Anda di halaman 1dari 22

Makalah materi 13

“Theories of Adjudication”.

Pengajar : Dr. A. Brotosusilo S.H., M.A.


Mata Kuliah : Filsafat Hukum

Di buat oleh:
Hesty Lindawaty (Penyaji)
NPM 1406585173
Peminatan : Hukum Perdagangan Internasional

PASCASARJANA FAKULTAS HUKUM


UNIVERSITAS INDONESIA
JAKARTA
2015
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
ilmiah “Theories of Adjudication”. dengan baik.

Adapun ini telah saya usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan
berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
saya tidak lupa menyampaikan bayak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu saya dalam pembuatan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, saya menyadar sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena
itu dengan lapang dada dan tangan terbuka saya membuka selebar - lebarnya bagi
pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada saya sehingga saya dapat
memperbaiki makalah ilmiah.

Akhir kata, semoga dari makalah ilmiah tentang “Theories of Adjudication”. ini
dapat diambil manfaatnya terhadap pembaca.

Jakarta, April 2015

Hesty Lindawaty

! ii
!
DAFTAR ISI

JUDUL ................................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1


1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................... 2

BAB II Pembahasan ....................................................................................... 3


2.1 The Common Law System ............................................................ 3
2.2 The Common Law Approach ........................................................ 5
2.3 The Civil Law ................................................................................ 6
2.4 H.L.A. Hart – Problems of the Philosophy of Law ......................... 7
2.5 B. Cardozo - Nature of the Judicial Process ................................ 8
2.6 Glanville Williams - Language and the law (1945) ........................ 10
2.7 J. Wisdom - Gods (1944) .............................................................. 11
2.8 D.N. MacCORMICK (1976) - Formal Justice and the Form of
Legal Arguments .......................................................................... 15

BAB III Penutup ............................................................................................... 17


A. Kesimpulan ..................................................................................... 17
B. Saran .............................................................................................. 18

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 19

! iii
!
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumber hukum adalah dasar dari Proses peradilan Salmond mengatakan


bahwa mereka adalah tidak lebih dari Contingent dan tidak diperlukan
sangat sulit untuk mempercayai bahwa suatu sistem hukum dapat
dijalankan adanya suatu sumber hukum. Ada dua pandangan utama yang
harus dipisahkan. Pendekatan Salmond sangat mirip dengan jiwa
jurisprudence Kelsen. Sebuah aturan bahwa putusan pengadilan memiliki
kekuatan hukum dan tidak murni. Prinsip utama ini merupakan
Grundnorms atau aturan dasar untuk mengenali suatu sistem hukum.
Salmond percaya bahwa prinsip utama nya adalah Rule of Law walaupun
demikian nilai-nilai tersebut dipisahkan menjadi suatu yang tidak dapat
dipesifikasi dari landasan dari aturan hukum secara umum. 1

Pandangan Hart berbeda, beliau menghubungkannya dengan rule of


recognition, beliau juga berasumsi bahwa putusan pengadilan memiliki
sifat memaksa karena hakim, panitia dan penduduk sipil menganggap
bahwa hukum utama diidentifikasi dengan merujuk pada beberapa kriteria,
one of which is that encactment by the legislature makes law and another
of which would state that certain parts of certain judicial pronouncements
bind others cours in the court hierarchy.

Penganut paham Austin, yaitu Simpson, lebih suka memandang bahwa


common law system merupakan sistem hukum kebiasaan. Hakim
merupakan bagian dari hukum peradilan mengacu pada aturan berarti
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
1
Agus Brotosusilo, Bahan Bacaan Program Magister, Filsafat Hukum , Program
Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, h.1531.

!
!
1
bahwa putusan pengadilan ad-hoc-proses pembuatan hukum ditolak. hal
ini menunjukkan bahwa hakim harus menggunakan hukum yang
baku/resmi. ketika hakim mempertentangkan suatu hukum, maka hakim
dapat membuat hukum namun pilihan untuk membuat hukum tersebut
terbatas. Pertama, pengetahuan hakim dalam memutus terkait dengan
aturan hukum yang baku memberikan kesempatan pada ranah litigasi
untuk dimasuki. Kedua, menyarankan para pihak yang bersengketa untuk
menyelesaikan kasus diluar pengadilan. Ketiga, memberikan kesempatan
bagi para pihak yang bersengketa untuk menjalani proses yudisial
(peradilan). Fuller berargumentasi bahwa peradilan merupakan proses
sosial dari sebuah putusan yang memberikan kepastian dan
mempengaruhi para pihak, yang diwakili oleh adanya bukti dan
argumentasi bagi hakim untuk memutus. Berdasarkan pemaparan
tersebut di atas, Penulis hendak menyusun suatu tulisan yang berjudul
“Theories of Adjudication”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diambil permasalahan yang akan


dibahas sebagai berikut:
1. Apakah maksud dari Theories of Adjudication
2. Apakah perbedaan pendekatan pada Common Law dan Civi Law
dalam peranan hakim

1.3. Tujuan

perumusan tujuan makalah ini yaitu untuk menambah wawasan dan


mengetahui secara umum tentang theories of Adjudication serta
mengetahui perbedaan pendekatan pada Common Law dan Civi Law
dalam peranan hakim.

!
!
2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 The Common Law System2

Simpson prefers instead the view that the Common Law system is a
customary system of law, consisting of a body of practices observed and
ideas received by a caste of lawyers. These ideas, he argues are used to
provide guidance in the rational determination of disputes and in advising
clients.3

Dari pendapat Simpson dapat ditarik suatu pendapat bahwa Common Law
System menganut hukum kebiasaan dan dapat dijadikan suatu pedoman,
khususnya bagi pengacara, untuk memberikan bantuah hukum dan atau
legal advice kepada klien, maupun pedoman bagi penyelesaian sengketa.

Proses ajudikasi menurut Fuller adalah sebuah proses sosial dalam


memperoleh satu putusan. Selain itu proses ajudikasi juga merupakan
interaksi antara hakim, pengacara, para pihak yang bersengketa dan
masyarakat luas. Hakim dalam sebuah proses ajudikasi memiliki peran
penting sebagai institusi yang diberikan keweanangan untuk memutus
perkara. Sebagaimana dikatakan oleh Fuller, bahwa sebuah putusan
diputus berdasarkan bukti-bukti serta argumentasi yang dikemukakan. Hal
tersebut menajdi suatu bahan pertimbangan bagi hakim untuk memutus
suatu perkara. Dengan demikian keberadaan hakim dan putusan hakim

!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
2
Ibid. Hal. 1532
3
Ibid. Hal. 1533

!
!
3
merupakan sebuah jaminan kepastian hukum sekaligus merupakan
pemenuhan rasa keadilan masyarakat. 4

Sebuah konsekuensi yang mengalir dari model peradilan semacam ini


bahwa sebuah putusan yang pasti menjadi tidak inheren dan tidak dapat
diuji. Sebuah putusan tidak layak dalam suatu proses peradilan ketika
melibatkan kerancuan variabel dan faktor-faktor yang saling berbenturan,
atau suatu putusan yang satu bertentangan dengan putusan yang lain.
Stone memberikan contoh putusan Polycentric dimana terdapat banyak
pihak melakukan dengar pendapat untuk menentukan jam kerja normal di
bawah arbitrase buruh dengar pendapat kasus di bawah United Kingdom
Restrictive Practices Act melibatkan keseriusan sekalipun melibatkan
kepentingan umum, tetap merupakan kepentingan dari sebuah komunitas
secara keseluruhan. Kesulitan dalam pembuatan putusan polycentric yang
dapat diubah melalui suatu proses peradilan hanya sedikit jumlahnya.
Masalah dari perwakilan sudah cukup parah. Di dalam putusan
Polycentric semua kepentingan tidak dapat terwakilkan. Hal ini merupakan
suatu halangan bagi pengacara (advokat) untuk melihat secara
keseluruhan dari suatu aturan. Bagaimanapun juga keberatan terhadap
proes peradilan tehadap isu Polycentric tidak harus dipkasakan terlalu
ketat. masih ada elemen Polycentric inheren dalam Stare Decisis. 5

suatu bahaya yang ditimbulkan oleh karena terlalu menjiplak preseden


adalah membawa keadaan menjadi Stereotype dan tidak adanya
perkembangan, dan semua pekerjaan sukses sangat bergantung pada
kemampuan menerapkan preseden secara kreatif. Variasi-variasi
terhadap fakta-fakta situasi manusia dapat membantu umat manusia tidak
hanya dari mengubahnya agar dapat menerapkan aturan yang telah ada
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
4
Ibid., h. 1535
5
Ibid.
!
!
4
secara murni, tetapi menghasilkan wilayah bagi munculnya aturan-aturan
baru terdapat interaksi yang konstan antara peraturan dan keadaan
sebenarnya, yang diperintah, untuk seseatu yang terlalu rigit dan sebuah
peraturan kemungkinan merupakan sterotype struktur dan aktifitas
masyarakat itu sediri kewenangan untuk menguji suatu preseden adalah
demi kestabilan Preseden merupakan darah daging dari suatu sistem
hukum. Tentunya preseden banyak digunakan dalam sistem hukum
Common Law. Hal-hal yang istimewa dari common law hari ini terhadap
preseden, mungkin dapat disimpulkan sebagai:
1. suatu kebiasaan dalam putusan pengadilan yang merupakan inti
dari suatu sistem hukum
2. sebagai suatu subordinate role dalam penulisan hukum yang
bertentangan dengan putusan pengadilan dalam eksposisi
hukum.
3. perlakuan terhadap kepastian putusan pengadilan yang mengikat
bagi hakim.
4. bentuk dari pengujian dan jenis dari pelaporannya. 6

2.2 The Common Law Approach7

Apa yang telah diberikan hari ini sebagai perilaku karakteristik dari
common law adalah memperlakukan putusan pengadilan sebagai sesuatu
yang mengikat di masa mendatang. Pada masa sebelumnya
menunjukkan jauh lebih mendekati perilaku masyarakat modern, untuk itu
menganggap putusan sebagai ekspresi dari opini sebagai Negara hukum
yang sangat bergantung pada hakim. Namun hakim tidak perlu mengikuti
putusan terdahulu jika menurutnya putusan terebut dirasa salah. Doktrin

!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
6
Ibid. h. 1536
7
Ibid, h. 1537
!
!
5
Common Law modern dapat muncul sampai ada hierarki yang baku dari
lembaga peradilan dan sistem administrasi hukum yang efisien.

2.3 The Civil Law

Dalam hukum pidana modern tidak ada unit teori dan praktek yang
lengkap walaupun sistem hukum pidana menolak kewenangan absolut
peradilan berdasar preseden dan memberikan bobot yang lebih pada
hukum tertulis. Hukum pidana Perancis sangatlah individual dan berakar
pada sejarah tradisional Perancis. salah satu hal yang penting dalam
sistem hukum pidana adalah kodifikasi. Doktrin bukanlah sumber hukum
dari hukum pidana.8

Holmes mengatakan bahwa kehidupan dari hukum bukan dari logika,


namun dari pengalaman. Aturan hukum bukanlah linguistik atau logika,
namun merupakan perluasan dari Rules of Deciding. Empat metode
proses yudisial (peradilan) menurut Cordozo yaitu Costum, tradition,
historical development, sociological utilitarism and ethics9 Cordozo
mengkarakterisasi metode hukum ini berdasarkan pendekatan utama
terhadap pengalaman manusia terhadap efisiensi dan kegunaan dari
argumentasi analogi.

Konstruksi Peraturan perundang-undangan memegang pengaruh yang


sangat penting dalam fungsi peradilan. Adapun sudut pandang yang
berbeda terhadap Statutory Construction dalam sistem common Law dan
Continental Practice.

!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
8
Ibid, h. 1541
9
Ibid, h. 1548.
!
!
6
Common Law itself represents the basic fabric of law. There is no judicial
power to “fill gaps” in statute by arguments based on analogy. Continental
Theory trats satutes as the basis of the law. Moreover it’s generally
accepted that gaps in the statute may be filled by analogical reasoning.10

2.4 H.L.A. Hart - Problems of the Philosophy of Law11

This view depends on restrictive definition, in terms of truth and falsehood,


of the notion of a valid deductive inference and of logical relation such as
consistency and contradiction. This would exclude from the scope of
deductive inference not only legal rules of statements of law but also
commands and many other sentential forms which are commonly
regarded as susceptible of logical relations and as constituents of valid
deductive arguments.

Penulis berpendapat bahwa Penerapan argumentasi deduktif apabila


hanya berpedoman pada definisi yang restriktif, maka hal tersebut
merupakan suatu hambatan apabila di kemudian hari ditemui
permasalahan-permasalahan yang menuntut adanya perluasan terhadap
definisi. Mengingat masyarakat adalah bersifat dinamis, maka definisi
yang tidak berkembang mengikuti masyarakat, akan menjadi hambatan,
khususnya dalam bidang hukum.

Pendapat Hart Mengenai Deskriptif dan Preskriptif adalah sangat relevan


dengan interpretasi terhadap suatu aturan hukum. Interpretasi sangat
dibutuhkan bagi hakim dalam memutus sebuah perkara, agar jangan
sampai terjadi kesalahan (salah menerapkan hukum dan atau salah
menafsirkan isi suatu aturan hukum). Oleh karena itu dibutuhkan sebuah
metode yang bertujuan menjabarkan isi dari suatu aturan hukum sehingga
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
10
Ibid, h. 1555
11
Ibid, h. 1566
!
!
7
tidak menimbulkan kesalahan tafsir. Dengan demikian putusan hakim pun
akan menjadi tepat.

Pendapat Hart mengenai Clear cases dan indeterminate Rules banyak


digunakan dalam proses penyelesaian sengketa baik di pengadilan,
mauapun diluar pengadilan. Pada Clear case, hukum sudah ada,
sehingga dapat langsung diterapkan, namun berbeda dengan
indeterminate rules, bahwa yang menentukan hukum adalah para pihak
yang bersengketa itu sendiri atau melalui lembaga arbitrase.

2.5 B. Cardozo - Nature of the Judicial Process12

Cardozo, seorang hakim dari Amerika Serikat mengemukakan:


“The law which is the resulting product is not found but made. The process
in its highest reaches is not discovery, but creation”.

Bercermin dari pandangan ini, agar dapat sampai pada putusan yang
reasonable dan juga berkeadilan, seorang hakim harus melakukan
penalaran hukum (legal reasoning), yaitu proses penalaran yang dipakai
untuk menerapkan kaidah-kaidah hukum terhadap peristiwa atau perkara
tertentu.

Penalaran hukum di samping berhubungan dengan logika, proses


tersebut juga bertumpu pada konsep. Dalam mengkonstatir suatu
peristiwa, seorang hakim harus memegang atau memahami konsepnya
terlebih dahulu. Dengan konsep inilah hakim memberi konfirmasi,
pengakuan terhadap peristiwanya. Demikian juga halnya dalam
merumuskan dakwaan. Kegagalan Jaksa Penuntut Umum dalam
memahami atau melakukan penalaran hukum secara tidak langsung akan
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
12
Ibid, hal. 1571

!
!
8
memberi arahan atau ”sinyal gratis” kepada hakim untuk membebaskan
terdakwa. Pemahaman konsep dalam proses penalaran hukum sangat
membantu hakim dalam memastikan suatu peristiwa.

Metode Sejarah, Tradisi, dan Sosiologi13


Apabila sejarah dan filsafat tidak dapat mengakomodir dan/atau
menentukan arah/tujuan dari suatu prinsip/asas/aturan pokok, maka disini
hukum kebiasaan atau hukum adat yang berperan. Dari sejarah, filsafat,
maupun adat/kebiasaan yang ada (dalam kehidupan kita) bersifat
memaksa dalam keseharian dan dalam perkembangan kehidupan kita,
menjadi yang paling berperan yaitu keadilan sosial yang dapat
menemukan jalan keluar dan ungkapan dalam metode sosiologi. Terkait
dengan hal tersebut, hakim Benjamin N. Cardozo mengatakan:

“My duty as judge may be to objectify in law, not my own aspirations


and convictions and philosophies, but the aspirations and convictions
and philosophies of the men and women of my time. Hardly shall I do
this well if my own sympathies and beliefs and passionate devotions
are with a time that is past”.

Bagi Benjamin N. Cardozo, kewajibannya sebagai seorang hakim untuk


menegakkan objektifitas hukum adalah melalui putusan-putusannya.
Putusan-putusannya bukan perwujudan aspirasi pribadinya dan bukan
merupakan perwujudan dari pendirian pribadinya dan bukan pula
merupakan penerapan falsafah pribadinya, melainkan sebuah manifestasi
atau perwujudan dari aspirasi, pendirian dan falsafah masyarakat pada
waktu dan di mana putusan itu dijatuhkan. Jika ada putusan yang
berlainan dalam perkara yang sejenis, maka artinya tidak ada kepastian

!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
13
ibid, hal 1573
!
!
9
hukum. Namun sebaliknya, jika hakim terikat mutlak pada putusan
mengenai perkara yang sejenis yang pernah diputuskan, maka hakim
tidak bebas untuk mengikuti perkembangan masyarakat melalui putusan-
putusannya.14 Uraian di atas menunjukkan bahwa penemuan hukum oleh
hakim merupakan suatu keharusan dan penting dalam praktek di
pengadilan.

2.6 Glanville Williams - Language and the law (1945)15

Bahasa merupakan sarana yang penting bagi hukum, oleh karena itu
hukum terikat pada bahasa. Penafsiran undang-undang itu pada dasarnya
selalu akan merupakan penjelasan dari segi bahasa. Dalam hal ini,
seorang hakim dituntut untuk sebaik mungkin memiliki pengetahuan
bahasa, termasuk memahami literatur serta selalu menempatkan suatu
penafsiran dalam konteks peraturan hukum yang terbaru.

Hal yang paling utama dalam memberikan suatu penafsiran adalah


pertimbangan dengan menggunakan contoh-contoh, dalam hal ini yaitu
contoh per-kasus.16 Karena kasus-kasus tersebut telah mengindikasikan
bagaimana keputusan tersebut telah diterima oleh para pihak yang (telah)
berperkara sebelumnya. Dengan menggunakan metode analogi dan
kemudian dibawa ke dalam sistem hukum yang berlaku secara umum,
dapat diperoleh suatu pertimbangan hukum yang lebih mendalam. Melalui
metode pertimbangan atas kasus-kasus terdahulu, hal demikian telah

!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
14
Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-Bab tentang Penemuan Hukum, (Bandung:
PT. Citra Aditya Bakti, 1993), hal. 39.
15
Agus Brotosusilo, Bahan Bacaan Program Magister, Filsafat Hukum , Program
Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, hal 1574.
16
Legal reasoning yang telah tersusun melalui kasus yang sudah diputuskan oleh hakim
terdahulu diikuti oleh hakim yang mengadili kasus yang terjadi sesudahnya dengan
kegiatan mencari dan membangun legal reasoning secara kasus per kasus.

!
!
10
menunjukkan bahwa hakim telah mendengarkan pendapat-pendapat
umum yang berlaku dalam sistem sosial tersebut, termasuk pendapat dari
para ahli yang kompeten.

2.7 J. Wisdom - Gods (1944) 17

Seorang hakim untuk sampai pada putusan terlebih dahulu harus


melakukan penelusuran, pengolahan dan analisis. Seorang hakim juga
harus menguasai hukum pembuktian. Kurangnya penguasaan, dapat
menghambat jalannya peradilan, maka hal ini juga akan menghasilkan
konstatering yang tidak tepat. Guna menemukan hukumnya hakim harus
melakukan penerapan hukum (rechstoepassing) terhadap peristiwanya.

Bagaimana hakim mengambil keputusan? Manakah tempat kaidah-kaidah


hukum dalam proses pengadilan? Berikut adalah teori dalam pengambilan
keputusan hakim:

1. Legis (Legalisme)18
Dalam pandangan ini, undang-undang dianggap sebagai peraturan
yang dikukuhkan oleh Allah sendiri, atau sebagai suatu sistem logis
yang berlaku bagu semua perkasa, karena bersifat rasional. Teori
rasionalitas sistem hukum ini disebut dengan Ideenjuurisprudenz.

2. Ajaran hukum bebas (Frei Rechtslehre, Free Law Theory)19


Ajaran ini merupakan suatu ajaran sosiologis yang radikal, yang
dikemukakan oleh mazhab realisme hukum Amerika. Teori ini
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
17
Agus Brotosusilo, Bahan Bacaan Program Magister, Filsafat Hukum , Program
Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, hal 1577.
18
Theo Huijbers, Filsafat Hukum, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), Cet. Ketiga, hal. 121-
123.
19
Ibid., hal. 123-125.

!
!
11
membela suatu kebebasan yang besar bagi sang hakim. Seorang
hakim dapat menentukan putusannya dengan tidak terikat pada
undang-undang. Dengan demikian ajaran ini merupakan suatu
antitese terhadap Ideenjurisprudenz. Realisme hukum ini
merupakan bagian aliran pragmatisme yang berkembang luas di
Amerika. Intinya ialah bahwa tidak terdapat kebenaran dalam teori-
teori, melainkan dalam praktek hidup saja. Tetapi praktek hukum itu
adalah tidak lain daripada kebijaksanaan para hakim. Para hakim
itu tidak menafsirkan undang-undang secara teoritis (logis-
sistematis), melainkan secara praktis. Maka undang-undang disini
kehilangan keistimewaannya. Disimpulkan bahwa yang membuat
hukum sebenarnya adalah para hakim. Kaidah-kaidah hukum tidak
lain daripada suatu generalisasi kelakuan para hakim. Seorang
hakim adalah seharusnya a creative lawyer: in accordance with
justice and equity. Bila demikian halnya seorang hakim berwibawa,
untuk mengubah undang-undang, bila hal itu perlu. Dengan
demikian putusan-putusan pengadilan dijadikan inti hukum.20
Apabila ahli hukum menganut ajaran hukum bebas secara terbatas,
maka hukum tetap dipertahankan sebagai aturan yang stabil,
namun apabila ajaran hukum bebas dianut sepenuhnya maka

!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
20
Oliver Wendell Holmes mengatakan, melihat kelakukan para hakim, menjadi jelas
bahwa hukum adalah apa yang dilakukan oleh para hakim di pengadilan. The patterns of
behaviour para hakim menentukan apa itu hukum, sedangkan kaidah-kaidah hukum
hanya memberi bimbingan. Moral hidup pribadi dan kepentingan sosial ikut menentukan
putusan. (Law is a process, not a collection of rules. Law is the process of preventing or
resolving conflicts between people. Lawyers and judges do this; professors, plumbers,
and physicians, at least routinely, do not. (Lief H. Carter) Jerome Frank juga mengaskan
bahwa hukum ditemukan dalam putusan-putusan pengadilan. Unsur-unsur pertimbangan
adalah antara lain kaidah-kaidah hukum, tetapi juga prasangka politik, ekonomi, moral,
bahkan juga simpati atau antipati pribadi. Benjamin Cardozo dan Roscoe Pound
menyetujui suatu perkembangan bebas hukum berkat kegiatan para hakim, asal mereka
memperhatikan tujuan hukum, yaitu kepentingan umum. I have grown up to see that the
(legal) process in his highest reaches is not discovery but creation.

!
!
12
kaidah-kaidah hukum hanya digunakan sebagai petunjuk regulatif
saja.

3. Interessenjurisprudenz21
Keunggulan kaidah-kaidah hukum sebagai penentu dalam proses
pengadilan dipertahankan dalam aliran Interessenjurisprudenz,
walaupun situasi konkret diperhitungkan sepenuhnya juga. Dengan
demikian Interessenjurisprudenz merupakan sintese antara
Ideenjurisprudenz dan Freirechtslehre. Teori ini dikualifikasikan
sebagai penemuan hukum (rechtsvinding), artinya seorang hakim
mencari dan menemukan keadilan dalam batas kaidah-kaidah yang
telah ditentukan, dengan menerapkannya secara kreatif pada tiap-
tiap perkara konkret. Pandangan ini bertumbuh sesudah orang-
orang mulai bersikap ragu-ragu terhadap keutuhan logika yuridis.
Akibat keraguan ini, para hakim lebih mengindahkan kepentingan-
kepentingan yang dipertaruhkan dalam tiap-tiap perkara, untuk
mencari suatu keseimbangan di antara kepentingan-kepentingan
tersebut. Jelas bahwa dalam hal ini, hakim harus mempunyai
ketrampilan yang istimewa (hakim yang kreatif).

Teori ini mendapat dukungan dari praktek mengambil keputusan


yang telah lumrah, yakni biasanya seorang hakim tidak
menemukan keadilan sebagai hasil suatu proses berpikir secara
rasional, melainkan lebih-lebih secara intuitif. Argumen-argumen
logis dicarinya sesudahnya, untuk dapat membenarkan suatu
putusan di hadapan para rekan seprofesi dan khalayak umum.
Praktek hukum yang ada dalam kebijaksanaan para hakim
menciptakan suatu norma hukum baru, yakni yurisprudensi.
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
21
Theo Huijbers, op.cit., hal. 125-127.

!
!
13
Adanya yurisprudensi tidak berarti para hakim bebas menciptakan
hukum, hanya berarti bahwa kebijaksanaan seorang hakim dalam
perkara tertentu berpengaruh juga terhadap perkara-perkara yang
selanjutnya yang sejenis.

4. Idealisme yuridis baru22 (127-128)


Dalam aliran Interessenjurisprudenz, yang mengindahkan baik
undang-undang maupun kepentingan-kepentingan orang-orang
dalam suatu masyarakat tertentu, seorang hakim harus mencari
suatu keseimbangan antara makna undang-undang yang berlaku
dan situasi konkret masyarakat yang bersangkutan. Dalam
memperhatikan situasi masyarakat tekanan dapat diletakkan pada
kebutuhan-kebutuhan yang tampak dalam praktek hidup (yang
menghasilkan sociological jurisprudence atau realistic
jurisprudence), akan tetapi tekanan dapat diletakkan juga pada
nilai-nilai yang telah menjadi cita-cita bangsa, walau belum dihayati
sepenuhnya. Bila demikian halnya, timbullah apa yang disebut
idealisme yuridis baru (new legal idealism), dimana undang-undang
memiliki suatu bobot normatif bagi penerapan hukum, khususnya di
depan pengadilan, oleh sebab itu undang-undang mencerminkan
cita-cita hidup yang ditujui dalam membentuk suatu tata hukum.
Salah satu tokoh aliran ini adalah F. Geny, menurutnya hakim
pertama-tama harus mengindahkan undang-undang dengan
memperhatikan maksud tujuan pembentuk undang-undang dan
logika intern dan sistematik undang-undang. Bila tidak ada undang-
undang, yakni terdapat kekosongan hukum, kekosongan itu harus
diisi dengan hukum adat. Bila hukum adat juga tidak ada,
keputusan dapat diambil atas dasar kaum yuris dan putusan-
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
22
Ibid., hal. 127-128.

!
!
14
putusan para hakim. Hanya bila pedoman ini juga tidak ada,
diperbolehkan penyelidikan ilmiah secara bebas.

2.8 D.N. MacCORMICK (1976) - Formal Justice and the Form of


Legal Arguments23

MacCormick menyatakan bahwa peran logika formal dalam argumentasi


hukum tidak dominan dan sangat terbatas bahkan tidak penting dalam
pengambilan kesimpulan dan keputusan. Pernyataan ini ditanggapi oleh
para ahli sebagai sebuah kesalahpahaman terhadap peran logika yang
menurut persepsi mereka antara lain adalah:
a) Dalam setiap argumentasi hukum selalu memakai pendekatan dgn
mengandalkan bentuk silogisme,
b) Proses pengambilan putusan oleh hakim dengan pertimbangan
yang tidak selalu logis,
c) Dalam argumentasi hukum logika tidak terkait substansi,
d) Karena tidak adanya kriteria dan formulasi yang jelas mengenai
hakekat rasionalitas nilai dalam hukum.

Dalam hal terjadi kasus berat dan tidak tersedia prosedur untuk
menentukan apa yang menjadi hak hukum setiap pihak, Ronald Dworkin
menjawabnya dengan memberi distingsi yang jelas antara apa yang ia
sebut argumen prinsip (argument of principles) dan argumen kebijakan
(argument of policies). Suatu argumen disebut argumen kebijakan ketika
hakim berusaha mempertanggungjawabkan keputusan dengan
menunjukkan manfaatnya bagi komunitas politik secara keseluruhan.24
Sedangkan argumen prinsip adalah argumen (hakim) yang membenarkan
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
23
Agus Brotosusilo, Bahan Bacaan Program Magister, Filsafat Hukum , Program
Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, hal 1579
24
“Argumen kebijakan” berorientasi pada kepentingan kolektif masyaralat. Andre Ata
Ujan, Filsafat Hukum, (Yogyakarta: Kanisius, 2009), cet. 5, hal. 163.
!
!
15
keputusan karena pada esensinyaa menghormati atau melindungi hak
individu atau kelompok. Hakim dalam mengambil keputusan harus dengan
sungguh-sungguh memperhatikan kedua argumen di atas. Akan tetapi
apabila kasus yang ditangani adalah kasus berat, menurut Dworkin, hakim
dapat mengambil keputusan berdasarkan salah satu dari dua
kemungkinan argumen itu. Namun pada prinsipnya hakim tidak boleh
menerapkan hukum di luar dari hukum yang ditetapkan oleh badan
pembuat hukum (legislatif), meski dalam keadaan terpaksa hakim dapat
bertindak sebagai deputi legislator (bukan legislator) untuk melakukan
pertimbangan hukum dan pada akhirnya mengambil keputusan sesuai
dengan keyakinannya.25

!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
25
Ibid., hal. 165.

!
!
16
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa: Proses


ajudikasi adalah sebuah proses sosial dalam memperoleh satu putusan.
Selain itu proses ajudikasi juga merupakan interaksi antara hakim,
pengacara, para pihak yang bersengketa dan masyarakat luas. Hakim
dalam sebuah proses ajudikasi memiliki peran penting sebagai institusi
yang diberikan keweanangan untuk memutus perkara.

Perbedaan Sistem hukum Civil Law dan System hukum Common


Law yakni sebagai berikut26 :
Sistem hukum Civil Law :
a. Ciri khas system hukum ini adalah adanya penghimpunan dari
berbagai ketentuan hukum (kodifikasi) secara sistematis yang pada
prakteknya ketentuan-ketentuan ini akan ditafsirkan lebih lanjut.
Dalam civil law peraturan hukum yang telah dikodifikasikan berlaku
sebagai undang-undang dan merupakan pedoman penegakan hukum
dalam Negara.
b. Kodifikasi merupakan sumber hukum materill yang kemudian dijadikan
dasar dalam menyelesaikan permasalahan melalui hukum formil
c. Pengambil keputusan dalam civil law adalah hakim atau mejelis hakim
yang itu hakim bersifat aktif dalam persidangn dan memutus perkara
berdasarkan undang undang yang berlaku disertai keyakinan hakim
itu sendiri dari fakta-fakta yang terungkap di persidangan.
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
26
!http://melitanotlonely.multiply.com/journal/item/14?&show_interstitial=1&u=
%2Fjournal%2Fitem

!
!
17
d. Selain keyakinan hakim doktrin juga merupakan factor penting yang
menjadi pertimbangan hakim dalam memutuskan suatu perkara.
e. Pada civil law Yurisprudensi tidak terlalu dipertimbangkan tetapi dapat
dipergunakan sebagai bahan acuan atau referensi.
f. Civil Law menggunakan logika berpikir metode deduktif

System hukum Common Law:


a. System hukumnya didasarkan pada yurisprudensi yaitu keputusan-
keputuasan hakim yang terdahulu menjadi dasar putusan-putusan
hakim selanjutnya
b. Dalam common law dikenal stare decisis, yaitu suatu prinsip hukumj
yang menyatakan bahwa pengadilan yang lebih rendah harus
mengikuti keputusan pengadilan yang lebih tinggi
c. Dalam common law tidak ada kodifikasi hukum. Dalam pengambilan
keputusan suatu perkara yurisprudensi merupakan dasar yang paling
utama
d. Case Law atau pengumpuilan kasus-kasus preseden yang berkaitan
dengan perkara sangat penting dalam common law
e. System common law mengenal system juri yaitu orang-orang sipil
yang mendapatkan tugas dari Negara untuk berperan sebagai juri
dalam persidangan suatu perkara
f. System Common Law merupakan system hukum yang memakai
logika berpikir induktif dan analogi.

B. Saran

Hakim merupakan pelaku inti yang secara fungsional melaksanakan


kekuasaan kehakiman. Dalam melaksanakan kekuasaannya kehakiman
tersebut, hakim harus memahami ruang lingkup tugas dan kewajibanya
sebagaimana telah diatur dalam perundang-undangan.
!
!
18
DAFTAR PUSAKA

Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-Bab tentang Penemuan Hukum,


(Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993)

Agus Brotosusilo, Bahan Bacaan Theories of adjudication, Program


Magister, Filsafat Hukum, Program Pascasarjana Fakultas Hukum
Universitas Indonesia

Theo Huijbers, Filsafat Hukum, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), Cet. Ketiga,

http://melitanotlonely.multiply.com/journal/item/14?&show_interstitial=1&u
=%2Fjournal%2Fitem

!
!
19

Anda mungkin juga menyukai