Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

FEBRIS PADA ANAK DIRUANG PUSPA

Diajukan untuk memenuhi tugas Stase Anak

Dosen : TIM

Disusun Oleh :
Risza Apriani Fauziyah

JNR0200119

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN
TAHUN AKADEMIK 2020/2021
Daftar isi

Daftar isi ................................................................................................................... i


A. Definisi............................................................................................................. 1
B. Klasifikasi febris .............................................................................................. 1
C. Anatomi Fisiologi ........................................................................................... 3
D. Etiologi............................................................................................................. 4
E. Tanda Dan Gejala ............................................................................................ 5
F. Komplikasi ....................................................................................................... 5
G. Patofisiologi ..................................................................................................... 6
H. Pathway............................................................................................................ 7
I. Pemeriksaan Penunjang ................................................................................... 7
J. Penatalaksanaan Medis .................................................................................. 10
K. Konsep Asuhan Keperawatan ........................................................................ 11
L. Daftar Pustaka ................................................................................................ 21

i
A. Definisi

Demam/Fever/Febris, bila suhu tubuh > 37,70 C. Ada yang


menyebutkan demam sebagai peningkatan suhu tubuh diatas normal (380 –
400C). Hiperpireksia, bila suhu tubuh > 41,10 C, ada juga yang
menyebutkan > 400 C. Subfebris, bila suhu tubuh diatas normal, tapi lebih
rendah dari 37,70C (Zein, 2012).

Demam adalah proses alami tubuh untuk melawan infeksi yang


masuk ke dalam tubuh ketika suhu meningkat melebihi suhu tubuh normal
(>37,5°C). Demam adalah proses alami tubuh untuk melawan infeksi yang
masuk ke dalam tubuh. Demam terajadi pada suhu > 37, 2°C, biasanya
disebabkan oleh infeksi (bakteri, virus, jamu atau parasit), penyakit
autoimun, keganasan , ataupun obat – obatan (Hartini, 2015).

Demam merupakan suatu keadaan suhu tubuh diatas normal


sebagai akibat peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus. Sebagian
besar demam pada anak merupakan akibat dari perubahan pada pusat
panas (termoregulasi) di hipotalamus. Penyakit – penyakit yang ditandai
dengan adanya demam dapat menyerang sistem tubuh.Selain itu demam
mungkin berperan dalam meningkatkan perkembangan imunitas spesifik
dan non spesifik dalam membantu pemulihan atau pertahanan terhadap
infeksi (Wardiyah, 2016).

B. Klasifikasi febris

Klasifikasi Menurut Nurarif (2015) adalah sebagai berikut:

1. Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam
hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering

1
disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi
tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.
2. Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu
badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai
dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam
septik.
3. Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam
satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut
tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua
serangan demam disebut kuartana.
4. Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada
tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
5. Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh
beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian
diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula. Suatu tipe demam kadang-
kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu misalnya tipe demam
intermiten untuk malaria.

Seorang pasien dengan keluhan demam mungkin dapat


dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas seperti : abses,
pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali
tidak dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam
praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada
dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti influensa
atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak
harus tetap waspada terhadap infeksi bakterial. (Nurarif, 2015)

2
C. Anatomi Fisiologi

Gambar 1 Anatomi Hipotalamus

Hipotalamus merupakan bagian ujung anterior diensefalon dan di


depan nucleus interpedunkularis. Hipotalamus terbagi dalam berbagai inti
dan dareah inti. Hipotalamus terletak pada anterior dan inferior thalamus.
Berfungsi mengontrol dan mengatur system saraf autonom, Pengaturan
diri terhadap homeostatic, sangat kuat dengan emosi dan dasar
pengantaran tulang, Sangat penting berpengaruh antara system syaraf dan
endokrin. Hipotalamus juga bekerjasama dengan hipofisis untuk
mempertahankan keseimbangan cairan, mempertahankan pengaturan suhu
tubuh melalui peningkatan vasokonstriksi atau vasodilatasi dan
mempengaruhi sekresi hormonal dengan kelenjar hipofisis. Hipotalamus
juga sebagai pusat lapar dan mengontrol berat badan. Sebagai pengatur
tidur, tekanan darah, perilaku agresif dan seksual dan pusat respons
emosional (rasa malu, marah, depresi, panic dan takut).

Adapun fungsi dari hipotalamus antara lain adalah:

a. Mengontrol suhu tubuh


b. Mengontrol rasa haus dan pengeluaran urin
c. Mengontrol asupan makanan
d. Mengontrol sekresi hormon-hormon hipofisis anterior

3
e. Menghasilkan hormon-hormon hipofisis posterior
f. Mengontrol kontraksi uterus pengeluaran susu
g. Pusat koordinasi sistem saraf otonom utama, kemudian
mempengaruhi semua otot polos, otot jantung, sel eksokrin
h. Berperan dalam pola perilaku dan emosi Peran hipotalamus
adalah pengaturan hipotalamus terhadap nafsu makan terutama
bergantung pada interaksi antara dua area : area “makan”
lateral di anyaman nucleus berkas prosensefalon medial pada
pertemuan dengan serabut polidohipotalamik, serta “pusat rasa
kenyang:’ medial di nucleus vebtromedial. Perangsangan pusat
makan membangkitkan perilaku makan.

D. Etiologi

Peningkatan suhu tubuh ini disebabkan oleh beredarnya suatu


molekul kecil di dalam tubuh kita yang disebut dengan Pirogen, yaitu zat
pencetus panas. Biasanya penyebab demam sudah bisa diketahui dalam
waktu satu atau dua hari dengan pemeriksaan medis yang terarah.

Demam sering disebabkan karena infeksi. Penyebab demam selain


infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau
reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu
sentral (misalnya perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai
ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian
pengambilan riwayat penyekit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik,
observasi perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium,
serta penunjang lain secara tepat dan holistic (Nurarif, 2015).

Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran.


Demam dapat berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan,
penyakit metabolik maupun penyakit lain. Demam dapat disebabkan
karena kelainan dalam otak sendiri atau zat toksik yang mempengaruhi

4
pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak atau
dehidrasi (Guyton dalam Thobroni, 2015).

Sedangkan menurut Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal


dalam Thobroni (2015) bahwa etiologi febris,diantaranya

1. Suhu lingkungan.
2. Adanya infeksi
3. Pneumonia.
4. Malaria.
5. Otitis media.
6. Imunisasi

E. Tanda Dan Gejala

Menurut Nurarif (2015) tanda dan gejala terjadinya febris adalah:

1. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,5⁰C - 39⁰C)


2. Kulit kemerahan
3. Hangat pada sentuhan
4. Peningkatan frekuensi pernapasan
5. Menggigil
6. Dehidrasi
7. Kehilangan nafsu makan

F. Komplikasi

1. Dehidrasi : demam ↑ penguapan cairan tubuh


2. Kejang demam : jarang sekali terjadi (1 dari 30 anak demam). Sering
terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Serangan dalam 24 jam
pertama demam dan umumnya sebentar, tidak berulang. Kejang
demam ini juga tidak membahayan otak
3. Takikardi, Insufisiensi jantung, Insufisiensi pulmonal

5
G. Patofisiologi

Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi


dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri
dari permukaan dalam yaitu lipid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam
keadaan normal, memmbran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh
ion Kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) serta
elektrolit lainnya kecuali ion kloirda (Cl-). Akibatnya, konsentrasi ion K+
dalam neuron tinggi dan konsentrasi ion Na+ rendah, sedangkan di luar sel
neuron berlaku sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di
dalam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial membran yang
disebut sebagai potensial membran dari neuron. Untuk menjaga
keseimbangan potensial membran ini, diperlukan energi dan bantuan
enzim Na-K-ATP-ase ynag terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan
potensial membran ini dapat diubah oleh:

1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstra seluler


2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawia
atau aliran listrik dari sekitarnya.
3. Perubahan patofisiologi dari membran neuron itu sendiri karena
penyakit atau keturunan

Pada keadaan demam, kenaikan suhu 10C akan meningkatkan


metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%.
Pada seorang anak berumur 3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65% dari
seluruh tubuh dibandingkan orang dewasa yang hanya mencapai 15%.
Oleh karena itu, kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari
membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion
kalium maupun ion natrium melalui membran sel yang mengakibatkan
lepasnya aliran listrik. Lepasnya aliran listrik ini sedemikian besarnya
sehingga dapat meluas ke seluruh bagian sel maupun membran sel di
sekitarnya dengan bantuan “neurotransmitter” sehingga terjadilah
kejang.Ambang kejang tiap anak berbeda. Pada anak dengan ambang
rendah, kejang dapat terjadi pada suhu 380C, sedang anak dengan ambang
kejang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 400C atau lebih.

6
H. Pathway

diare
hipertermi

Intoleransi
Deficit
aktivitas
nutrisi

Gangguan
pola tidur
ansietas

(Sumber : Yahya, 2018)

I. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan demam menurut (Zein, 2012),

7
Pemeriksaan radiologis :

thorax, USG upper dan lower abdomen, bila dibutuhkan juga harus
diperiksa CT scan abdomen, pemeriksaan darah lengkap, termasuk kimia
darah, serologi terhadap beberapa seromarker yang ada, serta pemeriksaan
imunologi, seperti ANA test untuk melihat kemungkinan SLE.

Pemeriksaan labolatorium :

1. Darah dan urine rutin merupakan pemeriksaan dasar untuk penjajakan


demam. Kalau dari darah dan urine rutin sudah dapat menemukan
penyebab demam, maka pemeriksaan lainnya hanya untuk konfirmasi
diagnostik atau untuk melihat kemungkinan komplikasi. Banyak
penyakit infeksi sudah bisa diketahui atau sudah dapat diduga dengan
pemeriksaan darah dan urine rutin dan dikonfirmasi dengan anamnesis
dan pemeriksaan fisik yang cermat. Pada Tabel 1 beberapa penyakit
infeksi yang umum di Indonesia dengan manifestasi demam dapat
dibedakan dengan pemeriksaan darah rutine dan mengenali jenis
demamnya. Beberapa petunjuk penting pada kasus demam akibat
penyakit infeksi dan non infeksi yang lazim ditemukan pada
pemeriksaan darah rutin antara lain:
a. Anemia sering dijumpai pada malaria, leptospirosis, demam tifoid,
tuberkulosis, infeksi saluran kemih dengan batu (biasanya disertai
dengan hematuria), SLE, ITP, dan malignansi.
b. Leukopenia sering dijumpai pada infeksi virus akut seperti DBD,
chikungunya, demam tifoid, ITP, anemia aplastik.
c. Leukositosis dijumpai pada infeksi bakteri, malaria, leptospirosis,
leukemia (lebih dari 20.000).
d. Trombositopenia dijumpai pada DBD, chikungunya,
leptosopirosis, malaria, ITP, dan anemia aplastik.
e. Hematokrit meningkat pada keadaan dehidrasi seperti pada diare
akut, DBD.

8
f. Limfopenia dijumpai pada infeksi virus akut
g. Limfositosis dijumpai pada infeksi kronik seperti tuberkulosis
h. LED meningkat pada kasus infeksi bakteri, anemia kronik.
i. Eosinofilia lazim ditemukan pada demam dengan invasi parasit
seperti askariasis, trichuriasis, schistosomiasis, necatoriasis,
trichinosis, fascioliasis, gnathostomiasis, paragonimiasis, Loefler’s
syndrome dan reaksi alergi
2. Urinalisis harus dilakukan pada urine yang baru ditampung.
Proteinuria ringan bisa dijumpai pada pasien demam dengan berbagai
sebab. Proteinuria juga dijumpai pada keadaan hematuria. Gross
hematuria sering dijumpai pada pasien leptospirosis, malaria berat
(Black Water Fever), batu saluran kemih, DBD, dan kelainan
hemostasis.
3. Pemeriksaan feses, merupakan pemeriksaan sederhana secara
mikroskopik, dapat menemukan berbagai mikroorganisme penyebab
demam, seperti amuba, shigella, berbagai cacing usus, dan berbagai
jenis jamur. Pemeriksaan feses bisa dilanjutkan dengan kultur dan tes
sensitivitas serta PCR. Bila diperlukan kultur feses sesuai dengan
mikroorganiosme yang dicurigai sebagai penyebab.
4. Malaria smear dengan sediaan darah tebal dan tipis harus dilakukan
pada pasien demam yang dicurigai malaria. Pemeriksaan darah malaria
harus diambil dari ujung jari (darah tepi, bukan darah vena). Hapusan
darah tebal dan tipis dibuat dalam satu slide, dan untuk darah tebal,
tidak difiksasi. Pewarnaan Giemsa untuk sediaan darah tepi malaria
harus susuai dengan standard.
5. Rapid Diagnostic Test (RDT) dengan stick saat ini banyak digunakan
untuk mendeteksi berbagai infeksi seperti DBD (NS1, IgM, IgG),
Malaria (falciparum dan vivax), Influenza, Demam tifoid (typhidot),
Leptospirosis, Infeksi HIV.
6. Bacterial smear dapat dilakukan dari urine atau sekret yang diduga
sebagai akibat dari infeksi.

9
7. Tes Antigen saat ini terus berkembang untuk beberapa penyakit
infeksi, seperti NS1 pada DBD
8. Tes Serologik. Berbagai jenis tes serologik terus berkembang saat ini
untuk menegakkan diagnosis penyakit dan berbagai marker penyakit.
Pemeriksaan serologik untuk mendiagnosa penyebab demam
dimintakan sesuai dengan penilaian klinis. Misalnya, ASTO meninggi
pada demam rematik, ANA positip pada SLE, viral marker hepatitis
seperti anti HCV, HbsAg, IgM anti HVA pada hepatitis akut, dan lain-
lain.
9. Kultur darah dan sensitivity test harus dimintakan sesuai dengan
temuan dan dugaan klinis. Pengambilan sampel darah untuk kultur
setelah pemberian antibiotik selalu memberikan nilai negatip.
Permintaan kultur jenis bakteri atau jamur tertentu akan lebih terarah
dalam menelusuri etiologi penyebab demam.
10. Kimia Darah, seperti Elektrolit, gula darah, ureum, kreatinin, LFT, dan
lain-lain tergantung kondisi klinis pasien. Pemeriksaan kimia darah
ditujukan untuk melihat fungsi organ dan gangguan metabolik lain
akibat penyakit yang mendasari atau akibat komplikasinya, dan juga
untuk menunjang diagnosis penyebab demamnya. Misalnya,
tuberkulosis selalu sebagai komplikasi diabetes, gangguan fungsi
ginjal terjadi pada Weil’s diseases, hiponatremia bisa terjadi pada
malaria dan DBD, enzim transaminase selalu meninggi pada DBD,
leptospirosis dan malaria.

J. Penatalaksanaan Medis

Pada keadaan hipepireksia ( demam ≥ 41 °C ) jelas diperlukan


penggunaan obat – obatan antipiretik. Ibuprofen mungkin aman bagi anak
– anak dengan kemungkinan penurunan suhu yang lebih besar dan lama
kerja yang serupa dengan kerja asetaminofin

10
K. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a. Identitas klien Meliputi : nama, tempat/ tanggal lahir, umur, jenis
kelamin, nama orang tua, perkerjaan orang tua, alamat, suku,
bangsa, agama.
b. Keluhan utama Klien yang biasanya menderita febris mengeluh
suhu tubuh panas > 37,5 °C, berkeringat, mual/muntah.
c. Riwayat kesehatan sekarang Pada umumnya didapatkan
peningktan suhu tubuh diatas 37,5 °C, gejala febris yang biasanya
yang kan timbul menggigil, mual/muntah, berkeringat, nafsu
makan berkurang, gelisah, nyeri otot dan sendi.
d. Riwayat kesehatan dulu Pengakjian yang ditanyakan apabila klien
pernah mengalmi penyakit sebelumnya.
e. Riwayat kesehatan keluarga Penyakit yang pernah di derita oleh
keluarga baik itu penyakit keturunan ataupun penyakit menular,
ataupun penyakit yang sama.
f. Genogram Petunjuk anggota keluarga klien.
g. Riwayat kehamilan dan kelahiran Meliputi : prenatal, natal,
postnatal, serta data pemebrian imunisasi pada anak.
h. Riwayat sosial Pengkajian terhadap perkembangan dan keadaan
sosial klien
i. Kebutuhan dasar
1) Makanan dan minuman Biasa klien dengan febris mengalami
nafsu makan, dan susuh untuk makan sehingga kekurang
asupan nutrisi.
2) Pola tidur Biasa klien dengan febris mengalami susah untuk
tidur karena klien merasa gelisah dan berkeringat.
3) Mandi

11
4) Eliminasi Eliminasi klien febris biasanya susah untuk buang air
besar dan juga bisa mengakibatkan terjadi konsitensi bab
menjadi cair.
j. Pemeriksaan fisik
1) Kesadaran Biasanya kesadran klien dengan febris 15 – 13,
berat badan serta tinggi badan
2) Tanda – tanda vital Biasa klien dengan febris suhunya > 37,5
°C, nadi > 80 x i Head to toe
a) Kepala dan leher Bentuk, kebersihan, ada bekas trauma
atau tidak
b) Kulit, rambut, kuku Turgor kulit (baik-buruk), tidak ada
gangguan / kelainan.
c) Mata Umumnya mulai terlihat cekung atau tidak.
d) Telingga, hidung, tenggorokan dan mulut Bentuk,
kebersihan, fungsi indranya adanya gangguan atau tidak,
biasanya pada klien dengan febris mukosa bibir klien akan
kering dan pucat.
e) Thorak dan abdomen Biasa pernafasan cepat dan dalam,
abdomen biasanya nyeri dan ada peningkatan bising usus
bising usus normal pada bayi 3 – 5 x
f) Sistem respirasi Umumnya fungsi pernafasan lebih cepat
dan dalam
g) Sistem kardiovaskuler Pada kasus ini biasanya denyut pada
nadinya meningkat
h) Sistem muskuloskeletal Terjadi gangguan apa tidak.
i) Sistem pernafasan Pada kasus ini tidak terdapat nafas yang
tertinggal / gerakan nafas dan biasanya kesadarannya
gelisah, apatis atau koma
j) Pemeriksaan tingkat perkembangan
(1) Kemandirian dan bergaul Aktivitas sosial klien

12
(2) Motorik halus Gerakan yang menggunakan otot halus
atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi
oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya :
memindahkan benda dari tangn satu ke yang lain,
mencoret – coret, menggunting
(3) Motorik kasar Gerakan tubuh yang menggunakan otot
– otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota
tubuh yang di pengaruhi oleh kematangan fisik anak
contohnya kemampuan duduk, menendang, berlari, naik
turun tangga ( Lerner & Hultsch. 1983)
(4) Kognitif dan bahasa Kemampuan klien untuk berbicara
dan berhitung.
k. Data penunjang Biasanaya dilakukan pemeriksaan labor urine,
feses, darah, dan biasanya leokosit nya > 10.000 ( meningkat ) ,
sedangkan Hb, Ht menurun. m. Data pengobatan Biasanya
diberikan obat antipiretik untuk mengurangi shu tubuh klien,
seperti ibuprofen, paracetamol (Yahya, 2018)
2. Analisa data
Data Etiologi Masalah
DS : keluarga mengatakan Peningkatan laju Hipertermi
pasien demam metbolisme (D.0130)
DO : suhu tubuh diatas nilai
normal, kulit merah, takikardi,
kulit terasa hangat
DS : keluarga mengatakan Peningkatan Deficit nutrisi
pasien nafsu makan menurun kebutuhan (D.0019)
DO : membran mukosa pucat, metabolism
sariawan, diare, bising usus
hiperaktif
DS : keluarga mengatakan Kelemahan Intoleransi

13
pasien lemah aktivitas
DO : frekuensi jan tung (D.0056)
meningkat
DS : keluarga mengatakan Hambatan Gangguan pola
pasien sulit tidur, istirahat tidak lingkungan tidur (D.0055)
cukup
DO : waktu tidur
DS : keluarga mengatakan Disfungsi system Ansietas
khawatir dengan akibat dari keluarga (D.0080)
kondisi yang dihadapi
DO : tampak gelisah, suara
bergetar, tampak tegang
DS : keluarga mengatakan Perubahan air dan Diare (D.0020)
pasien perutnya sakit makanan
DO : defekasi lebih dari 3x
dalam 24 jam, feses lembek,
atau cair, BU hiperaktif

3. Diagnosis keperawatan yang mngkin muncul


a. Hipertemi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme
(D.0130)
b. Deficit nutrisi berhubungan dengan peningkatan kebutuhan
metabolisme (D.0019)
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan (D.0056)
d. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan
(D.0055)
e. Ansietas berhubungan dengan disfungsi system keluarga (D.0080)
f. Diare berhubungan dengan perubahan air dan makanan (D.0020)

14
4. Intervensi

No. Diagnosis Tujuan Intervensi Rasional


keperawatan
1. Hipertemi Setelah dilakukan Manajemen Hipertermia (I. 15506)  Mengidentifikasi
berhubungan tindakan keperawatan Observasi dan mengelola
 ldentifikasi penyebab Hipertermia
dengan 3x 24 jam, diharapkan : kelebihan volume
 monitor suhu tubuh
peningkatan 1. Pucat menurun  monitor kadar elektrolit cairan intravaskuler
laju 2. Menggigil menurun  monitor komplikasi dan ekstraseluler
metabolisme 3. Takikardi menurun  Akibat Hipertermia serta mencegah
Terapeutik
(D.0130) 4. Suhu membaik terjadinya
 Longgarkan atau lepaskan pakaian ketat
5. Suhu kulit  berikan cairan oral komplikasi
membaik Edukasi
(Termoregulasi  Anjurkan tirah baring
Kolaborasi
L.14134)
 Kolaborasi pemberian
Cairan dan elektrolit
2. Deficit nutrisi Setelah dilakukan Pemantauan Nutrisi (I.03123) Observasi  Keadekuatan
berhubungan tindakan keperawatan  Identifikasi faktor yang mempengaruhi asupan nutrisi
asupan gizi
dengan 3x 24 jam, diharapkan : untuk memenuhi
 Identifikasi perubahan BB
peningkatan 1. Pola makanan  Identifikasi kelainan pada kulit kebutuhan

15
kebutuhan yang dihabiskan  Identifikasi kelainan pada rambut metabolism
metabolisme 2. Sariawan  Identifikasi pola makan  Mengumpulkan
 Identifikasi kelainan pada kuku
(D.0019) berkurang dan menganalisis
 Identifikasi Kemampuan menelan
3. Perasaan cepat  Identifikasi kelainan pada rongga mulut data yang berkaitan
kenyang menurun  Identifikasi kelainan eliminasi dengan asupan dan
4. Nafsu makan  Monitor mual muntah status gizi
 Monitor asupan oral
meningkat
 Monitor warna konjungtiva
5. Bising usus
 Monitor hasil laboratorium
membaik Terapeutik
6. Membran  Timbang BB
 Ukur antroprometri komposisi tubuh
mukosa membaik
 Hitung perubahan BB
(Status nutrisi
 Atur interval waktu pemantauan sesuai
L.03030) dengan kondisi pasien
 Dokumentasi kan hasil pemantauan
Edukasi
 Jelaskan tujuan dan prosedur
Pemantauan
 Informasi kan hasil pemantauan
3. Intoleransi Setelah dilakukan Pemantauan tanda vital (I.02060) Mengumpulkan dan
aktivitas tindakan keperawatan Observasi menganalisis data hasil

16
berhubungan 3x 24 jam, diharapkan :  monitor nadi ( frekuensi, kekuatan, pengukuran fungsi
dengan 1. Frekuensi nadi irama ) vital kardiovaskuler,
 monitor pernapasan ( frekuensi,
kelemahan membaik pernafasan dan suhu
kedalaman )
(D.0056) 2. Kemudahan dalam  monitor suhu tubuh tubuh
melakukan  monitor oksimetri nadi
aktivitas sehari -  identifikasi penyebab perubahan tanda
vital
hari
Terapeutik
3. Perasaan lemah  atur interval pemantauan sesuai kondisi
menurun pasien
4. Frekuensi napas  Dokumentasikam hasil pemantauan
Edukasi
membaik
 Jelaskan tujuan dan prosedur
(Toleransi aktivitas pemantauan
L.05047)  Informasikan hasil pemantauan, jika
perlu
4. Gangguan Setelah dilakukan Teknik Menenangkan (I.08248) Teknik relaksasi
pola tidur tindakan keperawatan Observasi dengan pembetukan
 Identifikasi masalah yang dihadapi
berhubungan 3x 24 jam, diharapkan : imajinasi individu
Terapeutik
dengan 1. Kesejahteraan fisik  Buat kontrrak dengan pasien dengan meggunakan
hambatan membaik  Ciptkan ruangan yang nyaman dan semua indera melalui
tenang

17
lingkungan 2. Perawatan sesuai Edukasi pemrosesan kognitif
(D.0055) kebutuhan  Anjurkan mendengarkan music, video untuk mengurangi
animasi, yang lembut atau music yang
3. Keluhan tidak stress
disukai
nyaman menurun  Anjurkaan melakukan teknik menen
4. Gelisah menurun angkan hingga perasaan menjadi
tenang
5. Keluhan sulit tidur
menurun
6. Keluhan
kedinginan
7. Pola eliminasi
membaik
8. Pola tidur membaik
(Status Kenyamanan
L.08064)
5. Ansietas Setelah dilakukan Reduksi ansietas (I.09314) Meminimalkan
berhubungan tindakan keperawatan Observasi kondisi individu dan
 Identifikasi saat tingkat ansietas
dengan 3x 24 jam, diharapkan : pengalaman subyektif
berubah
disfungsi 1. Kontak mata  Identifikasi kemampuan mengambil terhadap objek yang
system membaik keputusan tidak jelas dan spesifik

18
keluarga 2. Pola tidur  Monitor tanda-tanda ansietas akibat atsipasi bahaya
(D.0080) membaik Terapeutik yang memun gkinkan
 Ciptakan suasana terapeutik untuk
3. Pucat menurun individu melakukan tin
menumbuhkan kepercayaan
4. Perilaku gelisah  Pahami situasi yang membuat ansietas dakan untuk
menurn  Gunakan pendekatan yang tenang dan menghadapi ancaman
5. Tremor menurun meyakinkan
 Dengarkan dengan penuh perhatian
(Tingkat Ansietas
 Edukasi
L.09093)  Jelaskan prosedur, termasuk sensasi
yang dialami
 Anjrkan keluarga untuk tetap bersama
pasien
 Latih kegiatan pengalihan untuk
mengurangi ketegangan
 Latih teknik relaksasi
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian obat antiansietas,
jika perlu
6. Diare Setelah dilakukan Pemberian Obat ( I. 02062 ) Menyiapkan, memberi
berhubungan tindakan keperawatan Observasi dan mengevaluasi
 identifikasi kemungkinan alergi,
dengan 3x 24 jam, diharapkan : keefektifan agen
interaksi dan kontra indikasi obat
perubahan air 1. Nyeri abdomen  monitor tanda vital dan nilai farmakologis yang di

19
dan makanan menurun laboratorium sebelum pemberian obat progamkan
(D.0020) 2. Konaistensi feses Terapeutik
 Perhatikan peroduser pemberian obat
membaik
 lakukan prinsip 6 benar
3. Frekuensi defekasi  buang obat yang tidak terpakai
membaik /kadaluarsa
4. Distensi abdomen  dokumentasikan pemberian obat dan
respon terhadap obat
menurun
Edukasi
(Eliminasi fekal L.  Jelaskan jenis obat, alasan pemberian
04033 )  Tindakan yang di harap kan dan efek
samping
 Jelaskan faktor yang dapat meningkatkan
dan menurunkan efektifitas obat

20
L. Daftar Pustaka

Hartini, S., & Pertiwi. (2015). Efektifitas kompres air hangat terhadap
penunrunan suhu tubuh anak demam usia 1 – 3 tahun di SMC RS
Telogorejo Semarang. Http://ejournal.siktestelogorejo.ac.id
M .Thobroni, imam. (2015). Belajar dan Pembelajaran : Teori dan Praktek.
Yogyakarta : Arr-Ruzz Media
Nur, Rohmah Resty P And Agus Sarwo Prayogi, And Eko
Suryani, (2018) Penerapan Kompres Hangat Pada Anak Demam
Dengan Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Nyaman Di Rsud
Sleman. Skripsi Thesis, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Http://Eprints.Poltekkesjogja.ac.id/1413/
Nurarif, A.H & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC. Edisi Revisi
Jilid 1. Yogyakarta: Mediaction
PPNI, T. P. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
Definisi dan Indikator Diagnostik ((cetakan III) 1 ed.). Jakarta: DPP
PPNI.
PPNI, T. P. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
Definisi dan Tindakan Keperawatan ((cetakan II) 1 ed.). Jakarta:
DPP PPNI.
PPNI, T. P. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
Definisi dan Kreteria Hasil Keperawatan ((cetakan II) 1 ed.). Jakarta:
DPP PPNI.
Wardiyah, Aryanti. (2016). Perbandingan Efektifitas Pemberian Kompres
Hangat Dan Tepid sponge Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Anak
Yang Mengalami demam Rsud Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung. Jurnal Ilmu Keperawatan - Volume 4, No. 1, 45. Diakses
dari Http://jik.ub.ac.id/index.php/jik/article/download/101/94
Yahya, M. Azmi. (2018). Asuhan Keperawatan Pada Klien An. Q Dengan
Febris Di Ruang Rawat Inap Anak Rsud Dr. Achmad Mochtar
Bukittinnggi Tahun 2018
.Http://Repo.Stikesperintis.ac.id/1208/1/46%20siska%20damayanti.
Pdf
Zein, Umar. 2012. Buku Saku Demam. Medan : USU PRESS 2012

21

Anda mungkin juga menyukai