Anda di halaman 1dari 6

A.

Konsep Pendidikan
 Pengertian Pendidikan
Pendidikan merupakan usaha yang sengaja secara sadar dan terencana untuk
membantu meningkatkan perkembangan potensi dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi
kepentingan hidupnya sebagai seorang individu dan sebagai warga negara/masyarakat,
dengan memilih isi (materi), strategi kegiatan, dan teknik penilaian yang sesuai.
Pengertian pendidikan menurut para ahli:
 Branata (1988) mengungkapkan bahwa Pendidikan ialah usaha yang sengaja
diadakan, baik langsung maupun secara tidak langsung, untuk membantu anak
dalam perkembangannya mencapai kedewasaan.
 Kleis (1974) memberikan batasan umum bahwa ”pendidikan adalah
pengalaman yang dengan pengalaman itu, seseorang atau kelompok orang
dapat memahami seseuatu yang sebelumnya tidak mereka pahami.
 Idris (1982:10) mengemukakan bahwa, ”Pendidikan adalah serangkaian
kegiatan komunikasi yang bertujuan, antara manusia dewasa dengan si anak
didik yang secara tatap muka atau dengan menggunakan media dalam rangka
memebrikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya.
B. Definisi Pendidikan Secara Luas,Sempit dan Alternatif
 Definisi pendidikan secara luas
(Menurut Purwanto. Tahun. 2004), pendidikan dalam arti makro (luas) adalah proses
interaksi antara manusia sebagai individu atau pribadi dan lingkungan alam semesta,
lingkungan sosial, masyarakat, sosial-ekonomi, sosial-politik dan sosial-budaya. Pendidikan
dalam arti luas juga dapat diartikan hidup (segala pengalaman belajar yang berlangsung
dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.
 Karakteristik khusus
a. Masa pendidikan. Pendidikan berlangsung seumur hidup dalam setiap saat
selama ada pengaruh lingkungan.
b. Lingkungan pendidikan. Pendidikan berlangsung dalam segala lingkungan
hudup, baik yang khusus diciptakan untuk kepentingan pendidikan maupun
yang ada dengan sendirinya.
c. Bentuk kegiatan. Terentang dari bentuk-bentuk yang misterius atau tak
disengaja sampai dengan terprogram.pendidikan berbentuk segala macam
pengalaman belajar dalam hidup.
d. Tujuan. Tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak
ditentukan dari luar.
C. Definisi pendidikan secara sempit
(Menurut Purwanto. Tahun. 2004), pendidikan dalam arti mikro (sempit) merupakan
proses interaksi antara pendidik dan peserta didik baik di keluarga, sekolah maupun di
masyarakat. Namun pendidikan dalam arti sempit sering diartikan sekolah (pengajaran yang
di selenggarakan disekolah sebagai lembaga pendidikan formal, segala pengaruh yang di
upayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai
kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-
tugas sosial mereka)
 Karakteristik khusus
1. Masa pendidikan. Pendidikan berlangsung dalam lingkungan waktu terbatas,
yaitu masa anak dan remaja.
2. Lingkungan pendidikan. Pendidikan berlangsung dalam lingkungan
pendidikan yang diciptakan khusus untuk menyelenggarakan pendidikan.
3. Bentuk kegiatan. Isi pendidikan tersusun secaraterprogram dalam bentuk
kurikulum.
4. Tujuan. Tujuan pendidikan ditentukan oleh pihak luar. Tujuan pendidikan
terbatas pada pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu. Tujuan
pendidikan adalah mempersiapkan hidup
D. Definisi Pendidikan secara Alternatif
(Menurut Redja Mudyahardjo. Tahun 2012). Pendidikan adalah usaha sadar yang
dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran, dan atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang
hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai
lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.
 Karakter khusus
1. Masa pendidikan. Pendidikan berlangung seumur hidup,yang kegiatan-
kegiatannya tidak berlangsung sembarang, tetapi pada saat-saat tertentu.
2. Lingkungan pendididkan. Pendidikan berlangsung dalam sebagian dari
lingkungan hidup. Pendidikan tidak berlangsung dalam lingkungan hidup yang
tergelar dengan sendirinya.
3. Bentuk kegiatan. Pendidikan dapat berbentuk pendidikan formal, pendidikan
informal, dan pendidikan non-formal.
4. Tujuan. Tujuan pendidikan merupan perpaduan tujuan-tujuan pendidikan yang
bersifat pengembangan kemampuan-kemampuan pribadi secara optimal dengan
tujuan-tujuan sosial yang bersifat manusia seutuhnya yang dapat memainkan
peranannya sebagai warga dalam berbagai lingkungan persekutuan hidup dan
kelompok sosial.
E. Tujuan Pendidikan
GBHN tahun 1999 mencantumkan tentang tujuan pendidikan nasional : ”Pendidikan
nasional bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan
mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia
pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab
atas pembangunan bangsa”
Selanjutnya tujuan pendidikan nasional tercantum dalan Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 yang menyatakan:
”Pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab”
F. Karakteristik Alat Pendidikan.
Karakteristik alat pendidikan dapat diartikan sebagai persyaratan atau berbagai
kondisi ideal alat pendidikan, baik yang berkaitan dengan alat pendidikan bentuk non
material maupun material yang digunakan dalam kegiatan pendidikan.
1. Karakteristik Alat Pendidikan Material
Muharam A. (2009:135) meskipun alat pendidikan kebendaan atau material seperti:
lahan, gedung, prabot dan perlengkapan lebih berkaitan dengan kegiatan pendidikan di
sekolah, namun karena sifat pendidikan secara umumpun memanfaatkan pentingnya peran
alat pendidikan berbentuk material, maka beberapa kerakteristik berikut ini perlu dipahami
dan dijadikan pertimbangan pendidik dalam menjalankan kegiatan pendidikan seperti:
 Alat pendidikan hendaklah terbuat dari alat yang kuat dan tahan lama dengan
memperhatikan keadaan setempat.
 Pembuatan alat pendidikan mudah dan dapat dikerjakan secara masal.
 Biaya alat pendidikan relative murah.
2. Karakteristik Alat Pendidikan Non Material
Muharam A. (2009:133-135) manyatakan bahwa ada beberapa karakteristik perbuatan
atau tindakan sebagai alat pendidikan non material, yakni:
 Perbuatan atau tindakan pendidik hendaknya dilakukan awal-awal dalam
proses pendidikan dengan memikirkan terlebih dahulu tentang bagaimana cara
melakukan sesuatu karena manusia mempunyai sifat konservatif yang
cenderung untuk mempertahankan atau tidak merubah kebiasaan.
 Perbuatan atau tindakan hendaknya membiasakan terdidik akan hal-hal yang
harus dikerjakan agar menjadi biasa untuk melakukan sesuatu secara otomatis,
tanpa harus disuruh lagi orang lain, atau menunggu sampai orang lain merasa
tidak senang padanya karena kebiasaan yang buruknya.
 Perbuatan atau tindakan pendidik hendaknya dilakukan dengan hati-hati, baik
dalam frekuensi maupun cara melakukannya.
G. Jenis alat pendidikan
Berikut beberapa pembahasan mengenai jenis alat pendidikan, yaitu :
a) Pembiasaan
Pembiasaan merupakan alat pendidikan yang penting, terutama bagi anak kecil. Anak
kecil belum menyadari apa yang dikatakan baik dan buruk dalam arti susila. Anak belum
memiliki ingatan yang kuat, anak cepat melupakan apa yang sudah dan baru terjadi. Oleh
karena itu pembiasaan merupakan tindakan awal yang dapat dilakukan dalam pendidikan.
Beberapa kriteria yang harus diperhatikan pendidikan dalam menerapkan pembiasaan
(Purwanto, 2004) :
a. Mulai membiasakan sebelum terlambat, sebelum anak didik memiliki kebiasaan
lain yang berbeda dengan hal-hal yang dibiasakan.
b. Pembiasaan hendaknya dilakukan secara terus menerus, dilakukan secara
berencana sehingga akhirnya mnjadi suatu kebiasaan yang otomatis.
c. Pendidik hendaknya konsekuen, bersikap tegas dan teguh dalam pendirian yang
telah diambilnya.
d. Pembiasaan yang awalnya mekanistis, harur menjadi kebiasaan yang disertai
dengan kesadarn dan kata hati anak itu sendiri.
b) Pengawasan
Telah dijelaskan bahwa pendidik (orang tua,guru, dan yang lainnya) harus
memperhatikan akibat dari pengaruh pendidikan yang telah diberikan kepada anak didiknya,
sejauh mana akibat dari pendidik itu memberikan dampak terhadap perkembangan
kepribadian anak didiknya. Aturan-aturan yang berlaku dirumah atau disekolah , misalnya
larangan dan kewajiban anak didik dan berjalan dengan baik apabila disertai dengan
pengawasan secara terus menerus. Dengan terus-menerus berarti bahwa pendidik hendaklah
konsekuen, dalam arti apa yang telah dilarang hendaknya selalu dijaga jangan sampai
dilanggar, dan apa yang telah diperintah jangan sampai di ingkari. Tanpa pengawasan dari
pendidik terdapat penggunaa alat pendidikan berarti pendidik membiarkan anak didik berbuat
semuanya.
Pengawasan harus sesuai dengan taraf usia anak, anak yang masih kecil tentu
membutuhkan pengawasan, makin besar anak pengawasan berkurang, yang pada akhirnya
kalau anak sudah dewasa maka ia akan mengawasi dirinya sendiri.
c) Perintah
Perintah dapat merupakan suatu isyarat atau petunjuk yang diberikan seorang
pendidik untuk melakukan sesuatu, atau untuk mentaati suatu peraturan tertentu yang berlaku
dalam lingkungannya. Misalnya dalam keluarga ada aturan-aturan tertentu yang berlaku oleh
orang tua bagi anak-anaknya. Dalam hal ini orang tua ayah dan ibu memerintahkan kepada
anaknya untuk mentaati aturan-aturan tersebut. Dalam memberikan perintah ada beberapa
syarat yang perlu diperhatikan yaitu :
a. Perintah hendaknya jelas dan singkat, jangan terlalu banyak komentar, sehingga
mudah di mengerti oleh anak.
b. Perintah hendaknya disesuaikan dengan tingkat usia anak, dan kesanggupannya.
c. Mengubah perintah menjadi suatu perintah yang lebih bersifat permintaan,
sehingga tidak terlalu keras kedengarannya.
d. Jangan terlalu sering dalam memberi perintah
e. Pendidik hendaknya konsekuen terhadap apa yang telah diperintahkannya.
f. Sifatnya mengajak.
d) Larangan
Larangan adalah suatu upaya untuk melarang anak tidak boleh melakukan sesuatu.
Perintah berkaitan dengan sesuatu yang harus dilakukan oleh anak, karena kalau tidak
dilakukan akan berakibat tidak baik bagi anak, dan tujuan pendidikan tidak akan tercapai.
Beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam melaksakan larangan sebagai berikut :
a. Larangan harus diberikan dengan singkat, jelas, dan dimengerti.
b. Jangan terlalu sering menggunakan larangan.
c. Bagi anak yang masih kecil, larangan dapat di alihkan kepada sesuatu yang lain,
yang menarik perhatian dan minat anak.
e) Hukuman
Menurut Langeved (1980), hukuman adalah suatu perbuatan yang dengan sabar,
sengaja menyebabkan penderitaan bagi seseorang biasanya yang lebih lemah, dan
dipercayakan kepada pendidik untuk membimbing dan dilindungi, dan hukuman tersebut
diberikan dengan maksud anak benar-benar merasakan penderitaan tersebut. Hukuman
diberkan karena anak berbuat kesalahan, anak melanggar suatu aturan yang berlaku, sehingga
dengan diberikannya hukuman anak tidak akan mengulangi kesalahan tersebut.
Menurut Ahmad dan Uhbiyati (2001), tidakan yang pantas dan wajar adalah kurangi
menghukum, beri contoh yang baik serta ajuran untuk berbuat baik dalam membentuk
kemauan anak didik. Dalam melaksakan hukuman ada beberapa teori yang mendasari yaitu
sebagai berikut :

 Teori Pembalasan (Balas Dendam)


Hukum ini debirikan sebagai balas dendam terhadap anak, misalnya guru merasa
dilecehkan martabatnya.
 Teori Ganti Rugi
Hukuman ini diberikan karena adanya kerugian yangb ditimbulkan oleh
perbuatannya.
 Teori Perbaikan
Hukuman ini diberikan agar anak dapat memperbaiki dan tidak mengulanginya,
misalnya member teguran , menasehati, memberi pengertian, yang dalam hal ini anak
akan sadar dan tidak mengulangi kesalahanya.
 Teori Menakut-nakuti
Teori ini diberikan agar anak didik merasa takut untuk mengulanginya dan
sebagainya, sehingga ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut dan akan
meninggalkannya.
 Teori Menjerakan
Teori ini dilakukan agar anak setelah menjalani hukuman akan merasa jera
terhadap hukuman yang diberikan.