Anda di halaman 1dari 11

STUDI PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) DI SUNGAI

SIBUNDONG UPPER KABUPATEN TAPANULI UTARA PROVINSI SUMATERA


UTARA

Nadia Ulfah1, Suwanto Marsudi2, Pitojo Tri Juwono2


1
Mahasiswa Program Sarjana Teknik Jurusan Pengairan Universitas Brawijaya
2
Dosen Jurusan Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
1
nadiaulfah26@gmail.com

ABSTRAK
Bertambahnya jumlah penduduk mengakibatkan krisis energi listrik khususnya di wilayah Sumatera
Utara, karena terbatasnya sumberdaya yang takterbarukan maka dicari alternatif lain untuk
menanggulangi krisis listrik tersebut, maka dimanfaatkan aliran sungai Sibundong yang berpotensi
besar untuk dijadikan PLTA yang nantinya diharapkan bisa mengatasi krisis energi listrik di Sumatera
Utara. Studi ini dilakukan untuk mengetahui besarnya debit andalan yang digunakan untuk
keperluan pembangkit PLTA dan untuk mendesain bangunan hantar PLTA mulai dari intake, kantong
lumpur, waterway, headpond, penstock dan tail race, selain itu debit andalan juga digunakan untuk
menghitung dimensi turbin, kecepatan putar turbin dan generator, kavitasi, elevasi pusat titik turbin
dan menghitung daya dan energi yang di hasilkan tiap tahun dan bagaimana hasil analisa ekonomi
apakah PLTA Sibundong Upper layak untuk dibangun atau tidak, analisa ekonomi dalam studi ini
menggunakan parameter BCR, NVP, IRR, Analisa Sensitivitas dan Payback Period. Dari analisa
perhitungan yang dilakukan, menggunakan debit andalan 60% (Q60) sebesar 13,04 m3/det dan
didapatkan tinggi jatuh efektif sebesar 143,86 m. Dengan debit andalan dan tinggi jatuh tersebut
PLTA direncanakan menggunakan turbin Francis dengan poros horizontal dan didapatkan daya
sebesar 2 x 8,04 MW dan energi sebesar 83,96 GWh pertahun dengan nilai Capacity Factor (CF)
sebesar 59,59%. Penstock direncanakan dengan panjang 470 m dengan adanya percabangan,
penstock utama berdiameter 2m dengan panjang 420 m, penstock cabang berdiameter 1,4 m
dengan panjang 50 m dengan ketebalan penstock 21 mm. Dari analisa ekonomi yang dilakukan
dengan menggunakan suku bunga 6,5% didapatkan nilai BCR = 1,64, NPV = Rp. 508.086.525.453,19,
IRR = 12,52% dan payback period selama 7 tahun. Kata kunci: PLTA, daya dan energi, analisa
ekonomi, debit andalan, Sumatera Utara
PERHITUNGAN
Berdasarkan hasil analisa hidrolika, besarnya dimensi bangunan tail race adalah:

Debit pembangkit (Qp) = 13,04 m3/det


Debit desain (Qd) (1,1 x Qp) = 14,34 m3/det
Lebar tail race =8m
Panjang tail race = 63,90 m
Elevasi ambang tail race = + 673,5 m
Elevasi tail water level (TWL) = + 674,47 m

Data teknis yang gunakan untuk perhitungan adalah:


Tinggi jatuh kotor (Hg) = 151,22 m
Debit pembangkit (Qp) = 13,04 m3/dt
Headloss (HL) = 6,05 m
Tinggi jatuh efektif (Heff) = 145,17 m
Daya (P) = 16,23 MW = 16230 kw

Tinggi Jatuh Efektif :


Tinggi jatuh efektif (Heff) dapat diperoleh dengan mengurangi tinggi jatuh kotor (Hg) dengan
total kehilangan tinggi (headloss).
Heff = Hg – Total Headloss
= (El. M.A Headpond – El. TWL) – (total headloss)
= (825,69 – 674,47) - (7,36)
= 151,22 – 7,36
= 143,86 m
Daya dan Energi :
Keuntungan suatu proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) ditentukan dari besar daya
yang hasilkan dan jumlah energi yang dihasilkan tiap tahun. Dari hasil analisa kurva durasi
aliran (Flow Duration Curve, FDC) serta besarnya nilai tinggi jatuh dari hasil analisa topografi
melalui konsep desain rencana PLTA Sibundong Upper. Perhitungan besarnya daya dan
energi listrik dapat dihitung menggunakan persamaan berikut:

P = 9,81 × Q × Heff × ɳturbin × ɳgenerator


E = 9,81 × H × Q × ɳ × 24 × n
= P × 24 ×n
dengan:
P = daya yang dihasilkan (kW)
E = energi (kWh)
Q = debit pembangkit (m3/det)
Heff = tinggi jatuh efektif (m)
ɳ = efisiensi turbin dan generator
n = jumlah hari operasional

P = 9,81 × Q × Heff × ɳturbin × ɳgenerator


= 9,81 × 13,4 × 143,86 × 0,92 × 0,95
= 16,08 MW

KECEPATAN PUTAR TURBIN dan GENERATOR


Kecepatan spesifik coba-coba (trial specific speed):

1,924
NQE1 = H
1, 924
= 143,83 0,512
=0,15
Besarnya nilai spesifik coba-coba (NQE’) ini harus dikontrol, apakah Ns-max ≤ 3200 H-2/3.
Dari hasil perhitungan Ns-max di dapatkan nilai Ns-max sebesar 142,37 m kW, sehingga
142,37 ≥ 114,50 atau Ns-max ≥ 3200 H-2/3 sehingga hasilnya tidak kontrol. Maka nilai NQE’
harus dihitung secara coba-caoba (trial & error) sehingga didapatkan nilai NQE’ sebesar 0,1.
Kecepatan spesifik:

Ns = 955 x NQE’
= 955 x 0,1
= 98,47 m, Kw
Kecepatan putaran turbin dengan persamaan:

dimana:
n = kecepatan putaran turbin (t/det)
E = energi potensial (Hg)
Maka,
Turbin direncanakan dengan menggunakan generator tipe sinkron dengan frekuensi
(f) 50 Hz maka kecepatan sinkron generator sama dengan kecepatan putar turbin maka
kecepatan sinkron generator:

f
n = 120 ×
P
dimana: P = Jumlah pole (harus genap) maka,

120× f
P = n
120× 50
= 500,06 = 11,99

Penentuan Elevasi Titik Pusat Turbin


Dikarenakan nilai kutub (pole) generator harus memiliki nilai genap dan tidak berbentuk
bilangan desimal, maka jumlah kutub (pole) dibulatkan menjadi 12 buah.
Penentuan Elevasi Titik Pusat Turbin Analisa titik pusat turbin sangat berpengaruh terhadap
gejala kavitasi, penempatan turbin yang tidak tepat akan menyebabkan kavitasi terjadi pada
turbin. Jadi, koefisien Thoma kritis (σc) untuk turbin francis dapat dihitung dengan
persamaan: (Mosonyi, 1991:843)

= 0,05
-Hb = Ha – Hv = 9,33 – 0,24 = 9,09 m

- Tinggi hisap turbin: Hs = Hb – σ Heff = 9,09 – 0,05. 143,86 = 1,98 m


RANCANG BANGUN MINIATUR PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) DENGAN
KAPASITAS 9 WATT / 0,3 VOLT

Anhar Khalid
Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin
Politeknik Negeri Banjarmasin

ABSTRAK
Dalam kehidupan sehari hari manusia tidak akan lepas dari keperluannya terhadap air. Jadi
air memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Selain untuk keperluan sehari
hari air juga di mamfaatkan untuk hal hal seperti; media transportasi dan tenaga gerak.
Kincir adalah pesawat tenaga air yang mula mula di buat oleh manusia untuk mengubah
tenaga air menjadi tenaga gerak kincir air terdiri dari sebuah roda jalan dengan sudu sudu
yang di letakkan di kelilingi roda jalan tersebut. Sehingga apabila air tersebut yang mengalir
mengenai sudu sudu maka roda tersebut berputar kincir terdapat menggerakan pada
saluran terbuka, maka sulitlah membuat air tenaga besar. Selain itu putaran kincir air
rendah kira kira sekitar 100-200 rpm.
PERHITUNGAN

Luas alas Tandon = = 0,282 m2


Volume Tandon = luas alas x tinggi = 1,7x0,282= 0,480 𝑚3
Berat air dalam dalam tandon ditentukan dari masa jenis air (1000kg/𝑚3) Maka berat air adalah

1000
0,480 × = 480 KG
1
m
F = M.g = 480 kg x 9,8 = 4709 N
s

Perhitungan harga – harga yang ada pada Kincir air

H = 1,75m

1
diameter pipa = 12,7 mm atau
2
inch = 0,0127 m
n = 200 𝑚𝑖𝑛−1
y = kedalaman tandon
Keterangan:
H = tinggi jatuh air (m)
ϱ = massa jenis air (kg/𝑚3)
c = kecepatan aliran air (𝑚 𝑠 ⁄ )
V = debit air (𝑚3 𝑠 ⁄ )
𝑛𝑞 = Kecepatan spesifik
n = kecepatan (𝑚𝑖𝑛−1)
𝑢 = kecepatan keliling roda kincir (𝑚 𝑠 ⁄ )
𝐷 = diameter roda kincir (mm)
𝜂𝑇 = randemen kincir 𝑚 = acuan massa (𝑘𝑔 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 ⁄ )
P = daya yang dihasilkan kincir (KW)
𝑔 = gravitasi (𝑚 𝑠 ⁄ )
A = luas suatu bidang (𝑚2)
y = kedalaman tendon (m)
t = waktu yang diperlukan air dari atas turun ke bawah (detik)
Keterangan :
P = daya (KW)
n = putaran poros (𝑚𝑖𝑛−1)
𝑓 𝑐 = factor koreksi
𝑃𝑑= daya rencana (KW)
𝜏𝑎 = tegangan geser izin (kg/𝑚2)
𝑇 = momen rencana (kg.mm)
𝜎𝐵= kekuatan tarik bahan (kg/𝑚2)
STUDI PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR DI KABUPATEN ROKAN HULU
PROVINSI RIAU

Cynthia Puspa Luvita1, Pitojo Tri Juwono2, Prima Hadi Wicaksono2


1Mahasiswa Program Sarjana Teknik Jurusan Pengairan Universitas Brawijaya
2Dosen Jurusan Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
1cynthia.luvita@gmail.com

ABSTRAK
Sebagian besar wilayah provinsi Riau belum sepenuhnya mampu mengatasi defisit listrik,
karena terbatasnya sumberdaya terbaharukan yang belum mampu mengatasi kebutuhan
listrik di provinsi Riau. Dalam hal pemerataan penyediaan listrik, maka dimanfaatkan aliran
sungai Rokan Kiri yang berpotensi untuk dijadikan PLTA yang nantinya diharapkan dapat
mengatasi krisis energi listrik di Riau. Studi ini dilakukan untuk mengetahui besarnya debit
andalan, hidraulika dan dimensi bangunan PLTA, besarnya energi listrik paling efektif
berdasarkan kelayakan teknis maupun ekonomi. Studi ini berlokasi di bendungan di sungai
Rokan Kiri dengan memanfaatkan debit pada bendungan. Langkah awal pada studi ini
adalah analisa debit yg digunakan untuk mendesain bangunan PLTA mulai dari intake,
terowongan, penstock, dan tailrace, selain itu digunakan untuk mendesain turbin air,
menghitung daya dan energy yang dihasilkan. Analisa ekonomi dalam studi ini
menggunakan parameter BCR, NPV, IRR, Analisa Sensitivitas dan Payback Period. Hasil
analisa menunjukan debit andalan terpilih yang digunakan sebagai debitpembangkit adalah
debit outflow dari simulasi waduk sebesar 55,82 m3/dt dan didapatkan tinggi jatuh efektif
sebesar 9,97 m. PLTA dibangun dengan komponen bangunan sipil (pintu pengambilan,
terowongan, pipa pesat, tangki gelombang, saluran pembuang, dan rumah pembangkit) dan
komponen bangunan pembangkit (turbin dan hidromekanikal). Total biaya pembangunan
sebesar 1,06 milyar rupiah dengan nilai BCR 1,54, NPV 574 milyar rupiah, IRR 10,64% dan
Payback Period 11,9 tahun, sehingga pembangunan PLTA layak secara ekonomi.
PERHITUNGAN

Daya dan Energi


Keuntungan suatu proyek Pembangkit Listrik tenaga Air ditentukan dari besar daya yang
dibangkitkan dan jumlah energy yang dihasilkan tiap tahun. Daya listrik yang dibangkitkan
dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
P = 9,81 x Q x Heff x ηturnin x ηgenerator
= 9,81 x 55,82 x 9,73 x 0,92 x 0,95
= 14,40 MW
E = P x 24 x n
Dari persamaan energi di atas, maka didapatkan total energi pertahun sebesar 90.163.397
kWh.
Tinggi Jatuh Efektif Tinggi
Tinggi jatuh efektif adalah selisih antara elevasi muka air pada bangunan pengambilan atau
waduk (EMAW) dengan tail water level (TWL) dikurangi dengan total kehilangan tinggi tekan
(Ramos, 2000). Persamaan tinggi jatuh efektif adalah:
Heff = E.MAW – TWL – hl
Dimana: Heff : tinggi jatuh efektif (m)
EMAW : elevasi muka air waduk atau hulu bangunan pengambilan (m)
TWL : tail water level (m)
Hl : total kehilangan tinggi tekan (m)

Turbin Air
Dalam pemilihan jenis turbin harus diperhatikan karakteristik dari masingmasing turbin,
turbin reaksi biasanya digunakan untuk pemangkit listrik dengan tinggi jatuh kecil sampai
dengan sedang, sedangkan turbin impuls digunakan untuk tinggi jatuh yang besar. faktor
lain yang perlu diperhatikan adalah tentang putaran (n) dan kecepatan spesifik turbin (Ns),
karena kecepatan spesifik turbin merupakan karakteristik yang mendasari dalam
perencanaan turbin. Dimana kedua parameter tersebut dihitung dengan persamaan :

dimana:
Ns : kecepatan spesifik turbin (mkW)
N : kecepatan putar/sinkron (rpm)
P : daya (kW) H : tinggi jatuh efektif (m)
f : frekuensi generator (Hz)
P : jumlah kutub generator

Nilai n bisa didapatkan dengan melakukan nilai coba-coba denan persamaan:


Turbin francis

Jatuh efektif dapat diperoleh dengan mengurangi tinggi jatuh kotor (Hg) dengan total
kehilangan tinggi (headloss).

Tinggi jatuh efektif dapat dilihat pada tabel di bawah ini:


Tabel 4. Perhitungan Tinggi Jatuh Efektif (Net Head)