Anda di halaman 1dari 11

Makna dan Hikmah Shalat

Shalat secara bahasa bermakna doa. Pemaknaan semacam ini dapat kita simak pada
ayat Q.S. At-Taubah (9:103):
‫َﷲُ َﺳﻤِﯿ ٌﻊ َﻋﻠِﯿ ٌﻢ‬
‫وَ ﺻَ ﻞﱢ َﻋﻠَ ْﯿ ِﮭ ْﻢ إِنﱠ ﺻَ َﻼﺗَﻚَ َﺳﻜَﻦٌ ﻟَﮭُ ْﻢ و ﱠ‬
“Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman
jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Adapun secara istilah, Syekh Muhammad bin Qasim al-Gharabili (w. 918H) dalam
kitab Fathul Qarib (Surabaya: Harisma, 2005), hal. 11 menyebutkan:
‫ ﻣﺨﺘﺘﻤﺔٌ ﺑﺎﻟﺘﺴﻠﯿﻢ ﺑﺸَﺮاﺋﻂَ ﻣﺨﺼﻮﺻ ٍﺔ‬،‫ أﻗﻮا ٌل وأﻓﻌﺎل ﻣُﻔﺘَﺘﺤَ ﺔٌ ﺑﺎﻟﺘﻜﺒﯿﺮ‬:‫ ﻛﻤﺎ ﻗﺎل اﻟﺮاﻓﻌﻲ‬- ‫وﺷﺮﻋﺎ‬
“Dan secara (istilah) syara’–sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ar-Rofi’i,
(shalat ialah) rangkaian ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir, diakhiri
dengan salam, beserta syarat-syarat yang telah ditentukan”.
Dari dua pemaknaan tersebut kita bisa menemukan titik temu yakni di dalam shalat
yang kita kenal, memang terdapat banyak sekali terkandung doa.
Ada banyak sekali hikmah yang terkandung di dalam shalat, diantaranya seperti yang
dirangkum oleh Mustafa al-Khin dan Musthafa al-Bugha, dalam al-Fiqh al-Manhaji
‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), Juz I, hal. 98:
1. Sholat merupakan rukun Islam yang kedua dan merupakan rukun Islam yang
terpenting setelah dua kalimat syahadat, sebagaimana sabda Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam:
ُ‫ﺲ( َﺷﮭَﺎ َد ِة أَنْ ﻻَ إِﻟَﮫَ إِﻻﱠ ﷲ‬
ٍ ‫ َﻋﻠَﻰ أَنْ ﯾُﻮَ ﺣﱢ َﺪ ﷲَ )وَ ﻓِﻲْ رِوَ اﯾَ ٍﺔ َﻋﻠَﻰ ﺧَ ْﻤ‬: ‫ﺑُﻨِﻲَ اْﻹِ ْﺳﻼَ ُم َﻋﻠَﻰ َﺧ ْﻤ َﺴ ٍﺔ‬
‫ﺼﻼَ ِة وَ إِ ْﯾﺘَﺎ ِء اﻟ ﱠﺰﻛَﺎ ِة وَ ﺻِ ﯿَﺎمِ رَ ﻣَﻀَ ﺎنَ وَ ا ْﻟ َﺤ ﱢﺞ‬
‫وَ أَنﱠ ﻣُﺤَ ﱠﻤﺪًا رَ ﺳُﻮْ ُل ﷲِ وَ إِﻗَﺎمِ اﻟ ﱠ‬
“Islam dibangun atas lima perkara yaitu mentauhidkan Allah, dalam riwayat lain :
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan
Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan sholat, menunaikan zakat, puasa
Ramadhan dan haji.” (HR. Bukhari I/12 no.8, dan Muslim I/45 no.19, dari
Abdullah bin Umar rodhiyallahu anhuma)
2. Sholat merupakan media penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya,
sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
ُ‫إِنﱠ أَﺣَ َﺪ ُﻛ ْﻢ إِذَا ﺻَ ﻠﱠﻰ ﯾُﻨَﺎﺟِﻲ رَ ﺑﱠﮫ‬
“Sesungguhnya seorang dari kamu jika sedang sholat, berarti ia sedang
bermunajat (berbisik-bisik) dengan Tuhannya”. (HR. Bukhari I/198 no.508, dari
Anas bin Malik rodhiyallahu anhu)
Dalam shalat, ada sujud; sebuah posisi di mana kita merendahkan diri hingga
mencium tanah. Ini merupakan pengingat bagi kita akan kerendahan kita di
hadapan Allah Sang Pencipta, karena sesungguhnya di hadapan Allah, kita
hanyalah hamba yang mutlak sepenuhnya milik Allah.
3. Sholat adalah penolong dalam segala urusan penting. sebagaimana firman Allah
ta’ala:
‫ﺼﻼَ ِة‬
‫ﺼ ْﺒ ِﺮ وَ اﻟ ﱠ‬
‫وَ ا ْﺳﺘَﻌِﯿﻨُﻮا ﺑِﺎﻟ ﱠ‬
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu”. (QS. Al Baqarah : 45)
4. Sholat adalah pencegah dari perbuatan maksiat dan kemungkaran, Sebagaimana
firman Allah ta’ala:
‫ﺼﻼَةَ ﺗَ ْﻨﮭَﻰ ﻋَﻦِ اْﻟﻔَﺤْ ﺸَﺎ ِء وَ ا ْﻟ ُﻤ ْﻨ َﻜ ِﺮ‬
‫ﺼﻼَةَ إِنﱠ اﻟ ﱠ‬
‫وَ أَﻗِﻢِ اﻟ ﱠ‬
“Dan dirikanlah sholat karena sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan
keji dan munkar”. (QS. Al Ankabut : 45)
5. Sholat adalah cahaya bagi orang-orang yang beriman yang memancar dari dalam
hatinya dan menyinari ketika di padang Mahsyar pada hari kiamat, sebagaimana
sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
‫ﺼﻼَةُ ﻧُﻮْ ٌر‬
‫اﻟ ﱠ‬
“Sholat adalah cahaya ”. (HR. Muslim I/203 no.223, dari Abu Malik Al-Asy’ari
rodhiyallahu anhu)
‫ﻣَﻦْ ﺣَ ﺎﻓَﻆَ َﻋﻠَ ْﯿﮭَﺎ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻟَﮫُ ﻧُﻮْ رًا وَ ﺑُﺮْ ھَﺎﻧًﺎ وَ◌َ ﻧﺠَ ﺎةً ﯾَﻮْ َم اْﻟﻘِﯿَﺎ َﻣ ِﺔ‬
“Barangsiapa yang menjaga sholatnya niscaya ia kan menjadi cahaya, bukti dan
penyelamat (baginya) pada hari kiamat.” (HR. Ahmad II/169 no.6576, dan Ibnu
Hibban IV/329 no.1467, dari Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu anhu)
6. Sholat adalah kebahagiaan jiwa orang-orang yang beriman serta penyejuk
hatinya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam:
‫ﺼﻼَ ِة‬
‫ُﺟ ِﻌﻠَﺖْ ﻗُ ﱠﺮةُ أَ ْﻋﯿُﻨِﻲْ ﻓِﻲ اﻟ ﱠ‬
“Dijadikan penyejuk hatiku di dalam sholat”. (HR. Ahmad III/128 no.12315,
12316, dan III/199 no.13079, dan Nasa’i VII/74 no.3950, dari Anas bin Malik
radhiyallahu anhu)
7. Sholat adalah penghapus dosa-dosa dan pelebur segala kesalahan, sebagaimana
sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
‫ت ھَﻞْ ﯾَ ْﺒﻘَﻰ ﻣِﻦْ دَرَ ﻧِ ِﮫ ﺷَﻲْ ٌء ؟‬
ٍ ‫ب أَﺣَ ِﺪ ُﻛ ْﻢ ﯾَ ْﻐﺘَﺴِ ُﻞ ﻓِ ْﯿ ِﮫ ُﻛ ﱠﻞ ﯾَﻮْ مٍ ﺧَ ﻤْﺲَ َﻣﺮﱠا‬
ِ ‫أَرَ أَ ْﯾﺘُ ْﻢ ﻟَﻮْ أَنﱠ ﻧَ ْﮭﺮًا ﺑِﺒَﺎ‬
‫ﺲ ﯾَ ْﻤﺤُﻮ ﷲُ ﺑِﮭِﻦﱠ اْﻟ َﺨﻄَﺎﯾَﺎ‬
ِ ‫ت اﻟْﺨَ ْﻤ‬
ِ ‫ﺼﻠَﻮَ ا‬
‫ َﻛ َﺬﻟِﻚَ َﻣﺜَ ُﻞ اﻟ ﱠ‬: َ‫ﻗَﺎل‬. ‫ ﻻَ ﯾَ ْﺒﻘَﻰ ﻣِﻦْ دَرَ ﻧِ ِﮫ شَ ◌ْ ٌء‬: ‫ﻗَﺎﻟُﻮْ ا‬
“Apa pendapat kalian jika di depan pintu seseorang di antara kalian terdapat
sungai, di dalamnya ia mandi lima kali sehari, apakah masih tersisa kotoran (di
badannya) meski sedikit ?” Para shahabat menjawab : “Tentu tidak tersisa sedikit
pun kotoran (di badannya)” Beliau berkata: “Demikian pula dengan sholat lima
waktu, dengan sholat itu Allah menghapus dosa-dosa”. (HR. Bukhari I/197
no.505, dan Muslim I/462 no.667, dari Abu Hurairah rodhiyallahu anhu)
‫ﺼﻠَﻮَ اتُ اﻟْﺨَ ﻤْﺲُ وَ ا ْﻟ ُﺠ ُﻤ َﻌﺔُ إِﻟَﻰ ا ْﻟ ُﺠ ُﻤ َﻌ ِﺔ وَ رَ ﻣَﻀَﺎنُ إِﻟَﻰ رَ ﻣَﻀَﺎنَ ُﻣ َﻜﻔﱢﺮَ اتٌ ﻟِﻤَﺎ ﺑَ ْﯿﻨَﮭُﻤَﺎ إِذَا‬
‫اﻟ ﱠ‬
‫ﺖ اْﻟ َﻜﺒَﺎﺋِ ُﺮ‬
ِ َ‫اﺟْ ﺘُﻨِﺒ‬
“Sholat lima waktu dan dari Jum’at ke Jum’at dan dari Romadhon ke Romadhon,
merupakan pelebur (dosa kecil yang dilakukan) di antara keduanya, selama tidak
melakukan dosa-dosa besar”. (HR. Muslim I/209 no.233, dari Abu Hurairah
rodhiyallahu anhu)
8. Sholat merupakan tiang agama, barangsiapa yang menegakkannya maka ia telah
menegakkan agama, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
ِ‫ﺼﻼَةُ وَ ذَرْ وَ ةُ َﺳﻨَﺎ ِﻣﮫَ اﻟﺠِ ﮭَﺎ ُد ﻓِﻲْ َﺳﺒِﯿْﻞِ ﷲ‬
‫رَ أْسُ ْاﻷَ ْﻣ ِﺮ اﻹِ ْﺳﻼَ ُم َو َﻋﻤُﻮْ ُدهَ اﻟ ﱠ‬
“Pokok dari perkara-perkara adalah Islam, tiangnya adalah sholat dan puncak
tertingginya adalah jihad di jalan Allah”. (HR. AT-Tirmidzi no.2616, Ibnu Majah
II/1314 no.3973, dan Ahmad V/231 no.22069, dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu
anhu)
9. Sholat merupakan pembeda antara orang yang beriman dengan orang yang kafir
dan musyrik, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
‫ﺼﻼَ ِة‬
‫ك اﻟ ﱠ‬
ُ ْ‫ﺑَﯿْﻦَ اﻟ ﱠﺮﺟُﻞِ وَ ﺑَﯿْﻦَ اْﻟ ُﻜ ْﻔ ِﺮ وَ اﻟﺸﱢﺮْ كِ ﺗَﺮ‬
“Batas pemisah antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah
meninggalkan sholat”. (HR. Muslim I/88 no.82, dari Jabir bin Abdullah
rodhiyallahu anhu)
10. Sholat merupakan sebaik-baik amalan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi
wasallam:
َ ‫ﺼﻼَةُ َﻋﻠَﻰ وَ ْﻗﺘِﮭﺎ‬
‫ اﻟ ﱠ‬: َ‫ِﻋ ْﻨ َﺪﻣَﺎ ُﺳﺌِﻞَ ﻋَﻦْ أَيﱢ ْاﻷَ ْﻋﻤَﺎلِ أَﻓْﻀَ ُﻞ ؟ ﻓَﻘَﺎل‬
Ketika beliau ditanya tentang amalan apa yang paling utama, maka beliau
menjawab : “Sholat pada waktunya”. (HR. Bukhari I/197 no.504, dan Muslim
I/89 no.85, dari Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu)
11. Sholat adalah perkara pertama yang akan dihisab (diperhitungkan) pada setiap
hamba, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
ُ‫ﺼﻼَة‬
‫إنَ ◌َ ◌ّ أَوﱠلَ ﻣَﺎ ﯾُﺤَ ﺎﺳَﺐُ اﻟﻨﱠﺎسُ ﺑِ ِﮫ ﯾَﻮْ َم اْﻟﻘِﯿَﺎ َﻣ ِﺔ ﻣِﻦْ أَ ْﻋﻤَﺎﻟِ ِﮭ ْﻢ اﻟ ﱠ‬
“Sesungguhnya perkara pertama yang akan dihisab (diperhitungkan) dari amal
perbuatan manusia pada hari kiamat adalah masalah sholat ”. (HR. Ahmad dan
Abu Dawud I/290 no.864, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

Demikian beberapa hikmah dan keutamaan sholat berdasarkan Al Quran dan As-
Sunnah.
Jadi pada hakekatnya shalat itu mendidik jiwa kita agar terhindar dari sifat-sifat
takabur, sombong, tinggi hati, dan sebagainya, serta mengarahkan kita agar selalu
tawakal dan berserah diri kepada Allah SWT. Hal ini karena pada dasarnya manusia
selalu berkeluh kesah apabila ditimpa kesusahan dan bersifat kikir apabila mendapat
kebaikan, ini sesuai dengan salah satu firman Allah :
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa
kesusahan, maka ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir
kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan
shalatnya" (QS. Al Ma’aarij)

Shalat disamping mengandung hikmah secara moral seperti diuraikan diatas, juga
mengandung hikmah secara fisik dalam masalah kesehatan. Hikmah shalat menurut
tinjauan kesehatan dijelaskan oleh ahli kedokteran sebagai berikut:
1. Bersedekap, meletakkan telapak tangan kanan diatas pergelangan tangan kiri
merupakan istirahat yang paling sempurna bagi kedua tangan sebab sendi-
sendi, otot-otot kedua tangan berada dalam posisi istirahat penuh. Sikap
seperti ini akan memudahkan aliran darah mengalir kembali ke jantung , serta
memproduksi getah bening dan air jaringan dari kedua persendian tangan akan
menjadi lebih baik sehingga gerakan di dalam persendian akan menjadi lebih
lancar. Hal ini akan menghindari timbulnya bermacam-macam penyakit
persendian seperti rheumatik. Sebagai contoh, orang yang mengalami patah
tangan, terkilir maka tangan/lengan penderita tersebut oleh dokter akan
dilipatkan diatas dada ataupun perut dengan mempergunakan mitella yang
disangkutkan di leher.
2. Ruku’, yaitu membungkukkan badan dan meletakkan telapak tangan diatas
lutut sehingga punggung sejajar merupakan suatu garis lurus. Sikap yang
demikian ini akan mencegah timbulnya penyakit yang berhubungan dengan
ruas tulang belakang, ruas tulang pungung, ruas tulang leher, ruas tulang
pinggang, dsb.
3. Sujud, sikap ini menyebabkan semua otot-otot bagian atas akan bergerak. Hal
ini bukan saja menyebabkan otot-otot menjadi besar dan kuat, tetapi peredaran
urat-urat darah sebagai pembuluh nadi dan pembuluh darah serta limpa akan
menjadi lancar di tubuh kita. Dengan sikap sujud ini maka dinding dari urat-
urat nadi yang berada di otak dapat dilatih dengan membiasakan untuk
menerima aliran darah yang lebih banyak dari biasanya, karena otak (kepala)
kita pada waktu itu terletak di bawah. Latihan semacam ini akan dapat
menghindarkan kita mati mendadak dengan sebab tekanan darah yang
menyebabkan pecahnya urat nadi bagian otak dikarenakan amarah, emosi
yang berlebihan, terkejut dan sebagainya yang sekonyong-konyong lebih
banyak darah yang di pompakan ke urat-urat nadi otak yang dapat
menyebabkan pecahnya urat-urat nadi otak, terutama bila dinding urat-urat
nadi tersebut telah menjadi sempit, keras, dan rapuh karena dimakan usia.
4. Duduk Iftrasy (duduk antara dua sujud & tahiyat awal), posisi duduk seperti
ini menyebabkan tumit menekan otot-otot pangkal paha , hal ini
mengakibatkan pangkal paha terpijit. Pijitan tersebut dapat menghindarkan
atau menyembuhkan penyakit saraf pangkal paha (neuralgia) yang
menyebabkan tidak dapat berjalan. Disamping itu urat nadi dan pembuluh
darah balik di sekitar pangkal paha dapat terurut dan tirpijit sehingga aliran
darah terutama yang mengalir kembali ke jantung dapat mengalir dengan
lancar. Hal ini dapat menghindarkan dari pengakit bawasir.
5. Duduk tawaruk (tahiyat akhir), duduk seperti ini dapat menghindarkan
penyakit bawasir yang sering dialami wanita yang hamil. Kemudian duduk
tawaruk ini juga dapat untuk mempermudah buang air kecil.
6. Salam, diakhiri dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal ini sangat berguna
untuk memperkuat otot-otot leher dan kuduk, selain itu dapat pula untuk
menghindarkan penyakit kepala dan kuduk kaku.

Dari penjelasan diatas, maka dapatlah disimpulkan bahwa sholat disamping


merupakan ibadah yang wajib dan istimewa ternyata juga mengandung manfaat yang
sangat besar bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup umat manusia

Hukum Sholat Berjama’ah Dan Keutamaannya

Yang dimaksud dengan sholat berjamaah adalah sholat bersama yang sekurang-
kurangnya terdiri dari dua orang yaitu seorang imam dan makmum, dimana seorang
makmum harus mengikuti perbuatan imam dan tidak boleh mendahului setiap
gerakannya.
Allah SWT berfirman :
‫ت‬
ِ ْ‫ﻚ َو ْﻟﯿَﺄْ ُﺧﺬُوا أَ ْﺳﻠِ َﺤﺘَﮭُ ْﻢ ﻓَﺈِذَا َﺳ َﺠﺪُوا ﻓَ ْﻠﯿَﻜُﻮﻧُﻮا ﻣِﻦْ َو َراﺋِ ُﻜ ْﻢ َو ْﻟﺘَﺄ‬
َ ‫َوإِذَا ُﻛﻨْﺖَ ﻓِﯿ ِﮭ ْﻢ ﻓَﺄَﻗَﻤْﺖَ ﻟَﮭُ ُﻢ اﻟﺼ َﱠﻼةَ ﻓَ ْﻠﺘَﻘُ ْﻢ طَﺎﺋِﻔَﺔٌ ِﻣ ْﻨﮭُ ْﻢ َﻣ َﻌ‬
‫ﻚ َو ْﻟﯿَﺄْ ُﺧﺬُوا ِﺣ ْﺬ َرھُ ْﻢ َوأَ ْﺳﻠِ َﺤﺘَﮭُ ْﻢ وَ ﱠد اﻟﱠﺬِﯾﻦَ َﻛﻔَﺮُوا ﻟَﻮْ ﺗَ ْﻐﻔُﻠُﻮنَ ﻋَﻦْ أَ ْﺳﻠِ َﺤﺘِ ُﻜ ْﻢ َوأَ ْﻣﺘِ َﻌﺘِ ُﻜ ْﻢ‬
َ ‫ﺼﻠﱡﻮا َﻣ َﻌ‬
َ ُ‫ﺼﻠﱡﻮا ﻓَ ْﻠﯿ‬
َ ُ‫طَﺎﺋِﻔَﺔٌ أُﺧْ َﺮى ﻟَ ْﻢ ﯾ‬
‫ﻀﻌُﻮا أَ ْﺳﻠِ َﺤﺘَ ُﻜ ْﻢ َو ُﺧﺬُوا‬
َ َ‫ﺿﻰ أَنْ ﺗ‬
َ ْ‫ﻓَﯿَﻤِﯿﻠُﻮنَ َﻋﻠَ ْﯿ ُﻜ ْﻢ َﻣ ْﯿﻠَﺔً َوا ِﺣ َﺪةً و ََﻻ ُﺟﻨَﺎ َح َﻋﻠَ ْﯿ ُﻜ ْﻢ إِنْ ﻛَﺎنَ ﺑِ ُﻜ ْﻢ أَذًى ﻣِﻦْ َﻣﻄَ ٍﺮ أَوْ ُﻛ ْﻨﺘُ ْﻢ ﻣَﺮ‬
‫ﷲَ أَ َﻋ ﱠﺪ ﻟِ ْﻠﻜَﺎﻓِﺮِﯾﻦَ َﻋﺬَاﺑًﺎ ُﻣﮭِﯿﻨًﺎ‬
‫ِﺣ ْﺬ َر ُﻛ ْﻢ إِنﱠ ﱠ‬
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak
mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka
berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang
salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka
pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan
yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu,
dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir
ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka
menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-
senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu
memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab
yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. (QS. An- Nisa’ ayat 102)
Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda :
، ‫ ﺛﻢ آﻣﺮ رﺟﻼً ﻓﯿﺆم اﻟﻨﺎس‬، ‫ ﺛﻢ آﻣﺮ ﺑﺎﻟﺼﻼة ﻓﯿﺆذن ﻟﮭﺎ‬، ‫ ﻟﻘﺪ ھﻤﻤﺖ أن آﻣﺮ ﺑﺤﻄﺐ ﻓﯿﺤﺘﻄﺐ‬، ‫و اﻟﺬي ﻧ ﻔﺴﻲ ﺑﯿﺪه‬
‫ و اﻟﺬي ﻧﻔﺴﻲ ﺑﯿﺪه ﻟﻮ ﯾﻌﻠﻢ أﻧﮫ ﯾﺠﺪ ﻋَﺮْ ﻗﺎً ﺳﻤﯿﻨﺎً أو ﻣِﺮْ ﻣﺎﺗَﯿْﻦ ﺣﺴﻨﺘﯿﻦ‬، ‫ﺛﻢ أﺧﺎﻟﻒ إﻟﻰ رﺟﺎﻻً ﻓﺄﺣﺮق ﻋﻠﯿﮭﻢ ﺑﯿﻮﺗﮭﻢ‬
‫ﻟﺸﮭﺪ اﻟﻌﺸﺎء‬
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak
menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh seseorang
menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam bagi orang
banyak. Maka saya akan mendatangi orang-orang yang tidak ikut berjama’ah, lantas
aku bakar rumah-rumah mereka. (HR. Bukhari dan Muslim)
Adapun sholat yang dianjurkan untuk dikerjakan secara berjama’ah adalah sholat
wajib (seperti sholat 5 waktu, dan sholat jum’at) maupun sholat sunnah ( seperti
Sholat Hari raya, Shalat Tarawih, Sholat witir, Sholat Istisqa’, sholat gerhana, dan
sholat jenazah)
Hukum melaksanakan sholat berjama’ah
Para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang bagaimanakah hukum
melaksanakan sholat secara berjama’ah, berikut ini beberapa pendapat dari para
ulama tersebut :
 Sebagian ulama dari madzab Syafi’i dan Maliki menyatakan bahwa hukum dari sholat
berjama’ah itu adalah fardhu kifayah, sedangkan sebagian ulama yang lainnya
menyatakan bahwa hukum sholat berjama’ah adalah sunnah Muakkad.
 Para ulama dari Madzab Hanafi menyatakan bahwa hukum sholat berjama’ah itu
adalah wajib.
 Sedangkan menurut para ulama dari madzab Hambali menyatakan bahwa hukum
sholat berjama’ah adalah fardhu ain bagi setiap muslim laki-laki yang telah baligh dan
akan mengakibatkan dosa apabila mereka meninggalkannya.
Akan tetapi pada dasarnya berjama’ah bukanlah termasuk dalam syarat syahnya
sholat, sehingga apabila shlat dikerjakan sendirian sholat tersebuta akan tetap sah.
Berikut ini adalah Keutamaan dari Sholat berjama’ah:
1. Allah SWT akan melipatgandakan pahala bagi mereka yang melaksanakan
sholat secara berjama’ah
Rosulullah sholallahu Alaihi Wassalam bersabda :
َ ‫ﺿﺄ‬
‫ﻚ أَﻧﱠﮫُ إِذَا ﺗَ َﻮ ﱠ‬
َ ِ‫ﺿ ْﻌﻔًﺎ َو َذﻟ‬
ِ َ‫ﻀﻌﱠﻒُ َﻋﻠَﻰ ﺻ ََﻼﺗِ ِﮫ ﻓِﻲ ﺑَ ْﯿﺘِ ِﮫ َوﻓِﻲ ﺳُﻮﻗِ ِﮫ َﺧ ْﻤﺴًﺎ َو ِﻋ ْﺸﺮِﯾﻦ‬
َ ُ‫ﺻ ََﻼةُ اﻟ ﱠﺮ ُﺟ ِﻞ ﻓِﻲ ا ْﻟ َﺠﻤَﺎ َﻋ ِﺔ ﺗ‬
‫ﻄ َﻮةً إ ﱠِﻻ ُرﻓِﻌَﺖْ ﻟَﮫُ ﺑِﮭَﺎ َد َر َﺟﺔٌ َو ُﺣﻂﱠ َﻋ ْﻨﮫُ ﺑِﮭَﺎ‬
ْ ‫ﻓَﺄَﺣْ ﺴَﻦَ ا ْﻟ ُﻮﺿُﻮ َء ﺛُ ﱠﻢ َﺧ َﺮ َج إِﻟَﻰ ا ْﻟ َﻤ ْﺴ ِﺠ ِﺪ َﻻ ﯾُﺨْ ِﺮ ُﺟﮫُ إ ﱠِﻻ اﻟﺼ َﱠﻼةُ ﻟَ ْﻢ ﯾَﺨْ ﻂُ َﺧ‬
‫ﺻ ﱢﻞ َﻋﻠَ ْﯿ ِﮫ اﻟﻠﱠﮭُ ﱠﻢ ارْ َﺣ ْﻤﮫُ و ََﻻ ﯾَ َﺰا ُل أَ َﺣ ُﺪ ُﻛ ْﻢ ﻓِﻲ‬
َ ‫ﺼﻠﱢﻲ َﻋﻠَ ْﯿ ِﮫ ﻣَﺎ دَا َم ﻓِﻲ ُﻣﺼ ﱠَﻼهُ اﻟﻠﱠﮭُ ﱠﻢ‬
َ ُ‫ﺻﻠﱠﻰ ﻟَ ْﻢ ﺗَ َﺰلْ ا ْﻟﻤ ََﻼﺋِ َﻜﺔُ ﺗ‬
َ ‫َﺧﻄِﯿﺌَﺔٌ ﻓَﺈِذَا‬
َ‫ﺻ ََﻼ ٍة ﻣَﺎ ا ْﻧﺘَﻈَ َﺮ اﻟﺼ َﱠﻼة‬
Artinya
“Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di
pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat.
Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu
keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan
shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan
ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia
melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia
masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah
dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama
dia menanti pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam Hadist yang lain, Rasulullah Sholallahu Alaihi wassalam bersabda :
‫ﺻﻼة اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ أﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺻﻼة اﻟﻔﺬ ﺑﺴﺒﻊ وﻋﺸﺮﯾﻦ درﺟﺔ‬
Artinya “Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dibanding shalat sendirian.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
‫اﻹﻣَﺎمِ أَ ْﻋﻈَ ُﻢ‬
ِ ْ ‫ﺼﻠﱢﯿَﮭَﺎ َﻣ َﻊ‬
َ ُ‫س أَﺟْ ًﺮا ﻓِﻲ اﻟﺼ َﱠﻼ ِة أَ ْﺑ َﻌ ُﺪھُ ْﻢ إِﻟَ ْﯿﮭَﺎ َﻣ ْﻤﺸًﻰ ﻓَﺄَ ْﺑ َﻌ ُﺪھُ ْﻢ َواﻟﱠﺬِي ﯾَ ْﻨﺘَ ِﻈ ُﺮ اﻟﺼ َﱠﻼةَ َﺣﺘﱠﻰ ﯾ‬
ِ ‫إِنﱠ أَ ْﻋﻈَ َﻢ اﻟﻨﱠﺎ‬
‫ﺼﻠﱢﯿﮭَﺎ ﺛُ ﱠﻢ ﯾَﻨَﺎ ُم‬
َ ُ‫أَﺟْ ًﺮا ﻣِﻦْ اﻟﱠﺬِي ﯾ‬
Artinya
“Manusia paling besar pahalanya dalam shalat adalah yang paling jauh perjalannya,
lalu yang selanjutnya. Dan seseorang yang menunggu shalat hingga melakukannya
bersama imam, lebih besar pahalanya daripada yang melakukannya (sendirian)
kemudian tidur.” (HR. Muslim)
‫ وﻣَﻦ ﺻﻠّﻰ اﻟﺼﺒﺢ ﻓﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻓﻜﺄﻧﻤﺎ ﻗﺎم اﻟﻠﯿﻞ ﻛﻠﮫ‬، ‫ﻣﻦ ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻌﺸﺎء ﻓﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻓﻜﺄﻧﻤﺎ ﻗﺎم ﻧ ﺼﻒ اﻟﻠﯿﻞ‬
Artinya
“Barangsiapa shalat isya’ secara berjamaah maka seakan-akan dia melakukan
shalat separuh malam. Barangsiapa shalat subuh berjamaah maka seakan-akan dia
shalat seluruh malam.” (HR. Muslim)
2. Mereka yang melakukan sholat secara berjama’ah akan terhindar dari
gangguan syaitan
Hal ini sesuai dengan sabda Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam :
ُ‫ﻚ ﺑِﺎ ْﻟ َﺠﻤَﺎ َﻋ ِﺔ ﻓَﺈِﻧﱠﻤَﺎ ﯾَﺄْ ُﻛ ُﻞ اﻟ ﱢﺬﺋْﺐ‬
َ ‫ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺛ ََﻼﺛَ ٍﺔ ﻓِﻲ ﻗَﺮْ ﯾَ ٍﺔ و ََﻻ ﺑَ ْﺪ ٍو َﻻ ﺗُﻘَﺎ ُم ﻓِﯿ ِﮭ ْﻢ اﻟﺼ َﱠﻼةُ إ ﱠِﻻ ﻗَ ْﺪ ا ْﺳﺘَﺤْ َﻮ َذ َﻋﻠَ ْﯿ ِﮭ ْﻢ اﻟ ﱠﺸ ْﯿﻄَﺎنُ ﻓَ َﻌﻠَ ْﯿ‬
َ‫ﺻﯿَﺔ‬
ِ ‫ا ْﻟﻘَﺎ‬
“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat
berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah menguasai mereka. Karena
itu tetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan
menerkam kambing yang sendirian (jauh dari kawan-kawannya).” (HR. Abu Daud
dan An-Nasai)
3. Allah SWT akan menaunginya di hari kiamat kelak
Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada
hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: imam yang adil, pemuda yang
tumbuh dalam beribadah kepada Rabb-nya, seseorang yang hatinya bergantung di
masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah berkumpul dan
berpisah karena-Nya, seseorang yang dinginkan (berzina) oleh wanita yang memiliki
kedudukan dan kecantikan, maka ia mengatakan,’ Sesungguhnya aku takut kepada
Allah’,seseorang yang bersadaqah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan
kirinya tidak mengetahui apa yang di nafkahkan oleh tangan kanannya, dan
seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sepi (sendiri) lalu kedua matanya
berlinang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Allah SWT akan menghapuskan kesalahan-kesalahan bagi mereka yang


sholat berjama’ah serta akan meninggikan derajat mereka.
Rosulullah Sholallahu Alaihi Wasalam bersabda
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang perkara yang akan menghapuskan
kesalahan-kesalahan dan juga mengangkat beberapa derajat?” Para sahabat
menjawab,”Tentu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,”Menyempurnakan wudhu’
pada saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid-masjid, dan menunggu
shalat setelah melaksanakan shalat. Maka, itulah ar-tibath (berjuang di jalan
Allah).” (HR. Muslim)
5. Allah SWT menjanjikan surga bagi mereka yang sholat secara berjama’ah
Rosulullah Sholallahu Alaihi Wasalam bersabda
“Ada tiga golongan yang semuanya dijamin oleh Allah Ta’ala, yaitu orang yang
keluar untuk berperang di jalan Allah, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia
mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya
dengan membawa pahala dan ghanimah, kemudian orang yang pergi ke masjid, maka
ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya lalau memasukkannya ke dalam
Surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala, dan orang yang masuk
rumahnya dengan mengucapkan salam, maka ia dijamin oleh Allah.” (HR. Abu
Dawud)
6. Bagi mereka yang melaksanakan sholat berjamaah di masjid merupakan
tamu Allah SWT, dan Allah SWT akan selalu memuliakan tamu-tamu-Nya
Barangsiapa yang berwudhu’ di rumahnya dengan sempurna kemudian mendatangi
masjid, maka ia adalah tamu Allah, dan siapa yang di kunjunginya wajib memuliakan
tamunya.” (HR. ath Thabrani)
Di dalam Kiitab az Zuhd, Imam Ibnul Mubarak rahimahullah meriwayatkan dari
‘Amr bin Maimun, bahwasannya ia mengatakan, “Para sahabat Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengatakan,’Rumah Allah di bumi adalah masjid, dan
Allah wajib memuliakan siapa yang mengunjungi-Nya di dalamnya”
7. Sholat berjama’ah dapat menghindarkan seseorang dari sifat nifak
Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda :
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﮭﻢ‬
َ ‫ﷲَ َﺷ َﺮ َع ﻟِﻨَﺒِﯿﱢ ُﻜ ْﻢ‬
‫ت َﺣﯿْﺚُ ﯾُﻨَﺎدَى ﺑِﮭِﻦﱠ ﻓَﺈنﱠ ﱠ‬
ِ ‫ﺼﻠَ َﻮا‬
‫ﻆ َﻋﻠَﻰ ھَﺆُﻻ ِء اﻟ ﱠ‬
ْ ِ‫ﷲَ َﻏﺪًا ُﻣ ْﺴﻠِﻤًﺎ ﻓَ ْﻠﯿُ َﺤﺎﻓ‬
‫ﻣَﻦْ َﺳ ﱠﺮهُ أنْ ﯾَ ْﻠﻘَﻰ ﱠ‬
‫ﺼﻠﱢﻲ ھَﺬَا ا ْﻟ ُﻤﺘَ َﺨﻠﱢﻒُ ﻓِﻲ ﺑَ ْﯿﺘِ ِﮫ ﻟَﺘَ َﺮ ْﻛﺘُ ْﻢ‬
َ ُ‫ﺻﻠﱠ ْﯿﺘُ ْﻢ ﻓِﻲ ﺑُﯿُﻮﺗِ ُﻜ ْﻢ َﻛﻤَﺎ ﯾ‬
َ ‫َﻋﻠَ ْﯿ ِﮫ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ُﺳﻨَﻦَ ا ْﻟﮭُﺪَى َوإﻧﱠﮭُﻦﱠ ﻣِﻦْ ُﺳﻨَ ِﻦ ا ْﻟﮭُﺪَى َوﻟَﻮْ أﻧﱠ ُﻜ ْﻢ‬
‫ﻄﮭُﻮ َر ﺛُ ﱠﻢ ﯾَ ْﻌ ِﻤ ُﺪ إﻟَﻰ َﻣ ْﺴ ِﺠ ٍﺪ ﻣِﻦْ ھَ ِﺬ ِه ا ْﻟ َﻤﺴَﺎ ِﺟ ِﺪ‬
‫ﻀﻠَ ْﻠﺘُ ْﻢ َوﻣَﺎ ﻣِﻦْ َر ُﺟ ٍﻞ ﯾَﺘَﻄَﮭﱠ ُﺮ ﻓَﯿُﺤْ ِﺴﻦُ اﻟ ﱡ‬
َ َ‫ُﺳﻨﱠﺔَ ﻧَﺒِﯿﱢ ُﻜ ْﻢ َوﻟَﻮْ ﺗَ َﺮ ْﻛﺘُ ْﻢ ُﺳﻨﱠﺔَ ﻧَﺒِﯿﱢ ُﻜ ْﻢ ﻟ‬
ّ‫ﻂ َﻋ ْﻨﮫُ ﺑِﮭَﺎ َﺳﯿﱢﺌَﺔً َوﻟَﻘَ ْﺪ َرأ ْﯾﺘُﻨَﺎ َوﻣَﺎ ﯾَﺘَ َﺨﻠﱠﻒُ َﻋ ْﻨﮭَﺎ إﻻ‬
‫ﻄ َﻮ ٍة ﯾَﺨْ ﻄُﻮھَﺎ َﺣ َﺴﻨَﺔً َوﯾَﺮْ ﻓَ ُﻌﮫُ ﺑِﮭَﺎ َد َر َﺟﺔً َوﯾَ ُﺤ ﱡ‬
ْ ‫ﷲُ ﻟَﮫُ ﺑِ ُﻜ ﱢﻞ َﺧ‬
‫إﻻّ َﻛﺘَﺐَ ﱠ‬
‫ق َوﻟَﻘَ ْﺪ ﻛَﺎنَ اﻟ ﱠﺮ ُﺟ ُﻞ ﯾُﺆْ ﺗَﻰ ﺑِ ِﮫ ﯾُﮭَﺎدَى ﺑَﯿْﻦَ اﻟ ﱠﺮ ُﺟﻠَ ْﯿ ِﻦ َﺣﺘﱠﻰ ﯾُﻘَﺎ َم ﻓِﻲ اﻟﺼﱠﻒﱢ‬
ِ ‫ﻖ َﻣ ْﻌﻠُﻮ ُم اﻟﻨﱢﻔَﺎ‬
ٌ ِ‫ُﻣﻨَﺎﻓ‬
Artinya
“Barangsiapa yang ingin bertemu dengan Allah kelak (dalam keadaan) sebagai
seorang muslim, maka hendaklah dia memelihara shalat setiap kali ia mendengar
panggilan shalat. Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan sunnanal huda (jalan-
jalan petunjuk) dan sesungguhnya shalat berjama`ah merupakan bagian dari
sunnanil huda. Apabila kamu shalat sendirian di rumahmu seperti kebiasaan shalat
yang dilakukan oleh seorang mukhallif (yang meninggalkan shalat berjama`ah) ini,
berarti kamu telah meninggalkan sunnah nabimu, apabila kamu telah meninggalkan
sunnah nabimu, berarti kamu telah tersesat. Tiada seorang pun yang bersuci
(berwudhu`) dengan sebaik-baiknya, kemudian dia pergi menuju salah satu masjid
melainkan Allah mencatat baginya untuk setiap langkah yang diayunkannya satu
kebajikan dan diangkat derajatnya satu tingkat dan dihapuskan baginya satu dosa.
Sesungguhnya kami berpendapat, tiada seorang pun yang meninggalkan shalat
berjama`ah melainkan seorang munafik yang jelas-jelas nifak. Dan sesungguhnya
pada masa dahulu ada seorang pria yang datang untuk shalat berjama`ah dengan
dipapah oleh dua orang laki-laki sampai ia didirikan di dalam barisan shaff shalat
berjama`ah.” (H.R. Muslim)