e m b a n t u .
Itulah sebabnya sering terjadi bahwa seorang suami menunda
lama keputusannya untuk menceraikan istrinya dan bahkan ia ru-
juk, mengingat masalah tanggung jawab pengasuhan a n a k . Se-
orang suami kadang kala mengeluh kepada istrinya, kepada orang
tuanya, dan kepada mertuanya, katanya: "nomasusa nomo-
tunggo notoko'anato," artinya " h a i itu adalah susah, sukar
karena kita telah kebanyakan a n a k , " maksudnya bahwa suami
sudah ingin menceraikan istrinya, karena alasan kuat tetapi ke-
inginan itu tak berwujud karena mengingat soal kehidupan anak-
anaknya. Seringkali terjadi bahwa seseorang anak yang ibunya di-
ceraikan oleh ayahnya setelah dewasa dalam pemeliharaan ibunya,
terutama wanita, daripada menetap terus tinggal bersama ibunya,
lebih suka tinggal bersama ayahnya dengan beribu tiri. Dalam hu-
bungan ini sering timbul keluhan seorang ibu terhadap anak-anak-
nya, katanya:
Ilambo mbemohewu ana'akonggu, inakuika hae ta nde mo'iso, ta
nde momboka'ako, ta nde menao-nao. Lalaietq kulako meopo-
laha imbetoka nggo pinenggamiu, aimbepinokono, sambe aimbe-
dunggu mbe'owose, mbendeboto manusia. Mano sina mbe'owo-
semiu lakomiuto ona mbo'ia ine amamiu, ine awomiu. Peha-
keka'ano ie no'arika pe'iwoikomiu aimbela, mano kondu'uma
inakuika hae mamareso aidunggu mbendewaliako tono hende-
hende tae-taetademiu hendeino.
(Semasa kecil hai anak-anakku, akulah yang senantiasa tidak
164

PNRI
tidur, tak m a k a n , tak a d a istirahat. Selalu pergi mencari di m a n a
saja u n t u k engkau sekalian m a k a n , b e r p a k a i a n , sampai engkau
m e n j a d i besar, berbentuk manusia. Tetapi setelah engkau sekalian
m e n j a d i dewasa, lalu engkau sekalian menetap p a d a a y a h m u ,
p a d a ibu tirimu. H a k i k a t n y a ia hanya karena maninya sehingga
engkau sekalian a d a , yang sebenarnya a k u l a h yang berjasa
sehingga engkau sekalian m e n j a d i sosok t u b u h manusia seperti
r u p a m u sebagaimana k e a d a a n m u sekarang ini).

Tabel 5.
J U M L A H KASUS P E R C E R A I A N DI D E L A P A N DESA DI KABUPATEN
K E N D A R I ( L I M A D E S A ) D A N D I K A B U P A T E N K O L A K A ( T I G A DESA)
D A L A M 1979-1981

Kabupaten dan
1979 1980 1981 Jumlah
Desa

Kabupaten Kendari
Kemaraya 2 1 — 3
Wua-Wua — — 1 1
Tawanga 1 — 1 2
Sambeani 2 — — 2
Meraka — 1 1 2

Kabupaten Kolaka
Watuliandu — — • — —

Wundulako — — 1 1
Mowewe — 2 — 2

Jumlah 5 5 4 14

Sumber: Kantor P3NTR "Kabupaten Kendari dan Kabupaten Kolaka

Perceraian p a d a hakikatnya tidak m e n y e b a b k a n putusnya sama


sekali h u b u n g a n kekeluargaan di kalangan anggota kerabat bekas
istri dengan anggota kerabat bekas suami b a h k a n h u b u n g a n me-
reka berdua b e r u b a h statusnya sebagai s a u d a r a k a n d u n g . Hal ini
m e r u p a k a n manifestasi h u b u n g a n d a r a h , kenangan suasana cinta
yang pernah dibina, d a n terutama d i j e m b a t a n i oleh adanya anak-
a n a k , k e m e n a k a n - k e m e n a k a n , d a n cucu-cucu. N a m u n peristiwa
165

PNRI
perceraian ini menyebabkan bahwa suasana pergaulan di kalangan
kerabat kedua belah pihak telah demikian rupa keadaannya
sehingga timbul suasana keseganan, kerenggangan, saling mem-
perhitungkan dalam pertimbangan tertentu dalam kehidupan se-
hari-hari. Dengan lain perkataan, hubungan itu telah tidak seerat
seperti semula ketika masih dalam ikatan perkawinan.
3. Kematian. Suasana ritus yang terakhir dialami oleh keluarga
dalam lingkaran hidup seseorang adalah peristiwa kematian. Un-
tuk menggambarkan suasana ritus kematian seseorang anggota ke-
luarga secara lengkap yang biasa dialami oleh masyarakat orang
Tolaki, saya perlu mengemukakan beberapa hai, yakni: (1) penye-
bab kematian; (2) perawatan si sakit; (3) persiapan menjelang
kematian tiba; (4) suasana perkabungan dan p e m a k a m a n ; dan (5)
upacara-upacara peringatan peristiwa kematian.
Penyebab kematian. Penyebab kematian dari seseorang adalah
mungkin karena akibat kecelakaan dan mungkin karena jenis
penyakit. Biasanya jenis kecelakaan yang mengakibatkan kema-
tian seseorang adalah karena ditindis p o h o n , jatuh dari pohon,
ditanduk hewan liar seperti kerbau atau anuang, dipagut ular,
disambar buaya, mati tenggelam, mati terbakar, mati karena di-
kena senjata ranjau penangkap hewan liar, dan khususnya kaum
ibu ada yang mati karena bersalin. Bagi orang Tolaki, mati karena
kecelakaan adalah mati yang dipandang sangat terkutuk, tidak
wajar. Pandangan ini didasarkan pada kepercayaan mereka
bahwa unsur-unsur alam penyebab kematian tersebut adalah
suruhan T u h a n untuk menghukum manusia sebagai h u k u m a n
alam karena ia telah melanggar adat dan norma agama. Sebagai
contoh, kata orang Tolaki, adalah orang yang mati disambar
buaya sebagai hukuman alam karena perzinahan, orang yang mati
ditanduk kerbau sebagai hukuman karena melanggar adat per-
buruan, seorang ibu yang mati karena bersalin sebagai hukuman
alam karena durhaka terhadap suaminya. Itulah sebabnya ke-
luarga si mati sering merasa malu kalau kematian itu karena kece-
lakaan, sehingga tidak jarang ada orang yang menyembunyikan
perihal kematian itu.
Kematian yang wajar adalah karena penyakit. Orang Tolaki tra-
166

PNRI
disional mengenal beberapa jenis penyakit yang dapat merenggut
jiwa seseorang, seperti: tewuta-pe'una (munta berah), haki tia
(sakit perut), haki wunggu'aro (penyakit dada), haki labóri (sakit
rongga dada pada bagian kanan-kiri), haki wawo uhu (penyakit
dada bagian atas susu), humongo molua o beli (batuk dan munta
darah), moreo bea (penyakit malaria), haki te'emeako o watu
(penyakit pinggang dan kencing batu). Orang Tolaki tradisional
tidak mengenal bahwa sesuatu penyakit timbul karena disebabkan
oleh sesuatu basii atau virus atau lainnya tetapi semata-mata
karena gangguan setan atau karena disebabkan oleh bikinan orang
yang irihati, benci melalui àpa yang disebut o doti nilalaeami (ilmu
hitam, racun melalui makanan dan minuman dan dengan cara
apa pun).

Perawatan si Sakit. Selama si sakit menderita, ia lebih banyak


dirawat dengan memanggil mbu'akoi (dukun) daripada pengobat-
an dokter. Kini telah banyak orang Tolaki yang berobat pada
dokter, di samping pada dukun. Seorang d u k u n dalam mengobati
sesuatu penyakit menggunakan sejumlah bahan pengobatan yang
kini dikenal sebagai bahan pengobatan tradisional, antara lain: o
kudu (kencur, atau kaempferia galanga); lo'io (jahe, atau Zingiber
cassummunar); lasuna (bawang), marisa (merica), inunde inahu
(jeruk kecil); o bile (sirih), pada inalala (daun sere), o kuni
(kunyit, atau Curcuma longa)', ta'umo (daun sembung, atau
Blumea balsamiflora)', sabandara (ketepeng, atau Cassia alata)',
tawa dambu (daun jambu batu); tawa nggapaea (daun pepaya), in-
oso (tembakau); o wule (kapur sirih); ti'olu (telur ayam).*' Dengan
satu atau campuran dari beberapa bahan obat tersebút setelah
ditumbuk, dukun menggosokkan pada bagian badan si sakit, atau
dengan airnya yang diminum, sambii dukun membacakan man-
tera-mantera atau doa-doa. Khusus penyakit yang disebabkan
oleh makhluk halus maka dukun melakukan pengobatan dengan
cara yang disebut mowea (memisahkan atau melepaskan),
maksudnya: memisahkan atau mengeluarkan penyakit yang ada di

*) lstilah dalam bahasa Latin dari beberapa jenis tumbuhan bahan pengobatan tradisional
di atas, tercantum dalam S. Soeparto, Janni Jawa Asli (1984)

167

PNRI
dalam tubuh penderita dan dikembalikan kepada.makhluk halus
penyebab dari suatu penyakit. Pengobatan melalui mowea tersebut
dilakukan dengan menggunakan kalo dalam versinya yang lain
yang disebut o eno (kalung emas) yang dilengkapi dengan kain
sarung, wadah anyaman sebagai pengalas sarung, dan hulo taru
(lampu lilin). Melalui perantaraan kalo ini d u k u n memanggil
makhluk halus penyebab penyakit dengan mengucapkan mantera-
mantera (lihat Lampiran XII). Dari kalo ini dengan mantera-man-
tera yang dipersembahkan kepada makhluk halus diharapkan oleh
dukun kiranya makhluk halus yang bersangkutan dapat berdamai
dengan si sakit, karena pada dasarnya penyakit yang ditimbulkan
oleh makhluk halus adalah akibat dari si sakit atau keluarganya
yang mengganggu ketenteramannya, atau karena hubungan an-
tara manusia dengan dunia gaib tidak harmonis adanya. A d a
pengobatan d u k u n yang berhasil dan ada pula yang tidak berhasil.

Persiapan Menjelang Kematian Tiba. Apabila keadaan penyakit


si penderita tampaknya semakin gawat dan tanda-tanda kematian
mulai timbul, m a k a suasana kehidupan rumah tangga mulai sibuk
dalam persiapan menjelang kematian tiba, seperti: padi ditumbuk,
kerbau diikat, keluarga yang bertempat tinggal jauh dipanggil,
kemungkinan tempat pemakaman mulai dirundingkan, dan lain-
lain persiapan yang diperlukan diadakan. A d a p u n kain kavan
belum dapat disiapkan secara terang-terangan, kecuali secara
diam-diam. Hal itu terlarang untuk dilakukan, karena berarti,
kata orang Tolaki, "telah mendahului ketentuan A l l a h " . Dalam
suasana sakratul maut di dalam rumah telah penuh orang yang
hatinya pilu dan sedih, ada yang sudah menangis. Apabila ter-
nyata si sakit telah menghembuskan nafas yang penghabisan,
maka dengan segera orang menyembelih seekor kerbau sebagai apa
yang disebut kotumbenao (korban pemutus nyawa, pemisah an-
tara tubuh dan roh). Sementara itu orang telah melakukan apa
yang disebut tumotabua (membunyikan gong sebagai tanda
pengiring roh pergi kepada Tuhannya). Bunyi gong yang menye-
dihkan dan memilukan hati menggugah hati para anggota ke-
luarga dan tetangga yang dekat untuk berkunjung ke rumah ke-
matian. Untuk memberi tahu kerabat yang j a u h dan terutama

168

PNRI
mereka yang dituakan serta para sesepuh di desa diutuslah
beberapa orang untuk mengantarkan kalo yang disebut kowea
(kalo berupa orang-orangan) sebagai t a n d a pekabaran oráng
kematian. Kalo macam kowea ini secara simbolik menggam-
barkan bahwa roh orang mati datang menemui kerabatnya untuk
berpamitan karena ia harus mendahului menghadap T u h a n .
Hampir seluruh anggota keluarga yang berkabung dan para
tetamu yang melayat mengenakan lowani (kain putih pengikat
kepala sebagai tanda berkabung), suatu bentuk lain dari kalo
(lihat G a m b a r 7). Mereka yang datang tak lupa membawa sesuatu
sebagai sumbangan menurut kadar k e m a m p u a n , misalnya berupa
bahan m a k a n a n dan uang. Hampir setiap tamu yang datang di-
tangisi dan bertangisan. Begitulah suasana perkabungan yang ter-
jadi dalam suatu peristiwa kematian. Jikalau kita menghadiri
suatu rumah dalam suasana kematian dan terlibat di dalamnya
maka kita mengetahui bahwa selain adanya orang yang berkabung
dan melayat, tetapi juga tampak beberapa kegiatan khusus di
dalamnya, seperti: pembuatan alat perlindungan sementara pada
bagian depan dan sisi samping r u m a h , p e m b u a t a n lembara
(usungan mayat), pengambilan air untuk pemandian mayat, peng-
galian liang lahat, kegiatan penyediaan m a k a n a n dan minuman,
dan penulisan riwayat hidup almarhum bila ia seorang pejabat
pemerintah.
Pemandian mayat dilakukan setelah dinyatakan bahwa liang
lahat telah siap. Mereka yang memandikan mayat ialah keluarga
terdekat dari almarhum, biasanya kemenakan, yang terdiri dari
delapan orang. Tiga orang menggosok tubuh, masing-masing un-
tuk bagian kepala, dada dan perut, serta kaki; empat orang
memegang kain putih yang direntangkan di atas pembaringan
mayat untuk menyaring air yang disiramkan ke tubuh mayat; dan
seorang lagi menyiramkan air ke tubuh mayat melalui kain putih
yang direntangkan. Pemandian mayat diakhiri dengan apa yang
disebut baho sulapa (mandi empat sisi badan) sambil membaca
doa untuk masing-masing empat sisi badan, sebagai berikut: " p e r -
tama: gufranaha ya rakhman rabbana wa ilaikal masir; kedua:
Gufranaha ya rakiman rabbana wa ilaikal masir; ketiga:

169

PNRI
C a m b a r à.
Suasoria perkabungan di rumah orang meninggal

170

PNRI
gufranaha ya allahu rabbana wa ilaikal masir; dan keempat;
gufranaha alhamdu lillahi la ilaha Hallah". Pemandian empat sisi
badan dimaksud dan pengucapan doanya dilakukan oleh seorang
imam desa.*'
Setelah mayat dikafani dan disembahyangkan oleh imam dan
sejumlah orang j a m a a h lainnya, maka mayat diangkat dan diba-
ringkan di suatu ruangan besar atau di depan rumah perkabung-
an. Di sekeliling pembaringan mayat duduklah semua anggota ke-
luarga inti dan lain-lain anggota kerabat dan saat itulah dilakukan
suatu upacara kalo yang disebut meoko'auhi (pamitan orang me-
ninggal terhadap keluarga).**) Sesudah itu mayat diangkat dan
dimasukkan ke dalam usungan.
Semua anggota keluarga inti ikut masuk ke dalam usungan se-
hingga suatu usungan mayat harus dibuat lebih besar. Setelah
usungan mayat diangkat dan diturunkan secara berganti-ganti
sebanyak empat kali, maka diberangkatkanlah ke pemakaman.
Setiap orang sebagai keluarga yang ikut ke pemakaman berusaha
agar sempat memikul usungan secara bergantian (lihat G a m b a r 7).
Sebelum mayat dimasukkan ke dalam liang lahat, usungan harus
dikelilingkan mengitari liang lahat sebanyak empat kali pula.
Liang lahat yang telah dipersiapkan harus dalam posisi meman-
jang utara-selatan karena pembaringan mayat harus miring meng-
hadap kiblat (arah barat) dan membelakangi jurusan timur.
Sebelum mayat ditimbuni dengan tanah, imam atau pembantu-
nya melakukan apa yang disebut pasuru (khotbah terakhir ter-
hadap orang meninggal), yang berbunyi demikian: "i Ali pasuru-
ko, i Muhama Nabimu, Ombu Ala Ta'ala Ombumu, i Gibrilu
mokolakoko i une wuta dunggu i wuta Maka". Artinya: si Ali
yang mengajarimu, M u h a m m a d Nabimu, AllahTaala T u h a n m u ,
Jibril yang membawamu melalui tanah menuju tanah Mekkah.
Selanjutnya setelah liang lahat ditimbuni, maka imam membaca-
kan talkin (pesan terhadap orang meninggal berbunyi demikian:
"keno sukoko i, Gibrilu inae Ombumu, Inae Nabimu, inae pe'

*) Imam Desa itu bernama Semaun.


**) Bunyi kata-kata pamitan orang meninggal yang diucapkan oleh seorang juru bicara
termuat dalam Lampiran XIV.

171

PNRI
Gambar.7.
Suasana penghantaran mayat ke kuburan

imangi' amu, imbe pekibilatramu ma autotahaki, Ombunggu


Ombu Ala Ta'ala, Nabtñggu Nabi Muhama, imanggu Kura 'ani,
kibilatinggu Baitula". Artinya: bila engkau ditanya oleh malaikat
Jibril, siapa T u h a n m u , siapa Nabimu, siapa I m a m m u , di m a n a
kiblatmù, maka menjawablah, T u h a n k u adalah Allah Taala,
Nabiku M u h a m m a d , I m a m k u adalah Al Q u r a n , dan kiblatku
adalah Baitullah. Untuk nisan, orang memakai batu simgai yang
cuncing, t a n a m a n j a r a k , atau kini batu nisan dari kayu balok
(lihat G a m b a r 9). Apabila orang telah balik meninggalkan
m a k a m , m a k a adalah terlarang untuk seseorang membalik melihat
ke arah m a k a m , karena, kata mereka, nanti bisa cepat meninggal.
D i a n j u r k a n kepada semua pengantar mayat ke p e m a k a m a n untuk
masih menyempatkan diri ke rumah kematian untuk m a k a n ber-
sama, n a m u n ada di antaranya yang enggan m a k a n di rumah
kematian dengan alasan tidak mau merepotkan keluarga yang ber •
duka, atau karena tidak berselera dalam suasana berkabung.

172

PNRI
Upacara-upacara Peringatan Peristiwa Kematian. Orang Tolaki
p a d a u m u m n y a m e n g a d a k a n pesta peringatan kematian yntuk
beberapa kali yang bertepatan p a d a hitungan waktu tertentu lama
meninggalnya seseorang anggota keluarga t e r u t a m a ayah atau ibu
dan kakek atau nenek. H i t u n g a n w a k t u tertentu tersebut adalah:
wingi i t o lu (malam ketiga); wingi i pitu (malam ketujuh); wingi
patambulo (malam keempat puluh); wingi aso etu (malam ke-
seratus); dan wingi aso sowu (malam keseribu).* ;

Peringatan kematian p a d a m a l a m ketiga adalah upacara peng-


u c a p a n d o a - d o a d a n untuk memberi m a k a n orang mati karena
menurut mereka bahwa roh orang yang meninggal itu selalu kem-
bali ke r u m a h untuk mengunjungi keluarganya."'Demikian halnya
pada malam-malam ketujuh, keempat puluh, keseratus, sampai
malam keseribu sebagai malam terakhir. Peringatan kematian
yang dilakukan p a d a m a l a m - m a l a m tertentu di atas disebut mo'-
alo o wingi (mengambil m a l a m , penyediaan malam tertentu u n t u k
u p a c a r a peringatan kematian), dan pesta m a l a m terakhir disebut
wingi pepokolapasi'a{malam penghabisan, pesta pengucapan d o a
tahlil). Bagi mereka yang tidak m a m p u atau karena kesempatan
yang tidak mengizinkan, pesta m a l a m terakhir dilakukan p a d a
m a l a m keempat puluh. Bilamana pesta m a l a m terakhir m e n j a d i
tertunda karena kelalaian m a k a hal itu dipandang sebagai k e a d a a n
yang sangat m e m a l u k a n karena berarti keluarga yang bersangkut-
an tidak menghargai orang t u a n y a . P e n g u c a p a n d o a tahlil la ilafia
ilallah dilakukan sebanyak 1000 kali, yang dihitung dengan
memakai batu kerikil. Batu-batu kerikil inilah yang a k a n selanjut-
nya diantar ke kubur sebagai menemani batu nisan permanen yang
a k a n ditanam menjelang akhir pesta ini. P e n g h a n t a r a n batu nisan
dengan segala perlengkapannya itu dipandang sama dengan
m e n g h a n t a r k a n m a y a t ke p e m a k a m a n , sehingga p e n g h a n t a r a n itu

*) Pesta-pesta peringatan kematian semacam ini dilakukan juga di banyak suku bangsa
Semit (lihat J. Morgenstern, Rites of Birth Marriage, Death and Kindred: Occasion
Among the Semites (1973).
**) Kepercayaan semacam ini adalah umum bagi suku bangsa primitif di dunia (lihat E.B.
Tylor 1873).

173

PNRI
juga harus memakai usungan yang dipikul oleh sejumlah orang
dengan pengiringnya.
Dari semua pesta upacara kematian terurai di atas, maka satu di
antaranya yang terbesar adalah pesta malam terakhir. Sedapat
mungkin pesta ini dihadiri oleh semua keluarga yang terikat oleh
satu asal nenek moyang sehingga memerlukan persiapan rumah
pesta yang besar, bahan makanan yang cukup banyak, alat-per-
alatan selengkapnya serta memerlukan waktu yang cukup panjang
(biasanya pesta tujuh hari tujuh malam, dan jikalau dahulu
selama satu bulan). Mereka yang diundang untuk pesta ini tidak
hanya dihadiri oleh suami dan istri tetapi bersama dengan putra-
putrinya bahkan kata orang Tolaki, ronga beka ronga dahu (ber-
sama dengan kucing dan anjingnya). N a m u n demikian perlu dica-
tat di sini bahwa mereka sebagai undangan pasti membawa sejum-
lah sumbangan, berupa bahan makanan, seperti berupa: kerbau,
beras, sagu, ayam, telur, dan sayuran, serta berupa minuman
keras yang disebut pongasi (minuman keras dari air beras yang
diberi ragi), dan o ara (minuman ciu dari air enau). Mereka yang
tidak mampu termasuk di dalamnya sebagai janda, duda, anak
yatim-piatu menyumbang berupa tenaga.

Jikalau kita sebagai seorang pengamat dan sempat menghadiri


pesta ini maka kita akan menyaksikan sejumlah keadaan yang ter-
jadi di dalamnya, seperti demikian:
1. Seluruh ruangan pesta sebagai rumah tinumba ndomu (bangun-
an t a m b a h a n pada keempat sisinya) terdiri dari beberapa
ruangan, yakni: ruangan tengah rumah yang berfungsi sebagai
tempat duduk, pertemuan u m u m , tempat makan, dan tempat
melakukan tarian masai, ruangan tempat tidur yang hanya
dibatasi dengan layar antara satu keluarga dengan keluarga
lainnya, dan dengan ruangan tengah.
2. Untuk tempat memasak dan penyimpanan bahan makanan dan
alat-perlengkapan lainnya didirikan bangunan tersendiri yang
dihubungkan dengan rumah induk melalui suatu jembatan ti-
tian.
3. P a d a seluruh bagian dalam dinding rumah dipasangkan apa
yang disebut tabere (layar 'tabir) dan pada langit-langit
174

PNRI
Gambar fl.
Balu dan kayu nisan

175

PNRI
demikian halnya dengan o tenda (tenda-tenda), yakni alat
perhiasan rumah pesta yang khusus dibuat dan dimiliki secara
turun t e m u r u n (lihat G a m b a r 10).
4. H a l a m a n rumah pesta dengan sengaja diperluas untuk tempat
rekreasi bagi pengunjung dan tempat bermain bagi anak-anak.
5. Suasana pesta begitu ramainya dengan beraneka ragam ke-
sibukan orang di dalamnya. Laki-laki melakukan pekerjaan
memotong ternak dan ada di antaranya yang bertanggung
jawab dalam hal penggunaan daging, yang disebut mbutotom-
ba (orang yang mendistribusi daging), ada kelompok yang
mengumpulkan kayu bakar, ada yang bertugas mengambil air
di sungai, ada yang bertugas melayani tamu yang baru datang,
ada yang duduk berbincang-bincang dengan para tamu sambil
menghidangkan m a k a n a n sirih-pinang dan rokok, ada kelom-
pok tertentu yang bermain judi, ada yang menyabung ayam,
ada yang beradu kekuatan betis dan lengan, menarik tali, ada
yang bertanding memacu kuda. Di halaman rumah tampak ke-
lompok-kelompok anak-anak yang sibuk bermain yang cukup
membisingkan telinga karena teriakan, tawa dan tangisan, ser-
ta perkelahian, dan ada pula kelompok-kelompok muda-mudi
yang menjalin cinta, serta ada pula seseorang yang membuat
kelucuan-kelucuan sehingga hampir saja menyebabkan orang
yang sibuk bekerja di dapur sering menjadi terganggu karena
tergoda dengannya, dan ada pula seseorang tua yang sengaja
beriwayat mengenai keadaan dulu-dulu mengenai peri hidup
dan kisah-kisah kepahlawanan nenek moyang. Perempuan me-
lakukan pekerjaan memotong-motong daging, membersihkan
beras, memasak, menghidangkan m a k a n a n , mencuci piring,
dan menghiasi rumah pesta.

6. H i b u r a n yang paling menarik dan mengesankan adalah me-


lakukan tarian masai molulo yang telah berkali-kali saya sebut
dalam tulisan ini, yang dilakukan oleh segala u m u r , laki-
perempuan, muda-mudi, anak-anak, segala golongan yang ada
dalam masyarakat.
7. Pesta pada umumnya diakhiri dengan pertandingan minum
minuman keras dan menguji kepandaiannya dalam ilmu gaib.
176

PNRI
177

PNRI
G a m b a r 9.

Kai/i hiasan pada mangan rumali pesta.

178

PNRI
8. Nampak pula suatu situasi yang sangat menarik perhat'ian,
yakni: bahwa dalam suasana demikian hampir tak ada perbe-
daan antara laki dan perempuan, antara tua dan muda, antara
yang kaya dan yang miskin, antara yang terpelajar dan yang
buta huruf, sampai pada hampir tak ada perbedaan antara yang
baik dan yang buruk, antara yang terpuji dan yang tercela, dan
seterusnya.
9. Apabila para tetamu sudah akan kembali ke rumah masing-
masing, terjadi pula hal-hal yang menarik perhatian tetapi
lucu. Mereka saling mengotori badan dan pakaian satu sama
lain, baik antara si tuan rumah dengan para tamu maupun an-
tara sesama tuan rumah, dan antara sesama tamu. Mereka sa-
ling memberi arang di pipi dan menyiram pakaian sesamanya
dengan sisa-sisa makanan dan minuman tetapi anehnya mereka
tidak saling memarahi satu sama lain. Bagi mereka perlakuan
demikian merupakan cara untuk tidak saling melupakan satu
sama lain biarpun sebentar lagi mereka harus saling berpisah,
karena hal ini sukar dilupakan.
Pesta kematian semacam ini yang masih dilakukan di desa
sudah jarang kita jumpai di kota. Hal itu karena pemerintah kota
telah membatasinya dengan pertimbangan bahwa pesta itu dila-
rang oleh agama dan juga demi penghematan. Di desa pun peng-
adaan pesta semacam ini biasa dilakukan oleh mereka yang ter-
hitung mampu dan mereka yang tergolong bangsawan dan
golongan yang berpangkat.

2. SISTEM POLITIK DAN STRATIFIKASI SOSIAL


2.1. Organisasi Politik Kerajaan
Organisasi politik sebagai salah satu aspek pemerintahan dalam
suatu masyarakat apakah sudah dalam bentuk negara atau belum,
oleh ahli antropologi A.R. Radeliffe-Brown didefinisikan sebagai
berikut:
... that part of the total organization which is concerned with
the maintenance or establishment of social order, within a ter-
ritorial framework, by the organized exercise of coercive
179

PNRI
authority through the use, or the possibility of use, of
physical forced

Definisi lain mengenai organisasi politik adalah definisi yang di-


berikan oleh I. Schapera (1956: 218), ... " t h a t aspect of the total
organization which is concerned with the establishment and main-
tenance of internal cooperation and external independence",**»
dan R.M. Keesing (1981: 268) menjelaskan mengenai organisasi
politik itu sebagai berikut:

Looking at nonliterate societies as stable, isolated systems, we


can see certain problems to be solved, by whatever institu-
tional means, that we solve by formal political organization:
maintaining territorial rights, maintaining internal order,
allocating power to make decisions regarding group action.
We can say that the "political organization " of a society com-
prise whatever rules and roles are used to manage these pro-
blems— whether or not there is any formal kind of govern-
mental organization. This refinement of the "take me to your
leader" approach has worked fairly well for some purposes. It
enable us, for instance, to compare the way these problems
are managed across a range of societies from the hunting-and-
gathering band to the sentralized state. "**)

*) Dengan organisasi politik dimaksud Radeliffe-Brown bagian dari suatu organisasi


yang mengenai pemeliharaan atau pengembangan aturan sosial, dalam suatu
kerangka wilayah, dengan upaya teratur dari kekuasaan melalui penggunaan atau
mungkin penggunaan kekuatan fisik yang memaksa.
**) Dengan organisasi politik dimaksud Schapera aspek organisasi umum yang mengatur
pembinaan dan pemeliharaan kerja sama ke dalam dan kebebasan keluar.
***) Penjelasan Keesing sehubungan dengan pengertian organisasi politik adalah demiki-
an: Meninjau masyarakat-masyarakat yang tidak mengenai tulisan, seperti
masyarakat yang bersistem terisolasi, stabil, kita dapat menemukan masalah-masalah
tertentu untuk dipecahkan, melalui nilai-nilai pranata apa pun, yang kita pecahkan
melalui organisasi politik resmi: memelihara hak-hak wilayah, membuat keputusan-
keputusan yang berkenan dengan aksi kelompok. Kita dapat berkata bahwa
"organisasi politik suatu masyarakat terdiri dari sejumlah aneka aturan-aturan dan
hukum yang dipergunakan untuk mengatasi masalah-masalah—apakah terdapat atau
tidak sejumlah jenis organisasi pemerintahan resmi. Cara yang paling halus untuk
memecahkan suatu masalah dalam apa yang dimaksudkan dengan " p e n d e k a t a n

180

PNRI
Dalam meninjau struktur organisasi politik dan pemerintahan
dalam organisasi kerajaan tradisional dalam masyarakat orang
Tolaki dalam peranannya memecahkan masalah-masalah yang
timbul baik dari luar maupun dari dalam di satu pihak, dan dalam
membina dan meningkatkan stabilitas politik dan keamanan
dalam negerinya di lain pihak, saya akan melihatnya dalam dua
segi, yakni: (1) segi bentuk organisasi politik dan pemerintahannya
mulai dari kerangka wilayah yang lebih kecil sebagai puak-puak
sampai pada kerangka wilayah yang lebih besar sebagai kerajaan;
dan (2) segi politik itu sendiri.

Dari Puak-Puak ke Kerajaan. Istilah-istilah: angga/o, o napo, o


tobu, dan wonua adalah istilah-istilah yang berarti bagian-bagian
wilayah yang diduduki dan dikuasai oleh sekelompok manusia
orang Tolaki untuk didiami dalam jangka waktu tak terbatas.
Angga/o adalah lembah ngarai yang penghuninya terdiri dari em-
pat sampai tujuh kepala keluarga yang merupakan satu keluarga
asal dari satu nenek moyang. Wilayah yang dikuasai demikian
secara ideal dapat bertahan berkat adanya tiga tokoh pemimpin
yang bertindak sebagai pengaman dan penyelamat atas segala an-
caman yang membahayakan kelompok kecil yang bersangkutan.
Tiga tokoh pemimpin tersebut dinamakan: (1) tamalaki, ialali
seorang kesatria yang dapat menghalau musuh dari luar maupun
mematahkan perkelahian yang timbul di kalangan sendiri; (2)
mbuako.i, ialah seorang d u k u n yang berilmu yang dapat
memberantas wabah penyakit yang menimpa mereka atau segala
bencana alam yang timbul, seperti banjir, angin topan, dan
kebakaran; dan (3) mbusehe, ialah seorang tokoh adat yang mam-
pu mendamaikan timbulnya sengketa akibat pelanggaran adat dan
aturan hidup di kalangan kelompok.

membawa saya kepada p e m i m p i n m u " telah dilakukan dengan baik untuk sesuatu tu-
juan. Cara tersebut memungkinkan kita, misalnya, untuk membandingkan
bagaimana cara masalah-masalah ini diurus dari antara suatu masyarakat-
masyarakat kecil yang hidup dari meramu dan berburu dengan suatu negara yang
tersentralisasi.

181

PNRI
O ñapo adalah suatu wilayah lembah yang secara hukum adat di-
kuasai dan diduduki oleh gabungan kelompok yang mendiami ang-
galo. Seperti halnya angga/o, o ñapo ini merupakan suatu wilayah
yang dapat dikuasai dan bertahan lama berkat adanya tiga tokoh
pemiitipin yang mampu mengorganisasi anggota kelompoknya.
Mereka itu ialah: (1) tonomotuo, ialah seorang pemimpin wilayah
o ñapo yang berfungsi mengatur dan mengendalikan kehidupan
masyarakatnya dalam berbagai aspek kehidupan; (2) pabitara,
ialah orang kedua sesudah tonomotuo yang berfungsi dalam soal
sengketa dan peradilan; dan (3) tamalaki, ialah seorang asal dari
salah satu anggalo yang mampu mempertahankan seluruh wilayah
o ñapo terhadap serangan musuh baik dari luar maupun dari
dalam.

Selanjutnya ada o tobu ialah wilayah gabungan o ñapo yang


biasanya pula terdiri dari empat atau tujuh o ñapo yang saling ber-
dekatan letaknya satu sama lain. Pemimpin o tobu disebut dengan
pütobu (Kepala Wilayah), ialah seorang pemimpin wilayah
gabungan yang berfungsi sebagai koordinator seluruh wilayah
yang dibantu oleh tiap tonomotuo dan pabitara dari tiap o ñapo.
Akhirnya istilah wonua adalah penamaan suatu negeri, yakni
negeri Kerajaan Konawe atau negeri Kerajaan Mekongga, yang di
dalamnya terdapat wilayah-wilayah o tobu (distrik), o ñapo (kam-
pung) dan sejumlah anggalo (lembah) tempat tinggal. Istilah-
istilah lain yang ada hubungannya dengan istilah wonua ini adalah
towonua, yang berarti orang negeri, penduduk negeri; pu'u
wonua, yang berarti ibu negeri, pusat negeri, ibu negeri, ibu kota;
dan istilah tapu'u wonua yang berarti orang pertama mendiami
negeri Konawe, serta wonua sorume yang berarti negeri yang
wilayah daerahnya banyak ditumbuhi anggerek.

Munculnya seorang tokoh pemimpin dari tiap komuniti yang


telah disebut di atas adalah dilatarbelakangi oleh kekacauan dan
bencana yang timbul yang melanda kehidupan kelompok. Tokoh
itu muncul sebagai pemimpin juga berkat restu dari nenek moyang
mereka yang telah lama meninggal, yang menurut kepercayaan
warga masyarakat mengutus dewa turun dari langit sebagai sangia
182

PNRI
ndudu atau menjelma sendiri ke dalam seorang manusia di bumi.
Sebagai dewa yang turun dari langit atau sebagai penjelmaan dari
roh nenek moyang, si pemimpin ternyata mampu menyelamat-
kan komuniti dari bencana dan selanjutnya mampu memimpin
komuniti karena memiliki keberanian, ilmu yang tinggi, mubarak,
kesaktian atau sebagai kosangi-sangia ialah orang yang pergi ber-
tapa, kemudian kembali lagi dan membawa amanat yang berguna
bagi kehidupan komuniti. Amanat itu tidak hanya diperolehnya
melalui pertapaan, tetapi juga melalui peristiwa mimpi, atau
karena peristiwa limbakole ialah hidup kembali sesudah beberapa
saat mengalami mati. Ada juga cerita-cerita Tolaki lain tentang
seorang yang dilegalisasi menjadi pemimpin mereka karena ia
mampu menyelamatkan warga komuniti dari bahaya kelaparan
atau dari suatu wabah penyakit atau karena seseorang itu me-
naklukkan sesuatu wilayah dan penduduknya, atau karena ke-
kayaannya ia membeli suatu wilayah dan penduduknya.

Orang Tolaki suka menceritakan antara lain kisah Latuanda


atau Onggabo di Olo-Oloho yang membunuh uti owose (biawak
besar) dan kiniku petanu mbopole (kerbau berkepala dua), dua
jeni's binatang yang menghabiskan penduduk wilayah itu dan
kemudian menjadi pemimpin wilayah itu; kisah Larumbalangi dan
Wekoila, dua orang bersaudara kandung yang menjadi raja
masing-masing di Mekongga dan di Konawe, setelah Larumba-
langi berjasa memimpin penduduk setempat dalam pembunuhan
kongga owose (burung kongga raksasa) yang pernah memakan
habis penduduk di suatu negeri bernama Kowioha; kisah Tawe
Salaka di Para Iwoi yang melawan orang Tobelo yang pernah
menyerang penduduk setempat; kisah tentang lahirnya seorang
laki-laki bernama Pasa'eno yang dipandang sebagai keturunan
dewa, yang terjadi di Iwoi Ila di hulu Sungai Mowewe sekarang;
kisah tentang Pulu Ase, yang mempertahankan benteng di pinggir
gua di Mangolo untuk menantang serangan orang Luwu di wila-
yah Mekongga; kisah penaklukan beberapa wilayah di sebelah
utara Kerajaan Konawe oleh Taridala; dan kisah peperangan
Haluoleo melawan orang Tobelo, yang menyerang wilayah sepan-
jang pesisir timur Sulawesi Tenggara sampai di Pulau Buton dan

183

PNRI
Muna, yang atas jasanya kemudian diangkat menjadi Sultan
Buton yang pertama.*'
Suatu kenyataan pula yang biasa dialami oleh setiap kelompok
penduduk dari suatu wilayah adalah bahwa mereka sering saling
serang menyerang. Karena itu telah menjadi amanat nenek mo-
yang untuk mempertahankan wilayah mereka dari serangan se-
perti itu. Akibatnya timbullah serangan balasan yang kemudian
menjadi membudaya menjadi adat monga'e (mengayau) dan
bahkan adat istiadat sekitar aktivitas itu kemudian menjadi
kebutuhan tersendiri untuk membuat diri setiap orang menjadi
berani, kebal, dan mubarak karena meminum darah orang
musuhnya.
Sampai sejauh mana kisah-kisah tersebut masih harus diuji
kebenarannya dengan penelitian yang berdasarkan metoda-
metoda sejarah saya serahkan kepada para ahli sejarah. Untuk
sementara saya berpendirian bahwa kisah-kisah setengah sejarah
itu merupakan perwujudan dari pandangan orang Tolaki bahwa
seseorang pemimpin memerlukan sifat-sifat karisma di samping
sifat-sifat kepemimpinan yang lain.**'
Organisasi Kerajaan Konawe dan Kerajaan Mekongga. Dalam
pertentangan antara komuniti-komuniti kecil terurai di atas biasa-
nya muncullah satu sebagai pemenang. Demikian lahirlah apa yang
kemudian dikenal sebagai suatu kerajaan yang mampu memper-
satukan komuniti-komuniti kecil tersebut, seperti Kerajaan
Konawe di U n a ' a h a , dan Kerajaan Mekongga di Wundulako.
Kerajaan Konawe lebih dikenal dengan sebutan siwo/e mba-
tohu, pilu dula batu, tolu mbu/o anakia mbutobu, tolu elu la'usa,
sio sowu ana niawo, yakni: suatu kerajaan yang wilayahnya ber-
bentuk persegi empat, terdiri dari tujuh kementerian, tiga puluh
wilayah kecamatan, tiga ratus buah kampung (desa), dan sembilan

*) Beberapa mitos dan cerita setengah sejarah terurai di atas dituturkan oleh para infor-
man. Mitos mengenai dewa yang turun dari langit dituturkan oleh H. Tungge, kisah
Latuanda oleh Wutogo, kisah Larumbalangi oleh M u h a m m a d Saleh, kisah Tawe
Salaka oleh Madaali, kisah Pulu Ase oleh Nehru Dundu, kisah P a s a ' e n o oleh Abd.
Rachim, kisah Taridala dan kisah Haluoleo oleh A. Hamid Hasan.
**) Uraian tentang arti karisma dalam sistem kepemimpinan lihat buku M. Weber (1958)
dan Koentjaraningrat (1978).

184

PNRI
ribu kepala keluarga. Rajanya bergelar mokole,*'1 yang berse-
mayam di U n a ' a h a , ibu kota kerajaan.
Dengan siwole mbatohü dimaksud suatu negeri yang terdiri dari
empat wilayah kekuasaan, yakni: (1) tambo i losoano oleo (wila-
yah kekuasaan sebelah timur kerajaan), yang dikuasai oleh se-
orang raja yang bergelar, Sapati, Kowuna Nggona'ia i Rano-
me'eto, yang berkedudukan di P u ' u Mbopondi, Ranome'eto; (2)
tambo i tepuliano oleo (wilayah kekuasaan sebelah barat keraja-
an), yang dikuasai oleh seorang raja, yang bergelar Sabandara,
Ore-Ore Mebubu i Latoma, yang berkedudukan di Kondara'asi,
Latoma; (3) barata i harta (wilayah kekuasaan sebelah utara kera-
jaan), yang dikuasai oleh seorang raja, yang bergelar Ponggawa i
Una, yang berkedudukan di Lalonggowuna, T o n g a ' u n a ; dan (4)
barata'i moeri (wilayah kekuasaan sebelah selatan), yang dikuasai
oleh seorang raja, yang bergelar Ana Inowa-owa Wuta i Asaki,
yang berkedudukan di Puri'ala, Asaki.
Dengan pitu dula batu**) dimaksud tujuh aparat kerajaan, yakni:
(1) aparat pertahanan yang disebut tutuwi notaba, rambaha
monggasono o Una, polapi wunggu'arono wuta Konawe (masing-
masing berarti: benderà merah, batu asahan negeri Una yang ta-
j a m , benteng pertahanan Kerajaan Konawe), yang dijabat oleh se-
orang raja, yang bergelar Anakia Ndamalaki, yang berkedudukan
di Anggaberi; (2) aparat pertanian yang disebut tusa wuta, rome-
romeno wuta Konawe (masing-masing berarti; tiang pusat tanah,
sumber kemakmuran rakyat Konawe), yang dijabat oleh seorang
raja, yang bergelar Anakia Ndusawuta, yang berkedudukan di
Kasupute; (3) aparat peradilan adat yang disebut bite kinalumbi
(pohon sirih yang kokoh dan membelit), yang dijabat oleh seorang
raja, yang bergelar Anakia Kinalumbi, yang juga berkedudukan di
Kasupute; (4) aparat hakim adat yang disebut kotubitara (pemutus
perkara), yang dijabat oleh seorang raja, yang bergelar Anakia
Mbabitara, yang berkedudukan "di Wonggeduku; (5) aparat
penegak hukum yang disebut petumbu tara dati (tiang agung
rumah dari teras kayu jati), yang dijabat oleh seorang raja, yang

*) Arti istilàh'moto/e ini lihat htm: 35.


**) Arti istilah itu adalah tujuh wadah dari batu.

185

PNRI
bergelar Anakia Mbetumbu, yang berkedudukan di T u d a ' o n e ; (6)
aparat kerukunan hidup yang disebut bite metado (daun sirih yang
bertulang buku paralel), yang dijabat oleh seorang raja, yang
bergelar Anakia Metado, yang berkedudukan di U n a ' a h a ; dan (7)
aparat mata-mata yang disebut tusa tara dati (tiang rumah dari
teras kayu jati), yang dijabat oleh seorang raja, yang bergelar
Anakia Ndusa Lara, yang berkedudukan di Lasosabila.
Untuk menjaga masuknya musuh, baik yang datang melalui da-
rat m a u p u n melalui laut tetapi juga menjaga keamanan di timur
jauh kerajaan dan di barat jauh kerajaan ditetapkan dua panglima
perang, yakni panglima perang di darat yang disebut kapita ana
molepo (kapten anak muda) yang berkedudukan di Uepai; dan
panglima perang di laut yang disebut kapita lau (kapten laut) yang
berkedudukan di P u ' u s a m b a l u Sambara.
Dalam menjalankan pemerintahan dan kekuasaan, Mokole di-
bantu atau diwakili oleh seorang aparat yang bergelar Suleman-
dara (raja suri tauladan yang pandai) yang bertindak selaku
penyelenggara urusan pemerintahan dalam negeri kerajaan, yang
berkedudukan di P ü ' o s u . Selain aparat ini terdapat dua aparat
pendamping Mokole, ialah pengawal istana yang disebut tu'oi
(bambù runcing), yang berkedudukan di Una'asi, dan kepala
rumah tangga istana raja yang disebut anakia mombonahu'ako
(pengurus dapur istana raja), yang berkedudukan di Toriki. Calon
pengganti raja ialah Inea sinumo, towu tinorai, wuta mbinotiso
(masing-masing berarti: pinang terbungkus yang tersimpan, tebu
terpelihara, negeri cadángan Kerajaan Konawe), yang berke-
dudukan di Abuki.
Untuk menjalankan politik ekspansi Kerajaan Konawe ke
bagian selatan wilayah kerajaan, karena wilayah ini masih poten-
sial untuk dikuasai, maka Mokole menetapkan suatu daerah
istimewa yang disebut daerah istimewa A n d o ' o l o , yang dikuasai
oleh seorang raja yang bergelar Mokole Ando'olo, yang berke-
dudukan di A n d o ' o l o .
Dengan tolu mbulo anakia mbütobu dimaksud tiga puluh
wilayah kekuasaan, yang masing-masing wilayah dikuasai oleh
seorang raja, yang bergelar Putobu (Kepala Wilayah) dan tolu etu
186

PNRI
la'usa berarti tiga ratus kampung, yang masing-masing dikepalai
oleh seorang kepala kampung yang bergelar Tonomotuo. Akhir-
nya dengan sio sowu ana niawo dimaksud sembilan ribu penduduk
sebagai warga Kerajaan Konawe.
Kerajaan Mekongga juga terdiri dari empat wilayah, yakni: (1)
wilayah sebelah timur kerajaan, yang dikuasai oleh seorang raja,
yang bergelar Pabitara, yang berkedudukan di Epe; (2) wilayah
sebelah barai kerajaan, yang dikuasai oleh seorang raja, yang
bergelar Saputi, yang berkedudukan di Kolaka; (3) wilayah
sebelah utara kerajaan, yang dikuasai oleh seorang raja, yang
bergelar Kapita, yang berkedudukan di Balandete; dan (4) wilayah
sebelah selatan kerajaan, yang dikuasai oleh seorang raja, yang
bergelar Putobu, yang berkedudukan di Lamekongga.*'

Raja-Mekongga semula bergelar Mokole tetapi kemudian ber-


gelar Bokeo**) (buaya, buas). la berkedudukan di ibu kota keraja-
an di Kowioha, yang kemudian pindah ibu kota ke Wundulako.
Kerajaan Mekongga lebih kecil bila dibandingkan dengan Keraja-
an Konawe. la hanya terdiri dari tujuh kampung, yakni: kampung
Tikonu, kampung P u ' e h u , kampung Sabilambo, kampung P o ' o n -
dui, kampung Lalombà, kampung Ulu Nggolaka, dan kampung
Manggolo, yang masing-masing dikepalai oleh seorang kepala
kampung yang bergelar Tonomutuo.

Menurut simbolik filsafat politik dan pemerintahan dalam


kebudayaan orang Tolaki, suatu negeri dengan wilayahnya dan
penduduknya adalah analogi dari tubuh manusia dengan bagian-
bagiannya, dan juga adalah analogi dari alam dengan unsur-
unsurnya. Analogi itu tampak pada bentuk segi empat dari wila-
yah kerajaan yang telah disebutkan di atas yang merupakan model
dari bentuk segi empat tubuh manusia, yaitu sisi kanan-kiri, dan
sisi atas-bawah; dan model dari bentuk segi empat wilayah alam,
yaitu timur-barat, dan utara-selatan.

*) Di atas selalu saya menggunakan istilah " r a j a , " dalam arti pejabat dari golongan
bangsawan yang berfungsi mewakili Mokole di wilayahnya masing-masing.
*) Lihat hlm. 52).

187

PNRI
Seorang Mokote, oleh rakyatnya diidentikkan sebagai wakil
T u h a n di bumi, wakil nenek moyang, dan laksana seorang dewa.
Kadang-kadang juga ia dipandang sebagai matahari yang membe-
rikan sinar, cahaya dan kekuatan bagi kelangsungan hidup dunia
dengan segala isinya, bagi negeri dan penduduknya. Demikian istri
raja (permaisuri) dipandang sebagai bulan yang memberikan sinar
kenyamanan dan kesejukan bagi ketenteraman rohani dan jas-
mani manusia. Anak-anaknya dipandang sebagai bintang-bintang
gemerlapan di langit yang penuh dengan potensi hidup untuk
pelanjut kehidupan kenegaraan, kerajaan. Dalam hubungan ini
sering terdengar ucapan sapaan dan jawaban terhadap raja, seper-
ti demikian, "ie inggomiu ombu, mberiou sangia, mata oleo, mata
wuta, ana wula ...," (artinya: ya engkau dewa yang disembah,
sanghyang yang disanjung, moyang yang dipuja, matahari,
bulan dan bintang-bintang yang ditinggikan ....). Apabila pada
suatu saat kelihatan matahari merah pada sekelilingnya, itu berarti
tanda bahwa raja akan mangkat, demikian halnya jikalau bulan
yang begini, maka permaisuri yang akan mangkat. Seorang raja
yang mangkat, orang menyebutnya "oleo tepuli" (matahari
terbenam).

Dalam praktek pemerintahan, raja selalu dipandang sebagai


manusia yang memiliki sifat-sifat: berani dan pembela, benar dan
adil, gagah dan simpatik, cerdik dan pandai, sakti dan mubarak,
dan lain-lain sifat terpuji. Dengan sifat-sifat yang ada padanya,
raja menyelenggarakan segala usaha terwujudnya ketertiban dan
keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan, kedamaian dan ke-
bahagiaan bagi rakyat dan penduduk negerinya.
Untuk menjamin terselenggaranya fungsi dan tanggung j a w a b
raja yang telah disebutkan di atas, raja mengangkat sumpah
dihadapan rakyat bahwa ia akan mentaati adat dan hukum yang
berlaku, dan sebaliknya rakyat bersumpah akan mentaati segala
kebijaksanaan dan perintah raja. Apabila raja melanggar adat dan
hukum yang berlaku maka jahelah yang akan memanaskan nya-
wanya, besilah yang akan memotong lehernya, aranglah yang
akan menodai namanya, dan tanahlah tempatnya dikuburkan; se-
baliknya jikalau rakyat yang melanggar kebijaksanaan dan perin-
188

PNRI
tah r a j a m a k a kemiskinan, kepapaan dan kepunahan yang akan
menimpa mereka (lihat teks penyumpahan dalam Lampiran XV).
Seperti telah disinggung di atas bahwa syarat-syarat untuk
seseorang diangkat menjadi mokole adalah bangsawan tulen dan
ada kalanya karena diwasiatkan oleh ayahandanya, normal fisik
dan mental, berani dan sakti, pandai dan cekatan. Orang Tolaki
memandang bangsawan tulen sebagai orang yang pada tubuhnya
mengandung unsur badani yang suci dan yang pada jiwanya ber-
sinar nur insan kamil karena ia keturunan dari langit yang serba
sempurna sehingga ia selalu merupakan sumber potensi tauladan
dan keberkahan hidup manusiawi dan kehidupan makhluk pada
umumnya. Normal fisik dan mental, demikian halnya, dipandang
sebagai potensi kemampuan dalam menggayomi kehidupan ma-
syarakat. Syarat berani dan sakti diperlukan untuk sumber potensi
pertahanan atas gangguan yang timbul demi terciptanya suasana
keamanan dan kedamaian. Pandai dan cekatan merupakan sum-
ber inspirasi, aspirasi dan keterampilan bagi masyarakat dalam
menciptakan gagasan-gagasan pengembangan dan mewujudkan
kesejahteraan sosial. Hal ini tidak berarti bahwa dalam praktek
pemerintahan, semua persyaratan di atas selalu terpenuhi.
Kadang-kadang syarat-syarat itu hanya merupakan hal yang ber-
sifat normatif.
Dasar dan Tujuan Kepemimpinan Tradisional Orang Tolaki.
Secara ideal dasar kepemimpinan tradisional orang Tolaki adalah:
(1) pelono'a (kemanusiaan), yakni kemanusiaan menurut pe'o/iwi
ari ine imbue (ajaran dari pesan-pesan leluhur); (2) poridno ana
niawo, tono nggapa, rome-romeno wonua (kehendak orang
banyak); dan (3) medulu, mepoko'aso (kesatuan dan persatuan).
Secara konstitusional dasar kepemimpinan itu adalah a j a r a n adat,
yang tercakup dalam kalo sebagai pu'uno o sara (adat pokok
orang Tolaki). Kalo sebagai adat pokok adalah sumber dari segala
adat-istiadat orang Tolaki yang berlaku dalam semua aspek ke-
hidupan mereka.*'
Adapun t u j u a n kepemimpinan dalam masyarakat Tolaki ter-
sebut di atas adalah m e w u j u d k a n masyarakat yang bersatu,

*) Lihat hlm. 22-25

189

PNRI
makmur, dan sejahtera. Orang Tolaki menggambarkan wujud
masyarakat yang bersatu sebagai suatu masyarakat di mana
hubungan antara orang seorang, keluarga dengan keluarga, dan
golongan dengan golongan senantiasa terjalin suasana yang di-
sebut medudulu (saling bersatu), mete'alo-alo (saling menanam
budi), samaturu (saling ikut serta dalam usaha kepentingan ber-
sama), mombeka pona-pona ako (saling harga menghargai), dan
mombekamei-meiri'ako (saling kasih mengasihi). Mereka juga
. menggambarkan wujud masyarakat yang makmur melalui apa
yang disebut suasana mondaweako (padi melimpah), kiniku
nebanggona (banyak kerbau, ternak melimpah), olo waworaha
(banyak kebun tanaman jangka panjang, tapohiu o epe (banyak
areal tanaman sagu), kadu mbinokono (cukup barang-barang
pakaian dan perhiasan), melaika'aha (mempunyai rumah yang
besar), ndundu karandu tumotapa rarai (bunyi gong di tengah
malam, tawa dan teriakan yang ramai dalam pesta). Sedangkan
masyarakat yang sejahtera digambarkan oleh mereka melalui
ungkapan-ungkapan yang berbunyi demikian: morini mbu'um-
bundi monapa mbu'undawaro (suasana dingin laksana dinginnya
pohon pisang dan sejuk laksana sejuknya rumpun sagu), metotoro
o loho mesuke ndaliawa (suasana hidup yang subur laksana subur-
nya pohon kedondong dan suasana kehidupan yang kokoh lak-
sana kokohnya rumah yang ditopang oleh batang kayu yang
hidup).

Dalam usahanya mewujudkan ketiga tujuan kepemimpinan da-


lam masyarakat Tolaki terurai di atas, seorang pemimpin tradisi-
onal orang Tolaki harus mampu menjalankan tiga prinsip ke-
pemimpinan yang disebut: mo'ulungako (mengajak orang banyak
yang dipimpinnya), mohiasako (menggerakkan tenaga orang
banyak yang dipimpinnya), dan momboteanako (menggembala
orang banyak yang dipimpinnya). Sebagai seorang pemimpin yang
mengajak orang banyak, maka ia adalah seorang yang disebut
pasitaka (tauladan yang baik bagi orang banyak); demikian
sebagai seorang pemimpin yang menggerakkan orang banyak,
m a k a ia adalah seorang yang disebut pohaki-haki (pemberi
semangat bagi orang banyak);, dan begitu pula sebagai seorang
190

PNRI
pemimpin yang menggembala orang banyak, maka ia adalah se-
orang yang disebut tani'ulu (pemegang tali kendali).*'
Sistem Politik pada Masyarakat Tradisional Orang Tolaki.
Sistem politik pada masyarakat orang Tolaki berdasarkan prinsip-
prinsip mempertahankan kesatuan dan persatuan antara tiga
golongan dalam stratifikasi sosial yang ada, yakni: golongan
pemerintah, golongan pemangku adat, dan golongan rakyat di
satu pihak, atau antara golongan bangsawan, golongan kebanyak-
an, dan golongan budak di lain pihak. Prinsip ini bersumber dari
perjanjian segi tiga yang disebut petadoha'a (perjanjian segi tiga
antara tiga komponen), yakni bahwa pemerintah adalah pu'uno o
kasu (induk pohon, pohon besar), maksudnya pelindung rakyat;
rakyat adalah rome-romeno wonua (pembuat makmur bagi
negeri), maksudnya pemberi jaminan hidup bagi pemerintah
melalui produksinya; dan pemangku adat adalah tanggi wotolu
(teman seiring), maksudnya penasihat pemerintah dan pembela
rakyat. Gagasan adanya perjanjian segi tiga ini bersumber dari
ajaran Allah Taala melalui pesan leluhur.**'

Untuk merealisasikan prinsip-prinsip kesatuan dan persatuan


ini setiap Mokole yang memegang tampuk pemerintahan kerajaan
mengarahkan tujuan politik dan pemerintahannya terhadap usaha
pencapaian apa yang disebut mohopulei wonua, mombulesako
tononggapa, dan mosiwi-siwi tono meohai. Ketiga kata ini adalah
ungkapan. Ungkapan mohopulei wonua dimaksud membina, me-
melihara, membangun negeri dalam arti seluruh wilayah dengan
segala apa yang ada di atasnya, tak hanya manusianya tetapi juga

*) Uraian-uraian dari htm. 181-184 mengenai puak-puak adalah hasil wawancara dengan
Husen A. Chalik; dan uraian-uraian dari hlm. 184-189 mengenai organisasi Kerajaan
Konawe dan Kerajaan Mekongga adalah hasil wawancara dengan: A. Hamid Hasan,
Husen A. Chalik, Arsjamid (tokoh-tokoh adat), H. Masnur P u ' u w a t u (bekas anggota
Hadat d i z a m a n Swapraja), Abdullah Silondae (bekas Gubernur), dan Husain Laliasa
(bekas Kepala Distrik, dan sekarang masih p a m o n g p r a j a pada Kantor Bupati Ken-
dari). Sedangkan uraian-uraian pada hlm. 189-191 mengenai dasar dan tujuan
kepemimpinan tradisional orang Tolaki diberikan oleh A. Hamid H a s a n .
**) Uraian tersebut saya dapat dari seorang informan, bernama H. Masnur P u ' u w a t u ,
tokoh adat yang p a d a zaman Belanda, menjadi ahli adat yang menasihati para pegawai
Pemerintah Belanda.

191

PNRI
termasuk segala makhluk, dalam rangka mewujudkan dan mem-
pertahankan keutuhan kesatuan dan persatuan dan menciptakan
suasana keseimbangan hubungan antara manusia dengan manusia
sebagai golongan dengan golongan, antara manusia dengan ling-
kungán alamnya baik alam nyata maupun alam gaib. Ungkapan
mombulesako tononggapa dimaksud mengatur, menertibkan
kelompok-kelompok penduduk, warga masyarakat dalam upaya
memimpin, mengajak, dan mendorong mereka untuk bersatu da-
lam melakukan pekerjaan dan usaha pemenuhan akan kebutuhan-
kebutuhannya. Akhirnya ungkapan nosiwi-siwi tono meohai
dimaksud membujuk rasa dan mendorong semangat kerukunan di
kalangan keluarga dan kerabat agar senantiasa terjalin tiga prinsip
medulu ((bersatu), yakni: mendulu mbonfi (bersatu dalam cita-
cita), medulu mbenao (bersatu dalam rasa), dan medulu mbo'ehe
(bersatu dalam kehendak).*'
Ungkapan-ungkapan yang menggambarkan usaha mewujudkan
prinsip-prinsip kesatuan dan persatuan terurai di atas berfungsi
sebagai cita-cita politik dari pemimpin tradisional orang Tolaki
dalam menyelenggarakan kepemimpinan dalam masyarakatnya.
Adanya cita-cita politik semacam ini merupakan kebutuhan dasar
bagi suatu organisasi politik untuk mengatur pembinaan dan
pemeliharaan kerja sama ke dalam dan kebebasan keluar dari
suatu kehidupan masyarakat, dan juga untuk memecahkan masa-
lah-masalah yang timbul dalam suatu masyarakat.**'
Untuk mencapai tujuan politik dan pemerintahan kerajaan dan
agar stabilisasi keamanan dan suasana kedamaian senantiasa ter-
pelihara, maka menurut kisah bahwa Sulemandara (Perdana
Menteri) sering mengadakan kunjungan resmi di keempat wilayah
kerajaan guna melihat dari dekat peri kehidupan rakyatnya.
Dalam kunjungan-kunjungan itu biasanya rakyat setempat meng-
adakan penyambutan yang sangat meriah terhadap rajanya,

*) Bahan dari uraian tersebut saya peroleh dari A. Hamid Hasan, H. Masnur P u ' u w a t u ,
keduanya adalah tokoh adat. A. Hamid Hasan pernah menjadi Wakil Ketua D P R D - l
Sulawesi Tenggara.
**) Mengenai fungsi suatu organisasi politik pada masyarakat sederhana lihat Schaprea
(1956), dan Keesing (1981).

192

PNRI
pemimpinnya. Puncak dari semua acara penyambutan adalah
acara yang disebut mombesara, yakni acara penyambutan raja
dengan memakai kalo. Dalam acara itu tonomotuo selaku atas
ñama rakyat menyampaikan kata-kata sanjungannya dan harap-
an-harapannya kepada raja, serta doa yang tidak berkeputusan
demi keselamatan r a j a dalam perjalanannya sampai ke istananya
dan usia panjang.*' Cara-cara semacam ini pada masa kini masih
berlaku misalnya dalam k u n j u n g a n - k u n j u n g a n resmi seorang
bupati, camat atau seorang kepala desa, bahkan penyambutan
adat kalo ini telah sering dilakukan pada setiap kali seorang men-
teri kabinet pembangunan dari J a k a r t a berkunjung ke Kendari
atau ke Kolaka. Bapak Presiden sendiri, Jenderal Suharto ketika
ihengadakan kunjungan resmi di Sulawesi Tenggara pada 1970 dan
1981: beliau disambut oleh rakyat Sulawesi Tenggara dengan
menggunakan kalo ini.**'
Sebaliknya sejumlah tokoh masyarakat sewaktu-waktu meng-
adakan kunjungan ke istana r a j a untuk menyampaikan pekabaran
mengenai masalah yang sedang jnenimpa mereka dan sekaligus
memberikan saran pertimbangan bagi raja untuk m e n u n j u k k a n
jalan pemecahannya. Dalam kunjungan ini juga mereka meng-
gunakan kalo. Raja biasanya merasa terharu mendengarkan pe-
nyampaian ini, dan tak ada jalan lain kecuali memperhatikan dan
mengambil langkah-langkah pemecahannya.
A p a makna simbolik dari kalo ini sehingga selalu dipakai dalam
pertemuan-pertemuan antara raja dengan rakyatnya atau sebalik-
nya? Menurut para ahli adat orang Tolaki bahwa kalo itu adalah
lambang kesatuan dan persatuan dari tiga komponen pelapisan
sosial orang Tolaki, lambang komuniti dan pola pemukiman, dan
organisasi kerajaan, dan lambang adat dan norma agama yang
mengatur tata kehidupan mereka.
2.2. Komuniti dan Pola Pemukiman
Komuniti Kota dan Desa. Sesuai dengan pada masyarakat-
masyarakat lain di dunia, bagi orang Tolaki, komuniti juga me-

*) Teks lengkap dari kata-kata p e n y a m b u t a n tersebut dimuat dalam Lampiran XV.


**) Lihat G a m b a r 17.

193

PNRI
( . a m b a r 10.
Situasi penyambutan raja atau pejabat yang berkunjung ke desa-desa.

194

PNRI
rupakan suatu wilayah yang didiami oleh sejumlah keluarga iriti
asal dari satu nenek moyang. Batas wilayah suatu komuniti orang
Tolaki dengan lainnya ditandai oleh gunung, sungai atau rawa.
Suatu komuniti demikian secara tradisional terbagi ke dalam
lokasi-lokasi tertentu yang penghuninya memilihnya sebagai tem-
pat tinggal yang dipandang baik dan subur untuk mengusahakan
pertanian, perburuan dan peternakan, dan dekat dengan wilayah
hutan yang dapat diolah potensinya untuk berbagai macam ke-
butuhan. Beberapa komuniti yang letaknya saling berbatasan
biasanya mempunyai hubungan kekeluargaan antara penduduk-
nya.

Penghulu dalam suatu komuniti tradisional adalah orang yang


dipandang tertua, yang berani, yang berilmu, dan yang dipilih dari
keluarga yang dianggap masih keturunan langsung dari orang
yang pertama-tama mendirikan komuniti yang bersangkutan.
Kehidupan dalam komuniti tradisional merupakan kehidupan
yang bersifat otonom oleh karena hampir semua kebutuhan
wa'rganya tersedia di dalamnya, berkat adanya keahlian-keahlian
tertentu yang mampu mengerjakan dan menyediakan apa-apa
yang diperlukan, misalnya: adanya orang yang digelari mbusopu
(pandai besi, tenaga ahli di bidang peralatan dan persenjataan), o
pande (pandai bangunan, tenaga ahli bangunan atau arsitek),
mbu'akoi (dukun), dan tama/aki (kesatria).
Lokasi dari kesatuan-kesatuan yang merupakan bagian dari
suatu komuniti terletak sedemikian rupa sehingga tergambar suatu
pola segi empat, dan jarak antara lokasi kesatuan yang satu tidak
begitu jauh dari lokasi kesatuan-kesatuan lainnya sehingga
penghuninya dengan mudah dapat saling berhubungan apabila
perlu (lihat gambar 12).
Desa sebagai komuniti tradisional yang penduduknya pada
umumnya hidup sebagai petani ladang dan nelayan, dibedakan
dari kota sebagai komuniti yang penduduknya pada umumnya
hidup sebagai pedagang, pengusaha, pegawai dan buruh dalam
banyak variasinya, sedangkan jarang ada orang Tolaki yang
bekerja sebagai buruh kasar, pelayan di toko-toko dan di rumah-
195

PNRI
rumah makan. Kini telah banyak orang Tolaki yang pindah ke
kota Kendari dan Kolaka untuk menempuh pendidikan.
Penggunaan istilah " d e s a " di Sulawesi Tenggara mulai sekitar
1961, sejak berlakunya Undang-Undang N o m o r 13 Tahun 1961.
Sebelumnya istilah yang dipakai oleh orang Tolaki untuk pengerti-
an desa adalah o napo (lembah daratan) yarig dikepalai oleh se-
orang yang bergelar tonomotuo (ketua, orang yang dituakan).
Gabungan dari empat sampai t u j u h o napo merupakan suatu o
tobu (wilayah) yang dikepalai oleh seorang yang bergelar putobu
(kepala wilayah, kepala distrik, camat). Istilah u m u m untuk tiap

Keterangan:
1 — Kelompok peladang/pemburu di wilayah sebelah Timur
2 — Idem di sebelah Barat
3 — Idem di sebelah Utara
4 — Idem di sebelah Selatan

5 — Lokasi perumahan bersama dari suatu komuniti

G a m b a r 11
Lokasi Komuniti Orang Tolaki

196

PNRI
wilayah tempat tinggal adalah wonua (negeri), atau o lipu (liputan,
wilayah).
Suatu desa kecuali dikepalai oleh seorang kepala kampung juga
diamong oleh sejumlah p a m o n g desa lainnya, ialah pabitara
(pegawai syara), posudo (wakil kepala kampung), tolea (juru
bicara dalam urusan perkawinan, aparat pelengkap pegawai
syara), tamalaki (kepala keamanan), o t adu (seorang ahli pengin-
tai musuh), tusawuta (aparat penyuluh pertanian), mbusehe
(dukun pertanian), mbuowai (dukun padi), dan mbuakoi (dukun
penyakit).
Bila diamati pola pemukiman orang Tolaki dari desa di kota
misalnya di kota Kendari dan di kota Kolaka, m a k a tampak
bahwa orang yang pindah ke sana menjadi pegawai, pengusaha,
atau menempuh pendidikan. Mereka yang asal dari satu. kecamat-
an biasanya mengelompok menjadi satu. Di kota Kendari misal-
nya terdapat misalnya pemukiman Sadoha yang penghuninya
berasal dari Kecamatan P o ' a h a r a , pemukiman Benu-Benua yang
penghuninya sebagian berasal dari Kecamatan U n a ' a h a dan
sebagian berasal dari Kecamatan Wawoni'i, pemukiman Kema-
raya berasal dari Kecamatan Wawotobi, pemukiman Tipulu dan
Pu'unggaloba berasal dari Kecamatan Lambuya, dan pemukiman
W u a - W u a berasal dari Kecamatan Tinanggea. Demikian halnya di
kota Kolaka di mana ada pemukiman Watuliandu dengan peng-
huni yang berasal dari Kecamatan Mowewe, pemukiman Latam-
baga yang penghuninya berasal dari Kecamatan Wundulako dan
pemukiman Kolaka'asi dengan penghuni yang berasal dari Ke-
camatan Lasusua. Kekecualian yang terjadi apabila pemukiman
para pegawai diatur oleh pemerintah.
Kecenderungan penduduk asal dari suatu daerah, misalnya
orang Tolaki, untuk memilih tempat pemukiman tertentu di
wilayah kota sebagai komuniti kecil yang asal dari satu kecamatan,
merupakan bukti bahwa dalam banyak hal dalam kehidupan se-
hari-hari, selain masih senasib sepenanggungan di tempat baru,
mereka juga mengikuti kerabat mereka yang lebih dahulu datang
ke kota. Orang Tolaki di kota yang asal dari satu kecamatan atau
dari beberapa kecamatan yang berdekatan, ternyata masih suka
197

PNRI
melakukan hal-hal yang sama ketika mereka masih di desa asal
mereka, misalnya mereka saling kunjung mengunjung rumah, ter-
utama apabila ada pesta-pesta dan lain-lain aktivitas sosial, dan
mereka saling tolong-menolong.
Pola Pemukiman. Dalam suatu lokasi pemukiman tertentu
orang Toiaki membuat perkampungan mereka. Sebelum Belanda
datang, orang Tolaki membuat perkampungan dalam bentuk se-
perii lingkaran pada tempat-tempat di pinggir kaki gunung di
sekitar kompleks perladangan, perburuan, dan peternakan, se-
hingga dalam suatu lembah terdapat beberapa perkampungan,
dan satu perkámpungan dengan lainnya dihubungkan dengan
jalan setapak.*'
Kemudian setelah Belanda dan Jepang datang barulah berkem-
bang kampung yang berpola segi empat m e m a n j a n g mengikuti
jalan raya. Di tengah kampung biasanya ditempatkan bangunan
rumah ibadah dan rumah kepala kampung. Di kedua ujung kam-
pung didirikan rumah-rumah jaga untuk keamanan di malam
hari. Tidak jauh dari rumah kepala kampung didirikan sebuah
pesanggrahan untuk penampungan tentara Belanda. Dalam
zaman Jepang bangunan seperti itu sewaktu-waktu berfungsi
sebagai balai pertemuan umum komuniti. Hingga kini balai-balai
semacam itu masih ada di desa, yang sekaligus berfungsi sebagai
kantor desa sambil menunggu selesainya kantor dibangun.
2.3. Stratifikasi Sosial Tradisional dan Masa kini
Dalam alinea-alinea di bawah saya berusaha m e n u n j u k k a n
bagaimana bentuk susunan pelapisan sosial formal yang tradi-
sional pada masyarakat orang Tolaki di zaman kerajaan, dan asas-
asas stratifikasi sosial tradisional dan masa kini. Asas stratifikasi
sosial dalam hubungannya dengan pemilikan tanah, keturunan ra-
ja atau bangsawan atau tokoh-tokoh karismatis, karisma, kesakr
tian dan sebagainya; dan asas stratifikasi sosial masa kini dalam
hubungannya dengan tingkat keterpelajaran, kekayaan, keduduk-
an dalam birokrasi pemerintahan.

*) Bentuk perkampungan serupa ini diceritakan oleh Haji Hasan, orang Tolaki yang
cukup panjang umurnya (1875-1970).

198

PNRI
Stratifikasi Sosial Tradisional Zaman Kerajaan K on aw e dan
Kerajaan Mekongga. Pada zaman Kerajaan Konawe dan Kerajaan
Mekongga sistem pelapisan sosial tradisional pada masyarakat
orang Tolaki tampak dalam tiga lapisan, yakni: (1) lapisan
golongan anakia (bangsawan), yang disebut juga pa'uno o kasu
(induk pohon), maksudnya; pelindung, pemimpin; (2) lapisan
golongan towonua (penduduk asli, pemilik negeri), yang juga
disebut tonomotuo (golongan orang yang dituakan), atau ala
wonua (hamba negeri), maksudnya: abdi negara, rakyat, atau
tonotoka itono (orang biasa, orang kebanyakan), disebut juga
tononggapa, tonodadio (penduduk, orang banyak); dan (3) lapis-
an golongan o ata (budak, hamba sabaya).
Orang Tolaki yang tergolong dalam lapisan bangsawan ialah
mereka yang dalam silsilah dikenal masih keturunan dari raja-raja
yang pernah memerintah pada dua kerajaan yang telali disebut di
atas, yaitu Kerajaan Konawe dan Kerajaan Mekongga. Raja
Konawe, ialah Lakidende gelar Scingici Ngginobiiru, demikian Ra-
ja Mekongga ialah Laduina gelar Sangia Nibcinderci, masing-
masing adalah raja yang paling umum dikenal oleh orang Tolaki
dewasa ini. Mereka yang tergolong bangsawan pada dasarnya di-
anggap masih mewarisi sifat-sifât terpuji dari leluhurnya, ialah
sifat berani, berilmu, sakti, terutama yang masih asli turunan
bangsawan. Dalam hai bangsawan asli atau tidak asli tampak
dalam pembagian yang dikenal melalui tiga istilah, yakni: anakia
inotaha atau anakia songo (bangsawan tulen), ialah anak yang
ayah dan ibunya kedua-duanya bangsawan; anakia ndina'asi
(bangsawan tidak tulen), ialah anak yang ayahnya bangsawan dan
ibunya orang kebanyakan; dan anakia inbalua (bangsawan turun
martabat), ialah anak yang ayahnya orang kebanyakan dan ibu-
nya orang bangsawan.
Orang Tolaki yang tergolong dalam lapisan penduduk asli,
pemilik negeri, orang kebanyakan ialah mereka yang dalam
silsilah dikenal masih keturunan dari turunan Oheo di Asera,
Pasa'eno di Mowewe, Laiuanda di Olo-Oloho, dan Lapabuka di
L a n d o n o . Mereka yang tergolong dalam lapisan ini pada dasarnya
dianggap masih mewarisi sifat-sifat yang baik dari leluhurnya,
199

PNRI
yang pemelihara, pendamai, dan pemangku adat. Lapisan golong-
an ini pula terdiri atas tiga golongan, yakni: golongan tonomotuo
(pemangku adat), ata wonua (golongan rakyat biasa), dan tono
me'ombu (golongan rakyat yang mengabdi kepada golongan
bangsawan). Golongan pemangku adat ini adaiah keturunan yang
ayah dan ibunya masih asli golongan penduduk asli, golongan
rakyat biasa adaiah keturunan yang ayahnya masih asli dari
golongan pemangku adat tetapi ibunya asal dari keturunan budak,
dan golongan rakyat yang mengabdi kepada bangsawan adaiah
keturunan yang ayahnya asal dari keturunan budak dan ibunya
asal dari keturunan pemangku adat (golongan pemangku adat
yang turun derajat).
Akhirnya orang Tolaki yang tergolong dalam lapisan budak
adaiah mereka yang tadinya tergolong lapisan bangsawan dan
lapisan pemangku adat tetapi karena melanggar adat sehingga
dihukum dengan mengabdi kepada tokoh bangsawan yang ber-
kuasa, atau karena ia berutang yang tidak dapat dibayarnya
sehingga ia harus mengabdi kepada orang yang meminjaminya un-
tuk menebusi utangnya itu, ataukah ia menjual anaknya kepada
orang berada untuk membayar utangnya itu. A d a orang yang
menjadi budak karena ditawan dalam perang. Gejala terakhir ini
tampak juga dalam masyarakat banyak suku bangsa lain di Indo-
nesia. Berdasarkan asal-usul dari timbulnya lapisan golongan
budak ini seperti tersebut di atas, maka lapisan golongan ini pula
terdiri atas tiga tingkatan, yakni: ata i älaika (golongan budak
pengabdi di rumah tangga orang bangsawan), ata inoli (golongan
budak yang dibeli), dan ata mbinetawa (golongan budak yang
ditawan). Golongan ini biasanya diidentifikasikan sebagai me-
miliki sifat-sifat yang tercela, namun tidak berarti bahwa mereka
kemudian tidak akan menjadi baik. Kini lapisan golongan ini
sudah hapus sebagai akibat dari a j a r a n agama yang melarangnya
dan karena pembauran dalam kawin mawin dengan golongan ke-
dua lapisan di atasnya terutama dengan golongan kedua, yaitu
golongan orang kebanyakan.

P a d a zaman kerajaan golongan bangsawan berfungsi dalam


menduduki jabatan dalam pemerintahan mulai dari jabatan
200

PNRI
mokole (kepala pemerintahan tertinggi dari kerajaan), aparat
p e m b a n t u mokole sebagai sulemandara, aparat penguasa empat
wilayah kerajaan yang disebut; sapati, sabandara, ponggawa, dan
inowa, sarnpai pada tingkat wilayah distrik sebagai putobu;
golongan pemangku adat berfungsi hanya dalam menduduki ja-
batan sebagai tonomotuodan sebagai aparat p a m o n g lainnya;
sedangkan golongan budak hanya semata-mata berfungsi sebagai
rakyat jelata.
Golongan bangsawan dipandang oleh golongan pemangku adat
sebagai pelaksana pemerintahan, sebaliknya golongan pemangku
adat dipandang oleh golongan bangsawan sebagai pemikir, cen-
dekia, penasihat dan sebagai wakil dari rakyat; oleh karena itu ke-
duanya saling isi mengisi. Orang bangsawan memberi keistimewa-
an terhadap para pemangku adat dan para pemangku adat mem-
beri dukungan terhadap orang bangsawan. Demikian halnya go-
longan pemangku adat dipandang oleh golongan rakyat biasa se-
bagai pembelanya, sebaliknya golongan rakyat biasa dipandang
oleh golongan pemangku adat sebagai anak kandungnya; oleh ka-
rena itu keduanya saling melengkapi. P a r a pemangku adat meme-
lihara rakyat biasa dan rakyat biasa m e n d u k u n g para pemangku
adat. Seterusnya golongan bangsawan dipandang oleh golongan
rakyat biasa sebagai penguasa, pelindung, penyelamat, pemberi
sejahtera dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat p a d a
u m u m n y a , sebaliknya golongan rakyat biasa dipandang oleh go-
longan bangsawan sebagai potensi kekuatan baginya; oleh karena
itu keduanya saling ada kewajiban. Rakyat biasa wajib m e m u j a
dan m e n j u n j u n g para bangsawan, dan orang bangsawan wajib
mencintai rakyat biasa.
Tingkat-tingkat kebangsawanan pada sistem pelapisan sosial
tradisional orang Tolaki dapat dikenal melalui sebutan: (1) sangia
(bangsawan tertinggi, yang diidentifikasikan sebagai keturunan
dewa dari langit); (2) mokole (raja bangsawan keturunan dari
sangia); (3) anakia mo taha (bangsawan tulen keturunan asli dari
mokole)', (4) anakia ndina'asi (bangsawan tidak tulen, karena garis

*) N a m a - n a m a j a b a t a n tersebut tercantum j u g a p a d a him. 180-187.

201

PNRI
keturunan ibunya b u k a n menurut garis keturunan anakia motaha;
dan (5) anakia mbatua (bangsawan yang turun derajatnya, karena
garis keturunan ayahnya bukan garis keturunan anakia motaha.
Dalam hal tertentu tingkat bangsawan yang disebut anakia
mbatua ini kadang-kadang tidak lagi diperlakukan sebagai orang
bangsawan, namun dalam hal tertentu lainnya ia tetap dipandang
sebagai bangsawan.
Asas-Asas Stratifikasi Sosial Traclisional dan Masa kini. Tim-
bulnya pelapisan sosial pada masyarakat orang Tolaki secara tra-
disional seperti terurai di atas, selain dilatarbelakangi oleh faktor
keturunan asal dari seorang tokoh yang karismatis, yakni golong-
an bangsawan, faktor keturunan asal dari tokoh yang sakti, yakni
golongan pemangku adat, dan faktor keturunan asal dari seorang
yang melanggar adat dan yang ditawan dalam perang, yakni go-
longan budak; juga karena kemudian berkembang faktor sosial
dalam hal pemilikan tanah. Tokoh-tokoh bangsawan dan tokoh-
tokoh pemangku adat dalam masa memangku jabatan tertentu
dalam masyarakat sempat memiliki tanaman dan ternak di atas
tanah, yang kemudian menjadi milik dari ahli warisnya. Faktor
pemilikan tanah ini semakin memperkuat statusnya sebagai
turunan bangsawan atau sebagai turunan pemangku adat. Se-
baliknya mereka dari kedua golongan ini yang tidak raampu untuk
memiliki tanaman dan ternak di atas tanah merasa mulai tersisih
dari statusnya sebagai turunan bangsawan atau sebagai turunan
pemangku adat. Mereka kadang-kadang merasa bahwa mereka ti-
dak lebih tinggi daripada golongan rakyat biasa khususnya dari
rakyat biasa yang karena uletnya sempat memiliki tanah-tanah
semacam ini.
P a d a masa kini, biarpun seseorang masih dikenal sebagai
keturunan bangsawan atau keturunan orang kebanyakan atau
keturunan budak, tampak stratifikasi sosial yang baru pada
masyarakat orang Tolaki, yakni. lapisan golongan terpelajar yang
mempunyai kedudukan dalam birokrasi pemerintahan sebagai
golongan atas, lapisan golongan pegawai dan golongan orang
kaya sebagai lapisan golongan menengah, d a n kaum petani seba-
gai lapisan golongan bawah. Dalam pergaulan sehari-hari di
202

PNRI
kalangan terpelajar misalnya masih banyak tampak sikap dan per-
lakuan seseorang terpelajar asal dari orang kebanyakan yang
merasa lebih rendah daripada mereka yang berasal dari golongan
bangsawan; demikian sikap dan perlakuan itu yang tampak pada
pergaulan sehari-hari di kalangan golongan pegawai dan orang
kaya, serta demikian di kalangan petani.
Berdasarkan kenyataan-kenyataan yang telah dikemukakan di
atas m a k a kita dapat menyimpulkan bahwa sistem stratifikasi
sosial pada masyarakat orang Tolaki itu adalah berasaskan
k e t u r u n a n dan pemilikan t a n a h . Asas k e t u r u n a n dan pemilikan
tanah dari sistem stratifikasi sosial yang bersifat tradisional ini
t a m p a k masih menjadi kerangka untuk menggolongkan semua
warga masyarakat orang Tolaki masa kini, yakni golongan terpela-
j a r , golongan orang kaya baru dan golongan petani. A d a p u n go-
longan pendatang baru di kota, misalnya p e n d a t a n g baru dari luar
daerah, oleh orang Tolaki, semula mereka sebelum dikenal asal-
usulnya diperlakukan menurut jenis p e k e r j a a n n y a , a p a k a h seba-
gai p e j a b a t , pegawai biasa, pengusaha atau petani biasa; dan
setelah dikenal asal-usulnya mulailah mereka diperlakukan juga
menurut faktor keturunannya. P a d a dasarnya mereka sebagai
pendatang baru di kota diperlakukan sebagai kalau b u k a n golong-
an bangsawan ia adalah golongan terpelajar atau golongan eko-
nomi kuat, dan tidak pernah diperlakukan sebagai golongan ke-
b a n y a k a n atau sebagai golongan b u d a k .

Asas berikutnya yang dapat diungkapkan dari sistem pelapisan


sosial p a d a masyarakat Tolaki itu apabila kita m e n i n j a u n y a dari
segi fungsi dan p e r a n a n ideal dari masing-masing ketiga lapisan
tersebut, adalah bahwa masing-masing m e r u p a k a n tiga k o m p o n e n
yang tidak terpisah satu dari yang lain, tetapi sebaliknya saling
b e r h u b u n g a n satu sama lain secara timbal-balik. Golongan bang-
sawan membimbing golongan pemangku adat dan> sebaliknya go-
longan pemangku adat m e n d u k u n g golongan bangsawan, golong-
an bangsawan membina golongan b u d a k dan sebaliknya golongan
b u d a k m e m u j a dan mengagungkan golongan bangsawan, dan go-
longan pemangku adat membela golongan b u d a k d a n sebaliknya
golongan b u d a k menghormat golongan pemangku adat. Masing-
203

PNRI
masing komponen ini bertindak sebagai penengah atau pendamai
apabila sewaktu-waktu dalam kehidupan sehari-hari dua kom-
ponen lainnya bersengketa.

3. SISTEM KEKERABATAN D A N ORGANISASI POLITIK


D A N STRATIFIKASI SOSIAL O R A N G TOLAKI D A N
H U B U N G A N N Y A D E N G A N KALO

Melalui uraian-uraian pada sub bab 2 dan 3 di atas, saya telah


berusaha menunjukkan unsur-unsur dari suatu keluarga inti,
unsur-unsur dari suatu kelompok kekerabatan, unsur-unsur kepe-
mimpinan dari suatu puak, unsur-unsur organisasi, politik dan ke-
pemimpinan dari suatu kerajaan, unsur-unsur kepemimpinan
pada komuniti desa, dan unsur-unsur dalam sistem pelapisan
sosial dalam masyarakat Tolaki, serta bagaimana sistem hubung-
an antara satu sama lain dari unsur-unsur dimaksud. Untuk me-
nunjukkan bagaimana peranan keluarga inti dan kelompok-
kelompok kekerabatan dalam memenuhi fungsi sosialnya, saya
juga telah berusaha menguraikan beberapa gejala yang berkaitan
dengan proses lingkaran hidup, dan beberapa peristiwa upacara di
dalamnya.
Dalam uraian-uraian di bawah ini saya pula akan berusaha
menunjukkan di mana letak hubungan antara sistem kekerabatan
dan organisasi sosial orang Tolaki itu dengan kalonya. Menurut
pengamatan yang saya lakukan ketika mengikuti beberapa upa-
cara ritual dalam proses lingkaran hidup, seperti: upacara peman-
dian bayi, upacara potong rambut, upacara sunatan, upacara per-
kawinan, dan upacara-upacara pada pemakaman orang meninggal
dan pada peringatan-peringatan kematian, dan ketika mengikuti
upacara-upacara penyambutan seseorang pejabat pemerintah
yang berkunjung ke daerah atau ke desa-desa, dan juga hasil
wawancara dengan beberapa tokoh adat*', maka hubungan antara
sistem kekerabatan dan organisasi sosial orang Tolaki dengan

*) Tokoh adat yang dimaksudkan itu ialah: A. Hamid Hasan, Husain A. Chalik, Surabaya,
Wutogo, Ngau, Arsjamid, Nehru Dundu, Husaein Laliasa.

204

PNRI
kalonya. itu terletak p a d a (1) p e r a n a n kalo dalam penggunaannya
p a d a u p a c a r a - u p a c a r a ritual sekitar p a d a lingkaran h i d u p dan
p a d a u p a c a r a - u p a c a r a resmi dalam urusan pemerintahan; d a n (2)
p a n d a n g a n - p a n d a n g a n orang Tolaki t e r h a d a p kalo sebagai sim-
bol.

3.1. Peranan Kalo dalam Upacara


Dalam u p a c a r a pemandian bayi yang lahir pertama, kalo di-
p a k a i k a n p a d a pergelangan tangan dan kaki si bayi. M a c a m kalo
yang dipakai itu disebut kalo kale-kale (kalo dari benang putih).
M a k s u d p e m a k a i a n itu selain sebagai t a n d a p e n j a g a bayi itu dari
gangguan m a k h l u k halus tetapi t e r u t a m a sebagai t a n d a b a h w a
bayi yang lahir p e r t a m a itu m e r u p a k a n unsur kelengkapan terben-
t u k n y a suatu keluarga inti, d a n terikat dalam h u b u n g a n keluarga
lúas d a n anggota baru bagi kelompok kerabat. P e m a s a n g a n kalo
dimaksud dilakukan oleh bibi atau nenek dari pihak ibunya. Un-
tuk t u j u a n yang sama, p a d a upacara p o t o n g r a m b u t si bayi di-
p a k a i k a n kalo kale-kale "(kalo dari benang), tetapi b u k a n lagi
benang putih melainkan benang kuning. M e n g a p a harus benang
kuning? Demikian saya bertanya k e p a d a i n f o r m a n . la m e n j a w a b
karena hal itu berarti si bayi telah kuat jiwanya u n t u k rruenahan
gangguan dari m a k h l u k halus.
Dalam u p a c a r a sunatan menjelang dewasa, kalo dipakaikan
p a d a pinggang si r e m a j a . M a c a m kalo yang dipakai itu disebut
kalo pebb (kalo asal dari akar. atau kulit kayu keras). M a k s u d
p e m a k a i a n itu selain sebagai t a n d a pengikat h u b u n g a n a n t a r a jas-
mani d a n rokhani, tetapi juga m e r u p a k a n t a n d a b a h w a si r e m a j a
telah siap untuk memasuki j e n j a n g perkawinan d a n berarti pula
b a h w a a k a n mengikat h u b u n g a n n y a dengan keluarga lúas.
Dalam urusan p e r k a w i n a n k a l o selalu digunakan. Kalo yang di-,
g u n a k a n itu disebut kalo sara mbendulu {kalo adat perkawinan),
yang terdiri dari lingkaran r o t a n , kain putih, d a n w a d a h a n y a m a n .
M a k s u d penggunaan kalo dalam perkawinan adalah u n t u k mem-
pererat h ü b u n g a n kekeluargaan di kalangan keluarga lúas, d a n
j u g a u n t u k mengikat h u b u n g a n dengan kelompok kerabat. D a l a m
peristiwa kematian kalo yang berperanan a d a d u a m a c a m , yaitu:
205

PNRI
kalo ula-ula (kalo asal dari gulungan benang putih yang dibentuk
seperti orang-orangan); dan kalo lowani (kalo asal dari sobekan
kain putih). Kalo yang pertama digunakan untuk pekabaran ten-
tang adanya orang meninggal, dan kalo yang kedua dipakai sebagai
tanda berkabung. Penggunaan kalo pertama mengandung makna
simbolik bahwa anggota kerabat yang meninggal itu datang
kepada kerabatnya untuk pamit mendahului menghadap T u h a n ,
dan sekaligus mengharapkan kiranya kerabatnya yang masih
hidup itu sudi ikut mengurus keluarganya yang ditinggalkan; dan
pemakaian kalo kedua mengandung m a k n a simbolik b a h w a kera-
bat merasa kehilangan seorang anggota kerabat yang sangat
banyak menentukan dalam pembinaan keluarga dan kerabat se-
cara keseluruhan.
Kalo yang digunakan dalam upacara pelantikan raja di zaman
dahulu, dan .pada upacara-upacara penyambutan adat para peja-
bat pemerintah disebut kalo sara wonua (kalo adat pemerintahan),
yang juga atributnya sama dengan kalo yang digunakan dalam
perkawinan. Penggunaan kalo pada kedua peristiwa di atas di-
maksudkan untuk mempererat tali hubungan antara pemerintah
dan rakyat, dan juga mengandung m a k n a simbolik bahwa rakyat
sangat mengharapkan bimbingan dan perlindungan dari pemim-
pinnya, dan sebaliknya pemerintah mengharapkan dukungan dan
bantuan dari rakyatnya.

3.2. Pandangan-pandarigan Orang Tolaki terhadap Kalo sebagai


Simbol
Kalo adalah simbol dari unsur-unsur keluarga inti, adat dalam
kehidupan rumah tangga, dan rumah tangga itu sendiri sebagai
wadah kehidupan keluarga inti, serta ikatan hubungan antara
unsur-unsur keluarga inti itu sendiri secara timbal-balik. Tiga un-
sur dari keluarga inti itu adalah: ayah, ibu, anak. Ketiga unsur ini
disimbolkan oleh tiga pilihan rotan yang dipertemukan pada suatu
ikatan simpul; adat dalam kehidupan rumah tangga disimbolkan
oleh kain putih yang mengalas wadah anyaman; dan rumah tangga
itu sediri sebagai wadah disimbolkan oleh wadah anyaman tempat
meletakkan lingkaran rotan yang berpilin tiga tersebut. Kalo juga
206

PNRI
adalah simbol dari unsur-unsur keluarga lúas, adat dalam ke-
hidupan komuniti keluarga lúas, dan pola komuniti itu sendiri,
serta ikatan hubungan antara unsur-unsur keluarga lúas itu sendiri
secara timbal-balik. Tiga unsur dari keluarga lúas itu adalah: para
paman dengan istrinya, para bibi dengan suaminya, dan para ke-
menakan derajat satu. Seperti halnya tiga unsur keluarga inti,
begitu pula tiga unsur keluarga lúas disimbolkan oleh tiga pilin
rotan yang dipertemukan pada suatu ikatan simpul. Adat dalam
kehidupan keluarga lúas komuniti dan pola komuniti itu sebagai
wadah, masing-masing keduanya disimbolkan oleh kain putih dan
wadah anyaman tempat lingkaran rotan yang dipilin itu. Demi-
kian pula kalo adalah simbol dari unsur-unsur kerabat kindred,
adat dalam kehidupan kindred, dan pola desa pemukiman kerabat
kindred, serta ikatan hubungan antara unsur-unsur kindred itu
sendiri secara timbal-balik. Tiga unsur dari kerabat kindred itu
adalah: semua saudara sepupu derajat satu bersama dengan istri
dan suaminya dan dengan anak-anaknya, semua saudara sepupu
derajat dua bersama dengan istri dan suaminya dan dengan anak-
anaknya, semua saudara derajat tiga bersama dengan istri dan
suaminya dan dengan anak-anaknya. Sebagaimana halnya tiga un-
sur keluarga lúas, begitu pula tiga unsur kerabat kindred disimbol-
kan oleh tiga pilin rotan yang dipertemukan pada suatu ikatan
simpul. Adat dalam kehidupan kindred dan pola desa pemukiman
warga kindred, masing-masing keduanya disimbolkan oleh kain
putih dan wadah anyaman tempat lingkaran rotan yang dipilin itu.
Akhirnya kalo adalah juga simbol dari kelompok kerabat ambili-
neal lúas, yang mengekspresikan kesatuan dan persatuan dari
seluruh warga orang Tolaki asal dari satu nenek moyang, adat
dalam kehidupan kerabat ambilineal, dan pola dari suatu wilayah
distrik atau kecamatan tempat pemukiman semua warga kelom-
pok kerabat ambilineal lúas asal dari satu nenek moyang.

Ekspresi .orang Tolaki mengenai kalo sebagai simbol hubungan


kekerabatan terurai di atas diwujudkan di dalam disain dari
wadah anyaman tempat kalo itu diletakkan. P a d a gambar wadah
anyaman di bawah, disain-disain itu tampak sebagai t u j u h lapisan
segi empat sama sisi, 14 garis vertikal (masing-masing tujuh garis
207

PNRI
di sisi k a n a n dan t u j u h garis di sisi kiri), 14 garis horisontal
masing-masing t u j u h garis di sisi atas d a n t u j u h garis di sisi bawah,
14 g a m b a r panali (masing-masing t u j u h buah di bagian atas k a n a n
d a n t u j u h b u a h di bagian bawah kiri), 14 g a m b a r kembang
(masing-masing t u j u h b u a h di bagian kanan bawah dan t u j u h
buah di bagian atas kanan), 30 g a m b a r sampiran yang terletak di
dalam segi empat sama sisi (pusat dari wadah), 20 pasang segi tiga
sama kaki p a d a segi e m p a t sama sisi lapisan kedua (masing-masing
lima pasang p a d a tiap sisi), 40 g a m b a r t u m b u h a n pakis p a d a segi
empat sama sisi lapisan ketiga (masing-masing 10 b u a h p a d a tiap
sisi), 96 pasang segi tiga sama kaki p a d a segi empat sama sisi
lapisan keempat (masing-masing 24 pasang p a d a tiap sisi), d u a
deretan tali yang mengelilingi empat sisi dari masing-masing segi
empat sama sisi lapisan ; kelima d a n lapisan keenam, d a n puluhan

G a m b a r 12
Atribuí Kalo dan wadah anyaman

208

PNRI
gambar silang yang tak terbaca yang mengelilingi keempat sisi dari
segi empat sama sisi lapisan k e t u j u h . Menurut para informan
gambar-gambar disain dari wadah anyaman ini adalah simbol-
simbol dari keluarga inti kelompok-kelompok kerabat, termasuk
di dalamnya warga dari tiap kelompok dan hubungan timbal-balik
antara satu anggota keluarga atau warga kelompok kerabat de-
ngan lainnya. Itulah sebabnya, kata orang Tolaki, maksud dan tu-
j u a n penggunaan kalo dalam upacara-upacara keluarga adalah
untuk m e w u j u d k a n hubungan-hubungan timbal-balik dari kelom-
pok-kelompok kekerabatan mereka, dalam rangka memupuk rasa
kesatuan dan persatuan di kalangan kerabat.
Kalo adalah juga simbol dari unsur-unsur pimpinan kelompok
sosial kecil, adat dalam kehidupan kelompok kecil itu, dan wadah
lingkungan kecil tempat tinggal warganya. Tiga unsur dari pim-
pinan itu ialah: tonomotuo (ketua kelompok), tamalaki (kepala
pertahanan dan keamanan), dan mbu'akoi (dukun kelompok).
Demikian juga kalo itu adalah simbol dari tiga unsur pimpinan
desa, adat dalam kehidupan desa, dan wadah desa itu sendiri seba-
gai tempat pemukiman dari warganya. Tiga unsur pimpinan itu
ialah: tonomotuo (kepala desa), pabitara (hakim adat), dan o sudo
(wakil kepala desa). Kalo adalah juga simbol dari tiga unsur, pim-
pinan distrik atau kecamatan, adat dalam kehidupan di kecamat-
an, dan wadah kecamatan itu sendiri sebagai tempat tinggal war-
ganya. Tiga unsur itu ialah: putobu (kepala wilayah), pabitara
(hakim adat di tingkat kecamatan), d a n p o s u d o (aparat pembantu
kepala wilayah).
P a d a tingkat kerajaan, kalo adalah simbol dari tiga unsur pim-
pinan Kerajaan Konawe d a n Kerajaan Mekongga, adat dalam ke-
hidupan kerajaan, dan wadah kerajaan sebagai tempat tinggal dari
warga kerajaan. Tiga unsur pimpinan kerajaan itu ialah: mokole
(raja), sulemandara (perdana menteri), dan tutuwi motaha (aparat
pertahanan). Kalo adalah juga simbol dari cita-cita politik keraja-
an, yaitu: cita-cita kesatuan dan persatuan, kesucian dan keadilan,
dan cita-cita kemakmuran dan kesejahteraan. Cita-cita kesatuan
dan persatuan disimbolkan dengan lingkaran rotan, cita-cita kesu-
cian dan keadilan disimbolkan dengan kain putih, dan cita-cita ke-
209

PNRI
makmuran dan kesejahteraan disimbolkan dengan wadah anyam-
an.
Di atas saya sering menyatakan bahwa kalo adalah simbol adat,
maka yang dimaksudkan adalah kain putih pelapis alas wadah
anyaman karena menurut mereka kain putih itu identik dengan
kesucian dan keadilan, dan p a d a tingkat berikutnya mereka rríeng-
analogikan segala hal yang suci dan adil yang dilakukan oleh
manusia karena berdasarkan ajaran adat. Demikian juga saya se-
ring menyatakan bahwa kalo adalah simbol dari wadah puak,
wadah desa, wadah kerajaan, maka yang dimaksudkan adalah wa-
dah anyaman tempat kalo diletakkan, karena menurut mereka
wadah anyaman itu identik dengan wilayah pemukiman pendu-
duk.
Untuk mewujudkan unsur-unsur pimpinan dan untuk meng-
ingatkan ajaran-ajaran adat bagi warganya, serta untuk menya-
darkan warga itu bahwa mereka tinggal dalam satu wilayah
pemukiman, dan j u g a untuk membangkitkan rasa dan cita-cita
kesatuan dan persatuan, kesucian dan keadilan, kemakmuran dan
kesejahteraan, m a k a kalo itu selalu digunakan dalam upacara-
upacara resmi dalam urusan pemerintahan, seperti misalnya: upa-
cara pelantikan mokole di zaman kerajaan, dan upacara-upacara
penyambutan adat para pemimpin yang berkunjung di daerah
atau di desa-desa. Dalam upacara-upacara itu diperdengarkanlah
hal-hal dimaksud di atas kepada warga penduduk setempat oleh
seorang juru bicara pemerintah.
Akhirnya kalo juga adalah simbol dari tiga komponen stratifi-
kasi sosial. Golongan bangsawan disimbolkan dengan lingkaran
rotan, golongan orang kebanyakan disimbolkan dengan kain
putih, dan golongan budak disimbolkan dengan wadah anyaman.
Lingkaran rotan yang diletakkan pada posisi di atas dari kain
putih dan wadah anyaman m e n u n j u k k a n bahwa golongan bangsa-
wan itu adalah pemerintah dan penguasa yang melindungi golong-
an kebanyakan dan golongan budak. Kain putih yang diletakkan
pada posisi di bawah dari lingkaran rotan dan di atas dari wadah
m e n u n j u k k a n bahwa golongan orang kebanyakan atau pemangku
adat itu adalah pendukung golongan bangsawan dan pembela dari
210

PNRI
golongan budak atau rakyat jelata, dan wadah anyaman yang'di-
letakkan di atas kain putih dan lingkaran rotan m e n u n j u k k a n
bahwa golongan budak atau rakyat jelata itu adalah pendukung
golongan pemangku adat dan pemuja golongan bangsawan.
Pergeseran Nilai dan Peranan Kalo Masa kini. Mengakhiri
uraian mengenai hubungan sistem kekerabatan dan organisasi
sosial dengan kalo, saya perlu memberi uraian mengenai sikap
orang Tolaki masa kini terhadap kalo. Untuk mengetahui sikap
orang Tolaki masa kini terhadap kalo itu saya mengedarkan suatu
kuesioner yang dijawab oleh 384 responden dari kalangan orang
Tolaki. Saya menetapkan jumlah responden tersebut dengan tek-
nik sampling.*'
Dalam Tabel 6 dan Tabel 7, yakni hasil tabulasi dari jawaban
yang diberikan oleh responden m e n u n j u k k a n kenyataan-kenyata-
an sebagai berikut:
1) Bahwa 86% dari responden masih memandang kalo sangat ber-
peranan sebagai lambang integrasi dan solidaritas masyarakat
Tolaki dan perlu dipertahankan untuk masa-masa mendatang,
dan 14% lainnya dalam hal tertentu telah berpandangan bahwa
kalo tidak perlu dipergunakan dan dipertahankan.
2) Dalam hal penggunaan kato pada berbagai keperluan menun-
j u k k a n tingkat frekuensi berturut-turut sebagai berikut: (a)
dalam perkawinan (96%); (b) dalam mengundang (95%); (c)
dalam penyambutan pejabat (86%); (d) dalam menghadap pe-
jabat atau tokoh masyarakat (81%); (e) dalam perdamaian
(71%); dan (f) dalam kematian (70%).
3) A d a p u n tingkat tidak perlunya penggunaan kalo dan gejala
penyebabnya yang ditunjukkan oleh responden dalam frekuen-
si-frekuensi di bawah ini adalah sebagai akibat dari beberapa
hal tertentu, antara lain sebagai berikut: (a) tingkat pertama
dalam kematian (30%) merupakan akibat dari pengaruh ajaran
Islam yang menghendaki kecepatan p e m a k a m a n karena de-
ngan m e n g g u n a k a n kalo d a p a t m e m p e r l a m b a t proses
pemakaman, (b) tingkat kedua dalam perdamaian (29%) me-

*) Mengenai teknik sampling ini lihat hlm. 41-43.

211

PNRI
r u p a k a n akibat dari adanya lembaga pengadilan negeri yang
dapat menyelesaikan soal-soal sengketa keluarga; (c) tingkat
ketiga dalam menghadap pejabat (19%) m e r u p a k a n akibat dari
adanya lembaga perwakilan rakyat yang anggota-anggotanya
dapat menyalurkan keinginan mereka; (d) tingkat keempat
dalam penyambutan pejabat (14%) m e r u p a k a n akibat dari
adanya sementara pejabat yang tidak mau diperlakukan
demikian; (e) tingkat kelima dalam mengundang (5%) adalah
akibat dari adanya cara mengundang dengan surat; dan (f)
tingkat keenam dalam perkawinan (4%) merupakan akibat dari
adanya gejala kawin lari yang kadang-kadang dapat diselesai-
kan melalui perkawinan di hadapan m a h k a m a h pernikahan.
4) Bahwa adanya gejala tidak perlunya kalo dipertahankan peng-
gunaannya dalam berbagai keperluan di atas namun hanya 3%
m e r u p a k a n akibat dari kalangan pemuda yang telah kurang
memahami arti dan m a k n a kalo.
5) Khusus mengenai gejala keharusan menaati segala keputusan
yang diambil dalam upacara-upacara kalo terdapat 94% dari
responden yang tetap bersikap demikian, sedangkan lainnya
6% adalah mereka yang bersikap sebaliknya. Hal ini merupa-
kan akibat dari kurangnya penghargaan terhadap kalo sebagai
adat dan kurangnya dipahami hakikat kalo itu sendiri oleh
sementara kalangan orang Tolaki.

Selanjutnya dari tabel 7, yakni tabel kerja yang dibuat ber-


dasarkan tabel 6 sebelumnya, nampak-pula kenyataan-kenyataan
bahwa tak ada perbedaan antara golongan pria dan wanita, demi-
kian antara golongan Islam dan Kristen, antara golongan pemuda
dan orang tua, serta golongan tidak terpelajar d a n terpelajar orang
Tolaki dalam menilai perlu tidaknya kalo digunakan dan diper-
tahankan. Hal ini berarti bahwa adanya gejala tidak perlunya kalo
digunakan dan dipertahankan dalam berbagai keperluan yang
telah dikemukakan di atas bukanlah disebabkan oleh hal-hal yang
berhubungan dengan perbedaan-perbedaan dalam jenis kelamin,
tingkat u m u r , dan tingkat pendidikan, tetapi sebagai akibat dari
gejala dinamika sosial dan perubahan budaya yang sedang terjadi,
yang telah mulai mempengaruhi orang Tolaki, baik yang tinggal di
212

PNRI
kota maupun di desa. Jadi hal itu bukan disebabkan oleh faktor
latar belakang individu tetapi faktor kondisi lingkungan sosial-
budaya yang sedang terjadi.

Tabel 6
P E R G E S E R A N N I L A I D A N P E R A N A N K A L O D E W A S A INI

\ S T R K A U P
No. J/P
s \ s Pr Wn Is Kr Pm Ot Tt T

(D (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (H)

1 DP
1.1. P 184 184 336 33 247 122 343 26 1475 (96%)
1.2. T P 8 8 14 1 10 5 14 1 61 ( 4 % )
Jumlah 192 192 350 34 257 127 357 27 1536 (100%)

2 DK
2.1. P 134 133 243 24 179 88 248 18 1067 (70%)
2.2. T P 57 57 104 10 76 38 110 8 460 (30%)
Jumlahi) 191 190 347 34 255 126 358 26 1427(100%)

3 DD
3.1. P 144 143 262 26 193 95 268 20 1151 (71%)
3.2. T P 47 47 86 9 64 31 88 7 379 (29%)
Jumlah2) 191 190 348 35 257 126 356 27 1530 (100%)

4- D S
4.1. P 166 166 303 30 223 110 310 23 1331 (86%)
4.2. T P 25 . 2 4 44 4 32 16 45 3 193 (14%)
Jumlah3) 191 190 347 34 255 126 355 26 1524(100%)

5 DM
5.1. P 156 156 284 28 209 103 290 22 1248 (81%)
5.2. T P 35 35 63 6 47 23 65 5 279 (19%)
Jumlah4) 191 191 347 34 256 126 355 27 1527 (100%)

213

PNRI
6 DU
6.1. P 172 172 313 31 230 114 320 13 1365 ( 9 5 % )
6.2. TP 7 7 13 1 9 5 24 1 67 ( 5 % )
Jumlah5) 179 179 326 32 239 119 344 14 1432 ( 1 0 0 % )

7 KD
7.1. H 181 180 329 32 242 119 336 25 1444 ( 9 4 % )
7.2. T H 10 10 18 2 13 7 19 1 80 ( 6 % )
Jumlah6) 191 190 347 34 255 126 355 26 1524 ( 1 0 0 % )

8 PK
8.1. D 185 184 336 33 247 122 243 26 1376 ( 9 7 % )
8.2. TD 6 6 11 1 8 4 11 1 48 ( 3 % )
Jumlah7) 191 190 347 34 255 126 254 27 1424 ( 1 0 0 % )

1322 1318 2406 237 1770 873 2358 173 10457(86%)


Jumlah

195 194 353 34 259 129 376 27 1567 ( 1 4 % ) '

Total 1517 1512 2759 271 2029 1002 2734 200 12024(100%)

Sumber: Kuesioner uniuk Meneliti Masalah Sikap Orang Tolaki terhadap Nilai dan
Peranan Kalo, Pebruari 1980

Keterangan: STR — Stratifikasi; K — Kelamin; A — Agama; U — Umur; P — Pen-


didikan; Pr — Pria; Wn — Wanita; Is — Islam; Kr — Kristen Protestan; Pm
— Pemuda; Ot — Orang tua; Tt — Tidak terpelajar; T — Terpelajar; J / P —
Jumlah/Prosentase; S — Sikap Orang Tolaki; DP — Dalam Perkawinan; DK
— Dalam Kematian; DD — Dalam Perdamaian; DS — Dalam Penyambutan;
DM — Dalam Menghadap Raja; DU — Dalam Undangan; KD — Ketaatan
Dalam Keputusan Musyawarah; PK — Perspektif Kalo; P —• Perlu; TP —
Tidak Perlu; H — Harus; TH — Tidak: Harus; D — Dapat dipertahankan;
T D — Tidak Dapat dipertahankan.

214

PNRI
Tabel 7

FREKUENSI PERLU DAN TIDAKNYA P E N G G U N A A N KALO


(DALAM PROSENTASE)

^ \ S T R K A U P Rata-
No. J
P K ^ ^ Pr Wn Is Kr Pm Ot Tt T rata

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (B) (9) (10) (11) (12)
1 P 87 87 87 87 87 87 86 86 87 694

2 TP 13 13 13 13 13 13 14 14 13 206
Jumlah 100 100 100 100 100 100 100 100 100 900

Sumber: Disusun berclasarkan Tabel IO

Keterangan: STR — Stratifikasi; K — Kelamin; A — Agama; U — Umur: P — Pen-


didikan; J — Jumlah; Pr — Pria; Wn — Wanita; Is — Islam; Kr — kiisten
Protestali; Pm — Pemuda; Ot — Orang tua; Tt — Tidak terpelajar; T — Ter-
pelajar; PK — Penggunaan Kalo; P — Perlu; TP — Tidak Periti.

215

PNRI
Bagan 5.
P E R G E S E R A N N I L A I D A N P E R A N A N K A L O D E W A S A INI

D S & P B — Dinamika Sosial


Keterangan: dan P e r u b a h a n Budaya.
M — Kematian;
NNL — Nilai-Nilai Luhur;
S — Penyambutan;
A&T — Adat & Tradisi;
H — Menghadap;
D — Perdamaian;
U — Mengundang;
K — Perkawinan;
T — Mentaati;
p — Perlu dipertahankan;
TP — Tidak Perlu d i p e r t a h a n k a n ;
pn — adanya pengadilan negen;
pa — pengaruh a g a m a Islam-Kristen
gaf — gejala anti feodal;
p a p — pengaruh adanya perwakilan;
pus — pengaruh undangan surat;
N N B — Nilai-Nilai Baru;
pti — pengaruh tidak tahu a j a r a n kalo;

216

PNRI
VII
KOSMOLOGI D A N SISTEM K E A G A M A A N

Tiap k e b u d a y a a n m e m p u n y a i konsepsi mengenai alam d a n isi-


nya, termasuk di dalamnya manusia, yang berasal dari pengalam-
an-pengalaman manusia, yang diabstraksikannya m e n j a d i konsep-
si-konsepsi, teori-teori, dan pendirian-pendirian (Koentjaraning-
rat 1980: 386). Demikian j u g a sistem keyakinan tentang adanya
roh (animisme, k e k u a t a n saksi (dinamisme), dewa-dewa d a n
T u h a n adalah salah satu dari k o m p o n e n k e b u d a y a a n yang univer-
sal. Dalam banyak karya antropologi kita t e m u k a n sistem ke-
yakinan itu sebagai salah satu dari kelima k o m p o n e n dalam religi
yang seperti terurai dalam b a b p e n d a h u l u a n di atas d i k e m b a n g k a n
oleh Koentjaraningrat (1980: 80-83: 392-393).
Dalam h u b u n g a n ini saya berusaha m e n g g a m b a r k a n konsepsi-
konsepsi orang Tolaki mengenai: (1) alam semesta d a n isinya, asal
manusia; (2) T u h a n , dewa, dan manusia; (3) dunia nyata dan
dunia gaib; (4) u p a c a r a - u p a c a r a k e a g a m a a n . Dari uraian-uraian
tersebut di atas, saya a k a n berusaha m e n u n j u k k a n adanya
h u b u n g a n a n t a r a kosmologi d a n sistem k e a g a m a a n d a l a m kebu-
dayaan Tolaki dengan kalonya sebagai simbol u t a m a yang meng-
ekspresikan alam semesta dengan segala isinya. Sebagai uraian
t a m b a h a n saya j u g a m e n g e m u k a k a n mengenai agama Islam d a n
lain-lain a g a m a di Sulawesi Tenggara.

1. A L A M SEMESTA D A N ISINYA, D A N A S A L M A N U S I A

Sebelum terjadinya alam, yakni langit dan b u m i dengan segala


isinya, m a k a yang a d a hanya ruang kosong, tak a d a a p a - a p a di
dalamnya. P a d a suatu ketika o ombu (Tuhan) m e n c i p t a k a n o
ngga (nur, terang). T u h a n m e m a n d a n g kepada nur, yang meng-

217

PNRI
akibatkan nur menjadi panas, m a k a terjadilah o api (api, panas).
T u h a n memandang kepada api, yang mengakibatkan api menjadi
oleo (matahari). T u h a n memandang kepada matahari, yang
mengakibatkan matahari bergerak. Gerakan matahari inilah
kemudian menimbulkan o pua (angin). Selanjutnya T u h a n
menutup mata m a k a terjadilah gelap segala yang terang. Gelap
inilah yang menjadikan o wingi (malam). Terjadilah siang dan
malam. Kemudian T u h a n mengupas dakinya dan menggulungnya
menjadi gumpalan dan dilemparkannya ke bawah dan itulah yang
kemudian menjadi wuta'aha (tanah yang luas, buana, bumi).
T u h a n mencabut beberapa lembar rambut dan bulunya dan dilem-
parkannya ke atas bumi dan itulah yang kemudian menjadikan
t u m b u h - t u m b u h a n di bumi; sesudah itu T u h a n mengeluarkan
beberapa kutunya dan dilemparkannya ke atas bumi dan itulah
yang kemudian menjadikan hewan-hewan di bumi. Agar tumbuh-
t u m b u h a n dan hewan-hewan dapat hidup di atas bumi, T u h a n
membuang kencingnya dan itulah kemudian menjadikan h u j a n .
Segala peristiwa kilat dan guntur serta apa yang dinamakan o
lelu (gempa bumi) adalah w u j u d dari T u h a n yang menggerakkan
dirinya. Demikian mitos orang Tolaki mengenai kejadian alam,
yaitu mitos yang dinamakan Laindoro (Makhluk Yang Mula-Mula
Diciptakan).*'
Ùntuk menjaga bumi dan isinya, T u h a n menciptakan manusia.
Diambii segumpal tanah dan dibentuknya menjadi tubuh man-
usia. T u h a n mula-mula membentuk kepalanya, disusui dadanya,
selanjutnya perutnya, dan terakhir tangan dan kakinya. Lama
proses pembentukan tubuh manusia sampai lengkap oleh T u h a n
adalah 300 tahun. Sudah itu T u h a n meniupkan rohnya. Manusia
yang mula-mula diciptakan oleh T u h a n dengan caranya tersebut,
ialah A d a m . Mula-mula A d a m ditaruh di lapisan langit yang ketu-
j u h untuk mendapatkan a j a r a n - a j a r a n langsung dari Tuhannya
sebelum ia diturunkan ke bumi. Untuk menemani A d a m dalam
hidupnya nanti di bumi, Tuhan,menciptakan seorang perempuan
yang bernama Hawa, dengan cara yang lain. Cara yang lain itu

*) Mitos Laindoro ini diceritakan oleh seorang dukun, bernama Bina, seorang dukun yang
biasa memimpin upacara tolak baia dan minta berkah.

218

PNRI
adalah bahwa Hawa tidak diciptakan dari tanah tetapi dari asal
dari tulang rusuk A d a m . Sesudah ratusan atau ribuan tahun
Adam dan Hawa tinggal di lapisan langit yang ketujuh, Tuhan
menurunkan mereka berdua di bumi. Hiduplah mereka berdua di
bumi ini dan kemudian berkembang menjadi kita semua, kata in-
forman.*' Demikianlah konsepsi orang Tolaki mengenai asal keja-
dian alam dan isinya, dan asal manusia berdasarkan mitos.
Selanjutnya saya mengemukakan bagaimana konsepsi orang
Tolaki mengenai susunan alam dan isinya. Biasanya orang Tolaki
mengkonsepsikan alam dalam hubungan dengan konsepsi mereka
mengenai manusia dengan sistem perlambangan berdasarkan aso-
siasi. Alam ini terdiri atas tiga bagian, yakni: hanu mendoda (alam
nyata) yang dilambangkan sebagai tubuh manusia; hanu metoku
(alam bayangan) yang dilambangkan sebagai semangat; dan hanu
teh'i (alam gaib) yang dilambangkan sebagai jiwa atau roh manu-
sia. Alam nyata terdiri pula atas tiga bagian, yakni: lahuene
(langit, dunia atas) dengan segala isinya yang dilambangkan seba-
gai kepala manusia; wawo wuta (permukaan bumi, dunia tengah)
dengan segala yang ada di atasnya yang dilambangkan sebagai da-
da manusia; dan puri wuta (dasar bumi, dunia bawah) yang dilam-
bangkan sebagai perut dan kaki manusia. Di langit ada oleo
(matahari) dan o wula (bulan), dan anawula (bintang-bintang)
yang identik dengan siang dan malam yang diasosiasikan dengan
mata putih dan mata hitam; hujan dan awan diasosiasikan dengan
air mata dan tahi mata manusia; angin, guntur, kilat, petir diaso-
siasikan dengan telinga dan mulut manusia yang berbicara. Di per-
mukaan bumi hidup t u m b u h - t u m b u h a n dan hewan yang diasosia-
sikan dengan bulu atau rambut dan kutu manusia; sungai, rawa,
laut yang diasosiasikan dengan darah, keringat, dan kencing
manusia; tanah dan batu yang diasosiasikan dengan daging dan
tulang manusia; dan barang mineral yang diasosiasikan dengan
sumsum dan otak manusia; gunung dan lembah yang diasosiasi-
kan dengan benjolan dan lekukan pada badan manusia. Di dasar

*) Mitos mengenai asal mula manusia ini diceritakan oleh H. Hasan, yang selain beliau
adalah seorang tokoh adat, juga seorang ulama Islam, yang c u k u p dikenal oleh
kalangan orang Tolaki.

219

PNRI
bumi terdapat tiang-tiang p e n o p a n g b u m i yang diasosiasikan
dengan kaki d a n tangan manusia; jalur-jalur d a n lapisan-Iapisan
tanáh yang diasosiasikan dengan urat d a r a h d a n urat syaraf,
b a h k a n di dalamnya ada banyak jenis ular d a n cacing yang diaso-
siasikan dengan usus manusia.*'
A l a m bayangan adalah duplikasi dari alam nyata. Setiap unsur
alam nyata yang telah d i g a m b a r k a n di atas memiliki bayangan
sebagai zat yang halus. Langit d a n bumi d a n sebagainya a d a
halusnya, demikian api, angin, air, t a n a h , t u m b u h a n , hewan,
siang dan m a l a m , matahari, bulan, dan bintang-bintang. Alam
gaib adalah alam roh yang di dalamnya berdiam m a k h l u k halus,
dewa-dewa, dan T u h a n Allah.
Segala unsur alam berada di dalam r u a n g d a n w a k t u . Ruang
lingkup a n t a r a bumi d a n langit m e r u p a k a n ruang yang terdiri atas
t u j u h lapisan secara vertikal, yang dibatasi oleh e m p a t atau
delapan p e n j u r u m a t a angin secara horisontal. P e n j u r u m a t a
angin itu d i h u b u n g k a n oleh suatu garis lingkaran dan kadang-
kadang oleh garis segi empat sama sisi. Sedangkan k e t u j u h
lapisan ruang itu dibatasi oleh garis-garis lengkung (setengah
lingkaran) yang membentuk suatu belahan b u m i . M a t a h a r i ber-
jalan mengelilingi bumi yang terbit di timur d a n terbenam di
barat, selanjutnya masuk ke bagian bawah bumi dan terbit lagi
p a d a besoknya. Bulan demikian halnya. M a t a h a r i mengejar bulan
karena bulan telah menipu dia sehingga m e m a k a n a n a k n y a . Siasat
bulan ini dilakukan demi keselamatan kehidupan di bumi. Sebab,
kata bulan, " a p a b i l a matahari dibiarkan beserta dengan anak-
a n a k n y a tentu a k a n tidak a d a k e h i d u p a n di b u m i karena panas-
n y a . " Lalu bulan mengakali matahari, katanya: " h a i m a t a h a r i ,
m a k a n l a h a n a k - a n a k m u seperti telah aku l a k u k a n t e r h a d a p ának-
a n a k k u . " Kenyataan yang sebenarnya yang dilakukan oleh bulan
adalah m e m a s u k k a n semua a n a k - a n a k n y a ke dalam k e r a n j a n g .
Demikian mitos orang Tolaki tentang matahari d a n bulan**» (lihat
G a m b a r 14).

*) Mitos ini diceritakan oleh Pandiri, seorang nenek yang hidup sebagai petani ladang.
**) Konsepsi-konsepsi terurai di atas bersumber dari Pono, seorang tokoh adat, dan per-
nah menjadi kepala Distrik di zaman Swapraja.

220

PNRI
W a k t u meliputi t a h u n , bulan d a n hari. W a k t u satu tahun
adalah satu tahun panen, yakni enam bulan. W a k t u satu bulan
adalah 29 a t a u 30 hari. Mereka menghitung hari melalui nama-
n a m a bulan di langit yang terbit setiap m a l a m . Kruijt (1922: 452)
mencatat n a m a - n a m a bulan m e n u r u t sebutan orang Tolaki seba-
gai berikut:

1. Mata loso (als de maan even


te zien is), 16. tombara nomehe,
2. riolo, 17. riolo,
3. mata nggawe, 18. mata nggawe,
4. tembara kawe, 19. tombara kawe,
5. merawoesi. 20. merawoesi,
6. mehaoe-haoe, 21. mehaoe-haoe,
7. mata tindo, 22. mata tindo,
8. tombara tindo, 23. tombara tindo,
9. mata nde'oeo, 24. mata nde'oee,
10. tombara te'oeo, 25. tombara te'oee,
11. to'eno, 26. to'eno,
12. mata leleanggia, 27. mata leleanggia,
13. tombara leleanggia, 28. tombara leleanggia,
14. molamboe, 29. wawo ndowaha,
15. mata momehe, 30. mata mboesoe.

Setiap hari bulan tersebut berfungsi sebagai peramal cuaca dan


p e t u n j u k bagi orang Tolaki untuk memilih hari bulan m a n a yang
cocok dan baik guna memulai sesuatu jenis usaha dan untuk me-
l a k u k a n upacara-upacara tertentu. Misalnya: hari bulan mata loso
d a n riolo adalah hari h u j a n , mata nggawe d a n tombara kawe
adalah waktu yang baik u n t u k mulai m e n a n a m padi di ladang, me-
orawesi dan mehau-hau adalah waktu yang baik u n t u k memasang
jerat p e n a n g k a p ayam h u t a n d a n b u r u n g , mata tindo dan tombara
tindo, mata nde'ue dan tombara te'ue adalah hari-hari h u j a n yang
p a n j a n g , toeno hanya cocok u n t u k b e r b u r u , mata leleanggia
adalah hari mulai panas, molambu, mata omehe d a n tombara
omehe adalah hari-hari yang paling baik u n t u k mendirikan r u m a h

221

PNRI
atau mengadakan upacara perkawinan, dan wawo ndowaha, mata
mbusu adalah hari-hari untuk beristirahat di rumah. Dengan
mengintai dan memperhatikan posisi bulan di langit ketika terbit,
orang dapat mengenal nama bulan yang terbit pada malam ter-
tentu.*'
Karena pengaruh agama Islam dan Kristen,, orang Tolaki seka-
rang juga mengenal ketujuh nama-nama hari dalam seminggu,

*) Makna waktu terurai di atas bersumber dari Ndau, seorang tokoh adat, dan beliau juga
sering bertindak sebagai dukun padi.

222

PNRI
yakni: Ahli (Ahad, Minggu); Sene (Senin); Salasa (Selasa); Araba
(Rabu); Kamesi (Kamis); Duma (Jumad); dan Osatu (Sabtu).
Hari-hari yang baik, adalah: Minggu, Senin, Rabu dan J u m a d ;
dan selainnya kurang baik; terutama hari Selasa dan Sabtu.
Waktu dalam sehari semalam dibagi menjadi 16 sub waktu, yakni:

1. Mo'oru-oru mbusu (pagi benar)


2. La loloso oleo (terbit matahari)
3. Telala oleo (matahari naik)
4. La rumorambi'i tonga oleo (menjelang tengah hari)
5. Tonga oleo (tengah hari)
6. Tekihori (matahari condong ke barat)
7. Kiniwia (sore)
8.. Roroma (gelap)
9. Wingi (malam)
10. Mbu'u wingi (permulaan malam)
11. Menggau winggi (larut malam)
12. Tumotarea monggo aso o manu (kokok pertama ayam)
13. Mondonga wingi (tengah malam)
14. Tomotarea monggo ruo o manu (kokok kedua ayam)
15. Tomutarea monggo tolu o manu (kokok ketiga ayam)
16. Mengga (terbit fajar).
Orang Tolaki di desa bangun dari tidur untuk siap ke ladang
atau ke pekerjaannya yang lain pada saat kokok ketiga ayam,
karena mereka harus berangkat ke ladangnya pada saat pagi
benar, dan kembali ke rumah pada saat sudah gelap.
Setiap sub waktu dari waktu-waktu sehari semalam terdiri dari
sub-sub waktu yang dipandang baik dan yang kurang baik. Untuk
mengenal waktu-waktu yang baik itu mereka menggunakan suatu
alat sebagai pedoman, yang disebut bilangari dan kutika (ke-
duanya adalah alat menentukan waktu yang baik);* ) dan palakia
(alat menentukan jenis bintang di langit).
Selain pengetahuan tentang bulan dan hari sebagai petunjuk
waktu, mereka juga mengenal apa yang disebut wotiti pengetahu-

*) Lihat G a m b a r 33 dan 34.

223

PNRI
Keterangan: (A)—Kalender I l m u / P e r a n g / P e r j u a n g a n ; 1/9/17/25—matahari,
langit; 5/13/21/29—bulan, bumi; 3/11/19/27—ikan, setan; 7 / 1 5 /
23/31—buaya, malaikat; 4/12/20/28—anjing, dunia; 8/16/24
—rusa, manusia; 2/10/18/26—tikus, jin; 6/14/22/30—kucing,
nabi.
Seorang yang bepergian dengan t u j u a n menuntut ilmu, ke medan
perang, atau perjuangan yang baik, harus memilih waktu yang
dinyatakan dengan: matahari, langit; buaya, malaikat; anjing,
dunia; kucing, nabi.

Gambar 14 Kalender Bulan Orang Tolaki

224

PNRI
Keterangan: (A)—Kalender dalam kehidupan sehari-hari (berlaku dalam sebulan
untuk selama 5 minggu);
a — 1 s/d 7; b - 8 s / d 14; s / d 14; c — 15 s/d 21; d — 22 s / d 29;
e — 29 s / d 35.

j | — Bersih; Jgj — Orang banyak; j ^ j — Bohong.

PI —Daräh; [ V J — Kubur.
(B) — Kalender harian dalam seminggu dan jam-jaman dalam
sehari;
1 — Ahad; 2 — Senin; 3 — Selasa; 4 — Rabu; 5 — Kamis; 6 —
Jumad; dan 7 — Sabtu;

O — Kosong; 0 — Berisi; + Hidup; Mayat;


— —Pulang P o k o k .
A — Jam 6-8; B —8-11; C — Jam 11-12; D — Jam 13-3; E — Jam
3-6
Gambar 15. Kalender Mingguan Orang Tolaki
225

PNRI
an perbintangan). Jenis bintang-bintang di langit yang mereka
kenal itu, adalah: wotika (bintang tujuh), o kamba (bintang tiga),
monunu (bintang berderet), o manu (bintang margasatwa), dan
bintang mombakani (bintang gembala). Setiap jenis bintang ber-
fungsi dalam mereka menentukan saat-saat yang tepat untuk me-
lakukan sesuatu jenis aktivitas perekonomian. Bintang tujuh ber-
fungsi sebagai petunjuk saat yang tepat untuk mengadakan pem-
bukaan hutan perladangan, yakni apabila bintang ini telah terbit
di ufuk timur setinggi kira-kira 30° di atas kaki langit. Bintang tiga
berfungsi sebagai penunjuk saat yang tepat untuk mengadakan
penebangan pohon untuk perladangan. Bintang berderet ber-
fungsi sebagai penunjuk saat yang tepat untuk m e n a n a m padi di
ladang. Bintang margasatwa berfungsi sebagai penunjuk saat yang
baik untuk melakukan macam-macam usaha perburuan. Sedang-
kan bintang gembala yang terbit setiap malam menjelang siang
berfungsi sebagai penunjuk bagi seorang gembala untuk turun
dari rumah dan pergi menggembalakan kerbaunya.

2. T U H A N , DEWA, D A N MANUSIA
Sebelum orang Tolaki menganut agama Islam dan ada di an-
taranya yang menganut agama Protestan, mereka telah mengenal
T u h a n , yang mereka sebut o ombu (Yang disembah, dipuja). Dia-
lah yang menciptakan jagat raya dan segala isinya. Ia berada di
langit paling atas sesudah lapisan langit ketujuh. Ia kadang-
kadang diidentikkan dengan langit. Orang tua-tua dari kalangan
mereka sering mengucapkan doa dengan berkata: "po'eheno
sangia urano lahuene," artinya: semoga kehendaknya T u h a n ,
tetesannya langit tercurah kepada kita sekalian. Ia memandang
dari atas langit ke seluruh penjuru alam sampai ke selah-selah
alam dan seluruh ciptaannya. Ia mendengar segala bunyi dan
suara makhluknya. Ia mengetahui apa saja yang dilakukan oleh
manusia dan segala isi alam. Ia bertindak atas kehendaknya sen-
diri. Kelahiran, kehidupan, dan kematian berada dalam kekuasa-
annya. Ia yang menyebabkan segala sesuatu terjadi.
Apabila manusia meninggal, demikian juga matinya segala
hewan dan t u m b u h - t u m b u h a n , hal itu berarti bahwa T u h a n telah
226

PNRI
mengambilnya kembali dalam b e n t u k r o h . la tidak dapat dilihat
oleh mata, suaranya tidak dapát didengar oleh telinga, dan
seterusnya. Manusia tidak dapat berhubungan langsung dengan-
nya tetapi dengan perantaraan sangia (dewa) dan dengan mbera
hanu halusu (segala makhluk halus).
Kini orang Tolaki setelah menganut agama Islam atau Protestan
menyebut T u h a n melalui istilah Ombu Ala Ta'ala (Tuhan Allah)
atau Ombu Samena (Tuhan Yang Sesungguhnya).*'
Orang Tolaki mengenal banyak dewa. Setiap dewa diberikan
nama menurut n a m a status dan fungsinya atau menurut nama
tempat persemayamannya di salah satu bagian alam. Dewa ter-
tinggi disebut sangia mbu'u (kepala dewa). Dewa inilah yang ber-
tindak selaku penyambung lidah, titah T u h a n . la juga disebut
sangia lahuene (dewa langit) karena ia bersemayam di langit.

Dewa-dewa lainnya, ialah: sangiano o wuta (dewa bumi) atau


guruno o wuta (gurunya tanah) yang mengatur dan memelihara
kehidupan di atas bumi, sangia i puri wuta (dewa di pusat bumi)
yang mengatur dan memelihara kehidupan di dalam bumi, sangia i
puri tahi (dewa di dasar laut) yang mengatur dan memelihara laut
dan segala sumber air, sangia i asaki ndahi (dewa di seberang laut)
yang menjaga musuh dari luar dunia, sangia i losoano oleo (dewa
di Timur) yang mengatur dan memelihara wilayah jagat di bagian
timur termasuk menetapkan terbitnya matahari pada setiap hari,
sangia i tepuliano oleo (dewa di Barat) yang mengatur dan
memelihara wilayah jagat di bagian Barat termasuk menetapkan
terbenamnya matahari pada setiap hari menjelang malam, sangia i
ulu iwoi (dewa di hulu sungai atau dewa di Utara) yang menguasai
wilayah jagat di sebelah Utara termasuk mengatur mengalirnya
sumber air sampai ke laut, sangia i para iwoi (dewa di muara
sungai atau dewa di Selatan) yang menguasai wilayah jagat di ba-
gian Selatan termasuk menerima dan mengatur air masuk ke laut.

Secara khusus ada dewi padi yang dinamakan sanggoleo mbae,


wurake mbae, wulia mbae, warakano ombuno o pae (masing-
masing berarti: roh padi, nyawa padi, halusnya padi, inti persona
*) Lihat G a m b a r 35.

227

PNRI
Keterangan: 1 — sangia mbu'u (kepala dewa, dewa tertinggi, dewi langit); 2 —
guruno o wuta (dewa bumi); 3 — sangia i puri wuta (dewa di pusat
bumi); 4 — sangia i puri tahi (dewa di dasar laut); 5 — sangia i asaki
ndahi (dewa di seberang laut); 6 — sangia i losoano oleo (dewa di
Timur); 7 — sangla-la tepuliano oleo (dewa di Barat); 8 — sangia i
ulu Iwoi (dewa di Utara); 9 — sangia i para para iwoi (dewa di
Selatan);

Gambar j6
Konsepsi Tolaki mengenai kaitan Allah Taala dan Dewa-dewa.

228

PNRI
dewanya padi). Jumlah dewa yang dikenal oleh orang Tolaki
adalah sembilan. Kesepuluhnya adalah T u h a n .
P a d a dasarnya semua dewa sebagai wakil T u h a n adalah baik.
Tetapi jikalau manusia melanggar tata-tertib dan h u k u m Tuhan
maka dewa memberi h u k u m a n alam terhadapnya, yakni h u k u m a n
yang disebut abala (bala dan bencana alam).
Orang Tolaki meyakini bahwa segala sesuatu, baik makhluk
hidup m a u p u n benda-benda, memiliki roh. Roh ini memung-
kinkan kehidupan setiap makhluk dan m e m a n t a p k a n kedudukan
setiap benda. Mereka mempunyai kekuatan yang melampaui ke-
kuatan alam nyata.
Mereka bergerak dan berpindah-pindah dan sewaktu-waktu
kembali ke dalam tubuh makhluk atau ke dalam benda yang me-
milikinya. Karena demikian sifatnya m a k a lama kelamaan roh itu
dikonsepsikan sebagai orang, makhluk halus, yang disangka ber-
diam di pohon, khususnya di pohon beringin, di gua, di lobang
batu, di sungai, di gunung, di dalam lobang tanah, di rumah
kosong, di m a n a saja di permukaan bumi. Menurut orang Tolaki
roh itu ada yang baik dan ada yang jelek dan jahat sifatnya.
Roh yang baik itu adalah misalnya o wali (jin), sanggoleo
(semangat), dan o nitu mate (roh orang mati); dan roh yang
jahat adalah misalnya o nitu i ahoma (setan), pondiana (kunti-
lanak), o so (burung jahat penjelmaan orang), dan o po (roh
orang jahat yang suka melancong di malam hari untuk meng-
ganggu manusia yang sedang tidur). Kata orang Tolaki, "segala
jenis penyakit yang diderita orang adalah disebabkan oleh roh
j a h a t " . Jadi bukan disebabkan oleh sejenis kuman menurut se-
orang dokter.
Khusus roh manusia yang telah meninggal sering kembali ke
rumah keluarganya guna menjenguk istri atau suami dan anak-
anaknya atau cucunya. Mereka percaya pula bahwa roh orang
yang meninggal itu setelah lama tinggal di surga kembali pindah ke
tubuh bayi yang baru lahir. Gejala kelahiran kembali itu atau
reinkarnasi disebut mesarungga (roh yang menumpang ke tubuh
lain), sumoso (roh yang melekat pada tubuh lain), toro mbendua
roh yang hidup kembali melalui tubuh orang lain). T a n d a - t a n d a

229

PNRI
bahwa roh itu datang ke r u m a h keluarganya dapat dikenal melalui
mimpi a t a u melalui bau kemenyan atau melalui bunyi-bunyian
biasa dibunyikan oleh si mati semasa ia masih h i d u p , dan bahwa
roh itu pindah ke t u b u h seorang bayi dapat dikenal setelah melihat
ciri-ciri fisik d a n tingkah laku si bayi yang identik dengan si mati.
Gejala reinkarnasi ini timbul, kata orang Tolaki, karena si mati
ketika masa hidupnya sangat cinta k e p a d a a n a k n y a yang melahir-
kan si bayi.
Manusia adalah makhluk yang p a d a hakikatnya sama dengan
semua jenis m a k h l u k . Ia juga mengalami h i d u p d a n m a u t .
" M a n u s i a hidup untuk mati, manusia mati untuk h i d u p , "
demikian sering dikatakan orang tua-tua orang Tolaki, jika
mereka sewaktu-waktu membicarakan soal hidupnya d a n matinya
manusia. N a m u n p a d a hakikatnya manusia adalah hidup. Ia tidak
pernah mati. A d a p u n peristiwa maut yang dialaminya hanyalah
proses p e r j a l a n a n hidup itu sendiri, suatu saat di m a n a t a m p a k
gejala perpisahan antara dua aspek manusia itu, yakni aspek
tubuh dan aspek jiwa, roh. H a k i k a t n y a manusia b u k a n terletak
pada t u b u h n y a atau jasmaninya tetapi p a d a jiwanya, r o h n y a .
Dalam peristiwa maut t a m p a k ternyata b a h w a aspek t u b u h itu
mengalami k e h a n c u r a n , sedangkan kata mereka aspek jiwa itu
tidak mengalami kehancuran tetapi ia hanya pindah tempat dari
t u b u h yang satu ke t u b u h yang lain, atau langsung kembali kepada
asalnya ke alam roh, ke langit, di sisi T u h a n n y a , apabila ternyata
ia telah mengalami kesucian kembali setelah menjalani kehidupan
di dunia. Tetapi kalau roh itu masih harus pindah ke tubuh yang
lain, hal itu berarti b a h w a ia masih harus menjalani kehidupan
baru di dunia untuk mensucikan dirinya agar p a d a saat berikutnya
roh atau manusia itu telah langsung pulang ke sisi T u h a n n y a .
Dalam proses usaha manusia mensucikan dirinya, orang Tolaki
biasa m e n g a j a r k a n bahwa manusia harus mengalami peristiwa d u a
kali hidup dan d u a kali mati. D u a hidup itu adalah hidup sebagai
roh di alam akhirat dan hidup dalam kesatuan jasmani d a n roh di
alam dunia, dan dua mati itu adalah mati dalam arti berpisah
dengan T u h a n n y a ketika ia berada di alam dunia d a n mati dalam
arti berpisah rohnya dari jasmaninya.

230

PNRI
Dalam mitos disebutkan bahwa manusia semula dalam hidup-
nya di dunia tidak mengalami keadaan mati, demikian keadaan
tua, dan lain-lain keadaan seperti: sakit, m a k a n dan minum, susah
dan senang, tidak mengalami h u b u n g a n seks, dan sebagainya,
tetapi karena akibat dari kelalaiannya sendiri atas godaan dari
makhluk lainnya maka kemudian manusia itu harus menjalani ke-
adaan baru. Dari keadaan yang hidup menjadi mati, dari keadaan
yang m u d a menjadi tua, dari keadaan tidak sakit menjadi sakit
dan seterusnya, dari keadaan suci menjadi berdosa. Agar manusia
kembali menjadi suci ia harus menjalani proses mati.*'
Di sini tampak bahwa proses hidüp dan maut bagi manusia
merupakan jalan untuk memanusiakan dirinya. Seperti orang dari
kebudayaan suku-suku bangsa lain pada umumnya orang Tolaki
memandang manusia itu bukan dari segi bobot tubuhnya atau jas-
maninya, tetapi dari segi sikap, tingkah laku dan perbuatannya.
Jika sikap, tingkah laku dan perbuatan seseorang selalu sesuai
dengan norma adat dan agama serta mengikuti a j a r a n - a j a r a n
leluhur, maka itulah yang disebut oleh orang Tolaki "petono,"
yakni orang yang memiliki sifat-sifat manusia sesungguhnya.
Perincian dari sifat-sifat manusia yang sesungguhnya itu, menurut
orang Tolaki, adalah: mombemeiringako (mengasihi sesama
manusia), pesawa (dermawan, suka menolong, pemaaf); sabara
(sabar, sederhana, tidak berlebih-Iebihan), merou (sopan santun)
dan mota'u mondotoi (pandai menempatkan sesuatu pada wajar-
nya); mepori (kehati-hatian, berlaku pada tempatnya); dan mom-
bona'ako (menghargai).

3. DUNIA- N Y A T A D A N D U N I A GAIB: K E K U A T A N SAKTI


D A N K E K U A T Á N SOSIAL
Di atas saya telah mengemukakan beberapa unsur dari dunia
nyata menurut sistem pengetahuan orang Tolaki, demikian juga

*) Konsep orang Tolaki mengenai T u h a n , dewa, roh dan kesaktian pernah j u g a ditulis oleh
M . J . Gouweloos (1937); dan konsep orang Jawa mengenai hal yang sama (lihat Koen-
tjaraningrat 1980); dan berbagai tulisan mengenai konsep-konsep T u h a n , dewa, dan roh
menurut banyak suku bangsa di dunia sederhana (lihat W . A . Lessa & E . Z . V o s ' i979).

231

PNRI
beberapa unsur dari dunia gaib menurut sistem keyakinan orang
Tolaki. P a d a alinea-alinea di bawah, saya akan berusaha menun-
j u k k a n bagaimana hubungan antara dunia nyata dengan dunia
gaib, yang menurut orang Tolaki, gejala timbulnya kekuatan sakti
pada diri seseorang manusia, dan kekuatan sosial pada diri
seorang raja, pada suatu istana sebagai pusat kerajaan, atau suatu
wilayah kerajaan sebagai pusat alam semesta, justru adalah akibat
dari adanya hubungan yang erat antara dunia nyata dan dunia
gaib.*)

3.1. Konsepsi Orang Tolaki mengenai Kekuatan Sakti


Bagi orang Tolaki, kesaktian adalah keadaan diri seseorang
yang m e n u n j u k k a n keluarbiasaan. Orang yang sakti adalah orang
yang m a m p u melakukan apa-apa yang tidak dapat dilakukan oleh
kebanyakan orang. Orang yang m a m p u melakukan hal-hal yang
luar biasa itu disebut tono kobaraka (orang yang diberi berkah
oleh T u h a n , dewa, dan roh nenek moyang). Berkah itu diberikan
kepadanya karena ia tekun dalam mencari ilmu, sabar dalam pen-
deritaan, sederhana dalam hidup, taat pada aturan adat dan nor-
ma agama, dan m e n j a u h k a n diri dari perbuatan yang tercela.

Kemampuan yang luar biasa yang dimiliki oleh orang yang sakti
itu sesungguhnya, kata orang Tolaki, adalah kekuatan gaib yang
timbul dari dalam batinnya berkat adanya pertolongan T u h a n ,
dewa, dan segala roh yang dimiliki oleh makhluk hidup lainnya
dan oleh segala benda-benda. Oleh karena itu mereka yang sakti
itu disebut juga orang yang katutungia (orang yang diberi per-
tolongan), yakni pertolongan baginya untuk melakukan hal-hal
yang luar biasa, yang tidak dapat dilakukan oleh kebanyakan
orang. Kemampuan yang luar biasa itu misalnya: merubah diri
dari tampak menjadi menghilang tanpa beralih tempat, menem-
puh perjalanan j a u h yang biasanya dilakukan dalam beberapa hari
ternyata hanya sekejap mata, mengangkat barang berat yang

*) Mengenai kekuatan sakti dan kekuatan sosial pernah diuraikan oleh Geertz, dalam
bukunya LocaI Knowledge (1983: 121-164).

PNRI
biasanya memerlukan banyak tenaga ternyata dapat dilakukan
oleh seorang diri, menangkap dan menjinakkan kerbau liar
dengan m u d a h tanpa memerlukan waktu yang panjang, dapat me-
redakan kobaran api dan angin topan, dapat memberhentikan
luapan air banjir, dapat meredahkan huru hara dengan m u d a h ,
dan sebagainya. Orang yang sakti itu pula tidak diganggu oleh roh
jahat, dan lain-lain hai yang mencelakakan dirinya, karena semua-
nya, kata orang Tolaki, bersikap bersahabat dengan orang yang
sakti itu, dan sebaliknya.

Kesaktian merupakan kondisi diri seseorang yang diperlukan


oleh kehidupan masyarakat. Oleh karena itu diharapkan kepada
seseorang yang menjadi pemimpin atau tokoh masyarakat untuk
menjadi orang yang sakti. Dalam hubungan ini m a k a pada zaman
dahulu apabila seseorang hendak dipersiapkan untuk menjadi
pemimpin, ia diharuskan pergi bertapa di atas gunung. Dalam per-
tapaannya itu ia mengalami aneka ragam cobaan fisik dan mental
yang mengerikan, sehingga tidak banyak orang yang berhasil lulus
dalam pertapaannya. Bagi mereka yang lulus dalam cobaan-coba-
an tersebut kemudian pada akhirnya menerima ilmu dan petunjuk
dari T u h a n , dewa, atau roh nenek moyangnya. Ilmu dan petunjuk
inilah yang kemudian diamalkan sehingga seseorang pertapa men-
jadi sakti. Selain petunjuk dalam bentuk cara bersikap dan ber-
buat, juga dalam bentuk pemberian benda yang sifatnya keramat,
seperti misalnya motia (batu bulat kecil yang dipandang sebagai
inti batu, roh batu). Setiap makhluk ciptaan T u h a n memiliki inti
batunya, seperti: motia api (inti api), motia o pua (inti angin),
motia iwoi (inti air), motia wuta (inti tanah), motia mbinopaho
(inti tumbuh-tumbuhan), motia nggo/ele (inti binatang), dan
motia lawu (inti besi), serta motia ndono (inti manusia). Siapa dari
seseorang yang memiliki sesuatu jenis dari batu bulat kecil ini dan
dibawanya selalu di mana saja ia pergi m a k a ia tidak akan meng-
alami gangguan yang disebabkan oleh sesuatu jenis makhluk
tertentu.*'

*) Bahan uraian mengenai kekuatan sakti ini bersumber dari N d a u seorang u l a m a dan
dukun.

233

PNRI
3.2. Konsepsi Orang Tolaki mengenai Kekuatan Sosial

Kekuatan sakti yang dimiliki oleh seseorang itu kemudian men-


jadi kekuatan sosial apabila ia menjadi seorang pemimpin. Ia
m a m p u berbuat untuk kepentingan hidup orang banyak yang di-
pimpinnya, karena selain ia mendapatkan petunjuk dari T u h a n ,
dewa-dewa, dan makhluk halus, tetapi ia juga m e n d a p a t k a n
dukungan dari orang banyak yang dipimpinnya. Orang Tolaki
memandang seorang r a j a sebagai pu'uno kasu (induk pohon,
pohon besar). Dengan induk pohon di sini dimaksud pusat dari
segala sesuatu yang hidup dalam wadah dunia ini. " P o h o n " di sini
dikonsepsikan oleh Tolaki sebagai simbol " h i d u p " .
R a j a sebagai simbol " p u s a t " adalah seorang manusia yang
m a m p u menghimpun segala potensi kehidupan yang ada dalam
wilayah kekuasaannya. Menurut konsepsi orang Tolaki potensi itu
selain manusia juga segala makhluk hidup lainnya. Menurut ke-
yakinan orang Tolaki kemampuan seorang r a j a untuk menghim-
pun segala kekuatan yang ada dalam masyarakat wilayah kekuasa-
annya karena r a j a itu selain pada dirinya bersemayam roh ilahi, ia
juga selalu dalam pengawalan dewa-dewa dari seluruh penjuru
alam, segala makhluk halus, dan segala benda-benda yang ada
di sekitarnya.

Itulah sebabnya sehingga orang Tolaki kadang-kadang menye-


but rajanya o ombu (Tuhan), sang ia (dewa), makuwali (bersaha-
bat dengan makhluk halus). Atas dasar keyakinan mereka itu,
maka timbullah sikap dan perlakuan yang mengelu-elukan raja-
nya. Kenyataan-kenyataan sikap dan perlakuan tersebut tercermin
di dalam suasana sakral di m a n a sewaktu-waktu rajanya mengada-
kan kunjungan resmi di kampung-kampung. R a j a itu disambut
dengan banyak acara yang menyenangkan dan p e r t u n j u k a n yang
indah-indah. Hadirnya seorang raja di tengah-tengah masyarakat
dirasakan oleh rakyat sebagai berkah dan rejeki besar yang turun
dari langit. Rakyat merasa diri lebih bersemangat, kuat, lega
dadanya, untuk melanjutkan kehidupannya.
Selain kekuatan sosial itu dicerminkan pada diri r a j a sebagai
simbol " p u s a t " , juga dicerminkan pada istana raja, pada wilayah

234

PNRI
sekitar istana, dan pada lokasi tertentu yang ditetapkan sebagai
pusat bumi dalam wilayah kerajaan. N a m a istana R a j a Konawe
disebut komali (rumah tempat bersemayam raja), dan nama istana
R a j a Mekongga disebut laika'aha (rumah besar tempat berkumpul
orang banyak). Di sekitar komali terdapat suatu lokasi yang di-
pandang sebagai pusat Kerajaan Konawe ialah inolobu Nggandue
(suatu belukar tempat hidupnya binatang anuang), dan di sekitar
laika'aha terdapat suatu lokasi yang dipandang sebagai pusat Ke-
r a j a a n Mekongga ialah i bende (suatu tempat yang berbenteng).
Nama-nama lokasi ini adaiah nama simbolik. Binatang anuang
adaiah simbol yang mengekspresikan " k e k u a t a n " ; demikian hal-
nya benteng adaiah simbol yang mengekspresikan pusat kekuatan.
Hingga kini di kedua tempat itu masih biasa dilakukan upacara-
upacara sakral oleh orang Tolaki, guna membangkitkan kembali
rasa kekuatan sosial sebagaimana dicerminkan oleh makna sim-
bolik dari kedua lokasi tersebut.*'

4. U P A C A R A - U P A C A R A K E A G A M A A N
Sistem keagamaan orang Tolaki yang telah saya uraikan di atas
dalam bentuk konsepsi-konsepsi mereka mengenai alam, mänusia,
T u h a n , dewa-dewa, makhluk halus, 7 kekuatan sakti dan kekuatan
sosial merupakan sistem budaya orang Tolaki. Sistem itu terdiri
dari unsur-unsur yang mempunyai aspek p r o f a n , tetapi juga aspek
keramat, yang oleh E. Durkheim disebut sacré apabila unsur-
unsur itu dihinggapi oleh emosi keagamaan. Sistem upacara meru-
pakan salah satu dari lima komponen sistem religi. Empat lainnya
ialah: emosi keagamaan, sistem keyakinan, sistem peralatan ritus
dan upacara, dan umat agama yang sering mengadakan upacara-
upacara (Koentjaraningrat 1980: 80-83)

4.1. Sistem Upacara Keagamaan Orang Tolaki


Dalam membicarakan sistem upacara keagamaan orang Tolaki,
saya akan menyebutkan beberapa macam upacara yang bersifat

*) Bahan tersebut bersumber dari A. Hamid Hasan, dan M u h a m m a d Saleh, keduanya


telah pernah saya sebut pada uraian terdahulu.

235

PNRI
" r i t u s " , yaitu yang bersifat perpisahan menjadi satu dengan yang
bersifat peralihan; dan yang " u p a c a r a " , yakni yang besifat inte-
grasi dan pengukuhan. ^ Kecuali itu saya juga akan menyebutkan
sarana dan peralatan upacara, waktu upacara, dan peserta upa-
cara selaku penganut sistem keyakinan tertentu.
Upacara yang bersifat perpisahan menjadi satu dengan yang
bersifat peralihan adalah mesosambakai (upacara kelahiran),
mepokui (potong rambut), manggilo, mesuna, mewaka (upacara
sunatan), mateaha (upacara kematian), semua macam upacara
pertanian, yakni: merondu (upacara p e m b u k a a n hutan perladang-
an), mombotudu (upacara penanaman padi di ladang), mombe-
wulahako (upacara pemotongan padi di ladang), dan monahu
nda'u (upacara tahun perladangan), dan semua macam upacara
tolak bala dan syukuran, yakni: mosusu tombi-tombi monduha
bangga-bangga (upacara pencegahan wabah penyakit), dan mo-
sehe (upacara pensucian diri karena melanggar adat). Upacara
mosehe ini ada lima macam, yakni: mosehe ndi'olu (upacara pen-
sucian diri dengan m e m a k a i telur), mosehe manu (upacara pensu-
cian diri dengan memakai ayam), mosehe ngginiku (upacara pen-
sucian diri dengan memakai kerbau), mosehe dahu (upacara pen-
sucian diri dengan memakai anjing), dan mosehe ndono (upacara
pensucian diri dengan memakai orang) sebagai korban upacara.**>
Upacara yang bersifat integrasi dan pengukuhan adalah mepakawi
(upacara perkawinan), pombotoroa mokole (upacara pelantikan
r a j a di zaman dahulu), mombesara (upacara penyambutan raja
atau pejabat pemerintah), dan mekindoroa (upacara perdamaian).

Selain menggunakan alat-alat upacara berupa hewan korban


tersebut di atas, juga memakai sejumlah jenis alat-alat upacara
asal dari benda-benda alamiah, t u m b u h - t u m b u h a n , tanaman, dan
asal dari alat-perlengkapan hidup. Alat-alat upacara asal dari
benda-benda alamiah adalah: o wuta (tanah); mbera hanu motoha

*) P e m b e d a a n yang seksama a n t a r a " r i t u s " dan " u p a c a r a " (lihat A. Van Gennep (1965)
**) Pemakaian telur, jenis-jenis hewan, dan orang sebagai korban dalam upacara tertentu
tersebut mengandung m a k n a simbolik. Telur adalah lambang kesucian, ayam adalah
lambang penghubung a n t a r a dunia nyata dengan dunia gaib, kerbau adalah lambang
k e m a k m u r a n , anjing adalah lambang perdamaian dan kerukunan, d a n orang adalah
lambang kedamaian negeri.

236

PNRI
(besi, emas, perak); watu sanggoleo mbae (batu kwart); motia
(batu bulat kecil); iwoi (air); o api (api); o pua (angin, yàng di-
w u j u d k a n oleh tiupan dukun). Alat-alat upacara asal dari tum-
b u h - t u m b u h a n adalah: roramo (sejenis t u m b u h a n subur), towoa
(sejenis t u m b u h a n serat yang subur), kowuna aso lä (sepotong
bambú), o kudu (kencur), daria (bangle), lo'io (jahe), kaluku
(kelapa), inea (pinang), o bite (sirih), o wule (kapur sirih), inoso
(tembakau), o loho (sejenis kedondong), o pundi (pisang), tawaro
(sagù).*» Alat-alat upacara asal dari alat-perlengkapan hidup
adalah: ta'awu (parang panjang), kinia (perisai), o golo (keris), o
piso (pisau), o benggi (tempayan), karandu (gong), o eno (kalung
emas), kind, (nasi), lapa-lapa (nasi rasul), kotupa (nasi ketupat),
paedai (nasi ketan), pongasi (minuman keras dari beras beragi), o
lu'wi (minyak kelapa), lowani (ikat kepala dari kain putih), ula-ula
(orang-orangan dari gulungan benang putih), buleka (usungan
mayat), o ko io, o tema (kain penggendong bayi).
Waktu-waktu yang baik untuk melakukan sesuatu upacara ada-
lah hari-hari yang dianggap baik, yakni: mo'oru-orumbusu (pagi
menjelang matahari terbit), telala oleo (matahari mulai naik), la
rumorambi'i tonga oleo (menjelang tengah hari), kiniwia (sore
menjelang malam), mombu'u wingi (permulaan malam), mata
loso (hari bulan pertama), tombarakawe (hari bulan keempat),
tombara tindo (hari bulan kedelapan), tombara o mehe (hari
bulan keenam belas), dan mata nde'ue (hari bulan kedua puluh
empat).
Tempat-tempat mengadakan upacara adalah: i laika (di rumah),
i koburu (di kubur), i tonga nggambo (di tengah kampung), i
puheno o wuía (di pusat tanah), i ahorna (di hutan), ipu'u nggasu
(di bawah pohon), i kumapo (di gua), d a n i S/o (di sungai).
Peserta dari sesuatu upacara mungkin hanya dihadiri oleh para
anggota keluarga inti, mungkin hanya para anggota keluargà
dalam hubungan saudara sepupu, mungkin dihadiri oleh para ang-
gota asal "dari satu nenek moyang, dan kadang-kadang harus di-
hadiri oleh seluruh warga sebuah'kampung, atau warga dari suatu

*) Sebagian dari alat upacara asal dari t u m b u h a n (lihat G a m b a r 2 dan G a m b a r 8).

237

PNRI
Cambar 17 Dua jenis lumbuhan alai upacara

238

PNRI
wilayah kecamatan atau beberapa wilayah kecamatan, dan ada
upacara yang harus dihadiri oleh sejumlah anggota dari e'mpat
wilayah k e r a j a a n .
Suatu hal lagi yang perlu saya kemukakan di sini dalam
kerangka suatu upacara, adalah adanya sejumlah perlakuan,
seperti: peserta upacara duduk berkeliling yang membentuk
lingkaran, pengucapan doa-doa dan mantera-mantera oleh se-
orang d u k u n pada upacara tolak bala dan syukuran, dan pada
upacara pensucian, adanya dialog antara d u a juru bicara dan sa-
ling memberi minum satu sama lain dalam upacara perkawinan
atau dalam upacara perdamaian, adanya peristiwa di mana semua
peserta upacara saling berpegangan satu sama lain dan dengan
dukun, adanya tarian masai pada upacara tahunan pertanian, dan
adanya seorang tokoh adat yang mengucapkan kata-kata penyum-
pahan dalam pelantikan seorang mokole di zaman dahulu.

4.2. Fungsi Upacara pada Orang Tolaki


Apabila dikaji maksud dan t u j u a n dari sesuatu upacara tersebut
di atas dengan mengaitkannya dengan makna simbolik dari tiap
komponennya, yakni: alat-alat upacara, waktu dan tempat upa-
cara, manusia sebagai peserta upacara, m a k a sesuatu upacara
dalam sistem keagamaan orang Tolaki dilakukan untuk mewujud-
kan sesuatu atau sejumlah asasAsas-asas itu adalah: asas per-
gantian-pergantian status sosial, asas regenerasi, asas timbal-balik
(reciprocity, inversion, reversal), dan asas integrasi.
Asas pergantian status sosial tampak pada upacara-upacara
ritus dalam rangkaian lingkaran hidup seseorang. P a d a upacara
kelahiran secara resmi status sosial dari seorang suami atau istri
bergeser menjadi seorang ayah atau ibu, demikian seorang mertua
menjadi kakek atau nenek, dan seterusnya. Begitu pula pada
upacara sunatan seorang anak bergeser dari status kanak-kanak
menjadi remaja. Seterusnya pada upacara perkawinan seorang

*) Asas-asas dari suatu upacara telah pernah dikaji oleh p a r a ahli antropologi, dan
sosiologi, a n t a r a lain: R. Hertz (1960); A. van Gennep (1960); E . R . Leach (1961);
Geertz (1973); J . J . Fox (1973); Koentjaraningrat (1980).

239

PNRI
remaja putra atau remaja putri dari menjadi anggota keluarga inti
menjadi seorang suami atau istri atau menjadi anggota keluarga
luas atau anggota kelompok kerabat.
Asas regenerasi tampak pada upacara pergantian musim, misal-
nya pada upacara pergantian tahun perladangan, dan pada upa-
cara kematian. P a d a upacara-upacara tersebut diciptakan sema-
ngat sosial dalam jiwa para warga masyarakat untuk menghadapi
tiap musim t a n a m yang baru, atau para warga keluarga yang ke-
matian untuk menghadapi kehidupan keluarga selanjutnya.
Asas timbal-balik*' tampak dalam upacara syukuran dan tolak
bala antara manusia dengan makhluk halus atau dewa atau T u h a n
terjadi hubungan timbal-balik antara satu sama lain. Manusia
dalam upacara itu mempersembahkan sajian-sajian, mantera, dan
doa-doa kepada makhluk halus, dewa, T u h a n , karena hal itu di-
perlukan oleh mereka, dan sebaliknya mereka memberi berkah
dan pengampunan kepada manusia atas segala dosanya. Sajian
adalah simbolik komunikasi.
Asas timbal-balik juga tampak pada unsur waktu dari upacara,
yakni asas yang dimaksudkan oleh Leach (1961) dengan istilah
"inversion," dan oleh Needham (1979) dengan istilah "reversal".
Dengan asas inversion ini dimaksud bahwa suatu upacara tidak
lain dari peristiwa peringatan waktu berawalnya suatu periode
kehidupan baru dan sekaligus peristiwa peringatan waktu ber-
akhirnya suatu periode kehidupan yang lalu, atau sebaliknya.
Asas semacam ini tampak pada upacara, misalnya upacara ke-
lahiran bayi, yang di samping m e w u j u d k a n peristiwa akhir waktu
kehidupan di rahim ibu juga terutama m e w u j u d k a n peristiwa awal
waktu kehidupan di dunia, dan pada upacara kematian di samping
m e w u j u d k a n akhir waktu kehidupan di dunia juga mewujudkan
awal waktu kehidupan di akhirat. Asas reversal atau asas perpu-
taran waktu " a w a l " dan " a k h i r " dan sebaliknya tampak pada
upacara peringatan pergantian musim tanam misalnya upacara
akhir tahun panen dan awal pembukaan hutan perladangan.

*) Asas timbal-balik di sini saya gunakan untuk pengertian yang sama dengan istilah
reciprocily (Malinowski 1931; Levi-Strauss 1949; Van Baal 1975).

240

PNRI
Asas integrasi yang pernah dikemukakan oleh Geertz (1973),
yakni integrasi antara etos dan pandangan hidup, pada upacara
orang Tolaki asas integrasi itu tampak pada keseluruhan aspek
dari setiap upacara. Aspek-aspek itu adalah: aspek etik yang diwu-
j u d k a n dalam tata cara upacara, tingkah laku manusia peserta
upacara, maksud dan t u j u a n upacara, mantera dan doa-doa;
aspek estetik yang diwujudkan dalam perhiasan dan komposisi
tempat upacara; aspek pengetahuan mengapa hewan korban,
t u m b u h - t u m b u h a n dan tanaman serta alat-alat perlengkapan
harus dihadirkan dalam suatu upacara dan peranan dukun; aspek
kepercayaan dalam wujud kontak manusia dengan makhluk
halus, dewa-dewa atau T u h a n . Asas integrasi dari suatu upacara
terletak pada emosi keagamaan yang membangkitkan rasa keke-
ramatan (sacre) p a d a pikiran dan tingkah laku keagamaan (Koen-
tjaraningrat 1980). Dalam hal ini-Koentjaraningrat dipengaruhi
oleh E. Durkheim.

5. H U B U N G A N A N T A R A K O S M O L O G I D A N SISTEM KE-
A G A M A A N ORANG TOLAKI DENGAN KALO
H u b u n g a n antara kosmologi dan sistem keagamaan orang
Tolaki dengan kalo terletak dalam tiga hal, yaitu kalo sebagai sim-
bol yang mengekspresikan bentuk dan susunan alam semesta dan
isinya, baik alam nyata m a u p u n alam gaib, bentuk tubuh manusia
dan susunannya; dan peranan kalo dalam upacara; serta terletak
pada pandangan orang Tolaki bahwa kalo itu adalah benda
keramat (sacred).
Lingkaran rotan adalah simbol dunia atas, kain putih adalah
simbol dunia tengah, dan wadah anyaman adalah simbol dunia
bawah. Kadang-kadang juga informan mengatakan bahwa ling-
karan rotan itu adalah simbol matahari, bulan, dan bintang-
bintang; kain putih adalah langit, dan wadah anyaman adalah
simbol permukaan bumi. Mereka juga mengekspresikan bahwa
lingkaran rotan adalah simbol sangia mbu 'u (dewa tertinggi atau
Allah Taala), sangia i losoano oleo (dewa di timur), dan sangia i
tepuliano oleo (dewa di barat); kain putih adalah simbol dari
guruno o wuta sangiano wonua (dewa penguasa kehidupan di

241

PNRI
bumi), d a n wadah anyaman adalah simbol sangia i puri wuta
(dewa di dasar bumi). Kalo juga adalah simbol manusia. Lingkar-
an rotan adalah simbol kepala manusia, kain putih adalah simbol
badan, dan wadah anyaman adalah simbol tangan dan kaki (ang-
gota).* }
H u b u n g a n berikutnya adalah terletak pada peranan kalo dalam
upacara. Dalam setiap upacara yang diadakan, kalo selalu diguna-
kan. T a n p a kalo, suatu upacara tidak jadi. Kalo adalah inti upa-
cara. Kalú sebagai inti upacara mengekspresikan unsur-unsur dan
hubungan antara unsur-unsur upacara yang bersifat timbal-balik
dan bersifat integrasi, dan juga menggambarkan maksud dan tu-
j u a n upacara. H u b u n g a n antara unsur-unsur upacara yang ber-
sifat timbal-balik itu diekspresikan di dalam bentuk kalo melalui
simpulnya, dan hubungan antara unsur-unsur upacara yang ber-
sifat integrasi diekspresikan di dalam posisi kalo yang ditem-
patkan di tengah-tengah ruang upacara. Maksud dan t u j u a n suatu
upacara pada umumnya ingin mewujudkan rasa solidaritas sosial
di kalangan peserta upacara, rasa kesatuan dan persatuan, dan
mewujudkan cita-cita kesucian dan ketenteraman, k e m a k m u r a n
dan kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat. Maksud dan tu-
j u a n upacara diekspresikan di dalam kalo melalui bentuknya yang
lingkaran sebagai lambang kesatuan dan persatuan, melalui atri-
butnya kain putih sebagai lambang kesucian dan ketenteraman,
dan melalui atributnya wadah anyaman dari tangkai daun palam
sebagai lambang kemakmuran dan kesejahteraan. Selain maksud
dan t u j u a n upacara diekspresikan di dalam bentuk atribut kalo
terurai di atas, juga diekspresikan di dalam m a k n a dari mantera-
mantera dan doa-doa yang diucapkan oleh d u k u n yang memimpin
suatu upacara (Lihat Lampiran XVI).
Akhirnya hubungan yang paling erat antara sistem keyakinan
orang Tolaki dengan kalo itu terletak pada pandangan orang
Tolaki bahwa kalo itu adalah suatu benda keramat. P a n d a n g a n ini
bersumber dari konsepsi mereka yang menggambarkan kalo itu
sebagai representasi dari nenek moyang mereka. Bagi orang
Tolaki menghargai, mensucikan dan mengkeramatkan kalo berar-

*) Lihat G a m b a r 19.

242

PNRI
ti mentaati ajaran-ajaran nenek moyang mereka. Hal itu berarti
berkah bagi kehidupan mereka, dan apabila sebaliknya berarti
kualat, durhaka yang akan menimpa mereka.
Jikalau kita memperhatikan ketiga hal tersebut di atas yang me-
n u n j u k k a n letak hubungan antara kosmologi dan sistem keagama-
an orang Tolaki dengan kalonya, maka kita dapat menyimpulkan
bahwa kalo itu tidak hanya sebagai alat ritus dan upacara tetapi
sekaligus sebagai simbol yang memformulasikan konsepsi-kon-
sepsi orang Tolaki mengenai alam semesta dan isinya, dan-meman-
tapkan perasaan-perasaan dan motivasi-motivasi orang Tolaki un-
tuk melakukan sesuatu setelah mereka mengadakan suatu upacara
dengan menggunakan kalo. Orang Tolaki merasa aman dan
tenteram dalam hidupnya bersama dengan kalonya. Di sini
terungkap pandangan Geertz yang menganggap religi sebagai
suatu sistem simbol (1973: 90).

6. A G A M A ISLAM D A N L A I N - L A I N A G A M A DI SULA-
WESI T E N G G A R A
Dalam tabel 9 di bawah ini m e n u n j u k k a n bahwa jumlah peng-
anut agama Islam di Sulawesi Tenggara adalah 906.200 jiwa, dan

Wadah anyaman

Gambar 18 Kalo dan wadahnya yang melambangkan manusia

243

PNRI
jumlah penganut dari lain-lain agama, adalah masing-masing:
Katolik 6.275 jiwa; Kristen lainnya 16.291 jiwa; H i n d u 12.139
jiwa; d a n B u d h a 366 jiwa. Dengan j u m l a h penganut dari tiap
agama tersebut t a m p a k b a h w a a g a m a Islam m e r u p a k a n agama
yang mayoritas (96,27%); menyusul a g a m a Kristen lainnya
(01,73%); a g a m a H i n d u (01,29%); a g a m a Katolik (0,67%); d a n
agama B u d h a (0,04%).
Dalam kehidupan sehari-hari dari u m a t beragama di Sulawesi
Tenggara t a m p a k adanya gejala saling m e n u n j u k k a n sikap dan
rasa toleransi di a n t a r a sesamanya. Gejala itu t a m p a k misalnya
dalam suasana peringatan Hari-hari Besar A g a m a , d a n dalam
suasana k u n j u n g m e n g u n j u n g r u m a h p a d a H a r i L e b a r a n bagi
A g a m a Islam dan p a d a "Hari Natal d a n T a h u n Baru bagi agama
Kristen misalnya.

Tabel 8
JUMLAH PENGANUT DARI TIAP A G A M A DI SULAWESI TENGGARA
1980

Kabupaten Agama Jumlah


Kota M a d y a Kristen
Islam Katolik Hindu Budha
lainnya lainnya
Buton 312.711 1.410 1.647 842 149 316.759
Muna 171.339 1.877 755 24 7 174.002
Kendari 290.214 1.880 7.290 6.710 182 306.276
Kolaka 131.936 1.108 6.599 4.563 28 144.234

Jumlah 906.200 6.275 16.291 12.139 366 941.271

Sumber: Biro Pusat Statistik (BPS) Jakarta 1980

244

PNRI
VIII
KESENIAN TRADISIONAL ORANG TOLAKI

Dalam mendeskripsi kesenian orang Tolaki sebagai ekspresi hasrat


mereka a k a n keindahan, saya a k a n membatasi diri p a d a (l)rseni
sebagai ekspresi keagamaan; (2) prinsip-prinsip p e n a t a a n dan
perhiasan ruang; d a n (3) beberapa bentuk kesenian, yaitu: seni di-
sain d a n seni rias, seni vokal, seni instrumental, seni sastra, dan
seni tari. Seni disain d a n seni rias misalnya a k a n d i k e m u k a k a n me-
ngenai jenisnya, b a h a n p e m b u a t a n n y a d a n b a g a i m a n a motif per-
hiasannya; demikian seni vokal mengenai jenisnya dan fungsinya,
seni instrumental mengenai m a c a m n y a d a n b a h a n p e m b u a t a n n y a
serta b e n t u k n y a , seni sastra mengenai jenisnya dan isinya; dan seni
tari j u g a mengenai macamnya d a n cara m e l a k u k a n n y a . C a r a men-
deskripsi kesenian tradisional dari suatu suku bangsa mengikuti
cara yang biasa dilakukan oleh para ahli etnografi (Beals & Hoijer
1953: 596-627; Koentjaraningrat 1980: 395-397).

Kecuali itu a k a n diuraikan kesenian orang Tolaki itu sebagai


simbol komunikasi dalam usaha saya m e n u n j u k k a n bagaimana
h u b u n g a n a n t a r a kesenian orang Tolaki itu dengan kalo.

1. SENI S E B A G A I E K S P R E S I K E A G A M A A N
Seni sebagai ekspresi keagamaan telah d i t u n j u k k a n oleh para
ahli antropologi dalam kaitannya dengan upacara-upacara keaga-
m a a n . . Seni rias p a d a t u b u h manusia peserta u p a c a r a , d a n seni rias.
p a d a pakaian u p a c a r a m e n g g a m b a r k a n ekspresi k e a g a m a a n (Boas
1955; Levi-Strauss 1963). Dalam upacara sunatan misalnya p a d a
orang J a w a t a m p a k aneka-ragam penampilan seni yang mengeks-
presikan konsepsi mereka mengenai hal-hal yang b e r h u b u n g a n

245

PNRI
dengan sistem-sistem keagamaan mereka (Geertz 1945). Puisi pada
bahasa upacara orang Roti di Nusa Tenggara Timur mengeks-
presikan kepercayaan orang Roti mengenai nenek moyangnya
(Fox 1971; 1974).
i

P a d a orang Tolaki, seni sebagai ekspresi keagamaan tampak


pada beberapa macam seni, seperti: bahasa puisi pada lagu mito-
logi yang disebut lagu tebaununggu, d a n lagu isara (masing-
masing n a m a pahlawan yang melambangkan dewa bumi dan dewa
langit); tarian p e m u j a a n yang disebut tarian lariangi (tarian pemu-
jaan seorang raja yang diperlakukan sebagai dewa di bumi), dan
tarian /w/o sangia (tarian berdoa kepada roh nenek moyang atau
kepada dewa agar penyakit yang diderita seorang raja sembuh
adanya); dan tarian umoara (tarian perang yang mengekspresikan
kekuatan sakti, dan kekuatan sosial pada diri seorang pahlawan
yang siap untuk terjun ke medan perang). Selain itu tampak juga
pada upacara-upacara sunatan, potong rambut, dan pada kemati-
an. Beberapa seni rias tubuh dan pakaian seorang anak yang
disunat, hidangan makanan bersanji pada potong rambut, dan
dekorasi dan hiasan rumah pesta kematian pada orang Tolaki,
semuanya mengekspresikan sistem keagamaan mereka. Rias tubuh
pada anak yang akan disunat disebut sadaki (rias pada paras),
kamea-mea (gicu pada bibir), o tila (penghitam alis), tirangga (cat
merah pada kuku), dan sanggula (daun yang harum pada sanggul
rambut atau pada kopiah) semuanya mengekspresikan kecantikan
seorang gadis bidadari dari langit yang dipuja oleh orang Tolaki,
yang disebut Wekoila alias Wulele Sanggula. Hidangan
makanan yang beraneka ragam bentuk warnanya, yang disebut
kina barasandi (nasi bersanji), lapa-lapa (nasi lebaran), ketupa
nabi (nasi rasul), yang t a m p a k n y a indah dan menyenangkan
semuanya mengekspresikan doa semoga anak yang dipotong ram-
butnya itu menjadi manusia yang murah rejeki. Demikian pula
dekorasi dan perhiasan rumah kematian, yang disebut o tenda
(langit-langit), tabere (takbir), dan kulambu (tirai empat sisi din-
ding kamar), semuanya mengekspresikan suasana keindahan dan
kemegahan rumah roh orang mati di atas kayangan.

246

PNRI
2. PRINSIP-PRINSIP PENATAAN DAN PERHIASAN
RUANG
Seni dalam ruang dalam bentuk penataan dan perhiasan ruang
telah dilihat oleh F. Boas, dalam bukunya Primitive Art (1955).
Levi-Strauss (1963) dalam tulisannya mengenai the Arts of Asia
and America memperlihatkan beberapa lukisan mengenai penata-
an ruang dan perhiasan di dalamnya, baik yang diambilnya dari
buku Boas di atas m a u p u n yang dikumpulkannya sendiri, dan me-
ngomentari lukisan-lukisan itu. Dalam komentarnya itu tampak
bahwa tata ruang dan isinya serta perhiasan di dalamnya meng-
gambarkan hubungan bersiku-siku atau hubungan segi dan sudut.
Segi dan sudut suatu ruang terdiri dari unsur-unsur titik dan garis,
yang dalam peranannya keduanya dapat saling bertukar. Garis di-
tentukan oleh dua titik, dan titik merupakan interseksi dari dua
garis. Posisi garis-garis dapat vertikal, horisontal, dan silang baik
secara paralel m a u p u n secara oposisi. Posisi garis-garis inilah yang
menata suatu ruang dengan isinya. Ia juga menyebutkan beberapa
jenis perhiasan ruang, seperti: gambar binatang singa, ular,
kodok, siput, dan lain-lain binatang, yang menggambarkan
makna simbolik tertentu (Levi-Strauss 1963: 249-268).
P e n a t a a n ruang dan perhiasan di dalamnya pada seni disain dan
seni rias, serta seni dekorasi dalam kesenian tradisional orang
Tolaki tampak pada disain bumbungan r u m a h , disain periuk
tanah, dan rias leher dan lengan baju, yang disebut pinesowi atau
pinati-pati (lukisan hitam segi tiga); disain tikar yang disebut
sinemba (deretan garis berwarna hitam-merah-putih yang saling
berpotongan secara silang); disain sarung yang disebut barisi tolu
(garis-garis benang tiga berderet dengan aneka-ragam warna); di-
sain tenda dan tirai yang disebut niwunga-wungai (deretan kem-
bang teratai dan sejumlah segi empat dengan aneka-ragam warna);
dan disain pada wadah anyaman tempat meletakkan lingkaran
kalo, yang disebut pineta'ulumbaku (gambar tumbuhan pakis).
Disain bumbungan terdiri atas dua pasang garis sejajar meng-
ikuti papan bumbungan rumah. Pasangan pertama terletak pada
posisi di atas yang menggantung padanya sejumlah segi tiga sama

247

PNRI
kaki, dan pasangan kedua pada posisi di bawah yang mendukung
juga beberapa segi tiga sama kaki tetapi terbalik. Pasangan per-
tama adalah simbol-simbol: ayah, ibu, anak; dan pasangan kedua
adalah simbol-simbol suami, istri, mertua. Di sini tampak bahwa
disain bumbungan rumali adalah simbol-simbol susunan keluarga.
Disain ini juga ada pada periuk tanah dengan makna simbolik
yang sama.*)

Disain pada tikar terdiri atas tiga susun garis besar yang kedua
ujungnya runcirtg sebagai panah, dan pada tikar yang lain ketiga
susun garis besar tersebut di antara oleh dua kelompok garis, yang
masing-masing kelompok terdiri pula atas dua sub kelompok.
Setiap sub kelompok terdiri pula atas tiga garis. P a d a bagian atas
dari garis besar susunan pertama dan pada bagiari bawah dari
garis besar susunan ketiga terdapat dua pasang garis dua. Tiga
susun garis besar adalah simbol-simbol yang menggambarkan tiga
susunan tubuh manusia, yakni: kepala, badan, dan kaki; dan ada-
pun empat pasang garis tiga yang mengantarai tiga susun garis
besar adalah simbol-bimbol yang menggambarkan tiga-tiga ruas
dari dua tangan dan dua kaki. Sedangkan setiap kedua u j u n g
garis-garis yang merupakan panah adalah simbol-simbol yang
m e n u n j u k k a n keadaan orang tidur yang selalu memutar posisi
tubuh ke kiri dan ke kanan.

Disain pada sarung khususnya Sawu ulu (sarung berkepala) ter-


diri atas dua garis besar yang di antarai oleh tiga garis sehingga
tampaknya menjadi lima garis. Dua garis pertama lebih besar dari-
pada tiga garis berikutnya. Kelompok garis lima ini ada yang tegak
vertikal dan ada yang memanjang horisontal sehingga saling ber-
potongan satu sama lain. P a d a bagian sarung yang merupakan
kepalanya tampak tiga pasang garis tegak vertikal yang mengapit
dua ruang besar. Keenam garis tersebut masing-masing terdiri atas
lima unsur garis. Dalam kedua ruang besar masing-masing tampak
gambar-gambar yang merupakan tugu t u j u h tingkat sebanyak
sembilan buah dengan posisi horisontal. P a d a bagian atas dari tiap

*) Bahan ini bersumber dari Arsjamid, yang telah saya sering sebut di atas.

248

PNRI
tugu tersebut terdapat 14 kelompok garis e m p a t yang m e r u p a k a n
segi-segi empat d a n berderet ke atas. Di antara dari tiap tugu t u j u h
tingkat t a m p a k g a m b a r yang j u g a m e r u p a k a n keris.

Lima garis vertikal yang b e r p o t o n g a n dengan garis lima horison-


tal adalah simbol yang m e n g g a m b a r k a n b o b o t t u b u h manusia
yang dibatasi dengan sisi kanan-kiri d a n atas-bawah yang diselu-
bungi oleh empat p e n j u r u ruang: T i m u r - B a r a t d a n Utara-Selatan.
G a m b a r - g a m b a r tugu t u j u h tingkat yang terdapat dalam d u a
ruang besar dalam bagian kepala sarung adalah simbol-simbol
b o b o t t u b u h manusia, d a n bagian-bagiannya, yakni: kepala, te-
linga, leher, b a h u , d a d a , perut, p a h a , d a n betis. Keris dengan tiga
lekukannya adalah simbol dari tiga aspek rokhani,-yakni: pikiran,
perasaan, d a n k e h e n d a k . D u a ruang besar adalah simbol jasmani
dan rokhani, yang berkomposisi dengan tiga pasang garis lima ver-
tikal sebagai simbol-simbol: dunia nyata, dunia gaib, dan dunia
bayangan, yang meliputi d u a aspek manusia: jasmani d a n ro-
khani. Di sini t a m p a k p a d a kita b a h w a disain sarung sebagai sim-
bol adalah g a m b a r klasifikasi d u a dan tiga p a d a manusia dalam
h u b u n g a n n y a dengan alam. D a l a m h u b u n g a n ini ada u n g k a p a n
orang Tolaki yang berbunyi: sawundo wotolundo (sarung kita
adalah bobot t u b u h kita).

Disain p a d a tirai terdiri dari d u a garis vertikal dan d u a garis


horisontal yang m e m b e n t u k suatu segi e m p a t sama sisi. Di tengah
segi e m p a t ini terdapat g a m b a r kembang yang memenuhi ruang
segi e m p a t . Di dalam ruang segi e m p a t ini terdapat sebuah g a m b a r
kembang. P a d a tiap g a m b a r segi empat tersebut tergantung tiga
j u m b a i besar seperti dasi d a n di a n t a r a ketiganya tergantung pula
tiga u m b u l - u m b u l kecil, d a n p a d a u j u n g dari kelima j u m b a i ini
tergantung pula tiga u m b u l - u m b u l kecil yang juga berbentuk segi
tiga. P a d a tirai macam lain, j u m b a i yang bergantungan p a d a
bagian bawah segi empat adalah tiga untaian segi empat kecil
secara tersusun yang d i h u b u n g k a n dengan benang.

Segi empat sama sisi dengan kembang di dalamnya adalah sim-


bol ruang alam dengan segala isinya. Tiga j u m b a i besar yang di

249

PNRI
antarai oleh dua j u m b a i kecil adalah simbol-simbol matahari,
bulan, dan bintang.*'
Disain pada tenda terdiri dari sejumlah segi empat sama sisi
mengikuti model kain tenda itu sendiri yang segi empat sama sisi.
P a d a bagian tengahnya sebagai pusatnya yang juga segi empat
sama sisi terlukis kembang segi delapan. P a d a keempat sisi dari
pusat ini baik vertikal m a u p u n horisontal tampak deretan segi-segi
empat kecil sama sisi pula yang membentuk garis-garis sejajar,
dan pada bagian pinggirnya tampak tiga buah garis, yang satu
garis spiral, dan dua lainnya garis lurus. Deretan segi-segi empat
sama sisi tersebut pada masing-masing sisi pusat berjumlah enam.
Secara keseluruhan segi empat sama sisi ini menggambarkan
model wilayah pemukiman mereka yang berbentuk segi empat,
dan segi empat di dalamnya adalah gambaran model rumah dan
bagian-bagiannya yang berbentuk segi empat pula. Sedangkan
garis tiga yang menjadi pinggirnya adalah gambaran batas-batas
wilayah pemukiman dan sisi-sisi dari rumah dan kamar-kamarnya
yang mengikat isinya, yakni: manusia, susunan keluarga dan
unsur-unsur anggota rumah tangga.
Tenda semacam ini tidak selalu dipakai tetapi hanya khusus
pada saat pesta-pesta keluarga yang dihadiri oleh banyak keluarga
asal dari empat penjuru wilayah pemukiman. Model segi empat ini
jelas tampak dalam bentuk komposisi ruangan penempatan tamu
yang saling berhadap-hadapan. Di ruang tengah yang memisahkan
empat ruang tamu yang berhadap-hadapan tersebut digantung-
kanlah tenda ini. Ruang tengah inilah yang merupakan pusat
rumah pesta di m a n a segala macam pertemuan antara pengundang
dan undangan atau antara undangan dengan undangan dilakukan
di situ.
Mengenai disain wadah anyaman dengan makna simboli knya
telah saya kemukakan pada uraian mengenai hubungan antara
sistem kekerabatan orang Tolaki dengan kalo (lihat him. 204-211).
Suatu penataan ruang dan hiasan yang ada di dalamnya selalu
melekat warna-warna padanya. Orang Tolaki mengenai enam

*) Bahan ini bersumber dari Husen A. Chalik, yang telah sering disebut di atas.

250

PNRI
warna, yakni: momea (merah), mokuni (kuning), mowila (putih),
me'eto (hitam), maido (hijau), mo'uroro (biru), dan w a r n a kom-
binasi yang mereka sebut lai-lai (warna-warni dalam bentuk garis-
garis) d a n kalanggari (warna-warni dalam bentuk kembang).
Semua w a r n a tersebut secara simbolik m e n g a n d u n g m a k n a ter-
tentu.*'
Bagi orang Tolaki sesuatu warna sebagai simbol tidak hanya
m e n g a n d u n g satu m a k n a tetapi lebih dari satu m a k n a . M e n u r u t
p e n g a m a t a n saya adanya beberapa m a k n a dari suatu w a r n a seba-
gai simbol m e r u p a k a n akibat dari cara berpikir mereka yang
m e m a n d a n g sesuatu m a k n a dalam asosiasi m a k n a yang lain. War-
na m e r a h adalah lambang d a r a h , matahari, r a j a , api, m a r a h ,
keberanian, kekerasan, p e r j u a n g a n , masalah, kesulitan, aspek
laki-laki, aspek Timur. W a r n a kuning adalah lambang daging,
bulan, permaisuri, t a n a h , d e n d a m , keuletan, kemuliaan, ke-
j a y a a n , kemenangan, k e b i j a k s a n a a n , aspek p e r e m p u a n , Barat.
W a r n a putih adalah l a m b a n g tulang, langit, siang, p e r d a n a
menteri, a d a t , kesucian, keadilan, kedamaian, k e t e r b u k a a n ,
kematian, kelemahan, U t a r a . W a r n a hitam adalah lambang ram-
but, m a l a m , bayangan, m a n t a p , -kesunyian, rahasia, tertutup,
n o d a , aspek Selatan. W a r n a hijau adalah lambang t u m b u h - t u m -
b u h a n d a n t a n a m - t a n a m a n , kesejukan, kesegaran, kesuburan, ke-
m a k m u r a n , kesejahteraan, senyum d a n tawa, u m u r p a n j a n g ,
aspek D a r a t . W a r n a biru adalah lambang air, kehidupan yang
kekal, keabadian, keseimbangan, keselarasan, keharmonisan,
aspek L a u t . W a r n a kombinasi dalam bentuk garis adalah lambang
jasmani, benda-benda, kejadian yang selalu dalam proses yang tak
ada u j u n g n y a , selalu berjalan, selalu bergerak. A k h i r n y a "warna
kombinasi dalam bentuk k e m b a n g adalah lambang r o k h a n i ,
ruang, kejadian yang selalu kembali, berputar, bolak-balik, me-
lingkar.
Demikianlah m a k n a warna-warna sebagai simbol dalam kebu-

*) Makna warna-warni sebagai simbol menurut banyak suku bangsa, dan bangsa di dunia
ini dapat misalnya kita baca dalam tulisan dari E. Conroy, The Symbolism of Colour
(1921); Ch. F. Pederson, The International Flag in Colour (1977); dan D. Rose, Flags
(1981), serta M. Talocci, Guide to the Flags of the World (1982).

251

PNRI
dayaan Tolaki sebagai m a k n a - m a k n a dasar sebelum dikaitkan
dengan garis-garis dimensi d u a d a n dimensi tiga. Bagaimana selan-
j u t n y a m a k n a warna-warna dalam perlekatannya dengan garis-
garis dimensi d u a dan dimensi tiga melalui disain-disain misalnya:
b u m b u n g a n r u m a h , tikar, sarung, tirai d a n tenda orang Tolaki
yang telah saya k e m u k a k a n di atas.
W a r n a putih d a n hitam p a d a disain b u m b u n g a n r u m a h adalah
g a m b a r a n dari sinar d a n b a y a n g a n n y a , terang dan gelap, siang
d a n malam, langit dan bumi, p e r e m p u a n dan laki-laki. W a r n a
hitam putih-merah p a d a disain tikar adalah g a m b a r a n susunan
tubuh-jiwa-semangat, ayah-ibu-anak. W a r n a p a d a sarung meli-
puti hitam-merah, kuning-merah-hijau, putih-kuning, merah-
putih, d a n hijau-putih. W a r n a hitam-merah yang meliputi seluruh
p e r m u k a a n sarung adalah g a m b a r a n p e r m u k a a n t u b u h manusia
yang di dalamnya mengalir d a r a h . W a r n a kuning-merah-hijau
dalam susunan kuning-merah-hijau-merah-kuning p a d a lima garis
vertikal adalah g a m b a r a n susunan dari k e a d a a n t u b u h manusia
yang hangat (kuning), panas (merah), dingin (hijau) atau gam-
b a r a n dari kejayaan (kuning), keberanian (merah), kesejahteraan
(hijau). W a r n a putih-kuning p a d a masing-masing tugu yang ber-
pasangan adalah g a m b a r a n t u b u h d a n jiwa manusia, atau laki-laki
dan p e r e m p u a n . W a r n a kuning emas yang mengantarai d u a tugu
yang berpasangan adalah g a m b a r a n ikatan perkawinan antara
laki-laki dan p e r e m p u a n . W a r n a - w a r n a merah-kuning-hijau p a d a
garis-garis bersilangan yang mengikat d u a ruang di m a n a terlukis
tugu-tugu tersebut di atas adalah g a m b a r a n ikatan masing-masing
tiga kategori yang dilambangkan oleh warna-warna kuning-merah-
hijau, yakni hangat-panas-dingin atau kejayaan-keberanian-kese-
j a h t e r a a n . W a r n a - w a r n a p a d a garis-garis bersilangan putih d a n hi-
j a u , putih d a n kuning emas dan kuning biasa, putih d a n merah,
kuning emas d a n hijau, putih dan kuning, kuning emas d a n merah
yang semuanya diapit oleh d u a ruang di m a n a terlukis gambar-
g a m b a r tersebut di atas adalah g a m b a r a n keterikatan dari unsur-
unsur klasifikasi d u a yang a d a di dalamnya.*'

*) Bahan terurai di atas bersumber dari Husain Laliasa.

252

PNRI
W a r n a - w a r n a yang terdapat p a d a tirai meliputi merah-kuning-
hitam, hitam-putih-merah, merah kuning-merah, hitam-kuning-
hitam, merah-putih, merah-hitam, merah kuning. P a d a dasarnya
warna-warna di atas adalah lambang p e r p u t a r a n w a k t u : siang ke
malam (merah-kuning-hitam), m a l a m ke siang (hitam-putih-
merah), siang-siang (merah-kuning-merah), malam-malam
(hitam-kuning-hitam), matahari-langit (merah-putih), panas-
dingin (merah-hitam), matahari-bulan (merah-kuning). Dengan
lain p e r k a t a a n w a r n a - w a r n a tersebut adalah lambang langit dan
bumi, siang d a n malam, terang dan gelap, m a t a h a r i d a n bulan,
pagi d a n sore, panas d a n dingin, yang menyelimuti suasana pesta,
di m a n a tirai itu digunakan.*'

P a d a tenda semua warna a d a di dalamnya; merah-kuning,


putih, hitam, hijau, biru, d a n lain-lain kombinasi. Sesuatu w a r n a
dari warna-warna ini saling bersambungan dengan lainnya se-
hingga saling bersambungan dengan lainnya sehingga saling ber-
selang-seling satu sama lain. Komposisi warna-warna ini meng-
g a m b a r k a n kesatuan d a n persatuan dari unsur-unsur klasifikasi
dua: laki-perempuan, t u a - m u d a , besar-kecil, kaya-miskin, bang-
sawan-budak, suami-istri, paman-bibi, kakek-cucu, d a n seterus-
nya, dan klasifikasi tiga: suami-istri-mertua atau ipar, ayah-ibu-
a n a k , p a m a n - b i b i - k e m e n a k a n , dan seterusnya. Semua unsur-un-
sur ini hadir dalam pesta-pesta keluarga yang berdatangan dari
empat p e n j u r u wilayah p e m u k i m a n , di m a n a r u a n g a n - r u a n g a n
r u m a h pesta bergantunganlah tenda-tenda berbentuk segi empat
dengan disain warna-warni semacam ini.

Berdasarkan m a k n a dari beberapa disain di atas, saya tiba p a d a


kesimpulan b a h w a prinsip-prinsip penataan ruang d a n perhiasan
di dalamnya adalah g a m b a r a n dari klasifikasi d u a d a n tiga menge-
nai unsur-unsur manusia, unsur-unsur alam, d a n unsur-unsur
masyarakat (lihat G a m b a r 20).

*) Bahan uraian tersebut bersumber dari Arsjamid.

253

PNRI
Gambar 19. Disain perhiasan ruang

254

PNRI
3. B E N T U K - B E N T U K K E S E N I A N

3.1. Seni Disain dan Seni Rias Tradisional


Seni disain tradisional banyak tampak pada alat-perlengkapan
hidup, seperti: pinesowi (disain segi tiga), pineta'ulumbaku (disain
daun pakis), pineta'ulundono (disain kepala orang), sinolana (di-
sain garis vertikal-horisontal atau vertikal-horisontal-silang),
silapa omba (disain segi empat), tinaboriri (disain lingkaran),
pinehu (disain sudut), dan holunga (disain ikat).

Disain segi tiga tampak pada b u m b u n g a n rumah bagian depan


dan bagian belakang, pada leher dan lengan b a j u , pada pinggir
anyaman tikar. Disain daun pakis tampak p a d a anyaman wadah
kalo. Disain kepala orang tampak pada kain tabir dan pada
perisai. Disain garis horisontal-vertikal atau horisontal-vertikal-
silang tampak pada dinding anyaman b a m b u dan langit-langh
yang dianyam, pada anyaman tikar, pada anyaman bakul. Disain
segi empat tampak pada kain sarung bantal, kain sarung kasur
tidur, dan pada langit-langit kelambu. Disain lingkaran tampak
pada tudung pemele sinar matahari, pada tubung saji, dan pada
songko. Disain sudut ruang tampak pada wadah anyaman wadah
yang berbentuk ruang segi enam atau delapan. Akhirnya disain
ikat tampak p a d a ikatan rumah, pada ikatan hulu dari alat-alat
produksi, dan senjata.

Macam seni rias tradisional adalah: (1) rias pada tubuh, seperti
o timu (gulungan rambut di kepala), sadaki (bedak dari beras un-
tuk rias pada paras perempuan, dan tatuage p a d a dada dan lengan
khusus laki-laki), o tila (penghitam alis khusus perempuan),
kamea-mea (pemerah bibir khusus perempuan), tirangga (peme-
rah bibir khusus perempuan); (2) rias pada pakaian, seperti
kalunggalu (kalung pada kepala), andi-andi (anting-anting p a d a
telinga), eno-eno (kalung emas), sambiala (selempang p a d a dada
khusus kanak-kanak), bolosu (gelang pada lengan), kale-kale
(gelang pada pergelangan tangan), o langge (gelang pada kaki),
pati-pati (perhiasan pada baju).

255

PNRI
3.2. Seni Vokal, Seni Instrumental, dan Seni Sastra Tradisional
Seni vokal orang Tolaki dapat dikenal melalui lagu-lagu rakyat
antara lain: huhu (lagu untuk menidurkan anak), o anggo (lagu
yang menggambarkan rasa kekaguman terhadap seorang pemim-
pin, atau mengandung nasihat atau petuah), taenango (lagu yang
melukiskan kisah kepahlawanan), sua-sua (lagu yang melukiskan
rasa ingin berkenalan), dan kabia (lagu-lagu percintaan). Dua lagu
kepahlawanan yang terkenal dan hingga kini masih hidup adalah
tebaununggu, yang mengisahkan peristiwa penyebaran agama
Islam dari Aceh ke Indonesia bagian Timur, d a n isara, yang
mengisahkan perang total di darat, di laut, dan di udara dalam
usaha memberantas segala kejahatan yang pernah melanda orang
Tolaki.
Seni instrumentai dapat dikenal melalui alat-alat musik oràng
Tolaki, antara lain: (1) alat musik yang dipukul, seperti: dim-
bawuta (alat musik yang konstruksinya terdiri dari tanah yang
dilobang dan ditutup dengan pelepah sagù, dan sehelai rotan yang
dipukul dan mengeluarkan bunyi), kanda-kanda oa atau kan-
dengu-ndengu (alat musik dari bambù atau kayu ringan yang
dibelah); (2) alat musik yang ditabuh, seperti: karandu (gong),
tamburu (tambur), o dimba (sejenis tambur); (3) alat musik yang
dipetik, seperti: dimba-dimba nggowuna (alat bunyi dari bambù),
gambusu (gambus); (4) alat musik yang ditiup, seperti: wuwuho
(alat musim bambù), o su li (s'uling dari bambù), dan ore-ore (alat
musik dari tangkai daun enau yang dilengkapi dengan tali
benang). A d a juga jenis lain dari ore-ore (alat musik dari bambù
yang dipukulkan pada telapak tangan). Dari beberapa jenis alat
musik di atas ada di antaranya yang berfungsi sebagai pengiring
sesuatu tarian, misalnya tarian molulo, lariangi (tari pemujaan).
Seni sastra dalam bentuk prosa adalah: o nango (dongeng),
tuia-tuia (kisah), kukua (silsilah), dan pe'oliwi (pesan-pesan
leluhur); dan dalam bentuk puisi adalah: taenango (syair yang di-
lagukan), kinoho atau lolama (pantun), o doa (maniera), singguru
(teka-teki), dan bitara ndolea (perumpamaan). Isi dongeng selain
menggambarkan asal mula kejadian dari unsur alam, juga meng-

256

PNRI
gambarkan sifat dan tingkah laku binatang yang baik dan yang
buruk, yang dapat dicontohi oleh manusia, misalnya dongeng
kolopua dan o bada (kura-kura dan kera), di mana kura-kura me-
lakonkan sifat yang baik dan kera melakonkan sifat yang serakah.
Kisah menggambarkan liku-liku kehidupan dari seseorang tokoh
dalam masyarakat, misalnya kisah Oheo (kisah manusia pertama
orang Tolaki), Onggabo (kisah seorang penyelamat dan pelanjut
babat Kerajaan Konawe).
Silsilah menggambarkan suatu kerajaan dan nama-nama raja-
nya secara turun-temurun, misalnya silsilah raja-raja di Konawe
dan silsilah raja-raja di Mekongga. Pesan-pesan leluhur menggam-
barkan ajaran moral, nasihat dan petuah bagi kehidupan sese-
orang, keluarga, dan bagi kehidupan masyarakat yang lebih luas,
misalnya pesan orang tua terhadap anak-anaknya, pesan seorang
kakek terhadap pasangan suami-istri, dan pesan seorang sesepuh
kepada warga masyarakat pada pertemuan-pertemuan tertentu.
Syair menggambarkan sifat yang berani, watak kesatria, kepah-
lawanan dari seseorang laki-laki, misalnya syair tebaununggu dan
syair Isara. P a n t u n menggambarkan pujian, cemohan, dan sin-
diran yang ditujukan kepada seseorang lawan jenis kelamin baik
di kalangan muda-mudi maupun di kalangan tua-tua. Mantera
menggambarkan pujian, p u j a a n , harapan, dan permintaan yang
ditujukan kepada makhluk halus, dewa-dewa, T u h a n baik sebagai
syukuran maupun sebagai tolak bala. Teka-teki menggambarkan
ungkapan, pikiran, dan perasaan yang memerlukan suatu tebat
yang tepat. Akhirnya perumpamaan mengandung maksud mem-
pertemukan dua pendapat yang berbeda dengan menggunakan
bahasa kiasan.
Suatu ciri dari seni sastra puisi yang membedakannya dengan
seni sastra prosa adalah jumlah baris dari setiap baitnya, jumlah
suku-katanya pada tiap baris, dan persamaan bunyi yang ada
baris-barisnya baik di akhir, di awal maupun di tengah kalimat.
Dalam sastra puisi Tolaki, jumlah baris dari suatu bait pada syair
terdiri dari empat, dengan jumlah suku-kata pada tiap baris selalu
terdiri atas tujuh suku-kata, dan pola sajaknya adalah kalau
b u k a n pola " a a a a " maka pola " a b a b " atau " a b b a . " Pantun

257

PNRI
selalu terdiri atas empat baris, yang dua baris pertama sebagai
sampiran dan dua baris berikutnya sebagai isi yang sesungguhnya.
Ciri lainnya sama dengan syair, seperti juga pada mantera, teka-
teki, dan p e r u m p a m a a n . P a d a mantera jumlah baris dari baitnya
kadang-kadang terdiri dua baris, atau tiga, atau empat, atau
enam, atau delapan. Demikian ciri ini t a m p a k ' p a d a teka-teki dan
perumpamaan.

3.3. Seni Tari Tradisional


Pada dasarnya jenis tari orang Tolaki hanya ada dua, yakni: o
lulo (tari pergaulan, tari penyambutan, dan tari penyembahan)
dan umo'ara (tari perang). O lulo dapat dibedakan atas tari yang
disebut lulo molulo (tari pergaulan), lulo lariangi (tari penyambut-
an raja), dan lulo sangia (tari pemujaan). Ditinjau dari segi gerak-
annya tari pergaulan dapat dibedakan atas tari yang disebut lulo
ndinuka-tuka (tari lulo menginjak dua kali), lulo sinemba-semba
(tari lulo mengayun kaki dua kali ke kiri), lulo hada (tari lulo
melompat), lulo leba (tari lulo gerakan cepat).

Tari molulo adalah tari yang ditampilkan oleh semua unsur


golongan dalam masyarakat; laki-perempuan, tua-muda, dewasa
dan kanak-kanak, tokoh masyarakat dan rakyat jelata, orang
kaya dan orang miskin secara massal. Biasanya tarian ini dilaku-
kan pada pesta perkawinan dan pada pesta peringatan terakhir
dari kematian. Tari ini diiringi dengan bunyi gong. Ruangan
tengah rumah pesta tempat diadakannya tari ini dihiasi dengan
kain hiasan tenda dan kain hiasan tabir. Tari ini lebih memuaskan
bagi pelakunya dan penonton apabila dilakukan pada waktu
malam daripada pada waktu siang. Cara melakukannya adalah
bergandengan tangan dengan sesamanya penari, di mana tangan
laki-laki berada pada posisi di bawah dari tangan perempuan,
mengelilingi gong yang dibunyikan, yang membentuk lingkaran,
tangan yang bergandengan digerakkan naik dan turun, sementara
itu kaki diayun melangkah dua kali ke kiri kemudian kembali
melangkah tiga kali ke kanan, dilanjutkan dengan gerakan kaki ke
depan dan ke belakang, dan begitulah seterusnya; m u k a dan pan-

258

PNRI
dangan menjurus ke depan ke titik tengah lingkaran di mana gong
digantung p a d a tiang tengah r u m a h , yang sewaktu-waktu menger-
ling sampai menoleh ke kiri dan ke kanan; semua gerakan baik
tangan dan kaki selalu disesuaikan dengan irama bunyi gong.
Sebagai tari pergaulan maka setiap orang sebagai pengunjung
dapat ikut serta menari. Beberapa hal yang perlu diingat oleh
seseorang ketika hendak masuk dalam barisan penari untuk ikut
serta menari adalah bahwa ia harus masuk melalui depan dan
bukan dari belakang. Di antara dari dua penari mana ia-harus
masuk dan menggandengkan tangannya ialah di antara dua penari
yang sejenis apakah laki-laki atau perempuan, dan tidak boleh ia
berlaku sebaliknya. Untuk berhenti dari menari, seseorang sebaik-
baiknya telah menari paling kurang selama satu kali putar, dan
harus pula berpamitan dengan penari yang bergandengan tangan
dengannya.
Tari lariangi adalah tari yang ditampilkan oleh khusus para
gadis remaja, yang telah dipersiapkan oleh suatu panitia dalam
rangka penyambutan seseorang r a j a atau seseorang pemimpin.
Bedanya dengan tarian pergaulan adalah bahwa para penari-
nya tidak saling bergandengan tangan, tidak melangkah mun-
dur ke kiri tetapi terus-menerus ke kanan, m u k a tidak ke depan
tetapi juga kanan, tubuh dan busana yang dipakainya lebih
m e n a m p a k k a n suatu tata rias yang indah lagi cantik dibandingkan
dengan yang nampak pada tari pergaulan, juga irama bunyi gong
yang mengiringinya berbeda. Dalam tari ini tak ada gadis remaja
lain yang mungkin masuk, seperti yang tampak adanya penari lain
laki dan perempuan pada tari pergaulan. P a d a tari ini tidak tam-
pak adanya variasi gerakan langkah seperti pada tari pergaulan.
Tari sangia adalah tari yang ditampilkan pada saat seseorang
r a j a sedang sakit, dengan maksud menyembah kepada dewa kira-
nya penyakit yang diderita oleh sang raja dapat disembuhkan.
P a d a dasarnya tari ini tidak jauh berbeda dengan tari lariangi.
Bedanya hanya terletak pada suasana yang ditimbulkannya. Jika
tari lariangi tidak diiringi dengan bunyian dari para penarinya
m a k a pada tari sangia ini kedengaran lagu-lagu penarinya yang
sangat memilukan hati pendengarnya sehingga menimbulkan rasa

259

PNRI
iba dan kasih sayang terhadap diri r a j a dan keluarganya semakin
bertambah. Betapa tidak oleh karena m a k n a dari lagu-lagu itu
menggambarkan bagaimana nasib dari rakyatnya nanti apabila
raja karena sudah menjadi kehendaknya sang dewa, T u h a n Allah,
harus mangkat meninggalkan negeri dan rakyatnya. Rasa pilu hati
dari pendengarnya semakin merisaukan dengan bunyi gong yang
menyedihkan. Wanita tua dan gadis r e m a j a yang menari tanpa
rias muka daivbusana tetapi dengan gerak lemah gemulai dengan
muka yang murung dan mata sayu membuat penonton merasa
tulang-tulang luluh lantak. Tetapi bagi raja yang sakit hai itu me-
ringankan rasa sakitnya.

Tari umo'ara adalah tari yang khusus ditampilkan oleh dua


sampai tiga orang laki-laki dengan gerakan kaki yang melompat-
lompat, tangan yang memegang parang di sebelah kanan dan peri-
sai di sebelah kiri diayunkan ke arah temannya penari yang dipan-
dang sebagai musuh di medan peperangan. Sementara itu masing-
masing meneriakkan suara minta siap untuk menyerang dan
diserang. P a d a zaman kerajaan tari ini biasa ditampilkan pada
saat-saat mengiring para prajurit ke medan perang dan menjemput
mereka kembali dari peperangan yang membawa kemenangan
yang gilang gemilang. Kini tarian ini hanya ditampilkan pada saat
penyambutan seseorang pejabat pemerintah yang berkunjung ke
daerah-daerah atau ke desa-desa, demikian pada saat mengantar
para pejabat tersebut kembali dari perkunjungan. Adapun tata
rias tubuh dan busana penarinya disesuaikan dengan pakaian se-
orang prajurit di medan perang yang terdiri dari ikat kepala kain
merah, baju tebal yang diidentikkan dengan baju dari kulit dan
celana panjang setinggi lutut. Juga tari ini menggunakan gong
sebagai pengiringnya.

Sebagai tambahan deskripsi mengenai seni tari orang Tolaki ini


perlu saya menyebutkan beberapa macam seni tari yang bersifat
kontemporer, tari kreasi baru yang timbul sejak pemerintah mem-
bina kebudayaan daerah khususnya kesenian daerah. Tari kreasi
baru dimaksud adalah: tari mondotambe (tari penyambutan), tari
moa'ana (tari menganyam), tari dumahu (tari berburu), mesilo-

260

PNRI
si/o mata (tari mengerling), tari umahu (tari mengambil air), tari
modinggu (tari menumbuk padi).

4. HUBUNGAN ANTARA KESENIAN ORANG TOLAKI


DENGAN KALO

H u b u n g a n pertama yang tampak ada pada antara kesenian


dengan kaloadalah dalam hal bentuk. H u b u n g a n kedua terletak
pada m a k n a - m a k n a simbolik yang terkandung di dalamnya.
Bentuk-bentuk disain dalam pola segi empat, lingkaran, ikat,
dan pola gambar t u m b u h a n pakis, pola kepala orang; bentuk-
bentuk rias tubuh dalam pola bulatan, demikian bentuk benda-
benda perhiasan dalam pola lingkaran; bentuk-bentuk alat-alat
bunyi dalam pola bulatan; bentuk-bentuk teknik menari dalam
pola lingkaran dan pola gerakan horisontal-vertikal yang mem-
bentuk pola segi empat; semuanya m e n u n j u k k a n corak yang sama
dengan bentuk pola kalo, yakni: lingkaran, ikatan, dan segi
empat.
Dimensi diadik dalam pola garis-garis dan segi empat pada di-
sain, pola dua dan empat baris per bait pada puisi, pola gerakan
dua-tiga (ke kiri dua langkah, ke kanan tiga langkah) dan mem-
bentuk lingkaran, dan pola tiga bergandengan: laki-perempuan-
laki, atau perempuan-laki-perempuan pada tarian, ide kesatuan
dan persatuan yang tercermin dalam pola bulatan pada rias tubuh
dan pola lingkaran pada perhiasan; semuanya m e n u n j u k k a n ide
atau asas yang sama pada kalo, yaitu: asas dualisme, asas triparti,
dan asas kesatuan.

261

PNRI
IX
KLASIFIKASI SIMBOLIK D A L A M K E B U D A Y A A N
TOLAKI
Dengan pandangan hidupnya yang berwujud dalam sistem pe-
ngetahuan dan sistem religi (Keesing dan Keesing 1971) manusia
mempunyai konsepsi mengenai dirinya sendiri, alamnya, masyara-
katnya, dan lingkungan sekitarnya (Geertz 1973). Konsepsi
manusia mengenai kenyataan-kenyataan di atas berwujud dalam
kategori-kategori, baik sebagai kategori alam maupun sebagai
kategori budaya, yang tampak dalam klasifikasi simbolik
(Needham 1979).
Seperti halnya dengan banyak suku bangsa di mana-mana di
dunia, juga orang Tolaki mengenal adanya klasifikasi simbolik.
Bentuk klasifikasi simbolik yang paling mendasar pada banyak
suku bangsa adalah klasifikasi dua (dual classification), misalnya
klasifikasi dua berdasarkan Yang (laki) dan Ying (perempuan)
dalam kebudayaan Cina, klasifikasi dua dalam air dan tanah pada
orang Miwok di California, kanan dan kiri*' pada orang P u r u n di
Indo-Burma (Needham 1979: 7-8), hula-hula dan boru pada orang
Batak di Sumatera (Tobing 1959), otoh papa dan 0/0/2 balahap
pada orang Dayak di Kalimantan Selatan (Scharer 1946), sedang-
kan pada orang Tolaki di Sulawesi Tenggara klasifikasi dua ini
adalah kategori berdasarkan tanggai (laki) dan o tina (perem-
puan).
Dalam membicarakan klasifikasi simbolik dalam kebudayaan
Tolaki, saya akan berusaha m e n u n j u k k a n unsur-unsur dari klasi-

*) Khusus mengenai klasifikasi simbolik dua atas kanan dan kiri, terdapat sebuah buku
yang diterbitkan oleh R. Needham, dengan judul Right and Left (1973) dengan memuat
20 esei.

262

PNRI
fikasi dua, klasifikasi tiga, dan klasifikasi lima. Ketiga macam kla-
sifikasi simbolik ini akan saya hubungkan dengan kalo.

1. KLASIFIKASI DUA

1.1. Klasifikasi Dua pada Manusia


Mula-mula mereka membagi manusia ke dalam dua unsur,
yakni o kanda (tubuh kasar, jasmani) dan penao (tubuh halus,
jiwa, rokhani). Kedua unsur dasar ini masing-masing dibagi lagi
dalam beberapa unsur. Jasmani terdiri dari dua unsur, yakni un-
sur yang kuat, dan unsur yang lemah. Unsur yang kuat adalah o
wuku (tulang), o uha (urat), o wu (rambut), dan o kuku (kuku);
dan unsur yang lemah adalah o beli (darah), o eme (kencing), o
undo (sumsum, otak), dan o ramo (daging). Mereka mengajarkan
bahwa unsur-unsur yang kuat berasal dari laki-laki dan dari ayah,
sedangkan unsur-unsur yang lemah berasal dari perempuan dan
dari ibu, dan bahwa kedelapan unsur ini diikat, dipertemukan dan
dipersatukan oleh o ani (kulit).
Demikian halnya dengan tubuh halus atau rokhani terdiri dari
pombangudu (pemikiran) dan pombenasa (perasaan), ponggi
(penglihat) dan pombodea (pendengaran), po'ai (penciuman) dan
ponami-nami (rasa lidah), po'ehe (kehendak) dan pombehawa
(pengingat). Empat unsur pertama adalah aspek laki-laki dan em-
pat unsur berikutnya adalah aspek perempuan. Kedelapan unsur
rokhani ini diikat, dipertemukan dan dipersatukan oleh ate pute
(hati nurani).

darah tulang urat rambut

kulit

kencing sumsum/ daging kuku


otak

263

PNRI
Gambar 21
Klasifikasi pada Tubuh dan Jiwa Manusia

A d a p u n kulit yang mengikat delapan unsur jasmani, dan hati


nurani yang mengikat delapan unsur jiwa adalah berasal dari laki-
laki, ayah. Secara hakiki, kata mereka, unsur-unsur rokhani ber-
asal dari Tuhan Allah. Itulah sebabnya mereka berkata: o limo ari
ine arna, o omba ari ine ina, o sio ari ine Ombu Ala Ta'ala. Arti-
nya: lima unsur dari ayah, empat unsur dari ibu, sembilan unsur
dari Allah Taala.
Mereka juga mengenal adanya klasifikasi dua pada bagian luar
tubuh manusia, yakni: i hana (di kanan) dan i moeri (di kiri), i ra'i
(di depan) dan i bunggu (di belakang), i wawo (di atas) dan i lolu
(di bawah), / iuara (di luar) dan i une (di dalam). Semuanya terdiri
dari delapan unsur dan yang diikat, dipertemukan dan dipersatu-
kan oleh opuhe (pusat di perut). Juga unsur-unsur: kanan, depan,
atas, luar, adalah aspek-aspek laki-laki; dan unsur-unsur: kiri,
belakang, bawah, dalam, adalah aspek-aspek perempuan.

G a m b a r 21
Klasifikasi Dua pada Luar Tubuh Manusia

264

PNRI
Unsur " k u l i t " yang mempersatukan delapan unsur jasmani,
demikian juga unsur " h a t i n u r a n i " yang mempersatukan delapan
unsur rokhani, dan unsur " p u s a t " yang mempersatukan delapan
unsur bagian luar tubuh manusia, ketiga-tiganya diikat diper-
temukan dan dipersatukan oleh unsur puri busi (tulang ekor).
Tulang ekor, bagi orang Tolaki, merupakan unsur yang harus se-
nantiasa dijaga kebersihan dan kesuciannya dari najis karena
menurut mereka apabila unsur ini tidak bersih atau tidak suci
maka seluruh unsur jasmani dan rokhani manusia ikut ternoda
akibatnya. Jumlah keseluruhan unsur dari pembagian di atas
adalah 28 buah, yakni suatu penjumlahan dari: (4 x 2 + 1) x 3 + 1
atau tiga kerangka unsur yang terdiri atas empat pasang dua unsur
yang saling beroposisi, bertentangan, tiga unsur masing-masing
sebagai penengah, mediasi, dan satu unsur pemersatu dari semua
unsur. Jumlah ini terlukis juga dalam salah satu unsur dekorasi
sarung orang Tolaki. Gejala persamaan jumlah unsur ini, bagi
saya adalah logikal, karena mereka yang memandang sarung itu
adalah identik dengan tubuh manusia dan unsur-unsurnya.

Gambar 22
Dekorasi Sarung Orang Tolaki
265

PNRI
Saya telah m e n u n j u k k a n di atas b a h w a masing-masing unsur
dari d u a unsur dalam klasifikasi d u a p a d a manusia ada saling
pertentangan a n t a r a satu sama lain. Dari segi m a n a mereka pan-
dang sehingga suatu unsur dapat dipertentangkan dengan unsur
lainnya d a n dengan sistem yang bagaimana pula mereka dasarkan
untuk m e n e t a p k a n d u a unsur yang bertentangan d a p a t berpasang-
an? S e p a n j a n g p e n g a m a t a n saya r u p a n y a mereka m e m a n d a n g
suatu pasangan yang dipertentangkan itu karena dilihat dari segi
perbedaan dalam bentuk u n s u r , segi perbedaan sifat unsur, d a n
dari segi perbedaan dalam status d a n fungsi unsur. Sedangkan
untuk m e n e t a p k a n d u a unsur yang dipertentangkan itu dapat ber-
pasangan, mereka melihat dari segi komposisi h u b u n g a n lurus an-
tara d u a unsur, baik langsung atau tidak langsung.
Unsur jasmani dan unsur r o k h a n i dipertentangkan karena ber-
beda bentuk, yang satu kasar yang lain halus, dan k e d u a n y a saling
b e r h u b u n g a n lurus secara langsung, yang satu terletak di luar d a n
yang lain di d a l a m . Sifat-sifatnya pun berbeda, yang satu f a n a d a n
yang lain b a k a apabila manusia telah meninggal. Status dan fung-
sinya j u g a berbeda, yang jasmani melindungi yang rokhani, d a n
yang r o k h a n i m e n d u k u n g yang jasmani. Demikian seterusnya, un-
sur d a r a h yang m e r a h berbeda dengan unsur kencing yang
putih, yang satu harus tinggal di dalam, d a n yang lain harus
sewaktu-waktu dikeluarkan dari t u b u h , yang satu meliputi
seluruh t u b u h yang lain hanya terbatas di dalam k a n d u n g a n ken-
cing. Tulang adalah keras dan sumsum atau otak adalah lembeh,
yang satu berada di luar yang lain di dalam, keduanya saling
b e r h u b u n g a n langsung, yang satu m e m b u n g k u s yang lain. Unsur
urat lebih kuat daripada unsur daging, yang satu menembusi yang
lain, keduanya saling b e r h u b u n g a n langsung. U n s u r rambut yang
hitam berbeda dengan unsur kuku yang putih, yang satu berada di
atas, di kepala; yang lain berada di bawah, di tangan d a n di kaki;
yang satu tidak dapat dihitung j u m l a h n y a , yang lain dapat di-
hitung.
Unsur pemikiran dipertentangkan dengan unsur perasaan
karena yang satu berada di kepala dan yang lain berada di d a d a ,
pemikiran menekan luapan rasa, perasaan merangsang pemikiran.

266

PNRI
Unsur penglihatan berada di mata dan unsur pendengaran berada
di telinga, yang satu berada pada posisi dalam dan yang lain
berada pada posisi luar. Hasil penglihatan lebih meyakinkan
kebenarannya daripada hasil pendengaran. Unsur penciuman di-
pertentangkan dengan unsur rasa lidah karena hidung sebagai alat
penciuman berada pada posisi di atas, dan lidah sebagai alat rasa
lidah berada pada posisi di bawah. Apa yang dicium berbeda dari
apa yang dirasakan oleh lidah. Unsur kehendak dipertentangkan
dengan unsur ingatan karena unsur kehendak mendorong unsur
ingatan dan sebaliknya unsur ingatan menyentuh unsur kehendak
untuk melakukan sesuatu.
Unsur kanan dipertentangkan dengan unsur kiri karena yang
satu lebih kuat daripada yang lain, yang satu dipandang lebih ber-
m a n f a a t daripada yang lain, yang satu lebih dipandang mulia
sebagai alat makan daripada yang lain sebagai alat mencuci
kotoran. Unsur muka dipertentangkan dengan unsur belakang
karena yang satu dipandang lebih berani daripada yang lain, yang
satu lebih terhormat daripada yang lain. Unsur atas dipertentang-
kan dengan unsur bawah karena yang satu dipandang lebih mulia
daripada yang lain ditinjau dari banyak aspek. Akhirnya unsur
luar dipertentangkan dengan unsur dalam karena unsur luar lebih
tahan daripada unsur dalam ditinjau dari segi fisik dan mental.

1.2. Klasifikasi Dua pada Alam


Klasifikasi mereka mengenai alam pada dasarnya berorientasi
pada sistem-sistem klasifikasi dua pada manusia yang telah saya
kemukakan di atas, sedangkan sistem klasifikasi dua lainnya
adalah berdasarkan mengenai klasifikasi dua pada manusia dan
pada alam kedua-duanya.
Atas dasar itu mereka membagi alam ini dalam bentuk dua-dua
unsur, yakni: hanu motae-tade (alam nyata) dan hanu nda kini
(alam gaib). Alam nyata terdiri pula dari lahuene (langit) dan
wuta'aha (bumi), yang masing-masing dibatasi oleh losoano eleo
(Timur) dan tepuliane oleo (Barat), ulu iwoi (Utara) dan para iwoi
(Selatan).

267

PNRI
Di langit terdapat oleo (matahari) dan o wula (bulan), o seru
(awan) dan o usa (hujan), o kila (kilat) dan o bundu (guntur), o
pua (angin) dan berese (petir). Di permukaan bumi terdapat o
wuta (tanah) dan iwoi (air), kolele (binatang) dan hanu toro
(tumbuh-tumbuhan), o osu (gunung) dan anggalo (lembah), tono
(manusia) dan o wali (jin).
Unsur-unsur seperti langit, Timur, Utara, matahari, awan,
kilat, dan selanjutnya unsur-unsur seperti tanah, binatang,
gunung, d a n manusia adalah aspek-aspek laki-laki, sedangkan
pasangannya bumi, Barat, Selatan, bulan, h u j a n , guntur, dan
selanjutnya unsur-unsur air, t u m b u h - t u m b u h a n , lembah, dan jin
adalah aspek-aspek perempuan. Semua unsur tersebut berada dan
berlangsung di dalam liputan ole-oleo (siang) dan. o wingi (malam)
yang masing-masing mempunyai aspek-aspek laki-laki dan perem-
puan.

Gambar 23
Klasifikasi Dua pada Alam

Kebudayaan Tolaki membagi alam gaib atas unsur-unsur sangia


mbu'u (dewa langit) dan guruno o wuta sangiano wonua (dewa
bumi), sangia i losoano oleo (dewa di Timur) dan sangia i tepuli-
ano oleo (dewa di Barat), sangia i ulu i woi (dewa di Utara) dan
sangia i para iwoi (dewa di Selatan), sangia iputi wuta (dewa dasar
bumi) dan sangia i asaki ndahi i n a m b a r a ikia (dewa di seberang
laut). Dewa langit, dewa di Timur, dewa di Utara, dan dewa di
dasar bumi adalah dewa-dewa yang dipandang sebagai aspek laki-
laki, dan pasangannya dewa bumi, dewa di Barat, dewa di Selatan,

268

PNRI
dan dewa di seberang laut adalah aspek perempuan. Kedelapan
dewa tersebut berada di bawah kekuasaan ombu Samena (Tuhan
yang sesungguhnya) atau Ombu Ala Ta'ala (Tuhan Allah).
Seperti halnya unsur-unsur dari klasifikasi dua pada manusia,
yang saling dipertentangkan satu sama lain karena unsur-unsur itu
berbeda dari segi bentuk, sifat, status dan fungsinya begitu pula
unsur-unsur dari klasifikasi dua pada alam.

Gambar 24
Klasifikasi Dua pada Dewa-dewa

Langit dan bumi dipertentangkan karena berbeda bentuknya,


yang satu melengkung ke bawah dan yang lain rata, yang satu
putih dan yang lain hitam warnanya, yang satu berfungsi melin-
dungi dan yang lain mendukung. Demikian juga unsur Timur ber-
beda dengan unsur Barat, yang satu tempat terbitnya matahari
dan yang lain tempat terbenamnya matahari. Unsur Utara berbeda
dengan unsur- Selatan, yang satu hulu sungai dan yang lain muara
sungai. Matahari berbeda dengan bulan, yang satu bentuknya
tetap bulat dan yang lain bentuknya berubah-ubah silih berganti

269

PNRI
a n t a r a sebagai bentuk sabit, setengah b u l a t a n , d a n bulat; yang
satu t a n p a n a m a untuk setiap harinya d a n yang lain mempunyai
n a m a u n t u k setiap harinya; yang satu sinarnya terang terik panas
dan yang lain terang lembab m e n y a m a n k a n ; yang satu berfungsi
memberi kesempatan bagi manusia u n t u k bekerja d a n yang lain
u n t u k pesta upacara. U n s u r awan b e r b e d a dengan unsur h u j a n ,
yang satu tetap berada di atas awang-awang berputar-putar dan
yang lain turun ke bumi, yang satu berfungsi melindungi manusia
dari teriknya m a t a h a r i ketika berladang dan yang lain m e n u m b u h -
kan t a n a m a n . U n s u r kilat berbeda dengan unsur guntur karena
yang satu dikenal dengan m a t a d a n yang lain dikenal dengan te-
linga, yang satu berbentuk sebagai api yang tidak b e r b e n t u k .
Demikian unsur angin berbeda dengan unsur petir, karena yang
satu bertiup dan yang lain m e n y a m b a r , yang satu mengisi ruang
dan yang lain menyentuh benda.
Siang berbeda dengan malam, karena yang satu terang bende-
rang d a n yang lain gelap gulita, yang satu dipersepsikan sebagai
putih d a n yang lain sebagai hitam, yang satu berfungsi u n t u k
manusia bekerja d a n yang lain untuk manusia beristirahat, tidur.
Unsur tanah berbeda dengan unsur air karena yang satu tidak ber-
gerak d a n yang lain bergerak d a n mengalir, yang satu berada p a d a
posisi ketinggian d a n yang lain p a d a posis k e r e n d a h a n .
Unsur binatang berbeda dengan unsur t u m b u h - t u m b u h a n
karena yang satu bergerak berjalan ke m a n a - m a n a dan yang lain
tetap tinggal t u m b u h di suatu t e m p a t . U n s u r gunung berbeda
dengan unsur lembah karena yang satu melengkung dan yang lain
rata, yang satu tinggi dan m e n j u l a n g ke atas d a n yang lain rendah
d a n m e n u r u n ke bawah. A k h i r n y a unsur manusia berbeda dengan
jin karena yang satu tampak dan yang lain tidak t a m p a k .
Klasifikasi d u a p a d a alam yang dikaitkan melalui proses asosiasi
dengan klasifikasi d u a p a d a manusia t a m p a k dalam pola berpikir
tradisional banyak orang Tolaki. Siang dan malam dengan m a t a
putih d a n m a t a hitam, langit d a n bumi dengan kepala dan kaki,
Timur d a n Barat dengan tangan kanan d a n tangan kiri, U t a r a dan
Selatan dengan sisi bagian atas d a n sisi bagian b a w a h , matahari
d a n bulan dengan mata kanan d a n m a t a kiri, awan d a n h u j a n de-

270

PNRI
ngan tahi m a t a dan air mata, kilat dan guntur dengan amarah dan
menggerutu, tanah dan air dengan daging dan darah, binatang
dan t u m b u h a n dengan kutu dan rambut, gunung dan lembah de-
ngan benjolan dan lekukan pada permukaan tubuh manusia, dan
akhirnya unsur manusia dan jin diasosiasikan dengan unsur hati
dan rahasia.

1.3. Klasifikasi Dua pada Masyarakat


Konsep mereka mengenai masyarakatnya, dalam hal ini
khususnya kelompok sosial, adalah proyeksi dari konsep mereka

Keterangan: A — Sapati (Wakil Raja di Timur);


B — Sabandara (Wakil R a j a di Barat);
C — Ponggawa (Wakil Raja di Utara);
D — Inowa (Wakil Raja di Selatan);
E — Kapita Ana Motepo (Panglima Angkatan Darat);
F — Kapita Lau (Panglima Angkatan Laut);
G — Putobu (Kepala Wilayah);
H — Pabitara (Hakim Adat);
I — Tamalaki (Pahlawan Perang);
J — Tusawuta (Penguasa Tanah Pertanian);
K — Tonomotuo (Kepala Kampung);
L — Mbuakoi (Dukun Kampung);
M — Posudo (Wakil Kepala Kampung);
N — Toiea (Juru Bicara).

Gambar 25
Klasifikasi Dua pada Masyarakat

271

PNRI
mengenai alam dan mengenai manusia, seperti yang telah saya
lukiskan di atas.
P a d a pelapisan sosial nampak klasifikasi dua sebagai unsur
anakia (bangsawan) dan o ata (budak), tonomotuo (orang tua)
dan anadalo (kanak-kanak), pandita (cendekia) dan o wowi (buta
faham), tono nggawasa (orang kaya) dan tono marasai (orang
miskin). Dalam komposisi personalia kepemimpinan tradisional
orang Tolaki nampak klasifikasi dua ini sebagai mokole (raja) dan
sulemandara (perdana menteri), sapati (wakil r a j a di wilayah
Timur kerajaan) dan sabandara (wakil raja di wilayah Barat kera-
jaan), ponggawa (wakil raja di wilayah Utara kerajaan) dan inowa
(wakil r a j a di wilayah Selatan kerajaan), kapita ana molepo
(aparat keamanan di wilayah darat kerajaan) dan kapita lau
(aparat keamanan di wilayah laut kerajaan), putobu (kepala
wilayah) dan pabitara (kepala peradilan adat), tusawuta (kepala
pertanian) dan tamalaki (kepala keamanan), akhirnya tonomotuo
(kepala kampung) dan mbuakoi (dukun kampung).
Unsur-unsur bangsawan, orang tua, cendekia, orang kaya, raja,
wakil r a j a di wilayah Timur kerajaan, wakil raja di wilayah
sebelah Utara kerajaan, menteri keamanan di wilayah darat kera-
jaan, kepala wilayah, kepala keamanan, kepala pertanian, dan
kepala kampung, semuanya adalah unsur-unsur yang menggam-
barkan kategori laki-laki, sedangkan sebaliknya unsur yang men-
jadi pasangannya, yaitu: budak, kanak-kanak, buta faham, orang
miskin, perdana menteri, wakil r a j a di wilayah Barat kerajaan,
wakil raja di wilayah Selatan kerajaan, menteri keamanan di
wilayah laut kerajaan, kepala peradilan adat, kepala keamanan,
dan d u k u n kampung adalah unsur-unsur vang menggambarkan
kategori perempuan.
Dalam susunan keluarga, klasifikasi dua ini juga nampak seba-
gai tanggai (suami) dan o tina (istri), baisa tanggai (mertua istri),
baisa ndina (mertua perempuan dari suami) dan baisa ndina (mer-
tua perempuan dari istri), ela (ipar laki-laki dari suami) dan
hine (ipar laki-laki dari istri), hine (ipar perempuan dari suami)
dan bea (ipar perempuan dari istri), asa (ipar laki-laki ialah suami
dari saudara kandung istri) dan asa (ipar perempuan ialah istri dari

272

PNRI
s a u d a r a k a n d u n g suami), ama (ayah) dan in a (ibu), mama
(paman) d a n naina (bibi), kaka (kakak) dan o hai (adik), iliwua
(anak sulung) d a n anai'uhu (anak bungsu), pue (kakak atau
nenek) d a n mbue (cucu). Unsur yang disebut pertama dalam kata-
kata berangkai di aias adalah unsur yang m e n g g a m b a r k a n kate-
gori laki-laki dan kedua adalah unsur kategori perempuan.

kategori p e r e m p u a n

Keterangan: ( + ) — keluarga istri sebelum kawin


( ± ) — keluarga suami sebelum kawin

Gambar 26
Klasifikasi Dua dalam Kerabal Orang Tolaki

KEBUDAYAAN TOLAKI - 18 273

PNRI
Keterangan: iliwua — anak sulung (laki atau perempuan);
a — anak (laki atau perempuan)
(?) — dan seterusnya.

Gambar 27
Klasifikasi Dua pada Keluarga Inti Orang Tolaki

Unsur-unsur dari klasifikasi d u a p a d a masyarakat sebagai pro-


yeksi dari konsep mereka mengenai alam d a n manusia n a m p a k
p a d a unsur-unsur: r a j a sebagai m a t a h a r i atau kepala, perdana
menteri sebagai bulan atau tangan d a n kaki, empat wakil r a j a
sebagai e m p a t p e n j u r u m a t a angin atau e m p a t sisi t u b u h manusia,
d u a menteri k e a m a n a n sebagai darat d a n laut a t a u k a n a n d a n kiri,
d a n lain-lain unsur meniru model di atas. Selanjutnya unsur suami
d a n istri sebagai Timur d a n Barat atau k a n a n d a n kiri, m e r t u a
sebagai U t a r a atau sisi atas, ipar sebagai Selatan atau sisi m u k a
dan belakang atau sisi luar d a n dalam, k a k a k d a n adik sebagai
U t a r a d a n Selatan atau sebagai sisi atas d a n b a w a h , anak sulung
d a n anak bungsu sebagai langit d a n bumi atau kepala dan kaki,
kakek atau nenek d a n cucu sebagai matahari a t a u bulan d a n bin-
tang-bintang a t a u sebagai tangan k a n a n atau tangan kiri dan jari-
jarinya.

1.4. Klasifikasi Dua pada Binatang dan Tumbuh-tumbuhan


Kategori laki-laki dan p e r e m p u a n juga nyata dalam dunia
binatang, seperti: o dahu (anjing) d a n o donga (rusa), o meo (ku-
cing) dan doeke (tikus), o singgo (elang) d a n o manu (ayam),
bokeo (buaya) dan o ika (ikan), o hada (kera) d a n kolopua (kura-
kura).

Gambar 28
Klasifikasi Dua pada Binatang

274

PNRI
Demikian halnya dalam dunia t u m b u h - t u m b u h a n , seperti o ue
(rotan) dan o hao (akar), o bit e (sirih) dan inea (pinang), duria dan
suai (mentimun), kowuna (bambu) dan o wulo (buluh), daria
(bangle: bahasa Jawa) dan o kudu (kencur), o lanu (agel) dan o
naha (pandan), rorano Genis t u m b u h a n batang) dan towo'a (jenis
tumbuhan serat).
Kata pertama dari tiap pasangan kata di atas adalah kategori
laki-laki, dan kata keduanya adalah kategori perempuan. Apabila
kita menemukan tanaman atau t u m b u h a n yang sejenis, yang satu
berbuah dan yang lain tidak, m a k a yang tidak berbuah dikategori-
kan sebagai laki-laki dan yang berbuah sebagai perempuan.

Keterangan: A — o ue (rotan); B — o hao (akar);


C — o bite (sirih); D — inea (pinang);
E — duria (durian); F — suai (mentimun);
G — kowuna (bambu); H — o wulo (buluh);
I — daria (bangle: bahasa Jawa); J — o kudu (kencur);
K — o lanu (agel); L — o naha (pandan);
M — roramo (jenis tumbuhan batang); N — towo'a (jenis tumbuhan serat);
(?) — dan lain-lain.

Gambar 29
Klasifikasi Dua pada Tumbuhan

Berdasarkan lukisan di atas maka saya dapat menyimpulkan


bahwa kategori laki-laki pada binatang dan t u m b u h a n bagi orang
Tolaki dipersepsikan sebagai " m e n a n g , bulat panjang, tambun,
besar, kuat, tidak b e r b u a h " yang dipertentangkan dengan persep-
si " k a l a h , bulat telur, kurus, kecil, lemah, b e r b u a h " sebagai kate-
gori perempuan.

275

PNRI
1.5. Klasifikasi Dua pada Pekerjaan dan Permainan
Mereka juga membagi jenis pekerjaan atas laki-laki dan perem-
puan dalam asosiasi mereka terhadap jenis pekerjaan yang dilaku-
kan oleh kaum pria dan jenis pekerjaan yang'dilakukan oleh kaum
wanita, seperti: melaika (membangun rumah) dan humoru
(menenun), dumahu (berburu) dan mombopaho (bertanam),
metaho (tangkap unggas) dan meoro (tangkap ikan), sumaku
(menokok sagú) dan me'owikoro (menggali ubi hutan), me'ue
(merotan) dan me'onaha (mengambil pandan), mo'ana o baki
(menganyam. keranjang) dan mo'ana ambahi (menganyam tikar),
sumopu (menempah besi) dan momusu (membuat periuk tanah).
Demikian juga jenis permainan terdiri pula atas klasifikasi laki
dan perempuan, seperti: mehule (main gasing) dan mebele (main
tempurung), mebiti (main betis) dan medada (main telapak
tangan), metonggo (main judi pakai tongko) dan mesiki (main
judi pakai ceki). Kata-kata pertama dari tiap pasangan kata di atas
adaiah kategori laki-laki dan kata-kata kedua dari tiap pasangan
adaiah kategori perempuan.

Keterangan: A —
melaika (membuat rumah); B — moseu (menjahit);
C — dumahu (berburu); D — mombopaho (menanam);
E —metaho (tangkap unggas); F — meoro (tangkap ikan);
G —sumaku (menokok sagù); H — me 'owikoro (menggali ubi hutan);
I —
me'ue (merotan); J — me'onaha (mengambil daun pandan);
K —mo'ana o baki (menganyam keranjang); L — mo'ana ambahi
(menganyam tikar);
M — sumopu (menempah besi); N — momusu (membuat periuk);
(?) — dan- lain-lain.

Gambar 30
Klasifikasi Dua pada Jenis Pekerjaan

276

PNRI
Keterangan: metonggo = main judi pakai tongko; mesiki = main judi pakai siki; mebiti
= main betis; medada = main telapak tangan;, mehule = main gasing;
mebele = main tempurung.

G a m b a r 31
Klasifikasi Dua pada Jenis Permainan

2. L A I N - L A I N KLASIFIKASI S I M B O L I K : KLASIFIKASI
T I G A D A N KLASIFIKASI L I M A
Klasifikasi dua yang menggambarkan kategori laki-laki dan
perempuan yang telah saya lukiskan melalui lima kelompok con-
toh di atas merupakan kunci dari semua jenis klasifikasi dua yang
mungkin ada m a u p u n klasifikasi lain-lainnya.
Klasifikasi dua yang terdiri dari dua unsur kategori dalam
hubungan satu sama lain, selalu m e n u n j u k k a n gejala pertentang-
an (dual opposition) atau Iawan dua sepasang (binary opposilion).
Orang Tolaki sendiri memandang bahwa hubungan pertentangan
di antara satu sama lain hanya bersifat sementara dan tidak harus
dibiarkan berlangsung terus karena nanti menimbulkan perpecah-
an dan akibatnya mengganggu prinsip kesatuan dan persatuan
yang selaras antara unsur-unsurnya. Untuk itu diperlukan adanya
suatu unsur ketiga yang bertindak sebagai penengah, pendamai,
dengan hárapan bahwa unsur ketiga ini nantinya berperanan
sebagai pemersatu antara kedua unsur yang saling bertentangan
tersebut. P a d a tingkat kebutuhan inilah terjadinya klasifikasi tiga.
C o n t o h n y a adalah:

jasmani/rokhani — jasmani/rokhani/semangat
kepala/anggota — kepala/anggota/badan
pikiran/kehendak — pikiran/kehendak/perasaan

277

PNRI
dunia a t a s / d u n i a bawah — dunia a t a s / d u n i a b a w a h /
dunia tengah
matahari/bulan — matahari/bulan/bintang
siang/malam — s i a n g / m a l a m / t e r a n g bulan
panas/dingin — panas/dingin/hangat
gunung/lembah — gunung/lembah/lereng
hewan/tumbuhan — hewan/tumbuhan/burung
bangsawan/budak — bangsawan/budak/merdeka
suami/istri — suami/istri/mertua
ayah/ibu — ayah/ibu/anak
paman/bibi — paman/bibi/kemenakan
sepupu sekali/sepupu d u a
kali — sepupu sekali/sepupu d u a
kali/sepupu tiga kali

(1 + 2)
semangat
bintang
merdeka
anak

(D
jasmani
matahari
bangsawan
ayah

Gambar 32
Klasifikasi Tiga

A d a p u n klasifikasi lima timbul sebagai akibat dari perlu adanya


unsur kelima yang bertindak sebagai penengah dari e m p a t unsur
yang dapat secara berpasangan saling berlawanan atau bertentang-
an satu sama lain. E m p a t unsur dimaksud berasal dari peng-
g a b u n g a n d u a unsur dari pasangan klasifikasi d u a . C o n t o h peng-
gabungan itu adalah: k a n a n / k i r i / / m u k a / b e l a k a n g ; T i m u r /
B a r a t / / U t a r a / S e l a t a n ; dan a y a h / i b u / / k a k a k / a d i k . Sedangkan

278

PNRI
c o n t o h dari klasifikasi lima a d a l a h : k a n a n / k i r i / m u k a /
belakang/kepala; T i m u r / B a r a t / U t a r a / S e l a t a n / p u s a t bumi. Un-
sur " k e p a l a " dan unsur " p u s a t b u m i ' ' adalah unsur " p e n e n g a h "
dari masing-masirig empat unsur tersebut.

Utara muka

Barat Pusat Timur kiri pusat kanan

Selatan belakang

Cambar 33 Klasifikasi Lima

3. P E N C E R M I N A N KLASIFIKASI DUA, KLASIFIKASI


T I G A , D A N KLASIFIKASI L I M A P A D A KALO
Tiga macam klasifikasi di atas tercermin di dalam makna sim-
bolik dari kalo. Klasifikasi dua tercermin di dalam unsur " d u a
u j u n g r o t a n " yang membentuk kalo. Menurut konsepsi orang
Tolaki, dua u j u n g rotan itu adalah simbol dari laki dan perem-
puan, dan semua unsur dua yang saling bertentangan atau yang
dapat dipertentangkan, misalnya: jasmani dan rokhani, manusia
dan hewan, manusia dan t u m b u h a n , dunia nyata dan dunia gaib,
dan seterusnya.
M a k n a simbolik dari dua u j u n g rotan yang m e n u n j u k k a n klasi-
fikasi d u a ' t a m p a k pada ketika upacara peminangan. Dalam ruang
upacara duduk kelompok peserta upacara dari pihak laki-laki di
satu sisi ruangan, dan peserta upacara dari perempuan di sisi yang
lain secara berhadap-hadapan. Kedua pihak itu saling bersaingan
dalam hal menetapkan jenis dan jumlah mas kawin dan biaya per-
kawinan yang akan datang. Pihak perempuan meminta banyak
dan pihak laki-laki minta sedikit yang satu minta turun, yang lain
minta tetap tidak turun dari jumlah yang telah dimintanya. Gejala
lain di m a n a dua ujung rotan itu tampak sebagai klasifikasi dua

279

PNRI
adalah pada pemakaian tali pinggang orang dewasa. Ikat pinggang
dari kulit kayu yang diidentikkan dengan rotan adalah simbol
pengikat antara unsur jasmani dan rokhani yang saling berten-
tangan. A d a p u n contoh yang m e n u n j u k k a n bahwa dua ujung
rotan itu adalah klasifikasi dua atas manusia dan hewan tampak
pada penggunaan kalo sebagai tali hidung kerbau, demikian
sebagai penjaga tanaman adalah simbol klasifikasi dua atas manu-
sia dan tanaman. Klasifikasi dua atas dunia nyata dan dunia gaib
tampak pada gejala penggunaan kalo oleh d u k u n dalam usahanya
membujuk makhluk halus ketika mengobati penyakit seseorang
yang sakit.
Klasifikasi tiga tercermin di dalam tiga unsur dari atribut kalo,
yakni: lingkaran, wadah anyaman, dan kain putih yang mengan-
tarai keduanya. Contohnya adalah: golongan bangsawan, golong-
an budak, dan golongan biasa; golongan pemerintah, golongan
rakyat, dan golongan pemangku adat; dunia gaib, dunia nyata,
dan d u k u n upacara ritual; makhluk halus, orang sakit, dan dukun
penyakit; ayah, ibu dan anak.
Kata pertama dari tiga kata berangkai di atas disimbolkan oleh
lingkaran, kata keduanya disimbolkan oleh wadah anyaman, dan
kata ketiganya disimbolkan oleh kain putih. Pencerminan tiga un-
sur klasifikasi atas golongan bangsawan, golongan budak, dan
golongan biasa tampak pada upacara, yang disebut mosehe
wonua, yaitu upacara besar yang diadakan dalam rangka menolak
bala dan minta berkah. Upacara ini dihadiri oleh banyak orang
dari tiga golongan ini. Pencerminan tiga unsur klasifikasi atas
golongan pemerintah, golongan rakyat, dan golongan pemangku
adat tampak pada upacara pelantikan raja, dan pada penyambut-
an adat para pejabat pemerintah yang berkunjung ke daerah atau
ke desa-desa.-Pencerminan tiga unsur klasifikasi atas dunia gaib,
dunia nyata, dan dukun upacara tampak pada upacara sesaji.
Dalam semua upacara di atas, kalo digunakan. Pencerminan tiga
unsur klasifikasi atas makhluk halus, orang sakit, dan d u k u n
penyakit tampak pada penggunaan kalo di dalam upacara sesaji
yang disebut mowea, yaitu cara d u k u n m e m o h o n kepada makhluk
halus agar penyakit seseorang yang diderita dapat sembuh. Se-

280

PNRI
dangkan pencerminan klasifikasi tiga atas ayah, ibu, dan anak
tampak pada gejala bahwa p a d a u m u m n y a suatu keluarga inti
menyimpan kalo di r u m a h n y a yang digantungkan pada tempat
ketinggian yang a m a n di dalam kamar tempat tidur, yang se-
waktu-waktu kalo itu dapat diambil dan digunakan oleh keluarga
itu untuk mengundang keluarga inti lainnya untuk menghadiri
pesta yang akan diadakannya.
Selain kalo adalah simbol klasifikasi dua dan klasifikasi tiga
juga adalah simbol klasifikasi lima. Pencerminan lima unsur dari
klasifikasi lima p a d a kalo tampak di dalam posisi penempatan
kalo itu sendiri dalam ruang upacara, dan dalam pemakaian kalo
sebagai pengikat tiang tengah r u m a h . Dalam ruang upacara kalo
berada pada posisi pusat ruang, baik upacara yang diadakan di
dalam rumah m a u p u n upacara yang diadakan di lapangan.
Semua peserta upacara yang duduk di keempat sisi ruang meng-
hadap ke tengah ruang di m a n a kalo dan alat-alat upacara yang
lain ditempatkan. Juru bicara atau d u k u n upacara memegang kalo
dan menggerakannya ke atas, ke bawah, ke kanan, ke kiri, ke
depan, dan menariknya kembali ke pangkuannya, kemudian di-
letakkan di tengah-tengah ruang upacara. Selanjutnya juru bicara
mengemukakan apa yang harus didengarkan oleh peserta upacara,
atau d u k u n upacara mengucapkan mantera-manteranya. Dalam
upacara tolak bala dan minta berkah, peserta upacara tidak hanya
mendengarkan mantera-mantera, tetapi juga memegang kalo.
Bagi peserta upacara yang tidak dapat meraih kalo, karena j a u h
dari posisi tempat kalo maka ia tidak dapat meraih kalo karena
j a u h dari posisi tempat kalo m a k a ia cukup menyentuhkan
tangannya pada orang yang duduk di depannya secara berturut-
turut. Hal itu telah dianggap sama dengan memegang kalo itu sen-
diri. Kenyataan-kenyataan di atas m e n u n j u k k a n bahwa kalo ber-
fungsi sebagai pusat tata ruang yang mencerminkan unsur-unsur
dalam klasifikasi lima, yaitu: kanan-kiri-muka-belakang-pusat
dari suatu ruang upacara dalam rumah; atau Timur-Barat-Utara-
Selatan-pusat bumi dari suatu upacara di lapangan.
Peserta upacara, misalnya dalam upacara perkawinan, biasanya
diatur demikian rupa, sehingga mereka yang duduk p a d a posisi

281

PNRI
kanan adalah keluarga pengantin perempuan pihak ayah, yang
duduk p a d a posisi kiri adalah keluarga pengantin laki-laki pihak
ibu, yang d u d u k pada posisi muka-belakang adalah masing-
masing keluarga dari masing-masing keluarga pengantin laki-laki
dari pihak ayah, dan keluarga pengantin perempuan dari pihak
ibu. Sedangkan yang duduk di tengah di m a n a kalo ditempatkan
adalah dua juru bicara dari masing-masing keluarga pengantin
dan dua pasang suami-istri, ialah paman-bibi dari masing-masing
pengantin, yang duduk saling berhadapan. Demikian juga peserta
upacara, misalnya dalam upacara pergantian tahun pertanian,
biasanya diatur demikian rupa, sehingga mereka yang mengambil
tempat di bagian Timur lapangan adalah penduduk yang berasal
dari wilayah Timur desa, yang mengambil tempat di bagian Barat
lapangan berasal dari wilayah Barat desa, yang mengambil tempat
di bagian Utara lapangan berasal dari wilayah Utara desa, yang
mengambil tempat di bagian Selatan lapangan berasal dari wilayah
Selatan desa, sedangkan mereka yang duduk di tengah lapangan
upacara di m a n a kalo dan alat-alat upacara serta bangunan pang-
gung berada adalah d u k u n upacara yang dikelilingi oleh para
tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat.
Kenyataan-kenyataan tersebut di atas m e n u n j u k k a n kepada
kita bahwa kalo dalam upacara merupakan simbol dari unsur-
unsur klasifikasi lima. Kalo dalam fungsinya sebagai pengikat
rumah, juga melambangkan unsur-unsur klasifikasi lima, ber-
dasarkan asosiasi orang Tolaki yang mengidentikkan kalo dengan
tiang tengah rumah, di m a n a tiang tengah rumah berfungsi seba-
gai pusat tata ruang r u m a h yang mencerminkan unsur-unsur
ruang r u m a h , yaitu: sisi-sisi kanan-kiri-muka-belakang-pusat
rumah.

282

PNRI
X
FUNGSI KALO

P a d a bab-bab terdahulu saya telah mengemukakan apa arti


kalo, baik secara harfiah m a u p u n kalo sebagai konsep dan sebagai
simbol,** demikian juga h u b u n g a n kalo dengan unsur-unsur lain
dalam kebudayaan Tolaki**'; dan kalo dalam kaitan dengan klasi-
fikasi simbolik, dua, tiga, dan lima menurut logika berpikir
elementer dalam kebudayaan Tolaki.***' Untuk m e n u n j u k k a n
kalo sebagai fokus kebudayaan Tolaki, dalam bagian ini saya
akan berusaha mengemukakan empat fungsi dari kalo itu.
Keempat fungsi kalo itu adalah: (1) kalo sebagai ide dalam
kebudayaan dan sebagai kenyataan dalam kehidupan orang
Tolaki; (2) kalo sebagai fokus dan pengintegrasi unsur-unsur
kebudayaan Tolaki; (3) kalo sebagai pedoman hidup untuk tercip-
tanya ketertiban sosial dan moral dalam kehidupan orang Tolaki;
dan (4) kalo sebagai pemersatu untuk pertentangan-pertentangan
konseptual dan sosial dalam kebudayaan dan dalam kehidupan
orang Tolaki.

1. KALO SEBAGAI IDE DALAM K E B U D A Y A A N D A N SE-


BAGAI KENYATAAN DALAM KEHIDUPAN ORANG
TOLAKI
W u j u d ideal dari suatu kebudayaan adalah salah satu dari tiga
wujud kebudayaan. Dua w u j u d lainnya adalah wujud kelakuan,
dan w u j u d fisik. W u j u d ideal dari suatu kebudayaan adalah adat,

*) Lihat hlm. 19-24 di atas.


**) Lihat hlm. 74-77; 95-97; 106-107; 204-211; 241-243; 261.
*) Lihat hlm. 279-282.

283

PNRI
atau lengkapnya disebut adat tata-kelakuan, karena adat ber-
fungsi sebagai pengatur kelakuan (Koentjaraningrat 1984: 9-13).
Menurut beliau, adat dapat dibagi dalam empat tingkat, ialah
tingkat nilai-budaya, tingkat norma-norma, tingkat hukum, dan
tingkat aturan khusus. Berdasarkan pandangan di atas maka saya
akan mencoba meninjau kalo sebagai wujud ideal dari kebudaya-
an Tolaki, dengan meninjau kalo sebagai adat dalam empat
tingkatannya.
Kalo pada tingkat nilai budaya adalah sistem nilai budaya, yang
berfungsi m e w u j u d k a n ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal
yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat Tolaki. Hal-hal
yang paling bernilai bagi orang Tolaki dalam kehidupannya
adalah apa yang disebut medulu mepoko'aso (persatuan dan kesa-
tuan), ateputepenao moroha (kesucian dan keadilan), dan morini
mbu'umbundi monapa rnbu'undawaro (kemakmuran dan kese-
jahteraan).*' Ide-ide ini dinyatakan oleh orang Tolaki melalui
penggunaan kalo dalam upacara-upacara yang berkaitan dengan
kegiatan-kegiatan mereka dalam bidang-bidang sosial, ekonomi,
politik dan keagamaan. Upacara yang berkaitan dengan bidang
sosial misalnya adalah upacara perkawinan dan kematian; yang
berkaitan dengan bidang ekonomi misalnya adalah upacara per-
gantian tahun pertanian, upacara potong hutan, upacara tanam
dan potong padi; yang berkaitan dengan bidang politik misalnya
adalah upacara pelantikan raja, dan upacara penyambutan para
pejabat pemerintah; dan yang berkaitan dengan bidang keagama-
an misalnya adalah upacara-upacara syukuran dan tolak bala.
Selain ide-ide itu diwujudkan dalam upacara-upacara, juga di-
w u j u d k a n dalam kegiatan sehari-hari. Ide kesatuan dan persatuan
misalnya diwujudkan dalam apa yang disebut mete'alo-alo (bantu-
membantu) antara keluarga inti dengan keluarga inti atau antara
kerabat lúas dengan kerabat lúas dalam hal mendirikan rumah,

*) Ketiga istilah Tolaki lersebul selalu diperdengarkan oleh pemimpin upacara dalam
setiap upacara yang mereka lakukan. Arti harfiah dari medulu mepoko'aso adalah
menggabungkan menjadi satu, ate pute adalah hati putih, penao moroha adalah jiwa
yang suci, morini mbu'umbundi adalah nyaman laksana nyamannya berada di bawah
pohon pisang, monapa rnbu'undawaro adalah sejuk laksana sejuknya berada di bawah
pohon sagú.

284

PNRI
sumbangan berupa makanan dan minuman pada pesta-pesta ter-
utama dalam pesta kematian. Ide kesucian misalnya diwujudkan
dalam rangkaian aktivitas lingkaran hidup seseorang, seperti pe-
mandian bayi pertama, pemotongan rambut bayi, penyunatan,
pembayatan calon pengantin, mandi masai untuk memasuki bulan
puasa, dan pemandian mayat. Ide keadilan misalnya diwujudkan
dalam pengambilan keputusan dalam hal pembagian warisan
kepada anak-anak, yang dilakukan oleh orang tua, dalam pengam-
bilan keputusan peradilan adat yang dilakukan oleh hakim adat.
Ide kemakmuran misalnya diwujudkan dalam usaha mereka un-
tuk merealisasikan apa yang disebut mondaweako (jutaan ikat
padi),tepohiu o epe (bertebaran bidang kebun sagu), kiniku me-
banggona (kerbau berombongan), lua-luano wawo raha (kebun
kelapa yang luas). Akhirnya, ide kesejahteraan misalnya diwujud-
kan dalam apa yang disebut mombekapona-pona'ako (saling hor-
mat menghormati), mombekamei-meiri'ako (saling kasih
mengasihi), ndundu karandu (suasana ketenangan batin yang
diliputi dengan alunan bunyi gong yang merdu di tengah malam),
dan tumotapa rarai (suasana kegembiraan yang diliputi dengan
suara hura-hura, tawa dan tepuk tangan yang meriah).
Kalo pada tingkat norma-norma adalah nilai-nilai budaya yang
berfungsi mengaitkan peranan-peranan tertentu dari orang Tolaki
dalam masyarakatnya. Kalo di sini berfungsi sebagai pedoman
bagi tingkah laku seseorang Tolaki dalam memainkan peranan-
peranannya. Peranan seseorang dalam masyarakat adalah
banyak: Dalam kehidupan keluarga misalnya seseorang mempu-
nyai peranan sebagai ayah atau ibu, paman atau bibi, mertua,
menantu, anak, kemenakan, sepupu; dan dalam kehidupan sosial
politik dan pemerintahan seseorang dapat berperanan sebagai
atasan atau bawahan, serta dalam kehidupan keagamaan sese-
orang dapat berperanan sebagai d u k u n atau juru bicara yang
memimpin upacara, atau hanya berperanan sebagai peserta
upacara, atau sebagai imam, atau hanya j a m a a h .
Penampilan kalo sebagai pedoman bagi kelakuan seseorang
Tolaki dalam memainkan peranan-peranannya tersebut di atas
tampak pada dua gejala, yaitu pada peristiwa pertemuan-

285

PNRI
pertemuan keluarga dan pertemuan-pertemuan resmi antara
pemerintah dan rakyat di m a n a kalo digunakan; dan pada gejala
di m a n a seseorang memakai kalo pada bagian tertentu dari
tubuhnya. P a d a gejala pertama seseorang yang diperhadapkan
kalo kepadanya merasakan bahwa ia adalah seorang yang lebih
tinggi peranannya daripada orang yang menghadapkan kalo itu.
Kelebihan peranannya itu karena pada saat itu ia diperlakukan
sebagai ayah atau ibu oleh anak, p a m a n atau bibi oleh kemena-
kan, kakek atau nenek oleh cucu, atau sebagai atasan oleh bawah-
an, yang masing-masing peranan anak, kemenakan, cucu, atau
peranan bawahan diwakilkan kepada seorang juru bicara. Melalui
kalo itu seorang lebih tinggi peranannya berpikir mengenai apa
yang harus dilakukannya dan bagaimana ia harus melakukannya
sehubungan dengan maksud dan t u j u a n dari pihak yang meng-
h a d a p k a n kalo kepadanya. Demikian pula sebaliknya seorang
yang lebih rendah peranannya tentu berpikir pula mengenai apa
dan bagaimana ia harus melayani orang yang lebih tinggi peranan-
nya itu.

Gejala kedua yang m e n u n j u k k a n bahwa kalo berfungsi sebagai


pedoman bagi kelakuan seseorang dalam masyarakat adalah
pemakaian kalo pada bagian tertentu dari tubuhnya. Misalnya
seorang r e m a j a yang memakai kalo p a d a pergelangan tangan dan
kaki memberi tanda bahwa ia pada saat itu harus berperanan
sebagai pemuda yang penuh dengan potensi untuk melakukan
tugas-tugas yang berat demi masa depannya. Demikian misalnya
seorang tua yang memakai kalo pada pinggangnya memberi tanda
bahwa ia p a d a saat itu harus berperanan sebagai orang- tua yang
penuh dengan kematangan untuk melakukan pembinaan bagi
anak dan generasi penerusnya.*'

Kalo pada tingkat sistem h u k u m adalah h u k u m adat orang To-

*) Uraian ini bersumber dari keterangan yang diberikan oleh H. M a s n u r P u u w a t u , seorang


tokoh adat, yang selama hidupnya pernah m e n j a b a t sebagai Kapitan di zaman Belanda.

286

PNRI
laki yang berfungsi mengatur bermacam-macam sektor kehidupan
orang Tolaki. Kalo sebagai h u k u m adat tampak pada gejala di
mana kalo itu berfungsi sebagai alat komunikasi antar keluarga,
antar golongan; sebagai patok tanah hutan untuk dijadikan
ladang, penjaga kebun dan t a n a m a n di dalamnya; sebagai peng-
ikat tiang tengah rumah dan bangunan perlindungan lainnya, alat
yang dipakai dalam urusan penyelenggaraan perkawinan, alat
yang dipakai untuk menyumpah seorang raja, dan alat yang dipa-
kai dalam upacara tolak bala dan minta berkah. Penggunaan kalo
dalam beberapa sektor kehidupan orang Tolaki tersebut di atas
merupakan ketentuan-ketentuan" hukum adat yang harus ditaati.
Pelanggaran terhadapnya berarti sanksi yang akan menimpa.
Sanksi itu dapat berwujud sebagai sanksi batin dan sebagai sanksi
fisik.
Orang yang melanggar ketentuan bahwa ia harus menggunakan
kalo dalam berkomunikasi antar keluarga atau antar golongan
sepanjang komunikasi itu menyangkut hal yang penting, maka ia
dikenakan sanksi batin berupa cemohan bahwa ia tidak tahu tertib
sopan, dan yang berakibat bahwa maksudnya tidak perlu diacuh-
kan. Orang yang melanggar patok tanah hutan dan penjaga kebun
dan tanaman di dalamnya akan diperlakukan sebagai pencuri dan
segera akan diadukan ke sidang peradilan adat. Orang yang tidak
memakai kalo sebagai pengikat tiang rumahnya menurut
keyakinan mereka bahwa pemilik rumah dan keluarga yang ting-
gal di dalamnya akan tidak merasa tenteram dalam hidupnya, dan
sewaktu-waktu rumah atau bangunan tersebut akan ditimpa ben-
cana alam. Orang yang melanggar ketentuan yang menyangkut
penggunaan kalo dalam perkawinan akan dikenakan sanksi beru-
pa denda, diisikan dari masyarakat ramai, atau diculik dan dibu-
nuh secara diam-diam. Seorang r a j a yang disumpah t a n p a meng-
gunakan kalo dalam rangkaian pelantikannya, menurut keyakinan
orang Tolaki, r a j a itu akan tidak berhasil dalam kepemimpinan-
nya, dan ada kemungkinan bahwa ia tidak p a n j a n g umur. Mereka
juga yakin bahwa apabila dalam upacara tolak bala dan minta
berkah tidak d i g u n a k a n kalo, m a k a akan berakibat bahwa
maksud upacara itu mustahil berhasil bahkan sebaliknya yang ter-

287

PNRI
jadi ialah bencana alam sebagai h u k u m a n T u h a n , dewa, dan roh
nenek moyang. Ketaatan orang Tolaki terhadap kalonya itu pada
dasarnya bukan karena mereka takut terhadap sanksi denda dan
sanksi fisik, tetapi karena takut terhadap kutukan Tuhan dan
roh nenek moyang.*'
Akhirnya, kalo pada tingkat aturan khusus adalah aturan-
aturan khusus yang mengatur aktivitas-aktivitas yang amat jelas
dan terbatas ruang-lingkupnya dalam kehidupan masyarakat
orang Tolaki. Kalo sebagai aturan-aturan khusus tertuang dalam
apa yang disebut merou (aturan khusus dalam berbahasa yang me-
n u n j u k k a n sopan-santun); atora (aturan khusus dalam komuni-
kasi sosial); o wua (aturan khusus dalam bercocok tanam pada
umumnya); o lawi (aturan khusus dalam bercocok tanam padi
khususnya); o sapa (aturan khusus dalam berburu, beternak, dan
menangkap ikan); mepori (aturan khusus dalam membuat dan
memakai alat-peralatan); wowai (aturan khusus dalam menafsir-
kan tanda-tanda alam), o pado (aturan khusus dalam pantangan),
dan mondodo (aturan khusus dalam pekerjaan yang bersifat seni).
Dengan uraian-uraian mengenai kalo sebagai ide dalam kebuda-
yaan dan sebagai kenyataan dalam kehidupan orang Tolaki di atas
melalui analisa adat-istiadat dalam empat tingkatnya, maka rupa-
rupanya kalo orang Tolaki itu adalah jiwa kebudayaan Tolaki,
dan hal itu berarti bahwa kalo itu adalah pola kebudayaan Tolaki.

2. K A L O SEBAGAI FOKUS D A N P E N G I N T E G R A S I UNSUR-


UNSUR KEBUDAYAAN TOLAKI.
Dalam uraian mengenai t u j u h unsur kebudayaan Tolaki pada
bab III sampai dengan bab VIII, saya telah mengemukakan
beberapa sub unsur dari tiap unsur kebudayaan Tolaki yang ada
hubungannya dengan kalo. Dalam uraian-uraian itu ternyata
bahwa kalo ada hubungannya dengan bahasa melalui fungsi kalo
sebagai bahasa lambang komunikasi, demikian dengan unsur
ekonomi melalui fungsi kalo sebagai penjaga tanaman dan pusat

*) Uraian ini bersumber dari keterangan A. Hamid Hasan, Husen A. Chalik, Arsjamid,
Nehru Dundu, dan Mangarati, kelimanya adalah tokoh-tokoh adat yang banyak
terlibat dalam penggunaan kalo sebagai hukum adat.

288

PNRI
ladang padi, dan melalui m a k n a simbolik kalo sebagai asas
distribusi barang-barang ekonomi. Kalo juga ada hubungannya
dengan sistem teknologi melalui bentuknya sebagai model dari
teknik mengikat dan bentuk alat-peralatan, demikian juga ada
hubungannya dengan organisasi sosial melalui makna simboliknya
sebagai asas organisasi tradisional, asas organisasi kerajaan, dan
sebagai asas politik dan pemerintahan. Selanjutnya kalo juga ada
hubungannya dengan sistem pengetahuan melalui makna sim-
boliknya sebagai konsepsi orang Tolaki mengenai struktur alam
nyata, demikian juga ada hubungannya dengan sistem religi mela-
lui makna simboliknya sebagai konsepsi orang Tolaki mengenai
struktur alam gaib. Akhirnya kalo ada hubungannya dengan kese-
nian melalui bentuknya sebagai model dari bentuk rias dan teknik
menari (lihat Bagan 6).
Pembuktian kalo sebagai f o k u s ' d a n pengintegrasi unsur-unsur
kebudayaan Tolaki tidak hanya melalui hubungannya dengan
beberapa sub unsur dari tiap unsur kebudayaan Tolaki seperti
terurai di atas, tetapi juga tampak pada fungsi kalo dalam upacara
sebagai simbol pusat yang mengintegrasikan sistem-sistem
simbol yang ada dalam konteks upacara. Sistem-sistem simbol itu
tercermin pada alat-alat upacara yang digunakan, waktu dan tem-
pat upacara, dekorasi ruangan rumah upacara, golongan-
golongan masyarakat yang mengikuti upacara, pakaian upacara,
mantera-mantera dan doa-doa yang diucapkan oleh seorang
dukun, dan hidangan makanan upacara.
Alat-alat upacara, seperti hewan korban, t u m b u h - t u m b u h a n ,
dan benda-benda fisik lainnya, yakni batu, tanah, air, api, se-
muanya mengandung makna sebagai simbol. Hewan korban,
misalnya kerbau adalah simbol k e m a k m u r a n ; t u m b u h a n -
tumbuhan pada umumnya mengekspresikan ide pertumbuhan dan
kesuburan. Batu adalah simbol kekuatan dan ketahanan, tanah
adalah simbol kesabaran, air adalah lambang kesucian, dan api
adalah simbol semangat untuk hidup di masa mendatang. Waktu
upacara mengekspresikan proses jalannya kehidupan yang baik di
dunia. Oleh karena itu waktu yang baik untuk upacara dipilih
adalah waktu menjelang matahari naik yang mengekspresikan

289

PNRI
Keterangan: 1 — Bahasa; 2 — Sistem E k o n o m i Tradisional;
3 — Sistem Teknologi Tradisional; 4 — Organisasi Sosial;
5 — Sistem Pengetahuan; 6 — Sistem Kepercayaan; 7 — Kesenian.

Sumber: Deskripsi Bab III sampai dengan Bab VIII.

B A G A N 6. H U B U N G A N A N T A R A T U J U H U N S U R KEBU-
D A Y A A N TOLAKI D E N G A N AL4LONYA

290

PNRI
u m u r p a n j a n g dan banyak rejeki, waktu 14 atau 15 bulan di langit
mengekspresikan kegenapan dan kesempurnaan hidup. Pakaian
upacara adalah simbol-simbol status sosial seseorang dalam
masyarakat. Golongan-golongan manusia yang ikut dalam
upacara mengekspresikan kesatuan dan persatuan dari unsur-
unsur masyarakat. Dekorasi ruangan upacara mengekspresikan
alam semesta dan isinya. Mantera-mantera dan doa-doa seorang
d u k u n mengekspresikan keikhlasan manusia dalam mengakui
kesalahannya karena secara tidak sengaja telah mengganggu
ketenteraman makhluk halus dan melanggar norma adat dan
agama, dan di samping itu juga manusia memohon kepada dewa-
dewa dan Tuhan Allah agar diri mereka yang telah berdosa itu
dapat menjadi suci kembali. P a d a akhir doanya seorang dukun
mengharapkan kiranya dewa dan Tuhan Allah senantiasa
memelihara mereka sehingga terhindar dari bala bencana, dan
agar mereka hidup dalam suasana kesatuan dan persatuan,
m a k m u r dan sejahtera, kekal dan abadi. Hidangan makanan dan
minuman mengekspresikan rasa kesyukuran atas berkah yang
telah dikaruniakan, dan sekaligus mengekspresikan cita-cita akan
kemakmuran dan kesejahteraan di masa-masa mendatang.

M a k n a simbolik dari unsur-unsur upacara terurai di atas


terintegrasi di dalam makna simbolik dari kalo. Ide-ide kesatuan
dan persatuan tercermin di dalam makna simbolik dari lingkaran
rotan, demikian juga ide-ide keikhlasan dan kesucian tercermin di
dalam makna simbolik dari kain putih, dan ide-ide kemakmuran
dan kesejahteraan tercermin di dalam makna simbolik dari wadah
anyaman di m a n a lingkaran rotan diletakkan.

Dengan peranan kalo dalam fungsinya sebagai pengintegrasi


unsur-unsur kebudayaan Tolaki, baik dalam hubungannya
dengan beberapa sub unsur dari tiap unsur kebudayaan Tolaki
m a u p u n fungsinya sebagai unsur utama dalam upacara, maka
rupa-rupanya kalo itu adalah aktivitas kebudayaan orang Tolaki
yang berfungsi memenuhi dan memuaskan banyak kebutuhan
dasar dalam naluri manusia orang Tolaki.
Kebutuhan-kebutuhan dasar orang Tolaki itu misalnya ingin

291

PNRI
menyampaikan perasaan dan pikirannya kepada sesamanya secara
sopan. Untuk itu mereka menciptakan kalo dan menggunakannya
sebagai bahasa lambang. Mereka butuh akan keamanan ladang
dan kebun serta tanaman di dalamnya dalam rangkaian kebutuh-
an akan makan. Karena itu mereka menciptakan kalo dan meng-
gunakannya sebagai penjaga ladang dan kebun serta tanaman di
dalamnya. Mereka butuh akan keamanan rumahnya dari gang-
guan bencana alam dan lain-lain gangguan dari luar dalam rangka
kebutuhan dasar akan rasa keamanan fisik. Untuk itu mereka
menciptakan kalo dan menggunakannya untuk pengikat tiang
tengah rumah. Mereka butuh akan kawin dalam rangka
kebutuhan dasar seks dan keturunan. Karena itu mereka mencip-
takan kalo dan digunakannya untuk melamar gadis dan untuk
melangsungkan perkawinan. Mereka butuh akan komunikasi
dengan sesamanya dalam rangka kebutuhan sosialnya, maka
mereka menciptakan kalo dan digunakannya untuk mengadakan
hubungan antara keluarga dengan keluarga, dan antara golongan
dengan golongan. Mereka juga butuh akan keindahan, maka
mereka menciptakan kalo dan memakainya sebagai perhiasan.
Mereka ingin tahu tentang sesuatu yang ada dalam alam sekitar-
nya, maka mereka menciptakan kalo dan digunakannya sebagai
alat ekspresi dan media konsepsi tentang alam semesta dan isinya.
Mereka juga butuh akan kekuatan sakti dan kekuatan sosial
dalam kebutuhan akan dasar akan emosi keagamaan, maka
mereka menciptakan kalo dan digunakannya sebagai alat upacara
dan alat komunikasi dengan alam gaib.
Di sini tampak kelebihan kalo dalam fungsinya memenuhi dan
memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia orang Tolaki
dibandingkan dengan sub unsur lain dari suatu unsur kebudayaan
Tolaki. Misalnya sub unsur kebudayaan " p e r a n g " hanya ber-
fungsi sebagai alat produksi dalam rangkaian unsur sistem
ekonomi, dan berfungsi sebagai senjata dalam rangkaian unsur
teknologi. Berdasarkan kenyataan-kenyataan inilah saya dapat
menyimpulkan bahwa kalo adalah fokus kebudayaan Tolaki yang
berfungsi sebagai pengintegrasi unsur-unsur yang ada di dalam-
nya.

292

PNRI
3 . K A L O SEBAGAI P E D O M A N H I D U P U N T U K T E R C I P T A -
NYA K E T E R T I B A N SOSIAL D A N M O R A L

Untuk terciptanya ketertiban sosial dan moral dalam kehidupan


masyarakatnya, orang Tolaki menggunakan ajaran-ajaran kalo
sebagai pedoman hidup.*' Penggunaan kalo sebagai pedoman
hidup untuk terciptanya ketertiban sosial dan moral tampak
dalam usaha memulihkan suasana kelaparan karena panen tidak
jadi, suasana kecelakaan karena bencana alam, suasana kematian
karena wabah penyakit, suasana penganiayaan karena per-
musuhan, dan suasana keretakan karena kesalahpahaman antara
orang seorang, antara keluarga dengan keluarga, dan antara
golongan dengan golongan.
Orang Tolaki menganggap bahwa timbulnya suasana-suasana
yang tidak baik tersebut di atas adalah akibat dari manusia yang
telah melanggar adat dan norma agama. Dengan lain perkataan
orang Tolaki sendiri telah melanggar ajaran kalo sebagai adat
pokok mereka. Untuk memulihkan suasana-suasana yang
demikian, maka tak ada jalan lain yang lebih menjamin
berhasilnya pemulihan, kata mereka, kecuali mengadakan
upacara di mana kalo digunakan. Upacara itu disebut mosehe
wonua*** (upacara besar yang diikuti oleh sebagian besar warga
masyarakat orang Tolaki). Dalam upacara itu diungkapkan
bahwa mereka telah melanggar adat dan norma agama. Pernya-
taan ini dikumandangkan oleh dukun upacara agar didengar oleh
seluruh peserta upacara dan oleh roh nenek moyang, dewa, dan
T u h a n . Dukun upacara juga menyatakan bahwa mereka telah
tobat, dan bersumpah bahwa mereka akan kembali kepada
a j a r a n - a j a r a n kalo yang sesungguhnya, adat pokok mereka.
Akhirnya d u k u n upacara meminta kepada seluruh peserta upacara
dan warga masyarakat pada u m u m n y a agar kembali tertib dan ber-
akhlak baik dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga mereka

*) Mengenai kalo sebagai ajaran adat (lihat hlm. 21-24).


**) Secara harfiah kata mosehe berarti "menyehatCa'n", dan kata wonua berarti "negeri,
penduduk, warga masyarakat."

293

PNRI
kembali hidup dalam suasana kecukupan, a m a n dan tenteram,
sehat wal afiat, damai, dan dalam suasana kekeluargaan yang
akrab, bersatu, kuat, dan k o k o h .
Dalam suasana p r o f a n atau dalam suasana kehidupan di luar
upacara yang bersifat sakral, sering terdengar kata-kata orang tua
bahwa barangsiapa yang tidak mentaati kalo m a k a ia menjadi
bere-bere olutu ruru mbenao,*' artinya tersisih dari pergaulan
umum masyarakat. Ia tidak dikunjungi oleh sesamanya dan begitu
sebaliknya, karena ia telah dianggap berakhlak rendah oleh warga
masyarakat. Apabila sudah begitu keadaannya m a k a ia menjadi
seorang yang disebut mbirito,**' artinya manusia yang tidak punya
harga diri lagi. Biasanya orang demikian tidak betah lagi untuk
bertahan tinggal menetap di lingkungannya, dan terpaksa ia harus
pindah ke negeri lain, dan jika ia iidak m a m p u untuk melakukan-
nya maka terpaksa ia m e m b u n u h diri.

4. KALO SEBAGAI PEMERSATU UNTUK PERTEN-


T A N G A N K O N S E P T U A L DAN SOSIAL D A L A M KEBU-
DAYAAN TOLAKI DAN DALAM KEHIDUPANNYA
Dalam uraian mengenai klasifikasi simbolik***' telah saya
mengemukakan beberapa pasangan unsur yang saling berten-
tangan sebagai klasifikasi dua, baik mengenai manusia, alam,
m a s y a r a k a t , m a u p u n mengenai p e k e r j a a n d a n p e r m a i n a n
menurut cara berpikir elementer dalam kebudayaan Tolaki. Dalam
bagian ini saya akan mengemukakan beberapa contoh p a d a unsur
pertentangan mana dari klasifikasi dua itu yang dapat diper-
satukan dengan kalo.
Unsur konsep bertentangan dari klasifikasi dua itu yang dapat
dipersatukan oleh kalo adalah meliputi unsur pertentangan yang
terdapat pada klasifikasi dua mengenai manusia dan klasifikasi
dua mengenai alam. P a d a klasifikasi dua mengenai manusia, un-

*) Secara harfiah kata bere-bere o lutu berarti " b u n y i lutut yang gemeletuk karena
kurang j a l a n . "
**) Secara harfiah kata mbirito berarti " b i n a t a n g kecil yang melata, merayap di t a n a h . "
***) Lihat him. 262-282.

294

PNRI
sur konsep bertentangan itu adalah t u b u h d a n jiwa, kanan dan
kiri, atau m u k a d a n belakang, atau atas d a n bawah, atau luar dan
dalam. P a d a klasifikasi d u a mengenai alam, unsur konsep berten-
tangan itu adalah dunia nyata d a n dunia gaib, dunia atas dan
dunia b a w a h , demikian Timur dan Barat, atau U t a r a dan Selatan.
Konsep bertentangan itu j u g a t a m p a k p a d a unsur petani dan
t a n a m a n n y a , a n t a r a unsur peternak dan ternaknya, dan a n t a r a
unsur p e m b u r u d a n hewan b u r u a n n y a .
P e r t e n t a n g a n konseptual a n t a r a t u b u h d a n jiwa dipersatukan
oleh kalo, yang disebut kalo kale-kale, yaitu kalo yang dipakaikan
p a d a pergelangan tangan d a n kaki bayi, d a n kalo pebo, yaitu kalo
yang dipakai sebagai ikat pinggang orang dewasa. Pertentangan
konseptual a n t a r a kanan dan kiri, demikian a n t a r a m u k a dan
belakang, a n t a r a atas dan bawah, d a n a n t a r a luar dan dalam, se-
m u a n y a dipersatukan oleh kalo, yang disebut kalo samblala, yaitu
kalo yang dipakai di dada seorang a n a k . Pertentangan konseptual
antara dunia nyata d a n dunia gaib, demikian a n t a r a dunia atas
dan d u n i a bawah, d a n a n t a r a Timur d a n Barat, Utara dan
Selatan, semuanya dipersatukan oleh kalo, yang disebut kalo eno-
eno, yaitu kalo yang digunakan dalam upacara-upacara ritual di
lapangan. Khusus pertentangan konseptual a n t a r a orang h i d u p
d a n orang mati dipersatukan oleh kalo, yang disebut kalo ula-ula,
yaitu kalo yang digunakan u n t u k p e k a b a r a n tentang adanya orang
meninggal, d a n kalo yang disebut kalo lowani, yaitu kalo yang
dipakai sebagai t a n d a berkabung. Pertentangan konseptual a n t a r a
petani d a n t a n a m a n n y a dipersatukan oleh kalo, yang disebut kalo
kinalo yaitu kalo yang digunakan untuk m e n j a g a ladang dan
kebun dengan t a n a m a n yang a d a di d a l a m n y a . Demikian a n t a r a
peternak dan ternaknya dipersatukan oleh kalo, yang disebut kalo
selekeri atau kalo kalelawu yaitu kalo yang digunakan sebagai cin-
cin hidung kerbau. Begitu pula a n t a r a p e m b u r u d a n hewan
b u r u a n n y a dipersatukan oleh kalo, yang disebut kalo o oho, kalo
o taho, kalo ohotai, kalo o hopi yaitu kalo yang masing-masing
digunakan untuk m e n a n g k a p kerbau, rusa, a n u a n g , ayam h u t a n ,
dan aneka-ragam burung.
Selain kalo berfungsi sebagai pemersatu u n t u k pertentangan-

295

PNRI
pertentangan konseptual terurai di atas, juga berfungsi sebagai
pemersatu untuk pertentangan-pertentangan sosial dalam kehi-
dupan orang Tolaki. Unsur sosial bertentangan dari klasifikasi
dua itu yang dapat dipersatukan oleh kalo adalah meliputi unsur
pertentangan yang terdapat pada klasifikasi dua dalam
masyarakat. Unsur-unsur sosial yang-bertentangan itu adalah
golongan bangsawan dan golongan budak, atau golongan peme-
rintah dan golongan rakyat, keluarga pemberi gadis dan keluarga
penerima gadis, dan antara person dan person.
Timbulnya pertentangan sosial antara golongan bangsawan dan
golongan budak biasanya bersumber dari perlakuan tidak sewajar-
nya terhadap satu sama lain, demikian pertentangan sosial antara
golongan pemerintah dan golongan rakyat biasanya bersumber
dari perbedaan faham dalam soal politik. Sedangkan timbulnya
pertentangan antara keluarga dengan keluarga biasanya ber-
sumber dari sengketa yang timbul karena soal kawin lari, dan tim-
bulnya pertentangan antara person dengan person biasanya ber-
sumber dari sengketa yang timbul karena soal harta pusaka.
Semua unsur sosial bertentangan di atas dapat dipersatukan
oleh kalo sara. Kalo sara yang digunakan untuk mendamaikan
atau mempersatukan golongan bangsawan dan golongan budak
disebut kalo sara mbutobu, yaitu kalo sara yang digunakan untuk
menghadap kepada putobu (kepala wilayah) agar kepala wilayah
turun tangan memulihkan perselisihan di antara golongan
bangsawan dan golongan budak. Kalo sara yang digunakan untuk
mendamaikan atau mempersatukan golongan pemerintah dan
golongan rakyat disebut kalo sara mokole, yaitu kalo sara yang
digunakan untuk menghadap mokole (raja) agar raja turun tangan
memulihkan perselisihan di antara golongan pemerintah dan
rakyat. Kalo sara yang digunakan untuk mendamaikan atau mem-
persatukan dua pihak keluarga yang berselisih karena soal kawin
lari disebut kalo sara sokei, yaitu kalo yang digunakan untuk
membentengi diri dari pihak keluarga yang melarikan gadis dari
serangan pihak keluarga yang anak gadisnya dilarikan. Kalo sara
yang digunakan untuk mendamaikan atau mempersatukan orang
dengan seorang yang berselisih disebut kalo sara mekindoroa,

296

PNRI
yaitu kalo sara yang digunakan untuk menyelamatkan hidup sese-
orang yang berselisih karena keduanya saling mengancam untuk
membunuh lawannya.*'
Orang Tolaki memperlakukan kalonya itu sebagai alat pemer-
satu untuk pertentangan konseptual dan sosial terurai di atas ber-
sumber dari pandangan mereka bahwa kalo itu adalah simbol
kesatuan dan persatuan.

*) Secara harfiah kata mekindoroa berarti melakukan sesuatu untuk menyelamatkan


hidup seseorang yang terancam oleh pembunuhan. Kata ini berasal dari kata dasar toro
(hidup). Demikian kata sokei berarti pagar pintu halaman yang menahan orang untuk
masuk.

297

PNRI
XI
RINGKASAN D A N P E N U T U P

Dalam bab-bab terdahulu telah saya usahakan untuk menun-


j u k k a n b a h w a kalo adalah fokus kebudayaan Tolaki yang ber-
fungsi sebagai lambang pengintegrasi unsur-unsur kebudayaan
Tolaki. P a d a bab I telah dikemukakan arti kalo sebagai benda
yang dipakai dan digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan
orang Tolaki dalam kehidupannya, dan konsep kalo sebagai adat-
istiadat yang berlaku dalam banyak lapangan hidup orang Tolaki,
dan kalo sebagai simbol yang mengekspresikan alam semesta
dengan segala isinya. Dalam rangkaian bab III sampai dengan X
saya telah m e n j a b a r k a n secara berturut-turut ketiga substansi kalo
tersebut di atas, yaitu sebagai benda, adat-istiadat, dan sebagai
simbol.

Kalo sebagai benda telah saya t u n j u k k a n pemakaiannya atau


penggunaannya dalam berbagai kebutuhan orang Tolaki, yaitu:
(1) alat penjaga ladang atau kebun dan t a n a m a n di dalamnya, alat
penjaga ternak kerbau, alat penangkap ayam hutan dan aneka-
ragam burung, dan alat'upacara pertanian; (2) alat pengikat tiang
tengah r u m a h , alat pengikat senjata dan aneka-ragam alat pro-
duksi dan wadah; (3) alat pengikat pergelangan tangan dan kaki
bayi, alat pengikat dada kanak-kanak, alat pengikat pinggang
orang tua; alat upacara perkawinan, lambang pada pelantikan ra-
ja, benda lambang penyambutan, dan benda lambang untuk
mengundang, alat pekabaran orang meninggal, alat berkabung;
(4) alat perhiasan; dan (5) alat upacara dan ritus. Pemakaian dan
penggunaan kalo dalam berbagai aspek kehidupan orang Tolaki
tersebut membuktikan bahwa kalo dalam kebudayaan Tolaki ber-
fungsi memenuhi dan memuaskan kebutuhan hidup orang Tolaki.

298

PNRI
Kalo sebagai lambang adat-istiadat telah saya t u n j u k k a n
macam-macamnya, yaitu: (1) lambang adat-istiadat dalam urusan
p e m e r i n t a h a n ; (2) l a m b a n g a d a t - i s t i a d a t d a l a m u r u s a n
kekeluargaan dan perkawinan; (3) lambang adat-istiadat dalam
bercocok tanam, beternak, dan berburu; (4) lambang adat-istiadat
dalam melakukan aktivitas keterampilan dan keahlian; dan (5)
lambang adat-istiadat dalam aktivitas keagamaan. Peranan kalo
sebagai lambang adat-istiadat yang meliputi seluruh aspek
kehidupan orang Tolaki membuktikan bahwa kalo melambangkan
kebudayaan Tolaki.
Kalo khusus sebagai simbol telah pula saya t u n j u k k a n adanya
aneka-ragam makna, yang mengekspresikan (1) manusia dengan
unsur-unsurnya, alam semesta dan unsur-unsurnya, baik alam
nyata m a u p u n alam gaib, dan masyarakat dengan unsur-unsur-
nya; (2) cita-cita orang Tolaki akan kesatuan dan persatuan, kesu-
cian dan kebaikan, kemakmuran dan kesejahteraan, kekekalan
dan keabadian; (3) komunikasi timbal-balik antara manusia
dengan sesamanya, baik antara orang seorang, dan antara
keluarga dengan keluarga m a u p u n antara golongan dengan golo-
ngan, komunikasi timbal-balik antara manusia dengan alam seki-
tarnya, baik dengan alam nyata m a u p u n dengan alam gaib.
M a k n a - m a k n a simbolik dari kalo tersebut membuktikan bahwa
kalo adalah simbol pusat yang mencerminkan asas-asas kehidupan
masyarakat dan kebudayaan Tolaki.
Kecuali itu, telah juga saya t u n j u k k a n bahwa fungsi kalo
sebagai fokus kebudayaan Tolaki pada masa kini telah mulai
berubah dan bergeser dalam hal bentuk dan penggunaannya
sebagai akibat dari proses dinamika sosial dan perubahan budaya,
namun prinsip-prinsip kehidupan Tolaki yang ada di dalamnya
sukar mengalami perubahan dan pergeseran.
A d a p u n aspek-aspek yang telah berubah tersebut adalah antara
lain: (1) bentuk ukuran besar-kecilnya lingkaran kalo, dari terdiri
tiga atau' lima macam ukuran menjadi sisa terdiri dari dua macam
u k u r a n , yakni ukuran sebesar kepala dan u k u r a n sebesar lebar
jarak dua bahu; (2) bahan pembuatan kalo, dari banyak macam
bahan menjadi sisa terbatas pada berasal dari rotan, emas,

299

PNRI
benang, kain; (3) pemakaian dan penggunaan kalo, yang semula
meliputi banyak aspek dalam bidang-bidang ekonomi, sosial,
politik, dan keagamaan, menjadi sisa terbatas pada penggunaan-
nya sebagai alat upacara pergantian tahun pertanian, sebagai pen-
jaga tanaman jangka panjang, sebagai alat upacara perkawinan,
sebagai alat upacara penyambutan adat, sebagai alat mengundang
pesta keluarga, sebagai alat pekabaran orang meninggal,
berkabung, dan upacara pemakaman, sebagai alat perdamaian,
dan sebagai pengikat tangan dan kaki bayi, perhiasan bagi remaja,
pengikat pinggang dari orang tua, dan sebagai alat dari banyak
upacara dan ritus; (4) dalam aspek-aspek tertentu dalam
pemakaian dan penggunaannya telah mengalami variasi, misalnya
dalam hal mengundang, yaitu tidak hanya kalo yang disampaikan
tetapi juga undangan surat yang di dalamnya tergambar kalo;
dalam hal pemakaian kalo asal rotan sebagai pengikat tiang
tengah rumah, menjadi kalo asal dari kain putih; dan dalam hal
penggunaan kalo sebagai bahasa lambang, yang semula secara
otomatis dapat dimengerti maknanya tanpa penjelasan, tetapi kini
penjelasan itu harus diberikan karena telah banyak orang Tolaki
yang sudah tidak memahami makna kalo, dan juga karena peng-
gunaan kalo itu sudah meluas dalam komunikasi dengan kalangan
yang bukan orang Tolaki. Sedangkan prinsip-prinsip kalo yang
tetap lestari adalah fungsinya sebagai lambang adat-istiadat, fokus
kebudayaan, pedoman hidup, dan sebagai pemersatu dalam
kehidupan orang Tolaki.
Di antara unsur-unsur dan struktur unsur-unsur kebudayaan
Tolaki yang telah diuraikan dalam bab-bab terdahulu ada
hubungan fungsional, baik antara masing-masing unsur secara
khusus maupun antara semua unsur kebudayaan Tolaki secara
keseluruhan dalam rangka ketujuh unsur kebudayaan universal
ialah: bahasa, mata pencaharian hidup, sistem teknologi, organi-
sasi sosial, kosmologi, sistem keagamaan, dan kesenian.
Unsur sistem mata pencaharian orang Tolaki misalnya, dapat
diperinci ke dalam beberapa sub-unsur seperti: perladangan,
persawahan, perkebunan, berburu dan beternak, dan menangkap
ikan. Demikian selanjutnya tiap sub-unsur tersebut dapat dipe-

300

PNRI
rinci lagi ke dalam beberapa sub-sub-unsur: perombakan hutan,
pembakaran, pembersihan, pemagaran, penanaman padi, peme-
liharaan, penuaian padi, pengeringan dan pengawetan, penyim-
panan padi di lumbung, penumbukan padi, pemasakan nasi, dan
penghidangan makanan. Begitu pula unsur organisasi sosia! orang
Tolaki, dapat diperinci ke dalam sub-unsur sistem kekerabatan,
komuniti, sistem pelapisan sosial, sistem kepemimpinan, sistem
politik dan sebagainya. Demikian selanjutnya tiap unsur tersebut
dapat diperinci ke dalam sub-sub-unsur perkawinan, tolong
menolong antar-kerabat, sopan santun dalam pergaulan antar-
kerabat, sistem istilah kekerabatan dan sebagainya. T i a p bagian
tadi, baik sebagai unsur dan sub-unsur, maupun sebagai sub-sub-
unsur mempunyai wujudnya sebagai sistem budaya yang disebut
adatnya; wujudnya sebagai sistem sosialnya yang disebut aktivitas
sosialnya; dan wujud fisiknya yang disebut benda-benda
kebudayaan.
Di antara unsur dan sub-unsur serta sub-sub-unsur kebudayaan
Tolaki yang telah dicontohkan di atas ada hubungan fungsional
ditinjau dari sudut fungsi kebudayaan itu pada umumnya, yaitu
bahwa berbagai unsur kebudayaan yang ada dalam masyarakat
manusia berfungsi untuk memuaskan suatu rangkaian hasrat
naluri akan kebutuhan hidup makhluk manusia. Unsur sistem
mata pencaharian orang Tolaki misalnya berfungsi untuk
memuaskan suatu rangkaian hasrat nalurinya akan kebutuhan
makan. Demikian unsur organisasi sosial orang Tolaki misalnya
berfungsi untuk memuaskan suatu rangkaian hasrat nalurinya
akan kebutuhan seks, keturunan, kasih sayang, rasa aman dan
sebagainya. Selain ada unsur-unsur kebudayaan yang hanya ber-
fungsi untuk memuaskan satu hasrat naluri saja, tetapi juga ada
suatu kombinasi dari lebih dari satu hasrat. Keluarga, misalnya,
dapat dianggap berfungsi memenuhi hasrat manusia akan pera-
saan aman dan mesra, tetapi juga hasrat manusia akan melan-
jutkan jenísnya dan mengamankan keturunan. Rumah juga diang-
gap berfungsi guna memenuhi hasrat manusia akan perlindungan
fisik, gensi, atau keindahan.
Peranan kalo dalam mengintegrasikan unsur-unsur kebudayaan

301

PNRI
Tolaki, sebagaimana telah saya t u n j u k k a n dalam uraian-uraian di
atas, sebenarnya berlaku, baik pada tingkat yang terbatas atau
kecil m a u p u n pada tingkat yang luas atau menyeluruh. P a d a
tingkat terbatas, kalo tampak berperanan dalam kaitannya dengan
unsur-unsur lainnya dari kebudayaan Tolaki. Kalo berfungsi
sebagai adat dalam semua unsur kebudayaan Tolaki yang mengin-
tegrasikan sub-unsur dari tiap unsur kebudayaan Tolaki, yaitu
adat dalam berbahasa, adat dalam mata pencaharian, adat dalam
sistem teknologi, adat dalam organisasi sosial, adat dalam sistem
pengetahuan, adat dalam sistem religi, dan adat dalam kesenian.
P a d a tingkat yang lebih luas atau menyeluruh, kalo tampak
berperanan dalam kaitannya dengan upacara yang mengin-
tegrasikan sub-sub-unsur dari tiap ketujuh unsur universal dalam
kebudayaan Tolaki. Tiap unsur upacara dimaksud adalah:
mantera dan doa seorang d u k u n atau juru bicara (unsur bahasa),
hidangan m a k a n a n dan minuman, tanaman, hewan (unsur mata
pencaharian), r u m a h d a n perlengkapan lainnya (unsur sistem tek-
nologi), kelompok keluarga, kelompok kerabat, warga suatu
komuniti (organisasi sosial), t u m b u h a n , batu, tanah, air lapangan
upacara, waktu (unsur sistem pengetahuan), isi mantera dan doa
yang ditujukan untuk m e m b u j u k dan m e m u j a T u h a n , dewa, roh
nenek moyang, dan makhluk halus lainnya (unsur'sistem religi),
dan perhiasan ruang upacara pakaian dan perhiasan peserta
upacara, (unsur kesenian), serta maksud dan tujuan upacara yang
diungkapkan dalam bentuk perlakuan-perlakuan peserta upacara
dan dalam bentuk harapan-harapan dan permohonan seorang
dukun dan juru bicara melalui mantera-mantera, doa-doa, dan
tuturannya, dan melalui makna simbolik dari setiap unsur upacara
terutama unsur kalo sebagai unsur utama dalam upacara, se-
muanya mengungkapkan nilai-nilai, pandangan hidup dan etos,
t u j u a n atau cita-cita yang ingin dicapai oleh masyarakat Tolaki,
atau dorongan-dorongan bagi orang Tolaki untuk hidup yang
lebih baik.
A d a p u n mekanisme dari kalo dalam m e w u j u d k a n fungsinya
sebagai fokus kebudayaan Tolaki yang mengintegrasikan unsur-
unsur kebudayaan tersebut menjadi suatu satuan yang menye-

302

PNRI
luruh adalah melalui serangkaian d a n t a h a p a n - t a h a p a n seperti a p a
yang telah terurai di atas. P a d a mulanya orang Tolaki m e m a n d a n g
b a h w a kalo d a n segala a j a r a n yang t e r k a n d u n g di dalamnya
adalah ciptaan nenek moyang mereka yang mula-mula mendirikan
K e r a j a a n Konawe. Kalo p a d a w a k t u itu hanya digunakan untuk
perdamaian a n t a r a k e l o m p o k - k e l o m p o k masyarakat yang berse-
lisih f a h a m dalam soal politik. Selanjutnya t u r u n a n n y a yang
menggantikannya sebagai r a j a memperluas penggunaan kalo itu
sebagai alat pelantikan r a j a , alat komunikasi antara r a j a dengan
rakyatnya. Kemudian oleh kalangan t o k o h masyarakat, kalo itu
diperlakukan sebagai alat komunikasi a n t a r a golongan dengan
golongan, keluarga dengan keluarga, dan person dengan person.
P e n g g u n a a n kalo untuk t u j u a n tersebut menjadi tugas dari
p e m a n g k u a d a t , yaitu golongan menengah. L a m a - k e l a m a a n peng-
gunaan kalo makin b e r t a m b a h luas sampai p a d a urusan-urusan
p e n d u k u n a n , yang diperanani oleh d u k u n pertanian, d u k u n pe-
nyakit, dan d u k u n u m u m . P e n g g u n a a n kalo dalam hal p e d u k u n a n
inilah yang menyebabkan kalo m e n j a d i suatu alat yang dipakai
dalam bidang pertanian, bidang teknologi, bidang keagamaan d a n
dalam bidang kesenian. Akibat dari peranan pemangku adat d a n
para d u k u n dalam memakai dan m e n g g u n a k a n kalo untuk
maksud dan t u j u a n tersebut di atas menyebabkan warga
masyarakat Tolaki kemudian menganggap dan memperlakukan-
nya sebagai suatu benda, konsep, dan simbol yang m e n g a n d u n g
m a k n a tertentu yang berguna, b e r m a n f a a t , dan baik, sehingga
mereka patut menghargainya, memeliharanya, memakainya
dalam segala k e b u t u h a n mereka.
Hingga kini t a m p a k kenyataan bahwa kalo dipertahankan oleh
t o k o h masyarakat, pemangku adat, d a n para d u k u n u n t u k tetap
dipakai dan digunakan oleh warga masyarakat Tolaki dalam ber-
bagai bidang kehidupan mereka, seperti yang telah saya
k e m u k a k a n p a d a bab-bab terdahulu. Kalo digunakan dalam
kehidupan yang nyata oleh orang Tolaki (lihat hlm. 308-309). T a n -
pa p e m a k a i a n dan penggunaan kalo dalam banyak usaha d a n
kegiatan mereka untuk memenuhi dan m e m u a s k a n k e b u t u h a n
naluri mereka adalah tidak mungkin atau d i p a n d a n g tidak

303

PNRI
mengikuti aturan adat dan norma agama. Dalam bidang sosial,
kalo digunakan dalam urusan kekeluargaan, perkawinan, dan
kematian. Dalam urusan kekeluargaan misalnya, kalo digunakan
sebagai lambang mengundang untuk pesta keluarga, lambang per-
damaian sesudah suatu sengketa yang timbul di kalangan
keluarga, dan alat yang dipakai sebagai bahasa sopan santun.
Dalam urusan perkawinan misalnya, kalo digunakan sebagai lam-
bang untuk melamar, meminang, dan menikah. Dalam bidang
ekonomi, kalo digunakan dalam sistem perladangan, perkebunan,
peternakan, dan perburuan. Dalam sistem perladangan dan
perkebunan, kalo digunakan sebagai tanda pemilikan tanah, alat
penjaga ladang dan kebun serta tanaman di dalamnya, dan
sebagai alat upacara dan ritus dalam rangkaian dan tahapan-
tahapan pengolahan dan pemetikan hasil perladangan. Dalam
sistem peternakan dan perburuan, kalo digunakan sebagai cincin
hidung kerbau, dan sebagai alat menangkap hewan buruan dan
aneka-ragam burung. Dalam bidang politik, kalo digunakan
sebagai lambang pada pelantikan raja, dan sebagai alat hubungan
timbal-balik antara golongan dengan golongan, yaitu antara
golongan bangsawan dengan golongan budak, atau antara raja
dengan rakyat. Dalam bidang keagamaan, kalo dipakai dan
digunakan sebagai alat upacara dan ritus, misalnya sebagai alat
perkabungan, jimat untuk bayi, kanak-kanak, remaja, dan orang
dewasa yang sekaligus memakai kalo sebagai perhiasan, dan
sebagai alat penjaga rumah dan alat perlengkapan lainnya yang
berfungsi sebagai magico-keagamaan. Hal itu berarti bahwa kalo
berfungsi sebagai unsur kebudayaan Tolaki yang dapat memenuhi
dan memuaskan lebih dari satu kebutuhan mereka.
Dalam kaitan dengan hirarki atau kelas-kelas sosial dalam
kehidupan orang Tolaki, kalo dibedakan atas kalo yang
digunakan oleh golongan bangsawan, kalo yang digunakan oleh
golongan menengah, dan kalo yang digunakan sebagai perhiasan
oleh golongan budak; atau pembagian lain atas kalo yang
digunakan oleh golongan penguasa atau golongan pemerintah,
kalo yang digunakan oleh golongan pemikir atau pemangku adat,
dan kalo yang digunakan oleh golongan petani atau rakyat

304

PNRI
banyak. Kalo yang digunakan oleh golongan bangsawan,
penguasa, pemerintah adalah berbentuk lingkaran rotan sebesar
ukuran jarak dua baho, kalo yang digunakan oleh golongan
menengah, pemikir, pemangku adat adalah berbentuk lingkaran
rotan sebesar kepala, dan kalo yang digunakan oleh golongan
budak petani, rakyat banyak adalah berbentuk lingkaran rotan
sebesar lipatan lutut atau lipatan siku tangan (lihat hlm. 299).
Dalam frekuensi penggunaannya kalo tampak lebih banyak
digunakan dalam bidang sosial daripada dalam bidang ekonomi,
dan lebih banyak digunakan dalam bidang keagamaan daripada
dalam bidang politik. Dalam bidang sosial khususnya, ka/o tam-
pak lebih banyak digunakan dalam urusan perkawinan daripada
dalam urusan kematian, undangan keluarga, dan dalam urusan
perdamaian. Dalam bidang ekonomi khususnya, kalo tampak
lebih banyak digunakan sebagai penjaga ladang dan kebun serta
tanaman di dalamnya daripada sebagai alat menangkap hewan
buruan dan aneka-ragam burung. Dalam bidang politik khu-
susnya, kalo tampak lebih banyak digunakan sebagai alat
hubungan timbal-balik antara raja dan rakyat daripada dalam
hubungan timbal-balik antara bangsawan dan budak. Dalam
bidang keagamaan khususnya, kalo lebih banyak digunakan
sebagai alat upacara dan ritus daripada sebagai jimat dan
perhiasan.
Selain itu kalo adalah juga simbol yang mengekspresikan asas-
asas klasifikasi simbolik dalam kebudayaan Tolaki, yaitu asas
klasifikasi simbolik dua, asas klasifikasi simbolik tiga, dan
klasifikasi simbolik lima (lihat hlm. 279-282). Klasifikasi simbolik
dua yang paling awal adalah klasifikasi atas laki-laki dan perem-
puan. Menurut struktur berpikir elementer orang Tolaki segala
jenis klasifikasi dua lainnya, baik tercermin dalam unsur-unsur
tubuh dan jiwa manusia, unsur-unsur alam nyata dan alam gaib
maupun unsur-unsur masyarakat dan unsur-unsur nilai budaya itu
sendiri, semuanya adalah asosiasi dari unsur laki-laki dan unsur
perempuan. Unsur-unsur kanan-kiri, atas-bawah, muka-
belakang, luar-dalam, urat-daging, tulang-sumsum, darah-
kencing dan sebagainya, pikiran-perasaan, penglihatan-pen-

305

PNRI
dengaran, penciuman-rasa lidah, dan sebagainya, langit-bumi,
T i m u r - B a r a t , U t a r a - S e l a t a n , a w a n - h u j a n , kilat-petir d a n
sebagainya, dewa langit, dewa bumi, dewa di Timur, dewa di
Barat, dewa di Utara, dewa di Selatan, hidup-maut, surga-neraka,
dan sebagainya, bangsawan-budak, raja-rakyat, atasan-bawahan,
suami-istri, ayah-ibu, p a m a n / b i b i - k e m e n a k a n , mertua-menantu
dan sebagainya, baik-buruk, indah-jelek, benar-salah, terpuji-
tercelah dan sebagainya, semuanya adalah asosiasi dari kategori
laki-laki dan perempuan.
Unsur-unsur dari klasifikasi dua terurai di atas adalah unsur-
unsur yang saling beroposisi, konflik, bersaingan antara satu sama
lain secara konseptual. Klasifikasi dua yang saling beroposisi
tersebut dilambangkan oleh orang Tolaki dalam kalonya melalui
ekspresi mereka yang tercermin pada dua u j u n g rotan atau dari
bahan lain yang membentuk lingkaran kalo itu (lihat hlm. 21-23)
Dalam konteks lain kedua unsur yang saling beroposisi tersebut
juga dilambangkan melalui lingkaran kalo itu sendiri dan
anyaman wadah tempat lingkaran kalo itu diletakkan apabila kalo
itu digunakan dalam upacara dan ritus.
Secara ideal pasangan unsur dari klasifikasi dua yang bersifat
oposisi, konflik, dan saling bersaingan itu dalam hal tertentu ada-
lah saling butuh m e m b u t u h k a n . Untuk merealisasikan ide butuh
m e m b u t u h k a n itu diperlukan adanya unsur ketiga yang berfungsi
sebagai penengah dan berperanan sebagai mewakili kedua unsur
yang saling bersaingan tersebut. Unsur-unsur ketiga yang saya
maksudkan itu adalah: unsur ikatan perkawinan antara unsur
laki-laki dan unsur perempuan, unsur kepala yang menengahi an-
tara unsur-unsur kanan dan kiri, atas dan bawah, muka dan
belakang, luar dan dalam; unsur kulit yang menengahi antara
unsur-unsur urat dan daging, tulang dan sumsum, darah dan ken-
cing; unsur kehendak yang menengahi antara unsur-unsur pikiran
dan perasaan, penglihatan dan pendengaran, penciuman dan rasa
lidah; unsur pusat bumi yang menengahi antara unsur-unsur
langit dan bumi, Timur dan Barat, Utara dan Selatan; unsur tidur
yang menengahi antara unsur-unsur hidup dan maut, unsur orang
kebanyakan yang menengahi antara unsur-unsur bangsawan dan

306

PNRI
b u d a k , unsur pemangku adat yang menengahi antara unsur-unsur
r a j a dan rakyat, unsur mertua atau ipar yang menengahi antara
unsur-unsur suami dan istri, unsur anak yang menengahi antara
unsur-unsur ayah dan ibu, unsur kesederhanaan yang menengahi
antara unsur-unsur baik dan b u r u k , indah dan jelek, terpuji dan
tercelah dan sebagainya. Unsur-unsur ketiga tersebut dilam-
bangkan oleh orang Tolaki dalam kalonya melalui ikatan simpul
dari kalo itu, yaitu kedua ujungnya yang dipertemukan (lihat hlm.
19). Selain unsur ketiga dari klasifikasi simbolik tiga itu dilam-
bungkan melalui ikatan simpul tersebut, juga dilambangkan
melalui kain putih yang mengantarai unsur lingkaran kalo itu sen-
diri dengan wadahnya apabila kalo itu digunakan dalam upacara
dan ritus.
Kecuali kalo melambangkan unsur-unsur dari klasifikasi dua
dan tiga, juga melambangkan unsur-unsur dari klasifikasi lima.
Unsur-unsur dari klasifikasi lima dalam kebudayaan Tolaki
adalah: kanan-kiri-muka-belakang-kepala pada tata ruang tubuh
manusia, Timur-Barat-Utara-Selatan-pusat bumi pada tata ruang
alam, wilayah Timur, wilayah Barat, wilayah Utara, wilayah
Selatan, pusat kerajaan pada tata ruang komuniti, dan samping
kanan, samping kiri, bagian depan, bagian belakang, tiang tengah
pada tata ruang r u m a h .
Unsur-unsur tersebut dilambangkan oleh orang Tolaki dalam
kalonya melalui anyaman wadah yang berbentuk segi empat,
wadah tempat lingkaran kalo itu diletakkan, dan lingkaran kalo
itu sendiri.- Anyaman wadah melambangkan empat unsur tersebut
di atas dan lingkaran kalo itu sendiri melambangkan: kepala,
pusat bumi, dan tiang tengah r u m a h . Perlambangan ini di-
ekspresikan oleh orang Tolaki dalam konteks upacara dan ritus
(lihat hlm. 281-282).
Unsur-unsur dari ketiga jenis klasifikasi simbolik terurai di atas
mempunyai hubungan-hubungan fungsional antara satu sama
lain. H u b u n g a n - h u b u n g a n fungsional di antara unsur-unsur di-
maksud ada yang berbentuk dalam dua dimensi, baik dalam hu-
bungan horisontal m a u p u n vertikal, yaitu hubungan fungsional di
antara dua unsur pada klasifikasi dua, dan ada yang berbentuk di-

307

PNRI
ferensial, yang mengintegrasikan unsur-unsur yang terdapat pada
klasifikasi-klasifikasi liga dan lima. T a n p a unsur lakj-laki, kanan,
atas, muka, luar, urat, tulang, darah, pikiran, penglihatan, pen-
ciuman, langit, T i m u r , Utara, hidup, bangsawan, raja, suami,
ayah, baik, indah, benar, terpuji, dan sebagáinya tidak mungkin
ada unsur perempuan, kiri, bawah, belakang, Barat, Selatan,
maut, budak, rakyat, istri, ibu, buruk, jelek, salah, tercelah dan
sebagainya, begitu pula sebaliknya. T a n p a unsur-unsur ikatan
perkawinan, kepala, kulit, kehendak, pusat, bumi, tidur, orang
kebanyakan, pemangku adat, mertua atau ipar, anak, kesederha-
naan, dan sebagainya tidak mungkin pasangan unsur pada
klasifikasi dua dapat saling berhubungan secara timbal-balik.
Demikian pula tanpa unsur-unsur kepala, pusat bumi, pusat kera-
jaan, tiang tengah rumah tidak mungkin empat unsur pada
klasifikasi lima dapat saling terhubung secara terintegrasi.
Dalam proses perubahan yang terjadi dalam kebudayaan
Tolaki, seperti halnya pada semua kebudayaan di dunia, ada di
antara unsur kebudayaan tersebut yang mengalami proses peru-
bahan secara cepat, ada pula yang mengalami proses perubahan
secara sangat lambat, dan ada pula yang tampak seakan-akan
tidak berubah sama sekali. Unsur kebudayaan Tolaki yang cepat
dalam proses perubahan adalah misalnya beberapa sub-unsur dari
unsur sistem mata pencaharian, dan beberapa sub-unsur dari un-
sur sistem teknologi. Unsur kebudayaan Tolaki yang sangat lam-
bat dalam proses perubahan adalah misalnya beberapa sub-unsur
dari unsur organisasi sosial, dan beberapa sub-unsur dari unsur
kesenian. Sedangkan unsur kebudayaan Tolaki yang seakan-akan
tidak berubah sama sekali adalah unsur kebudayaan bahasa, un-
sur kebudayaan sistem pengetahuan, dan unsur kebudayaan
sistem religi. Kedudukan kalo sebagai fokus kebudayaan Tolaki
yang mengintegrasikan unsur-unsur yang ada di dalamnya pada
prinsipnya tidak menjadi goyang. Kedudukan kalo sebagai adat,
pedoman hidup, dan sebagai simbol pemersatu tetap nyata
adanya.
Perubahan kebudayaan dan masyarakat yang dialami oleh
suku-bangsa Tolaki sebagaimana dikemukakan di atas tidak

308

PNRI
hanya karena akibat dari f a k t o r dari dalam dengan adanya inovasi
(penemuan baru) tetapi juga terutama karena faktor dari luar
dengan masuknya pengaruh k e b u d a y a a n asing, dan khususnya
pada masa kini p e r u b a h a n itu adalah akibat dari adanya pem-
b a n g u n a n di negara kita. P e m b a n g u n a n itu sendiri adalah proses
merubah k e b u d a y a a n - k e b u d a y a a n tradisional untuk m e n g a k o m o -
dasi suatu kehidupan yang lebih baik. Setiap kegiatan pemba-
n g u n a n yang dilakukan untuk m e r u b a h kebudayaan dan masyara-
kat yang bersangkutan selalu m e n i m b u l k a n gejala disorganisasi
dan reorganisasi sosial-budaya. Gejala disorganisasi di sini
dimaksud p u d a r n y a atau m e n j a d i lemahnya unsur yang lama,
sedangkan reorganisasi dimaksud proses p e m b e n t u k a n unsur yang
baru (S. S o e m a r j a n & S. Soemardi 1964: 492). Proses peralihan
dari kebudayaan dan peradaban agraris yang tradisional misalnya
p e r a d a b a n industri masa kini itu disebut proses transisi sosial-
b u d a y a . P e m b a n g u n a n adalah usaha untuk mempercepat proses
transisi sosial-budaya tersebut dengan rencana-rencana yang di-
susun dengan sengaja secara khusus (Koentjaraningrat 1984: 6).
Sasaran p e m b a n g u n a n yang kini dilaksanakan di negara kita
pada p o k o k n y a d i t u j u k a n pada p r a n a t a - p r a n a t a sosial dalam
bidang-bidang prasarana, ekonomi (pertanian, p e r t a m b a n g a n , in-
dustri), pendidikan, pemerintahan, agama, rekreasi dan kese-
h a t a n , yaitu bidang-bidang yang meliputi unsur-unsur kehidupan
masyarakat dan kebudayaan suku bangsa di seluruh tanah air kita.
P e r u b a h a n kebudayaan tradisional pada masyarakat Tolaki
misalnya sebagai akibat p e m b a n g u n a n di negara kita dewasa ini,
terutama tampak pada bidang ekonomi, pendidikan, dan agama.
P e r u b a h a n di tiga bidang pokok tersebut mengakibatkan timbul-
nya p e r u b a h a n - p e r u b a h a n dalam berbagai aspek kehidupan
masyarakat dan kebudayaan Tolaki.
P e r u b a h a n di bidang ekonomi mengakibatkan timbulnya peru-
b a h a n dalam kerangka unsur sistem mata pencaharian dan dalam
sistem pengadaan alat-peralatan dan perlengkapan hidup. Peru-
bahan dalam bidang pendidikan mengakibatkan timbulnya peru-
bahan dalam kerangka unsur organisasi sosial, unsur bahasa,
kesenian, dan sistem pengetahuan. Sedangkan perubahan di

309

PNRI
bidang agama mengakibatkan timbulnya perubahan dalam
kerangka unsur sistem religi. N a m u n demikian hal itu tidak berarti
bahwa semua unsur dan semua sub-unsur dan sub-sub unsur dari
kebudayaan Tolaki secara serentak ikut berubah. P e r u b a h a n un-
sur yang satu mendahului yang lain. P e r u b a h a n yang timbul
dalam unsur-unsur kebudayaan Tolaki seperti terurai di atas se-
sungguhnya tidak hanya karena akibat dari masing-masing tiga
bidang di atas secara terpisah, tetap ketiganya berperanan saling
melengkapi satu sama lain untuk timbulnya perubahan-perubahan
tersebut.
P e r u b a h a n di bidang ekonomi misalnya tidak hanya mengaki-
batkan timbulnya perubahan p^da unsur sistem mata pencaharian
d a n sistem t e k n o l o g i a l a t - p e r a l a t a n d a n p e r l e n g k a p a n
hidup, tetapi juga mempengaruhi organisasi sosial, kesenian, sis-
tem pengetahuan, sistem religi, dan bahasa. Demikian pula peru-
bahan di bidang pendidikan tidak hanya mengakibatkan timbul-
nya perubahan organisasi sosial, bahasa, kesenian, sistem penge-
tahuan, tetapi juga mempengaruhi sistem mata pencaharian, sis-
tem teknologi alat-peralatan dan perlengkapan hidup, dan sistem
religi. Begitu pula p e r u b a h a n di bidang agama tidak hanya meng-
akibatkan timbul perubahan sistem religi, tetapi juga mem-
pengaruhi sistem mata pencaharian, sistem teknologi alat-pera-
latan dan perlengkapan hidup, organisasi sosial, kesenian, sistem
pengetahuan, dan bahasa. Gejala-gejala ini m e n u n j u k k a n bahwa
unsur-unsur kebudayaan itu bukanlah unsur-unsur yang paling
terpisah antara satu sama lain, tetapi merupakan satu kesatuan
yang terintegrasi.
Dengan memperhatikan berbagai unsur kebudayaan Tolaki yang
terintegrasi oleh adanya dan berfungsinya fokus kebudayaan,
yaitu kalo, maka pembangunan di daerah Tolaki dalam rangka
pembangunan nasional dewasa ini, sebaiknya di satu pihak
dipusatkan pada bidang ekonomi, pendidikan, dan agama, serta
di lain pihak prinsip kalo d i m a n f a a t k a n . Dalam hal itu segi-segi
yang positif dipakai dan sebaliknya segi-segi yang negatif secara
berangsur-angsur dapat dikurangi peranannya. Usaha strategis
yang dapat dilakukan dalam m e m a n f a a t k a n faktor positif dan

310

PNRI
menghilangkan f a k t o r negatif dari prinsip kalo, adalah dengan
jalan persuasi, pendidikan, kondisionalisasi, dan stimulasi. U n t u k
itu bagi saya, pengetahuan yang luas dan mendalam mengenai
k e b u d a y a a n Tolaki d a n k e b u d a y a a n semua suku bangsa di In-
donesia p a d a u m u m n y a sangat perlu.
Melalui hasil studi mengenai k e b u d a y a a n Tolaki yang saya
lakukan ini dapat kiranya m e n j a d i b a h a n pengetahuan dasar bagi
kita u n t u k memperluas d a n m e m p e r d a l a m pengetahuan kita me-
ngenai k e b u d a y a a n suku bangsa ini. Hal itu karena seperti telah
saya k e m u k a k a n p a d a p e n d a h u l u a n , tulisan-tulisan etnografi
mengenai Tolaki masih sangat k u r a n g apabila dibandingkan
dengan tulisan-tulisan etnografi mengenai banyak suku bangsa di
Indonesia. Hasil studi saya ini juga m e r u p a k a n karya etnografi
menyeluruh yang pertama mengenai kebudayaan Tolaki. Saya
tentu b e r h a r a p bahwa hasil studi ini dapat m e n a m b a h bahan etno-
grafi yang telah ada mengenai manusia dan kebudayaan di Indo-
nesia yang telah ditulis (Koentjaraningrat, et al 1975; I D K D
1978-1984).

311

PNRI
PNRI
BIBLIOGRAFI

BEBERAPA SINGKATAN

AA — American Anthropologist
ANU — Australian National University, Canberra
AT — Anthropology Today
Bijd. — Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van
Nederlandsch-Indie. Den Haag
BPS — Biro Pusat Statistik. Jakarta
CA — Current Anthropologist
DPRD-I — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I Propinsi
Sulawesi Tenggara, Kendari
ed — editor, editors
GKITLV — Gedenkschrift uitgegeven ter gelegenheid van het 75-jarig
berstaan van het Koninklijk lnstituut voor de Taal-,
Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie te
s'Gravenhage. Den Haag, 1926
IDKD — Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Jakarta
IG — Indische Gids. Amsterdam
I KA — Ikatan Kekeluargaan Antropologi. Jakarta
KMT — Koloniaal Missie Tjidschrift
LIPI — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta
MNZ — Mededeelingen van wege het Nederlandsch Zending-
genootschap. Rotterdam
1.1. — tanpa tahun
ONZV — Orgaan Nederlandsch Zendings Vereniging. Rotterdam
P E M D A SULTRA — Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Sulawesi Teng-
gara. Kendari
PTIK — Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Jakarta
RAIGB1 — Royal Anthropological lnstitute of Great Britain and
Ireland. London
SP — Subyek Predikat
SPO — Subyek Predikat Obyek
313

PNRI
SPOL — Subyek Predikat Obyek Lokasi
STDA — Sulawesi Tenggara Dalam Angka. Kendari, 1982
Tijd. — Tjidschrift voor de Indische Taal-, Land- en Volken-
kunde. Batavia
TNAG — Tjidschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijks-
kundig Genootschap. Amsterdam, Utrecht, Leiden
UI — Universitas Indonesia. Jakarta
UNHALU — Universitas Haluoleo. Kendari
UNHAS — Universitas Hasanuddin. Ujung Pandang
VBGKW — Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van
Kunsten en Wetenschappen. Batavia
WSPOL — Waktu Subyek Predikat Obyek* l o k a s i

Achen, S.T.
1978 Symbols Around Us. New York: Van Nostrand Reinhold Company.
Adriani, N.
1900 'De talen der To Boengkoe en To Mori,' dalam MNZ, XLIV, hlm.
249-318
Adriani, N., H.G. van Eelen dan J. Ritsema
1918—'Morische verhalen,' dalam MNZ, LXII, hlm. 211-229; 276-295;
1919 dan LXIII, hlm. 312-327
Alala
1984 Gerakan Desa Makmur Merata (G E R SAMA TA). Kendari: B A P P E D A
Albert, E.M.
1956 'The Classification of Values: A Method and Iilustration', dalam A A,
58, hlm. 221-248
Baal, J. van
1971 Symbols for Communication. Assen: Van Gorcum & Company.
1975 Reciprocity and the Position of Women. Assen: Van Gorcum & Com-
pany
Bachtiar, H . W .
1974 "Negeri" Taram: A Minangkabau Village Community,' dalam Villages
in Indonesia, ed. Koentjaraningrat. London: Cornell University Press,
hlm. 348-385
1979 'Pengamatan sebagai Suatu Metode Penelitian', dalam Metode-metode
Penelitian Masyarakat, ed. Koentjaraningrat. Jakarta: Gramedia, hlm.
108-128
Bachtiar, H.W.
1981 'Religion of Java: Sebuah Komentar,' dalam Abangan, Santri, Priyai
dalam Masyarakat Jawa, diterjemahkan oleh A. Mahasin. Jakarta:
Pustaka Rakyat, hlm. 521-551.

314

PNRI
Bailey, J. et.al
1981 Gods & Myth and Legend from the World's Religion. New York:
Oxford University Press.
Baker, H . D . R .
1979 Chinese Family and Kinship. London: The Macmillan Press.
Barnes. R.H.
1974 Kedang: A Study of the Colleclive Thought of an Eastern of Indonesia
People. Oxford: Clarendon Press.
Barraclough, B.M. (ed)
1975 Flag of the World. New York: Frederick Warne & Co. Inc.
Beals, R.L. dan H. Hoijer
1959 A n Inlroduction to Anthropology. New York: The Macmillan Com-
pany
Beattie, J.
1966 'Ritual and Social Change', dalam Man: The Journal of the Royal
Anthropological Institute, Seri Buku, Jilid I, hlm. 60-74
Benedict, R.F.
1971 Paiterns of Culture. Terbitan pertama 1934. London: Routlegde &
Kegan Paul
1982 Pedang Samurai dan Bunga Seruni: Pola-pola Kebudayaan Jepang, ter-
jemahan Pamuji. Jakarta: Cahaya Printing Company.
Berg, E.J. van
1937 'De viering van de raraja hadji in de Kota Wolio (Boeton)', dalam Tijd.
LXXVII, 650-660.
1939 'Adatgebruiken in verband met de sultans-installatie in Boeton', dalam
Tijd., LXXIX, hlm. 469-528.
1940 'Een rijstfeest in Lawele', dalam Tijd., LXXX, hlm. 530-543
Blacker, C. (ed)
1975 Ancient Cosmologies. London: George Allen & Unwin Ltd.
Boas, F.
1972 Primitive Ari. Terbitan pertama 1927. New York: Dover Publishing.
Boon, J.A.
1972 From Symbolism to Structuralism. Oxford: Basil Blackwell.
Boyer, L.B.
1979 'Stone as a Symbol in Apache Folklore', dalam Fanlasy and Symbol:
Sludies in Anthropological Interpretation, ed. R.H. Hook, London:
Academic Press, hlm. 207-232.
Brain, R.
1969 R i les Black and White. New York: Penguin Book.

315

PNRI
Brelich, A.
1969 'Symbol of Symbols', dalam Myth and Symbols, ed. J. Kitagavva dan
Ch. H. Long. Chicago: The University of Chicago Press.
Buchler, l.K. dan H.A. Selby
1968 Kinship and Social Organization: A n Introduction to Theory and
Melhod. New York: The Macmillan.
Cassirer, E.
1977 The Philosophy of Symbolic Forms, Jilid 1: Language. Terbitan per-
tama 1955. New Haven: Yale University Press.
1979 An Essay on Man. Terbitan pertama 1944. New Haven: Yale University
Press.
Chetwynd, T.
1982 A Dictionary of Symbols. New York: Granada Publishing.
Christie, A.
1978 'Natural Symbols in Java', dalam Natural Symbols in Soulheasl Asia,
ed. G.B. Milner. London: The School of Oriental and African Studies,
University of London, hlm. 133-151.
Cohen, A.
1969 'Political Anthropology: The Analysis of Symbolism of Power Rela-
tion', dalam Man: The Journal of the Royal Anthropological Inslitute,
Seri Baru, Jilid IV, hlm. 215-235.
Cohen, B. et al
1970 'Entree into the Field', dalam A Handbook of Method in Cultural
Anthropology. ed. R. Narol! dan R. Cohdn. New York: Columbia
University Press, hlm. 220-245.
Conroy, E.
1921 The Symbolism of Colour. London: William Rider & Son,'Limited.
Davis, K. dan W.L. Warner
1969 'Structurai Analysis of Kinship', dalam Kinship and Social Organiza-
tion, ed. P. Bohannan dan J. Middleton. New York: The Natural
History Press, hlm. 61-92. .
d'Azevedo, W.
1958 'A Structurai Approach to Esthetics: Toward a Definition of Art,'
dalam AA, 60, hlm. 702-714.

Deveroux, G.
1979 'Fantasy and Symbol as Dimension of Reality', dalam Fanlasy and
Symbol: Studies in Anthropological Interpretation ed. R.H. Hoek.
London: Academic Press, hlm. 19-32

316

PNRI
Dillan, W.
1968 Gift and Nalion: Obligalion I o Give, Receive and Repay. Hague:
Meuton.
Douglass, M.
1966 Purity and Danger. London: Routledge & Kegan Paul.
1973 Natural Symbols: Explanation in Cosmology. New York: Penguin.
Durkheim, E.
1962 The Elementary Forms of Religious Life, terjemahan J.W. Swain. Ter-
bitan pertama 1912. London: Cohen & West.
Durkheim dan M. Mauss
1963 Primitive Classification, terjemahan R. Needham. Terbitan pertama
1903. London: George Allen & Unwin Ltd.
Eerenbent, J. van den
1939 'Huwelijkgebruiken op Moena', dalam KMT, XXII, hlm. 294-300
Elliade, M.
1959 The Sacred and the Profan: Nature of Religion, terjemahan R. Trask.
Terbitan pertama 1952. New York: Harcourt, Brace and Company.
1961 Images and Symbols, diterjemahkan oleh Ph. Mairet. Terbitan pertama
1957. London: Harvill Press.
1963 Myth and Reality. London: Geroge Allen & Unwin Ltd.
1964 Shamanism: Archaic Teehniciesof Ecslasy, terjemahan R. Trask. Paris:
Routledge & Kegan Paul.
1965 Rites and Symbols of Iniliation. New York: Harper& Row, Publishers.
Esser, S.J.
1927 'Klank— en vormleer van het Morisch', dalam VBGKW, LXV11.
Feldman, J.A.
1979 'The House as World in Bawomataluo', dalam Art, Ritual, and Socie-
ty in Indonesia, ed. E. Bruner & J.O. Becker. Ohio: Ohio University
Center for Information Studies Southeast Asia Program, hlm. 127-182.
Firth, R.
1952 Elements of Social Organization. London: Watts
1975 Symbols Public and Private. London: George Allen & Unwin.
Fokker, A.A.
1960 Pengantar Sintaksis Indonesia, terjemahan Djonhar. Jakarta: PN Praj-
na Paramita.
Forde, D.
1934 Habitet, Ecology and Society: A Geographical Introduction to
Ethnology. London: Tapistock Publications.
Fortes, M.
1969 Applied Anthropology, Boston: Little Brown & Company.

317

PNRI
Fox, J . J .
1971 'Semantic Parallelism in Rotinese Ritual Language', dalam Bijd., Jilid
127. hlm. 215-255.
1973 'On Bad Death and the Left Hand: A Study of Rotinese Symbolism In-
version', dalam Right and Left: Essays on Dual Classification, ed. R.
Needham. Chicago: The University of Chicago Press, hlm. 342-368
Fox, J.J.
1974 'Our Ancestors Spoke in Pairs: Rotinese Views of Language, Dialect
and Code' dalam Explanation in the Ethnography of Speaking, ed. R.
Bouman dan J. Sherzer. Cambridge: Cambridge University Press, hlm.
65-85.
1975 'On Binary Categories and Primary Symbols: Some Rotinese Perspec-
tive', dalam The Interpretation of Symbolism, ed. R. Willis. London:
Malaby Press, hlm. 99-132.
1980 'Obligation and Alliance: State Structure and Moiety Organization in
Tie, Roti', dalam The Flow of Life, ed. J. J. Fox. Cambrigde: Harvard
University Press, hlm. 99-133.
1980a 'Models and Metaphor: Comparative Research in Eastern Indonesia',
dalam The Flow of Life, ed. J. J. Fox. Cambridge: Harvard University
Press, hlm. 327-334.
Fox, R.
1980 The Red of Incest. London: Hutchinson
1981 Kinship and Marriage: An Anthropological Perspective. New York:
Penguin Books.
Frazer, J.G.
1978 The Golden Bough: A Study in Magic and Religion. London: The Mac-
millan Press Ltd.
Fredericy, H . J .
1958 De Standen bij de Boegineezen en Makassaren. Gravenhage: Martinus
Nijhoff
Freeman, J.D.
1958 'The Family System of the Iban in Borneo', dalam The Developmental
Cycle in Domestic Group, ed. J. Goody. Cambridge: The University
Press, hlm. 15-52
Freud, S.
1917 Totem and Taboe. London: Routledge & Kegan Paul.
Geertz, C.
1973 The Interpretation of Culture. New York: Basic Books, Inc.,
Publishers.
1981 Abangan, Santri, Priyai dalam Masyarakat Jawa, terjemahan Mahasin,
kata pengantar oleh P. Suparlan. Jakarta: Pustaka Rakyat.

318

PNRI
1983 Local Knowledge: Farther Essays in Interpretive Anthropology. New
York: Basic Books, Inc., Publishers.
Gennep, A. van
1965 The Rites of Passage, diterjemahkan oleh M.B. Vizedom dan G.L.
Caffe. London: Routledge & Kegan Paul.
George, R.T. dan M. de Fernande (ed)
1972 The Structuralists From Marx to Levi-Strauss. New York: Doubley &
Company, Inc.
Goodenough, W . H . (ed)
1964 Explanation in Cultural Anthropology. New York: McGraw-Hill Book
Company.
Goodenough, W . H .
1970 Description and Comparison in Cultural Anthropology. Chicago:
Aldine Publishing Company.
Gouweloos, M.J.
1937 'Het doodenritueel bij de To Wiaoe', dalam MNZ, LXXXI, hlm. 19-40.
1939 'Kracht, geesten, goden', dalam MNZ, LXXXIII, hlm. 423-432.
1.1. Spraakkunsl der Tolaki taal (naskah ketik)
Harris, M.
1970 The Rise of Anthropological Theory. New York: Thomas Y.
Paselbelger, E. et. al
1961 'Method of Studying Ethnological A r t ' , dalam CA, 2, hlm, 341-383
Hawkes, T.
1982 Structuralism and Semiotic. Terbitan pertama 1955. London: Methuen
& Co Ltd.
Herkovitz, M.
1948 Man and His Work. New York: Alfred A. Knopf.
Hertz, R.
1960 Death and Right Hand, diterjemahkan oleh R. Needham dan C.
Needham. Illinois: The Free Press.
Hoebel, E.A.
1961 The Law of Primitive Man: A Study in Comparative Legal Dynamics.
Cambridge: Harvard University Press.
Homans, G.C.
1976 'What Do We Mean by Social " S t r u c t u r e " ? ' dalam Approaches to the
Study of Social Structure, ed. R.S. Bierstedt, et al. London: Open
Books
Horia, V.
1969 'The Forest as Mandala: Notes concerning a Novel by Mircea Eliade',

319

PNRI
dalam Myth and Symbol, ed.-Kitagawa dan Ch. H. Long. Chicago: The
University of Chicago Press, hlm. 387-395.
Josselin de Jong, J.P.B. de
1935 De Maleische Archipel als Ethnologisch Siudieveld. Leiden: J. Ginberg.
Kana, N.L.
1978 Dunia Orang Sawu: Satu Lukisan Analitis Tentang Azas-azas Penataan
Dalam Kebudayaan Orang Mahara di Sawu Nusa Tenggara Timur.
Jakarta: Disertasi Universitas Indonesia.
1980 'The Order and Significance of the Savunese House', dalam The Flow
of Life, terjemahan J. J. Fox. Cambridge: Harvard University Press.
Keesing, R.M.
1975 Kin Group and Social Structure. New York: Helt, Rinehart & Winston.
1981 Cultural Anthropology: A Contemporary Perspective. London: Holt,
Rinehart & Winston.
Keesing, R.M. dan F.M. Keesing
1971 New Perspective in Cultural Anthropology. Sidney: Holt, Rinehart &
Winston.
Kennedy, R. et al
1955 Bibliography of Indonesian Peoples and Cilhures, Jilid I-ll New York:
Human Relations Area Files.
Kirk, G.S.
1973 Myth, lis Meaning <fi Functions in Ancienl & Otlter Cullures. Cam-
bridge: Tlve University Press.
Klift, H. van der
1918 'Mededeelingen over de taal van Mekongga', dalam MNZ, LXI1, hlm.
149-164.
1919 'Eenige trekken uit het godsdienstig leven der heidense bevolking op
Zuid-Oost-Celebes', dalam ONZV, hlm. 25-31.
1920 'Mekongga (Kolaka)', dalam MNZ, LXIV, hlm. 140-155.
1920a 'Het me'akoi der Tolaki en To Mekongga', dalam ONZV, hlm.
133-135.
1920b 'Het huwelijk bij de bewoners van Mekongga op Zuid-Oost-Celebes',
dalam ONZV, hlm. 10-16.
1921 'Onderzoekingstocht door het Maronenegebied (Zuid-Oost-Celebes)',
dalam ONZV, hlm. 75-85; 110-115.
1922 'Het monahoe ndao', dalam MNZ, LXV1, hlm. 68-77.
1924 'Onze onderzoekingsreis door de landschappen Roembia en Polea',
dalam ONZV, hlm. 3-7; 11-17.
1925 'Huidige stand van het zendingswerk op Zuid-Oost-Celebes', dalam
MNZ, LXIX, hlm. 242-257.

320

PNRI
1933 'De ontwikkelings van het zendingswerk op Zuid-Oost-Celebes', dalam
MNZ, LXXVI1, hlm. 161-177.
Koentjaraningrat
1958 Beberapa Metode Anthropologi dalam Penjelidikan-penjelidikan Ma-
sjarakat dan Kebudajaan di Indonesia (sebuah ichtisar). Djakarta:
Penerbitan Universitas.
1964 Tokoh-tokoh Antropologi. Djakarta: Penerbitan Universitas.
1969 Atlas Etnografi Sedunia. Djakarta: Penerbitan Dian Rakjat.
1969a Arti Antropologi Untuk Indonesia Masa Ini. Djakarta: LIPI.
1974 Pengantar Antropologi. Djakarta: Penerbitan Universitas.
1974a Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Djakarta: Penerbitan Dian Rak-
jat.
1975 Anthropology in Indonesia. Leiden: Martinus Nijhoff.
1975a Introduction t o the People and Culture of Indonesia and Malaysia.
Ithaca: Cumming Publishing Company.
1977 Kebudayaan Menlalitet dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
1977a 'Sistem Gotong Royong dan Jiwa Gotong Royong', dalam Berita An-
tropologi, Th. IX, No. 30. Jakarta: Terbitan Khusus.
1978 Kepemimpinan dan Kekuasaan Tradisional Masa kini, Formel dan In-
formel. Jakarta: PTIK.
1980 Pengantar Ilmu Antropologi. Terbitan pertama 1974. Jakarta: Aksara
Baru.
Koentjaraningrat
1980a 'Javanese Terms for God and Supernatural Beings and the Idea of
Power', dalam Man, Meaning and History, ed. R. Schefold, et al.
Leiden: The Hague-Martinus Nijhoff, hlm. 127-139.
1980b Sejarah Teori Antropologi, I. Jakarta: Penerbitan UI
Koentjaraningrat (ed)
1964 Masjarakat Desa di Indonesia Masa Ini. Djakarta: Jajaran Badan
Penerbit Fakultas Ekonomi UI.
1969 Vilfages in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press.
1975 Manusia danKebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbitan Djambatan
1977 Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.
Koentjaraningrat dan H.W. Bachtiar
1963 Penduduk Irian Barat. Djakarta: Penerbitan Universitas.
Kroeber, A.L.
1968 'Classificatory System of Relationship', dalam Kinship and Social
Organization, ed. P. Bohannan dan J. Middleton. Terbitan pertama
1909. New York: The Natural History Press, hlm. 19-27.
Kriiijt, A.C.
1900 'Eenige ethnografische aanteekeningen omtrent de Toboengkoe en
Tomori', dalam MNZ, XLIV, hlm. 215-248.
321

PNRI
1900a 'De eerste tocht dwars door het Noordoorstelijk schiereiland van
Celebes', dalam MNZ, XLIV, hlm. 7-9.
1900b 'Het rijk Mori', dalam TNAG, XVII, Seri 2, hlm. 436-466.
1922 'Een en ander over de Tolaki van Mekongga', dalam Tijd., LXI, hlm.
427-470.
1931 'Het .hondenoffer in Midden-Celebes', dalam Tijd., LXXXI, hlm.
439-529.
1933 'Lajesgeld op Celebes', dalam Tijd., LXXIII, hlm. 172-183.
1935 Het Stamfeest op Midden-Celebes', dalam Tijd., LXXV, hlm. 550-604.
Kruijt, A.C. dan J. Kruijt
1921 'Reis naar Kolaka', dalam TNAG, XXXVIII, hlm. 689-704.
Kruijt, J.
1919 'De telwoorden in het Oost-Morisch', dalam MNZ, LXIII, hlm.
328-346.
1924 De Moriers van Tinompo', dalam Bijd. LXXX, hlm. 33-217.
Langer, S.K.
1964 Philosophical Sketches. Baltimore: The Johns Hopkings Press.
1978 Philosophy in a New Key: A Study in the Symbolism of Reading, Rite,
and Ari, Terbitan pertama 1951. Cambridge: Harvard University Press.
Leach, E.R.
1961 Rethinking Anthropology. London: University of London The Athlone
Press.
1970 Levi-Strauss. London: Collins & Co. Ltd.
1972 'The Structure of Symbolism', dalam The Interpretation of Ritual, ed.
J.S. Fontaine. London: Tavistoc'k Publications, hlm. 239-276.
Lessa, W.A. dan Z. Vogt (ed)
1979 Readings in Comparative Religion: An Anthropological Approaches.
New York: Harper & Row, Publishers.
Levi'-Strauss, C.
1966 The Savage Mind, terjemahan G. Weidenfeld. Terbitan pertama 1962.
Chicago: The University of Chicago Press.
1969 The Elementary Siructures of Kinship, terjemahan J. Harle dan J.R.
von Sturmer, ed. R. Needham. Terbitan pertama 1949. Boston: Beacon
Press.
1969a Totemism, diterjemahkan oleh R. Needham. Terbitan pertama 1962.
London: Merlin Press.
1970 'The Principle of Reciprocity 4 , dalam Sociological T-heory: A Book of
Readings, ed. L.A. Coser dan B. Rosenberg. Terbitan pertama 1949.
London: The Macmfflan Company, hlm. 77-86.
1979 Structurai anthropology, terjemahan C. Jacobson dan B.G. Schoepf,
dua jilid. Terbitan pertama 1963. New York: Penguin Book.

322

PNRI
Ligtvoet, A.
1878 'Beschrijving en geschiedenis van Boeton,' dalam Bijd., XXVI hlm.
1-112
Lillie, W.
1959 An Introduction to Ethics. Terbitan pertama 1948. London: Methuen &
Co. Ltd.
Linton, R.
1936 The Study of Man, New York: Appleton Century-Company,-

Lowie, R.H.
1937 The History of Ethnological Theory. New York: Rinehart & Kegan Paul
1961 Primitive Society. Terbitan pertama.1920. New York: Harper Torch-
books.
Malinowski, B.
1944 A Scientific Theory of Culture and Other Essays. New York: Oxford
University Press.
1945 The Dynamics of Culture Change: A n Inquiry into Race Rela t ion in
Africa, New Haven: Yale University Press.
1954 Magic, Science and Religion and Other Essays. Garden City N.Y.:
Doubley & Company, Inc.
1972 Argonauts of the Western Pasific. Terbitan pertama 1922. London:
Rutledge & Kegan Paul
Mattulada
1975 'Kebudayaan Bugis-Makassar, dalam Manusia dan Kebudayaan di In-
donesia, ed. Koentjaraningrat. Jakarta: Djambatan, hlm. 259-278.
Mauss, M
1954 The Gift: Forms and Functions of Exchange in Archaic Society, ter-
jemahan I. Cunnision. Terbitan pertama 1925. New York: The Free
Press.
Morgenstern, J.
1973 Rites of Birth, Marriage, Death and Kindred: Occasion the Semites.
New York: KTAV Publishing House, Inc.
Marrisson, H.
1962 Life in A Longhouse. Hongkong: Yee Tin Tong Printing Press.
Murdock, G.P.
1949 Social Structure. New York: The Macmillan Company.
Mussem, P. dan M.R. Rosenzweig
1973 Psychology: An Introduction. London: D.C. Health & Company.
Needham, R.
1962 Structure and Sentimen t. Chicago: The Universitv of Chicago Press.

323

PNRI
1978 Symbolic Ctassification. Santa Monica: Goodyear Publishing Com-
pany.
Needham, R. (ed)
1971 Rethinking Kinship and Marriage. London: Tapistock Publication.
1973 Right and Left: Essays on Dual Symbolic Classification. Chicago: The
University of Chicago Press.
Nida, E. A.
1963 Morphology: the descriptive analysis of words. An Arber: The Universi-
ty of Michigan Press.
Nooy-Palm, H.
1979 The Sa'dan-Toraja: A Study of their Social Life and Religion. Leiden:
Nartinus Nijhoff.
Odgen, C.K. dan I.A. Richard
1972 The Meaning of Meaning: A Studi of the Influence of Language upon
Thought and of the Science of Symbolism. London: Routledge & Kegan
Paul.
Ogburn, W.F. dan M.F. Nimkoff
1953 'Unqual Rates of Change in A Dynamic Society,' dalam/1 Handbook
of Sociology. London: Routledge and Morgan Paul Ltd, hlm. 591-597

Parsons, T.
1951 The Social System: The Major Exposition of the Author's Conceptual
Sclieme for the Analysis of the Dynamics of the Social System. New
York: A Free Press Paperback
1976 'Social Structure and the Symbolic Media of Interchange,' dalam Ap-
proaches to the Study of Social Structure, ed. R. S. Bierstedt, et al.
Sulawesi Tenggara 1979/1980", Kendari.

Pattiasina, J.F.
1978 Struktur Bahasa Tolaki. Ujung Pandang: Proyek Pembinaan Bahasa
Indonesia dan Daerah (Naskah stensil).
1982 Morfologi dan Sintaksis Bahasa Tolaki. Ujung Pandang: Proyek Pem-
binaan Bahasa Indonesia dan Daerah (Naskah stensil).
Pederson, Ch. F.
1977 The International Flag Book in Colour, ed. C.J. Beddels, et al. Tanpa
Penerbit.

Piaget, J.
1971 Structuralism, diterjemahkan oleh Ch. Maschler. London: Routledge &
Kegan Paul.
Pik,e, K.L.
1962 Phonemics. An Arbor: The University of Michigan Press.

324

PNRI
Pingak, Ch.
1963 Dokumenta Kolaka. Makassar: Pemda Kabupaten Kolaka
Polanyi, K.
1957 Trade and Market in the Early Empires. New York: The Free Press.
Pollenz, Ph.
1950 'Changes in the Form and Function of Hawaiian Hulas.' dalam AA, 52,
hlm. 225-235.
Pospisil, L.J.
1978 The Ethriology of Law. London: Cummings Publishing Company.
Radcliffe-Brown, A.R.
1979 Structure and Function in Primitive Society. London: Routledge &
Kegan Paul.
Rapport, A.
1969 House Forms and Culture. London: Prentice-Hall, Inc.
Reichel-Dolmatoff, G.
1971 Amazonian Cosmos: The Sexual and Religion Symbolism o f the
Tukano Indians. London: The University of Chicago Press.
Robbin, M.C.
1966 'Material Culture and Cognition,' dalam AA, 68, hlm. 745-748.
Rose, D.
1981 Flags. New York: Granada Publishing.
Ruddle, K. et al
1978 Palm Sago: A Tropical Starch from Marginal Land. New York: The
Free Press.
Sarasin, P dan F
1905 'Reise von der Mingkoka-Bai nach Kendari, Siidost Celebes,' dalam
Reisen in Celebes, 2 jilid. Wiesbaden, hlm. 334-381.
Schapera, 1.
1956 Goverment and Politics in Tribal Society. London: Watts.
Schapiro, M.
1953 'Style,' dalam AT, ed . A.L. Kroeber. Chicago: University of Chicago
Press, hlm. 287-312.
Schefold, J.W. et al
1980 Man, Meaning and History. Leiden: Martinus Nijhoff.
Schneider, H.K.

1974 Economic Man; The Anthropology of Economics. New York:

Schuurmans, J.
1934 'Het koppensnellen der Tolaki', dalam MNZ, LXXVilI, hlm. 207-218;
dan dalam IG, LVI, hlm. 823-838.
325

PNRI
Soemardjan, S. dan S. Soemardi
1964 Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi UI.
Soeparto, S.
1984 Jamu Jawa Asli. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.

Schulte, N.P.G.
1980 'The Symbolic Classification of the Atoni of Timor', dalam The Flow
of Life, ed. J. J. Fox. Cambrigde: Harvard University Press.
Sorokin, P.
1961 'The Principle of Immanent Change', dalam Theories of Sociology, ed.
T. Parson, et al. Wellesley: The Free Press of Glencoe, hlm. 1311-1321.
Sperber, D.
1974 Rethinking Symbolism. Cambridge: Cambridge University Press.
Spradley, J. (ed)
1972 Culture and Cognition: Rules, Maps, and Plans. Toronto: Chandler
Publishing Company.
Sturrock, J. (ed)
1979 Structuralism and Since. Melbourne: Oxford University Press.
Subyakto
1975 'Kebudayaan Ambon', dalam Manusia dan Kebudayaan di Indonesia,
ed. Koentjaraningrat. Jakarta: Penerbitan Djambatan, hlm. 166-182.
Sumner, W.C.
1970 'The Mores', dalam Sociological Theory: A Book of Readings, ed.
Lewis A. Coser & Bernard Rosenberg. London: The Macmillan Com-
pany, hlm. 85-87.
Suparlan, P.
1971 'Kebudayaan Timor,' dalam Manusia dan Kebudayaan di Indonesia,
ed. Koentjaraningrat. Jakarta: Djambatan, hlm. 198-240.
1976 The Javanese in Surimam: Ethnicity in an Ethnically Plural Society, P h .
D. Thesis. Illinois: University of Illinois.
1978 'The Javanese Dukun', dalam Majalah Ilmu-ilmu Sosial Indonesia,
Thn. ke V, No. 2, hlm. 195-216.
1980 Manusia, Kebudayaan dan Lingkungannya: Perspektif Antropologi
Budaya. Makalah Seminar (naskah stensil).
1981 Metodologi Penelitian Kebudayaan. Ceramah (naskah stensil).
1981a Adaptasi: Perspektif Kebudayaan. Makalah Seminar (naskah).
1981 b 'Kata Pengantar', dalam Abangan, Santri, Priyai dalam Masyarakat
Jawa, diterjemahkan oleh A. Mahasin. Jakarta: Pustaka Rakyat, hlm.
vii-xiv.

326

PNRI
1981 c Kebudayaan, Masyarakat, dan Agama: Agama Sebagai Sasaran Peneli-
tian Antropologi. Makalah Latihan Penelitian.
1.1. Struktur Sosial, Agama, dan Upacara, Geertz, Hertz, Cunningham,
Turner, dan Levi-Strauss (naskah stensil).
1982 Pokok-pokok pikiran mengenai Strategi Pengembangan Kebudayaan
Indonesia. Makalah Seminar (naskah stensil).
1982a 'Masyarakat: Struktur Sosial', dalam Ilmu Sosial Dasar I. Jakarta:
Konsursium Antar Bidang Depdikbud, hlm. 48-58.
1982b 'Perubahan Sosial', dalam Ilmu Sosial Dasar I. Jakarta: Konsursium
Antar Bidang Depdikbud, hlm. 106-119.
1982c 'Keluarga dan Kekerabatan', dalam Ilmu Sosial Dasar I. Jakarta: Kon-
sursium Antar Bidang Depdikbud. hlm. 171-184.
1982d 'Kemajemukan dan Identitas', dalam Ilmu Sosial Dasar II. Jakarta:
Konsursium Antar Bidang Depdikbud, hlm. 227-240.
1982e 'Penelitian bagi M e n u n j a n g P e m b i n a a n dan P e n g e m b a n g a n
Kebudayaan Nasional', dalam Ilmu Sosial Dasar II. Jakarta: Konsur-
sium Antar Bidang Depdikbud, hlm. 241-261.
Talloci, M.
1982 Guide to the Flags of the World. ed. W. Smith. London: Sidwich &
Jackson.
Ter Haar, B.
1948 Adat Law in Indonesia, diterjemahkan oleh R. Adamson dan A.A.
Schiller. New York: Institute of Pasific Relations.
Tobing, Ph. L.
1963 The Structure of the Toba-Bataks Belief in the High God. Amsterdam:
Jacob van Campen.
Toynbee, A.
1959 Civilization on Trial and the World and the West. New York: Meridian
Books, Inc.
Treffers, F.
1913 'Dr.ie verhalen afkomstig van de Tolalaki', dalam Tijd., LV, hlm.
230-233.
1914 'Het Landschap Laiwoei in Z.O. Celebes en zijne bevolking', dalam
TNAG, XXXI, hlm. 188-221.
Tumin, M.M.
1953 'Some Principles of Stratification: A Critical Analysis', dalam Ctass,
Status, and Power, ed. R. Bendix dan S.M. Lipset. New York: The Free
Press, hlm. 53-58.
Tyler, S.A. (ed)
1969 Cognitive Anthropology. Sidney: Holt, Rinehalt and Winston.

327

PNRI
Tylor, E.B.
1979 'Animism', dalam Readings in Comparative Religion: An Anthropolo-
gical Approach, ed. W.A. Lessadan E.Z. Vogt. Terbitan pertama 1873.
New York: Harper & Row, Publishers, hlm. 9-19.
Vosmaer, J.N.
1839 'Korte beschrijving van de Z.O. schiereiland van Celebes, in het bij-
zonder van Vosmaerbaai of van Kendari; met berigten omtrent den stam
der Orang Badjos', dalam VBGKW, XVII.
Vredenbergt, J.
1978 Metode dan Teknik Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.
Vries, A. de
1974 Dictionary of Symbols and Imagery. Amsterdam: North-Holand
Publishing Company.
Waymen, A.
1969 'No Time, Great Time, and Profane Time in Budhism', dalam Myth
and Symbols, ed. Kitagawa dan Ch. H. Long. Chicago: The University
of Chicago Press, hlm. 47-62.
Weber, M.
1970 'Types of Authority', dalam Sociological Theory: A Book of Readings,
ed. L.A. Coser dan B. Rosenberg. London: The Macmillan Company,
hlm. 135-139.
Westermark, E.
1926 The Godness of God. London: Watts & Co.
1934 Recent Theories of Exogamy. London: Watts & Co.
White, A.L.
1940 'The Symbol: The Origin and Basis of Human Behavior', dalam
Philosophy of Science, VII, hlm. 451-463.
1949 The Science of Culture. New York: Farrar, Strauss and Company.
1976 'Symboling: A kind of behavior', dalam Ideas of Culture: Sources and
Uses, ed. F.C. Gamst dan E. Norbeck. New York: Holt, Rinehart &
Winston, hlm. 26-31.
Whitehead, A.N."
1928 Symbolism: Ps Meaning and Effect. Cambridge: The University Press.
Wouden, F.A.E. van
1968 Type of Social Structure in Eastern Indonesia, terjemahan R. Needham,
Leiden: Mart'inus Nijhoff.
Young, A.M.
1976 The Geometry of Meaning. San Franscisco: Robert Brings Association.

328

PNRI
BKBKRAPA BAHAN T K R T U I J S DARI P K M K R I M AH

Biru Pusat Statistik


1980 " P e n d u d u k Kalimantan dan Sulawesi Menurut Propinsi dan Kabupa-
ten/Kota M a d y a " , Seri: I, No. 6, Hasil Pencacahan Lengkap Sensus
Penduduk 1980. Jakarta.
Dinas Pertanian Propinsi Sulawesi Tenggara
1980 "'Laporan Tahunan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Sulawesi Teng-
gara 1979/1980", Kendari.
Dinas Peternakan Propinsi Sulawesi Tenggara
-1980 " L a p o r a n Tahunan Kepala Dinas Peternakan Propinsi Sulawesi Teng-
gara 1979/1980," Kendari
Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Tenggara
1980 " L a p o r a n Tahunan Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Teng-
gara 1979/1980", Kendari.
Dinas Perikanan Propinsi Sulawesi Tenggara
1980 " L a p o r a n Tahunan Kepala Dinas Perikanan Propinsi Sulawesi Teng-
gara 1979/1980", Kendari.
Kantor Sensus dan Statistik Propinsi Sulawesi Tenggara
1980 "Sulawesi Tenggara Dalam Angka 1979", Kendari.
1983 "Sulawesi Tenggara Dalam Angka 1982", Kendari.
Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Sulawesi Tenggara
1980 " L a p o r a n Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi
Sulawesi Tenggara 1979/1980", Kendari.
Kantor Wilayah Dep. P. dan K. Propinsi Sulawesi Tenggara
1980 " L a p o r a n Kepala Kantor Wilayah Dep. P. dan K. Propinsi Sulawesi
Tenggara 1979/1980", Kendari.
Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara
1979 " P o l a Dasar Pembangunan Daerah Sulawesi T e n g g a r a " , Kendari.
1980 " L a p o r a n Pertanggungjawaban Gubernur Kepala Daerah Tingkat I
Sulawesi Tenggara 1979/1980", Kendari.
Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Kendari
1980 " L a p o r a n Pertanggungjawaban Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ken-
dari 1979/1980", Kendari.
Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Kolaka
1980 " L a p o r a n Pertanggungjawaban Bupati Kepala Daerah Tingkat II
Kolaka 1979/1980", Kolaka.

329

PNRI
PNRI
LAMPIRAN-LAMPIRAN

LAMPIRAN I: BEBERAPA
MITOS

1. Mitos Oheo

La'ito mo'ia i Oheo anolako i ahua Sekali peristiwa O h e o pergi ke


n o ' o n g g o lako m e b a h o . L a ' i p o sungai u n t u k m a n d i . Dari j a u h ia
m o n d a e n o t o a ' i r o t o r o p e m b i t u luale telah m e n a m p a k t u j u h orang gadis
m b e m o m a h e la m b e b a h o . cantik sedang m a n d i .
Bahwa gadis-gadis itu yang cantik
Ieto n g g i r o ' o r o luale m b e m o m a h e
d i n a m a k a n Anawai-ngguluri t u r u n
t i n a m o a k o Anawaingguluri t u d u ari
dari langit, di atas k a y a n g a n . S u d a h
i lahuene, i wawo sangia. N o ' i e t o
begitulah kebiasaan mereka t u r u n
n d e k i n u a h a k o r o m b e t u h a i la w u t a
ke bumi m a n d i , n a m u n b a r u l a h
m b e b a h o , m a n o iepo nggiro'o
p a d a saat itu O h e o m e n d a p a t k a n
o t e m b o anopekf.nggehero i O h e o
mereka.

Ki'oki i O h e o n o l a k o - I a k o t u ' u n o O h e o tidak langsung m e n u j u ke


butu i a h u a m a n o n o s u m u s u k a ano- sungai tetapi ia m u n d u r bersem-
pebia m e h i ' a k o i lalorembu a n o bunyi di semak-semak lalu ia
t o t o a ' i r o ari m o n d a e . N o t o a ' i r o la m e m a n d a n g dari j a u h . Ia melihat
mbelambe, m b e b a h o , m b e h i m b o , mereka telanjang, m a n d i , bersem-
menggohehehe, m e m o k o ' e h e - e h e r o . buran air, tertawa terkekeh-kekeh,
M b e r a n o t o i O h e o nomokeangge- bergembira-ria. Sangat O h e o ber-
hero, r o p e m o m a h e , mendewali. nafsu a k a n mereka, m e r e k a cantik,
rupawan.
Mepiriki'ito i O h e o keno tete'- Berpikirlah O h e o b a g a i m a n a ia
embe a n o p o ' a l o te'aso. L a ' i t o k a d a p a t m e n a n g k a p salah s a t u n y a .
a n o p u s u a akala. N o ' o n g g o m e h i ' - Akhirnya ia m e n e m u k a n cara. Ia
a k o inau rtio'alo t e ' a s o sarunggaro a k a n bersembunyi pergi m e n g a m b i l
la i wawo m b u s u . satu b a j u terbang mereka yang ter-
simpan di pinggir sungai.
Inau'ito ona mo'alo o'aso Pergilah ia mengambil satu b a j u
sarungga, n o k o n o - k o n o ' i hae i t e n o terbang, persis j u g a terkena kiranya

331

PNRI
sarunggano anai'uhu, noari ropem- baju terbang milik anak bungsu,
bitu mbeohai. Sa arino nggiro'o la- dari antara mereka tujuh ber-
konoto ona inau tebua mokoko- saudara. Setelah itu ia memun-
nioro. culkan diri dengan mengagetkan
mereka.
Lakoroka mbendegego, mbendepo- Gegerlah mereka berpisahan, se-
tia, pada mbe'eka i wawo kamba, muanya naik ke darat, lalu masing-
mbelolaha'i sarunggaro, arombesa'- masing mencari pakaiannya, lalu
ungge, arombedapasako mbeluma. dikenakan, lalu beterbanganlah
Saliwano anai'uhu. Tanolando mereka. Kecuali anak bungsu.
sarunggano. Nohikekjjto i Oheo. Sudah tak ada pakaiannya. Telah
disembunyikannya oleh Oheo.
Ikirotoka anai'uhu ano'umi'ia, Akibatnya menangislah anak
umokehero k a k a ' a k o n o , ma mbehae bungsu, memanggil kakak-kakak-
mbendepu'iroto. La'itoka ona nya, tetapi mereka gerangan telah
anai'uhu umi'ia, mombeperiri ano- menghilang. Sedang anak bungsu
leu i Oheo humori-hori'i. menangis minta dikasihani lalu
datanglah Oheo mendekatinya.
" l a m o t o ula umi'ia anawai, "Janganlah engkau menangis, hai
waipode m o m a h e , " note'eni i Anawai, gadis r u p a w a n , " kata
Oheo. Leundo atombule i lai- Oheo. Marilah kita pulang ke
kanggu. Nikato osawu aupebanggo- rumahku. Inilah sarung agar engkau
banggo. bersarungkan.
Mano tanolanggi momiu-miu Tetapi Anawai Ngguluri tidak
Anawai Ngguluri. Hanggarika menyahut. Malahan sebaliknya ia
notutulu'i no'ie umaleke sarung- menuduhnya bahwa ia yang
gano. Tumotaha'itoka i Oheo, mengambil sarungnya. Menjawablah
" o h o , i n a k u . " Mano akuki bua- Oheo, " Y a , a k u . " Tetapi nanti
keko'o ketope'alo. Te'eni'itoka hae kuberikan jika kita kawin. Berkata-
Anawai Ngguluri, " a k u k i ' e h e ato- lah Anawai Ngguluri, " a k a n aku
pe'alo keuwatukeki pongoninggu." setuju kita kawin jika kau penuhi
Mesuko'ito ona i Oheo, " O h a w o t o permintaanku." Bertanyalah Oheo,
nggo pinongonimu?" T u m o t a h a ' i t o " A p a k a h gerangan akan perminta-
itono Anawai Ngguluri, te'eni, " m a a n m u ? ' Menjawablah juga Anawai
ketodunggu matu mona o ' a n a aupo- Ngguluri, katanya " m a k a jika kita
wohikiki ota'i, o'eme, te'embe hae sampai nantinya beranak agar kau
inaku k u p o m b a d o k e . " T u m o t a h a ' - menyeboh tahi, kencing, sebab aku
itoka i Oheo, te'eni, "nggituo hanu pantang atasnya." Menjawablah
b u n a . " " M a ieto," note'eni Anawai Oheo, katanya, " h a l itu adalah
Ngguluri. g a m p a n g . " " M a k a begitulah," kata
Anawai Ngguluri.
Nowawe'ito ona i Oheo Anawai Diantarlah Anawai Ngguluri oleh
Ngguluri mbule i laikano. M o ' i a ' - Oheo pulang ke rumahnya. Tinggal-

332

PNRI
iroto ona o'aso laika sambe arope'- lah mereka serumah sampai mereka
alo. kawin.
Ki'oki ona nomenggau mona'iroto Tidak lama kemudian beranaklah
o'ana. Ma ieto ona kenonde tewuta, mereka. Maka begitulah jika anak
te'eme anaro nde i Oheo mowohiki. mereka berah, kencing biasanya
Oheolah yang menyeboh.

La ona o'aso otembo t o ' o t o Sekali waktu Oheo tidak mau lagi
no'ehe i Oheo mowohiki ota'i, menyeboh tahi, kencing. Disuruh-
o'eme. Notena'ito i Oheo walino nyalah Oheo istrinya menyeboh.
mowohiki. Mosa'ito ona uneno Sakit hatilah Anawai Ngguluri.
Anawai Ngguluri. Bersedih hatilah Anawai Ngguluri.
Tekura'ito opa Anawai Ngguluri. Mengapa gerangan Oheo,
Mbakoeto ona i Oheo, walino ano- suaminya lalu tak suka lagi
ta'eheto mowohiki ota'i, o'eme? menyeboh tahi, kencing? Bertanya
ftopeosuko Anawai Ngguluri i une Anawai Ngguluri dalam hatinya.
mbenaono. Nopoleti'ito ona dan- Dilanggarnyalah janjinya Oheo.
dino i Oheo.
Note'eni penaono Anawai Nggu- Berkatalah Anawai Ngguluri
luri, "langgoki mo'ia ona Oheo dalam hatinya, "selama dalam
mano a u t o ' u m o ' a n a d o w o ' i anamu, hidupmu Oheo tibalah saatnya kau
te'embe hae inaku akutombule ine mengasuh sendiri anakmu, sebab
anamotu'onggu i wawosangia." aku sudah akan kembali kepada
orang tuaku di atas kayangan."
Mohinano, te'opuano, kenola- Besok dan lusanya, jika Oheo,
koto walino i Oheo me'indio, nolo- suaminya telah pergi bekerja, dicari-
laha'ito ona Anawai Ngguluri sa- nyalah Anawai Ngguluri akan
runggano keno'imbe laha'ano humT- pakaiannya di mana gerangan tem-
keke i Oheo, walino. patnya tersembunyi oleh Oheo,
suaminya.
La'itoka lako lumolaha'i anolako Lama ia mencarinya akhirnya ia
sumua'i la mehili'ako i ljilaho. menemukannya terdapat bersem-
No'ale'ito ano'ale humongo'i ano- bunyi di selah kasau rumah.
tinimbi'i, anopuai'i sambe anodadi Diambilnyalah lalu direndamnya di
nopesp'ungge. air lalu direntangkannya sampai
dapat dipakainya.
Mbuleno i Oheo ari lako me'in- Setelah Oheo kembali dari beker-
dio, leu'ito kumi'i la p o ' u h u ' i ja didapatinya (istrinya) sedang
anano mano-la teosolo woi matano. menyusukan anaknya tetapi sedang
Mano tanolanggi i Oheo meosuko berlinang air matanya. Tetapi tidak
keno ohawoto ari kadadia i laika bertanyakan apa gerangan yang
tembu'u nolalako me'indio. telah terjadi di rumah selama ia
pergi bekerja.

333

PNRI
Lako-lakotu'uno inau umale'i Ia terus pergi mengambil daun
panasano anopundu o ' a t o . Lji'ito rumbianya kemudian membuat
mondu o ' a t o anotepodea'rio walino atap. Sementara membuat atap ia
la mo'anggo-anggoke anano, te'eni: terdengar suara istrinya sedang me-
oh, ananggu, nyanyikan anaknya, katanya:
keno i wulelenggu, hai, anakku,
umuhuto, gerangan kembangku,
ponggato, meneteklah,
lala umuhuto, makanlah,
mongga nggondombara, meneteklah secukupnya,
auto mo'ia, makan terakhir,
akuto lako, kau sudah akan tinggal,
aupo'ia ronga ama, aku sudah akan pergi,
akutolako kei anamotuo, kau tinggal bersama ayah,
mbule i lahuene, aku akan pergi ke orang tua,
ikita iwawo sangia, pulang ke langit,
Tehinggakaito ona penaono i di atas kayangan,
Oheo. Nona'ito atono ano pe'eka Berdebarlah jantungnya Oheo.
mera-merare i laika. N o t o a ' i t o Ditinggalkannya atapnya lalu ia
walino Anawai Ngguluri ari mesa'- naik segera ke rumah. Dilihatnya
ungge sarunggano. Lakonoto rumo- istrinya Anawai Ngguluri telah
ra'i figgo rumako'i m a n o lumanoto mengenakan baju terbangnya. Lalu
lako tumoko i lomba-lomba. ia terburu-buru untuk menangkap-
Sabutuno nggo lako rumako'i nya tetapi ia telah terbang hinggap
lumanotohae t u m o k o i lembe- di jendela. Setelah ia akan menang-
lembe. Pomonenoto hae i Oheo kapnya terbanglah ia hinggap di
nggo ene rumako'i. Sabutuno nggo loteng. Memanjat lagi Oheo untuk
rumako'i lumanoto hae lako menangkapnya. Setelah ia hendak
tumoko i la menangkapnya terbang lagi hinggap
inea. Lakonoto hae i Oheo lako di pohon pinang. Sekali lagi Oheo
momone'i. Sabutuno ene poindi'ike memanjat. Setelah ia memegang
pudano. Lumanoto ona lako-lako bulu ekornya. Terbang lagi dan
t u ' u n o i lahuene, lalaeika nototoa'i seterusnya menuju langit dan dipan-
ano ene mesodo'ako i kundo me'- danginya sampai ia masuk ke langit
eto. yang biru.
Tekura'ito ona i Oheo, meoli- Bersedih hatilah Oheo menyesali
>li'ito. Lakonoto kumolo'i anano dirinya. Lalu ia menggendong anak-
lako pali'i wuta'aha meosuko keno nya pergi berkeliling dunia mena-
ohepoka nio mokowawe'i pe'eka i nyakan semoga, ada yang mau me-
wawo lahueno i wawo sangia lako ngantar ia naik ke atas langit di atas
watuke walino. kayangan untuk mengikuti istrinya.
Nosuko'ito mbera kolele, mbera Ditanyailah olehnya segala
pinopaho, hanu toro, mano ta hewan, segala tanaman, t u m b u h a n ,

334

PNRI
nionggi m o k o p o ' i a h a r i ' i , s a b o t o n o tapi a d a p u n y a n g m a m p u , kecuali
ue wai. N o t e ' e n i ue wai a k u k i e h e r o t a n ue wai. B e r k a t a ue wai a k u
w a w o k o O h e o l a k o i w a w o sangia m a u m e m b a w a m u O h e o pergi k e
w a t u k e walinu k e u p o s o p u k o n a atas k a y a n g a n mengikuti istrimu
osisi a s o b a k i l a n d a k a , a n o nio saru j i k a k a u m e m b u a t k a n a k u cincin
p e s o e ' a n u keu o n g g o n o r a o n e . T e ' - satu k e r a n j a n g , u n t u k k a u meng-
eni'itoka i Oheo, " m a nggituo hanu g a n t u n g diri "bila k a u m e m a n j a t .
dadi." Mbulenoto i Oheo mosupu B e r k a t a l a h O h e o , " h a l itu pasti
osisi a s o b a k i l a n d a k a . Sa a r i n o jadi."
l a k o n o t o leu wawSke ue wai a n o p e -
Kembalilah O h e o m e n e m p a h cincin
sisi'ako. S a a r i n o m e s i s i ' a k o t e ' e n i ' -
s e b a n y a k satu k e r a n j a n g . Setelah itu
ito u e wai, " m a , p e s o e t o o n a O h e o
pergilah ia m e m b e r i k a n n y a k e p a d a
ronga a n a m u ! " Lakoroto ona meo'-
ue wai lalu d i p a k a i n y a . Setelah
a n a mesoe. T e ' e n i ' i u e wai, " k e n o
d i p a k a i n y a sebagai cincin, b e r k a t a -
dedendesa i koaso, i keruo iamo
lah ue wai " m a k a b e r g a n t u n g l a h
iamo upewola, nggario u'onggo
O h e o b e r s a m a a n a k m u ! " Lalu i a
pewola keno dedendesato i
d e n g a n a n a k n y a b e r g a n t u n g . Ber-
komonggo tolu." Ma, nowatuketo
k a t a ue wai, " j i k a b e r g o y a n g per-
ona i Oheo.
tama, k e d u a , j a n g a n kau buka
m a t a , nanti k a u b u k a m a t a bila
telah b e r g o y a n g ketiga k a l i n y a . "
M a k a , diikutinyalah O h e o .

Mepoindi'ito i Oheo moro-mororo Berpeganglah O h e o b e r s a m a a n a k -


r o n g a a n a n o . D e d e n d e s a i ko- n y a k u a t - k u a t . Bergoyang p e r t a m a
m o n g g o aso k i ' o k i n o l a m o m i u - kali tidak ia b e r g e r a k - g e r a k , ber-
miu, dedendesa i komonggo ruo g o y a n g k e d u a kalinya tidak j u g a ia
t a n o la m e m i u - m i u , d e d e n d e s a i p o i bergerak-gerak, nanti bergoyang
k o m o n g g o tolu iepo o n a a n o y a n g ketiga kalinya b a r u l a h ia m e m -
p e w o l a . Sa p e w o l a n o l a ' i r o t o b u k a m a t a . Setelah m e m b u k a m a t a
meo'ana i pu'u nohuno mokole, ia d a n a n a k n y a telah b e r a d a di
sangia m b u ' u , a m a n o w a l i n o d e p a n r u m a h r a j a , dewa tertinggi,
A n a w a i Ngguluri, b a i s a n o . ayah istrinya, A n a w a i Ngguluri,
mertuanya.

La'iroto meo'ana i pu'u nohu, S e d a n g ia d a n a n a k n y a b e r a d a di


a n o leu p e t e n a n o b a i s a n o sangia depan rumah, datanglah pesuruh
m b u ' u , leu m e t i t i r o , te'eni: " p o ' - m e r t u a n y a , d e w a tertinggi, d a t a n g
o p o b a r a O h e o keu p e ' e k a keu t a m e n j e m p u t sambil b e r k a t a : " b e l u m
horinggi t u m u e ' i n g g i r o ' o m u n e / n g k a u O h e o bisa naik k e r u m a h ,
watu n d u m a d e . " Ma, tekura'ito hae jika kau belum menebang tumbang
i Oheo. La'ito tekura anoleu obeke, g u n u n g b a t u d i sana i t u . " M a k a
m e s u k o : " o h a w o t o l a O h e o tine- bersedih hatilah lagi O h e o . S e d a n g
kura'akomu?" Tumotaha'itoka i ia bersedih hati m u n c u l l a h babi,

335

PNRI
Oheo, kusaruokopo hae tau onggo bertanya: " a p a gerangan yang me-
mokowai'ikona. Te'eni'i hae obeke, nyedihkanmu O h e o ? "
taku onggopo ona mokowai'iko'o Menjawablah Oheo, biarpun aku
sausauru'ikeiioto. T u m o t a h a ' i i katakan kau toh tak akan m a m p u
Oheo, " i e p o aku onggo pe'eka i memenuhinya buatku. Berkata babi,
laikano baisanggu sangia mbu'u biarpun aku tak akan memenuhinya
keku ari humehongge nggiro'o buatmu, cobalah ceritakan. Men-
mune batu ndumade. Te'eni'itoka jawablah Oheo, " n a n t i aku dapat
obeke, nggituo hanu buna. T o t o a ' - naik ke rumah mertuaku, dewa ter-
itoka akimbelako inggami mbehe- tinggi bila aku telah menumbangkan
hongge. Mbendekonorotok^ mbera gunung batu di sana itu. Berkatalah
obeke. Asohapoka pera ano teheho babi, hal yang demikian adalah
watu ndumade. gampang.
Lihatlah, kami akan berangkat
meratakannya. Serentaklah segala
babi mendorongnya. Dalam sekejap
Leu'ito hae petenano sangia mata hancur-ratalah gunung batu.
m b u ' u , baisano, te'eni: " p o ' o p o Datanglah lagi pesuruh dewa ter-
keu pe'eka Oheo, keu ta horinggi tinggi, mertuanya, berkata: " b e l u m
mokoruru'i ni'ino mStu owoto la kau Oheo bisa naik ke rumah, bila
tesiaba aso lepa bokeo i pu'u kau belum mengumpulkan padi ter-
n o h u . " Tekura'ito hae i Oheo. siar satu bakul raksasa di depan
La'ito tekura ano leu tTtTsu. r u m a h . " Bersedih hatilah lagi
Mesuko'ito titisu: " o h a w o t o la Oheo. Sedang ia bersedih hati mun-
tinekurahakomu O h e o ? " cullah burung puyu. Bertanya
burung puyu: " a p a gerangan yang
menyedihkan O h e o ? "
Tumotaha'ito i Oheo, kusaruikopo Menjawablah Oheo, biarpun ku-
hae tau onggo mokowai'ikona. Te'- katakan kau toh tak akan meme-
eni'ito hae titisu, " t a k u onggopo nuhinya buatku. Berkatalah lagi
ona mokowai'iko'o, saru-saru'ikei- burung puyu, " b i a r p u n aku tak
t o t o . " Te'eni'ito i Oheo, " n o t e n a ' - mampu memenuhinya buatmu,
aku sangia mbu'u akururu'i ni'ino k a t a k a n l a h . " Berkatalah Oheo,
woto la tesiaba i pu'u n o h u . " dewa tertinggi menyuruh aku agar
Tumotaha'ito ona titisu, "nggituo aku memungut padi yang terhampar
hanu b u n a . " di depan rumah ini." Menjawablah
burung p u y u , " hal itu adalah gam-
pang."
Mbendekonoirotoka aso banggo- Serentaklah sekawanan burung
naro titisu mbepondu aro wisoi ine puyu memungut dan memasukkan
lepa bokeo. Kioki no asohapo padi itu ke dalam bakul raksasa.
opo'ito owoto romberuru'i. Iepo Dalam sesaat habislah padi itu
ona anoleu petenano sangia m b u ' u , dipungut oleh mereka. Barulah

336

PNRI
te'eningge i Oheo, te'eni, " m a , pesuruh dewa tertinggi datang
pe'ekato ona Oheo i laika." memberitahu Oheo, katanya,
Pe'eka'ito ona i Oheo ronga " m a k a naiklah Oheo ke r u m a h . "
.anano. Ropowuleketo i Oheo ronga Naiklah Oheo bersama anaknya.
mo'ombike. Sa arino mowule i Dihidangkanlah untuk Oheo sirih-
Oheo ronga m o ' o m b i leu'iroto hae pinang dan rokok. Sesudah Oheo
petenaro tina sangia, baisa ndinano, makan sirih dan merokok, datang
anolakoto mongga. Tine'eniako'ito, lagi pesuruh istri dewa tertinggi,
te'eni: " k e u onggo mongga Oheo mertua perempuannya, menyuruh
nikato ninau opitu ponggaha la Oheo untuk makan.
metala ronga,mbebatutu, keu Diberitahukannyalah katanya, '"jika
kono'iki lala pe'ihi'ako kina ma kau Oheo hendak makan telah ter-
p o n g g a t o . " Ie keu ta kono'iki ma sedia di sana tujuh buah hidangan
ki'oki le'esu keu teposuange tertutup, jika kau mengena sebuah
walimu. hidangan yang berisi makanan,
maka m a k a n l a h . " Tetapi jika tidak
kau mengena, maka tidak kau akan
menemui istrimu.

Ikirotoka hae i Oheo ano tekura. Karena itu lagi-lagi Oheo ber-
La'ito tekura ano leu omeo. sedih. Sedang ia bersedih muncullah
Mesuko'ito omeo, " o h a w o t o la kucing. Bertanyalah kucing, " a p a
Oheo t i n e k u r a h a k o m u ? " gerangan Oheo yang menyedihkan
hatimu?"
Tumotaha'ito i Oheo kusaru'ikopo Menjawablah Oheo, biarpun ku-
hae tau onggo mokowai'ikona. Te'- katakan, kau toh tak akan meme-
eni hae omeo taku onggopo ona nuhinya buatku. Berkata lagi kucing
mokowai'iko'o, sau-saru'ikeitoto. biarpun ku tak akan mampu meme-
Te'eni'ito i Oheo, " k u o n g g o lako nuhinya buatmu, katakanlah.
mongga mano taku to'orikeki o'aso Berkatalah Oheo, " k u akan makan
penggaha lalape'ihi'ako kina nopitu tetapi aku tak tahu sebuah hidangan
ponggaha mbenggena-kena la mbe- yang berisi nasi dari antara t u j u h
batutu mano o'asoika lala ihino. hidangan yang serupa sedang ter-
Te'eni'ito hae omea, "nggituo hanu tutup yang hanya sebuah yang berisi
b u n a . " T o t o a ' a k u t o k a mbembe makanan. Berkatalah lagi kucing,
ponggaha ina'u ni'ai-ainggu ieto " y a n g begitu adalah g a m p a n g . "
ponggaha lala ihino. Ma ieto ona. Pandanglah hidangan mana yang
Lako'ito omeo ina'u butu'i aku cium, itulah hidangan yang
ponggaha lala ihino ano ai-ai'i. berisi. Maka begitulah. Pergilah
Noto'oriketo ona i Oheo pingga lala kucing menuju hidangan yang berisi
ihino. lalu diciumnya. Diketahuinyalah
Oheo piring mana yang berisi.

337

PNRI
Nowaweto ona anano i Oheo aro- Dibawanyalah anaknya pergi
lako mongga. Sa arino mongga i makan. Sesudah makan Oheo kem-
Oheo mesukahako'ito movvule-vvule bali duduk makan sirih dan mero-
ronga mo'ombi-ombi, ano o'olu'i kok, sambil menunggu saatnya ia
tembono no'onggoto ona teposu- akan menemui istrinya Anawai
angge walino, Anawai Ngguluri. Ngguluri.
La'ito mo'ombi-ombi anoleu hae Sementara ia merokok datanglah
petenano sangia m b u ' u , te'eningge i lagi pesuruh dewa tertinggi, mem-
Oheo, te'eni ma, lakoto ona Oheo beritahu Oheo, katanya: maka,
teposuangge walimu. Nikato mbone pergilah Oheo menemui istrimu. Di
opitu pandasa ronga holiwuno la sana nampak tujuh ranjang lengkap
mbetoe mbenggena-kena mano dengan kelambu bergantung yang
o'asoika lala ihino laha'ano mo'iso serupa tetapi hanya sebuah yang
walinu Anawai Ngguluri. Keno lau- berisi di mana istrimu Anawai
laumuki kumono'i laha'ano walimu, Ngguluri sedang tidur.
ma pewisoto audulu'i walimu, le Jika kau langsung mengena kelam-
keu ta kono'iki ma ki'oki keu tepo- bu di mana istrimu, maka masuk-
suangge sangia m b u ' u baisamu lah, lalu kau tiduri istrimu. Tapi
ronga luwuako mbera pinetonomu. jika tidak kau kena maka tidak
Auto nimbule'ako i la wuta. akan kau temui dewa tertinggi, mer-
tuamu bersama semua keluarga
istrimu. Kau akan dikembalikan ke
bumi.
Tekuraito hae i Oheo. Te'embeka Bersedihlah lagi Oheo. Bagai-
ie ano onggo kumono'i pandasa manalah ia akan mengena ranjang
laha'ano walino norombenggena- di mana ada istrinya karena se-
kena. la'ito hae tekura anoleu oiim- muanya serupa. Sementara lagi ia
bopo. Mesuko'ito elimbopo. sedih datanglah kunang-kunang.
" o h a w o t o la tinekurahakomu Bertanya kunang-kunang, " a p a
Oheo?" gerangan yang menyedihkan kau
Oheo?"
Tumotaha'ito hae i Oheo, ma Menjawablah lagi Oheo, biarpun
kusaru'iko'opo hae tau onggo kukatakan kepadamu kau toh tak
mokowai'iokona. Te'eni'ito hae akan memenuhinya untukku. Ber-
olimbopo, " t a k u onggopo ona katalah lagi kunang-kunang, "biar-
mokowai'iko sau-saru'ikeitoto." pun aku tak akan memenuhinya
Te'eni'ito ona i Oheo, " k u ' o n g g o buatmu, k a t a k a n l a h . "
lako mo'iso, dumului walinggu Berkatalah Oheo, " k u akan meni-
mano taku to'orikeki pandasa imbe duri, mengumpuli istriku tetapi aku
laha'ano walinggu nopitu la pan- tak tahu ranjang mana di mana
dasa ronga holiwuno mbenggena- istriku berada karena ada tujuh ran-
jang lengkap kelambunya yang se-
muanya s e r u p a . " Berkatalah

338

PNRI
k e n a . " Te'eni'ito ona olimbopo, kunang-kunang, "yang begitu gam-'
"nggituo hanu b u n a . " Totoaku- pang."
toka, imbe laha'anggu ene tumoko, Pandangilah aku, dimana aku
ikituto laha'ano mo'iso w a l i m u . " hinggap, di situlah sedang istrimu
Ma, ieto ona. Luma'ito olimbopo, t i d u r . " Maka begitulah. Terbanglah
ene tumoko ine holiwu laha'ano kunang-kunang, hinggap di kelam-
walino i Oheo mo'iso. Pelong- bu di mana istrinya Oheo sedang
gonoto i Oheo butu'i holiwu tidur.
laha'ano olimbopo. Lau-launoto i Berdirilah Oheo menuju kelambu
Oheo humunggai'i holiwu. di mana kunang-kunang hinggap.
Notiro'ito walino Anawai Ngguluri Langsunglah Oheo membuka ke-
la moleho-leho i wawo nggasoro. lambu. Didapatinya istrinya Anawai
Pewiso'ito ona aropo'iso meowali. Ngguluri sedang berguling-guling di
atas kasur. Masuklah ia lalu tidur ia
bersama istrinya.
Mohina'ipo mo'oru-oru iepo ona Keesokan paginya barulah Oheo
i Oheo ano teposuangge sangia menemukan dewa tertinggi, mer-
mbu'u baisano ronga mbera pineto- tuanya bersama dengan semua
nono. keluarga istrinya.
Mano ki'oki nomenggau i Oheo Namun Oheo tidak begitu lama
nopo'ia i wawo sangia medulungge tinggal di atas kayangan berkumpul
baisano ronga pinetonono, te'embe dengan mertuanya bersama keluarga
hae tano tewaliki tono ari i la wuta istrinya, karena tidak dibenarkan
nggo mo'ia i wawo sangia. orang dari bumi akan tinggal mene-
tap di atas kayangan.
Sabutuno o ' o m b a oleo o ' o m b a Sesudah empat malam empat hari
owingi i Oheo nopo'ia i wawo Oheo tinggal di atas kayangan,
sangia, te'eni'to baisano i Oheo berkatalah mertua Oheo, dewa ter-
Sangia M b u ' u , " p o ' a n a t o Oheo lan- tinggi, "hai Oheo, anyamlah keran-
daka nggo pe'ulamiu meowali jang untuk kau dengan istrimu tum-
petuha i la wuta, mbule a r i a m i u . " pangi turun ke bumi, pulang ke
asalmu."
Lakonoto i Oheo lako me'ue ano Lalu pergilah Oheo merotan lalu ia
p o ' a n a landaka. Sa arino lakonoto menganyam keranjang. Setelah siap
Sangia Mbu'u te'eni, " l e u n d o Oheo lalu dewa tertinggi berkata, "mari-
ronga walimu ano anamu, akuwiso- lah Oheo bersama istrimu dan anak-
komiu ine landaka akukaputikomiu, mu, kumasukkan kamu bertiga di
ku'onggoto umu.lukomiu petuha i la dalam keranjang, kututup dan
wuta, ariamiu. kuikat kau, kuakan menurunkan
kau ke bumi, ke asalmu.
Mbeleu'iroto ona mbeo'anaro Datanglah mereka bertiga ber-
anowiso'iro ine landaka, anoka- anak lalu ia memasukkan mereka ke
puti'iro. Sa arino nggiro'o lakonoto keranjang, lalu ia menguatkan tali

339

PNRI
o n a Sangia M b u ' u u m u l u ' i r o p e t u h a ikatan mereka. Setelah demikian
i wawo wuta. barulah dewa tertinggi melepaskan
mereka t u r u n ke bumi.
Nola ta hori Anawai Ngguluri Sebelum Anawai Ngguluri masuk
pewiso i a l a n d a k a m o a w o i t o opiso ke k e r a n j a n g ia'telah m e m b a w a
anopehilike ine t a p u o n o , a n o sebilah pisau yang disisipkannya di
nionggi poserewino p o n g g a p u t i n o lipatan sarungnya, agar a d a alat
landaka kero onggoto mbeowali- p e m o t o n g ikatan k e r a n j a n g , bila
m e o a n a r o tudu i la wuta, t e ' e m b e mereka bertiga beranak a k a n men-
hae ari'ito m o d e a ' i a m a n o , Sangia darat ke bumi, sebab ia telah men-
Mbu'u, no'onggo tumondari'ike- d e n g a r k a n dari b a p a k n y a , dewa ter-
hero watu n d u m a d e , arotewiwo tinggi, b a h w a ia a k a n menindis
lulu, mate, iamoki n o t o ' o r i a k o mereka dengan batu g u n u n g , agar
ro'ari p e ' e k a i wawo sangia. mereka menjadi hancur, mati, agar
tidak k e t a h u a n b a h w a mereka per-
nah naik ke atas kayangan.
Lairoto p e t u h a a n o p e s o s o ' u n g a Sementara mereka m e n u r u n tiba-
Anawai Ngguluri la'ito watu tiba Anawai Ngguluri menengadah
n d u m a d e lako t u m o n d a r i ' i r o nggo ke atas, dilihatnya batu gunung
t u m u m b a i ' i r o . Ikirotoka a n o ale sedang mengikuti mereka d a n a k a n
pisono Anawai Anawai Ngguluri menindis mereka. Di saat itulah
a n o sesere'i p o n g g a p u t i n o baki lan- Anawai Ngguluri mengambil pi-
daka, a r o p e l u a ' a k o ronga a n a saunya dan ia m e m o t o n g - m o t o n g
mbelosi'ako t u d u ine aso w o n u a ikatan k e r a n j a n g , lalu mereka
m e t a m o a k o La Solo. S a l a m a ' i r o t o keluar bersama anak melompat
o n a m b e o a n a r o i O h e o , mbo'ia- turun pada sebuah negeri yang
iroto o n a i w o n u a La Solo sambe d i n a m a k a n La Solo. Selamatlah
aroteleka. O h e o sekeluarga, diamlah mereka di
negeri La Solo sampai mereka
b e r k e m b a n g biak.
Tesaru ieto bara t u r u n a n o t o o n a i Dikisahkan b a h w a t u r u n a n n y a l a h
O h e o nggiro t a r a m b u ' u n o Tolaki. Oheo tersebut m e n j a d i asal mula
orang Tolaki.

2. Mitos Wekoila

I Wekoila a n o i Larumbalangi Wekoila dan Larumbalangi adalah


meohairo. Ariaro ari i lahuene. sekandung. Asal mereka dari langit.
R o t u d u meohai i la wuta roleu Mereka berdua t u r u n ke bumi
m e k a d u sawu. I Wekoila kaka, ie dengan mereka b e r d u a . Wekoila
otina, i Larumbalangi ohai, ie lang- k a k a k , ia p e r e m p u a n , Larumbalangi
gai. T u d u a r o ieto ikita i k o l o m b a , i adik, ia laki-laki.
lalomba. M e t i a ' i r o t o meohairo. I Mereka t u r u n di sana di K o l u m b a

340

PNRI
Wekoila leu'ito i Konawe tewali di L a l o m b a . Kedua orang saudara
m o k o l e i Konawe, i Larumbalangi membagi diri. Wekoila datang di
t e t o r o ' i t o i kita i M e k o n g g a tewali Konawe dan m e n j a d i r a j a di
m o k o l e i M e k o n g g a . Ieto bara i Konawe, Larumbalangi tinggal di
Wekoila notina ndewali. M e r a p u ' i t o Mekongga d a n m e n j a d i r a j a di
i Wekoila Konawe langgai tina- sana. K o n o n kabarnya Wekoila
m o a k o Langgai M o r i a n a . I L a r u m - adalah wanita cantik. Wekoila
balangi itono m e r a p u ' i t o i kita i kawin dengan laki-laki bernama
Mekongga tinaro i kita i Mekongga. Langgai M o r i a n a . Demikian juga
T u r u n a n o t o o n a ni'ino i Wekoila Larumbalangi kawin di sana dengan
ronga Langgai M o r i a n a m e p u ' a r o p e r e m p u a n di Mekongga. T u r u n a n
mbera b a s a n o anakia i Konawe lala Wekoila dan Langgai Moriana ini-
sambe ingoni oleo, hende-hendeika lah yang m e n u r u n k a n r a j a - r a j a di
itono i L a r u m b a l a n g i t u r u n a n o Konawe dan hingga kini, seperti
mendewali'iroto t u r u n a n o mbera halnya juga Larumbalangi, t u r u n a n -
anakia i Mekongga sambe ingoni nya m e n j a d i t u r u n a n r a j a - r a j a di
oleo. Mekongga hingga kini.
Ieto o n a sambe ingoni oleo a n o Itulah sebabnya hingga kini dikisah-
tesaru n o ' a s o i k a w o n u a i Konawe kan bahwa negeri di Konawe dan di
a n o i Mekongga, n o ' a n a k i a r o Mekongga adalah satu a d a n y a ,
meohai n g g o t u k o m b o . karena masing-masing r a j a n y a
adalah saudara k a n d u n g .

3. Mitos Onggabo

L a ' i t o m o ' i a t o n o i Konawe a n o Sekali peristiwa p e n d u d u k negeri


k o n o ' i o r o p u , n o ' o p u ' i uti owose Konawe menjadi p u n a h , dihabiskan
ronga kiniku petanu m b o p o l e . biawak raksasa d a n kerbau ber-
Tesaru ieto bara nemepate'i nggiroo kepala d u a . Kisahnya b a h w a yang
o'uti ronga kiniku, ieto t i n a m o a k o i m e m b u n u h biawak d a n kerbau ter-
L a t u a n d a , lala m o ' i a ikita i Olo- sebut ialah b e r n a m a L a t u a n d a , pen-
O l o h o i Konawe. d u d u k desa O l o - O l o h o di Kerajaan
Konawe.
Mombakaito i Latuanda odahu L a t u a n d a memelihara beratus
m o ' e t u a k o nggo p o m b a n i n o nggi- ekor a n j i n g untuk m e n g u m p a n
r o ' o o'uti ronga kiniku a n o p o k o - biawak dan kerbau itu, agar ia
kali'iki, m o k o p e p a t e ' i . Monggotulu dapat m e n o m b a k n y a , m e m b u n u h -
bara i L a t u a n d a n o p o w a w o k e nya.
o d a h u ma'etu-etu iepo a n o p o k o p e - Dikatakan b a h w a L a t u a n d a tiga
pate'i. kali m e m b a w a a n j i n g beratus-ratus
untuk u m p a n n y a barulah ia dapat
membunuhnya.

341

PNRI
Ari'ipo mepate'iro koiele nggiro'o Nanti setelah ia membunuh kedua
lala umo'opuo manusia iepo ona binatang yang menghabiskan manu-
anolaktf melambui kenola'ika tono sia itu barulah ia berusaha jika
tore-toreano uti owose, kiniku masih ada manusia sisa dari biawak
petanu mbopole. Lako'ito kumt'i raksasa dan kerbau berkepala dua
o'aso ana nggombo, la mepa'usaki'- itu. Didapatilah seorang bayi berada
ako obenggi. No'aleto ona i La- di dalam sebuah tempayan.
tuanda nggiro anadalo ano piara'i Latuanda kemudian mengambil bayi
hende ana dowono. Kadu'ito ona itu lalu dipeliharanya seperti
oruo anano i Latuanda nola mona anaknya sendiri.
o'aso o'ana. Nggiro'o anadalo, ana Menjadi dua lah anak Latuanda,
ndina. karena ia sendiri mempunyai se-
orang anak. Bayi tersebut adalah
anak perempuan.
La'itoka itono nggiro ana ndina Lama kelamaan anak itu menjadi
anopoluale. Notamoeketo: gadis. Dinamakannya:
i Elu Kambuka Sioropo Korem- Elu Kambuka Sioropo Korembu-
butano. Notamoeke o Elu notano- tano. Dinamakannya demikian,
niondo inano, amano. Notamoeke karena ia telah tidak Jbu dan Ayah.
Kambuka Sioropo nomenda vvuno Dinamakannya Kambuka Sioropo,
osio ropono. Notamoeke Korem- karena panjang rambutnya sembilan
butano nosabotonotoka ta kinano depa.
uti ovvose, kiniku petanu mbopole. Dinamakannya Korembuiano,
karena sisa ia sendiri yang tidak
dimakan oleh biawak raksasa dan
kerbau.
Nola tahori i Elu moluale nde Sebelum Elu menjadi gadis, ia
pebahoano i laika. Ie ona nomolua- selalu mandi di rumah. Tapi setelah
leto ma nde lako'ito mebaho i ala, i ia menjadi gadis maka biasalah ia
ahua. Nde terabu'ito ona wuno pergi mandi di sungai. Maka selalu-
anopolasuke ivvoi. lah rambutnya tercabut dan dibawa
air.

La'ito lako mapali Onggabo ano- Ketika Onggabo berkelana di-


podea'i bara tanoniondo tono i dengarnya kabar bahwa manusia
Konawe. Lakonoto leu mesoreako i telah punah di Konawe. Datanglah
kua i wowa Sambara anopetuha ia berlabu di muara Sampara, lalu
rumurui a Nggonawe'eha tumaka turun dan kemudian mengikuti
no'onggo pe'eka i kita i Konawe Sungai Konawe'eha hendak datang
lako paresai wonua nggiro'o keno di Konawe memeriksa negeri itu
mena no'oputo tono. Tesaru bara jika benar bahwa manusia telah
nggiro'o o Nggabo ina-inai langgai. punah. Kisahnya bahwa Onggabo
tersebut adalah laki-laki raksasa.

342

PNRI
Ieika hae ano tinamoako Ndono'- 11 ulah sebabnya ia dinamakan Ndo-
oha. Tendeano no'owose norurui a no 'oha.
Nggonawe'eha sambeika ine boku- Begitu besarnya maka ketika ia
boku wuamundeno. mengikuti Sungai Konawe'eha,
dalamnya air hanya sampai pada
betisnya.
La'ito lako rumurui Konawe'ena Sementara mengikuti Sungai
anolako mosua bubu sinulahi vvuo- Konawe'eha didapatinyalah se-
hu. Te'eni'ito penaono, ki'oki potong bambu yang baru saja di-
nomena n o ' o p u t o tono, te'embe hae potong orang. Berkatakah dalam
nolaika bubu sinulahi wuohu ronga hatinya, tidak benar bahwa manusia
la owu mekalo wewe. no'ale'i nggi- telah punah, sebab terdapat bambu
r o ' o owu ano ale wewe'i sambe yang baru saja dipotong dan pada-
hende munde niale tendeano nya terdapat rambut bergulung.
nomenda. Te'eni'ito penaono Diambilnya rambut itu lalu di-
mbuoki te'eni m a n o la luale gulungnya sampai sebesar jeruk
momahe nimbone i ulu iwoi. karena begitu panjang. Berkatalah
dalam hatinya bahwa gadis cantik
yang tinggal di suatu desa di hulu
sungai.
La'ito Onggabo lako rumurui a Akhirnya Onggabo tiba di suatu
Nggonawe'eha ano ene sumua'i tempat pemandian Latuanda, yakni
a-huano i Latuanda i kita i Olo- di Olo-Oloho.
Oloho. Lakonoto pe'eka, iako-lako- Naiklah ia ke darat dan terus
tu'uno meopako lako i laikano i La- mengikuti jalan menuju rumah
tuanda. Latuanda.
Dunggu'ito ona Onggabo i laikano i Tibalah Onggabo di rumah Latuan-
Latuanda, lau-launo pewiso i pu'u da, dan segera ia masuk di tempat
nohu a n o p e h a u ' a k o mere-rehu ine orang menumbuk padi, lalu duduk
banggo-banggo. di bangku yang tersedia.
Sementara ia duduk, muncullah
La'ito mere-rehu anoleu i Latuan- Latuanda dari atas rumah. Dilihat-
da metitiro. Notiro'ito tono la nya ada orang sedang duduk di
mere-rehu i pu'u nohu. Tekokoni i bawah. Terperanjat Latuanda lalu
Latuanda lakonoka mesukahako ia mundur ke belakang dan men-
ano ene rumabu'i karadano ronga cabut tombaknya, mengambil
padeno. Ano ina'u umo'arahi'i parangnya. Lalu ia berlagak hendak
nggo mehoto, mano tano langgi memotong dan menombak, tapi
itono Onggabo momiu-miu. Tende'- Onggabo tidak bereaksi apa-apa.
itoka i Latuanda ano mokonga- Akhirnya Latuanda menjadi lelah
ngono lakonoto metotono. Lako- sendiri dan ia diam. Lalu ia pergi
noto ene umale'i kalono anopombe- mengambil katanya, lalu ia
menyambut Onggabo secara adat,

343

PNRI
sarake Onggabo, mesukoke keno bertanyakan dari gerangan datang-
imbe ariano, ohawo otuono. nya dan apa perlunya.
Nosaru'iketo ona Onggabo imbe Onggabo lalu mengatakan dari
ariano ronga otuono nola lako. mana datangnya dan apa maksud
Note'eni Onggabo, " k u l a lako pali'i perjalanannya. Berkata Onggabo,
wonua notebawo taniondo tono i " a k u dalam perjalanan mengelilingi
Konawe." Tumotaha'i i Latuanda, negeri, karena terkabar telah tiada
"mena'i posarumu tono leu, inaku- manusia di Konawe." Menjawablah
toka dowo-dowonggu ni'ino, no'- L a t u a n d a , " benar katamu hai orang
opuito uti owose ronga kiniku pendatang, sisa aku sendirian ini,
petanu mbopole." telah dihabiskan oleh biawak rak-
Te'enito hae Onggabo, "ki'oki sasa dan kerbau berkepala d u a "
nomena nodowomutoka inggo'o Berkata lagi Onggabo," tidaklah
mbulaika, langgopo mona oruo benar bahwa sisa engkaulah peng-
luale m o m a h e . " Mano nopehapu i huni rumah, engkau masih bersama
Latuanda. La'irotoka megagahi ano dengan dua orang gadis cantik."
te'eni i Latuanda, " o h o mena'i ing- Setelah keduanya bertengkar akhir-
go'o tono leu." nya Latuanda mengaku, " y a , benar
La'aku mona oruo luale. O'aso ana hai engkau orang datang."
dowonggu, o'aso ana nioananggu, Aku mempunyai dua orang gadis.
metamoako i Elu Kambuka Sioropo Seorang anakku sendiri dan seorang
Korembutano. lagi anak piaraku, yang bernama
Elu Kambuka Sioropo Korem-
Nowawe'ito i Latuanda totokono butano.
pe'eka i laika. Ieto ponggfno i La- Diantarnyalah Latuanda tamunya
tuanda nggiro'o tono leu no'inai- naik ke rumah. Penglihatannya La-
inai ndono. Lakonoto ina'u umale tuanda bahwa orang yang datang
kuro mboholea anoponahungge, itu sungguh besar tubuhnya. Lalu
anoposumbeleke o'aso kiniku nggo diambilnya periuk besar untuk
peta'inahuno. memasakkannya dan ia menyembelih
Mano nopongga Onggabo sabutu- seekor kerbau untuk lauknya.
noki aso mbusu kina ano aso nggu- Tetapi Onggabo hanya makan sege-
kutiha ti'olu. gam nasi dan sepotong telur.
Ieto nihera'akono i Latuanda Yang mengherankan Latuanda
keno mbakoe Onggabo nde teko- adalah mengapa Onggabo sewaktu-
nika ano mohewu wotoluno, la'i waktu tubuhnya menjadi kecil
hae nde owose'eha. kemudian membesar lagi.
No'angga'ito i Latuanda Onggabo Latuanda menganggap Onggabo
tono kobarakara, kopali-palia, sebagai orang mubarak, waliullah,
mondo'oriako. banyak ilmu.
La'itoka ona mo'ia Onggabo ano- Lama kelamaan Onggabo di-
pinokombe'alo i Elu Kambuka Sio- kawinkan dengan Elu Kambuka
ropo Korembutano. Sioropo Korembutano.

344

PNRI
Turunanoto ona Onggabo ano i Keturunan O n g g a b o d a n Elu ini-
Elu anola t u r u n a anakia i K o n a w e lah yang kemudian m e n j a d i nenek
sambe ingoni oleo. m o y a n g dari r a j a - r a j a di Konawe
T e ' e m b e hae i Elu n d u r u n a anakia hingga hari ini. Sebab Elu ini
a r i m b o kei Wekoila. T u r u n a n o adalah t u r u n a n bangsawan asal dari
a n a n o i L a t u a n d a ieto itono tekale'- Wekoila. Sedangkan t u r u n a n dari
a n o mbera t o n o n g g a p a wuta i putri L a t u a n d a sendiri m e n j a d i
Konawe. kemudian t u r u n a n dari mereka yang
b u k a n bangsawan.

4. Mitos Pasa'eno

La'ito o'aso etembo anolako i Sekali peristiwa pergilah Wesande


Wesande m e ' o n a h a . L a ' i t o lako mengambil d a u n p a n d a n .
m e ' o n a h a anotekoni m o k o ' u o n o . Sementara ia mengambil daun pan-
Lako'ito lumolambua meopalaha d a n di h u t a n ia lalu menjadi haus.
iwoi, m a n o t a n o ponggiki hae i t o m o Ia mencari air ke sana kemari, tapi
iwoi. Ieto bara sinuano iwoi la ine ia j u g a tidak melihat adanya air.
tawa t o h o . M a h i o ' i t o n o m o k o ' u o n o Konon air yang didapatinya adalah
t o ' o t o n o t e h a n u n g g e noiwoi ine air otoho (sejenis p o h o n yang
tawa a n o ale u m i n u ' i . subur).
Karena sangat ia haus m a k a ia tidak
perduli lagi air di daun ia m i n u m .
Ietoka bara o n a n g g i r o ' o a n o H a n y a karena sebab air tersebut, ia
mendia i Wesande. T e ' e m b e hae kemudian m e n j a d i hamil. Berhu-
tano langgi wawo r a p u . Ropen- bung ia tidak dalam keadaan seba-
d u t u l u ' i t o ona t o n o dadio n o m o s a ' - gai istri dari seorang suami d i t u d u h -
ato gau-gauno, p i n o k o m e n d i a . lah ia oleh orang banyak b a h w a ia
M a n o lala'ieto i W e s a n d e nope- telah serong, telah dihamilkan oleh
h a p u , ki'oki n o ' a r i m e d u l u ' a k o orang. Tetapi Wesande selalu me-
langgai, anotekoni mendia, ieika nyangkali b a h w a ia tidak pernah
no'ari m o ' i n u iwoi ine tawa n d o h o , b e r k u m p u l dengan seorang lelaki,
l a h a ' a n o lako m e ' o n a h a , m a n o t a sehingga ia hamil, hanya karena ia
nionggi parasaea'i. pernah m i n u m air di d a u n ketika
mengambil daun p a n d a n , n a m u n
tak ada yang percaya a k a n dia.
L a k o n o t o i Wesande m e o t o n a o , Lalu Wesande mengutuki dirinya
te'eni; " a k u ' a m b a t o ari m e d u l u ' a k o sendiri, katanya, " j i k a aku benar
langgai a k u m e n d i a , ma, k e k u p e ' a n a telah b e r k u m p u l dengan lelaki yang
ma nggo ieto w a w o ' a k u , a k u t o m a t e menyebabkan aku hamil m a k a apa-
s u m u r u n d i a . " " I e keno ta ieki, ma, bila a k u nanti melahirkan, itulah
yang akan merenggut n y a w a k u , "

345

PNRI
akuki melai ndoro, kekila barakano jika bukan maka aku selamat umur
ananggu m i t u oleo peromboi." panjang, dan anakku akan menjadi
orang mubarak nanti di kemudian
hari,"
Mano mbako i Wesande meoto- Biarpun Wesande telah mengu-
nao tano pinarasea. Pinotuha'ito ari tuki dirinya bersumpah, toh ia tidak
laikano peohano lako pinelaika'ako dipercaya.
i ahoma anopo'ia dowo sambe ano- Diturunkanlah ia dari rumah sau-
pe'ana dowo. daranya dan dibuatkan rumah di
Sina ropembondea'i Wesande tengah hutan dan tinggal sendirian
nope'anato ronga salama'ika iepo sampai ia melahirkan sendiri.
ona arola iha-iha membarasaea'i Setelah mereka mendengar bahwa
notano pinoko-mendiaki. Wesande telah melahirkan dan ter-
nyata selamat, barulah mereka
mempercayai bahwa ia bukan di-
hamilkan orang.
Elengua'iropo membarasaea'i Mereka semakin percaya padanya
notudu ona ari lahuene bangga- karena turun dari langit sebuah
bangga la lako umula'i mbera perahu yang memuat segala aiat-
parewa mbesosambakaino anano i peralatan upacara permandian bayi
Wesande. Ieto la lako wawe'i nggi- Wesande. Yang membawa perahu
ro'o obangga no'amano anano i tersebut ialah ayah dari bayi
Wesande, ari i wawo sangia. Wesande, berasal dari atas
kayangan.
Ieto la lako niawono nopetuha Yang dibawanya ketika ia turun
amano, watu mbeosambakai, adalah batu alat memandikan si
pingga mbembahoano anano. bayi, piring besar tempat meman-
Ari'ipo ona anano i Wesande dikan si bayi. Setelah selesai bayi
sinosambakai iepo ona amano Wesande dimandikan barulah
nopondamoke tamono anano ieto mereka memberi nama bayi itu
bara i Pasa'eno. dengan nama Pasa'eno.
Mbesombairoto ona tono dadio Menyembahlah orang banyak ter-
lako ine amano i Pasa'eno nosangia hadap ayah Pasa'ena sebagai dewa
toude, ronga lako kei Pasa'eno nyatanya dan terhadap Pasa'eno
no'ana sangia. Sambe ingoni oleo sendiri sebagai anak dewa. Sampai
laha'iroika nggiro'oro parewa kini alat-peralatan pemandian bayi
mbesosambaino i Pasa'eno. Pasa'eno masih ada.
I Pasa'enoto ona ni'ino mbepuearo Pasa'eno inilah nenek moyang dari
mbera tpno tinamoako tano anakia, mereka yang tergolong orang
tano o'ata. kebanyakan, bukan bangsawan,
bukan budak.

346

PNRI
L A M P I R A N II: BUNYI BAHASA TOLAKI

1. Vokal

Vokal dalam bahasa Tolaki tidak hanya terdiri atas satu dan dua tetapi juga
terdiri atas tiga fonem:
— fonem tunggal (V): / i / [ i] , / e / [ * ], / a / [ ,> ] , / o / [ o ] , dan / u /
;
— fonem rangkap dua (VV): / i, e, a, o, u, ie, ia, io, iu, ei, ea, eo, eu, ai, ae, ao,
a u, o i, o e, o a, o u, u i, u e, u a, dan uo /;
— fonem rangkap tiga ( V W ) : / iau, eua, aia, aiu, aeo, aoa, aue, aua, auo, oiu,
oea, oeo, oua, uia, dan uai / .

Contoh dalam kata:


/i/ — mobiti(biti) — main betis )
/e/ — onese(nese) — jenis tumbuhan )
/ a / omata(mata) — mata ) f o n e m t u n g g a l (V)
/ o / otobo(tobo) — keris )
/ u / molulu(lulu) — lemah )
/i/ — monggi(ki) — melihat )
/ e / — mongge(ke) — miring )
/ a / — mongga (ka) — makan )
/ o / — mondo(to) — merencana )
/ u / — mepuri(puri) — bertiup )
/ ie / — tie — nama perempuan )
/ia/ — otia(tia) — perut )
/ io / — obio(bio) — buah zakar )
/ iu / — owiu(wiu) — jenis palam )
/ ei / —• monei(nei) — meraut )
/ ea / — obea.(bea) — ipar )
/ eo / — moreo(reo) — demam )
/ eu / — moseu(seu) — menjahit ) fonem rangkap dua
/ ai / — o dai (dai) — cempedak ) (VV)
/ ae / — opae(pae) — padi )
/ ao / — o tai (tao) — tawaan )
/ au / — o pau (pau) — payung )
/ oi / — o doi (doi) — uang )
/ oe / — doeke — tikus )
/ oa / — moroa(roa) — bebas hama )
/ ou / — obou(bou) — ikan gabus )
/ uiV — mondui (tui) — menusuk )
/ ue / — opue(pue) — kakek, nenek )
/ ua / — o wua (wua) — buah )

347

PNRI
/ uo / — o ruo (ruo) — dua )
/ iau / — wiau — kemiri )
/ eua / — teua — j a n j i tak ditepati )
/ aia / — taia — nama orang )
/ aiu / — paiu — payung )
/ aeo / — waeo — lagu )
/ aoa / — daoa — pasar )
/ aue'/ — paue — ke m a n a - m a n a )
/ aua / — manaua — nama orang ) f o n e m r a n g k a p tiga
/ auo / — tauo — nama orang ) (VW)
/ oiu / — doiu — duyung )
/ oea / — koea — kelelawar )
/ oeo / — toeo — n a m a orang )
/ oua / — koua — jenis buah )
/ uia / — kuia — jenis p o h o n )
/ uai / — suai — ketimun )

2. Konsonan

K o n s o n a n adalah: / b, p, m, w, t, d, 1, n, s, r, g, h, k, d a n ng /.
C o n t o h dalam k a t a :
/ b / — o bage (bage) — tingkah laku
/ p / — pakuli — obat
/ m / — o m a n u (manu) — ayam
/ w / — wanggole — ubi
/ t / — tikonu — jenis ikan sungai
/ d / — odahu(dahu) — anjing
/ 1 / — o laku (laku) — musang
/ n / — o n o n a (nona) — kayu besi
/ s / — sanggore — kacang
/ r / — o r a m o (ramo) — daging
/ g / — o golu (golu) — bola
/ h / — o h a d a (hada) — kera
/ k / — o kalo (kalo) — lingkaran
/ ' / — m o s a ' a (sa'a) — jelek
/ ng / — mongango
(ngango) — letih

L A M P I R A N III: C I R I - C I R I M O R F O L O G I

Suatu m o r f e m (kata) terbentuk k a r e n a persenyawaan dari d u a a t a u lebih


f o n e m . Suatu k a t a d a p a t terdiri atas d u a s u k u - k a t a (KVKV, VKV, KVV), tiga

348

PNRI
suku k a t a (KVKVKV, KVVV, KVVKV, KVKVV) d a n empat suku-kata
(KVKVKVKV, VKVKVKV, KVVKVKV, KVKVVKV, KVKVKVV).
C o n t o h dalam k a t a :
1. Dua suku-kata (KVKV) — beke — babi
(VKV) — alu — alu
(KVV) — koe — bangau
2. Tiga suku-kata (KVKVKV) — kiniku — kerbau
(KVVV) — wiau — kemiri
(KVVKV) — luale — gadis
(KVKVV) — ko'au — rindu
3. Empat suku-kata (KVKVKVKV) — daramasi — nama rotan
(VKVKVKV) — andowia — nama kampung
(KVVKVKV) — putobu — gelar j a b a t a n
camat
(KVKVVKV) — kolM — pusing
(KVKVKVV) — marapio — a n a k ayam
mencari induk

S u a t u kata dasar dapat m e n j a d i kata j a d i a n setelah mengalami peristiwa afiksasi


sebagai kata j a d i a n b e r i m b u h a n , karena kombinasi d u a kata dasar sebagai kata
m a j e m u k , d a n karena reduplikasi sebagai k a t a j a d i a n perulangan. Seperti juga
dalam b a h a s a Indonesia d a n mungkin p a d a b a h a s a - b a h a s a Austronesia lainnya,
m a k a dalam bahasa Tolaki jenis afiks terdiri dari tiga, yakni: prefiks, infiks, dan
sufiks. Berupa prefiks (awalan) a d a l a h : ka-, ke-, ko-, ma-, me-, mo-, ni-, pa-,
pe-, po-, sa-, si, ta-, te-, m o k o - , p o k o - , , pisi-, pinoko-, m o m b o k o - , teko-; b e r u p a
infiks (sisipan) adalah: -in- d a n -um-; d a n sufiks (akhiran) adalah: -a, -i, (-o), -ke,
-ko(-ako), -ha, -si. Selain afiks tersebut di atas secara terpisah terdapat sejumlah
afiks kombinasi. Kombinasi a n t a r a awalan d a n a k h i r a n adalah: ka-a, m o - a k o ,
mo-i, m o m b e k a - a k o , m o - k e , m o - k a , m e - k j , m e - a k o , me-to, po-a, po-i, pe-a,
sa-ika, a n t a r a sisipan d e n g a n a k h i r a n a d a l a h : (-in-)-ako, (-in-)-ka, (-um-)-i.
C o n t o h dalam kata j a d i a n :

Prefiks (awalan) kata dasar kata jadian


ka- dadi Gadi) kadadi (makhluk)
ko- bage (tingkah) k o b a g e ' (bertingkah)
ma- kasara (kasar) m a k a s a r a (kekasaran)
mo- r a m b a (asah) m o r a m b a (mengasah)
me- raki (daki) meraki (berdaki)
ni- inu (minum) ni'inu (diminum)
pa- b o t o (judi) p a b o t o (penjudi)
pe- ana (anak) p e ' a n a (beranak)
po- langgu (pukul) polanggu (pemukul)
sa- u m u r u (usia) s a ' u m u r u (seusia)

349

PNRI
te- liunu (bakar) teliunu (dapat dibakar)
um- inu (minum) uminu (banyak minum)
tambe- meoposodo (merajuk) tambeoposodo (suka merajuk)
poko- ule (turunan) poko'ule (bibit)
pisi- rnena (benar) pisimena (membenarkan)
pinoko- alo (ambil) pinoko'alo (dapat diperoleh)
teko- • iso (tidur) teko'iso (tertidur)
infiks (sisipan)
-in- ka (makan) kina (dimakan, nasi)
-um- kako (meraba) kumako (meraba-raba)
sufiks (akhiran)
-a lako (jalan) lako'a (tujuan perjalanan)
-i (-o) langgu (pukul) langgu'i (o) (pukuli)
-ke lako (jalan) lakoke (jalankan)
-ha o wose (besar) o wose'eha (besar sekali)
-si moliewu (kecil) mohewu'usi (kecil sekali)
-to lako (pergi) lakoto (pergilah)
afiks kombinasi
ka-a dadi (jadi) kadadia (kejadian)
mo-ako lako (jalan) molako-ako (menjalankan)
mo-i langgu (pukul) molanggui (memukuli)
mombeka-ako lidu (tinju) mombekatidu'ako (saling tin-
ju)
moko-ke lako (jalan) mokolakoke (dapat menjalan-
kan)
me-ke pangudu (niat) mepanguduke (meniatkannya)
me-ako asi (sisip) me'asi'ako (bersisip pada)
me-to ambo (baik) me'amboto (berbaiklah)
po-a iso (tidur) po'iso'a (tempat tidur)
pe-a bitara (bidara) pebitara'a (pembicaraan)
po-i daga (jaga) podagai (alat menjaga)
(-in-)-ako na (simpan) nina'ako (disimpankan)
(-in-)-ka tusa (tiang) tinusaka (hanya dipasang
tiang)
(-um-)-ke lulo (tari) lumuloke (menarikan untuk-
nya)
(-um-)-i tala (menjejer) tumala'i (menjejeri)

Selain afiks di atas terdapat juga apa yang disebut imbuhan persona, baik yang
berfungsi sebagai nominatif maupun yang berfungsi akusatif dan posesif. Ber-
fungsi nominatif adalah: ku-, ki, kimbe-; u-, i-, embe-; no-, ro-, rombe-, -to-,
tombe-; dan akusatif adalah: -aku, -komami; ko, komiu; -i; iro; serta yang ber-

350

PNRI
fungsi posesif adalah: -nggu, -mami, -akomami; -mu, -miu, -akomiu; -110, -ro,
-akoro; -ndo, -akondo.
Contoh dalam kata:
nominatif:
ku- lako (pergi) kulako (saya pergi)
ki- kilako (saya berdua pergi)
kimbe- kimbelako (kami sekalian
pergi)
u- ulako (engkau pergi)
i- ilako (engkau berdua
pergi)
imbe- imbelako (engkau sekalian
pergi)
no- nolako (ia pergi)
ro- rolako (mereka berdua
pergi)
rombe- rombelako (mereka
sekalian pergi)
to- tolako (kita berdua pergi)
tombe- tombelako (kita sekalian
pergi)
akusatif:
: aku langgu (pukul) Ianggu'aku (pukul aku)
-komami langgukomami (pukul kami)
-ko langguko (pukul engkau)
langgukomiu (pukul engkau
-komiu sekalian)
langgu'i (pukul dia)
-i langgu'iro (pukul mereka)
-iro
posesif: laika (rumah) laikanggu (rumahku)
-nggu laikamami (rumah kami ber-
-mami dua)
akomami laika'akomami (rumah kami
sekalian)
-mu laikamu (rumahmu)
-miu laikamiu (rumah kamu ber-
dua)
-akomiu laika'amiu (rumah kamu se-
kalian)
-no laikano (rumahnya)
-ro laikaro (rumah mereka ber-
dua)
351

PNRI
-akoro laika'akoro (rumah mereka se-
kalian)
-ndo laikando (rumah kita berdua)
akondo laikaakondo (rumah kita
sekalian)
Saya perlu juga kemukakan di sini bahwa dalam struktur kata dalam bahasa
Tolaki nampak adanya apa yang disebut fonem aspek yang terikat pada sebelum
imbuhan persona nominatif, seperti: a-, ke-, dan pada sesudahnya: -ki, -to, dan
pada sesudah imbuhan persona akusatif dan persona posesif: -hae, -ki, -saru,
-kihae, -kisaru, -tohae,-tosaru.
Contoh dalam kata:

pada sebelum nominatif:


a- (ku-) akulako )
(ki-) akilako )
(kimbe) akimbelako )
(u-) aulako )
(i-) ailako ) a - akan, supaya
(imbe-) aimbelako )
(no-) anolako )
(ro-) arolako )
(to-) atolako )
(tombe-) atombelako )
ke- (idem) kekulako )
kekilako )
kekimbelako )
keulako )
keilako ) ke - kalau
keimbelako )
kenolako )
kerolako )
ketolako )
ketombelako )
sesudah nominatif:
(ku)-ki- kukilako )
(ki)-ki- kikilako )
(kimbe)-ki- kimbekilako (kikimbelako) )
(u)-ki- ukilako )
(i)-ki- ikilako )
(imbe)-ki- imbekilako (ikimbelako) ) ki - akan
(no)-ki- nokilako )
(ro)-ki- rokilako )
(rombe)-ki- rombekilako (rokimbelako))

352

PNRI
(lo)-ki- tokilako )
(lombe)-ki- rombekilako(rokimbelako) )
(ku)-to- kutolako )
(ki)-to- kilolako )
(kimbe)-to- kimbetolako(kitombelako) )
(u)-to- utolako )
(i)-to- itolako )
(imbe)-to- inibetolako (itombelako) ) 10 - sudah pasti
(no)-to- notolako )
(ro)-to- rotolako )
(rombe)-io- rombetolako (rotombelako) )
(to)-to- totolako
(tombe)-to- tombetolako (totombelako) )
sesudah akusaiif:
(-aku)-liae nolidu'akuhae )
(-komami)-hae notidukomamihae )
(-ko)-hae noiidukohae )
(-komiu)-hae noiidukomiuhae )
(-i)-hae noiidu'ihae )
(-iro)-hae notidu'irohae )
sesudah posesif:
(-nggu)-hae bukungguhae ) hae - bahwa
(-mami)-hae bukumamihae )
(-akomami)-
hae bukuakomamihae )
(-mu)-hae bukumuhae )
-(miu)-hae bukumiuhae )
(-no)-hae bukunohae )
(-ro)-hae bukurohae )
(-akoro)-liae bukuakoroliae )
(-ndo)-hae bukundohae )
(-akondo)-hae bukuakondohae )
demikian untuk:
(-aku)ki tulungi'akuki ) masing-masing berani:
(-aku)saru tulungi'akusaru ) bahwa, rupanya,
(-aku)kihae tulungi'akukihae ) ya demikian, bahwa rupa-
nya,
(-aku)kisaru tulungi'akukisaru ) kali ini lelah, bahwa kali
(-aku)lohae tulungi'akutohae ) ini lelah
(-aku)tosaru lulungi'akutosaru )
(-nggu)hae bukungguhae )
(-nggu)ki bukungguki )
(-nggu)saru bukunggusaru )
353

PNRI
(-nggu)kihae bukunggukihae ) masing-masing berarti:
(-nggu)kisaru bukunggukisaru ) bukan?, tetapi, ya, melain-
kan,
(-nggu)tohae bukunggutohae ) rupanya, jelas, bukan,
tetapi,
(-nggu)tosaru bukunggutosaru ) lagi, apakah sudah?

Selanjutnya saya beralih pada bentuk kata jadian majemuk dan kata jadian
karena perulangan kata dasar. Pembentukan kata jadian majemuk adalah per-
senyawaan dari dua kata atau lebih, misalnya:
laika watu (rumah batu)
wula mengga (bulan terang)
oleo tepuli (matahari ferbenam)
gandu ndonia (jagung muda)
iwoi nda'inahu (air kuah)
p u ' u nggasu (pangkal kayu)
kaluku nggandi wula (kelapa kuning keemasan)
haka nggasu melengge-lengge (akar hawa)
manu rasa wula (ayam jantan keemasan)
kapala nggasu n d a ' u m o (kapal dari kayu gabus)
Nampak bahwa komposisi kata-kata yang membentuk suatu kata jadian maje-
muk adalah terdiri dari komposisi kata benda dan .keadaan atau kata sifat bagi
kata majemuk yang terdiri dari dua kata, dan adalah terdiri dari komposisi dua
kata benda dan kata keadaan atau kata sifat bagi kata majemuk yang terdiri dari
tiga kata.

Adapun kata jadian karena perulangan terdiri dari tiga bentuk yakni: 1. kata
jadian perulangan utuh; 2. kata jadian perulangan partial; dan 3. kata jadian per-
ulangan dengan imbuhan. Kala jadian perulangan utuh terjadi pada kata dasar
yang bersuku dua, misalnya:
la (ada) — lSla (yang ada)
manu (ayam) —manu-manu (burung)
dan kata jadian perulangan partial terjadi pada kata dasar yang bersuku tiga,
misalnya:
.kadera (kursi) — kade-kadera (kursi-kursi)
morosi (kuat) — moro-morosi (kuat-kuat)
serta kata jadian perulangan dengan imbuhan terjadi pada kata jadian berimbuh-
an baik bersuku kata tiga maupun lebih, misalnya:
mondia (membagi) — mondia-tia (membagi-bagi)
m o m b a h o (menanam) — mombaho-paho (tanam-menanam)
mebalu (berjualan) — mebalu-balu (berjual-jualan)
m o m b o k u d a (menyimpan) — momboku-pokuda (menyimpan)
meparesa (periksa) — mepare-paresa (mencoba periksa)

354

PNRI
tinimba (ditimba) — tinimba timba (ditimbang-timbang)
pinakawi (dikawinkan) — pipinakawi (yang dikawinkan)
lumako (jalan-jalan) — lulumako (yang pergi)
kai (makanlah ia) — kakai (coba-coba makan ia)
lakoke (jalankan) — Iako-Iakoke (coba-coba jalankan)
poindi'i (peganglah ia) — poi-poindi'i (coba tangani)

LAMPIRAN IV: STRUKTUR KALIMAT


Saya tidak akan membicarakan di sini secara luas mengenai seluk beluk ben-
tuk, susunan, dan jenis-jenis kalimat dalam bahasa Tolaki seperti biasa dilaku-
kan oleh seorang ahli linguistik untuk bahasa tertentu lainnya, tetapi yang
menarik perhatian saya adalah ciri-ciri sintaksis yang disebut inversi dalam
kalimat, reduplikasi dalam hubungan kalimat-kalimat, dan mengenai peng-
golongan kalimat dalam bahasa Tolaki.
Gejala inversi dalam kalimat pada bahasa Tolaki sangat jelas dalam bahasa
sehari-hari orang Tolaki.
Contoh kalimat yang saya gunakan adalah:
Inaku mongga (saya makan)
Inaku mongga kina (saya makan nasi)
Inaku mongga kina i amboiu (saya makan nasi di dapur)
I hawi inaku mongga kina (Kemarin saya makan nasi di dapur)
/ / Inaku mongga / / (SP)
/ / Mongga inaku / / (PS)
/ / In^ku mongga kina / / (SPO)
/ / Mongga inaku kina / / (PSO)
/ / Mongga kina inaku / / (POS)
/ / Inaku mongga kina i amboiu / / (SPOL)
/ / Mongga inaku kina i amboiu / / (PSOL)
/ / Mongga kina inaku i amboiu / / (POSL)
/ / I amboiu inaku mongga kina / / (LSPO)
/ / I amboiu mongga kina inaku / / (LPOS)
/ / I hawi inaku mongga kina i amboiu / / (WSPOL)
/ / Inaku i hawi mongga i amboiu / / (SWPOL)
/ / I hawi mongga kina inaku i amboiu / / (WPSOL)
/ / I hawi i amboiu inaku mongga kina / / (WLSPO)
/ / Inaku mongga kina i hawi i amboiu / / (SPOWL)
/ / Inaku mongga kina i amboiu i hawi / / (SPOLW)
/ / Inaku mongga i amboiu kina i hawi / / (SPLOW)
/ / Inaku mongga i hawi kina i amboiu / / (SPWOL)
/ / Inaku i hawi mongga kina i amboiu / / (SWPOL)

355

PNRI
/ / Inaku i hawi i ambolu mongga kina / / (SWLPO)
/ / I ambolu inaku mongga kina i hawi / / (LSPOW)
/ / 1 ambolu inaku i hawi mongga kina / / (LSWPO)
/ / I hami i ambolu mongga inaku kina / / (WI.PSO)

Catatan: Perbedaan antara dua kalimat yang mengandung kata-kata yang sama
dilakukan oleh perbedaan intonasi.
Selain gejala tersebut di atas, dalam struktur kalimat dalam bahasa Tolaki
nampak juga adanya dua golongan kalimat, yakni: kalimat inti dan kalimat
turunan. Contoh dari kedua golongan kalimat tersebut adalah sebagai berikut:
kalimat inti dengan struktur klausa:
intransitif : i ali lako (SP) Ali pergi
i ohoe lako i hawi (SPW) Oheo pergi kemarin
i oheo lako i animo (SPL) Oheo pergi ke kebun
i oheo kalo ronga
medara " (SPC) Oheo pergi dengan kuda
transitif : i ali mongga kina (SPO) Ali makan nasi
i ali mongga kina i
hawi (SPOW) Ali makan nasi kemarin
ropombepati o sao i.
kita (SPOL) Dia membunuh ular di sana
ropombepate o sao
ronga o watu (SPOC) Dia membunuh ular dengan
batu
ekuasionul : i ali o sando (SAp) Ali dukun
ihiro nggo hera (SPAp) Mereka akan heran
ihiro hera m b u ' -
upu'uihawi (SApW) Mereka heran sekali kemarin
npeohaki i kita (SApL) Dia sakit di sana
Kalimat turunan dengan bentukan kalimat:
tanya : i ali lako pera? (SP Partikel) Ali pergikah?
n o p o w a w o kina,
para? (SPO Partikel) Dia membawa nasikah?
te'ipia pera noleu? (Kata tanya SP) Bilamana ia datang?
perintah : lako! (P) Pergi!
lakopoka i laikano i
ali (PLS) Pergilah ke rumah Ali
Pasif : haino nolanggui i
ali (SPAg) Adiknya dipukul oleh si Ali
kinanowawe'i (SP) Beras dibawanya
Negatif: i ali ki'oki nopowawo o woha i kita i hawi (SNegSpnPOL)
Ali tidak membawa beras di sana kemarin
ie ki'oki nopo'iso aso wingi (SNegSpnPW)

356

PNRI
ekuasional negatif: ki'oki ropeohaki mano mongare (NegSAp)
Mereka lidak sakii tetapi malas

LAMPIRAN V: CONTOH KATA DAN KALIMAT DALAM BAHASA


TOLAKI YANG M E N U N J U K K A N CIRI-CIRI PENCi
GOLONGAN BAHASA TOLAKI

1. Penggolongan Bahasa Tolaki Menurut Lapisan Sosial Pemakainya

Bahasa Bahasa Bahasa


Bangsawan Menengah Budak
(umum)

Contoh dalam kata-kata:


makan mombe'ihi (meng- monggS (mengu- /><>Wo/fM( menelan)
isi) nyali)

tidur mekoli (beristira- mo 'iso (tidur) meninibuhukt) (ber-


hal) baring)

mandi meririu (bersiram) mebaho (mem- ine 'esa (menggosok


basahi) badan)

berpa- mepake (memakai) mebabu (berbaju) mebanggu (memakai


kaian sarung)
pergi mbe'ilo (pergi /o A'o (pfergi) lumako (meiangkali)
jauh)
bekerja modama (mena- ine'indi'o (bekerja) mukaruba (nieueari
ngani) sesuatu)

pulang wowahe (balik) mbule (pulang) leu (datang)


duduk mendoloro (tegak) mererelui (duduk) nietepa (bersila)
berdiri tutade (tampak) menggokoro (bei- menggouhako (bet
diri) diri membungkuk)

bicara mombau (bersuara) mebitara (ber- (ribut)


bicara)
kawin metaroa (ber- merapii (merum-
pasangan) pun) mesanggina (kawin)

anak ptj'i///i/r> (keturim- wuiele (tunas) o anu (anak)


an)

357

PNRI
Contoh dalam kalimat:
Silakan ipetaliando mombe- leundo ponggd lakoto po'olohu
makan ihi (kiranya tuan (mari makan, (pergilah menelan)
pindah duduk un- mengunyah)
tuk mengisi perut
yang telah kosong)
la sedang rola.mekoli nola mo'iso terumba 'ito
tidur (tuan sedang (ia sedang (terbaringlah
istirahat) tidur) ia)
Ia sedang rola meririu nola mebaho nola me'eso
mandi (tuan sedang (ia sedang (ia sedang meng-
menyiram badan) mandi) gosok tubuh)
Ia sedang la'iro mbe'ilo nola lako la lumako
pergi (beliau sedang (ia sedang pergi) (ia sedang ber-
di kejauhan) jalan)

2. Beberapa contoh kata dan Kalimat yang Biasa Dipakai oleh Seorang Orang
tua, Ulama, Juru Adat, dan Seorang Dukun

2.1 Contoh dalam kata-kata:

Kata Bahasa Bahasa Bahasa Bahasa


Orang Tua- Ulama Juru Bi- Dukun
Tua cara Adat

baik me'ambo pe'otuo uwano Kadu


(baik) (berguna) (pantas) (cukup)
buruk mosa'a sanggedo tepolika kura
(rusak, (timpang) (tidak (kurang)
jelak) sesuai)
betul tekono mena mendoda palita
(cocok) (nyata) (jelas) (sesuai)
salah tesala mowuro mondado sanggiado
(salah) (kabur) (meragukan) (terbalik)
sifat o bage o kedo holili wowai
(tingkah) (gerakan) (gaya) (alamat)
rajin mesida katoto lotakoke konea
(terampil) (tekun) (ulet) (terbiasa)
malas mongare pewowi moluwe mombetario
(suka tidur) (dungu) (lemah) (tidak peduli)
358

PNRI
bersatu medulu o aso medanggia mesarungga
(bersatu) (satu-satu- (sepasang) (menjelma
nya) menjadi satu

2.2. Contoh dalam kalimat:

Kalimat Bahasa Bahasa Bahasa Bahasa


Orang Tua- Ulama Juru Bi- Dukun
Tua cara Adat

Agar kau Aupesipa me- Anolanggi Ano uwanoki Ano meiring-


bersifat a mbok i otuomu la n io wai mu go'oki o
baik (agar kau men- (Agar kau (agar pantas ombu (kira-
jadi baik) berguna) apa yang kau nya Tuhan
kerjakan) mencintaimu)
Jangan ber- Jamo upesipa Iamo usa- Iamo uiepoli- Iamo ukura
sifat buruk mosa'a (jangan nggedo (ja- ka (jangan dagai (ja-
kau bersifat ngan kau bertindak yang ngan ku-
jelek) tipang) tidak sesuai) ranghati-hati)

LAMPIRAN VI: DOA-DOA MEMBUAT DAN MEMASANG JERAT

Inggoo oue, Engkau rotan,


Inggoo ohaka, Engkau akar,
Inggoo mombotende, Engkau menahan
Inggoo mowewei, Engkau melingkari,
Mombotende owuta, Menahan bumi,
Mowewei dunia, Melingkari buana,
Mowewei kadadi, Mengikat hewan,
Monggalo mbera kasu Melingkari tumbuhan,
Kuwowaiko, Kumodel engkau,
Kupandeiko, Kubentuk engkau,
Teboto-boto, Modelnya bulat,
Tekalo-kalo, Bentuknya lingkaran,
Nggo moonggo, Untuk mengikat,
Nggo morako, Nan menangkap,
Mbera manu-manu, Sekalian burung,
Mbera kadadi, Segala binatang,
Totokono osambu, Penghuni hutan,
Ihino ana homa, isinya belukar,

359

PNRI
Inggo otaho, Engkau jerat,
Inggo katilombu, Engkau perangkap,
Kutaako, Kupasang engkau,
Kunako, Kusimpan engkau,
I keni sala, Di jalur ini,
I puheno owuta, Di pusat bumi,
O, kadadi Wahai hewan,
T o t o k o n o osambu Penghuni hutan,
M o m u a i losoano oleo, Tidur di Tirnur,
P e t u h a i tepuliano oleo, Bangun di Barat,
Moiso i ulu iwoi, Tidur di Utara,
Pewangu i para iwoi, Bangun di Selatan,
H a n o t o umapali, Biarlah kau berkeliling,
Imbetoka lahaamu, Di mana saja kau berada,
M a n o tauonggoki peluaako, Namun kau tak akan keluar,
Molimbai otira, Meliwati batas,

Bubotono owuta, Lingkaran bumi,


Kalo-kalono dunia, Bulatan dunia,
Aukatimba, Kau pasti tiba,
Leu tutade, Kunjung datang,
Metukangge karemu, Menginjakkan kaki,
Pewisoke ulumu, Memasukkan kepala,
I puheno owuta, Di pusatnya bumi,
Kalihino dunia, Di lobangnya buana,
1 tongano okati, Di tengahnya perangkap,
Lua-luano otaho. Di lobangnya jerat.

L A M P I R A N VII: D O A M E M A S A N G C I N C I N H I D U N G K E R B A U

Inggoo oue, Wahai rotan,


Inggoo poonggo, Engkau pengikat,
Inggoo olawu, Wahai besi,
Inggoo porosi-rosi, Engkau penguat,
Inggoo selekeri, Wahai cincin rotan,
Inggoo kale lawu, Engkau kalung besi,
Inggoo eusanggu, Engkau gantiku,
Inggoo hende-hendenggu, Engkau serupa diriku,
Inggoo kalo-kalono owuta, Engkau lingkaran dunia,
Inggoo towo-towono duni^, Engkau bulatan buana,
Poonggono kolelenggu, Pengikat ternakku,
Tani uluno kinikunggu, Pengekang kerbauku,

360

PNRI
Hanoto anolako, Biarlah ia pergi,
Mondaeriaku, Jauh daripadaku,
Lumoloe owuta, Keliling bumi,
Palii dunia, Melingkari buana,
Mano, Tetapi,
Sina nokiko, Setiap kali ia melihatmu,
Nokii owuta, Ia melihat bumi,
Nopekangge dunia, Ia mengingat buana,
Nokiaku, Ia melihatku,
Nopendenggona, la mengingatku,
Sina noaiko, Setiap kali ia menciummu,
Noaiaku, la mencium bauku,

Sina nosileko, Setiap kali ia menjilatmu,


Nosileikona kaenggu, Ia menjilat tanganku,
Ikirotoka, Pada saat itu juga,
Anombule ine bosono, la balik ke kandang,
Tetuka ine walakano, Pulang ke tiang tambat,
Mongoni anotineposuaako, Minta ditemui,
Noehe nggo kineringgeri, Ingin dibelai,
Lala peombuano, Oleh tuannya,
Inaku m b u m a m b u . Aku pemiliknya.

361

PNRI
LAMPIRAN VIII: KERANGKA TEKNOLOGI O R A N G TOLAKI

Macam Bahan Teknik


Pemakaian Bentuknya
peralatan mentah pembuatan

Alat-alat
memandai,
produktif: besi Alat memotong trapesium
mengikat
parang

Alat menebang,
kampak besi memandai trapesium
membelah

dipukul-
batu asahan batu Alat mengasah segi empat
pukul
tugal kayu dibentuk Alat menanam bulat
sabit besi memandai Alat menyabit melengkung
besi,
tuai memandai Alat menuai segi tiga
bambu

pengikat Alat pengikat


rotan meraut melengkung
padi padi

Alat menum- bulat,


lesung kayu membentuk buh padi segi tiga

Alat menum- bulat


alu kayu membentuk
bu h padi segi tiga
tangkai menganyam, Alat penampi
tampi mengikat lingkaran
enau, rotan beras

o suli, tarasulu
Alat pembelah bulat,
(alat pembelah kayu membentuk
sagu gepeng
sagu)

o saku
kayu membentuk Alat pemecah
(alat peme- bulat
mengikat bulir sagu
cah bulir sagu)

besi, memandai Alat menom- runcing,


tombak rotan bak kerbau, bulat
mengikat
rusa, anoang

362

PNRI
membentuk Alat
jerat rotan penangkap lingkaran
mengikat
hewan liar

kulit memintal Alat pengikat bulat


tali kayu, mengikat ternak berpilin

cincin rotan, memandai Alat kekang


lingkaran
kerbau besi mengikat kerbau
sa'u/awi Alat
(alat bambu, menganyam lingkaran
penangkap
tangkap ikan) rotan mengikat bulat
ikan

Senjata:
ta'awu besi, memandai Alat perang memanjang,
(kelewang) rambut mengikat trapesium

tombak besi, memandai runcing,


Alat perang
berkait rotan mengikat berkait

Wadah: daun menganyam Alat menyim- lingkaran


bakul pandan mengikat pan bulat

pangisa,
o bungge menganyam, Alat menyim- segi empat
(alat menyim- rotan
mengikat pan trapesium
pan pakaian,
perhiasan)

Alat menyim-
keranjang rotan menganyam pan bulat

pelepah membentuk Alat menyim-


basung sagu bulat
mengikat pan

o aha tempurung Alat makan


(alat makan) kelapa membentuk sebagai piring bulat

Alat menam-
dulang kayu bulat membentuk pung sagu bulat telur
dan makanan

363

PNRI
Alat-alai
menyalakan
api: pelepah Alat meniup segi
peahi sagu membentuk api di dapur empat
(alai meniup
api)

sasoa Alat meniup


(alat menya- kayu membentuk, bulat,
api dalam me-
lakan api) bulai melobang memanjang
nepah besi

Makanan dan
menumbuk, Makanan hidangan
minuman: padi
memasak pokok melingkar
nasi

sinonggi menyiram Makanan


hidangan
(makanan sagu dengan air pokok se-
melingkar
dari sagu) mendidih sudah nasi

beras, dimasak, Minuman untuk


pongasi ragi diragi merangsang

dimasak, Minuman un-


arak air enau diuapkan tuk merangsang

Minuman un-
luak air enau disadap tuk merangsang

sirih,
dibakar, Minuman hidangan
pinang,
niwule dikunyah, untuk pada talani
kapur dari
ditumbuk narkotik melingkar
siput

ditanam,
diiris, Minuman
inombi, tembakau, gulungan
nimama dijemur, untuk
bulat
dimasukkan narkotik
di bambu

Pakaian, dikuliti, dilipat


Alat untuk
perhiasan, dan dimasak dalam
k Lili i baju dan
alai-alai rumah kayu dipukul, bentuk
selimut
langga: fuya dijemur, dicat segi empat

364

PNRI
dibentuk Alat peng-
kalunggalu Pandan melingkar ikat kepala lingkaran

anting- Alat per-


logam
anting, memandai hiasan te- lingkaran
(kuningan)
kalung linga dan leher

Alat per-
logam, luasan, alai
kale-kale memandai,
akar bahar magis pada lingkaran
kalepasi dibentuk
benang pergelangan
tangan
dipotong, Alat per-
kain segi empat
disambung hiasan
tenda warna- lingkaran
dilapis, ruangan
warni
dijahit rumah pesta
Alat per-
kain, dibentuk, segi empat,
hiasan
tabir warna- dijahit, jumbai yang
dinding
warni dirangkai melingkar
rumah pesta

dipotong, Alat untuk


dijemur, tidur, dan segi empat,
pandan, digulung, alas duduk, hiasannya
tikar anggerek serta hi-
diwarna, motif
kain diiris, dangan lingkaran
dianyam makanan

Alat tempat
menyimpan
hudaka anggerek dianyam
tembakau atau
segi empat
rokok

Alat peng-
alas kalo, yang segi empat,
tangkai termasuk motif: gambar
siwole uwa palam dianyam atribut orang, hewan,
kalo dalam tumbuhan
upacara paku

Tempat dahan, Tempat


disusun segi empat
Perlindungan: daun- berlindung
diikat trapesium
Pineworu: daunan sementara

365

PNRI
kayu, didirikan Tempat
pondok rotan, di atas, berlindung segi empat
rumbia tiang di ladang

dianyam, Pemele panas


pandan,
disusun, matahari, lingkaran
tudung rotan,
dijahit, hujan
agel
diikat
Alat ber-
bambu, dibentuk, lindung yang
payu rumbia, dipindah-pindah segi empat
diatapi,
rotan menurut posisi
diikat
sinar matahari

Tempat me-
kayu, nampung padi
didirikan segi empat
dangau bambu, di ladang
di atas trapesium
rumbia, selama potong
tiang
rotan padi

kayu,
didirikan
bambu, lumbung segi empat
lumbung di atas
rumbia, padi trapesium
tiang
rotan
kayu,
bambu, didirikan rumah segi empat
rumah rumbia, di atas tempat trapesium
rotan tiang tinggal

Alat-alat sebentuk
transport: pelepah
dibentuk Alas kaki dengan tapak
kapinda sagu
kaki
tangkai
Alas kaki bulat,
sagu
o tigo dibentuk yang di- memanjang
tempurung
• tinggikan
kelapa

o soda kayu dibentuk Alat memikul bulat

kayu,
dibentuk Alat pikul- segi empat
kalabandi bambu,
diikat an berat memanjang
rotan,

366

PNRI
Alat kendaraan
kayu, raja yang
dibentuk segi empat
kalata bambu, dipikul oleh
diikat memanjang
rotan orang budak

Alat mem-
kayu, bawa mayat,
1embara dibentuk segi empat
bambu, atau orang
diikat
rotan sakit keras

kayu, Alat ang-


dibentuk
o sama kulit kutan pakai trapesium
hewan, diikat
kerbau
rotan

pelepah Alat ang-


dan sabut dibentuk kutan pakai trapesium
o teke
enau, diikat kuda
rotan, kayu

dibentuk
bambu Alat angkut-
dijejer segi empat
rakit rumbia an rotan
diikat memanjang
rotan di sungai
diatapi

Alat menye-
kayu dibentuk bulat telur
perahu berang sungai,
bulat dilobang memanjang
rawa, laut

367

PNRI
368

PNRI
369

PNRI
370

PNRI
37]

PNRI
L A M P I R A N IX: B. KETERANGAN L A M P I R A N IX: A

Tujuh belas kelompok istilah kekerabatan dalam bahasa Tolaki itu adalah:
1. KI. A. Istilah : kotukombo (saudara kandung) dan
kaka (abang, ka'kak);
2. KI. B. Istilah : hai (adik);
3. KI. C. Istilah : poteha (sepupu);
4. KI. D. Istilah : ana, ina (ayah, ibu);
5. KI. E. Istilah : ana (anak);
6. KL F. Istilah : mama (paman);
7. KL G. Istilah : naina (bibi);
8. KI. H. Istilah : laki'ana (kemenakan);
9. KI. I. Istilah : pue (kakek, nenek);
10. KI. J. Istilah : mbue (cucu);
11. KI. K. Istilah : wali, (suami, istri);
sanggina
12. KI. L. Istilah : baisa (mertua, menantu);
13. KI. M. Istilah : awo (ayah tiri, ibu tiri, anak tiri);
14. KI. N. Istilah : ela (ipar laki-laki);
15. KI. O. Istilah : hine (ipar perempuan);
16. KI. P. Istilah : bea (istri dari ipar);
17. KI. Q. Istilah :. asa (suami dari ipar);

Empat belas kemungkinan hubungan antara satu kelompok dengan lainnya


adalah terurai di bawah ini.
(1). Hubungan keturunan darah antara ego dan alter:
1.1 hubungan keturunan darah (A-J);
1.2 hubungan perkawinan (K).
(2). Rantai keturunan darah antara ego dan alter:
2.1 satu rantai keturunan darah (A-D);
2.2 dua rantai keturunan darah (E-J).
(3). Jumlah ikatan perkawinan antara ego dan alter:
3.1 satu ikatan perkawinan (K-Q);
3.2 dua ikatan perkawinan (C).
(4). Munculnya garis perkawinan pada generasi yunior jikalau ego dan
denotasinya berada pada generasi yang berbeda:
4.1 ikatan perkawinan hilang pada generasi yunior (M-Q);
4.2 ikatan perkawinan muncul pada generasi yunior (K-L).
(5). Ketertutupan hubungan antara ego dan alter pada poros garis hubungan
langsung dan garis hubungan menyamping:
5.1 mungkin sangat tertutup (N-Q);
5.2 mungkin tidak sangat tertutup (L-M).

372

PNRI
(6). Ekuivalensi struktur hubungan tipe kerabat yang menunjuk pada mungkin-
nya sangat tertutup (5.1) dan pada tipe hubungan keturunan darah (1.1):
6.1 ekuivalensi struktur (A-H; N; P-Q);
6.2 bukan ekuivalensi struktur (1-M; dan O).
(7). Kesamaan atau perbedaan antara ego dan alter:
7.1 generasi yang sama (A-C; H-Q);
7.2 generasi yang berbeda (D-J; L-M).
(8). Jumlah generasi antara ego dan alter:
8.1 satu generasi (1. 76-82; J. 87; 88; 90);
8.2 dua generasi (I. 83; 84; J. 89);
8.3 tiga generasi (1. 85; 86).
(9). Seniorita dari generasi alter dalam hubungannya dengan generasi ego:
9.1 generasi senior alter (D; F. 32-34; G. 36-38; 1; K. 49; L. 52-53; 55; M.
61-62);
9.2 generasi yunior alter (E; G. 39; H; 40-44; J.K. 48; L. 54; 56-57; M. 63).
(10). Jenis kelamin alter:
10.1 alter laki-laki (A.3; B. 9; D. 18; E. 21; 24; 27; F; H. 41; 1. 77; K. 46;
48; L. 52; M. 61; N; dan Q);
10.2 alter perempuan (A. 4; B. 10; D. 19; E. 22; 25; 28; G; H. 42; I. 78; K.
47; 49-50; L. 53; M. 63; P).
(11). Kesamaan atau perbedaan jenis kelamin dari ego dan alter:
11.1 jenis kelamin dari ego dan alter yang tidak sama (K. 50; N; P, dan Q).
11.2 jenis kelamin dari ego dan alter yang tidak sama (K. 46-49; O).
13.1 jenis kelamin kelompok keluarga senior laki-laki (A. 3; B. 9; D. 18; F;
1. 77; L. 52; M. 61);
(12). Kesendirian kelamin perempuan dalam hubungan:
12.1 jenis kelamin ego dan alter perempuan yang tersendiri (K. 50; P);
12.2 jenis kelamin ego dan alter perempuan yang tidak tersendiri (O).
(13). Jenis kelamin kelompok keluarga senior terhadap hubungannya apakah
ego atau alter:
13.1 jenis kelamin kelompok keluarga senior laki-laki (A. 3; B. 9; D. 18; F;
I. 77; L. 52; M. 61);
13.2 jenis kelamin kelompok-kelompok keluarga senior perempuan (A. 4;
B. 10; D. 19; G: I. 78; L. 53; M. 62).
(14). Umur dari kelompok senior (apakah ego atau alter) dibandingkan dengan
umur dari hubungan orang tua dari kelompok yunior:
14.1 kelompok keluarga senior lebih tua daripada yunior orang tua (J);
14.2 kelompok keluarga senior lebih muda daripada yunior orangtua (1).

373

PNRI
LAMPIRAN X: MANTERA, MEMANDIKAN BAYI DALAM UPACARA
KELAHIRAN

melidi'ipo tawa nese, selicin-licinnya daun nese,


mano melidipo vvololuno; lapi lebih licin kulitnya;
morini'ipo tumbu mbundi; sedingin-dinginnya pucuk pisang;
mano morinipo penaono; tapi lebih dingin nyawanya;
merare'ipo lorono orema, secepat-cepatnya tumbuhnya aren;
mano merarepo tekorono; tapi lebih cepat penumbuhannya;
mondodo'ipo la mbundi, setegak-tegaknya pohon pisang,
mano mondodopo wotoluno; tapi lebih tegak badannya;
morome'ipo lorono towoa, sesubur-subur tumbuhnya towoa,
mano moromepo lorono; tapi lebih subur pertumbuhannya;
monapa'ipo kasu doule, sesejuk-sejuknya pohon doule,
mano monapapo pombenasano; tapi lebih sejuk perasaannya;
Mokora'ipo tawa lanu, sekuat-kuatnya daun agel,
mano mokorapo tanggeno; tapi lebih kuat anggotanya;
moioha'ipo owatu, sekeras-kerasnya batu,
mano motohapo ramono; lapi lebih keras dagingnya;
menda umuruno, panjang umurnya,
menggau toroahano; lanjut usianya;
meiotoro oloho, tumbuhnya subur,
mesuke ndaliawa; hidupnya makmur;
pumbu tukono, kaki berganti tongkat,
palimbali uwano; uban berganti uban;
hendeto nggiro'o, demikianlah jadinya,
nugo lorono. nanti hidupnya.

LAMPIRAN XI: piALOG DUA JURU BICARA DALAM UPACARA


PERKAWINAN

1. Kala-kula Pendahuluan Juru Bicara Pihak I.aki-I.aki

le inggomiu, Wahai tuan yang diagungkan,


Inggomiu pabitara, Juru bicara kenamaan,
Inggomiu anamotuo Wahai orang tua,
Inggomiu mbuanaj Ayah dan ibu si gadis,
Mbera tono meohai, Dan sekalian famili,
Inggomiu memeita, Wahai sesepu,
Lala kuasa, Penguasa negeri,
Mbera la tutade, Sekalian yang hadir,
Mbera la mopode-podea, Dan ikut mendengarkan,
Tuduito, Terletaklah,

374

PNRI
Mepotira, Terhamparlah,
Mepokulelo, Nampaklah,
I tonga-tongando, Di tengah-tengah kita
I pada mbolawando, Di hadapan kita,
Kalomami, Kalo kami,
Saramami, Sara kami,
Peowaindo, Adat kita sekalian,
Kenolando tewaliano, Jika sekiranya,
Keno peowaih'ano, Konon gerangan,
Keno kflto luwuako, Jika semua telah genap,
Mbuoto la nio'olu, Tak ada yang ditunggu,
Ma kekionggo'to, Maka apakah kiranya,
Keno tetembeto, Sudah dapat gerangan,
Akito buake, Kami menyatakan,
Inggami mokodunggui, Kami menyampaikan,
Une-unemami, Maksud kami,
Tujuan kami.
Patudumami,
Kedatangan kami,
La nileuakomami,
Kehadiran kami.
La tinunggaimami,
Di tempat ini,
I keni poiaha'a,
Di waktu ini.
Hendeino w o t u n o

2. Jawaban Juru Bicara Pihak Perempuan

Laito luwuako, Semuanya telah ada,


M b u o t o tata la, Tak ada yang tiada,
Nggo-nggo la ijito, Yang akan hadir telah hadir,
Nggo-nggo leu leuito, Yang akan datang telah datang,
Kaduito, Cukuplah sudah,
Kuito, Genaplah sudah,
Ma nggo hapopohae, Maka apatah lagi,
Lala nggo nioolu, Yang harus ditunggu,
Leuito tembono, Waktu telah d a t a n g /
Tetuka sukatino, Saat telah tiba,
I hanumu, Bagimu,
Uonggo Untukmu,
Sumarui, Untuk menyatakan,
Atopodedeai, Guna memperdengarkan,
Ohawoto otuomu, Akan maksudmu,
La nileuakomu, Gerangan tujuanmu,
Lakoketo, Lakukanlah,
Wowaiito, Kerjakanlah,
375

PNRI
3. Kata-kata Selanjutnya Juru Bicara Pihak Laki-laki

Nikaito, Inilah dia,


Mendeito, Nyatalah dia,
Topadambenggiito, Kita telah sama melihat,
Topadambendenggeto, Kita telah sama menyaksikan,
O h a w o ari i hawi, A p a yang kemarin,
Ronga i nipua, Dan kemarin dulu,
O h a w o - h a w o ari pinenggadoindo, Yang kita telah tetapkan,
Pinesambepeakondo, Sama kita mufakatkan,
Popolomami, Perlengkapan kami,
Windahomami, Mas kawin kami,
Tetedoa, Yang terdiri, dari,
Teteangga, Dan terbagi-bagi,
Nikato o e n o , Inilah kalung emas,
Nggo poonggo, Alat pengikat,
Nikato karandu, Inilah gong,
N g g o nilanggu ndundu, Alat pendengung,
Nikato kiniku, Inilah kerbau,
N g g o o p o k o toroaha, Modal hidup,
Nikato okasa, Inilah kain putih,
Tanda ate pute, Tanda kesucian hati,
Nikato selekeri, Inilah cincin hidung,
Tandano kiniku toro, Tanda kerbau hidup,
Nikato osawu, Inilah kain sarung,
N g g o pombesawuki, Sebagai kain,
Pakea ndina, Pakaian pengantin,
Nikato o b o k u , Inilah wadah,
Eusano boku mbebahoa, Pengganti wadah pemandian bayi,
Nikato .osandu, Inilah timba,
Eusano sandu mbebahoa, Pengganti timba air mandi bayi,
Nikato posiku ohulo, Inilah alat penyala lampu,
Eusano like-like mata, Pengganti yang sudah dipakai,
Nikato osawu, Inilah kain,
Eusano rane-ranembaaha, Pengganti kain basah yang diken-
cingi oleh si bayi,

Keno la ta kaduno, Bila tidak cukup,


Ma ipokokandui, Maka cukupkanlah,
Keno la ta kuno, Bila tidak genap,
Ma ipokonggui. Maka genapkanlah.

Kaduito, Cukuplah sudah,


Kuito, Genaplah akhirnya,

376

PNRI
Itarimaito, Terimalah,
Ipokosiito. Simpanlah,.

4. j a w a b a n Juru Bicara Pihak Perempuan

N g g o h a p o p o h a e sinaru, A p a hendak dikata,


Kinua nggo nilau-laungako, Pingin dikemukakan,
Inggoo tolea, Wahai juru bicara,
POsambu tulura, Sebagai penyambung lidah,
Kikiito, Kami telah melihat,
KimendenggSto Kami telah menampak,
Lala A p a yang ada,
Tututade, A p a yang nyata,
I mberaindo, Di hadapan kita,
I tonga-toogando, Di tengah-tengah kita,
Parambara teangga, Barang-barang berharga,
H a p o - h a p o teoli. Alat-alat bernilai,
Keno ieto ta kaduno, A d a p u n ketidakcukupan,
Tata kuno, Yang merupakan kekurangan,
Takionggo m b a o k e , Kami tidak mengapakan,
Kionggo bubutake, Enggan kami ngomelkan,
Ieka saru, Hanya saja,
Keno teteembe, Demikian perinya,
Nodowomu, A d a p u n dirimu,
Noanggamu, Kian nilaimu,
Ke makura, Menjadi kurang,
Ke t5 koa, Tak genap-genapan,
Kioki noinggami, Bukan karena kami,
Metete i hanumami, Bukan sebabnya kami,
M a n o i hanumu, Tetapi karena engkau,
Ari ine d o w o m u . Dirimu sendiri.

5. Kata-kata Akhir Juru Bicara Laki-laki

n o k a p o t o osara, bahwa acara adat telah selesai,


n o h e o t o peowai, bahwa kebiasaan telah berakhir,
tanda manasanoto, tandainya telah jelas,
komendeteno, seterang-terangnya,
nokuto, genaplah,
nokoato, lengkaplah,
ndeosaraki, kiranya diadatkan,
ndepeowaiki, gerangan kebiasaan,

377

PNRI
keno k a p o t o , jika telah selesai,
keno heoto, kalau telah berakhir,
nggo t u m o k i i t o osara, harus menyelesaikan adat,
polei peowai, mengakhiri kebiasaan,
k u t o t o k i ndongai, k u p u t u s k a n di tengah-tengah,
kupole m b o n i m b i i , k u p o t o n g u j u n g sama u j u n g ,
itangge t a n o onggo meita, diangkat tak tinggi,
irurungge t a n o onggo inau-nau, d i t u r u n k a n tak rendah.

6. Kata-kata Akhir Juru Bicara Perempuan

la k e i p o p o k a mongoi-ngoniisi, sesungguhnya masih harus k u m i n t a ,


m o m b e o k u r a saiune, memancing a m a r a h ,
itotokiito saramiu, tetapi kau telah sudahi a d a t m u ,
polei peowaimiu, akhiri kebiasaanmu,
m a n o ie t a n o oguiki; tetapi b u k a n disadari,
songga i n u h u - u h u a k o , yang d i s e n g a j a k a n ,
n o n d e osaraki, k a r e n a biasanya,
peowaiki, demikian perinya,
ma ieika ketola nggo meoli, kan kita b u k a n jual-beli,
ie hae t o o n g g o medulu a n a . tetapi kita a k a n satu dalam a n a k ,

7. Kata-kata -Penutup Juru Bicara Laki-laki

n o k a p o t o osara, berakhirlah acara a d a t ,


n o h e o t o peowai, selesailah a t u r a n kebiasaan,
manasaito, jelaslah,
mendeteito, teranglah,
niino a n a m a m i , a n a k kami ini,
tinda u h u o m a m i , ganti diri kami,
kileu meherenggekomiu, kami serahkan k e p a d a m u ,
tutade weikomiu, kami berikan k e p a d a m u ,
tewalino o k a p u , j a d i n y a beringin,
d a d i n o heawalu, jadinya p o h o n besar,
tewalino oseu, jadinya j a r u m ,
d a d i n o wulupae, jadinya rambut padi,
nggo towa n d a r a m i u , terserah p a d a c a r a m u ,
pondooriakomiu, kekuasaanmu,
ma iwowaii ndalangi, biarpun ia dijadikan titian,
tewali teteaha, menjadi jembatan,
tak a d a lagi yang a k a n m e m a t a -
t a n o n i o m b o nggo m e h u m a t a ,
matai,
tak a d a lagi yang akan mengintip
t a n o n i o m b o nggo meodilo,
378

PNRI
asotoka aitoorikeki, hanya saja kiranya diketahui,
tetinda meokunahii, khususnya memperhatikan,
kioki nopandaano, ia tidak sepantasnya,
kioko nolou-louano, ia tidak sewajarnya,
nolanggai ere-ere, karena ia laki-laki kurus,
lolako mohie-hie, langkahnya terhuyung-huyung,
mano kekiari-ari, tapi ia tak akan bosan-bosan,
keno ari moara-ara, kecuali' ia telah mencobanya,
mooru-oru, pagi-pagi sekali,
anopenasaiki, agar ia merasakannya,
moero-ero, rasa lehernya parau
keno molimba-limba, jika ia melangkah,
lalaieika kumokolorono, ia selalu terbirit-birit,
mano keno lakoki sumuai, tetapi jika ia menemukannya,
sandekorono, sesama umurnya,
keika meturake koro-korumbano. ia pasti menyelipkan tongkat bulat-
nya.
mano tano dadi hae, tapi bukanlah demikian halnya,
ionggo wei-weikomami, untuk memberikan pada kami,
kiokika nodowomami peana, bukan hanya kami yang berhak
pada anak,
notombedulu anato, bukankah kita telah satu dalam
anak,
noasoto kohanu, kita telah satu dalam malu,
ma nggo asoto samaturua, maka kita satu dalam bantu mem-
bantu,
atombetahowuiiro, agar kita sama membina mereka,
mohina teopua, besok dan lusa,
arotewaliki okapu, agar mereka menjadi beringin,
iamo rotewali oseu, jangan menjadi jarum,
mohina teopua, besok dan lusa,
dadadiohako iroto hae, jangan mereka dari banyak orang,
ma api i lalombaku, biarpun api di dalam-rumpun pakis,
taropombokombeopate, mereka tidak dapat membunuhnya,
lala nibutuno, apa yang ditujunya,
kioki nolou-Iouno, tidak sepantasnya,
mano kenolako metahumbaii, namun bila ia menemukannya,
keika mokoehe-eheno, pasti ia kegirangan,
keno poawi-awi, bila ia menggendong,
kela peawu-awu. labu keabu-abuan.
Kata-Kata: Mehue (Pengukuhan)
aso, ruo, tolu, omba, satu, dua, tiga, empat,
kulando humuei osara, Rusedang mengukuhkan acara adat,

379

PNRI
lumonggoi peowai, kualihkan aturan kebiasaan,
kuari mobitara aku telah berbicara mengenai,-
sara i nemore, adat dalam perkawinan,
umeroii peowai i netina, bertutur kata tentang soal perem-
puan,
inggami tolea i nelanggai, kami juru bicara pihak laki-laki,
kenola tulura hinebo, jika ada perkataan yang palsu,
eroi ndinawuni, tuturan yang disembunyi-sembunyi,
tulura nda loso, bicara yang tidak jelas,
eroi nda kapo, tuturan yang tidak berujung,
tulura nda loso, bicara yang tidak jelas,
eroi nda tabu, tuturan yang tidak terang,
ma ieto akula, maka itulah sebabnya aku,
tumohaiikomami, membentengi diri kami berdua,
wotolumami, tubuh kami,
m o t o h a i p o olawu, sekeras-kerasnya besi,
m a n o m o t o h a p o wotolumami, tapi lebih keras tubuh kami,
moriniipo iwoi, sedingin-dinginnya air,
mano morinipo penaomami, tapi lebih dingin nyawa kami,
akipera ambaako, kami tidak akan menjadi apa-apa,
nopuu-puunoki, karena kami adalah turunan
noso-soronoki, karena kami adalah pewaris,
puu sinehengakoki, ia keturunan penawar hati,
sinurungakoiki, ia pewaris pelipur lara,
puu sinehengakoaku, aku keturunan penawar hati,
sinehengakoaku, aku pewaris pelipur lara,
kami tak akan menjadi panas
kioki kekimokulaako,
karenanya,

takihondowaako, tak akan kami menjadi demam


karenanya,
kioki kekiberekekeako, kami tak akan menjadi asma
karenanya
h o n g o - h o n g o mowatuako, tak akan kami batuk kering karena-
nya,
kioki kekimowuroako, kami tak akan menjadi buta karena-
nya,
pemata waaoko, tak akan kami menjadi trahom
karenanya,
kioki kekipekaruako, kami tak akan menjadi gatalan
karenanya,
poana nukoako, tak akan kami menjadi kudisan
karenanya,

380

PNRI
kioki kekipewulu usoako, kami tak akan berbulu kuning
karenanya,
limba-limba olutuako, melangkah dengan lutut kami
karenanya,
akiki morini, kami pasti dingin,
akiki monapa, kami pasti sejuk,
akiki hende la metutudu, kami pasti laksana duduk meren-
dam,
ine mata bondu, di mata air,
mehau-hau ine mata nggonawe, bertengger di batang sungai,
akiki morini, kami pasti dingin,
akiki monapa, kami pasti sejuk,
monapa mbuunbundi, dingin laksana dinginnya pohon
pisang,
monapa mbuundawaro, sejuk laksana sejuknya pohon sagu,
akfki kunggu ana, kami pasti sejahtera bersama anak,
akiki humaru rapu, kami pasti makmur bersama
keluarga,
metotoro oloho, tumbuh seperti tumbuhnya kedon-
dong,
mesuke ndaliawa, kuat seperti kuatnya taliawa (?)
u-uno ohina, sepanjang fajar sampai pagi,
nggau-nggauno oleo, selama perjalanan matahari di
siang,
keika la ndundu tukomami, pasti selalu berbunyi tongkat kami,
palimbali uwamami, uban kami berganti uban,
mobitara osara, menuturkan adat,
mosaru peowai, mengisahkan kebiasaan,
aso, ruo, tolu, omba. satu, dua, tiga, empat.

L A M P I R A N XII: BUNYI AKAD NIKAH, IJAB QABUL, DAN TA'LIK

1. Akad Nikah

Astagfirullah aladzim,
La ilaha ilallah,
huwal ha.yul"qayun,
waatubu ilaihi,
Ashshadu Allah ilaha illSlah,
Washshadu anna Muhammadarrasullah,
Bismillahir Rakhmanir Rakhim,
Alhamdu lillahir Rabbil Alamin,

381

PNRI
2. Ijab Qabul

Saya ... (menyebut nama sendiri) bin ... (nama ayah) berjanji dengan sesungguh-
nya liat i bahwa saya akan menepati kewajiban saya sebagai seorang suami dan
akan pergauli istri saya bernama ... (nama istri) binti ... (nama ayah dari istri)
dengan baik mu'asyrah bil ma'ruf menurut syariat agama Islam.

3. Ta'lik

Arrakhmanir Rakhim,
Malik i Yaumiddin,
lyakana'budu waiyakanastain,
Ihdina sirathalmustaqin,
Sirathalladzina a n ' a m taalaihim,
Ghairil magdu bialaihim,
waladdaliin, amin.

Sewaktu-waktu saya: (1) meninggalkan istri saya tersebut dua tahun berturut-
turut; (2) atau saya tidak memberi nafkah wajib kepadanya tiga bulan lamanya;
(3) atau saya menyakiti b a d a n / j a s m a n i istri saya itu; (4) atau saya membiar-
kan/tidak memperdulikan istri saya itu. Kemudian istri saya tidak ridha dan
mengadukan haknya kepada pengadilan agama atau petugas yang diberi hak
mengurus pengaduan dan pengaduannya dibenarkan serta diterima oleh peng-
adilan atau petugas tersebut dan istri saya itu membayar Rp. 50,— (lima puluh
rupiah) sebagai iwadh (pengganti) kepada saya maka jatuhlah talak saya itu satu
kepadanya. Kepada pengadilan atau petugas tersebut tadi saya kuasakan untuk
menerima uang iwadh (pengganti) itu dan kemudian memberikannya untuk
keperluan ibadah sosial.

L A M P I R A N XIII. KATA—KATA P A M I T A N O R A N G M E N I N G G A L
DENGAN K E L U A R G A YANG D I T I N G G A L ( D I S A M P A I K A N O L E H
K E L U A R G A DEKATNYA)

Ie inggomiu, Wahai engkau,


Tabea inggomiu, Ya sekalian,
T o n o meohai, Sekalian saudara,
Mbera kinaitako, Semua keluarga,
Mbera tono leu, Segala yang datang,
Mbera-mbera tetuka, Segala yang tampil,
Kukikomiuki, Kulihat kau sekalian,
Kutirokomiuki, Kutengok kamu semua,
Pebiriakuki, Aku bertelinga,
Podeakomiuki, Aku mendengar

382

PNRI
Mbera-mbera mbeleu, Segala yang datang,
Mbera-mbera tetuka, Segala yang tampil,
Leu kumt'aku, Datang melihatku,
Tuka lumekoi'aku, Tampil melayatku,
Aitewondo, Kamu bertenaga,
Aimareso, Kamu berpayah,
T e w o n d o ' a k o indi'o Bertenagakan kerja,
Mareso'ako pasipole, Berpayahkan urusan,
Indi'o nda ari, Kerja tak k u n j u n g habis,
Pasipole nda kotu, Urusan tak kunjung putus,
Iwawe'i kinamiu, Kau bawa makananmu,
Tukanggf indi'omiu, Kau angkat minumanmu,
Iwawe'i wukumiu, Kau bawa tulangmu (tenagamu),
Tukangge undomiu, Kau bawa otakmu (pikiranmu),
Aitewondo, Sudah itu kamu bertenaga,
Aimareso, Sudah itu kamu berpayah,
Butu i hanunggu, Untuk namaku,
Lako ine dowonggu, Bagi diriku,
Butu ine walinggu, Untuk isteriku,
Lako ine taroanggu, Bagi pasanganku,
Butu ine ananggu, Untuk anakku,
Lako ine wulelenggu, Bagi turunanku,
Butu ine mbuenggu, Untuk cucuku,
Lako ine kinai takonggu, Bagi kerabatku,
Ma ni'ino ona, Maka tibalah saatnya,
Keno ndete'embe, Betapapun sudah demikian,
Nomendeto ona, Sudah jelaslah,
Nosamempna'ano, Sesungguh-sungguhnya,
Kuonggoto lako, Sudah ku akan berangkat,
Morai mbe'ilo, Menuju di kejauhan,
Lako mble'esu, Pergi mendahului,
Bubungguikomiu, Membelakangi kamu,
Lako mora'i-ra'i Pergi menghadap,
Dunggu mokTkl Sampai memandang,
Ine Sangia, Kepada Dewa,
Ine Ombu Ala, Kehadapan Allah,
Sangia M b u ' u Dewa Tertinggi,
Ombu S a m f n a Allah Sesungguhnya,
Ala Ta'ala, Allah Ta'ala,
Kuakuasa, Yang Maha Kuasa,
Aimbo'ia, Tinggallah hai sekalian,
Aimbendoro, Hiduplah hai sekalian,
Dagai'i dowomu, Jagalah dirimu,

383

PNRI
Peokangge wotolumu, Pelihara tubuhmu,
Dagai'i anando, Jagalah anak kita,
Peokangge wulelendo, Pelihara tunas kita,
Ana nimahe-mahe, Anak disayang-sayang,
Wulele nirorondo, Tunas harapan,
Hende-hende mbuendo, Demikian cucu kita,
Keno kaitakondo, Sekalian kerabat,
Akuto lako, Ku segera berangkat,
Po'iato. Tinggallah.

L A M P I R A N XIV: K A T A - K A T A P E N Y A M B U T A N T E R H A D A P P E N G A N -
TIN P E R E M P U A N O L E H PIHAK MERTUANYA

o, ana, oh, anak,


baisa; menantu,
leunggomiuto i n a r u o m i u , telah d a t a n g engkau b e r d u a ,
ndetuka ndotaroa; hadir b e r s a m a a n ;
leu ine a n a m o t u o m u , datang kepada orang tuamu;
t e t u k a ine baisamu, berkunjung kepada mertuamu
kilelekoiko a n a , kami m e n y a m b u t m u a n a k ,
k i t a r i m a k o baisa, kami m e n e r i m a m u m e n a n t u ;
a n a nimeririako, anak kesayangan,
baisa p i n o k o m b e r a h i - r a h i ; menantu harapan;
nirapumu ana, yang kau kawini a n a k ,
nidulumu baisa; yang kau k u m p u l m e n a n t u ;
kiokika n o w a l i m u , bukan hanya suamimu,
wodo notaroamu; semata-mata pasanganmu;
m a n o ieto o n a , tetapi sesungguhnyalah,
k o n d u q u m a sinaru; pada hakekatnyalah;
inggami niino baisamu, kami ini m e r t u a m u ,
keno hine a s a m u ; sekalian ipar-iparmu;
inaetoka, siapa sajalah,
luwua'kotoka; sekaliannya;
pinetonomu semua o r a n g m u
p e o h a i n o walimu; keluarga s u a m i m u
nikato t i a m u , inilah bingkisan u n t u k m u ,
r a m b a h i nggaremu; ganti alas k a k i m u ;
aleito, ambillah,
tarimaito. terimalah.

384

PNRI
L A M P I R A N XV: TEKS P E N Y U M P A H A N S E O R A N G M O K O L E ( R A J A ) '

Ie Inggomiu Mberiou,. Wahai Tuan Raja,


Pipinokoowose, Yang Dipertuan Agung,
Poehenoto O m b u Ala Sudah takdirnya Allah,
Kuasano dunia Penguasa Seru sekalian Alam,
Peoliwinoto Ombue, Sudah wasiatnya leluhur,
Petenanoto A n a m o t u o , Pesannya nenek moyang,
Poehenoto tono dadio, Sudah kehendaknya rakyat,
Werenoto ana niawo, Sudah restunya anak negeri,
Notembonoto, Sudah' saatnya,
Nooleonoto, Sudah harinya,
Nopoiaanoto Sudah tempatnya,
Notembonoto, Sudah saatnya,
Nooleonoto, Sudah harinya,
La mokiki owuta lahuene, Disaksikan oleh bumi dan langit,
La motirondiro oleo wula ana wula Disaksikan oleh matahari bulan dan
bintang-bintang,
La mokiki wonua ronga sawino, Disaksikan oleh negeri dan pen-
duduknya,
La mopode-podea tononggapa Didengarkan oleh rakyat dan warga
mbera ana niawo, negeri,
Matanduito, Sudah pastilah,
Mendeito, Sudah jelaslah,
Inggomiuto Mokole, Engkaulah Mokole,
Pipinokoowose, Yang Dipertuan Agung,
Mokoleno Olipu, Mokolenya Kerajaan,
Anakiano Wonua, Rajanya Negeri,
Uta Mokorano Wonua, Penguasa Negeri,
Peloluano Ana niawo, Pelindungnya Rakyat,
Ie Inggomiu Mokole, Wahai Engkau Mokole,
Pipinokoowose. Yang Dipertuan Agung.

Ie Inggomiu Mberiou, Wahai Tuan Raja,


Somba owo-owose, Engkau Yang Disembah,
Inggomiuto Mokole, Engkaulah Mokole,
La Moanakia, Yang menjadi Raja
Mokole i Konawe, Mokole di Konawe,
Anakia i Kendari, Raja di Kendari,
Inggomiuto lahuene, Engkaulah langit,
Inggamito wutaaha, Kamilah bumi,
Inggomiuto oleo pea, Engkaulah matahari bersinar,
Inggamito pineari, Kamilah yang disinari,

K E B U D A Y A A N TOLAKI - 25 385

PNRI
Inggomiuto puuno okasu, Engkaulah induknya pohon,
Peloluano tononggapa, Tempat berlindungnya rakyat,
Inggomiuto kua-kuasa, Engkaulah penguasa,
Inggamito posou-sou, Kamilah pendukung,
Tebawomiu no inggami, Kejayaanmu karena kami,
Toromami no inggomiu, Kehidupan kami karena engkau,
Inggomiuto p o m b o k o l a k o osara, Engkaulah pentaati hukum,
Inggamito powatu poehemiu, Kamilah pentaati kehendakmu,
Inggomiuto pasitakano osara, Engkaulah pemedomani adat,
Inggamito powatuno eroimiu, Kamilah penurut titahmu,
Keno ta hendek'i nggiroo, Jika tidak demikian,
Kioki keno ndeteembe, Bukan gerangan halnya,
Keiposule osara, Jika engkau memutarbalikkan adat,
Mombolika peowai, Jika engkau membelokkan kebiasa-
an,
Keipomile, Jika engkau memilih kasih,
Keipombisi, Jika engkau membeda-bedakan,
Tetesala ipokomenggonoi, Yang salah engkau perbenarkan,
Memenggono ipokondesalai, Yang benar engkau persalahkan,
Ma suere dadino, Maka lain jadinya,
Tepolika dalangano, Terbalik peristiwanya,
Nggo ai umaihikomiu, Arang akan menghitamkan muka-
mu,
Nggo sowi sumowikomiu, Besi akan memotong lehermu,
Nggo loio kumuiatikomiu, Jahe akan menghangatkan nyawa-
mu,
Nggo owuta dumambitikomiu, Tanah akan menjepit tubuhmu,
Hende-hendeika hae, Seperti juga halnya,
Menggena ndeteembe, Demikian juga perinya,
Kekipailalikomiu, Apabila kami menentangmu,
Mombole eroimiu, Apabila kami memotong titahmu,
Akito tetutuara, Akan kami durhaka,
Akito teiisei, Akan kami laknat,
Akito marasai, Akan kami miskin,
Akito kasiasi, Akan kami papa,
Akito motipu, Akan karni habis,
Akito moropu, Akan kami pupus,
T a n o ie, Bukan demikian,
T a n o ihiro Bukan gerangan,
La pineune-une, Yang sedang dikehendaki,
La tinaotando, Yang sedang diinginkan,
Mano ieto ona, Tetapi yang sesungguhnya,
Konduuma mena, yang sebenar-benarnya,

386

PNRI
Morini mbuumbundi, Sejuk sejahtera,
M o n a p a mbuundawaro, Nyaman sentosa,
Metotoro oloho, T u m b u h subur,
Mesuke ndaliawa, Bertopang m a k m u r ,
P u m b u otuko, Tongkat berganti tongkat,
Palimbali ouwa, Uban berganti uban,
Petoruko nggolopua, Kuat sekuat-kuatnya,
Petanggelari watu, Keras sekeras-kerasnya,
Hende-hende inggomiu, Baik engkau,
Hende-hende inggami, Maupun kami,
Inggomiu mokolemami, Engkau Mokole kami,
Inggami atamiu. Kami rakyat engkau.

L A M P I R A N XVI: K A T A - K A T A P E N Y A M B U T A N SEORANG R A J A

Ie inggomiu mberiou, Wahai engkau Yang Agung,


Somba owo-owose, Yang disembah setinggi-tingginya
Inggomiu anakia, Egkau bangsawan,
Inggomiu mokole, Engkau raja,
Anakia ndebawo, Bangsawan terkenal,
Mokole ndemalau, Raja kesohor,
Anakia nggawasa, Bangsawan kaya,
Mokole ndambesawa, Raja dermawan,
Anakia nirorondo, Bangsawan di sayang,
Mokole niftorimani, Raja dikasihi,
Inggami atamiu, Kami rakyatmu,
Inggami petenamiu, Kami pesuruhmu,
Inggami tonomiu, Kami orangmu,
Inggami bawamiu, Kami pengikutmu,
Menggaukomamito, Telah lama kami menunggu,
Meundeteembe, Sekian lama menanti,
Teolu-olunggomiu, Menanti-nantimu,
Tekikfnggomiu, Menunggu-nunggumu
Meteoolu leumiu, Menanti kedatanganmu,
Motendei dunggumiu, Menunggu kehadiranmu,
Leumiu baraka, Kedatanganmu berkah,
Dunggumiu weweunga, Kehadiranmu hikmah,
Lako ine tonomiu, Untuk orangmu,
Butu ine wonuamiu, Bagi negerimu,
Ikikfito tonomiu, Pandanglah orangmu, .
Itoaito wonuamiu, Tengoklah negerimu,
Teembeto dadino, Bagaimana jadinya,
387

PNRI
Keno totorono, Konon hidupnya,
Laito memeambo, Ada yang baik,
Laito momomahe, Ada yang indah,
Laito momosaa, Ada yang buruk,
Laito momokosisi, Ada yang jelek,
Laitatetepenggokoro, Ada yang tegak,
Laito tetetutade, Ada yang n a m p a k ,
Laito tetepaunggoko, Ada yang bungkuk,
Laito rurumorangga, Ada yang merangkak,
Laito memeuanggi, Ada yang berpingit,
Laito memelelesumbaa, Ada yang bergoyang kaki,
Laito tetewondo, Ada yang bertenaga,
Laito meo-meokouko, Ada yang berkeringatan,
Laito wawaraka, Ada yang sehat,
Laito momokora, Ada yang kuat,
Laito memeohaki, Ada yang sakit,
Laito memeorunggu, Ada yang kurang sehat,
Laito memelolu, Ada yang bernaung,
Laito memelaika, Ada yang berumah,
Laito memeturo, Ada yang tiris,
Laito memeusa-usa, Ada yang berhujan,
I hanumiu akipeombu, Kepadamu kami menyembah,
Keinggomiu akipombeowose, Kepadamu kami menghormat,
I hafiumani aipombeata, Kepada kami engkau memper-
budak,
Keinggami aipetena, Kepada kami engkau menyuruh,
Powekomamito potiso, Berilah kami petunjuk,
Pobindakomamito pasitaka, Lepaskanlah kepada kami contoh,
Akipowatu, Kiranya kami mengikut,
Akietai, Kiranya kami serta,
Noinggami aimelaindoro, Karena kami engkau umur panjang,
Noinggomiu akimorini Karena engkau kami dingin,
Morirti mbuumbundi, Dingin laksana pisang,
Monapa mbuundawaro, Nyaman laksana sagu,
Metotoro oloho, Bertopangkan kayu oloho (?),•
Mesuke ndaliawa, Berpasakkan kayu taliawa (?).

L A M P I R A N XVII: M A N T E R A - M A N T E R A BAGI K E M A K M U R A N D A N
KESEJAHTERAAN NEGERI DAN PENDUDUKNYA

1. Doa pertama

Oh ... oh ... oh ..., (panggilan)

388

PNRI
I m b e k o t o inggoo, Di m a n a kau gerangan,
Guruno owuta, G u r u n y a bumi,
Sangiano w o n u a , Dewanya negeri,
W e w e u n g a n o wuta, Saktinya b u m i ,
Karamano wonua, k e r a m a t n y a negeri,
T a p u a s a n o wuta, Penguasa bumi,
Langgaino w o n u a , laki-lakinya negeri,
La limbai owuta, Yang selalu mengelilingi bumi,
La limbai oleo, Yang menguasai matahari,
La limbai ohina, Yang menguasai siang,
La limbai r o r o m a , Yang menguasai m a l a m ,
Kuonggo mosehe sinala, K u a k a n mensucikan pelanggaran
adat,
Molisa sinirei, Menghilangkan dosa,
Kenola sinala, J i k a ada yang'bersalah,
Kenola sinirei. Jika ada yang berdosa,

2. Doa kedua

A k u t o mowuleke d o a r u n g g u , K u a k a n m e n y a j i k a n d o a penyakit,
K u o n g g o mosehe sinala, K u a k a n mensucikan dosa,
Molisa sinirei, Menghilangkan n o d a ,
Kioki k e k u r u r u w u k u , Tidak a k u asma,
Kioki k e k u t o n d u ndoola, Tidak a k u reumatik,
.Mepotoroako, Berpedomankan,
Mesuke padaako, Berpatokkan,
Sinehengakoaku, A k u biasa mensucikan,
Sinurungakoaku, A k u biasa m e n y a j i k a n ,
Puumbuungguki, Kiranya t u r u n a n k u ,
NosSsorongguki, Gerangan warisanku,.
Kei Wasasi, Asal dari Wasasi,
Kei Wasabenggali, Asal dari Wasabenggali,
Sumasii oata, Memperingati rakyat,
Puleii manusia, M e n g a t u r manusia,

3. Doa ketiga

Akuto mowulekoo, Kuakan menyajikan untukmu,


Inggoo o w u t a , Engkau b u m i ,
Inggoo la alamu, Engkau alam,
Inggoo bungi ndara, Engkau angin di d a r a t ,
Inggoo bangi n d a r a h u , Engkau angin di laut,
M b a k o m u tata nggo dadi, Bagimu tak ada yang mustahil,
La haku p o p o r u r u i owuta, Kuselalu mengarungi bumi,

389

PNRI
Popodeako dunia, Menyaksikan kau bumi,
Kula mosehe sinala, Kusedang mensucikan dosa,
Keno la sinirei. Jikalau ada yang melanggar.

4. Doa keempal

Akuto mowulekoo, Kuakan menyajikan,


Inggoo marakulano owuta, Engkau drakulanya bumi,
Bambangano dunia, Engkau bayangan dunia,
Inggoo lumeluo owuta, Engkau penggerak bumi,
Rumendengio dunia, Engkau penggoyang dunia,
Kula nggo mosehe owuta, Kuakan mensucikan bumi,
Kupolisa wonua, Kubersihkan negeri,
Notesalato owuta, Bumi telah bernoda,
N o m o h o n d o t o dunia, Dunia telah panas,
Tano tinondato osara, Karena adat telah tidak diikuti,
Inoohe pekuku, Telah tidak dipedomani ajaran
dunia,
Pekukuno owuta, Ajaran dunia,
Hohowino wonua, Pedoman negeri,
Nolalo sarato tono, Manusia telah melanggar adat,
Nolia mbekukuto manusia, Manusia telah memutarbalikkan
ajaran,
Noposuleto osara, la telah melanggar adat,
Mowasole pekuku, Memutarbalikkan, ajaran,
Bitara sala nopokomenggonoeto, Yang salah dibenarkan,
Bitara menggono nopokosalaito, Yang benar disalahkan,
Ieto atola nggo memotipuako, Akibatnya kita akan menjadi
punah,
Atoia memohondowaako, Akibatnya kita sedang panas,
Meorunggu bake, Selalu sakit-sakitan,
Meohaki waleka, Yang kunjung sembuh,
Tumali wutakeitoto, Jadilah kita tanah,
Langgai puri wuta ali, Laki yang masuk ke dalam dasar
bumi,
Owo-owose, Yang besar,
Mei-meita, Yang tinggi,
Mbera kinungguno, Segala yang dipegangnya,
Mbera pinoindino, Segala yang dikuasainya,
Sosoungaaku wuta, Tengoklah aku hai bumi,
Titiroaku lahuene, Pandanglah aku hai langit,
Keno tekono obeli, Jika darah mengena,
Notealu posehe, Korban mengisi,

390

PNRI
A n o l a posehe Adanya kerbau,
Nola pondewehi, A d a n y a penawar,
Keto t i n o n d a osara, Sudah akan diikuti adat,
M o o h e hohowi, Dipatuhi a t u r a n ,
H o h o w i n o owuta, A t u r a n bumi,
P e k u k u n o dunia, A j a r a n dunia,
Bitara sala ketopinokosala, Yang salah sudah akan dipersalah-
kan,
Bitara n g g o n o ketopinokomeng- Yang benar akan d i p e r b e n a r k a n ,
gono,
Atotombemorini, Kita sudah a k a n dingin,
Atotombernonapa, Kita sudah akan sejuk,
Atotomemendidoha, Kita sudah akan sehat,
A t o t o u m u r u s u t u m u k a wuta, Kita akan u m u r p a n j a n g melangkah
bumi,
Tenununu, Yang b e r k e l a n j u t a n ,
Tepae-paerako, Yang bergelombangan,
Atotometotoro oloho, Kita akan hidup subur,
Mesuke ndaliawa, Kuat lagi k o k o h ,
Petanggelari watu, Bertulangkan b a t u ,
Petorukunggolopua, Ber'punggungkan k u r a - k u r a ,
Pumbu tukondo, Bunyi tongkat ganti berganti,
Palimbali u w a n d o , Uban berganti u b a n ,
U m u r u s u k i t u m u k a wuta, Umur p a n j a n g melangkah,
Tenununu, Yang berkelanjutan,
Tepae-.paerako Yang bergelombangan,
Memeita, Yang tinggi,
Owo-owose, Yang besar,
Mbera kinungguno, Segala yang dipegangnya,
M b e r a pinoindino. Segala yang dikuasainya,

. Doa kelima

A k u t o mowule m e n g g o n o k o o , Kuakan menyajikan kebenaran


bagimu,
O m a n u i suwamu, Ayam di kirimu,
P u u m b u u n g g u k i mosehenggoo, Sudah t u r u n a n k u menyaji u n t u k m u ,
P u u m b u u m u k i pineseheako, Sudah warisanku disaji,
M o m b u u wingi inamu tumoorike, Di permulaan malam ibumu yang
tahu,
K o m o h i n a a m a m u tumoorike, Di akhir malam b a p a k m u yang
tahu,
Inggoo wasurabi, E n g k a u wasurabi(?)

391

PNRI
N d a m o n g g o r u o udadi, Yang k e j a d i a n m u hanya sekali,
Limba i dunia, M u n c u l di d u n i a ,
Inggoo tioluno o m a n u , E n g k a u telur dan ayam,
K a b a r a n o osui, P e k a b a r a n berita,
Tiolu m a n u b a b a , Telur ayam ras,
M a n u rasa wula, A y a m keemasan,
Dunggu ine O m b u , Yang tiba k e p a d a T u h a n
Ene-ene ine Sangia, Yang naik ke Dewa,
Meina ine mandiri Beribukan p a d a Yang Esa
M e a m a ine w u r a k e n d u m e t e o , B e r b a p a k a n p a d a Inti A k a r Tung-
gal,
Kula mosehe sinala, Kusedang mensucikan yang salah,
Molisa sinirei M e n y e h a t k a n yang n o d a ,
Kenola sinala, Jika a d a yang salah,
Kenola sinerei, Jika a d a yang n o d a ,
Sala ine more, Kesalahan dalam p e r e m p u a n ,
Sala ine w u a , Kesalahan dalam t u m b u h a n ,
Sala sapa, Kesalahan dalam k e h e w a n a n ,
Sala h o h o w i Kesalahan dalam a t u r a n
t a n o t o n d a i t o osara, Karena telah tidak mengikuti adat,
Nooheo pekuku, Berpedomankan ajaran,
P e k u k u n o owuta, Ajaran bumi,
H o h o w i n o dunia, P a n d a n g a n dunia,
Atola nggo m e m o t i p u , Sehingga hampir p u n a h ,
Atola nggo m e m o h o n d o , Sehingga hampir panas,
M e o r u n g g u wunggali, Sakit-sakitan,
Meohaki waleka, Yang tidak s e m b u h - s e m b u h .

6. Doa keenam

A k u t o mowule m e n g g o n o k o o , K u a k a n menyaji yang benar


bagimu,
Omanu i hanamu, A y a m di k a n a n m u ,
P u u m b u u n g g u k i mosehenggoo, Keturunanku menyajimu,
P u u m b u u m u k i pineseheako, K e t u t u n a n k u disaji,
M o m b u u wingi inamu tumoorike, Di permulaan m a l a m ibumu yang
tahu,
K o m o h i n a a m a m u tumoorike, Di akhir malam b a p a k m u yang
tahu,
Inggoo wasurabi, E n g k a u Wasurabi (?)
Nda m o n g g o r u o udadi, Yang k e j a d i a n m u hanya sekali,
Limba i dunia, Muncul di dunia,
Inggoo tioluno o m a n u , E n g k a u telur,

392

PNRI
K a b a r a n o osui, P e k a b a r a n berita,
Tiolu m a n u b a b a , Telur ayam ras,
M a n u rasa wula, A y a m keemasan,
Dunggu-dunggu ine O m b u , Yang tiba k e p a d a T u h a n ,
Ene-ene ine Sangia, Yang naik ke Dewa,
Meina ine mandiri, Beribukan p a d a Yang Esa,
M e a m a ine w u r a k e n d u m e t e o , B e r b a p a k a n p a d a Inti A k a r Yang
Tunggal,
Keto t i n o n d a osara, Sudah a k a n ditaati adat,
I n o o h e hohowi, Dipedomani a j a r a n ,
Hohowino owuta, A j a r a n bumi,
P e k u k u n o dunia, P a n d a n g a n dunia,
Atotombemorini, Sudah a k a n kita dingin,
Atotombemonapa, Sudah akan kita sejuk,
Atotombemokali, Sudah a k a n kita sehat,
Atotombendidoha, S u d a h akan kita a f i a t ,
A t o k i hende Ia, Kita nanti laksana,
M e n d o t o r o ine m a t a b o n d u , D u d u k di m a t a air,
M e h a u - h a u ine m a t a iwoi, Bertengger di b a t a n g sungai,
Morini m b u u m b u n d i , Dingin laksana dinginnya p o h o n
pisang,
Monapa mbuundawaro, Sejuk laksana sejuknya p o h o n sagu,
M b e a k o p o nonilelo owuta, J a n g a n k a n ketika tanah dipateri,
Pinaboto dunia, Dunia dibulatkan,
Kono ehe telelo owuta, T a n a h tak mau b u n d a r ,
T e p a b o t o dunia, T e r b u l a t k a n dunia,
Noehe nde bubulela, Karena ia suka berguling,
Sikalia dunia, Berganti dunia
M o n d o n g a i la w u t a , Setengah di b u m i ,
Timbi i lahuene, Setengah di langit,
L a k o n o t o tudu gibaraeli, T u r u n l a h Jibril,
Mosimbi kolia, Membuat perahu,
L a m b o bangga u b a m b a g a , Perahu gandengan,
Inula o w u t a , Dimuatlah bumi,
Sinambetuduia, Dimuatlah dunia,
Lakonoto mororo owuta, Barulah bumi m e n j a d i m a n t a p ,
N o m o r o s i dunia, Kuatlah dunia,
Iepoka keno ieika sinala, A p a t a h lagi jikalau hanya kesalah-
an,
Keno ieika sinirei, H a n y a yang b e r n o d a ,
Takupobosa, Tidak a k u mengarang,
Kuonggo mowotei, Kuakan menakutkan,
Sinaa-saanoki o w u t a , Melainkan g a n j a r a n bumi,

393

PNRI
M i a r o n o Sangia, G a g a s a n dewa,
Pinapaudarano mbone, Konsepsi dari ketinggian,
T i n a u r a k o n o Ala Taala, K e m a u a n Allah Taala,
A n o l a sabara, Sehingga a d a kesabaran,
A n o l a luwuako, Sehingga a d a segalanya,
A r i p o kei Hasi, Asal mula dari Hasim,
Ine Nabi A d a m . P a d a Nabi A d a m .

7. Doa ketujuh

Nuru lapa, N u r langit,


N u r u Ala, N u r Allah,
Lillahi Taala, Karena Allah T a a l a ,
Ponggakasi olangi, P e m b u k a langit,
P o l o m b a lahuene, P e l o b a n g angkasa,
Aula humasali Ala, Ya T u h a n Allah,
Auri arralu, Airnya laut,
Helere, Nabi Hidir,
Haluru, Yang mengalir,
Malladzi, M a k a apa yang,
Mudallaga, Mudallaga(?)
Dum a, D u m a(?)

Aeri mangi h a r r a m u , Air yang m e n g h a r a m k a n ,


Tukula barakati, Apa yang mensucikan,
Saumadi, Saumadi(?)
Sallahu a k b a r u , Menyembah Maha Akbar,
Bismillahi, Dengan N a m a Allah,
Keto r u m u p o i sinala, Sudah akan diambilnya a p a yang
salah,
1 lombu s a u m u r u , Ke negeri yang kekal,
W u t a wawei sinerei, Bumi yang m e n a m p u n g segala
noda,
I wuta m a r a d a p u , Di bumi M a r a d a p u ( ? )
1 moliokandahi, Di tapisan laut.
T e h o r o rua etu, Yang berlantaikan d u a ratus,
P a m b a lia-lia, Yang berdindingkan gemerlapan,
Aula ya Rasullah, Ya, Rasullah,
A t o t o mbemorini, Sudah a k a n kita dingin,
Atoto mbemonapa, Sudah a k a n kita sejuk,
A t o t o mbemokali, Sudah akan kita awet,
Atoto mbemendidoha, Sudah a k a n kita sehat,
Memeita, Yang tinggi,
Owo-owose, Yang besar,

394

PNRI
Mbera kinungguno, Segala yang dipegangnya,
Mbera pinoindino. Segala yang dikuasainya,

8. Doa kedelapan (penutup)

I wuta nda matea, Di bumi kekal,


i wuta maradapu, Di bumi maradapu(?)
1 moliokandahi, Di tapisan laut,
Lala sinerei owose, Pelanggaran yang besar-besar,
Lala sinalaki meita, Kesalahan yang tinggi-tinggi,
Aula, Karena Engkau ada,
Atoto mbemorini, Sudah akan kita dingin,
Atoto mbemonapa, Sudah akan kita sejuk,
Atoto mbemendidoha, Sudah akan kita sehat,
Memeita, Yang tinggi,
Owo-owose, Yang besar,
Mbera kinungguno, Segala yang dipegangnya,
Mbera pinoindino. Segala yang dikuasainya.

395

PNRI
GLOSORI

A Anakia Ndusawuta (raja penyeleng-


gara urusan tanah pertanian),
abala {bala), 229 185
A h a (Ahad, minggu), 223 anakia (bangsawan), 199, 272
akuto mongga ... (saya akan makan), anakia mbatua (bangsawan turun
72 martabat), 199, 202
akuto merumbahako (saya mau anakia m o m b o n a h u ' a k o (raja penye-
tidur), 72 lenggara urusan rumah tangga
ama (ayah), 112, 116 Mokole), 186
amano i A m b o (ayah A m b o ) , 131 anakia motaha (bangsawan tulen),
ambahi mbererehu'a (tikar duduk), 199, 201, 202
ambahi mbo'iso'a (tikar tidur), 101 anakia ndina'asi (bangsawan tidak
A m b o ( A m b o , nama), 131 tulen), 199
ana (anak), 116 anakia s o n g o (bangsawan penuh),
A n a d a l o (kanak-kanak, budak), 272 199
ana homa (belukar), 90
anamotuo (orang tua, leluhur), 108
A n a Inowa-Owa Wuta di Asaki
ana nio'ana (anak angkat, anak
(nama kerajaan bagi Selatan
piara), 116
wilayah Kerajaan Konawe), 185
ana sepu (jenis lain dari belukar), 112
anaitonga (anak tengah), 125
Anawai Ngguluri (gadis dari kayang-
anai'uhu (anak bungsu), 125, 273
an), 50
Anakia Kinalumbi (gelar raja penye-
anawula (bintang-bintang di langit),
lenggara hukum adat), 185
219
Anakia Mbabitara (gelar raja peradil-
andi-andi (anting-anting), 101, 255
an adat), 185
Andolaki (nama lokasi pemukiman
Anakia Mbetumbu (gelar raja pene-
pertama orang Tolaki), 51
gak hukum), 186
anggalo (ngarai), 181, 182, 268
Anakia Metado (gelar raja penye-
Araba (Rabu), 223
lenggara kerukunan hidup), 186
arano (rawa), 114
Anakia Ndamalaki (raja pengawal
asa (ipar), 272
istana Mokole), 185 aso mbue (asal satu nenek moyang),
Anakia Ndusa Lara (raja mata- 142
mata), 186 aso ulu (115 ikat padi), 93
396

PNRI
ata i alaika (budak dalam istana bolosu (gelang tangan), 101, 255
raja), 200 buleka (usungan mayat), 237
ata inoli (budak karena dibeli), 200 b u n (Jepang), 58
ata mbinetawa (budak karena burua (peti kayu), 99
perang), 200
ata wonua (rakyat biasa), 199, 200
D
ate pute penao m o r o h a (hati suci),
263, 284 daramole (daging dada kerbau), 93,
atora (aturan khusus), 288 94
autinggi-tinggi'iki... (agar kau meng- daria (kencur), 237, 275
uji kekuatan ...), 149 dimba-timba nggowuna (alat musik
awo (ayah-, ibu-, dan anak tiri), 116 dari bambu), 256
dimba wuta Oenis alat musik), 256
B
doeke (tikus), 274
bahro silapa (mandi e m p a t sisi D u m a (Jumad), 223
jenazah), 169 dumahu (berburu), 260, 276
baisa langgai (mertua laki), Duria (durian), 275
baisa ndina (mertua perempuan), 342
barata i hana (wilayah kerajaan bagi-
E
an Utara), 185
barata i moeri (wilayah kerajaan ehe medulu (gemar bersatu), 133
bagian Selatan), 185 ela (ipar), 272
barisi tolu (tiga unsur yang tak dapat Elu (nama putri raja di Konawe), 51,
dipisahkan satu sama lain), 247 52
bea (ipar), 272 eno-eno (kalung emas), 101, 255
bere-bere olutu ... (bunyi gemeletuk
dari lutut karena kaku ... ung-
kapan bagi orang tersisih dari G
masyarakat ramai), 294
gambusu (alat musik gambus), 256
berese (petir), 268
gun (Jepang), 58
bilangari (kalender untuk waktu yang Gunco (Jepang), 58
baik dan yang buruk), 223 G u r u n o o wuta ... (gurunya tanah,
bitara ndolea (bahasa adat perkawin- dewa bumi), 227, 241, 268
an), 256
bite kinalumbi (aparat h u k u m adat), H
185
bite meta'do (aparat k e r u k u n a n haki lahori (sakit dada), 167
hidup), 186 haki te'eme'ako o watu (sakit ping-
Bokeo (gelar raja), 52, 187 gang), 167
bokeo (buaya), 274 haki tia (sakit perut), 167
boku mbebahoa (wadah tempat me- haki wawo uhu (sakit dada bagian
mandikan bayi), 150 atas susu), 167

397

PNRI
haki wunggu'aro (sakit dada), 167 iliwua (anak sulung), 125, 273
hanu mendoda (hal yang nyata), 219 i lolu (di bawah), 264
hanu motae-tade (hal yang nyata i luara (di luar), 264
tampak), 267 imba (nama gadis yang melanggar
hanu metoku (alam bayangan), 219 pantang kawin), 145
hanu nda kin i (hal yang tak tampak), Imbe nggo l a k o " a m u (ke mana hen-
267 dak pergi), 71
hanu teh'i (alam gaib), 219 i moeri (di kiri), 264
hanu toro (makhluk hidup), 268 ina (ibu), 116, 273
heiho (Jepang), 58 Inano i A m b o (ibu Ambo), 131
heo (ikut), 52 inea (pinang), 237, 275
hine (ipar), 272 Inea Sinumo, ... (aparat putera
hiu (Cina), 52 mahkota), 186
holunga (kalo pada hulu parang, dan Ineawi (tuak), 100
alat senjata lainnya), 104, 107, inggo'o o manu ... (hai kau ayam),
255 88
hudaka (anyaman tempat rokok), inolobu nggadue (wilayah hutan
101 bumi pusat Kerajaan Konawe),
huhu (lagu tanpa syair), 256 235
hulo taru (lampu aladin), 168 inoso (tembakau), 167, 237
humongo melua o beli (muntah inowa (aparat wilayah Selatan Kera-
darah, batuk), 167 jaan Konawe), 201, 272
Haluoleo (nama raja di Sulawesi ipe'ekato ... (silakan naik ...), 70
Tenggara) pada zaman Portugis, ipetaliando ... (silakan ...), 70
65, 183 i puhe (di pusat), 264
humoru (menenun), 276 i puheno o wuta (di pusatnya bumi),
humunu (membakar), 79 237
I i pu'u nggasu (di pohon), 237
i ra'i (di depan), 264
i ahoma (di hutan), 237 isara (nama syair kepahlawanan),
i ala ( di sungai), 237 246, 256, 257
i Ali pasuroko ... (si Ali yang meng- i tonga nggambo (di tengah wilayah
ajarimu ...), 171 kampung), 237
i bende (di Benteng Pertahanan), 235 i une (di dalam), 264
i bunggu (di belakang), 264 iwoi (air), 237, 268
ie inggomiu ombu ... (ya engkau
Allah ...), 188
K
i hana (di kanan), 264
ihi hino (isinya), 150 kabia (nama lagu perkenalan), 256
i koburu (di kubur), 237 kadu mbinokono (cukup pakaian),
i kumapo (di gua), 237 190
i laika (di rumah), 237 kaka (kakak, abang), 273
Ilambo ... (semasa engkau ...), 164 kalabandi (jenis alat pikulan), 101

398

PNRI
kalanggari (kain warna-warni), 251 kalo sambiala, ... (kalo perhiasan
kalata (jenis alat pikulan), 101 dada), 21, 295
kale-kale (gelang tangan), 101, 126, kalo sara (kalo adat), 21, 296, 297
255 kalo sara mbendulu (kalo adat keke-
kale lawu (cincin hidung kerbau dari luargaan), 23, 205
besi), 87, 99 kalo sara m b u ' u t o b u (kalo yang di-
kalepasi (gelang dari akar bahar), 106 pakai oleh tingkat kecamatan),
kalo (lingkaran, ikatan), 19-24, 296
36-37, 39-41, 43-44, 74-77, 81, kalo sara mekindoro'a (kalo yang di-
87-88, 93-97, 104, 106-107, 126, pakai untuk pengampunan), 296
138, 153, 171, 193, 205-207, kalo sara mokole (kalo khusus yang
209-217, 241-243, 250, 261, dipakai untuk Mokole), 296
279-282, 283-297, 298-299, kalo sara sokei (kalo yang dipakai
310-311 untuk damai karena kawin lari,
kalo eno-eno (kalo kalung), 21, 295 kawin rampas), 296
kalo holunga (kalo ikatan hulu kalo sara wonua (kalo yang dipakai
parang), 21 untuk melantik Mokole), 22, 206
kalo' kale-kale (kalo gelang tangan), kalo selekeri (kalo cincin kerbau), 21,
21, 205, 295 295
kalo kalelawu (kalo cincin hidung kalo tusa i tonga (kalo pengikat tiang
kerbau), 21, 295 tengah rumah, 21
kalo kalepasi (kalo gelang akar kalo sara ula-ula (kalo yang dipakai
bahar), 22 untuk pekabaran orang mening-
kalo kalunggalu (kalo ikat kepala), gal), 22, 206, 295
22 k a l a sara wonua (kalo adat pemerin-
kalo kinalo (kalo pengikat tanaman), tahan), 206
22, 295 kalo usu-usu (kalo pengikat kepala),
kalo lowani (kalo alat berkabung), 22
22, 206, 295 kaluku (kelapa), 237
kalo mbotiso (kalo alat patok tanah), kalunggalu (ikat kepala), 101, 135
22 Kambuka Sioropo, ... (nama putri
kalo ohotai ... (kalo penangkap Raja Konawe), 53
ayam hutan dan jenis burung), kamea-mea (pemerah bibir), 255
21, 295 Kamesi (Kamis), 223
kalo oho (kalo penangkap hewan kanda-kanda oa (jenis alat instru-
liar), 21, 295 mental), 256
kalo ohopi (jerat burung), 21, 295 kandengu-ndengu (jenis alat instru-
kalo otoho (jerat ayam hutan), 295 mental), 256
kalo o wongge (kalo pengikat kapinda (jenis alat transport), 101
wadah), 21 Kapita (aparat pertahanan), 187
kalo parado (kalo penangkap ker- kapita ama molepo (aparat pertahan
bau), 22 kerajaan di bagian darat), 186,
kalo pebo (kalo ikat pinggang), 22, 272
205, 295
399

PNRI
kapita lau (aparat pertahanan di k o m o m a k a t i a n o (masa bermain), 132
bagian laut kerajaan), 186, 272 kosangi-sangia (bersifat wali), 183
karada (tombak), 99 kototo (tekun, teratur), 133
karandu (gong), 150, 237, 256 kotubitara (hakim adat), 185
kasai (tombak berkait),99 kotumbenao (hewan korban saat
katilombu (jenis perangkap hewan nyawa seseorang hendak' mela-
liar), 99 yang), 168
katulungia (mendapat petunjuk dari kotupa (ketupat), 237
dewa), 232 kotupa nabi (nasi rasul), 127, 246
kawali (kuali), 99 kowea (pekabaran orang meninggal),
ken (Jepang), 58 169
Ken Kan Riken (Jepang), 58 kowuna (bambu), 275
keno sukoko i Gibrilu ... (jika kau kukua (silsilah), 256
ditanya oleh Jibril), 171 kowuna aso la (sepotong bambu),
kina (nasi), 100, 237 237
kinawo, 100 kulambu (perhiasan tabir), 246
kina barasandi (nasi bersanji), 127, kutika (kompas), 223
246
kinia (perisai), 99, 237 L
kiniku (kerbau), 150
kiniku mebanggona, 190, 285 Laduma (nama r a j a di Mekongga),
kiniku petanu mbopole (kerbau 53, 199,
berkepala dua), 183 lahuene (langit), 219, 251
kiniku sina noki'i ... (kerbau bila lai-lai (warna kombinasi), 251
telah melihat), 87 laika (rumah), 101
kiniwia (sore hari), 237 laika'aha (rumah besar), 235
kinoho (bahasa kiasan), 256 laika wuta (rumah di ladang), 101
kolele (hewan), 268 L a i n d o r o ( m a m a . mitos t e n t a n g
kolo (bersetubuh), 145 manusia pertama di bumi), 218
koloi (jenis wadah dari keramik), 100 laki' ana (kemenakan), 125
koloimba (nama telaga), 145 Lakidende (nama r a j a di Konawe),
kolopua (kura-kura), 257, 274 199
kolunggu (tempat kapur sirih), 100 lakoto po'iso (silakan tidur), 71
komali (nama istana raja), 101, 235 la loloso oleo {ferbit matahari), 233
kombilo (wadah tempat menyimpan la rumorambi'i tonga oleo (men-
tikar), 99 jelang tengah hari) 233, 237
kombolambuano i laika (masa lincah lambaga (jenis wadah dari keramik),
di dalam rumah), 132 100
kombombakaniano (masa berburu landaka (keranjang), 99
dan menggembala), 132 langgai (laki-laki), 262, 272
kongga (burung elang), 53 lanu momata (daun agel), 127
kongga owose (burung garuda), 183 lanu motaha (daun agel yang diberi
konio kohanu (tak ada malu), 141 warna merah), 127

400

PNRI
lapa-lapa (nasi lebaran), 127 M
Lapabuka (nama orang pertama
yang dipandang sebagai pen- maido (hijau), 251
duduk pertama), 199 makuwali (bersahabat dengan jin),
lariangi (tarian penyembahan), 246, 234
256, 258 mama (paman), 273
mandara (ahli, trampil), 133
Larumbalangi (nama raja pertama di Mandarano Wonua (ahli pemerintah-
Mekongga), 51, 52 an), 60
lasuna (bawang), 100, 167 manggilo (sunatan), 126, 135, 236
L a t u a n d a (nama seorang d u k u n manu rasa wula (ayam keemasan), 76
terkenal yang pernah menyem- marisa (merica), 167
buhkan wabah penyakit), 199 mata leleanggia (nama bulan), 221
La tombili (nama seorang raja yang mata loso (nama bulan pertama di
ikut dalam perjanjian antara
langit), 221, 237
orang Belanda dengan orang
mata mbusu (nama bulan ketiga
Tolaki), 55
puluh di langit), 222
lembara (usungan mayat), 102, 152
mata nde'ue (nama bulan kesem-
leundo pongga (mari makan), 71
bilan di langit), 221, 237
lo'io Gahe), 167, 237
mata nggawe (nama bulan ketiga di
lokua (areal tempat berburu), 90
langit), 221
lolama (bahasa kiasan), 256
mata omehe (nama bulan keenam
Lombo-lombosa (nama seorang raja
belas di langit), 221
di Mekongga), 53
mata tindo (nama bulan ketujuh di
londoi (alat transport di sungai), .102
langit), 221
losoano oleo (Timur), 267
mateaha (kematian), 236
lowani (ikat kepala tanda
mbeo'ana (ayah, ibu, anak), 109
berkabung), 169, 237
lua-luano wawo kintal raha (tanaman mbeo'ana nggotukombo (saudara se-
jangka panjang yang luas), 283 kandung bersama anak-anak-
nya), 109
lulo hada (tarian monyet), 258 mbeo'aso mbue (satu asal nenek
lulo lariangi (tarian pemujaan), 258 moyang), 122
lulo leba (tarian cepat dan langkah mbeohai n g g o t u k o m b o mbeowali
panjang), 258 mbeo'ana (semua saudara se-
lulo molulo (tarian umum), 258 kandung dan suami-suami dan
lulo n d i n u k a - t u k a (jenis t a r i a n istri-istri mereka dan anak-
umum), 258 anaknya), 122
lulo sinemba-semba (jenis tarian mbeo'eia mbeohine mbeowali mbeo'-
umum) 258 ana (semua ipar laki-laki dan
lulo sangia (tarian pemujaan), 246, ipar perempuan, dan suami-
258 suami serta istri-istri, dan anak-
lumanda (menginjak serbuk sagu), 84 anaknya), 122

401

PNRI
mbeolaki'ana (paman-bibi dan keme- dan segala barang makanan
nakan-kemenakan) 109 pada pesta), 176
mbeolaki'ana mboteha (paman-bibi mbu'uwingi (nama samaran dari
sepupu dan kemenakan sepupu), tikus), 282
109 mbuwaka (dukun sunatan), 135
mbeolaki'ana nggotukombo (paman- me'alo m e o ' a m a (kawin dengan ayah
bibi kandung dan kemenakan kandung), 143, 145
kandung), 109 me'alo meobaisa (kawin dengan
mbeopoteha mbeo'eia mbeohine menantu, kawin dengan mer-
mbeoasa mbeobea mbeowali tua), 143, 145
m b e o ' a n a (semua saudara se- me'alo meo'ana (kawin dengan anak
pupu, ipar laki-laki, ipar perem- kandung), 143, 145
puan, dan suami-suami serta me'alo meo'ina (kawin dengan ibu
istri-istri mereka, dan anak- kandung), 143
anaknya), 122 me'alo meopoteka (kawin dengan
mbeopoteha mbeowali m b e o ' a n a saudara sepnpu), 157
(saudara sepupu dan suami- me'alo meohine (kawin dengan ipar),
suami dan istri-istri mereka, dan 143, 145
anak-anaknya), 122 me'alo m e o k o t u k o m b o (kawin de-
mbeopue-mbue (kakek-nenek dan ngan saudara kandung), 143
cucu), 109 me'alo meolaki'ana (kawin dengan
mbeopuesele-mbuesele (kakek-nenek kemenakan), 143, 145
tingkat tiga dan cece), 109 me'alo meonaina (kawin dengan
mbeopuetuko-mbuetuko (kakek- bibi), 143, 145
nenek tingkat dua dan cici), 109 mebele (main tempurung), 133, 276
mbera hanu motoha (segala barang mebiti (main betis), 276
rumah tangga, misalnya gong, mebualako (melamar), 158
tempayan dan lain-lain), 236 medada (main tapak tangan), 276
mbera hanu halusu (segala barang medudulu (suka bersatu), 190
halus termasuk makhluk halus), medulu (bersatu), 97, 126, 142
227 medulu mbenao (bersatu hati), 192
mbirito (sampah masyarakat, ung- medulu mbo'ehe (satu dalam kehen-
kapan dari binatang melata), dak), 192
294 medulu mbona (satu dalam pen-
mbu'akoi (dukun umum), 38, 167, dapat), 192
181, 192, 195, 209, 272 medulu mepokO'aso (satu kesatuan),
mbue (cucu), 273 192, 284
mbuowai (dukun penyakit, dukun me'eto (hitam), 251
padi) 38, 197 mehau-hau (duduk bertengger), 205
mbusehe (dukun upacara), 38, 181, mehule (main gasing), 133, 276
197 me'irou (sopan) 77
mbusopu (pandai besi), 195 mekaputi (ikat mengikat), 146
mbutotomba (tukang bagi daging, mekatende (main batu kerikil), 133

402

PNRI
mekindoroa (pengampunan hukum- rajat dua), 109
an mati), 236 meopoteha monggo tolu (sepupu de-
mekotukombo (saudara kandung), rajat tiga), 109
108 meorawesi (nama bulan kelima di
melaika'aha (berumah besar), 191 langit), 221
melaika (mendirikan rumah), 276 meoro (mencari ikan pakai keran-
melanggahako (kawin karena sudah jang), 276
hamil), 158 meosanggina (suami-istri), 109, 117
meloso'ako (meminang), 148, 150, meosa'o (istri dan istri dari seorang
151 suami), 111
meo'ama meo'ina (ayah, ibu, dan meosa'olowa (kata lain dari meo-
anak), 117 sa'o), 111
meo'asa (ipar dan ipar), 110 meowali (suami-istri), 109, 111, 116
meo'awo (ayah tiri, ibu tiri dan anak me'owikoro (mengolah ubi gadung),
tiri), 111 276
meobaisa (mertua dan menantu), mepakawi (kawin), 126, 236
108, 111 mepido (main kemiri), 133
meobaisa mboteha (mertua sepupu mepokui (potong rambut), 126, 236
dan menantu sepupu), 111 mepori (hati-hati, tekun dalam me-
meobaisa n g g o t u k o m b o (mertua ngerjakan dan memakai sesuatu
kandung dan menantu kan- barang), 24, 231, 288
dung), 111 merou (sopan santun), 22, 77, 231
meobea (ipar dan ipar), 110 merondu (upacara potong hutan),
me'obu-obu (duduk melingkar), 22 81, 236
meo'ela (ipar dan ipar), 109 merapu (hidup berumahtangga), 142
meohai aso ama aso ina (saudara mesanggina (hidup berumahtangga),
kandung seayah dan seibu), 108 142
meohai aso ama suere ina (saudara mesarungga (bertopeng), 229
kandung seayah dan lain ibu), mesokei (adat membentengi diri), 158
108 mesosambakai (upacara pemandian
meohai suere ama aso ina (saudara bayi pertama), 127. 128, 236
kandung lain ayah seibu), 108 mesik! (main ceki), 276
meohai (sekandung), 108 mesida (rajin, tekun, 133
meohine (ipar laki dan ipar perem- mesilo-silo (mata mengerling), 261
puan), 110 mesingga lako dowo (neolokal), 160
meo'ina meo'ana (ibu dan anak), 108 mesuna (sunatan), 135, 236
meoko'auhi (berbuat agar dirindu- metabea (izin secara sopan), 71
kan), 171 metaboriri (berkeliling membuat ling-
me'onaha (mengambil pandan), 276 karan), 22
meopoteha (sepupu dan sepupu), 108 metabea (minta izin untuk liwat, un-
meopoteha monggo aso (sepupu de- tuk melakukan sesuatu pekerja-
rajat satu), 109 an), 71
meopoteha monggo ruo (sepupu de- mete'ia inimo (menjaga kebun dari

403

PNRI
gangguan hama), 79 sampai datangnya Belanda di
mete'alo-alo (tolong-menolong, sa- tanah Tolaki), 55
ling menanam budi, 190, 284 Mokole A n d o ' o l o (raja daerah isti-
metaho (memasang jerat), 276 mewa Ando'olo), 186
metirangga (upacara pendahuluan mokuni (kuning), 251
menjelang upacara nikah), 135, molonggo (menghitung jumlah hasil
153 panen padi ladang), 79, 81
metiro (lamaran jajagan dalam pro- molulo (melakukan t-arian lulo), 136,
ses perkawinan), 140, 148 176, 256
metomusako (duduk, berdiri mem- moluale (menjadi gadis), 139
buat lingkaran), 22 molambu-mataomehe (nama bulan
metotoro oloho ... (ungkapan: umur keempat belas dan kelima belas
panjang), 190 di langit), 151, 221
me'ue (merotan), 276 mombali (mengelilingkan ayam sebe-
metonggo (main judi pakai tongko), lum dilepas), 22
276 momama (makan tembakau), 100
mewaka (sunatan), 135, 236 m o m b a d o (berlaku pantang), 23
mewala (memagari ladang), 79 mombokulaloi (menunjukkan rasa
m o ' a n a (menganyam), 276 hormat kepada seseorang), 71
m o ' a n a ambahi (menganyam tikar), mombe'owose (kata lain yang artinya
276