Anda di halaman 1dari 12

Makalah Analisis dan Pengelolaan Kredit I

Judul Makalah

Lembaga Terkait Operasional Bank Komersial

Disusun Oleh :

Marfariza Achyar Sugadis

( 083018002 )

PROGRAM STUDI PERBANKAN DAN KEUANGAN


UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2020
Kata Pengantar
Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah,
karena berkat Allah SWT makalah ini dapat saya selesaikan sesuai yang
diharapkan.Dalam makalah ini saya membahas “Lembaga Terkait Operasional
Bank”, makalah ini berisikan mengenai tugas-tugas dari lembaga-lembaga yang
terkait oleh perbankan antara lain yaitu Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia,
Lembaga Penjamin Simpanan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.

Makalah ini tidak hanya membahas tugas dari lembaga lembaga tersebut, makalah
ini juga membahas mengenai undang-undang yang terkait pada lembaga tersebut,
selain itu juga membahas sejarah dari masing-masing lembaga beserta
hubungannya dengan kelembangaan lainya.

Makalah ini dibuat sebagaimana untuk pembelajaran mengenai lembaga lembaga


terkait operasional secara lebih luas dan diharapkan makalah ini mempermudah
proses pembelajaran.

Dalam proses pembuatan makalah ini dan materi ini tidak luput dari sumber-
sumber yang terpecaya yang membantu mempermudah pembuatan makalah ini,
untuk itu rasa terimakasih saya sampaikan kepada pihak yang bersangkutan

Demikian makalah ini saya buat semoga bermanfaat

Depok, 25 Februari 2020


BAB I
Otoritas Jasa Keuangan

Pengertian Otoritas Jasa Keuangan. Otoritas Jasa Keuangan atau OJK


merupakan lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain.
Lembaga negara ini dibentuk berdasarkan Undang Undang Republik Indonesia
Nomor 21 Tahun 2011.

Terbentuknya OJK

OJK dibentuk berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa


Keuangan yang telah diresmikan pada 16 Juli 2012. Ada lima tahap yang dilalui
OJK, sebelum pada akhirnya OJK menjalankan seluruh tugasnya secara
menyeluruh

 15 Agustus 2012 dibentuk Tim Transisi OJK Tahap I yang bertugas untuk
membantu para Dewan Komisioner OJK dalam melaksanakan tugas.
 31 Desember 2012, OJK secara efektif beroperasi dengan cakupan tugas
Pengawasan Pasar Modal dan Industri Keuangan Non-Bank.
 18 Maret 2013, dibentuk Tim Transisi OJK Tahap II yang bertugas
membantu Dewan Komisioner OJK yang melasanakan pengalihan fungsi,
tugas dan wewenang Pengaturan dan Pengawasan Perbankan dari BI.
 31 Desember 2013, OJK sepenuhnya menjalani tugasnya dalam
mengawasi kinerja Perbankan.
 01 Januari 2015, OJK mulai meluaskan pengawasannya ke industry Non-
Bank, yaitu Pengaturan dan Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro
(LKM).

Fungsi Dari Otoritas Jasa Keuangan.

Otoritas Jasa Keuangan OJK berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan


pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa
keuangan.
 Tujuan Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan.

1. Tercapainya seluruh pelaksanaan kegiatan jasa keuangan secara teratur,


adil, transparan dan akuntabel.
2. Tercapainya pelaksanaan kegiatan jasa keuangan dengan sistem keuangan
yang tumbuh secara berkesinambungan.
3. Tercapainya perlindungan terhadap kepentingan konsumen dan
masyarakat penguna jasa keunagan.

Tugas Dari Otoritas Jasa Keuangan.

Tugas OJK adalah melaksanakan pengaturan dan pengawasan terhadap:

1. Kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan,


2. Kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal,
3. Kegiatan jasa keuangan di sektor Asuransi, Dana Pensiun, Lembaga
Pembiayaan, Penggadaian, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.

Hubungan Kelembagaan  

Dalam melaksanakan tugasnya, Otoritas Jasa Keuangan OJK berkoordinasi


dengan Bank Indonesia dalam membuat peraturan pengawasan di bidang
Perbankan.

Jika Bank Indonesia memerlukan pemeriksaan khusus terhadap bank tertentu,


maka Bank Indonesia dapat melakukan pemeriksaan langsung terhadap bank
tersebut dengan menyampaikan pemberitahuan secara tertulis terlebih dahulu
kepada otoritas jasa keuangan OJK.

Lembaga Penjamin Simpanan dapat melakukan pemeriksaan terhadap bank yang


terkait dengan fungsi, tugas dan wewenangnya, serta berkoordinasi terlebih
dahulu dengan otoritas jas keuangan OJK.
Otoritas jasa keuangan OJK, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan
wajib membangun dan memelihara sarana pertukaran informasi secara
terintegrasi.

BAB II

Bank Indonesia

Sejarah Bank Indonesia

Bank Indonesia dulu dikenal dengan nama De Javasche Bank didirikan tepatnya
pada tahun 1828. De Javasche Bank bertugas mencetak dan mengedarkan uang.
Kira-kira satu abad kemudian, tepatnya pada tahun 1953, Bank Indonesia
dibentuk dengan menggantikan fungsi dan peran De Javasche Bank.

Pada tahun 1999 Bank Indonesia memasuki era baru dalam sejarah sebagai Bank
Sentral independen yang memiliki tugas dan wewenang untuk mencapai dan
memelihara kestabilan nilai rupiah. Tugas tersebut ditetapkan dalam Undang-
Undang No. 23 Tahun 1999. Setelah itu, beberapa amendemen Undang-Undang
Bank Indonesia dilakukan. Pertama pada tahun 2004, UU Bank Indonesia
diamendemen dengan konsentrasi pada aspek penting yang berhubungan dengan
pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia.

Amendemen selanjutnya yaitu pada tahun 2008 ketika pemerintah mengeluarkan


Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 2 tahun 2008 tentang Perubahan Kedua
atas UU No. 23 tahun 1999. Dalam perubahan tersebut ditegaskan bahwa Bank
Indonesia juga berperan sebagai bagian dari upaya dalam menjaga stabilitas
sistem keuangan.

Undang-Undang No. 23 tahun 1999 yang kemudian diubah melalui Undang-


Undang No. 6 tahun 2009 tentang Bank Indonesia. Mengingat status tersebut,
maka pihak luar atau pihak lain tidak boleh melakukan intervensi dalam bentuk
apapun. Bank Indonesia juga berkewajiban untuk menolak usaha campur tangan
apapun dari pihak luar

Fungsi Utama

Yaitu di bidang perbankan, moneter, dan sistem pembayaran. Selain itu, Bank
Indonesia juga diberi wewenang untuk melakukan fungsi bank komersial
sebagaimana pendahulunya. Bank Indonesia juga memiliki tugas tambahan yaitu
membantu pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Tugas Bank Indonesia

 Menjaga kestabilan nilai rupiah terhadap barang dan jasa


 Menjaga kestabilan nilai rupiah terhadap mata uang negara lain
 Membuat dan mengawasi regulasi untuk semua bank yang ada di
Indonesia
 Melakukan penelitian juga pemantauan
 Menyimpan uang kas negara dan memberikan bantuan dana kepada Bank-
Bank di Indonesia yang sedang mengalami krisis.

Hubungan kelembagaan

Hubungan BI dengan Pemerintah : Hubungan Keuangan

Dalam hal hubungan keuangan dengan Pemerintah, Bank Indonesia membantu


menerbitkan dan menempatkan surat-surat hutang negara guna membiayai
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tanpa diperbolehkan membeli
sendiri surat-surat hutang negara tersebut.
Bank Indonesia juga bertindak sebagai kasir Pemerintah yang menatausahakan
rekening Pemerintah di Bank Indonesia, dan atas permintaan Pemerintah, dapat
menerima pinjaman luar negeri untuk dan atas nama Pemerintah Indonesia.

Namun demikian, agar pelaksanaan tugas Bank Indonesia benar-benar terfokus


serta agar efektivitas pengendalian moneter tidak terganggu, pemberian kredit
kepada Pemerintah guna mengatasi deficit spending - yang selama ini dilakukan
oleh Bank Indonesia berdasarkan undang-undang yang lama - kini tidak dapat
lagi dilakukan oleh Bank Indonesia
BAB III

Lembaga Penjamin Simpanan

Sejarah LPS

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), yaitu lembaga independen yang


dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga
Penjamin Simpanan (UU LPS) yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 7
Tahun 2009. UU LPS diundangkan tanggal 22 September 2004 dan mulai berlaku
12 bulan setelah diundangkan, yaitu tanggal 22 September 2005.

Dengan berlakunya UU LPS maka LPS mulai beroperasi sejak tanggal 22


September 2005, perubahan yang signifikan dalam penjaminan melalui LPS
adalah dihapuskannya blanket guarantee, yaitu penjaminan seluruh kewajiban
bank, tanpa ada batasan nilai menjadi limited guarantee, yaitu penjaminan secara
terbatas.

Fungsi LPS

Menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif memelihara stabilitas


sistem perbankan sesuai kewenangannnya. Simpanan nasabah bank konvensional
yang dijamin LPS berbentuk: Tabungan, Deposito, Giro, Sertifikat Deposito, dan
bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. Selain itu, LPS juga menjamin
simpanan nasabah bank syariah yang berbentuk: Giro Wadiah, Tabungan Wadiah,
Tabungan Mudharabah dan Deposito Mudharabah.

Tugas LPS

1. Merumuskan dan menetapkan kebijakan pelaksanaan penjaminan


simpanan
2. Melaksanakan penjaminan simpanan
3. Merumuskan dan menetapkan kebijakan dalam rangka turut aktif
memelihara stabilitas sistem perbankan
4. Merumuskan, menetapkan, dan melaksanakan kebijakan penyelesaian
bank gagal yang tidak berdampak sistemik
5. Melaksanakan penanganan bank gagal yang berdampak sistemik

Hubungan Lembaga Keuangan

Program penjaminan pemerintah (blanket guarantee) telah berhasil


mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan. Namun,
kebijakan tersebut tersebut meningkatkan beban anggaran negara dan berpotensi
menimbulkan moral hazard oleh pihak pengelola bank dan nasabah bank. Dalam
rangka mengurangi dampak negatif dari program penjaminan pemerintah tersebut,
telah didirikan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), LPS memiliki dua fungsi
yaitu menjamin simpanan nasabah bank dan melakukan penyelesaian atau
penanganan bank yang tidak berhasil disehatkan atau bank gagal.

Penjaminan simpanan nasabah bank yang dilakukan LPS bersifat terbatas


untuk mengurangi beban anggaran negara dan meminimalkan moral hazard.
Namun demikian, tetap dijaga kepentingan nasabah secara optimal. Setiap bank
yang beroperasi di Indonesia baik Bank Umum maupun Bank Perkreditan Rakyat
(BPR) diwajibkan untuk menjadi peserta penjaminan.  Adapun jenis simpanan di
bank yang dijamin meliputi tabungan, giro, sertifikat deposito dan deposito
berjangka serta jenis simpanan lainnya yang dipersamakan dengan itu. Skim
penjaminan LPS telah dimulai secara penuh pada sejak tanggal 22 Maret 2007.

Apabila terdapat bank yang mengalami kesulitan keuangan dan gagal


disehatkan kembali sehingga harus dicabut izin usahanya, LPS akan membayar
simpanan setiap nasabah bank tersebut sampai jumlah tertentu, sebagaimana
ditetapkan. Adapun simpanan nasabah yang tidak dijamin akan diselesaikan
melalui proses likuidasi bank. Dengan adanya penjaminan simpanan nasabah bank
oleh LPS, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan dapat
tetap terpelihara
BAB IV

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan

Pengertian PPATK

Pusat pelaporan dan analisis transaksi keuangan adalah lembaga


independen yang dibentuk dalam rangka mecengah dan memberantas tindak
pidana pencucian uang. Lembaga ini memiliki kewenangan untuk melaksanakan
kebijakan pencengahan dan pemberantasan pencucian uang sekaligus membangun
rezim anti pencucian uang dan kotra pendanaan teorisme di indonesia.

Sejarah PPATK

PPATK didirikan pada tanggal 17 April 2002, bersamaan dengan


disahkannya Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang. Secara umum keberadaan lembaga ini dimaksudkan
sebagai upaya Indonesia untuk ikut serta bersama dengan negara- negara lain
memberantas kejahatan lintas negara yang terorganisir seperti terorisme dan
pencucian uang.

Sebelum PPATK beroperasi secara penuh sejak 18 Oktober 2003, tugas


dan wewenang PPATK yang berkaitan dengan penerimaan dan analisis transaksi
keuangan mencurigakan di sektor perbankan, dilakukan oleh Unit Khusus
Investigasi Perbankan Bank Indonesia (UKIP-BI). Selanjutnya dengan
penyerahan dokumen transaksi keuangan mencurigakan dan dokumen pendukung
lainnya yang dilakukan pada tanggal 17 Oktober 2003, maka tugas dan wewenang
dimaksud sepenuhnya beralih ke PPATK.

Dalam perkembangannya, tugas dan kewenangan PPATK seperti


tercantum dalam Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 25 Tahun
2003 telah ditambahkan termasuk penataan kembali kelembagaan PPATK
pada Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang yang disahkan dan diundangkan pada tanggal 22
Oktober 2010.[1]

Pada tahun 2013, DPR meloloskan UU no. 9 tahun 2013 Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. Dalam UU tersebut,
menjelaskan tentang Transaksi Keuangan Mencurigakan terkait Pendanaan
Terorisme yang wajib dilaporkan Penyedia Jasa Keuangan kepada PPATK. Diatur
juga mengenai kerahasiaan tugas serta adanya kewenangan PPATK untuk
memblokir rekening bermasalah

Fungsi PPATK

1. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.


2. Pengelolaan data dan informasi yang diperoleh PPATK.
3. Pengawasan terhadap kepatuhan pihak pelapor.
4. Analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi transaksi keuangan yang
berindikasi tindak pidana pencucian uang seperti tindak korupsi,
penyuapan, narkotika, psikotropika, penyelundupan tenaga kerja,
penyelundupan migran, di bidang perbankan, di bidang pasar modal, di
bidang perasuransian, kepabeanan, cukai, perdagangan orang, perdagangan
senjata gelap, terorisme, penculikan, pencurian, penggelapan, penipuan,
pemalsuan uang, perjudian, prostitusi, di bidang perpajakan, di bidang
kehutanan, di bidang lingkungan hidup, di bidang kelautan dan perikanan;
atau tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara empat tahun
atau lebih.

Tugas PPATK

Pasal 39 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan


Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, menetapkan PPATK mempunyai
tugas mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang.
Hubungan Kelembagaan

Bank Indonesia dan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan


(PPATK),bekerja sama dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak
pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme. Kerjasama antara BI dan
PPATK dilakukan dengan mendatangani nota kesepahaman ini merupakan yang
ketiga ditahun 2015, dan sekaligus penyempurnaan terhadap nota kesepahaman
yang kedua di tahun 2010 Nota kesepahaman kali ini bersifat lebih komprehensif.

Kami menyambut baik kerja sama ini, dimana dimulai sejak 2003 lalu.
MoU kali ini kerjasama diperluas, dimana salah satunya adalah join audit, MoU
kali ini dilengkapi beberapa penambahan, seperti memuat tata cara pertukaran
informasi antara BI dengan PPATK, Kemudian ada perluasan cakupan definisi
informasi sesuai dengan perkembangan TIK, reformulasi tujuan diadakannya
kesepahaman, Terkait upaya pembangunan rezim Anti Pencucian Uang dan
Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU/PPT), pada tahun 2001, Bank Indonesia
sudah mengeluarkan Peraturan BI No. 3/10/PBI/2001 yang mengatur tentang
Prinsip Mengenal Nasabah (Know You Customer). Regulasi ini adalah awal
terbentuknya mekanisme pengawasan kepatuhan industri perbankan terhadap
prinsip-prinsip APU/PPT