Anda di halaman 1dari 10

KEPERAWATAN MATERNITAS

LAPORAN PENDAHULUAN POST PARTUM

Disusun Oleh:

Wahyuning Sri Utami


21121074

PROGRAM STUDI PROFESI NERS 


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA 
2021
I. Laporan Pendahuluan
A. Definisi
Post partum adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali pada keadaan sebelum hamil, masa post partum berlangsung selama kira-kira 6
minggu (Wahyuningsih, 2019).
Masa nifas merupakan masa dimana tubuh ibu melakukan adaptasi pascapersalinan,
meliputi perubahan kondisi tubuh ibu hamil kembali ke kondisi sebelum hamil. Masa ini
dimulai setelah plasenta lahir, dan sebagai penanda berakhirnya masa nifas adalah ketika
alat-alat kandungan sudah kembali seperti keadaan sebelum hamil (Astuti, 2015).
Masa nifas adalah sebuah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput yang
diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan
waktu kurang lebih 6 minggu. Proses ini dimulai setelah selesainya persalinan dan berakhir
setelah alat-alat reproduksi kembali seperti keadaan sebelum hamil atau tidak hamil
sebagai akibat dari adanya perubahan fisiologis dan psikologis karena proses persalinan
(Pitriyani, 2014).

B. Tahapan Masa Post Partum


Menurut (Wahyuningsih, 2019) tahapan masa post partum meliputi :
1. Immediate Postpartum (setelah plasenta lahir - 24 jam)
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat
banyak masalah, misalnya perdarahan karena atonia uteri. Oleh karena itu, perlu
melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran loche, tekanan darah, dan suhu.
2. Early Postpartum (24 jam - 1 minggu)
Harus dipastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak ada perdarahan, lochea
tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, serta
ibu dapat menyusui dengan baik.
3. Late Postpartum (1 minggu - 6 minggu)
Tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta konseling KB.

C. Perubahan Fisiologis pada Masa Post Partum


Menurut (Sari, 2014) perubahan fisiologis pada ibu nifas adalah sebagai berikut :
1. Perubahan Sistem Reproduksi
a. Uterus
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut
involusi. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot
polos uterus.
b. Lochea
Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina selama masa
nifas. Lochea terbagi menjadi tiga jenis, yaitu : Lochea rubra (2 hari), sangulenta
(hari ke-3 s/d 7), Serosa (hari ke-7 s/d 14) dan alba (hari ke-14).
c. Serviks
Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. Delapan belas jam pasca
partum, serviks memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali ke
bentuk semula
d. Vagina dan Perineum
Estrogen pasca partum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan
hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap
ke ukuran sebelum hamil, 6 sampai 8 minggu setelah bayi lahir. Perubahan pada
perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum mengalami robekan. Latihan
otot perineum dapat mengembalikan tonus dan dapat mengencangkan vagina hingga
tingkat tertentu.
2. Perubahan Sistem Pencernaan 
Selama kehamilan tingginya kadar progesteron dapat mengganggu keseimbangan cairan
tubuh. Pasca melahirkan, kadar progesteron mulai menurun. Namun demikian, faal usus
memerlukan 3-4 hari untuk kembali normal.
3. Perubahan Sistem Perkemihan 
Diuresis dapat terjadi setelah 2-3 hari post partum. Diuresis terjadi karena saluran
urinaria mengalami dilatasi. Kondisi ini akan kembali normal setelah 4 minggu post
partum. 
4. Perubahan Sistem Musculoskletal 
Otot - otot uterus berkontraksi segera setelah partus. Pembuluh -pembuluh yang berada
di antara anyaman-anyaman otot - otot uterus akan terjepit. Proses ini akan
menghentikan perdarahan setelah plasenta dilahirkan. Ligamen-ligamen, diafragma
pelvis, serta fasia yang meregang pada waktu persalinan, secara berangsur-angsur
menjadi ciut dan pulih kembali.
5. Perubahan Sistem Endokrin 
Hormon kehamilan mulai menurun segera setelah plasenta keluar. Turunnya estrogen
dan progesteron menyebabkan peningkatan prolaktin dan menstimulasi air susu.
6. Perubahan Sistem Kardiovaskuler 
Selama kehamilan, volume darah normal digunakan untuk menampung aliran darah
yang meningkat, yang diperlukan oleh plasenta dan pembuluh darah uteri. Penarikan
kembali estrogen menyebabkan dieresis yang terjadi secara cepat sehingga mengurangi
volume plasma kembali pada proporsi normal. Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama
setelah kelahiran bayi. 
7. Perubahan Sistem Hematologi 
Pada hari pertama post partum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun
tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas meningkatkan faktor
pembekuan darah Leukositosis yang meningkat dimana jumlah sel darah putih dapat
mencapai 15.000 selama persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa jumlah sel darah
putih pertama di masa post partum.
8. Perubahan Tanda-tanda Vital 
Pada 24 jam post partum suhu badan akan naik sedikit (37oC - 38oC). Setelah
melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat. Kemungkinan tekanan darah akan
rendah setelah ibu melahirkan karena adanya perdarahan. Apabila suhu dan denyut nadi
tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya kecuali ada gangguan khusus pada
saluran pernafasan. 
9. Perubahan pada Sistem Intergumen 
Setelah persalinan, hormonal berkurang dan hiperpigmentasi pun menghilang.
Penurunan pigmentasi ini juga disebabkan karena hormon MSH (Melanophore
Stimulating Hormone) yang berkurang setelah perasalinan akibatnya pigmentasi pada
kulit pun secara perlahan menghilang.

D. Perubahan Psikologi Pada Masa Post partum


Menurut Ari Sulistyawati (2009) membagi periode ini menjadi 3 bagian, antara lain:
1. Taking In (istirahat/penghargaan)
sebagai suatu masa ketergantungan dengan ciri-ciri ibu membutuhkan tidur yang cukup,
nafsu makan meningkat, menceritakan pengalaman partusnya berulang-ulang dan
bersikap sebagai penerima, menunggu apa yang disarankan dan apa yang diberikan.
Disebut fase taking in, karena selama waktu ini, ibu yang baru melahirkan memerlukan
perlindungan dan perawatan, fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pada
fase ini ibu lebih mudah tersinggung dan cenderung pasif terhadap lingkungannya
disebabkan kare-na faktor kelelahan. Oleh karena itu, ibu perlu cukup istirahat untuk
mencegah gejala kurang tidur. Di samping itu, kondisi tersebut perlu dipahami dengan
menjaga komunikasi yang baik.
2. Fase Taking On/Taking Hold (dibantu tetapi dilatih)
terjadi hari ke 3 - 10 post partum. Terlihat sebagai suatu usaha ter-hadap pelepasan diri
dengan ciri-ciri bertindak sebagai pengatur penggerak untuk bekerja, 18 kecemasan
makin menguat, perubah-an mood mulai terjadi dan sudah mengerjakan tugas keibuan.
Pada fase ini timbul kebutuhan ibu untuk mendapatkan perawatan dan penerimaan dari
orang lain dan keinginan untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri. Ibu mulai
terbuka untuk menerima pendidikan kesehatan bagi dirinya dan juga bagi bayinya. Pada
fase ini ibu berespon dengan penuh semangat untuk memperoleh kesempatan belajar
dan berlatih tentang cara perawatan bayi dan ibu memi-liki keinginan untuk merawat
bay-inya secara langsung.
3. Fase Letting Go (berjalan sendiri dilingkungannya)
fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang
berlangsung setelah 10 hari postpartum. Periode ini biasanya setelah pulang kerumah
dan sangat dipengaruhi oleh waktu dan perha-tian yang diberikan oleh keluarga. Pada
saat ini ibu mengambil tugas dan tanggung jawab terhadap per-awatan bayi sehingga ia
harus beradaptasi terhadap kebutuhan bayi yang menyebabkan berkurangnya hak ibu,
kebebasan dan hubungan sosial.

E. Komplikasi
1. Perdarahan post partum (apabila kehilangan darah lebih dari 500 mL selama 24 jam
pertama setelah kelahiran bayi).
2. Infeksi
a. Endometritis (radang edometrium)
b. Miometritis atau metritis (radang otot-otot uterus)
c. Perimetritis (radang peritoneum disekitar uterus)
d. Caked breast / bendungan asi (payudara mengalami distensi, menjadi keras dan
berbenjol-benjol)
e. Mastitis (Mamae membesar dan nyeri dan pada suatu tempat, kulit merah,
membengkak sedikit, dan nyeri pada perabaan. Jika tidak ada pengobatan bisa terjadi
abses).
f. Trombophlebitis (terbentuknya pembekuan darah dalam vena varicose superficial
yang menyebabkan stasis dan hiperkoagulasi pada kehamilan dan nifas, yang
ditandai dengan kemerahan atau nyeri.)
g. Luka perineum (Ditandai dengan : nyeri local, disuria, temperatur naik 38,3 °C, nadi
< 100x/ menit, edema, peradangan dan kemerahan pada tepi, pus atau nanah warna
kehijauan, luka kecoklatan atau lembab, lukanya meluas)
3. Gangguan psikologis
a. Depresi post partum
b. Post partum Blues
c. Post partum Psikosal
4. Gangguan involusi uterus

F. Pathway
G. Kebutuhan Dasar Masa Post Partum
Menurut (Wahyuningsih, 2019) kebutuhan dasar pada masa post partum yaitu :
1. Nutrisi dan cairan
Masalah nutrisi perlu mendapat perhatian karena dengan nutrisi yang baik dapat
mempercepat penyembuhan ibu dan sangat mempengaruhi susuan air susu ibu.
Kebutuhan gizi ibu saat menyusui adalah sebagai berikut :
a. Konsumsi tambahan kalori 500 kalori tiap hari
b. Diet berimbang, protein, mineral, dan vitamin
c. Minum sedikitnya 2 liter taip hari (kurang lebih 8 gelas)
d. Fe/tablet tambah darah sampai 40 hari pasca persalinan
e. Kapsul Vit. A 200.000 unit
2. Ambulasi 
Ambulasi dini ialah kebijaksanaan agar secepatnya tenaga kesehatan ibu post partum
bangun dari tempat tidur membimbing secepat mungkin untuk berjalan. Ibu post partum
sudah diperbolehkan bangun dari tenpat tidur dalam 24-48 jam postpartum. Hal ini
dilakukan bertahap. Ambulasi dini tidak dibenarkan pada ibu post partum dengan
penyakit misalnya anemia, penyakit jantung, penyakit paru-paru, demam, dan
sebagainya. Keuntungan dari ambulasi dini adalah :
a. Ibu merasa lebih sehat
b. Fungsi usus dan kandung kemih lebih baik
c. Memungkinkan kita mengajarkan ibu untuk merawat bayinya.
d.Tidak ada pengaruhh buruk terhadap proses persalinan, tidak mempengaruhi
penyembuhan luka, tidak menyebabkan perdarahan, tidak memperbesar
kemungkinan prolapses atau retrotexto uteri
3. Eliminasi 
setelah 6 jam post partum diharapkan ibu dapat berkemih, jika kandung kemih penuh
atau lebih dari 8 jam belum berkemih disarankan melakukan kateterisasi. Hal-hal yang
menyebabkan kesulitan berkemih (retensio urine) pada post partum yaitu :
a. Otot-otot perut masih lemah
b. Edema dan uretra
c. Dinding kandung kemih kurang sensitive
d. Ibu post partum diharapkan bisa defekasi atau buang air besar setelah hari kedua post
partum. Jika hari ketiga belum defekasi bisa diberi obat pencahar atau rektal.
4. Kebersihan diri
Pada masa post partum seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu
kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap
terjaga. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Anjurkan kebersihan seluruh tubuh terutama perineum
b. Mengajarkan ibu cara membersihkan alat kelamin dengan sabun dan air dari depan ke
belakang
c. Sarankan ibu ganti pembalut setidaknya dua kali sehari
d. Membersihkan tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan alat
kelamin
e. Jika ibu mempunyai luka episiotomy atau laserasi/ luka jahit pada alat kelamin,
sebainya tidak menyentuh daerah tersebut.
5. Perawatan payudara
Bagi ibu postpartum, melakukan perawatan payudara itu penting yaitu dengan
menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama pada bagian putting susu dengan
menggunakan bra yang menyongkong payudara. Oleskan kolostrum atau ASI yang
keluar pada sekitar puting susu sebelum dan setelah menyusukan. Apabila payudara
terasa nyeri dapat diberikan parasetamol 1 tablet setiap 4 – 6 jam.
6. Istirahat dan tidur
Menganjurkan ibu istirahat cukup dan dapat melakukan kegiatan rumah tangga
secara bertahap. Kurang istirahat dapat mengurangi produksi ASI, memperlambat
proses involusi dan depresi pasca persalinan. Selama masa post partum, alat-alat interna
dan eksternal berangsur-angsur kembali ke keadaan sebelum hamil (involusi).

H. Perawatan Post Partum


1. Perineum
Luka pada perineum akibat episiotomi, ruptura atau laserasi merupakan daerah yang
tidak mudah untuk dijaga agar tetap bersih dan kering. Pengamatan dan perawatan
khusus diperlukan untuk menjamin agar daerah tersebut sembuh dengan cepat dan
mudah. Pencucian daerah perineum memberikan kesempatan untuk melakukan inspeksi
secara seksama pada daerah tersebut dan mengurangi rasa sakitnya.
2. Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin ibu harus istirahat tidur terlentang selama 8 jam
postpartum, kemudian boleh miring-miring kekiri dan kekanan untuk mencegah
terjadinya trobosis dan tramboemboli. Pada hari kedu duduk-duduk, hari ketiga jalan-
jalan dan pada hari keempat atau lima boleh pulang. Mobilisasi diatas mempunyai
variasi tergantung pada adanya komplikasi persalinan nifas dan sembuhnya luka-luka.
3. Diet
Makanan harus bermutu dan bergizi cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang
mengandung protein, banyak cairan sayuran-sayuran dan buah-buahan.
4. Miksi
Hendaknya berkemih dapat dilakukan sendiri dngan secepatnya. Kadang-kadang
wanita sulit berkemih karena sphineter uretrae mengalami tekanan oleh kepala janin dan
spasme otot iritasi musculus sphicterani selama persalinan bila kandung kemih penuh
dan wanita sulit berkemih sebaiknya lakukan kateterisasi.
5. Defekasi
Buang air besar harus dilakukan 3 – 4 hari postpartum. Bila masih sulit buang air
besar dan terjadi optipasi apabila faeces keras harus diberikan obat laksans atau perectal,
jika masih belum bisa dilakukan klisma.
6. Laktasi
Perawatan mammae telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu tidak keras,
lemas dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Laktasia dapat diartikan
dengan pembentukan dan pengeluaran air susu ibu (ASI). 
Keuntungan ASI yakni:
a. Bagi Ibu
a). Mudah didapatkan
b). Praktis dan murah 
c). Memberi kepuasan
b. Bagi Bayi
a). ASI mengandung zat ASI yang sesuai dengan kebutuhan
b). ASI mengandung berbagai zat antibody untuk mencegah infeksi
c). ASI mengandung laktoperin untuk mengikat zat gizi
d). Susu tepat dan selalu segar
e). Memperindah gigi dan rahang
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengeluaran ASI
a. Faktor anatomis
Apabila jumlah lobus dalam buah dada berkurang maka produksi ASI akan
kurang karena sel-sel ocini yang ngisap zat makanan dari pembuluh darah akan
berkurang.
b. Faktor fisiologis
Bahwa terbentuknya ASI dipengaruhi oleh hormon yaitu hormon proloctin yang
merangsang sel-sel ocini untuk membentuk ASI, apabila ada kelainan dari hormon
ini maka dengan sendirinya rangsangan pada sel-sel ocini akan berkurang sehingga
tidak dapat membentuk ASI.
c. Makanan yang dimakan ibu menyusui
d. Fakctor istirahat
e. Fakor isapan bayi
f. Faktor obat-obatan dapat mempengaruhi pembentukan dan pengeluaran ASI karena
adanya hormon yang dikandung oleh obat-obatan tersebut mempengaruhi hormon
prolaktin yang sangat berperan penting dalam produksi dan peneluaran ASI.

I. Pemeriksaan penunjang
1. Jumlah dan darah lengkap hemoglobin atau hematocrit (Hb/Ht) : mengkaji perubahan
dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek dari kehilangan darah pada pembedahan
2. Urinalis : kultur urine, darah, vaginal, dan lochea, pemeriksaan tambahan didasarkan
pada kebutuhan individual (Wahyuningsih, 2019).

J. Penalatakasanaan Medis
1. Observasi ketat 2 jam post partum (adanya komplikasi perdarahan)
2. 6-8 jam pasca persalinan : istirahat dan tidur tenang, usahakan miring kanan kiri
3. Hari ke- 1-2 : memberikan KIE kebersihan diri, cara menyusui yang benar dan
perawatan payudara, perubahan-perubahan yang terjadi pada masa nifas, pemberian
informasi tentang senam nifas.
4. Hari ke- 2 : mulai latihan duduk
5. Hari ke- 3 : diperkenankan latihan berdiri dan berjalan
II. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas klien : nama, usia, status perkawinan, pekerjaan, agama, pendidikan, suku,
bahasa yang digunakan, sumber biaya, tanggal masuk RS, dan alamat rumah
b. Identitas suami : nama, usia, pekerjaan, agama, pendidikan, suku
c. Riwayat keperawatan : keluhan utama saat masuk RS, faktor-faktor yang mungkin
mempengaruhi.
d. Riwayat kehamilan : informasi yang dibutuhkan adalah para dan gravida, kehamilan
yang direncanakan, masalah saat hamil atau ante natal care (ANC) dan imunisasi yang
diberikan pada ibu selama hamil.
e. Riwayat melahirkan : tanggal melahirkan, lamanya persalinan, posisi fetus, tipe
melahirkan, analgetik, mmaslaah selama melahirkan jahitan pada perineum dan
perdarahan.
f. Data bayi : data yang harus dikaji meliputi jenis kelamin, dan berat badan bayi. Kesulitan
dalam melahirkan, apgar score, untuk menyusui atau pemberian susu formula dan
kelainan kongenital yang tampak pada saat dilakukan pengkajian.
g. Pengkajian masa post partum atau post partum pengkajian yang dilakukan meliputi
keadaan umum. Tingkat aktivitas setelah melahirkan, gambaran lochea, keadaan
perineum,
abdomen, payudara, episiotomi, kebersihan menyusui dan respon orang terhadap bayi.
h. Pemeriksaan Fisik
a) Rambut
MengMengkaji kekuatan rambut klien karena diet yang baik selama masa hamil akan
berpengaruh pada kekuatan dan kesehatan rambut. 
b) Muka
Mengkaji adanya edema pada muka yang dimanifestasikan dengan kelopak mata
yang bengkak atau lipatan kelopak mata bawah menonjol.
c) Mata 
Mengkaji warna konjungtiva bila berwarna merah dan basah berarti normal,
sedangkan berwarna pucat berarti ibu mengalami anemia, dan jika konjungtiva
kering maka ibu mengalami dehidrasi.
d) Payudara
Mengkaji pembesaran, ukuran, bentuk, konsistensi, warna inspeksi bentuk perut ibu
mengetahui adanya distensi pada perut, palpasi juga tinggi fundus uterus, konsistensi
serta kontraksi uterus.
e) Lochea 
Mengkaji Lochea yang meliputi karakter, jumlah warna, bekuan darah yang keluar
dan baunya. 
f) Sistem perkemihan 
Mengkaji kandung kemih dengan palpasi dan perkusi untuk menentukan adanya
distensi pada kandumg kemih yang dilakukan pada abdomen bagian bawah.
g) Perineum 
Pengkajian dilakukan dengan menempatkan ibu pada posisi senyaman mungkin tetap
menjaga privasi dengan inspeksi adanya tanda – tanda “REEDA”
(Rednes/kemerahan, Echymosis/ pendarahan bawah kulit, Edeme/ bengkak,
Discharge/ perubahan lovhea, Approximation/ pertautan jaringan).
h) Ektremitas bawah
Ektremitas atas dan bawah dapat bergerak bebas, kadang ditemukan edema, varises
pada tungkai kaki, ada atau tidaknya tromboflebitis karena penurunan aktivitas dan
reflek patela baik.
i) Tanda – tanda vital
Mengkaji tanda – tanda vital meliputi suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah
selama 24 jam pertama masa post partum atau pasca partum

2. Diagnosa Keperawatan

Anda mungkin juga menyukai