Anda di halaman 1dari 61

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah sebuah sistem yang terdiri dari beberapa bagian

antara lain tujuan pendidik, peserta didik, materi, metode atau media

pembelajaran, serta lingkungan pendidikan. Setiap bagian memiliki fungsinya

masing-masing, dan setiap bagian saling mempengaruhi. Pendidik merupakan

salah satu bagian dari sistem pendidikan dan sangat penting dalam menentukan

mutu pendidikan.

Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem

Pendidikan Nasional,

Pendidik dan Tenaga Kependidikan dinyatakan bahwa pendidik


merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran
melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian
dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik di
perguruan tinggi (Bab XI pasal 39)
Menurut pendapat Atmaka (2004:17) menyatakan bahwa “Pendidik

merupakan orang dewasa yang memiliki tanggung jawab untuk memberikan

pertolongan kepada peserta didik dalam proses tumbuh kembangnya baik

jasmani maupun rohaninya”. Maka dari itu pendidik merupakan pihak yang

memiliki tanggung jawab dalam mendidik. Guru harus profesional dalam

proses pembelajaran.

1
2

Guru dikatakan professional adalah guru yang dapat mendidik,

mengajar, menuntun, melatih, mengevaluasi peserta didik serta memiliki

kemampuan yang inovatif dalam menyampaikan bahan ajar dengan benar

sehingga siswa dapat menerima proses belajar dengan baik. Profesional

memiliki pengertian ahli dengan pengetahuan yang dimiliki seseorang dalam

melayani pekerjaannya. Setiap orang yang mempunyai profesi sebagai

pendidik pasti ingin menjadi guru yang profesional. Guru yang profesional

merupakan orang yang memiliki sebuah kompetensi dan keahlian tertentu di

bidang keguruan sehingga mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai

guru dengan kompetensi yang dimiliki dengan maksimal. Sehingga guru yang

profesional merupakan individu yang terdidik dan terlatih dengan baik.

Guru adalah sebuah profesi, dimana guru yang sewajarnya menjalankan

profesinya dengan baik, tidak mengedepankan kepentingan pribadi, dan

bertanggung jawab dalam menjalankan pekerjaannya untuk mewujudkan

tujuan pendidikan nasional. Dengan demikian, ia akan disebut sebagai guru

yang profesional.

Guru yang profesional wajib mempunyai empat kompetensi yaitu

kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan

kompetensi sosial, inilah standar minimal seorang guru untuk menopang

pelaksanaan tugas mereka. Keempat kompetensi itu sudah seharusnya mereka

dapatkan melalui pendidikan dan dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang

memberinya kewenangan untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik.


3

Sebagaimana yang disebutkan dalam UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan

Dosen, pasal 8 dan pasal 10 Ayat (1) yang berbunyi:

Pasal 8 yang berbunyi guru wajib memiliki kualifikasi akdemik,


kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta
memiliki kemampaun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Kemudian pasal 10 ayat (1) kompetensi guru sebagaimana yang
dimaksud dalam pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang
diperoleh melalui pendidikan profesi.
Kemudian, dalam melakukan kewenangan profesionalismenya,

guru diminta untuk memiliki seperangkat kemampuan yang beraneka ragam

seperti, kemampuan dalam hal akademik, keterampilan dalam menyampaikan

bahan ajar dan memiliki sikap dan perilaku yang baik. Dalam Peraturan

Pemerintah No 74 Tahun 2008 pasal 3 ayat (1) tentang guru “Kompetensi

adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus

dimiliki, dikuasai, dan diwujudkan oleh guru saat menjalankan tugas

profesionalnya.” Guru dengan ijazah S1 belum tentu mempunyai komptensi

yang baik. Oleh karena itu, selain guru profesional dengan minimal S1,

keempat kompetensi tersebut juga harus dimiliki.

Tanpa bertujuan mengesampingkan permasalahan kemampuan yang

lain, peneliti memberikan batasan permasalahan pada kompetensi pedagogis.

Kompetensi pedagogis ini adalah kemampuan guru untuk mengatur

berjalannya proses pembelajaran. Tugas ini melekat pada tugas pendidik dan

orang tua. Ketika peran orang tua digantikan oleh guru, maka guru bukan hanya

guru yang membekali siswa dengan pengetahuan serta keterampilan, tetapi

juga menjadi pendidik dan pengajar yang dapat menolong siswa untuk

mencapai potensi di bidang akademik maupun non akademik.


4

Hasil Penelitian yang dilakukan oleh saudara Fida, tahun 2011

berkaitan dengan “Kompetensi Pedagogik Guru Madrasah Ibtidaiyah Pasca

Lulus Sertifikasi Guru (Studi pada Guru Rumpun Mata Pelajaran Pendidikan

Agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah se-Kecamatan Jekulo Kudus)”. Hasil

yang didapatkan peneliti memaparkan bahwa guru bersertifikat tidak dapat

menguasai delapan komponen kemampuan pedagogis. Jumlah guru

bersertifikat 14, 6 guru kategori sangat baik dan 8 guru kategori cukup.

Guru dibagi menjadi beberapa golongan oleh Direktorat Jendral

Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Kementrian

Pendidikan Nasional tahun 2010, yakni: “Guru PNS, Guru Bantu, Guru Honor

Daerah, Guru Tetap Yayasan, dan Guru Tidak Tetap. Dalam penelitian ini yang

akan dibahas adalah mengenai kompetensi pedagogis Guru PNS bersertifikat

dan Guru Honorer yang belum bersertifikat”.

Guru PNS merupakan guru Pegawai Negeri Sipil yang dijamin oleh

pemerintah. Pemerintah sangat mengapresiasi profesionalisme guru berjuluk

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Salah satu bentuk apresiasi adalah pemerintah

Indonesia mengeluarkan kebijakan, seperti ketentuan tentang Guru dan Dosen

dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 pasal 16 ayat 1 dan 2:

(1) Pemerintah memberikan tunjangan profesi kepada guru yang telah


memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara
pendidikan atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
masyarakat. (2) tunjangan profesi sebagaimana yang dimaksud pada ayat
(1) diberikan setara dengan 1 kali gaji pokok guru yang diangkat oleh
satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau
pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.
5

Sedangkan menurut Mulyasa (2006) Guru Honorer merupakan

“guru yang diangkat secara resmi oleh pemerintah untuk mengurangi

kekurangan guru”. Darmaningtyas (2015) menjelaskan bahwa “guru honorer

di sekolah negeri mempunyai kesulitas yang cukup kompleks. Penghasilan

yang didapat guru honorer di sekolah dasar negeri rata-rata dibawah Rp.

5000,00 perjam”. Rendahnya honor yang didapatkan guru honorer di sekolah

negeri tidak sebanding dengan kinerja guru tersebut.

Observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di salah satu Sekolah yaitu

SDN 064961 Medan. Pada sekolah tersebut masih terdapat guru hanya

memakai strategi pembelajaran tradisional yaitu ceramah dalam proses

pembelajaran sehingga membuat peserta didik merasa jenuh dan tidak

kondusif. Berdasarkan uraian di atas peneliti ingin mengetahui bagaimana

perbandingan kompetensi pedagogis antara guru yang sudah bersertifikat

pendidik dan yang belum memiliki sertifikat pendidik di SDN Kecamatan

Medan Polonia Maimun. Dengan guru memiliki kompetensi pedagogis yang

baik maka diharapkan tujuan Pendidikan Nasional dapat terwujud serta dapat

meningkatkan kualitas mutu pendidikan, tentunya dengan dukungan dari

ketiga kompetensi lainnya.

1.2 Fokus Penelitian

Berdasarkan isi latar belakang masalah di atas, maka fokus penelitian

ini adalah “Kompetensi Pedagogis Guru di SDN Kecamatan Polonia Maimun

T.A 2020/2021?”.

1.3 Rumusan Masalah Penelitian


6

Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka dapat ditarik rumusan

masalahnya yaitu “Apakah ada perbedaan kompetensi pedagogis antara guru

PNS yang sudah bersertifikat pendidik dengan guru honorer yang belum

bersertifikat pendidik di SDN Kecamatan Medan Polonia Maimun?”

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas dapat ditemukan tujuan penelitian

ini yaitu mengetahui perbedaan kompetensi pedagogis antara guru PNS yang

sudah bersertifikat pendidik dengan guru honorer yang belum bersertifikat

pendidik di SDN Kecamatan Medan Polonia Maimun T.A 2020/2021.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk dapat mengungkap

fenomena yang terjadi dilapangan terkait dengan kemampuan mengajar guru di

SDN Kecamatan Medan Polonia Maimun. Dengan dilaksanakannya penelitian

ini dapat memebrikan manfaat yang baik yaitu bersifat teoritis dan praktis.

1. Manfaat Teoritis

Memberikan pengetahuan dan wawancara sekaligus pengembangan

ilmu di bidang yang terkait tentang kompetensi pedagogis guru.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Guru

Bagi guru-guru di lingkungan SDN Kecamatan Medan Polonia

Maimun dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan


7

mengajarnya, melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai

guru, serta memotivasi diri untuk senantiasa meningkatkan

kemampuan mengajarnya.

b. Bagi Kepala Sekolah

Bagi kepala sekolah dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan

atau supervisi guru yang kemampuan mengajarnya masih rendah

atau kurang, dan untuk lebih meningkatkan kemampuan guru yang

sudah memiliki kemampuan yang memadai.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teoretis

2.1.1 Profesionalisme Guru

2.1.1.1 Pengertian Profesionalisme Guru

Profesionalisme berasal dari bahasa inggris yaitu professionalism

yang berarti sifat profesional. Individu yang profesional memiliki karakter

yang berbeda dengan orang yang tidak profesional walau dalam suatu

pekerjaan yang sama. Mengemban profesi guru yang profesional tentunya

bukan hal yang mudah, hal ini membutuhkan upaya dan dorongan dari diri

sendiri, seperti memperluas wawasan, menambah ilmu dan bekerja melalui

berbagai penataran atau peningkatan ilmu.

Profesionalisme adalah sebuah pandangan bahwa keahlihan tertentu

dibutuhkan dalam sebuah pekerjaan, yang mana keahlihan itu hanya

didapatkan melalui pendidikan tertentu atau Latihan. Saud (2010:7)

mengemukakan bahwa “Profesionalisme adalah sebuah profesi untuk

mengembangkan kemampuan profesionalnya serta terus menerus

meningkatkan strategi-strategi yang berguna dalam melakukan pekerjaan

sesuai dengan bidangnya”. Adapun yang dimaksud dengan profesionalisme

guru merupakan kompetensi guru dalam melakukan fungsi dan tugasnya.

Tiga fungsi dan tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan

melatih. Mendidik memiliki arti meneruskan dan mengembangkan nilai-

nilai hidup, mengajar berarti melanjutkan dan meningkatkan ilmu

8
9

pengetahuan, sedangkan melatih berarti meningkatkan keterampilan-

keterampilan pada diri siswa.

Muslich (2007:89) berpendapat bahwa “Guru yang profesional

harus mampu mewujudkannya didalam kelas agar berkarakter PAKEM

(pembelajaran, aktivitas, kreatifitas dan menyenangkan) pekerjaannya

sebagai guru”. Maka, saat mengajar siswa guru harus memahami setiap

langkah yang dilakukan, tidak hanya latihan teks karena itu hanya

mengembangkan faktor kognitif saja. Keterampilan juga sangat dibutuhkan

siswa untuk mengikuti perkembangan pembelajaran. Dengan cara ini, dalam

pembelajaran siswa tidak hanya diarahkan pada buku teks, tetapi juga pada

kegiatan yang menciptakan suasana interaktif, berpikir kritis, dan inovasi.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa guru

profesional merupakan guru yang dapat mendidik, mengajar, membimbing,

melatih, mengevaluasi peserta didik serta memiliki kemampuan yang

inovatif dalam menyampaikan bahan ajar. Dengan begitu, siswa dapat

menerima pelajaran dengan baik.

2.1.1.2 Prinsip Guru Profesional

Menurut Hata (2018:9) Ada beberapa prinsip yang harus dipegang

oleh guru yang akan menjadi guru profesional, prinsip ini ada kaitannya

dengan bidang pekerjaan tertentu yang dilakukan berdasarkan prinsip

tersebut seperti:

1. Mempunyai bakat, minat, keinginan, dan idealisme;

2. Mempunyai komitmen untuk mengembangkan mutu pendidikan,

keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;


10

3. Mempunyai kualitas akademik dan pengalaman pendidikan sesuai

dengan bidang tugas;

4. Mempunyai kemampuan yang dibutuhkan sesuai dengan bidang tugas;

5. Mempunyai rasa tanggung jawab atas pelaksanaan tugas

keprofesionalan;

6. Mempunyai peluang untuk mengembangkan keprofesionalan secara

berkontinue dengan belajar sepanjang hayat;

7. Mempunyai jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas

keprofesionalan, dan

8. Mempunyai organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur

hal-hal yang berhubungan dengan tugas keprofesionalan guru.

Guru yang memiliki profesional dalam diri nya akan mempunyai

prinsip-prinsip yang akan diterapkan didalam tugas nya sebagai profesi

guru.

2.1.1.3 Syarat Guru Profesional

Menurut Hata (2018:10) mengemukakan bahwa guru dapat

dikatakan wajib memiliki kualifikasi untuk menjadi tenaga pendidik yang

profesional, hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Mempunyai kualifikasi akademik minimal sarjana atau diploma empat

(S-1 atau D-IV) seperti tersebut dalam UU Nomor 14 Tahun 2005

tentang Guru dan Dosen pasal 82 ayat (2) yang berbunyi, guru yang

belum memiliki kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik

sebagaimana dimaksud pada Undang-Undang ini wajib memenuhi


11

kualifiksi akademik dan sertifikasi pendidik paling lama 10 (sepuluh)

tahun sejak berlakunya Undang-Undang tersebut di atas.

2. Mempunyai kemampuan dalam pedagogik, kepribadian, sosial serta

profesional, kompetensi guru sesuai dengan UU Nomor 14 Tahun 2005

pasal 10 ayat (1) meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi

kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional.

3. Mempunyai sertifikat pendidik;

4. Sehat jasmani dan rohani, dan

5. Mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan

nasional.

2.1.2 Guru Honorer

Guru adalah seseorang yang memberikan ilmu kepada siswa. Guru

honorer merupakan tenaga pendidik sementara yang tidak memiliki persyaratan

minimal untuk menjadi PNS dan dikenakan biaya sesuai dengan jam pelajaran.

Biasanya guru tersebut dibayar secara sukarela, bahkan di bawah upah

minimum resmi. Singkatnya, penampilan mereka tidak jauh berbeda dengan

guru tetap, bahkan memakai seragam PNS seperti guru tetap. Mulyasa (2013)

mengemukakan bahwa “Guru Honorer adalah guru yang diangkat secara resmi

oleh pemerintah untuk mengatasi kekurangan guru, namun belum berstatus

sebagai pegawai negeri sipil”.

Guru honorer atau guru sementara adalah guru yang telah ditunjuk untuk

menyelenggarakan lembaga pendidikan teknis, profesional, dan administrasi

dalam jangka waktu tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan dan


12

kemampuan sekolah. Istilah guru tidak tetap (GTT) bersifat formal dan

merupakan pilihan standar administrasi untuk disebutkan di sekolah umum.

Istilah GTT biasanya muncul dalam surat resmi, tugas, dan berbagai surat resmi

sekolah negeri lainnya. Istilah informal lain yang digunakan adalah guru

honorer.

Dari beberapa pengertian menurut ahli di atas dapat disimpulkan bahwa

guru honorer merupakan tenaga pendidik yang mempunyai tugas mengajar, dan

statusnya di lembaga pendidikan merupakan kontrak. Kepala sekolah

menyetujui pemilihannya sebagai guru dan menerima kompensasi dari

anggaran sekolah. Setiap memasuki tahun ajaran baru, guru honorer akan

mendapatkan surat tugas atau pembagian tugas guru sebagai acuan untuk

melaksanakan tugas guru honorer.

2.1.3 Kompetensi Guru

2.1.3.1 Pengertian kompetensi

Kompetensi adalah sesuatu yang harus dimiliki guru. Bagi guru

kompetensi mengacu pada kinerja negara dan memenuhi norma-norma

tertentu dalam melaksanakan tugas guru sebagai pendidik. Kompetensi

pendidikan digunakan dalam dua hal, yaitu sebagai penanda kemampuan

menunjuk pada perilaku yang dapat diamati (kinerja), serta konsep-konsep

yang meliputi kognitif, emosional, dan kinerja serta tahapan

pelaksanaannya secara keseluruhan. Seperti dikemukakan oleh Kunandar

(2011:52) bahwa “Kompetensi memiliki arti sebagai pengetahuan,

keterampilan, serta kemampuan yang dikuasai yang didapat dalam jiwanya


13

sehingga dapat mencerminkan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor

dengan baik dan benar”. Kompetensi dapat dimaksud sebagai gambaran

kepribadian yang berkaitan dengan profesi. Oleh karena itu istilah

kompetensi tidak lepas dari pengertian profesionalisme.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005

pasal 1 ayat 10 tentang guru dan dosen bahwa,

kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan


perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau
dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah

merumuskan empat jenis kompetensi guru, sebagaimana tercantum dalam

Penjelasan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar

Nasional Pendidikan pasal 28 ayat 3, yaitu kompetensi pedagogik,

kepribadian, profesional dan sosial.

Dari beberapa defenisi yang dipaparkan diatas dapat di tarik sebuah

kesimpulan bahwa kompetensi adalah seperangkat kemampuan yang terdiri

atas pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki dan

dikuasai oleh seorang tenaga pendidik dalam melaksanakan tugas

keprofesionalannya guna mencapai tujuan yang diinginkan.

2.1.3.2 Empat Kompetensi Guru

1. Kompetensi Pedagogis

Kompetensi pedagogik merupakan keterampilan yang dimiliki oleh

seorang tenaga pendidik dalam mengelola proses belajar peserta didik yang
14

melingkupi pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan

pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan peningkatan siswa untuk

mengaktualisasi berbagai potensi yang dimilikinya (Fauzi, 2017:145).

Sedangkan menurut Syaiful Sagala (2009: 158-159) mengemukakan bahwa

“kompetensi pedagogis merupakan keterampilan yang dimiliki guru untuk

mewujudkan suasana serta proses belajar menjadi beraneka ragam dalam

pengelolaan peserta didik yang memenuhi kurikulum yang disiapkan”.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kompetensi pedagogis guru adalah

keterampilan seorang guru dalam mengelola pembelajaran dan peserta

didik.

2. Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional guru memiliki arti sebagai kemampuan

dalam meguasai suatu tugas (mengajar dan mendidik), keterampilan, sikap,

dan apresiasi yang dibutuhkan guna mendorong keberhasilan terhadap

proses belajar yang dilaksanakan. Dengan demikian, kompetensi

professional yang dipunyai oleh setiap pendidik akan memperlihatkan

kualitas guru yang sebenarnya. Kompetensi tersebut akan menciptakan

sikap profesional dalam mengemban tugas dan fungsi sebagai guru.

Menurut Wahyudi (2012:24) “guru profesional merupakan guru yang

memiliki kemampuan mengelola dirinya sendiri saat melaksanakan

tugasnya sehari-hari. Profesionalisme yang diartikan oleh mereka yaitu

suatu proses yang berawal dari ketidaktahuan menjadi tahu, dari

ketidaksiapan menjadi siap”. Sedangkan menurut Suyanto & Djihad

(2012:43) bahwa “kompetensi profesional guru adalah kemampuan yang


15

mempunyai pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diembannya,

memilih dan memanfaatkan berbagai metode mengajar di dalam proses

pembelajaran yang dilaksanakan.”

Dari pengertian yang telah di papar dapat ditarik simpulan bahwa

kompetensi guru adalah kemampuaan guru dalam menguasai materi

pelajaran secara khusus serta pengetahuan yang luas dari bidang studi yang

diembannya, juga memilih berbagai strategi mengajar di dalam proses

pembelajaran.

3. Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan yang memiliki

hubungan dengan perilaku pribadi guru tersebut yang kelak harus

mempuyai nilai-nilai luhur sehingga terwujudkan dalam perilaku sehari-hari

(Roqib & Nurfuadi 2011:112), sedangkan menurut Uno (2008:68)

kompetensi kepribadiaan adalah sikap kepribadian yang memiliki kualitas

sehingga mampu menjadi sumber intensifikasi bagi subyek.

Dapat disimpulkan bahwa kompetensi kepribadian merupakan

perangai ataupun tingkah laku yang baik, diteladani dan dijadikan cerminan

untuk peserta didik, mampu meningkatkan keterampilan dalam diri, serta

yang paling utama bagi seorang guru yang berkepribadian yaitu bertaqwa

kepada Tuhan Yang Maha Esa, mematuhi norma agama, hukum dan sosial

yang berlaku.

4. Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial merupakan sebuah keterampilan yang dimiliki

oleh seorang pendidik dalam bersosialisai seperti interaksi dengan siswa,


16

orang tua siswa, rekan sejawat bahkan lingkungan masyarakatnya baik

secara langsung atau tidak langsung (Rofa’ah 2016:7). Kompetensi sosial

merupakan kompetensi yang bersifat sosial terhadap khalayak umum baik

dengan usia muda sampai usia tua. Kompetensi sosial guru yang

tergambarkan dari keuletannya dalam membimbing dan mendidik para

murid, pembelajaran masyarakat melalui hubungan atau komunikasi

langsung dan menuangkan juga mengambarkan pemikiran dan idenya

adalah kemampuan yang sangat diperlukan untuk menyusun dan

meningkatkan pembelajaran inovatif dan kreatif di kelas.

Kunandar (2007:56) mengemukakan bahwa “kompetensi Sosial

adalah kemampuan guru dalam melakukan interaksi secara efektif dengan

siswa, sesama guru, tenaga kependidikan, orangtua/wali siswa, dan

masyarakat.”

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, maka kompetensi sosial

merupakan kompetensi yang tertanam dalam jiwa seorang pendidik dalam

proses belajar mengajar dengan cara berinteraksi secara langsung terhadap

peserta didiknya. Interaksi yang muncul dalam kompetensi sosial terdiri dari

bagaimana seorang pendidik berkomunikasi dan berinteraksi langsung,

sehingga peserta didik merasa memiliki kedekatan dengan gurunya.

2.1.4 Pengertian Kompetensi Pedagogis

Kompetensi guru adalah cerminan tentang keterampilan seorang

guru yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan perilaku guru harus

dikuasai agar dapat menjalankan tugas secara profesional. Dalam


17

menjalankan tugas sebagai pendidik, ada empat kompetensi yang harus

dikuasia oleh seorang pendidik yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi

profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Salah satunya

ialah kompetensi pedagogik harus dimiliki guru. Kompetensi pedagogis

menurut Mulyasa (2008:75) adalah “kemampuan mengatur proses

pembelajaran siswa yang mencakup pemahaman terhadap peserta didik,

perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan

peningkatan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang

dimilikinya”.

Dalam Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2008 tentang guru pasal

3 ayat 4 bahwa kompetensi pedagogik merupakan keterampilan dalam

mengelola proses pembelajaran siswa yang sekurang-kurangnya

mencakup hal-hal sebagai berikut:

1. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;


2. pemahaman terhadap peserta didik;
3. pengembangan kurikulum atau silabus;
4. perancangan pembelajaran;
5. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;
6. pemanfaatan teknologi pembelajaran;
7. evaluasi hasil belajar; dan
8. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimilikinya.

Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan

bahwa kompetensi pedagogik merupakan keterampilan yang harus dikuasai

guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran, secara umum meliputi

pemahaman terhadap peserta didik, membuat perencanaan dan pelaksanaan

pembelajaran, melakukan evaluasi hasil belajar, serta mengembangkan dan

mengaktualisasikan potensi yang dimiliki oleh peserta didik tersebut.


18

Secara umum tugas guru dalam kegiatan pembelajaran tidak akan

jauh dari membuat perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan

pembelajaran, hingga melakukan evaluasi pembelajaran.

Demikianlah seperti yang telah peneliti uraikan sebelumnya, bahwa

dalam penelitian ini kegiatan kompetensi pedagogis yang akan menjadi

fokus peneliti yaitu: (1) Perencanaan Pembelajaran, (2) Pelaksanaan

Pembelajaran, dan (3) Penilaian dan evaluasi Pembelajaran. Berikut

penjelasan masing-masing dari kegiatan tersebut

1. Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan memuat kata “rencana” yang berartikan pengambilan

keputusan guna mencapai suatu tujuan. Perencanaan menurut Hadari Nawai

dalam Abdul (2007:16) ia mengatakan bahwa perencanaan adalah

menyusun langkah-langkah penyelesaian terhadap satu masalah atau

pelaksanaan suatu pekerjaan yang merujuk pada ketercapaian tertentu.

Menurut George R. Terry dalam Wahyudin (2017:186) menyatakan bahwa

perencanaan adalah penetapan kegiatan yang harus dilakukan kelompok

untuk mencapai tujuan tertentu. Dari beberapa pendapat diatas dapat

disimpulkan bahwa perencanaan adalah sebuah pengambilan keputusan

mengenai langkah apa saja yang akan dilaksanakam pada suatu kebijakan

atau kegiatan guna mencapai tujuan yang diinginkan.

Sedangkan pengertian perencanaan pembelajaran menurut Sanjaya

dalam B. Uno (2016:186) merupakan proses pengambilan keputusan secara

rasional mengenai tujuan proses pembelajaran tertentu dengan

mengunakana segala kemampuan dan sumber belajar yang ada. Menurut


19

Soekamto dalam B. Uno (2016:186-187), ia mengatakan bahwa

perencanaan pembelajaran adalah satu proses untuk memilih model

pembelajaran manakah yang lebih efektif digunakan untuk menghasilkan

perubahan yang diinginkan pada pengetahuan dan tingkah laku serta

kemampuan siswa dengan materi serta karakteristik siswa tertentu.

Dari beberapa pendapat diatas didapatkan sebuah kesimpulan bahwa

perencanaan pembelajaran adalah langkah awal yang disusun oleh seorang

guru dalam memilih metode yang tepat untuk mengatur fasilitas serta

sumber belajar agar dapat digunakan, sehingga mampu mencapai tujuan

yang diharapkan.

Perencanaan pembelajaran pada hakikatnya adalah proses

menafsirkan kurikulum yang berlaku menjadi sebuah program proses

pembelajaran. Menurut Sanjaya (2015:49) ada beberapa program yang

harus dirancang oleh guru sebagai proses penafsiran kurikulum, yaitu: 1)

Menetapkan alokasi waktu dan kalender akademis. 2) Melakukan persiapan

program tahunan. 3) Merencanakan program semester. 4) Silabus. 5)

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Setelah menentukan alokasi waktu dan kalender akademis, rencana

program tahunan, rencana program semester, dan silabus tentu saja sebelum

melaksanakan proses pembelajaran, langkah selanjutnya yang akan

dilakukan guru adalah menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Menurut Sanjaya (2015:59) Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan

program yang disusun sebagai petunjuk dalam melaksanakan proses belajar


20

mengajar pada setiap proses pembelajaran. Menurut Imas Kurniasih

(2016:81) dalam bukunya ia menyatakan bahwa, komponen RPP

yaitu:

Identitas sekolah, identitas mata pelajaran, kelas/semester, materi


pokok, alokasi waktu, tujuan pembelajaran, kompetensi inti,
kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, materi
pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, penilaian (pembelajaran
remidial dan pengayaan), metode pembelajaran, media pembelajaran,
dan sumber pembelajaran.

Sedangkan menurut Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang

Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah Bab III Perencanaan

Pembelajaran, komponen RPP diantaranya:

Identitas sekolah, identitas nama pelajaran atau tema/subtema,


kelas/semester, materi pokok, alokasi waktu, tujuan pembelajaran,
kompetensi inti dan kompetensi dasar, materi pembelajaran, metode
pembelajaran, media pembelajaran, sumber belajar, langkah-langkah
pembelajaran, dan penilaian hasil belajar.

Sedangkan pada masa pandemi saat ini rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP) untuk sementara waktu mengalami penyederhanaan

sesuai dengan Permendikbud No. 14 Tahun 2019 Tentang Penyederhanaan

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pada poin ke 3, menyatakan bahwa:

Bahwa dari 13 (tiga belas) komponen RPP yang telah diatur dalam
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016
tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, yang menjadi
kompetensi inti adalah tujuan pembelajaran, langkah-langkah (kegiatan)
pembelajaran, dan penilaian pembelajaran (assessment) yang wajib
dilaksanakan oleh guru, sedangkan komponen lainnya bersifat
pelengkap.

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa komponen dalam

menyusun RPP pada Permendikbud No. 22 Tahun 2016 terdiri dari 13

komponen secara utuh dan lengkap, sedangkan pada masa pandemi Covid-
21

19 ini penyusunan RPP disederhanakan sesuai dengan Permendikbud No.

14 Tahun 2019 yang hanya mewajibkan 3 komponen saja untuk dijadikan

komponen inti dalam menyusun RPP yaitu, tujuan pembelajaran, langkah-

langkah pembelajaran, dan penilaian pembelajaran.

2. Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan merupakan suatu usaha guna melaksanakan apa yang

telah dipersiapkan sebelumnya melalui pengarahan dan permotivasian agar

kegiatan dapat bejalan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Menurut

George R. Terry dalam Lisa (2018:7), ia menjelaskan bahwa pelaksanaan

adalah sebuah upaya dalam mendorong anggota kelompok sedemikian rupa

hingga mereka memilki niat dan berusaha untuk mencapai tujuan

perusahaan dan tujuan dari anggota.

Menurut Westra dalam Hertenti (2019:306), ia menjelaskan bahwa

pelaksanaan merupakan bentuk upaya yang dilakukan guna menjalankan

semua perencanaan dan kebijakan yang telah disusun dan ditetapkan dengan

melengkapi segala kebutuhan dan alat-alat yang diperlukan, siapa yang akan

menjalankan, dimana tempat pelaksanaannya dan kapan waktu dimulainya.

Dari beberapan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, pelaksanaan

adalah suatu upaya yang dilakukan untuk menjalankan semua rencana yang

telah dipersiapkan sebelumnya agar kegiatan dapat berjalan secara

maksimal sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.


22

Sesuai dengan Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar

Proses Pendidikan Dasar dan Menengah pada Bab IV tentang Pelaksanaan

Pembelajaran, komponen dalam implementasi RPP adalah:

Pertama, kegiatan pendahuluan. Dalam kegiatan pendahuluan guru


wajib menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk
mengikuti proses pembelajaran, memberikan motivasi belajar kepada
peserta didik secara kontekstual sesuai manfaat dan materi ajar dalam
kehidupan sehari-hari, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
mengaitkan pengetahuan sebelumnya denga materi yang akan
dipelajari, menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, dan
menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai
silabus. Kedua, kegiatan inti. Pada kegiatan inti menggunakan model
pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan
sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik
dan mata pelajaran. Ketiga, kegiatan penutup. Pada kegiatan penutup
guru bersama peserta didik baik secara individu maupun kelompok
melakukan refleksi untuk mengevaluasi seluruh rangkaian aktivitas
pembelajaran dan hasil-hasil yang diperoleh untuk selanjutnya secara
bersama hasil pembelajaran yang telah berlangsung, memberikan
umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, melakukan
kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pemberian tugas, dan
menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan
berikutnya.

Menurut Mulyasa (2007: 102), kegagalan yang terjadi dalam

melaksanakam proses belajar sebagaian besar penyebabnya karena

penggunaan model belajar konvesional, tanpa dialog, proses penjinakan,

pewarisan pengetahuan, dan tidak adanya sumber pada realitas masyarakat.

Selanjutnya, Masykur Arif Rahman (2012: 54) berpendapat bahwa pendidik

yang melakukan proses belajar mengajar dengan terus-menerus

menggunakan model konvesional akan menyebabkan peserta didik merasa

jenuh dan bosan. Maka dari itu, seorang pendidik bukan hanya perlu

mempunyai kemampuan dalam menyampaikan materi yang diajarkan saja.

Tetapi, perlu juga menguasai beberapa model pembelajaran yang akan


23

diimplementasikan di kelas, hal tersebut diterapkan agar proses belajar

mengajar tidak membosankan dan bervariasi.

Menurut Masykur Arif Rahman (2012: 55-61), ketercapaian seorang

pendidik dalam proses mengajar bergantung pada kualitas kemampuan

dalam menggunakan metode pembelajaran. Sehingga bukan bergantung

pada model pembelajarannya, karena setiap metode memiliki nilai baik dan

buruk terhadap proses pembelajaran itu sendiri. Walaupun demikian,

metode apapun yang akan digunakan , jika seorang pendidik tidak

mempunyai keahlian dalam menggunakan metode pembelajaran maka tidak

akan menghasilkan hasil belajar yang maksimal. Terutama metode yang

digunakan selalu sama setiap pertemuan. Metode tidak hanya digunakan

dalam proses belajar mengajar saja, tetapi harus dilakukan dengan inovatif

dan kreatif.

Pelaksanaan pembelajaran adalah bentuk implementasi dari RPP.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran

dapat dilaksanakan oleh pendidik dengan proses belajar yang lebih

cenderung ke siswa sehingga siswa menjadi aktif, pendidik juga harus dapat

menguasai berbagai metode pembelajaran sehingga siswa tidak akan merasa

bosan serta dpat memanfaatkan beberapa media pembelajaran guna

mendukung proses belajar.

3. Penilaian dan Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi adalah suatu kegiatan menilai yang dilakukan secara

sistematik dan terencana untuk mendapatkan informasi guna pengambilan


24

keputusan. Menurut M. Chabib Thoha dalam Idrus (2019:922), ia

menjelaskan bahwa evaluasi adalah aktivitas yang sudah direncanakan

untuk mengetahui keadaan objek dengan memanfaatkan perangkat

pembelajaran dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk

memperoleh kesimpulan. Menurut Tague Sutclife dalam Lisa (2018:8), ia

mengatakan bahwa evaluasi adalah tidak hanya kegiatan langsung dan

kebetulan namun merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara teratur,

terencana, serta terarah berdasarkan turunan yang jelas.

Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa,

evaluasi adalah suatu kegiatan menilai yang dilakukan secara sistematis

yang telah terencana untuk memperoleh sebuah keputusan. Sedangakan

definisi evaluasi pembelajaran adalah proses untuk memutuskan nilai proses

belajar mengajar yang dilakukan dengan kegiatan penilaian atau

pengukuran belajar dan pembelajaran. Guru melakukan evaluasi atas

efektivitas proses dan hasil penilaian, serta evaluasi untuk merancang

program remedial dan pengayaan.

Evaluasi hasil belajar yang digunakan dalam pembelajaran tematik

adalah dengan menggunakan penilaian autentik (authentic assessment).

Assessment merupakan sinonim kata dari penilaian, pengukuran, pengujian,

atau evaluasi. Autentik merupakan sinonim dari asli, nyata, valid atau

reliabel. Berdasarkan uraian di atas, penilaian autentik adalah penilaian

secara signifikan atas hasil akhir peserta didik untuk ranah afektif, motorik

hingga kognitif.
25

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi

pembelajaran adalah suatu kegiatan akhir untuk kegiatan penilaian yang

dilakukan oleh seorang guru guna memperoleh sebuah

keputusan/kesimpulan yang dilakukan secara teratur dan terencana untuk

mencapai tujuan yang diinginkan.

2.1 Penelitian Relevan

Hasil Penelitian yang dilakukan oleh saudara Fida, tahun 2011

berkaitan dengan “Kompetensi Pedagogik Guru Madrasah Ibtidaiyah Pasca

Lulus Sertifikasi Guru (Studi pada Guru Rumpun Mata Pelajaran

Pendidikan Agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah se-Kecamatan Jekulo

Kudus)”. Hasil yang diperoleh peneliti menunjukkan bahwa guru

bersertifikat tidak dapat menguasai delapan komponen kemampuan

Pedagogis. Jumlah guru bersertifikat 14, 6 guru kategori sangat baik dan 8

guru kategori cukup membuktikan hal tersebut.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Susanto pada tahun 2014

berjudul “Studi Deskriptif Kompetensi Pedagogik Guru Pada Pembelajaran

Pkn Di Kelas Tinggi SD Negeri 52 Kota Bengkulu”. Hasil yang diperoleh

peneliti menunjukan bahwa kemampuan mengajar meliputi persiapan

pembelajaran. merencanakan, melaksanakan pembelajaran, menganalisis

karakteristik peserta didik dengan baik.

Sedangkan dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Zulhandayani, Mahmud HR, Bukhari, Volume 2 Nomor 1, Februari 2017


26

dengan judul Deskripsi Kompetensi Pedagogik Guru Di Sd Negeri 40

Banda Aceh hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa semua guru kelas

SD Negeri 40 Banda Aceh telah diakui kemampuan mengajar guru. Guru

kelas kompeten dalam aspek-aspek berikut: manajemen pembelajaran,

pemahaman siswa, prinsip-prinsip pengembangan kurikulum (termasuk

metode pembelajaran, strategi, metode, dan teknik), desain pembelajaran,

pelaksanaan pembelajaran pendidikan dan dialog, penggunaan teknologi

pembelajaran, evaluasi hasil belajar, mengembangkan potensi siswa.

Penelitian saudara Rahmat, tahun 2012 yang berjudul Kompetensi

Pedagogik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas III MI Ma’arif

Ngablak II, Srumbung, Magelang. Hasil dari peneliti menunjukan bahwa

kompetensi pedagogik dalam pembelajaran bahasa Indonesia kelas III MI

Ma’arif Ngablak II Srumbung Magelang adalah cukup baik.

2.2 Kerangka Konseptual

Sebagai unsur dasar lembaga pendidikan, guru diharapkan memiliki

kemampuan beradaptasi dengan bidang pengajarannya sebagai guru. Hal ini

setidaknya berdampak pada sulitnya mentransfer ilmu kepada siswa yang

menunjukkan kegembiraan dan rasa ingin tahu dalam belajar. Oleh karena

itu, secara internal, kesempatan belajar siswa memotivasi minat belajarnya

dan senantiasa melatih diri untuk memecahkan masalah.

Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen dalam

pasal 1 ayat 1 menjelaskan pengertian guru sebagai “pendidik profesional


27

dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,

melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia

didik jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah”.

Guru wajib terus mengembangkan kemampuannya. Guru

membutuhkan standar kompetensi untuk mendukung proses pembelajaran.

Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen mengemukakan

kompetensi pedagogik adalah “Kemampuan mengelola pembelajaran

peserta didik”.

Untuk menjadi seorang guru yang profesional harus memiliki

beberapa kompetensi. Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no.16

tahun 2007, “kompetensi guru terdiri dari kompetensi pedagogis,

kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional”.

Tentunya keterampilan guru dalam pelaksanaan pembelajaran

sangat penting, karena guru adalah sosok penting yang dapat ditinjau

langsung dalam proses belajar di kelas. Guru akan bersosialisasi langsung

dengan siswa. Maka dari itu, guru harus mempunyai bakat yang baik untuk

mengembangkan mutu pendidikan dengan baik.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka kerangka konseptual dalam

penelitian ini mengenai kompetensi pedagogis guru SDN Kecamatan

Medan Polonia Maimun:


28

Profesionalisme Guru

Guru PNS sertifikasi Guru Honorer

Kompetensi Guru

Kompetensi Pedagogis

(1) Merencanakan Pembelajaran


(2) Melaksanaka Pembelajaran
(3) Penilaian Pembelajaran

Pendekatan: Pengumpulan Data: Analisis Data: Pengumpulan


Deskriptif kualitatif Observasi, wawancara, data, reduksi data, penyajian
dan dokumentasi Sumber data dan penarikan
data: Guru kelas SDN kesimpulan/verifikasi (Model
Kecamatan Medan Miles dan Huberman)
Polonia Maimun

Deskripsi mengenai kompetensi pedagogis guru di SDN Kecamatan Medan Polonia Maimun

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

penelitian kualitatif deskriptif, yaitu dengan mendeskripsikan kondisi suatu

fenomena serta memecahkan masalah yang sedang terjadi, Noor (2011:34-

35), menjelaskan bahwa, “penelitian deskriptif merupakan penelitian yang

berupaya menggambarkan suatu gejala, fenomena, kejadian yang terjadi

saat sekarang.”

Penelitian mengutamakan pada analisis proses berpikir induktif

yang berkaitan dengan dinamika hubungan antar fenomena yang diamati,

dan selalu menggunakan logika ilmiah. Penelitian kualitatif bersifat

deskriptif analitik. Data yang dikumpulkan peneliti di lokasi penelitian,

seperti hasil observasi, hasil wawancara, dan dokumentasi.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN Kecamatan Medan Polonia

Maimun, yaitu sekolah UPT SDN 064961, UPT SDN 064027, UPT SDN

060899 dan UPT SDN 060788.

29
30

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap di bulan Maret-

April tahun ajaran 2020-2021.

3.3 Subjek dan Objek Penelitian

3.3.1 Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah guru kelas II-VI di SDN Kecamatan

Medan Polonia Maimun TA 2020/2021 dimana guru bersertifikasi

berjumlah 4 orang dan guru honorer berjumlah 4 orang.

3.3.2 Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah kompetensi guru yang telah

bersertifikasi dan guru honorer. Adapun kompetensi yang diteliti yaitu

kompetensi pedagogis yang mencakup perencanaan pembelajaran,

pelaksanaan pembelajaran serta penilaian dan evaluasi pembelajaran.

3.4 Prosedur dan Rancangan Penelitian

3.4.1 Tahap pra lapangan

Peneliti melakukan penyelidikan awal dengan mencari objek

sebagai sumber. Selama penyelidikan, peneliti melakukan penelitian

lapangan tentang latar belakang penelitian untuk mendapatkan informasi

tentang kompetensi pedagogis. Peneliti juga melakukan konfirmasi ilmiah

melalui penelusuran literatur dan referensi pendukung penelitian. Pada


31

tahap ini peneliti melakukan desain penelitian yang meliputi gambaran

metode penelitian yang digunakan dalam penelitian. Tahap pra lapangan

dilakukan oleh para peneliti dari November hingga Desember 2020.

3.4.2 Tahap pekerjaan lapangan

Penelitian ini melaksanakan penelitian mulai dari memasuki dan

memahami latar penelitian guna pengumpulan data. Tahap ini dilaksanakan

selama bulan Januari - Maret 2021

3.4.3 Tahap analisis data

Tahap penelitian berikutnya merupakan kegiatan proses

menganalisis data. Pada tahap ini peneliti melakukan beberapa proses

analisis data kualitatif untuk menafsirkan data yang diperoleh

sebelumnya. Selain itu, peneliti juga melaksanakan triangulasi data dan

membandingkannya dengan kajian teori. Tahap analisis data akan

dilakukan mulai Maret hingga April 2021

3.5 Instrumen dan Teknik Pengumpulan data

3.5.1 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk

mengumpulkan data penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan

untuk penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Maka dari itu,

penelitian ini dibantu dengan pedoman observasi, pedoman wawancara, dan

dokumentasi. Ketika wawancara akan membantu peneliti memperoleh data


32

mengenai kompetensi pedagogis guru di SDN Kecamatan Polonia Maimun.

Berikut ini penjelasan dari masing-masing pedoman.

1. Pedoman Observasi

Observasi dilaksankan pada saat proses belajar berlangsung,

peneliti mengobservasi kepada guru pns yang sudah bersertifikat

pendidik dan guru honorer yang belum bersertifikat pendidik

yang berjumlah 8 orang.

No Indikator Jumlah Item Nomor item

1 Perencanaan Pembelajaran 3 1,2,3

2 Pelaksanaan Pembelajaran 3 4,5,6,

3 Penilaian Pembelajaran 1 7

Tabel 3.1 Kisi-kisi instrument penelitian pedoman observasi

2. Pedoman Wawancara

Wawancara digunakan untuk memperoleh data tentang

kompetensi pedagogis guru pns bersertifikat pendidik dan guru

honorer yang belum bersertifikat pendidik. Wawancara ini

dilakukan untuk guru, kepala sekolah, dan peserta didik. Berikut

ini kisi-kisi instrument wawancara yang digunakan oleh peneliti

untuk memperoleh data penelitian.

No Indikator Jumlah Item Nomor Item

1 Perencanaan Pembelajaran 2 1 dan 2

2 Pelaksanaan Pembelajaran 5 3,4,5,6,9

3 Penilaian Pembelajaran 2 7 dan 8

Tabel 3.2 Kisi-kisi instrument penelitian pedoman wawancara guru


33

No Indikator Jumlah Item Nomor Item

1 Perencanaan Pembelajaran 1 5

2 Pelaksanaan Pembelajaran 4 1,2,3,4

3 Penilaian Pembelajaran 1 6

Tabel 3.3 Kisi-kisi instrument penelitian pedoman wawancara kepala

sekolah

No Indikator Jumlah Item Nomor Item

1 Pelaksanaan Pembelajaran 5 1,2,3,4 dan 5

2 Penilaian Pembelajaran 1 6

Tabel 3.4 Kisi-kisi instrument penelitian pedoman wawancara peserta

didik

3. Pedoman Dokumentasi

Instrumen lain dalam penelitian ini adalah dokumentasi sebagai

pelengkap data yang diperoleh peneliti melalui observasi dan

wawancara. Selain itu dokumentasi dilakukan ketika

mengambil gambar pada saat pelaksanaan pengambilan data,

juga untuk hal-hal yang diperlukan.

3.5.2 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini jenis data yang diperoleh adalah data kualitatif.

Sehubungan dengan penelitian lapangan, untuk memperoleh data yang

diharapkan maka perlu datang langsung ke lokasi penelitian melalui


34

penelitian kepustakaan, observasi, dan wawancara. Pada saat yang sama,

guna memperkuat teori penggunaan, peneliti melengkapi perpustakaan

penelitian (library research). Alat utama yang digunakan peneliti sebagai

bahan penelitian di SDN Kecamatan Medan Polonia Maimun sebagai

berikut:

1. Observasi

Observasi berasal dari bahasa latin yang artinya

memperhatikan dan mengikuti. Memperhatikan dan mengikuti

dalam arti mengamati perilaku sasaran yang diharapkan secara

cermat dan sistematis. Menurut Nasution (2011:106-107),

“Observasi adalah untuk mendapatkan informasi tentang perilaku

manusia yang terjadi dalam kenyataan. Melalui observasi akan

diperoleh deskripsi yang lebih jelas tentang kehidupan sosial yang

sulit diperoleh dengan cara lain. Menurut Sukmadinata (2010: 220),

“observasi atau observasi adalah suatu teknik atau metode

pengumpulan data dengan mengamati suatu kegiatan yang sedang

berlangsung”.

Pada tahap ini peneliti mengamati situasi pembelajaran di

dalam kelas untuk mengamati secara langsung kegiatan mengajar

yang dilakukan oleh guru kelas bersertifikat dan guru honorer.

Pengamatan ini didasarkan pada pengetahuan guru. Pengamatan ini

dimaksudkan untuk memperoleh data tentang pelaksanaan

pembelajaran di SDN Kecamatan Medan Polonia Maimun yang

menunjukkan kompetensi pedagogis guru.


35

2. Wawancara

Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini merupakan

wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur ini

termasuk dalam kategori wawancara mendalam. Oleh karena itu,

dalam melakukan wawancara menurut (Sugiyono, 2012:320),

disarankan bahwa “pedoman wawancara untuk meminta informan

lebih leluasa untuk dilaksanakan daripada wawancara terstruktur”.

Dikatakan relatif gratis, karena selain pedoman wawancara, peneliti

juga bisa mengajukan pertanyaan sesuai kebutuhan. Dalam

melakukan proses ini peneliti menyiapkan sebuah pedoman

wawancara, namun peneliti juga lebih terbuka dan mencatat

perkataan informan. Orang yang diwawancarai dalam wawancara ini

adalah seorang guru pns sertifikasi dan guru honorer di UPT SDN

064961, UPT SDN 064027, UPT SDN 060899, UPT SDN 060788,

Kepala sekolah dan peserta didik di Kecamatan Medan Polonia

Maimun. Data yang diperoleh dari hasil wawancara yaitu

perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran serta

penilaian dan evaluasi.

5. Dokumentasi

Untuk mendukung data yang diperoleh, pengumpulan data

dilakukan juga dengan metode pencatatan. Melalui catatan, peneliti

dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber tertulis atau

dokumen yang diperoleh penyidik.


36

Menurut Arikunto (2006: 158), “Metode pencatatan adalah

mempelajari sesuatu objek tertulis, seperti buku, majalah, dokumen,

peraturan, risalah rapat, catatan harian, dll”. Format dokumen yang

digunakan dalam penelitian ini adalah kegiatan-kegiatan peneliti

selama penelitian berlangsung.

3.6 Teknik Analisis Data

Kemudian langkah berikutnya adalah melakukan analisis data.

Analisis data adalah pengelolaan data yang dikumpulkan dengan harapan

memperoleh gambaran yang akurat dan spesifik dari topik penelitian.

Menurut Bogdan & Biklen dalam Moleong (2012:280) menyatakan analisis

data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan

data, menyusun data, memilihnya menjadi satuan yang dapat dikelola,

mensintesiskannya, mengidentifikasi dan menemukan pola, menemukan

apa yang penting, dan menentukan apa yang dapat diceritakan kepada orang

lain.

Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode

analisis di bidang Model Miles dan Huberman dalam (Sugiyono, 2011:246)

meyakini bahwa “kegiatan analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif

dan terus menerus hingga tuntas, sehingga menjenuhkan data”. Kegiatan

yang dilakukan dalam analisis data adalah klasifikasi data, representasi data

dan verifikasi data. Mengumpulkan data untuk dianalisis sebelumnya

(pengumpulan data) Data yang dikumpulkan adalah data hasil observasi,


37

wawancara dan dokumentasi guru PNS bersertifikat dan guru honorer

belum bersertifikat di UPT SDN 064961, UPT SDN 064027, UPT SDN

060899, UPT SDN 060788, Kepala sekolah dan Peserta didik di Kecamatan

Medan Polonia Maimun.

Menurut Miles and Huberman ada tiga jenis kegiatan dalam analisis

data kualitatif yaitu, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi/penarikan

kesimpulan. Langkah-langkah analisis data ditunjukkan sebagai berikut.

Pengumpulan data Penyajian data

Reduksi data Verifikasi/


Penarikan
Kesimpulan

Gambar 3.1 Model Analisis Data Interaktif Miles dan Huberman

1. Reduksi Data

Reduksi data diartikan sebagai seleksi, dengan fokus pada

proses penyederhanaan, abstrak, dan transformasi data asli yang

dihasilkan dari catatan tertulis di tempat. Dalam proyek kualitatif

berorientasi penelitian, data terus berkurang.

Reduksi data adalah bagian dari analisis. Reduksi data adalah

bentuk proses menganalisis yang dapat memperkuat,

menggolongkan, membimbing, menghapus informasi yang tidak

perlu dan mengatur data sedemikian rupa sehingga kesimpulan

akhir dapat ditarik dan diverifikasi.


38

2. Penyajian Data

Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah

menampilkan data tersebut. Sugiyono (2013:249) mengatakan

dalam penelitian kualitatif, data dapat direpresentasikan dalam

bentuk uraian singkat, diagram, hubungan antar kategori, dan

diagram alir. Arahkan tampilan data maka data yang diperoleh

setelah reduksi dapat diatur dan diatur dalam mode relasional agar

mudah dipahami. Penelitian ini menggunakan representasi data

dengan teks naratif. Data yang diberikan dalam penelitian ini

adalah ringkasan deskriptif dan terartur dari hasil yang diperoleh,

sehingga tema sentral dapat dengan mudah diidentifikasi, dan

setiap ringkasan dijelaskan dengan berfokus pada penerapan

ringkasan penelitian.

3. Menarik Kesimpulan

Langkah selanjutnyadalam analisis data kualitatif menurut

Miles dan Huberman dalam (Sugiyono, 2013:252) adalah

penarikan kesimpulan atau verifikasi. Kesimpulan pada

penelitian kualitatif memungkinkan untuk mendapatkan jawaban

rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin

juga tidak, karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian

kualitatif masih bersifat tidak tetap dan akan berkembang setelah

peneliti berada di lapangan. Proses verifikasi data tidak dilakukan


39

oleh peneliti seorang diri, tetapi dibantu oleh pihak lain seperti

subjek penelitian, dan pihak yang terkait di dalam nya.

3.7 Keabsahan Penelitian

Pada hakikatnya dalam penelitian kualitatif belum ditemukan teknik

yang baku dalam menganalisa data. Maka dari itu, ketajaman melihat data

oleh peneliti serta banyaknya pengalaman dan pengetahuan harus dimiliki

oleh peneliti. Pengujian validitas data dalam penelitian kualitatif mencakup

pengujian kredibilitas. Pengujian kredibilitas data atau kredibilitas data

hasil penelitian kualitatif semuanya dilakukan melalui triangulasi data.

Triangulasi data merupakan kegiatan penyempurnaan data yang

dihasilkan dari berbagai sumber, dan proses tersebut menjadi bukti

penemuan untuk mendukung subjek, sehingga menjadikan data yang

dilaporkan akurat dan dapat diandalkan. Sejalan dengan hal tersebut,

Moleong (2010:33), triangulasi merupakan teknologi pemeriksaan

keabsahan data yang menggunakan konten selain data untuk pemeriksaan

atau perbandingan data. Pada hakikatnya triangulasi dalam pengujian

kredibilitas diartikan sebagai pemeriksaan data dari berbagai sumber

dengan banyaknya cara dan waktu. Maka dari itu, terdapat teknik pengujian

keabsahan data melalui triangulasi sumber, triangulasi teknis, dan

triangulasi waktu.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi teknik.

Menurut Sugiyono (2011:373-374) Triangulasi teknik digunakan untuk


40

menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara memeriksa data kepada

sumber data yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data

dihasilkan dengan wawancara, kemudian diperiksa dengan observasi,

dokumentasi. Jika dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut,

memperoleh data yang berbeda, maka peneliti melakukan diskusi lanjut

kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan

data mana yang dianggap benar. Atau mungkin semuanya benar, karena

sudut pandangnya berbeda-beda.


Wawancara

Sumber
Observasi
Data

Dokumentasi

Gambar 3.2 Triangulasi Teknik

Gambar di atas menunjukkan bahwa bagaimana peneliti menggali informasi

mengenai kompetensi pedagogis di SDN Kecamatan Medan Polonia

Maimun dengan teknik yaitu wawancara, kemudian kebenaran di cek

dengan teknik observasi dan teknik dokumentasi. Apabila ditemukan data

yang berbeda, maka peneliti melakukan diskusi lanjut kepada sumber data

untuk memastikan mana yang dianggap benar. Adapun sumber data pada

penelitian ini yaitu Guru PNS sertifikasi, Guru Honorer, Kepala Sekolah dan

Peserta Didik.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Pada bagian ini, peneliti memaparkan data yang diperoleh dari

hasil observasi dan wawancara yang berkaitan dengan apakah ada

perbedaan kompetensi pedagogis antara guru PNS yang sudah

bersertifikat pendidik dengan guru honorer yang belum bersertifikat

pendidik yang dilihat dari komponen-komponen kompetensi pedagogis

antara lain:

4.1.1 Perencanaan Pembelajaran

a. SDN 064961 Medan Maimun

Dalam Perencanaan, terdapat bapak Fahruraji guru PNS

bersertifikat tidak menyusun perencanaan pembelajaran yaitu tidak

menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Ketika di wawancara

peneliti, sebagaimana yang disampaikan bapak Fahruraji mengatakan

bahwa “dulu nak kami guru-guru disini menyusun RPP sama-sama tapi

karena sekarang covid ini, RPP jadinya disusun masing-masing itupun nak

didalam kelas bapak tidak menggunakan RPP kalau mengajar”. “bapak

cuma menggunakan buku paket aja di dalam kelas”.

Sedangkan dalam Perencanaan, guru honorer yaitu ibu

Umi menyusun perencanaan pembelajaran yaitu RPP. Sebagaimana yang

disampaikan ibu Umi dalam wawancara yang dilakukan oleh peneliti

bahwa “kalau ibu ya dek RPP nya ambil dari google tapi ada yang ibu

42
43

revisi lagi karena kan yang penting yang kita ajari siswa tersebut bisa

mengerti dan udah sesuai indikator kan”. Dalam perencanaan ini, ibu umi

menyusun RPP pertema dan ibu umi menggunakan RPP selama

pelaksanaan pembelajaran berlangsung.

b. SDN 060899 Medan Maimun

Dalam perencanaan, terdapat guru PNS bersertifikat

tidak menyusun perencanaan yaitu bapak Wasran tidak menyusun RPP

dalam pelaksanaan pembelajaran. ketika diwawancarai peneliti,

sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Wasran mengatakan bahwa

“untuk sekarang ini tidak pakai nak, karena kalau pakai RPP menurut

bapak ribet, lagian yang bapak ajarin masih kelas 2 yang penting apa yang

bapak sampaikan mudah-mudahan mereka mengerti”.

Sedangkan dalam perencanaan, guru honorer yaitu ibu

Puji menyusun perencanaan pembelajaran yaitu berupa RPP. Ibu Puji

menyusun sendiri dan terkadang mengambil dari internet yang

dimodifikasi lagi. Sebagaimana yang disampaikan oleh ibu puji

mengatakan bahwa “kalau ibu kadang menyusun sendiri, kadang kalau

waktu nya gak sempat ibu ambil dari internet dek. Yang ibu ambil dari

internet itu ibu ubah lagila”. Dalam perencanaan ini, ibu Puji menyusun

RPP tiap semester dengan mengikuti pedoman pemerintah.

c. SDN 060788 Medan Maimun

Dalam perencanaan, terdapat guru PNS bersertifikat

yaitu ibu Nilarti menyusun RPP sendiri dan menggunakan panduan dari

kurikulum 2013. Sebagaimana yang disampaikan oleh ibu Nilarti bahwa


44

“sendiri nak karena kan kita yang tau apa saja yang mau diajarkan sama

mereka. Ibu menyusun RPP menggunakan panduan K13”.

Sedangkan dalam perencanaan, guru honorer menyusun

perencanaan pembelajaran berupa RPP. sebagaimana yang disampaikan

oleh ibu Rika di sekolah tersebut mengatakan bahwa “sendiri dek, ibu buat

per tema”. Ibu Rika menyusun RPP sendiri dan menyusun RPP pertema

dengan melihat acuan dari google dan buku.

d. SDN 064027 Medan Polonia

Dalam perencanaan, guru PNS bersertifikat yaitu ibu

Mariani membuat perencanaan dengan menyususn rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP). Sebagaimana yang dikatakan oleh ibu Mariani dalam

wawancara bahwa “menyusun sendiri nak, dibuat sesuai panduan

kurikulum 2013”.

Sedangkan dalam perencanaan, guru honorer yaitu ibu

dewi menyusun RPP sendiri akan tetapi untuk saat ini ibu dewi hanya

menggunakan buku saja ketika pelaksanaan pembelajaran. sebagaimana

yang dikatakan oleh ibu Dewi bahwa “sendiri nak, karena kan kita yang

tau apa saja yang mau diajarkan sama mereka. Untuk saat ini ibu Cuma

pakai buku guru saja dalam mengajar karena ibu mau fokus membahas

materi yang akan diujiankan kepada peserta didik kela 6 nak”.


45

4.1.2 Pelaksanaan Pembelajaran

a. SDN 064961 Medan Maimun

Observasi dilakukan di SDN 064961 tanggal 23-24 Maret

2021 karena sekolah hanya melaksanakan pembelajaran tatap muka

seminggu sekali pada tiap-tiap kelas dengan menerapkan tempat duduk

social distancing di dalam kelas. Observasi yang dilakukan peneliti pada

guru PNS bersertifikat pendidik pada tanggal 23 maret 2021 di kelas IV.

Dalam pelaksanaan pembelajaran bapak Fahruraji hanya menggunakan

metode ceramah, selain itu bapak fahruraji sudah melakukan pembelajaran

yang berorientasi kepada peserta didik dengan menyuruh peserta didik

membaca suatu teks secara bergantian. Bapak Fahruraji tidak

menggunakan media di dalam kelas selama proses pembelajaran

berlangsung. Sebagaimana yang dijelaskan bapak Fahruraji dalam

melakukan wawancara mengenai tidak menggunakan media di dalam

kelas yaitu “Bapak emang tidak menggunakan media nak, karena masih

minimnya media yang disediakan dari sekolah”

Sedangkan observasi yang dilakukan peneliti pada guru

honorer pada tanggal 24 maret 2021 di kelas II. Dalam pelaksanaan

pembelajaran menggunakan metode tanya jawab, diskusi dan ceramah. Ibu

Umi juga menggunakan media di dalam kelas berupa gambar-gambar

mengenai pembelajaran yang diajarkan dan menampikan media berupa

powerpoint. Ibu Umi sudah melakukan pembelajaran yang berorientasi

kepada peserta didik contohnya dengan menyuruh peserta didik

menceritakan kembali teks yang sudah dibacakan secara bergantian.


46

b. SDN 060899 Medan Maimun

Observasi dilakukan di SDN 060899 pada tanggal 25 dan 27

Maret 2021. Pada tanggal 25 maret peneliti melakukan observasi pada

guru PNS bersertifikat di kelas II. Dalam pelaksanaan pembelajaran

bapak Wasran menggunakan metode ceramah, pembelajaran sudah

berorientasi kepada peserta didik dengan menyuruh peserta didik untuk

membaca sebuah teks pada buku siswa secara bergantian. Bapak Wasran

tidak terlihat menggunakan media pembelajaran. sebagaimana peneliti

juga melakukan wawancara kepada guru tersebut mengenai tidak

menggunakan media yaitu “Media ya, jarang nak bapak gunakan”.

Sedangkan pada tanggal 27 Maret 2021 peneliti melakukan

observasi pada guru honorer di kelas III. Dalam pelaksanaan

pembelajaran ibu Puji menggunakan metode ceramah, diskusi, dan tanya

jawab. Ibu Puji juga menggunakan media di dalam kelas seperti

menampilkan video mengenai pembelajaran yang diajarkan.

Dengan adanya tatap muka seminggu sekali tiap-tiap kelas,

baik bapak Wasran ataupun ibu Puji tetap menyuruh peserta didik

menggunakan masker selama proses pembelajaran berlangsung.

c. SDN 060788 Medan Maimun

Observasi dilakukan di SDN 060788 pada tanggal 26 dan 29

Maret 2021. Pada tanggal 26 maret 2021 peneliti melakukan observasi

pada guru PNS bersertifikat di kelas IV. Dalam pelaksanaan

pembelajaran Ibu Nilarti menggunakan metode tanya jawab dan


47

ceramah. Ibu Nilarti tidak menggunakan media pembelajaran, peneliti

melakukan wawancara kepada ibu nilarti untuk memperjelas mengenai

ibu nilarti tidak menggunakan media yaitu “Kalau media ibu jarang

gunakan dek, karena pun sekolah menyediakan media yang terbatas”.

Karena terbatasnya media yang disediakan di sekolah. Dan ibu Nilarti

melakukan pembelajaran yang berorientasi kepada peserta didik yaitu

membuat pertanyaan dan siswa disuruh menjawab pertanyaan dengan angkat tangan

jika peserta didik tau jawabannya

Sedangkan pada tanggal 29 maret 2021 peneliti melakukan

observasi terhadap guru honorer di kelas VI. Dalam pelaksanaan

pembelajaran ibu Rika juga menggunakan metode tanya jawab dan

diskusi. Ibu rika menggunakan media pembelajaran berupa power point

yang ditampilkan kepada peserta didik. Dan ibu rika melakukan

pembelajaran yang berorientasi kepada peserta didik contohnya dengan

membagi siswa menjadi 5 kelompok dan menyuruh siswa berdiskusi dan mengerjakan

tugas.

Dengan adanya tatap muka masing-masing kelas seminggu

sekali di SDN 060788 selalu memperhatikan protokol kesehatan kepada

peserta didik.

d. SDN 064027 Medan Polonia

Observasi dilakukan di SDN 064027 pada tanggal 28 dan 30

Maret 2021. Tanggal 28 maret 2021 peneliti melakukan observasi kepada

guru PNS bersertifikat di kelas Vc. Dalam pelaksanaan pembelajaran

ibu Mariani menggunakan metode ceramah dan diskusi. Ibu mariani


48

menggunakan media pembelajaran berupa power point yang ditampilkan

kepada peserta didik. Dan ibu mariani melakukan pembelajaran yang

berorientasi kepada peserta didik contohnya guru membuat beberapa

kelompok untuk berdiskusi.

Sedangkan pada tanggal 30 maret 2021 peneliti melakukan

observasi terhadap guru honorer di kelas VIb. Dalam pelaksanaan

pembelajaran ibu Dewi menggunakan metode tanya jawab dan diskusi.

Ibu Dewi tidak menggunakan media pembelajaran. Peneliti melakukan

wawancara terhadap guru tersebut mengenai tidak menggunakan media

pembelajaran yaitu “Media pembelajaran ya nak, jarang ibu gunakan”.

Dan ibu dewi melakukan pembelajaran yang berorientasi kepada peserta

didik contohnya guru menyuruh siswa berdiskusi mengenai operasi hitung bilangan

bulat dan menyuruh siswa untuk menjawab soal di papan tulis.

4.1.3 Penilaian dan Evaluasi Pembelajaran

a. SDN 064961 Medan Maimun

Dalam Penilaian dan Evaluasi Pembelajaran, terdapat

bapak Fahruraji Guru PNS bersertifikat melakukan evaluasi dengan

memberikan tugas kepada peserta didik untuk di rumah. Peneliti juga

melakukan wawancara mengenai evaluasi pembelajaran kepada bapak

Fahruraji, dimana bapak tersebut mengatakan “biasanya bapak mengasih

tugas ke anak-anak itu tapi dibawa pulang sebagai PR la nak soalnya

sekarang inikan gak boleh lama-lama didalam kelas”. Dan dalam penilain

kepada peserta didik bapak Fahruraji membuat penilaian melihat dari


49

tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik selain itu bapak fahruraji

juga melakukan penilaian sikap selama proses pembelajaran

berlangsung. Sebagaimana di dalam wawancara bapak Fahruraji

mengatakan “Dari tugas-tugas yang bapak berikan nak, terus penilaian

sikap mereka”.

Sedangkan penilaian dan evaluasi pembelajaran yang

dilakukan guru honorer yaitu ibu Umi melakukan evaluasi

pembelajaran dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sudah di

ajarkan kepada peserta didik di akhir pembelajaran. peneliti juga me

wawancarai guru untuk memperkuat bukti mengenai evaluasi kepada ibu

Umi. Sebagaimana dikatakan ibu Umi bahwa “Biasanya ibu suka diakhir

pembelajaran bertanya kepada anak-anak itu mengenai yang di pelajari tadi.

nanti mereka saling tunjuk tangan tu berebut untuk menjawab. Dari situ kan ibu

udah tahu untuk mengukur keberhasilan peserta didik apakah sudah

paham atau belum mengenai setiap pembelajaran yang diajarkan”.

Dalam penilaian kepada peserta didik ibu Umi melihat dari evaluasi-

evaluasi yang diberikan guru seperti pemberian tugas disekolah, dirumah

dan penilaian sikap. Sebagaimana diwawancarai peneliti ibu umi

mengemukakan bahwa “Dari evaluasi itu ibu masukan sebagai penilaian

untuk mereka. Ada juga ibu kasih mereka PR dari situ juga ibu bisa

membuat nilai untuk mereka dek. Penilaian sikap mereka juga ibu lihat

sebagai acuan membuat nilai”. Dari hal-hal tersebut ibu umi membuat

penilaian terhadap peserta didik.


50

b. SDN 060899 Medan Maimun

Dalam penilaian dan evaluasi pembelajaran, terdapat guru

PNS bersertifikat yaitu bapak Wasran melakukan evaluasi diakhir

pembelajaran dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada

peserta didik mengenai materi yang diberikan. Dalam wawancara yang

peneliti lakukan kepada bapak Wasran mengenai evaluasi beliau

mengatakan bahwa “Ya paling ngasih mereka soal la nak kadang

berupa tulisan atau lisan. Untuk mengetes apakah siswa sudah paham

atau belum dari pembelajaran yang diajarkan” bapak Wasran

memberikan evaluasi berupa tulisan ataupun lisan. Dalam penilaian

kepada peserta didik, bapak Wasran memberikan pertanyaan-

pertanyaan ketika tatap muka dan memberikan tugas-tugas juga di

group whatsapp. Sebagaimana yang diungkapkan bapak Wasran “kalau

lagi tatap muka nak bapak sering memberikan pertanyaan yang bisa

jawab yaa bapak kasih nilai kan, kalau pembelajaran daring bapak kirim

soal di group whatsapp itu. Dari situ juga bisa buat penilaian”.

Sedangkan guru honorer dalam penilaian dan evaluasi

pembelajaran, Ibu Puji melakukan evaluasi berupa soal di akhir

pembelajaran. ibu puji selalu memberikan evaluasi di dalam kelas

sebagaimana yang diungkapkan ibu Puji dalam wawancara bahwa “Iya

harus lakukan evaluasi dek, biar kita taukan apakah mereka sudah

mengerti atau belum materi yang diberikan”. Dalam melakukan

penilaian kepada peserta didik, ibu Puji memberikan tugas-tugas

kepada peserta didik sebagaimana yang diungkapkan beliau dalam


51

wawancara yang dilakukan “Kalau penilaian ya, biasanya lebih sering

mengasih soal diakhir pembelajaran dek sama siswa itu. Dari situkan

kan guru dapat mengetahui pemahaman atau pengetahuan siswa perihal

materi yang diajarkan yakan dek. Nah dari situ juga ibu buat nilai-nilai

mereka”.

c. SDN 060788 Medan Maimun

Dalam penilaian dan evaluasi pembelajaran terhadap guru

PNS bersertifikat yaitu ibu Nilarti melakukan evaluasi dengan cara

menyuruh siswa menceritakan kembali pelajaran yang telah dipelajari pada akhir

pembelajaran. peneliti juga mewawancarai ibu Nilarti mengenai evaluasi bahwa

“Diakhir pembelajaran, menyuruh siswa untuk menceritkan kembali

nak pelajaran apa yang diajarkan waktu itu supaya guru tahu siswa

sudah mengerti apa belum dari pelajaran yang dijelaskan”. Dalam

penilaian kepada peserta didik ibu Nilarti melihat dari penilaian

pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimiliki peserta didik.

Sebagaimana yang diungkapkan ibu nilarti dalam wawancara yaitu

“Kalau mau melakukan penilaian nak ibu lihat dari pengetahuan dia

terhadap materi itu, sikap nya bagaimana dikelas, keterampilan yang

dimiliki”.

Sedangkan dalam penilaian dan evaluasi yang dilakukan

guru honorer yaitu ibu Rika melakukan evaluasi dengan membagikan

selembaran soal kepada peserta didik. Sebagaimana yang diungkapkan

ibu Rika dalam wawancara yang dilakukan peneliti yaitu “ibu suka

menyiapkan pertaanyaan dikertas dek mengenai apa yang dipelajari


52

sebelumnya, nanti diakhir pembelajaran ibu kasih ke anak-anak itu

untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai materi atau belum,

jika belum akan diulang agar peserta didik paham”. Dalam penilaian

kepada peserta didik ibu Rika melihat dari pengetahuan, tugas-tugas

yang diberikan dan penilaian sikap. Ini dibuktikan peneliti dengan

melakukan wawancara terhadap ibu Rika bahwa “Dilihat dari

pengetahuan yang dimiliki nya dek, dari tugas-tugas yang ibu berikan,

terus penilaian sikap nya kan. Nanti dari situ ibu bisa membuat nilai

sesuai kemampuan mereka”.

d. SDN 064027 Medan Polonia

Dalam penilaian dan evaluasi pembelajaran, guru PNS

bersertifikat yaitu ibu Mariani melakukan evaluasi dengan tes tertulis

berbentuk essay. Selain itu peneliti juga mewawancarai ibu Mariani

untuk lebih mengetahui evaluasi apa saja yang dia lakukan kepada

peserta didik. Ibu Mariani mengatakan “Yoo paling nak tanya jawab,

memberi soal karena kan evaluasi itu penting untuk guru dan siswa”.

Dalam penilaian kepada peserta didik ibu Mariani menilai dari tugas-

tugas yang dikerjakan peserta didik selain itu sikap mereka selama

disekolah. Sebagaimana yang diungkapkan peneliti bahwa “Untuk

penilaian ini nak ibu lihat dari tugas-tugas yang mereka kumpulkan nak,

sikap mereka selama di sekolah gimana”.

Sedangkan guru honorer dalam melakukan penilaian dan

evaluasi pembelajaran, ibu Dewi memberikan soal kepada peserta

didik berbentuk pilihan berganda dan membahas nya bersama-sama.


53

Dalam wawancara yang dilakukan peneliti terhadap ibu Dewi

mengatakan bahwa “Membagikan soal kepada anak-anak itu nak,

karena kan biar kita bisa mengukur keberhasilan dari apa yang kita

ajarkan”. Dalam penilaian kepada peserta didik ibu dewi melihat dari

penilaian pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik.

Sebagaimana yang diungkapan ibu dewi dalam wawancara yang

dilakukan peneliti bahwa “Penilaian yaa, ibu nilai dari penilaian

pengetahuan mereka, penilaian sikap, sama keterampilan nya nak”.

4.2 Temuan Penelitian

Pada temuan penelitian ini membahas tentang apa yang telah

peneliti temukan di lapangan terkait topik yang dilakukan, yaitu Kompetensi

Pedagogis Guru di SDN Kecamatan Medan Polonia Maimun:

1. Perencanaan pembelajaran: menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran masih ada guru yang tidak menyusun RPP dalam proses

pembelajaran, guru yang tidak menyusun RPP dalam kegiatan belajar

mengajar, mereka hanya mengikuti buku cetak sebagai bahan untuk

menyampaikan materi kepada peserta didik.

2. Pelaksanaan Pembelajaran: dalam hal ini menunjukkan bahwa masih

ada guru yang belum sepenuhnya melibatkan seluruh potensi dari

peserta didik terbukti dengan masih adanya siswa yang menyepelekkan

guru pada saat mengajar seperti becerita dengan teman sekelas nya,

tertidur, berjalan-jalan dikelas pada saat proses pembelajaran.


54

3. Penilaian dan evaluasi pembelajaran: dalam mengevaluasi pembelajaran

masih ada guru yang tidak melakukannya dan guru yang melakukan

evaluasi pembelajaran selalu memanfaatkan waktu di akhir

pembelajaran atau di pembelajaran selanjutnya. Guru mengetest siswa

dengan menggunakan tes tulis dan ada juga dengan lisan.

4.3 Pembahasan

Kompetensi pedagogis adalah salah satu keterampilan yang

harus dimiliki dan dikuasai oleh seorang pendidik. Hal ini dikarena

kompetensi pedagogis berhubungan langsung dengan tugas guru sebagai

pengelola pembelajaran, terutama dalam perencanaan, pelaksanaan dan

penilaian pembelajaran. Guru yang tidak memahami kompetensi

pedagogik dengan baik, maka akan kesulitan dalam melaksanakan proses

pembelajaran.

Pada perencanaan pembelajaraan yaitu menyusun rencana

pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dua guru PNS bersertifikat tidak

membuat RPP dan dua guru PNS bersertifikat lainnya membuat RPP.

Sedangkan empat guru honorer yang belum bersertifikat sudah menyusun

RPP. Penyusunan RPP ada yang disusun sendiri dan ada juga yang diambil

dari internet. Guru mengatakan bahwa RPP sangat penting digunakan

dalam proses pembelajaran agar kegiatan di dalam kelas lebih terarah dan

mencapai tujuan. Hal ini sesuai dengan pendapat Menurut George R. Terry

dalam Wahyudin (2017:186), menyatakan bahwa sebuah perencanaan

adalah penetapan aktivitas yang diharuskan dilakukan kelompok untuk


55

mencapai tujuan tertentu. Melaksanakan proses belajar dapat disesuaikan

dengan kondisi dan tidak harus menyamakan dengan RPP yang dirancang.

Hal ini sependapat dengan Muhammad Ali (2004:88) bahwa pelaksanaan

proses belajar mengajar seyogyanya harus sesuai dengan perencanaan

yang disusun, namun kondisi yang dialami guru memiliki dampak yang

serius terhadap proses pembelajaran. Maka dari itu, guru diharuskan peka,

sehingga dapat menyesuaikan pola tingkah laku dalam mengajar dengan

kondisi yang dialaminya.

Pada pelaksanaan pembelajaran guru telah

mengimplementasikan beberapa jenis metode pembelajaran. Metode-

metode yang diterapkan guru antara lain yaitu tanya jawab, diskusi, dan

ceramah. Masykur Arif Rahman (2012:55) menyatakan bahwa seorang

pendidik bukan saja perlu untuk menguasai bahan yang akan diajarkan,

tetapi juga diharuskan dapat menguasai berbagai metode pembelajaran

yang akan digunakan di kelas. Guru honorer mengungkapkan bahwa selain

menguasai materi, guru-guru juga harus menerapkan beberapa metode

dalam pembelajaran. Namun masih ada dua guru PNS bersertifikat yang

hanya menggunakan metode ceramah. Temuan ini sejalan dengan

pendapat Selanjutnya, Masykur Arif Rahman (2012: 54) menungkapkan

bahwa guru yang proses belajarnya selalu menerapkan metode metode

konvensional akan membuat siswa merasa jenuh. Oleh karena itu, seorang

guru tidak hanya menguasai materi yang diajarkan. Namun, juga harus

menguasai berbagai metode pembelajaran yang akan digunakan di kelas.


56

Dalam penilaian dan evaluasi pembelajaran. dalam komponen ini

empat guru PNS bersertifikat dan empat guru honorer yang belum

bersertifikat sudah melakukannya. Dalam penilaian guru menilai peserta

didik melalui penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan. Dalam

evaluasi pembelajaran, guru-guru tersebut sepakat bahwa melakukan

evaluasi kepada peserta didik sangatlah penting untuk mengetahui sampai

mana pemahaman dan pengetahuan siswa pada materi yang telah diberikan,

serta dapat mengukur keberhasilan dalam proses pembelajaran. hal tersebut,

apakah siswa sudah paham atau belum tentang materi pembelajaran. jika

masih ada yang belum paham bisa dilakukan perbaikan. Oemar Hamalik

(2011: 147) bahwa salah satu kegunaan evaluasi (fungsi diagnostik) yaitu

untuk mengidentifikasi kesulitan dari masalah yang sedang dialami siswa

dalam proses pembelajaran. Sependapat dengan hal tersebut, Rusman

(2012: 56) juga menyatakan bahwa informasi dihasilkan melalui evaluasi

adalah umpan balik pada proses belajar mengajar, yang mana bisa

digunakan sebagai titik awal untuk memperbaiki dan menyempurnakan

proses pembelajaran mengajar lebih lanjut. Sanjaya (2008: 244) juga

berpendapat bahwa hal itu salah satu fungsi evaluasi adalah untuk

mengetahui prestasi belajar siswa menguasai tujuan yang ditentukan.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian pada bab empat, maka terdapat

sedikit perbedaan mengenai kompetensi pedagogis antara guru PNS

bersertifikat dan guru honorer yang belum bersertifikat di SDN Kecamatan

Medan Polonia Maimun. Peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Dalam perencanaan terdapat dua guru PNS bersertifikat tidak

merancang pembelajaran seperti menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP) dan dua guru PNS lainnya merancang pembelajaran

seperti menyusun RPP. Sedangkan tiga guru honorer dalam perencanaan

sudah merancang pembelajaran dengan menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP) melihat internet mengacu pada pedoman kurikulum

2013 yang disesuaikan dengan pembelajaran yang akan diberikan dan

satu guru honorer lainnya tidak merancang pembelajaran berupa RPP.

2. Dalam pelaksanaan masih terdapat dua guru PNS yang hanya

menggunakan metode ceramah di dalam kelas sehingga membuat

peserta didik bosan dan tidak aktif di dalam kelas dan dua guru PNS

lainnya menggunakan beberapa metode pembelajaran, selanjutnya

hanya satu guru PNS yang menggunakan media pembelajaran berupa

power point. Sedangkan untuk guru honorer dalam pelaksanaan sudah

menggunakan beberapa metode pembelajaran sehingga membuat

peserta didik aktif, dan satu guru honorer tidak menggunakan media

57
58

pembelajaran di dalam kelas, tiga guru honorer lainnya menggunakan

media pembelajaran berupa video dan power point

3. Dalam Penilaian dan Evaluasi baik empat guru PNS bersertifikat dan

empat guru honorer sama-sama sudah melakukan kegiatan penilaian dan

evaluasi. Adapun penilaian yang dilakukan yaitu penilaian sikap,

penilaian pengetahuan, dan penilaian keterampilan. Untuk evaluasi

pembelajaran baik guru PNS maupun guru honorer melaksanakan

evaluasi di dalam kelas berupa evaluasi berbentuk tulisan ataupun lisan

yang dilaksanakan di akhir pembelajaran.

3.2 Saran

1. Bagi Peneliti

Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian sesuai dengan topik

penelitian di lokasi yang berbeda dan mencakup lebih luas.

2. Bagi Guru

a. Dalam perencanaan pembelajaran, sebaiknya guru lebih variatf

dalam merancang kegiatan pembelajaran sehingga berbagai ragam

kegiatan kepada peserta didik.

b. Dalam pelaksanaan pembelajaran, sebaiknya guru memilih metode

pembelajaran yang dapat membuat peserta didik lebih aktif dan

menggunakan media pembelajaran sesuai dengan materi yang

diberikan.
59

c. Dalam evaluasi pembelajaran, lebih meningkatkan kemampuan

dalam membuat soal-soal evaluasi untuk siswa serta merancang

nya dalam bentuk yang beragam.

3. Bagi Sekolah

a. Mewajibkan guru-guru untuk merancang pembelajaran sebelum

memulai kegiatan belajar mengajar yaitu menyusun RPP.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid. (2007). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja


Rodsakarya.
Arikunto. (2006). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara.
Atmaka. (2004). Tips Menjadi Guru Kreatif. Bandung: Yrama Widya.
B. Uno, Hamzah. (2016). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Darmaningtyas. (2015). Pendidikan Yang Memiskinkan. Malang: Intrans
Publishing.
Denim, S. (2016). Profesionalisasi dan Etika Profesi Guru. Bandung:
Alfabeta.
Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Undang-Undang Nomor 14 Tahun
2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Depdiknas.
Dosen, U.-U. R. (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2005 Nomor
157). 30 Desember 2005. Jakarta.
Fida, Z. (2011). Kompetensi Pedagogik Guru Madrasah Ibtidaiyah Pasca
Lulus Sertifikasi Guru (Guru Bersertifikat), Studi pada Guru Rumpun
PAI di Madrasah Ibtidaiyah se-Kecamatan Jekulo Kudus.
Hatta. (2018). Empat Kompetensi Untuk Membangun . Sidoarjo: Nizamia
Learning Center.
Hertenti, Siti, dkk. (2019). Pelaksanaan Program Karang Taruna Dalam
Upaya Meningkatkan Pembangunan di Desa Cintaratu Kecamatan
Parigi Kabupaten Pangandaran. Jurnal Moderat, 306.
Idrus L. (2019). Evaluasi Dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Manajemen,
922.
Imas Kurniasih. (2016). Revisi Kurikulum 2013. Implementasi Konsep dan
Penerapan. Yogyakarta: Kata Pena.
Kunandar. (2007). Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru.
Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Kunandar. (2011). Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai
Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Rajawali press.

60
Lisa A, dkk. (2018). Manajemen Program Life Skill Di Rumah Singgah Al-
Hafidz Kota Bengkulu. Jurnal Pengembangan Masyarakat, 8.
Masykur Arif Rahman. (2012). Kesalahan-kesalahan Fatal Paling Sering
Dilakukan Guru dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. Yogyakarta:
Diva Press.
Mulyasa. (2006). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran
Kreatif dan Menyenangkan . Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyasa. (2007). Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung:
Rosdakarya.
Muslich. (2007). Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual
panduan bagi guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah. Jakarta:
Bumi Aksara.
Moleong. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Moleong. (2012). Metodologi Penelitisn Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Nasution. (2011). Metode Research (Penelitian Ilmiah) . Jakarta: PT Bumi


Aksara.
Noor. (2011). Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi dan Karya
Ilmiah. Jakarta: Kencana.
Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal Ayat 1
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan Pasal 28 ayat 3
Peraturan Menteri Pendidikan Naional No.16 Tahun 2007 tentang Standar
Kompetensi Pedagogik
Rahmat, M. (2012). Kompetensi Pedagogik dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia Kelas II MI Ngablak II, Srumbung, Magelang.
Rofa'ah. (2016). Pentingnya Kompetensi Guru dalam Kegiatan
Pembelajaran dalam perspektif Islam. Yogyakarta: Deepublish.
Roqib & Nurfuadi. (2009). Kepribadian Guru. Purwokerto: STAIN
Purwokerto Press.
Sanjaya. (2015). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:
Kencana.
Sarimaya, F. (2009). Sertfikasi Guru: Apa dan Bagaimana? Bandung: CV
Yrama Widya.
Saud. (2010). Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

61
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2012). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: ALFABETA.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Bandung: Alfabeta
Sukmadinata. (2010). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Susanto. (2014). Studi Deskriptif Kompetensi Pedagogik Guru pada
Pembelajaran PKn di kelas Tinggi SD Negeri 52 Kota Bengkulu.
Suyanto & Asep Djihad. (2012). Bagaimana Menjadi Calon Guru dan Guru
Professional. Yogyakarta: Multi.
Syafaruddin. (2017). Pembelajaran Inovatif dan Kompetensi Sosial Guru.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1,
Ayat 10.
_____________________________________________ Pasal 8 dan Pasal
10, Ayat 1
Uno, H. (2009). Profesi Kepribadian (Problema, Solusi, dan Reformasi)
Pendidikan di Indonesia. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Wahyudi, I. (2012). Pengembangan Pendidikan . Jakarta: PT Prestasi
Pustakarya.
Wahyudin Nur Nasution. (2017). Perencanaan Pembelajaran, Tujuan, dan
Prosedur. Jurnal Ittihad, 186.
Zulhandayani, Mahmud, Bukhari. (2017). Deskripsi Kompetensi Pedagogik
Guru di SD Negeri 40 Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru
Sekolah Dasar.

62