Anda di halaman 1dari 4

SA 250 – Pertimbangan Atas Peraturan Perundang-Undangan dalam Audit Atas

Laporan Keuangan
Ruang Lingkup
SA 250 mengatur tentang tanggung jawab auditor untuk mempertimbangkan peraturan UU
dlm audit atas laporan keuangan.
Jika perikatan asurans yang melakukan pengujian dan pelaporan secara terpisah atas dasar
peraturan perundang-undangan maka SA ini tidak berlaku.
Dampak Peraturan Perundang-Undangan
Dampak: berpengaruh langsung atas jumlah dan pengungkapan yang dilaporkan dalam
laporan keuangan. Misalnya peraturan perundang-undangan pajak dan dana pensiun
Terdapat entitas yang diatur oleh peraturan perundang-undangan bersifat mengikat dan ketat
(bank dan perusahaan kimia) dan entitas yang hanya diatur oleh peraturan perundang-
undangan yang terkait dengan aspek umum operasi bisnis (aspek keselamatan dan kesehatan,
kesempatan untuk bekerja).
Tanggung Jawab untuk Mematuhi Peraturan Perundang-Undangan
Operasi entitas termasuk dalam menentukan jumlah dan pengungkapan yang dilaporkan
dalam laporan keuangan harus sesuai peraturan perundang-undangan yang merupakan
tanggung jawab manajemen dan diawasi oleh pihak yang terkait atas tata Kelola.
Tanggung Jawab Auditor
Auditor bertanggungjawab untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan
keuangan bebas dari kesalahan penyajian material, baik karena kecurangan maupun
kesalahan. Jadi, SA ini membantu auditor dalam mengidentifikasi kesalahan penyajian
material akibat ketidakpatuhan terhadap perundang-undangan.
Auditor memiliki keterbatasan bawaan dalam mendeteksi kesalahan penyajian namun
kompetensi auditor untuk mendeteksi kesalahan penyajian lebih besar dan perlu
mempertahankan skeptisisme.
Tanggung jawab dan tujuan auditor berdasarkan 2 kategori peraturan perundang-undangan:
(paragraf 6a dan 6b)
1. Memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat (Peraturan UU yang berdampak langsung)
2. Pelaksanaan prosedur audit tertentu untuk membantu mengungkapkan ketidakpatuhan
yang dapat berdampak material terhadap laporan keuangan. (Peraturan UU tidak
berdampak langsung tetapi kepatuhan menjadi aspek penting).
3. Untuk merespon terkait adanya atau dugaan ketidakpatuhan.
Definisi
Ketidakpatuhan: Tindakan penghilangan atau tindakan kejahatan oleh entitas, disengaja atau
tidak disengaja yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketidakpatuhan bukan kesalahan pribadi oleh pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola,
manajemen, atau karyawan entitas.
Ketentuan Pertimbangan Auditor atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-
Undangan
(Prosedur Audit terkait kepatuhan entitas) yaitu:
Auditor harus memperoleh pemahaman umum tentang:
1. Kerangka peraturan perundang-undangan entitas dan industry atau sector dalam entitas.
2. Bagaimana entitas mematuhi kerangka tersebut. (Ref: Para A7)
Auditor harus mendapatkan bukti yang cukup dan tepat terkait kepatuhan tersebut khususnya
bagi yang berdampak langsung. (Ref: Para A8)
Prosedur audit untuk membantu dalam menemukan ketidakpatuhan:
1. Meminta keterangan kepada manajemen (representasi tertulis), jika relevan pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola tentang tingkat kepatuhan
2. Menginspeksi korespondensi dengan pihak berwenang yang menerbitkan izin atau
peraturan.
Meminta kepada manajemen untuk memberikan representasi tertulis bahwa mereka telah
mengungkapkan ketidakpatuhan. (Ref: Para A12)
Jika tidak ada identifikasi atau dugaan ketidakpatuhan maka auditor tidak harus
melaksanakan prosedur audit terkait kepatuhan entitas.
Prosedur Audit: Pada Saat Ketidakpatuhan Teridentifikasi atau Diduga Terjadi.
Auditor harus memperoleh: (Ref: Para A13)
1. Pemahaman dan kondisi atas ketidakpatuhan
2. Informasi lebih lanjut untuk mengevaluasi dampak ketidakpatuhan terhadap laporan
keuangan. (Ref: Para A14)
Auditor harus membahas hal ketidakpatuhan dengan manajemen, jika relevan pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola. Namun jika auditor tidak mendapatkan informasi padahal
dampak dugaan material maka auditor harus mempertimbangkan untuk memperoleh advis
hukum. (Ref: Para A15-A16)
Jika informasi tidak cukup, maka auditor harus mengevaluasi dampak bukti audit yang tidak
memadai terhadap opini auditor.
Pelaporan atas Ketidakpatuhan yang Diidentifikasi atau Diduga Terjadi
1. Pelaporan Ketidakpatuhan kepada Pihak yang Bertanggung Jawab Atas Tata Kelola
Pelaporan ke pihak yg bertanggung jawab atas tata kelola: jika ketidakpatuhan
dilakukan secara sengaja dan bersifat material.
Pelaporan ke tingkat otoritas tertinggi entitas atau advis hukum: jika pihak
manajemen dan penanggungjawab tata kelola terlibat dalam ketidakpatuhan.
2. Pelaporan Ketidakpatuhan dalam Laporan Auditor atas Laporan Keuangan
Opini WDP atau TW: jika ketidakpatuhan berdampak material dalam laporan
keuangan namun belum tercermin memadai.
Opini WDP atau Tidak memberikan pendapat: jika auditor dihalangi oleh manajemen
dan pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola dalam mengevaluasi dalam material
ketidakpatuhan terhadap laporan keuangan
Jika tidak dapat menentukan adanya kepatuhan karena keterbatasn keadaan dan tidak
dibatasi ruang lingkup maka harus evaluasi keterbatasan tersebut terhadap opini.
3. Pelaporan Ketidakpatuhan kepada Otoritas Badan Pengatur dan Penegak Hukum
Tanggung jawab menjaga kerahasiaan klien bisa dikesampingkan agar pelaporan
ketidakpatuhan tidak dicegah. Pasal 29 UU AP
Beberapa yurisdiksi, auditor (Lembaga keuangan) wajib melaporkan terjadinya atau
dugaan terjadinya ketidakpatuhan terhadap otoritas pengawas.
Dokumentasi
Dokumentasi atas temuan auditor terkait ketidakpatuhan mencakup: Fotokopi catatan atau
dokumen dan Risalah pembahasan yang dilakukan.

UU Akuntan Publik
Perizinan oleh Menteri
Independensi dan benturan kepentingan - Pasal 28
Larangan AP – Pasal 30
Larangan KAP – Pasal 31
BAB I – Ketentuan Umum -> definisi
BAB II – Bidang Jasa
BAB III – Perizinan AP
BAB IV – KAP
BAB V – Hak, Kewajiban, dan Larangan
BAB VI – Penggunaan Nama KAP
BAB VII – Kerja Sama KAP -> jaringan KAP = OAI (Organisasi Audit Indonesia); OAA :
Organisasi Audit Asing; KAPA : Kantor Akuntan Publik Asing
BAB VIII – Biaya Perizinan
BAB IX – Asosiasi Profesi AP
BAB X – Komite Profesi AP
BAB XI – Pembinaan dan Pengawasan
BAB XII – Sanksi Administratif
BAB XIII – Ketentuan Pidana
BAB XIV – Kedaluwarsa Tuntutan atau Gugatan
BAB XV – Ketentuan Peralihan
BAB XVI – Ketentuan Penutup