Anda di halaman 1dari 4

TUGAS 3

Jelaskan setiap sub materi berikut ini :


1. Konsep materialitas yang digunakan dalam pengauditan;
2. Hubungan antara materialitas dan bukti audit;
3. Prosedur analitis dalam perencanaan dan pelaksanaan audit;
4. Penilaian materialitas pada level laporan keuangan;
5. Penilaian materialitas pada level neraca;
6. Identifikasi risiko salah saji material dengan menggunakan prosedur analitis.

Tugas 3 diketik dengan huruf Time New Roman 12, Spasi 1,25 dalam format PDF.
Selamat mengerjakan.
WAHYU SUHARTONO
031266245
TUGAS AUDIT
1. Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi,
yang dilihat dari keadaan yang melingkupnya, dapat mengakibatkan perubahan atas suatu
pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi
itu, karena adanya penghilangan atau salah saji itu. Hal itu mengharuskan auditor untuk
mempertimbangkan keadaan yang berkaitan dengan entitas dan kebutuhan informasi pihak
yang akan meletakkan kepercayaan atas laporan keuangan auditan. Contohnya, jumlah
yang material dalam laporan keuangan entitas tertentu mungkin tidak material dalam
laporan keuangan entitas lain yang memiliki ukuran dan sifat yang berbeda. Maka, auditor
dapat menyimpulkan bahwa tingkat materialitas akun modal kerja lebih rendah bagi
perusahaan yang berada dalam situasi bangkrut bila dibandingkan dengan suatu
perusahaan yang memiliki current ratio 4 : 1.
2. Materialitas merupakan satu di antara berbagai faktor yang mempengaruhi pertimbangan
auditor tentang kuantitas (kecukupan) bukti audit. Dalam membuat generalisasi hubungan
antara materialitas dengan bukti audit, perbedaan istilah materialitas dan saldo akun
material harus tetap diperhatikan. Semakin rendah tingkat materialitas, semakin besar
jumlah bukti yang diperlukan dengan kata lain antara materialitas dan jumlah bukti
memiliki(hubungan terbalik). Semakin besar atau semakin signifikan suatu saldo akun,
semakin banyak jumlah bukti yang diperlukan
3. Prosedur Analitis Pada Level Perencanaan
Menurut PSA 22 (SA 329) prosedur analitis didefinisikan sebagai “evaluasi atas informasi
keuangan yang dilakukan dengan mempelajari hubungan logis antara data keuangan dan
nonkeuangan, meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat dengan ekspektasi
auditor.” Definisi ini menekankan pada ekspektasi yang dikembangkan oleh auditor.
Prosedur analitis dapat dilakukan dalam tiga kesempatan selama penugasan audit
berlangsung yakni saat perencanaan, pengujian dan penyelesaian audit.

Prosedur analitis pada tahap perencanaan bertujuan:

a. Memahami kegiatan entitas yang diaudit


Umumnya auditor mempertimbangkan pengetahuan dan pengalaman tentang auditan
yang diperoleh di tahun sebelumnya sebagai titik tolak perencanaan audit tahun
berjalan. Dengan melakukan prosedur analitis, perubahan yang terjadi dapat diamati
dari perbandingan informasi tahun berjalan (yang belum diaudit) dengan informasi
tahun sebelumnya yang telah diaudit. Perubahan tersebut dapat mencerminkan
kecenderungan yang penting atau kejadian spesifik. Contohnya menurunnya
persentase marjin kotor selama beberapa waktu dapat mengindikasikan inefisiensi
kinerja perusahaan.

b. Menunjukkan kemungkinan salah saji


Perbedaan yang tidak diharapkan (fluktuasi yang tidak biasa) antara data keuangan
tahun berjalan yang belum diaudit dengan data keuangan yang dijadikan pembanding
dapat mengindikasikan adanya salah saji atau ketidakberesan akuntansi. Fluktuasi
yang tidak biasa terjadi jika diperkirakan tidak ada perbedaan tetapi kenyataannya
terjadi perbedaan, atau bila diperkirakan terjadi perbedaan, yang ternyata tidak terjadi.
Aspek prosedur analitis ini sering disebut “arahan perhatian” karena prosedur ini
menghasilkan prosedur yang lebih rinci dalam bidang audit khusus di mana terdapat
kemungkinan ditemukannya salah saji.

c. Mengurangi pengujian terinci


Jika prosedur analitis tidak mengungkapkan fluktuasi yang tidak biasa, maka
implikasinya adalah adanya kemungkinan salah saji material telah diminimalisasikan.
Dengan kata lain, pos tersebut tidak memerlukan pengujian rinci, prosedur audit
tertentu dapat dihilangkan, sampel dapat dikurangi, atau pelaksanaan prosedur audit
pada pos tersebut dapat dilaksanakan sesudah tanggal neraca. Prosedur analitis lebih
sering digunakan pada audit keuangan karena data keuangan yang menjadi analisis
dalam audit keuangan memiliki hubungan dan kecenderungan antar berbagai data dari
berbagai akun-akun pencatatan. Walaupun demikian, prosedur analitis juga dapat
digunakan pada audit-audit lain terutama bila data yang digunakan adalah data-data
kuantitatif. Kecenderungan (trend) tingkat kematian bayi, misalnya, dapat digunakan
dalam prosedur analitis pemeriksaan kinerja efektivitas Program Imunisasi Nasional.

Auditor umumnya melakukan beberapa langkah berikut untuk mencapai tujuan-tujuan


prosedur analitis awal, yaitu:
a. Membandingkan angka-angka pada tahun berjalan dengan angka-angka pada
tahun lalu, baik data keuangan maupun data kuantitatif nonkeuangan.
b. Mengidentifikasi fluktuasi-fluktuasi atau kecenderungan-kecenderungan yang
tidak biasa.
c. Mengevaluasi kemungkinan faktor-faktor penyebab terjadinya fluktuasi-
fluktuasi.

Prosedur Analitis Pada Level Pelaksanaan


Dua tujuan utama prosedur analitis yang dilakukan pada tahap pelaksanaan audit atas
saldo akun adalah (1) mengindikasikan kemungkinan terjadinya salah saji dalam laporan
keuangan dan (2) mengurangi pengujian terinci atas saldo. Ada perbedaan mendasar
dalam prosedur analitis yang dilakukan dalam tahap perencanaan dan prosedur analitis
yang dilakukan dalam tahap pengujian. Pada tahap perencanaan, auditor mungkin
menghitung rasio dengan menggunakan data interim. Sedangkan pada tahap pengujian
saldo akhir, auditor akan menghitung kembali rasio itu dengan menggunakan data setahun
penuh. Jika auditor percaya bahwa prosedur analitis yang dilakukan mengindikasikan
kemungkinan terjadinya salah saji, maka prosedur analitis tambahan dapat dilakukan atau
auditor memutuskan untuk memodifikasi pengujian terinci atas saldo. Ketika auditor
menyusun jumlah-jumlah yang diharapkan dengan menggunakan prosedur analitis dan
menyimpulkan bahwa saldo akhir akun-akun tertentu dalam laporan keuangan auditan
dapat diterima (reasonable), beberapa pengujian terinci atas saldo dapat dihapuskan atau
jumlah sampel dikurangi. Standar auditing menyatakan bahwa prosedur analitis dapat
digunakan sebagai pengujian substantif. Karena prosedur analitis relatif lebih murah bila
dibandingkan dengan pengujian-pengujian lainnya, banyak auditor melakukan prosedur
analitis yang luas dalam setiap audit

4. Materialitas pada level Laporan Keuangan

Auditor menggunakan dua cara dalam menerapkan materialitas yaitu:


Pertama, auditor menggunakan materialitas dalam perencanaan audit, dengan membuat
estimasi materialitas karena terdapat hubungan terbalik antara jumlah dalam laporan
keuangan yang dipandang material oleh auditor dengan jumlah pekerjaan audit yang
diperlukan untuk menyatakan kewajaran laporan keuangan.

Kedua, pada saat mengevaluasi bukti audit dalam pelaksanan audit.

Contoh panduan kuantitatif yang digunakan dalam praktik :

a. Laporan keuangan dipandang mengandung salah saji material jika terdapat salah
saji 5 % sampai 10 % dari laba sebelum pajak.
b. Laporan keuangan di pandang mengandung salah saji material jika terdapat
salah saji ½ % sampai 1 % dari total aktiva.
c. Laporan keuangan di pandang mengandung salah saji material jika terdapat
salah saji 1 % dari total pasiva.

5. Materialitas pada level Neraca (Saldo Akun)


Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang mungkin terdapat
dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah saji material. Konsep materialitas pada
timgkat saldo akun tidak boleh dicampuradukkan dengan istilah saldo akun material.
Saldo akun material adalah besarnya saldo akun yang tercatat, sedangkan konsep
materialitas berkaitan dengan jumlah salah saji yang dapat mempengaruhi keputusan
pemakai informasi keuangan. Saldo suatu akun yang tercatat umumnya mencerminkan
batas atas lebih saji ( overstatement ) dalam akun tersebut. Oleh krena itu, akun dengan
saldo yang jauh lebih kecil dibandingkan materialitas seringkali disebut sebagai tidak
material mengenai risiko lebih saji. Namun, tidak ada batas jumlah kurang saji dalam
suatu akun dengan saldo tercatat yang sangat kecil. Oleh karena itu, harus disadari oleh
auditor, bahwa akun yang kelihatannya bersaldo tidak material, dapat berisi kurang saji
( understatement ) yang melampaui materialitasnya.

6. Prosedur analitis yang dilakukan selama penyelesaian audit berguna sebagai telaah akhir
atas salah saji material atau masalah keuangan yang tidak disebutkan selama pengujian
dan membantu auditor dalam memberikan pandangan objektif atas laporan keuangan.
Saat melakukan prosedur analitis selama tahap telaah akhir, yang disyaratkan dalam
standar audit, rekanan biasanya membaca laporan keuangan, termasuk penjelasan
tambahan dan mempertimbangkan hal berikut:

a. Kecukupan bukti yang dikumpulkan atas saldo akun yang tidak lazim atau tidak
diharapkan atau hubungan yang teridentifikasi selama perencanaan atau selama
pelaksanaan audit.

b. Saldo akun yang tidak lazim atau tidak diharapkan atau hubungan yang tidak
teridentifikasisebelumnya Hasil dari prosedur analitis akhir bisa jadi
mengindikasikan bahwa bukti audit tambahan dibutuhkan.

Anda mungkin juga menyukai