Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak Perang Dingin berakhir, dunia masih terus mengalami


berbagai gejolak dan permasalahan, harapan sekaligus tantangan.
Tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat internasional pasca
Perang Dingin adalah bagaimana membina suatu sistem pengelolaan
dunia (global governance) untuk lebih efektif, agar mampu mengendalikan
perubahan-perubahan besar yang sedang dan akan merombak secara
mendasar tatanan hubungan antar bangsa di masa mendatang. Pengaruh
terjadinya perubahan mendasar tersebut terasa pula di kawasan Asia
Pasifik.1

Di kawasan ASEAN termasuk kawasan Asia Pasifik, negara-negara


kini tengah berkompetisi untuk membangun kekuatan dan kemampuan
maritim. Secara tradisional, negara-negara kawasan tidak atau belum
memiliki tradisi yang kuat dalam kekuatan dan kemampuan maritim,
kecuali Jepang. Akan tetapi, sekarang situasi telah berbalik, dan negara-
negara kawasan berupaya membangun kekuatan dan kemampuan
maritimnya, baik kekuatan angkatan laut maupun kekuatan dan
kemampuan maritimnya. Hal ini guna meningkatkan peran kekuatan dan
kemampuan maritim dalam percaturan kawasan. Adanya sejumlah
sengketa maritim di kawasan makin menjadi pembenaran terhadap
pembangunan tersebut. Selain itu, sejumlah negara kawasan telah
menciptakan hub port baru dalam perniagaan internasional yang
merupakan tanda bahwa kekuatan dan kemampuan maritim mereka kini
telah meningkat.2

1
Ras, Abdul Rivai. Konflik Laut Cina Selatan dan Ketahanan Regional Asia
Pasifik: Sudut Pandang Indonesia. Jakarta: Yayasan Abdi Persada Siporennu
Indonesia (APSINDO). 2001. hal. 1.
2
Susanto dan Munaf, Dicky R. Komando dan Pengendalian Keamanan Dan
Keselamatan Laut: Berbasis Sistem Peringatan Dini. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama. 2015. hal. 119.
Universitas Pertahanan Indonesia
2

Sengketa diawali oleh tuntutan Cina atas seluruh pulau di kawasan


Laut Cina Selatan (LCS), yang mengacu pada catatan sejarah, penemuan
situs, dokumen-dokumen kuno, peta-peta dan penggunaan gugus-gugus
pulau oleh nelayannya. Menurut Cina, sejak 2000 tahun yang lalu, LCS
telah menjadi jalur pelayaran bagi mereka. Beijing menegaskan yang
pertama menemukan dan menduduki Kepulauan Spratly adalah Cina.
Hal itu didukung bukti-bukti arkeologis Cina dari Dinasti Han (206-220
SM). Vietnam menganggap Kepulauan Spratly dan Paracel adalah bagian
dari wilayah kedaulatannya. Vietnam meyebutkan Kepulauan Paracel dan
Spratly secara efektif didudukinya sejak abad ke-17 ketika kedua
kepulauan itu tidak berada dalam penguasaan suatu negara. 3 Dapat kita
lihat gambar dibawah ini klaim Tiongkok di Laut Cina Selatan yang
menyebabkan banyak konflik disana.

Gambar 1: Gambaran Klaim Tiongkok di Laut Cina Selatan (BBC 2015)

3
Ras, Abdul Rivai, op.cit., hal. 54

Universitas Pertahanan Indonesia


3

1.1.1 Faktor-Faktor Penting

Tiga faktor penting yang diperebutkan yaitu ekonomi, strategik dan


politik. Ketiga faktor tersebut merupakan motif utama bagi claimant
state (negara penuntut) untuk mempertahankan haknya di wilayah LCS.
Yang menjadi objek sengketa para pihak di LCS terfokus pada dua pulau
utama yaitu Spratly dan Paracels. Negara-negara yang menjadi claimant
sates untuk pulau Spratly adalah Brunei, Cina, Malaysia, Filipina, Taiwan
dan Vietnam. Dua negara terakhir juga menuntut kepemilikan akan
Paracels yang berada di bawah kontrol Cina sejak tahun 1974.4

Kenapa penting dari segi ekonomi? Karena daerah LCS diyakini


kaya akan minyak, gas bumi dan prikanan. Kenapa penting
secara strategik? Karena penguasaan LCS khususnya bagi Cina akan
memperkokoh posisi mereka sebagai salah satu global power. Selain itu,
komando dan kontrol atas LCS akan memperkuat posisi negara dari
segi maritime regime mengingat wilayah tersebut merupakan “the heart of
Southeast Asia” dari segi aktifitas maritim. Alasan terakhir merupakan
aspek politik, kenapa politik? Karena permasalahan LCS menyangkut
masalah klaim teritori. Kekalahan dalam mempertahankan daerahnya
akan menimbulkan masalah domestik, sehingga dipandang perlu
oleh claimant states untuk mempertahankannya sesuai dengan penafsiran
dan pandangan masing-masing demi kedaulatan negara.5

1.1.2 Sengketa Wilayah Antar Negara

Beberapa permasalahan yang sudah terjadi mulai dari sengketa


bilateral dan sengketa antar negara. Dimulai dari sengketa perebutan
Kepulauan Paracel antara Tiongkok dengan Vietnam yang berujung pada

4
Kompasiana. 2013, 28 Januari. Laut Cina Selatan: Problematika dan Prospek
Penyelesaian Masalah. http://hukum.kompasiana.com/2013/01/28/laut-cina-selatan-
problematika-dan-prospek-penyelesaian-masalah-making-the-long-story-short-artikel-ini-
sebagian-besar-bersumber-dari-tulisan-ralf-emmers-nanyang-technological-university-si
ngapura-yan-529409.html. Di akses pada tanggal 24 September 2015.
5
Loc.cit.

Universitas Pertahanan Indonesia


4

bentrokan bersenjata sejak tahun 1974 dan adanya korban jiwa pada
tahun 1988.6 Perebutan beberapa pulau di Kepulauan Spratly antara
Malaysia dengan Filipina sejak tahun 1979, dan pada tahun 1988
sebanyak 45 nelayan Filipina ditangkap Angkatan Laut Malaysia karena
melanggar wilayah ZEE Malaysia.7 Pertentangan juga terjadi antara
Filipina dan Taiwan dalam memperebutkan pulau Itu Aba di Kepulauan
Spratly yang dikuasai Taiwan sejak tahun 1956. Persoalan ini hampir
menjadi konflik bersenjata pada tahun 1971 dimana Filipina mencoba
menyerbu, namun aksi itu digagalkan Taiwan. 8

Perebutan wilayah antar negara masih berlanjut antara Filipina


dengan Tiongkok yang terjadi sejak tahun 1950-an yang memperebutkan
kepulauan Spratly. Pada awalnya hubungan kedua negara sempat
harmonis dengan adanya niatan penyelesaian sengketa dengan jalur
diplomasi, hal ini dibuktikan dengan kunjungan kepala negara Filipina ke
Tiongkok pada tahun 1975. Namun akibat pembangunan fasilitas baru
milik Tiongkok pada tahu 1995 di gugusan karang yang di klaim Filipina
(Mischief Reef‟s) meningkatkan ketengangan hubungan kedua negara. 9

Konflik-konflik antar negara lainnya juga terjadi antara Malaysia


dengan Vietnam, Filipina dengan Vietnam, Malaysia dengan Brunei
Darussalam, Taiwan dengan Tiongkok dan yang terakhir antara Indonesia
dengan Tiongkok. Hubungan Indonesia-Tiongkok inilah yang akan penulis
coba kembangkan. Indonesia dan Tiongkok tersangkut sengketa bilateral
dalam masalah Landas Kontinen dan ZEE di Kepulauan Natuna
berdasarkan peta yang dikeluarkan Tiongkok sejak tahun 1947. 10 Tidak
berhenti disitu Tiongkok secara terbuka pada tahun 1995 menerbitkan

6
Ras, Abdul Rivai, op.cit., hal. 58
7
Ras, Abdul Rivai, op.cit., hal. 61
8
Ras, Abdul Rivai, op.cit., hal. 62
9
Ras, Abdul Rivai, op.cit., hal. 63
10
Ras, Abdul Rivai, op.cit., hal. 69

Universitas Pertahanan Indonesia


5

Peta yang menunjukkan bahwa ladang gas Natuna berada dalam teritorial
perairannya.11 Klaim Tiongkok pun bertambah sampai ke perairan Pulau
Bangka dan 20 mil dari Kalimantan Barat dan sekeliling Vietnam. 12

Landas Kontinen dan ZEE di Kepulauan Natuna memiliki tiga faktor


penting yang ingin direbut oleh negara lain. Faktor ekonomi, Natuna
memiliki cadangan gas alam terbesar di kawasan Asia Pasifik bahkan di
Dunia. Didalam perut buminya juga bergelimang minyak. Letaknya 225
kilometer (km) sebelah Utara Natuna, dengan cadangan gas alam sebesar
222 triliun kaki kubik (TCT). Selain itu gas hidrokarbon yang bisa
ditambang mencapai 46 TCT.13 Belum lagi di bagian Barat Natuna yang
sudah digarap oleh US Exxon dengan Pertamina sejak tahun 1995
dengan cadangan gas alam sebesar 210 triliun kaki kubik (TCT).

Tidak hanya gas bumi yang melimpah, sumber daya perikanan laut
yang mencapai lebih dari 1 juta ton per tahun dengan total pemanfaatan
hanya 36%, yang hanya sekitar 4,3% oleh Kabupaten Natuna. Hal inilah
yang menjadi daya tarik tersendiri bagi negara lain untuk mengklaim
sebagian wilayah kepulauan Natuna.

1.1.3 Peranan ASEAN

ASEAN bertekad mewujudkan diri menjadi satu komunitas pada


tahun 2015. Dalam cetak biru pilar Komunitas Politik dan Keamanan
ASEAN (APSC) 2009-2015, penyelesaian sengketa perbatasan tidak
disebut. Namun ASEAN membentengi diri agar sengketa perbatasan tidak
berkembang menjadi konflik bersenjata dengan memperkuat kerja sama,
tata prilaku, tanggung jawab. Rasa saling percaya di antara sesama
“saudara” di ASEAN juga diperkuat. Soal pengaturan di Laut Cina Selatan,

11
Loc.cit.
12
Loc.cit.
13
Saripedia.com. (2011, 21 Desember). Pulau Natuna Menyimpan Cadangan
Gas Alam Terbesar Di Asia Pasifik. https://saripedia.wordpress.com/tag/potensi-migas-
natuna/. Diakses pada tanggal 26 September 2015.

Universitas Pertahanan Indonesia


6

dalam cetak biru itu disinggung soal upaya mengenai memperkuat kerja
sama dan penerapan penuh Deklarasi Perilaku Para Pihak (Declaration
on the Conduct of Parties/DOC). Juga didorong agar tercapainya
kesepakatan tentang Prosedur Tindakan (Code of Conduct/ COC).14

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan fenomena dan fakta serta latar belakang tersebut


diatas, maka perumusan masalah dalam pembuatan tugas ini adalah
penulis ingin mengetahui keutamaan pertahanan wilayah teritorial
Indonesia menghadapi konflik yang terjadi di Laut Cina Selatan.

14
Kompas.com. Potensi Konflik Karena Masalah Perbatasan, 2009.,
dari: http://internasional.kompas.com/read/009/03/22/05213018/Potensi.Konflik.
karena.Masalah.Perbatasan. Diakses pada tanggal 24 September 2015.

Universitas Pertahanan Indonesia


7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pertahanan Negara

Terdapat beberapa pengertian tentang “pertahanan,” pertama,


pertahanan dapat diartikan sebagai suatu institusi atau organisasi; kedua,
sebagai upaya pengelolaan sumber daya nasional (national resources
atau national power) yang diperuntukkan dalam upaya-upaya
mempertahankan eksistensi suatu negara, menegakkan kedaulatan
negara, keutuhan wilayah dan keselamatan segenap bangsa dan negara
dari segala ancaman; ketiga, pertahanan dapat diartikan sebagai suatu
kubu pertahanan untuk mempertahankan suatu lokasi, daerah, kota, atau
ibu kota negara tertentu; keempat, dapat juga diartikan sebagai taktik dan
strategi dalam perang atau pertempuran. 15

Sedangkan pertahanan negara diatur dalam Undang-Undang


Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara:

Pertahanan negara adalah segala usaha untuk mempertahankan


kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia, dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan
gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

Dapat dipahami bahwa pertahanan adalah suatu organisasi yang


mempunyai tugas dan fungsi dalam membuat kebijakan dan strategi
pertahanan serta kebijakan pengelolaan pertahanan. Pemahaman kedua
yaitu suatu upaya penyelenggaraan pertahanan negara, dilaksanakan
dengan “Sistem pertahanan negara-sishaneg,” yaitu sistem pertahanan
yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah

15
Supriyanto, Makmur. Tentang Ilmu Pertahanan. Yayasan Pustaka Obor
Indonesia. 2014. hal. 271

Universitas Pertahanan Indonesia


8

dan sumber daya nasional lainnya serta dipersiapkan secara dini oleh
pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah dan
berlanjut.

2.1.2 Teritori/Wilayah

Teritori berasal dari kata bahasa Inggris, territory-yang memiliki arti


„daerah‟ atau „wilayah‟ dimana komunitas atau bahkan bangsa mendiami
wilayah atau daerah tersebut. Selain itu, teritori juga merupakan salah
satu prasyarat berdirinya suatu negara. 15 Wilayah adalah suatu fisik tetapi
dinamis, maka disebut oleh Friedrich Ratzel dan Houshofer, negara
adalah suatu organisme hidup yang harus berkembang. 16

Dengan demikian teritori berarti wilayah/daerah adalah salah satu


prasyarat berdirinya suatu negara, bila dilihat dalam konteks bernegara
teritori atau wilayah harus dipertahankan, diperjuangkan, dijaga, dikelola,
diklaim melawan klaim dari negara lain dan dikembangkan.

2.1.3 Teritorial

Teritorial berasal dari bahasa Inggris territorial-yaitu yang berkaitan


dengan aktifitas dan berbagai permasalahan yang timbul. Aktifitas
tersebut, antara lain yaitu aktifitas bagaimana mempertahankannya,
bagaimana mengelola, bagaimana mengawasi dan mengendalikan. 17

Robert Sack (1983) dalam Cox, teritorial adalah aktifitas yang


memiliki tujuan untuk mempengaruhi isi (content) dari daerah atau
wilayah.18 Yang berarti bahwa apabila bicara tentang teritorial akan
berkaitan dengan wilayah dan perbatasan dengan pertahanan.

16
Supriyanto, Makmur. op.cit. hal. 380
17
Loc.cit.
18
Loc.cit.

Universitas Pertahanan Indonesia


9

Dengan demikian teritorial adalah suatu aktifitas dimana negara


mempertahankan teritori/wilayahnya dari agresi negara lain dengan
menghadapkan kekuatan militernya, tetapi juga ancaman yang bersifat
non-militer (nir-militer), seperti kejatahan lintas negara (transnational
crimes).

2.2 Kerangka Pemikiran

Berikut adalah skema kerangka pemikiran penulis pada gambar


dibawah ini:

Pertahanan Wilayah
Teritorial Indonesia

Perebutan Ekonomi,
Startegik Dan Politik
Antar Claimant State

Konflik Laut Cina


Selatan

Peranan ASEAN
Terhadap Konflik Laut
Cina Selatan

Laut Cina Selatan

Gambar 2: Kerangka Pemikiran Penulis (sumber: Diolah sendiri)

Universitas Pertahanan Indonesia


10

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pembangunan Pulau-Pulau Terluar

Indonesia merupakan negara kepulauan, terdiri dari 17.504 pulau,


sedangkan dengan jumlah penduduk yang besar, berdasarkan data BPS
tahun 2014 sebanyak 252.164.800 orang dan diperkirakan penduduk
Indonesia akan berjumlah 337 juta jiwa di tahun 2050. Banyaknya pulau-
pulau terluar yang pembangunannya terhambat dan tidak berpenghuni
dikarenakan sistem pembangunan negara yang tidak menjadikan pulau-
pulau terluar sebagai halaman depan negara.

Hal tersebut sering menimbulkan permasalahan di wilayah


perbatasan dan pulau-pulau terluar Indonesia, bahkan diantara negara
tetangga yang berdekatan dengan wilayah/pulau itu tidak segan-segan
membuat masalah teritorial. Sehingga pemerintah Indonesia perlu
membuat suatu perencanaan sistem pembangunan nasional yang
berorientasi pada pertahanan. Sistem pembangunan yang berorientasi
pada pertahanan ini sangat diperlukan terutama dalam menjaga
kedaulatan dan keutuhan bangsa sehingga konflik Laut Cina Selatan dan
kejadian pulau Sipadan-Ligitan, tidak terulang kembali.

Belum lagi kualitas pendidikan penduduk Indonesia masih yang


sangat rendah, oleh karena itu sangat penting bagi Indonesia untuk
membenahi sistem pendidikannya yang diimbangi pendidikan bela
negara. Karena kualitas pendidikan sangat berkaitan dengan kualitas bela
negara suatu bangsa, semakin tinggi kualitas pendidikan suatu bangsa,
maka kualitas bela negaranya pun harus tinggi.

Dengan merubah sistem pembangunan, sistem pendidikan dan


sistem pertahanan, maka negara ini akan memiliki bangsa yang kuat yang
dapat mempertahankan, memperjuangkan, menjaga, mengelola, bahkan
berani melawan klaim dari negara lain atas teritori/wilayahnya.

Universitas Pertahanan Indonesia


11

3.2 Nawa Cita Pemerintah Indonesia

Peluang tentu saja sangat besar saat ini untuk membangun wilayah
terluar dan perbatasan sebagai halaman depan negara yang berdaya
saing menuju Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian
berlandaskan gotong royong. Hal ini sejalan dengan Nawa Cita ketiga
pemerintahan yakni membangun Indonesia dari pinggiran dengan
memperkuat daerah-daerah dan dalam kerangka Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI).

Pemerintahan Jokowi berjanji akan menerbitkan sembilan


Peraturan Presiden tentang tata ruang kawasan perbatasan negara
sebagai dasar dan pijakan penyusunan, penganggaran dan pelaksanaan
pembangunan kawasan perbatasan negara. Pemerintah melalui Badan
Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) berjanji akan
mensosialisasikan batas wilayah negara dan pengembangan wawasan
kebangsaan/bela negara kepada para tokoh masyarakat, tokoh agama,
tokoh adat dan tokoh pemuda sebagai penguatan garda batas.

3.3 Komunitas ASEAN

Setiap negara pasti tidak akan rela kehilangan sejengkal


wilayahnya, sehingga hal ini yang menjadikan permasalahan ini sangat
sensitif. Sebab itu, permasalahan ini tidak boleh didiamkan. Faktanya,
ASEAN hanya sedikit memiliki dokumen-dokumen yang menyinggung
solusi soal sengketa wilayah sehingga tujuan untuk membentuk komunitas
ASEAN yang solid masih jauh.

Perlunya ”pengorbanan” setiap anggota dengan ”membagi”


sebagian wilayah untuk dilebur ke dalam suatu nilai-nilai bersama dalam
membentuk komunitas ASEAN yang kokoh. Setidaknya, ada pertanda
baik kalau ASEAN sudah mulai mengangkat unsur-unsur kedaulatan itu
menjadi suatu nilai bersama. Kemajuan lain, prinsip non-interferensi (tidak
boleh campur tangan) mulai ditembus. Akan tetapi, ada keengganan
menyentuh lebih dalam masalah sengketa perbatasan. Ini

Universitas Pertahanan Indonesia


12

mengindikasikan masih besarnya resistensi untuk melonggarkan urusan


kedaulatan.

Masalah perbatasan berpotensi besar menimbulkan konflik. Hal ini


sebisa mungkin harus dihilangkan dengan menyelesaikan sengketa
perbatasan. Hilangnya sengketa perbatasan membuat kedaulatan lebih
terjamin. Bagaimana menyelesaikannya? Dibutuhkan upaya terkoordinasi
dengan mekanisme lebih sederhana dan bisa diterima semua pihak.
Tanpa ini, penyelesaian masalah perbatasan sering butuh waktu lama.
Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda pernah mengatakan, bahwa
penyelesaian masalah perbatasan antara Indonesia dengan Vietnam saja
dibutuhkan lebih dari 30 tahun. Penyelesaian perbatasan Indonesia
dengan Singapura di segmen barat dibutuhkan waktu lima tahun.

Penyelesaian sengketa perbatasan melalui International Court of


Justice (ICJ) di Den Haag juga membutuhkan waktu yang lama dengan
biaya yang besar. Sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan, misalnya, selesai
dalam delapan tahun. Padahal di antara negara-negara ASEAN, ada
cukup banyak sengketa perbatasan yang butuh penyelesaian.

Maka dari itu, selayaknyalah bila ASEAN sebagai sebuah


organisasi kawasan mendorong secara politis agar sengketa-sengketa
perbatasan di antara negara-negara anggotanya segera diselesaikan.
Tuntasnya masalah perbatasan pada akhirnya juga akan memperkuat
upaya-upaya untuk memperkuat saling percaya (confidence building
measures). Hal ini masuk dalam kerangka kerja menuju komunitas politik
dan keamanan ASEAN.

Sebagaimana disampaikan Menlu Hassan ketika berpidato seusai


penandatanganan perjanjian perbatasan Indonesia dengan Singapura,
segmen barat (2009), tuntasnya masalah perbatasan akan semakin
memperkuat kerja sama di antara kedua negara karena hilangnya ”batu-
batu” yang bisa menjadi sandungan dalam hubungan dua negara.

Maka, inilah saatnya ASEAN lebih berani mendorong negara-


negara anggota menuntaskan sengketa-sengketa perbatasannya. Akan

Universitas Pertahanan Indonesia


13

lebih baik lagi bila ASEAN juga mampu membuat semacam pedoman
penyelesaian masalah perbatasan tersebut daripada bertikai.

3.4 Rujukan bersama

Dalam penyelesaian masalah perbatasan sesungguhnya telah


cukup banyak rujukan yang bisa dipakai. Di antaranya ada United Nations
Convention on the Law of the Sea (Konvensi PBB tentang Hukum
Kelautan). Selain UNCLOS, terdapat sejumlah keputusan ICJ yang bisa
dijadikan acuan dalam perundingan masalah perbatasan. Penyelesaian
perbatasan laut untuk segmen barat antara Indonesia dengan Singapura,
dengan membuat rujukan bersama sebagai pedoman penyelesaian
masalah perbatasan, juga menjadi contoh baik.

Akan tetapi, dalam banyak penyelesaian masalah perbatasan,


keberadaan itikad baik dari pihak-pihak yang bersengketa juga menjadi
modal utama yang sangat menentukan. Sayangnya, banyak pihak lebih
senang ”menggantung” masalah perbatasan ini karena berbagai
pertimbangan yang lebih banyak berbobot politis.

Universitas Pertahanan Indonesia


14

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

1) Dalam analisa penulis membentuk suatu kesimpulan bahwa negara


asing baik yang berbatasan langsung ataupun tidak berbatasan
langsung dengan Indonesia tidak segan-segan mengganggu
kedaulatan NKRI bila pembanguan wilayah teritorial perbatasan dan
pulau-pulau terluar tidak berorientasi pada pemerataan
pembangunan, pendidikan dan pertahanan.

2) Pemerintahan Jokowi memberikan kesempatan untuk mewujudkan


pembangunan yang merata di wilayah teritorial perbatasan dan
pulau-pulau terluar Indonesia sesuai dengan Nawa Citanya yang
ketiga.

3) Kurangnya perhatian ASEAN dalam menyelesaikan konflik-konflik


yang terjadi di Laut Cina Selatan sehingga untuk membentuk
komunitas ASEAN yang solid masih sebatas angan-angan.

4) Rujukan yang sama seperti UNCLOS 1982 dapat dijadikan acuan


penyelesaian konflik-konflik perbatasan.

4.2 Saran

1) Dengan merubah sistem pembangunan tersebut maka negara


Indonesia akan memiliki bangsa yang kuat, yang dapat
mempertahankan, memperjuangkan, menjaga, mengelola bahkan
berani melawan klaim dari negara lain.

2) Perlunya dukungan yang sepenuhnya dari masyarakat agar Nawa


Cita yang ketiga dari Pemerintahan Jokowi ini dapat direalisasikan
secepatnya.

Universitas Pertahanan Indonesia


15

3) Demi membentuk komunitas ASEAN yang kokoh maka dipandang


perlu pengorbanan setiap anggota ASEAN dalam membagi sebagian
wilayahnya untuk dilebur ke dalam suatu nilai-nilai bersama sehingga
negara di luar kawasan tidak akan berani mengganggu lagi.

4) Perlunya menyelesaikan permasalahan perbatasan dengan


menggunakan rujukan bersama seperti UNCLOS 1982 dan
mengutamakan itikad baik dari pihak-pihak yang bersengketa.

Universitas Pertahanan Indonesia


16

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Ras, Abdul Rivai. (2001). Konflik Laut Cina Selatan dan Ketahanan
Regional Asia Pasifik: Sudut Pandang Indonesia. Jakarta: Yayasan
Abdi Persada Siporennu Indonesia (APSINDO).

Supriyanto, Makmur. (2014). Tentang Ilmu Pertahanan. Jakarta: Yayasan


Pustaka Obor Indonesia.

Susanto dan Munaf, Dicky R. (2015). Komando dan Pengendalian


Keamanan Dan Keselamatan Laut: Berbasis Sistem Peringatan
Dini. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2002 tentang


Pertahanan Negara.

WEBSITE

BBC Indonesia.(2011, 21 Juli). Sengketa Kepemilikan Laut Cina Selatan.


http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2011/07/110719_spr
atlyconflict. Diakses pada tanggal 26 September 2015.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Kabupaten Natuna. (2015).


Investasi. http://www.natunakab.go.id/investasi.html. diakses pada
tanggal 26 September 2015.

Kompas.com. (2009, 22 Maret). Potensi Konflik Karena Masalah


Perbatasan. http://internasional.kompas.com/read/009/03/22/05213
018/Potensi.Konflik.karena.Masalah.Perbatasan. Diakses pada
tanggal 24 September 2015.

Kompasiana. (2013, 28 Januari). Laut Cina Selatan: Problematika dan


Prospek Penyelesaian Masalah. http://hukum.kompasiana.com
/2013/01/28/laut-cina-selatan-problematika-dan-prospek-penyelesai
an-masalah-making-the-long-story-short-artikel-ini-sebagian-besar-
bersumber-dari-tulisan-ralf-emmers-nanyang-technological-universi
ty-singapura-yan-529409.html. Diakses pada tanggal 24 September
2015.

Universitas Pertahanan Indonesia


17

Paath, Carlos KY. Suara Pembaruan. (2015, 9 Januari). Pemerintah Ingin


Jadikan Perbatasan Sebagai Halaman Depan Negara.
http://www.beritasatu.com/nasional/239372-pemerintah-ingin-
jadikan-perbatasan-sebagai-halaman-depan-negara.html. Diakses
pada tanggal 26 September 2015.

Saripedia.com. (2011, 21 Desember). Pulau Natuna Menyimpan


Cadangan Gas Alam Terbesar DI Asia Pasifik.
https://saripedia.wordpress.com/tag/potensi-migas-natuna/. Diakses
pada tanggal 26 September 2015.

Universitas Pertahanan Indonesia


18

UNIVERSITAS PERTAHANAN INDONESIA

PERTAHANAN WILAYAH TERITORIAL INDONESIA DALAM


MENGHADAPI KONFLIK LAUT CINA SELATAN

MAKALAH

RIANDI YUDHA GUNAWAN


120150205019

FAKULTAS MANAJEMEN PERTAHANAN


PRODI KEAMANAN MARITIM

BOGOR
SEPTEMBER 2015

Universitas Pertahanan Indonesia


19

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………… i

DAFTAR ISI…………………………………………………………… ii

DAFTAR GAMBAR………………………………………………….. iii

I. PENDAHULUAN………………………………………………. 1
1.1 Latar Belakang …………………………………………... 1
1.1.1 Faktor-Faktor Penting…………………………. 3
1.1.2 Sengketa Wilayah Antar Negara…………….. 3
1.1.3 Peranan ASEAN………………………………… 5
1.2 Rumusan Masalah……………………………………… 6
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA
PEMIKIRAN…………………………………………………….. 7
2.1 Tinjauan Pustaka………………………………………… 7
2.1.1 Pertahanan Negara……………………………… 7
2.1.2 Teritori/Wilayah………………………………….. 8
2.1.3 Teritorial…………………………………………... 8
2.2 Kerangka Pemikiran…………………………………….. 9
III. PEMBAHASAN………………………………………………… 10
3.1 Pembangunan Pulau-Pulau Terluar…………………… 10
3.2 Nawa Cita Pemerintah Indonesia……………………… 11
3.3 Komunitas ASEAN……………………………………….. 11
3.4 Rujukan Bersama………………………………………… 13
IV. KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………. 14
4.1 Kesimpulan……………………………………………….. 14
4.2 Saran………………………………………………………. 14

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………….. 16

Universitas Pertahanan Indonesia


20

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1: Gambaran Klain Tiongkok di Laut Cina Selatan……. 2

Gambar 2: Kerangka Pemikiran Penulis………………………….. 9

Universitas Pertahanan Indonesia