Anda di halaman 1dari 8

RMK :

Expense (Beban)

OLEH:

Winda Ayu Lestari

A031191188

DEPARTEMEN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2021
LO 1: EXPENSES DEFINED

Menurut Framework, expense adalah penurunan economic benefits berbentuk outflow atau depletion
(penggunaan) dari suatu aset, atau terbentuknya liabilitas yang mengakibatkan berkurangnya equity selain
dikarenakan adanya distribusi untuk partisipasi dari banyak pihak di dalam komponen ekuitas. Pada
Framework juga dinyatakan bahwa loss secara nature tidak berbeda dengan expense lainnya karena sama-
sama menurunkan economic benefits dari suatu aset.

Change in assets and liabilities

Framework menyatakan bahwa terjadinya suatu expense akan berdampak terhadap penurunan nilai dari
suatu aset maupun peningkatan nilai dari suatu liabilitas. Namun pendefinisian expense tersebut terlalu
bersifat umum, pada dasarnya akan lebih cocok untuk mengkorelasikan expense suatu perusahaan dengan
aktivitas penggunaan resource dalam rangka mendukung kegiatan yang membentuk profit.

Expenses and ‘costs’

Prinsip yang harus diingat dalam mendefinisikan expense adalah ‘no cost, no expense’. Yakni ketika kita
sebagai entitas tidak mengeluarkan biaya dalam memperoleh suatu manfaat maka kita tidak perlu
mengakui adanya expense dari manfaat yang kita peroleh tersebut. Terkadang, expense didefinisikan juga
sebagai expired cost.

LO 2: EXPENSE RECOGNITION

Ada dua kriteria yang harus dipenuhi dalam expense recognition yaitu:

1. Adanya probabilitas bahwa akan ada future economic benefits yang terlibat dalam item
tersebut akan mengalir dari atau kepada entitas bisnis kita. Expense dikatakan probable karena
pada umumnya kita berada di lingkungan yang penuh dengan uncertainty. Untuk memastikan
probabilitas tersebut maka kita harus membuat degree of uncertainty. Degree of uncertainty ini juga
harus memenuhi karakteristik prudence (kehati-hatian dalam menetapkan degree probabilitas dalam
melakukan judgement yang dibutuhkan dalam mengestimasi keadaan yang kondisinya uncertain) dan
neutrality (free from bias).

2. Item tersebut harus memiliki cost atau value yang dapat diukur secara reliable. Pengukuran
yang reliable maksudnya adalah ketika pengukuran membutuhkan estimasi, maka harus ada bukti
yang cukup untuk mendukung validitas dari estimasi tersebut. Misalnya untuk mengakui suatu item
sebagai expense maka bukti yang valid adalah adanya penurunan pada nilai suatu aset atau kenaikan
nilai liabilitas.

LO 3: EXPENSE MEASUREMENT

Pengukuran Beban

Pengertiannya adalah pengukuran beban dalam periode saat ini, beberapa keputusan diperlukan
untuk membuat bagaimana beban seharusnya dialokasikan di masa depan yang dihasilkan dari
pendapatan. Ada beberapa standar akuntansi yang menyediakan petunjuk pada persoalan tersebut, namun
menawarkan beberapa metode dari beban dan proporsionalan pendapatan.

Alokasi beban

Satu pendekatan untuk mengukur beban adalah untuk mengalokasikan pada periode dimana
mereka berada. Proses matching berhubungan dengan kekonsistenan atau terhubungnya pengakuan
pendapatan dan beban yang dihasilkan langsung dan secara tergabung dari transaksi atau kejadian yang
lainnya.

Matching secara benar merupakan tugas yang susah, dan berkait dengan keputusan yang besar di
bagian akuntan. Akuntan tersebut harus mengidentifikasikan asset yang mana yang terpakai dan jumlah
yang seharusnya di hapus terhadap pendapatan untuk suatu periode.

Konsep matching adalah kepentingan yang kritis di dalam akuntansi historical cost. Hal tersebut
menyediak petunjuk para akuntan dalam memutuskan biaya yang mana seharusnya dibebankan dan di
matchkan terhadap revenue untuk periode tersebut, dan biaya yang mana dianggap masih berlaku. Untuk
mengatasi masalah-masalah yang terlibat dengan menentukan dan mengukur biaya yang akan dibebankan
dan di carried forward, terdapatnya tiga metode dasar dari matching yang secara umum, yaitu:

 Associating cost and effect

 Systematic and rational allocation

 Immediate recognition

Yang pertama adalah jalan yang paling ideal, dimana yang kedua dan ketiga ketika yang pertama tidak
dapat digunakan.

1. Associating cause and effect

Akuntan memutuskan dimana beberapa barang dan jasa digunakan harus memiliki pertolongan
dalam pembuatan pendapatan pada suatu periode. Pendapatan dari menjual produk biasanya berhubungan
dengan biaya dari produk yang dijual tersebut. Tidak adanya biaya dari seuatu penjualan jika tidak adanya
pendapatan. Contohnya adalah “long term contracts”.

Akuntan tidak secara langsung menghubungkan biaya dengan pendapatan, namun


menyamakannya dengan biaya interval waktu.

Systematic and allocation procedure

Pengasosiasian cause dan effect tidak dapat digunakan untuk semua beban. Ketika tidak dapat
diterapkan, terdapat suatu alternative untuk menggunakan sistematis dan prosedur alokasi rasional. Proses
matching dimulai dengan pengasosiasian bebang dengan beberapa segmen waktu.

IAS 16/AASB 16 PPE menerjemahkan depresiasi sebagai alokasi sistematis dari jumlah yang
dapat didepresiasi dari suatu asset pada umur penggunaanya. Depresiasi adalah fenomena yang terjadi
dan beban yang dicatat adalah reflek keuangan.
Depresiasi merupakan penurunan dalam nilai suatu asset, penurunan nilai biasanya dikarenakan
penurunan harga nilai pasar. Penurunan tersebut dapat didasarkan karena faktor fisik dan ekonomis.

Alokasi biaya adalah konsep matching yang menjunjung terhadap prosedur yang bervariasi. Idea
ini adalah untuk menemukan beberapa metode yang kurang lebih berhubung dengan patter dari jasa atau
benefit yang disediakan oleh asset untuk periode masa depan.

Terdapat tiga bentuk share based payment, yakni:

 Equity settled share-based payments

 Cash-settled share-based payments

 Other transactions

2. Alokasi Sistematis dan Rasional

Sesuai dengan prinsip penandingan (matching principle), beban untuk suatu periode ditentukan
dengan mengaitkannya dengan pendapatan tertentu atau dengan periode tertentu.. Beban diakui :

 jika terdapat hubungan langsung atau sebab akibat dengan penjualan produk atau penyerahan
jasa,
 pada periode terjadinya, yakni pada saat kas dikeluarkan jika tidak terdapat hub. Langsung atau
sebab akibat dengan penjualan produk atau jasa,
Namun jika 2 syarat itu tidak terpenuhi, maka prosedur alokasi yang sistematis dan rasional yang
digunakan. Tujuannya adalah untuk mengalokasikan biaya kepada periode-periode yang menerima
manfaat (dikonsumsi atau kedaluwarsa). Salah satu contoh implementasi alokasi yang sistematis dan
rasional adalah depresiasi.
IAS 16/AASB 116 tentang Property, Plant and Equipment mendefinisikan depresiasi sebagai
“alokasi sistematis dari jumlah yang dapat didepresiasikan dari suatu aset selama masa manfaatnya”
(par.6). IAS 16/AASB 116 par.60 juga menyatakan bahwa metode depresiasi yang digunakan harus
mencerminkan pola dimana manfaat ekonomi aset di masa depan diharapkan diterima/dikonsumsi. Jadi,
penyusutan adalah proses alokasi, bukan penilaian. Alokasi sendiri diartikan sebagai proses pembagian
nilai awal dan penerapan bagian-bagian nilai tersebut ke dalam periode-periode. Kerasionalan metode
pemisahan ini diartikan bahwa pemisahan tersebut harus dikaitkan dengan manfaat yang diharapkan
dalam tiap pemisahan.
Secara umum depresiasi dapat dilihat sebagai fenomena nyata yang terjadi, dimana pencatatannya
sebagai beban adalah efek moneternya. Secara umum akuntan melihat depresiasi sebagai “penurunan nilai
aset” yang biasanya juga berarti “penurunan harga pasar” yang dikarenakan (1) faktor fisik seperti
keausan dan penurunan daya guna karena pemakaian, dan (2) faktor ekonomi misalnya keusangan. Akan
tetapi pemakaian dan keusangan tidak dapat diukur dengan normal dan tidak ada jejak hubungan antara
alokasi dengan pendapatan atau periode pembebanan penyusutan. Penyusutan, karenanya , didefinisikan
sebagai suatu alokasi rasional dan sistematis atas biaya ke periode-periode aset dianggap dipakai.
Dengan pemaknaan penyusutan sebagai alokasi nilai perolehan ke dalam masa manfaat aset,
maka praktik penyutan akan sangat dipengaruhi oleh:
(1) Metode alokasi
(2) Nilai yang dapat disusutkan, dan
(3) Nilai sisa
Metode alokasi yang sering dilakukan adalah metode garis lurus, unit produksi, metode yang
dipercepat dll.
Namun metode alokasi sistematis dan rasional tetap memiliki kelemahan, yaitu sangat
mengandalkan pada estimasi dan asumsi yang subjektif dan sewenang-wenang. Salah satu contoh alokasi
berbasiskan biaya yang subjektif dan sewenang-wenang adalah amortisasi goodwill. Sebelum adopsi
stándar IASB di 2005, banyak entitas yang mengamortisasikan goodwill selama 20 tahun atau kurang,
kebanyakan berdasarkan metode garis lurus. Banyak yang berargumen bahwa goodwill tidak mengalami
penurunan nilai sehingga tidak perlu diamortisasi. Sejak 1 Januari 2005, IFRS tidak mewajibkan goodwill
diamortisasi. IFRS 3/AASB 3 Business Combination par. 54 menyatakan bahwa setelah diakuisisi,
goodwill yang diperoleh melalui kombinasi bisnis diukur sesuai biaya perolehan dikurangi kerugian
impairment. Sehingga proses estimasi untuk menentukan amortisasi goodwill tidak terlalu diperlukan.
Salah satu area lain dimana alokasi maíz digunakan adalah yang berkenaan dengan pembayaran
berbasis saham (share-based payments). PSAK 53 Akuntansi kompensasi berbasis saham mengatur hal
ini. PSAK 53 melingkupi seluruh transaksi pembayaran berbasis saham, yang didefinisikan sebagai
berikut:
 Equity-settled, Diselesaikan dengan instrumen ekuitas, entitas yang
menerima barang atau jasa yang dibayar dengan instrumen ekuitas
milik entitas (termasuk saham dan opsi saham)
 Cash-settled, Diselesaikan dengan pembayaran kas, entitas yang
memperoleh barang atau jasa akan menimbulkan liabilitas kepada
pemasok barang atau jasa untuk suatu jumlah tertentu yang dihitung
berdasarkan harga (nilai) saham milik entitas atau instrumen ekuitas
entitas; dan

 Transaksi dimana entitas menerima barang atau jasa dimana entitas


maupun pemasok barang atau jasa memiliki pilihan atas transaksi
tersebut untuk diselesaikan secara tunai (atau aset lain) atau
instrumen ekuitas.
PSAK 53 juga diterapkan untuk transfer oleh shareholders kepada pihak lain (termasuk
karyawan) yang telah mentransfer barang atau jasa lepada entitas. Termasuk transfer instrumen ekuitas
dari induk kepada entitas anak dimana entitas menyediakan barang atau jasa. PSAK 53 juga diterapkan
ketika entitas tidak menerima barang atau jasa yang tidak dapat diidentifikasi secara khusus, namun
kondisi lain mengindikasikan bahwa barang atau jasa telah diterima.
Untuk pengakuannnya, Entitas harus mengakui barang atau jasa yang diterima atau diperoleh
dalam transaksi pembayaran berbasis saham pada saat memperoleh barang atau pada saat jasa diterima.
Entitas juga harus mengakui kenaikan nilai ekuitas terkait jika barang atau jasa diterima dalam transaksi
pembayaran berbasis saham yang diselesaikan dengan instrumen ekuitas, atau kenaikan nilai liabilitas jika
barang atau jasa diperoleh dalam transaksi pembayaran berbasis saham yang diselesaikan dengan kas.
Ketika barang atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam transaksi pembayaran berbasis saham tidak
memenuhi kualifikasi pengakuan sebagai aset, maka barang atau jasa tersebut harus diakui sebagai beban.
Untuk pengukuran equity-settled share-base payment transactions (transaksi pembayaran
berbasis saham yang diselesaikan dengan instrumen ekuitas), entitas harus mengukur barang atau jasa
yang diterima, dan kenaikan ekuitas terkait, secara langsung, pada nilai wajar barang atau jasa yang
diterima, kecuali jika nilai wajar tersebut tidak dapat diestimasi secara andal. Jika entitas tidak dapat
mengestimasi nilai wajar barang atau jasa yang diterima secara andal, maka entitas harus mengukur nilai
barang dan jasa tersebut, dan kenaikan ekuitas terkait, secara tidak langsung, dengan mengacu pada nilai
wajar instrumen ekuitas yang diberikan.
Untuk pengukuran Cash-settled share-based payment transactions (transaksi pembayaran
berbasis saham yang diselesaikan dengan kas), entitas harus mengukur barang atau jasa yang diperoleh
dan liabilitas yang timbul sebesar nilai wajar liabilitas. Sampai dengan liabilitas tersebut diselesaikan,
entitas harus mengukur kembali nilai wajar liabilitas pada setiap akhir periode pelaporan dan pada tanggal
penyelesaian, dimana setiap perubahan nilai wajar diakui dalam laporan laba rugi pada periode tersebut.
Sedangkan untuk pengukuran transaksi dengan karyawan, instrumen ekuitas yang diberikan
diukur pada nilai wajar pada tanggal pemberian. Tanggal pemberian instrumen yang diukur pada nilai
wajar diakui setelah vesting period. Untuk transaksi dengan non-karyawan :
 Barang atau jasa yang diperoleh entitas diukur pada nilai wajar pada tanggal entitas memperoleh
barang atau menerima jasa.
 Jika nilai wajar barang atau jasa yang diterima tidak dapat diukur secara handal, maka diukur
dengan merujuk pada nilai wajar instrumen ekuitas yang diberikan.

3. Immediate recognition
Prinsip terakhir untuk pengakuan dan pengukuran beban dapat dilihat dari kemungkinan suatu akun tidak
termasuk dalam cakupan prinsip pertama dan kedua. Suatu contoh penggunaan pengakuan segera adalah
pencatatan beban iklan. Efek dari iklan mungkin memiliki manfaat yang lama, tetapi sulit untuk
ditentukan. Contoh, pelanggan dapat membeli produk karena mereka berada dipengaruhi oleh iklan yang
mereka lihat dua tahun sebelumnya. Sejak manfaat tidak dapat ditentukan secara kredibel, biaya iklan
biasanya segera diakui sebagai beban. Demikian pula, research expenditure langsung diakui sebagai
beban di bawah IAS 38/AASB 138 Intangible Assets. IASB berpandangan bahwa research
expenditure tidak memenuhi kriteria pengakuan untuk aset, karena manfaat ekonomi tidak  dapat
diperkirakan atau tidak dapat diukur dengan andal.

Beban impairment merupakan item lain erupakan item lain yang perlu pengakuan segera. yang perlu
pengakuan segera. Meskipun aktiva  berwujud  berwujud dan tidak berwujud berwujud dapat dikenakan
dikenakan penyusutan penyusutan atau amortisasi, proses alokasi alokasi mungkin terjadi kesalahan
dalam penilaian atau nilai aset dapat dipengaruhi oleh kejadian tak  terduga lainnya. Ketika jumlah
terpulih terduga lainnya. Ketika jumlah terpulihkan suatu kan suatu aset (asset’s recoverable amount)
dianggap kurang dari carryin carrying value, beban langsung diakui dalam laporan laba rugi sesuai
dengan IAS 36/ AASB 136 Impairment of Assets. Dengan demikian, biaya imparment  timbul karena  
nilai aset, konsisten dengan definisi beban menurut framework.

LO 4 : CHALLENGES FOR ACCOUNTING STANDARD SETTERS

Matching

Bunyi dari theoretical framework untuk financial statement dapat berarti bahwa antara balance
sheet (statement dari financial position) dan income statement mepresentasikan informasi dengan
karakteristik dari kerelevansian dan representational faithfulness. Framework bertugas untuk
menyediakan definisi dan kriteria pengakuan, untuk meningkatkan konsistensi antara standard.

Ditambah lagi, secara spesifik framework mengungkapkan bahwa konsep matching tidak
seharusnya diaplikasi pada salah satu cara untuk mengizinkan pengakuan terhadap items pada balance
sheet yang bertemu dengan definisi dari asset dan liabilities.

Conservatism

Konsep Matching membutuhkan penilaian yang baik dari keputusan dalam menentukan apakah
nilai dari biaya dapat dijalankan untuk masa depan atau pada periode ini. hal ini sangat penting untuk
pemintaan akuntan terhadap bukti objektif untuk pengakuan dari revenue, tetapi terdapat kekurangan pada
diskusi dari bukti objektif dihubungkan untuk pengakuan ekspense. Satu alasan untuk lebih kurang
kebutuhan untuk bukti objective dalam peengakuan ekspense dibanding dengan revenue adalah kovensi
dari conservatism. konvensi memanggil untuk mencatat dari ekspense, losses dan liabilities sesegera
mungkin walaupun terdapatbukti yang lemah.

Beberapa pendapat yang conservatism didasarkan pada profitability dan reability criteria yang
terekspose dalam framework. syarat yang memungkinkan berarti keadaan pada masa yang akan datang
seperti pengkonfirman dari loss dan exspense.

Tipe Kesalahan dalam Expense

- Improper deferral of ekspenditures


Kesalahan ini terjadi ketika perusahaan banyak yang tidak mencatat pengorbanan yang tidak
memiliki future benefit sebagai expense. kesalahan yang sering terjadi yakni pada perhitungan
operating expense. operating ekspense terdiri dari tiga kategori yakni: selling, general and
administrative (G&A) dan research & development (R&D). Pengecualian untuk beberapa kasus
dimana seperti advertising Expense yang mempunyai future benefit untuk penjualan kepada
konsumen. hal ini dapat disikapi yakni dengan melihat tingkatan dari future benefit yang
perusahaan akan terima. terdapat situasi dimana advertising expense dapat ditunda seperti:
a. ketika advertising terjadi diperuntukan untuk mendapatkan penjualan kepada konsumen.
b. biaya yang ditimbulkan kita lihat dapat memberikan manfaat.
Berdasarkan SOP 93-7 dimana penundaan advertising cost harus mengikuti recoverability test.

- Imairment not recognized


Kesalahan yang terjadi yang berikutnya untuk expense adalah tidak dicatatnya sebagai expense
untuk impairment ketika impairment loss terjadi. hal ini menimbulkan nilai overstated pada aset
tersebut yang ternyata pengorbanan yang perusahaan ketika membeli aset tersebut dimana
pengorbanan tersebut tidak memiliki future benefit lagi.

- Netting and camouflaging expense.


Hal ini terjadi ketika nilai expense salah diklasifikasikan sehingga expense tidak secara eksplisit
tertera dalam pengurang income statement tetapi langsung atau tidak terlihat dalam income
statement dimana langsung mengurangi gain yang didapat sehingga gain tersebut kecil dengan
expense yang kecil pula.
- Improper charges to reserve accounts
Beberapa perusahaan melanggar GAAP dengan mengatur reserve yang tidak perlu untuk
melindungi tak diperinci.GAAP melarang sebuah bisnis dari membentuk reserve account untuk
mengeneralkan sesuatu. GAAP juga mensyaratkan perusahaan untuk secara langsung
memperbaiki besaran dari reserve kedalam pendapatan walaupun itu jelas.

Anda mungkin juga menyukai