Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

TANTANGAN ASWAJA ERA TRANSFORMASI GLOBAL:

RADIKALISME DAN LIBERALISME

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ahlussunnah Waljama’ah

Dosen Pengampu: Alex Yusron Al Mufti, S.Ag., M.Si.

Disusun Oleh :
1. Muchammad Yusuf Al Anan (201330000619)
2. Yunisatizzahroh Apriliani (201330000594)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA
JEPARA

2020/2021
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikm Wr.Wb.

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kepada Allah swt. yang telah memberikan
nikmat berupa kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan buku ini dengan baik. Buku ini
kami buat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Ahlussunnah Wa Al Jama’ah yang diampu
oleh Alex Yusron Al Mufti, S.Ag., M.Si.
Dalam penulisan makalah ini, tentu tidak lepas dari kesalahan, baik tanda baca,
pemilihan kosa kata, maupun kesalahan yang lainnya. Oleh karena itu, kami sangat terbuka
terhadap kritik dan saran yang diberikan saudara, demi kebaikan bersama, juga demi peningkatan
kualitas mutu penulisan kami ke depannya.

Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat dimanfaatkan dengan baik. Aamiin.

Jepara, 2 Desember 2020


Daftar Isi

HALAMAN JUDU ……………………………………………………………………….….….i


KATA PENGANTAR.…………………………………………………………………..............ii
DAFTAR ISI ………………………………………………..…………………………….…...iii
BAB I PENDAHULUAN ……..……………………………………………………….……1
A. Latar belakang.........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...................................................................................................1
C. Tujuan......................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………..………….2
A. Radikalisme, Liberalisme, Deradikalisme, deliberalisme.......................................2
B. Tantangan aswaja era transformasi globa…...........................................................4
BAB III PENUTUP ……………………………………………………………………….…..7
A. Kesimpulan..............................................................................................................7
B. Saran........................................................................................................................7
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………….………..8
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa Aswaja bukanlah sebuah
paham (mazhab) keagamaan, melainkan ASWAJA adalah sebuah manhaj Al fikr
(metode berpikir), tapi tidak sedikit  diantara kita khususnya kaum nahdhiyyin (kader
NU) yang menganggap bahwa Aswaja adalah sebuah mazhab dan idiologi yang Qot’I,
sehingga tidak heran timbul sebuah pertanyaan yang sedikit nyeleneh tetapi logis 
“Mengapa Aswaja menghambat perkembangan intelektual masyarakat?” wal hasil
berdampak paradigma jumud (mandeg), kaku dan eksklusif. Kalau kita pahami Aswaja
adalah sebuah mazhab bagaimana mungkin dalam satu mazhab kok mengandng
beberapa mazhab dan bagaimana mungkin dalam satu ediologi ada doktrin  yang
kontradiktif antara doktrin imam satu dengan imam yang lain.
Sebelum pembahasan lebih lanjut mengenai gejolak aswaja di era globlisasi
penulis akan sedikit mengulas latar cultural dan politik kelahiran aswaja dan
menekankan bahwa aswaja adalah sebuah manhaj Al fikr bukanlah sebuah paham
mazhab. Karena dengan mengetahui dua factor pembahasan ini kita akan lebih jeli
menyikapi perkembangan serta perubahan yang ada pada tubuh aswaja itu sendiri, baik
itu di wilayah ubudiyah, teologi (akidah) dan di wilayah tasawufnya.

B. Rumusan masalah
1. Pengertian Radikalisme, Liberalisme, Deradikalisme, deliberalisme
2. Tantangan aswaja era transformasi global

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Pengertian Radikalisme, Liberalisme, Deradikalisme,
deliberalisme
3. Untuk mengetahui Tantangan aswaja era transformasi global
BAB II
PEMBAHASAN
1. Radikalisme, Liberalisme, Deradikalisme, deliberalisme
1. Radikalisme
Menurut W.J.S. Poerwadarminta, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia,' bahwa
kosakata radikal (1991: 789) mengandung arti (1) (hilang) sampai ke akar- akarnya sekali
(dengan) sempurna, dan juga (2) (haluan politik yang) sangat keras menuntut perubahan
undang-undang, ketatanegaraan, dan sebagainya. Pengertian radikal seperti itu sejalan
dengan pengertian radi- kal yang dikemukakan John M. Echols dan Hassan Shadily
dalam Kamus Inggris Indonesia, (1980: 463), yaitu berasal dari kosakata radical yang
berarti seorang radikal, atau sampai ke akar-akarnya. Kemudian mendapat tambahan kata
ism di akhirnya, menjadi radikalisme, mengandung arti paham, atau ideologi yang
menuntut penyelesaian atau penanganan masalah hingga tuntas sampai ke akar-akarnya.
Kosakata radikalisme ini kemudian dihubungkan dengan paham keagamaan tertentu,
sehingga menjadi paham keagamaan radikalisme.
Radikalisme merupakan paham atau aliran yang mengingikan perubahan atau
pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Esensi radikalisme
adalah konsep sikap jiwa dalam mengusung perubahan. Sementara itu Radikalisme
Menurut Wikipedia adalah suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang
menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan
menggunakan cara-cara kekerasan.
Apabila dilihat dari sudut pandang keagamaan dapat diartikan sebagai paham
keagamaan yang mengacu pada fondasi agama yang sangat mendasar dengan fanatisme
keagamaan yang sangat tinggi, sehingga tidak jarang penganut dari paham/aliran tersebut
menggunakan kek
erasan kepada orang yang berbeda paham/aliran untuk mengaktualisasikan paham
keagamaan yang dianut dan dipercayainya untuk diterima secara paksa.
Adapun yang dimaksud dengan radikalisme adalah gerakan yang berpandangan kolot
dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka. Sementara
Islam merupakan agama kedamaian. Islam tidak pernah membenarkan praktek
penggunaan kekerasan dalam menyebarkan agama, paham keagamaan serta paham
politik.

2. Liberalisme
liberalisme adalah paham yang berusaha memperbesar wilayah kebebasan individu
dan mendorong kemajuan sosial. Liberalisme merupakan paham kebebasan, artinya
manusia memiliki kebebasan atau kalau kita lihat dengan pers- pektif filosofis,
merupakan tata pemikiran yang landasan pemikirannya adalah manusia yang bebas.
Bebas, karena manusia mampu berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang
diinginkan. Liberalisme adalah paham pemikiran yang optimistis tentang manusia.
Prinsip-prinsip liberalisme adalah kebebasan dan tanggungjawab. Tanpa adanya sikap
tanggungjawab tatanan masyarakat liberal tak akan pernah terwujud."
Pemikiran-pemikiran yang disebarkan kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL)
bertujuan untuk membongkar kemapanan beragama dan tradisi warga NU (Nahdliyin).
Caranya dengan melakukan liberalisasi dalam tiga bidang yakni aqidah, pemahaman Al-
Quran, dan syariat serta akhlaq. Liberalisasi dalam bidang aqidah yang diajarkan JIL,
misalnya, bahwa semua agama sama, dan tentang pluralisme. Dua hal ini bertentangan
dengan aqidah Islam Ahlussunnah Waljamaah
Dalam bidang aqidah, warga NU meyakini bahwa agama Islam sebagai agama yang
paling benar, dengan tidak menafikan hubungan yang baik dengan penganut agama
lainnya yang memandang agama mereka juga benar menurut mereka.
Sementara ajaran pluralisme yang dikembangkan JIL berlainan dengan pandangan
ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa) yang dipegang NU yang mengokohkan
solidaritas dengan saudara-saudara sebangsa. NU juga tidak menaruh toleransi terhadap
pandangan-pandangan imperialis neo-liberalisme Amerika yang berkedok “pluralisme
dan toleransi agama”.
Liberalisasi kedua yang dikembangkan JIL adalah dalam bidang pemahaman Al-
Qur’an yang diajarkan JIL, misalnya Al-Quran adalah produk budaya dan keotentikannya
diragukan, tentu berseberangan dengan pandangan mayoritas umat Islam yang meyakini
Al-Quran itu firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan terjaga
keasliannya.
Liberalisasi ketiga dalam bidang syari’ah dan akhlaq. JIL mengatakan bahwa Hukum
Tuhan itu tidak ada, jelas bertolak belakang dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah yang
mengandung ketentuan hukum bagi umat Islam.
JIL juga mengabaikan sikap-sikap tawadhu’ dan akhlaqul karimah kepada para
ulama, kiai. JIL juga tidak menghargai tradisi pesantren sebagai modal sosial bangsa ini
dalam mensejahterakan bangsa dan memperkuat Pancasila dan NKRI.

3. Deradikalisasi
Istilah deradikalisasi mempunyai cakupan makna yang luas. Mulai hal-hal yang
bersifat keyakinan, penanganan hukum, hingga pemasyarakatan sebagai upaya mengubah
"yang radikal" menjadi "tidak radikal". Namun secara sederhana, deradikalisasi dapat
dipahami sebagai upaya menetralisir paham radikal bagi mereka yang terlibat aksi
terorisme dan para simpatisannya, hingga para teroris ataupun para simpatisannya
meninggalkan aksi kekerasan. Pengertian deradikalisasi seperti ini sangat jauh dari
tendensi untuk, memojokkan agama tertentu. Karena radikalisme bisa tumbuh di dalam
umat agama manapun.
Realitas keanekaragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dapat berubah menjadi
petaka ketika berhadapan dengan ideologi Islam radikal. Pandangan dunia Islam radikal
tidak bisa menerima realitas keanekaragaman. Realitas ideal yang dikembangkan adalah
realitas tunggal sesuai dengan konsepsi mereka. Mereka tidak menerima adanya
perspektif yang berbeda. Jika melihat sesuatu yang berbeda maka harus diubah agar
sejalan dengan perspektif mereka.
Dalam kerangka mewujudkan hal tersebut, kelompok Islam radikal menempuh
berbagai cara, termasuk dengan jalan kekerasan. Jika ini yang terjadi maka kekayaan
kultural yang dimiliki oleh Indonesia akan tercabik-cabik. Berbagai kelompok multi yang
ada bisa terjatuh dalam kondisi yang saling serang. Sebab tidak mungkin memaksakan
cara pandang tunggal dalam berbagai bidang kehidupan karena realitas sendiri
sesungguhnya memang tidak tunggal.
Kehadiran kelompok Islam radikal, selain sebagai tantangan besar, sesungguhnya
juga berhadapan dengan utopia. Visi utama kelompok Islam radikal adalah memurnikan
ajaran Islam. Menurut Kato, “pemurnian agama sebagaimana dilakukan kaum radikal
merupakan khayalan belaka”.5 Hal ini disebabkan karena pemurnian sebagaimana yang
mereka klaim sesungguhnya merupakan interpretasi. Sebagai hasil interpretasi,
pemahaman keagamaan yang dihasilkannya bersifat relatif. Pemahaman tersebut tidak
bisa diklaim sebagai yang paling benar. Hasil interpretasi, termasuk yang diklaim sebagai
pemurnian, pada dasarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik factor budaya, sosial,
politik, dan pendidikan. Justru karena itulah maka klaim yang mengatasnamakan sebagai
paling murni atau paling benar tidak bisa diterima.

4. Deliberalisasi
Deliberalisasi adalah penyadaran umat agar tidak terjebak dalam paham Liberal.

5. Aliran sesat di Indonesia


Sebenarnya apa yang dimaksud dengan aliran atau paham sesat itu? Menurut Al
Qur’an, kata ”sesat” adalah terjemahan dari lafaz ”dhaalliin” Tafsir Departemen Agama,
Al Qur’an dan Tafsirnya menjelaskan tentang orang-orang sesat adalah mereka yang
tidak betul kepercayaannya, atau tidak betul pekerjaan dan amal ibadahnya, serta rusak
budi pekertinya. MUI menyatakan kesesatan sebuah paham atau aliran dalam Islam
adalah jika memenuhi salah satu atau lebih dari kriteria berikut:
1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam.
2. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al Qur’an.
4. Mengingkari otensitas atau kebenaran isi Al Qur’an,
5. Menafsirkan Al Quran tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir,
6. Mengingkari hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam,
7. Menghina atau melecehkan atau merendahkan para nabi dan rasul,
8. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir,
9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah
ditetapkan oleh syari’ah, seperti haji tidak ke Baitullah, salat wajib tidak 5 waktu.
10.Mengkafirkan sesama muslim.
Kriteria sesat oleh MUI ini banyak menuai kritik dan gugatan, teruma dari
kelompok liberal. Pihak-pihak yang dinyatakan ”sesat” juga menganggap keputusan atau
fatwa MUI tidak adil. Contohnya, komunitas Eden ( dahulu Salamullah) merasa
diperlakukan tidak adil oleh fatwa MUI karena mereka tidak diberikan kesempatan untuk
menjelasakan keyakinan keagamaannya (aqidah) kepada komisi fatwa. Ahmadiyah dan
juga Syi’ah dan penganut faham keagamaan lainnya yang dianggap menyimpang, tidak
pernah diberikan kesempatan menjelaskan ajaran dan praktik keagamaan dalam forum
yang bebas dan adil.

2. Tantangan aswaja era transformasi global


Di Indonesia, Aswaja kurang lebih sama dengan nahdliyin (sebutan untuk jamaah
Nahdlatul Ulama), meskipun jamaah Muhammadiyah adalah juga Aswaja dengan sedikit
perbedaan pada praktik hukum-hukum fiqh. Artinya, arus besar umat Islam di Indonesia
adalah Aswaja.
Yang paling penting ditekankan dalam internalisasi ajaran Aswaja di Indonesia
adalah sikap keberagamaan yang toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), moderat
(tawassuth) dan konsisten pada sikap adil (i’tidal). Ciri khas sikap beragama macam
inilah yang menjadi kekayaan arus besar umat Islam Indonesia yang menjamin
kesinambungan hidup Indonesia sebagai bangsa yang plural dengan agama, suku dan
kebudayaan yang berbeda-beda.
Ada dua kekuatan besar yang menjadi tantangan Aswaja di Indonesia sekarang ini
dan di masa depan: kekuatan liberal di satu pihak dan kekuatan Islam politik garis keras
di pihak yang lain. Kekuatan liberal lahir dari sejarah panjang pemberontakan masyarakat
Eropa (dan kemudian pindah Amerika) terhadap lembaga-lembaga agama sejak masa
pencerahan (renaissance) yang dimulai pada abad ke-16 masehi; satu pemberontakan
yang melahirkan bangunan filsafat pemikiran yang bermusuhan dengan ajaran (dan
terutama lembaga) agama; satu bangunan pemikiran yang melahirkan modernitas; satu
struktur masyarakat kapital yang dengan globalisasi menjadi seolah banjir bandang yang
siap menyapu masyarakat di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia.
Sebagai reaksinya, sejak era perang dingin berakhir dengan keruntuhan Uni
Soviet, Islam diposisikan sebagai “musuh” terutama oleh kekuatan superpower: Amerika
Serikat dan sekutunya. Tentu saja bukan umat Islam secara umum, namun sekelompok
kecil umat Islam yang menganut garis keras dan secara membabi-buta memusuhi non
muslim. Peristiwa penyerangan gedung kembar pusat perdagangan di New York,
Amerika, 11 September 2001, menjadikan dua kekuatan ini behadap-hadapan secara
keras. Akibatnya, apa yang disebut ‘perang terhadap terorisme’ dilancarkan Amerika dan
sekutunya dimana-mana di muka bumi ini.
Yang patut digaris bawahi: dua kekuatan ini, yang liberal dan yang Islam politik
garis keras, bersifat transnasional, lintas negara. Kedua-duanya menjadi ancaman serius
bagi kesinambungan praktik keagamaan Aswaja di Indonesia yang moderat, toleran,
seimbang dan adil itu.
Gempuran kekuatan liberal menghantam sendi-sendi pertahanan nilai yang
ditanamkan Aswaja selama berabad-abad dari aspeknya yang sapu bersih dan
meniscayakan nilai-nilai kebebasan dalam hal apapun dengan manusia (perangkat
nalarnya) sebagai pusat, dengan tanpa perlu bimbingan wahyu. Gempuran Islam politik
garis keras menghilangkan watak dasar Islam (Aswaja lebih khusus lagi) yang ramah dan
menyebar rahmat bagi seluruh alam semesta.
Dua ancaman riil inilah yang mengharuskan Aswaja di Indonesia untuk
mengkonsolidasi diri, merapatkan barisan, memvitalkan kembali modal nilai-nilai luhur
yang diturunkan dari ajarannya dan pengalaman sejarahnya. Karena sifat dua tantangan
ini yang mondial, maka reaksinya pun harus mondial.
Sejauh ini, ikhtiar itu ada. Nahdlatul Ulama melalui forum ICIS (International
Conference of Islamic Scholars) sudah tiga kali menggelar pertemuan para ulama-
intelektual dunia Islam di Jakarta untuk tujuan dimaksud: tujuan luhur mengembalikan
Islam sebagai rahmat bagi semua.
Ke dalam, penggairahan masjid sebagai pusat peradaban dan institusi perawatan
nilai-nilai juga disadari semakin penting dilakukan. Manakala masjid berfungsi merawat
Aswaja, maka serbuan dua ancaman tadi bisa dilawan pengaruhnya.
Tentu saja, penyikapan yang komprehensif harus diupayakan secara menerus.
Nilai dilawan nilai. Instrumen dilawan instrumen. Sudah saatnya, pada tingkat instrumen,
organisasi penyangga Aswaja di Indonesia memiliki misalnya, stasiun televisi,
production house untuk membuat film berbasis nilai-nilai Aswaja, perusahaan penjaga
kemandirian ekonomi umat dan segala institusi baru lainnya agar penyikapan
komprehensif dan efektif bisa dilakukan secara maksimal.
BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Radikalisme merupakan paham atau aliran yang mengingikan perubahan atau
pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.
liberalisme adalah paham yang berusaha memperbesar wilayah kebebasan individu dan
mendorong kemajuan social.
penyikapan yang komprehensif harus diupayakan secara menerus. Nilai dilawan nilai.
Instrumen dilawan instrumen. Sudah saatnya, pada tingkat instrumen, organisasi
penyangga Aswaja di Indonesia memiliki misalnya, stasiun televisi, production house
untuk membuat film berbasis nilai-nilai Aswaja, perusahaan penjaga kemandirian
ekonomi umat dan segala institusi baru lainnya agar penyikapan komprehensif dan efektif
bisa dilakukan secara maksimal.

2. SARAN
Sebaiknya kita kita tidak mengikuti aliran atau paham yang liberal maupun radikal.
Dapat melalui pendidikan di sekolah, melalui organisasi di kampus seperti PMII, di
rumah seperti IPPNU IPPNU.
DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. 2020. Pendidikan Islan Di Era Milenial. Jakarta: Kencana.


Rachman, Budhy Munawar. Argumen Islam untuk liberalisme.
Hasani, Ismail. 2012. Dari radikalisme menuju terorisme. Jakarta: Pustaka Masyarakat Setara.
Mufid, Ahmad Syafi’i. 2013. Paham Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dan Tantangan Kontemporer
dalam Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia.

Yunus, A Faiz. 2017. Radikalisme, Liberalisme dan Terorisme:Pengaruhnya Terhadap Agama


Islam
https://www.nu.or.id/post/read/17801/aswaja-dan-tantangan-masa-kini-di-indonesia
Naim, Ngainun. 2015. Pengembangan Pendidikan Aswaja Sebagai Strategi Deradikalisasi.
Tulungagung
https://www.nu.or.id/post/read/19497/awas-liberalisme-dalam-tiga-bidang