Anda di halaman 1dari 2

Pemikiran Gramsci Mengenai Hegemoni peradaban

Istilah hegemoni berasal dari bahasa Yunani, “hegeisthai” yang artinya to lead atau
memimpin. Hegemoni artinya dominasi satu kelompok terhadap kelompok lain.
Hegemoni dapat dilakukan dengan atau tanpa ancaman kekerasan.

Dalam budaya hegemoni ini, ide-ide atau gagasan-gagasan kelompok dominan diterima
sebagai sesuatu yang wajar (common sense). Kelompok yang didominasi menerima
begitu saja nilai-nilai moral, politik, dan budaya dari kelompok yang dominan. Kelompok
yang mendominasi pada dasarnya adalah kelompok yang berkuasa.

Berbicara mengenai “Hegemoni” tidak bisa lepas dari Antonio Gramsci (1891-19370. Ia
seorang teoritis Marxis terpenting abad 20, dan berkebangsaan Italia. Teori tentang
“hegemoni” merupakan gagasan sentral pemikiran Gramsci terkait strategi perubahan
social. Konsep tentang hegemoni muncul dalam rangka mengoreksi kegagalan revolusi
sosialisme di Negara-negara Barat, termasuk Italia.

Menurut Gramsci, hegemoni merupakan sebuah upaya yang dilakukan pihal elite atau
penguasa untuk menggiring cara berpikir, bersikap, dan menilai masyarakat agar sesuai
dengan kehendaknya. Media masa inilah yang melakukan indoktrinasi sehingga
menimbulkan kesadaran baru bagi kaum buruh. Disini hegemoni berlangsung secara
lembut tanpa terasa, tetapi masyarakat dengan rela atau sukarela mengikutinya.
Hegemoni dapat terjadi melalui media massa, sekolah-sekolah, dan bahkan melalui
khotbah atau dakwah kaum religius.

Menurut Gramsci, proses perubahan social tidak semata-mata terjadi karena perebutan
kekuasaan politik. Sebaliknya dapat diartikan sebagai perebutan kekuasaan budaya dan
ideology. Sebuah revolusi tidak dapat dilakukan dengan sekali jadi melalui perebutan
kekuasaan politik. Revolusi social memerlukan waktu panjang dalam suatu perang posisi
untuk merubah pandangan dan nilai-nilai masyarakat sipil.

Bila masyarakat sipil sudah dihegemoni maka sebenarnya secara de facto kekuasaan itu
sudah berada di tangan kelas buruh dan kepemimpinan politik bisa diambil alih secara
mudah. Sehingga hegemoni berarti kepemimpinan budaya. Hegemoni budaya
mengakibatkan hidup dan pemikiran kelompok dominan digelar ke masyarakat dan
mewujudkan diri dalam bentuk kelembagaan dan penghayatan pribadi dan seluruh
bidang kehidupan (social, politik, ekonomi, budaya, keagamaan, seni, pendidikan dan
masih banyak lagi) selalu mengikuti nilai, pola, perilaku hidup kelompok dominan
(penguasa, borjuis, intelektual public).

Melalui media social, peradaban barat menguasai dunia dan peradaban dunia. Dunia
barat melakukan hegemoni budaya melalui jaringan komunikasi global. Mereka
menggiring cara berpikir dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai moral, politik dan budaya
barat. Kita menyaksikan betapa setiap hari masyarakat seluruh dunia khususnya
masyarakat Indonesia selalu mengakses tontonan dan produk-produk dari budaya barat,
baik melalui sinetron, film, animasi, game, maupun reality show yang jauh dari nilai-nilai
kebangsaan Indonesia.
Seven Deadly Sinners contohnya dan jaringan komunikasi global lainnya saat ini telah
menjadi propaganda dan agitasi pemerintahan AS yang membunuh jutaan pemikiran
manusia.

Dari Pemikiran Gramsci Mengenai Hegemoni peradaban saya dapat belajar bahwa
pengaruh kebudayaan dari dunia lain termasuk budaya barat yang memiliki pengaruh
yang kuat mampu mempengaruhi cara berpikir dan bersikap warga Negara lain. Hal ini
sering digunakan oleh kaum elite untuk mencari dukungan dalam melakukan suatu hal.
Kaum elit kekuatannya lebih kuat di karena memiliki uang dan kekuasaan yang memiliki
pengaruh yang begitu besar terhadap keberlangsungan hidup manusia, sehingga tidak
mengherankan jika orang yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin
karena kalah persaingan dengan “orang dalam”. Maka jikalau orang miskin bisa menjadi
kaya, itu merupakan suatu hal yang istimewa.

Anda mungkin juga menyukai