Anda di halaman 1dari 6

Klasifikasi tanaman 1

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Boesenbergia
Spesies : Boesenbergia pandurata
2
Sinonim : Kaempheria pandurata
Gastrochilus pandurata
Boesenbergia rotunda
Curcuma rotunda
3
Nama daerah : tampute (ternate), tamu konci (makassar), dumu kunci (bima), konce
(madura), temu kunci (sunda)
3
Nama asing : suo shi (Cina), chinese key, finger root (Inggris), kra-chai (Thailand)

Deskripsi 4
a. Tanaman
Boesenbergia pandurata ini merupakan herba rendah yang merayap di dalam
tanah. Batang asli tertanam dalam tanah, disebut sebagi rimpang dengan ukuran
5-30 x 0,5-2 cm. Batang di atas tanah berupa batang semu (pelepah daun). Daun
umumnya berjumlah sebanyak 2-7 helai, daun bawah berupa pelepah daun
berwarna merah tanpa helaian daun. Tangkai daun beralur, tidak berambut,
berukuran panjang 7-16 cm, bentuknya seperti lidah dengan segitiga melebar,
menyerupai selaput, panjang 1-1,5 cm, pelepah daun sering sama panjang dengan
tangkai daun; helai daun tegak, bentuk lanset lebar atau agak jorong, ujung daun
runcing, permukaan halus tetapi bagian bawah agak berambut terutama sepanjang
pertulangan, warna helai daun hijau muda, lebar 5-11 cm. Susunan bulir pada
bunga tidak berbatas, di ketiak daun, dilindungi oleh 2 spatha, panjang tangkai 4-
11 cm, umumnya tangkai tersembunyi dalam 2 helai daun terujung. Kelopak: 3
buah lepas, runcing. Memiliki 3 buah daun mahkota, merah muda atau kuning-
putih, tabung 50-52 mm., bagian atas tajuk berbelah-belah, berbentuk lanset
dengan lebar 4 mm dan panjang 18 mm. Benang sarinya memiliki 1 fertil besar,
kepala sari bentuk garis membuka secara memanjang. Lainnya berupa bibir-
bibiran (staminodia) bulat telur terbalik tumpul, merah muda atau kuning lemon,
gundul, 6 pertulangan, 25×7 cm. Putiknya memiliki 3 ruang pada bakal buah,
banyak biji dalam setiap ruang.
b. Simplisia = Boesenbergiae Rhizoma; Rimpang temu kunci.

Simplisia yang digunakan adalah rimpang. Rimpang yang sudah dipanen disortasi
dan dicuci, kemudian dipotong menjadi bagian-bagian yang lebih kecil /tipis dan
dikeringkan di tempat teduh dengan aliran udara yang baik

Habitat 4
Tanaman ini tumbuh liar pada dataran rendah, di hutan-hutan jati. Tanaman ini juga
tumbuh baik pada iklim panas dan lembab pada tanah yang relatif subur dengan
pertukaran udara dan tata air yang baik. Pada tanah yang kurang baik tata airnya (sering
tergenang air, atau “becek”) pertumbuhan akan terganggu dan rimpang cepat busuk.
Tanaman ini dapat dibudidayakan di tanah berkapur bergerombol. Perbanyakan: dengan
pemotongan rimpang menjadi beberapa bagian (tiap bagian terdapat paling sedikit 2 mata
tunas); penanaman dilakukan pada jarak tanam 3000 cm. Pemanenan dilakukan setelah
berumur 1 tahun.

Kandungan kimia 4 :
Rimpang 1,2% minyak atsiri (rimpang segar 0,06% – 0,32% minyak atsiri)
komponen utama minyak atsiri terdiri dari monoterpen, seskuiterpen, turunan
fenilpropana antara lain: geranial, neral, kamfora, zingiberen, d-pinen, kamfen, 1,8-sineol
(eukaliptol), d-borneol, geraniol, osimen, dimetoksi-4(2-propenil), miristin, linalil
propanoat, asam sinamat, kamfen hidrat, propenil guaikol, dihidrokarveol, linalool; etil-
sinamat, etil pmetoksi sinamat, panduratin A.
Asam kavisinat -flavonoid: pinosembrin (2,3-dihidrokrisin), 2′,6′dihidroksi-4′-metoksi
kalkon, pinostrobin (5hidroksi-7-metoksi flavanon), alpinetin, kardamomin, 2′,4′-
dihidroksi-6′-metoksi kalkon, boesenbergin A, 5,7-dimetoksiflavon.
Pada jenis tumbuhan dengan:
rimpang berwarna merah: pinostrobin, boesenbergin A, panduratin
rimpang berwarna putih : 0,36% krotepoksid
rimpang berwarna hitam: pinostrobin, 5,dimetoksi-flavon, 5-hidroksi-7-metoksi-flavon
dan 5-hidroksi-7,4′-dimetoksiflavon, 5,7,3′,4′tetrametoksiflavon; kaemferol-3,7,4′-
trimetil eter; kuersetin-3,7,3′,4-tetrametil eter.

Hasil penelitian
1. Sohn et al. (2005) menyatakan bahwa panduratin A menghambat kuat
pertumbuhan sel kanker HepG2 yang diinduksi dengan tert-Butylhydroperoxide
(t-BHP). tert-Butylhydroperoxide (t-BHP) merupakan senyawa yang biasa
digunakan untuk menginduksi kanker dengan mekanisme pembentukan
intermediet radikal bebas. Panduratin A memproteksi sel HepG2 melaui
perbaikan kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh t-BHP dengan cara
menangkap radikal bebas. 5
2. Trakoontivakorn et al. (2001) menyatakan bahwa ekstrak metanolik dari rimpang
temu kunci mempunyai efek antimutagenik pad Trp-P-1 pada uji Amest tes. Enam
kandungan zat aktif yang menunjukkan antimutagenik ini adalah kalkon,
cardamonin, pinocembrin, pinostrobin, 4-hidroksipanduratin, dan panduratin A.
IC50 masing-masing zat adalah 5.2 ± 0.4m M, 5.9 ± 0.7 m M, 6.9 ± 0.8 m M, 5.3
± 1.0 m M, 12.7 ± 0.7 m M and 12.1± 0.8. Keenam kandungan dari temu kunci ini
menunjukkan penghambatan induksi mutagenesis yang mirip. Kesemuanya
merupakan inhibitor kuat N-hydroxylation Trp-P-2. Mekanisme kerja dari zat-zat
aktif ini yaitu menghambat aktivasi pertama dari amina heterosiklik. 6
3. Kirana et al. (2006) telah meneliti bahwa panduratin A dapat menghambat
pertumbuhan sel kanker payudara MCF7 dan sel adenokarsinoma kolon HT-29
pada manusia melalui penghambatan COX-2 yang merupakan faktor penting
dalam perkembangan inflamasi dan sel tumor. Selain itu, panduratin A juga telah
dibuktikan mempunyai aktivitas antimutagenik melalui induksi Quinon Reduktase
(QR) yang merupakan enzim fase II. Enzim fase II memiliki peran penting dalam
mekanisme pertahanan sel dan metabolisme, seperti detoksifikasi senyawa-
senyawa elektrofilik. Sel HT-29 yang diperlakukan dengan panduratin A
menunjukkan adanya gejala apoptosis, misalnya membran yang menggelembung,
pemendekan kromatin, dan atau fragmentasi nukleus dan badan apoptotik ketika
sel diwarnai dengan Hoechst 33258. 7
4. Yun et al. (2006) telah membuktikan bahwa Panduratin A yang merupakan
derivat dari kalkon juga mempunyai berbagai efek biologis, seperti antiinflamasi,
analgetik, dan antioksidan. Pada penelitian sebelumnya, telah dibuktikan bahwa
panduratin A memiliki efek antiinflamasi pada model sel RAW 264.7. Namun,
penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa Panduratin A berpotensi sebagai
antikanker dengan mekanisme aksi menginduksi apoptosis pada sel kanker kolon
HT29. Pada kanker kolon, panduratin A lebih poten dari pada inhibitor selektif
COX-2, misalnya Celecoxib; dan obat-obat antitumor (5-flurouracil and
Cisplatin). Panduratin A juga dapat memacu apoptosis sel melalui aktivasi
caspase. Enzim caspase berperan penting dalam mekanisme apoptosis. Bukti-
bukti menunjukkan bahwa TRAIL dan FAS signaling pathway berperan dalam
kemoterapi-induksi apoptosis, dengan aktivasi inisiator caspase 8 atau caspase 3,
6 dan 7. Induksi apoptosis dan atau penghambatan pembelahan sel berhubungan
erat dengan aktivasi intraselular signaling pathway untuk menghentikan siklus sel
pada fase G1, S, atau G2/M. Perlakuan dengan panduratin A pada sel CaP,
menunjukkan penurunan level protein cyclin B1, cdc25C and cdc2. Pada dosis
tertentu, penggunaan panduratin A juga dapat menurunkan level cyclins D1 dan
E1 yang secara serentak juga akan menurunkan aktivitas CDK2, CDK4, dan
CDK6. Data-data ini mengindikasikan bahwa panduratin A sangat penting dalam
regulasi siklus sel. Penelitian menunjukkan bahwa siklus sel berhenti pada transisi
G2/M dengan agen perusak DNA yang berhubungan dengan induksi ekspresi
p21WAF/Cip1. p27Kip1 adalah anggota lain dari inhibitor CDK1 yang bisa
berikatan dan menghambat aktivitas CDK. Ditemukan bahwa p27Kip1 dan/atau
p21WAF/Cip1 ter-upregulasi pada PC3 dan DU145 dengan penggunaan
Panduratin A. Jadi, dapat dikatakan bahwa, adanya upregulasi dari p27Kip1
dan/atau p21WAF/Cip1 paling tidak akan menurunkan ekspresi cyclins dan
aktivasi CDK. Hal ini merupakan mekanisme panduratin A untuk menghambat
sel CaP tumbuh dan memicu sel tersebut untuk berhenti membelah. 8

Efek Farmakologis
1. Minyak atsiri rimpang temu kunci berefek pada pertumbuhan Entamoeba coli,
Staphyllococus aureus dan Candida albicans
2. Minyak atsiri rimpang temu kunci juga berefek pada pelarutan batu ginjal kalsium
secara in vitro.
3. Perasan dan Infusa rimpang temu kunci memiliki daya analgetik dan antipiretik
4. Ekstrak rimpang-yang larut dalam etanol dan aseton berefek sebagai antioksidan
pada percobaan dengan minyak ikan sehingga mampu menghambat proses
ketengikan
5. Ekstrak temu kunci dapat menghambat bakteri isolat penyakit Orf (Ektima
kontagiosa)
6. Ditemukan aktivitas anti-HIV-1 protease dari senyawa derivat khalkon 9
7. Minyak atsiri temu kunci dan film edible antibakteri mempunyai kemampuan
Aktivitas antioksidan ditunjukkan dengan mekanisme penangkapan radikal DPPH
(1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) oleh senyawa golongan flavonoid 10
8. Aktivitas anti-halitosis dari panduratin 11
9. Secara umum bersifat karminatif, antipiretik, dan ekspektoran

Indikasi
Meredakan kembung dan peluruh kentut, penambah nafsu makan, perangsang ASI,
memperlancar peredaran darah dan menjaga kebugaran, penangkal masuk angina, pereda
panas dalam dan sariawan, meredakan batuk, mengurangi keputihan, memperlancar
buang aur kecil, mengatasi gatal-gatal.

Kontra Indikasi
Temu kunci dikontraindikasikan bagi wanita hamil karena berefek teratogenik.

Peringatan
Gunakan panci tahan karat untuk merebus ramuan. Untuk konsumsi harian sebaiknya
dalam setiap ramuan tidak lebih dari 30 gram temu kunci. Konsumsi temu kunci berlebih
(di atas 50 gram perhari selama seminggu berturut-turut), bisa memicu terjadinya
kemandulan pada wanita

Efek samping
Tidak ada efek samping dalam penggunaan temu kunci selama dalam dosis yang
dianjurkan dan sesuai dengan tujuan.
Interaksi Obat

Toksisitas
Efek teratogenik dari temu kunci ini dapat menyebabkan keguguran pada wanita hamil.

Penyiapan dan dosis


1. Sebagai peluruh kentut (karminatif) 4 dapat dibuat sediaan “juice” yang terdiri
dari 3 jari rimpang; diminum untuk dosis tunggal, dapat juga dibuat “tapal” dari
sejumlah rimpang dan ditempelkan pada perut. Mungkin juga dibuat infusa yang
terdiri dari 25 gram serbuk rimpang kering dengan 100 ml air mendidih,
didiamkan sampai keadaan hangat setelah disaring, diminum sebagai dosis
tunggal
2. Sebagai penambah nafsu makan 4:
Dibuat infusa yang terdiri dari 3 buah rimpang dan 110 ml air; atau diseduh,
diminum 1 kali sehari 100 ml, diulang selama 14 hari
3. Sebagai pemacu keluarnya air susu ibu (ASI) 4:
20 gram rimpang temu kunci, dipotong kecil-kecil, direbus dengan 1 gelas air
selama 15 menit; kemudian ditambah 1/4 sendok teh garam dapur, setelah dingin
disaring dan diminum sekaligus
4. Sukar buang air kecil,
temu kunci, adas, dan pulasari dihaluskan lalu dijadikan tapal atau bedak tebal
yang ditempelkan pada perut.
5. Sebagai obat keputihan,
10 gram temu kunci, 5 gram kunyit, 5 gram temulawak, dan 15 gram sambiloto
kering, direbus dengan 1.000 cc air hingga tersisa 400 cc. Lalu disaring dan
diminum airnya sebanyak 200 cc, lakukan dua kali sehari
6. Mengatasi gatal-gatal
10 gram temu kunci, 5 gram temu lawak, 15 gram kunyit, dan 15 gram daun
ketepeng cina kering dihaluskan lalu dibalurkan pada bagian tubuh yang sakit.
7. Untuk memperlancar peredaran darah dan menjaga kebugaran
campur 4 rimpang temu kunci seukuran jari dengan 50 gr temu lawak. Kemudian
ditumbuk dan dicampur air untuk diambil sarinya. Agar tidak telalu hambar dapat
ditambahkan sedikit madu, dan selanjutnya diminum segelas setiap hari.
8. Sebagai penangkal masuk angin
ambil dua sampai tiga rimpang temu kunci seukuran jari. Kemudian dikupas
hingga bersih dan dimakan dengan garam secukupnya. Selanjutnya minumlah
satu gelas air putih dan satu sendok makan madu agar sedikit manis. Cara ini
dapat dilakukan dua kali sehari.
9. Sebagai pereda sariawan dan panas dalam
10 gram rimpang temu kunci diiris tipis, direbus dengan 500 ml air hingga
mendidih, air rebusan ditambah perasan jeruk nipis, kemudian diminum. Cara
lain, 15 gram rimpang temu kunci yang telah direbus, kemudian ditambah 2
sendok makan madu atau 25 gram daun kumis kucing segar

Penyimpanan
Simplisia disimpan pada tempat yang sejuk dan kering agar kandungan minyak atsirinya
tetap terjaga.

Daftar Pustaka
1. Ibrahim, H. & Nugroho, A. 1999. Boesenbergia rotunda (L.) Mansfeld In : de
Guzman, C.C. & Siemonsma, J.S. (Eds.) : Plant Resources of South-East Asia No
13 Spices . Backhuys Publishers, Leiden the Netherlands.pp: 83-85
2. Ong, Hean Chooi. 2008. Rempah Ratus: Khasiat Makanan & Ubatan. Kuala
Lumpur : Prin-Ad Sdn
3. Hariana, Arief. 2008. Tumbuhan Obat & Khasiatnya 3. Depok : Penebar Swadaya
hal 131-133
4. Sentra Informasi IPTEK. 2005. Tanaman Obat
5. Sohn, J.H., Han, K.L., Lee, S.H., and Hwang, J.K., 2005, Protective
Effects of Panduratin Against Oxidative Damage of tert-Butylhydroperoxide in
Human HepG2 Cells, Biological and Pharmaceutical Bulletin, 28(6):1083-1086.
6. Trankoontivakorn, G., Nakahara, K., Shinmoto, H., Takenaka, M.,
Kameyama, M.O., Ono, H., Yoshida, H.M., Nagata, T., and Tsushida, T., 2001.
Structural Analysis of a Novel Antimutagenic Activity of Flavonoids in Thai
Spice, Fingerroot (Boesenbergia pandurata Schult.) Against Mutagenic
Heterocyclic Amines, J. Agric. Food. Chem, 49(6):3046-3050.
7. Kirana, C., Jones, G.P., Record, I.R., and McIntosh, G.H., 2006,
Anticancer Properties of Panduratin A Isolated from Boesenbergia Pandurata
(Zingiberaceae), Journal of Natural Medicine, 61:131-137.
8. Yun, J.M., Kweon, M.H., Kwon, H.J., Hwang, J.K., and Mukhtar, H.,
2006, Induction of Apoptosis and Cell Cycle Arrest by a Chalcone Panduratin A
Isolated from Kaempferia pandurata in Androgen-Independent Human Prostate
Cancer Cells PC3 and DU145, Carcinogenesis Advance Access, 27(7):1454-1464.
9. Cheenpracha S, Karalai C, Ponglimanont C, Subhadhirasakul S, and
Tewtrakul S. 2005 Anti-HIV1-protease activity of compounds from Boesenbergia
Pandurata. Bioorg Med Chem. 2006 Mar 15;14(6):1710-4. Epub 2005 Nov 2.
10. I’anatun Nihlati A; Abdul Rohman; Triana Hertiani.. Daya Antioksidan
Ekstrak Etanol Rimpang Temu Kunci [Boesenbergia Pandurata (Roxb.)
Schlecth] Dengan Metode Penangkapan Radikal Dpph (1,1-Difenil-2-
Pikrilhidrazil).
11. HWANG, Jae-Kwan et al. 2010. Anti-Halitosis Composition Comprising
Panduratin Derivatives. WIPO Patent Application WO/2010/041777