Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

TUGAS
LEMBAGA TERKAIT OPERASI BANK

Disusun Oleh :
Dianti Pratiwi (083018022)

Perbankan & Keuangan Semester 4


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan, rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya,sehingga kami mampu untuk
menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Makalah ini ditugaskan oleh Bapak Drs. M. Sumardi Sulaeman, MM


selaku dosen pengampu mata kuliah Analisis & Pengelolaan Kredit 1 yang
berjudul Lembaga Terkait Operasi Bank, tugas ini ditujukkan agar mahasiswa
lebih memahami tentang lembaga keuangan yang terkait dengan operasi bank.
PEMBAHASAN

1. Bank Indonesia (BI)

Pengertian Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) adalah bank sentral Republik Indonesia sesuai Pasal


23D Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD) dan Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. Sebelum dinasionalisasi
sesuai Undang-Undang Pokok Bank Indonesia pada 1 Juli 1953, bank ini
bernama De Javasche Bank (DJB) yang didirikan berdasarkan Oktroi pada masa
pemerintahan Hindia Belanda. Sebagai bank sentral, BI mempunyai tujuan
tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai
rupiah ini mengandung dua dimensi, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap
barang dan jasa domestik (inflasi), serta kestabilan terhadap mata uang negara lain
(kurs)

Dasar Hukum Pendirian Bank Indonesia


Pendirian Bank Indonesia didahului oleh proses nasionalisasi De Javasche
Bank NV (DJB) yang dilakukan pada Desember 1951 berdasarkan Undang-
Undang (UU) Nomor 24 Tahun 1951 Tentang Nasionalisasi De Javasche Bank
NV. Setelah DJB dinasionalisasi, Republik Indonesia mendirikan Bank Indonesia
berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1953 Tentang Penetapan Undang-
Undang Pokok Bank Indonesia yang disahkan pada 19 Mei 1953, diumumkan 2
Juni 1953, dan mulai berlaku pada 1 Juli 1953. Tanggal berlakunya UU tersebut
diperingati juga sebagai hari lahir Bank Indonesia. Selain itu, di dalam UU
tersebut dinyatakan bahwa Bank Indonesia didirikan untuk bertindak sebagai bank
sentral Indonesia.
Dalam perjalanannya, peran bank Indonesia mengalami perubahan sesuai dengan
dinamika ekonomi, sosial dan politik baik nasional maupun global. Sejalan
dengan itu, UU yang menjadi dasar hukum eksistensi Bank Indonesia mengalami
pergantian dan penyempurnaan. UU saat ini yang menjadi dasar hukum Bank
Indonesia adalah UU Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia (yang telah
beberapa kali mengalami penyempurnaan, terakhir dengan UU No. 6 Tahun
2009).
Tidak hanya pada tataran UU, perubahan mendasar juga terjadi pada tataran
konstitusional. Amandemen Keempat Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), menyisipkan satu pasal baru, 23D, yang
berbunyi, " Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan,
kewenangan, tanggung jawab dan independensinya diatur dengan Undang-
Undang."

Sejarah Bank Indonesia


Pada tahun 1828 De Javasche Bank didirikan oleh Pemerintah Hindia
Belanda sebagai bank sirkulasi yang bertugas mencetak dan mengedarkan uang.
Pada tahun 1953, Undang-Undang Pokok Bank Indonesia menetapkan pendirian
Bank Indonesia untuk menggantikan fungsi De Javasche Bank sebagai bank
sentral, dengan tiga tugas utama di bidang moneter, perbankan, dan sistem
pembayaran. Di samping itu, Bank Indonesia diberi tugas penting lain dalam
hubungannya dengan Pemerintah dan melanjutkan fungsi bank komersial yang
dilakukan oleh DJB sebelumnya.
Pada tahun 1968 diterbitkan Undang-Undang Bank Sentral yang mengatur
kedudukan dan tugas Bank Indonesia sebagai bank sentral, terpisah dari bank-
bank lain yang melakukan fungsi komersial. Selain tiga tugas pokok bank sentral,
Bank Indonesia juga bertugas membantu Pemerintah sebagai agen pembangunan
mendorong kelancaran produksi dan pembangunan serta memperluas kesempatan
kerja guna meningkatkan taraf hidup rakyat.
Tahun 1999 merupakan Babak baru dalam sejarah Bank Indonesia, sesuai dengan
UU No.23/1999 yang menetapkan tujuan tunggal Bank Indonesia yaitu mencapai
dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Pada tahun 2004, Undang-Undang Bank Indonesia diamendemen dengan fokus
pada aspek penting yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan wewenang Bank
Indonesia, termasuk penguatan governance. Pada tahun 2008, Pemerintah
mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.2 tahun 2008
tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No.23 tahun 1999 tentang Bank
Indonesia sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan.
Amendemen dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan perbankan nasional
dalam menghadapi krisis global melalui peningkatan akses perbankan terhadap
Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek dari Bank Indonesia.

Tugas dan Tujuan Bank Indonesia


Bank Indonesia memiliki satu tujuan tunggal dan tiga pilar utama dalam
mendukung tercapainya tujuan tunggal tersebut. Mengingat peran dan
kapasitasnya sebagai Bank Sentral, Bank Indonesia mengemban amanat untuk
mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Maka dari itu, Bank Indonesia
memiliki beberapa tugas seperti:
 Menjaga kestabilan nilai rupiah terhadap barang dan jasa
 Menjaga kestabilan nilai rupiah terhadap mata uang negara lain
 Membuat dan mengawasi regulasi untuk semua bank yang ada di
Indonesia
 Melakukan penelitian juga pemantauan
 Menyimpan uang kas negara dan memberikan bantuan dana kepada Bank-
Bank di Indonesia yang sedang mengalami krisis.
Untuk mengukur aspek pertama bisa dilihat melalui laju perkembangan inflasi,
sedangkan aspek kedua bisa dilihat dari nilai tukar rupiah terhadap mata uang
negara lain.
Dengan satu tujuan tunggal tersebut, diharapkan Bank Indonesia dapat
memfokuskan langkah serta memperjelas batasan-batasan tanggung jawab yang
harus dilakukan. Oleh karena itu, masyarakat maupun pemerintah dapat dengan
mudah melihat bagaimana kinerja Bank Indonesia.

Dalam mensukseskan tujuan tunggal Bank Indonesia, yaitu memelihara


nilai rupiah, maka Bank Indonesia memiliki tiga pilar utama yang sekaligus juga
menjadi bidang jangkauan tugasnya. Tiga Pilar tersebut adalah:
1. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter
2. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
3. Menjaga stabilitas sistem keuangan

Bank Indonesia Keterkaitannya Dengan Perbankan Keuangan


Hubungan BI dengan Pemerintah :Hubungan Keuangan

Dalam hal hubungan keuangan dengan Pemerintah, Bank Indonesia membantu


menerbitkan dan menempatkan surat-surat hutang negara guna membiayai
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tanpa diperbolehkan membeli
sendiri surat-surat hutang negara tersebut.

Bank Indonesia juga bertindak sebagai kasir Pemerintah yang menatausahakan


rekening Pemerintah di Bank Indonesia, dan atas permintaan Pemerintah, dapat
menerima pinjaman luar negeri untuk dan atas nama Pemerintah Indonesia.

Namun demikian, agar pelaksanaan tugas Bank Indonesia benar-benar terfokus


serta agar efektivitas pengendalian moneter tidak terganggu, pemberian kredit
kepada Pemerintah guna mengatasi deficit spending - yang selama ini dilakukan
oleh Bank Indonesia berdasarkan undang-undang yang lama - kini tidak dapat lagi
dilakukan oleh Bank Indonesia.
2. Otortitas Jasa Keuangan (OJK)

Pengertian OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah lembaga yang independen yang


mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan,
dan penyidikan. OJK dibentuk berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011 yang
berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi
terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan.[1] OJK didirikan
untuk menggantikan peran Bapepam-LK dalam pengaturan dan pengawasan pasar
modal dan lembaga keuangan, serta menggantikan peran Bank Indonesia dalam
pengaturan dan pengawasan bank, serta untuk melindungi konsumen industri jasa
keuangan.

Sejarah OJK

Otoritas Jasa Keuangan dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 21


Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan. Lembaga ini merupakan badan
independen yang memiliki fungsi, tugas dan wewenang pengaturan, pengawasan,
pemeriksaan dan penyidikan.

Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan merupakan upaya pemerintah Republik


Indonesia menghadirkan lembaga yang mampu menyelenggarakan sistem
pengaturan dan pengawasan terhadap keseluruhan kegiatan sektor keuangan, baik
perbankan maupun Lembaga keuangan non-bank.

Secara fungsi, lembaga ini menggantikan tugas Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan (Bappepam-LK) serta mengambil alih tugas Bank Indonesia
dalam hal pengawasan perbankan.

Setelah Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 disahkan, Presiden Republik


Indonesia saat itu,  Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 Juli 2012 menetapkan
sembilan anggota dewan komisioner Otoritas Jasa Keuangan, termasuk dua
anggota komisioner ex-officio dari Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.

Setelah itu, pada 15 Agustus 2012 dibentuklah Tim Transisi Otoritas Jasa
Keuangan Tahap I, untuk membantu Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan
melaksanakan tugas selama masa transisi.

Mulai 31 Desember 2012, Otoritas Jasa Keuangan secara efektif beroperasi


dengan cakupan tugas Pengawasan Pasar Modal dan Industri Keuangan Non-
Bank.

Setelah itu, pada 18 Maret 2013 dibentuk Tim Transisi Otoritas Jasa Keuangan
Tahap II untuk membantu Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan dalam
pelaksanaan pengalihan fungsi, tugas dan wewenang Pengaturan dan Pengawasan
Perbankan dari Bank Indonesia.

Per 31 Desember 2013 Pengawasan Perbankan sepenuhnya beralih dari Bank


Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan, sekaligus menandai dimulainya operasional
Otoritas Jasa Keuangan secara penuh.

Perluasan fungsi pengawasan Industri Keuangan Non-Bank, pada 1 Januari 2015


Otoritas Jasa Keuangan memulai Pengaturan dan Pengawasan Lembaga
Keuangan Mikro (LKM).

Tujuan Pembentukan OJK

Pasal 4 UU Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK menyebutkan bahwa OJK


dibentuk dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan
terselenggara secara teratur, adil, transparan, akuntabel dan mampu mewujudkan
sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil, serta mampu
melindungi kepentingan konsumen maupun masyarakat.

Dengan pembentukan OJK, maka lembaga ini diharapkan dapat mendukung


kepentingan sektor jasa keuangan secara menyeluruh sehingga meningkatkan
daya saing perekonomian. Selain itu, OJK harus mampu menjaga kepentingan
nasional. Antara lain meliputi sumber daya manusia, pengelolaan, pengendalian,
dan kepemilikan di sektor jasa keuangan dengan tetap mempertimbangkan aspek
positif globalisasi. OJK dibentuk dan dilandasi dengan prinsip-prinsip tata kelola
yang baik, yang meliputi independensi, akuntabilitas, pertanggungjawaban,
transparansi, dan kewajaran (fairness).
Secara simple, tujuan Otoritas Jasa Keuangan dibentuk dengan tujuan agar
keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan:

1. terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel;


2. mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan
dan stabil; dan
3. mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.

Tugas dan Wewenang OJK

OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap:

1. kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan serta non perbankan .


2. kegiatan jasa keuangan di sektor pasar modal; dan
3. kegiatan jasa keuangan di sektor perasuransian, dana pensiun, lembaga
pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya.
Untuk melaksanakan tugas pengaturan, OJK mempunyai wewenang:

1. menetapkan peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini;


2. menetapkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
3. menetapkan peraturan dan keputusan OJK;
4. menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa keuangan;
5. menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas OJK;
6. menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan perintah tertulis
terhadap Lembaga Jasa Keuangan dan pihak tertentu;
7. menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola statuter
pada Lembaga Jasa Keuangan;
8. menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola,
memelihara, dan menatausahakan kekayaan dan kewajiban; dan
9. menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.
Untuk melaksanakan tugas pengawasan, OJK mempunyai wewenang:

1. menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan jasa


keuangan;
2. mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan oleh Kepala
Eksekutif;
3. melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan
Konsumen, dan tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan, pelaku,
dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam
peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
4. memberikan perintah tertulis kepada Lembaga Jasa Keuangan dan/atau
pihak tertentu;
5. melakukan penunjukan pengelola statuter;
6. menetapkan penggunaan pengelola statuter;
7. menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan
pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa
keuangan; dan
8. memberikan dan/atau mencabut:
1. izin usaha;
2. izin orang perseorangan;
3. efektifnya pernyataan pendaftaran;
4. surat tanda terdaftar;
5. persetujuan melakukan kegiatan usaha;
6. pengesahan;
7. persetujuan atau penetapan pembubaran; dan
8. penetapan lainsebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-
undangan di sektor jasa keuangan.
OJK Keterkaitannya Dengan Perbankan Keuangan

Berdasarkan ketentuan Pasal 69 ayat (1) huruf (a) UU No. 21 Tahun 2011
menegaskan bahwa tugas Bank Indonesia dalam mengatur dan mengawasi bank
yang dialihkan ke OJK adalah tugas pengaturan dan pengawasan yang berkaitan
dengan microprudential, sedangkan Bank Indonesia tetap memiliki tugas
pengaturan perbankan terkait macroprudential. Berkaitan dengan hal tersebut,
tugas pengaturan perbankan tidak sepenuhnya dilaksanakan secara independen
oleh OJK, karena pengaturan microprudential dan macroprudential akan sangat
berkaitan. Dengan demikian dapat dilihat bahwa OJK masih memiliki ”hubungan
khusus” dengan Bank Indonesia terutama dalam pengaturan dan pengawasan
perbankan.

secara sekilas, keduanya memiliki peran yang hampir sama. Bank


Indonesia adalah lembaga independen yang salah satu kewenangannya adalah
mengatur Perbankan di seluruh Indonesia, sedangkan OJK adalah lembaga
independen yang mengatur industri jasa keuangan di Indonesia.
3. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

Pengertian LPS

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah suatu lembaga independen yang


berfungsi menjamin simpanan nasabah perbankan di Indonesia. Badan ini
dibentuk berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 2004
tentang Lembaga Penjamin Simpanan yang ditetapkan pada 22
September 2004.Undang-undang ini mulai berlaku efektif 12 bulan sejak
diundangkan sehingga pendirian dan operasional LPS dimulai pada 22
September 2005.LPS berstatus badan hukum dan bertanggung jawab kepada
presiden Republik Indonesia.

Sejarah LPS
Krisis moneter dan perbankan yang menghantam Indonesia pada tahun
1998 ditandai dengan dilikuidasinya 16 bank yang mengakibatkan menurunnya
tingkat kepercayaan masyarakat pada sistem perbankan. Untuk mengatasi krisis
yang terjadi, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan di antaranya
memberikan jaminan atas seluruh kewajiban pembayaran bank, termasuk
simpanan masyarakat (blanket guarantee). Hal ini ditetapkan dalam Keputusan
Presiden Nomor 26 Tahun 1998 tentang "Jaminan Terhadap Kewajiban
Pembayaran Bank Umum" dan Keputusan Presiden Nomor 193 Tahun 1998
tentang "Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Perkreditan Rakyat".
Dalam pelaksanaannya, blanket guarantee memang dapat menumbuhkan kembali
kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan, namun ruang lingkup
penjaminan yang terlalu luas menyebabkan timbulnya moral hazard baik dari sisi
pengelola bank maupun masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut dan agar tetap
menciptakan rasa aman bagi nasabah penyimpan serta menjaga stabilitas sistem
perbankan, program penjaminan yang sangat luas lingkupnya tersebut perlu
digantikan dengan sistem penjaminan yang terbatas.[1]
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan mengamanatkan
pembentukan suatu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai pelaksana
penjaminan dana masyarakat. Oleh karena itu maka UU LPS ditetapkan pada 22
September

Penjaminan LPS

Sejak tanggal 22 Maret 2007 dan seterusnya, nilai simpanan yang dijamin
LPS maksimum sebesar Rp 100 juta per nasabah per bank, yang mencakup pokok
dan bunga/bagi hasil yang telah menjadi hak nasabah. Bila nasabah bank memiliki
simpanan lebih dari Rp 100 juta maka sisa simpanannya akan dibayarkan dari
hasil likuidasi bank tersebut.
Tujuan kebijakan publik penjaminan LPS tersebut adalah untuk melindungi
simpanan nasabah kecil karena berdasarkan data distribusi simpanan per 31
Desember 2006, rekening bersaldo sama atau kurang dari Rp 100 juta mencakup
lebih dari 98% rekening simpanan.
Sejak terjadi krisis global pada tahun 2008, Pemerintah kemudian mengeluarkan
Peraturan Pemerintah (PP) nomor 66 tahun 2008 tentang Besaran Nilai Simpanan
yang Dijamin Lembaga Penjamin Simpanan, yang mengubah nilai simpanan yang
dijamin oleh LPS yang semula diatur dalam pasal 11 ayat (1) Undang-undang
nomor 24 tahun 2004 menjadi paling banyak Rp2.000.000.000 (dua miliar
rupiah).[3]
Jenis simpanan yang dijamin oleh LPS adalah bentuk-bentuk simpanan nasabah
yang meliputi giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan bentuk-bentuk lain
yang dipersamakan. Nilai saldo yang dijamin oleh LPS adalah saldo pada saat izin
bank tersebut dicabut, dan merupakan penjumlahan dari saldo dari seluruh
rekening yang dimiliki oleh nasabah yang dimaksud.
Secara sederhana, LPS memberikan imbauan mengenai jenis simpanan nasabah
yang dijamin adalah apabila memenuhi syarat-syarat '3T':

 Tercatat dalam pembukuan bank,


 Tingkat bunganya tidak melebihi tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh
LPS, dan
 Tidak melakukan tindakan yang merugikan bank, seperti kredit macet.

Fungsi, Tugas dan Wewenang LPS


Fungsi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

1. Menjamin simpanan nasabah penyimpan.


2. Turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan
kewenangannnya.

Tugas Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

1. Merumuskan dan menetapkan kebijakan pelaksanaan penjaminan


simpanan.
2. Melaksanakan penjaminan simpanan.
3. Merumuskan dan menetapkan kebijakan dalam rangka turut aktif
memelihara stabilitas sistem perbankan.
4. Merumuskan, menetapkan, dan melaksanakan kebijakan penyelesaian
Bank Gagal yang tidak berdampak sistemik. Melaksanakan penanganan Bank
Gagal yang berdampak sistemik.

Wewenang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

1. Menetapkan dan memungut premi penjaminan.


2. Menetapkan dan memungut kontribusi pada saat bank pertama kali
menjadi peserta.
3. Melakukan pengelolaan kekayaan dan kewajiban LPS.
4. Mendapatkan data simpanan nasabah, data kesehatan bank, laporan
keuangan bank, dan laporan hasil pemeriksaan bank sepanjang tidak
melanggar kerahasiaan bank.
5. Melakukan rekonsiliasi, verifikasi, dan/atau konfirmasi atas data tersebut
pada angka 4.
6. Menetapkan syarat, tata cara, dan ketentuan pembayaran klaim.
7. Menunjuk, menguasakan, dan/atau menugaskan pihak lain untuk bertindak
bagi kepentingan dan/atau atas nama LPS, guna melaksanakan sebagian tugas
tertentu.
8. Melakukan penyuluhan kepada bank dan masyarakat tentang penjaminan
simpanan.
9. Menjatuhkan sanksi administratif.

LPS Keterkaitannya Dengan Perbankan Keuangan