Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH TEMPERATUR SUHU TUBUH

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Keperawatan Dasar

Dosen Pengampu : Sudaryanto, S.Kep., Ns., M.K.M

Kelompok 4
Disusun oleh :
1. Dewi Patmawati [20004]
2. Haslinda Raistika.N. [20008]
3. Kharisma Ismi Sabilla [20012]
4. Raesha Ajeng Prasiwi [20016]
5. William Yusuf.W. [20020]

Akademi Keperawatan YAPPI


Jl. K.H. Agus Salim No.50 Mojomulyo
Sragen
2021
BAB I
PEMBAHASAN

A. Hipotalamus

Hipotalamus adalah bagian yang sangat peka, yang merupakan pusat


integrasi utama untuk memelihara keseimbangan energy dan suhu tubuh.
Hipotalamus berfungsi sebagai thermostat tubuh, dengan menerima informasi dari
berbagai bagian tubuh dikulit. Penyesuaian dikoordinasi dengan sangat rumit
dalam mekanisme penambahan dan pengurangan suhu sesuai dengan keperluan u
tuk mengoreksi setiap penyimpangan suhu inti dari nilai patokan normal.
Hipotalamus mampu berespon terhadap perubahan suhu darah sekecil 0.01°C.
Hipotalamus terus menerus mendapat informasi mengenai suhu kulit dan
suhu inti mengelalui reseptor khusus yang peka terhadap suhu yang disebut
termoreseptor (reseptor hangat, dingin dan nyeri diperifer). Reseptor suhu sangat
aktif selama perubahan temperature. Sensasi suhu primer diadaptasi dengan sangat
cepat. Suhu ini dipantau oleh termoreseptor sentral yang terletak di hipotalamus
serta disusunan syaraf pusat dan organ abdomen.
Di hipotalamus diketahui terdapat 2 ousat pengaturan suhu, yaitu diregio
posterior diaktifkan oleh suhu dingin, dan kemudian memicu reflek yang
memperantarai produksi panas dan konservasi panas. Sedang regio anterior yang
diaktifkan oleh rasa hangat, memicu reflex yang memperentarai pengurangan
panas.  

B. Sistem Pengaturan Suhu Tubuh

Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur


dengan menggunakan thermometer yang dapat di bagi beberapa standar
penilaian suhu, antara lain : normal, hipertermi, hipotermi, dan febris.
Suhu dapat di bagi, antara lain:

1. Suhu inti (core temperature) Suhu inti menggambarkan suhu organ-organ


dalam (kepala, dada, abdomen) dan dipertahankan mendekati 37°C.
2. Suhu kulit (shell temperature) Suhu kulit menggambarkan suhu kulit tubuh,
jaringan subkutan, batang tubuh. Suhu ini berfluktuasi dipengaruhi oleh
suhu lingkungan.
3. Suhu tubuh rata-rata (mean body temperature) merupakan suhu rata-rata
gabungan suhu inti dan suhu kulit.
Ada beberapa macam thermometer untuk mengukur suhu tubuh:
1.      The mercury-in-glass thermometer
2.      The electrical digital reading thermometer
3.      A radiometer attached to an auriscope-like head (untuk pengukuran suhu
timfani)

C. Fungsi dari Reseptor Suhu

Etimulus dapat datang dari lingkungan luar salinitas, suhu udara,


kelembapan,cahaya. Alat penerima rangsang disebut reseptor,sedangkan alat
penghasil tanggapan disebut efektor. Reseptor saraf yang paling sederhana hanya
berupa ujung denrit dari suatu sel syaraf (neuron) , tidak meliputi selubung /
selaput myelin dan dapat di temukan pada reseptor rasa nyeri (free nerve ending)
atau nociresetor. Berdasarkan Lokasi Sumber Rangsang :

1. INTERORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi untuk menerima rangsang dari


dalam tubuh.
2. KHEMORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi memantau pH,kadar gula dalam
darah dan kadar kalsium dalam cairan tubuh atau darah.
3. EKSTERORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi menerima rangsang dari
lingkungan di luar tubuh Reseptor penerima gelombang suara (pada alat
pendengaran) dan cahaya (dalam alat pengelihatan).
4. HUBUNGAN ANTARA RESEPTOR DENGAN EFEKTOR Dalam system
syaraf,reseptor biasanya berhubungan dengan syaraf sensorik (AFFERENT)
sedang efektor erat dengan syaraf motorik(EFERENT). Reseptor berfungsi
sebagaipengubah energy, mengubah bentuk suatu energy menjadi bentuk tertentu.
dan di dalam reseptor semua energy di ubah menjadi energy listrik dan selanjutnya
akan membawa ke perubahan elektrolit sehingga timbul potensial aksi. Apabila
suatu resektor menerima rangsangan yang sesuai maka membrane reseptor akan
mengalami peritiwa potensial aksi. Jika rangsangan yang diterima reseptor cukup
kuat potensial reseptor yang timbul akan lebih kuat. Makin besar rangsangan yang
di terima, makin besar pula potensial local yang di hasilkan sehingga dapat
melampoi batas ambang perangsangan pada membrane potensial generator.

D. Macam-macam suhu tubuh

Macam-macam suhu tubuh menurut (Tamsuri Anas 2007) :


1.      Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36°C
2.      Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36-37.5°C
3.      Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37.5-40°C
4.      Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40°C
Berdasarkan distribusi suhu didalam tubuh, dikenal suhu inti (core
temperature), yaitu suhu yang terdapat pada jaringan dala, seperti kranial, toraks,
rongga abdomen, dan rongga pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relative
konstan (sekitar 37°C). selain itu, ada suhu permukaan (surface temperature), yaitu
suhu yang tedapat pada kulit, jaringan sub kutan, dan lemak. Suhu ini biasanya
dapat berfluktuasi sebesar 20°C sampai 40°C

E. Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh

Setiap saat suhu tubuh manusia berubah secara fluktuatif. Hal tersebut dapat
dipengaruhi oleh berbagai factor yaitu :

1.       Exercise:
semakin beratnya exercise maka suhunya akan meningkat 15 x, sedangkan pada
atlet dapat meningkat menjadi 20 x dari basal ratenya.
2.      Hormon:
Thyroid (Thyroxine dan Triiodothyronine) adalah pengatur pengatur utama basal
metabolisme rate. Hormon lain adalah testoteron, insulin, dan hormon
pertumbuhan dapat meningkatkan metabolisme rate 5-15%.
3.      Sistem syaraf:
selama exercise atau situasi penuh stress, bagian simpatis dari system syaraf
otonom terstimulasi. Neuron-neuron postganglionik melepaskan norepinephrine
(NE) dan juga merangsang pelepasan hormon epinephrine dan norephinephrine
(NE) oleh medulla adrenal sehingga meningkatkan metabolisme rate dari sel tubuh.
4.      Suhu tubuh:
meningkatnya suhu tubuh dapat meningkatkan metabolisme rate, setiap
peningkatan 1 % suhu tubuh inti akan meningkatkan kecepatan reaksi biokimia 10
%.
5.      Asupan makanan:
makanan dapat meningkatkan 10 – 20 % metabolisme rate terutama intake tinggi
protein.
6.      Berbagai macam factor seperti: gender, iklim dan status malnutrisi.
7.      Usia:
Pada saat lahir, mekanisme kontrol suhu masih imatur. Produksi panas meningkat
seiring dengan pertumbuhan bayi memasuki masa anak-anak. regulasi suhu akan
normal setelah anak mencapai pubertas. Pada lansia sensitif terhadap suhu yang
ekstrem akibat turunnya mekanisme control suhu (terutama kontrol vasomotor),
penurunan jumlah jaringan subkutan, penurunan aktivitas kelenjar keringat,
penurunan metabolism
8.      Olahraga:aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan
metabolisme lemak dankarbohidrat.
9.      Kadar Hormon:suhu tubuh wanita lebih fluktuatif dibandingkan pria
10.   Irama sirkardiansuhu tubuh berubah secara normal 0,5-1 derajat Celcius
selama periode 24 jam.suhu tubuh rendah antara pukul 01:00 dan 04:00 dini hari. 
11.    Stres:
stress fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan
persyarafan
12.   Lingkungan:
mekanisme kontrol suhu tubuh akan dipengaruhi oleh suku disekitar. Walaupun
terjadi perubahan suhu tubuh, tetapi tubuh mempunyai mekanisme homeostasis
yang dapat dipertahankan dalam rentang normal. Suhu tubuh yang normal adalah
mendekati suhu tubuh inti yaitu sekitar 37 0 C. suhu tubuh manusia mengalami
fluktuasi sebesar 0,5 – 0,7 0 C, suhu terendah pada malam hari dan suhu tertinggi
pada siang hari. Panas yang diproduksikan harus sesuai dengan panas yang hilang. 

F. Hal-Hal Yang Mengganggu Suhu Tubuh

Hal-hal yang sering mengganggu suhu tubuh diantaranya disebabkan oleh:


1.       Demam: mekanisme pengeluran panas tidak mampu mengimbangi
produksipanas. Demam terjadi karena perubahan set point hipotalamus.
2.      Kelelahan akibat panas: terjadi apabila diaforesis yang banyak
mengakibatkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebih.
3.      Hipertermia: peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidakmampuan
tubuh untuk mengeluarkan panas.
4.      Heat stroke: terpapar oleh panas dalam jangka yang cukup lama.
5.      Hipotermia: pengeluaran panas akibat terpapar suhu dingin.
Kita dapat mengukur suhu tubuh pada tempat-tempat berikut:
a.      ketiak/ axilae: termometer didiamkan selama 10-15 menit  
b.      anus/ dubur/ rectal: termometer didiamkan selama 3-5 menit
c.       mulut/ oral: termometer didiamkan selama 2-3 menit
Tabel suhu tubuh normal menurut usia :

USIA SUHU (DERAJAT CELCIUS)

3 BULAN 37,5

6 BULAN 37,5
1 TAHUN 37,7
3 TAHUN 37,2
5 TAHUN 37,0

7 TAHUN 36,8

9 TAHUN 36,7

11 TAHUN 36,7
13 TAHUN 36,6

DEWASA 36,4

>70 TAHUN 36,0

G. Gejala-gejala Hipotermia

Gejala hipotermia sangat beragam dan terkadang sulit dikenali. Gejala yang
muncul tergantung kepada seberapa rendah suhu tubuh pengidapnya.
Bayi yang mengalami hipotermia bisa terlihat sehat, tapi kulitnya akan terasa
dingin dan terlihat kemerahan. Bayi juga cenderung sangat diam, terlihat lemas,
dan tidak mau makan.
Gejala-gejala hipotermia umumnya berkembang secara perlahan-lahan sehingga
sering tidak disadari oleh pengidapnya. Orang yang mengalami hipotermia ringan
akan menunjukkan gejala menggigil yang disertai rasa lelah, pusing, lapar, mual,
kulit yang dingin atau pucat, dan napas yang cepat.
Jika suhu tubuh terus menurun hingga di bawah 32°C, tubuh pengidap hipotermia
biasanya tidak mampu untuk menggigil lagi. Ini mengindikasikan tingkat
keparahan hipotermia sudah memasuki tahap menengah hingga parah.
Pengidap serangan hipotermia tingkat menengah akan mengalami gejala-gejala
yang meliputi:

 Mengantuk atau lemas.


 Bicara tidak jelas atau bergumam.
 Linglung dan bingung.
 Kehilangan akal sehat, misalnya membuka pakaian walaupun sedang
kedinginan.
 Kesulitan bergerak dan koordinasi tubuh yang menurun.
 Napas yang pelan dan pendek.

Jika tidak segera ditangani, suhu tubuh akan makin menurun dan menyebabkan
gejala-gejala berikut ini:

 Kesadaran yang terus menurun hingga pingsan.


 Pupil mata yang melebar.
 Napas yang pendek atau sama sekali tidak bernapas.
 Denyut nadi yang lemah, tidak teratur, atau bahkan sama sekali tidak ada
denyut nadi.

Jika anak atau ada anggota keluarga Anda yang mengalami gejala-gejala di atas,
bawalah secepatnya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan darurat.

H. Langkah Pengobatan Hipotermia

Hipotermia dapat diatasi dengan mencegah proses pelepasan panas tubuh dan
menghangatkan tubuh pengidap secara perlahan-lahan.
Sebelum pengidap hipotermia menerima penanganan dari petugas medis
profesional, ada beberapa langkah pertolongan darurat yang dapat Anda lakukan
untuk membantu. Di antaranya:

 Memantau pernapasan pengidap. Segera berikan napas buatan jika pengidap


berhenti bernapas.
 Perlakukan pengidap dengan hati-hati. Gerakan yang kasar atau berlebihan
dapat memicu serangan jantung. Menggosok tangan atau kaki pengidap juga
sebaiknya dihindari.
 Pindahkan pengidap ke dalam ruangan atau tempat yang hangat jika
memungkinkan. Tetapi jangan langsung memandikan pengidap dengan air
hangat.
 Lepaskan pakaian pengidap jika basah dan ganti dengan yang kering.
 Tutupi tubuh pengidap (terutama bagian perut dan kepala) dengan selimut
atau pakaian agar hangat.
 Jika Anda berada di luar ruangan atau di alam terbuka, lapisi tanah dengan
selimut sebelum membaringkan pengidap.
 Berbagi panas tubuh dengan pengidap, misalnya dengan memeluknya secara
hati-hati. Kontak langsung dari kulit ke kulit akan lebih efektif.
 Berikan minuman hangat jika pengidap masih sadar dan bisa menelan.
Tetapi jangan memberi minuman yang mengandung alkohol atau kafein.
 Gunakan handuk kering yang dihangatkan atau botol berisi air hangat untuk
mengompres pengidap. Kompres ini sebaiknya diletakkan di leher, dada,
atau selangkangan. Jangan meletakkannya di bagian kaki atau tangan karena
dapat mendorong darah yang dingin untuk mengalir ke jantung, paru-paru,
dan otak.

Setelah sampai di rumah sakit, pengidap hipotermia akan menerima beberapa


langkah penanganan medis. Pemilihan jenis penanganan akan tergantung pada
tingkat keparahan hipotermia yang diderita pengidap. Beberapa jenis perawatan
intensif yang biasanya dilakukan meliputi:

 Mengeluarkan dan menghangatkan darah pasien, lalu kembali


mengalirkannya ke dalam tubuh pasien. Proses ini dilakukan dengan mesin
pintas jantung dan paru (CPB) atau mesin hemodialisis.
 Menghangatkan saluran pernapasan dengan memberikan oksigen yang sudah
dilembapkan dan dihangatkan melalui masker dan selang.
 Memberikan infus berisi larutan salin yang sudah dihangatkan.
 Mengalirkan larutan yang hangat untuk melewati dan menghangatkan
beberapa bagian tubuh, misalnya sekitar paru-paru atau rongga perut.

Hipotermia yang tidak diobati dapat menyebabkan beberapa komplikasi serius,


misalnya radang beku atau frosbite serta gangren (jaringan yang membusuk akibat
terhambatnya aliran darah), atau bahkan kematian.

I. Langkah Pencegahan Hipotermia

Hipotermia bisa dicegah. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat Anda
lakukan untuk menghindari hipotermia, yaitu:
 Menjaga agar tubuh tetap kering. Air lebih cepat menyalurkan panas ke
udara dibandingkan jika tubuh kita kering. Segera ganti jika pakaian Anda
yang basah karena akan menyerap panas tubuh Anda.
 Kenakan pakaian yang sesuai dengan cuaca dan kegiatan, terutama bagi
Anda yang gemar mendaki gunung atau berkemah di tempat yang dingin.
Gunakanlah pakaian dari bahan yang dapat menjaga kehangatan tubuh
sekaligus menyerap keringat, misalnya wol. Hindari pakaian berbahan katun.
Gunakan jaket yang tahan angin dan air.
 Jangan lupa untuk menggunakan topi, syal, sarung tangan, kaus kaki, serta
sepatu bot. Usahakan agar kaus kaki serta sepatu Anda tidak sesak agar
aliran darah berjalan lancar.
 Pilihlah pakaian dengan ukuran yang sesuai. Pakaian yang pas akan
menciptakan ruang sirkulasi udara hangat di antara kulit dan pakaian.
Sedangkan pakaian yang ketat tidak dapat menghangatkan Anda.
 Lakukan gerakan sederhana untuk menghangatkan tubuh, tapi jangan sampai
berkeringat berlebihan. Jika terkena angin, baju yang basah karena keringat
dapat menurunkan panas tubuh.
 Sediakan minuman dan makanan hangat, tetapi hindari minuman yang
mengandung alkohol atau kafein.

Bayi dan anak-anak lebih rentan terkena serangan hipotermia dibandingkan orang
dewasa. Karena itu, Anda perlu melakukan langkah-langkah pencegahan agar
mereka terhindar dari hipotermia. Di antaranya adalah:

 Berikan pakaian atau jaket tambahan agar lapisan perlindungan mereka lebih
tebal.
 Jangan biarkan bayi Anda tidur di dalam ruangan yang suhunya terlalu
dingin.
 Jangan biarkan anak Anda bermain di luar saat hujan atau cuaca dingin.

Menghindari dan membentengi diri dari udara dingin akan membantu kita untuk
mencegah serangan hipotermia yang berpotensi fatal.

J. Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh

1. Kecepatan metabolisme basal


Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak
jumlah panas yang diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana
disebutkan pada uraian sebelumnya, sangat terkait dengan laju metabolisme.
2. Rangsangan saraf simpatis.
Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi
100% lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak
coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk dimetabolisme. Hamper seluruh
metabolisme lemak coklat adalah produksi panas. Umumnya, rangsangan saraf
simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan produksi
epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme.
3. Hormone pertumbuhan.
Hormone pertumbuhan ( growth hormone ) dapat menyebabkan peningkatan
kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga
meningkat.
4. Hormone tiroid.
Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hamper semua reaksi kimia dalam
tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme
menjadi 50-100% diatas normal.
5. Hormone kelamin.
Hormone kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira
10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada
perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran
hormone progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 –
0,6°C di atas suhu basal.
6. Demam ( peradangan ).
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme
sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10°C.
7. Status gizi.
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20 – 30%.
Hal ini terjadi karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk
mengadakan metabolisme. Dengan demikian, orang yang mengalami mal nutrisi
mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu dengan
lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak
merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan
kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain.
8. Aktivitas
Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan
gesekan antar komponen otot / organ yang menghasilkan energi termal. Latihan
(aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3 – 40,0 °C.
9. Gangguan organ.
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat
menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat
pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan
suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit juga dapat
menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu.
10. Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh
dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga
sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan
suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit.
Suhu tubuh dihasilkan dari :
1. Laju metabolisme basal (basal metabolisme rate, BMR) di semua sel tubuh.
2. Laju cadangan metabolisme yang disebabkan aktivitas otot (termasuk kontraksi
otot akibat menggigil).
3. Metabolisme tambahan akibat pengaruh hormon tiroksin dan sebagian kecil
hormon lain, misalnya hormon pertumbuhan (growth hormone dan testosteron).
4. Metabolisme tambahan akibat pengaruh epineprine, norepineprine, dan
rangsangan simpatis pada sel.
5. Metabolisme tambahan akibat peningkatan aktivitas kimiawi di dalam sel itu
sendiri terutama bila temperatur menurun.

BAB II
PENUTUP

A. Kesimpulan

Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan menggunakan
thermometer yang dapat di bagi beberapa standar penilaian suhu, antara lain :
normal, hipertermi, hipotermi, dan febris. Pengeluaran panas (heat loss) dari tubuh
ke lingkungan atau sebaliknya berlangsung secara fisika. Permukaan tubuh dapat
Kehilangan panas melalui pertukaran panas secara radiasi, konduksi, konveksi, dan
evaporasi air. Alat penerima rangsang disebut reseptor,sedangkan alat penghasil
tanggapan disebut efektor. Suhu tubuh dipengaruhi oleh exercize,hormone,system
saraf,asupan makanan,gender iklim(lingkungan),usia,aktivitas otot,stress. 

B. Saran

Sebaiknya kita selalu menerapkan cara hidup sehat,agar tubuh kita selalu sehat dan
tidak mengganggu aktivitas kita sehari-hari,agar suhu tubuh selalu dalam keadaan
normal dan dapat menyesuaikan dengn kondisi lingkungan sekitar kita
DAFTAR PUSTAKA

http://www.science.uwc.ac.za/physiology/temperatur/temperature.html
http://joe.endocrinologyjournals.org/cgi/content/full
Journal of Endocrinology. (2005). Hypothalamic hormon a.k.a. hypothalamic
releasing factors.
Journal of Endocrinology. (2005). Functional anatomy of hypothalamic
homeostatic systems
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan
Edisi. Jakarta: EGC
http://nursingbegin.com/regulasi-suhu-tubuh Pearce, C Evelyn. 2009. Anatomi
Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia at October 27, 2017 Share
http://makalahku28.blogspot.com/2017/10/makalah-suhu-tubuh.html?m=1