Anda di halaman 1dari 16

LK 1: Lembar Kerja Belajar Mandiri

Judul Modul Sejarah dan Peradaban Awal


Manusia Pra Aksara
Judul Kegiatan Belajar (KB) 1. Sejarah sebagai Ilmu
2. Penelitian Sejarah
3. Manusia Pra Aksara di
Indonesia
4. Corak Kehidupan dan Hasil
Kebudayaan Manusia Pra
Aksara

No Butir Refleksi Respon/Jawaban


1 Daftar peta 1. Kegiatan Belajar 1
konsep (istilah
dan definisi) di Sejarah sebagai Ilmu
modul ini

Pengertian Tujuan dan Perubahan Kontinuitas


Teori Gerak dalam
Guna dalam
Sejarah Sejarah Sejarah
Sejarah Sejarah

 Pengertian Sejarah
Menurut Sartono Kartodirjo Pengertian Sejarah ada 2:
 Obyektif adalah bangunan yang disusun penulis sebagai suatu
uraian atau cerita yang mencakup rangkaian fakta-fakta untuk
menggambarkan gejala sejarah, baik proses maupun struktur.
 Subyektif Kedua, sejarah dalam arti objektif menunjuk kepada
kejadian atau peristiwa yaitu sejarah dalam aktualisasinya.
Kejadian tersebut hanya terjadi sekali dan tidak terulang
kembali.
Menurut Bahasa, pengertian Sejarah:
 Bahasa Arab “Syajaratun” yang berarti Pohon.
 Bahasa Yunani “Istoria” membawa makna satu penyelidikan
ataupun pengkajian”
Menurut Ontologi, Pengertian Sejarah:

Sejarah menceritakan

Problematika Segala Aktifitas


Manusia
Masyarakat Manusia

Menurut Epistemologi, Pengertian Sejarah adalah membuat


cara kebenaran dengan mengumpulkan bukti yang tersisa dari
masa lalu (sumber tertulis) melalui tahapan kontruksi,
rekontruksi dan dekontruksi.
 Kontruksi diibaratkan usaha membangun kembali masa lalu
melalui peninggalan masa lalu.
 Rekonstruksi membangun kembali peristiwa masa lalu
berdasarkan cara pandang (perspektif) masa kini.
 Dekonstruksi. Usaha ini menghadirkan masa lalu yang
berbeda dengan cerita umum, dan membangun kesadaran
kritis terhadap kajian sejara

 Tujuan Sejarah

Tujuan Penulisan
Sejarah

Pelajaran Rekreasi Inspirasi Ilmu

Ciri sbg Ilmu:


Empiris
Obyek
Teori
Metode
Generalisasi

 Teori Gerak Sejarah


1) Hukum Fatum
Gerak Sejarah berdasarkan nasib, ia merupakan kekuatan
tunggal yang menentukan gerak Sejarah, manusia hanya
menjalani dan menjalankan takdirnya.
2) Pendapat Santo Agustinus
Gerak sejarah berdasarkan kodrat Illahi dan bermuara pada
cititas dei. Manusia hanya menanti-nantikan kedatangan
Civitas Dei. Gerak sejarah bermata air kodrat ilahi dan
bermuara pada Civitas Dei.
3) Pendapat Ibnu Khaldun
Teorinya didasarkan pada kehendak Tuhan sebagai pangkal
gerak sejarah seperti Santo Agustinus, akan tetapi Ibnu
Kholdun tidak memusatkan perhatiannya kepada akhirat.
Baginya sejarah adalah ilmu berdasarkan kenyataan, tujuan
sejarah ialah agar manusia sadar akan perubahan-perubahan
masyarakat sebagai usaha penyempurnaan peri
kehidupannya.
4) Renaissance dan Pandangan Evolusi dalam Gerak Sejarah
Pada masa renaissance pengaruh gereja mulai berkurang.
Perhatian manusia berubah dari dunia-akhirat ke dunia-fana,
kepercayaan pada diri pribadi sendiri bertambah dalam diri
manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan seirama dengan
kemajuan filsafat dan teknik mengakibatkan timbulnya alam
fikiran baru di Eropa. Manusia lambat laun melepaskan diri
ari agama serta berani mengembangkan semangat otonom.
Sumber gerak sejarah tidak di cari di luar pribadinya, tetapi
dicari dari dalam diri sendiri. Gerak sejarah berpangkal pada
kemajuan (evolusi), yaitu keharusan yang memaksa segala
sesuatu untuk maju. Gerak sejarah menuju ke arah kemajuan
yang tidak ada batasnya. Evolusi tak terbatas adalah tujuan
manusia.
Sifat Gerak Sejarah:
 Tanpa arah tujuan
 Pelaksanaan kehendak Tuhan
 Ikhtiar, usaha dan perjuangan manusia
 Evolusi dengan kemajuan yang tidak terbatas
 Historical Materialism yang menentukan masyarakat tanpa
kelas

 Perubahan dalam Sejarah


Pendidikan sejarah sangat bergantung pada ilmu sejarah. Siswa
sebagai objek didik tentu membutuhkan pengetahuan dari yang
paling dasar hingga yang paling kompleks tentang, apa itu
sejarah? sebelum mereka mempelajari rentetan peristiwa dalam
sejarah. Dalam konteks itu, ilmu sejarah sendiri secara alamiah
memfokuskan diri pada kajian tentan peristiwa-peristiwa yang
terjadi pada masa lampau dengan tujuan mengambil hikmah.
Masa lampau memiliki pengertian yang sangat luas, bisa berarti
satu abad yang lalu, puluhan tahun yang lalu, sebulan yang lalu,
sehari yang lalu atau sedetik yang lalu, bahkan waktu sekarang
ketika sedang membaca tulisan ini akan menjadi masa lampau.
Kita harus menyadari bahwa rangkaian peristiwa sejarah sejak
adanya manusia sampai sekarang adalah peristiwa yang
berkelanjutan atau berkesinambungan (continuity) dari satu titik
ke titik selnjutnya.
Waktu menjadi konsep penting dalam ilmu sejarah. Sehubungan
dengan konsep waktu, dalam ilmu sejarah menurut Kuntowijoyo
(2001) meliputi perkembangan, keberlanjutan/kesinambungan,
pengulangan dan perubahan. Disebut mengalami perkembangan
apabila dalam kehidupan masyarakat terjadi gerak secara
berturut-turut dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain.
Perkembangan terjadi biasanya dari bentuk yang sederhana ke
bentuk yang kompleks.

 Kontinuitas dalam Sejarah

Kontinuitas dalam
Sejarah

Perkembangan Keberlanjutan Pengulangan Perubahan


Apabila dalam Suatu Peristiwa yang
kehidupan masyarakat baru
Terjadi
terjadi pada perkembanga
masyarakat terjadi hanya masa lampau,
gerak secara melakukan n secara besar-
terjadi lagi pada
berturut-turut dari adopsi lembaga- masa besaran dalam
bentuk satu ke yang lembaga lama. berikutnya. waktu singkat.
lain.
2. Kegiatan Belajar 2
Penelitian Sejarah

Sumber Tahapan Metode Guna


Sejarah Penelitian Sejarah Sejarah Sejarah

 Sumber Sejarah

Sumber Sejarah

Sumber Tertulis Sumber Tak Tertulis

Louis Sumber
Sartono Artefak
Gottscholk:
Kartodirjo:
Lisan
Rekaman
Otobiografi,
Sezaman,
Surat Kabar,
Laporan
Surat Pribadi,
konfidensial,
Dokumen Sejarah Lisan
Laporan
Pemerintah
umum dll.
Oral Tradition:
Saga
Fabel
Dongeng
Mitos
Legenda

 Tahapan Penelitian Sejarah

Tahapan Penelitian Sejarah

Pemilihan Topik Teknik Penyusunan


Rencana Penelitian

Emosional Intelektual
 Latar Belakang
 Rumusan Masalah
 Tujuan Kegunaan
Penelitian
 Lingkup Penelitian
 Tinjauan Pustaka
 Landasan Teori
 Hipotesis
 Metode Penelitian
 Metode Sejarah

Metode Sejarah

Heuristik Verifikasi Interpretasi Historiogravi


(Mengumpulkan Data) (Kritik) (Analisis) (Penulisan)

Intern Ekstern
(Isi) (Fisik) Sintesis

Analisis

Pendekatan Sejarah
 Pendekatan Manusia: Penelitian sejarah selalu berarti penelitian
tentang sejarah manusia. Fungsi dan tugas penelitian sejarah
ialah untuk merekonstruksi sejarah masa lampau manusia (the
human past) sebagaimana adanya (as it was).
 Pendekatan Ilmu-Ilmu Sosial: Melalui pendekatan ilmu-ilmu
sosial dimungkinkan ilmu sejarah memperoleh pemahaman yang
lebih utuh mengenai makna-makna peristiwa sejarah.
 Pendekatan Sosiologi. Pendekatan sosiologi dalam ilmu sejarah,
menurut Max Weber, dimaksudkan sebagai upaya pemahanan
interpretatif dalam kerangka memberikan penjelasan (eksplanasi)
kausal terhadap perilaku-perilaku sosial dalam sejarah.
 Pendekatan Antropologi. Pendekatan antropologi
mengungkapkan nilai-nilai, status dan gaya hidup, sistem
kepercayaan dan pola hidup, yang mendasari perilaku tokoh
sejarah (Sartono Kartodirdjo, 1992 : 4).
 Pendekatan Ilmu Politik. Pengertian politik dapat bermacam-
macam sesuai dari sudut mana memandangnya. Namun pada
umumnya definisi politik menyangkut kegiatan yang
berhubungan dengan negara dan pemerintahan.
 Pendekatan Psikologi dan Psikoanalisis. Dengan menggunakan
pendekatan psikologi dan psikoanalis studi sejarah tidak saja
sekedar mampu mengungkap gejala-gejala di permukaan saja,
namun lebih jauh mampu menembus memasuki ke dalam
kehidupan kejiwaan, sehingga dapat dengan lebih baik untuk
memahami perilaku manusia dan masyarakatnya di masa
lampau.
 Pendekatan Kuantitatif. Pendekatan kuantitatif adalah upaya
untuk mendeskripsikan gejala-gejala alam dan sosial dengan
menggunakan angka-angka.

 Guna Mempelajari Sejarah.


Sejarah mempunyai kegunaan secara intrinsik dan ekstrinsik.
Secara intrinsik, sejarah itu berguna sebagai pengetahuan,
sedangkan secara ekstrinsik yaitu kebermanfaatan di luar
dirinya.
 Guna Intrinsik Setidaknya ada empat guna sejarah secara
intrinsik, yaitu
(1) Sejarah sebagai ilmu : Sejarah adalah ilmu yang terbuka.
(2) Sejarah sebagai cara mengetahui masa lampau: Bersama
dengan mitos, sejarah adalah cara untuk mengetahui masa
lampau. Ada setidaknya dua sikap terhadap sejarah setelah
orang mengetahui masa lampau nya, yaitu (1) melestarikan,
atau (2) menolak.
(3) Sejarah sebagai pernyataan pendapat: Banyak penulis
sejarah yang menggunakan ilmu nya untuk menyatakan
pendapat. bentuk pernyataan pendapat ada dua, yaitu (1)
konsensus, dan (2) konflik.
(4) Sejarah sebagai profesi: Tidak semua lulusan sejarah
dapat terampung dalam profesi kesejarahan. Ada lulusan
yang jadi karyawan pengusaha sepatu, pengalengan ikan,
perusahaan farmasi, dan tidak sedikit yang jadi guru diluar
ilmunya.
 Sejarah dapat digunakan sebagai liberal educatio untuk
mempersiapkan peserta didik supaya mereka siap secara
filosofis. Secara umum sejarah mempunyai fungsi pendidikan,
yaitu sebagai pendidikan (a) moral, (b) penalaran, (c) politik,
(d) kebijakan, (e) perubahan, (f) masa depan, (g) keindahan,
dan (h) ilmu bantu. selain sebagai pendidikan, sejarah juga
berfungsi sebagai (i) latar belakang, (j) rujukan, dan (k) bukti.

3. Kegiatan Belajar 3

Manusia Pra Aksara

Penemuan Manusia Pra Asal-usul Nenek Moyang


Aksara Indonesia

Jenis Manusia Pra Aksara

 Penemuan Manusia Pra Aksara


Jawa ternyata menjadi surga dari penemuan fosil-fosil manusia
pra aksara yang pernah bermigrasi ke Indonesia. Pulau Jawa
hingga saat ini masih menjadi lokasi penemuan fosil manusia di
Indonesia, kecuali beberapa temuan artefeak yang berada di
Flores Nusa Tenggara Timur. Dibawah ini merupakan lokasi
penemuan-penemuan fosil manusia pra aksara di pulau Jawa.
 Sangiran
Penemuan fosil pertama di daerah Kalioso, Ngebung yang
terletak sekitar 2 km barat lau kubah Sangiran. Penemuan fosil-
fosil di komplek Sangiran ditemukan dalam seri geologis-
stratigrafis yang diendapkan tanpa putus selama lebih dari 2
juta tahun. Penemuan ini menjadikan Sangiran sebagai situs
yang sangat penting bagi pemahaman evolusi manusia,
lingkungan, dan budaya.
Lapisan batu di Sangiran juga memperlihatkan proses 76
evolusi lingkungan yang panjang, antara lain:
 Formasi Pucangan. Sekitar 1.8 juta tahun yang lalu telah
terjadi letusan gunung berapi yang yang mengubah bentang
alam Sangiran menjadi lautan dangkal. Ditemukan Homo
Erectus dan alat serpih yang berasosiasi dengan fosil-fosil
hewan pada lapisan pasir silang siur di situs Dayu.
 Grenzbank merupakan konglomerat silikan stadium lanjut
yang menempel di atas formasi pucangan dengan ketebalan
1-4 meter (Koenigswald, 1940:32). Lapisan ini menjadi
penanda batas formasi Pucangan dan Kabuh. Di lapisan ini
ditemukan rahang bawah Sangiran 8 yang disebut sebagai
Meganthropus B. Jenis manusia ini telah membuat alat-alat
dari bahan batuan kesikan seperti kalsedon dan jasper
(yaspis) yang bahan-bahannya berasal dari materi erosi
Pegunungan Kendeng.
 Fomasi Kabuh. Periode 0.7 hingga 0.3 juta tahun yang lalu
terjadilah letusan gunung api yang antara lain Gunung Lawu
dan Merapi yang memuntahkan jutaan kubik pasir vulaknis,
material yang kemudian diendapkan oleh sungai yang ada
disekitarnya sehingga menutup lapisan Grenzbank. Sebagian
besar fosil-fosil manusia ditemukan dari formasi ini, dan
mayoritas merupakan fragmen tengkorak atau atap
tengkorak.
 Formasi Notopuro. Sekitar 250.000 tahun yang lalu lahar
fulkanis dan bantuan andestik berukuran kerikil hingga
bongkahan diendapkan lagi di Sangiran. Fosil binatang dan
vetebrata banyak dijumpai pada lapisan ini, sedangkan fosil
manusia belum pernah ditemukan. Manusia pra aksara pada
saat itu telah memanfaatkan batu andsit sebagai bahan
pembuatan alat-alat masif seperti, kapak penetak, kapak
perimbas, kapak genggam, bola-bola batu, dan juga kapak
pembelah.
 Kedung Brubus
Penemuan Pithecanthropus erectus oleh Eugine Dubois di Trinil
bukalah penemuan pertama. Setahun sebelumnya di Desa
Kedungbrubus yang berada di wilayah selatan Pegunungan
Kendeng ditemukan sebuah fragmen rahang yang pendek dan
sangat kekar dengan geraham yang masih tersisa pada tahun
1890. Hal ini diyakini bahwa fragmen rahang bawah tersebut
milik rahang hominid. Temuan ini kemudian diumumkan
sebagai Pithecantropus A.

 Trinil (Ngawi)
Trinil merupakan sebuah wilayah dipinggiran sungai
Bengawan Solo, dan masuk dalam adminitrasi Kabupaten
Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Dari penelitian ini ditemukan atap
tengkorak Pithecanthropus erectus dan beberapa buah tulang
paha (utuh dan fragmen) yang menunjukkan pemiliknya telah
berjalan tegak.
 Mojokerto
Koenigswald dan Duyfjes menemukan atap tengkorak anak-
anak berusia 3-5 tahun di Sumber Tengah, sekitar 3 km di utara
Pering tahun 1936. Meskipun aspek fisiknya belum berkembang
secara penuh karena masih atap tengkorak anak-anak yang
berusia sekitar 5 tahun, aspek fisik tengkorak ini menunjukkan
dengan jelas ciri-ciri dari Homo erectus.
 Ngandong
Ngandong adalah sebuah wilayah yang terletak ditepian sungai
Bengawan Solo, yang masuk dalam wilayah administrasi
Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Ter Haar menemukan endapan
teras yang mengandung fosil-fosil vertebrata pada suatu
lekukan di Bangawan Solo dan menemukan dua buah atap
tengkorak manusia 80 pra aksara. Oppenoorth dan von
Koenigswald menemukan beberapa atap tengkorak lainnnya.
Berdasarkan karakter morfologi yang dimiliki manusia
Ngandong digolongkan sebagai kelomok Homo erectus maju
yang diperkirakan berumur antara 300.000-100.000 tahun.
 Sambung Macan
Fosil vertebrata yang ditemukan antara lain Cervus lydekkiri,
Cervus hippelapus, Rhioceros sondaicus, Stegodon
trigonochepalus, Elephas sp. dan Bibos Sodaicus (Widianto,
2012:88). Komposisi fauna Sambungmacan khususnya
kehadiran Homo erectus soloensis, Panthera tiguris soloensis,
dan Elephas sp., mengidentifikasikan persamaan dengan fauna
Ngandong.
 Jenis Manusia Pra Aksara
Fosil manusia di Indonesia pernah ditemukan di masa lalu
bersamaan dengan fosil-fosil hewan. Penelitian ilmiah tentang
fosil di Indonesia telah di mulai pada abad ke-19 yang terbagi
dalam tiga tahap yaitu 1) 1889-1909; 2) 1931-1941; dan 3) 1952-
sekarang.
 Jenis Meganthropus
Fosil manusia pra aksara paling primitif yang ditemukan di
Indonesia disebut Meganthropus paleojavanicus.
Meganthropus berasal dari kata mega yang berarti besar, dan
anthropo yang berarti manusia. Fosil dari jenis
meganthropus juga ditemukan di Sangiran (Jawa Tengah)
oleh von Koenigswald tahun 1936 dan 1941 (Herimanto,
2012:23). Secara umum ciri-ciri dari manusia jenis
Meganthropus sebagai berikut.
1) Hidup dikisaran 2-1 juta tahun lalu
2) Memiliki tubuh kekar dan lebih tegap
3) Memiliki bentuk geraham seperti manusia tetapi tidak
berdagu seperti kera
4) Rahang yang relative lebih besar
5) Ada penonjolan pada kening dan belakang kepalanya
6) Memiliki tulang pipi yang relative tebal
7) Makanan pokok adalah tumbuh-tumbuhan (vegetarian)
 Jenis Pithecanthropus
Fosil manusia yang paling banyak ditemukan adalah fosil
Pithecanthropus, sehingga dapat dikatakan bahwa pada saat
kala Plestosein di Indonesia didominasi oleh manusia jenis
tersebut. Sisa-sisa kehidupan manusia jenis Pithecanthropus
banyak ditemukan di Perning, Kerdungbrubus, Trinil,
Sangiran, Sambungmacan, dan Ngandong. Jenis
pithecanthropus mempunyai ciri-ciri:
1) Tinggi badan berkisar 165-180 cm dengan tubuh dan
anggota badan tegap
2) Geraham yang besar, ranhang kuat, tonjolan kening tebal,
dan tonjolan kepala yang nyata
3) Dagu belum ada dan hidungnya lebar
4) Wajah menonjol kedepan dan dahinya miring ke belakang
5) Volume tengkorak berkisar antara 750-1300 cc
6) Alat pengunyah dan otot tengkorak mengecil
7) Makanan masih kasar dengan sedikit pengolahan.
 Jenis Homo
Dilihat dari ciri-cirinya, manusia pra aksara jenis homo
lebih maju dan sempurna dari jenis manusia lain yang
ditemukan di Indoensia. Homo menurut definisi yang
dipakai disini memiliki ciri-ciri yang lebih progresif
daripada Pithecanthropus. Ciri-ciri manusia pra aksara
jenis Homo sebagai berikut.
1) Volume tengkorak bervariasi antara 1000-2000 cc, dengan
nilai rata-rata antara 1350- 1450 cc
2) Tinggi badannya juga lebih besar yaitu 130-210 cm
dengan berat badan 30-150 kg.
3) Otak dari manusia jenis homo lebih berkembang
terutama kulit otaknya sehingga bagian terlebar
tengkorak terletak di sisi tengkorak dan dahinya
membulat serta lebih tinggi.
4) Gigi mengecil, begitu pula dengan rahang serta otot
kunyah, dan muka tidak begitu menonjol ke depan
5) Berjalan serta berdiri dengan tegak, dan koordinasi otot
sudah jauh lebih cermat dan seimbang.
Temuan fosil di Wajak merupak jenis Homo sapiens.
Rangka Wajak ditemukan oleh Rietschoten tahun 1889. Von
Koenigswald menyebutkan barangkali Homo wajakensis
termasuk jenis homo sapiens (manusia cerdas) karena telah
mengenal teknik penguburan. Diperkirakan jenis ini
merupakan nenek moyang dari Austroloid dan
menurunkan penduduk asli Asutralia yang sekarang ini
(Sudrajat, 2012:11)
Menurut para ahli, Homo soloensis dan Homo
neandhertalensis merupakan hasil evolusi dari
Pithecanthropus Mojokertensis. Berdasarkan penelitian
fosil-fosil yang ditemukan, Homo Soloensis mempunyai
ciri-ciri, antara lain sebagai berikut.
1) Otak kecilnya lebih besar daripada otak kecil
Pithecanthropus Erectus
2) Tengkoraknya lebih besar daripada Pithecanthropus
Erectus dengan volumenya berkisar 1.000-1.300 cc
3) Tonjolan kening agak terputus ditengah (di atas hidung)
4) Berbadan tegap dan tingginya kurang lebih 180 cm.

Homo floresiensi atau manusia dari Flores. Fosil ini


ditemukan oleh seorang pastur bernama Verhoeven tahun
1958 di Liang Bua Manggarai, Flores Nusa Tenggara Timur.
Manusia jenis ini memiliki tubuh sekitar 1meter dan
ukuran tengkorak seperti anak kecil. Homo floresiensis
mempunyai ciri memiliki tengkorak yang panjang dan
rendah, berukuran kecil, dan dengan volume otak 380 cc.
kapasitas cranial tersebut berada jauh di bawah Homo
erectus (1000 cc), manusia modern Homo sapiens (1400 cc),
dan bahkan berada di bawah volume otak simpanse (380
cc).
 Asal-Usul Nenek Moyang Indonesia
 Pendapat Drs. Moh. Ali.
Asal usul nenek moyang bangsa Indonesia bersumber dari
daerah Yunan Cina. Nenek moyang orang Indonesia berasal
dari hulu sungai besar yang berada di daratan Asia, mereka
berdatangan ke Indonesia secara bergelombang. Gelombang
pertama berlangsung sejak 3000 samai 1500 SM (Proto Melayu)
sedangkan gelombang kedua terjadi pada 1500 sampai 500 SM
(Deutro melayu).
 Pendapat Prof. Dr. H. Kern
Nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daratan Asia.
Hasil penelitiannya menunjukan bahwa bahasa-bahasa yang
dipakai oleh suku-suku di Indonesia, Mikronesia, Polinesia, dan
Melanesia, mempunyai akar yang sama, yaitu bahasa
Austronesia. Menurutnya, nenek-moyang bangsa Indonesia
menggunakan perahu-perahu bercadik menuju ke kepulauan
Indonesia. Pendapat Kern ini didukung oleh adanya persamaan
nama dan bahasa yang dipergunakan di daerah Campa dengan
di Indonesia. Selain nama geografis, istilah-istilah binatang dan
alat perang pun banyak kesamaannya.
 Pendapat Willem Smith
Willem Smith melakukan identifikasi terhadap bahasa yang
digunakan oleh bangsa-bangsa di sekitar Asia. Berdasarkan
penelitiannya, ia kemudian mengelompokan bahasa di sekitar
Asia menjadi 3 bagian yaitu, bahasa Togon, bahasa Jerman, dan
bahasa Austria. Nah, Indonesia sendiri bersama dengan
Melanesia, dan Polinesia digolongkan ke dalam penggunaan
bahasa Austria.
 Pendapat Prof. Dr. Sangkot Marzuki
Nenek moyang bangsa Indonesia memiliki asal usul dan
keterkaitan dengan Austronesia dataran Sunda. Ini didasari
oleh penelusuran terkait DNA fosil-fosil manusia pra aksara
yang pernah ditemukan di Indonesia. Menurutnya, Homo
erectus atau Phitecantropus erectus yang ditemukan sebagai
manusia pra aksara saat itu tidak memiliki signifikasi dengan
DNA manusia Indonesia zaman sekarang. Menurutnya, mereka
punah dan diganti oleh manusia species baru, yang berasal dari
Afrika.
 Pendapat Prof. Moh. Yamin
Menurut beliau, orang Indonesia saat ini benar-benar asli
berasal dari wilayah Indonesia sendiri. Landasan pemikiran
yang menjadi dasar Yamin adalah banyaknya temuan fosil dan
artefak di Indonesia 89 yang lebih lengkap dibanding daerah
lain di Asia. Contohnya, temuan fosil Pithecanthropus soloensis
dan wajakensis yang tidak diketemukan di daerah-daerah lain
di Asia termasuk Asia Tenggara (Indochina).

4. Kegiatan Belajar 4

Corak dan Hasil Budaya Manusia


Pra Aksara

Berburu dan
Mengumpulkan Makanan
Kebudayaan
Tk. Sederhana Megalithikum
Bercocok
Tanam
Berburu dan
Mengumpulkan
Makanan Tk. Lanjut
Perundagian

 Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Sederhana


Corak Kehidupan
 Hidup berkelompok kecil (mereka membatasi anggota
kelompok dengan memusnahkan anak yang baru lahir).
 Tergantung dengan alam
 Nomaden (berpindah-pindah)
 Berburu dan mengumpulkan makanan
 Mempertahankan kelompoknya dari serangan kelompok lain
atau binatang buas.
 Sudah mengenal pembagian tugas (laki-laki berburu,
perempuan mengumpulkan makanan).
Hasil Kebudayaan
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
teknik pembuatan pembuatan peralatan batu tertua masih sangat
sederhana yaitu dengan cara membenturkan sebuah batu pada
batu lainnya (block-on-block technique) hingga 106 menghasilkan
berbagai macam pecahan. Hasil kebudayaan berupa kebudayaan
Pacitan dan Ngandong
 Kebudayaan Pacitan
Hasilnya:
 Kapak genggam (kapak tak bertangkai yang digunakan
dengan cara digenggam)
 Kapak perimbas (bentuk dan cara penggunaannya hampir
sama dengan kapak genggam, namun ukurannya jauh lebih
besar dari kapak genggam)
 Kapak penetak (bentuk dan cara peggunaannya jampir sama
dengan dengan kapak genggam maupun kapak perimbas,
namun ukurannya jauh lebih besar dari kedua alat
sebelumnya)
 Pahat genggam (memiliki bentuk lebih kecil dari ketiga alat
sebelumnya).
 Flakes (alat serpih), ukurannya jauh lebih kecil dari alat-alat
di atas.
Ciri utama kebudayaan Pacitan adalah alat-alat yang terbuat
dari batu yang berfungsi sebagai kapak dan berbentuk tidak
betangkai atau kapak genggam. Selain di Pacitan, alat-alat
batu sejenis juga ditemukan di daearah lain meskipun
jumlahnya tidak banyak, seperti di Sukabumi (Jawa Barat),
Perigi dan Grobogan (Jawa tengah), Tambangsawah
(Bengkulu), Lahat (Sumatera Selatan), Kalianda (Lampung),
Awang Bangkal (Kalimantan Selatan), Cebenge (Sulawesi
Selatan), Sembiran dan Trunyan (Bali), dan Ambatua (Timor).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa daerah
penyebarannya di di seluruh kepulauan Indonesia.
 Kebudayaan Ngandong
Kebudayaan Ngandong berasal dari lapisan Plestosein Atas,
alat-alat yang ditemukan di Ngadong juga berupa kapak-kapak
genggam dari batu dan alat-alat serpih (flakes). Akan tetapi ada
satu hal yang membedakan dengan kebudayaan Pacitan adalah
ditemukannya alat-alat dari tulang dan tanduk pada
kebudayaan Ngandong. Alat-alat dari tulang tersebut berupa
alat penusuk (belati), ujung tombak dengan gergaji pada kedua
sisinya, alat pengorek ubi dan keladi, serta alat dari duri ikan
pari yang yang digunakan sebagai mata tombak.
Kebudayaan Ngandong juga ditemukan di daerah Sangiran
(Sragen-Jawa Tengah) dan di daerah Cebenge (Sulawesi
Selatan). Alat-alat yang ditemukan di lokasi tersebut berupa alat
serpih (flakes) dan alat batu yang terbuat dari batu indah
seperti chaldecon. Berdasarkan penelitian pendukung utama
kebudayaan Ngandong adalah Homo soloensis dan Homo
wajakensis.
 Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut
Corak Kehidupan
 Berburu dan mengumpulkan makanan
 Semi sedenter (semi menetap) di gua-gua alam (caves) atau gua-
gua payung atau curuk (rock-shelter) yang ada di tepi pantai
 Melukiskan sesuatu di dinding gua. Lukisan tersebut biasanya
tentang pengalaman, perjuangan, dan harapan hidup.
Kemudian cap-cap tangan juga dibuat dengan dengan cara
merentangkan jari-jari tangan di permukaan dinding gua atau
dinding karang yang kemudian disiram dengan cat merah.
 Sudah mengenal bercocok tanam meskipun masih sangat
sederhana. Bercocok tanam dilakukan berpindah-pindah
menurut keadaan kesuburan tanah.
Hasil Kebudayaan
Adanya usaha untuk lebih menghaluskan alat-alat yang
digunakan dalam bentuk perkakas dengan cara menggosok-
gosokkan permukaan alat tersebut. Dibandingkan dengan
zaman batu tua, perkembangan kebudayaan pada zaman ini
berlangsung lebih cepat. Hasil kebudayaan antara lain:
 Sampah-sampah dapur (Kjokkenmoddinger) berisi kulit siput
dan kerrang yang merupakan bekas tempat tinggal manusia
pada zaman itu. Kjokkenmoddinger banyak ditemukan di
sepanjang pesisir atau pinggir pantai, khususnya di wilayah 114
pantai timur Sumatera.
 Gua-gua (Abris Sous Roche), terutama yang hidup di daerah
pedalaman seperti di Jawa, Sulawesi dan Nusa Tengagra Timur.
Contoh gua Leang-Leang yang berumur 4000 tahun dan di
ditemukan gambar babi hutan dan lukisan tangan berwarna
merah pada dinding gua tersebut, situs Song Terus, Pacitan
Jawa Timur. Situs ini pertama kali diteliti oleh Prof. Dr. R.P
Soejono tahun 1950an dan Basoeki.
 Kebudayaan Kapak Genggam Sumatera (Pabble Culture).
Seperti
1. Pabble (kapak genggam Sumatera), penamaan atas benda
tersebut didasarkan pada lokasi penemuannya di Sumatera.
2. Pipisan atau batu penggilangn beserta landasannya.
3. Alu, lesung, dan batu pisau. Pendukung kebudayaan kapak
Sumatera adalah manusia dari ras Papua Melanosoid. Hal ini
dibuktikan dengan penemuan fosil-fosil manusia purba dari
ras Papua Melanosoid
 Kebudayaan Toala (Flake Culture). Tahun 1893 sapai 1896,
Fritz Sarasin dan Paul Sarasin, ditemukan alat-alat serpih
(flake), mata panah bergerigi, serta alat-alat dari tulang. Ciri
khas kebudayaan Toala adalah flakes bergerigi. Ciri khas
kebudayaan Toala tersebut juga ditemukan di gua-gua Pulau
Timor, Flores, dan Roti Nusa Tenggara Timur. Menurut Fritz
dan Paul Sarasin, pendukung kebudayaan Toala adalah orang-
orang yang menjadi nenek moyang suku Toala sekarang, yakni
jenis manusia dari keturunan orang-orang Wedda dari Sri
Langka dan termasuk ras Weddaid.
 Bercocok Tanam
Corak Kehidupan
 Sedenter (menetap)
 Bercocok tanam
 Penjinakan beberapa hewan tertentu
 Perladangan berpindah/lahan kering
 Terbentuk desa-desa kecil atau pedukuhan
 Sudah mengenal sistem kepemimpinan melalui Primus
Interparase
 Mengenal perdagangan sederhana menggunakan sistem barter
 Konsepsi kepercayaan terhadap roh nenek moyang (animisme)
dan benda-benda gaib (dinamisme) mulai berkembang.
Hasil Kebudayaan
Perkembangan kebudayaan pada zaman ini sudah sangat maju
apabila dibandingkan dengan masa sebelumnya. Karena
adanya migrasi secara bergelombang dari bangsa Proto Melayu
dari wilayah Yunan di Cina Selatan ke wilayah Asia Tenggara,
termasuk ke Indoensia. Para pendatang baru tersebut
membawa kebudayaan kapak persegi dan kapak lonjong serta
menyebarkannya ke daerah-daerah yang mereka tempati.
Kedua kebudayaan itulah yang menajdi ciri khas kebudayaan
neolithikum.
Selain kapak persegi dan kapak lonjong, alat-alat budaya
lainnya yang ditemukan pada zaman neolithikum adalah: 1)
Perhiasan. Berupa gelang dan kalung yang terbuat dari batu-
batu indah. Penuman ini banyak tersebar di pulau Jawa. 2)
Pakaian. Pakain pada zaman itu terbuat dari kulit kayu dan
bahan tekstil. 3) Tembikar. Pada zaman ini tembikar (peliuk
belaga/gerabah) memegang peran penting terutama sebagai
alat penampung (wadah).
 Masa Perundagian
Corak Kehidupan
 Masyarakat mempunyai ketrampilan/kepandaian tertentu
seperti pembuatan gerabah, perhiasan kayu, sampan, dan batu.
 Kemajuan teknologi yang berakibat pada meningkatnya
kesejahteraan hidup dan surplus kebutuhan pangan
menyebabkan meningkatnya jumlah populasi penduduk.
Akibatnya terbentuklah desa-desa besar yang merupakan
gabungan dari dusun-dusun kecil.
 Kehidupan berburu binatang liar seperti harimau dan kijang
juga masih dilakukan. Perburuan ini, selain untuk menambah
mata pencaharian, juga dimaksudkan untuk menunjukkan
tingkat keberanian, kegagahan, dan kedewasaan dalam
lingkungan masyarakat.
 Kaitannya dalam pembuatan alat-alat dari bahan logam, saat itu
telah dikenal teknik atau cara yang dikenal dengan teknik
cetakan setangkap (bivalve) dan teknik cetakan lilin (a cire
perdue).
 Mengenal irigasi untuk pertanian.
 Pembuatan alat gerabah semakin maju.
Hasil Kebudayaan
Masa perundagian, budaya manusia pra aksara telah menginjak
budaya logam. Ada dua macam teknik atau cara membuat alat-
alat dari logam yang berkembang pada saat itu, yaitu teknik
bivalve (setangkap) dan teknik a circle perdue (cetak lilin).
Hasil kebudayaan:
1. Kapak Corong. Kapak corong adalah kapak perunggu yang
bagian atasnya berlubang, berbentuk corong yang digunakan
untuk memasukkan tangkai kayu. Ada juga kapak corong
yang kecil bentuknya dan halus buatannya yang disebut
candrasa
2. Nekara adalah gendering besar yang dibuat dari bahan
perunggu, berpinggang dibagian tengahnya dan tertutup
dibagian atasnya. Nekara banyak ditemukan di Sumatera,
Jawa, Bali, Pulau Sangean, Sumbawa, Roti, Leti, Selayar, dan
Kepulauan Kei.
3. Bejana Perunggu. Salah satu bentuk produk budaya Dongson
adalah bejana perunggu yang ditemukan di wilayah Indonesia
seperti di Kerinci, Madura, Lampung, Kalimantan dan
Subang. Bejana perunggu nusantara memiliki kesamaan
dalam bentuknya yaitu mirip kepis atau wadah ikan, sebagian
menyebutnya berbentuk seperti gitar arab (oud-gambus).
4. Bejana Perunggu Madura. Sekitar tiga puluh tahun kemudian
bejana perunggu Indonesia kedua ditemukan di Asemjaran,
Sampang, Madura tepatnya di tahun 1951 (Heekeren, 1958:
35).
 Kebudayaan Megalitikum
Van Heine Galdern membagi penyebaran kebudayaan
megalithikum di Indonesia menjadi dua tahap sebagai berikut.
1. Megalithikum Tua. Menghasilkan bangunan-bangunan
seperti menhir, punden berundak, dan arca-arca statis.
Kebudayaan ini terutama dibawa oleh orang-orang Proto
Melayu dan berkembang pada masa neolithikum.
2. Megalithikum Muda. Menghasilkan bangunan kubur peti
batu, dolmen, waruga, sarkofagus, dan arca-arca dinamis.
Tradisi budaya ini menyebar ke Indonesia dibawa oleh orang-
orang Deutro Melayu (pendukung kebudayaan Dongson) dan
berkembang pada zaman perunggu di Indonesia sekitar tahun
1000-100 SM.
Hasil Kebudayaan Megalitikum
 Menhir. Bentuk fisik menhir seperti tiang atau tugu yang
berfungsi sebagai tanda peringatan dan melambangkan roh
nenek moyang, sehingga menjadi bangunan pemujaan.
 Dolmen berbentuk seperti meja batu yang berkakikan menhir.
Fungsi dolmen sebagai tempat pemujaan san sesaji roh nenek
moyang.
 Waruga adalah kubur batu yang mempunyai bentuk kubus atau
bulat dengan tutup yang berbentuk menyerupai atap rumah.
Waruga banyak terdapat di Sulawesi Tengah.
 Sarkofagus. Berbentuk seperti palung atau lesung, tetapi
mempunyai tutup dan berfungsi sebagai keranda jenzah.
 Kubur batu. Bentuknya hamper sama seperti peti mayat dari
batu. Pada keempat sisinya berdindingkan papan-papan batu.
 Punden berundak. Bangunan pemujaan yang tersusun
bertingkat-tingkat dan diatasnya terdapat menhir.
 Arca merupakan patung dengan bentuk sederhana dan kasar,
umumnya patung kepala raja. Ada dua macam gaya yang terlihat
dari hasil pemahatan arca, ayitu gaya statis dan dinamis.
2 Daftar materi KB 1
yang sulit 1. Pengertian Sejarah menurut ontologi dan epistomologi
2. Teori Gerak Sejarah menurut hukum fatum.
3. Faktor Gerak Sejarah
dipahami di 4. Sejarah memiliki generalisasi
modul ini KB 2
1. Pentingnya sejarah lisan
2. Perbedaan analisis dan sintesis
3. Realisasi ganda dalam analisis Sintesis
4. Sejarah sebagai pernyataan pendapat (konsesus dan
konflik)
KB 3
1. Formasi yang ada di Sangiran(Pucangan, Grenzbank, dll)
2. Perbedaan Pithecantropus Erectus dan Homo Erectus
3. Asal-usul manusia modern Indonesia dari pendapat
Willem Smith
4. Mengapa homo Floresiensis digolongan kedalam jenis
homo, bukan dikelas lainnya?
KB 4
1. Sejak kapan api dimanfaatkan oleh manusia praaksara.
2. Makna lukisan dinding yang ada di gua leang-leang.
3. Mengapa di modul ini tidak membahas tentang revolusi
neolitik, padahal revolusi ini akan berpengaruh besar
dalam kehidupan manusia pada saat itu.
4. Berasal dari mana bahan dari logam yang digunakna
dimasa perundagian.
3 Daftar materi 1. Sejarah sebagai Ilmu
yang sering 2. Perubahan dalam sejarah
mengalami 3. Kegunaan Sejarah
4. Metode Sejarah
miskonsepsi
5. Jenis manusia Pra Aksara
6. Peninggalan kebudayaan Megalitikum