Anda di halaman 1dari 48

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Dalam dunia bisnis, persaingan merupakan hal yang umum terjadi,

perusahaan dituntut untuk saling berkompetisi dalam persaingan bisnis yang ketat ini,

sehingga setiap perusahaan perlu memperhatikan efektifitas dan efisiensi dalam

menggunaan sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang sudah

ditetapkan perusahaan. Untuk itu perusahaan harus mempunyai cara yang tepat untuk

mencapai tujuan tersebut. Hampir semua perusahaan di Indonesia baik perusahaan

jasa maupun perusahaan manufaktur telah mengalami dampak dari krisis ekonomi.

Ada beberapa hal yang menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup perusahaan. Salah

satunya adalah daya beli masyarakat yang semakin menurun.

Harga pada suatu perusahaan industri sangat mempengaruhi volume dalam

penjualan. Pengusaha perlu memikirkan tentang harga jual secara tepat karena harga

yang tidak tepat akan berakibat tidak menarik para pembeli untuk membeli barang

atau menggunakan jasa tersebut, penetapan harga jual yang tepat tidak selalu berarti

bahwa harga haruslah ditetapkan rendah atau serendah mungkin [CITATION Git14 \l

1033 ]. Karena banyak konsumen yang mempertimbangkan harga dalam memakai

sebuah produk yang ditawarkan. Pada industri yang sudah ada saat ini bervariasi

sesuai dengan dinamika yang terjadi pada sektor industri lainnya, seperti industri

pabrik dan rumahaan yang mempunyai prospek yang semakin menjanjikan.


2

Dalam penetapan harga, manajer harus mengukur potensi dampak sebelum

menetapkan harga akhir. Penetapan harga jual produk memerlukan berbagai

pertimbangan yang terintergrasi. Melalui biaya produksi, biaya operasional, target

laba yang diinginkan perusahaan, daya beli masyarakat, harga jual pesaing, kondisi

perekonomian secara umum, elastisitas harga produk dan sebagainya. Karena itu,

penentuan harga jual produk haruslah merupakan kebijakan yang harus benar-benar

dipertimbangkan secara matang dan terintegrasi. Kebijakan harga yang dipilih

perusahaan akan berpengaruh secara langsung terhadap berhasil tidaknya perusahaan

mencapai tujuannya[ CITATION Rud13 \l 1033 ].

Harga pokok produksi merupakan dasar bagi perusahaan untuk menentukan

harga jual, dan merupakan komponen biaya yang langsung berhubungan dengan

produksi itu sendiri. Oleh sebab itu, manajemen perusahaan perlu melakukan analisis

biaya produksi sehingga dapat menentukan biaya yang tepat untuk dikeluarkan

sehingga biaya-biaya yang gunakan dalam proses produksi menunjukkan harga pokok

sesungguhnya.

Biaya produksi pada hakekatnya adalah segala biaya yang dikeluarkan dalam

mengelola bahan baku menjadi barang jadi. Sebagaimana yang dikemukakan

Mulyadi (2014), biaya produksi merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah

bahan baku menjadi produk jadi yang siap dijual. Sedangkan harga jual merupakan

suatu nilai atau beban biaya yang ditetapkan pada masing-masing hasil produk.

Menurut Bustami dan Nurlela (2013) “terdapat hubungan secara langsung antara

biaya produksi dan harga jual, dimana harga jual dari suatu produk lebih banyak

ditentukan oleh biaya produksi”.


3

Penentukan biaya produksi memakai dua pendekatan yang digunakan yaitu

pendekatan full costing dan variable costing. Pendekatan full costing itu sendiri

merupakan penentuan harga pokok produk dengan memperhitungkan semua biaya-

biaya yang terlibat dalam proses produksi. Sedangakan pendekatan variable costing

merupakan penentuan harga pokok produk dengan memperhitungkan biaya-biaya

produksi variabel seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya

overhead pabrik variabel (Mulyadi, 2014).

Metode penentuan harga pokok berdasarkan full costing ditujukan untuk

memenuhi kebutuhan luar (ekstern) seperti investor, full costing hanya secara

sederhana mengelompokkan biaya menurut fungsi pokok (biaya yang terjadi di fungsi

produksi) organisasi perusahaan manufaktur. Sedangkan metode variable costing

ditujukan bagi pihak ekstern dan intern sesuai kepentingan mereka terhadap

perusahaan, tetapi metode ini lebih sering digunakan oleh pihak intern perusahaan

untuk penentuan harga jual, perencanaan laba, dan pembuatan keputusan (Mulyadi,

2014)

PT. Wahana Indonusa merupakan perusahaan bakery yang berada di kota

Medan dengan omzet penjualan yang cukup besar tetapi masih Belum

memperhitungkan harga pokok produk sesuai dengan konsep akuntansi. PT. Wahana

Indonusa memproduksi berbagai macam roti yang diproduksi berdasarkan pesanan

dan proses. Penulis mengambil lima jenis produk roti, yaitu roti tawar, roti bantal, roti

manis, roti kering dan roti choco chips. Adapun alasan penulis mengambil lima jenis

produk roti tersebut karena penjualan roti yang laris dan diproduksi secara terus

menerus, tidak berdasarkan pesanan. Proses produksi yang terjadi di perusahaan


4

meliputi pemilihan dan pengolahan bahan baku roti menjadi adonan roti, selanjutnya

proses pembentukan dan pemanggangan roti hingga terakhir proses pemasaran roti.

Proses produksi tersebut meliputi biaya-biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan

baku, biaya tenaga kerja langsung dan tidak langsung serta biaya overhead pabrik.

Pembebanan biaya produksi tersebut harus tepat dan sesuai. Dengan demikian

perusahaan harus mengetahui secara rinci mengenai biaya produksi yang akan

dibebankan pada produk tersebut melalui perhitungan harga pokok produk.

Dari hasil observasi awal, pada PT. Wahana Indonusa tidak menggolongkan

biaya-biaya produksi sesuai penggolongan akuntansi biaya yang seharusnya. Hal ini

mengakibatkan perusahaan kurang tepat dalam menentukan harga pokok produk,

yang akan berpengaruh kepada harga jual per bungkus roti dan laba yang diinginkan

perusahaan. Oleh karena itu penulis mencoba memberikan alternatif untuk

perhitungan harga pokok produk yang tepat, agar PT. Wahana Indonusa dapat

menentukan harga jual produk barang sesuai dengan konsep akuntansi biaya.

Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hasyim (2018) dengan

judul Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi dan Harga Jual dengan

Menggunakan Metode Full Costing Pada Home Industry Khoiriyah Di Taman Sari,

Singaraja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan, dalam perhitungan

harga pokok produksi tempe dan tahu menurut taksiran perusahaan adalah Rp 9.223

dan Rp 27.503,571, sedangkan harga pokok produksi tempe dan tahu menurut metode

full costing adalah Rp 9.610,473 dan Rp 28.618,228. Harga jual tempe dan tahu

menurut perusahaan Rp 10.000 dan Rp 40.000, sedangkan menurut cost plus pricing

adalah Rp 11.724,733 untuk tempe dan Rp 34.914,235 untuk tahu.


5

Mengingat penetapan harga jual produk sangat penting dalam suatu

produksi, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Analisis

perhitungan Harga Pokok Produksi dan Harga Kompetitor dalam menentukan

Harga Jual Pada PT. Wahana Indonusa”.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat masalah-masalah yang berkaitan

dengan penelitian ini. Masalah tersebut diidentifikasikan sebagai berikut :

1. PT. Wahana Indonusa Belum memperhitungkan harga pokok produk

sesuai dengan konsep akuntansi.

2. PT. Wahana Indonusa tidak menggolongkan biaya-biaya produksi sesuai

penggolongan akuntansi biaya yang seharusnya

1.3. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, permasalahan

yang ada cukup luas, sehingga perlu adanya pembatasan masalah yang akan diteliti.

Adapun batasan masalahnya sebagai berikut :

1. metode penentuan harga pokok produksi menggunakan pendekatan full

costing dan variable costing agar perusahaan bias memilih yang sesuai

dengan kebutuhannya.

2. Penulis mengambil lima jenis produk roti, yaitu roti tawar, roti bantal, roti

manis, roti kering dan roti choco chips


6

1.4. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan pokok permasalahan

yaitu Bagaimana perhitungan Harga Pokok Produksi dan Harga Kompetitor dalam

menentukan Harga Jual Pada PT. Wahana Indonusa ?

1.5. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah

untuk mengetahui dan menganalisis perhitungan Harga Pokok Produksi dan Harga

Kompetitor dalam menentukan Harga Jual Pada PT. Wahana Indonusa.

1.6. Manfaat Penelitian

1. Bagi Akademisi

Menambah pembendaharaan perpustakaan sehingga dapat menjadi acuan

mahasiswa yang akan mengadakan penelitian selanjutnya mengenai harga

pokok produksi.

2. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan sebagai bentuk manajemen

dan strategi perusahaan untuk memajukan perusahaan ditengah persaingan

yang sangat ketat dalam meningkatkan ketertarikan akan konsumen.

1.7. Keaslian Penelitian

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Hasyim (2018) dengan

judul Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi Dan Harga Jual Dengan

Menggunakan Metode Full Costing Pada Home Industry Khoiriyah Di Taman Sari,
7

Singaraja. Penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya yang

terletak pada :

1. Objek Penelitian : penelitian terdahulu menggunakan harga pokok

produksi dengan full costing dalam mentuan harga jual. Sementara,

penelitian ini menggunakan harga pokok produksi metode full

costing dan variabel costing dalam menentukan harga jualnya

dengan melihat harga competitor sebagai pembandingnya.

2. Waktu penelitian : penelitian terdahulu dilakukan tahun 2018

sedangkan penelitian ini tahun 2021

3. Subjek penelitian : subjek penelitian terdahulu pada home industry

Khoiriyah di Singaraja sedangkan penelitian ini dilakukan pada PT.

Wahana Indonusa di Medan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Konsep Dasar Akuntansi Biaya

Akuntansi biaya merupakan salah satu pengkhususan dalam akuntansi, sama

halnya dengan akuntansi keuangan, akuntansi pemerintahan, akuntansi pajak dan

sebagainya. Ciri utama yang membedakan akuntansi biaya dengan akuntansi yang

lain adalah kajian datanya. Akuntansi biaya mengkaji data biaya untuk digolongkan,

dicatat, dianalisis dan dilaporkan dalam laporan informasi akuntansi.

Akuntansi biaya pernah dianggap hanya berlaku dalam perusahaan

manufaktur, tetapi pada saat ini setiap jenis dan ukuran organisasi memperoleh

manfaat dari penggunaan akuntansi biaya. Misalnya akuntansi biaya yang digunakan

institusi keuangan, perusahaan transportasi, firma jasa profesional, rumah saki,

lembaga pendidikan serta aktivitas pemasaran dan administratif dalam perusahaan

manufaktur (Dewi dan Kristanto, 2014).

Adapun pengertian akuntansi biaya menurut para ahli yaitu Mulyadi (2014)

dalam bukunya menulis bahwa akuntansi biaya adalah proses pencatatan,

penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya, pembuatan dan penjualan produk

atau jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Objek akuntansi

biaya adalah biaya.

8
9

Firmansyah (2014) menulis dalam bukunya biaya adalah pengorbanan

sumber ekonomi yang dapat diukur dalam satuan uang, baik yang telah terjadi

maupun yang akan terjadi untuk tujuan tertentu.

Berdasarkan pengertian tersebut, terdapat empat unsur pokok dalam definisi

biaya tersebut, yaitu :

1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi

2. Biaya dapat diukur dengan satuan rupiah

3. Biaya merupakan pengorbanan yang telah terjadi atau akan terjadi

4. Biaya merupakan pengorbanan yang mempunyai tujuan

Adanya informasi biaya yang akurat memungkinkan manajemen untuk

melakukan pengelolaan alokasi berbagai sumber ekonomi untuk menjamin

dihasilkannya output yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan

dengan nilai input yang dikorbankan. Selain itu, dengan informasi biaya yang lengkap

maka pimpinan perusahaan dapat lebih menyempurnakan lagi prosedur dan

kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan untuk masa yang akan datang.

Dewi dan Kristanto (2014) menulis bahwa ditinjau dari aktivitasnya

akuntansi biaya didefinisikan sebagai proses pencatatan, penggolongan, peringkasan

dan penyajian biaya-biaya pembuatan dan penjualan barang jadi (produk) atau

penyerahan jasa dengan cara-cara tertentu serta menafsirkan hasilnya. Apabila

ditinjau dari fungsinya, akuntansi biaya dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan

yang mengasilkan informasi biaya yang dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan

dalam pengambilan keputusan manajemen.


10

Supriyono (2013) menulis bahwa akuntansi biaya adalah salah satu cabang

akuntansi yang merupakan alat manajemen dalam memonitor dan merekam transaksi

biaya secara sistematis serta menyajikan informasi biaya dalam bentuk laporan biaya.

Sedangkan Witjaksono (2013) mengungkapkan bahwa akuntansi biaya

adalah salah satu dari sekian banyak disiplin ilmu dalam akuntansi. Akuntansi biaya

secara sederhana dapat diartikan dari istilahnya sebagai akuntansi yang khusus

digunakan untuk pengukuran dan pelaporan biaya.

Dari pengertian-pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa akuntansi

biaya adalah suatu perhitungan akuntansi dengan cara melakukan pencatatan

transaksi biaya secara sistematis atas pembuatan dan penjualan produk.

Mulyadi (2014), klasifikasi biaya berdasarkan perilaku biaya dibagi menjadi

empat, yaitu:

1. Biaya variabel

Biaya yang jumlahnya berubah-ubah, namun perubahannya sebanding

dengan perubahan volume produksi/penjualan. Contoh: biaya bahan

baku, biaya tenaga kerja langsung.

2. Biaya tetap

Biaya yang tidak berubah jumlahnya walaupun jumlah yang

diproduksi/dijual berubah dalam kapasitas normal. Contoh: biaya

pembelian mesin.

3. Biaya semi variabel

Biaya yang jumlahnya ada yang berubah-ubah sesuai dengan perubahan

kuantitas dan ada tarif tetapnya. Contoh: biaya telfon, biaya listrik,
11

kedua biaya tersebut terdiri dari biaya langganan yang pasti harus

dibayar dan biaya pemakaian.

4. Biaya bertingkat

Biaya yang dikeluarkan sifatnya tetap harus dikeluarkan dalam suatu

rentang produksi. Contoh: biaya pembelian mesin pertama, jika

produksi terlalu banyak mesin pertama yang dibeli tidak memenuhi

kapasitas, maka perusahaan membeli mesin kedua.

Dari uraian diatas akuntansi biaya didefinisikan sebagai bagian dari

akuntansi manajemen, dalam akuntansi biaya akan dipelajari penentuan dan

pengendalian biaya yang terjadi dalam perusahaan yang pada akhirnya akan

menghasilkan informasi biaya yang akan digunakan manajemen untuk pengambilan

keputusan. Hasil akhir akuntansi biaya adalah informasi tentang biaya produksi untuk

kepentingan kegiatan manajemen perusahaan industri, yang meliputi bahan baku,

biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik, penyimpanan, dan penjualan

produk jadi.

Memang tidak dipungkiri jika akuntansi biaya itu kebanyakan diterapkan

untuk menghitung biaya-biaya produksi yang terjadi di perusahaan manufaktur, tapi

untuk saat ini akuntansi biaya juga telah banyak diterapkan pada perusahaan yang

bukan manufaktur seperti perusahaan perbankan, perusahaan asuransi, hotel, dll.

Contoh akuntansi biaya yang diterapkan di perusahaan manufaktur adalah

perhitungan biaya harga pokok produksi untuk perusahaan manufaktur tas sekolah.

Untuk memproduksi tas sekolah, perusahaan membutuhkan untuk menghitung berapa

harga pokok produksi tas nya per pieces atau per kelompok. Kalau sudah diketahui
12

harga pokok tas yang sebenarnya, dengan melakukan perhitungan yang rinci sesuai

teori yang dipelajari dalam akuntansi biaya, maka akan sangat mudah untuk

menentukan harga jual.

Contoh akuntansi biaya yang diterapkan yang diterapkan yang bukan

perusahaan manufaktur seperti usaha penginapan hotel. Hotel merupakan usaha yang

saat ini banyak pesaingnya, salah satu pertimbangan konsumen memilih hotel adalah

maslah harga. Jika pihak hotel tidak menghitung harga pokok kamar dengan rinci,

bisa saja penetapan tarif kamar terlalu mahal bahkan terlalu murah. Jika penetapan

harga kamar terlalu murah akan merugikan perusahaan, sebaliknya jika penetapannya

terlalu mahal akan berakibat konsumen beralih ke tempat lain. Begitu pentingnya

penentuan biaya pokok yang tepat bagi perusahaan sebagai salah satu cara

memenangkan persaingan antar perusahaan yang sejenis, maka perlu kita perlu kita

pelajari akuntansi biaya lebih lanjut untuk menghasilkan informasi bagi pihak

manajemen untuk pengambilan keputusan.

Menurut V. Wiratna Sujarweni (2014) ada tiga tujuan pokok dalam

mempelajari akuntansi biaya adalah memperoleh informasi biaya yang akan

digunakan untuk:

1. Penentuan harga pokok produk

Tujuan mempelajari akuntansi biaya agar dapat memperoleh informasi

biaya untuk penentuan harga pokok produk yang digunakan perusahaan

untuk menentukan besarnya laba yang diperoleh dan juga untuk

menetukan harga jual. Adapun dalam akuntansi biaya akan dipelajari


13

cara perhitungan harga pokok produk dengan menggunakan beberapa

metode, diantaranya dengan metode Harga Pokok Pesanan, Full costing,

Activity Based Costing, dll.

2. Perencanaan biaya dan pengendalian biaya

Tujuan mempelajari akuntansi biaya agar dapat memperoleh informasi

biaya sebagai perencanaan biaya. Perencanaan biaya apa saja yang akan

dikeluarkan di masa mendatang. Akuntansi biaya menyajikan informasi

biaya yang mencakup biaya masa lalu dan biaya di masa yang akan

datang. Informasi yang dihasilkan akuntansi biaya menjadi dasar bagi

manajemen untuk menyusun perencanaan biaya. Dengan perencanaan

biaya yang baik akan memudahkan manajemen dalam melakukan

perencanaan biaya. Pengendalian biaya merupakan rangkaian kegiatan

untuk memonitor dan mengevaluasi kesesuaian realisasi dan anggaran

biaya yang terjadi di perusahaan. Akuntansi biaya menyajikan informasi

mengenai anggaran dan realisasi biaya apakah sudah sesuai atau masih

terjadi selisih dari rencana yang telah ditentukan.

3. Pengambilan keputusan khusus

Tujuan mempelajari akuntansi biaya agar dapat memperoleh informasi

biaya sebagai pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pemilihan

berbagai tindakan aternatif yang akan dilakukan perusahaan misalnya:

a. Menerima atau menolak pesanan dari konsumen

b. Mengembangkan produk

c. Memproduksi produk baru


14

d. Membeli atau membuat sendiri

e. Menjual langsung atau memproses lebih lanjut.

2.1.2. Harga Pokok Produksi

Martin Kenneth yang diterjemahkan oleh Mulyadi (2014) dalam pengertian

produksi menyatakan bahwa produksi itu merupakan prosedur desain barang dan jasa

sebagai output serta sebagai produk terakhir input element.

Bagi perusahaan industri harga pokok produksi merupakan bagian terbesar

dari biaya yang harus dikeluarkan perusahaan. Jika informasi biaya untuk pekerjaan

atau proses tersedia dengan cepat, maka manajemen mempunyai dasar yang kuat

untuk merencanakan kegiatannya. Perusahaan harus cermat dan rinci dalam membuat

laporan keuangan terutama yang berkaitan dengan biaya produksi agar tidak terjadi

penyimpangan-penyimpangan serta pemborosan biaya dalam proses produksi.

Perhitungan harga pokok produksi dalam suatu perusahaan industri

bertujuan untuk memenuhi kebutuhan baik pihak manajemen perusahaan maupun

pihak luar perusahaan. Untuk memenuhi tujuan perhitungan harga pokok produksi

tersebut akuntansi biaya mencatat, mengklasifikasi, dan meringkas biaya-biaya

pembuatan produk.

Mulyadi (2014) menulis bahwa harga pokok produksi merupakan sejumlah

biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk

dijual. Menurut Mulyadi, dalam pembuatan produk terdapat dua kelompok biaya

yaitu biaya produksi dan biaya nonproduksi. Biaya produksi merupakan biaya-biaya

yang dikeluarkan dalam pengolahan bahan baku menjadi produk, sedangkan biaya
15

nonproduksi merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan nonproduksi,

seperti kegiatan pemasaran dan kegiatan administrasi dan umum. Berkaitan dengan

kegiatan proses produksi, perusahaan harus mempunyai kemampuan untuk dapat

mendayagunakan segenap sumber-sumber yang dimiliki oleh perusahaan sebanding

dengan bahan-bahan dan jasa-jasa yang diolah menjadi produk. Bahan-bahan yang

diperlukan oleh perusahaan sangat menentukan atau mempengaruhi tingkat kualitas

dan kuantitas produk dan harga jual produk karena bila harga bahan yang diperoleh

terlalu tinggi dengan kualitas dan kuantitas yang kurang memuaskan tentunya akan

mempengaruhi tingkat biaya produksi dan harga jual produk sehingga perusahaan

akan mengalami kerugian, sebaliknya bila harga pembelian bahan rendah atau murah

sesuai dengan harga yang berlaku di pasaran dengan kuantitas dan kualitas yang baik

serta waktu penyerahan yang tepat, maka perusahaan dapat menekan tingkat biaya

produksi dan harga jual produk mampu bersaing dengan perusahaan sejenis lainnya

sehingga apa yang menjadi tujuan perusahaan dapat tercapai.

Menurut Witjaksono (2013), hal terpenting dari penerapan metode

pengukuran biaya yang makin akurat, adalah semakin terbukanya wawasan untuk

melakukan peningkatan (improvement) dalam proses produksi barang dan jasa agar

semakin efisien dan efektif. Biaya-biaya ini agar lebih efektif, maka yang dicatat

haruslah yang benar-benar dibebankan karena pengalokasian biaya produksi

merupakan suatu proses yang penting dan berpengaruh terhadap penentuan harga

pokok produksi.

Kesalahan dalam perhitungan harga pokok produksi dapat mengakibatkan

kesalahan dalam penentuan harga jual pada suatu perusahaan menjadi terlalu tinggi
16

atau terlalu rendah serta juga menimbulkan kesalahan dalam penentuan nilai

persedian produk selesai dan produk dalam proses. Harga jual yang terlalu tinggi

dapat mengakibatkan produk yang ditawarkanperusahaan akan sulit bersaing dengan

produk sejenis yang ada di pasar, sebaliknya jika harga jual produk terlalu rendah

akan mangakibatkan laba yang diperoleh perusahaan rendah pula. Hal tersebut dapat

diatasi dengan penentuan harga pokok produksi dan menetukan harga jual yang tepat.

Harga pokok merupakan faktor terpenting dalam pertimbangan untuk

menentukanharga jual suatu produk yang nantinya diharapkan akan mendatangkan

laba bagiperusahaan.

Penentuan harga pokok produksi akan berguna terhadap harga jual dan

dalam menentukan harga jual terlebih dahulu harus diketahui harga pokok dari

pembuatan produknya dan berapa biaya produksi yang dikeluarkan, sehingga produk

tersebut dapat bersaing dengan produk lain dipasaran. Pihak manajemen selain

dituntut untuk dapat mengkoordinasikan seluruh sumber daya yang dimiliki

perusahaan secara efektif dan efisien, juga dituntut untuk menghasilkan keputusan-

keputusan yang menunjang pencapaian tujuan perusahaan serta mempercepat

perkembangan perusahaan.

Harga pokok produksi atau product cost merupakan elemen penting untuk

menilai keberhasilan dari suatu perusahaan. Harga pokok produksi mempunyai kaitan

erat dengan indikator-indikator tentang suksesnya perusahaan, seperti laba kotor

penjualan, laba bersih yang tergantung pada rasio antara harga jual dan harga pokok

produknya, dan perubahan pada harga pokok produk yang relatif kecil yang bisa

memberikan dampak signifikan pada indikator keberhasilan.


17

Penetapan harga pokok produksi terutama dimaksud untuk mengukur laba

rugi dan menyusun rencana untuk persediaan. Salah tujuan akuntansi biaya yaitu

untuk menghitung harga pokok produksi suatu perusahaan yang baik.

Menurut Dewi dan Kristanto (2014) menulis bahwa harga pokok produksi

merupakan biaya barang yang dibeli untuk diproses sampai selesai, baik sebelum

maupun selama periode akuntansi berjalan.

Menurut Supriyono (2013) bahwa harga pokok produksi merupakan aktiva

atau jasa yang dikorbankan atau diserahkan dalam proses produksi yang meliputi

biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik dan termasuk biaya

produksi.

Firmansyah (2014) menjelaskan bahwa harga pokok produksi merupakan

penjumlahan seluruh pengorbanan sumber ekonomi yang digunakan dalam

pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Suatu perusahaan perlu menentukan

harga pokok produksi yang dihasilkan karena harga pokok merupakan salah satu

faktor yang ikut memengaruhi harga jual dasar dan penentuan kebijakan-kebijakan

yang berhubungan dengan pengolahan perusahaan. Harga Pokok Produksi juga

digunakan untuk menentukan keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan.

Dari pengertian-pengertian diatas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa

harga pokok produksi adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi

meliputi biaya tenaga kerja langsung, tenaga kerja tak langsung dan biaya overhead

pabrik. Dari perhitungan harga pokok produksi inilah bisa diketahui seberapa besar

biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam mengolah bahan baku menjadi produk jadi.

Adapun tujuan dari perhitungan harga pokok produksi adalah :


18

1. Sebagai salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam penentuan

harga jual produk didasarkan pada biaya produksi ditambah biaya lain

yang telah dikeluarkan dan laba yang diinginkan.

2. Sebagai salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam penentuan

biaya produk untuk produk baru dan pesanan khusus.

3. Untuk penentu kebijakan penjualan.

Banyaknya perusahaan dan industri yang bergerak dalam bidang yang sama

membuat suhu persaingan meningkat tinggi. Bagi suatu perusahaan, memperoleh laba

merupakan tujuan utama untuk kelangsungan hidup dan kemajuan perusahaan. Untuk

memperoleh laba ada tiga faktor utama didalam perusahaan yang harus diperhatikan,

yaitu jumlah barang yang harus diproduksi, biaya perunit untuk memproduksi dan

harga jual perunit produk tersebut. Untuk mencapai laba yang optimal, salah satunya

adalah memperhatikan faktor biaya yaitu diantaranya harga pokok penjualan

diupayakan dapat ditekan seminimal mungkin. Yang termasuk kedalam unsur-unsur

harga pokok produksi adalah sebagai berikut:

1. Biaya bahan baku

Biaya bahan baku adalah bahan yang merupakan unsur paling pokok

dalam proses produksi, dan dapat langsung dibebankan kepada harga

pokok barang yang diproduksi.

Mulyadi (2014) menjelaskan pengertian bahan baku merupakan bahan

yang membentuk bagian menyeluruh produk jadi. Bahan baku yang

diolah dalam perusahaan manufaktur dapat diperoleh dari pembelian

lokal, impor, atau dari pengolahan sendiri. Di dalam memperoleh bahan


19

baku, perusahaan tidak hanya mengeluarkan biaya sejumlah harga beli

bahan baku saja, tetapi juga mengeluarkan biaya-biaya pembelian,

pergudangan, dan biaya-biaya perolehan lain.

2. Biaya Tenaga Kerja

Tenaga kerja adalah usaha fisik atau mental yang digunakan dalam

membuat suatu produk. Biaya tenaga kerja merupakan salah satu konversi

biaya untuk mengubah bahan baku menjadi produk jadi. Biaya tenaga

kerja yang termasuk dalam perhitungan biaya produksi digolongkan

kedalam biaya tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung.

Dewi dan Kristanto (2014) menulis bahwa biaya tenaga kerja adalah

biaya yang dikeluarkan sebagai akibat pemanfaatan tenaga kerja dalam

melakukan produksi.

Mulyadi (2014) mengatakan bahwa biaya tenaga kerja dapat dibagi ke

dalam tiga golongan besar yaitu (1) gaji dan upah reguler yaitu jumlah

gaji dan bruto dikurangi dengan potongan-potongan seperti paja

penghasilan karyawan dan biaya asuransi hari tua, (2) premi lembur, (3)

biaya-biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja (Labor related costs)

Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa biaya

tenaga kerja adalah unsur penting dalam jalannya proses produksi suatu

produk, dimana sumber daya manusia sangat berperan penting dalam

kelancaran proses produksi suatu perusahaan. Biaya tenaga kerja

merupakan upah yang diberikan kepada para pekerja yang terlibat dalam
20

proses produksi baik tenaga kerja langsung maupun tenaga kerja tak

langsung.

3. Biaya overhead pabrik

Biaya overhead pabrik menurut Mulyadi (2014) adalah biaya produksi

selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung yang

dikelompokan menjadi beberapa golongan berikut:

a. Biaya bahan penolong

b. Biaya reparasi dan pemeliharaan

c. Biaya tenaga kerja tidak langsung

d. Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap

e. Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu

f. Biaya overhead lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran

uang.

Dewi dan Kristanto (2014) menulis bahwa biaya overhead pabrik pada

umumnya didefinisikan sebagai biaya bahan tidak langsung (penolong), tenaga kerja

tidak langsung dan semua biaya pabrik lainnya yang tidak dapat secara nyata

didefinisikan dengan atau dibebankan langsung ke pesanan, produk atau objek biaya

lainnya yang spesifik. Istilah lain yang digunakan untuk biaya overhead pabrik adalah

beban produksi, overhead produksi, beban pabrik dan biaya biaya produksi tidak

langsung.

Berdasarkan pengertian diatas, maka disimpulkan bahwa biaya overhead

pabrik adalah unsur biaya produksi selain biaya bahan baku langsung dan biaya

tenaga kerja langsung yang dikeluarkan selama proses produksi. Biaya overhead
21

pabrik merupakan biaya yang paling kompleks dan tidak dapat didefinisikan pada

produk jadi, maka pengumpulan biaya overhead pabrik baru dapat diketahui setelah

barang pesanan selesai diproduksi.

2.1.3. Metode Perhitungan Harga Pokok Produksi

Halim et al. (2013), menyatakan bahwa Metode penentuan harga pokok

produk adalah dengan membebankan semua biaya produksi (biaya bahan baku, biaya

tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik) baik bersifat tetap maupun variabel kepada

produk atau jasa. Unsur-unsur biaya pada harga pokok produksi terdapat dua

pendekatan yaitu metode Full costing dan variabel costing.

Ningtyas et al. (2012) menyatakan bahwa metode penentuan harga pokok

produksi adalah cara memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok

produksi. Dalam memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok

produksi, terdapat dua metode yaitu Full costing dan variable costing.

Berdasarkan pengertian diatas, ditarik kesimpulan bahwa metode

perhitungan harga pokok produksi adalah cara memperhitungkan unsur biaya

produksi ke dalam harga pokok produksi. Dalam memperhitungkan unsur-unsur

biaya kedalam harga pokok produksi terdapat dua pendekatan yaitu metode Full

costing dan metode Variable Costing. Perbedaan pokok antara kedua metode tersebut

terletak pada perlakuan terhadap biaya produksi yang bersifat tetap dan akan

berakibat pada perhitungan harga pokok produk dan penyajian laporan laba rugi.
22

2.1.3.1. Metode Full Costing

Mulyadi (2014) menyatakan bahwa Full costing merupakan metode

penentuan biaya produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke

dalam biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung

dan biaya overhead pabrik, baik yang variabel maupun tetap.

Full costing merupakan metode penentuan kos produksi yang

memperhitungkan semua unsur biaya produksi kedalam kos produksi, yang terdiri

dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik

variabel maupun biaya overhead pabrik tetap. Dengan demikian kos produksi

menurut metode Full costing terdiri dari unsur biaya berikut ini :

Biaya bahan baku xxx


Biaya tenaga kerja langsung xxx
Biaya overhead pabrik variabel xxx
Biaya overhead pabrik tetap xxx+
Total produksi xxx

Ningtyas et al. (2012), mengatakn bahwa: Full costing merupakan metode

penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya

produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya

overhead pabrik, baik variabel maupun tetap ditambah dengan biaya nonproduksi

(biaya pemasaran, biaya administrasi dan umum).

Penentuan harga pokok produksi berdasarkan full costing pada umumnya

ditujukan untuk kepentingan penyusunan laporan keuangan untuk pihak eksternal.

Laporan laba rugi yang disusun dengan metode ini menitikberatkan pada penyajian

unsur-unsur biaya menurut hubungan biaya dengan fungsi pokok yang ada di
23

perusahaan yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, serta fungsi administrasi dan

umum. Dengan demikian laporan laba rugi menurut full costing akan tampak sebagai

berikut:

Penjualan Rp. xxx


Harga pokok penjualan (Rp. xxx) _
Laba kotor atas penjualan Rp. xxx

Biaya komersial:
Pemasaran Rp. xxx
Administrasi dan umum Rp.xxx
(Rp.xxx) _
Laba bersih Rp. xxx

2.1.3.2. Metode Variable Costing

Metode Variable costing menurut Mulyadi (2014) adalah metode penentuan

harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku

variabel ke dalam kos produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja

langsung, dan biaya overhead pabrik variabel.

Kos produksi yang dihitung dengan metode variable costing terdiri dari

unsur kos produksi variabel (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya

overhead pabrik variabel ditambah dengan biaya non produksi variabel) ditambah

biaya nonproduksi variabel (biaya pemasaran variabel dan biaya administrasi dan

umum variabel) dan biaya tetap (biaya overhead pabrik tetap, biaya pemasaran tetap

dan biaya administrasi dan umum tetap). Kos produksi menurut metode variable

costing terdiri dari :


24

Biaya bahan baku xxx


Biaya tenaga kerja langsung xxx
Biaya overhead pabrik variabel xxx+
Total biaya produksi xxx

Ningtyas et al (2012) menyatakan bahwa variable costing merupakan

metode penentuan harga pokok produksi yang hanya membebankan biaya biaya

produksi variabel saja ke dalam harga pokok produk. Metode variable costing ini

dikenal dengan nama direct costing. Biaya produksi yang bersifat tetap pada variable

costing diperlakukan sebagai biaya periode akuntansi dimana biaya tersebut terjadi.

Penentuan harga pokok berdasarkan metode ini pada umumnya ditujukan untuk pihak

manajemen dalam rangka pengambilan kebijakan harga. Laporan laba rugi yang

disusun dengan metode ini menitik beratkan pada penyajian biaya sesuai dengan

perilaku biaya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan.

Laporan laba rugi menurut metode variable costing akan tampak sebagai

berikut:

Penjualan Rp. xxx


Harga pokok penjualan variabel (Rp.xxx)
Batas kontribusi bersih Rp. xxx
Biaya komersial variabel:
Pemasaran variabel Rp. xxx
Administrasi dan umum variabel Rp. xxx
(Rp.xxx)
Batas kontribusi bersih Rp. xxx
Biaya tetap:
Overhead pabrik Rp. xxx
Pemasaran tetap Rp. xxx
Administrasi dan umum tetap Rp.xxx
(Rp.xxx)
Laba bersih Rp.xxx
25

Menurut Samryn, (2012) dibandingkan dengan laporan yang menggunakan

metode full costing, metode variable costing lebih banyak memberikan manfaat bagi

keperluan internal manajemen, diantaranya adalah:

1. Laba periodik tidak dipengaruhi oleh tingkat persediaan.

2. Dengan menggunakan variable costing, biaya produksi per unit tidak

mengandung biaya tetap.

3. Biaya pabrik dan laporan laba rugi dalam bentuk variable costing lebih

dekat dalam mengikuti pemikiran manajemen.

4. Pendekatan ini memungkinkan manajemen mengidentifikasi biaya-biaya

yang dapat dan tidak dapat dikendalikan dalam jangka pendek.

5. Data variable costing relatif memudahkan penilaian kinerja menurut

produk, wilayah, kelas pelanggan dan segmen lain dalam bisnis.

2.1.4. Penetapan Harga Jual

Perusahaan sering kali kurang akurat dalam menentukan harga jual

produknya, khususnya usaha yang bergerak di bidang manufaktur seringkali kurang

tepat dalam perhitungan harga pokok produksi dari produk yang dihasilkan oleh

usaha tersebut. Kesalahan dalam perhitungan harga pokok produk yang dihasilkan

seringkali menyebabkan harga jual yang ditetapkan terlalu rendah atau terlalu tinggi.

Hal ini berdampak pada salahnya atau tidak sesuainya keuntungan yang diharapkan

dengan keuntungan yang sebenarnya diperoleh.


26

Supriyono (2013) menyatakan bahwa harga jual merupakan jumlah moneter

yang dibebankan oleh suatu unit usaha kepada pembeli atau pelanggan atas barang

atau jasa yang dijual atau diserahkan.

Mulyadi (2014) menyatakan bahwa harga jual harus dapat menutupi biaya

penuh ditambah dengan laba yang wajar. Harga jual sama dengan biaya produksi

ditambah mark-up.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa harga jual adalah sejumlah

biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi suatu barang atau jasa

ditambah dengan persentase laba yang diinginkan perusahaan, karena itu untuk

mencapai laba yang diinginkan oleh perusahaan salah satu cara yang dilakukan untuk

menarik minat konsumen adalah dengan cara menentukan harga yang tepat untuk

produk yang terjual. Harga yang tepat adalah harga yang sesuai dengan kualitas

produk suatu barangdan harga tersebut dapat memberikan kepuasan kepada

konsumen.

2.1.4.1. Tahapan Penetapan Harga Jual

Penetapan harga selalu menjadi masalah bagi setiap perusahaan karena

penetapan harga ini bukanlah kekuasaan atau kewenangan yang mutlak dari seorang

pengusaha ataupun pihak perusahaan. Penetapan harga dapat menciptakan hasil

penerimaan penjualan dari produk yang dihasilkan dan dipasarkan. Meskipun

penetapan harga merupakan hal yang penting, namun masih banyak perusahaan yang

kurang sempurna dalam menangani permasalahan penetapan harga tersebut. Karena

menghasilkan penerimaan penjualan, maka harga mempengaruhi tingkat penjualan,


27

tingkat keuntungan, serta share pasar yang dapat dicapai perusahaan (Angipora,

2014).

Menurut Angipora (2014) dalam penetapan harga yang harus diperhatikan

adalah faktor yang mempengaruhinya, baik langsung maupun tidak langsung :

1. Faktor yang secara langsung adalah harga bahan baku, biaya produksi,

biaya pemasaran, peraturan pemerintah, dan faktor lainnya.

2. Faktor yang tidak langsung namun erat dengan penetapan harga adalah

antara lain yaitu harga produk sejenis yang dijual oleh para pesaing,

pengaruh harga terhadap hubungan antara produk subtitusi dan produk

komplementer, serta potongan untuk para penyalur dan konsumen.

Yang harus diperhatikan oleh manajemen pemasaran dapat dialihkan kepada

prosedur penentuan harga yang ditawarkan. Apabila dalam sebuah perusahaan tidak

memiliki prosedur yang sama dalam menentukan atau menetapkan harga dimana

menuru Wiliam J. Stanton (2018) bahwa penetapan harga memiliki lima tahap yaitu:

1. Mengestimasi untuk permintaan barang

Pada tahap ini seharusnya perusahaan dapat mengestimasi

permintaan barang atau jasa yang dihasilkan secara total yang akan

memudahkan perusahaan dalam melakukan penentuan harga terhadap

permintaan barang yang ada dibandingkan dengan permintaan barang

baru. Dalam mengestimasi permintaan suatu barang maka sebuah

manajemen bisa menggunakan cara berikut:


28

a. Menentukan harga yang diharapkan (expected price) yakni harga

yang diharapkan dapat diterima oleh konsumen yang ditemukan

berdasarkan peredaran.

b. Mengestimasi volume penjualan pada berbagai tingkat harga.

2. Mengetahui terlebih dahulu reaksi dalam persaingan

Kebijaksanaan yang dilakukan oleh perusahaan dalam penentuan

harga harus mempertimbangkan kondisi persaingan barang yang

terdapat di pasar serta sumber-sumber penyebab lainnya. Seperti barang

sejenis yang dihasilkan oleh perusahaan lain barang pengganti atau

substitusi

3. Barang lain yang dihasilkan oleh perusahaan lain yang sama- sama

menginginkan uang konsumen.

Dalam menentukan sebuah pangsa pasar yang dapat diharapkan oleh

kalangan perusahaan yang ingin bergerak maju lebih cepat dan tentu

selalu mengharapkan market share yang lebih besar. Memang harus

disadari bahwa untuk mendapatkan market share yang lebih besar

ditunjang oleh kegiatan promosi dan kegiatan lain dari persaingan non

harga, disamping dengan penentuan harga tertentu.

4. Strategi harga

Memilih strategi harga untuk mencapai target pasar terdapat

beberapa strategi harga yang digunakan oleh perusahaan untuk

mencapai target pasar yang sesuai, yaitu :


29

a. Penetapan harga penyaringan (skimming price) Strategi ini berupa

penetapan harga yang ingin mencapai setinggi-tingginya.

Kebijaksanaan ini memiliki tujuan untuk menutupi biaya penelitian,

pengembangan dan promosi. Oleh karena itu, strategi ini cocok

untuk produk baru, karena:

1) Pada tahap perintisan (daur hidup produk)

Harga bukan merupakan suatu faktor penting karena masih

sedikit sekali. Kesendirian produk yang terdapat di pasar

merupakan kesempatan dalam pemasaran yang lebih efektif.

2) Perusahaan dapat membagi pasar berdasarkan tingkat

penghasilan yakni menjual barang baru tersebut pada pasar yang

kompetitif.

3) Dapat pula berfungsi sebagai usaha berjaga-jaga terhadap

kekeliruan dalam penetapan harga. Apabila penetapan harga

pertama terlalu tinggi dan pasar tidak dapat menyerapnya maka

perusahaan dapat dengan mudah untuk menurunkan nya.

4) Harga perkenalan atau promosi. Yang tidak dapat memberikan

penghasilan dan laba yang tinggi.

5) Harga yang tinggi dapat membatasi permintaan terhadap batas-

batas kapasitas produksi dalam perusahaan.

b. Penetapan harga penetrasi (penetration price). Penetapan harga

penetrasi merupakan strategi penetapan harga yang serendah-

rendahnya untuk mencapai volume penjualan yang relatif singkat.


30

Strategi ini cenderung lebih bermanfaat dibanding dengan

penetapan harga penyaring (skimming) jika kondisi ini terdapat di

dalam pasar. Kondisi tersebut yaitu:

1) Kuantitas produk yang dijual sangat sensitif terhadap harga,

artinya produk mempunyai permintaan yang sangat elastis.

2) Pengurangan-pengurangan yang penting dalam produk unit dan

biaya pemasaran dapat terlaksanakan melalui operasi dalam

skala besar.

3) Produk diperkirakan mengalami persaingan sangat kuat setelah

diluncurkan ke pasar.

4) Pasar dari golongan tinggi tidak cukup besar untuk menopang

harga yang ditetapkan dengan strategi harga penyaring.

5. Mempertimbangkan politik pemasaran perusahaan Faktor-faktor lainnya

yang perlu dipertimbangkan pada penentuan harga seperti

mempertimbangkan politik pada pemasaran dengan melihat pada

barang, sistem distribusi dan program promosinya. Faktor-faktor yang

mempengaruhi dan harus diperhitungkan dalam penetapan harga yaitu:

a. Faktor Lingkungan Internal

Dalam faktor lingkungan internal terdapat beberapa faktor

mendasar yang mempengaruhi perusahaan dalam menentukan harga

dari setiap produk yang dihasilkan, seperti :

1) Tujuan pemasaran perusahaan, sebagai faktor utama yang

menentukan harga adalah tujuan perusahaan itu sendiri misalnya


31

memaksimalkan laba, mempertahankan kelangsungan hidup

perusahaan, meraih pangsa pasar yang besar, menciptakan

kepemimpinan dalam kualitas, mengatasi persaingan, dan

melaksanakan tanggung jawab sosial bagi masyarakat.

2) Strategi bauran pemasaran, karena harga merupakan salah satu

elemen dalam bauran pemasaran, maka dalam menentukan harga

sebaiknya dikoordinasikan lebih lanjut dengan elemen

pemasaran lainnya seperti : produk, tempat, promosi, biaya, dan

organisasi.

b. Faktor Lingkungan Eksternal

Faktor yang perlu diperhatikan dengan seksama oleh perusahaan

dalam penetapan harga dari setiap produk yang diproduksi yaitu

faktor lingkungan Eksternal, karena dalam faktor ini terdapat dua

faktor utama yaitu :

1) Sifat pasar dan permintaan. Pihak yang ditugaskan untuk

bertanggung jawab dalam penetapan harga hendaknya

memperhatikan dan memahami dengan baik sifat suatu pasar dan

permintaan pasar yang dihadapi atas produk yang dihasilkan.

apakah pasar tersebut termasuk dalam pasar persaingan

sempurna, pasar monopoli, oligopoli dan sebagainya.

2) Persaingan Aspek. persaingan merupakan salah satu faktor yang

perlu mendapat perhatian yang intensif dari pihak penting di

perusahaan mengenai keputusan dalam penetapan harga. Michael


32

Porter mengatakan ada lima kekuatan pokok yang berpengaruh

terhadap persaingan suatu industri, yaitu : Persaingan dalam

industri yang bersangkutan, Produk subtitusi, Pelanggan,

Pemasok, Ancaman pendatang baru.

Dilihat dari beberapa persaingan di atas sangat diperlukan

berbagai informasi sebagai dasar untuk menganalisis

karakteristik persaingan yang sedang dan akan dihadapi

perusahaan pada masa sekarang dan yang akan datang, meliputi:

Jumlah perusahaan dalam industri, Ukuran relatifsetiap anggota

dalam industry, Diferensiasi produk, Kemudahan untuk

memasuki industri yang bersangkutan

3) Unsur-unsur lingkungan lainnya. Selain kedua faktor tersebut,

maka perusahaan juga perlu memperhatikan dan

mempertimbangkan faktor lainnya seperti, kondisi ekonomi

suatu Negara karena terdapat berbagai fenomena dapat

mempengaruhi arus perekonomian secara endemik seperti

inflasi, serangan bom, resensi maupun tingkat bunga bang. Dan

juga peraturan dan kebijakan pemerintah terhadap sosial lainnya.

2.1.4.2. Metode Penetapan Harga Jual

Setelah mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, maka perusahaan baru

akan memecahkan masalah penetapan harga ini dengan menggunakan metode

penetapan harga. Menurut Herman (2016) ada beberapa metode penetapan harga
33

(methods of price determination) yang dapat dilakukan budgeter dalam perusahaan,

yaitu:

1. Metode Taksiran (Judgemental Method)

Perusahaan yang baru saja berdiri biasanya memakai metode ini.

Penetapan harga dilakukan dengan menggunakan instink saja walaupun

market survey telah dilakukan.Biasanya metode ini digunakan oleh para

pengusaha yang tidak terbiasa dengan data statistik. Penggunaan metode

ini sangat murah karena perusahaan tidak memerlukan konsultan untuk

surveyor.Akan tetapi tingkat kekuatan prediksi sangat rendah karena

ditetapkan oleh instink.

2. Metode Berbasis Pasar (Market-Based Pricing)

a. Harga pasar saat ini (current market price)

Metode ini dipakai apabila perusahaan mengeluarkan produk baru,

yaitu hasil modifikasi dari produk yang lama. Perusahaan akan

menetapkan produk baru tersebut seharga dengan produk yang

lama. Penggunaan metode ini murah dan cepat. Akan tetapi pangsa

pasar yang didapat pada tahun pertama relatif kecil karena

konsumen belum mengetahui profil produk baru perusahaan

tersebut, seperti kualitas, rasa, dan sebagainya.

b. Harga pesaing (competitor price)

Metode ini hampir sama dengan metode harga pasar saat ini.

Perbedaannya menetapkan harga produknya dengan mereplikasi

langsung harga produk perusahaan saingannya untuk produk yang


34

sama atau berkaitan. Dengan metode perusahaan berpotensi

mengalami kehilangan pangsa pasar karena dianggap sebagai

pemalsu.Ini dapat terjadi apabila produk perusahaan tidakmampu

menyaingi produk pesaing dalam hal kualitas, ketahanan, rasa, dan

sebagainya.

c. Harga pasar yang disesuaikan (adjusted current market price)

Penyesuaian dapat dilakukan berdasarkan pada faktor eksternal dan

internal. Faktor eksternal tersebut dapat berupa antisipasi terhadap

inflasi, nilai tukar mata uang, suku bunga perbankan, tingkat

keuntungan yang diharapkan (required rate of return), tingkat

pertumbuhan ekonomi nasional atau internasional, perubahan dalam

trend consumer spendling, siklus dalam trendi dan model,

perubahan cuaca, dan sebagainya. Faktor internalnya yaitu

kemungkinan kenaikan gaji dan upah, peningkatan efisiensi produk

atau operasi, peluncuran produk baru, penarikan produk lama dari

pasar, dan sebagainya.

3. Metode Berbasis Biaya (Cost-Based Pricing)

a. Biaya penuh plus tambahan tertentu (full cost plus mark-up) Dalam

metode ini budgeter harus mengetahui berapa proyeksi full cost

untuk produk tertentu. Full cost adalah seluruh biaya yang

dikeluarkan dan atau dibebankan sejak bahan baku mulai diproses

sampai produk jadi siap untuk dijual. Hasil penjumlahan antara full

cost dengan tingkat keuntungan yang diharapkan (required profit


35

margin) yang ditentukan oleh direktur pemasaran atau personalia

yang diberikan wewenang dalam penetapan harga, akan membentuk

proyeksi harga untuk produk itu pada tahun anggaran mendatang.

Required profit margin dapat juga ditetapkan dalam persentase.

Untuk menetapkan profit, budgeter harus mengalikan full cost

dengan persentase required profit margin. Penjumlahan antara

profit dengan full cost akan menghasilkan proyeksi harga.

b. Biaya variabel plus tambahan tertentu (variable cost plus mark-up)

Dengan metode ini budgeter menggunakan basis varible cost.

Proyeksi harga diperoleh dengan menambahkan mark-up laba yang

diinginkan. Mark-up yang diinginkan pada metode ini lebih tinggi

dari mark-up dengan basis full cost. Hal ini disebabkan biaya

variabel selalu lebih rendah dari pada full cost.

2.2. Penelitian Terdahulu

Penelitian sebelumnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu


No Nama/Tahun Judul Variabel X Variabel Y Model Hasil Penelitian
. Analisis
1 Rina Analisis Harga Pokok Harga Jual Analisis Hasil penelitian
Hasyim Penentuan Produksi deskriptif ini menunjukkan
(2018) Harga Pokok bahwa ada
Produksi Dan perbedaan, dalam
Harga Jual perhitungan
Dengan harga pokok
Menggunaka produksi tempe
36

n Metode Full dan tahu menurut


Costing Pada taksiran
Home perusahaan
Industry adalah Rp 9.223
Khoiriyah Di dan Rp
Taman Sari, 27.503,571,
Singaraja. sedangkan harga
pokok produksi
tempe dan tahu
menurut metode
full costing
adalah Rp
9.610,473 dan
Rp 28.618,228.
Harga jual tempe
dan tahu menurut
perusahaan Rp
10.000 dan Rp
40.000,
sedangkan
menurut cost
plus pricing
adalah Rp
11.724,733 untuk
tempe dan Rp
34.914,235 untuk
tahu.
2 Ikhwana dan Analisis Harga pokok Harga jual Analisis Berdasarkan
Saepul Harga Pokok produksi deskriptif hasil penelitian
(2017) Produksi yang dilakukan
Untuk di PD Al-Iman
Menentukan dapat ditarik
Harga Jual kesimpulan yaitu
Produk Peci analisis data dan
pembahasan
yang telah
dilakukan maka
dapat
disimpulkan
bahwa penentuan
harga jual
terhadap produk
peci dengan
menggunakan
37

metode full
costing sudah
tepat.
Berdasarkan
analisis data dan
pembahasan
yang telah
dilakukan
sebelumnya
bahwa meskipun
ada sedikit
perbedaan untuk
penentuan harga
jual tetapi
perbedaan ini
masih dalam
batas toleransi.
3 Litdia Analisis Harga pokok Harga Jual Analisis Hasil penelitian
(2016) Penetapan Produksi deskriptif ini memberikan
Harga Pokok hasil bahwa PT
Produksi Veneer Products
Sebagai Indonesia dalam
Dasar menetapkan
Penentuan harga pokok
Harga Jual produksi
Pada PT menggunakan
Veneer metode harga
Products pokok pesanan.
Indonesia Pengklasifikasian
biaya dalam
proses produksi
terdiri dari biaya
bahan baku,
biaya tenaga
kerja langsung
dan biaya
overhead pabrik.
Dalam penentuan
harga jual PT
Veneer Products
Indonesia
menggunakan
metode yang
sederhana yaitu
38

total harga pokok


atas produk yang
dibuat
ditambahkan
dengan
prosentase
marjin laba yang
diinginkan yaitu
40%. Masalah
yang dihadapi
dalam
perusahaan
diantaranya
faktor harga dan
tawaran pesaing,
biaya perizinan
yang mahal dan
kerusakan atas
produk
diperjalanan

2.3. Kerangka Konseptual

Kerangka berfikir digunakan sebagai acuan agar peneliti memiliki arah

penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian. Kerangka berpikir penelitian ini

adalah sebagai berikut :

PT. Wahana Indonusa

Biaya Produksi

Perhitungan Harga Pokok Produksi Perhitungan Harga Pokok Produksi


dengan Metode Full Costing dengan Metode Variabel Costing

Harga Kompetitor
39

Penetapan Harga Jual

Gambar 2.1. Kerangka Berpikir

2.4. Hipotesis Penelitian


Berdasarkan kerangka teoritis, dapat dikemukakan hipotesis penelitian
berikut:
H0 : penentuan harga jual terhadap produk PT. Wahana Indonusa dengan

menggunakan metode full costing dan variable costing sudah tepat.

H1 : penentuan harga jual terhadap produk PT. Wahana Indonusa dengan

menggunakan metode full costing dan variable costing belum tepat.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu penelitian motode studi

kasus. Metode studi sasus adalah metode penelitian yang dilakukan secara intensif

dan mendetail terhadap suatu kasus, yang bisa berupa peristiwa, lingkungan dan,

situasi tertentu yang memungkinkan untuk mengungkapkan atau memahami sesuatu

hal. Karena sifatnya yang mendalam dan mendetail itu, metode studi kasus biasanya

dilakukan dengan waktu yang relatif lama (Prastowo : 2014).

Melalui penelitian studi kasus penulis membahas secara mendalam yang

berhubungan dengan perhitungan harga pokok produk, harga kompetitor, dan harga

jual pada PT. Wahana Indonusa..

Pendekatan penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu metode deskriptif.

Prastowo (2014) menyatakan bahwa metode penelitian deskriptif merupakan metode

penelitian yang berusaha mengungkap fakta suatu kejadian, objek, atau aktivitas

secara apa adanya yang memang terjadi.

Melalui penelitian deskriptif penulis mengumpulkan data dengan wawancara

dengan tujuan untuk mendeskripsikan fakta suatu kejadian, penulis membahas secara

terperinci yang berhubungan dengan perhitungan harga pokok produk, harga

kompetitor dan harga jual pada PT. Wahana Indonusa.

39
40

3.2. Lokasi dan Jadwal Penelitian

3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada PT. Wahana Indonusa yang beralamat di Jl.

Uskup Agung No. 15 Medan.

3.2.2. Waktu Penelitian

Waktu yang digunakan dalam penyusunan penelitian ini yaitu dari

penyusunan laporan sampai menganalisis data sampai selesai, yakni Bulan Desember

2020 sampai dengan selesai. Adapun rincian jadwal penelitiannya sebagai berikut :

Tabel 3.1. Waktu Penelitian

2021
Agu No
No Jenis kegiatan Jul s Sept Okt p Des
1 Pencarian Jurnal Terkait Judul
2 Pengajuan Judul            
3 Penyusunan dan Bimbingan
Proposal
4 Seminar proposal            
5 Perbaikan/Acc Proposal
6 Penyusunan dan Bimbingan Skripsi
7 Sidang Meja Hijau            

3.3. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah:

1. Data kualitatif dalam penelitian ini adalah data observasi yang berupa

kalimat yang didasarkan pada karakteristik dan lingkungan perusahaan,

seperti sejarah perusahaan, proses produksi, dan peralatan yang


41

digunakan oleh PT. Wahana Indonusa beserta penjelasan yang berkaitan

dengan PT. Wahana Indonusa.

2. Data kuantitatif dalam penelitian ini adalah data yang dinyatakan dengan

angka-angka berdasarkan nilai relatif, seperti daftar biaya-biaya

bersangkutan dengan proses produksi yang berupa pemakaian bahan

baku, bahan penolong, biaya tenaga kerja serta biaya lain-lain.

Sumber data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah:

1. Data primer dalam penelitian ini adalah data yang didapat dari sumber

data yang diperoleh langsung melalui informasi langsung dari objek

penelitian yaitu hasil dari wawancara langsung dengan pemilik PT.

Wahana Indonusa mengenai sejarah perusahaan dan data perusahaan

yang berhubungan dengan penelitian ini.

2. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang tersedia dan dibuat

oleh pihak perusahaan dalam bentuk dokumen, data yang didapatkan

dari perusahaan yaitu dukumen seperti SIUP (Surat Izin Usaha

Perdagangan) dan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak).

3.4. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

3.4.1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apasaja yang

ditetapkan peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut,

kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014). Variabel dalam penelitian ini

meliputi harga pokok produksi, harga competitor, dan harga jual.


42

3.4.2. Definisi Operasional

Tabel 3.2. Operasionalilasi Variabel

Variabel Definisi Indikator


Harga Pokok Harga pokok produksi 1. Biaya Bahan
Produk adalah biaya barang Baku
yang dibeli untuk 2. Biaya Tenaga
diproses sampai selesai, Kerja
baik sebelum maupun 3. Biaya
selama periode Overhead
akuntansi berjalan Pabrik
Harga Kompetitor Nilai yang setara atau Harga mampu bersaing
lebih rendah daripada dengan produk pesaing
pesaing yang
dibayarkan pelanggan
untuk mendapatkan
barang
Penetapan Harga harga jual adalah Metode berbasis biaya
Jual sejumlah biaya yang
dikeluarkan perusahaan
untuk memproduksi
suatu barang atau jasa
ditambah dengan
persentase laba yang
diinginkan perusahaan

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Penulis melakukan pengamatan secara langsung ke PT. Wahana Indonusa

dengan maksud untuk memperoleh informasi dan data serta keterangan yang lengkap
43

tentang permasalahan. Dalam pengamatan tersebut metode pengumpulan data yang

digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah:

1. Studi Lapangan

Dalam penelitian ini studi lapangan yang digunakan oleh penulis

meliputi:

a. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu pengumpulan data yang berupa dokumen-

dokumen yang dimiliki oleh PT. Wahana Indonusa yang

berhubungan dengan masalah yang sedang dibahas oleh penulis,

untuk memperoleh data berupa sejarah perusahaan dan data biaya-

biaya produksi.

b. Wawancara

Wawancara yaitu pengumpulan data melalui interview atau

memberikan pertanyaan pada pemilik, pekerja produksi atau pihak-

pihak yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh PT.

Wahana Indonusa.

c. Observasi

Observasi yaitu pengamatan secara langsung ke tempat pembuatan

produk roti dan tempat penjualan produk.

2. Studi Pustaka

Studi pustaka dalam penelitian ini dengan mengumpulkan bahan

referensi dari berbagai literatur yang tersedia kemudian dilakukan

dengan cara mempelajari, mendalami dan mengutip teori, seperti jurnal


44

ilmiah, buku atau karya tulis lainnya yang berhubungan dengan

perhitungan harga pokok produk.

3.6. Teknik Analisa Data


Teknik analisis data yang digunakan untuk melakukan pembahasan dalam
studi kasus deskriptif ini adalah dengan memperoleh data dari PT. Wahana Indonusa
yang akan dianalisis sesuai dengan teori yang dipakai kemudian ditarik kesimpulan.
Teknik analisis data yang digunakan oleh penulis adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan data terkait komponen biaya-biaya produksi
Mengumpulkan data yang terkait dengan komponen biaya-biaya
produksi untuk menyusun laporan harga pokok produksi
2. Pengklasifikasian biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan
Biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan perlu di klasifikasi kembali
untuk memisahkan antara biaya produksi dan biaya non produksi serta
biaya tetap maupun variabel berdasarkan volume kegiatan produksi
perusahaan, masa manfaat, serta pertanggungjawaban.
3. Penerapan metode perhitungan Harga pokok Produksi
Harga Pokok Produksi Perhitungan harga pokok produksi dengan
menggunakan metode full costing dan variable costing. Dimana metode
full costing yaitu dengan memperhitungkan semua biaya baik tetap
maupun variabel. Sedangkan variable costing memperhitungkan biaya
variable saja.
4. Penetapan Harga Jual
Penetapan harga jual berdasarkan metode cost plus pricing
5. Analisis komparatif
Menganalisis hasil perhitungan harga jual perusahaan, dengan penulis
serta harga competitor.
45

6. Kesimpulan dan saran


Merupakan hasil dari penelitian yang berisi masukkan dan saran yang
diberikan kepada perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA

Angipora, M. (2014). Dasar – Dasar Pemasaran. Edisi Revisi. Jakarta : Raja


Grafindo Persada.

Darmawi, Herman. (2016). Manajemen Resiko. Edisi Kedua. Jakarta : Bumi Aksara.

Dewi, S.P., dan Kristianto, S.B. (2014). Akuntansi Biaya. Edisi 2. Bogor : In Media.

Firmansyah, Iman. (2014). Akuntansi Biaya Itu Gampang. Jakarta : Dunia Cerdas.

Gitosudarmo, I. (2014). Manajemen Pemasaran Edisi Kedua. Yogyakarta: BPFE.

Halim, A. Et al., (2013). Akuntansi Manajemen: Akuntansi Manajerial. Edisi Kedua.


Yogyakarta:BPEF.

Hasyim, Rina. ( 2018). Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi Dan Harga Jual
Dengan Menggunakan Metode Full Costing Pada Home Industry Khoiriyah
Di Taman Sari, Singaraja. Jurnal Pendidikan Ekonomi Undiksha. Vol 10
No.1

Ikhwana, A dan Saepul. (2017). Analisis Harga Pokok Produksi Untuk Menentukan
Harga Jual Produk Peci. Jurnal Kalibrasi Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Litdia. (2016). Analisis Penetapan Harga Pokok Produksi Sebagai Dasar Penentuan
Harga Jual Pada PT Veneer Products Indonesia. Journal of Applied Business
and Economic. Vol.3 No. 2

Mulyadi. (2014). Akuntansi Biaya. Edisi kelima. Yogyakarta: Unit Penerbit dan
percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YPKN.

Prastowo, A. (2014). Menguasai Teknik-Teknik Koleksi Data Penelitian Kualitatif.


Yogyakarta : Diva Press.

Rudianto. (2013). Akuntansi Manajemen : Informasi Untuk Mengambil Keputusan


Strategis. Jakarta: Erlangga.

Samrym, L.M. (2012). Akuntansi Manajemen Informasi Biaya Untuk Mengendalikan


Aktivitas Operasi dan Investasi. Jakarta: Kencana.

Sugiyono. (2014). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta

39
40

Sujarweni, V, Wiratna. (2014). Akuntansi Biaya. Yogyakarta : PB.

Supriyono.(2013). Akuntansi Biaya dan Penentuan Harga Pokok. Edisi Kedua.


Yogyakarta: BPEF.

Stanton, William J. (2018). Prinsip-Prinsip Pemasaran. Jilid Kedelapan. Jakarta :


Erlangga

Ningtyas, W. Et al. (2012). Akuntansi Biaya. Edisi Kesatu. Yogyakarta : Graha Imu.

Witjaksono, Armanto. (2013). Akuntansi Biaya. Graha Ilmu. Yogyakarta.