Anda di halaman 1dari 12

PELAKSANAAN UNIVERSAL PRECAUTIONS OLEH

PERAWAT PELAKSANA DI RUANG KENANGA


RSUD DR. H. SOEWONDO KENDAL
Dewi Setia Rini *), Maria Suryani **), Taufiq Priyo Utomo ***)

*) Alumni Program Studi S1 Ilmu Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang


**) Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES St. Elisabeth Semarang
***) Dosen Jurusan Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

ABSTRAK

Universal precautions merupakan tindakan pengendalian infeksi sederhana yang digunakan


oleh seluruh petugas kesehatan, untuk semua pasien, setiap saat, pada semua tempat
pelayanan dalam rangka mengurangi resiko penyebaran infeksi. Incident rate infeksi luka
operasi (ILO) di RSUD Dr. H. Soewondo Kendal pada tahun 2016 sebanyak 1,8%. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan pelaksanaan universal precaution oleh
perawat pelaksana di Ruang Kenanga RSUD Dr. H. Soewondo Kendal. Prosedur
pengambilan sampel dilakukan dengan mencari kriteria tertentu yang dianggap representative
bagi populasi target. Berdasarkan hasil penelitian pelaksanaan universal prewcaution oleh
perawat pelaksana tidak sesuai dengan SOP seperti pelaksanaan cuci tangan, pengelolaan
limbah, pengelolaan alat kesehatan berbahan logam. Jenis tindakan universal precaution yang
belum mempunyai SOP yaitu pengelolaan linen, sedangkan tindakan perawat yang sudah
sesuai dengan SOP yaitu penggunaan APD. Kendala yang dihadapi berkaitan dengan
ketidakpatuhan perawat pelaksana, kurangnya supervisi kepala ruang, dan SOP yang belum di
sosialisasikan secara rutin. Faktor pendukung berkaitan dengan ketersediaan sarana dan
prasarana, motivasi, dan penyegaran secara berkala.

Kata Kunci: Pelaksanaan universal precaution, perawat pelaksana

ABSTRACT

The number of healthcare Associated Infections (HAIs) in 10 hospitals in Indonesia reached


to 9,8% in the year of 2010. The incident rate of Surgical Wound Infections (ILO) at Dr. H.
Soewondo General Hospital Kendal Reached to 1,8% in the year of 2016. Universal
Precautions is a controlling measure of simple infections implemented by all health
administers, for all patiens, in all medical offices, to reduce the risk of infections spread. This
research is aimed to determine the implementations of universal precautions by operative
nurse at Kenanga Ward in Dr. H. Soewondo General Hospital Kendal. This research applies
qualitative method with interview and observation. The subject of this research is the
operative nurses who are gathered using purposive method. 6 themes with 17 subthemes are
resulted. Based on the result of the research, the implementation of universal precautions by
the operative nurses is not entirely in accordance with Standard Operating Procedure (SOP),
for example the implementation of washing hands, waste management, and management of
medical equipment made of metal. The type of universal precaution administration that has
not been accordance with SOP is linen management, while the one that has been in
accordance with SOP is the application of Personal Protective Aquipment (PPE/APD). There
are some obstacles happened related with operative nurses’ disobedience, lack of supervision
from the chief of the ward, and the SOP that has not been socialized routinely. There are also
some supporting factors related with the availability of facilities and infastructures,
motivations, and regular refreshment.

Key Words : the implementation of universal precautions, operative nurses

Pelaksanaan universal precautions… (Dewi Setia Rini) 1


PENDAHULUAN mengindikasikan bahwa pelaksanaan
Healthcare associated infections (HAIs) universal precautions di rumah sakit
adalah infeksi yang didapat dari rumah tersebut belum maksimal, sehingga
sakit atau ketika penderita itu dirawat di menimbulkan suatu pertanyaan yang perlu
rumah sakit. HAIs ini baru timbul dijawab peneliti mengenai pelaksanaan
sekurang-kurangnya dalam waktu 3 x 24 universal precautions secara mendalam
jam sejak mulai dirawat, dan bukan infeksi pada rumah sakit tersebut.
kelanjutan perawatan sebelumnya. Rumah
sakit merupakan tempat yang memudahkan Penelitian yang dilakukan oleh Oktarina
penularan berbagai penyakit infeksi dan Soeryandari (2008) tentang
(Anies, 2006, hlm.152). pelaksanaan universal precautions pada
pelayanan kesehatan gigi di dapatkan hasil
Salah satu jenis HAIs yang sering terjadi di dari 30 puskesmas yang ditelit, di dapatkan
rumah sakit, terutama pada ruang rawat hasil kepatuhan dalam pembuangan limbah
inap bedah adalah infeksi luka operasi benda tajam dan jarum sebesar 30%,
(ILO). Infeksi luka operasi (ILO) berdasarkan beban kerja, terjadi
merupakan salah satu komplikasi yang peningkatan jika pasien meningkat
sering terjadi pada pasien pasca bedah sedangkan instrumen terbatas, terutama
(Sjamsuhidajat, 2011, hlm.91). Incident instrumen sterilisasi tidak tersedia di
rate ILO di RSUD Dr. H. Soewondo semua pusat kesehatan.
Kendal pada tahun 2016 sebanyak 1,8%
per 1.823 pasien bedah , artinya pada tahun Menurut Darmadi (2008, hlm.5)
2016 terdapat 33 pasien yang mengalami Pencegahan pengendalian HAIs di rumah
ILO, sedangkan standar Kepmenkes no. sakit saat ini mutlak harus dilaksanakan
129 tahun 2008 tentang kejadian pasca oleh seluruh jajaran manajemen rumah
operasi di rumah sakit sebesar ≤1,5% sakit. Upaya yang dilakukan rumah sakit
(Kepmenkes, 2008, hlm.11). untuk menurunkan kejadian HAIs salah
satunya dengan penerapan universal
Studi pendahuluan yang dilakukan oleh precaution, Upaya tersebut di antaranya
peneliti pada bulan oktober 2016 di ruang hygiene atau penerapan pola kebersihan
rawat inap bedah kenanga RSUD Dr. H. lingkungan perawat dan pasien
Soewondo Kendal. Hasil observasi 6 (Anies,2006, hlm.146).
perawat, didapatkan 3 dari 6 perawat tidak
menggunakan APD saat melakukan Universal precautions adalah tindakan
tindakan injeksi. 6 perawat menggunakan 1 pengendalian infeksi sederhana yang
set peralatan luka yang sama untuk pasien digunakan oleh seluruh petugas kesehatan,
secara bergantian, 6 perawat melakukan untuk semua pasien, setiap saat, pada
cuci tangan hanya setelah kontak dengan semua tempat pelayanan dalam rangka
pasien. Rumah sakit sudah menyediakan mengurangi resiko penyebaran infeksi
tempat sampah infeksius dan non infeksius (Nursalam & Kurniawati, 2011, hlm.82).
namun pembuangan sampah tersebut tidak Peningkatan penerapan universal
sesuai dengan penamaan yang seharusnya. precautions akan secara signifikan
menurunkan risiko HAIs dalam pelayanan
Kasus lain yang pernah terjadi kesehatan (WHO, 2008. ¶4). Oleh sebab
berhubungan dengan indikasi adanya itu kepatuhan dalam menjalankan
HAIs, yaitu pada bulan oktober 2017 satu universal precautions merupakan upaya
pasien saat pulang kerumah mengalami penting dalam pencegahan infeksi terutama
luka terbuka post SC, sehingga pasien pada infeksi luka operasi (ILO).
tersebut harus kembali lagi ke rumah sakit
untuk dijahit ulang. Hal ini

2 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan


Pelaksanaan universal precautions mendapatkan banyaknya jawaban
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor pengulangan antara informan yang satu
internal yang berpengaruh dalam dengan yang lain sehingga informasi yang
pelaksanaan universal precautions pada dibutuhkan sudah dianggap cukup. ,
perawat yaitu pengetahuan dan lama kerja, jumlah partisipan yang diambil dalam
hal ini di dukung penelitian yang dilakukan penelitian ini sebanyak 6 informan yang
oleh Faidah (2015) dengan judul faktor terdiri dari 4 perawat pelaksana sebagai
internal perawat dalam pelaksanaan informan utama, dan 2 orang sebagai
universal precautions di IGD RSUD RAA triangulasi yaitu kepala ruang dan petugas
Soewondo Pati didapatkan hasil bahwa K3 di Ruang Kenanga. Pengumpulan data
faktor yang memiliki pengaruh pada dengan in-depth interview (wawancara
pelaksanaan universal precautions, dimana mendalam) dan observasi.
pengetahuan yang baik memiliki peluang
20 kali untuk melakukan pelaksanaan HASIL PENELITIAN
universal precautions yang baik 1. Pelaksanaan Cuci Tangan
dibandingkan responden yang memiliki Dari hasil analisis data, ditemukan
pengetahuan yang cukup atau kurang. Pada terdapat 7 tema, yaitu tema pertama
responden yang memiliki lama kerja 5 cuci tangan dengan sub tema penerapan
tahun atau lebih memiliki peluang 3,2 kali langkah cuci tangan, dan penerapan 5
lebih baik di bandingkan pada responden moment cuci tangan. Tema kedua APD
dengan lama kerja kurang dari 5 tahun. dengan sub tema tindakan penggunaan
APD masker, prosedur penggunaan
Penelitian lain yang mendukung adalah masker, tindakan penggunaan
penelitian yang dilakukan oleh Khoirudin handscoon, prosedur penggunaan
(2010) dengan judul faktor-faktor yang handscoon steril. Tema ketiga limbah
mempengaruhi perilaku perawat dalam medis dengan sub tema pengelolaan
dalam menerapkan prosedur tindakan limbah benda tajam, pengelolaan
pencegahan universal di Instalasi Bedah limbah infeksius, pengelolaan Limbah
Sentral RSUP Dr Kariadi Semarang, non infeksius. Tema keempat
didapatkan hasil faktor yang memiliki pengelolaan linen, tema kelima
pengaruh adalah faktor pengetahuan pengelolaan alat kesehatan dengan sub
perawat, sikap perawat, motivasi perawat tema pengelolaan alat kesehatan
dan ketersediaan sarana APD. berbahan logam. Tema keenam faktor
penghambat dengan sub tema faktor
METODE PENELITIAN penghambat dari cuci tangan, faktor
Metode Penelitian ini merupakan penghambat dari penggunaan APD,
penelitian kualitatif dengan pendekatan faktor penghambat dari pengelolaan
studi kasus yang mencoba menganalisis limbah medis, faktor penghambat dari
gambaran pelaksanaan universal pengelolaan linen, faktor penghambat
precaution oleh perawat pelaksana di pengelolaan kesehatan berbahan logam.
ruang kenanga RSUD Dr. H. Soewondo Tema ketujuh yaitu faktor pendukung.
Kendal.
Hasil wawancara keempat informan
Populasi dalam penelitian ini adalah dalam praktek pelaksanaan cuci tangan
perawat pelaksana di ruang kenanga RSUD saat wawancara 3 dari 4 informan
Dr. H. Soewondo Kendal sejumlah 20 mempraktekkan 6 langkah cuci tangan,
perawat pelaksana. Dalam penelitian ini dan pada informan kedua tidak
pemilihan jumlah subjek penelitian akan mempraktekan pelaksanaan cuci tangan
berhenti setelah hasil wawancara telah 6 langkah dikarenakan lupa. Hasil
mencapai saturasi data yaitu peneliti observasi didapatkan keempat informan

Pelaksanaan universal precautions… (Dewi Setia Rini) 3


tidak melepaskan semua perhiasan sekiranya tidak berhubungan dengan
tangan termasuk cincin sebelum cairan atau darah pasien tidak perlu
mencuci tangan, keempat informan menggunakan handscoon. Hasil
mencuci tangan < 40 detik, pada observasi tentang jenis tindakan yang
informan kedua melakukan teknik membutuhkan handscoon ditemukan
membersihkan tangan kurang benar, bahwa 2 dari 4 informan tidak
dan keempat informan menutup kran air menggunakan handscoon pada saat
menggunakan tangan, tidak memasang infuse, Alasan yang
menggunakan tissue towel. Hasil dikemukakan penggunaan handscoon
wawancara pada salah satu partisipan, saat pemasangan infus mengurangi
ketidaksesuaian antara pelaksanaan kepekaan pencarian vena sehingga pada
prosedur perawat mengenai cuci tangan saat menusukkan jarum infus tidak tepat
dengan praktek cuci tangan di lapangan mengenai sasaran vena pasien. keempat
dikarenakan sibuk semua kegiatan informan menggunakan handscoon pada
perawat termasuk mengurus saat memasang kateter, 1 dari 4 perawat
administrasi rumah sakit, merawat menggunakan handscoon pada saat
pasien, termasuk mengantar linen kotor mengukur vital sign, 2 dari 4 perawat
ke bagian laundry. Hasil observasi pada menggunakan handscoon pada saat
saat melakukan moment cuci tangan pengambilan sampel darah, keempat
didapatkan keempat informan tidak informan menggunakan handscoon pada
melakukan cuci tangan sebelum kontak saat perawatan luka, keempat informan
dengan pasien dan sebelum melakukan tidak menggunakan handscoon pada
tindakan aseptik, pada informan kedua saat pengambilan linen kotor, keempat
dan ketiga tidak melakukan cuci tangan informan menggunakan handscoon pada
setelah kontak dengan lingkungan saat memberikan obat IV bolus.
pasien
3. Pengelolaan Limbah Medis
2. Pelaksanaan Penggunaan APD Keempat informan mengatakan sampah
APD yang sering digunakan di ruangan non infeksius dipisahkan dalam kantong
kenanga adalah handscoon dan masker. plastik berwarna hitam dengan jenisnya
Cara penggunaan APD 3 dari 4 perawat yaitu tissue, botol plastik, bekas plastik
sudah sesuai dengan standar prosedur. kertas injeksi. Hasil observasi
Penggunaan APD masker digunakan pengelolaan limbah non infeksius di
pada saat melakukan tindakan pada dapatkan keempat informan tidak
pasien dengan penyakit menular. membuang sampah non infeksius
Handscoon digunakan pada saat setelah isinya mencapai 2/3 bagian
melakukan perawatan luka, pemasangan kedalam tempat penampungan sampah
infuse, tindakan injeksi, dan non infeksius sementara yang ada di
pengambilan sampel darah. Penggunaan ruangan. Hasil observasi informan
handscoon pada perawat sering kedua dan informan ketiga membuang
menghemat karena penggunaan APD di sampah kertas (non infeksius) kedalam
ruangan diatur pihak sarana dan kantong plastik berwarna kuning. alasan
prasarana rumah sakit. Rata-rata yang dikemukakan adalah perawat lupa,
informan menjelaskan Alasan perawat sehingga pembuangan sampah tidak
tidak memakai handscoon karena sesuai dengan penamaannya. Hal ini
pengeluaran APD terutama handscoon tidak sesuai dengan standar prosedur
di ruang kenanga merupakan pembuangan limbah infeksius dan non
pengeluaran handscoon terbanyak infeksius yang ada dirumah sakit.
dibandingkan diruangan lain, sehingga
perlu menghemat, tindakan yang

4 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan


Informan ketiga mengatakan limbah linen diruangan belum mempunyai
infeksius dipisahkan dalam plastik standar prosedur sehingga sering
berwarna kuning, jenis dari sampah tampak terjadi penumpukan box linen
infeksius yaitu kassa yang kotor yang terdapat diruangan.
terkontaminasi cairan, set transfusi
darah habis pakai, plabot infus, dan 5. Pengelolaan Alat Kesehatan
spuit, sedangkan limbah jarum Hasil wawancara keempat informan
dipisahkan dalam safety box. Hasil mengatakan proses pencucian alat ini
observasi pengelolaan limbah infeksius dilakukan diruangan yaitu di salah satu
di dapatkan 3 dari 4 informan tidak kamar mandi pasien, pencucian alat
membuang sampah infeksius setelah dilakukan secara sederhana dengan
isinya mencapai 2/3 bagian kedalam merendam alat menggunakan alkohol
tempat penampungan sampah infeksius setelah itu dicuci menggunakan sabun
sementara yang ada di ruangan. Alasan rinso, kemudian sterilisasi alat
yang dikemukakan perawat terbiasa dilakukan oleh CSSD. Hasil wawancara
membuang plastik sampah jika plastik pengelolaan alat kesehatan berbahan
sampah sudah penuh dan sudah tidak logam keempat informan mengatakan
bisa menampung sampah. Hasil bahwa alat yang digunakan untuk
observasi tempat pembuangan sampah merawat luka pasien 1 alat 1 pasien
plastik berwarna kuning tampak sehingga tetap terjaga kesterilannya.
informan ketiga membuang sampah
kertas (non infeksius) yang seharusnya Hasil observasi didapatkan pengelolaan
dipisahkan dalam plastik berwarna alat kesehatan berbahan logam tidak
hitam. sesuai dengan SOP, dari proses
dekontaminasi yang tidak sesuai dan
Hasil observasi 1 dari 4 informan tidak proses pembersihan alat medis. Perawat
memasukkan pecahan ampul setelah juga salah dalam menyebutkan prosedur
digunakan kedalam safety box. Hasil pengelolaan alat kesehatan berbahan
observasi safety box yang digunakan di logam saat diwawancarai. Selain itu
ruangan menggunakan botol bekas hasil observasi perawat menggunakan
alkohol yang dijadikan sebagai alat set kesehatan berbahan logam untuk
pengganti safety box. melakukan tindakan 1 alat perawatan
luka digunakan untuk 3 sampai 4
4. Pengelolaan linen pasien.
Keempat informan mengatakan
pengelolaan linen dilakukan dengan 6. Faktor penghambat pelaksanaan
cara memegang linen menggunakan Universal Precautions
handscoon dan dikumpulkan dalam Hambatan yang ditemukan peneliti
sebuah box. Hasil observasi saat dalam pelaksanaan cuci tangan yang
pengelolaan linen diruangan keempat belum optimal adalah kesibukan
informan ditemukan tidak perawat yang membuat perawat tidak
menggunakan handscoon pada saat mencuci tangan sesuai prosedur, selain
mengambil linen. alasan pengambilan itu ketidakpatuhan dalam pelaksanaan
linen kotor tidak menggunakan cuci tangan menjadi pencetus terjadinya
handscoon yaitu perawat sudah terbiasa, infeksi melalui kontak tangan.
selain itu menghemat ketersediaan APD
yang ada diruangan sehingga tindakan Hambatan yang ditemukan peneliti dalam
yang tidak langsung kontak dengan pelaksanaan pengunaan APD adalah
cairan atau darah pasien tidak perlu perawat terlalu menghemat penggunaan
menggunakan handscoon. Pengelolaan APD sehingga beberapa tindakan yang

Pelaksanaan universal precautions… (Dewi Setia Rini) 5


seharusnya memakai APD perawat tidak handscoon yang terdapat diruangan
menggunakannya, selain itu kurangnya beberapa hanya satu ukuran, mudah
kesadaran perilaku safety. robek dan tipis, tempat pencucian
alat berbahan logam dilakukan di
Hambatan yang ditemukan peneliti dalam kamar mandi pasien dan alat
pengelolaan limbah medis adalah faktor berbahan logam tidak dilakukan
ketidakpatuhan, perawat selalu membuang perendaman dengan menggunakan
sampah plastik jika sudah penuh hal ini cairan desinfektan.
akan meningkatkan resiko kontaminasi. b. Peningkatan kompetensi
Hasil observasi penyegaran secara
Hambatan yang ditemukan peneliti dalam berkala yang dilakukan hanya
pengelolaan limbah medis adalah faktor mencangkup hal cuci tangan dan
ketidakpatuhan, perawat selalu membuang pengelolaan sampah, dari
sampah plastik jika sudah penuh hal ini pengakuan responden penyegaran
akan meningkatkan resiko kontaminasi. berkala yang secara detail tentang
pelaksanaan universal precautions
Hambatan yang ditemukan peneliti dalam seperti halnya bagaimana cara
pengelolaan linen adalah belum adanya pengelolaan alat kesehatan
SOP mengenai pengelolaan linen di berbahan logam, pengelolaan linen,
ruangan, sehingga pelaksanaan penggunaan dan pengelolaan APD
pengelolaan linen belum berjalan belum dilakukan. Selain itu,
maksimal. perawat mengatakan selama ini
belum ada pelatihan khusus yang
Hambatan yang ditemukan peneliti dalam dilakukan rumah sakit tentang
pengelolaan alat kesehatan berbahan logam prosedur universal precautions bagi
adalah kurangnya sosialisasi mengenai keselamatan perawat maupun
pengelolaan alat kesehatan yang benar pasien.
sesuai SOP. Serta kurangnya supervisi dan
evaluasi dalam pengelolaan alat kesehatan. c. Motivasi
Hasil wawancara perawat, 3 dari 4
7. Faktor yang mendukung pelaksanaan perawat mengatakan faktor
Universal Precautions pendukung pelaksanaan universal
a. Faktor pendukung pelaksanaan precautions berjalan dengan baik
universal precautions yaitu “perawat itu sendiri”
Hasil observasi semua fasilitas maksudnya adalah seberapa penting
pendukung tersedia seperti air perawat safety dalam tindakan
bersih, tempat cuci tangan, alat keperawatan.
pelindung diri (handscoon dan
masker), cairan desinfektan atau PEMBAHASAN
sabun, tempat sampah (infeksius 1. Pelaksanaan cuci tangan
maupun non infeksius), alat Cuci tangan merupakan tindakan
kesehatan berbahan logam, alat membersihkan seluruh permukaan
kesehatan non logam, box linen tangan dari kotoran dengan
kotor, dan petunjuk standar menggunakan air dan sabun. Kegiatan
prosedur operasional universal cuci tangan dilakukan untuk mencegah
precautions. Namun pelaksanaan transmisi penyakit infeksi yang
universal precautions belum sesuai ditularkan melalui kontak, dan
dengan SPO yang sudah mencegah terjadinya infeksi rumah sakit
ditentukan, SPO mengenai yang berasal dari petugas kesehatan ke
pengelolaan linen belum tersedia, pasien sebaliknya, dan dari pasien ke

6 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan


pasien lain melalui tangan petugas terburu-buru dan mengambil posisi
(Sigalingging, 2013, Hlm.92). Hasil yang aman.
penelitian ditemukan bahwa prosedur Hasil penelitian tidak sesuai dengan
pencucian tangan yang dilakukan oleh teori Indikasi penggunaan sarung tangan
perawat pelaksana beberapa langkah menurut Maryuni (2011, hlm.378) yaitu
sudah sesuai dengan 6 langkah, namun sarung tangan harus dipakai pada saat
ada hal yang terlewatkan dan belum melakukan tindakan yang kontak atau
dilaksanakan seperti yang ada di standar diperkirakan akan terjadi kontak dengan
prosedur yaitu tidak melepaskan semua darah, cairan tubuh, sekret, kulit yang
perhiasan tangan termasuk cincin tidak utuh, dan benda yang
sebelum mencuci tangan, perawat terkontaminasi, selain itu sarung tangan
mencuci tangan < 40 detik, perawat digunakan pada saat akan
menutup kran air menggunakan tangan, membersihkan sampah terkontaminasi
tidak menggunakan tissue towel. Hal ini atau memegang permukaan yang
sesuai dengan penelitian Fauzia (2014) terkontaminasi.
tentang kepatuhan standar prosedur Hasil penelitian ditemukan bahwa
operasional hand hygiene pada perawat penggunaan handscoon digunakan
di ruang inap rumah sakit malang yang berulang kali, dengan alasan untuk
menunjukkan bahwa hasil observasi penghematan pengeluaran APD karena
dengan menggunakan cek list SPO, penggunaan APD pada perawat
hampir semua palaksanaan langkah cuci dikenakan potongan biaya jasa perawat.
tangan berdasarkan SPO rata-rata masih Alasan lain yang dikemukakan adalah
tergolong rendah yaitu berkisar dari perawat telah terbiasa sehingga dalam
36%-42%. beberapa tindakan tidak menggunakan
handscoon seperti pada saat
2. Pelaksanaan penggunaan APD pemasangan infuse. Penggunaan
Berdasarkan hasil wawancara cara handscoon saat pemasangan infus
penggunaan masker sudah sesuai mengurangi kepekaan pencarian vena
dengan standar prosedur. hal ini sejalan sehingga pada saat menusukkan jarum
dengan penelitian sari (2014) tentang infus tidak tepat mengenai sasaran vena
pengaruh sosialisasi sop apd dengan pasien.
perilaku perawat dalam penggunaan apd
(handscoon, masker, gown) di rsud dr. 3. Pelaksanaan pengelolaan limbah medis
h. soewondo bahwa 80% perawat hasil observasi pemisahan limbah non
melakukan prosedur pemakaian masker infeksius di dapatkan 4 perawat tidak
sudah mematuhi prosedur, 65% perawat membuang sampah non infeksius
tidak membiarkan masker tergantung di setelah isinya mencapai 2/3 bagian
leher saat merawat pasien ataupun kedalam tempat penampungan sampah
setelah digunakan. Penelitian lain yang non infeksius sementara yang ada di
mendukung yaitu penelitian yang ruangan. Hasil observasi 2 dari 4
dilakukan oleh Demak (2014) tentang perawat membuang sampah kertas (non
analisis penyebab perilaku aman kerja infeksius) kedalam kantong plastik
pada perawat di rumah sakit islam berwarna kuning, pada tabel 4.5
asshobirin tangerang selatan yang didapatkan 3 dari 4 perawat tidak
menunjukkan bahwa berdasarkan hasil membuang sampah infeksius setelah
wawancara pada 3 informan, ketiga isinya mencapai 2/3 bagian kedalam
informan menggunakan APD seperti tempat penampungan sampah infeksius
masker sesuai SOP di rs islam sementara yang ada di ruangan. Alasan
asshobirin, hasil observasi perawat yang dikemukakan adalah perawat
mampu bekerja secara hati-hati, tidak terbiasa membuang plastik sampah jika

Pelaksanaan universal precautions… (Dewi Setia Rini) 7


plastik sampah sudah penuh dan sudah yang tidak melakukan kegiatan
tidak bisa menampung sampah padahal desinfeksi jarum. Dari hasil observasi
pengangkutan limbah infeksius dan non didapatkan semua (100%) perawat tidak
infeksius dilakukan setiap hari 3 kali. ada yang mendekontaminasi jarum spuit
Hal ini membuktikan bahwa perawat setelah digunakan untuk tindakan ke
belum patuh dalam pengelolaan limbah pasien (sebelum dibuang).
di ruangan.
4. Pengelolaan linen
Hasil penelitian pada saat observasi Hasil penelitian ditemukan bahwa
dalam tempat pembuangan sampah informan mampu menjelaskan
plastik berwarna kuning tampak bagaimana pengelolaan linen diruangan.
perawat membuang sampah kertas (non Perawat menjelaskan pengelolaan linen
infeksius) yang seharusnya dipisahkan kotor yaitu dengan cara memegang
dalam plastik berwarna hitam. Alasan linen menggunakan handscoon dan
yang dikemukakan adalah perawat lupa, dikumpulkan dalam sebuah box, namun
sehingga pembuangan sampah tidak dilihat dari hasil observasi, perawat
sesuai dengan penamaannya. Hal ini tidak menggunakan handscoon pada
tidak sesuai dengan standar prosedur saat mengambil linen yang
pembuangan limbah infeksius dan non terkontaminasi. Alasan yang
infeksius yang ada dirumah sakit. dikemukakan pengambilan linen kotor
Hal ini bertolak belakang dengan hasil tidak menggunakan handscoon yaitu
penelitian yang dilakukan sholikhah perawat sudah terbiasa, selain itu
(2005, hlm.5-6) tentang pelaksanaan menghemat ketersediaan APD yang ada
universal precautions oleh perawat dan diruangan sehingga tindakan yang tidak
pekarya kesehatan studi kasus di rumah langsung kontak dengan cairan atau
sakit malang unisma yang menunjukkan darah pasien tidak perlu menggunakan
dari hasil wawancara, 90% (7 perawat handscoon.
dan 2 pekarya) tidak pernah melakukan
sendiri pengelolaan limbah medis Menurut darmadi (2008, hlm.89)
berupa alat kesehatan tajam (jarum Penanganan, transport dan proses linen
spuitllanset), tidak ada satupun petugas yang terkena darah, cairan tubuh,
yang selalu melakukan pengelolaan sekresi, ekskresi dengan prosedur yang
limbah medis dan hanya 10% perawat benar. Kemudian untuk pengelolaan
kadang-kadang melakukan pengelolaan linen, memegang linen menggunakan
limbah medis, baik memisahkan antara sarung tangan dan dikumpulkan dalam
limbah medis yang tajam (jarum spuit, sebuah kantung.
lanset) dengan yang tidak tajam (kasa,
kapas yang terkontaminasi) maupun 5. Pengelolaan Alat Kesehatan
melakukan dekontaminasi terhadap Hasil penelitian ditemukan bahwa
jarum spuit yang telah digunakan. proses pengelolaan alat berbahan logan
Perawat dan pekarya mengatakan tidak dilakukan diruangan yaitu di salah satu
mengetahui cara pengelolaan jarum kamar mandi pasien, pencucian alat
spuit. Petugas hanya mengetahui cara dilakukan secara sederhana dengan
pembuangan jarum spuit harus merendam alat menggunakan alkohol
dipisahkan dari sampah lainnya, setelah itu dicuci menggunakan sabun
walaupun masih sering lupa. Mereka rinso, kemudian sterilisasi alat
tidak terbiasa melakukan pengelolaan dilakukan oleh CSSD. Hal ini tidak
jarum spuit dan walaupun ada beberapa sesuai dengan SOP, dari proses
rekan mengetahuinya, perawat dekontaminasi yang tidak sesuai dan
mengakui tetap mengikuti rekan petugas proses pembersihan alat medis. Perawat

8 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan


juga salah dalam menyebutkan prosedur banyaknya petugas kesehatan yang
pengelolaan alat kesehatan berbahan terlalu sibuk sehingga mereka berfikir
logam saat diwawancarai. Selain itu bahwa mencuci tangan hanya akan
perawat menggunakan alat kesehatan menghabiskan banyak waktu, tangan
berbahan logam untuk melakukan yang tidak terlihat kotor, kulit yang bisa
tindakan 1 alat perawatan luka mengalami iritasi bila terlalu sering
digunakan untuk 3 sampai 4 pasien. Hal mencuci tangan.
ini akan menyebabkan penularan pada Hambatan lainnya yang ditemukan yaitu
satu pasien ke pasien lain. ketidakpatuhan. Menurut Siagan (2012,
Hal ini bertolak belakang dengan hlm 6) patuh (compliance) adalah taat
penelitian yang dilakukan oleh Ahsan atau tidak taat terhadap perintah atau
(2013) tentang penurunan insiden ketentuan yang berlaku, dan ini
infeksi nosokomial pasien pasca section merupakan titik awal perubahan sikap
caesarea yang menyebutkan bahwa dan perilaku individu. Tingkat
hasil penelitian tingkat kemampuan kepatuhan perawat dapat dipengaruhi
responden dalam pelaksanaan oleh motivasi, ketersediaan fasilitas,
mencegah penularan dengan sikap dan pengawasan
menyiapkan alat perawatan secara steril (Chrysmadani,2011, hlm.8).
42 (91,3%) dalam kategori baik pada Kesibukan perawat juga menjadi salah
komponen satu set alat steril dalam satu faktor ketidak patuhan perawat
perawatan luka dan menggunakan alat dalam pelaksanaan universal
sesuai standar atau satu pasien satu alat precautions. Hal ini di dukung oleh
disposible. penelitian Erasmus (2010, hlm.11)
Pengelolaan alat kesehatan menurut dengan judul A systematic review of
Nursalam dan Kurniawati (2007, studies on compliance to hand hygiene
hlm.87-94) dapat mencegah penyebaran guidelines in health care yang
infeksi melalui alat kesehatan, atau menyatakan bahwa karakteristik tenaga
menjamin alat tersebut selalu dalam kesehatan dan beban kerja telah diteliti
kondisi steril dan sekali pakai. lebih luas sebagai determinan atau
Pengelolaan alat dilakukan melalui penentu yang potensial dari
empat tahap yaitu proses ketidakpatuhan. Mayoritas untuk saat
dekontaminasi, proses pencucian alat, ini, situasi yang berhubungan dengan
proses desinfeksi, dan sterilisasi. kepatuhan yang rendah adalah mereka
yang dengan tingkat aktivitas yang
6. Faktor penghambat pelaksanaan tinggi dan dalam hal ini seorang
universal precautions perawat merupakan salah satunya.
Hambatan yang ditemukan peneliti Mayoritas untuk saat ini juga, situasi
adalah pelaksanaan universal yang berhubungan dengan tingkat
precautions oleh perawat yang belum kepatuhan lebih tinggi adalah mereka
sepenuhnya sesuai dengan standar yang harus melakukan tugas-tugas 63
prosedur. Perawat tidak melakukan kotor, mereka yang mengenal handrub
pengulangan langkah cuci tangan di alcohol, performance feedback, dan
lapangan dikarenakan sibuk. Hal ini akses ke fasilitas hand hygiene.
sesuai dengan teori Tietjen (2008,
hlm.97) yang menyatakan bahwa PENUTUP
banyak petugas kesehatan yang tidak A. Simpulan
taat dengan prosedur cuci tangan Berdasarkan penelitian yang telah
dengan berbagai alasan diantaranya dilakukan di RSUD dr. Soewondo
insfrastuktur dan peralatan cuci tangan Kendal maka peneliti mengambil
yang letaknya kurang strategis, simpulan sebagai berikut:

Pelaksanaan universal precautions… (Dewi Setia Rini) 9


a. Pelaksanaan cuci tangan 4 perawat f. Faktor penghambat pelaksanaan
belum dilaksanakan secara optimal universal precautions
sesuai dengan SOP. Sosialisasi cuci Faktor penghambat yang ditemukan
tangan yang dilakukan oleh kepala pada saat penelitian yaitu kesibukan
ruang hanya mencangkup 6 langkah perawat, ketidak patuhan
cuci tangan, ada beberapa point SOP perawat,penghematan penggunaan
yang belum dilaksanakan oleh alat habis pakai, kurangnya
perawat pelaksana. sosialisasi, dan ada beberapa
b. APD yang digunakan di ruang pelaksanaan yang belum mempunyai
kenanga yaitu handscoon dan standar prosedur sehingga
masker. Cara penggunaan APD 3 pelaksanaan universal precautions
dari 4 perawat sudah sesuai dengan tidak bisa berjalan optimal
standar prosedur dan kebijakan g. Faktor pendukung pelaksanaan
rumah sakit, namun beberapa jenis universal precautions
tindakan yang seharusnya Faktor pendukung yang ditemukan
menggunakan APD, perawat tidak pada saat penelitian yaitu
menggunakannya. Hal ini disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana,
karena penghematan pengeluaran motivasi dan peningkatan
APD untuk kegiatan yang tidak kompetensi
bersentuhan langsung dengan darah
maupun cairan pasien. B. Saran
c. Pengelolaan limbah medis terdiri dari 1. Manajemen RSUD dr. H. Soewondo
sampah infeksius yang dipisahkan Kendal
dalam plastik berwarna kuning dan a. Pihak manajemen RSUD dr. H.
sampah non infeksius yang Soewondo Kendal dapat
dipisahkan dalam plastik berwarna meningkatkan fasilitas
hitam. Pelaksanaan pengelolaan ketersediaan alat habis pakai APD
limbah medis ini belum optimal agar lebih lengkap sehingga
sesuai dengan SOP. Hal ini perawat dapat terfasilitasi dan
ditemukan 2 dari 4 perawat tidak dapat menerapkan perilaku
membuang sampah sesuai dengan penggunaan APD sesuai dengan
penamaannya dan 3 dari 4 perawat SOP.
tidak membuang sampah non b. Pihak manajemen RSUD dr. H.
infeksius dan infeksius setelah isinya Soewondo Kendal dapat membuat
mencapai 2/3 bagian kedalam tempat SOP untuk pelaksanaan universal
penampungan sampah non infeksius precautions yang belum tersedia
sementara yang ada di ruangan. yaitu pengelolaan linen.
d. Pengelolaan linen belum mempunyai c. Pihak manajemen RSUD dr. H.
standar prosedur sehingga sering Soewondo Kendal dapat
tampak terjadi penumpukan box memberikan pelatihan khusus
linen kotor yang terdapat di ruangan. mengenai Universal Precaution
e. Pengelolaan alat kesehatan, kepada perawat untuk
pengelolaan alat kesehatan berbahan meningkatkan motivasi perawat
logam 4 perawat tidak sesuai dengan dalam pencegahan dan
standar prosedur yang ditetapkan pengendalian infeksi di rumah
oleh rumah sakit. Hal ini dikarenakan sakit.
kurangnya sosialisasi terhadap d. Pihak PPI dan kepala ruang dapat
pengelolaan alat kesehatan berbahan mengoptimalkan supervisi,
logam. pengarahan, pengawasan serta
evaluasi terhadap perawat

10 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan


pelaksana untuk selalu melakukan Kepmenkes. (2008). Standar pelayanan
universal precautions sesuai minimal rumah sakit.
dengan SOP dalam setiap kali perpustakaan.depkes.go.id:8180/b
tindakan, serta punishment bagi itstream//123456789/787/4/BK20
perawat yang tidak patuh 08-G1.pdf diunduh pada tanggal
sehingga dapatmempertahankan 26 Januari 2017
dan meningkatkan perilaku Khoirudin, Afif. (2010). Faktor-faktor
perawat dalam pelaksanaan yang mempengaruhi perilaku
universal precautions perawat dalam menerapkan
2. Bagi Pelayanan Keperawatan prosedur tindakan pencegahan
Hasil penelitian ini dapat universal di instalasi bedah
meningkatkan pelayanan sentral rsup dr kariadi semarang.
keperawatan dalam upaya Skripsi
pencegahan HAIs melalui upaya Kristina, Ni Nyoman. (2014). Pengelolaan
pelaksanaan universal precautions limbah medis.
sesuai dengan SOP dalam menangani http://www.diskes.baliprov.go.id/i
pasien. d/PENGELOLAAN-LIMBAH-
3. Bagi peneliti selanjutnya MEDIS- di unduh pada tanggal 23
Penelitian selanjutnya yang Desember 2016
melakukan penelitian sejenis dapat Maisaroh, Arista, Retty ratnawati, dan
melakukan dengan metode FGD Septi Dewi Rachmawati. (2015).
(focus group discussion) terlebih Studi fenomenologi kebutuhan
dahulu sehingga partisipan benar- dan hambatan perawat dalam
benar memahami permasalahan pelaksanaan resusitasi pada
penelitian yang dilakukan peneliti. kegawatan neonatus prematur di
ruang neonatus rsd dr. Haryoto
DAFTAR PUSTAKA lumajang. The Indonesian Journal
Anies. (2006). Manajemen berbasis of Health Science vol.5 no.2 tahun
lingkungan. Jakarta: Gramedia 2015.
Darmadi. (2008). Infeksi nosokomial http://jurnal.unmuhjember.ac.id/in
problematika dan dex.php/TIJHS/article/view/8
pengendaliannya. Jakarta: diunduh pada tanggal 14
salemba medika desember 2016
Departemen Kesehatan RI. (2008). Maryunani, Anik. (2011). Keterampilan
Pedoman pencegahan dan dasar praktik klinin kebidanan.
pengendalian infeksi nosokomial Jakarta: CV Trans Info Media
di rumah sakit dan fasilitas Nugraheni, R., Suhartono & Winarni, S.,
pelayanan kesehatan lainnya. (2012). Infeksi Nosokomial di
www.depkes.go.id/.../5-pedoman- RSUD Setjonegoro Kabupaten
pencegahan-dan-pengendalian- Wonosobo. Media Kesehatan
infeksi-mers-cov. diunduh pada Masyarakat Indonesia, 11(1), pp.
tanggal 13 Desember 2016 94–100.
Husna, Sarah (2015) Gambaran Praktik Nurjannah, Rina. (2013). Limbah rumah
five moment cuci tangan pada sakit. http://web.rshs.or.id/limbah-
perawat di Rsud Soewondo rumah-sakit/. Diunduh pada
Kendal. Diponegoro university tanggal 24 Desember 2016
institutional repository. Nursalam, & Ninuk Dian Kurniawati.
http://eprints.undip.ac.id/49483/ (2011). Asuhan keperawatan pada
diunduh pada tanggal 14 juli pasien terinfeksi
2017.

Pelaksanaan universal precautions… (Dewi Setia Rini) 11


HIV/AIDS.Jakarta: Salemba care. www.who.int diunduh pada
Medika tanggal 5 juni 2017
Nursalam. (2014). Metodologi penelitian Wulansari, Arini. (2013). Evaluasi
ilmu keperawatan.Jakarta: pengelolaan linen di unit laundry
Salemba Medika rsud kabupaten sidoarjo. Skripsi
Oktarina dan Soeryandari. (2008). Analisis thesis universitas airlangga
pelaksanaan universal precaution Yanti, Lia Fitri. (2013). Faktor-faktor yang
pada pelayanan kesehatan gigi. mempengaruhi perilaku perawat
Berita Kedokteran Masyarakat terhadap pencegahan infeksi
Vol.24, No.2 nosokomial di ruang rawat inap
https://www.scribd.com/document kelas II dan III RSAU Dr. Ernawan
di unduh pada tanggal 30 Januari Antariksa. Jurnal Ilmiah
2017 Kesehatan, 6 (1) halaman 33;
Pancaningrum, D. (2011). Faktor-faktor Januari 2014
yang mempengaruhi kinerja Yulianti, Rosyidah & Haryono, W. (2011).
perawat pelaksana di ruang rawat Hubungan tingkat pengetahuan
inap dalam pencegahan infeksi perawat dengan penerapan
nosokomial di RS Haji Jakarta. universal precaution pada
Tesis. Depok: Universitas perawat di bangsal rawat inap
Indonesia Rumah Sakit PKU
Paramita, Nadia. (2007). Evaluasi Muhammadiyah Yogyakarta.
pengelolaan sampah rumah sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat
pusat angkatan darat gatot Universitas Ahmad Dahlan,
soebroto. Jurnal presipitasi media Yogyakarta.
komunikasi dan pengembangan
teknik lingkungan, vol.2 no.1.
www.ejournal.undip.ac.id
diunduh pada tanggal 5 juni 2017
Runtu, Lorrien. (2013). Faktor-faktor yang
berhubungan dengan perilaku
perawat dalam penerapan
universal precautions di RSUP
Dr. R. D. Kandou Manado.
Juiperdo, vol. 2, no.1. 1 maret
2013
Sari, reny yulita. (2014). Pengaruh
sosialisasi SOP APD dengan
perilaku perawat dalam
penggunaan APD (handscoon,
masker, gown) di rsud dr. h.
soewondo Kendal. skripsi
World Health Organization. (2008).
Penerapan kewaspadaan standar
di fasilitas pelayanan kesehatan.
Trust Indonesia
http://www.who.int/csr/resources/
publications diunduh pada tanggal
25 november 2016
_______. (2006). Infection control
standard precautions in health

12 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan