Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Mengingat semakin banyaknya kejadian yang tidak di inginkan sering terjadi
diIndonesia seperti amblasnya jalan martadinata, meletusnya gunung merapi,
semburan lumpur lapindo membuat para ilmuan semakin gencar melaksanakan
penelitian untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi, diantarnya yaitu penelitian
masalah deformasi struktur. Deformasi diartikan sebagai pergerakan suatu titik pada
suatu benda dimana titik terletak pada benda artinya titik tersebut memiliki posisi dalam
sistem koordinat tertentu. Dalam hal ini deformasi sangat diperlukan untuk memantau
kondisi suatu lokasi yang rawan untuk menghindari terhadap gejala penurunan bumi sepeti
kejadian yang sudah ada belakangan ini.
Pada praktikum kali ini kami melakukan analisa pada jembatan layang dengan
menggunakan media foto untuk mengetahui besarnya penurunan yang terjadi terhadap
jembatan layang, selain itu praktikum ini juga untuk belajar mengaplikasikan objek dalam
bentuk 3D pada software aplikasi deformasi yang sudah ada. Praktikum kali ini juga
mempelajari tentang uji statistik dan ellips kesalahan pada suatu titik horizontal terhadap titik
yang lain.

I.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari praktikum survei deformasi struktur ini adalah :
a) Mahasiswa Memahami konsep tentang apa itu deformasi struktur.
b) Mahasiswa mampu mengkonfigurasikan data foto.
c) Mahasiswa mampu menganalisis deformasi dan uji ststistiknya.
d) Mahasiswa memahami konsep parameter – parameter dalam deformasi.
e) Mahasiswa dapat melakukan proses untuk mendapatkan data titik dalam
ruang tiga-dimensi pada tiap epoch (waktu) akan menggunakan proses
fotogrametri.
f) Mahasiswa mampu mngaplikasikan perangkat lunak fotogrametri australis
6.05.
1
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

g) Mahasiswa mampu menganalisa ellip kesalahan data tiga – dimensi.

I.3 Batasan praktikum


Proses Pengolahan data epoch dengan software australis
Proses Perhitungan data epoch di excel
Uji statistik untuk menggunakan software statext v141
Proses perhitungan ellips kesalahan
Penggambaran ellips kesalahan
Pembuatan laporan

2
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Konfigurasi Data Foto
Dalam berbagai jenis pekerjaan fotogrametri, langkah mendesain jaringan
merupakan faktor terpenting untuk mendapatkan tingkat akurasi yang tinggi. Hal
pokok dalam mendesain konfigurasi pemotretan dalam suatu pekerjaan fotogrametri
antara lain jarak maksimum kamera terhadap objek, diameter target, jumlah dan
distribusi titik-titik foto, dan sudut pengambilan (A. Shirkhani Saadatseresht, 2006).
Jarak maksimum kamera terhadap objek memiliki pengaruh terhadap diameter target
yang digunakan sebagai Premark, sehingga dari hubungan tersebut didapat sebuah
persamaan untuk mendesain jarak pemotretan :
r = ( p * fw *d )/( f * pw )
Dimana f merupakan panjang focus kamera, p merupakan jumlah piksel
minimum target, d jarak kamere ke objek, r adalah diameter target, fw lebar CCD
kamera, dan pw jumlah horizontal piksel foto.
Untuk penentuan jumlah dan distribusi minimum dari titik-titik foto harus
memenuhi persamaan :
2mn + 7 ≥ 3n + 6m
Persamaan diatas menjelaskan bahwa total jumlah persamaan yang digunakan
untuk menghitung jumlah 3n + 6m parameter adalah 2mn + 7. Dengan kata lain untuk
mendapatkan nilai solusi yang unik dalam menyelesaikan sebuah persamaan
minimum dibutuhkan 4 titik (n) dan 3 buah foto (m) atau 5 titik (n) dengan 2 buah
foto (m).
Kisaran besaran sudut pengambilan tiap stasiun pemotretan dalam fotogrametri
terrestrial, berkisar antara 90⁰ - 120⁰ dengan menambahkan rotasi 90⁰ kekiri dan
kekanan untuk tiap stasiun pengambilan data foto.

2.2 Perataan Jaringan Pemotretan ( Bundle Adjusment )


Bundle adjustment adalah proses penentuan atau perhitungan parameter IO,
EO dan koordinat obyek secara serempak bersamaan dengan menggunakan teknik
3
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

hitung kuadrat terkecil (Brown, 1974; Heindl, 1981; Schut, 1980 and Triggs,
McLauchlan, Hartley and Fitzgibbon, 2000). Dalam dekade sepuluh tahun terakhir
teknik ini menjadi cara yang paling efisien untuk memproses data pemotretan seperti
yang dilaporkan oleh Trigs et al. (2000). Maka dengan metode Helmert Blocking
(Wolf, 1978), maka persamaan normalnya dapat dituliskan sebagai:

Diamana P disini adalah matrik bobot dari ketelitian pengukuran koordinat foto
dijital:

Disini sx dan sy adalah standard error dari ukuran titik obyek ke-j pada foto
ke-i dari total n titik obyek dan m buah foto. Persamaan dapat ditulis menurut notasi
Brown (Brown, 1974) sebagai berikut:

Persamaan ini merupakan pengembangan dari persamaan kolinier dan setiap


elemen didalamnya didefinisikan sebagai:

4
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

Dimana N dan N adalah sub-matrik dari matrik blok-diagonal, dimana blok
N merujuk pada parameter EO and N mengacu pada koordinat titik-titik obyek seperti
yang tersaji pada Rumus dibawah ini.

Dimana:

Persamaan diatas adalah teknik Bundle adjustment untuk mendapatkan nilai


parameter EO dan koordinat titik obyek didalam sistem kartesian 3D. Jika titik-titik
obyek ini hendak dihutng dengan tingkat kekurasian yang lebih tinggi lagi, maka
maka kesalahan sistematis didalam kamera harus dimodelkan.

2.3 Analisis Deformasi


Analisis Deformasi ada dua macam di antaranya :
Analisis Geometrik :
Bila kita hanya tertarik pada status geometrik (ukuran dan dimensi) dari benda
yang terdeformasi.
Analisis Fisis :

5
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

Bila kita bermaksud untuk menentukan status fisis dari benda yang
terdeformasi, regangan, dan hubungan antara gaya dengan deformasi yang
terjadi.
Dalam analisis fisis deformasi, hubungan antara gaya dan deformasi dapat
dimodelkan dengan menggunakan metoda empiris (statistik), yaitu melalui korelasi
antara pengamatan deformasi dan pengamatan gaya. Metoda lain dalam analisis fisis
yaitu metoda deterministik, yang memanfaatkan informasi dari gaya, jenis material
dari benda, dan hubungan fisis antara regangan (strain) dan tegangan (stress) pada
benda.

2.4 Penyamaan Sistem Datum ( Transformasi Koordinat )


Penyelesaian suatu persoalan fisis dapat lebih mudah dianalisa bila
menggunakan sistem koordinat yang tepat. Ini berkaitan dengan perubahan „cara
pandang‟. Misalnya persoalan gerak parabola umumnya dianalisa dengan
menggunakan sistem koordinat kartesian, sedangkan persoalan gerak melingkar
dianalisa dengan menggunakan sistem koordinat polar. Persoalan fisis yang dianalisa
tidak bergantung pada sistem koordinat yang digunakan. Artinya hasilnya seharusnya
tidak terpengaruh pada cara pandang yang digunakan. Persoalan yang dirumuskan
dalam suatu sistem koordinat bila akan diselesaikan dengan sistem koordinat yang
lain memerlukan suatu langkah transformasi koordinat yang dirumuskan
menggunakan matriks transformasi.

2.5 Uji Statistik


Uji statistik atau di sebut juga statistik test (F) adalah uji untuk menentukan
nilai kesetabilan dari proses perhitungan di excel. Untuk menentukanya dilakukan
dengan bantuan software statext v141. Untuk proses hitunganya di lakukan langkah
sebagai berikut : buka statext v141 kemudian pilih tables lalu masukan nilai alpha
yaitu 0.05, 0.1 dan 0.01. setelah itu masukan nilai rank dan Dof totalnya setelah itu
klik ok, maka nilainya akan keluar. Nilai tersebut di gunakan untuk uji statistik di
tabel excel yang telah di buat untuk di bandingkan dengan nilai Total. Apabila nilai T
6
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

> F maka hasilnya tidak stabil, tapi sebaliknya bila nilai T < F maka nilai di anggap
stabil.

2.6 Parameter Deformasi


Deformasi dari suatu benda/materi dapat digambarkan secara penuh dalam
bentuk tiga dimensi apabila diketahui 6 parameter regangan (normal-shear) dan 3
parameter komponen rotasi. Parameter deformasi ini dapat dihitung apabila diketahui
fungsi pergeseran dari benda tersebut persatuan waktu.
Adapun Parameter - parameter deformasi meliputi :
1. Tegangan (Stress)
Tegangan adalah gaya (F) per luas permukaan (A) yang diteruskan ke seluruh
material melalui medan-medan gaya antar atom. Pada umumnya arah tegangan
miring terhadap luas A tempatnya bekerja dan dapat diuraikan menjadi dua
komponen, yaitu:
a) Tegangan Normal (Normal Stress), tegak lurus terhadap luas A.
b) Tegangan Geser (Shear Stress), bekerja pada bidang luas A.

Gambar 1. Komponen Tegangan


Keterangan:
: tegangan normal searah sumbu Y.
: tegangan geser tegak lurus sumbu Y sejajar sumbu Z.
: tegangan geser tegak lurus sumbu Y sejajar sumbu X.
2. Regangan (Strain)
Perpindahan partikel suatu benda elastis selalu menimbulkan terjadinya
perubahan bentuk benda tersebut. Perubahan bentuk suatu benda elastik dikaitkan

7
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

dengan regangan, maka perubahan bentuk tersebut dipandang sebagai perubahan


bentuk yang kecil. Dalam sistem koordinat kartesian tiga dimensi, perpindahan kecil
partikel yang berubah bentuk diuraikan dalam komponen u X, uY dan uZ yang masing-
masing sejajar terhadap sumbu koordinat kartesian X, Y dan Z.

Gambar . Elemen Kecil Benda Plastik dan Komponen Regangan


(a) Komponen Regangan; (b) Elemen Kecil Benda Elastik

1. Rotasi
Rotasi merupakan perubahan posisi materi tanpa mengalami perubahan bentuk yang
membentuk perubahan sudut terhadap koordinat acuan. Sebagai gambaran bentuk rotasi
dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

Gambar . Komponen Rotasi

2.7 Ellips Kesalahan


Salah satu parameter yang kerap digunakan untuk menilai kualitas koordinat
relatif yang diperoleh dari proses pengolahan data fotogrametri adalah ukuran dari
ellips kesalahan relatifnya. Ellips kesalahan relatif ini secara statistik memberikan

8
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

daerah kepercayaan (confidence region) dari koordinat horizontal suatu titik relatif
terhadap titik yang lainnya. Ellips kesalahan relatif ini kadangkala disebut juga
sebagai ellips kesalahan garis.
Bentuk, ukuran serta orientasi dari suatu ellips kesalahan relatif umumnya
direpresentasikan dengan parameter-parameter setengah sumbu panjang (a/SU),
setengah sumbu pendek (b/SV) serta sudut jurusan dari sumbu panjang ellips
kesalahan (t). Ketiga parameter tersebut dapat dihitung berdasarkan pada matriks
kovarians dan standar deviasi (S0) dari hasil proses perataan. Sehingga, Apabila
sebuah matrix kovarians dalam sistem koordinat dua-dimensi didefinisikan sebagai
berikut :
QXX QXY
Q
QXY QYY

Maka, seluruh parameter ellips kesalahan dapat ditentukan dengan persamaan sebagai
berikut :
a. Parameter sudut jurusan (t)

2QXY sin 2t
tan 2t
QYY QXX cos 2t
Dimana, nilai t tergantung dari permutasi tanda yang dihasilkan oleh sin 2t dan
cos 2t , sehingga nilai t sebenarnya pada sistem kuadran dapat ditentukan sesuai
dengan tabel dibawah ini :

Tanda Aljabar
Kuadrant
sin 2t / 2QXY cos 2t / QYY QXX
+ + 1
+ - 2
- - 3
- + 4

b. Parameter setengah sumbu panjang (SU)

9
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

1
QUU QYY QXX K
2
Dimana,
1
K (QYY QXX ) 2 4(QXY ) 2 2

Sehingga
SU S0 QUU

c. Parameter setengah sumbu pendek (S V)


1
QVV QYY QXX K
2
Sehingga
SV S0 QVV

d. Parameter tambahan (SX dan SY)


SX S0 QXX

SY S0 QYY

10
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Proses pengolahan


Dalam praktikum survey deformasi ini, proses untuk mendapatkan data titik
dalam ruang tiga-dimensi pada tiap epoch (waktu) akan menggunakan proses
fotogrametri. Secara umum, proses fotogrametri ini sangat sulit untuk diterapkan
apabila dilakukan secara manual, sehingga pada proses praktikum ini akan digunakan
sebuah perangkat lunak fotogrametri yaitu Australis 6.05. Adapun proses pengolahan
data tiap epoch pada perangkat lunak Australis 6.05 akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Siapkan sebuah folder kosong, kemudian masukan data foto yang akan diolah
sebagai data awal proses fotogrametri. Hal ini sangat penting dilakukan, karena
pada aplikasi ini akan secara otomatis menyimpan seluruh hasil proses
fotogrametri dalam folder data tersebut.
2. Buka aplikasi Australis 6.05 dengan melakukan double-click pada icon Australis
6.05 yang berada pada desktop. Sehingga, akan muncul sebuah tampilan awal
aplikasi sebagai berikut.

3. Untuk memulai project baru, click atau melalui menu File → New. Kemudian
akan muncul sebuah jendela Define Project Units → Cawang salah satu pilihan
→ OK untuk menentukan jenis satuan ukuran yang akan digunakan (meter,
centimeter, milimeter, dsb).

11
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

4. Sebelum melakukan pengolahan foto, terlebih dahulu melakukan setting terhadap


nilai parameter keluaran yang dibutuhkan dengan cara click pada menu Project →
Preference → Muncul jendela Australis Preference → Tab Output. Berikan
tanda cawang pada tiap pilihan Bundle Adjustment Output, seperti pada gambar
dibawah ini, kemudian click OK.

5. Selanjutnya, click-kanan pada Camera Database → Add Camera Database.


Sehingga akan muncul sebuah jendela Camera Input seperti dibawah ini.

12
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

Isi tiap kolom parameter dengan data Id Camera, ukuran sensor kamera, ukuran
piksel, dan 10 parameter kalibrasi kamera berupa panjang fokus, principle point
(x,y), 3 parameter distorsi radial, 2 parameter distorsi decentring, dan 2 parameter
distorsi affinity. Click OK untuk menyimpan data parameter kamera.

6. Untuk memulai proses pengolahan data foto pada Project, click-tahan pada

Camera Database → arahkan / letakkan pada icon (nama project) →

sehingga akan muncul icon yang sama dengan Id Camera pada Camera
Database.

7. Simpan project untuk pertama kali, dan secara otomatis akan muncul jendela Save
As seperti dibawah ini.

13
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

Beri nama project sesuai keinginan anda kemudian click Save. Perlu di ingat File
project (*.aus) harus disimpan satu folder bersama dengan file foto yang akan
diolah.
8. Setelah seluruh parameter kamera berada pada struktur Project.aus, langkah

selanjutnya ialah melakukan input data foto dengan cara click-kanan pada
yang berada didalam Project.aus → Set Image File Directory → Open. Seluruh
file foto akan secara otomatis masuk kedalam struktur Project.aus.
9.

10. Apabila seluruh data foto yang akan diolah telah masuk ke dalam project yang
telah dibuat, proses selanjutnya ialah melakukan ekstraksi data koordinat foto

menggunakan metode centroid dengan cara : double-click pada →


14
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

muncul sebuah jendela yang berisikan sebuah foto → aktifkan icon pada
toolbar → kemudian arahkan pointer ke tengah-tengah sticker retro-target →
click target → muncul tanda silang dan nomor id titik yang menandakan target
telah ditandai.

Lakukan langkah diatas pada seluruh titik retro-target yang terlihat pada foto
tersebut.
11. Selanjutnya ialah melakukan proses Relative Orientation untuk mengorientasikan
data foto lain terhadap data foto image001. Proses ini dapat dilakukan dengan
cara click Adjust → Relative Orientation sehingga akan muncul jedela relative
orientasi sebagai berikut :

Pada jendela Relative Orientation → set Left Image dengan image001 yang telah
diproses pada point 9 → set Right Image dengan data foto yang memiliki basis
pemotretan yang lebih besar terhadap image001 → ekstraksi data koordinat foto
untuk data foto Right Image dengan cara yang sama sesuai dengan point 9 →
Compute RO → apabila nilai Measured Points memiliki nilai kurang dari sama

15
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

dengan 1.00 click Accept → jika tidak, ulangi dengan konfigurasi foto dan titik
yang lain.
Setelah proses ini dilakukan, maka akan secara otomatis muncul sebuah file
ROArray pada folder 3D Data.

12. Setelah proses Relative Orientasi sukses dilakukan, proses selanjutnya ialah
proses Intersection. Adapun prosedur pelaksanaan proses intersection dapat
dilakukan dengan cara click Adjust → Triangulate → Intersect → apabila nilai
RMS of Residual kurang dari sama dengan 1.00 → Accept → jika tidak →
Reject.

Setelah proses ini dilakukan, maka akan secara otomatis muncul sebuah file
Triangulate pada folder 3D Data.

13. Proses fotogrametri selanjutnya ialah proses Resection. Proses ini dilakukan
untuk tiap data foto yang belum terorientasi. Prosedur pelaksanaannya ialah
terlebih dahulu melakukan proses ekstraksi data koordinat foto sesuai dengan
point 9 untuk seluruh titik yang terekam dalam foto. Selanjutnya apabila seluruh
proses ekstraksi data foto telah selesai dilakukan untuk semua foto click Adjust

16
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

→ Resect All Project Images → OK. Pastikan Nilai RMS lebih kecil sama
dengan 1.00.

14. Ulangi proses pada point 11 untuk melakukan proses Intersection untuk seluruh
data foto.
15. Proses terakhir meupakan proses Self Calibrating Bundle Adjustment yang mana
proses ini merupakan proses perataan secara keseluruhan untuk seluruh parameter
Kamera, Parameter Eksterior Orientasi, Parameter Koordinat Tiga-dimensi secara
bersama-sama. Adapun prosesnya dapat dilakukan dengan cara click Adjust →
Run Bundle → Go → apabila aplikasi menunjukkan tanda hijau maka click
Accept → sebaliknya apabila tanda merah Reject.

Setelah proses ini dilakukan, maka akan secara otomatis muncul sebuah file Bundle pada
folder 3D Data.

17
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

16. Keseluruhan hasil proses fotogrametri ini tersimpan dalam 3 jenis file ekstensi. Ketiga
ekstensi tersebut antara lain :
a. Ekstensi *.txt yang diantaranya ialah :
Bundle.txt
Camera.txt
Correlation.txt
PointQxx.txt
Resection.txt
Triangulate.txt
Residual.txt
b. Ekstensi *.xyz yang diantaranya :
Bundle.xyz
ROArray.xyz
Triangulate.xyz
c. Ekstensi *.icf
“*Imagename”.icf (* : nama file data foto).
17. Untuk proses pengolahan data epoch yang lain dilakukan sama seperti proses pada point
1-14.
18. Setelah seluruh data epoch telah diolah, selanjutnya ialah proses penyamaan system
datum. Proses ini dapat dilakukan dengan cara transformasi tiga-dimensi. Dalam proses
ini dibutuhkan titik kontrol yang dapat diambil dari salah satu epoch dan disusun dalam
sebuah notepad dengan format sebagai berikut.

18
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

Dan disimpan dalam ekstensi *.xyz.


19. Proses transformasi dapat dilakukan dengan cara click-kanan pada Bundle → Transform
→ pilih file Control Point berekstensi *.xyz → Open → Go.

Apabila nilai Residual RMS dan Sigma0 dirasa cukup kecil maka click Accept, jika tidak
click Reject dan ulangi proses tersebut dengan mengganti nilai titik konrol yang memiliki
nilai akurasi yang cukup.

19
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

BAB IV
ANALISA HASIL

VI.1 Data Titik Tiap Epoch


Berikut adalah hasil data koordinat pada epoch 1 dan epoch 2 :
Sample data epoch 1 :

Label X Y Z
1 -112.912 910.7755 29.8597
2 -97.8972 890.2929 36.6149
3 -75.8332 859.6294 43.9334
4 -54.1814 829.7731 54.3144
5 -34.1063 802.1039 62.6643

Sample data epoch 2 hasil dari proses transformasi :


Label X Y Z
1 -112.886 910.763 29.82791
2 -97.8785 890.2765 36.57034
3 -75.8198 859.6346 43.88924
4 -54.1782 829.7784 54.27012
5 -34.1139 802.1005 62.61433

Dari data sample di atas koordinat pada epoch 1 dengan epoch 2 sudah sama
dengan selisih standar error yang kecil dan data hasil transformasi epoch 1 sudah
bisa di jadikan sebagai data koordinat epoch 2.

Data Bundle Adjustment Epoch 1

Total Residuals (RMS) Degrees of


x y xy Sigma0 Freedom Observations Parameters Constraints
0.38 0.34 0.36 0.776 1747 2026 286 7

20
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

Dari table data bundle adjustment diatas dapat dianalisa bahwa nilai RMS-nya
memenuhi kriteria untuk melakukan proses bundle sebab nilai RMS-nya di bawah
0.xxx. dan dari table diatas nilai DoF dan So juga dapat di gunakan untuk analisa
perhitungan dalam excel.

Data Bundle Adjustment Epoch 2

Total Residuals (RMS) Degrees of


x y xy Sigma0 Freedom Observations Parameters Constraints

0.49 0.53 0.51 1.104 1555 1834 286 7

Dari table data bundle adjustment epoch 2 diatas dapat dianalisa bahwa nilai RMS-
nya memenuhi kriteria untuk melakukan proses bundle sebab nilai RMS-nya di
bawah 0.xxx. dan dari table diatas nilai DoF dan So juga dapat di gunakan untuk
analisa perhitungan dalam excel.

Data Perataan Jaringan ( Data Trans ) dari Epoch 1 ke Epoch 2

Parameter Standard Error


Xo 1147.952 0.053825
Yo 1637.357 0.050028
Zo -431.15 0.083118
Scale 0.628975 0.000061
Omega -24.4189 0.003969
Phi 11.42562 0.004908
Kappa 108.0754 0.002517

Dari data parameter diatas dapat dianalisis bahwa standard error dari data tersebut
sudah bagus karena nilainya dibawah 0.xxx. sehingga hasil dari transformasi data
bundle epoch satu dapat di jadikan sebagai data koordinat pada epoch 2 untuk
menyamakan koordinat titik-titik yang di foto pada epoch 1.(hasilnya dapat di lihat
pada sampel data di atas).

21
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

VI.2 Data Uji Statistik

STATISTIC TEST (F) ANALISYS


90% 95% 99%
T a = 0.1 a = 0.05 a = 0.01 T>F T<F T>F T<F T>F T<F
0.0020 2.09 2.61 3.79 - stabil - stabil - stabil
0.0045 2.09 2.61 3.79 - stabil - stabil - stabil
0.0068 2.09 2.61 3.79 - stabil - stabil - stabil

Dari data uji statistik di atas telah jelas bahwa data tersebut sudah stabil. Terlihat di
atas analisis T terhadap F memenuhi standar kestabilan.

VI.3 Data Deformasi Titik

Perhitungan Kesalahan Elipsoid

point SQ QDD 2Qxy Qyy-Qxx tan2t 2t t k Quu Su Qvv Sv sx sy

1 0.9448 8.7E-05 -2E-05 -4E-05 2E-05 -2.081 -64.33 147.84 0.000043 0.00012 0.01024 0.000075 0.008155 0.008797 0.009696

-2E-05 0.0001

2 0.9448 7.9E-05 -2E-05 -3E-05 7E-06 -4.994 -78.68 140.66 0.000035 0.0001 0.00947 0.000065 0.007634 0.00842 0.008779

-2E-05 9E-05

3 0.9448 7.8E-05 -2E-05 -4E-05 -3E-06 14.641 86.093 226.95 0.000041 9.7E-05 0.00933 0.000057 0.007116 0.008369 0.00822

-2E-05 8E-05

4 0.9448 7.7E-05 -3E-05 -5E-05 -8E-06 6.7844 81.615 229.19 0.000052 9.9E-05 0.0094 0.000047 0.006484 0.00828 0.007862

-3E-05 7E-05

Dari data di atas dapat dianalisa kesalahan ellipsoid untuk tiap titik yaitu sangat kecil,
karena terlihat koordinat horizontal suatu titik relatif terhadap titik yang lainnya.

22
LAPORAN PRAKTIKUM DEFORMASI by IDI CATURI 2011

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum survey deformasi struktur ini dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
Mahasiswa setelah melaksanakan praktikum survey deformasi struktur dapat
mengerti tentang deformasi dan dapat mengoprasikan atau menggunakan
software untuk aplikasi survey deformasi seperti software australis, software
statext dan software yang lainya.
Mahasiswa dapat melakukan proses bundle adjustment dengan menggunakan
software untuk aplikasi deformsi seperti software australis dan software untuk
aplikasi deformasi yang lainya.
Mahaiswa dapat melakukan proses relative orientasi, intersection, bundle
adjustment dengan menggunakan software australis untuk mencari nilai
koordinat pada epoch 1.
Mahasiswa juga dapat melakukan transformasi koordinat dari data epoch 1
untuk di jadikan data koordinat pada epoch 2.
Mahasiswa mampu menghitung dan menggambar ellips kesalahan dari
koordinat horizontal suatu titik relatif terhadap titik yang lainnya.
Mahasiwa dapat melakukan proses uji statistik terhadap nilai total pada
perhitungan yang di lakukan pada excel.

5.2 Saran
Diperlukan banyak latihan dan pengalaman dalam menggunakan software
untuk aplikasi deformasi seperti software australis dan software untuk
aplikasi deformasi yang lainya, sehingga mahasiswa dapat dengan mudah dan
cepat dalam mengoprasikan software tersebut.
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih, sebaiknya diberikan waktu yang
cukup untuk belajar software tentang aplikasi deformasi.

23