Anda di halaman 1dari 38

SKB KESEHATAN

VISI MISI PEMERINTAH, KEMENKES, DIRJEN


KEFARMASIAN, NAWACITA, UU KESEHATAN DAN
TENAGA KEFARMASIAN

apt. Putri Widyaningsih, S.Farm.


VISI MISI PEMERINTAH
(2020-2024)

Visi Pemerintah
“Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri dan
Berkepribadian Berlandaskan Gotong-royong”

MISI PEMERINTAH:
1. Peningkatan kualitas manusia Indonesia
2. Penguatan struktur ekonomi yang produktif, mandiri dan berdaya saing
3. Pembangunan yang merata dan berkeadilan
4. Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan
5. Memajukan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa
6. Penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya
7. Perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman bagi seluruh warga
8. Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif dan terpercaya
9. Sinergi pemerintah daerah dalam kerangka negara kesatuan
LIMA PROGRAM UTAMA:
1. Pembangunan sumber daya manusia
2. Pembangunan infrastruktur
3. Penyederhanaan segala bentuk kendala regulasi
4. Penyederhanaan birokrasi
5. Transformasi ekonomi
VISI MISI KEMENKES VISI MISI KEMENKES
(2014-2019) (2020-2024)
Visi misi Kementerian Kesehatan mengikuti visi misi
Presiden Republik Indonesia yaitu “Terwujudnya Indonesia Visi Kemenkes
yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan “Terwujudnya masyarakat sehat, produktif, mandiri
Gotong-royong” dan berkeadilan untuk menuju Indonesia maju yang
berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan
Visi tersebut diwujudkan dalam 7 misi pembangunan, yaitu:
gotong-royong”

1. Terwujudnya keamanan nasional yang mampu menjaga


Guna mendukung peningkatan kualitas manusia
kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan
Indonesia, Kemenkes menetapkan misi sebagai
mengamankan sumber daya maritim dan mencerminkan
kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.
berikut:
2. Mewujudkan masyarakat maju, berkesinambungan dan 1. Memperkuat uapaya kesehatan yang bermutu dan
demokratis berlandaskan negara hukum. menjangkau seluruh penduduk Indonesia
3. Mewujudkan politik luar negeri bebas dan aktif serta 2. Memberdayakan masyarakat dan mengarusutamakan
memperkuat jati diri sebagai negara maritim. pembangunan kesehatan
4. Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, 3. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan dan mutu
maju dan sejahtera. sumberdaya kesehatan
5. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing. 4. Memantapkan tata kelola pemerintahan yang baik,
6. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, bersih dan inovatif.
maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional, serta
7. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam
kebudayaan.
Nilai-nilai Kementerian Kesehatan

Pro Rakyat
Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, Kementerian
Kesehatan selalu mendahulukan kepentingan rakyat dan harus
menghasilkan yang terbaik untuk rakyat. Diperolehlah derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah salah
satu hak asasi manusia tanpa membedakan suku, golongan,
agama dan status sosial ekonomi.
Nilai-nilai Kementerian Kesehatan

Inklusif
Semua program pembangunan kesehatan harus melibatkan
semua pihak, karena pembangunan kesehatan tidak mungkin
hanya dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan saja. Dengan
demikian, seluruh komponen masyarakat harus berpartisipasi
aktif, yang meliputi lintas sektor, organisasi profesi, organisasi
masyarakat pengusaha, masyarakat madani dan masyarakat
akar rumput.
Nilai-nilai Kementerian Kesehatan

Responsif
Program kesehatan harus sesuai dengan kebutuhan dan
keinginan rakyat, serta tanggap dalam mengatasi permasalahan
di daerah, situasi kondisi setempat, sosial budaya dan kondisi
geografis. Faktor-faktor ini menjadi dasar dalam mengatasi
permasalahan kesehatan yang berbeda-beda, sehingga
diperlukan penanganan yang berbeda pula..
Nilai-nilai Kementerian Kesehatan

Efektif
Program kesehatan harus mencapai hasil yang signifikan sesuai
target yang telah ditetapkan dan bersifat efisien.

Bersih
Penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus bebas dari
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), transparan dan akuntabel.
VISI MISI DIRJEN KEFARMASIAN
(2010-2014)
VISI:
Masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan
(Mengacu pada visi misi kemenkes 2010-2014)

MISI:
1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan
masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani
2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya
kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan
3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan
4. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik
SEMBILAN AGENDA PRIORITAS
(NAWACITA)
1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan
rasa aman pada seluruh warga negara.
2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang
bersih, efektif, demokratis dan terpercaya.
3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa
dalam kerangka negara kesatuan
4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum
yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya
5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia
6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional
7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis
ekonomi domestik
8. Melakukan revolusi karakter bangsa
9. Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia
Point utama terkait dengan kesehatan
pada nawacita yang kelima
Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.

Program yang mendukung nawacita kelima:


1. Program Indonesia Pintar (berkaitan dengan pendidikan)
2. Program Indonesia Sehat (berkaitan dengan kesehatan)
3. Program Indonesia Kerja (berkaitan dengan sosial)
4. Program Indonesia Sejahtera (berkaitan dengan sosial)
UU KESEHATAN
NOMOR 36 TAHUN 2009
Pengertian menurut pasal 1:
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental,
spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk
1
hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
UU KESEHATAN
NOMOR 36 TAHUN 2009
Total pasal (205 pasal)

Pelayanan Kesehatan Perlindungan Pasien

Asas dan Tujuan Penyembuhan Penyakit

Hak dan Kewajiban Aborsi

Tenaga Kesehatan Kawasan Tanpa Rokok


Pelayanan Kesehatan

Pelayanan Kesehatan Promotif


Suatu kegiatan dan/atau serangkaian Pelayanan Kesehatan Preventif
kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih Suatu kegiatan pencegahan terhadap
mengutamakan kegiatan yang bersifat suatu masalah kesehatan/penyakit.
promosi kegiatan. .
.

Pelayanan Kesehatan Kuratif


Pelayanan Kesehatan Rehabilitatif
Suatu kegiatan dan/atau serangkaian
Suatu kegiatan dan/atau serangkaian
kegiatan pengobatan yang ditujukan
kegiatan untuk mengembalikan bekas
untuk penyembuhan penyakit,
penderita ke dalam masyarakat sehingga
pengurangan penderitaan akibat
dapat berfungsi lagi sebagai anggota
penyakit, pengendalian penyakit, atau
masyarakat yang berguna untuk dirinya
pengendalian kecacatan agar kualitas
dan masyarakat semaksimal mungkin
penderita dapat terjaga seoptimal
sesuai dengan kemampuannya..
mungkin.
.
.
Asas dan Tujuan Pembangunan Kesehatan
Asas Pembangunan Kesehatan
Pasal 2
Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan
perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, pelindungan, penghormatan
terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan
norma-norma agama.

Tujuan Pembangunan Kesehatan


Pasal 3
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi
bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial
dan ekonomis.
Hak dan Kewajiban Setiap Orang
Hak
Pasal 4
Setiap orang berhak atas kesehatan.
Pasal 5 (1)
Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang
kesehatan
Pasal 5 (2)
Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu
dan terjangkau
Pasal 6
Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan
Pasal 7
Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang
seimbang dan bertanggung jawab
Pasal 8
Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan
dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan.
Hak dan Kewajiban Setiap Orang
Kewajiban
Pasal 9
Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan, mempertahankan dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Pasal 10
Setiap orang berkewajiban menghormati hak orang lain dalam upaya memperoleh lingkungan
yang sehat, baik fisik, biologi, maupun sosial
Pasal 11
Setiap orang berkewajiban berprilaku hidup sehat untuk mewujudkan, mempertahankan dan
memajukan kesehatan yang setinggi-tingginya.
Pasal 12
Setiap orang berkewajiban menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan bagi orang lain yang
menjadi tanggung jawabnya.
Pasal 13
Setiap orang berkewajiban turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial.
Tenaga Kesehatan
Pasal 22
Tenaga kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum
Pasal 23 (1)
Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan
Pasal 23 (2)
Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki
Pasal 23 (3)
Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan wajib memiliki izin dari
pemerintah
Pasal 23 (4)
Selama memberikan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang
mengutamakan kepentingan yang bernilai materi.
Pasal 24 (1)
Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus memenuhi ketentuan kode
etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan dan standar
prosedur operasional.
Pasal 24 (2)
Ketentuan mengenai kode etik dan standar profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
oleh organisasi profesi.
Hak dan Kewajiban tenaga Kesehatan
Pasal 27 (1)
Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan perlindungan
hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.

Pasal 28 (1)
Untuk kepentingan hukum, tenaga kesehatan wajib melakukan
pemeriksaan kesehatan atas permintaan penegak hukum dengan biaya
ditanggung oleh negara.
Perlindungan Pasien
Pasal 56
1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh
tindakan pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah menerima
dan memahami informasi mengenai tindakan tersebut secara lengkap.

(2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak berlaku pada:
a. Penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat menular ke
dalam masyarakat yang lebih luas.
b. Keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri, atau
c. Gangguan mental berat.
Perlindungan Pasien
Pasal 57
1) Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pribadinya
yang telah dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan kesehatan.

(2) Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi kesehatan pribadi


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal:
a. Perintah undang-undang;
b. Perintah pengadilan;
c. Izin yang bersangkutan;
d. Kepentingan masyarakat; atau
e. Kepentingan orang tersebut.
Penyembuhan Penyakit dan Pemulihan
Kesehatan
Pasal 66
Transplantasi sel, baik yang berasal dari manusia maupun dari hewan,
hanya dapat dilakukan apabila telah terbukti keamanan dan
kemanfaatannya.

Pasal 70
(1) Penggunaan sel punca hanya dapat dilakukan untuk tujuan
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan, serta dilarang
digunakan untuk tujuan reproduksi.
(2) Sel punca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh berasal
dari sel punca embrionik.
Aborsi
Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan
berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan,
baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita
penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat
diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan;
atau
b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma
psikologis bagi korban perkosaan.
Aborsi
Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari
pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan
kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan
oleh Menteri
Kawasan Tanpa Rokok
Pasal 115
(1) Kawasan tanpa rokok antara lain:
a. Fasilitas pelayanan kesehatan
b. Tempat proses belajar mengajar
c. Tempat anak bermain
d. Tempat ibadah
e. Angkutan umum
f. Tempat kerja, dan
g. Tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan

(2) Pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya.


UU TENAGA KESEHATAN
NOMOR 36 TAHUN 2014
Tenaga kesehatan
Setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan/ dan
keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan.

Asisten Tenaga Kesehatan


Setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau
keterampilan melalui pendidikan bidang kesehatan di bawah jenjang Diploma Tiga.

Sertifikat Kompetensi
Surat tanda pengakuan terhadap Kompetensi Tenaga Kesehatan untuk dapat menjalankan praktik
diseluruh Indonesia setelah lulus uji kompetensi

Surat Tanda Registrasi


Bukti tertulis yang diberikan oleh konsil masing-masing Tenaga Kesehatan kepada Tenaga Kesehetan
yang telah diregistrasi

Surat Izin Praktik (SIP)


Bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada Tenaga Kesehatan sebagai
pemberian kewenangan untuk menjalankan praktik
UU TENAGA KESEHATAN
NOMOR 36 TAHUN 2014
Undang-undang ini berdasarkan:
• Perikemanusiaan
• Manfaat
• Pemerataan
• Etika dan profesionalitas
• Penghormatan terhadap hak dan kewajiban
• Keadilan
• Pengabdian
• Norma agama
• Pelindungan
UU TENAGA KESEHATAN
NOMOR 36 TAHUN 2014
Tenaga bidang kesehatan terdiri*pasal 8
Tenaga kesehatan
Kualifikasi minimum diploma tiga, kecuali tenaga medis*pasal 9

Asisten Tenaga Kesehatan


Kualifikasi minimum pendidikan menengah di bidang kesehatan*pasal 10
Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia
Pasal 34
(1) Untuk meningkatkan mutu Praktik Tenaga Kesehatan serta untuk
memberikan pelindungan dan kepastian hukum kepada Tenaga
Kesehatan dan masyarakat, dibentuk Konsil Tenaga Kesehatan
Indonesia.
(2) Konsil tenaga kesehatan indonesia sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) terdiri atas konsil masing-masing Tenaga Kesehatan
(3) Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) bertanggung jawab kepada Presiden melalui menteri
Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia
Pasal 37
(1) Konsil masing-masing tenaga kesehatan mempunyai fungsi
pengaturan, penetapan dan pembinaan tenaga kesehatan dalam
menjalankan praktik tenaga kesehatan untuk meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan
(2) Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
konsil masing-masing tenaga kesehatan memiliki tugas:
a. Melakukan registrasi tenaga kesehatan
b. Melakukan pembinaan tenaga kesehatan dalam menjalankan
praktik tenaga kesehatan
c. Menyusun standar nasional pendidikan tenaga kesehatan
d. Menyusun standar praktik dan standar kompetensi tenaga
kesehatan
e. Menegakkan disiplin praktik tenaga kesehatan
Registrasi
Pasal 44
(1) Setiap tenaga kesehatan yang menjalankan praktik wajib memiliki
STR
(2) STR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh konsil
masing-masing tenaga kesehatan setelah memenuhi persyaratan

Pasal 44
(4) STR berlaku selama 5(lima) tahun dan dapat diregistrasi ulang
setelah memenuhi persyaratan
Perizinan
Pasal 46
(1) Setiap Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik di bidang
pelayanan kesehatan wajib memiliki izin.
(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk
SIP.
(3) SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh
pemerintah daerah kabupaten/kota atas rekomendasi pejabat
kesehatan yang berwenang di kabupaten/kota tempat Tenaga
Kesehatan menjalankan praktiknya.
Organisasi Profesi
Pasal 50
(1) Tenaga kesehatan harus membentuk organisasi profesi sebagai
wadah untuk meningkatkan dan/atau mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan. Martabat dan etika profesi tenaga
kesehatan
(2) Setiap tenaga kesehatan hanya dapat membentuk satu organisasi
profesi
Hak dan Kewajiban Tenaga Kesehatan
Hak Tenaga Kesehatan
Pasal 57
(a) Memperoleh pelindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai
dengan Standar Profesi, Standar Pelayanan Profesi, dan Standar Prosedur
Operasional;
(b) Memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari penerima pelayanan
kesehatan atau keluarganya
(c) Menerima imbalan jasa
(d) Memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, perlakuan
yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta
nilai-nilai agama
(e) Mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan profesinya
(f) Menolak keinginan Penerima Pelayanan Kesehatan atau pihak lain yang
bertentangan dengan Standar Profesi, kode etik, standar pelayanan, Standar
Prosedur Operasional, atau ketentuan Peraturan Perundang-undangan
(g) Memperoleh hak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
Hak dan Kewajiban Tenaga Kesehatan
Kewajiban Tenaga Kesehatan
Pasal 58
(a) Memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar profesi, standar
pelayanan profesi, standar prosedur operasional dan etika profesi serta
kebutuhan kesehatan penerima pelayanan kesehatan
(b) Memperoleh persetujuan dari penerima pelayanan kesehatan atau keluarganya
atas tindakan yang akan diberikan
(c) Menjaga kerahasiaan kesehatan penerima pelayanan kesehatan
(d) Membuat dan menyimpan catatan dan/atau dokumen tentang pemeriksaan,
asuhan dan tindakan yang dilakukan
(e) Merujuk penerima pelayanan kesehatan ke tenaga kesehatan lain yang
mempunyai kompetensi dan kewenangan yang sesuai
Rahasia Kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan
Pasal 73
(1) Setiap tenaga kesehatan dalam melaksanakan pelayanan kesehatan wajib menyimpan
rahasia kesehatan penerima pelayanan kesehatan
(2) Rahasia kesehatan penerima pelayanan kesehatan dapat dibuka hanya untuk
• Kepentingan kesehatan penerima pelayanan kesehatan
• Pemenuhan permintaan aparatur penegak hukum bagi kepentingan penegakan hukum
• Permintaan penerima pelayanan kesehatan sendiri
• Pemenuhan ketentuan peraturan perundang-undangan

Perlindungan bagi Tenaga Kesehatan dan Penerima Pelayanan Kesehatan


Pasal 75
Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik berhak mendapatkan pelindungan hukum
sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Ketentuan Pidana
Pasal 85
(1) Setiap tenaga kesehatan yang dengan sengaja menjalankan praktik tanpa memiliki STR
sebagaimana dimaksud dalam pasal 44 ayat (1) dipidana dengan pidana denda paling
banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
(2) Setiap tenaga kesehatan warga negara asing yang dengan sengaja memberikan pelayanan
kesehatan tanpa memiliki STR sementara sebagaimana dimaksud dalam pasal 55 ayat (1)
dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)

Pasal 86
(1) Setiap tenaga kesehatan yang menjalankan praktik tanpa memiliki izin sebagaimana
dimaksud dalam pasal 46 ayat (1) dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
(2) Setiap tenaga kesehatan warga negara asing yang dengan sengaja memberikan pelayanan
kesehatan tanpa memiliki SIP sebagaimana dimaksud dalam pasal 55 ayat (1) dipidana
dengan pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
Terima Kasih