Anda di halaman 1dari 5

Resume Modul 6-7 Pembelajaran IPA di SD

PDGK4202
Modul 6
KB 1 Pembelajaran Sains Terintegrasi
Perkembangan pembelajaran IPA SD dewasa ini mengalami pergeseran dari pembelajaran yang
berpusat pada guru ke arah pembelajaran yang berpusat pada siswa, semua aktifitas dilaksanakan
oleh guru, guru cenderung mendominasi kelas dengan menggunkan ceramah, mendengar sambil
mencatat apa yang diucapkan oleh guru.  Pembelajaran terpadu adalah:
1. Pembelajaran yang beranjak dari suatu tema tetentu sebagai pusat perhatian yang
digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep lain , baik dari bidang studi yang
bersangkutan maupun dari bidang studi lainya.
2. Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang studi yang
mencerminkan dunia nyata.
3. Suatu cara untuk mengajarkan pengetahuan atau keterampilan secara simultan.
4. Merakit atau menggabungkan sejumlah konsep dalam beberapa bidang studi yang
berbeda dengan harapan siswa akan belajar dengan baik.
Makna terpadu dalam pembelajaran IPA adalah adanya keterkaitan antara berbagai aspek dan
materi yang tertuang dalam Kompetensi Dasar IPA sehingga melahirkan satu atau beberapa tema
pembelajaran. Pembelajaran terpadu juga dapat dikatakan pembelajaran yang memadukan materi
beberapa mata pelajaran atau kajian ilmu dalam satu tema. Keterpaduan dalam pembelajaran IPA
dimaksudkan agar pembelajaran IPA lebih bermakna, efektif, dan efisien. Melalui pembelajaran
IPA terpadu, peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah
kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan menerapkan konsep yang telah dipelajarinya.
Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang
dipelajari secara menyeluruh (holistik), bermakna, autentik dan aktif. Berikut ini adlah
Karakteristik Pembelajaran terpadu:
1. Bersifat holistik (berhubungan dng sistem keseluruhan sbg suatu kesatuan lebih dp
sekadar kumpulan bagian)
2. Berpusat pada anak didik
3. Memberi pengalaman langsung kepada siswa
4. Pemisahan materi tidak begitu jelas
5. Menyajikan konsep-konsepberbagai topic
6. Hasil pembelajaran dapat mendorong perkembangan anak
Berikut ini adalah karakteristik, kelebihan dan keterbatasan dari model pembelajaran IPA
Terpadu.
Model karakteristik Kelebihan Keterbatasan
Keterpaduan Membelajarkan ·      Pemahaman ·      KD – KD yang
(integrated) beberapa KD yang terhadap konsep konsepnya beririsan
konsep – lebih utuh berda dalam
konsepnya (holistic) semester atau
beririsan / ·      Lebih efisien kelasyang berbeda
tumpang tindih ·      Sangat ·      Menuntut
kontekstual wawasan dan
penguasaan materi
yang luas
·      Sarana –
prasarana, misalnya
bukubelum
mendukung
Jarring Laba – Menjelaskan ·      Pemahaman ·      KD – KD yang
Laba beberapa KD yang terhadap konsep berkaitan berada
(Webbed) berkaitan melalui utuh dalam semester atau
sebuah tema ·      Kontekstual kelas yang berbeda
·      Dapat dipilih ·      Tidak mudah
tema – tema menemukan tema
menarik yang pengait yang tepat
dekat dengan
kehidupan
Keterhubungan Membelajarkan ·      Melihat Kaitan antara bidang
(connected) sebuah KD, permasalahan kajian sudah tampak
konsep – konsep permasalahan tetapi masih
pada KD tersebut tidak hanya dari didominasi oleh
dipertautkan satu bidang kajian bidang kajian
dengan konsep ·      Pembelajaran tertentu
pada KD yang lain dapat mengikuti
KD – KD dalam
SI, tetapi harus
dikaitkan dengan
KD yang relevan

KB 2  Merancang Pembelajaran Sains Terintegrasi


Secara garis besar Pembelajaran  terpadu dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan cakupan
materi yang akan di integrasikan yaitu :
1. Intrakurikulum : mengintegrasikan topik-topik yang terdapat di dalam satu rumpun
bidang studi misalnya IPA terdiri dari: Biologi,Fisika,Kimia,
2. Interdisiplin ilmu : mengintegrasikan topik atau konsep dalam berbagai disiplin ilmu
Sebagai contoh pembelajaran IPA SD secara Interdisiplin Ilmu yaitu Pembelajaran terpadu
dengan tema pertumbuhan dapat ditinjau dari kajian fisika kimia, dan biologi, yang mana ketiga
kajian tersebut masih dalam satu bidang studi yaitu IPA terpadu. Dari mata pelajaran fisika,
aspek-aspek yang dikaji antara lain: faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada
tumbuhan seperti cahaya, dan suhu. Dari cahaya, materi akan akan dijabarkan menjadi sifat-sifat
cahaya, dispersi cahaya, pemantulan cahaya, dan pembiasan cahaya. Mata pelajaran yang
diterapkan dalam pembelajaran ini mengacu pada partikel-partikel materi (atom, molekul, dan
ion). Dalam tema di atas tersaji pada faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan,
khususnya nutrisi/makanan, air dan mineral. Air termasuk contoh dari molekul senyawa dengan
rumus H2O, selanjutnya mineral merupakan contoh unsur-unsur, seperti kalsium (Ca), kalium
(K), fosfor (P) dan lain-lain. Sedangkan dari mata pelajaran biologi, banyak aspek yang bisa
dikembangkan, misalnya gen, hormon, kelembaban, dan cahaya matahari, khususnya untuk
fotosintesis.  

Modul 7
Evaluasi Proses dan Hasil Belajar IPA

KB 1 Evaluasi Pendidikan di SD, Pengertian, Tujuan, Fungsi dan Prinsip Evaluasi


Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan  ( KTSP ), disebutkan bahwa : penilaian (evaluasi)
bertujuan untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, untuk keperluan perbaikan dan
peningkatankegiatan  belajar siswa, dan untuk memperoleh umpan balik bagi perbaikan
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Menurut Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan adalah peningkatan
kemampuan yang diperoleh peserta didik tidak hanya dari guru selama belajar tetapi juga dari
apa dan siapa (lingkungan) selama peserta didik dalam keadaan bangun (tidak tidur).
Pada tahun 1935 Ki Hadjar Dewantara menyatakan pendidikan atau pengajaran bertujuan untuk
mengembangkan, cipta, rasa, dan karsa peserta didik. Sedangkan pada tahun 1956  pakar
pendidikan B.S. Bloom dan kawan-kawannya menjabarkan lebih rinci tujuan pendidikan, yang
dikenal dengan Taksonomi Tujuan Pendidikan. Rincian taksonomi inilah yang sekarang banyak
dilaksanakan di sekolah.
Dalam taksonomi  tersebut terdapat 3 kawasan/daerah/ranah yaitu :
1. Ranah Kongnitif (Ranah proses berfikir)
2. Ranah afektif (Ranah sikap hidup)
3. Ranah Psikomotor (Ranah ketrampilan fisik).

Mata pelajaran IPA adalah mata pelajaran yang dapat mengembangkan ketiga ranah kongnitif,
afektif dan psikomotor. Melalui kegiatan labolatorium atau kunjungan lapangan dapat
dikembangkan kemampuan psikomotor dan afektif.
Materi (bahan) dan ranah yang harus dilatihkan berpedoman pada tujuan pendidikan nasional
sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Pendidikan Nasional, No. 22 Tahun 2006. Tujuan
pendidikan yang tercantum dalam dokumen ini mencakup.
1. kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan
kurikulum pada tingkat satuan pendidikan.
2. beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah
3. kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan
berdasarkan paduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar
isi,
4. kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang
pendidikan dasar dan menengah.
Evaluasi proses adalah pelaksanaan pengukuran yang bertujuan untuk mengetahui apakah tujuan
pembelajaran sudah dicapai. Jika sudah dicapai, kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan.
Sebaliknya jika tujuan belum dicapai/dikuasai, pendidik harus berupaya untuk mencapai tujuan
tersebut dengan melaksanakan berbagai alternative pembelajaran.
Evaluasi proses sebaiknya dilakukan tertulis agar semua peserta mendapat kesempatan yang
sama mengemukakan jawaban. Namun dengan cara-cara yang diatur secara berhati-hati evaluasi
proses sekali-kali dapat dilakukan secara lisan. Pelaksanan evaluasi proses yang dilaksanakan
secara terus menerus dan berkesinambung akan meningkatkan daya serap peserta didik.
Tingkat penguasaan hasil belajar peserta didik akan lebih akurat  (tepat) pengukurannya kalau tes
hasil belajar dilakukan lebih sering.
KB 2 EVALUASI PROSES BELAJAR IPA DI SD
Didalam KTSP tercantum bahwa tujuan mata pelajaran IPA di SD adalah :
1. Memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
2. Memiliki ketrampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang alam
sekitarnya.
1. 3. Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di
lingkungan sekitarnya.
3. Bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerja sama,
dan mandiri.
4. Mampu menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan
memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
5. Mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk memecahkan suatu
masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
6. Mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga mempunyai
kesadaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
Penilaian proses pembelajaran IPA dibagi atas ranah kongnitif, afektif dan psikomotor. Penilaian
proses pembelajaran yang bersifat kongnitif dilaksanakan dengan lisan atau tertulis dalam bentuk
pertanyaan esai objektif, atau bentuk tes objektif. Penilaian yang menyangkut proses
pembelajaran pengembangan psikomotor dan afektif biasanya dilaksanakan melalui observasi.
Hasil penilaian proses digunakan untuk menentukan kualitas pembelajaran bukan untuk
menentukan nilai peserta didik
KB 3 EVALUASI HASIL BELAJAR IPA DI SD
Setelah mengikuti proses pembelajaran yang selalu di evaluasi proses pelaksanaannya, bilamana
hasil evaluasi kurang baik berarti proses pembelajarannya kurang baik, maka guru langsung
mengadakan perbaikan hingga hasil evaluasi menjadi baik.
Untuk mengukur kemampuan berfikir (kongnitif, C), kemampuan ketrampilan (psikomotor, P),
dan kualitas kepribadian (afektif, A) maka diperlukan alat yang dapat dipercaya yaitu yang
memiliki :
1. Validitas (ketepatan,kesahihan) yang tinggi
2. Keseimbangan sesuai dengan materi yang dipelajarai
3. daya pembeda yang minimal cukup
4. objektivitasnya tinggi, dan
5. reliabilitas (ketepatan) yang tinggi.
Pengembangan ketrampilan di laboratorium adalah kegiatan yang tidak terpisahkan dari kegiatan
kongnitif dan menjadi tanggung jawab guru IPA untuk melaksanakannya.
Pengembangan kualitas kepribadian menjadi tanggung jawab semua pihak di sekolah (guru,
kepala sekolah dan tenaga administrasi) oleh sebab itu pengukuran hasil pembinaan peningkatan
kualitas ini dinilai satu kali dalam satu periode, akhir catur wulan dan akhir tahun. Kualitas
kepribadian (nilainya) tidak mungkin digolongkan dengan kemampuan kongnitif ataupun
kemapuan ketrampilan. 

Anda mungkin juga menyukai