Anda di halaman 1dari 12

Administrasi pemerintahan daerah

1. Bagaimanakah penyusunan APBD dilakukan?


Untuk menyusun APBD, pemerintah daerah harus menyusun rencana kerja pemerintah
daerah (RKPD) dengan menggunakan bahan dari rencana kerja ODP utnuk jangka waktu satu
tahun pada rencana kerja pemerintah pusat. RKPD memuat rancangan kerangka ekonomi
daerah, prioritas pembangunan dan kewajiban daerah, serta rencana kerja yang terukur dan
pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah,
maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Penyusunan RKPD diselesaikan
paling lambat akhir bulan Mei sebelum tahun anggaran yang direncanakan. RKPD ditetapkan
dengan peraturan kepala dacrah. Berdasarkan RKPD dan pedoman penyusunan APBD yang
ditetapkan menteri dalam negeri setiap tahun, kepala daerah menyusun rancangan kebijakan
umum APBD (KUA) serta rancangan prioritas dan plafon anggaran sementara (PPAS). Dalam
menyusun rancangan KUA dan rancangan PPAS, kepala daerah dibantu oleh tim anggaran
pemerintah daerah (TAPD) yang dipimpin oleh sekretaris daerah. Rancangan KUA dan rancangan
PPAS yang telah disusun kemudian disampaikan oleh sekretaris daerah selaku ketua TAPD
kepada kepala daerah, paling lambat pada minggu pertama bulan Juni. Rancangan KUA memuat
kondisi ekonomi makro daerah, asumsi penyusunan APBD, kebijakan pendapatan daerah,
kebijakan belanja daerah, kebijakan pembiayaan daerah, dan strategi pencapaiannya.
Selanjutnya, rancangan KUA dan rancangan PPAS disampaikan kepala daerah kepada
DPRD paling lambat pertengahan bulan Juni tahun anggaran berjalan untuk dibahas dalam
pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaran berikutnya. Pembahasan dilakukan olch
TAPD bersama panitia anggaran DPRD. Rancangan KUA dan rancangan PPAS yang telah dibahas
selanjutnya disepakati menjadi KUA dan PPAS paling lambat akhir bulan Juli tahun anggaran
berjalan, KUA dan PPAS yang telah disepakati masing- masing dituangkan ke dalam nota
kesepakatan yang ditandatangani bersama oleh kepala daerah dan pimpinan DPRD dalam waktu
bersamaan. Berdasarkan nota kesepakatan, TAPD menyiapkan rancangan surat edaran kepala
daerah tentang pedoman penyusunan rencana kerja anggaran OPD (RKA-OPD) sebagai acuan
kepala OPD dalam menyusun RKA-OPD.
Surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-OPD diterbitkan paling
lambat awal bulan Agustus tahun anggaran berjalan. Berdasarkan pedoman penyusunan RKA-
OPD, kepala OPD menyusun RKA-OPD dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran
jangka menengah daerah, penganggaran terpadu, dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja.
Pendckatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dilaksanakan dengan menyusun
prakiraan maju. Prakiraan maju berisi perkiraan kebutuhan anggaran untuk program dan
kegiatan yang direncanakan dalam tahun anggaran berikutnya dari tahun anggaran yang
direncanakan. Pendekatan penganggaran terpadu dilakukan dengan memadukan seluruh proses
perencanauan dan penganggaran pendapatan, belanja, serta pembiayaan di lingkungan OPD
untuk menghasilkan dokumen rencana kerja dan anggaran. Untuk terlaksananya penyusunan
RKA-OPD dan terciptanya kesinambungan RKA-OPD, kepala OPD mengevaluasi hasil
pelaksanaan program dan kegiatan dua tahun anggaran sebelumnya sampai dengan semester
pertama tahun anggaran berjalan. RKA-OPD memuat rencana pendapatan, rencana belanja
untuk masing – masing program dan kegiatan, serta rencana pembiayaan untuk tahun yang
direncanakan. Rencana pembiayaan terscbut diperinci sampai dengan perincian objek
pendapatan, belanja, dan pembiayuan serta prakiraan maju untuk tahun berikutnya. RKA-OPD
juga memuat informasi tentang urusan pemerintahan daerah, organisasi, standar biaya, serta
prestasi kerja yang akan dicapai dari program dan kegiatan. Informasi tentang urusan
pemerintahan daerah memuat bidang urusan pemerintahan daerah yang dikelola sesuai dengan
tugas pokok dan fungsi organisasi. Informasi tentang organisasi memuat nama organisasi atau
nama OPD selaku pengguna anggaran/pengguna barang. Rencana pendapatan memuat
kelompok, jenis, objck, dan perincian objek pendapatan daerah yang dipungut dikelola/diterima
oleh OPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Sementara itu, rencana belanja memuat
kelompok belanja tidak langsung dan belanja langsung yang masing – masing diuraikan menurut
jenis, objek, dan perincian objek belanja. Belanja langsung terdiri atas belanja pegawai, belanja
barang dan jasa, serta belanja modal dianggarkan dalam RKA-OPD pada masing-masing OPD.
Perlu diketahui bahwa pada SKPKD, selain disusun RKA-OPD, juga RKA-PPKD. RKA-OPD memuat
program kegiatan yang dilaksanakan oleh PPKD selaku OPD, sedangkan RKA-PPKD digunakan
untuk menampung pendapatan yang berasal dari dana perimbangan dan pendapatan hibah,
belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil, belanja
bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga serta penerimaan pembiayaan dan pengeluaran
pembiayaan daerah. Sementara itu, rencana pembiayaan memuat kelompok penerimaan
pembiayaan yang dapat digunakan untuk menutup defisit APBD dan pengeluaran pembiayaan
yang digunakan untuk memanfaatkan surplus APBD yang masing-masing diuraikan menurut
jenis, objck, dan perincian objek pembiayaan. 
2. Bagaimanakah proses penatausahaan keuangan daerah di Indonesia serta jelaskan
permasalahan yang sering terjadi.
Sistem Penatausahaan Keuangan Daerah merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari
proses Pengelolaan Keuangan Daerah, baik menurut Peraturan Pemerintah No.58 Tahun
2005 maupun berdasarkan Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah. Uraian tentang penatausahaan keuangan daerah mencakup hal-hal
sebagai berikut:
(1) Asas Umum penatausahaan keuangan Daerah
Menurut Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah, Asas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah adalah sebagai berikut:
1. Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien,
ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan,
kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.
2. Pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi yang
diwujudkan dalam APBD yang setiap tahun ditetapkan dengan peraturan daerah.

(2) pelaksanaan penatausahaan keuangan daerah;


Pelaksanaan APBD terdiri dari pelaksanaan anggaran pendapatan, belanja dan pembiayaan.
Kemudian setelah satu semester, Pemerintah daerah menyusun laporan realisasi semester
pertama APBD dan prognosis untuk 6 bulan berikutnya. Laporan tersebut disampaikan kepada
DPRD selambat-lambatnya pada akhir bulan Juli tahun anggaran yang bersangkutan, untuk
dibahas bersama antara DPRD dan pemerintah daerah.
Penyesuaian APBD dengan perkembangan dan/atau perubahan keadaan, dibahas bersama
DPRD dengan pemerintah daerah dalam rangka penyusunan prakiraan perubahan atas APBD
tahun anggaran yang bersangkutan.
(3) penatausahaan penerimaan,
Penatauasahaan Penerimaan merupakan serangkaian proses kegiatan menerima,
menyimpan, menyetor, membayar, menyerahkan dan mempertanggungjawabkan
penerimaan uang yang ada pada pengelola SKPD dan/atau SKPKD.Penatausahan
penerimaan daerah tingkat SKPD dilaksanakan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna
Anggaran, Pejabat Penatausahaan Keuangan Satuan Penerimaan, serta bendahara
penerimaan pembantu jika diperlukan.Menurut ketentuan dari Permendagri Nomor 13
Tahun 2006 yang dimaksud dengan penerimaan daerah adalah uang yang masuk ke kas
daerah. Semua penerimaan daerah disetor ke rekening kas umum daerah pada bank
pemerintah yang ditunjuk dan dianggap sah setelah Kuasa Bendahara Umum Daerah
menerima nota kredit.
(4) penatausahaan pengeluaran.
Penatausahaan pengeluaran daerah pada tingkat SKPD dilaksanakan oleh Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran, Pejabat Penatausahaan Keuangan Satuan Kerja
Perangkat Daerah (PPK-SKPD), Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), dan Bendahara
Pengeluaran, serta Bendahara Pengeluaran Pembantu jika diperlukan. Penatausahaan
pengeluaran daerah pada tingkat SKPD dilakukan oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah
selaku BUD dan Kuasa BUD.
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa untuk kepentingan pelaksanaan APBD
dan/atau penatausahaan keuangan daerah, kepala daerah perlu menetapkan pejabat
fungsional untuk tugas bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran. Untuk itu
bendahara penerimaan wajib menyelenggarakan penatausahaan terhadap seluruh
penerimaan dan penyetoran atas penerimaan yang menjadi
tanggungjawabnya dan harus melaporkannya kepada pengguna anggaran atas kuasa
pengguna anggaran melalui PPKD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.Penatausahaan
atas penerimaan dilaksanakan dengan menggunakan buku kas, buku pembantu per
rincian objek penerimaan dan buku rekapitulasi penerimaan harian.
Permasalahan yang sering terjadi:
1. Masih terdapat kesalahan-kesalahan pencatatan pada buku kas umum.
2. Terlambatnya pengiriman SPJ yang menyebabkan kelancaran penyediaan dana pada unit
kerja sering terhambat, penatausahaan pada bagian keuangan tidak dapat tepat waktu.
3. Pengendalian keuangan tidak dapat dilaksanakan dengan baik, karena data keuangan belum
dapat siap setiap saat dibutuhkan , dalam arti angka-angka yang tertera di dalam buku belum
tentu benar.

3. Jelaskan pembinaan pengelolaan keuangan daerah bersifat umum dan teknis yang dilakukan di
daerah kabupaten/kota serta bentuk-bentuk pengawasan keuangan daerah?
Proses Pembinaan keuangan dalam hal ini Gubernur sebagai pemerintah pusat melakukan
pembinaan
terhadap penyelenggaraan pemerintah daerah kabupaten / kota, pembinaan bersifat umum dan
tekhnis yang
dilakukan dalam bentuk fasilitasi, konsultasi, pendidikan, dan pelatihan serta penelitian dan
pengembangan
kebijakan yang terkait dengan otonomi daerah, sementara itu pelaksanaan Perda tentang APBD
diawasi
DPRD ada 2 bentuk pengawasan keuangan daerah yaitu:
- Pengendalian internal dimana kepala pembinaan dan menyelenggarakan sistem pengendalian
dilingkungan yang dipimpinnya untuk meningkatkan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas.
- Pengendalian eksternal dimana badan pemeriksa keuangan menjalankan proses pengawasan
yang termasuk
pemeriksaan pengelolaan pertanggung jawaban keuangan daerah sesuai peraturan peraturan-
undangan.
4. Bagaimanakah permasalahan yang sering terjadi dalam mekanisme  pengawasan?
a. Keterbatasan SDM aparat pengawas
b. Keterbatasan anggaran pengawasan.
c. Keterbatasan sarana dan prasarana pengawasan

Sumber :

https://hariansib.com/Opini/Kendala-Dalam-Pelaksanaan-Pengawasan-Terhadap-Penyelenggaraan-
Pemerintahan-Daerah

https://imanph.wordpress.com/2009/02/19/peranan-penatausahaan-keuangan-daerah-dalam-
meningkatkan-efektivitas-pelaksanaan-apbd/

https://imanph.wordpress.com/2009/02/19/peranan-penatausahaan-keuangan-daerah-dalam-
meningkatkan-efektivitas-pelaksanaan-apbd/

https://core.ac.uk/reader/33515020

http://www.wikiapbn.org/keuangan-daerah/#:~:text=Asas%20Umum%20Pengelolaan%20Keuangan
%20Daerah,-Menurut%20Pasal%204&text=Keuangan%20daerah%20dikelola%20secara
%20tertib,kepatutan%2C%20dan%20manfaat%20untuk%20masyarakat.

Administasi pertahanan
Bagaimana implementasi implementasi hak atas tanah di Indonesia?
Sedikitnya ada tiga pasal yang mengatur hak-hak atas tanah dalam UUPA, yaitu Pasal 4, Pasal 16,
dan Pasal 53. Hak-hak atas tanah yang diatur dalam UUPA meliputi berikut ini.
a. Hak-hak atas tanah yang bersifat tetap, yaitu
1) Hak milik,
2) Hak guna usaha.
3) Hak guna bangunan,
4) Hak guna pakai,
5) Hak sewa,
6) Hak membuka tanah,
7) Hak memungut hasil hutan,
8) Hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak tersebut yang akan ditetapkan dengan
undang-undang.
b. Hak-hak atas tanah yang bersifat sementara yang meliputi
l. Hak gadai,
2. Hak usaha bagi hasil,
3. Hak menumpang dan sewa tanah pertanian.
c. Hak-hak lain yang berhubungan dengan tanah, misalnya hakmembuka tanah dan memungut
hasil hutan, hak guna air, hak pemeliharaan dan penangkapan ikan, hak guna ruang angkasa,
serta hak-hak tanah untuk keperluan tempat suci dan sosial.
Boedi Harsono membedakan hak-hak atas tanah yang bersifat primer dan hak-hak atas tanah
yang bersifat sekunder. Yang dimaksud dengan hak-hak atas tanah yang bersifat primer adalah
hak-hak atas tanah yang berasal (atau diperoleh) dari negara, yaitu hak milik, hak guna usaha,
hak guna bangunan yang diberikan oleh negara, dan hak pakai yang diberikan oleh negara (Pasal
16 UUPA). Sementara itu, hak-hak atas tanah yang bersifat sekunder adalah hak-hak atas tanah
yang berasal atau diperoleh dari pemilik tanah, yaitu hak guna bangunan dan hak pakai yang
diberikan oleh pemilik tanah, hak gadai, hak usaha bagi hasil, hak menumpang, hak sewa, dan
lain-lain (Pasal 37, 41, dan 53).
Dalam perkembangan kemudian, dikeluarkan PP Nomor 40 Tahun 1996 yang mengatur objek,
subjek, jangka waktu, pendaftaran, dan pembebanan utang untuk hak guna usaha, hak guna
bangunan, dan hak pakai.
Modul 3

Hubungan pusat dan daerah


Diskusikan Model Terbaik dalam Hubungan Pusat dan Daerah untuk Indonesia!
Menurut saya model yang cukup ideal adalah model kemitraan. Karena model ini  Pemerintah
Daerah memiliki suatu tingkat kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan tindakan tertentu.
Beberapa cirinya antara lain pemerintah daerah memiliki kekuasaan politik, keuangan, sumber
daya dan juga memiliki kewenangan secara formal serta adanya keseimbangan kekuasaan
antara pusat-daerah. Dalam model kemitraan, Pemerintah Daerah tidak lagi dipandang hanya
sebagai pelaksana semata, tetapi oleh pemerintah Pusat telah dianggap sebagai mitra kerja.
Walaupun demikian, hubungan kemitraan tersebut tidak dengan serta merta memberi posisi
duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Dalam jalinan hubungan kemitraan itu, Pemerintah
Dacrah tetap berada dalam posisi subordinatif terhadap Pemerintah Pusat. Pemerintah Daerah
diakui memiliki legitimasi politik tersendiri, berwenang menguasai sumber daya yang terpisah
dan mempunyai kewenangan tertentu di bidang perundang-undangan. Dalam interaksi antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, terjadi hubungan yang saling pengaruh
-mempengaruhi secara timbal-balik (reciprocal), dan pengaruh itu tidak bersifat sepihak.
Pendukung model kemitraan dalam hubungan Pusat-Daerah berpendapat bahwa kebutuhan
dan kepentingan yang bersifat lokal demikian beragamnya sehingga model-pelaksana tidak
tepat digunakan. Lebih-lebih lagi, jika daerah otonom (yang
diwakili oleh Pemerintah Daerah) diakui berkedudukan sebagai suatu badan
hukum (rechtspersoon/legal persona).

Silakan memberikan tanggapan, pendapat dan Analisis sendiri dari hasil belajar materi, dan
tidak diizinkan untuk menjiplak jawaban dari teman yang lain atau pun pendapat ahli / pakar tanpa
menyebut nama (pakar / ahli yang saudara pinjam / kutip pendapatnya), literatur (jurnal / buku yang
memuat pendapat pakar / ahli tersebut).
Kepemimpin
Dalam forum diskusi ini para mahasiswa akan membahas untuk dapat memahami dan
mendiskusikan dinamika perkembangan teori- teori kepemimpian baik yang klasik maupun yang
kontemporer.

Sebagaimana dijelaskan dalam modul 2 coba jelaskan dan bandingkan perilaku Pak Bonar dan
Pak Biner, gunakan teori-teori perilaku sebagaimana dijelaskan dalam KB 2 Modul 2.
(Untuk dapat mendiskusikan masalah ini, Anda harus mencermati teori-teori perilaku seperti
fokus dan hasil studi Universitas Ohio Stae, fokus dan hasil studi disamping itu, perhatikan pula
bagaimana orientasi pemimpin terhadap bawahan dalam model leadership continuum dan
Likerts management sistem.

Bagaimana cara pencapaian keberhasilan seorang pemimpin yang efektif menurut teori atribusi
kepemimpinan?
(Keberhasilan kepemimpinan tergantung pada kemampuan seseorang untuk mempengaruhi
pihak lain agar melaksanakan sesuatu dengan cara atau gaya kepemimpinan yang bernilai. Latar
belakang kecerdasan, emosi, spiritual, dan intelegensi dalam mengelola karakteristik
orang=orang yang dipimpinnya.)

Petunjuk umum dalam melakukan diskusi : Silahkan anda kemukakan pendapat anda dengan
berdasar pada teori, bersumber dari BMP, dan juga berdasarkan pengalaman praktis tentang
kepemimpinan disekitar Anda. Jangan lupa cantumkan sumber referensi

Metode penelitian sosial


Dalam forum diskusi ini para mahasiswa akan membahas untuk dapat memahami dan
mendiskusikan dinamika perkembangan teori- teori kepemimpian baik yang klasik maupun yang
kontemporer.

Sebagaimana dijelaskan dalam modul 2 coba jelaskan dan bandingkan perilaku Pak Bonar dan
Pak Biner, gunakan teori-teori perilaku sebagaimana dijelaskan dalam KB 2 Modul 2.
(Untuk dapat mendiskusikan masalah ini, Anda harus mencermati teori-teori perilaku seperti
fokus dan hasil studi Universitas Ohio Stae, fokus dan hasil studi disamping itu, perhatikan pula
bagaimana orientasi pemimpin terhadap bawahan dalam model leadership continuum dan
Likerts management sistem.

Perilaku yang pak bonar yang diceritakan dalam latihan modul 2 mengarah pada penelitian
Universitas Ohio State, yaitu  Consideration menunjuk pada perilaku pemimpin yang
menyangkut sifat, bentuk, dan intensitas perhatiannya kepada para bawahannya. ciri-ciri
perilaku pemimpin dalam hubungannya dengan bawahan sebagai berikut.
a. Ramah tamah.
b. Mendukung dan memperlihatkan perhatian terhadap bawahan.
c. Memperhatikan kesejahteraan bawahan.
d. Melakukan kebaikan kepada bawahan.
e. Mempunyai waktu untuk mendengarkan masalah bawahan.
f. Berjuang untuk bawahan.
g.Berkonsultasi dengan bawahan mengenai hal yang penting sebelum melaksanakan tugas.

Sedangkan, pak binar mengarah pada penelitian Universitas Ohio State, yaitu initiating structure
menunjuk pada sejauh mana seorang pemimpin mendefinisikan dan menyusun struktur
peranannya dan peranan bawahannya dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Dalam kaitan ini, keberadaan seorang pemimpin dipandang sebagai faktor penentu
dalam kehidupan organisasi. Bersedia menerima saran dari bawahan. Memperlakukan bawahan
sebagai sesamanya.
Dari ciri – ciri yang disebutkan bisa dikategorikan consideration. Perilaku pemimpin mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut.
 Memberi kritik terhadap pekerjaan yang jelek.
 Menekankan pentingnya memenuhi batas waktu pelaksanaan tugas-tugas kepada
bawahan. 
 Mempertahankan standar kinerja tertentu.
 Meminta bawahan untuk mengikuti prosedur-prosedur standar.
 Mengkoordinasi kegiatan-kegiatan bawahan dan memastikan bahwa bawahan bekerja
sepenuh kemampuan.
 Memberi petunjuk kepada bawahan bagaimana melakukan tugas.
 Memberi tahu apa-apa yang harus dikerjakan bawahan.

Di samping itu, penelian yang dilakukan oleh Universitas Ohio State ini juga menyelidiki sampai sejauh
mana efektivitas kepemimpinan seseorang dipengaruhi oleh perilakunya. Hasil-hasil penelitian tersebut
adalah sebagai berikut.
a. Seorang pemimpin yang mempunyai perilaku initiating structure dan consideration tinggi cenderung
menjadi pemimpin yang efektif, dalam arti mampu menggerakkan bawahan sedemikian rupa sehingga
mencapai tingkat prestasi kerja yang tinggi.
b. Initiating structure dan consideration yang tinggi tidak selalu berakibat positif pada perilaku bawahan.
Perilaku pemimpin seperti itu sering dlihadapkan pada situasi di mana tingkat keluhan bawahan tinggi,
tingkat ketidakhadiran tinggi, tingkat kepuasan kerja rendah, dan ada kecenderungan bawahan
meninggalkan bahkan pindah ke organisasi lain.
c. Penggabungan yang tepat antara initiating structure dan consideration pada umumnya berdampak
positif terhadap perilaku bawahan sehingga dapat meningkatkan efektivitas seseorang. Namun, tidak
sedikit yang menggambarkan situasi sebaliknya.
d. Seorang penimpin yang mempunyai consideration yang tinggi sering mendapat penilaian negatif dari
pemimpin yang lebih tinggi dalam hierarki organisasi. Hal ini disebabkan pemimpin yang lebih tinggi
menganggap bahwa perilaku demikian sebagai ancaman pada kedudukannya.
Lalu pada studi penelitian kepemimpinan michigan bahwa perilaku pak bonar merupakan
perlaku yang berorientasi kepada bawahan ditandai dengan:

1. Memberikan motivasi daripada pengawasan terhadap bawahan.


2. Melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan.
3. Bersikap penuh kekeluargaan, percaya, dan hubungan kerja sama yang
saling menghormati.

Tanda – tanda tersebut sama dengan perilaku pak bonar yang diceritakan pada soal tersebut.

Sementara perilaku pak binar mengacu pada perilaku yang berorientasi kepada produksi atau tugas yang
ditandai dengan:

1. Memberikan petunjuk-petunjuk kepada bawahan.


2. Mengadakan pengawasan yang ketat terhadap bawahan.
3. Meyakinkan bawahan bahwa tugas harus selalu dilaksanakan sesuai
dengan keinginan pemimpin.
4. Menekankan kepada pelaksanaan tugas.

Hasil penelitian Universitas Michigan sebagaimana diringkas oleh Likert menemukan jenis-jenis perilaku
kepemimpinan yang berbeda di antara pemimpin yang efektif dan tidak efektif. Jenis-jenis perilaku
tersebut seperti berikut.
1. Perilaku yang berorientasi pada tugas (task oriented behavior):
Pemimpin yang efektif tidak menggunakan waktu dan usahanya dengan melakukan pekerjaan yang
sama seperti bawahannya. Pemimpin yang efektif berkonsentrasi pada fungsi-fungsi yang berorientasi
pada tugas, seperti merencanakan dan mengatur pekerjaan, mengkoordinasi kegiatan bawahan,
menyediakan keperluan peralatan dan bantuan teknis yang dibutuhkan, memandu bawahan dalam
menetapkan tujuan kinerja yang tinggi, namun realistis. Perilaku yang berorientasi tugas pada studi
Michigan mirip dengan initiating struktur, seperti yang ditemukan oleh para peneliti dari Ohio State.
2.Perilaku yang berorientasi pada hubungan:
Pemimpin yang efekif lebih penuh perhatian, mendukung, dan membantu bawahan. Jenis
kepemimpinan yang berorientasi pada hubungan menunjukkan kepercayaan dan rasa percaya,
bertindak ramah tamah dan penuh perhatian, mencoba untuk mengerti masalah bawahan, membantu
mengembangkan para bawahan dan meningkarkan karier mereka, selalu memberikan informasi kepada
bawahan. Di samping itu, pemimpin yang efektif cenderung menggunakan pengontrolan secara umum
daripada pengontrolan yang ketat. Artinya, pemimpin menetapkan tujuan dan pedoman umum bagi
para bawahan, namun memberi kepada mereka beberapa otonomi dalam menentukan bagaimana
melakukan suatu pekerjaan dan bagaimana menentukan kecepatan kerja mereka. Perilaku-perilaku yang
berorientasi pada hubungan sebagai hasil studi Michigan mirip dengan consideration pada penelitian
Ohio State.
3. Kepenimpinan partisipatif:
Para pemimpin yang efekif menggunakan secara ekstensif supervise kelompok daripada mengontrol
setiap bawahan. Pertemuan kelompok memudahkan partisipasi bawahan dalam pengambilan
keputusan, memperbaiki komunikasi, mendorong kerja sama, dan memudahkanm emecahan konfik.
Para pemimpin dalam pertemuan kelompok pertama – tama memandu diskusi dan berorientasi kepada
pemecahan masalah. Penekanan pada kelompok mencerminkan penemuan dari studi Michigan bahwa
partisipasi bawahan dalam pengambilan keputusan cenderung akan menghasilkan kepuasan dan kinerja
yang lebih tinggi. 

Kemudian perilaku pak bonar dan pak binar dalam model Leadership Continuum yang model ini
menekankan pada perilaku pemimpin dalam hubungannya dengan pengikut atau bawahanya dalam
rangka pengambilan keputusan. Dalam model ini, perilaku pemimpin cenderung mengarah pada dua
bidang pengaruh, yaitu berorientasi kepada pemimpin dan berorientasi kepada bawahan. Menurut
model Continuum, ada tujuh model hubungan pemimpin dengan bawahan dalam rangka pembuatan
keputusan. Ketujuh hubungan antara pemimpin dengan bawahan tersebut seperti berikut. Pemimpin
membuat dan mengumumkan keputusan terhadap bawahan (telling). Dalam model ini, terlihat bahwa
otoritas yang dipergunakan pemimpin terlalu banyak, sedangkan kebebasan bawahan sangat sedikit.

1.Pemimpin menjual dan menawarkan keputusan kepada bawahan (selling). Dalam hal ini, pimpinan
masih terihat banyak menggunakan otoritasnya mirip dengan model di atas. Bawahan belum banyak
terlibat dalam pengambilan keputusan.
2. Pemimpin menyampaikan ide dan mengundang pertanyaan. Dalam model ini, pemimpin sudah
membatasi otoritasnya dan memberi kesempatan kepada bawahan untuk mengajukan pertanyaan.
Pada model ini, bawahan sudah mulai teriibat sedikit dalam kegiatan pengambilan keputusan.
3. Pemimpin memberikan keputusan tentatif dan keputusan masih dapat diubah. Dalam model ini,
pemimpin sudah banyak mengurangi penggunaan otoritasnya dan bawahan sudah mulai banyak terlibat
dalam pembuatan keputusan.
4.Pemimpin menyampaikan permasalahan dan meminta saran pemecahannya kepada bawahan
(consulting). Dalam model ini, otoritas pemimpin dipergunakan sesedikit mungkin sedangkan kebebasan
bawahan dalam berpartisipasi membuat keputusan sudah banyak dimanfaatkan.
5.Pemimpin membuat menentukan batasan-batasan dan meminta kelompok untuk membuat
keputusan. Partisipasi bawahan dalam model hal yang berkaitan dengan tugasnya serta dalam batas-
batas tertentu bawahan dapat mengambil keputusan sendiri terhadap pelaksanaan tugas-tugasnya.
Pemimpin dalam sistem ini menentukan tujuan dan berbagai ketentuan yang bersifat umum, tetapi
sudah melalui proses diskusi dengan bawahan. Perilaku pemimpin seperti itu disebut sebagai
consultative.

Dan pada model ini menurut saya lebih mengarah pada perilaku pak binar dengan kepemimpinannya.

Lalu pada Likerts management sistem,  hubungan kerja sama antara pimpinan dan bawahan terjadi
dalam suasana saling percaya mempercayai, penuh persahabatan, penentuan tujuan, dan pengambilan
keputusan ditentukan bersama. Apabila pemimpin secara formal harus mengambil keputusan maka hal
itu akan dilakukannya setelah adanya saran atau pendapat dari para bawahannya. Dalam sistem ini,
pemimpin memotivasi bawahan selain didasarkan atas pertimbangan ekonomis, juga pengakuan
peranan bawahan dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Perilaku-perilaku yang ditunjukkan oleh
pemimpin sebagaimana tercermin dalam sistem IV ini, Likert menyebutnya sebagai participative
management Lebih lanjut, Likert mengemukakan bahwa jika perilaku pemimpin cenderung mengarah
kepada perilaku sistem I dan II maka kemungkinan suatu organisasi tidak produktif. Sebaliknya,
produktivitas organisasi akan tinggi, bila perilaku pemimpin memiliki kecenderungan ke arah sistem IV.

Jadi pada sistem ini menurut saya lebih mengarah pada kepemimpinan pak bonar, tetapi masih
memperhatikam produktivitas organisasi.
Bagaimana cara pencapaian keberhasilan seorang pemimpin yang efektif menurut teori atribusi
kepemimpinan?
(Keberhasilan kepemimpinan tergantung pada kemampuan seseorang untuk mempengaruhi
pihak lain agar melaksanakan sesuatu dengan cara atau gaya kepemimpinan yang bernilai. Latar
belakang kecerdasan, emosi, spiritual, dan intelegensi dalam mengelola karakteristik
orang=orang yang dipimpinnya.)
Teori atribusi kepemimpinan ini mengemukakan bahwa kepemimpinan semata-mata
merupakan suatu atribusi yang dibuat orang atau seorang pemimpin mengenai individu-individu
lain yang menjadi bawahannya. Pengertian atribusi sendiri adalah sifat yang menjadi ciri khas
suatu benda atau orang atau dapat pula diartikan sebagai suatu proses bagaimana seseorang
atau seorang pemimpin mencari kejelasan sebab-sebab dari perilaku orang lain atau bawahan.
Selain itu, atribusi juga merupakan sebuah teori kognitif yang digunakan untuk menjelaskan
bagaimana seorang manajer atau pemimpin menginterpretasikan informasi mengenai kinerja
scorang bawahan dan memutuskan bagaimana akan bereaksi terhadap bawahan tersebut.  Dan
atribusi dapat dipahami sebagai:
I, suatu proses,
2. mencari kejelasan sebab-sebab,
3. menginterpretasikan
4. memutuskan. 
Teori atribusi kepemimpinan menjelaskan bahwa keberhasilan kepemimpinan tergantung pada
kemampuan seseorang untuk mempengaruhi dan mengarahkan pihak lain untuk melakukan
sesuatu, yang mana kemampuan tersebut lain dari gaya pemimpin yang dimiliki oleh pihak lain.
Sehingga kemampuan pemimpin di latar belakangi oleh kecerdasan dalam intelejensi, spiritual,
dan emosional serta wawasan yang multidisipliner, walaupun bukan ahli pada kesemua bidang
ilmu, tetapi mempunyai dasar pengetahuan yang universal dan fleksibel dalam menghadapi
berbagai paradigma pengetahuan. Atribusi-atribusi mengenai seorang pemimpin oleh para
pengikutnya
mempunyai implikasi bagi efektivitas yang sebenarnya dari pemimpin tersebut dalam hubungan
dengan pengaruhnya terhadap kinerja masa depan organisasi. Kapasitas seorang Chief Excecutif
Officer (CEO) adalah untuk membuat perubahan-perubahan penting dalam strategi dan
membuatnya dilaksanakan, sebagian akan tergantung pada persepsi para pengikut atau
bawahan bahwa perubahan-perubahan tersebut memang dibutuhkan dan menguntungkan.
Atribusi – atribusi yang dibuat oleh para pengikut atau anggota mengenai efektivitas
pemimpin dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling berhubungan, yaitu
1. sejauh mana pemimpin tersebut mengambil tindakan yang terlihat dan
langsung dalam menghadapi masalah;
2. sejauh mana tindakan tersebut adalah tidak konvensional atau inovatif;
sejauh mana bukti dari keberhasilan atau kegagalan jelas dan relatif
cepat setelah pemimpin tersebut mengambil tindakan langsung;
4. sejauh mana pengikut merasakan adanya sebuah situasi krisis.
Seorang pemimpin paling besar kemungkinannya akan dipandang
sebagai efektif apabila pada saat terjadi krisis, dia mampu mengatasi secara
dramatis, dan kemudian segera diikuti dengan perbaikan kinerja organisasi
yang berhasil. 
Sistem informasi manajemen
1) Sebutkan aktivitas dari operating system minimal 5!
Aktivitas aktivitas system operasi yang berkaitan dengan manajemen proses, yaitu:
a. Pembuatan dan penghapusan proses pengguna dan sistem proses.
b. Menunda atau melanjutkan proses.
c. Menyediakan mekanisme untuk proses sinkronisasi.
d. Menyediakan mekanisme untuk proses komunikasi.
e. Menyediakan mekanisme untuk penanganan deadlock.
https://dokumen.tips/documents/5-aktivitas-sistem-operasi-yang-merupakan-contoh-dari-
suatu-manajemen-proses.html

2) Sebutkan masing-masing 5 peralatan dan media input!

1. Keyboard

Keyboard adalah perangkat yang digunakan untuk memasukkan data berupa huruf, angka,
dan simbol serta melakukan perintah-perintah pada komputer. Tanpa adanya perangkat ini,
pengguna tidak akan bisa mengetikkan data yang mereka inginkan, sehingga keberadaannya
sangatlah penting.

2. Mouse
Mouse adalah perangkat keras yang berukuran kecil dan mudah digenggam yang umumnya
memiliki dua tombol dan sebuah bola atau laser di bawahnya untuk menggerakkan
kursor (pointer). Fungsi mouse adalah untuk menggerakkan kursor, melakukan scroll (pada
mouse jenis tertentu), di mana keduanya akan membuat komputer bisa menjalankan
perintah yang diinginkan pengguna.
3. Joystick
Joystick merupakan perangkat keras berbentuk seperti tuas gigi mobil atau seperti stick
konsol yang memiliki banyak tombol di dalamnya. Perangkat ini digunakan untuk bermain
game pada komputer.

4. Touchpad
Touchpad merupakan sebuah alat penunjuk yang menampilkan sensor pada permukaan
khusus yang dapat menerjemahkan gerakan dan jari-jari pengguna ke posisi yang diinginkan
pada layar monitor. Perangkat ini ada pada laptop dan notebook yang memiliki cara kerja
seperti mouse.

5. CD (Compact Disc)
CD atau Compact Disc adalah perangkat yang berfungsi sebagai media penyimpanan dan
pembacaan data menggunakan sistem optik yang terbuat dari bahan plastik dan berbentuk
lingkaran pipih dengan lubang kecil pada bagian tengah.

https://www.baktikominfo.id/en/informasi/pengetahuan/15_macam_perangkat_keras_inp
ut_pada_komputer_dan_fungsinya-657
1. Untuk penjelasan maupun prediksi suatu permasalahan penelitian diperlukan adanya suatu teori
yang berkaitan dengan masalah penelitian yang diteliti. Silakan paparkan teori yang anda
gunakan terkait permasalahan penelitian (sesuai dengan objek penelitian yang sudah Anda
tentukan pada pertemuan sebelumnya)
2. Masalah yang harus dipecahkan atau dijawab melalui penelitian selalu tersedia dan cukup
banyak, tinggal peneliti mengidentifikasi, memilih dan merumuskannya. Silakan diskusikan
langkah-langkah dalam merumuskan permasalahan dalam penelitian.

1. Objek penelitian yang saya pilih pada sesi sebelumnya yaitu  ilmu komunikasi berada dalam
rumpun ilmu-ilmu sosial yang berobjek abstrak, tindakakan manusia dalam konteks sosial. Ilmu
komunikasi sebagai salah satu ilmu sosial mutlak memerlukan definsi tajam dan jernih
menjelaskan objeknya yang abstrak itu. Usia pernikahan muda adalah salah satu penentu risiko
perceraian. Misalnya, data menunjukkan bahwa mereka menunjukkan bahwa mereka menikah
sebelum usia 20 mengalami lebih banyak perkeraian dalam kelompok umur lainnya. Penelitian
ini merupakan studi kasus dengan metode deskriptif kualitatif, yaitu sebuah metode penelitian
menjelaskan kenyataan yang didapatka dari kasus-kasus di lapangan sekaligus berusaha untuk
mengungkapakan hal-hal yang tidak nampak dari luar agar khayalak dapat mengetahui apa yang
sebenarnya terjadi.
2. Langkah langkah perumusan masalah yang saya lakukan adalah :
 Mengidentifikasi masalah
 Pembatasan masalah
 Membuat pertanyaan dalam penelitian
 Pemilihan atau pengembangan alat pengambil data