Anda di halaman 1dari 4

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UAS TAKE HOME EXAM (THE)


SEMESTER 2020/21.2 (2021.1)

Nama Mahasiswa : Yuda Apritiantoko

Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 043032075

Tanggal Lahir : 12 April 1987

Kode/Nama Mata Kuliah : EKMA4159/Komunikasi Bisnis

Kode/Nama Program Studi : 54/Manajemen

Kode/Nama UPBJJ : 51/Tarakan

Hari/Tanggal UAS THE : Rabu / 14 Juli 2021

Tanda Tangan Peserta Ujian

Petunjuk

1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJU dan surat pernyataan kejujuran akademik.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN


TEKNOLOGI
UNIVERSITAS TERBUKA
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA

Surat Pernyataan
Mahasiswa Kejujuran
Akademik

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : Yuda Apritiantoko


NIM : 043032075
Kode/Nama Mata Kuliah : EKMA4159/Komunikasi Bisnis
Fakultas : Fakultas Ekonomi
Program Studi : 54/S1 Manajemen
UPBJJ – UT : Tarakan

1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE
pada laman https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam
pengerjaan soal ujian UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai
pekerjaan saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai
dengan aturan akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan
tidak melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui
media apapun, serta tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan
akademik Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari
terdapat pelanggaran atas pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan
menanggung sanksi akademik yang ditetapkan oleh Universitas Terbuka.

Tideng Pale, 14 Juli 2021


Yang Membuat Pernyataan

Yuda Apritiantoko
NIM. 043032075
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA

1. Butir – butir penting yang harus kita ketahui dalam komunikasi lintas budaya dan antar budaya :
a. Membuka dan menutup percakapan. Ini penting diperhatikan karena budaya yang berbeda
memiliki adat kebiasaan yang berbeda tentang siapa yang berbicara pada siapan, kapan dan
bagaimana serta siapa yang dipandang berhak, atau bahkan kewajiban, untuk memulai
pembicaraan, dan apa yang tepat untuk menyimpulkan percakapan.
b. Mengubah peran dalam percakapan. Pada beberapa kebudayaan, cara yang paling baik
mengubah peran dalam percakapan adalah dengan cara interaktif. Artinya peran sebagai
pembicara dan pendengar berganti – ganti karena kehendak kedua belah pihak. Pada kebudayaan
yang lain, justru dianggap sangat penting lawan bicara menyelesaikan dulu semua yang hendak
disampaikannya, baru kemudian kita berbicara untuk memberi komentar atau sekedar memberi
tanggapan.
c. Memotong pembicaraan. Persoalan lain dalam komunikasi antarbudaya adalah memotong atau
menyela pembicaraan. Ada kebudayaan yang memandang memotong pembicaraan dianggap
sebagai bagian dari gaya percakapan. Hal seperti ini biasanya terjadi pada budaya yang egaliter.
Sedangkan pada kebudayaan yang lain, memotong pembicaraan dianggap tidak sopan bahkan
dipandang menantang.
d. Jeda percakapan. Ada kalanya, saat kita bicara kita berdiam sejenak, barang beberapa detik.
Rupanya makna berdiam sejenak itu berbeda – beda pada setiap kebudayaan. Pada kebudayaan
tertentu, berdiam sejenak dipandang sebagai bentuk memikirkan semua apa yang dikatakan
dengan penuh pertimbangan, namun pada saat yang lain bisa saja ini dipandang sebagai sikap
bermusuhan. Bagi masyarakat Barat, berdiam selama 20 detik dalam sebuah pertemuan
dipandang sebagai tanda kekurangnyamanan, dan banyak orang akan merasa tidak enak dengan
suasana seperti itu. Namun pada masyarakat lain dipandang sebaliknya.
e. Topik pencakapan yang tepat. Ada beberapa topik yang bila dibicarakan dipandang tidak tepat.
Berbicara mengenai uang atau harta kekayaan secara terbuka, pada satu masyarakat dianggap
sebagai bentuk kesombongan namun pada masyarakat lain justru dianggap sebagai tanda
keakraban atau kedekatan.
f. Humor sering kali dianggap sebagai bumbu percakapan yang berfungsi mengakrabkan atau
membangun kedekatan. Dalam kehidupan sehari – hari, kita biasa berusaha membangun
kedekatan dengan humor. Namun hendaknya ini tidak kita pandang berlaku universal, atau
berlaku untuk semua situasi. Pada orang yang baru kita kenal dan sedang berdua, tidak
sepatutnya kita berhumor.
g. Tahu seberapa banyak kita berbicara. Ini salah satu persoalan dalam komunikasi lintasbudaya.
Kita tidak memiliki ukuran atau takaran, seberapa banyak seseorang dianggap patut dalam
berbicara. Bagi satu kelompok budaya, pembukaan yang sekedar basa – basi tidak begitu
disukai, sehingga dipandang lebih baik berbicara langsung pada pokok permasalahan. Pada
masyarakat yang lain, pembukaan yang panjang lebar bagian dari kesantunan dan menunjukkan
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA

diri sebagai manusia yang beradab.


h. Menyusun tahapan untuk unsur – unsur percakapan. Bila kita berbicara isu yang sensitif,
permasalahan yang muncul biasanya pada saat mana kita dianggap tepat untuk memulai
berbicara tentang isu sensitif itu. Di sinilah kita perlu memiliki kepekaan kapan saat yang
tepat untuk mulai masuk ke dalam pokok bahasan yang sensitif itu, dengan mempertimbangkan
budaya. Karena bisa saja, pertanyaan yang sudah kita anggap pas yang disampaikan secara tepat
pula, bisa dipandang terlalu dini disampaikan atau terlalu terlambat untuk diajukan, yang bisa
dipandang dan dimaknai secara berbeda oleh setiap orang pada budaya yang berbeda.

2. Komponen – komponen “Jebakan – jebakan” sikap tersebut yang perlu diperhatikan :


a. Etnosentrisme, yaitu orang yang memandang bahwa kelompok etniknya atau budayanya yang
paling baik di dunia ini. Pada sikap ini sesungguhnya tercermin ketidakmampuan untuk
menerima apa yang menjadi pandangan dunia orang lain.
b. Diskriminasi, yaitu memberikan perlakuan yang berbeda pada individu karena statusnya sebagai
minoritas. Diskriminasi ini bisa dalam bentuk yang nyata (aktual), seperti pernah terjadi di
Afrika Selatan melalui diskriminasi rasial, bisa juga terjadi dalam persepsi yang memandang
perlu dilakukan perbedaan dalam memperlakukan kelompok etnis tertentu.
c. Stereotip, yang sesungguhnya merupakan generalisasi pada individu, kelompok dan etnik
tertentu sehingga kita menyimpulkan orang yang berasal dari etnik tertentu memiliki sifat dan
watak tertentu. Stereotip yang paling sering kita dengar, orang Padang pandai berdagang.
Stereotip sesungguhnya mengabaikan satu hal penting yaitu adanya perbedaan – perbedaan yang
sifatnya individual.
d. Buta budaya, yaitu mengabaikan perbedaan – perbedaan budaya dan memandang perbedaan itu
sesungguhnya tidak ada. Semua dianggap sama saja sehingga tidak perlu melakukan
pertimbangan budaya dalam bertindak.
e. Pemaksaan budaya yaitu keyakinan yang menyatakan bahwa semua orang hendaknya
menyesuaikan diri dengan mayoritas. Orang diabaikan memiliki perbedaan, bila pun memiliki
perbedaan diharuskan untuk mengikuti pada siapa yang dianut oleh mayoritas.

Anda mungkin juga menyukai