Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

BAYI BARU LAHIR DIRUANG HESTI- PERINATOLOGI

Diajukan untuk memenuhi tugas Stase Anak

Dosen : TIM

Disusun Oleh :
Risza Apriani Fauziyah

JNR0200119

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN
TAHUN AKADEMIK 2020/2021
Daftar isi

Daftar isi .............................................................................................................................. i


A. Definisi........................................................................................................................ 1
B. Klasifikasi ................................................................................................................... 2
C. Anatomi Fisiologi ...................................................................................................... 2
D. Tahapan Bayi Baru Lahir ............................................................................................ 6
E. Etiologi........................................................................................................................ 7
F. Tanda Bayi Normal ..................................................................................................... 7
G. Komplikasi .................................................................................................................. 8
H. Patofisiologi ................................................................................................................ 8
I. Pathway ..................................................................................................................... 10
J. Pemeriksaan Penunjang ............................................................................................ 11
K. Penatalaksanaan Medis ............................................................................................. 11
L. Konsep Asuhan Keperawatan ................................................................................... 14
Daftar Pustaka ................................................................................................................... 23

i
A. Definisi

Bayi baru lahir merupakan individu yang sedang bertumbuh dan


baru saja mengalami trauma kelahiran serta harus dapat melakukan
penyesuaian diri dari kehidupan kehidupan intrauterin ke kehidupan
ekstrauterin (Dewi, 2011).

Bayi baru lahir (neonatus) adalah bayi yang berusia 0 - 28 hari


(Mega, 2020). Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur
kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai
4000 gram (Manuaba, 2012).

Bayi baru lahir (BBL) normal adalah bayi yang lahir dari
kehamilan 37- 42 mingguatau 294 hari dan berat badan lahir 2500 gram
sampai dengan 4000 gram, bayi baru lahir (newborn atau neonatus) adalah
bayi yang baru di lahirkan sampai dengan usia empat minggu (Deasy, kk.,
2020).

Ciri-ciri bayi baru lahir normal adalah lahir aterm antara 37-42
minggu, berat badan 2500-4000 gram, panjang lahir 48-52 cm. lingkar
dada 30-38 cm, lingkar kepala 33-35 cm, lingkar lengan 11-12 cm,
frekuensi denyut jantung 120- 160 kali permenit, kulit kemerah-merahan
dan licin karena jaringan subkutan yang cukup, rambut lanugo tidak
terlihat dan rambut kepala biasanya telah sempurna, kuku agak panjang
dan lemas, nilai Appearance Pulse Grimace Activity Respiration
(APGAR) >7, gerakan aktif, bayi langsung menangis kuat, genetalia pada
laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang berada pada skrotum dan
penis yang berlubang sedangkan genetalia pada perempuan kematangan
ditandai dengan labia mayora menutupi labia minora, refleks rooting susu
terbentuk dengan baik, refleks sucking sudah terbentuk dengan baik
(Armini, 2017).

1
B. Klasifikasi

Bayi baru lahir dibagi dalam beberapa klasifikasi menurut (Ni Wayan,
2021). yaitu :

1. Bayi baru lahir menurut masa gestasinya :


a) Kurang bulan (preterm infant) : 4000 gram
b) Cukup bulan (term infant) : 37-42 minggu
c) Lebih bulan (postterm infant) : 42 minggu atau lebih
2. Bayi baru lahir menurut berat badan lahir:
a. Berat lahir rendah : 4000 gram
b. Berat lahir cukup : 2500-4000 gram
c. Berat lahir lebih : >4000 gram
3. Neonatus menurut berat lahir terhadap masa gestasi (masa gestasi dan
ukuran berat lahir yang sesuai untuk masa kehamilan) :
a. Nenonatus cukup/kurang/lebih bulan (NCB/NKB/NLB)
b. Sesuai/kecil/besar untuk masa kehamilan (SMK/KMK/BMK)

C. Anatomi Fisiologi

Adaptasi bayi baru lahir adalah proses penyesuaian fungsional


neonatus darikehidupan didalam uterus ke kehidupan diluar

2
uterus.Beberapa perubahan fisiologi yang dialami bayi baru lahir antara
lain yaitu :

1. Sistem Pernafasan
Masa yang paling kritis pada bayi baru lahir adalah ketika harus
mengatasi resistensi paru pada saat pernapasan yang pertama kali.Pada
umur kehamilan 34-36 minggu struktur paru-paru matang, artinya
paru-paru sudah bisa mengembangkan sistem alveoli.Selama dalam
uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas melalui
plasenta.Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru-paru
bayi (Rahardjo dan Marmi, 2015).

Tabel 1 Perkembangan sistem pulmonal sesuai umur kehamilan

Umur kehamilan Perkembangan


24 hari Bakal paru-paru terbentuk
26-28 hari Dua bronchi membesar
6 minggu Di bentuk segmen bronkus
12 minggu Differensial lobus
24 minggu Di bentuk alveolus
28 minggu Di bentuk surfaktan
34-36 minggu Maturasi struktur (paru-paru dapat
mengembangkan sistem alveolidan tidak
mengempis lagi)
Sumber: Rahardjo.Asuhan Neonatus, Bayi, Balita dan anak
Prasekolah.

Struktur matang ranting paru-paru sudah bisa mengembangkan


sistem alveoli. Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari
pertukaran gas melalui plasenta.Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus
melalui paru- paru bayi.Rangsangan gerakan pernapasan pertama :

3
a) Tekanan mekanik dari torak sewaktu melalui jalan lahir
(stimulasimekanik)
b) Penurunan Pa02 dan peningkatan PaC02 merangsang kemoreseptor
yangterletak disinus karotikus (stimulasi kimiawi)
c) Rangsangan dingin didaerah muka dan perubahan suhu didalam
uterus(stimulasi sensorik)(Indrayani, 2013).
Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30
menit pertama sesudah lahir.Usaha bayi pertama kali untuk
mempertahankan tekanan alveoli, selain adanya surfaktan yang dengan
menarik nafas dan mengeluarkan nafas dengan merintih sehingga
tertahan di dalam.Respirasi pada neonatus biasanya pernafasan
diafragmatik dan abdominal, sedangkan frekuensi dan dalam tarikan
belum teratur.Apabila surfaktan berkurang, maka alveoli akan kolaps
dan paru-paru kaku sehingga terjadi atelektasis, dalam keadaan anoksia
neonatus masih dapat mempertahankan hidupnya karena adannya
kelanjutan metabolisme anaerobik.
2. Sirkulasi darah
Pada masa fetus darah dari plasenta melalui vena umbilikalis
sebagian ke hati, sebagian langsung ke serambi kiri jantung, kemudian
ke bilik kiri jantung.Dari bilik kiri darah di pompa melalui aorta ke
seluruh tubuh.Dari bilik kanan darah di pompa sebagian ke paru dan
sebagian melalui duktus arteriosus ke aorta. Setelah bayi lahir, paru
akan berkembang mengakibatkan tekanan-tekanan arteriol dalam paru
menurun. Tekanan dalam jantung kiri lebih besar dari pada tekanan
jantung kanan yang mengakibatkan menutupnya foramen ovale secara
fungsional. Hal ini terjadi pada jam-jam pertama setelah kelahiran.
Oleh karena tekanan dalam paru turun dan tekanan dalam aorta
desenden naik dan karena rangsangan biokimia (pa02 yang naik),
duktus arteriosus akan berobliterasi, ini terjadi pada hari
pertama.Aliran darah paru pada hari pertama ialah 4-5 liter per menit /

4
m2.Aliran darah sistolik pada hari pertama rendah yaitu 1.96
liter/menit/m2 karena penutupan duktus arteriosus (Indrayani, 2013).
3. Metabolisme
Luas permukaan tubuh neonatus, relatif lebih luas dari orang
dewasa sehingga metabolisme basal per kg BB akan lebih besar,
sehingga BBL harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru
sehingga energi diperoleh dari metabolisme karbohidrat dan
lemak.Pada jam-jam pertama energi didapatkan dari perubahan
karbohidrat.Pada hari kedua, energi berasal dari pembakaran
lemak.Setelah mendapat suhu < pada hari keenam, energy 60% di
dapatkan dari lemak dan 40% dari karbohidrat (Indrayani, 2013).
4. Keseimbangan air dan fungsi ginjal
Tubuh bayi baru lahir relatif mengandung lebih banyak air dan kadar
natriumrelatif lebih besar dari kalium karena ruangan ekstraseluler
luas. Fungsi ginjal belum sempurna karena:
a) Jumlah nefron masih belum sebanyak orang dewasa
b) Tidak seimbang antara luas permukaan glomerulus dan volume
tubulus proksimal
c) Aliran darah ginjal (renal blood flow) pada neonatus relatif kurang
bila dibandingkan dengan orang dewasa(Indrayani, 2013)
5. Imunoglobulin
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga
menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi.
Sistem imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami
maupun yang didapat.Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan
tubuh yang berfungsi mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut
beberapa contoh kekebalan alami:Perlindungan dari membran mukosa,
Fungsi saringan saluran nafas, Pembentukan koloni mikroba dikulit
dan usus, Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung
(Walyani dan Purwoastuti, 2015)
6. Truktus digestivenus

5
Truktus digestivenus relatif lebih berat dan lebih panjang dibandingkan
dengan orang dewasa.Pada neonatus traktus digestivenus mengandung
zat yang berwarna hitam kehijauan yang terdiri dari mukopolisakarida
dan disebut meconium. Pengeluaran mekonium biasanya dalam 10 jam
pertama dan 4 hari biasanya tinja sudah berbentuk dan berwarna biasa.
Enzim dalam traktus digestivenus biasanya sudah terdapat pada
neonatus kecuali amilase pankreas.Bayi sudah ada refleks hisap dan
menelan, sehingga pada bayi lahir sudah bisa minum ASI. Gumoh
sering terjadi akibat dari hubungan oesofagus bawah dengan lambung
belum sempurna, dan kapasitas dari lambung juga terbatas yaitu < 30
cc (Indrayani, 2013)
7. Hati
Fungsi hati janin dalam kandungan dan segera setelah lahir masih
dalam keadaan matur (belum matang), hal ini dibuktikan dengan
ketidakseimbangan hepar untuk menghilangkan bekas penghancuran
dalam peredaran darah (Rahardjo dan Marmi, 2015). Setelah segera
lahir, hati menunjukkan perubahan kimia dan morfologis, yaitu
kenaikan kadar protein dan penurunan kadar lemak dan glikogen. Sel
hemopoetik juga mulai berkurang walaupun memakan waktu yang
lama. Enzim hati belum aktif benar pada waktu bayi baru lahir, daya
detoksifikasihati pada neonatus juga belum sempurna,contohnya
peberian obat kloramfenikol dengan dosis lebih dari 50 mg/kgBB/hari
dapat menimbulkan grey baby syndrome(Indrayani, 2013)

D. Tahapan Bayi Baru Lahir

1. Tahap I: terjadi segera setelah lahir, Selama menit- menit pertama


kelahiran.Pada tahap ini digunakan sistem skoring apgar untuk fisik
dan scoring gray untukinteraksi bayi dan ibu.
2. Tahap II: di sebut transisional reaktivitas. Pada tahap II
dilakukanpengkajian selama 24 jam pertama terhadap adanya
perubahan perilaku.

6
3. Tahap III: disebut tahap periodik, pengkajian dilakukan setelah 24
jampertama yang meliputi pemeriksaan seluruh tubuh (Rahardjo, K.,
Marmi, 2015).

E. Etiologi

1. His (Kontraksi otot rahim)


2. Kontraksi otot dinding perut
3. Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
4. Ketegangan dan kontraksi ligamentum retundum.

F. Tanda Bayi Normal

1. Bb 2500 – 4000 gr
2. Pb lahir 48 – 52 cm
3. Lingkar dada 30 – 38 cm
4. Lingkar kepala 33 – 35 cm
5. Bunyi jantung dalam menit – menit pertama kira – kira 180x/menit,
kemudian menurun
6. Sampai 120x/menit atau 140x/menit
7. Pernafasan pada menit – menit pertama cepat kira – kira 180x/menit,
kemudian menurun setelah tenang kira – kira 40x/menit
8. kulit kemerah – merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup
terbentuk dan diliputi
9. Vernic caseosa
10. Rambut lanugo setelah tidak terlihat,rambut kepala biasanya telah
sempurna
11. Kuku agak panjang dan lemah
12. Genitalia labia mayora telah menutup, labia minora ( pada perempuan )
testis sudah turun ( pada anak laki – laki )
13. Reflek isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
14. Reflek moro sudah baik, apabila bayi dikagetkan akan memperlihatkan
gerakan seperti

7
15. Memeluk
16. Gerak reflek sudah baik, apabila diletakan sesuatu benda diatas telapak
tangan bayi akan
17. Menggenggam atau adanya gerakan reflek
18. Eliminasi baik. Urine dan meconium akan keluar dalam 24 jam
pertama. Meconium berwarna kuning kecoklatan.

G. Komplikasi

1. Sebore
2. Ruam
3. Moniliasis
4. Ikterus fisiologi
5. Gangguan sistem saraf pusat : koma, menurunnya reflex mata
6. Kardiovaskular : penurunan tekanan darah secara berangsur
7. Pernafasan : Menurunnya konsumsi oksigen
8. Saraf dan otot : tidak adanya gerakan, menghilangnya reflex perifer

H. Patofisiologi

Adaptasi fisiologis
Baru lahir terjadi perubahan fungsi organ yang meliputi :
1. Sistem pernafasan
Masa alveoli akan kolaps dan paru- paru kaku. Pernafasan pada
neonatus biasanya pernafasan diafragma dan abnominal. Sedangkan
respirasi setelah beberapa saat kelahiran yaitu 30 -60 x/menit.
2. Jantung dan sirkulasi darah
Ketika janin dilahirkan segera, bayi menghirup dan menangis kuat.
Dengan demikian paru-paru akan berkembang, tekanan paru-paru
mengecil dan darah mengalir ke paru-paru. Dengan demikian duktus
botali tidak berfungsi lagi, foramen ovale akan tertutup. Penutupan
foramen ovale terjadi karena pemotongan tali pusat
3. Saluran pencernaan

8
Mekonium merupakan tinja pertama yang biasanya dikeluarkan dalam
24 jam pertama.
4. Hepar
Fungsi hepar janin dalam kandungan setelah lahir dalam keadaan
imatur (belum matang). Hal ini dibuktikan dengan ketidakseimbangan
hepar untuk menindakan bekas penghancuran darah dari peredaran
darah. Enzim hepar belum aktif benar pada neonatus, misalnya enzim
UDPGT (Urin Difosfat Glukoronide Transferase) dan enzim GGFD
(Glukosa 6 Fosfat Dehidrigerase) yang berfungsi dalam sintesis
bilirubin sering kurang sehingga neonatus memperlihatkan gejala
ikterus fisiologis
5. Metabolisme
Pada jam -jam pertama sesudah lahir diambil dari hasil metabolisme
lemak sehingga kadar gula darah dapat mencapai 120 mg/100 ml.
6. Produksi panas
Pada neonatus yang mengalami hipotermi, bayi mengadakan
penyesuaian suhu terutama dengan NST (Non Sheviring
Thermogenesis) yaitu dengan pembakaran "brown fat" (lemak coklat)
yang memberikan lebih banyak energi daripada lemak biasa.
7. Kelenjar endokrin
Kelenjar tiroid yang sudah terbentuk sempurna sewaktu lahir dan
mulai berfungsi sejak beberapa bulan sebelum akhir.
8. Keseimbangan air dan ginjal
Tubuh bayi mengandung banyak air dan kadar natrium relatif lebih
besar daripada kalium
9. Susunan saraf
Gerakan menelan pada janin, sehingga janin yang dilahirkan diatas 32
Minggu dapat hirup diluar kandungan. Pada kehamilan 7 bulan maka
janin amat sensitif terhadap cahaya
10. Imunologi
Bayi yang menyusui mendapat kekebalan pasif dari kolostrum dan asi

9
11. Sistem integumen
12. Sistem hematopoiesis
13. Sistem skeletal
Saat baru lahir tidak terlihat lengkungan pada telapak kaki. Ekstremitas
harus simetris, terdapat kuku jari tangan dan kaki, garis-garis yg
telapak tangan dan sudah terlihat pada bayi cukup bulan. (Armini,
2017).

I. Pathway

Persalinan

Bayi baru lahir

Fungsi organ belum baik

Daya tahan Jaringan lemak Peningkatan ASI ibu kurang


tubuh rendah subkutan tipis metabolise baik
tubuh

Risiko infeksi Pemaparan dengan Peningkatan Menyusui tidak


D.0141 suhu luar kebutuhan O2 efektif D.0029

Risiko hipotermia Bersihan


D.0140 jalan nafas
tidak efektif
D.0001

10
J. Pemeriksaan Penunjang

1. Sel Darah Putih 18000/mm,


2. Neutropil meningkat sampai /mm hari pertama setelah lahir (menurun
bila ada sepsis)
3. Hemoglobin 15-20g/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan
anemia)
4. Hematokrit 43%-61% (peningkatan 65% atau lebih menandakan
polisitemia, penurunan kadar gula menunjukan anemia/hemoraghi
prenatal)
5. Bilirubin total 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan 8 mg/dl 1-2 hari
dan 12 mg/dl pada 3-5 hari.
6. Detrosik:Tetes glukosa selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran rata-
rata mg/dl,meningkat mg/dl pada hari ke 3.

K. Penatalaksanaan Medis

Semua bayi diperiksa segera setelah lahir untuk mengetahui apakah


transisi dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterine berjalan dengan lancar
dan tidak ada kelainan. Pemeriksaan medis komprehensif dilakukan dalam
24 jam pertama kehidupan. Pemeriksaan rutin pada bayi baru lahir harus
dilakukan, tujuannya untuk mendeteksi kelainan atau anomali kongenital
yang muncul pada setiap kelahiran dalam 10-20 per 1000 kelahiran,
pengelolaan lebih lanjut dari setiap kelainan yang terdeteksi pada saat
antenatal, mempertimbangkan masalah potensial terkait riwayat kehamilan
ibu dan kelainan yang diturunkan, dan memberikan promosi kesehatan,
terutama pencegahan terhadap sudden infant death syndrome (SIDS)

Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir adalah untuk


membersihkan jalan napas, memotong dan merawat tali pusat,
mempertahankan suhu tubuh bayi, identifikasi, dan pencegahan infeksi
Asuhan bayi baru lahir meliputi :

11
1. Pencegahan Infeksi (PI)
2. Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi Untuk menilai
apakah bayi mengalami asfiksia atau tidak dilakukan penilaian sepintas
setelah seluruh tubuh bayi lahir dengan tiga pertanyaan :
a) Apakah kehamilan cukup bulan?
b) Apakah bayi menangis atau bernapas/tidak megap-megap?
c) Apakah tonus otot bayi baik/bayi bergerak aktif?

Jika ada jawaban “tidak” kemungkinan bayi mengalami asfiksia


sehingga harus segera dilakukan resusitasi. Penghisapan lendir pada
jalan napas bayi tidak dilakukan secara rutin (Kementerian Kesehatan
RI, 2013)

3. Pemotongan dan perawatan tali pusat Setelah penilaian sepintas dan


tidak ada tanda asfiksia pada bayi, dilakukan manajemen bayi baru
lahir normal dengan mengeringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan
bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan
verniks, kemudian bayi diletakkan di atas dada atau perut ibu. Setelah
pemberian oksitosin pada ibu, lakukan pemotongan tali pusat dengan
satu tangan melindungi perut bayi. Perawatan tali pusat adalah dengan
tidak membungkus tali pusat atau mengoleskan cairan/bahan apa pun
pada tali pusat (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Perawatan rutin
untuk tali pusat adalah selalu cuci tangan sebelum memegangnya,
menjaga tali pusat tetap kering dan terpapar udara, membersihkan
dengan air, menghindari dengan alkohol karena menghambat
pelepasan tali pusat, dan melipat popok di bawah umbilikus (Lissauer,
2013).
4. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Setelah bayi lahir dan tali pusat dipotong, segera letakkan bayi
tengkurap di dada ibu, kulit bayi kontak dengan kulit ibu untuk
melaksanakan proses IMD selama 1 jam. Biarkan bayi mencari,
menemukan puting, dan mulai menyusu. Sebagian besar bayi akan

12
berhasil melakukan IMD dalam waktu 60-90 menit, menyusu pertama
biasanya berlangsung pada menit ke- 45-60 dan berlangsung selama
10-20 menit dan bayi cukup menyusu dari satu payudara (Kementerian
Kesehatan RI, 2013). Jika bayi belum menemukan puting ibu dalam
waktu 1 jam, posisikan bayi lebih dekat dengan puting ibu dan biarkan
kontak kulit dengan kulit selama 30-60 menit berikutnya. Jika bayi
masih belum melakukan IMD dalam waktu 2 jam, lanjutkan asuhan
perawatan neonatal esensial lainnya (menimbang, pemberian vitamin
K, salep mata, serta pemberian gelang pengenal) kemudian
dikembalikan lagi kepada ibu untuk belajar menyusu (Kementerian
Kesehatan RI, 2013).
5. Pencegahan kehilangan panas melalui tunda mandi selama 6 jam,
kontak kulit bayi dan ibu serta menyelimuti kepala dan tubuh bayi
(Kementerian Kesehatan RI, 2013).
6. Pemberian salep mata/tetes mata
Pemberian salep atau tetes mata diberikan untuk pencegahan infeksi
mata. Beri bayi salep atau tetes mata antibiotika profilaksis (tetrasiklin
1%, oxytetrasiklin 1% atau antibiotika lain). Pemberian salep atau tetes
mata harus tepat 1 jam setelah kelahiran. Upaya pencegahan infeksi
mata tidak efektif jika diberikan lebih dari 1 jam setelah kelahiran
(Kementerian Kesehatan RI, 2013).
7. Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K1dosis tunggal
di paha kiri
Semua bayi baru lahir harus diberi penyuntikan vitamin K1
(Phytomenadione) 1 mg intramuskuler di paha kiri, untuk mencegah
perdarahan BBL akibat defisiensi vitamin yang dapat dialami oleh
sebagian bayi baru lahir (Kementerian Kesehatan RI, 2010).
Pemberian vitamin K sebagai profilaksis melawan hemorragic disease
of the newborn dapat diberikan dalam suntikan yang memberikan
pencegahan lebih terpercaya, atau secara oral yang membutuhkan
beberapa dosis untuk mengatasi absorbsi yang bervariasi dan proteksi

13
yang kurang pasti pada bayi (Lissauer, 2013). Vitamin K dapat
diberikan dalam waktu 6 jam setelah lahir (Lowry, 2014).
8. Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha kanan
Imunisasi Hepatitis B diberikan 1-2 jam di paha kanan setelah
penyuntikan vitamin K1 yang bertujuan untuk mencegah penularan
Hepatitis B melalui jalur ibu ke bayi yang dapat menimbulkan
kerusakan hati (Kementerian Kesehatan RI, 2010).
9. Pemeriksaan Bayi Baru Lahir (BBL)
Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin
kelainan pada bayi. Bayi yang lahir di fasilitas kesehatan dianjurkan
tetap berada di fasilitas tersebut selama 24 jam karena risiko terbesar
kematian BBL terjadi pada 24 jam pertama kehidupan. saat kunjungan
tindak lanjut (KN) yaitu 1 kali pada umur 1-3 hari, 1 kali pada umur 4-
7 hari dan 1 kali pada umur 8-28 hari (Kementerian Kesehatan RI,
2010).
10. Pemberian ASI eksklusif
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman
tambahan lain pada bayi berusia 0-6 bulan dan jika memungkinkan
dilanjutkan dengan pemberian ASI dan makanan pendamping sampai
usia 2 tahun. Pemberian ASI ekslusif mempunyai dasar hukum yang
diatur dalam SK Menkes Nomor 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang
pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan. Setiap bayi mempunyai
hak untuk dipenuhi kebutuhan dasarnya seperti Inisiasi Menyusu Dini
(IMD), ASI Ekslusif, dan imunisasi serta pengamanan dan
perlindungan bayi baru lahir dari upaya penculikan dan perdagangan
bayi.

L. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian

a) Aktivitas

14
Status sadar mungkin 2-3 jam beberapa hari pertama. Bayi tampak
semi-koma,saat tidur dalam meringis atau tersenyum adalah bukti
tidur dengan gerakan mata cepat (REM) tidur sehari rata-rata 20
jam.

b) Sirkulasi

Rata-rata nadi apical dpm, meningkat sampai 120 dpm pada jam
setelah kelahiran). Nadi perifer mungkin melemah,murmur jantung
sering ada selama periode transisi, TD berentang dari mmHg
(sistolik)/40-45 mmHg (diastolik) Tali pusat diklem dengan aman
tanpa rembesan darah,menunjukan tanda-tanda pengeringan dalam
1-2 jam kelahiran mengerut dan menghitam pada hari ke 2 atau ke
3.

c) Eliminasi

Abdomen lunak tanpa distensi,bising usus aktif pada beberapa jam


setelah kelahiran. Urin tidak berwarna atau kuning pucat,dengan 6-
10 popok basah per 24 jam.Pergerakan feses mekonium dalam 24
sampai 48 jam kelahiran.

d) Makanan atau cairan

Berat badan rata-rata gram.Penurunan berat badan di awal 5%-


10%e. Neurosensori Lingkar kepala cm,fontanel anterior dan
posterior lunak dan datar, Kaput suksedaneum dan molding
mungkin ada Selama 3-4 hari, Mata dan kelopak mata mungkin
edema, Strabismus dan fenomena mata boneka sering ada.

e) Pernapasan

Takipnea, pernapasan dangkal, ekspirasi sulit.

f) Seksualitas

15
Genitalia wanita : Labia vagina agak kemerahan atau edema,tanda
vagina/hymen dapat terlihat, rabas mukosa putih (smegma)atau
rabas berdarah sedikit (pseudo menstruasi) mungkin ada.

Genitalia pria :Testis turun, skrotum tertutup dengan rugae, fimosis


biasa terjadi(lubang prepusium sempit, mencegah retraksi foreksim
ke glan).

2. Analisa data

Data Etiologi Masalah


DS : Ketidakadekuatan Risiko infeksi (D.
pertahan tubuh
DO : kulit memerah, 0141)
sekunder
Sianosis, Bunyi napas
menurun, Frekuensi napas
berubah,
DS : Tidak ada riwayat kurangnya lapisan Risiko hipotermi
penyakit keturunan dari lemak subkutan (D.0140)
keluarga
DO : Bayi berada di dalam
incubator, Daya hisap
lemah, Bayi tampak
lemah, Bayi gerak hanya
saat tidak nyaman, lapar,
dan saat ada rangsangan,
selebihnya tidur
DS : spasme jalan nafas Bersihan jalan
DO : Gelisah, Sianosis, nafas tidak
Bunyi napas menurun, efektif(D.0001)
Frekuensi napas berubah,
Pola napas berubah

16
DS : tidak rawat gabung Menyusui tidak
DO : efektif (D.0029)
Intake bayi tidak adekuat,
Bayi menhisap tidak terus,
Bayi menangis saat
disusui, Bayi rewel dan
menangis terus dalam jam-
jam pertama setelah
menyusui, Menolak untuk
menghisap

3. Diagnosa yang mungkin muncul


a) Risiko infeksi berhubungan dengan Ketidakadekuatan pertahan
tubuh sekunder (D. 0141)
b) Risiko hipotermi berhubungan dengan kurangnya lapisan lemak
subkutan (D.0140)
c) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan spasme
jalan nafas (D.0001)
d) Menyusui tidak efektif berhubungan dengan tidak rawat gabung
(D.0029)

17
4. Intervensi

No. Diagnosis Tujuan Intervensi Rasional


Keperawatan
1. Risiko Infeksi Setelah Dilakukan PENCEGAHAN INFEKSI (I.14539) Berisiko Mengalami
Berhubungan Tindakan Keperawatan Observasi Peningkatan
Dengan 3x 24 Jam, Diharapkan :  Monitor Tanda Dan Gejala Infeksi Terserang Organisme
Ketidakadekuatan 1. Tingkat Infeksi Lokal Patogenik
Pertahan Tubuh Menurun (L. 14137) Terapeutik
Sekunder (D. 0141)  Cuci Tangan Sebelum Dan
Sesudah Kontak Dengan Pasien
 Batasi Jumlah Kunjungan
 Pertahankan Teknik Aseptic
Kolaborasi
 Kolaborasi Pemberian Imunisasi,
Jika Perluinformasikan Penundaan
Pemberian Imunisasi Tidak Berarti
Mengulang Jadwal Imunisasi
Kembali
 Informasikan Penyedia Layanan
Pekan Imunisasi Nasional Yang
Menyediakan Vaksin Gratis

18
2. Risiko Hipotermia Setelah Dilakukan Manajemen Hipotermi (I.14507)  Berisiko
Berhubungan Tindakan Keperawatan Observasi Mengalami
Dengan Kurangnya 3x 24 Jam, Diharapkan :  Monitor Suhu Tubuh Kegagalan
Lapisan Lemak 1. Kemampuan  Identifikasi Penyebab Termoregulasi
Subkutan (D.0140) Mengenali Hipotermia ( Mis, Terpapar Suhu Yang Dapat
Perubahan Status Lingkungan Rendah, Pakaian Mengakibatkan
Kesehatan Tipis, Kerusakam Hipotalamus, Suhu Tubuh
Meningkat Penurunan Laju Metabolisme, Berada Dibawah
2. Penggunaan Kekurangan Lemak Subkutan) Rentang Normal
Fasilitas Kesehatan  Monitor Tanda Dan Gejala  Mengidentifikasi
Meningkat Akibat Hipotermia ( Hipotermia Dan Mengelola
Kontrol Risiko Ringan: Takipnea Disartria, Suhu Tubuh
(L.14128) Menggigil, Hipertensi, Diuresis; Dibawah Rentang
Hipotermia Sedang: Aritmia, Normal.
Hipotensi, Apatis, Koagulopati,
Refleks Menurun; Hiptermia
Berat: Oliguria, Refleks
Menghilang, Edema Paru, Asam-
Basa Abnormal)
Terapeutik
 Sediakan Lingkungan Yang
Hangat (Mis, Atur Suhu
Ruangan, Inkubator)
 Ganti Pakaian Dan/Atau Linen

19
Yang Basah
 Lakukan Pengahangatan Pasif
(Mis, Selimut, Menutup Kepala,
Pakaian Tebal)
 Lakukan Penghangatan Aktif
(Mis, Kompres Hangat, Botol
Hangat, Selimut Hangat,
Perawatan Metode Kanguru)
 Lakukan Penghangatan Aktif
Internal (Mis, Infus Cairan
Hangat, Oksigen Hangat, Lavase
Peritoneal Dengan Cairan
Hangat)
3. Bersihan Jalan Nafas Setelah Dilakukan Pemantauan Respirasi (I. 01014) Mengumpulkan Dan
Tidak Efektif Tindakan Keperawatan Observasi Menganalisis Data
Berhubungan 3x 24 Jam, Diharapkan :  Monitor Frekuensi, Irama, Untuk Memastikan
Dengan Spasme 1. Sianosis Menurun Kedalaman Dan Upaya Napas Kepatenan Jalan
Jalan Nafas (D.0001) 2. Frekuensi Nafas  Monitor Pola Napas ( Seperti Napas Dan
Membaik Bradipnea, Takipnea, Keefektifan
3. Pola Nafas Hiperventilasi, Kusmaul, Pertukaran Gas
Membaik Cheyne-Stokes, Biot, Ataksik)
(Bersihan Jalan Nafas  Monitor Adanya Sumbatan Jalan
(L. 01001) Napas
 Auskultasi Bunyi Napas

20
 Monitor Saturasi Oksigen
Terapeutik
 Atur Interval Pemantauan
Respirasi Sesuai Kondisi Pasien
 Dokumentasikan Hasil
Pemantauan
Eduakasi
 Jelaskan Tujuan Dan Prosedur
Pemantauan
 Informasikan Hasil Pemantauan,
Jika Perlu
4. Menyusui Tidak Setelah Dilakukan Promosi ASI Ekslusif (I.03135) Meningkatkan
Efektif Tindakan Keperawatan Observasi Kemampuan Ibu
Berhubungan 3x 24 Jam, Diharapkan :  Identifikasi Kebutuhan Laktasi Dalam Memberikan
Dengan Tidak Rawat 1. Bayi Rewel Bagi Ibu Pada Anteriatal, ASI Secara Eksklusif
Gabung (D.0029) Menurun Intranatal, Dan Posttnatal (0-6 Bulan)
2. Intake Bayi Terapeutik
Membaik  Fasilitasi Ibu Untuk Rawat
3. Hisapan Bayi Gabung Atau Rooming In
Membaik  Gunakan Sendok Dan Cangkir
4. Suplai Asi Adekuat Jika Bayi Belum Bisa Menyusu
(Status Menyusui  Dukung Ibu Menyusui Dengan
L.03029) Mendampingi Ibu Selama
Kegiatan Menyusui Berlangsung

21
 Diskusikan Dengan Keluarga
Tentang ASI Eksklusif
Edukasi
 Jelaskan Manfaat Menyusui Bagi
Ibu Dan Bayi
 Jelaskan Pentingnya Menyusui
Di Malam Hari Untuk
Mempertahankan Dan
Meningkatkan Produksi ASI
 Jelaskan Tanda-Tanda Bayi
Cukup ASI (Mis, Berat Badan
Meningkat, BAK Lebih Dari 10
Kali/Hari, Warna Urine Tidak
Pekat)
 Anjurkan Ibu Memberikan
Nutrisi Kepada Bayi Hanya
Dengan ASI
 Anjurkan Ibu Menjaga Produksi
ASI Dengan Memerah,
Walaupun Kondisi Ibu Atau Bayi
Terpisah

22
Daftar Pustaka
Armini, N.W., Sriasih, NG.K., dan Marhaeni, G.A. 2017, Asuhan Kebidanan
Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah, Penerbit ANDI,
Yogyakarta.
Deasy, dkk (2020).Ilmu kuliah : Ilmu kesehatan Anak. Medan : Yayasan kita
menulis
Dewi, M. P., & Mahmudah, M. (2011). Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang
Pentingnya Kolostrum Bagi Bayi Baru Lahir Di RB Rahayu
Tawangmangu Karanganyar. Maternal, 4(04).
https://ejurnal.stikesmhk.ac.id/index.php/maternal/article/view/140

Indrayani, T., & Fatimah, S. K. (2018). Hubungan Pengetahuan Ibu, Sikap Ibu
Dan Media Informasi Dalam pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari
Pada bayi baru lahir di BPM Hj. Darmis syaiful Jakarta Timur. Dinamika
Kesehatan: Jurnal Kebidanan Dan Keperawatan, 9(1), 195-204.
https://ojs.dinamikakesehatan.unism.ac.id/index.php/dksm/article/
Lissauer. (2013). Perawatan tali pusat kering pada bayi.
http:Kesehatan RI/2013/12/ infeksi-tali-pusat.html.
Manuaba, I.B.G. 2012, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan, Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Mega Cahyani, P. N. L. S., Yuni Gumala, S. K. M., Made, N., Suarjana, S. K. M.,
& Made, I. (2020). Hubungan Konsumsi PUFA Dengan Status Gizi Dan
Lingkar Kepala Bayi Baru Lahir Di Klinik Bersalin Yayasan Bumi
Sehat (Doctoral dissertation, Jurusan Gizi).
Ni Wayan Metriani, N. W. (2021). Gambaran Kejadian Infeksi Bayi Baru Lahir
Di Ruang Perinatologi Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Kota
Denpasar Tahun 2020 (Doctoral dissertation, Jurusan Kebidanan 2021).
PPNI, T. P. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI): Definisi
dan Indikator Diagnostik ((cetakan III) 1 ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI, T. P. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI): Definisi
dan Tindakan Keperawatan ((cetakan II) 1 ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI, T. P. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI): Definisi dan
Kreteria Hasil Keperawatan ((cetakan II) 1 ed.). Jakarta: DPP PPNI.
Rahardjo, K., Marmi. 2015. Asuhan Neonatus Bayi Balita dan Anak Pra Sekolah.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Walyani ES dan Purwoastuti E. 2015. Asuhan Kebidanan Masa Nifas Dan
Menyusui. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

23

Anda mungkin juga menyukai