Anda di halaman 1dari 8

TRANSPARANSI PENGELOLAAN ANGGARAN

PENDAPATAN BELANJA NEGARA

NAMA : FITRIA ALAM


NIM : 030924745
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Penyusunan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah ADMINISTRASI KEUANGAN.
Dan juga bermaksud untuk membuat semua orang mengetahui tentang transparansi
pengelolaan anggaran pendapatan belanja negara saat ini.

1.2. TUJUAN
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk mendapatkan nilai yang maksimal pada mata kuliah
ADMINISTRASI KEUANGAN. Dan juga untuk melatih, menganalisis, serta mengamati
pendapatan belanja negara. Dan juga untuk menambah wawasan dalam mengetahui
permasalahan atau kendala menyangkut pengelolaan aggaran pendapatan belanja negara
Indonesia saat ini.

1.3. PERMASALAHAN
a. Asas-asas umum pengelolaan keuangan negara

b. kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara

c. penyusunan dan penetapan ABN


BAB II
TINAJUAN PUSTAKA
APBN merupakan bagian dari keuangan negara. Dalam teori anggaran terdapat beberapa
pendapat mengenai anggaran. Misalnya Burkhead and Winer mendefinisikan anggaran sebagai
rencana pengeluaran dan penerimaan negara untuk tahun mendatang yang dihubungkan
dengan rencana dan proyek-proyek untuk jangka waktu yang lebih lama. Sedangkan Welsch
memberikan definisi anggaran belanja negara sebagai pedoman untuk membiayai tugas-tugas
negara disegala bidang termasuk belanja pegawai untuk jangka waktu tertentu, lazimnya satu
tahun mendatang. Jadi masyarakat dibebani biayai untuk penyelenggaraan tugas-tugas itu.
Itulah sebabnya masyarakat dikenakan pungutan pungutan berupa pajak-pajak, bea dan cukai
dan lain-lain pungutan. Untuk memperkirakan berapa besarnya iuran-iuran (pungutan) itu
maka direncanakan anggaran pendapatan (LPEM,1993). Dari pendapat tersebut maka secara
umum pengertian terhadap anggaran negara adalah:

1. mewujudkan suatu rencana keuangan negara/pemerintah;

2. mewujudkan suatu rencana pembangunan nasional;

3. mewujudkan suatu rencana anggaran belanja negara;

4. mewujudkan suatu rencana anggaran pendapatan negara;

5. berlaku selama satu tahun anggaran.

Pengertian secara khusus, dalam arti yang digunakan dalam praktek kenegaraan di Indonesia,
maka pengertian anggaran negara yang selanjutnya disebut APBN dapat mengacu pada Pasal
23 Ayat 1 UUD 1945 (Perubahan), dimana dinyatakan bahwa, ”Anggaran pendapatan dan
belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun
dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggungjawab untuk sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat”. Pengertian pasal tersebut terdapat lima unsur dari APBN, yaitu:
1. APBN sebagai pengeloaan keuangan negara;

2. APBN ditetapkan setiap tahun, yang berarti APBN berlaku untuk satu tahun;

3. APBN ditetapkan dengan undang-undang;

4. APBN dilaksanakan secara terbuka dan bertanggungjawab;

5. APBN ditujukan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (Ini menunjukan peran ekonomi
politik APBN).
BAB III
PEMBAHASAN
A. ASAS-ASAS UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA

Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance dalam penyelenggaraan negara,


pengelolaan keuangan negara perlu diselenggarakan secara professional, terbuka, dan
bertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang
Dasar. Sesuai dengan amanat Pasal 23 C Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang tentang
Keuangan Negara perlu menjabarkan aturan pokok yang telah ditetapkan dalam Undang-
Undang Dasar tersebut ke dalam asas-asas umum yang meliputi baik asas-asas yang telah lama
dikenal dalam pengelolaan keuangan negara, seperti asas tahunan, asas universalitas, asas
kesatuan, dan asas spesialitas maupun asas-asas baru sebagai pencerminan best practices
(penerapan kaidah-kaidah yang baik) dalam pengelolaan keuangan negara, antara lain :

a. akuntabilitas berorientasi pada hasil;

b. profesionalitas;

c. proporsionalitas;

d. keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara;

e. pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri.

Asas-asas umum tersebut diperlukan pula guna menjamin terselenggaranya prinsip-prinsip


pemerintahan daerah sebagaimana yang telah dirumuskan dalam Bab VI Undang-Undang
Dasae 1945. Dengan dianutnya asas-asas umum tersebut di dalam Undang-Undang tentang
Keuangan Negara, pelaksanaan Undang-Undang ini selain menjadi acuan dalam reformasi
manajemen keuangan negara, sekaligus dimaksudkan untuk memperkokoh landasan
pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Negara Kesatuan republic Indonesia.

B. KEKUASAAN ATAS PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA

Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara


sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Kekuasaan tersebut meliputi kewenangan yang
bersifat umum dan kewenangan yang bersifat khusus. Untuk membantu Presiden dalam
penyelenggaraan kekuasaan dimaksud, sebagian dari kekuasaan tersebut dikuasakan kepada
Menteri Keuangan selaku Pengelola Fiskal dan Wakil Pemintah dalam kepemilikan kekayaan
negara yang dipisahkan, serta kepada Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna
Anggaran/Pengguna Barang kementrian negara/lembaga yang dipimpinnya. Menteri Keuangan
sebagai pembantu Presiden dalam bidang keuangan pada hakekatnya adalah Chief Financial
Officer (CFO) Pemerintah Republik Indonesia, sementara setiap menteri/pimpinan lembaga
pada hakekatnya adalah Chief Operational Officer (COO) untuk suatu bidang tertentu
pemerintahan. Prinsip ini perlu dilaksanakan secara konsisten agar terdapat kejelasan dalam
pembagian wewenang dan tanggung jawab, terlaksananya mekanisme checks and balances
serta untuk mendorong upaya peningkatan profesionalisme dalam penyelenggaraan tugas
pemerintahan.

Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang disahkan
9 Maret 2003, yang diharapkan menjadi kerangka hukum yang kokoh dalam upaya mendorong
terwujudnya tata cara pengelolaan keuangan negara yang bersih dari korupsi. Kehadiran
undang-undang ini diharapkan dapat memberikan garis yang jelas dan tegas kepada
pemerintah dalam mengatur keuangan dan aset negara. Mengingat Undang-Undang tentang
Keuangan Negara ini masih belum berjalan secara efektif, tetapi sebagai upaya untuk
melakukan reformasi perundangan warisan kolonial patut kita hargai, apalagi perundangan
sebelumnya sudah tidak mampu menjawab tantangan perubahan zaman. Demikian pula, jika
dalam perkembangannya nanti pelaksanaan UU ini tidak dapat mengakomadasi perkembangan
yang ada, tentu saja juga harus dilakukan revisi.

Oleh sebab itu, perkembangan pengelolaan keuangan negara jangan sampai ditujukan untuk
kepentingan, kemanfaatan, dan keinginan jangka pendek dan keuntungan pihak elit tertentu
dalam negara dan masyarakat. Pengelolaan keuangan negara yang mewujudkan dirinya sebagai
landasan konsep bagi prospek negara Indonesia. Perpaduan antara kemajemukan dan kesatuan
bangsa harus menjadi ciri logis yang mengatur pengelolaan keuangan negara, sehingga
konsepsi otonomi daerah sebagai satu basis, kemandirian badan hukum sebagai satu basis,
serta negara sebagai basis yang harus diformulasikan dengan baik dan mendukung kegiatan
negara.

C. PENYUSUNAN DAN PENETAPAN APBN

Ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan APBN dalam Undang-Undang ini meliputi
penegasan tujuan dan fungsi penganggaran pemerintah, penegasan peran DPR/DPRD dan
pemerintah dalam proses penyusunan dan penetapan anggaran, pengintegrasian sistem
akuntabilitas kinerja dalam sistem penganggaran, dan penggunaan kerangka pengeluaran
jangka menengah dalam penyusunan anggaran.
APBN mencakup seluruh penerimaan dan pengeluaran. Penerimaan berasal dari perpajakan
maupun non perpajakan, termasuk hibah yang diterima oleh pemerintah. Pengeluaran atau
belanja adalah belanja pemerintah pusat dan daerah. Jika terjadi defisit, yaitu pengeluaran
lebih besar dari penerimaan, maka dicari pembiayaannya baik yang bersumber dari dalam
negeri maupun dari luar negeri.

Seluruh penerimaan dan pengeluaran tersebut ditampung dalam satu rekening yang disebut
rekening Benharawan Umum Negara (BUN) di Bank indonesia (BI). Pada dasarnya, semua
penerimaan dan pengeluaran pemerintah harus dimasukkan dalam rekening tersebut. Sebagai
pengecualian, pemerintah membuka beberapa rekening khusus di BI atau bank pemerintah
karena alasan-alasan sebagai berikut:

1. untuk pengelola pinjaman luar negeri untuk proyek tertentu sebagaimana disyaratkan oleh
pemberi pinjaman;

2. untuk mengadministrasikan dan mengelola dana-dana tertentu (seperti Dana Cadangan,


Dana Penjaminan Deposito);

3. untuk mengadministrasikan penerimaan dan pengeluaran lainnya yang dianggap perlu untuk
dipisahkan dari rekening BUN, dimana suatu penerimaan harus digunakan untuk tujuan
tertentu.

Terkait dengan pengelolaan APBN, semua penerimaan dan pengeluaran harus tercakup dalam
APBN. Dengan kata lain pada saat pertanggungjawaban APBN, semua realisasi penerimaan dan
pengeluaran dalam rekening-rekening khusus harus dikonsolidasikan ke dalam rekening BUN.
Semua penerimaan dan pengeluaran yang telah dimasukkan dalam rekening BUN adalah
merupakan penerimaan dan pengeluaran yang on-budget.
BAB IV
PENUTUP
4.1. KESIMPULAN
 Definisi keuangan negara berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara (Undang-undang Keuangan Negara) adalah: semua hak dan
kewajiban Negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa
uang maupun barang yang dapat dijadikan milik Negara berhubung dengan pelaksanaan
hak dan kewajiban tersebut.
 Pengertian Keuangan Negara, yakni pengertian keuangan Negara dalam arti yang luas
dan pengertian keuangan dalam arti yang sempit. Pengertian keuangan negara dalam
arti luas yang dimaksud ialah keuangan yang berasal dari APBN, APBD, dan keuangan
yang berasal dari Unit Usaha Negara atau Perusahaanperusahaan milik negara.
Sedangkan pengertian keuangan negara dalam arti yang sempit adalah keuangan yang
berasal dari APBN saja.

4.2. SARAN
 Menjaga kekayaan Negara dengan memeberi masukan terhadap kondisi keuangan
Negara yang dikelola pejabat setempat.
 Menjalankan hak dan kewajiban dalam bidang keuangan bagi rakyat banyak seperti hak-
hak atas dana pembangunan desa, atau untuk kepentingan sekolah
BAB V
DAFTAR PUSTAKA

https://www.bphn.go.id/data/documents/pkj-2011-9.pdf

Silalahi, Bernat.2020. “Makalah Tentang Keuangan Negara”, https://www.studiobelajar.com/penulisan-


daftar-pustaka/, diakses pada 11 Mei 2020 pukul 11.24

https://berkas.dpr.go.id/puskajianggaran/kamus/file/kamus-1.pdf

Anda mungkin juga menyukai