Anda di halaman 1dari 80

445 / TEKNIK MATERIAL

LAPORAN AKHIR
PENELITIAN BANTUAN OPERASIONAL
PERGURUAN TINGGI NEGERI ( BOPTN )

JUDUL PENELITIAN

PERLAKUAN AMPAS BIJI KAPUK RANDU DAN SEJENISNYA


UNTUK BAHAN KAMPAS REM

Tahun ke 1 (pertama) dari rencana 2 (dua) tahun

TIM PENGUSUL

DR. Eng. Gunawan Dwi Haryadi, ST, MT NIDN : 0023117005


Ir. Bambang Sri Waluyo, M.Si NIDN : 0016035904
Ir. Senen, ST, MT NIDN : 0002054903

Dibiayai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat


Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditlitabmas Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun Anggaran 2013, melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA )Universitas Diponegoro
Nomor DIPA-023.04.2.189815/2013 tanggal 05 Desember 2012

UNIVERSITAS DIPONEGORO
NOVEMBER 2013
i
ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR GAMBAR v
DAFTAR TABEL vii
ABSTRAK viii
BAB I. PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Tujuan Penelitian 4
1.3. Urgensi Penelitian 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 8
2.1. Komposisi Bahan Mampu Gesek 9
2.2. Kajian Serat Alam Sebagai Serat Mampu Gesek 10
2.3. Perlakuan Serat Alam 14
2.4. Pola Penyusunan Serat 15
2.5. Pemilihan Matrik 15
2.6. Sintering 16
2.7. Kapuk Randu 17
BAB III. METODE PENELITIAN 18
3.1. Diagram Alir Penelitian 18
3.2. Peralatan yang Digunakan 23
BAB IV. PELAKSANAAN PENELITIAN 31
4.1. Penyediaan Bahan Baku 31
4.2. Pengeringan Biji Kapuk 32
4.3. Pengujian Komposisi Biji Kapuk 32
4.4. Penggilingan Biji Kapuk 33
4.5. Pembuatan Abu 34
4.5.1. Penimbangan Serbuk Biji Kapuk 34
4.5.2. Pemanasan / Pembakaran Serbuk Biji Kapuk 34
4.5.3. Penimbangan Abu Biji Kapuk 35
4.6. Pengujian Kualitas Abu 36
4.7. Perlakuan Kimia Abu Biji Kapuk 37

iii
4.8. Pembuatan Spesimen 38
4.8.1. Pencetakan dan Kompaksi Abu 38
4.8.1. Sintering 39
4.9. Pengujian Spesimen 41
4.9.1. Pengujian Kekerasan 41
4.9.1. Pengujian Laju Keausan 42
4.9.1. Pengujian Lentur 42
BAB V. HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN 45
5.1. Hasil Pengujian 45
5.1.1 Hasil Pengujian Gesek 45
5.1.2. Hasil Pengujian Lentur 46
5.1.3. Hasil Pengujian Kekerasan 48
5.2. Pembahasan 49
5.2.1. Pengaruh Komposisi Resin terhadap Kelenturan Material 49
5.2.2. Pengaruh Komposisi Resin terhadap Kekerasan Material 51
5.2.3. Pengaruh Komposisi Resin pada Laju Keausan Spesimen 53
BAB VI. PENUTUP 55
6.1. Kesimpulan 55
6.1. Saran 55
DAFTAR PUSTAKA 56
Lampiran 1. Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas 61
Lampiran 2. Biodata Peneliti 62

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Sistem pengeremen disc brake di roda 9


Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian 19
Gambar 3.2. Wadah Penjemuran 23
Gambar 3.3. Saringan Biji 24
Gambar 3.4. Mesin Giling Biji 24
Gambar 3.5. Timbangan 25
Gambar 3.6. Tungku Pemanas (furnace) 25
Gambar 3.7. Burner 26
Gambar 3.8. Thermometer 26
Gambar 3.9. Alat Sieving 27
Gambar 3.10. Density meter 27
Gambar 3.11. Alat Sintering 28
Gambar 3.12. Dial Indicator 28
Gambar 3.13. Brinell Hardness Tester 29
Gambar 3.14. Alat Uji Lentur 29
Gambar 3.15. Alat Uji Keausan 30
Gambar 4.1. Pohon Kapuk Randu 31
Gambar 4.2. Biji Kapuk Randu 31
Gambar 4.3. Pengeringan Biji Kapuk 32
Gambar 4.4. Penggilingan Biji Kapuk 33
Gambar 4.5. Penimbangan Serbuk Biji Kapuk 34
Gambar 4.6. Pembakaran Serbuk Biji Kapuk 35
Gambar 4.7. Penimbangan Abu Biji Kapuk 35
Gambar 4.8. Mesh ukuran 200 36
Gambar 4.9. Spesimen Hasil Kompaksi 38
Gambar 4.10. Skema Pemanasan dan Pendinginan pada Temperatur Sintering
Komposit (Polyester Resin) 40
Gambar 4.11. Skema Pemanasan dan Pendinginan pada Temperatur Sintering
Komposit (Epoxy Resin) 40
Gambar 4.12. Uji Kekerasan dengan Metode Brinell 41
Gambar 4.13. Three Point Bending 43
Gambar 5.1. Grafik Hasil Pengujian Lentur pada Spesimen Resin Polyester 49

v
Gambar 5.2. Grafik Hasil Pengujian Lentur pada Spesimen Resin Epoxy 49
Gambar 5.3. Grafik Hasil Pengujian Kekerasan pada Spesimen Resin Polyester 51
Gambar 5.4. Grafik Hasil Pengujian Kekerasan pada Spesimen Resin Epoxy 51
Gambar 5.5. Grafik Hasil Pengujian Laju Keausan pada Spesimen Resin
Polyester 53
Gambar 5.6. Grafik Hasil Pengujian Laju Keausan pada Spesimen Resin Epoxy 53

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Sifat mekanik beberapa serat alam 12


Tabel 4.1. Komposisi Biji Kapuk Randu 33
Tabel 4.2. Data Pengujian Massa Jenis Abu Biji Kapuk 36
Tabel 4.3. Komposisi Perlakuan Alkali pada Abu Biji Kapuk 37
Tabel 4.4. Komposisi Perlakuan Benzoyl pada Abu Biji Kapuk 37
Tabel 4.5. Komposisi Perlakuan Alkali pada Abu Biji Kapuk 37
Tabel 5.1. Hasil Pengujian Keausan pada Spesimen dengan Resin Polyester 45
Tabel 5.2. Hasil Pengujian Keausan pada Spesimen dengan Resin Epoxy 46
Tabel 5.3. Hasil Pengujian Lentur pada Spesimen dengan Resin Polyester 47
Tabel 5.4. Hasil Pengujian Lentur pada Spesimen dengan Resin Epoxy 47
Tabel 5.5. Hasil Pengujian Kekerasan pada Spesimen dengan Resin Polyester 48
Tabel 5.6. Hasil Pengujian Kekerasan pada Spesimen dengan Resin Epoxy 48
Tabel 5.7. Keterangan Grafik 50
Tabel 5.8. Keterangan Grafik 52
Tabel 5.9. Keterangan Grafik 54
Tabel 5.10. Keterangan Grafik 50

vii
ABSTRAK

Indonesia merupakan negara kaya akan serat alam tanaman (natural fiber) dan serat
alam mineral/tambang. Serat alam tanaman dapat diperoleh dari hasil dan atau limbah
tanaman meliputi karet (getah, ampas biji), mete (chesew), kelapa (serabut, tempurung dan
pelepah), kelapa sawit (tandan kosong, ampas padat, kulit biji dan pelepah), kapuk randu
(kapas, ampas biji), bambu, sekam padi, janggel jagung, ampas tebu, limbah perkebunan dan
pertanian. Selanjutnya serat alam mineral dapat bersumber dari logam dan non logam. Serat
alam logam meliputi perunggu (cooper), kuningan (bronze), alumunium, tembaga, besi
tuang dan serat logam lain. Sedangkan serat alam non logam meliputi paduan (silika,
alumina, zirconia), batu alam, grafit, keramik dan batuan alam. Aplikasi serat alam dan serat
mineral terutama non logam sebagai bahan kampas rem secara bertahap dilakukan dengan
seleksi bahan serat (jenis), perlakuan (kimia dan fisik) awal bahan, uji kualitas bahan murni,
seleksi pengikat (binder), penentuan susunan serat, pembentukan bahan komposit, perlakuan
panas (heat treatment) dan uji kualitas bahan komposit. Serat alam (yang telah diurai) diberi
perlakuan secara kimia meliputi perlakuan permukaan (acetylation) (Rowell at al., 1998),
silane (Wang at. al., 2003) dan peroxide (Joseph at al., 1999). Perlakuan permukaan
dilakukan dengan reaksi acetic anhydride untuk memperbaiki kekuatan antar permukaan
(interfacial). Perlakuan silane dilakukan untuk meningkatkan kekuatan serat sisi dalam
(inner strength) di mana perlakuan diawali dengan perlakuan alkali untuk mengaktifkan
gugus OH dari selulose dan lignin. Selanjutnya perlakuan peroxide dilakukan untuk melapisi
serat dengan decumyl peroxide. Kemudian serat alam diberi perlakuan fisik melalui
pemanasan pada kondisi terukur, penempaan dan pendinginan dengan kondisi terukur.
Pengujian serat baik yang diberi perlakuan dan tidak diberi perlakuan dilakukan untuk
menentukan karakteristik dan kualitas serat alam murni ampas biji kapuk randu. Mekanisme
pembentukan bahan kampas rem dengan bahan serat alam, serat mineral non logam dan
pengikat meliputi butirisasi bahan, penentuan komposisi, pencampuran, pemadatan,
perlakuan panas (sintering) dan uji kualias produk. Uji kualitas bahan kampas rem dilakukan
secara bertahap meliputi pengujian serat alam murni, pengujian serat alam murni dengan
perlakuan dan pengujian spesimen komposit kampas rem. Pengikat spesimen komposit
kampas rem menggunakan phenolic resin, polyester dan akrilic. Dan uji unjuk kerja bahan
kampas rem untuk tahap awal lebih ditekankan pada koefisien gesek, kekuatan permukaan
(wear), sifat abrasive, kekerasan dan kekuatan tekan.

Key word: rem, kapuk randu, serat alam, abu, perlakuan, gesek, komposit

viii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengembanganan serat alam sebagai bahan yang mampu menerima beban
gesek (friction material) mulai dikaji dan dianalisa kembali sehubungan efek
serbuk bahan rem (brake) dan kopling (clutch) sekarang berpengaruh besar
terhadap kualitas lingkungan/kesehatan. Di sisi lain ketersediaan serat alam cukup
melimpah, murah, kompetitif, dapat diperbaharui dan ramah lingkungan. Aplikasi
produk utama perkebunan (karet, kapuk randu, bambu dan rotan) sebagai serat
lebih banyak dikembangkan ke produk utama bahan komposit yang cenderung
memfokuskan pada sifat/kualitas kekuatan tarik dan kekuatan tekan meliputi
produk asesoris mobil, produk rumah tangga, produk mebel, bangunan dan ban.
Produk ban (tire) terbaru dekade terakhir cenderung diproduksi dengan komposisi
yang didominasi serat sintetis. Produk samping hasil pertanian/perkebunan yakni
kulit mete (chasew) telah diaplikasikan sebagai penguat pada material mampu
gesek (Bahadur, ; Blau, 2001). Selain fokus produk utama perkebunan/pertanian,
potensi aplikasi serat alam sebagai material mampu gesek dapat digali dari
produk samping (limbah) perkebunan meliputi kelapa sawit (ampas, tandan
kosong, kulit biji, pelepah), kelapa (tempurung/batok, serabut, pelepah), rotan
(kulit, akar), limbah pertanian (kulit padi, batang jagung, ampas tebu), kapuk
randu (kapas, biji dan bahan ikutan) dan limbah sampah (karet, kertas, plastik).
Potensi serat alam dari limbah padat kelapa sawit meliputi tandan buah kosong,
serat perasan buah, bungkil inti sawit, cangkang, solid dan limbah lain (Sutomo,
2001 dalam Utomo at. all., 2004). Selanjutnya potensi serat alam dari limbah
kelapa terdiri tempurung, serabut, pelepah (humas@litbang.deptan.go.id, 2005;
Abidin, 2003). Potensi limbah rotan sebagai serat dapat diperoleh dari kulit luar
rotan. Dan pengembangan serat alam dari limbah pertanian dapat digali dari
sekam padi, jerami, sabut jagung, janggel jagung dan ampas tebu. Meskipun
potensi serat alam cukup besar dan melimpah di Indonesia, namun aplikasi serat

1
alam sebagai bahan mampu gesek (kampas rem) skala industri masih terfokus
pada karet dan kulit mete.
Potensi serat kapuk randu dapat digali dari kapas, biji kapuk randu dan
bahan ikutan lain cukup besar di Indonesia. Sebelum Perang Dunia II, 80 persen
pasokan kapuk dunia berasal dari Indonesia dan 60 persennya berasal dari Jawa
Tengah (Budianto, 2006). Karena itulah di dunia internasional, Jawa Tengah
dikenal dengan sebutan "java kapuk" yang artinya kapuk asal Jawa. Antara tahun
1936-1937 ekspor kapuk dari Indonesia sekitar 28, 4 juta kilogram per tahun. Data
terbaru yang diperoleh dari Kabupaten Kudus, Agustus 2004, luas tanaman kapuk
randu tercatat 2.489,072 hektar. Di Kabupaten Pati luas tanaman kapuk randu
pada tahun 1989 mencapai 3.035.850 pohon yang ekuivalen dengan 20.239
hektar. Di Kabupaten Jepara pada awalnya luas tanaman kapuk randu hampir
sama dengan Pati. Selain di seputar Gunung Muria, kapuk randu juga ditanam di
perusahaan perkebunan Siluwok, Sawangan, dan Kabupaten Batang. Selain itu,
Provinsi Jawa Timur juga tercatat sebagai produsen kapuk randu terbesar kedua
setelah Jateng (Suprapto, 2004). Kabupaten Probolingga mempunyai areal kebun
kapuk randu seluas 4.301 ha pada tahun 2003, mengalami penurunan sebesar 98
Ha atau 2,23 %, bila dibandingkan dengan areal tahun 2002 sebesar 4.399 Ha.
Sedangkan Produksi Tahun 2003 sebesar 1.466,2 Ton, mengalami kenaikan
sebesar 56,2 Ton atau sebesar 3,99 %, bila dibandingkan dengan produksi tahun
2002 sebesar 1.410 Ton. Peningkatan produksi ini disebabkan oleh peningkatan
produktivitas dari 0,30 Ton/Ha pada tahun 2002 menjadi 0,45 Ton/Ha pada tahun
2003 (NN/Bapeda Kab. Probolinggo, 2004). Areal lahan kapuk randu 12.604 ha
dengan jumlah pohon 2.048.757 pohon dan hasil produksi mencapai 4.170 ton
dengan menghasilkan mencapai 7.900 ton biji kapuk (NN/KPDE, Kab. Pasuruan,
2006). Selanjutnya potensi serat alam lain meliputi ampas tebu, kelapa sawit,
serat alam limbah pertanian (jagung, jerami sekam padi, dan bijian lain) dan
rotan memiliki potensi yang hampir sama dengan kelapa dan ampas biji kapuk
randu.
Penelitian serat alam sebagai bahan kampas rem dilakukan pada beberapa
serat alam meliputi ampas tebu, serabut kelapa, ampas biji kapuk randu, hemp,

2
jute, flax, cotton, sisal dan kenaf. PT Rajawali II telah melakukan penelitian bahan
rem (lining brake) dengan mendasarkan unsur karbon yang bersumber dari limbah
ampas tebu (baggase) (Sumardjono, 2005; Sumardjono 2007). Pengujian
kekerasan dan koefisien gesek terhadap bahan kampas rem dari ampas tebu
(baggase) yang diproduksi anak perusahaan PT Pabrik Gula (PG) Rajawali II
menghasilkan kekerasan (BHN) 85 – 127 dan koefisien gesek 0,42 – 0,45
(Jayadheva, 2005). Savage (2007) meneliti serat hemp, jute, flax, cotton, sisal dan
kenaf sebagai bahan rem melalui proses butirisasi, pencampuran (blended),
pemadatan dan pemanasan temperatur 150oC. Hasil terbaik dicapai dengan serat
hemp dan jute. Xin at al, (2006) meneliti serat sisal (sisal fiber) sebagai bahan
mampu gesek dengan mencampur resin dan pengujian constant speed tester,
koefisien gesek dan wear characteristic mencapai titik optimum pada komposisi
serat dan resin dengan perbandingan 4:3. Selanjutnya Darmanto at. al (2006)
meneliti serabut kelapa dengan perekat phenolic resin sebagai kampas rem.
Pengujian koefisien gesek bahan rem dengan serat serabut kelapa menghasilkan
0,295. Kemudian Hariyadi at. al (2007) dan Novianto at al (2007) meneliti ampas
klenteng sebagai kampas rem dengan perekat phenolic resin. Pengujian koefisien
gesek bahan rem dengan ampas klenteng menghasilkan 0,25. Selanjutnya
Hariyadi at. al (2008) dan Purwono at al (2007) meneliti ampas kelapa sawit
sebagai kampas rem dengan perekat phenolic resin. Pengujian koefisien gesek
bahan rem dengan ampas kelapa sawit menghasilkan 0,30. Dan Satapathy at. al.
(2003) meneliti selulosa kertas (paper pulp cellulose) sebagai material gesek
dengan komposisi berat serat 3% dan barite 25% menghasilkan kepadatan 2.108
(g/cm3), acetone extractable 3.60 (%), heat swelling 2.28 (%), water swelling
11.20 (%), porosity/void content 8.80(%), tensile strength 11.21(MPa), flexural
strength 16.77(MPa), impact strength 27.55 (kgm/m), hardness (Rockwell-S) 85
± 12dan compressibility 3.73 (xlO~3 ).

3
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
 Mengolah limbah ampas biji kapuk randu dan sejenisnya sebagai bahan
kampas rem.
 Menentukan karakteristik serat alam murni biji kapuk randu dan
sejenisnya.
 Menentukan perlakuan kimia dan fisik yang optimum untuk
meningkatkan sifat kekuatan serat biji kapuk randu dan sejenisnya
sebagai bahan kampas rem.
 Menentukan perekat (matrix) yang cocok dengan serat biji kapuk randu
dan sejenisnya untuk bahan kampas rem.
 Menentukan karakteristik bahan kampas rem dari serat biji kapuk randu
dan sejenisnya.
Kriteria sejenis dengan ampas biji kapuk randu didasarkan pada ukuran,
kandungan kimia (terutama silika), abu dan sumber asal (bahan pertanian).

1.3 Urgensi Penelitian


Keunggulan bahan asbestos sebagai bahan rem yang murah dan mudah
didapat menemui kendala kebijakan internasional. Ada indikasi material asbestos
menyebabkan penyakit kanker (Schenaider, 2003). Pengunaan bahan penguat
untuk meningkatkan kekuatan gesek meliputi lead oxide (PbO) dan oksida logam
(metal oxide) (Blau, 2001) menimbulkan polusi udara yang mengganggu saluran
pernapasan dan iritasi mata (Schenaider, 2003). Penggunaan bahan zinc (Zn)
dalam bahan kampas rem juga mulai ditentang oleh lembaga-lembaga pencinta
lingkungan. Proses pengeremen dengan mekanisme gesek antara dua permukaan
berpotensi menghasilkan serbuk halus dalam waktu yang relatif cepat.
Material yang menerima beban gesek dalam peralatan mesin banyak
diterapkan di sistem pengereman (kampas rem), instalasi transmisi (kopling
gesek), pasak, ulir (power screw), laker (bearing), ban dan poros. Bahan mampu
gesek baik untuk kampas rem (lining brake) maupun kampas kopling gesek

4
terbuat dari bahan utama/pokok yakni logam (kuningan, perak, perunggu) dan
atau bahan non logam seperti asbestos dan partikel keramik. Untuk temperatur
operasional tidak lebih 400oF, bahan asbestos dapat diterapkan sebagai bahan
mampu gesek. PT Pabrik Gula Rajawali II telah melakukan penelitian awal bahan
rem (lining brake) dengan mendasarkan unsur karbon yang bersumber dari limbah
ampas tebu (baggase) (Sumardjono, 2005; Sumardjono 2007), ampas biji kapuk
randu (Darmanto dan Sugeng at al, 2007). Pada temperatur operasional 400 oF –
700oF, bahan mampu gesek perlu memakai bahan-bahan logam yang diberi
perlakuan (heat treatment / sintering). Sedangkan untuk aplikasi temperatur
operasional melebihi 700oF, bahan-bahan keramik perlu diterapkan pada bahan
mampu gesek. Dan mengingat Indonesia telah menjadi pangsa pasar otomotif di
Asia, maka pengembangan komponen-komponen mesin yang mekanisme kerja
dengan mendasarkan gaya gesek meliputi kampas rem, kopling gesek, pasak, ulir
(power screw), laker (bearing), ban dan poros akan memberikan manfaat yang
besar bagi lapangan kerja dan pendapatan negara.
Penelitian serat alam sebagai bahan yang mampu menerima beban gesek
mulai dilakukan lagi dalam skala laboratorium. PT Rajawali II telah melakukan
penelitian bahan rem (lining brake) dengan mendasarkan unsur karbon yang
bersumber dari limbah ampas tebu (baggase) (Sumardjono, 2005; Sumardjono
2007). Pengujian kekerasan dan koefisien gesek terhadap bahan kampas rem dari
ampas tebu (baggase) yang diproduksi anak perusahaan PT Pabrik Gula (PG)
Rajawali II menghasilkan kekerasan (BHN) 85 – 127 dan koefisien gesek 0,42 –
0,45 (Jayadheva, 2005). Savage (2007) meneliti serat hemp, jute, flax, cotton,
sisal dan kenaf sebagai bahan rem melalui proses butirisasi, pencampuran
(blended), pemadatan dan pemanasan temperatur 150oC. Hasil terbaik dicapai
dengan serat hemp dan jute. Xin at al, (2006) meneliti serat sisal (sisal fiber)
sebagai bahan mampu gesek dengan mencampur resin dan pengujian constant
speed tester, koefisien gesek dan wear characteristic mencapai titik optimum
pada komposisi serat dan resin dengan perbandingan 4:3. Selanjutnya Darmanto
at. al (2006) meneliti serabut kelapa dengan perekat phenolic resin sebagai
kampas rem. Pengujian koefisien gesek bahan rem dengan serat serabut kelapa

5
menghasilkan 0,295. Kemudian Hariyadi at. al (2007) dan Novianto at al (2007)
meneliti ampas klenteng sebagai kampas rem dengan perekat phenolic resin.
Pengujian koefisien gesek bahan rem dengan ampas klenteng menghasilkan 0,25.
Selanjutnya Hariyadi at. al (2008) dan Purwono at al (2007) meneliti ampas
kelapa sawit sebagai kampas rem dengan perekat phenolic resin. Pengujian
koefisien gesek bahan rem dengan ampas kelapa sawit menghasilkan 0,30. Dan
Satapathy at. al. (2003) meneliti selulosa kertas (paper pulp cellulose) sebagai
material gesek dengan komposisi berat serat 3% dan barite 25% menghasilkan
kepadatan 2.108 (g/cm3), acetone extractable 3.60 (%), heat swelling 2.28 (%),
water swelling 11.20 (%), porosity/void content 8.80(%), tensile strength
11.21(MPa), ASTM D 638, flexural strength 16.77(MPa), ASTM D
7907.6513.610.8013.90, impact strength 27.55 (kgm/m), ASTM D 256, hardness
(Rockwell-S) 85 ± 12dan compressibility 3.73 (xlO~3 ) , ISO 6310.
Karakteristik dasar bahan kampas rem untuk otomotif berhubungan erat
dengan nilai dan stabilitas koefisien gesek, durability, penurunan kebisingan
(noise) dan getaran (vibration) (Duboka at al, 2007; Engberg, 1995). Karakteristik
nilai dan stabilitas koefisien gesek berhubungan erat dengan kondisi operasi kerja.
Kondisi operasi kerja pengereman didefinisikan sebagai perubahan gaya tekan
(tekanan), kecepatan gesek (sliding speed) dan temperatur (heat desipation). Sama
seperti bahan mampu gesek lain, serat alam murni cenderung mempunyai
koefisien gesek yang baik pada kondisi normal dan akan menurun (drastis) pada
kondisi temperatur kerja semakin naik (tinggi). Nilai dan stabilitas koefisien gesek
bahan mampu gesek akan meningkat berkenaan dengan berat kendaraan, sistem
penggerak roda, perbedaan kecepatan maksimum kendaraan dan pengembangan
sistem pengereman (ABS, ESP, BAS dan ROP) (Duboka at al, 2007).
Pengembangan dan desain bahan yang mampu menerima beban gesek
baru perlu memperhatikan pengetahuan yang berhubungan dengan komposisi dan
proses pengerjaan. Ada 3 (tiga) jenis bahan dasar utama yang digunakan dalam
komposisi akhir material gesek meliputi abrasif (abrasive), pengikat
(resin/binder) dan pengisi/penguat (filler). Selain 3 bahan dasar, komposisi
kampas rem untuk otomotif dan truk didukung dengan bahan performance

6
modifier dan lubricant (Blau, 2001). Selanjutnya proses pengerjaan material gesek
didasarkan pada 2 (dua) aktifitas (perlakuan) utama meliputi formulasi kimia yang
benar dan definisi parameter proses pengerjaan (Costa at al, 2004).
Pengembangan serat alam sebagai bahan komposit di industri otomotif
mempunyai potensi yang besar. Selain untuk bahan yang mampu menerima beban
gesek, serat alam dapat diaplikasikan untuk bahan komposit pada komponen
bemper, dasboard, pelapis pintu, rumah kaca spion dan produk asesoris mobil.
Selain industri otomotif, komposit dengan penguat serat alam banyak di terapkan
di industri bangunan, gerabah, kimia & plastik dan industri lain berbasis bahan
baku serat alam. Pangsa pasar otomotif di Indonesia cukup besar di masa sekarang
dan akan datang. Dengan Indonesia menjadi pasar otomotif maka pengembangan
bahan komposit dari serat alam (termasuk serat dari kapuk randu) untuk
komponen pendukung kendaraan akan memberikan manfaat yang besar bagi
industri otomotif dan industri agro. Potensi pasar otomotif dapat dilihat dari
kebutuhan kendaraan di Indonesia. Dari data Gabungan Industri Kendaraan
Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa penjualan kendaraan tahun
2010 mencapai 6,7 juta unit. Sedangkan total penjualan di luar anggota AISI
mencapai 8 juta unit sepanjang 2010 (Himawan, 2010). Sementara untuk kelas
mobil, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo)
menunjukkan bahwa penjualan kendaraan roda empat mencapai 720.000 unit
untuk kendaraan pribadi jenis sedan, cary dan niaga (Trisula, 2010). Data di atas
belum termasuk kendaraan angkutan dan penumpang.

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Material yang mampu menerima beban gesek (friction material)


merupakan bahan yang mempunyai kemampuan menerima gaya gesek dan
transfer energi (kalor) yang baik/tinggi. Aplikasi material yang mampu menerima
beban gesek dalam peralatan mesin banyak ditemukankan di sistem pengereman
(kampas rem), instalasi transmisi (kopling gesek), pasak, ulir (power screw), laker
(bearing), ban dan poros. Mekanisme kerja material yang mampu menerima beban
gesek dalam mendukung fungsi kerja pengereman adalah menyerap energi kinetik
(gerak) dan mengubah menjadi kalor (energi dalam bentuk panas). Transfer energi
tersebut dilakukan/terjadi melalui kontak langsung dua permukaan yang salah satu
bergerak atau dua permukaan bergerak dalam arah berlawanan. Selain sistem
menjadi panas (kalor), aplikasi material yang mampu menerima beban gesek
dalam transfer energi (gerak/pengereman) memproduksi serbuk halus hasil
gesekan dua permukaan yang berkontak. Selanjutnya mekanisme kerja material
yang mampu menerima beban gesek dalam mendukung fungsi kerja transmisi
adalah meneruskan energi kinetik (gerak) dari satu komponen transmisi ke
komponen transmisi lain yang digerakan. Kemudian material yang mampu
menerima beban gesek sebagai pasak ditunjukkan pada permukaan pasak yang
berkontak langsung komponen yang di dukung. Material yang mampu menerima
beban gesek dapat dibentuk dari bahan logam, organik dan karbon (Bahadur, ),
non logam dan keramik (Deutchmen at. al., 1975).
Sistem pengereman dan transmisi tipe gesek merupakan aplikasi material
mampu gesek yang sangat vital di industri otomotif. Di bidang otomotif, rem
berfungsi untuk menghentikan puturan roda yang bergerak. System pengereman
pada dasarnya terdiri dari sepatu rem (kampas rem) dan komponen yang
menggerakan sepatu rem menempel erat ke tromol/piringan. Pengerak rem pada
kendaraan angkutan /transportasi disesuaikan dengan kebutuhan daya
pengereman. Untuk kebutuhan daya pengereman besar biasanya menggunakan
pengerak rem system peneumatik. Untuk daya pengereman sedang yang biasa

8
diterapkan untuk mobil pribadi dengan system penggerak hidrolik. Sedangkan
untuk daya pengereman kecil yang biasa diterapkan di kendaraan roda dua dengan
menggunakan kawat/serabut besi/baja yang ditarik secara manual.

Gambar 2.1. Sistem pengeremen disc brake di roda

Kampas rem untuk industri otomotif terbuat dari bahan pokok kuningan,
perak, perunggu dan bahan non logam seperti asbestos dan partikel keramik.
Beberapa ilmuwan juga mengklasifikasikan bahan kampas rem sesuai
harapan/kebutuhan dengan mendasarkan sifat terkikis (abrasives), gesekan
(friction modifiers), penguat (filler/reinforment) dan pengikat (binder) (Blau,
2001). Untuk temperatur operasional tidak lebih 400 oF, bahan asbestos dapat
diterapkan sebagai bahan kampas rem. Pada temperatur operasional 400oF –
700oF, lining brake perlu memakai bahan-bahan logam yang diberi perlakuan
(heat treatment/sintering). Sedangkan untuk aplikasi pengeremen dengan
temperatur operasional melebihi 700oF, bahan-bahan keramik perlu diterapkan
pada bahan kampas rem (Deutchmen at. al., 1975).

2.1 Komposisi Bahan Mampu Gesek


Dalam aplikasi di lapangan, bahan dasar/utama mampu gesek (kuningan,
perak, perunggu dan bahan non logam seperti asbestos dan partikel keramik)
direkatkan dengan pengikat (binder), diperkuat dengan bahan pengisi (filler) dan
atau paduan, dimodifikasi kekuatan gesek (friction modifier) dan dimodifikasi
sifat selalu bersih dipermukaan gesek (abrasive). Beberapa binder yang telah
diterapkan meliputi phenolic resin, resin dan campuran resin dan rubber (Blau,

9
2001). Selanjutnya bahan filler meliputi barium sulfate, aramid pulp, clay, iron
oxide, vermiculite, friction dust, chesew dust, calsium carbonate (Blau, 2001).
Kemudian bahan modifikasi kekuatan gesek meliputi MoS 2, graphite, Sb2S3,
ZrSiO4, potassium tetanite, bronze, metal sulfide, lead sulfide (Blau, 2001).
Bahan mampu gesek dalam aplikasi di otomotif tersusun oleh beberapa
unsur atau paduan. Penelusuran unsur/senyawa dasar sifat abrasive bahan
dipengaruhi oleh kandungan silika, alumina, besi (iron) dan zirconia. Selanjutnya
kajian unsur/senyawa dasar sifat friction modifier berhubungan dengan
kandungan unsur silika, alumina, Cu, Zn, copper, chesew resin, Pb, Mo, Sb, Bi,
metal oxide, metal sulfide dan ceramic. Kemudian kajian unsur/senyawa dasar
sifat pengisi/penguat berhubungan serat alam (cotton, rubber, chesew nut shell
oil), asbestos, barium sulfate, calcium carbonate dan zinc oxide. Penelusuran
senyawa asbestos terbentuk dari unsur magnisium dan silika (Blau, 2001).
Petroleum Energy Center pada tahun 1999 mengembangkan teknologi
proses pembuatan kampas rem dari material karbon (non logam) meliputi melt
spining, infusibilization, yarn, moulding/carbonizing, preform, densificatin/heat
treatment, carbon brake material dan friction test. Moulding/carbonizing
dilakukan pada temperatur 1000oC. Peneliti lain dari PT Pabrik Gula Rajawali II
mengembangkan proses carbonizing pada temperatur 600oC (Sumardjono, 2005).
Pemadatan (densification) diharapkan bisa mencapai 1.8 Mg/m 3. Testing material
kampas rem secara menyeluruh meliputi koefisien gesek, kompresi, kekerasan,
conduktifity termal dan tes kualifikasi akhir yang menggunakan kendaraan
bergerak dengan ukuran material kampas rem sebenarnya. Variasi level testing
material kampas rem meliputi vehicle road test, vehicle skid pad-test, vehicle
drive on dynamometer, initial dynamometer dan tribometer (Blau, 2001).

2.2 Kajian Serat Alam Sebagai Serat Mampu Gesek


Serat sebagai bahan penguat komposit mampu gesek dikelompokkan
menjadi 2 yakni serat alam dan serat olahan/sintetis. Serat alam berasal dari
tumbuh-tumbuhan, hewan dan bahan mineral yang diperoleh tanpa perlakuan.
Serat alam tanaman dan hewan banyak dijumpai di negara-negara tropis seperti

10
Indonesia, Srilangka, India, Malaysia dan Pilipina. Serat alam tumbuh-tumbuhan
dapat diperoleh dari pohon pisang, sabut kelapa, nanas, bambu (bamboo), rosella,
kulit buah mete dan sebagainya. Saat ini, serat alam tanaman mendapat perhatian
para ahli sehubungan dengan faktor-faktor sebagai berikut serat alam mempunyai
kekuatan spesifik yang tinggi dan berat jenis lebih rendah, mudah diperoleh,
sumber alam yang dapat diolah kembali, tidak beracun dan mempunyai
kemampuan untuk ditingkatkan kualitasnya.
Ada beberapa serat alam tanaman yang mempunyai sifat-sifat mekanik
cukup baik seperti ditunjukkan di table 1. Penelitian serat alam lain yakni bamboo
menunjukkan massa jenis 0,802 x10-3 kg/m3, tensile strength 16,8 kg/mm2,
modulus elastistas tarik 1076,78 kg/mm2 (Taurista at. all., 2005) dan tensile
strength 13,5 kg/mm2 (Manik at. all., 2004).
Keunggulan bahan asbestos sebagai bahan rem yang murah dan mudah
didapat menemui kendala kebijakan internasional. Ada indikasi material asbestos
menyebabkan penyakit kanker (Schenaider, 2003). Pengembangan material
kampas rem alternatif sebagai penganti asbestos telah dilakukan dan ditemukan
beberapa bahan baru meliputi calcium silicate, hydrated calcium alumunium
silicate, alumunium silicate, basalt fiber, rockwood, ceramic fiber,
polyacrylonitrile, polyester, chopped glass fiber dan aramid fiber (Nicholson,
1995), bahan karbon (NN, 1999) dan arang/karbon bersumber ampas tebu
(baggase) (Sumardjono, 2005). Penelitian terhadap material karbon dengan
kepadatan (density) 1,5 – 1,8 Mg/m 3, 25% bahan logam dan tahanan panas (heat
resistance) mencapai suhu 2000oC telah dikembangkan sebagai bahan rem
pesawat di Amerika dan Eropa (NN, 1999). PT Pabrik Gula Rajawali II telah
melakukan penelitian awal bahan rem (lining brake) dengan mendasarkan unsur
karbon bersumber dari limbah ampas tebu (baggase) dicampur dengan bakelit dan
phenolic resin dengan komposisi ampas tebu mencapai 60% (Sumardjono, 2005).
Peneliti lain menganalisa bahan kampas rem dengan serat karbon yang diperkuat
dengan serat besi dengan komposisi carbon fiber, steel fiber, chasew-modified
phenolic resin, phenolic particle dan BaSO4 dengan persentase volume masing-
masing 34,5% : 2,3 % : 34 % : 21,67 % (Bahadur, ).

11
Tabel 2.1. Sifat mekanik beberapa serat alam.

Massa jenis Kekuatan Tarik Modulus Elastis


No Nama Bahan
(gr/cm3) MPa GPa
1 Cotton - 1,5 0,05
2 Jute 200 1,45 2,5-13
3 Sabut kelapa 100-450 1,15 4-6
4 Pisang 80-250 1,35 7,7-20,8
5 Sisal 50 - 200 1,45 9,4-15,8
6 Flak - 1,67 100
7 Sun Hemp 48 0,678 2,68
8 Nanas 20 – 80 1,44 34,5
9 Mesta 200 1,47 12,62
10 Kushagras 390 - 5,69
11 Pandan - 12,8 0.699
12 Tebu - 21,67 6,194

Penelitian serat alam sebagai bahan mampu gesek mulai dilakukan lagi
meskipun dalam skala laboratorium. PT Rajawali II telah melakukan penelitian
bahan rem (lining brake) dengan mendasarkan unsur karbon yang bersumber dari
limbah ampas tebu (baggase) (Sumardjono, 2005; Sumardjono 2007). Hasil uji
kampas rem dari ampas tebu (baggase) yang diproduksi anak perusahaan PT
Pabrik Gula (PG) Rajawali II oleh Laboratorium Teknik Metalurgi Institut
Teknologi Bandung (ITB) menghasilkan kualitas kampas rem yang mendekati
kualitas kampas rem suku cadang asli (genuine) dan menyamai kampas rem
kualitas I. Hasil nilai kekerasan dan koefisien gesek kampas rem (KR) Bagas
Kijang yaitu 84,3 dan 0,42 sementara KR Kijang kualitas I 71,0 dan 0,46, KR
Bagas Espass 127 dan 0,42 sementara KR Espass Genunie 130 dan 0,50, KR
Bagas Mitsubisi T.120 S 86,3 dan 0,45, KR T.120 kualitas I 79,0 dan 0,52.
(Jayadheva, 2005).
Savage (2007) meneliti serat hemp, jute, flax, cotton, sisal dan kenaf
sebagai bahan rem melalui proses butirisasi, pencampuran (blended), pemadatan

12
dan pemanasan temperatur 150oC. Hasil terbaik dicapai dengan serat hemp dan
jute. Xin at al, (2006) meneliti serat sisal (sisal fiber) sebagai bahan mampu gesek
dengan mencampur resin dan pengujian constant speed tester, koefisien gesek dan
wear characteristic mencapai titik optimum pada komposisi serat dan resin
dengan perbandingan 4:3. Darmanto at. al (2006) meneliti serabut kelapa dengan
perekat phenolic resin sebagai kampas rem. Pengujian koefisien gesek bahan rem
dengan serat serabut kelapa menghasilkan 0,395. Hariyadi at. al (2007) meneliti
ampas klenteng dan ampas kelapa sawit sebagai kampas rem dengan perekat
phenolic resin. Pengujian koefisien gesek bahan rem dengan ampas klenteng dan
ampas kelapa sawit menghasilkan masing-masing 0,35 – 0,20 dan 0,40 – 0,22
dengan pembangkitan kalor/panas mencapai temperatur masing-masing 264 oC
dan 272oC. Satapathy at. al. (2003) meneliti serat organik meliputi aramid
(Kevlar-49, Dupont), PAN (Sterling CFF V 110), carbon (Indcarf-12K) dan
cellulose (paper pulp) sebagai serat mampu gesek dengan komposisi berat 3%
sedangkan komposisi perekat dan material utama tetap. Perekat menggunakan
barium sulfat (BaSO4) sedangkan bahan utama terdiri dari NBR modified,
phenolic resin, graphite flakes, cashew dust, brass swarfs, calcined alumina,
expanded vermiculite. Sifat fisik dan mekanik material gesek tanpa serat organic
menghasilkan kepadatan 1.511 (g/cm3), acetone extractable 3.28%, heat swelling
1.22%, water swelling 1.77%, porosity/void content 2.78%, tensile strength 17.7
MPa, ASTM D 638, flexural strength 7.65 MPa, ASTM D
7907.6513.610.8013.90, Impact strength 33.46 kgm/m, ASTM D 256, kekerasan
(Rockwell-S) 92 ± 6 dan sifat kompresi (compressibility) 11.64 (xlO~3 ), ISO
6310. Penambahan selulosa kertas (paper pulp cellulose) sebagai material gesek
dengan komposisi berat serat 3% dan barite 25% menghasilkan kepadatan 2.108
g/cm3, acetone extractable 3.60%, heat swelling 2.28%, water swelling 11.20%,
porosity/void content 8.80%, tensile strength 11.21 Mpa, ASTM D 638, flexural
strength 16.77 MPa, Impact strength 27.55 kgm/m, kekerasan (Rockwell-S) 85 ±
12 dan sifat kompresi (compressibility) 3.73 (xlO~3 ). Penambahan serat aramid
atau PAN (Sterling CFF V 110) 3% akan meningkatkan kepadatan, water
sweeling, flexural strength dan sifat lain cenderung menurun. Selanjutnya

13
penambahan carbon (Indcarf-12K) 3% menghasilkan peningkatan kepadatan,
water sweeling, porosity, flexural strength kekerasan dan sifat lain cenderung
menurun.

2.3 Perlakuan Serat Alam


Perlakuan serat alam secara kimia telah dilakukan oleh peneliti. Aplikasi
serat curaua untuk komposit (green composite) dengan perlakuan alkali
menggunakan larutan sodium hydroxite 5%, 10% dan 15% selama 1 jam dan 5
jam menunjukkan peningkatan kekuatan tarik (tensile strength) dan regangan
patah (fracture strain) (Gomes at. all, 2004). Peningkatan kekuatan tarik tersebut
dapat mencapai 137 Mpa untuk serat dengan perlakuan alkali di mana serat tanpa
perlakuan menunjukkan 124 Mpa untuk fraksi volume yang sama. Modifikasi flax
fiber dilakukan dengan perlakuan silane, benzoylatin dan peroxite (Wang at al.,
2003), bleanching NaOH, acetylation, grafting of vinilic, radiation and enzime
retting (Santulli, 2003). Ada peningkatan titih luluh serat flax dari temperatur
147oC tanpa perlakuan ke 157oC dengan perlakuan Silane dan 149oC dengan
perlakuan benzoylation. Selain itu ada peningkatan kekuatan serat dari 120 nm/tex
untuk serat tanpa perlakuan ke 124,5 Nm/tex untuk perlakuan silane dan 122,3
Nm/tex untuk perlakuan peroxide. Dan kualitas serat juga menunjukkan daya
serap air yang menurun dengan diberi perlakuan kimia (Wang at.all., 2003).
Penelitian serat sisal dengan variasi perlakuan alkali, isocynate, BP, DCP dan
KmnO4 menghasilkan peningkatan tensile strength dan modulus elastisitas.
Kenaikan kekuatan tarik dan modulus terbaik ditunjukkan dari perlakuan
isocyanate dan DCP yang mencapai 33% dari kekuatan serat tanpa perlakuan di
mana kekuatan serat sisal tanpa perlakuan 31,12 Mpa dan Modulus 3086 Gpa
(Joseph et al., 1996 di dalam Joseph at al., 1999). Modifikasi serat secara alami
juga dilakukan dengan metode perolisis yakni mereaksikan serat dengan acetic
anhydride, formaldehid (polyester), propylene oxide dan butylene oxide (Rowell,
1998).
Teknik perlakuan (treatment) panas akan memperbaiki kekuatan teknik bahan
komposit. Subiyanto menentukan teknik kempa panas pada temperatur 130 oC –

14
160oC pada proses pembuatan komposit untuk bahan bangunan dengan bahan
baku serat bambu dan perekat phenol formadehide dan isocyanate. Serat sisal
diberi perlakuan panas pada kondisi temperatur mencapai 275oC (Mezey at. all.,
2002).

2.4 Pola Penyusunan Serat


Pola susunan serat mempengaruhi kekuatan bahan komposit. Susunan
serat gelas yang sejajar (sudut 0o) mempunyai kekuatan terbesar (Stefanus at. all,
2004). Pola penyusunan serat sisal menghasilkan modulus elatisitas dan faktor
intensitas tegangan kritis 6,62 ± 0,33 Gpa dan 12,97 ± 1,5 Mpa untuk longitudinal
fiber orientation dan 1.13 ± 0,16 dan 2,23 ± 0,21 untuk transverse fiber
orientation (Mezey at. all., 2002). Pola penyusunan serat sisal arah longitudinal
pada komposit dengan dengan variasi matrik menghasilkan kualitas komposit
lebih baik dari pada susunan acak (random) (Joseph, 1999).

2.5 Pemilihan Matrik


Ada beberapa macam cairan pengikat (matrik) yang dapat diterapkan
untuk serat alam. Mezey at.all., 2002, menerapkan pengikat polypropylene untuk
serat sisal. Sedangkan Joseph at al, 1999, menggunakan polypropylene (PP),
polystyrene (PS) dan low-density polyethylene (LDPE) untuk komposit dengan
serat sisal. Aplikasi serat jagung (corn straw) untuk komposit menggunakan
matrik polyurethane (soy polyol) yang bersumber dari pengikat alam yakni
minyak kacang (soy) (Lawrence, 2003). Nanoteknologi pada serat kayu
menggunakan matrik yang terdiri dari 50% potato starch (amylopectin) dan 50%
glycerol (Berglund, 2006). Manik at al, 2004, meneliti komposit serat bambu
dengan resin polyester dan menghasilkan kekuatan tarik 135,23 MPa dan
Modulus Elastistas 12,7 Gpa. Aplikasi serat batang pelepah kelapa (bagian kulit)
dengan arah pararel (tanpa dianyam) dengan matrik polyester dengan
perbandingan massa 2 : 3 menghasilkan kekuatan tarik 78,6 MPa dan Modulus
Elastistas 9,7 GPa ( Asmi dan Darmanto at al., 2007).

15
2.6 Sintering
Proses sintering merupakan metode pembuatan produk yang bersumber
dari bahan serbuk di mana produk/spesimen yang telah dipadatkan tersebut
dipanaskan hingga mendekati temperatur luluh (sedikit di bawah titik luluh) dan
ditahan (didiamkan) sesaat (Wikipedia, 2007; German, 1994). Tujuan sintering
adalah untuk menggabungkan /merekatkan dua partikel atau lebih menjadi
material yang padat (masive/compact) sehingga akan diperoleh material dengan
sifat teknik yang lebih baik. Sintering secara tradisional digunakan untuk
memproduksi produk-produk berbahan keramik. Dan perkembangan lebih lanjut,
sintering diaplikasikan untuk pengolahan dan pembuatan produk dari bahan
berbentuk serbuk.
Beberapa ahli telah menerapkan metode sintering untuk bahan dari logam
(tidak semua logam) untuk mendapatkan produk-produk yang membutuhkan
tingkat kemurnian tinggi dan kontaminasi bahan lain yang rendah. Beberapa
bahan non logam seperti glass, alumina, zirconia, silica, magnesia, lime,
beryllium oxide, ferric oxide, and various organic polymers (Wikipedia, 2007).
Sintering dapat memproduksi perbedaan yang besar sifat (properties) material.
Aplikasi metode sintering untuk produk yang berbahan serbuk mempunyai
keuntungan meliputi tingkat kemurnian material tinggi, kemudahan mendapatkan
bahan murni yang meskipun di alam tidak dalam bentuk murni, kestabilan bahan
yang baik dengan mengatur ukuran butir serbuk dan kemudahan dalam mengatur
deformasi untuk mendapatkan kualitas material yang lebih baik.
Perlakuan (treatment) bahan/produk setengah jadi yang berasal dari bahan
baku serbuk biasanya dilakukan dengan proses pemadatan (compaction) yang
disertai dengan mekanisme sintering (German, 1994). Aplikasi sintering pada
bahan komposit BaTiO3 menunjukkan bahawa proses pemadatan mengalami
percepatan, difusi dan konduktifity termal tidak seperti umumnya yang menurun
(Huang, 2005). Temperatur sintering juga berpengaruh terhadap sifat mekanik
bahan. Temperatur sintering bahan SiC di temperatur 1860oC mempunyai sifat
mekanik yang lebih tinggi (density, ketangguhan (toughness) dan kekuatan
bending) dari pada temperatur sintering 1950oC dan 2000oC (Zhong, 2005).

16
2.7 Kapuk Randu
Potensi produksi kapuk randu meliputi kapas, biji kapuk randu dan bahan
ikutan lain cukup besar di Indonesia. Sebelum Perang Dunia II, 80 persen pasokan
kapuk dunia berasal dari Indonesia dan 60 persennya berasal dari Jawa Tengah
(Budianto, 2006). Karena itulah di dunia internasional, Jawa Tengah dikenal
dengan sebutan "java kapuk" yang artinya kapuk asal Jawa. Antara tahun 1936-
1937 ekspor kapuk dari Indonesia sekitar 28, 4 juta kilogram per tahun. Data
terbaru yang diperoleh dari Kabupaten Kudus, Agustus 2004, luas tanaman kapuk
randu tercatat 2.489,072 hektar. Di Kabupaten Pati luas tanaman kapuk randu
pada tahun 1989 mencapai 3.035.850 pohon yang ekuivalen dengan 20.239
hektar. Di Kabupaten Jepara pada awalnya luas tanaman kapuk randu hampir
sama dengan Pati. Selain di seputar Gunung Muria, kapuk randu juga ditanam di
perusahaan perkebunan Siluwok, Sawangan, dan Kabupaten Batang. Selain itu,
Provinsi Jawa Timur juga tercatat sebagai produsen kapuk randu terbesar kedua
setelah Jateng (Suprapto, 2004). Kabupaten Probolingga mempunyai areal kebun
kapuk randu seluas 4.301 ha pada tahun 2003, mengalami penurunan sebesar 98
Ha atau 2,23 %, bila dibandingkan dengan areal tahun 2002 sebesar 4.399 Ha.
Sedangkan Produksi Tahun 2003 sebesar 1.466,2 Ton, mengalami kenaikan
sebesar 56,2 Ton atau sebesar 3,99 %, bila dibandingkan dengan produksi tahun
2002 sebesar 1.410 Ton. Peningkatan produksi ini disebabkan oleh peningkatan
produktivitas dari 0,30 Ton/Ha pada tahun 2002 menjadi 0,45 Ton/Ha pada tahun
2003 (NN/Bapeda Kab. Probolinggo, 2004). Areal lahan kapuk randu 12.604 ha
dengan jumlah pohon 2.048.757 pohon dan hasil produksi mencapai 4.170 ton
dengan menghasilkan mencapai 7.900 ton biji kapuk (NN/KPDE, Kab. Pasuruan,
2006).

17
BAB III
METODE PENELITIAN

4.3 Diagram Alir Penelitian


Pada penelitian ini langkah-langkah pengujian mengacu pada diagram alir
dibawah ini, berikut langkah pengujian yang telah terlaksana dalam penelitian ini :

Mula
i

Studi Literatur dari Laporan

Perencanaan Proses dan Bahan

Penyediaan Bahan Baku


(Biji Kapuk Randu)

Pengeringan Biji Kapuk

Pengujian Komposisi
Penggilingan Biji Kapuk

Penimbangan Serbuk Biji Kapuk

Pembuatan Abu

Pengujian Kualitas

18
A
Katalis

Resin : Pembuatan Spesimen


Epoxy, Polyester Bahan Komposit

Perlakuan Panas & Sintering

Pengujian Spesimen

Analisa Hasil Pengujian

Analisa Teknis Analisa Kualitas

Rekomendasi

Selesa
i

Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian

Keterangan:
1. Studi literatur dari laporan
Studi literatur dilakukan untuk mencari materi dan teori yang berhubungan
dengan penelitian ini dan memudahkan dalam menentukan proses yang
akan dilakukan selama penelitian. Materi yang dibutuhkan antara lain
tentang material komposit khususnya yang menggunakan bahan baku serat

19
alam, perlakuan panas (heat treatment), sintering, uji tekan (compression
test), uji gesek (friction test) serta struktur mikro.
2. Perencanaan proses dan bahan
Perencanaan proses dan bahan dilakukan untuk mendapatkan referensi
alat, bahan baku yang digunakan, serta bahan pendukung yang diperlukan
dalam proses penelitian yang akan dilakukan mengacu kepada referensi
yang telah didapat.
3. Penyediaan bahan baku
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini berupa biji kapuk randu.
Penyediaan bahan baku dilakukan dengan mensurvei lokasi penyedia
sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Lokasi penyediaan bahan baku
terdapat di beberapa daerah, diantara Kendal, Purwodadi, dan Pati. Bahan
baku yang disiapkan sebanyak 2 karung dengan berat 150 kg.
4. Pengeringan biji kapuk
Pengeringan biji kapuk dilakukan dengan penjemuran biji kapuk dengan
wadah yang telah disiapkan di lingkungan terbuka dengan memanfaatkan
sinar matahari. Selain untuk mengeringkan, dalam penjemuran juga
dilakukan pembersihan biji kapuk dari pengotor berupa kapas, pasir, dan
lain-lain.
5. Pengujian komposisi
Sebelum kapuk randu dibentuk menjadi bentuk material serbuk yang akan
digunakan untuk membuat material komposit, biji kapuk harus diuji
kandungan komposisi kimianya agar dapat mengetahui proses pengerjaan
yang akan dilakukan dalam proses pembuatan material komposit nantinya.
Pengujian komposisi kimia dilakukan untuk mengetahui kandungan
daripada bahan baku biji kapuk randu yang akan dibuat menjadi material
serbuk.
6. Penggilingan biji kapuk
Penggilingan biji kapuk dilakukan dengan mengunakan mesin giling biji.
Penggilingan bertujuan agar biji kapuk dibuat menjadi bentuk serbuk,
hingga halus. Pembentukan serbuk biji kapuk dilakukan untuk

20
mempermudah proses pengerjaan selanjutnya dalam proses pembuatan
abu.
7. Penimbangan serbuk biji kapuk
Penimbangan serbuk biji kapuk dilakukan untuk mengetahui berat awal
dari serbuk biji kapuk serta berat akhir setelah menjadi abu. Penimbangan
dilakukan dengan timbangan digital di Laboratorium Metalurgi Fisik
Teknik Mesin Universitas Diponegoro.
8. Pembuatan abu
Proses ini dilakukan untuk membuat serbuk biji kapuk menjadi abu
dengan cara dipanaskan/dibakar hingga suhu 6000C dengan durasi waktu
90 menit. Pembuatan abu menggunakan tungku pemanas (furnace) di
Laboratorium Metalurgi Fisik Teknik Mesin Universitas Diponegoro.
9. Pengujian kualitas
Pengujian kualitas abu biji kapuk dapat dilihat dari bentuk butir dan
ukuran abu biji kapuk. Penyeragaman ukuran abu biji kapuk dilakukan
dengan mengambil sampel dari bahan baku abu biji kapuk lalu di sieving
menggunakan mesh. Pengujian ini dilakukan menggunakan alat mesh di
Laboratorium Bahan dan Konstruksi Teknik Sipil Universitas Diponegoro.
Selain itu, juga dilakukan pengujian massa jenis dari abu yang akan dibuat
menjadi material komposit, untuk mengetahui densitas dari abu yang telah
dibuat dari bahan baku biji kapuk.
10. Pembuatan spesimen
Pembuatan spesimen menggunakan bahan pendukung resin, berupa epoxy
dan polyester, dan ditambahan katalis untuk mempercepat reaksi dalam
proses pembuatannya.
11. Perlakuan panas & sintering
Proses sintering dilakukan dengan memanaskan bahan/spesimen hingga
mencapai hingga 70% temperatur luluh (melting) atau disekitarnya dan
ditahan (didiamkan) sesaat. Perlakuan panas (heat treatment)
bahan/produk setengah jadi yang berasal dari bahan baku abu dilakukan

21
dengan proses pemadatan (compaction) yang disertai dengan mekanisme
sintering.
12. Pengujian spesimen
Pengujian spesimen dilakukan untuk mendapatkan data hasil pengujian.
Pengujian spesimen dilakukan dengan beberapa jenis pengujian,
diantaranya ada pengujian lentur, pengujian kekerasan, dan pengujian laju
keausan.
13. Pengujian lentur
Uji lentur dilakukan untuk mengetahui kekuatan lentur dari material
komposit yang telah dibuat. Pengujian yang dilakukan three point
bending.
14. Pengujian kekerasan
Uji kekerasan dilakukan untuk mengetahui nilai kekerasan material
komposit yang telah dibuat. Nilai kekerasan dari spesimen tersebut dapat
menjadi pembanding dengan nilai kekerasan pada produk kampas rem
yang sudah dibuat dipasaran.
15. Pengujian laju keausan
Uji struktur mikro dilakukan dengan melihat struktur mikro pada spesimen
komposit yang telah dibuat yang telah diratakan permukaannya
menggunakan mesin amplas.
16. Analisa hasil pengujian
Mengolah data-data yang sudah didapatkan dengan mengacu pada materi
yang terdapat pada referensi dan menampilkan data-data tersebut dalam
bentuk gambar dan tabel yang dibuat dalam penulisan laporan.
17. Analisa teknis
Mengkaji proses - proses yang telah dilakukan dalam proses penelitian ini
terhadap hasil spesimen yang telah dibuat yaitu material komposit serat
alam untuk produk kampas rem.
18. Analisa kualitas
Mengkaji kualitas spesimen melalui data hasil pengujian yang telah
dilakukan. Kualitas produk kampas rem yang ada dipasaran menjadi tolak

22
ukur kualitas material komposit serat alam untuk produk kampas rem yang
dibuat.
19. Rekomendasi
Menarik kesimpulan dari hasil pengolahan data dan analisa. Dan memberi
rekomendasi saran untuk lanjutan dari penelitian ini.

4.4 Peralatan yang Digunakan


Peralatan yang telah digunakan dalam penelitian ini antara lain:
a. Wadah Penjemuran
Wadah penjemuran digunakan dalam proses pengeringan biji
kapuk. Wadah terbuat dari papan kayu yang dibentuk sesuai ukuran yang
diinginkan.

Gambar 3.2. Wadah Penjemuran

b. Saringan Biji
Saringan biji digunakan dalam proses pengeringan biji kapuk.
Saringan digunakan untuk membersihkan pengotor berupa kapas, pasir,
dan lain-lain.

23
Gambar 3.3. Saringan Biji

c. Mesin Giling Biji


Mesin giling biji digunakan dalam proses penggilingan biji kapuk.
Hasil dari penggilingan biji kapuk berupa serbuk.

Gambar 3.4. Mesin Giling Biji

d. Timbangan
Timbangan yang digunakan merupakan timbangan digital yang
mempunyai ketelitian tinggi sampai dengan 0,01 gram. Karena memiliki
ketelitian tinggi penggunaan timbangan ini memerlukan waktu pemanasan
sebelum dipakai untuk menimbang spesimen uji. Timbangan digunakan
untuk menimbang berat awal dari serbuk biji kapuk serta berat akhir
setelah menjadi abu.

24
Gambar 3.5. Timbangan
e. Tungku Pemanas (furnace)
Furnace merupakan suatu alat yang digunakan untuk
memanaskan / membakar serbuk biji kapuk menggunakan temperatur
600oC hingga menjadi abu dengan durasi waktu 90 menit. Pada penelitian
ini furnace yang digunakan adalah furnace sederhana dengan alat bantu
lainnya dalam proses pembakaran.

Gambar 3.6. Tungku Pemanas (furnace)

25
f. Burner
Burner merupakan salah satu alat pendukung yang digunakan
untuk memanaskan / membakar serbuk biji kapuk. Burner berfungsi untuk
pengatur besar kecilnya api yang digunakan dalam proses pembakaran.

Gambar 3.7. Burner

g. Thermometer
Thermometer merupakan salah satu alat pendukung yang
digunakan untuk memanaskan / membakar serbuk biji kapuk.
Thermometer berfungsi untuk pengukur suhu pembakaran yang digunakan
dalam pembuatan abu biji kapuk.

Gambar 3.8. Thermometer

h. Alat Sieving

26
Alat Sieving digunakan untuk memisahkan serbuk berdasarkan ukuran
mesh tersebut. Alat ini bekerja seperti ayakan berupa kisi-kisi dengan
ukuran tertentu sesuai dengan standar ASTM.

Gambar 3.9. Alat Sieving

i. Density Meter
Density meter digunakan untuk mengetahui massa jenis abu biji kapuk
yang akan dibuat menjadi material komposit.

Gambar 3.10 Density meter


j. Alat Sintering

27
Proses sintering yang dilakukan di Laboratorium Bahan Teknik Mesin
Universitas Gadjah Mada.

Gambar 3.11. Alat Sintering

k. Brinell Hardness Tester


Pengujian kekerasan metode brinell adalah suatu cara untuk memperoleh
kekerasan yang mana indentor berbentuk bola ditekan ke permukaan
benda uji dan diameter hasil penekanan diukur setelah identor dipindahkan
dari benda uji. Pengujian kekerasan dilakukan menggunakan alat uji N3
emcotest buatan Austria di Laboratorium Metalurgi Fisik Teknik Mesin
Universitas Diponegoro. Digunakan untuk menguji kekerasan spesimen
komposit. Indentor berupa bola baja berdiameter 2,5 mm dengan beban
30kg.

Gambar 3.12. Dial Indicator

28
Gambar 3.13 Brinell Hardness Tester

l. Alat Uji Lentur


Digunakan untuk mengetahui kekuatan lentur dari material komposit.
Besar kekuatan lentur tergantung pada jenis material dan pembebanan.
Pengujian yang dilakukan three point bending. Pengujian dilakukan
dengan memberikan pembebanan pada spesimen hingga patah.
Pengujian dilakukan di Laboratorium Bahan dan Konstruksi Teknik Sipil
Universitas Diponegoro dengan alat yang yang dipakai adalah Hydraulic
Ultimate Tensile Machine model WE -1000A.

Gambar 3.14. Alat Uji Lentur

29
m. Alat Uji Keausan
Pengujian keausan bertujuan untuk mensimulasikan kondisi keausan
aktual. Pengujian laju keausan dinyatakan dengan kehilangan/pengurangan
spesimen tiap satuan luas bidang kontak dan lama pengausan.
Pengujian laju keausan dilakukan menggunakan mesin Ogoshi High Speed
Universal Wear Testing (Type OAT-U) di Laboratorium Laboratorium
Bahan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada.

Gambar 3.15. Alat Uji Keausan

30
BAB IV
PELAKSANAAN PENELITIAN

4.1 Penyediaan Bahan Baku


Dalam penyediaan bahan baku biji kapuk randu, survei lokasi penyedia
terlebih dahulu dilakukan, karena jumlah/kuantitas yang dibutuhkan cukup
banyak. Lokasi penyediaan bahan baku terdapat di beberapa daerah, diantara
Kendal, Purwodadi, dan Pati. Bahan baku yang didapat dari daerah Pati sebanyak
2 karung dengan berat 150 kg.

Gambar 4.1. Pohon Kapuk Randu

Gambar 4.2. Biji Kapuk Randu

31
4.2 Pengeringan Biji Kapuk
Pengeringan biji kapuk dilakukan dengan penjemuran biji kapuk dengan
wadah yang telah disiapkan dengan memanfaatkan sinar matahari. Dalam
penjemuran juga dilakukan pembersihan biji kapuk dari pengotor berupa
kapas, pasir, dan lain-lain menggunakan saringan biji. Pengeringan dilakukan
di lapangan terbuka.

Gambar 4.3. Pengeringan Biji Kapuk

4.3 Pengujian Komposisi Biji Kapuk


Pada penelitian ini sebelum kapuk randu dibentuk menjadi bentuk material
serbuk yang akan digunakan untuk membuat material komposit, biji kapuk harus
diuji kandungan komposisi kimianya agar dapat mengetahui proses pengerjaan
yang akan dilakukan dalam proses pembuatan material komposit nantinya.
Pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komposisi kimia yang
terdapat serta kualitas dari bahan baku biji kapuk randu yang digunakan, dan
senyawa yang terkandung dalam serbuk tersebut. Berikut adalah tabel komposisi
dari biji kapuk randu :

32
Tabel 4.1 Komposisi Biji Kapuk Randu

Unsur Persentase
Air 13%
Abu 6%
Serat kasar 20%
Lemak 6%
Protein 29%
Karbohidrat 20%

4.4 Penggilingan Biji Kapuk


Biji kapuk yang telah dijemur dan dibersihkan kemudian digiling untuk
membuat serbuk biji kapuk. Penggilingan biji kapuk dilakukan dengan
mengunakan mesin giling biji (blender). Dalam penggilingan biji kapuk hingga
menjadi bentuk serbuk dilakukan sampai seluruh biji halus merata. Pembuatan
serbuk biji kapuk dilakukan untuk mempermudah proses pengerjaan selanjutnya
dalam pembakaran serbuk untuk proses pembuatan abu.

Gambar 4.4. Penggilingan Biji Kapuk

33
4.5 Pembuatan Abu
Pada penelitian ini sesudah biji kapuk digiling hingga berbentuk serbuk
yang halus, dilakukan pembakaran serbuk biji kapuk hingga berbentuk abu.
Dalam pembuatan abu biji kapuk dilakukan beberapa tahap dalam proses
pembuatannya. Berikut adalah proses yang dilakukan :

4.5.1 Penimbangan Serbuk Biji Kapuk


Penimbangan serbuk biji kapuk dilakukan di Laboratorium Metalurgi Fisik
Teknik Mesin Universitas Diponegoro. Serbuk biji kapuk diambil sampelnya
untuk ditimbang menggunakan timbangan digital dengan ketelitian sampai dengan
0,01 gram. Serbuk biji kapuk ditimbang hingga mencapai berat 1000 gram.

Gambar 4.5. Penimbangan Serbuk Biji Kapuk

4.5.2 Pemanasan / Pembakaran Serbuk Biji Kapuk


Pemanasan / pembakaran serbuk biji kapuk dilakukan di Laboratorium
Metalurgi Fisik Teknik Mesin Universitas Diponegoro. Serbuk biji kapuk yang
telah ditimbang dengan berat 1000 gram dimasukkan ke dalam tungku kemudian
dibakar dengan suhu 6000C hingga menjadi abu. Waktu yang diperlukan dalam
proses sekali pembakaran serbuk biji kapuk selama 90 menit. Kemudian
pembakaran dilakukan berulang serbuk biji kapuk yang telah dibuat hingga semua
menjadi abu. Dalam pembuatan abu biji kapuk tersebut akan digunakan
selanjutnya untuk pembuatan material komposit.

34
Gambar 4.6. Pembakaran Serbuk Biji Kapuk

4.5.3 Penimbangan Abu Biji Kapuk


Penimbangan abu biji kapuk dilakukan di Laboratorium Metalurgi Fisik
Teknik Mesin Universitas Diponegoro menggunakan timbangan digital dengan
ketelitian sampai dengan 0,01 gram. Hasil pembakaran 1000 gram serbuk biji
kapuk yang telah menjadi abu ditimbang kembali. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui penyusutan yang terjadi dalam proses pembakaran serbuk biji kapuk
hingga menjadi abu.

Gambar 4.7. Penimbangan Abu Biji Kapuk

35
4.6 Pengujian Kualitas Abu
Pengujian kualitas abu biji kapuk dapat dilihat dari bentuk butir dan
distribusi ukuran abu biji kapuk. Pengujian kualitas ukuran abu biji kapuk
melakukan sieving menggunakan mesh ukuran 200. Tujuan dari sieving untuk
mendapatkan material yang halus dan keseragaman ukuran. Pengujian dilakukan
di Laboratorium Bahan dan Konstruksi Teknik Sipil Universitas Diponegoro.

Gambar 4.8. Mesh ukuran 200

Setelah dilakukan penyeragaman ukuran abu, dilakukan pengujian massa


jenis dari abu yang akan dibuat menjadi material komposit, untuk mengetahui
densitas dari abu yang telah dibuat dari bahan baku biji kapuk. Pengujian
dilakukan menggunakan density meter di Laboratorium Metalurgi Fisik Teknik
Mesin Universitas Diponegoro didapatkan rata-rata massa jenis dari abu kapuk
ialah sebesar 1,03 g/cm3 .

Tabel 4.2. Data Pengujian Massa Jenis Abu Biji Kapuk

Massa Volume Densitas


No Rata - rata
(gram) (cm3) (g/cm3)
1 0.16 0.15 1.04
2 0.84 0.83 1.02 1.03 g/cm3
3 0.26 0.25 1.04

36
4.7 Perlakuan Kimia Abu Biji Kapuk
4.7.1 Perlakuan Alkali (NaOH)
NaOH atau sering disebut alkali digunakan untuk menghilangkan kotoran
atau lignin pada serat.
Dilakukan perlakuan alkali pada abu biji kapuk dengan 5 variasi
komposisi, dan diberi perlakuan dengan cara yang sama. Berikut tabel komposisi
perlakuan alkali pada abu biji kapuk.
Tabel 4.3. Komposisi Perlakuan Alkali pada Abu Biji Kapuk
A1 Komposisi 2%
A2 Komposisi 4%
A3 Komposisi 6%
A4 Komposisi 8%
A5 Komposisi 10%
Catatan : - Massa Abu 100 gram
- Arti 10% >> 100 gram per 1000 ml dikalikan 100%
- Pencampuran abu dengan larutan di dalam bejana gelas
- Kecepatan pengadukan lambat
- Pengeringan 50oC selama 30 menit

4.7.2 Perlakuan Benzoyl


Dilakukan perlakuan benzoyl pada abu biji kapuk dengan 4 variasi
komposisi, dan diberi perlakuan dengan cara yang sama. Berikut tabel komposisi
perlakuan benzoyl pada abu biji kapuk.
Tabel 4.4. Komposisi Perlakuan Benzoyl pada Abu Biji Kapuk
B1 Komposisi 3%
B2 Komposisi 5%
B3 Komposisi 8%
B4 Komposisi 10%
Catatan : - Massa Abu 100 gram
- Arti 10% > volume benzol per volume campuran alkohol
dan air perbandingan 50 : 50 dikalikan 100%
- Pencampuran abu dengan larutan di dalam bejana gelas
- Kecepatan pengadukan lambat
- Pengeringan 50oC selama 30 menit

37
4.8 Pembuatan Spesimen
Berikut ini merupakan langkah-langkah pembuatan spesimen, dimulai
dari pencetakan spesimen hingga proses sintering :

4.8.1 Pencetakan dan Kompaksi Abu

Pencetakan dan kompaksi pada abu biji kapuk dilakukan untuk membuat
spesimen berbentuk silinder yang solid sehingga bisa dilakukan proses sintering.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam mencetak abu biji kapuk antara lain:

1. Melapisi wax ke dalam cetakan sebagai pelapis agar saat melepas spesimen
lebih mudah dan tidak rontok.

2. Memasukkan abu biji kapuk ke dalam cetakan yang telah dilapisi dengan wax
sedikit demi sedikit yang bertujuan pemadatan serbuk yang sempurna
kemudian menutupnya dengan silinder penekan.

3. Meletakkan cetakan berisi abu biji kapuk yang siap dikompaksi pada mesin
uji tekan kemudian melakukan kompaksi.

4. Setelah selesai proses kompaksi abu biji kapuk di dalam cetakan dikeluarkan,
kemudian membuat spesimen yang lain sesuai variasi komposisi dengan cara
yang sama.

Gambar 4.9. Spesimen Hasil Kompaksi

38
4.8.2 Sintering
Proses sintering yang dilakukan di Laboratorium Bahan Teknik Mesin
Universitas Gadjah Mada. Masing-masing spesimen yang telah dikompaksi
dimasukkan ke dalam furnace untuk proses sintering pada temperatur 170 oC
untuk spesimen dengan resin polyester dan temperatur 210 oC untuk spesimen
dengan resin epoxy. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain:
1. Sebelum spesimen tersusun di atas bantalan dalam furnace perlu ditaburkan
serbuk alumina yang bertujuan untuk menghindari lengketnya spesimen pada
furnace. Setelah itu spesimen disusun berdiri berjajar di dalam furnace.
2. Sintering dilakukan bergantian karena proses pemanasan sampai temperatur
170 oC untuk resin polyester dan 210 oC untuk resin epoxy dan membutuhkan
waktu 210 menit untuk spesimen dengan resin polyester dan 240 menit untuk
spesimen dengan resin epoxy. Setelah itu spesimen yang telah disintering
baru bisa diambil.
3. Pada spesimen dengan resin polyester pemanasan furnace dilakukan secara
bertahap yang pertama penahanan selama 30 menit pada temperatur 50 oC
dan yang kedua penahanan selama 30 menit pada temperatur 100 oC
bertujuan untuk menghilangkan air kemudian dinaikkan bertahap menjadi
150 oC ditahan selama 30 menit lalu dinaikan kembali sampai temperatur
sintering 170 oC yang ditahan selama 120 menit. Sedangkan pada spesimen
dengan resin epoxy pemanasan furnace dilakukan secara bertahap yang
pertama penahanan selama 30 menit pada temperatur 50 oC dan yang kedua
penahanan selama 30 menit pada temperatur 100 oC bertujuan untuk
menghilangkan air kemudian dinaikkan bertahap menjadi 150 oC dan 180 oC
masing-masing ditahan selama 30 menit lalu dinaikan kembali sampai
temperatur sintering 210 oC yang ditahan selama 120 menit. Pemanasan
secara bertahap ini dimaksudkan agar spesimen tidak rontok akibat perubahan
temperatur yang mendadak.
4. Proses selanjutnya adalah pendinginan spesimen dalam temperatur kamar
selama kurang lebih 120 menit.

39
5. Diagram proses pemanasan dan pendinginan selama proses sintering dapat
dilihat pada gambar di bawah ini :

170oC

120 menit
Laju pemanasan
150oC
10 oC
30 menit
100oC Laju pendinginan 20
o
C
30 menit
50oC

30 menit
Temperatur kamar
Temperatur kamar

Gambar 4.10 Skema Pemanasan dan Pendinginan pada Temperatur Sintering


Komposit (Polyester Resin)

210 oC

2 jam
180oC

30 menit
Laju pemanasan 150oC
10 oC
30 menit
100oC Laju pendinginan
20 oC
30 menit
50oC

30 menit
Temperatur
Temperatur kamar kamar

Gambar 4.11 Skema Pemanasan dan Pendinginan pada Temperatur Sintering


Komposit (Epoxy Resin)

40
4.9 Pengujian Spesimen
4.9.1 Pengujian Kekerasan
Pengujian kekerasan dilakukan dengan metode Brinell, Metode Brinell
adalah suatu cara untuk memperoleh kekerasan yang mana indentor berbentuk
bola ditekan ke permukaan benda uji dan diameter hasil penekanan diukur setelah
identor dipindahkan dari benda uji. Pengujian kekerasan dilakukan menggunakan
alat uji N3 emcotest buatan Austria di Laboratorium Metalurgi Fisik Teknik
Mesin Universitas Diponegoro. Uji kekerasan dilakukan untuk mengetahui nilai
kekerasan material komposit yang telah dibuat. Untuk memperoleh nilai
kekerasan, maka data yang diperoleh pada saat pengidentasian dimasukkan
kedalam rumus kekerasan Brinell berikut :

............................. (4.1)
Di mana : HB = nilai kekerasan Brinell
P = beban yang diterapkan (kg)
D = diameter bola (mm)
d = diameter lekukan (mm)

Gambar 4.12. Uji Kekerasan dengan Metode Brinell

41
4.9.2 Pengujian Laju Keausan
Keausan umumnya didefinisikan sebagai kehilangan material secara
progresif atau pemindahan sejumlah material dari suatupermukaan sebagai
suatu hasil pergerakan relatif antara permukaan tersebut dan permukaan
lainnya. Pengujian keausan dapat dilakukan dengan berbagai macam
metode dan teknik, yang semuanya bertujuan untuk mensimulasikan
kondisi keausan aktual. Salah satunya adalah dengan pengujian laju
keausan.
Pengujian laju keausan dilakukan menggunakan mesin Ogoshi High Speed
Universal Wear Testing (Type OAT-U) di Laboratorium Laboratorium
Bahan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada.
Pengujian laju keausan dinyatakan dengan kehilangan/pengurangan
spesimen tiap satuan luas bidang kontak dan lama pengausan. Laju
keausan dinyatakan dengan :

............................. (4.2)
Dengan : W = Laju keausan (g/mm2.detik)
Wo = Berat awal spesimen sebelum pengausan (gram)
W1 = Berat akhir spesimen setelah pengausan (gram)
A = Luas bidang kontak dengan pengausan (mm2)
t = Waktu / lama pengausan (detik)

4.9.3 Pengujian Lentur


Kelenturan merupakan sifat mekanik bahan yang menunjukkan derajat
deformasi plastis yang terjadi sebelum suatu bahan putus atau patah.
Untuk mengetahui kekuatan lentur suatu material dapat dilakukan dengan
pengujian lentur terhadap material tersebut. Besar kekuatan lentur
tergantung pada jenis material dan pembebanan. Pengujian yang dilakukan
three point bending.

42
Gambar 4.13. Three Point Bending
Sehingga kekuatan lentur dapat dirumuskan sebagai berikut :

............................. (4.3)

............................. (4.4)

............................. (4.5)

Pada perhitungan kekuatan lentur ini, digunakan persamaan yang ada pada
standar ASTM D790, sama seperti pada persamaan diatas, yaitu :

............................. (4.5)
Dengan : S = Tegangan Lentur (MPa)
P = Beban / Load (N)
L = Panjang Span / Support span (mm)
b = Lebar / Width (mm)
d = Tebal / Depth (mm)

43
Pengujian Lentur dilakukan menggunakan mesin Hydraulic Ultimate
Tensile Machine model WE-1000A di Laboratorium Bahan dan
Konstruksi Teknik Sipil Universitas Diponegoro.

44
BAB V

HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Pengujian

5.1.1 Hasil Pengujian Gesek

Contoh perhitungan laju keausan dengan data sebagai berikut : Berat awal
spesimen 6,54 g dilakukan pengujan laju keausan selama 1800 detik, beban
pengereman 10 kg dan putaran motor 100 rpm dengan luas daerah yang terkena
557,525 mm , sehingga spesimen tersebut mengalami penurunan berat menjadi
2

16,39, sehingga laju keausannya (W).

Penyelesaian :

1,49 x 10 -7 gram / mm2. detik

Hasil pengujian keausan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5.1. Hasil Pengujian Keausan pada Spesimen dengan Resin Polyester

Berat Awal Berat Akhir Laju Keausan


Luas (A) Waktu (t)
Komposisi (Wo) (Wt) (W)
mm2 detik
gram gram gr/mm2.detik
kom. 3 : 2 Abu A1 + Resin Polyester 6.54 6.39 557.52 1800 1.4947E-07
kom. 7 : 9 Abu A2 + Resin Polyester 7.05 6.97 547.11 1800 8.12344E-08
kom. 7 : 3 Abu A5 + Resin Polyester 6.68 6.47 555.43 1800 2.10046E-07
kom. 7 : 4 Abu A5 + Resin Polyester 6.68 6.52 597.98 1800 1.48648E-07
kom. 5 : 3 Abu B1 + Resin Polyester 6.6 6.48 545.04 1800 1.22314E-07
kom. 7 : 5 Abu B3 + Resin Polyester 7.9 7.8 553.35 1800 1.00399E-07
kom. 7 : 4 Abu B4 + Resin Polyester 6.59 6.48 328.29 1800 1.8615E-07

Tabel 5.2. Hasil Pengujian Keausan pada Spesimen dengan Resin Epoxy

45
Berat Awal
(Wo) Berat Akhir Laju Keausan
Luas (A) Waktu
Komposisi gram (Wt) (W)
mm2 (t) detik
gram gr/mm2.detik

kom. 5 : 3 Abu A1 + Resin Epoxy 6,68 6,56 547,114 1800 1,21852E-07


kom. 7 : 9 Abu A2 + Resin Epoxy 6,15 6,07 555,435 1800 8,00174E-08
kom. 3 : 2 Abu A3 + Resin Epoxy 6,78 6,6 545,043 1800 1,83472E-07
kom. 5 : 3 Abu B1 + Resin Epoxy 6,85 6,68 328,289 1800 2,87687E-07
kom. 7 : 3 Abu B2 + Resin Epoxy 6,85 6,61 597,982 1800 2,22972E-07
kom. 3 : 2 Abu B3 + Resin Epoxy 6,74 6,61 555,435 1800 1,30028E-07
kom. 7 : 3 Abu B4 + Resin Epoxy 7,01 6,96 578,641 1800 4,80052E-08
kom. 3 : 2 Tanpa perlakuan 6,82 6,61 553,348 1800 2,10838E-07

5.1.2 Hasil Pengujian Lentur

Contoh perhitungan dengan data sebagai berikut :

Spesimen dengan komposisi resin 3 : 2 dengan ukuran tebal 10 mm, lebar 20 mm


dan jarak antar titik tumpu 60 mm. Menerima beban sebesar 415.67 N .

Penyelesaian :

= 23.21 N/mm2

46
Hasil Pengujian lentur dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5.3. Hasil Pengujian Lentur pada Spesimen dengan Resin Polyester

S
Beban d b L
Komposisi (Tegangan lentur)
(N) (mm) (mm) (mm)
N/mm2

kom. 3 : 2 Abu A1 + Resin Polyester 515.83 10 20 60 23.21


kom. 7 : 9 Abu A2 + Resin Polyester 366.65 10 20 60 16.50
kom. 7 : 3 Abu A5 + Resin Polyester 489.2 10 20 60 22.01
kom. 7 : 4 Abu A5 + Resin Polyester 488.77 10 20 60 21.99
kom. 5 : 3 Abu B1 + Resin Polyester 495.33 10 20 60 22.29
kom. 7 : 5 Abu B3 + Resin Polyester 415.67 10 20 60 18.71
kom. 7 : 4 Abu B4 + Resin Polyester 418.1 10 20 60 18.81

Tabel 5.4. Hasil Pengujian Lentur pada Spesimen dengan Resin Epoxy
S
Beban d b L
Komposisi (Tegangan lentur)
(N) (mm) (mm) (mm)
N/mm2

kom. 5 : 3 Abu A1 + Resin Epoxy 587.41  10 20  60  26.43


kom. 7: 9 Abu A2 + Resin Epoxy 527.95  10 20  60  35.31
kom. 3 : 2 Abu A3 + Resin Epoxy 784.61  10 20  60  26.43
kom. 5 : 3 Abu B1 + Resin Epoxy 588.74  10 20  60  26.49
kom. 7 : 3 Abu B2 + Resin Epoxy 698.73  10 20  60  31.44
kom. 3 : 2 Abu B3 + Resin Epoxy 786.99  10 20  60  35.41
kom. 7 : 3 Abu B4 + Resin Epoxy 782  10 20  60  35.19
kom. 3 : 2 Tanpa perlakuan 727.36  10 20  60  25.93

47
5.1.3 Hasil Pengujian Kekerasan

Hasil pengujian kekerasan dengan metode Brinell dapat dilihat pada tabel
dibawah ini :

Tabel 5.5. Hasil Pengujian Kekerasan pada Spesimen dengan Resin Polyester

Nilai Kekerasan
Komposisi
(HBN)
kom. 3 : 2 Abu A1 + Resin Polyester 17,7

kom. 7: 9 Abu A2 + Resin Polyester 20,22

kom. 7 : 3 Abu A5 + Resin Polyester 12,35

kom. 7 : 4 Abu A5 + Resin Polyester 17,5

kom. 5 : 3 Abu B1 + Resin Polyester 19,36

kom. 7 : 5 Abu B3 + Resin Polyester 21,66

kom. 7 : 4 Abu B4 + Resin Polyester 19,49

Tabel 5.6. Hasil Pengujian Kekerasan pada Spesimen dengan Resin Epoxy

Nilai Kekerasan
Komposisi
(HBN)
kom. 5 : 3 Abu A1 + Resin Epoxy 31,51

kom. 7: 9 Abu A2 + Resin Epoxy 35,78

kom. 3 : 2 Abu A3 + Resin Epoxy 25,16

kom. 5 : 3 Abu B1 + Resin Epoxy 25,77

kom. 7 : 3 Abu B2 + Resin Epoxy 20,32

kom. 3 : 2 Abu B3 + Resin Epoxy 31,23

kom. 7 : 3 Abu B4 + Resin Epoxy 35,67

kom. 3 : 2 Tanpa perlakuan 21,58

5.2 Pembahasan

48
5.2.1 Pengaruh Komposisi Resin terhadap Kelenturan Material

Untuk pembahasan pengaruh komposisi resin terhadap kelenturan


spesimen dilihat melalui grafik dibawah ini.

Gambar 5.1. Grafik Hasil Pengujian Lentur pada Spesimen Resin Polyester

Gambar 5.2 Grafik Hasil Pengujian Lentur pada Spesimen Resin Epoxy

Tabel 5.7. Keterangan Grafik

49
No Keterangan
1 Komposisi 3 : 2 Abu A1 + Resin Polyester
2 Komposisi 7: 9 Abu A2 + Resin Polyester
3 Komposisi 7 : 3 Abu A5 + Resin Polyester
4 Komposisi 7 : 4 Abu A5 + Resin Polyester
5 Komposisi 5 : 3 Abu B1 + Resin Polyester
6 Komposisi 7 : 5 Abu B3 + Resin Polyester
7 Komposisi 7 : 4 Abu B4 + Resin Polyester
8 Komposisi 5 : 3 Abu A1 + Resin Epoxy
9 Komposisi 7: 9 Abu A2 + Resin Epoxy
10 Komposisi 3 : 2 Abu A3 + Resin Epoxy
11 Komposisi 5 : 3 Abu B1 + Resin Epoxy
12 Komposisi 7 : 3 Abu B2 + Resin Epoxy
13 Komposisi 3 : 2 Abu B3 + Resin Epoxy
14 Komposisi 7 : 3 Abu B4 + Resin Epoxy
15 Komposisi 3 : 2 Tanpa perlakuan

Dari Grafik tampak jelasa bahwa penambahan resin terjadinya penurunan


kelenturan dari spesimen terlihat pada grafik pengujian pada spesimen dengan
resin polyester, spesimen yang mempunyai nilai kelenturan yang paling tinggi
adalah spesimen dengan komposisi 3 : 2 Abu A1 + Resin Polyester yaitu 23.21
N/mm2. Sedangkan nilai kelenturan yang paling rendah adalah spesimen dengan
komposisi 7: 9 Abu A2 + Resin Polyester yaitu 16.50 N/mm2.
Namun pada spesimen dengan resin epoxy terlihat pada grafik bahwa
kelenturan yang didapat lebih lentur dibandingkan spesimen dengan resin
polyester. Dan didapat spesimen dengan resin yang paling lentur adalah spesimen
dengan komposisi 3 : 2 Abu B3 + Resin Epoxy yaitu 35.41 N/mm2 .

5.2.2 Pengaruh Komposisi Resin terhadap Kekerasan Material

50
Gambar 5.3. Grafik Hasil Pengujian Kekerasan pada Spesimen Resin Polyester

Gambar 5.4. Grafik Hasil Pengujian Kekerasan pada Spesimen Resin Epoxy

Tabel 5.8. Keterangan Grafik

51
No Keterangan
1 Komposisi 3 : 2 Abu A1 + Resin Polyester
2 Komposisi 7: 9 Abu A2 + Resin Polyester
3 Komposisi 7 : 3 Abu A5 + Resin Polyester
4 Komposisi 7 : 4 Abu A5 + Resin Polyester
5 Komposisi 5 : 3 Abu B1 + Resin Polyester
6 Komposisi 7 : 5 Abu B3 + Resin Polyester
7 Komposisi 7 : 4 Abu B4 + Resin Polyester
8 Komposisi 5 : 3 Abu A1 + Resin Epoxy
9 Komposisi 7: 9 Abu A2 + Resin Epoxy
10 Komposisi 3 : 2 Abu A3 + Resin Epoxy
11 Komposisi 5 : 3 Abu B1 + Resin Epoxy
12 Komposisi 7 : 3 Abu B2 + Resin Epoxy
13 Komposisi 3 : 2 Abu B3 + Resin Epoxy
14 Komposisi 7 : 3 Abu B4 + Resin Epoxy
15 Komposisi 3 : 2 Tanpa perlakuan

Dari Grafik tampak jelasa bahwa penambahan resin mengakibatkan


pertambahan kekerasan pada spesimen. terlihat pada grafik pengujian pada
spesimen dengan resin polyester, spesimen yang mempunyai nilai kekerasan yang
paling tinggi adalah spesimen dengan komposisi 7: 9 Abu A2 + Resin Polyester
yaitu 21.66 HBN. Sedangkan nilai kekerasan yang paling rendah adalah spesimen
dengan komposisi 7 : 4 Abu A5 + Resin Polyester yaitu 17.5 HBN.
Namun pada spesimen dengan resin epoxy terlihat pada grafik bahwa
kekerasan yang didapat lebih keras dibandingkan spesimen dengan resin
polyester. Dan didapat spesimen dengan resin yang paling keras adalah spesimen
dengan komposisi 7: 9 Abu A2 + Resin Epoxy yaitu 35.78 HBN.

52
5.2.3 Pengaruh Komposisi Resin pada Laju Keausan Spesimen

Gambar 5.5. Grafik Hasil Pengujian Laju Keausan pada Spesimen Resin Polyester

Gambar 5.6. Grafik Hasil Pengujian Laju Keausan pada Spesimen Resin Epoxy

Tabel 5.9. Keterangan Grafik

53
No Keterangan
1 Komposisi 3 : 2 Abu A1 + Resin Polyester
2 Komposisi 7: 9 Abu A2 + Resin Polyester
3 Komposisi 7 : 3 Abu A5 + Resin Polyester
4 Komposisi 7 : 4 Abu A5 + Resin Polyester
5 Komposisi 5 : 3 Abu B1 + Resin Polyester
6 Komposisi 7 : 5 Abu B3 + Resin Polyester
7 Komposisi 7 : 4 Abu B4 + Resin Polyester
8 Komposisi 5 : 3 Abu A1 + Resin Epoxy
9 Komposisi 7: 9 Abu A2 + Resin Epoxy
10 Komposisi 3 : 2 Abu A3 + Resin Epoxy
11 Komposisi 5 : 3 Abu B1 + Resin Epoxy
12 Komposisi 7 : 3 Abu B2 + Resin Epoxy
13 Komposisi 3 : 2 Abu B3 + Resin Epoxy
14 Komposisi 7 : 3 Abu B4 + Resin Epoxy
15 Komposisi 3 : 2 Tanpa Perlakuan

Dari Grafik tampak jelasa bahwa penambahan resin mengakibakan


terjadinya penurunan laju keausan dari spesimen terlihat pada grafik pengujian
pada spesimen dengan resin polyester, spesimen yang mempunyai laju keausan
yang paling tinggi adalah spesimen dengan komposisi 7 : 3 Abu A5 + Resin
Polyester yaitu 2,10046E-07 gram/mm2. Sedangkan laju keausan yang paling
rendah adalah spesimen dengan komposisi 7 : 9 Abu A2 + Resin Polyester yaitu
8,12344E-08 gram/mm2.
Namun pada spesimen dengan resin epoxy terlihat pada grafik bahwa laju
keausan spesimen dengan resin yang paling tinggi laju keausannya adalah
spesimen dengan komposisi 5 : 3 Abu B1 + Resin Epoxy yaitu 2,87687E-07
gram/mm2 .

BAB VI

54
PENUTUP

6.1. KESIMPULAN

Berdasarkan data dari hasil pengujian dan pembahasan, maka dari penelitian ini
dapat disimpulkan :

1. Sifat mekanik bahan kampas rem abu biji kapuk randu yang mempunyai
sifat kelenturan yang paling tinggi adalah Abu B3 + Resin Epoxy dengan
perbandingan komposisi 3 : 2 yaitu 35.41 N/mm2. Sedangkan nilai
kelenturan yang paling rendah adalah Abu A2 + Resin Polyester dengan
perbandingan komposisi 7: 9 yaitu 16.50 N/mm2

2. Sifat mekanik bahan kampas rem abu biji kapuk randu yang mempunyai
sifat kerasan yang paling tinggi adalah Abu A2 + Resin Epoxy dengan
perbandingan komposisi 7: 9 yaitu 35.78 HBN. Sedangkan nilai kekerasan
yang paling rendah adalah Abu A2 + Resin Polyester dengan perbandingan
komposisi yaitu 16.50 N/mm2.

3. Sifat mekanik bahan kampas rem abu biji kapuk randu yang mempunyai
laju keausan yang paling tinggi adalah Abu B1 + Resin Epoxy dengan
perbandingan komposisi 5 : 3 yaitu 2,87687E-07 gram/mm2 . Sedangkan
yang mempunyai laju keausan yang paling rendah adalah Abu A2 + Resin
Polyester dengan perbandingan komposisi 7 : 9 yaitu 8,12344E-08
gram/mm2.

6.2. SARAN

1. Penelitian lanjutan sebaiknya perlu dipikirkan lagi komposisi yang lebih


bervariasi dan baik untuk menghasilkan kampas rem yang baik.
2. Ada baiknya jika bahan untuk kampas rem ini diajukan ke pabrik perusahaan
kampas rem, dikarenakan non asbes sehingga bahan dari abu biji kapuk
randu ini bersifat lebih ramah lingkungan
DAFTAR PUSTAKA

55
Asmi,T., Hidayat N. dan Harjanto E. Murni, Darmanto, S., 2007, ‘’ Kajian dan
Analisa Batang Pelepah Kelepa Sebagai Serat Komposit Bodi Kendaraan’’,
Laporan Kemajuan Penelitian PKM Dikti 2007.
Abidin, Z., 2003, ”Kota dengan Berjuta Kelapa”, Otonomi, Koran harian, Kamis,
7 Agustus 2003, on line www.kompas.go.id,.
Boz, M. dan Kurt, A, 2007,’’Effect of ZrSiO4 on the Friction Performance of
Automotive Brake Friction Materials’’, 1) Metallurgy Department, Z.K.U.
Karab¨uk Technical Education Faculty, 78200 Karab¨uk, Turkey, 2)
Metallurgy Department, Gazi University, Technical Education Faculty,
06500 Ankara, Turkey
Berglund, 2006,’’New Concepts in Natural Fiber Composites’’, Proceeding of the
27th Riso International Symposium on Material science.
Budianta, E., 2006, ” Galeri Pohon Industri ”, Trubus, 10 April 2006,
Http//:www.Trubus-online.com/mail.php

Blau, P.J., 2001, “Composition, Function and Testing of Friction Brake Material
and Additives”, Metal and Ceramic Division, US Deparment of Energy.
Bahadur, S., .., “Fundamental of friction and Wear of Automobile Brake
Material”, tutorial bahadur, Mechanical engineering of Iowa State
University, Ames,IA
Costa, C.A., and Luciano, M.A., 2004, ’’Information and Knowledge Models
Supporting Brake Friction Material Manufacturing’’, Department of
Mechanical Engineering University of Caxias do Sul, PO. Box. 1352,
95001-970 Caxias do Sul, RS. Brazil, cacosta@ucs.br, malucian@ucs.br.

Duboka, C. dan Aleksendric, D, 2007,’’A Neural Model of Automotive Cold


Brake Performance’’, Faculty of Mechanical Engineering, Kraljice Marije
16, 11120 Belgrade 35, Serbia

Darmanto, S., Umardhani, Y dan Kusumayanti, 2007,’’ Peningkatan Serat


Pelepah Kelapa untuk Komposit Otomotif dengan Perlakuan Fisk dan
Kimia’’, laboran Penelitian Hibah Bersaing Tahun 1 DP2M Dikti.

56
Darmanto, S., dan Haryadi, G.D., 2006, Kajian Serabut Kelapa sebagai Bahan
Kampas Rem’’, Majalah Teknik, Vol. 27, No. 3, periode Desemberl 2006,
ISSN : 0852-1697.
Darmanto, S., Sediono, W dan Bambang Setyoko, 2007, ’’ Kajian Batang
Pelepah Kelapa sebagai Serat Komposit’’, Majalah Teknik, Vol 28, No.1 ,
Prd April, hal 16 – 20.
Deutschman, A.D., Michels, W.J and Wilson, C.E., 1975, “Machine Design”,
Macmillan Publishing Co., Inc, United States of America

Chand, Hashmi, S.A.R., Lomash, S. dan Naik, A, 2004,’’Development of


Asbestos Free Brake Pad’’, Hydro Generator Engineering Div., Bharat
Heavy Electricals Ltd, Piplani, Bhopal, 462 022.
Engberg, C.C., 1995,’’The Regulation and Manufacture of Brake Pads:The
Feasibility of Reformulation to Reduce the Copper Load to the San
Francisco Bay’’, Prepared for the Palo Alto Regional Water Quality Control
Plant
Gomes, A, Goda, K. dan Ohgi J, 2004,’’ Effect of Alkali Treatment to
Reinforcement on Tensile Properties of Curaua Fiber Green Composites’’,
JSME International Journal, Series A, Vol 47, No. 4. hal 541 -546.

German, 1994,”Powder Metallurgy Science”, second edition, The Pennsylvania


State University.
Haryadi, G.D., Darmanto, S dan Setyoko, 2007, ’’Analisa Biji Kapuk Randu
sebagai Bahan Kampas Rem’’, Laporan Penelitian SPI 2007 Undip.
Haryadi, G.D., Darmanto, S dan Setyoko, 2008, ’’Analisa Ampas Kelapa
Sawit sebagai Bahan Kampas Rem’’, Majalah Gema Teknologi, Periode
April, No. 1, Vol 15, hal 9 – 13.
Himawan, T., 2010, “Target Penjualan Sepeda Motor Terlampui”, Otomotif,
Koran harian, , On line Http/:www.Republika.co.id.
Humas@litbang.deptan.go.id, 2005, “Prospek dan Arah Pengembangan
Agrobisnis: Kelapa”, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

57
(Indonesian Agency for Agricultural Research and Development), Jl.
Ragunan 29 Pasarminggu Jakarta Selatan 12540, Indonesia
Joseph, K., Filho, R.D.T., James, B., Thomas, S., dan Carvalho, L.H., 1999, ’’ A
Review on Sisal Fiber Reinforced Polymer Composites ’’, R. Bras. Eng.
Agric. Ambiental, Campina Grande, v.3, n.3, p. 367-379.
Jayadheva, B., 2005, “Kampas Rem Ampas Tebu Cukup Berkualitas” , Teknologi
dan Sains, Majalah Mingguan, On line Www.Gatara.com.
Lawrence T.D., Mohanty, A.K.Misra, M., dam Isa, J.P.L.D., 2003, ’’ Structural
Bio-Composite from Engineered Corn Straw Fiber and Novel Soy-based
resin ’’, Prpject Number GR01-037.
Manik, P., Eko Sasmita Hadi dan Dedi Cristianto, 2004, “Kajian Teknik
Penggunaan Serat Bambu Sebagai Bahan Komposit Pembuatan Kulit
Kapal”, Laporan Penelitian Dosen Muda, Dikti.
Mezey, Z., Danyadi, L., Tibor C. Dan Pukanszky, 2002,’’ Investigation of The
Mechanical properties of Sisal Fiber Reinforced Polypropylene Composites
’’, Budafest University of Technology and Economics, Hungary, E-mail
Poltex@eik.bme.hu
Nicholson.G, 1995, “ Fact abaout Friction”, P & W Price Enterprise, Inc,
Croydon, PA.
Novianto, A. KunowoA., Fega, A, , 2007,’’Analisa Ampas Biji Kapuk Randu
sebagai Bahan Kampas Rem’’, Laporan Penelitian Program Kreatifitas
Mahasiswa Dikti 2007.
NN/ Bapeda Kabupaten Probolinggo, 2004, ” Potensi Daerah”, Dinas Pertanian
Tanaman Pangan, Kehutanan dan Perkebunan, Bapeda Kabupaten
Probolinggo
NN/KPDE, Kab. Pasuruan, 2006,’’Potensi Daerah Pasuruan’’, Dinas Pertanian
Tanaman Pangan, Kehutanan dan Perkebunan, Bapeda Kabupaten
Pasuruan.
Purwono, A., Darmanto, S, Kunowo, A. dan Hartono, D, 2007, ’’Analisa
Ampas Kelapa Sawit sebagai Bahan Kampas Rem’’, Laporan Penelitian
Program Kreatifitas Mahasiswa Dikti 2007.

58
Rowell, R.M., 1998,’’Property Enhanced Natural Fiber Composite Materials
Based on Chenical Modification’’, Science Technology of Polymers and
Advanced Materials.
Savage, L., 2007,’’Eco-Friendly Brake Pads Promise Greener Ransport’’, Exeter
Advanced Technologies University of Exeter, School of Engineering &
Computer Science, Harrison Building, North Park Road Exeter EX4 4QF,
Tel: 01392 263698, Email: L.Savage@exeter.ac.uk, www.ecopad.org
Sumardjono, A., 2007, “Kanvas Rem dari Limbah Pabrik Gula”, Agrinex
Indonesia 2007, Kompas 16 Maret 2007 hal 59.
Sumardjono, A., 2005, “Kanvas Rem dari Limbah Pabrik Gula”, Otomotif, Kor. Har,
on line www.Kompas.com,.
Santulli, C., 2003,’’ Biomimetic Interest and Possibilities for Replacement of
Glass Fibres with Plant Fibres in Composite Materials: The Case of Impact
Damage’’, Proceeding of International School on Advanced Material
Science & Technology 2g – 29 agustus 2003 jesi-Ancona Italy.
Suprapto, 2004, "Java Kapuk" di Ambang Punah”, Ekonomi Rakyat, Kompas 28
Oktober 2004
Sediono, W., Darmanto, S. dan Bambang Setyoko, 2006, ‘’Menganalisa Pelepah
Kelapa Sebagai Serat Komposit Untuk Bodi Kendaraan’’, Lap. Penelitian
Dikrutin Undip 2006.
Stefanus, Syahfudin dan Ridwan, 2004, Pengaruh Susunan Serat Kaca terhadap
Kekuatan Komposit Plastik (Fiber Glass Reinforcement Plastic), Abstrak
skripsi, Universitas Gunadarma.
Scheneider.A, 2003, “US Imports of Asbestos brake material are on Rise”,
Sunday Post-Dispatch, vol 125 No. 229, hal 1
Subiyakto, B, .., Papan Bambu Komposit, UPT Balai Penelitian dan
Pengembangan Biomaterial, Jl. Raya Bogor Km 26 Cibinong, www.
Inovasi.lipi.go.id.
Taurista, A.Y., Agita O. R. dan Khrisna H. P., 2005,”Komposit Laminat Bambu
Serat Woven Sebagai Bahan Alternatif Pengganti Fiber Glass pada Kulit
Kapal”, Laporan (PKMI) Program Kreatif Mahasiswa, Dikti.

59
Trisula, B., 2010, “Produsen Optimis Target Terlampui”, Otomotif, Koran harian,
, On line http/:www.Republika.co.id.
Tjahjono, S., 1997,” Pengaruh Serat Nabati dan Fraksi Volume Serat Terhadap
Sifat Mekanik material Komposit”, Tugas Akhir Metalurgi Teknik Mesin,
fakultas Teknologi Industri, ITS Surabaya.
Umardhani, Y, Darmanto, S dan Kusumayanti, 2008,’’ Peningkatan Serat
Pelepah Kelapa untuk Komposit Otomotif dengan Perlakuan Fisk dan
Kimia’’, laboran Penelitian Hibah Bersaing Tahun 1 DP2M Dikti.
Utomo B. N. dan Widjaja, E., 2004, ’’Limbah Padat Pengolahan Minyak Sawit
Sebagai Sumber Nutrisi Ternak Ruminansia”, Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Kalimantan Tengah, Jalan G. Obos km.5, Palangkaraya 73111,
Jurnal Litbang Pertanian, 23 (1), 2004
Xin, X., Cheng Guang Xu and Liu Fei Qing, 2006,’’ Friction properties of sisal
fibre reinforced resin brake composites’’,School of Energy & Power
Engineering, Xi’an Jiaotong University, Xi’an 710049, China.
Wang, B, Panigrahi, S, Tabil, L., Crerar, W dan Sokansanj, S.,
2003,’’Modification Flax Fiber by Chemical Treament ’’, Presentasi di
CSAE/SCGR 2003 Meeting Montreal Quebec.
Wood, K.A., 2005,’’Biofibres Industry Development Project for Eastern
Ontario’’, Submitted to Eastern Lake Ontario Regional Innovation Network
by Natural Capital Resources Inc. , ncr@ihorizons.net, www.ncronline.ca

Lampiran 1: Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas

No Nama NIDN Bidang ilmu Alk. Pembagian


waktu tugas

60
Jam/mgg
1 DR. Eng. Universitas Rekayasa 15 Koordinasi,
Gunawan Dwi Diponegoro Material desain perlakuan
Haryadi, ST Jurusan fisik dan kimia,
MT T. Mesin pengujian,
pengolahan data
0023117005 dan pembuatan
laporan
2 Ir. Bambang Universitas Permesinan 12 Pembuatan
Sri Waluyo Diponegoro Kapal peralaan
Msi Jurusan perlakuan fisik,
Prog. D III pembuatan
0002054903 T. spesimen,
Perkapalan pembuatan
laporan
3 Ir. Senen MT Universitas Rekayasa 12 Karakterisasi
Diponegoro dan Energi serat alam,
0016035904 Jurusan peralatan
Prog. D III perlakuan kimia,
T. Mesin pengujian
teknik dan
pembuatan
laporan

61
Lampiran 2. Biodata Peneliti
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENELITI
A. Ketua Pelaksana
I IDENTITAS DIRI

1.1 Nama Lengkap (dengan gelar) DR. Eng. Gunawan Dwi Haryadi, ST.,
MT.
1.2 Jabatan Fungsional Lektor
1.3 Jabatan Struktural Penata/III-D
1.4 NIP/NIK/No. Identitas lainnya 197011231998021001
1.5 NIDN 0023117005
1.6 Tempat dan Tanggal Lahir Semarang, 23 November 1970
1.7 Alamat Rumah Jl. Duta Asri no. A5, Perum. Duta Bukit
Mas, Banyumanik, Semarang 50264
1.8 Nomor Telepon/Faks 024 76480023
1.9 Nomor HP 081329298898:08882650926
1.10 Alamat Kantor Jl. Prof Sudarto, SH, Jurusan Teknik
Mesin Kampus Tembalang Undip
Semarang
1.11 Nomor Telepon/Faks (024) 7460059/ (024)7460059 ext.102
1.12 Alamat e-mail gunawan_dh@engineer.com;
gunawn_dh@undip.ac.id
1.13 Lulusan yang Telah 30 Mhs. (S-1).
Dihasilkan
1.14 Mata Kuliah yang Diampu Material Teknik, Manajemen Perawatan,
Teknik Pengelasan, Perlakuan Panas &
Permukaan, Pemilihan Bahan & Proses.

II RIWAYAT PENDIDIKAN
S-1 S-2 S-3
Nama PT Universitas Diponegoro Universitas Gadjah Pukyong National
Mada University
Bidang Ilmu Teknik Mesin Teknik mesin Mechanical Design
Engineering
Tahun Masuk 1990 2001 2010
Tahun Lulus 1995 2003 2012
Judul Tugas Perencanaan dan Pengaruh Perlakuan Influences of Post
Akhir Pembuatan Mekanisme Panas T-82 Pada Al Weld Heat
Gerak Sumbu X dan 6013 Yang Telah Treatment on
hasil Pengujian Mengalami Proses Fatigue Crack
Ketelitian Geometrik Pengelasan Terhadap Growth Behavior of
Prototip Mesin Drilling Laju Perambatan TIG Welded 6013
PCB Retak Fatik T4 Aluminum Alloy

62
Joint
Nama Ir. Dwi Basuki Prof. Jamasri, PhD. Prof. Seon-Jin Kim
Pembimbing Wibowo, MS.

III PENGALAMAN PENELITIAN 5 TAHUN TERAKHIR


Pendanaan
No. Tahun Judul Penelitian Jumlah
Sumber
(Juta Rp)
Influences of Post Weld Heat
Treatment on Fatigue Crack Growth
1 2012 Behavior of TIG Welded 6013 T4 Mandiri
Aluminum Alloy Joint
Peningkatan Kekuatan Serat Batang
2 2011 Salak dengan Perlakuan DIPA FT Undip 15
Benzoylation (Anggota)
Peningkatan Kualitas Besi Cor
Austepered Ductile Iron (Adi)
Untuk Komponen Otomotif Hibah PEKERTI
3 2008 110
Melalui Penambahan Unsure 2008
Paduan Molybdenum (Mo) dan
Tembaga (Cu) (Anggota)
Analisa Biji Kapuk Randu sebagai
4 2007 Bahan Kampas Rem DPP SPI FT Undip 1.5

Peningkatan Kualitas Proses


Pengelasan Al Paduan 2024 — T3 Hibah PEKERTI
5 2004 Dengan Metode Pengelasan Friction Angkatan II-2004 139
Stir (Anggota) tahun 1

IV PENGALAMAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT 5 TAHUN


TERAKHIR
Pendanaan
Judul Pengabdian Kepada
No. Tahun Jumlah
Masyarakat Sumber
(Juta Rp)
Rancang Bangun Peralatan Pengolah
1 2010 Pakan Ternak untuk Kelompok Ternak IbM DP2M Dikti 45
Sapi Brahman Cross dan Lokal
Pelatihan Penyusunan SOP, Kontrol
2 2008 Kualitas dan Sertifikasi Pembuatan IDB 250
Tromol Rem Bus/Truk
3 2008 Pelatihan Peningkatan Mutu Sistem Fakultas Teknik 70
Perawatan dan Pembuatan Database Undip
Perawatan pada Pesawat Terbang di

63
Perusahaan Penyewaan Pesawat
Terbang
Pelatihan Peningkatan Mutu Sistem
Fakultas Teknik
4 2009 Perawatan dan Pembuatan Database 75
Undip
Perawatan pada SPBU

V PENGALAMAN PENULISAN ARTIKEL ILMIAH DALAM JURNAL


No Volume/N
Tahun Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal
. o-mor
Influences of post weld heat Journal of Korean
Vol. 4/
1 2012 treatment on fatigue crack growth Society for Power
No.16
behavior of transverse TIG welded. System Engineering

64
65
Daftar Riwayat Hidup Peneliti
B. Anggota Peneliti 1
I. IDENTITAS DIRI
1.1. Nama Lengkap (dengan gelar) Ir. Bambang Sri Waluyo MSi
Jenis Kelamin Laki laki
1.2. Jabatan Fungsional Lektor
1.3. NIP/NIK/No. Identitas lainnya 195903161987031002
1.4. NIDN 0016035904
1.5. Tempat dan Tanggal lahir Boyolali, 16 – 03 - 1959
1.6. Alamat Rumah Ngagenan 55 Boyolali
1.7. Nomor Telepon/Fax 024 7471379
1.8. Nomor HP 085642037359
1.9. Alamat Kantor Prof Soedarto SH Tembalang Semarang
1.10. Nomor Telepon/Fax 024 7471379
1.11. Alamat e-mail
Mata Kuliah yang diampu Mekanika Teknik I
Mekanika Teknik II
Kapal Non Baja
Konstruksi Kapal

II. RIWAYAT PENDIDIKAN


2.1. Program S1 S2 S3
2.2. Nama PT Institut Teknologi Universitas -
Sepuluh November Diponegoro
2.3. Bidang Ilmu Teknik Perkapalan MSDP -
2.4. Tahun Masuk 1992 2008 -
2.5. Tahun Lulus 1997 2010 -
2.6. Judul Skripsi/ Ajian Pemanfaatan Kajian Investasi -
Tesis/Diserta Layar pada KRI Kapal Penangkap
si Dewaruji sebagai Ikan Perseseine
Tenaga Penggerak Berdasarkan GT
Kapal Kapal
2.7. Nama Prof. Ir Sugiono Prof. DDR Ir. Aziz -
Pembimbing/ Nur Bambang
Promotor Ir. Asrianto, M.Si

III. PENGALAMAN PENELITIAN


No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber (Juta Rp)
1 2011 Analisa Pengaruh Line Heating DIPA Fakultas 1
Terhadap Nilai Kekerasan Dan Struktur Teknik Undip
Mikro Pada Plat Baja
2 2011 Analisa Keandalan System Pelumasan DIPA Fakultas 1

66
Stasionery Diesel Engine Pada Kapal Teknik Undip
Nelayan Tipe di Bawah 15 GT
3 2010 Kajian Investasi Kapal Penangkap Ikan Mandiri
Perseseine Berdasarkan GT Kapal (Tesis)

67
68
Daftar Riwayat Hidup Peneliti
C. Anggota Peneliti 2
I. IDENTITAS DIRI

1.1. Nama Lengkap (dengan gelar) Ir. Senen, MT


Jenis Kelamin Laki-laki
1.2. Jabatan Fungsional Lektor Kepala
1.3. NIP/NIK/No. Identitas lainnya 19490502 198103 1002
1.4. NIDN 0002054903
1.5. Tempat dan Tanggal lahir Solo/ 2 Mei 1949
1.6. Alamat Rumah Jln Citarum Semarang Jawa Tengah
1.7. Nomor Telepon/Fax 024 7471379
1.8. Nomor HP 081326120020
1.9. Alamat Kantor Prof Soedarto SH Tembalang Semarang
1.10. Nomor Telepon/Fax 024 7471379
1.11. Alamat e-mail senenbw@yahoo.com
1.12 Mata Kuliah yang diampu Menggambar Teknik
Menggambar Mesin
Mesin Perkakas
Praktek Permesinan

I. RIWAYAT PENDIDIKAN

2.1. Program S1 S2 S3
2.2. Nama PT ITS Surabaya UNDIP Semarang -
2.3. Bidang Ilmu Teknik Mesin Teknik Mesin -
2.4. Tahun Masuk 1985 2010 -
2.5. Tahun Lulus 1988 2012 -
2.6. Judul Skripsi/ Pengendalian Pompa Karakteristik Blok -
Tesis/Diserta Banjir Stasiun Rem Kereta Api
si Kartini Kodya bebahan Besi Cor dan
Semarang Jawa AlSiC Berdasarkan
tengah kekuatan Uji tarik
dan Nilai Impak
2.7. Nama Ir. Suwandi DR. Ir. A.P. -
Pembimbing/ Bayuseno, MSc.
Promotor Sri Nugroho, ST,
MT, PhD

III. PENGALAMAN PENELITIAN


No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber (Juta Rp)
1 2011 Peningkatan Kekuatan Serat Batang DIPA FT Undip 15

69
Salak dengan Perlakuan
Benzoylation (Anggota)
2 2010 Uji Performa Mesin Diesel DIPA Fakultas 4.825
Berbahan Bakar Biodiesel Minyak Teknik
Sawit Teroksidasi
3 2008 Uji Performance Refrigeran DIPA Fakultas 1.25
Hidrokarbon MC – 22 dan Teknik
Refrigeran R – 22 pada Air
Conditioner Type Split 1 PK
4 2007 Elektroplating Dekoratif – Protektif DIPA Fakultas 0.75
dengan kapasitas Urutan Elektrolit Teknik
Nikel 20 L dan Khrom 10 L

IV. PENGALAMAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

No. Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat Pendanaan


Sumber (Juta Rp)
1 2011 Prosedur Pemakaian dan Keselamatan DIPA Fakultas 1.825
Kompor Gas Elpiji di Kelurahan Meteseh Teknik
Kecamatan Tembalang Kodya Semarang
2 2010 Perawatan dan Perbaikan Ringan DIPA Fakultas 1.825
Kendaraan Roda Dua bagi Anggota Teknik
Karang Taruna Dukuh Gedongan Desa
Ngesrep Balong Kecamatan Limbangan
Kabupaten Kendal
3 2010 Penyuluhan Pemasangan Instalasi Pompa DIPA Fakultas 1
bagi Anggota Karang Taruna Desa Teknik
Curugsewu Kecamatan Patean Kabupaten
Kendal
4 2009 Perawatan dan Perbaikan Ringan DIPA Fakultas 1,5
Kendaraan Roda Dua bagi Anggota Teknik
Karang Taruna Kelurahan Meteseh
Kecamatan Tembalang Kota Semarang
5 2009 Perawatan dan Perbaikan Ringan DIPA Fakultas 1,5
Kendaraan Roda Dua bagi Anggota Teknik
Karang Taruna Desa Ngadikerso
Kecamatan Sumowono Kabupaten
Semarang
6 2008 Pelatihan Tune – Up Mesin Bensin Multi DIPA Fakultas 1,5
Silinder bagi Kelompok Pemuda Pencari Teknik
Kerja di Wilayah Kelurahan Pandean
Lamper Semarang
7 2008 Perawatan dan Perbaikan Ringan DIPA Fakultas 1,5
Kendaraan Roda Dua bagi Anggota Teknik
Karang Taruna Desa Ngesrep Balong

70
Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal

V. PENGALAMAN PENULISAN ARTIKEL ILMIAH DALAM JURNAL


No. Tahun Judul Artikel Ilmiah Volume/ Nomor Nama Jurnal

1 2011 Peningkatan Kekuatan Serat Semnas


ISBN 978-979-
Batang Salak dengan Perlakuan TEKNOIN
96964-8-9
Benzoylation UII

71
72