Anda di halaman 1dari 22

Mata kuliah Dosen pengampu

Teknik Penulisan Proposal Vivik Shofiah, S.Psi., M.Si

HUBUNGAN ANTARA ASPIRASI SISWA

DENGAN SCHOOL WELL-BEING PADA SISWA MTS

DISUSUN OLEH :

Milatul Hanifah (11860121573)

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM

PEKANBARU

TAHUN AJARAN 2020/2021


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan ialah suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan setiap manusia, ini

berarti bahwa setiap manusia di Indonesia ini berhak untuk mendapatkan pendidikan yang

layak. Secara umum pendidikan ini berarti suatu proses didalam kehidupan untuk

mengembangkan diri setiap individu guna melangsungkan kehidupan. Pendidikan juga

menjadikan seorang yang terdidik itu menjadi sangat penting, dengan adanya pendidikan

manusia menjadi berguna terutama bagi diri sendiri, keluarga, agama, serta nusa dan bangsa.

Lingkungan pendidikan yang pertama kali diperoleh setiap manusia ialah dari lingkungan

keluarga (pendidikan informal), lingkungan sekolah (pendidikan formal) dan lingkungan

masyarakat (pendidikan nonformal). Pendidikan merupakan peranan yang sangat penting

untuk menentukan kemajuan suatu Negara. Oleh sebab itu Sekolah menjadi sarana

pendidikan formal dan sebagai salah satu elemen penting dalam proses perkembangan pada

masa remaja.

Pendidikan ialah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran yang sesuai. Pendidikan merupakan usaha untuk mengoptimalkan potensi

dirinya agar menjadi lebih baik, mempunyai akhlak yang mulia, memiliki kepribadian yang

berfungsi, memiliki kecerdasan optimal dan mempunyai pegangan spiritual keagamaan untuk

mengendalikan dirinya, serta memunyai skill untuk dirinya dan juga masyarakat. (Dalam UU

SISDIKNAS No.20 tahun 2003). Pendidikan mempunyai peran yang sangat besar untuk

mempersiapkan serta mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang pantas dan mampu

bersaing secara sehat serta memiliki rasa kebersamaan sesama manusia.

Didalam konvensi hak-hak anak yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan

Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1989. Ini sejalan dengan konsitusi nasional, bahwa
pemerintah republik Indonesia mempunyai kewajiban guna menjamin akses pendidikan

setiap anak sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar Pasal 33. Melalui

kementrian pendidikan dan kebudayaan menerjemahkan kewajiban di atas menjadi Undang-

Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yang memberi penekanan bahwa

setiap anak di Indonesia harus melalui sembilan tahun pendidikan dasar (dikenal dengan

program wajib belajar sembilan tahun). Kumpulan produk hukum ini juga menekankan

bahwa setiap anak, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan, memiliki kesempatan yang

sama untuk mendaftar di pendidikan dasar serta pemerintah perlu menjamin ketersediaan

sarana dan prasarana pendidikan yang merata di seluruh pelosok Indonesia.

Pendidikan merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang sifatnya praktis

karena ilmu ini ditujukan terhadap praktek serta bagaimana perbuatan mempengaruhi anak

didik tersebut. Mendidik bukanlah suatu hal yang asal-asalan karena menyangkut kehidupan

dan nasib manusia untuk melanjutkan kehidupan selanjutnya. Oleh sebab itu pendidikan

merupakan tugas moral yang tidak ringan. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting

untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

masyarakat serta membangun martabat bangsa, oleh sebab itu pemerintah berusaha dalam

memberikan perhatian yang sangat serius dalam mengatasi berbagai masalah di bidang

pendidikan dari SD, SMP, serta SMA. Perhatian yang diberikan oleh pemerintah ialah

menyediakan alokasi anggaran yang sangat berarti. Dan pemerintah juga membuat kebijakan

yang berkaitan guna meningkatkan mutu dalam pendidikan. Namun yang sangat penting ialah

selalu melakukan berbagai macam ikhtiar untuk memperluas kesempatan bagi masyarakat

untuk memperoleh pendidikan yang maksimal pada semua jenjang yang ada.

Sekolah ialah lembaga penyelenggara pendidikan formal untuk anak-anak yang

sudah memasuki usia sekolah. Di lembaga itu anak-anak akan mendapatkan bekal

pengetahuan dan ketrampilan untuk menghadapi persaingan global


(https://www.kompasiana.com/idrisapandi/sudahkah-sekolah-menjadi-taman-, 2015). Untuk

mewujudkan peran sekolah, diperlukan strategi guna menciptakan lingkungan yang baik

dalam sekolah. Sekolah akan memberikan ide baru untuk membentuk penghayatan akan diri

mereka sendiri. Anak-anak akan meluangkan banyak waktunya disekolah sebagai anggota

masyarakat yang kecil, di sekolah anak-anak dihadapkan pada tugas yang harus diselesaikan,

dan ia harus belajar bersosialisasi, serta aturan-aturan yang memberi definisi dan membatasi

perilaku, perasaan, dan sikapnya. (Santrock, 2012).

Sekolah sebagai institusi pendidikan juga diharapkan mampu menjadi tempat untuk

siswa dalam mengembangkan diri kuhususnya pada aspek intelektual maupun psikologis.

Sekolah ialah lingkungan pendidikan sekunder. Bagi anak yang sudah bersekolah, lingkungan

yang setiap hari dimasukinya selain lingkungan rumah adalah sekolahnya. Anak remaja yang

sudah duduk dibangku SMP atau SMA umumnya menghabiskan waktu sekitar 7 jam sehari

disekolahnya. Ini berarti bahwa hampir sepertiga dari waktunya setiap hari dilewatkan remaja

di sekolah. Tidak mengherankan kalau pengaruh sekolah terhadap perkembangan jiwa remaja

cukup besar. (Sarwono, 2015).

Pada kenyataannya, kualitas pendidikan di Indonesia ini masih memprihatinkan

dengan adanya survei Political and Economic Risk Consultant (PERC) yang menyebutkan

bahwa kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia

(Sahin, 24 Agustus 2014). Dapat kita lihat dari permasalahan kualitas pendidikan yang

kurang memadai, sekolah perlu menciptakan suasana yang membuat siswa merasa nyaman,

senang dan berharga saat berada di sekolah, sehingga membuat remaja merasa sejahtera dan

puas. Salah satu konsep yang dapat digunakan untuk menciptakan suasana yang nyaman dan

baik ialah kesejahteraan sekolah (school wellbeing). Weisner (dalam Bornstein, Davidson,

Keyes & Moore, 2003) berpendapat bahwa wellbeing adalah tercapainya keberfungsian

pribadi yang ditandai oleh integrasi multifungsi, baik fisik, kognitif, dan sosioemosional.
Integrasi yang dimaksud akan menjadikan individu berhasil menjalankan perannya di

lingkungan secara baik, mencapai pemenuhan kebutuhan hubungan sosial, dan juga memiliki

keterampilan yang memadai dalam mengatasi masalah-masalah psikososial.

Kesejahteraan tersebut dapat terjadi apabila siswa memiliki penilaian yang positif

terhadap sekolahnya. Penilaian siswa ini dapat disebut sebagai school well-being.

Kesejahteraan (well-being) siswa di sekolah atau yang dikenal dengan konsep school well-

being pertama kali dikemukakan oleh Konu dan Rimpelä (2002) yang mendefinisikan school

well-being sebagai keadaan yang memungkinkan individu dalam usahanya untuk memuaskan

kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan dengan kondisi sekolah (having), hubungan sosial

(loving), pemenuhan diri (being), dan status kesehatan (health). Pencapaian prestasi siswa

berkontribusi dengan tingginya well-being siswa, keterlibatan dengan sekolah, dan rendahnya

perilaku melanggar aturan, yang kemudian akan meningkatkan prestasi siswa.

School well-being merupakan hal yang paling penting bagi siswa di sekolah. Konsep

dari school well-being dibahas oleh Konu dan Koivisto (2011) bahwa school well-being pada

siswa meliputi kondisi sekolah, hubungan sosial, dan status kesehatan yang berperan dalam

proses belajar di sekolah. Maka, konsep school well-being siswa menjadi pertimbangan

sekolah untuk memahami hal apa saja yang bisa membuat siswa merasa senang dan sejahtera

saat berada di sekolah (Nidianti & Desiningrum, 2017). Konu dan Lintonen (2006) juga

menjelaskan dengan adanya school well-being ini siswa dapat mengutarakan pendapat

mereka tentang lingkungan sekolah sehingga memungkinkan sekolah untuk memahami

pendapat dan apa yang dirasakan oleh siswa selama berada di sekolah.

Ketika siswa memiliki keterhubungan dengan sekolah mereka akan terlibat dan

menunjukkan kontribusi di sekolah untuk kegiatan ekstrakurikuler. Dan siswa mampu

meningkatkan harga diri, memiliki keterampilan mengatasi masalah yang lebih baik dan juga

memiliki dukungan sosial sehingga siswa mampu meningkatkan school wellbeing dengan
merasa nyaman dengan lingkungan belajar di sekolahnya, mampu membangun hubungan

sosial dengan baik di lingkungan sekolah dan juga teman-temannya, serta mampu

meningkatkan keberhasilan akademis karena merasa mampu mengembangkan diri sesuai

dengan bakat dan minat sehingga secara fisik juga merasa sehat karena merasa nyaman

dengan proses belajar selama di sekolah.

Menurut Syah 2007 (dalam Iman & Nailul 2018), menyatakan bahwa berhasil atau

gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu sangat tergantung pada proses belajar yang

dialami siswa di sekolah. Oleh karena itu sekolah perlu menciptakan suasana yang nyaman,

menyenangkan dan tidak membosankan bagi siswa. Suasana tersebut berpengaruh terhadap

penilaian siswa terhadap sekolahnya. Penilaian subjektif siswa terhadap sekolahnya dapat

disebut dengan school well-being (Konu & Rimpela, 2002). Konsep school well-being

digunakan guna mendapatkan gambaran untuk meningkatkan kesejahteraan siswa di sekolah.

Tujuan utamanya ialah tidak hanya sekedar pemenuhan kesejahteraan siswa saja, tetapi juga

pemenuhan akan prestasi, potensi, dan juga kemampuan fisik maupun mental siswa (Konu &

Rimpela, 2002).

Aspirasi ialah cita-cita atau tuntutan kearah perbaikan (Abdillah P dan Al Barry, 47).

Das (dalam Herman Nirwana, 2003) tingkat aspirasi ialah tujuan spesifik yang ditetapkan

siswa untuk dicapainya. Setiap orang mempunyai standar yang diharapkan (aspirasi) dalam

pikirannya ketika ingin mengerjakan tugas. Sama halnya dengan siswa di sekolah. Setiap

mereka memiliki tingkat aspirasi dalam pikirannya ketika ingin mengerjakan tugas. Jika tugas

itu dapat diselesaikannya dan berhasil sesuai dengan yang diharapkan, maka dia merasa puas,

sebaliknya jika tugas itu tidak dapat di selesaikan nya sehingga hasilnya tidak mencapai yang

diharapkannya, maka ia merasa gagal Hamachek (dalam Herman Nirwana, 2003:31). Dari

pendapat di atas, disimpulkan bahwa aspirasi ialah cita-cita atau harapan yang ingin dicapai

oleh seorang siswa di masa yang akan datang untuk mengerjakan tugas dalam mencapai
keberhasilan. Banyak peneliti yang berpendapat bahwa tingkat aspirasi pendidikan siswa

sekolah menengah ialah salah satu prediktor yang sangat signifikan untuk pendidikan

tertinggi yang dapat diselesaikannya ( Wei - Cheng Mau & Lynette Heim Bikos, 2000).

Artinya tingkat aspirasi siswa memberikan sumbangan terakhir bagi pendidikannya.

Menurut Hurlock (2003) ketidakbahagian remaja ialah terlebih pada masalah pribadi

daripada masalah lingkungannya. Remaja merasa memiliki tingkat aspirasi yang tinggi dan

tidak ralistik untuk dirinya maupun prestasinya yang tidak sesuai dengan harapan, sehingga

akan timbul rasa tidak puas bagi dirinya kemudian muncul sikap menolak kepada dirinya

sendiri. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa aspirasi sangat berpengaruh terhadap

well being remaja karena remaja mempunyai aspirasi yang tidak ralistik yang akan

menimbulkan rasa tidak bahagia. Beberapa faktor yang mempengaruhi school well being

yang diungkapkan oleh Keyes dan Waterman (dalam Bornstein, Davidson, Keyes, & Moore,

2008) ialah hubungan sosial, teman dan waktu luang, peran sosial, tipe kepribadian, kontol

diri dan optimisme untuk tujuan dan aspirasi. Keyes dan Waterman (dalam Bornstein,

Davidson, Keyes, & Moore, 2008) menyebutkan tipe karakteristik kepribadian, kontol diri

dan optimisme untuk tujuan dan aspirasi secara konsisten bisa meningkatkan school well

being yang diperoleh siswa.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka rumusan

masalah yang akan diteliti adalah: “apakah ada hubungan antara aspirasi siswa

dengan school well being pada siswa MTS?”.

C. Tujuan Penelitian

Setiap kegiatan atau aktivitas yang disadari pasti ada yang ingin dicapai. Adapun

tujuan penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara aspirasi siswa dengan school well

being pada siswa MTS?


D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat membantu pihak-pihak yang terkait didalam

penelitin ini. Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Secara teoritis atau akademis, adalah dapat menambah wawasan terhadap

pembaca untuk mengetahui bagaimana hubungan antara aspirasi siswa dengan

school well being pada siswa MTS?

2. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi kepada masyarakat,

khususnya orang tua tentang bagaimana hubungan antara aspirasi siswa

dengan school well being pada siswa MTS?

E. Keaslian Penelitian

Penelitian terkait hubungan antara aspirasi siswa dengan school well being pada siswa

MTS yang dilakukan sebelumnya antara lain:

Penelitian yang dilakukan oleh Urifa (2018) dengan judul: “ Hubungan Aspirasi

Siswa dengan School well being pada Siswa MTS Penerima Dana Program Keluarga Harapan

(PKH)” menemukan bahwa adanya hubungan yang positif yang menunjukkan adanya

hubungan searah, artinya semakin tinggi aspirasi siswa semakin tinggi pula school well being

pada siswa. Persamaan dengan penelitian ini yaitu: sama-sama membahas variabel bebas

aspirasi siswa dan variabel terikatnya school well being. Namun terdapat perbedaan ini yaitu

peneliti meneliti siswa MTS yang menerima program keluarga harapan (PKH).

Penelitian yang dilakukan oleh Luthfi (2019) dengan judul: “Hubungan Kecerdasan

Emosional dengan School well being pada Siswa SMK Tujuh Lima 1 Purwokerto”

menemukan bahwa adanya hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional

dengan school well being pada siswa SMK tujuh lima 1 Purwokerto. Artinya semakin tinggi

kecerdasan emosional siswa SMK tujuh lima 1 Purwokerto semakin rendah school well being
pada siswa SMK tujuh lima 1 Purwokerto. Persamaan dengan penelitian ini yaitu sama-sama

meneliti variabel terikat school well being dan perbedaannya ialah peneliti menggunakan

variabel bebasnya kecerdasan emosional.

Penelitian ini dilakukan oleh Riantika (2021) dengan judul: “Hubungan Antara

internal locus of control dengan school well being pada Siswa SMAN 1 Tujuah Limo Nagari

di Payakumbuh” menemukan bahwa adanya hubungan yang positif secara signifikan antara

internal locus of control dengan school well being pada siswa SMAN 1 tujuah limo nagari di

Payakumbuh, Semakin tinggi internal locus of control siswa maka akan semakin tinggi

school well-being. Begitu juga sebaliknya semakin rendah internal locus of control maka

semakin rendah school well-being. Persamaan dalam penelitian ini yaitu peneliti sama-sama

meneliti variabel terikat school well being, dan perbedaannya ialah variabel bebas yang

digunakan peneliti yaitu internal locus of control.

Penelitian yang dilakukan oleh Mega (2019) dengan judul: “ Hubungan Antara

School well being dengan Motivasi Belajar pada Siswa SMA Negeri 6 Banda Aceh”

menemukan bahwa adanya hubungan yang positif antara school well being dengan motivasi

belajar pada anak SMA negeri 6 Bnda Aceh, artinya semakin tinggi school well being maka

akan semakin tinggi pula motivasi belajar siswa. Persamaan dalam penelitian ini ialah

peneliti sama-sama meneliti variabel school well being, namun terdapat perbedaan yaitu

variabel terikatnya school well being dan variabel bebasnya motivasi belajar.
BAB II

LANDASAN TEORI

A. School Well Being

1. Pengertian School Well Being

Kesejahteraan sekolah ialah suatu kondisi sekolah yang mendapatkan hubungan

timbal balik antara rasa hormat dan anggota sekolah. Hubungan timbal balik itu bertujuan

untuk memperkecil masalah antara mereka sehingga bisa mempertahankan kondisi yang

seimbang, berkeadilan, dan juga memperlihatkan kerja keras guna mencapai prestasi pribadi

serta sosial. (Duckett et al., 2010). Dalam usaha menyejahterakan siswa, keberhasilan sekolah

termasuk konsep yang dinamakan dengan school well being (kesejahteraan sekolah).

School well being ialah suatu konsep yang dikembangkan oleh Konu dan Rimpella

berdasarkan teori well being yang diutarakan oleh Allart. Allardt (dalam Konu dan Rimpella,

2002) berpendapat bahwa well being ialah suatu kondisi yang membolehkan individu guna

memenuhi kebutuhan dasar seperti, kebutuhan yang bersifat material dan non material.

School well being menurut Konu dan Rimpella (2002) ialah suatu pikiran tentang sekolah

yang aman, nyaman dan juga menyenangkan sehingga siswa bisa memenuhi kebutuhan

dasarnya yang meliputi having, loving, being, dan health.

Dengan adanya school well being pada siswa bisa memberikan efek yang positif

tentang penilaian siswa dengan lingkungan sekolahnya. Siswa yang mempunyai rasa

sejahtera yang tinggi akan bertautan dengan peningkatan hasil belajar siswa, kehadiran siswa

di sekolah, perilaku prososial siswa, keamanan sekolah serta kesehatan mental seorang siswa

(Noble, McGrath, Wyatt, Carbines, & Robb, 2008). Ini menunjukkan adanya peningkatan

kesejahteraan siswa ialah faktor yang penting untuk diwujudkan oleh pihak sekolah. School

well being juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya ialah faktor sosial yaitu

hubungan sosial dan peran sosial. Siswa yang sering terlibat dalam hubungan sosial dan
memiliki peran sosial yang baik serta tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi. Hubungan

sosial juga mengarahkan pada hubungan guru dan siswa, dinamika kelompok (belajar dengan

kelompok), dan juga hubungan siswa dengan teman sebayanya (Konu dan Rimpella, 2002).

Pemuasan diri bagi siswa di sekolah biasanya disebut dengan being dalam school well being.

Dengan adanya harapan untuk siswa dalam belajar sesuai dengan kemampuannya ialah

pemenuhan diri (Konu dan Rimpella, 2002). Konu dan Rimpella juga menyebutkan bahwa

status kesehatan pada siswa ialah dimensi health, yaitu kesehatan siswa mencakup dimensi

sehat secara fisik dan mental.

2. Aspek-Aspek School Well Being

Konu dan Koivisto (2011) menyebutkan bahwa ada 4 aspek dalam school well being

yaitu: having, loving, being, dan health. Penjelasan aspek berikut ini tetap mengarah pada

uraian dari Konu, Alenan, Lintonen, dan Rimpella (2002) karena tidak ada perubahan dari

evaluasi school well being pada siswa sekolah dasar. Konu dan Koivisto (2011). Aspek-

aspeknya antara lain meliputi:

1. Kondisi sekolah (having) ialah suatu kondisi sekolah yang mencakup lingkungan

fisik di dalam sekolah. Lingkungan itu merupakan yang bisa diukur dari tingkat

keamanan, kenyamanan, kebisingan, ventilasi, temperatur, serta kebersihan.

Lingkungan fisik ini juga mencakup bagaimana kondisi kurikulum, jadwal jam

belajar, serta hukuman.

2. Hubungan sosial (loving) ialah hubungan sosial yang mencakup pembelajaran di

dalam lingkungan dengan memperhatikan hubungan siswa dengan guru,

hubungan pertemanan, dinamika kelompok, serta kasus bullying, hubungan antara

rumah siswa dan sekolah, pengambilan keputusan di sekolah serta suasana

organisasi yang ada di sekolah tersebut.


3. Pemenuhan diri (being), menurut Allardt dalam kajian Konu & Rimpella ialah,

being menyatakan pada masing-masing orang sebagai bagian dari masyarakat.

Dan dilingkup sekolah being juga dapat dilihat dari bagaimana sekolah bisa

menawarkan guna pemenuhan diri pada siswa. Masing-masing siswa perlu

menyadari begitu pentingnya membentuk bagian dari sekolah. Hal ini juga dapat

membuat siswa berpartisipasi dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah dan

juga aspek lainnya yang ada di sekolah. Harapannya ialah untuk meluaskan

pengetahuan dan mengasah keterampilan siswa pada minatnya ialah hal yang

krusial, dan itu juga merupakan pengalaman dari pembelajaran yang positif guna

meningkatkan pemenuhan diri.

4. Status kesehatan (health) merupakan aspek fisik dan mental. Aspek fisik ini dapat

dilihat dari abnormalitas pada bagian tubuh seseorang yang dilihat dengan ilmu

medis. Begitu juga dengan aspek mental dapat dilihat dari perasaan yang dialami

oleh seseorang. Konu & Rimpella menjadikan aspek status kesehatan (health)

terpisah dikarenakan dalam konteks kesejahteraan (well being) bisa dilihat dari

kesehatan individu secara umum dan juga dipengaruhi oleh masalah eksternal.

3. Faktor-Faktor School Well Being

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi school well being siswa menurut Keyes

dan Waterman (2008) yaitu:

1. Hubungan sosial

Hubungan sosial ialah suatu aktivitas yang menggabungkan kepentingan individu,

individu dengan kelompok serta antar kelompok baik secara langsung maupun

tidak langsung guna menciptakan rasa menguntungkan dan kejra sama. Dalam

penelitian Keyes dan Waterman (2008) individu yang sering terlibat pada

hubungan sosial yang baik akan mempunyai peran sosial yang baik pula untuk
melihat kepuasan hidup yang lebih tinggi. Peran sosial individu di lingkungannya

berada bisa meningkatkan well being dan juga bisa menurunkan stress yang

dimiliki individu tersebut. Siswa yang mempunyai hubungan sosial yang baik di

sekolahnya akan meningkatkan well beingnya dan juga sebaliknya jika siswa

mempunyai hubungan sisiaol yang kurang baik makan akan berdampak buruk

untuk well beingnya. Keyes & Waterman (2008) menyebutkan jika individu

tersebut mendapatkan dukungan dari temannya maka individu akan merasa

bahagia dan sejahtera di sekolahnya tersebut.

2. Teman dan waktu luang

Myers (dalam Keyes & Waterman, 2008) menyebutkan bahwa individu yang

merasa bahagia ialah individu yang mendapat dukungan dari temannya. Santrock

(2003) menyebutkan bahwa teman sebaya ialah sumber status, persahabatan serta

rasa saling memiliki dan dibutuhkan dalam situasi sekolah. Scanlan, dkk (dalam

Mahoney, Larson & Eccles, 2005) menyebutkan bahwa kegiatan di waktu luang

seperti olahraga akan diikuti siswa untuk menciptakan mood yang positif serta

bisa menurunkan stress pada individu tersebut dan bisa membuat perasaan

menjadi bahagia.

3. Partispasi sosial

Keyes & Ryff (dalam Keyes & Waterman, 2008) menyebutkan bahwa kegiatan

sukarela bisa mengembangkan hubungan yang positif dengan individu lainnya dan

bisa meningkatkan integrasi sosial. Selain itu banyak sekolah yang mempunyai

program layanan masyarakat untuk memberikan kesempata kepada remaja bisa

ikut dalam berbagai kegiatan (Santrock, 2003). Partispasi di dalam kegiatan juga

berarti mendapat kepuasan hidup di dalam diri remaja.

4. Peran sosial
Erikso (dalam Hurlock, 1996) mengungkapkan bahwa remaja yang mempunyai

kebutuhan guna menyebutkan siapa dirinya dan bagaimana berkontribusi alam

masyarakat. Bagi siswa lingkungan sekolah merupakan salah satu tempat untuk

siswa dalam menjalani peran sosial untuk aktivitas-aktivitas yang ada. Keyes

(dalam Keyes dan Waterman, 2008) menyebutkan bahwa meningkatnya well

being pada individu itu ialah karena peran sosial di lingkungan individu itu

berada.

5. Karakteristik kepribadian.

Kepribadian ekstrovert ada hubungan antara emosi dan perasaan. Ekstrovert ialah

dimensi kepribadian yang beraitan dengan kebahagian individu dikarenakan

individu yang ekstrovert ini lebih aktif dalam berpartisipasi di kegiatan sosial

yang menciptakan perasaan positif bagi individu.

6. Tujuan dan aspirasi

Individu yang memiliki komitmen bisa mengatur tujuannya untuk membantu dan

memahami makna hidup serta bisa membantu untuk mengatasi masalah.

Kesuksesan juga berguna dalam mencapai tujuan dan aspirasi yang dimiliki untuk

meningkatkan well being pada individu. (Diener, dkk dalam Keyes dan

Waterman, 2008) untuk siswa sekolah dalam mencapai penghargaan prestasinya

ialah dengan cara meningkatkan kepuasan inidvidu terhadap kehidupan sekolah

yang dijalaninya (Konu & Rimpella, 2002).

B. Aspirasi Siswa

1. Pengertian Aspirasi Siswa

Istilah ”aspirasi” berasal dari kata aspire, yang artinya bercita-cita atau menginginkan

sesuatu untuk dicapai. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan aspirasi sebagai harapan

dan tujuan untuk keberhasilan pada masa yang akan datang. Menurut (Hurlock, 1999:23)
aspirasi ialah keinginan akan sesuatu yang lebih tinggi dengan kemajuan sebagai tujuannya.

Menurut (Slameto, 2003:182) menyebutkan aspirasi ialah suatu harapan atau keinginan

seseorang untuk keberhasilan dan prestasi tertentu.

Menurut (Ahmadi, 2009:134) menjelaskan aspirasi sama dengan kemauan yaitu suatu

dorongan kehendak yang lebih terarah pada tujuan hidup tertentu, dan dikendalikan oleh

pertimbangan akal budi. Berdasarkan penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa

aspires ialah suatu harapan atau keinginan yang kuat untuk mencapai hasil yang diharapkan

oleh siswa untuk melanjutkan studi ke masa yang akan datang guna mempermudah siswa

melanjutkan pendidikan yang tinggi. Menurut Ana 2015 aspirasi adalah konsep multifaktor

yang dapat didefinisikan sebagai sesuatu dari keinginan abstrak dan impian untuk realisasi

rencana dan harapan. Aspirasi berarti keinginan yang besar untuk mencapai sesuatu yang

tinggi.

Menurut Hurlock (1983) menjelaskan ada 4 cara yang dapat digunakan untuk

mengukur tingkat Aspirasi Siswa, yaitu sebagai berikut:

a. Keinginan siswa

Siswa diminta untuk menjelaskan apa yang akan menjadi harapan di masa

depan. Pada studi ini keinginan siswa akan diperoleh keinginan jangka panjang dan

jangka pendek, seperti keinginan guna memperbaiki diri dan keinginan untuk

berprestasi.

b. Orang disekitarnya

Siswa diminta untuk menjelaskan orang disekitarnya yang menjadi idolanya,

misalnya orang tua, guru, dan atau kerabat mereka yang nantinya akan memberikan

gambaran mengenai tingkat Aspirasi Siswa.

c. Ketetapan hati siswa


Ketetapan hati ini seperti halnya dengan keinginan, tetapi ketetapan hati lebih

terbuka daripada keinginan, selain itu dalam ketetapan hati aspirasi diungkapkan

secara spesifik. Sebagai contoh siswa ingin menjadi manajer yang sukses.

d. Tujuan siswa

Studi ini dibatasi dalam mengukur tujuan jangka pendek, dengan adanya studi

ini diketahui bagaimana siswa mencapai tujuannya dan mengatasi hambatannya.

Sebagai contoh pantang menyerah dalam mencapai aspirasinya.Berdasarkan pendapat

di atas, maka dapat disimpulkan aspirasi terdapat tiga aspek antara lain: derajad

tujuan, hasrat, dan ketetapan hati dalam kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab

yang dipikulnya. Aspirasi dapat bersifat realistis yaitu apabila ada cukup kesempatan

untuk berhasil dalam mencapainya, dan bersifat tidak realistis apabila kesempatan

untuk berhasil mencapainya tidak ada kepastian atau dalam keragu-raguan.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Aspirasi Siswa

Hurlock (2000) mengelompokkan faktor yang berpengaruh pada aspirasi dalam 2

kategori, yaitu faktor pribadi dan faktor lingkungan.

a. Faktor pribadi

 Inteligensi (dijelaskan lebih lanjut bahwa dalam hal inteligensi atau

kecerdasan, setiap individu mempunyai perbedaan dalam hal kemampuan

memahami gagasan yang kompleks, kemampuan beradaptasi secara efektif

dengan lingkungannya, dan juga melakukan penalaran dan menyelesaikan

masalah secara tepat dan cepat).

 Minat (ialah pendorong yang menyebabkan seseorang memberi perhatian

kepada objek atau aktivitas tertentu)

 Pengalaman masa lalu (kegagalan ataupun keberhasilan sangat berpengaruh

penting terhadap aspirasi individu. Pengalaman masa lalu akan menumbuhkan


aspirasi positif ataupun negative. Walaupun mengalami gagal di masa lalu

seseorang yang berusaha dengan segenap kemampuannya guna mewujudkan

cita-cita akan memiliki aspirasi positif, dan juga sebaliknya seseorang yang

bersifat pasif guna mempertahankan keadaanya sekarang akan memiliki

aspirasi negatif.

 pola kepribadian (pola kepribadian ini bersifat multidimensi melibatkan

konsep diri sebagai inti kepribadian dan sifat sebagai struktur yang

mengintegrasikan kecenderungan respon)

 nilai pribadi (nilai ini menentukan aspirasi ini sangat penting, sesuatu yang

diharapkan oleh keluarga, guru dan teman-teman pada setiap anak serta

semakin meningkatnya aspirasi semakin kuat pula keinginan untuk diakui oleh

kelompoknya)

 kompetisi (aspirasi berdasarkan pada keinginan untuk bisa melebihi orang

lain, semenjak kecil individu sudah berkompetisi dengan anak yang lebih tua

dan juga teman sebayanya. Seringnya berkompetisi dengan orang lain akan

memiliki peran yang sangat penting untuk perkembangan aspirasi tersebut)

 latar belakang ras (orang tua dari kelompok minoritas sering bertujuan tinggi

yang tidak realistis sebagai bentuk kompensasi)

b. Faktor lingkungan

 ambisi orangtua (ambisi orangtua sering lebih tinggi bagi anak yang lahir

pertama dibandingkan dengan yang lahir berikutnya, dan hal ini juga

berpengaruh pada pola asuh yang diterapkan orangtua. Individu yang berasal

dari keluarga yang tingkat sosial ekonomi stabil cenderung mempunyai tingkat

aspirasi yang lebih tinggi. Penilaian orang lain juga mempengaruhi aspirasi

pendidikan, karena pada dasarnya seseorang mempunyai keinginan untuk


diakui dan dinilai baik oleh lingkungannya, baik dari keluarga, teman dan

masyarakatnya)

 harapan sosial (harapan sosial menekankan bahwa mereka yang berhasil di

satu bidang juga dapat berhasil di semua bidang jika itu diinginkannya.

Harapan seseorang belum tentu akan tercapai meskipun telah berusaha

semaksimal mungkin. Dengan keinginan dari sebuah kelompok nantinya

harapan tersebut harus tercapai meskipun telah menggunakan banyak cara

karena satu sama lain mempunyai keinginan yang sama, sehingga semakin

kuat keinginan untuk diakui dalam kelompoknya maka aspirasinya akan

semakin kuat)

 dorongan keluarga (individu berasal dari keluarga yang mempunyai keadaan

sosial yang stabil cenderung mempunyai tingkat aspirasi yang lebih tinggi

daripada individu yang berasal dari keluarga yang tidak stabil. Selain itu

individu yang berasal dari keluarga kecil mempunyai orientasi prestasi yang

lebih besar daripada dari keluarga besar, sebab orang tua pada keluarga kecil

tidak sekedar menuntut anak tetapi juga akan mendorongnya untuk maju)

 tradisi budaya (tradisi budaya yang beranggapan bahwa semua orang dapat

mencapai apa saja yang diinginkannya jika usahanya cukup keras. Pada

masyarakat yang demokratis menganggap semua orang mempunyai

kesempatan yang sama. Seorang siswa dalam masyarakat yang demokratis

dididik bahwa mereka dapat mencapai hasil yang tinggi dalam masyarakat bila

dapat melakukan yang terbaik)

C. Kerangka Berpikir

School well being pada siswa bisa memberikan efek yang positif tentang penilaian

siswa dengan lingkungan sekolahnya. Siswa yang mempunyai rasa sejahtera yang tinggi akan
bertautan dengan peningkatan hasil belajar siswa, kehadiran siswa di sekolah, perilaku

prososial siswa, keamanan sekolah serta kesehatan mental seorang siswa. Ini menunjukkan

adanya peningkatan kesejahteraan siswa ialah faktor yang penting untuk diwujudkan oleh

pihak sekolah. School well being juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya ialah

faktor sosial yaitu hubungan sosial dan peran sosial. Siswa yang sering terlibat dalam

hubungan sosial dan memiliki peran sosial yang baik serta tingkat kepuasan hidup yang lebih

tinggi.

Aspirasi sama dengan kemauan yaitu suatu dorongan kehendak yang lebih terarah

pada tujuan hidup tertentu, dan dikendalikan oleh pertimbangan akal budi. Berdasarkan

penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa aspires ialah suatu harapan atau keinginan

yang kuat untuk mencapai hasil yang diharapkan oleh siswa untuk melanjutkan studi ke masa

yang akan datang guna mempermudah siswa melanjutkan pendidikan yang tinggi. Remaja

merasa memiliki tingkat aspirasi yang tinggi dan tidak ralistik untuk dirinya maupun

prestasinya yang tidak sesuai dengan harapan, sehingga akan timbul rasa tidak puas bagi

dirinya kemudian muncul sikap menolak kepada dirinya sendiri. Dari penjelasan diatas dapat

disimpulkan bahwa aspirasi sangat berpengaruh terhadap well being remaja karena remaja

mempunyai aspirasi yang tidak ralistik yang akan menimbulkan rasa tidak bahagia.

D. Hipotesa

Berdasarkan kajian teori yang dikemukakan hipotesis yang diajukan dalam penelitian

ini ialah Adanya hubungan yang signifikan antara aspirasi siswa dengan school well being

pada siswa MTS.


DAFTAR PUSTAKA

Rohman, Iman Hidayatur & Nailul Fauziah. 2016. HUBUNGAN ANTARA ADVERSTY

INTELLIGENCE DENGAN SCHOOL WELL-BEING (Studi pada Siswa SMA

Kesatrian 1 Semarang). Jurnal Empati. Volume 5(2), 322-326.

Alpian, Yayan, M.Pd. Dkk. 2019. Pentingnya Pendidikan Pada Manusia. Jurnal Buana

Pengabdian. Vol 1 No 1. Hal 66-72

Surya Helsa. Dkk. 2017. ASPIRASI PENDIDIKAN SISWA KECAMATAN CISAUK:

STUDI KASUS DI SDN MEKARWANGI. JURNAL PERKOTAAN Vol. 9 No.Hal 1-

21.

Istiqomah, Nuril & Agustin Rahmawati. 2020. School Well Being Siswa Full Day School dan

Siswa Regular School. JURNAL PSIKOLOGI TABULARASA. VOLUME 15, NO.1.

Hal 19 – 28.

Santrock, J.W. (2012). Perkembangan Masa-Hidup. Jilid 1. (Edisi Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sarwono, S.W. (2015). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.

Nanda, Adistiya & Prasetyo Budi Widodo. 2015. EFIKASI DIRI DITINJAU DARI

SCHOOL WELL-BEING PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI

SEMARANG. Jurnal Empati, Agustus 2015, Volume 4(3), 90-9.

Faizah. Dkk. 2018. School Well-Being pada Siswa Berprestasi Sekolah Dasar yang

Melaksanakan Program Penguatan Pendidikan Karakter. Jurnal Ilmiah Psikologi.

Volume 5, Nomor 2. Hal 161-174.

Rahma, Ulifa. Dkk. 2020. Bagaimana meningkatkan school wellbeing? memahami peran

school connectedness pada siswa SMA. (Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan). Vol. 08

No. 01. Hal 43-53.


Elmirawati. Dkk. 2013. HUBUNGAN ANTARA ASPIRASI SISWA DAN DUKUNGAN

ORANGTUA DENGAN MOTIVASI BELAJAR SERTA IMPLIKASINYA

TERHADAP BIMBINGAN KONSELING. Jurnal ilmiah konseling. Volume 2 nomor

1. Hal 107-113.

Hurlock, Elizabeth B. (2003). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Urifa. (2018). HUBUNGAN ASPIRASI SISWA DENGAN SCHOOL WELL-BEING PADA

SISWA MTS PENERIMA DANA PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH).

Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Perdana, Luthfi Noorman. (2019). HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN

SCHOOL WELL BEING PADA SISWA SMK TUJUH LIMA 1 PURWOKERTO.

Skripsi Universitas Negeri Semarang.

Zulfa, Mega Aprilia (2019). HUBUNGAN ANTARA SCHOOL WELL BEING DENGAN

MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA SMA NEGERI 6 BANDA ACEH. Skripsi

Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.

Putri, Riantika. (2021) HUBUNGAN ANTARA LOCUS OF CONTROL DENGAN

SCHOOL WELL PADA SISWA SMAN 1 TUJUAH LIMO DI PAYAKUMBUH.

Skripsi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Kuswoyo. Dkk. 2021. PENGARUH KOMUNIKASI INTERPERSONAL GURU,

STUDENT ENGAGEMENT DAN EFIKASI DIRI TERHADAP SCHOOL WELL-

BEING SISWA SMPN 1 SEMANU KABUPATEN GUNUNGKIDUL. Jurnal Syntax

Transformation. Vol 2 no 3. Hal 342-353.

Nurcahyaningsari, Dhenis & Lely Ika Maryati. 2018. School well being pada siswa SMP.

Proceeding National Conference Psikologi UMG. Hal 152-160.

Meilisa. Dkk. 2018. Relation of Student-Teacher Trust with School Well-Being to High

School Students. Journal PSIKODIMENSIA. Volume 17, No. 2. Hal 162-167.


Azizah, Anistiya & Farida Hidayati. 2015. PENYESUAIAN SOSIAL DAN SCHOOL

WELL-BEING: Studi pada Siswa Pondok Pesantren yang Bersekolah di MBI Amanatul

Ummah Pacet Mojokerto . Jurnal Empati. Volume 4(4). Hal 84-89.

Anjani, Ayu Selfi. Dkk. 2019. Hubungan Tingkat Pendidikan dan Tingkat Penghasilan Orang

Tua terhadap Aspirasi Melanjutkan Studi.

Gunawan, Gugun. 2019. ASPIRASI PENDIDIKAN SISWA UNTUK MELANJUTKAN

STUDI KE JENJANG LEBIH TINGGI KAJIAN ESKRIPTIF TEORITIK SISWA

SEKOLAH DASAR X DI KABUPATEN PANDEGLANG, PROPINSI BANTEN.

Jurnal Pendidikan. Volume 20, Nomor 2. Hal 126-134.