Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH MANAJEMEN MENGHADAPI

RESPON SAKIT DAN PENYAKIT

OLEH:

KELOMPOK 4

1.AZZARA LENDRY (183310801)

2.HANIFA PUTRI (183310807)

3.HUKAMA ARIBI (183310809)

DOSEN PEMBIMBING:

MUSLIM M.Ag

PRODI NERS KEPERAWATAN POLTEKES


KEMENKES RI PADANG
2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sakit merupakan keadaan dimana terjadi suatu proses penyakit dan keadaan dimana
fungsi fisik, emosional, intelektual, sosial dan perkembanganatau spiritual seseorang
berkurang atau terganggu (Perry & Potter, 2005).Sakit dapat diartikan sebagai gangguan
dalam fungsi yang normal daritotalitas organisme sebagai sistem biologis dan adaptasi sosial
(Pearson,1997).

Menurut Mechanic (1992) seseorang yang sedang sakit umumnya mempunyai


perilaku yang meliputi cara seseorang memantau tubuhnya,mendefinisikan dan
menginterprestasikan gejala yang dialaminya dan melakukan upaya penyembuhan dan
menggunakan sistem pelayanan kesehatan (Perry &Potter, 2005). Sakit dapat menyerang
semua tingkat usia termasuk menyerang remaja yang dijadikan obyek pada penelitian ini.

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa yang
meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki dewasa (Rochman,
2005). Ketika remaja sakit dan dirawat dirumah sakit akan memiliki koping yang sesuai
dengan tahap perkembangannya (Sachari, 1999). Semakin muda anak maka akan semakin
sulit baginya untuk menyesuaikan diri dengan pengalaman dirawat di rumahsakit (Wong,
2000).

Dampak sakit pada remaja dan keluarga bisa menyebabkan suatu perubahan akibat
kondisi sakit, dimana remaja dan keluarga umumnya akan mengalami perubahan perilaku dan
emosional tergantung pada asal penyakit, sikap remaja dalam menghadapi penyakitnya (Perry
& Potter, 2005). Jika remaja mengalami sakit, sementara keluarga tidak dapat mengatasi
sendiri kondisi tersebut maka perlu bantuan petugas kesehatan dengan membawa ke Rumah
Sakit (RS) agar diberi pertolongan perawatan dengan cepat untuk melengkapi, mengatasi atau
meringankan penyakit, yang bertujuan untuk menyembuhkan atau memperbaiki status fisik
dan mental (Sacharin, 1999).

Perawatan rumah sakit atau hospitalisasi pada remaja merupakan suatu proses baik
karena suatu alasan yang berencana atau darurat, yang mengharuskan remaja untuk tinggal di
RS untuk menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali ke rumah. Menurut
beberapa penelitian, selama proses hospitalissai, remaja dan orang tua dapat mengalami
berbagai kejadian atau reaksi yang ditunjukkan dengan pengalaman yang sangat traumatik
dan penuh dengan stres. Selama hospitalisasi remaja akan mengalami suatu perasaan berupa
kecemasan, marah, sedih, takut dan merasa bersalah. Pada umumnya reaksi remaja terhadap
sakit adalah kecemasan yang disebabkan oleh perpisahan dengan teman sebaya atau
kelompok, kehilangan kontrol (identitas), cedera tubuh dan nyeri, takut pada kehidupan dan
kematian, privasi (Supartini, 2004, Wong, 2000).
Perasaan tersebut dapat timbul karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum
pernah dialami sebelumnya, rasa tidak aman dan tidak nyaman, perasaan kehilangan sesuatu
yang dirasakan menyakitkan, hal ini juga dirasakan oleh orang tua remaja, dimana
berdasarkan hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mengalami
kecemasan yang tinggi saat perawatan di rumah sakit dapat dirasakan oleh orang tuanya.
Reaksi remaja terhadap hospitalisasi dapat ditunjukkan dalam berbagai perilaku sebagai
reaksi terhadap pengalaman hospitalisasi yang bersifat individual, dan tergantung pada usia
remaja, pengalaman sebelum sakit, sistem pendukung yang tersedia, dan kemampuan koping
yang dimilikinya (Supartini, 2004).

Remaja yang masuk dan dirawat di rumah sakit dalam keadaan sakit yang parah
ataupun tidak parah pada dasarnya tetap mengalami kecemasan dengan derajat cemas yang
berbeda-beda, dimana kecemasan remaja muncul karena adanya suatu pengalaman trauma
yang memerlukan suatu pengertian dari pihak keluarga maupun perawat (Stuart, 1998).
Kecemasan remaja dapat diekspresikan melalui perubahan fisiologis, perilaku, kognitif, dan
afektif, dimana perubahan fisiologis terhadap kecemasan, seperti nafsu makan hilang, telapak
tangan berkeringat dingin, perubahan perilaku, seperti gelisah, menarik diri, kurang
koordinasi, perubahan kognitif seperti bingung, takut, perhatian terganggu dan perubahan
afektif, seperti tidak sabar, tegang, mudah terganggu (Hawari, 2001).

Tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan remaja yang dirawat di


Rumah Sakit sehingga dapat dijadikan rujukan oleh perawat untuk mengetahui faktor-faktor
yang menyebabkan kecemasan remaja yang menjalani hospitalisasi dan dapat digunakan
untuk mengatasi kecemasan dengan mengurangi atau menghilangkan faktor-faktor tersebut.

B. Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Empati dan Simpati serta apa perbedaan dari keduanya?

2. Bagaimana permecahan terhadap masalah ini?

C. Tujuan Penulisan

Penulisan kami kali ini bertujuan untuk memberikan solusi terhadap masalah diatas.
Selain itu penulisan ini kami buat untuk memenuhi tugas makalah manajemen menghadapi
respon sakit dan penyakit.Demikianlah penulisan ini kami buat semoga bermanfaat bagi
semuanya terkhusus bagi penulis.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Empati

Empati dapat diartikan sebagai suatu keadaan jiwa yang merasa iba melihat
penderitaan orang lain dan terdorong dengan kemauan sendiri untuk menolongnya tanpa
mempersoalkan perbedaan latar belakang agama, budaya, bahasa, kebangsaan, etnik,
golongan dan sebagainya. (Abuddin Nata)

Sebagi seorang manusia rasa empati sudah terkandung pada jiwanya,karena empati
dapat membantu seseorang untuk menjelaskan dan mengkaji perasaan mereka sehingga
pemecahan masalah dapat terjadi.Dengan demikian ,empati dapat diartikan sebagai
merasakan,memahami ,dan menerima apa yang dirasakan seseorang ,dimulai dengan masalah
yang dihadapi seseorang dengan pandangan yang adil ,sensitif,dan objektif untuk melihat
pengalaman yang dimiliki orang lain.Untuk menumbuhkan empati dalam suatu hubungan
tentu membutuhkan waktu.

Menurut kalisch (1971) empati merupakan kemampuan untuk merasakan dunia


seseorang seolah-olah itu adalah dunianya sendiri,tetapi tanpa kehilangan untuk melihat
pembedanya.Untuk menumbuhkan empati dalam suatu hubungan ,tentu membutuhkan
waktu. Lalu bagaimana seseorang itu mengaplikasikannya.

Islam mengajarkan kepada kita unutuk bersikap empati, seperti harus memiliki rasa sifat
pemurah, dermawan, saling membantu, tolong-menolong dan lainnya. Hal ini berkaitan dengan
Firman Allah SWT:

َ ِ‫َو َما يَ ْف َعلُوا ِم ْن َخي ٍْر فَلَ ْن يُ ْكفَرُوهُ ۗ َوهَّللا ُ َعلِي ٌم بِ ْال ُمتَّق‬
‫ين‬
( wa maa yaf’aluu min khoirin falay yukhfaruuh , wallahu ‘aliimum bil-muttaqiin)

Artinya: “Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, Maka sekali-kali mereka tidak
dihalangi (menenerima pahala) nya; dan Allah Maha mengetahui orang-orang yang
bertakwa” (QS. Ali Imran: 115)

....‫اونُوا َعلَى ْالبِرِّ َوالتَّ ْق َو ٰى‬


َ ‫وتَ َع‬....
َ
(wa ta’aawanuu ‘alal-birri wat-taqwaa)

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa” (QS. Al-
Maidah:2).

B. Pengertian Simpati

Simpati adalah kecenderungan untuk merasakan perasaan, pikiran dan keinginan


orang lain. Namun karena melibatkan perasaan, seringkali penilaiannya menjadi subjektif .

Dari Aisyah ra mengatakan :bahwa rasulullah saw. telah bersabda yang artinya

“Sesungguhnya Allah Maha Ramah (Rafiq), dan ia menyukai keramahan dalam


segala perkara.” (HR.Bukhari & Muslim)

Karna Allah SWT. maha ramah lagi menaruh simpati (Rafiq), lantas ia menurunkan
kepada kita keramahan-Nya,kelembutan-Nya.Pengawasan-Nya meliputi kita , rasa belas
kasih dan simpati-Nya melingkari kita dalam semua urusan . Semenjak partikal terkecil
dalam eksistensi manusia dan seluruh benda ciptaan-Nya , semenjak dahulu yang tiada
permulaan hingga esok yang tiada penghabisan . Karena Allah mewajibkan kita untuk
bergaul dan berinteraksi dengan sesama manusia , hewan, dan segala sesuatu dengan
kelembutan dan keramahan.

Allah berfirman dalam QS. Al-an’am ayat 152

َ ‫ َولَ ْو َك‬m‫ قُ ْلتُ ْم فَا ْع ِدلُوا‬m‫ف نَ ْفسًا إِاَّل ُو ْس َعهَا ۖ َوإِ َذا‬
....‫ان َذا قُرْ بَ ٰى‬ ُ ِّ‫ۖ اَل نُ َكل‬....
Artinya : Allah tidak membani seorang jiwa pun, terkecuali sebatas kemampuannya

C. Perbedaan Simpati dan Empati

 SIMPATI

1. Memberikan perhatian terhadap perasaan sedih saja

2. Larut dalam berbagai perasaan duka

3. Cenderung memberikan Pendapat

4. Bersifat Subjektif
 EMPATI

1. Memberikan perhatian yang sama terhadap perasaan duka dan suka

2. Tidak terlalu larut dalam perasaan dukanya

3. Memberikan Pendapat dan lebih memahami keluhan yang berduka

4. Bersifat objektif

E. Pemecahan Masalah

Islam adalah Rahmatan Lil ‘Alamiin,pada kasus ini kita harus mencari solusi yang lebih
mudah dan tidak memberatkan kedua belah pihak serta kita harus menciptakan hubungan
yang baik sesama manusia. Allah berfiman tentang seseorang harus mencari solusi terbaik:

1.QS. Al-insyirah ayat 5

ِ ‫فَإِ َّن َم َع ْال ُعس‬


‫ْر يُ ْسرًا‬
Artinya : Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

2.QS.Ar-ra’d

‫لَهُ ُم َعقِّبَاتٌ ِمنْ بَ ْي ِن يَ َد ْي ِه َو ِمنْ َخ ْلفِ ِه يَ ْحفَظُونَهُ ِمنْ أَ ْم ِر هَّللا ِ ۗ إِنَّ هَّللا َ اَل يُ َغيِّ ُر‬
ۚ ُ‫سو ًءا فَاَل َم َر َّد لَه‬ ُ ‫س ِه ْم ۗ َوإِ َذا أَ َرا َد هَّللا ُ بِقَ ْو ٍم‬
ِ ُ‫َما بِقَ ْو ٍم َحتَّ ٰى يُ َغيِّ ُروا َما بِأ َ ْنف‬
ٍ ‫َو َما لَ ُه ْم ِمنْ دُونِ ِه ِمنْ َو‬
‫ال‬
Artinya:Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka
dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak
merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka
tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Banyak lagi nash-nash Al-Quran maupun hadits yang mengarahkan kepada kemudahan dan
menjauhi kesulitan. Siti Aisyah memberikan gambaran tentang kepribadian Nabi Muhammad
SAW. Berkata:

‫ما خيّر بين امرين االّ اختار ايسرهما مالم يكن اثما‬
Artinya: “Tidak sekali-kali Nabi dihadapkan kepada kedua pilihan kecuali beliau
memilih yang lebih ringan sepanjang tidak jatuh kedalam dosa

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

. Oleh karena itu untuk menciptakan keharmonisan hubungan antar manusia harus ada
rasa empati terhadap orang lain. Empati adalah suatu keadaan jiwa yang merasa iba melihat
penderitaan orang lain dan terdorong dengan kemauan sendiri untuk menolongnya tanpa
mempersoalkan perbedaan latar belakang agama, budaya, bahasa, kebangsaan, etnik,
golongan dan sebagainya
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI. 2005. AL-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: PT Syamil Media
Cipta

Hinchliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Nata, Abuddin. 2004. Perspektif Islam Tentang Pendidikan Kedokteran, Jakarta: Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah

Zahrah, Muhammad Abu. 2008. Ushul Fiqh, Jakarta: Pustaka Firdaus

Anda mungkin juga menyukai