Anda di halaman 1dari 4

Seperti pasangan lain ketika menghabiskan waktu dipantai, Sia dan Evans bermain kejar-kejaran.

Bermula dari Sia yang iseng ngerjain Evans dan membuat mereka kejar-kejaran.

Evans beberapa kali berhasil menangkap Sia tapi Sia berhasil kabur dan berlari yang membuat Evans
kembali mengejarnya.

Dengan kegiatan itu saja mereka sudah sangat bahagia. Tak pernah terbayangkan beban yang mereka
rasakan tujuh tahun tiba-tiba sirna hanya dengan memandang dan berbicara berdua.

Evans kembali menangkap Sia dan saat ini Evans tidak akan membuat Sia bisa kabur lagi.

“Aku capek Vans, mau minum haus nih” rengek Sia

“Yaudah duduk dulu yuk. Aku ambilin minum di mobil” ujar Evans

“No, biar aku aja yang ambil. Kamu duduk manis aja disini. Aku mau ambil jaket juga dimobil. Udara
mulai dingin disini”

“Okay. Aku tunggu disini kalo gitu” ujar Evans kemudian duduk dipasir. Kemudian Sia pergi kearah mobil
mengambil air dan jaket miliknya.

Evans memainkan hp nya setelah kepergian Sia. Akun media sosial Sia ternyata membuat story. Evans
membuka postingan itu.

Oh jadi ini yang dibuat Sia tadi dimobil batinnya.

Sesaat kemudian Sia kembali dengan air ditangannya dan jaket yang bertengger di badannya.

Evans langsung mengarahkan kameranya ke Sia. Terlihat blitz kamera yang mengarah ke Sia. Sia terlihat
kaget karna difoto tiba-tiba membuat tangannya berusaha menutupi kamera.

“Aku mau foto kamu. Ayok siap siap” suruh Evans. Sia menuruti kemauan Evans. Berpose layaknya
model terkenal.

“Like this?” tanyanya sambil berpose. Blitz kembali muncul. Sia kemudian melangkah mendekati Evans
sambil menutup wajahnya malu

“Aku mau lihat hasilnya” ujar Sia

“Kamu lucu, kepantai pake baju beginian” ujar Evans disertai kekehan.

“Siapa yang maksa mau ke pantai? Aku kan udah bilang jangan kepantai. Baju aku kaya begini. Kaya mau
kepesta” kesal Sia

“Siapa suruh nggak mau ganti baju”

“Aku nggak bawa baju”

“Aku bawain kamu baju tadi tuh dimobil”

“Kok kamu nggak bilang bawain aku baju?” kesal Sia

“Kamu nggak nanya” berdebat dengan Sia bukannya membuat dia badmood tapi malah senang. Evans
menyukai wajah merajuk Sia saat ini.
“Gih sana ambil. Trus ganti di wc kafe itu sekalian kita makan malam dulu disana. Nanti malah masuk
angina lagi” suruh Evans. Sia langsung saja berjalan menuju mobil tanpa menghiraukan Evans.

Tadi Sia dijemput oleh Evans dikantornya setelah menghadiri acara peresmian. Melihat langit yang
semakin sore, Sia memutuskan untuk langsung pergi saja tanpa pulang untuk mengganti pakaiannya.

Sambil menunggu Sia mengganti bajunya di wc, Evans mengirim postingan di feed media sosialnya. Foto
yang dia ambil tadi.

She is mine

Dia baru merasakan kembali kasmaran dengan usia yang sudah dewasa ini. Membayangkannya saja
Evans bisa tertawa sendiri.

“Kamu kenapa ketawa sendiri? Gila ya” ujar Sia saat duduk dihadapan Evans

“Iya aku gila gara-gara kamu” ucap Evans sambil tersenyum

“Dihh gombal aja trus. Udah pesen?” tanya Sia

“Udah. Tinggal nunggu aja. Jadi abis ini mau ke pasar malam?”

“Jadi dong. Mau naik wahana aku” ujar Sia semangat.

“Kamu ngirim apa sih di instagram? Kenapa Bela neror aku bilang selamat selamat?” tanya Sia setelah
hp nya penuh pesan dari Bela

“Liat aja sendiri” jawab Evans sambil tersenyum.

***

Setelah menyelesaikan acara makan malam mereka, Sia langsung memaksa Evans untuk segera ke pasar
malam. Rasanya Sia sudah sangat lama tidak pergi jalan-jalan ke pasar malam. Apalagi bersama dengan
Evans.

Saat turun dari mobil, Sia menerima banyak sorotan mata dari para wanita disana. Pandangan penuh
dengan keirian, kekaguman dan bahkan Sia dipandang dengan penuh sinis. Sia hanya bergidik ngeri.

Sia melingkarkan tangannya di tangan Evans penuh mesra. Bergelayut dengan manja hingga membuat
Evans terheran-heran. Ada apa dengan kekasihnya itu? Tunggu mereka bahkan belum membahas
apakah mereka masih sepasang kekasih atau mantan yang kembali dekat. Ingatkan Evans untuk
membahasnya nanti. Saat ini perhatian Evans terfokus pada ekspresi Sia yang begitu imut. Ekspresi
merajuknya.

“Kenapa?” tanya Evans.

“Aku cuman mau kasi tau kalo kamu itu milik aku” jawabnya.
“Cemburu heh?” Sia hanya melirik nya sebal tapi tak ayal pipinya merah menahan malu.

“Siapa suru ganteng banget sih. Kan aku banyak saingannya” kesal Sia

“Itu gombalan atau apa? Lagian nggak akan ada yang bisa jadi saingan kamu. Hati aku kan udah kamu
curi”

“Kamu juga ikutan ngegombal hah?” setelahnya terdengar kekehan dari mereka berdua.

“Mau naik wahana apa dulu nih?” tanya Evans

“Kincir angin? Gimana?”

“Lets go!!!” ujar Evans penuh semangat.

Mereka mulai memasuki antrian wahana kincir angin.

“Mari kita lihat, apakah ada perubahan kota Jakarta setelah tujuh tahun ini?” ujar Evans sambil
memegang tangan Sia menaiki kincir angina itu.

Kincir angin itu mulai berputar membuat Evans dan Sia bisa melihat kota Jakarta dengan versi yang lebih
indah. Gedung-gedung pencakar langit tampak mengecil dengan lampunya yang terlihat seperti kelap
kelip yang indah.

Saat sedih mereka habiskan disini. Dan saat senang, mereka habiskan pula disini. Kincir angin ini penuh
dengan kenangan.

“Kamu nggak mau nembak aku?” tanya Sia saat mereka mulai larut dalam indahnya pemandangan kota
Jakarta

“Atau ngajak balikan gitu?” lanjutnya

“Emang kita pernah putus? Seinget aku, aku nggak pernah mutusin kamu. Kamu juga nggak pernah
bilang putus kan?” jawab Evans dengan senyuman

“Tapi kamu ngilang tujuh tahun tanpa kabar. Itu artinya bukannya kita putus?”

“Kita nggak putus sayang. Kita cuman berantem sampe tujuh tahun. Dan yang penting kan kita udah
baikan”

“Jadi kita masih pacaran kan?” ujar Sia memastikan

“Tentu sayang” ujar Evans sambil memeluk Sia.

“Setelah aku nyium kamu, masa iya kita nggak pacaran. Tapi kamu mau kan nunggu aku? Aku cuman
bisa ikat kamu lewat pacaran dulu. Aku mau beresin keluarga aku yang hancur ini dulu. Nggak papa
kan?”

“Nggak papa sayang. Aku bakalan nunggu kamu. Tapi jangan lama-lama ya. Aku udah capek nungguin
kamu tujuh tahun ini. Jangan buat aku nungggu lama-lama lagi” ujar Sia

“Iya sayang. Aku udah punya planning kok kedepannya gimana. Tapi semua butuh waktu aja. Dua tahun
cukup lah”
“Nggak. Dua tahun itu kelamaan. Lima bulan. Aku kasih kamu waktu lima bulan”

“Sayang, aku nggak akan bisa nuntasin semuanya dalam waktu sependek itu. Satu tahun setengah aja
ya” tawar Evans.

“Bela sama Arcel udah nikah. Masa kita harus nunggu selama itu? Aku mau anak aku besok nggak beda
jauh umurnya sama anak mereka. Pokoknya satu tahun lagi. Itu final. Iya atau nggak sama sekali”

“Oke oke satu tahun. Dalam satu tahun itu aku janji semua urusan keluarga ku selesai. Dan aku bakalan
balik trus aku ajak kamu nikah”

“Ngajakinnya pake cara yang romantic ya”

“Iya ih cerewetnya tuan putri ku ini” ujar Evans sambil mencubit hidung Sua gemas

“Aku cinta kamu Evans”

“Dan aku jauh lebih cinta sama kamu Sia. Biarkan kincir angin ini jadi saksi bisunya” ujar Evans sambil
mencium kening Sia lama.