Anda di halaman 1dari 6

Diskusi 7

Adm pem desa

1. Bagaimanakah pendapat saudara dengan dilibatkannya kepolisiaan Republik Indonesia dan BPK
dalam pengawasan pengelolaan   dan pemanfaatan dana desa?

Lembaga penegak hukum yang punya tangan sampai ke tingkat desa adalah Polri. Melalui Bintara
Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas), Polri dianggap bisa diandalkan dalam
"mengawal" Dana Desa. Namun kecurigaan sejumlah kalangan terhadap polisi masih ada. Dalam kasus
penyelewengan dana desa, sebenarnya ada dua masalah yakni ada yang berniat mengemplang dan ada
akibat ketidaktahuan, sehingga terjadi penyelewengan terhadap dana desa. Untuk itu sudah saatnya
pemerintah daerah memberi penyuluhan kepada para kepala desa dalam hal penggunaan dana dan
pembuatan laporan penggunaannya, serta internal desa membuat audit kecil-kecilan. Tujuannya agar
penggunaan dana desa tepat sasaran.

Sedangkan bagi oknum-oknum desa yang sengaja mengemplang dana desa, adalah menjadi tugas Polri
untuk mengusutnya. Kapolri sendiri pernah berjanji bahwa polisi akan mengawasi penggunaan dana
desa. Para pelaku harus diusut tuntas dan kasusnya dibawa ke pengadilan. Dalam menangani kasus dana
desa ini, Propam Polda perlu bekerja aktif untuk mengawasi kinerja kepolisian. Sehingga jika ada polisi
yang bermain mata atau patgulipat dalam menuntaskan kasus dana desa, bisa segera dideteksi dan
oknumnya ditindak.

selayaknya Polri tidak perlu masuk ke pengawalan dana desa. Karena selama ini yang mengawasi adalah
BPK. Kalau Polri ikut mengawasi akan terjadi tumpang tindih wewenang dan kepentingan dalam
pengawasan dana desa tersebut.

Kalau Polri mau dilibatkan dalam mengawal dana desa lebih pada pendekatan penindakan hukum,
bukan pembinaan dan perbaikan kualitas pemahaman dana desa, dan peningkatan kualitas SDM dalam
penggunaan dana desa.

Selain itu ada keterbatasan jumlah personil Babinkamtibmas sebagai tangan Polri ke desa, juga
pemahaman Polri tentang dana desa tidak memumpuni. Polri hanya menggunakan kacamata penegakan
hukum semata.

2. Bagaimanakah yang seharusnya di lakukan pemerintah desa agar dapat melalui pengawasan
eksternal dan internal desa ?

Pengawasan intern adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang atau badan yang ada di dalam
lingkungan unit organisasi yang bersangkutan.” Pengawasan dalam bentuk ini dapat dilakukan dengan
cara pengawasan atasan langsung atau pengawasan melekat (built in control) atau pengawasan yang
dilakukan secara rutin oleh inspektorat jenderal pada setiap kementerian dan inspektorat wilayah untuk
setiap daerah yang ada di Indonesia, dengan menempatkannya di bawah pengawasan Kementerian
Dalam Negeri.

Pengawasan ekstern adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh unit pengawasan yang berada di luar unit
organisasi yang diawasi. Dalam hal ini di Indonesia adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), yang
merupakan lembaga tinggi negara yang terlepas dari pengaruh kekuasaan manapun. Dalam
menjalankan tugasnya, BPK tidak mengabaikan hasil laporan pemeriksaan aparat pengawasan intern
pemerintah, sehingga sudah sepantasnya di antara keduanya perlu terwujud harmonisasi dalam proses
pengawasan keuangan negara. Proses harmonisasi demikian tidak mengurangi independensi BPK untuk
tidak memihak dan menilai secara obyektif aktivitas pemerintah.

https://bulelengkab.go.id/detail/artikel/pengertian-fungsi-dan-jenis-jenis-pengawasan-controlling-49

Ap

Sistem kerja dan prosedur merupakan salah satu faktor utama dalam pelaksanaan pekerjaan untuk
mencapai efisiensi kantor. Silakan kemukakan pendapat Anda terkait pernyataan tersebut dan berikan
contohnya!

Dalam efisiensi kantor memang diperlukan adanya system kerja yang jelas dan prosedur yang terarah.
Karena Manusia  mempunyai  kemampuan  yang  terbatas  sehingga  tidak mungkin   mengerjakan  
segala   macam   pekerjaan   dengan   baik. Hendaknya ada pembagian kerja yang nyata berdasarkan
beban kerja, ukuran kemampuan kerja dan waktu yang tersedia. Artinya bahwa pelaksanaan kerja harus
merupakan kegiatan operasional yang dapat dilaksanakan dengan lancar, dapat dipertanggungjawabkan
serta pelayanan kerja memuaskan. Bila factor utma sudah dijalankan dengan baik, maka efisiensi
kantorpun akan tercapai. Contohnya: Pabrik merupakan contoh sistem kerja yang kompleks dimana
pada sistem kerja tersebut terjadi interaksi antara manusia, mesin, bahan baku, serta lingkungannya
dalam upaya mencapai tujuan proses produksi tersebut yang dapat dinyatakan sebagai salah satu atau
gabungan dari jumlah, mutu dan waktu.

Msdm

Pada diskusi yang ketujuh ini, kita akan membicarakan tentang kegiatan Pendidikan dan Pelatihan
(Diklat). Pertanyaannya....mengapa kegiatan Diklat bagi para karyawan sangat penting dilakukan dalam
suatu instansi/kantor, baik di kantor pemerintah maupun swasta ?.

Kegiatan pelatihan sangat penting karena bermanfaat guna menambah pengetahuan atau ketrampilan
terutama bagi yang mempersiapkan diri memasuki lapangan pekerjaan. Sedangkan bagi yang sudah
bekerja akan berfungsi sebagai “charger” agar kemapuan serta kapabilitas kita selalu terjaga guna
mengamankan existensi atau peningkatan karir. Jadi kalaupun itu harus mengeluarkan biaya sebetulnya
tidak terlalu signifikan. Taruhlah kita jadwalkan untuk mengikuti pelatihan dengan frekuensi satu kali
dalam satu tahun. Maka biaya yang dikeluarkan apabila dibagi prorata, jumlah pengeluaran rata-rata
perbulan sungguh kecil dan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Oleh karena itu ungkapan
biaya dalam konteks pelatihan biasanya lebih populer disebut sebagai investasi. Jadi kita melakukan
investasi dalam jumlah yang kecil untuk tetap survive dalam dunia kerja yang sangat kompetitif akhir-
akhir ini. Segala sesuatu dapat terjadi dan berubah secara tiba-tiba. Hanya kemapuan dan upaya untuk
me-“refresh” kompetensi masing-masing kita yang membuat kita selalu dapat bertahan.  Jangan pernah
lengah dan lalai karena yang dinilai adalah aktualisasi diri bukanlah melulu bertumpu pada kebanggan
background pendidikan atau nama besar almamater.
Banyak sekali manfaat yang diberikan dari pelatihan tersebut, adapun beberapa tujuan dan juga
manfaat dari pelatihan karyawansendiri adalah sebagai berikut:

1. Yang pertama adalah untuk meningkatkan keterampilan dari para karyawan tersebut sesuai dengan
perubahan, kemajuan dan juga perkembangan teknologi yang ada seperti sekarang ini yang memang
sudah semakin canggih. Setiap karyawan tentu saja juga harus menyesuaikannya dengan teknologi
sekarang.

2. Di dalam suatu perusahaan semua karyawan tentu saja dituntut untuk memiliki professionalism yang
tinggi dan juga kemampuan yang baik, oleh karena itu dengan adanya program pelatihan tentu saja
nantinya semua hal tersebut akan bisa didapatkan dan pekerjaan menjadi lebih selesai secara efektif
dan efisien.

3. Kemudian juga untuk meningkatkan kualitas kerja yang memang setiap perusahaan ingin memiliki
karyawan yang memiliki kemampuan serta kinerja yang berkualitas sehingga nantinya akan bisa
mendapatkan kualitas yang baik serta menghasilkan produk yang berkualitas.

4. Selain itu juga saat ada program pelatihan secara tim tentu saja nantinya akan bisa membuat setiap
karyawan lebih akrab dan juga memiliki solidaritas yang tinggi terhadap rekan kerja yang lainnya,
dengan demikian suasana perusahaan akan lebih tenang dan juga kondusif.

https://goenable.wordpress.com/tag/mengapa-pelatihan-diperlukan/

https://ilmumanajemensdm.com/4-alasan-kunci-kenapa-anda-perlu-memberikan-pelatihan-sdm-
kepada-karyawan/

Pie

Seperti halnya bank sentral,Bank Umumpun dapat mempengaruhi jumlah uang yang beredar dalam
perekonomian melalui penciptaan uang giral (demand deposit). Jika diketahui Bank mandiri menerima
dari Bp. Budi berupa demand deposit sebesar Rp. 17.500.000,- dan Bank Central menetapkan
Rp.16.450.000,- yang boleh disalurkan kepada masyarakat. 
Pertanyaan: Berapa % cash ratio yang ditetapkan Bank Central, berapa besar koofisien Mulitiplier
moneter, berapa jumlah uang yang dalam peredaran serta berapa Investasi baru yang akan terjadi pada
Bank generasi ke 3 sertakan pencatatannya secara rinci.

Diketahui Demand Deposit dari Bp.Budi sebesar Rp.17.500.000,- 

Disalurkan kepada masyarakat Rp.16.450.000,-

Besaran cash yang ditetapkan oleh Bank Central adalah:

- Besaran kredit yang diperoleh : Rp. 16.450.000,- : 17.500.000,- = 0,94 -> 94%

- Cash ratio yang ditetapkan oleh Bank Sentral sebesar : 100% - 94 % = 6 %

Tampilan Neraca pada Bank :

Bank Mandiri

   Aktiva                                                   Pasiva


- Cadangan    Rp.   1.050.000,-            -  Tabungan Giral             Rp.17.500,000,- +

- Kredit          Rp. 16.450.000 ,- +

                                  

Jumlah           Rp.  17.500.000,-                  Jumlah                        Rp. 17.500.000,-

Tahap kedua ,pihak Bank Mandiri memberikan pinjaman ke nasabah lain sebesar maksimal
Rp.16.450.000 ,- untuk dibelanjakan dan disimpan di Bank B. Dengan rasio cadangan 6%,maka besarnya
cadangan 6% x 16.450.000,- = Rp.987.000,- sedangkan sisanya Rp.15.463.000,- disalurkan dalam bentuk
kredit.

Neraca Bank  B

Aktiva                                                   Pasiva

- Cadangan     Rp.      987.000,-           -  Tabungan Giral             Rp.16.450,000,- +

- Kredit            Rp. 15.463.000 ,- +

                                                               

Jumlah               16.450.000,-                       Jumlah                          Rp. 16.450.000,-

Tahap ketiga, pihak Bank B memberikan pinjaman ke nasabah lain sebesar maksimal Rp.15.463,000
untuk dibelanjakan dan disimpan di bank C, Dengan rasio cadangan 6 % maka besarnya cadangan 6% x
15.463.000,- = Rp.927.780,- ,sedangkan sisanya Rp. 14.535.220,- disalurkan dalam bentuk kredit.

Neraca Bank C (Bank ketiga)

Aktiva                                                   Pasiva

- Cadangan    Rp.     927.780,-            -  Tabungan Giral             Rp.15.463,000,- +

- Kredit          Rp. 14.535.220 ,- +

                                  

Jumlah           Rp.  15.463.000,-                  Jumlah                        Rp. 15.463.000,-

Penciptaan uang yang terjadi

D = S/r

D = 17.500.000 / 6%

D = (17.500.000,- x100 ) : 6

D = 291.666.666,67 -> Rp. 291.666.666,67


Perkoprasian

a) Apa yang dimaksud dengan usaha koperasi?


badan usaha koperasi adalah adanya kemauan orangperorang untuk menghimpun diri secara
sukarela dan bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka.
Badan usaha atau Perusahaan adalah suatu organisasi yang mengkombinasikan dan
mengorganisasikan sumber-sumber daya untuk tujuan memproduksi atau menghasilkan
barang-barang dan atau jasa untuk dijual (Dominick Salvatore, 1989)

b) Sebagai badan usaha, manakah yang paling penting bagi koperasi, keuntungan ataukah
pelayanan kepada anggota?
Untuk koperasi di Indonesia, tujuan badan usaha koperasi adalah memajukan kesejahteraan
anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya UU No. 25 Tahun 1992 pasal 3 tujuan
ini dijabarkan dalam berbagai aspek program oleh manajemen koperasi pada setiap rapat
anggota tahunan.

c) Apa yang membedakan SHU koperasi dengan laba/keuntungan pada perusahaan swasta?
Dalam koperasi hasil usahanya disebut dengan “Sisa Hasil Usaha” (SHU) diamana SHU ini dalah
menurut pasal 45 ayat (1) UU No. 25/1992, adalah sebagai berikut :
Sisa Hasil Usaha Koperasi merupakan pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun
buku dikurangi biaya, penyusutan dan kewajiban lainnya termasuk pajak dalam tahun buku
yang bersangkutan.

        Beberapa informasi dasar dalam penghitungan SHU anggota diketahui sebagai berikut.
1. SHU Total Koperasi pada satu tahun buku
2. Bagian (persentase) SHU anggota
3. Total simpanan seluruh anggota
4. Total seluruh transaksi usaha (volume usaha atau omzet) yang bersumber dari anggota
5. Jumlah simpanan per anggota
6. Omzet atau volume usaha per anggota
7. Bagian (persentase) SHU untuk simpanan anggota
8. Bagian (persentase) SHU untuk transaksi usaha anggota

        Rumusan pembagian SHU


Menurut UU No. 25/1992 pasal 5 ayat 1 mengatakan bahwa “Pembagian SHU kepada anggota dilakukan
tidak semata-mata berdasarkan modal yang dimiliki seseorang dalam koperasi, tetapi juga berdasarkan
perimbangan jasa usaha anggota terhadap koperasi. Ketentuan ini merupakan perwujudan
kekeluargaan dan keadilan”.
Di dalam AD/ART koperasi telah ditentukan pembagian SHU sebagai berikut: Cadangan koperasi 40%,
jasa anggota 40%, dana pengurus 5%, dana karyawan 5%, dana pendidikan 5%, dana sosial 5%, dana
pembangunan lingkungan 5%.
Di dalam pembagian SHU Tidak semua komponen di atas harus diadopsi dalam membagi SHU-nya. Hal
ini tergantung dari keputusan anggota yang ditetapkan dalam rapat anggota.
·         PRINSIP-PRINSIP PEMBAGIAN SHU KOPERASI
1. SHU yang dibagi adalah yang bersumber dari anggota.
2. SHU anggota adalah jasa dari modal dan transaksi usaha yang dilakukan anggota sendiri.
3. Pembagian SHU anggota dilakukan secara transparan.
4. SHU anggota dibayar secara tunai

Sei

Badai tsunami Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998, diawali dari krisis moneter yaitu
berupa merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dalam angka relatif yang sangat besar. Krisis yang
menimpa perekonomian Indonesia diawali dari krisis moneter yang menimpa beberapa negara di
kawasan Asia.

Pada saat itu peranan sektor swasta justru memperparah kondisi krisis. Menurut anda apa saja
kontribusi pihak swasta yang malah memperburuk kondisi krisis? 

1) Dianutnya sistim devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai,
memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun
jumlahnya. Kondisi di atas dimungkinkan, karena Indonesia menganut rezim devisa bebas
dengan rupiah yang konvertibel, sehingga membuka peluang yang sebesarbesarnya untuk orang
bermain di pasar valas. Masyarakat bebas membuka rekening valas di dalam negeri atau di luar
negeri. Valas bebas diperdagangkan di dalam negeri, sementara rupiah juga bebas
diperdagangkan di pusat-pusat keuangan di luar negeri. 2
2) Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah, berkisar antara 2,4% (1993) hingga 5,8% (1991)
antara tahun 1988 hingga 1996, yang berada di bawah nilai tukar nyatanya, menyebabkan nilai
rupiah secara kumulatif sangat overvalued. Ditambah dengan kenaikan pendapatan penduduk
dalam nilai US dollar yang naiknya relatif lebih cepat dari kenaikan pendapatan nyata dalam
Rupiah, dan produk dalam negeri yang makin lama makin kalah bersaing dengan produk impor.
Nilai Rupiah yang overvalued berarti juga proteksi industri yang negatif. Akibatnya harga barang
impor menjadi relatif murah dan produk dalam negeri relatif mahal, sehingga masyarakat
memilih barang impor yang kualitasnya lebih baik. Akibatnya produksi dalam negeri tidak
berkembang, ekspor menjadi kurang kompetitif dan impor meningkat. Nilai rupiah yang sangat
overvalued ini sangat rentan terhadap serangan dan permainan spekulan, karena tidak
mencerminkan nilai tukar yang nyata.
3) Akar dari segala permasalahan adalah utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah
sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang berat karena tidak tersedia cukup devisa
untuk membayar utang yang jatuh tempo beserta bunganya (bandingkan juga Wessel et al.: 22),
ditambah sistim perbankan nasional yang lemah. Akumulasi utang swasta luar negeri yang sejak
awal tahun 1990-an telah mencapai jumlah yang sangat besar, bahkan sudah jauh melampaui
utang resmi pemerintah yang beberapa tahun terakhir malah sedikit berkurang (oustanding
official debt).

Anda mungkin juga menyukai