Anda di halaman 1dari 16

4.

1 Pembahasan

1. Analisis Kinerja Keuangan PT. Gudang Garam, Tbk Yang Diukur Dengan Rasio
Likuiditas Untuk Tahun 2017-2020

Menurut Bambang Riyanto (2010:25), pengertian likuiditas adalah hal-hal yang

berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban

finansialnya yang harus segera dilunasi. Dalam penelitian ini penulis menganalisis

Kinerja Keuangan PT. Gudang Garam, Tbk selama empat tahun terakhir yaitu tahun

2017-2020 menggunakan perhitungan rasio likuiditas yang terdiri dari : Rasio lancar

(Current Ratio), Rasio cepat (Quick Ratio) dan Rasio Kas (Cash Ratio). Dimana dengan

analisis ini maka akan memberikan gambaran posisi keuangan jangka pendek, tetapi juga

sangat membantu bagi manajemen untuk mengecek efisiensi modal kerja yang digunakan

dalam perusahaan. Hasil pengukuran pada ketiga rasio tersebut adalah sebagai berikut :

a. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata rasio lancar (current ratio) PT. Gudang

Garam, Tbk Tahun 2017-2020 adalah 224% atau 2,24 kali. Artinya kinerja keuangan

perusahaan sudah baik karena nilai rasio lebih besar dari standar minimal yaitu 200%

atau 2 kali. Karena bagian keuangan mampu memaksimalkan penerimaan aktiva

lancar untuk dapat membayar kewajiban kewajiban jangka pendek atau utang yang

segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan.

Selama empat tahun terakhir tahun 2018 sampai dengan tahun 2020 kinerja

keuangan perusahaan sudah baik karena persentase rasio lancar (current ratio) lebih

besar dari standar minimal yaitu 200% atau 2 kali, sedangkan tahun 2017 kinerja

keuangan kurang baik karena persentase yang dihasilkan sebesar 194% atau 1,9 kali

lebih kecil dari standar minimal yaitu 200% atau 2 kali. Pada tahun 2018 mencapai

206% atau 2,06 kali. Kemudian tahun 2019 mencapai 206% atau 2,06 kali dan pada
tahun 2020 mencapai 291% atau 2,91 kali. Artinya kinerja keuangan PT. Gudang

Garam, Tbk pada tahun 2018 sampai dengan tahun 2020 sudah baik. Karena bagian

keuangan pada tahun – tahun tersebut sudah mampu memaksimalkan penerimaan

aktiva lancar untuk dapat membayar kewajiban -kewajiban jangka pendek atau utang

yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan.

Kasmir (2012:134) mengatakan bahwa Rasio lancar atau current ratio

merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar

kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara

keseluruhan. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk

menutupi kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo. Oleh karena

kinerja keuangan PT. Gudang Garam, Tbk sudah baik maka perusahaan mampu

memaksimalkan penerimaan aktiva lancar untuk dapat membayar kewajiban

-kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih

secara keseluruhan.

b. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata rasio cepat (Quick Ratio) PT. Gudang

Garam, Tbk Tahun 2017-2020 adalah 37% atau 0,37 kali. Artinya kinerja keuangan

perusahaan kurang baik karena nilai rasio lebih kecil dari standar rasio industri yaitu

150% atau 1,5 kali. Hal ini terjadi arena bagian keuangan belum mampu

memaksimalkan penerimaan aktiva lancar perusahaan untuk dapat memenuhi atau

membayar kewajiban atau utang lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar

tanpa memperhitungkan nilai persediaan (inventory).


Selama empat tahun terakhir pada tahun 2017 sampai dengan tahun 2020

kinerja keuangan perusahaan masih kurang baik karena persentase rasio cepat (quick

ratio) lebih kecil dari standar rasio industri yaitu 150% atau 1,5 kali.

Pada tahun 2017 mencapai 26% atau 0,26 kali. Kemudian pada tahun 2018

hanya mencapai 31% atau 0,31 kali, pada tahun 2019 mencapai 37% atau 0,37 kali

dan pada tahun 2020 mencapai 57% atau 0,57 kali. Artinya kinerja keuangan PT.

Gudang Garam, Tbk pada tahun 2017 sampai dengan tahun 2020 kurang baik. Karena

bagian keuangan pada tahun – tahun tersebut belum mampu memaksimalkan

penerimaan aktiva lancar perusahaan untuk dapat memenuhi atau membayar

kewajiban atau utang lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar tanpa

memperhitungkan nilai persediaan (inventory).

Menurut Kasmir (2012:136) mengatakan bahwa Rasio cepat (quick ratio) atau

rasio sangat lancar atau acid test ratio merupakan rasio yang menunjukkan

kemampuan perusahaan dalam memenuhi atau membayar kewajiban atau utang

lancar (utang jangk pendek) dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai

sediaan (inventory). Oleh karena kinerja PT. Gudang Garam, Tbk belum baik, karena

bagian keuangan pada tahun – tahun tersebut belum mampu memaksimalkan

penerimaan aktiva lancar perusahaan untuk dapat memenuhi atau membayar

kewajiban atau utang lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar tanpa

memperhitungkan nilai persediaan (inventory).

c. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata rasio kas (cash ratio) PT. Gudang

Garam, Tbk Tahun 2017-2020 adalah 6,6%. Artinya kinerja keuangan perusahaan

selama empat tahun terakhir masih kurang karena nilai rasio < 50%. Selain itu, karena
bagian keuangan PT. Gudang Garam, Tbk selama empat tahun terakhir belum

mampu memaksimalkan penerimaan aktiva lancar untuk dapat menyediakan uang

tunai yang besar sehinga mampu membayar hutang perusahaan yang harus segera

terpenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera

diuangkan. Sehingga perusahaan mengalami kesulitan jika saatnya melakukan

pelunasan hutang.

Selama empat tahun terakhir persentase nilai rasio kas (cash ratio) PT. Gudang

Garam, Tbk tidak ada yang lebih dari standar industri 30%. Pada tahun tahun 2017

hanya mencapai 5,3%, pada tahun 2018 hanya mencapai 4,5%, pada tahun 2019

hanya mencapai 6,9% dan pada tahun 2020 hanya mencapai 9,6%. Artinya pada

tahun-tahun tersebut kinerja keuangan perusahaan kurang baik. Karena belum

mampu memaksimalkan penerimaan aktiva lancar untuk dapat menyediakan uang

tunai yang besar sehinga mampu membayar hutang perusahaan yang harus segera

terpenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera

diuangkan. Sehingga perusahaan mengalami kesulitan jika saatnya melakukan

pelunasan hutang.

Menurut Kasmir (2012:138) mengatakan bahwa Rasio kas atau (cash ratio)

merupakan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang

tersedia untuk membayar utang. Ketersediaan uang kas dapat ditunjukkan dari

tersedianya dana kas atau setara dengan kas seperti rekening giro atau tabungan di

bank (yang dapat ditarik setiap saat). Dapat dikatakan rasio ini menunjukkan

kemampuan sesungguhnya bagi perusahaan untuk membayar utang-utang jangka

pendeknya. Oleh karena kinerja keuangan perusahaan kurang baik maka perusahaan
mampu memaksimalkan penerimaan aktiva lancar untuk dapat menyediakan uang

tunai yang besar sehinga mampu membayar hutang perusahaan yang harus segera

terpenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera

diuangkan. Sehingga perusahaan mengalami kesulitan jika saatnya melakukan

pelunasan hutang.

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Susanti (2018),

dengan judul Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Pada PT.

Gudang Garam, Tbk. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan oleh penulis selama

lima periode adalah Kinerja keuangan perusahaan apabila ditinjau dari sudut rasio

likuiditas yang diukur dengan menggunakan rasio lancar (current ratio), rasio cepat

(quick ratio) dan rasio kas (cash ratio) keadaan PT. Gudang Garam, Tbk dinyatakan

likuid secara keseluruhan.

2. Analisis Kinerja Keuangan PT. Gudang Garam, Tbk Yang Diukur Dengan Rasio
Solvabilitas Untuk Tahun 2017-2020

Menurut Kasmir (2016:151) Rasio Solvabilitas atau leverage ratio merupakan

rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan

hutang. Artinya seberapa besar beban hutang yang di tanggung perusahaan dibandingkan

dengan aktivanya. Dengan demikian dikatakan bahwa rasio solvabilitas digunakan untuk

mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka

pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan atau diluikadasi. Dalam

penelitian ini penulis hendak menganalisis Kinerja Keuangan PT. Gudang Garam, Tbk

menggunakan perhitungan rasio solvabilitas yang terdiri dari : Debt to asset ratio (Debt

Ratio) dan Debt to Equity Ratio. Hasil pengukuran rasio solvabilitas perusahaan yaitu :
a. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Debt to Assets Ratio PT. Gudang Garam,

Tbk selama empat tahun mengalami penurunan. Pada tahun 2017, PT. Gudang

Garam, Tbk memiliki nilai Debt to Assets Ratio sebesar 37%. Pada tahun 2018, nilai

Debt to Assets Ratio mengalami kenaikan menjadi 35%. Pada tahun 2019, nilai Debt

to Assets Ratio mengalami kenaikan menjadi 35%. Pada tahun 2020, nilai Debt to

Assets Ratio mengalami kenaikan kembali menjadi 25%, dimana penurunan nilai

rasio ini disebabkan adanya penurunan total utang dan total asset mengalami

kenaikan. Pada tahun 2017, merupakan nilai total Debt to Assets Ratio yang tertinggi

selama tahun 2017 sampai dengan tahun 2020.

Kemudian dilihat hasil perhitungan total Debt to Assets Ratio, nilai yang di

bawah standart industry 35% adalah pada tahun 2020 sedangkan nilai total Debt to

Assets Ratio tahun 2017,2018 dan 2019 di atas standart industry. Rata-rata nilai total

Debt to Assets Ratio dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2020 sebesar 33%. Artinya

kinerja keuangan kurang baik karena nilai rata-rata rasio perusahaan selama empat

tahun terakhir kurang dari standar industri yaitu 35%. Selain itu, karena bagian

keuangan PT. Gudang Garam, Tbk selama empat tahun terakhir juga belum mampu

memaksimalkan asset lancar dan asset tidak lancarnya untuk memperoleh laba bersih

yang tinggi setelah pajak atau kegiatan operasi perusahaan tidak efektif. Seperti yang

dikatakan oleh Kasmir (2016) bahwa apabila debt ratio semakin tinggi, sementara

proporsi total aktiva tidak berubah maka hutang yang dimiliki perusahaan semakin

besar. Total hutang semakin besar berarti rasio financial atau rasio kegagalan

perusahaan untuk mengembalikan pinjaman semakin tinggi. Sebaliknya apabila debt

ratio semakin kecil maka hutang yang dimiliki perusahaan juga akan semakin kecil
dan ini berarti risiko financial perusahaan mengembalikan pinjaman juga semakin

kecil.

b. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total Debt to Equity Ratio PT. Gudang Garam,

Tbk selama empat tahun mengalami kenaikan maupun penurunan. Pada tahun 2017,

PT. Gudang Garam, Tbk memiliki nilai total Debt to Equity Ratio sebesar 58%. Pada

tahun 2018, nilai total Debt to Equity Ratio mengalami kenaikan menjadi 53%. Pada

tahun 2019, nilai total Debt to Equity Ratio mengalami kenaikan menjadi 54%. Pada

tahun 2020 kembali mengalami kenaikan menjadi 34%. Penurunan ini disebabkan

adanya penurunan total utang dan kenaikan total ekuitas.

Rata-rata nilai Debt to Equity Ratio 2017 sampai dengan 2020 sebesar 50%.

Artinya kinerja keuangan kurang baik atau PT. Gudang Garam, Tbk dalam keadaan

tidak sehat karena nilai rata-rata rasio perusahaan selama empat tahun terakhir kurang

dari standar industri yaitu 80%. Total Debt to Equity Ratio tahun 2017 apabila

dibandingkan dengan tahun 2020 mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu

sebesar 24% dari angka 58% menjadi 34%, dan selama empat tahun berturut-turut

(periode 2017 sampai dengan 2020) nilai Debt to Equity Ratio mengalami kenaikan

dan penurunan dari tahun ke tahun. Seperti yang dikatakan oleh Kasmir (2016) bahwa

Debt to Equity Ratio (DER) digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan

dalam menutup sebagian atau seluruh hutangnya baik jangka panjang maupun jangka

pendek dengan dana yang berasal dari total modal dibandingkan besarnya hutang.

Oleh karena itu, semakin rendah DER akan semakin tinggi kemampuan perusahaan

untuk membayar seluruh kewajibannya. Semakin besar proporsi hutang yang


digunakan untuk struktur modal suatu perusahaan, maka akan semakin besar pula

jumlah kewajibannya.

Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cahyono

(2018), dengan judul Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan PT.

Gudang Garam, Tbk. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan oleh penulis selama

tiga periode adalah Kinerja keuangan perusahaan apabila ditinjau dari sudut rasio

solvabilitas, keadaan perusahaan tahun 2015 - 2017 berada pada posisi solvable. Hal ini

dapat dilihat bahwa keadaan modal perusahaan cukup untuk menjamin hutang yang

diberikan oleh kreditor.

3. Analisis Kinerja Keuangan PT. Gudang Garam, Tbk Yang Diukur Dengan Rasio
Rentabilitas Untuk Tahun 2017-2020

Rasio Rentabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam

mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen

suatu perusahaan (Kasmir, 2016). Dalam penelitian ini penulis menganalisis Kinerja

Keuangan PT. Gudang Garam, Tbk menggunakan perhitungan rasio rentabilitas yang

terdiri dari : Net Profit Margin (NPM), Gross Profit Margin (GPM) Rasio Kekuatan

Laba (Return On Assets) dan Return On Equity. Hasil pengukuran rasio rentabilitas

perusahaan yaitu :

a. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai rasio Net Profit Margin (NPM)

PT. Gudang Garam, Tbk Tahun 2017-2020 adalah 8,5%. Artinya kinerja keuangan

kurang baik karena nilai rata-rata rasio perusahaan selama empat tahun terakhir

kurang dari standar industri yaitu 20%. Selain itu, karena bagian keuangan PT.

Gudang Garam, Tbk selama empat tahun terakhir juga belum mampu
memaksimalkan volume penjualan untuk memperoleh laba bersih yang tinggi setelah

pajak atau kegiatan operasi perusahaan tidak efektif.

Selama empat tahun terakhir nilai Rasio Margin Laba Bersih (Net Profit

Margin) PT. Gudang Garam, Tbk tidak ada yang lebih dari standar industry 20%.

Pada tahun 2017 sebesar 9,3%, pada tahun 2018 sebesar 8,1%, pada tahun 2019

sebesar 9,8% dan pada tahun 2020 sebesar 6,7%. Karena kinerja keuangan PT.

Gudang Garam, Tbk masih kurang baik. Maka perusahaan belum mampu

memaksimalkan volume penjualan untuk memperoleh laba bersih yang tinggi setelah

pajak atau kegiatan operasi perusahaan tidak efektif. Seperti yang dikatakan oleh

Kasmir (2016) bahwa Net profit margin merupakan rasio perbandingan antara laba

bersih setelah pajak dengan penjualan. Besarnya perhitungan margin laba bersih

menunjukkan seberapa besar laba setelah pajak yang diperoleh perusahaan untuk

tingkat penjualan tertentu.

b. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rasio Marjin Laba Kotor (Gross Profit

Margin) PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk selama empat tahun terakhir yaitu tahun

2015-2019 mencapai 19%. Artinya kinerja keuangan kurang baik karena nilai rata-

rata rasio perusahaan selama empat tahun terakhir lebih dari standar industri yaitu

30%. Selain itu, karena bagian keuangan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk selama

empat tahun terakhir belum mampu menekan beban pokok penjualan, sehingga

perusahaan kurang dalam menghasilkan laba kotor yang tinggi. Sehingga perusahaan

mengalami kesulitan jika saatnya melakukan pelunasan hutang.

Selama empat tahun terakhir nilai Rasio Gross Profit Margin (GPM) PT.

Semen Indonesia (Persero) Tbk belum ada yang lebih dari standari industri 30%.
Pada tahun 2017 sebesar 22%, pada tahun 2018 sebesar 19%, pada tahun 2019

sebesar 21% dan pada tahun 2020 sebesar 15%. Karena kinerja keuangan PT. Semen

Indonesia (Persero) kurang baik. Sehingga menghasilkan nilai rasio Gross Profit

Margin (GPM) kurang dari standar industri. Maka perusahaan belum mampu

menekan beban pokok penjualan, sehingga perusahaan bisa menghasilkan laba kotor

yang tinggi. Seperti yang dikatakan oleh Kasmir (2016) Semakin besar gross profit

margin semakin baik keadaan operasi perusahaan, karena hal ini menunjukkan bahwa

harga pokok penjualan relatif lebih rendah dibandingkan dengan sales, demikian pula

sebaliknya, semakin rendah gross profit margin semakin kurang baik operasi

perusahaan.

c. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai rasio Return On Assets (ROA)

PT. Gudang Garam, Tbk Tahun 2017-2020 adalah 12%. Artinya kinerja keuangan

kurang baik karena nilai rata-rata rasio perusahaan selama empat tahun terakhir

kurang dari standar industri yaitu 30%. Selain itu, karena keuntungan PT. Gudang

Garam, Tbk selama empat tahun terakhir jika dibandingkan dengan aktiva masih

sangat kecil. Sehingga dapat dikatakan kondisi keuangan perusahaan dalam kondisi

yang tidak baik.

Selama empat tahun terakhir nilai Rasio Return On Assets PT. Gudang

Garam, Tbk tidak ada yang lebih dari standar industri 30%. Pada tahun 2017 sebesar

12%, pada tahun 2018 sebesar 11%, pada tahun 2019 sebesar 14% dan pada tahun

2020 sebesar 10%. Karena kinerja keuangan PT. Gudang Garam, Tbk kurang baik.

maka tidak mampu mencapai target minimal standar industry 30%. Selain itu juga

keuntungan PT. Gudang Garam, Tbk selama empat tahun terakhir jika dibandingkan
dengan aktiva masih sangat kecil. Sehingga dapat dikatakan kondisi keuangan

perusahaan dalam kondisi yang tidak baik. Seperti yang dikatakan oleh Kasmir

(2016) bahwa Return On Assets merupakan perbandingan antara laba bersih setelah

pajak dengan total aktiva. Return On Assets adalah merupakan rasio yang mengukur

kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan

dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan.

d. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total Return on Equity (ROE) PT. Gudang

Garam, Tbk selama empat tahun mengalami fluktuasi atau perubahan. Pada tahun

2017 PT. Gudang Garam, Tbk memiliki nilai total Return on Equity (ROE) sebesar

18%. Pada tahun 2018 nilai total Return on Equity mengalami penurunan menjadi

17%. Penurunan ini disebabkan karena adanya kenaikan laba bersih dari tahun 2017

dan diikuti kenaikan modal sendiri dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2019 nilai total

Return on Equity (ROE) mengalami kenaikan yaitu sebesar 21%, sedangkan pada

tahun 2020 nilai total Return on Equity (ROE) mengalami penurunan menjadi 13%.

Penurunan ini disebabkan karena adanya penurunan laba bersih dari tahun 2019 dan

kenaikan signifikan modal sendiri dari tahun 2019.

Hasil penelitian PT. Gudang Garam, Tbk menunjukkan rata-rata pada rasio

rentabilitas yaitu Return on Equity (ROE) yaitu sebesar 18% rasio yang tinggi

dimiliki oleh PT. Gudang Garam, Tbk untuk empat tahun tersebut, yang berhubungan

dengan kemampuan perusahaan dalam hal memperoleh laba yang tersedia bagi

pemegang saham. Dalam hal ini PT. Gudang Garam, Tbk memiliki kemampuan

untuk memberikan laba kepada pemegang saham di perusahaannya lebih baik, akan

tetapi dari hasil rata-rata Return on Equity (ROE) perusahaan dianggap tidak sehat
karena masih di bawah standart industry 40%, oleh karena itu saran peneliti bagi

perusahaan PT. Gudang Garam, Tbk agar meningkatkan penjualannya agar laba

bersih meningkat. Seperti yang dikatakan oleh Kasmir (2014:202) Return On Equity

(ROE) adalah perbandingan antara laba bersih dengan modal (modal inti) perusahaan.

Rasio ini menunjukkan tingkat presentase yang dapat dihasilkan ROE sangat penting

bagi para pemegang saham dan calon investor, karena ROE yang tinggi berarti pula

dan kenaikan ROE akan menyebabkan kenaikan saham.

Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cahyono

(2018), dengan judul Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan PT.

Gudang Garam, Tbk. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan oleh penulis selama

tiga periode adalah Kinerja keuangan perusahaan apabila ditinjau dari sudut Rasio

Pofitabilitas secara keseluruhan dari tahun 2015 -2017 keadaan perusahaan berada dalam

posisi cukup baik karena mengalami peningkatan seiring kemampuan perusahaan

dalam meningkatkan laba dan efisiensi dalam menggunakan sumber daya.

4. Perkembangan Kinerja Keuangan PT Gudang Garam, Tbk dilihat dari Rasio


Likuiditas, Solvabilitas, dan Rentabilitas tahun 2017 – 2020

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks perkembangan rasio likuiditas,

rasio solvabilitas dan rasio rentabilitas PT. Gudang Garam, Tbk selama empat tahun

terakhir yaitu tahun 2017 s/d tahun 2020 adalah sebagai berikut:

a. Pertumbuhan Rasio Likuiditas PT. Gudang Garam, Tbk tahun 2017-2020

Hasil penelitian menunjukkan bahwa niali Current Ratio pada tahun

pembanding 2017-2018 indeks perkembangan mengalami kenaikan sebesar 6,33%,

pada tahun 2018-2019 mengalami penurunan sebesar 0,19%, penurunan ini

disebabkan turunya aktiva lancar yang telah dikurangi persediaan pada nilai
piutang usaha dan piutang lain sedangkan hutang lancar mengalami kenaikan pada

utang usaha, utang pajak, utang bank jangka pendek, utang lain-lain serta utang

bank dan utang sewa pembiayaan. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan

kinerja keuangan quick ratio menghasilkan utang. Sedangkan pada tahun 2019-

2020 mengalami kenaikan yang signifikan yaitu sebesar 41,24%. Kenaikan ini

disebabkan naiknya aktiva lancar yang telah dikurangi persediaan pada nilai uang

muka, pajak dibayar dimuka, nilai investasi jangka pendek dan bagian lancar

beban dibayar di muka, sedangkan hutang lancar mengalami penurunan pada nilai ,

utang bank jangka pendek, utang usaha pihak berelasi serta utang pajak dan utang

sewa pembiayaan.

Quick Ratio untuk tahun pembanding 2017-2018 mengalami kenaikan

sebesar 18,24%, indeks perkembangan untuk tahun pembanding 2018-2019

mengalami kenaikan sebesar 19,62% dan pada tahun pembanding 2019-2020

mengalami kenaikan kembali sebesar 55,08%. Artinya Quick Ratio setiap tahun

mengalami kenaikan. Kenaikan ini disebabkan naiknya aktiva lancar yang telah

dikurangi persediaan pada nilai uang muka, pajak dibayar dimuka, nilai investasi

jangka pendek dan bagian lancar beban dibayar di muka, sedangkan hutang lancar

mengalami penurunan pada nilai , utang bank jangka pendek, utang usaha pihak

berelasi serta utang pajak dan utang sewa pembiayaan.

Cash Ratio untuk tahun pembanding 2017-2018 mengalami penurunan

sebesar -15,60%, penurunan ini disebabkan turunnya nilai kas+bank, sedangkan

hutang lancar yang mengalami kenaikan pada utang lain-lain, uang muka

pelanggan, beban masih harus dibayar serta adanya penambahan kewajiban


imbalan kerja dan pinjaman bank jangka pendek, indeks perkembangan untuk

tahun pembanding 2018-2019 mengalami kenaikan sebesar 52,68%, kenaikan ini

disebabkan naiknya nilai kas+bank, sedangkan hutang lancar mengalami

penurunan pada nilai , utang bank jangka pendek, utang usaha pihak berelasi serta

utang pajak dan utang sewa pembiayaan dan pada tahun pembanding 2019-2020

mengalami penurunan sebesar 40,52%. Jadi dapat disimpulkan bahwa indeks

pertumbuhan Cash Ratio setiap tahunnya mengalami perubahan.

b. Pertumbuhan Rasio Solvabilitas PT. Gudang Garam, Tbk tahun 2017-2020

Hasil menunjukkan bahwa Debt to Assets Ratio pada tahun pembanding 2017-

2018 indeks perkembangan mengalami penurunan sebesar -5,77%, pada tahun

2018-2019 mengalami kenaikan sebesar 1,61%, sedangkan pada tahun 2019-2020

mengalami penurunan kembali yaitu sebesar -28,62%. Artinya indeks pertumbuhan

Debt to Assets Ratio setiap tahunnya mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Jadi

dapat dikatakan bahwa bagian keuangan PT. Gudang Garam, Tbk selama empat

tahun terakhir sudah mampu memaksimalkan asset lancar dan asset tidak lancarnya

untuk memperoleh laba bersih yang tinggi setelah pajak atau kegiatan operasi

perusahaan sudah efektif.

Debt to Equity Ratio untuk tahun pembanding 2017-2018 mengalami

penurunan sebesar -8,84%, indeks perkembangan untuk tahun pembanding 2018-

2019 mengalami kenaikan sebesar 2,49% dan pada tahun pembanding 2019-2020

mengalami penurunan sebesar -38,24%. Artinya indeks pertumbuhan Debt to

Assets Ratio setiap tahunnya mengalami naik-turun dari tahun ke tahun. Sehingga

dapat dikatakan bahwa perusahaan PT. Gudang Garam, Tbk sudah bisa menutup
sebagian atau seluruh hutangnya baik jangka panjang maupun jangka pendek dengan

dana yang berasal dari total modal.

c. Pertumbuhan Rasio Rentabilitas PT. Gudang Garam, Tbk tahun 2017-2020

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Net Profit Margin pada tahun

pembanding 2017-2018 indeks perkembangan mengalami penurunan sebesar

-12,53%, penurunan ini disebabkan oleh turunnya Laba Bersih Setelah Pajak dan

turunnya penjualan perusahaan, pada tahun 2018-2019 mengalami kenaikan

sebesar 20,90%, kenaikan ini disebabkan oleh naiknya Laba Bersih Setelah Pajak

dan naiknya penjualan perusahaan, sedangkan pada tahun 2019-2020 mengalami

penurunan yang signifikan yaitu sebesar -32,14%, penurunan ini disebabkan oleh

turunnya Laba Bersih Setelah Pajak dan turunnya penjualan perusahaan. Sehingga

dapat disimpulkan bahwa indeks pertumbuhan Net Profit Margin mengalami

perubahan dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan karena bagian keuangan PT.

Gudang Garam, Tbk selama empat tahun terakhir sudah mampu memaksimalkan

volume penjualan untuk memperoleh laba bersih yang tinggi setelah pajak atau

kegiatan operasi perusahaan efektif.

Gros Profit Margin untuk tahun pembanding 2017-2018 mengalami

penurunan sebesar -10,94%, indeks perkembangan untuk tahun pembanding 2018-

2019 mengalami kenaikan sebesar 5,82% dan pada tahun pembanding 2019-2020

mengalami penurunan kembali sebesar -26,32%. Artinya indeks pertumbuhan

Gros Profit Margin mengalami fluktuasi dari tahun 2017 sampai dengan tahun

2020. Hal ini karena bagian keuangan PT. Gudang Garam, Tbk selama empat tahun

terakhir sudah mampu menekan beban pokok penjualan, sehingga perusahaan sudah
baik dalam menghasilkan laba kotor yang tinggi. Sehingga perusahaan tidak

mengalami kesulitan jika saatnya melakukan pelunasan hutang.

Return On Assets untuk tahun pembanding 2017-2018 mengalami penurunan

sebesar -2,91%, penurunan ini disebabkan oleh turunnya Laba Bersih Setelah Pajak

dan naiknya total asset, indeks perkembangan untuk tahun pembanding 2018-2019

mengalami kenaikan sebesar 22,67%, kenaikan ini disebabkan oleh naiknya Laba

Bersih Setelah Pajak dan naiknya total asset dan pada tahun pembanding 2019-

2020 mengalami penurunan sebesar -29,30%, penurunan ini disebabkan oleh

turunnya Laba Bersih Setelah Pajak dan naiknya total asset. Artinya Return On

Assets PT. Gudang Garam, Tbk naik-turun setiap tahunnya. Jadi dapat dikatakan

bahwa PT. Gudang Garam, Tbk selama empat tahun terakhir jika dibandingkan

dengan aktiva masih sangat kecil. Sehingga dapat dikatakan kondisi keuangan

perusahaan dalam kondisi yang baik.

Return On Equity untuk tahun pembanding 2017-2018 mengalami penurunan

sebesar -5,77%, penurunan ini disebabkan oleh turunnya Laba Bersih Setelah Pajak

dan naiknya modal saham indeks perkembangan untuk tahun pembanding 2018-

2019 mengalami kenaikan sebesar 1,61%, kenaikan ini disebabkan oleh naiknya

Laba Bersih Setelah Pajak dan naiknya modal saham dan pada tahun pembanding

2019-2020 mengalami penurunan sebesar -28,62%, penurunan ini disebabkan oleh

turunnya Laba Bersih Setelah Pajak dan naiknya modal saham. Jadi dapat

dikatakan bahwa Return On Equity PT. Gudang Garam, Tbk sudah baik karena

setiap tahunnya mengalami perubahan.

Anda mungkin juga menyukai