Anda di halaman 1dari 13

AKHLAK DALAM KEHIDUPAN SOSIAL KEMASYARAKATAN

(IJTIMA’IYYAH) DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

MAKALAH

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH


AKHLAK
Yang dibina oleh Bapak H. Imam Wahyudi, M.Pd.I

Oleh:

1. Nurul Aida (20202001480261)


2. Roudlotun Nasikhah. (20202001480264)

INSTITUT AGAMA ISLAM ULUWIYAH MOJOKERTO


FAKULTAS TARBIYAH
PROGRMA STUDI PEDIDIKAN AGAMA ISLAM
JUNI 2021

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur yang tak henti-hentinya saya haturkan atas kehadirat Allah
SWT, karena hanya dengan rahmat dan karunia-Nya, saya masih memiliki
kesempatan untuk menyelesaikan tugas makalah  ini. Shalawat serta salam
semoga selalu tercurah kepada Baginda Nabi kita Rasulullah Muhammad
Shallallahu’alaihiwasallam, atas perjuangan Beliau sehingga kita bisa merasakan
nikmatnya berislam. Alhamdulillah. Juga tidak lupa pula saya ucapkan terima
kasih kepada  Bapak Nurjali yang dengan sangat sabar membimbing saya
khususnya pada mata kuliah agama, sehingga saya dapat mengerti sebagaimana
mestinya. Makalah ini ditulis dan disusun agar para pembaca dapat mengambil
mutiara-mutiara ilmu dari pokok bahasan yang dituliskankan dalam hal ini
berkenaan dengan seberapa pentingnya peranan akhlak yang baik dalam
mempengaruhi peradaban pada masyarakat. Makalah ini ditulis dan disusun oleh
saya dengan berbagai referensi, baik itu yang datangnya dari saya pribadi ataupun
dari pemikiran orang lain. Namun, dengan penuh kesabaran dan tentunya
pertolongan dari Allah SWT,  akhirnya makalah ini bisa terselesaikan. Semoga
makalah ini dapat menjadi manfaat  bagi para pembaca, mahasiswa, pelajar dan
masyarakat umum khususnya pada diri saya sendiri. Dan dengan kerendahan hati
saya berharap semoga makalah ini dapat memberikan tambahan ilmu yang lebih
luas kepada pembacanya. Akhir kata lembaran ini saya mohon maaf jika makalah
ini nantinya terdapat kekurangan pada tulisan atau pendapat yang kurang
berkenan bagi anda semua.

                                                                      

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................i


DAFTAR ISI ............................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG.......................................................................1
B. RUMUSAN MASALAH...................................................................1
C. TUJUAN ............................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN AKHLAK.................................................................2
B. TERHADAP MASYARAKAT.........................................................6

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN..................................................................................9

DAFTAR ISI

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang


Akhlak ialah sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam
dalam jiwanya dan selalu ada padanya. Sifat itu dapat lahir berupa perbuatan
baik, disebut akhlak mulia, atau perbuatan buruk, disebut akhalak yang tercela
sesuai dengan pembinaannya. Jadi akhlak pada hakikatnya khulk (budi
pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam
jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam
perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa
memerlukan pemikiran.
Sebagai makhluk sosial kita adalah makhluk yang tak bisa hidup tanpa
orang lain, maka dari itu Islam datang sebagai ajaran yang universal yang
membahas dan mencangup tentang akhlak dalam hidup bermasyarakat. Juga
tida bisa dilupakan bahwa manusia juga adalah makhuk yang tidak bisa hidup
tanpa alamnya dan lagi Islam dengan ajarannya yang mencakup semua aspek
memberikan cara atau contoh bagaimana menjaga dan melindungi alam dan
menjaga kelestarian alamnya.

B.     Rumusan Masalah


1.      Bagaimana akhlak bermasyarakat itu?
2.      Bagaimana akhlak melestarikan lingkungan itu ?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui cara hidup bermasyarakat
2.      Mengetahui bagaimana akhlak kita dengan alam / lingkungan

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Akidah Akhlak


Menurut bahasa, kata aqidah berasal dari bahasa Arab yaitu [-ُ‫يَ ْعقِد‬-َ‫َعقَد‬
‫ ] َع ْق ًد‬artinya adalah mengikat atau mengadakan perjanjian. Sedangkan Aqidah
menurut istilah adalah urusan-urusan yang harus dibenarkan oleh hati dan
diterima dengan rasa puas serta terhujam kuat dalam lubuk jiwa yang tidak
dapat digoncangkan oleh badai subhat (keragu-raguan). Dalam definisi yang
lain disebutkan bahwa aqidah adalah sesuatu yang mengharapkan hati
membenarkannya, yang membuat jiwa tenang tentram kepadanya dan yang
menjadi kepercayaan yang bersih dari kebimbangan dan keraguan.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat dirumuskan bahwa
aqidah adalah dasar-dasar pokok kepercayaan atau keyakinan hati seorang
muslim yang bersumber dari ajaran Islam yang wajib dipegangi oleh setiap
muslim sebagai sumber keyakinan yang mengikat.
Sementara kata “akhlak” juga berasal dari bahasa Arab, yaitu [‫]خلق‬
jamaknya  [‫ ]أخالق‬yang artinya tingkah laku, perangai tabi’at, watak, moral atau
budi pekerti. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhlak dapat diartikan
budi pekerti, kelakuan. Jadi, akhlak merupakan sikap yang telah melekat pada
diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku atau
perbuatan. Jika tindakan spontan itu baik menurut pandangan akal dan agama,
maka disebut akhlak yang baik atau akhlaqul karimah, atau akhlak mahmudah.
Akan tetapi apabila tindakan spontan itu berupa perbuatan-perbuatan yang
jelek, maka disebut akhlak tercela atau akhlakul madzmumah.
A.    Akhlak Terhadap Masyarakat
Kesusilaan adalah peraturan hidup yang berasal dari suara hati
manusia. Kesusilaan mendorong manusia untuk kebaikan akhlaknya.
Kesusilaan berasal dari ethos dan esprit yang ada dalam hati nurani. Sanksi
yang melanggar kesusilaan adalah batin manusia itu sendiri seperti
penyesalan, keresahan dan lain-lain.

2
1.      Pembangunan Moral dan Akhlak Bangsa. Keberhasilan dan kegagalan
suatu negara terletak pada sikap dan prilaku dari seluruh komponen
bangsa, baik pemerintah, DPR (wakil rakyat), pengusaha, penegak
hukum dan masyarakat. Apabila moral etik dijunjung oleh bangsa kita
maka tatanan kehidupan bangsa tersebut akan mengarah pada kepastian
masa depan yang baik, dan apabila sebaliknya maka keterpurukan dan
kemungkinan dari termarjinalisasi oleh lingkungan bangsa lain akan
terjadi.
2.      Memperbaiki Diri Sebelum Memperbaiki Sistem. Di antara prioritas
yang dianggap sangat penting dalam usaha perbaikan (ishlah) ialah
memberikan perhatian terhadap pembinaan individu sebelum
membangun masyarakat; atau memperbaiki diri sebelum memperbaiki
sistem dan institusi. Yang paling tepat ialah apabila kita
mempergunakan istilah yang dipakai oleh Al Qur'an yang berkaitan
dengan perbaikan diri ini; yaitu:
"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." (QS.
Ar-Ra'd: 11)
Inilah sebenarnya yang menjadi dasar bagi setiap usaha
perbaikan, perubahan, dan pembinaan sosial. Yaitu usaha yang dimulai
dari individu, yang menjadi fondasi bangunan secara menyeluruh.
3.      Akhlakul Karimah dalam Kehidupan Modern. Saat ini kita berada di
tengah pusaran hegemoni media, revolusi iptek tidak hanya mampu
menghadirkan sejumlah kemudahan dan kenyamanan hidup bagi
manusia modern, melainkan juga mengundang serentetan permasalahan
dan kekhawatiran. Teknologi multimedia misalnya, yang berubah
begitu cepat sehingga mampu membuat informasi cepat didapat, kaya
isi, tak terbatas ragamnya, serta lebih mudah dan enak untuk dinikmati.
Namun, di balik semua itu, sangat potensial untuk mengubah cara hidup
seseorang, bahkan dengan mudah dapat merambah ke bilik-bilik
keluarga yang semula sarat dengan norma susila. Dengan otoritas yang

3
ada pada akhlakul karimah, seorang muslim akan berpegang kuat pada
komitmen nilai. Komitmen nilai inilah yang dijadikan modal dasar
pengembangan akhlak, sedangkan fondasi utama sejumlah komitmen
nilai adalah akidah yang kokoh, Akhlak, pada hakekatnya merupakan
manifestasi akidah karena akidah yang kokoh berkorelasi positif dengan
akhlakul karimah.
4.    Makna Amanah Dalam Konteks Akhlak Bangsa. Dari segi bahasa,
amanah ada hubungannya dengan iman dan aman. Artinya sifat amanah
itu dasamya haruslah pada keimanan kepada Alloh  SWT, dan dampak
dari sifat amanah , atau pelaksanaan dari hidup amanah itu akan
melahirkan rasa aman, rasa aman bagi yang  bersangkutan dan rasa
aman bagi orang lain.
Berkenaan dengan akhlak dalam bernegara, maka akan terlihatdengan
sikap dan perilaku yang dilaksanakan dengan, sebagai berikut :
1. Musyawarah
Berasal dari kata Syûrâ yang bermakna mengambil dan
mengeluarkan pendapat yang terbaik dengan menghadapkan satu
pendapat dengan pendapat yang lain.
Adapun salah satu ayat dalam Al – Qur’an yang membahas
mengenai Musyawarah adalah surah Al-Syura ayat 38:
Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi)
seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka
menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada
mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)
Memang , musyawarah sangat diperlukan untuk dapat
mengambil keputusan yang paling baik disamping untuk
memperkokoh rasa persatuan dan rasa tanggung jawab bersama .
Ali Bin Abi Thalib menyebutkan bahwa dalam musyawarah
terdapat tujuh hal penting yaitu , mengambil kesimpulan yang benar

4
, mencari pendapat , menjaga kekeliruan , menghindari celaan ,
menciptakan stabilitas emosi , keterpaduan hati , mengikuti atsar.
2. Menegakkan Keadilan
Istilah keadilan berasal dari kata ‘adl (Bahasa Arab), yang
mempunyai arti antara lain sama dan seimbang. Dalam pengertian
pertama, keadilan dapat diartikan sebagai membagi sama banyak,
atau memberikan hak yang sama kepada orang-orang atau
kelompok. Dengan status yang sama. Misalnya semua pegawai
dengan kompetensi akademis dan pengalaman kerja yang sama
berhak mendapatkan gaji dan tunjangan yang sama. Semua warga
negara – sekalipun dengan status sosial – ekonomi – politik yang
berbeda-beda – mendapatkan perlakuan yang sama dimata
hukum.Dalam pengertian kedua, keadilan dapat diartikan dengan
memberikan hak seimbang dengan kewajiban, atau memberi
seseorang sesuai dengan kebutuhannya.
3. AMar Ma’ruf Nahi Munkar
Secara harfiah amar ma’ruf nahi munkar berarti menyuruh kepada
yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Semua yang
diperintahkan oleh agama adalah ma’ruf, begitu juga sebaliknya,
semua yang dilarang oleh agama adalah munkar.
Dibandingkan dengan amar ma’ruf, nahi munkar lebih berat
karena berisiko tinggi. Nahi munkar dilakukan sesuai dengan
kemampuan masing-masing. Bagi yang mampu melakukan dengan
tangan (kekuasaannya) dia harus menggunakan kekuasaannya itu,
apalagi tidak bisa dengan kata-kata, dan bila dengan kata-kata juga
tidak mampu paling kurang menolak dengan hatinya.
4. Hubungan Pemimpin Dan Yang Dipimpin
Selain akhlak-akhlak atau perilaku yang dilakukan dalam hidup
berbangsa dan bernegara, ada hal lain yang dibutuhkan dalam menjalani
kehidupan bernegara yaitu adalah masalah seorang pemimpin, karena cirri

5
suatu Negara yaitu salah satunya ketika ada yang memimpim dan ada yang
dipimpin, maka berikut akan di bahas
a. Kriteria Pemimpin dalam Islam
Orang – orang yang dapat dipilih menggantikan beliau sebagai
pemimpin minimal harus memenuhi empat kriteria sebagaimana
dijelaskan dalam surat Al – Maidah ayat 55 .
1. Beriman kepada Allah SWT
2. Mendirikan Shalat
3. Membayarkan Zakat
4. Selalu Tunduk ,Patuh kepada Allah SWT
b. Konsep Leader is a Ladder
Konsep ini merupakan konsep Hubungan Pemimpin dan yang
dipimpin yang merupakan hasil ijtihad dari penulis , dimana Konsep
Leader is a Ladder merupakan konsep dimana seorang pemimpin
merupakan sebuah tangga yang akan menjadi perantara atau jembatan bagi
calon pemimpin selanjutnya .
Pemimpin yang baik disini adalah pemimpin yang mencetak sebanyak
mungkin calon Pemimpin , yang nantinya dapat melanjutkan
kepemimpinan selanjutnya dengan lebih baik dan lebih matang .
c. Persaudaraan antara Pemimpin dan yang Dipimpin
Sekalipun dalam struktur bernegara ada hirarki kepemimpinan yang
mengharuskan umat atau takyat patuh kepada pemimpinnya , tetapi dalam
pergaulan sehari – hari hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin
tetaplah dilandaskan kepada prinsip – prinsip ukhuwah islamiyah , bukan
prinsip – prinsip atasan dengan bawahan .
B.     Akhlak Terhadap Alam
1.  Alam Sebagai Karunia Allah SWT
Akhlak kepada lingkungan adalah perilaku atau perbuatan kita
terhadap lingkungan, Akhlaq terhadap lingkungan yaitu manusia tidak
dibolehkan memanfaatkan sumber daya alam dengan jalan

6
mengeksploitasi secara besar-besaran, sehingga timbul ketidak
seimbangan alam dan kerusakan bumi.
Predikat manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi,
disamping mengandung makna kewajiban manusia menegakkan hukum
Tuhan di muka bumi juga mengandung arti hak manusia mengelola
alam sebagai fasilitasnya. Apakah alam, laut, udara dan bumi memberi
manfaat kepada manusia atau tidak bergantung kepada kemampuannya
mengelola alam ini. Banjir, kekeringan, tandus, polusi dan sebagainya
sangat erat dengan kualitas pengelolaan manusia yang tidak
bertanggung jawab atas alam.
Tanggungjawab artinya, setiap keputusan dan tindakan harus
diperhitungkan secara cermat implikasi-implikasi yang timbul bagi
kehidupan manusia dengan memaksimalkan kesejahteraan dan
meminimalkan mafsadat dan mudharat. Setiap keputusan mengandung
implikasi-implikasi positif dan negatif, yang mendatangkan keuntungan
dan yang mendatangkan kerugian. Jika peluangnya berimbang, maka
mencegah hal yang merusak harus didahulukan atas pertimbangan
keuntungan (dar'u al mafasid muqaddamun 'al/1 jalb al masalih).
Contohnya: menebang hutan itu mudah dalam menambah keuangan
negara, tetapi kerusakan lingkungan yang ditimbulkan akibat
penebangan hutan lebih berat dan lebih mahal biaya rehabilitasinya
dibanding keuntungan yang diperoleh.
2.      Memelihara kebersihan dan kesehatan lingkungan
Kebersihan lingkungan adalah kebersihan tempat tinggal, tempat
bekerja, dan berbagai sarana umum. Tingkat kebersihan berbeda-beda
menurut tempat dan kegiatan yang dilakukan manusia. Kebersihan di
rumah berbeda dengan kebersihan kamar bedah di rumah sakit,
sedangkan kebersihan di pabrik makanan berbeda dengan kebersihan di
pabrik semikonduktor yang bebas debu.
Problem tentang kebersihan lingkungan yang tidak kondusif
dikarenakan masyarakat selalu tidak sadar akah hal kebersihan

7
lingkungan. Tempat pembuangan kotoran tidak dipergunakan dan
dirawat dengan baik. Akibatnya masalah diare, penyakit kulit, penyakit
usus, penyakit pernafasan dan penyakit lain yang disebabkan air dan
udara sering menyerang golongan keluarga ekonomi lemah.
3.      Cara memelihara kebersihan & kesehatan lingkungan:
Dimulai dari diri sendiri dengan cara memberi contoh kepada
masyarakat bagaimana menjaga kebersihan & kesehatan lingkungan,
Selalu Libatkan tokoh masyarakat yang berpengaruh untuk memberikan
pengarahan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan &
kesehatan lingkungan, Sertakan para pemuda untuk ikut aktif menjaga
kebersihan & kesehatan lingkungan, Perbanyak tempat sampah di
sekitar lingkungan anda, reboisasi, pekerjakan petugas kebersihan
lingkungan dengan memberi imbalan yang sesuai setiap bulannya,
Sosialisakan kepada masyarakat untuk terbiasa memilah sampah rumah
tangga menjadi sampah organik dan non organic, Pelajari teknologi
pembuatan kompos dari sampah organik agar dapat dimanfaatkan
kembali untuk pupuk, Kreatif, Dengan membuat souvenir atau
kerajinan tangan dengan memanfaatkan sampah, Atur jadwal untuk
kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan.
4.      Cara Menyikapi Bencana Alam
Untuk pembahasan yang ini Al-Quran sudah menuliskannya yang
berbunyi :
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan
shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang sabar.” ( Q.S Al-Baqarah : 153 )
Artinya : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya......” ( Q.S Al-baqarah : 286 )

      
  

8
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kesusilaan adalah peraturan hidup yang berasal dari suara hati manusia.
Kesusilaan mendorong manusia untuk kebaikan akhlaknya. Kesusilaan berasal
dari ethos dan esprit yang ada dalam hati nurani. Sanksi yang melanggar
kesusilaan adalah batin manusia itu sendiri seperti penyesalan, keresahan dan lain-
lain. Kita hidup sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri haruslah
mempunyai pedoman dalam membangun atau hidup berdampingan dengan orang
lain (bermasyarakat dan bernegara ). Bahwa setiap keputusan harus dilakukan
dengan cara musyawarah, menjunjung tinggi keadilan serta harus ada kerjasama
antara pemimpin dan masyarakat.
Alam sebagai karunia Allah SWT haruslah kita jaga sebaik mungkin,
karena jika tidak maka dampaknya akan menjadi bencana alam yang bukan hanya
kita yang merasakan, tapi anak cucu kita juga akan merasakan dampaknya.

9
DAFTAR PUSTAKA

1.      Al-quran
2.      Dr. Rosihan Anwar, Akidah Akhlak, Pustaka Setia, Bandung, 2008
3.      Kementrian Lingkungan Hidup RI, “HImpunan Peraturan Perundang-
Undangan Lingkungan Hidup”. Jakarta, 2002.
4.      Drs. H. Ambo Asse, M.Ag. 2003. Al-Akhlak al-Karimah Dar al-Hikmah wa
al-Ulum.Makassar: Berkah Utami.
www.google.com

10