Anda di halaman 1dari 22

PSIKOLOGI KLINISI

“ PSIKOTERAPI KOGNITIF ”

Dosen Pengampu : Siti Syawaliyah, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Disusun Oleh :

Kelompok I

Kelas C/Fakultas Psikologi

Kevin Maramis (4518091100) Otnel Pongsibidang (4518091161)


UNIVERSITAS BOSOWA

FAKULTAS PSIKOLOGI

2020
KATA PEGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan
sehingga makalah ini bisa selesai pada waktunya. Terima kasih juga kami
ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-
idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para


pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh
dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang
bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diantara para psikologi klinis, terapi kognitif adalah yang paling menonjol. Berbagai
survei menunjukkan bahwa daya Tarik pendekatan kognitif mungkin berasal dari
berbagai macam faktor. Secara sederhana, tujuan terapi kognitif adalah berpikir logis.
Lagi pula, kata cognition (kognisi) pada dasarnya sinonim dengan kata thought
(pikiran). Jadi, terapis kognitif pada dasarnya mengasumsikan bahwa cara kita
memikirkan tentang berbagai kejadian menentukan cara kita merespons. Dengan kata
lain, "interpretasi dan persepsi individu-individu tentang situasi, peristiwa dan masalah
saat ini memengaruhi bagaimana mereka bereaksi”. Dikarenakan psikoterapi kognitif
sangatlah penting dalam pembelajaran psikologi klinis, maka kami akan membahas
materi yang mencakup tentang psikoterapi kognitif.

B. Rumusan Masalah
1. Apa tujuan dari terapi kognitif?
2. Apa saja pendekatan terapi kognitif?
3. Aplikasi terkini dalam terapi kognitif?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa tujuan dari terapi kognitif
2. Untuk mengetahui apa saja pendekatan terapi kognitif
3. Untuk mengetahui aplikasi terkini dalam terapi kognitif
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Tujuan Terapi Kognitif

Secara sederhana, tujuan terapi kognitif adalah berpikir logis. Lagi pula, kata
cognition (kognisi) pada dasarnya sinonim dengan kata thought (pikiran). Jadi,
terapis kognitif pada dasarnya mengasumsikan bahwa cara kita memikirkan tentang
berbagai kejadian menentukan cara kita merespons. Dengan kata lain, "interpretasi
dan persepsi individu-individu tentang situasi, peristiwa dan masalah saat ini
memengaruhi bagaimana mereka bereaksi" (Beck, 2002, hlm. 163) Masalah
psikologis timbul dari kognisi yang tidak logis. Sebagai contoh, sebuah interpretasi
yang tidak logis atas sebuah peristiwa kehidupan-putus hubungan, nilai F disebuah
ujian, komentar seorang teman dapat mengakibatkan depresi atau kecemasan yang
luar biasa. Akan tetapi, kesejahteraan/kesehatan psikologis berasal dari kognisi
yang logis. Artinya, ketika kognisi sesuai dengan kejadiannya, kognisi itu dapat
menghasilkan reaksi yang lebih sehat dan adaptif. Oleh sebab itu, peran terapis
kognitif adalah untuk membenarkan pemikiran yang keliru.

A. Mengajar sebagai sebuah Alat Terapi

Terapis kognitif secara eksplisit memasukkan edukasi klien tentang


pendekatan kognitif ke dalam tugas mereka. Dengan kata lain, terapis kognitif
sering kali berfungsi sebagai guru bagi klien. Sebagai contoh, mereka mungkin
menggunakan kombinasi antara diskusi, teks dan bacaan untuk menjelaskan
kepada klien tentang perbedaan antara model (kejadian secara langsung
menghasilkan perasaan) dan tiga langkah yang lebih disukai (kognisi
memperantarai kejadian dan pikiran) untuk memahami sumber-sumber pikiran
kita. Di samping itu, mereka melatih klien untuk mengenali pikiran-pikiran
tidak logis, melekatkan label pada pikiran-pikiran tersebut, dan melacaknya di
dalam sebuah format tertulis tertentu. Dan, seperti semua pengajar yang baik,
terapis kognitif bercita-cita agar klien mampu menggunakan pelajaran yang
mereka petik untuk mengajari dirinya sendiri, dan bukan terus bergantung pada
pengajar (Beck, 1995, Olatunji & Feldman, 2008).

B. Pekerjaan Rumah

Persamaan lain antara terapis kognitif dan pengajar adalah pemberian


pekerjaan rumah (PR) (Beck, 1995; Kuehlwein, 1993; Olatunji & Feldman,
2008; Robinson, 2008). Terapis kognitif sangat percaya bahwa banyak
pekerjaan terapi dilakukan di antara sesi-sesi. Mirip dengan waktu diantara
pertemuan-pertemuan di kelas perkuliahan, waktu diantara sesi-sesi terapi
digunakan untuk mengeksplorasi dan mengonfirmasi pelajaran yang telah
dipelajari selama pertemuan-pertemuan itu. Di dalam beberapa kasus,
pekerjaan rumahnya tertulis: Klien diminta untuk mencatat tentang berbagai
peristiwa, kognisi, perasaan dan usaha untuk merevisi kognisi untuk mengubah
perasaan yang mereka alami.

C. Pendekatan yang singkat, Terstruktur dan Terfokus

Terapis kognitif berusaha mencapai hasil terapi yang positif dengan cukup
cepat biasanya kurang dari 15 sesi, tetapi jauh lebih lama di dalam kasus-kasus
yang kompleks atau berat (Beck, 1995, 2002; Roth dan kawan-kawan, 2002).
Bagi para pasien rawat-jalan, sesi-sesi biasanya terjadi seminggu sekali, yang
akhirnya semakin jarang ketika klien semakin membaik. Beberapa faktor
berkontribusi pada efisiensi terapi kognitif, termasuk fokusnya pada masalah
kline.
2.2 DUA PENDEKATAN TERAPI KOGNITIF

Terdapat dua tokoh yang diakui secara luas di bidang terapi kognitif, yaitu Albert
Ellis dan Aaron Beck. Seperti dideskripsikan sebelumnya, masing-masing
mengembangkan versi terapi kognitifnya sendiri pada masa yang kira-kira sama, dan
meskipun masing-masing sedikit dipengaruhi oleh yang lain, pendekatan mereka
berevolusi secara independen. Kedua pendekatan itu memang tumpang-tindih dalam
kaitannya dengan penekanan mereka pada memperbaiki gejala-gejala klien melalui
koreksi pikiran yang tidak logis.

1. Albert Ellis

Selama bertahun-tahun, Albert Ellis menyebut pendekatan terapinya Rational


Emotive Therapy (RET), tetapi dalam perkembangan kariernya, ia mengubah
nama itu menjadi Terapi Perilaku Emotif Rasional (Rational Emotive
Behavior Therapy; REBT). Seperti ditunjukkan oleh dua kata pertama dalam
label REBT, pendekatan terapi Ellis menekankan hubungan antara rasionalitas
dan emosi (Dryden, 2009; A. Ellis, 2008; Elis & Ellis, 2011). Ellis (1962)
berpendapat bahwa jika kita dapat membuat keyakinan kita kurang begitu
irasional, kita akan dapat menjalani kehidupan yang lebih Bahagia. Tema utama
[REBT] adalah bahwa manusia secara unik bersifat rasional dan sekaligus
binatang yang secara unik bersifat tidak rasional: gangguan emosional dan
psikologisnya banyak dihasilkan oleh pikirannya yang tidak logis atau tidak
rasional dan bahwa ia dapat membebaskan dirinya dari sebagian besar
ketidakbahagiaan emosional atau mental, ketidak efektifan, dan gangguannya
jika ia belajar memaksimalkan pikiran rasionalnya dan meminimalkan pikiran
irasionalnya.

Model ABCDE

Salah satu kontribusi Ellis yang paling abadi dan sangat berguna secara klinis
adalah Model ABCDE untuk memahami dan mencatat dampak kognisi pada
emosi (juga dikenal sebagai Model ABC) (misalnya, Dryden, 19952009 : A E
2008, Ellis & Ellis, 2011; Ellis & Grieger, 1977; Ellis & Harper, 1975). Den
menciptakan model ini, Ellis dapat membingkai aspek-aspek esensial terapi
kognitif ke dalam sebuah akronim yang mudah diakses, yang memungkinkan
penggunaannya oleh ribuan terapis dan klien.

Di dalam Model ABCDE, A, B dan C merepresentasikan model tiga-langkah


yang dideskripsikan. Kejadian menghasilkan pikiran yang pada gilirannya
menghasilkan perasaan. Model Ellis sekadar menggantikan ketiga istilah ini
dengan istilah-istilah yang lebih mudah diingat peristiwa pengaktif (Activating
event) (A), keyakinan (Belief) (B) dan konsekuensi emosional (emotional
Consequence) (C). Menurut Ellis, keyakinan irasional beracun karena berfungsi
sebagai tuntutan dogmatik yang kaku yang kita terapkan pada diri kita sendiri,
sebagai contoh, "Aku harus mendapat A di setiap pelajaran", "Aku perlu
mengencani seseorang." atau "Aku tidak boleh mengecewakan keluarga ku".
Meskipun ini mungkin adalah preferensi-preferensi yang kuat tetapi, fak tanya,
mereka bukan "keharusan" atau aturan absolut. Di samping itu, kita cenderung
menyertai tuntutan ini dengan estimasi yang terlalu tinggi tentang konsekuensi
kegagalan - "Kalau aku tidak mendapat A, aku akan dikeluarkan dari sekolah
dan berakhir di jalanan"; "Kalau aku tidak mengencani siapa pun, aku sama
sekali tidak berharga"; atau "Kalau aku mengecewakan keluargaku, penolakan
mereka akan membuatku hancur". Ketika mengoreksinya, Ellis mell hat logika
yang salah di semua pernyataan-diri ini dan juga mengenai kesem patan untuk
mendapatkan manfaat terapeutik.

Untuk menyelesaikan koreksi ini, model Ellis menambahkan dua langkah


lagi, D dan E. Di dalam modelnya, D adalah singkatan untuk perdebatan (dis
pute), dan E adalah singkatan untuk keyakinan baru yang efektif (effective
belief). Secara spesifik, keyakinan irasional (B) adalah target perdebatan.
Penambahan langkah ini sangat penting di dalam model terapi kognitif Ellis.
Model Ellis bukan hanya membantu klien mengidentifikasi keyakinan-
keyakinan yang tidak rasional (B) yang mungkin memperantarai kejadian dalam
hidupnya (A) dan perasaan yang kemudian dirasakannya (C); ini juga mendesak
klien untuk menantang keyakinan tersebut. Ini dapat menjadi pengalaman yang
membeda yakan bagi klien yang telah terperangkap di dalam rangkaian ABC
yang mem buatnya terus-menerus merasa tidak bahagia, cemas, dan sebagainya.
Ketika mereka menyadari bahwa pengalaman itu tidak perlu berhenti di C
(perasaan yang tidak diinginkan), maka mereka berhak untuk menantang
keyakinan yang menyebabkan C dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih
rasional, maka manfaat terapeutik pun bekerja. Di dalam model Ellis, perdebatan
sering ber bentuk pertanyaan atau pernyataan tajam yang menyerang sifat
irasional keya kinan atau label yang dapat dilekatkan pada keyakinan irasional
untuk mendis kreditkannya. Terlepas dari bentuk perdebatannya, jika efektif, ia
akan memberi kan kesempatan kepada klien untk menggantikan keyakinan
awalnya yang tidak rasional dengan sebuah keyakinan yang efektif (E), yang
lebih rasional dan menghasilkan perasaan yang tidak terlalu meresahkan
(Dryden, 2009; A.Ellis, 2008).

2. Aaron Beck

Aaron Beck selalu menggunakan istilah terapi kognitif untuk


mendeskripsikan tekniknya. Awalnya ia mengembangkan pendekatannya
sebagai cara untuk mengonseptualisasikan dan menangani depresi (misalnya,
Beck, 1976; Beck, Rush, Shaw & Emery, 1979), tetapi pendekatan ini
diterapkan dengan sangat luas tidak lama setelah insepsinya. Salah satu bagian
penting dari teori depresi Beck adalah gagasannya tentang tiga serangkai
kognitif, ia mengatakan bahwa tiga kognisi-pikiran tentang diri sendiri, dunia
luar dan masa depan-semuanya berkontribusi pada kesehatan mental kita. Beck
berteori bahwa jika ketiga keyakinan ini negatif, maka akan menghasilkan
depresi (Alford & Beck, 1997; Beck, 1995).

Esensi pendekatan terapi kognitif Beck, seperti halnya pendekatan Ellis,


adalah meningkatkan tingkat berpikir logis klien. Dan seperti halnya pendekatan
Ellis, pendekatan Beck memasukkan sebuah cara untuk mengorganisasikan
pengalaman-pengalaman klien ke dalam kolom-kolom pada sebuah halaman
tertulis. Di dalam terapi kognitif Beck, format ini dikenal sebagai Rekaman
Pikiran Disfungsional (misalnya, Beck; Freeman dkk., 1990, Leahy. 2003), dan
meskipun judulnya sedikit berbeda dengan akronim ABCDE Ellis, fungsi
mereka serupa. Biasanya, di dalam sebuah Rekaman Pikiran Disfungsional nal
termasuk kolom-kolom untuk:

 deskripsi singkat tentang kejadian/situasinya.


 pikiran-pikiran otomatis tentang kejadian/situasi itu (dan sejauh mana
klien meyakini pikiran-pikiran tersebut).
 emosi (dan intensitasnya) respons adaptif (mengidentifikasi distorsi di
dalam pikiran otomatis dan memperdebatkannya)
 hasil emosi setelah respons adaptif diidentifikasi dan seberapa jauh Klien
masih meyakini pikiran otomatis tersebut).

Terapis kognitif mengajarkan istilah-istilah ini kepada klien sering kali


dengan menggunakan handout atau bacaan yang dibawa pulang ke rumah, dan
melatih mereka untuk menggunakan istilah-istilah itu ketika memeriksa pikiran
pikirannya sendiri. Contoh distorsi-distorsi pikiran yang lazim terjadi tersebut :

 Pikiran semua-atau-tidak sama sekali: Mengevaluasi segala hal secara


irasional sebagai benar-benar mengagumkan atau benar-benar payah,
putih atau hitam, tanpa "wilayah abu-abu" di antaranya.
 Katasropisasi: Membayangkan yang terburuk di masa depan, padahal,
secara realistis, itu tidak mungkin terjadi.
 Pembesaran/minimisasi: Untuk kejadian-kejadian negatif, bersikap
terlalu reaktif untuk kejadian-kejadian positif, memandang rendah arti
pentingnya.
 Personalisasi: Mengasumsikan tanggung jawab pribadi yang terlalu
besar untuk kejadian-kejadian negatif.
 Generalisasi yang berlebihan: Menerapkan pelajaran yang dipetik dari
pengalaman negatif secara lebih luas dibandingkan seharusnya.
 Penyaringan mental: Mengabaikan kejadian-kejadian positif dan terlalu
berat fokus pada kejadian-kejadian negatif.
 Membaca pikiran: Menganggap dirinya tahu bahwa orang lain berpikir
secara kritis atau tidak menerima, padahal tahu bahwa apa yang
dipikirkannya itu pada kenyataannya tidak mungkin.

Di dalam terapi kognitif Beck, jika klien memberikan tanda-tanda distorsi


pikiran ini pada pikiran-pikiran yang tidak logis, maka pikiran-pikiran tidak logis
itu menjadi lebih lemah. Menandai pikiran sebagai tidak logis memungkin kan
klien untuk membuangnya dan menggantikannya dengan pikiran yang lebih
adaptif dan logis, yang akhirnya mengurangi tekanan psikologis klien.

Keyakinan sebagai Hipotesis

Beck berpendapat bahwa keyakinan-keyakinan kita adalah hipotesis, meskipun


kita mungkin menjalani kehidupan kita seakan-akan keyakinan kita adalah fakta
yang terbukti. Oleh sebab itu, salah satu cara yang kuat untuk memaparkan sebuah
keyakinan sebagai tidak logis adalah "mengujinya" di dalam kehidupan nyata,
persis seperti ilmuwan yang menguji hipotesis mereka di laboratorium secara
empiris. Pendekatan terapi kognitif Beck sering memasukkan "eksperimen"
personal semacam itu, sering kali dalam bentuk pekerjaan rumah, yang dirancang
untuk memperkuat atau meruntuhkan keyakinan seseorang (Dobson & Hamilton,
200, Kuehlwein 1993 Roth dkk, 2002).

2.3 APLIKASI TERKINI TERAPI KOGNITIF

Meskipun terapi kognitif awalnya ditargetkan pada tipe-tipe gejala psikologis


yang terbatas, sekarang terapi ini diterapkan nyaris secara universal untuk bercak
masalah psikologis Faktanya, terapi ini juga semakin banyak digunakan untuk
masalah-masalah di luar rentang gangguan gangguan mental tradisional

1. Gelombang Ketiga: Terapi Berbasis Perhatian dan Penerimaan


Selama beberapa tahun terakhir, sebuah bentuk terapi baru yang
didasarkan pada perhatian dan penerimaan telah menjadi kian populer dan
didukung se cara empiris (Hayes, Villatte, Levin & Hildebrandt, 2011;
Masuda & Wilson, 2009). Secara kolektif, mereka sering disebut "terapi
gelombang ketiga" yang merujuk pada evolusi dari behaviorisme (gelombang
pertama) ke terapi kognitif (gelombang kedua) ke terapi-terapi yang lebih
baru ini (Follette, Darrow & Bonow 2009, Hayes, 2001). Kami akan
menelaah tiga bentuk khusus terapi-terapi secara rinci: terapi penerimaan dan
komitmen, terapi perilaku dialektis dante rapi metakognitif. Akan tetapi, kami
terlebih dahulu akan membahas beberapa persamaan di antara terapi-terapi
jenis ini.
Perhatian merupakan inti dari terapi-terapi gelombang ketiga (Dimidjian
& Linehan, 2009, Hayes, Villatte, dkk., 2011, Shapiro, 2009). Meskipun sulit
untuk didefinisikan dalam kata-kata, para pendukungnya telah melakukan
berbagai upaya untuk mendefinisikannya.

 Perhatian "berarti mampu memperhatikan terhadap apapun yang


timbul secara internal maupun eksternal, tanpa menjadi terjerat/terlibat
atau terkait dengan menilai atau mengharapkan yang terjadi adalah
sebaliknya" (Roemer & Orsillo, 2009, hlm. 2).
 Perhatian adalah "kapasitas bawaan manusia untuk dengan sengaja
mem berikan perhatian penuh pada diri kita, pengalaman aktual kita,
dan belajar dari pengalaman tersebut. Ini dapat diperlawankan dengan
hidup dengan pilot otomatis dan menjalani kehidupan tanpa benar-
benar ada di sana" (Hick, 2008, hlm. 5).
 "Definisi perhatian... adalah (1) kesadaran, (2) tentang pengalaman
saat ini, (3) dengan penerimaan" (Germer, 2005, hlm. 7).
 Perhatian adalah "kesadaran yang timbul karena dengan sengaja
memper hatikan secara terbuka dan bijaksana terhadap apa pun yang
muncul timbul pada saat ini" (Shapiro, 2009, hlm. 555).
Seperti ditunjukkan oleh deskripsi-deskripsi di atas, perhatian berasal dari
tradisi Buddha, tetapi ia biasanya digunakan tanpa keterkaitan agama.
(Meditasi Zen dapat menyertai terapi-terapi berbasis-perhatian, tetapi terapi-
terapi terse but sering dipraktikkan tanpa komponen meditasi.) Perhatian
mendorong ke terlibatan penuh seseorang dengan proses-proses mental
internalnya sendiri dengan cara yang nonkonfrontasional. Inilah perbedaan
kunci dengan terapi terapi kognitif Albert Ellis dan Aaron Beck yang lebih
tradisional. Sementara Ellis dan Beck mendorong orang-orang untuk
menentang dan merevisi pikiran mereka, terapi berbasis-perhatian lebih pada
mengubah hubungan orang-orang dengan pikirannya dan bukan pada pikiran
itu sendiri (Olatunji & Feldman, 2008). Jadi, alih-alih berhubungan dengan
pikiran sebagai penentu mutlak atas realitas atau kebenaran, klien dapat belajar
untuk memahami pikiran mereka sebagai sugesti-sugesti yang cepat berlalu
yang mungkin sama sekali tidak mem butuhkan banyak reaksi. Setelah
hubungan dengan pikiran diubah dengan cara ini, individu mungkin akan
merasa lebih mudah untuk menghadapi pikiran (atau perasaan atau sensasi
yang tidak menyenangkan, dan bukan menghindari mereka. Artinya, alih-alih
terlibat untuk menghindari pengalaman, seperti yang diistilahkan oleh para
terapis gelombang ketiga, individu dapat terlibat di dalam penerimaan:
membiarkan pengalaman internal itu berjalan tanpa melawannya. Ini dapat
memfasilitasi perubahan positif bagi klien-klien dengan beragam salah
psikologis (Dimidjian & Linchan, 2008; Farmer & Chapman, 2008, Roms &
Orsillo, 2009).

Terapi Penerimaan dan Komitmen


Terapi Penerimaan dan Komitmen Steven C. Hayes, seorang psikolog klinis dan
profesor di University of Nevada, Reno, dianggap sebagai salah seorang figur
terkemuka di bidang terapi penerimaan dan komitmen (acceptance and
commitment therapy, ACT). Menurut Hayes dan kawan-kawan, apa yang diterima"
di dalam ACT adalah pengalaman psikologis internal, seperti emosi, pikiran, dan
sensasi (Bach & Moran, 2008, Hayes, 2004; Hayes & Strosahl, 2004). Terlalu
sering terjadi keadaan saat indivi du-individu yang bergulat dengan masalah
psikologis belum mampu menerima kejadian pribadi ini, tetapi sudah buru-buru
menghindarinya melalui pengalih an perhatian. Penghindaran pengalaman semacam
ini seperti yang dideskripsikan di atas) dapat mendasari semua jenis masalah
psikologis (Elfert & Forsyth, 2005). Sedikit mirip fobia, tetapi objek yang ditakuti
ada di dalam diri individu, bukan di luar dirinya dan seperti fobia terhadap anjing,
ular atau pesawat terbang penghindaran adalah sebuah mekanisme penanganan
yang lazim tetapi tidak menolong Jadi, di dalam konteks ini, penerimaan berarti
menghadapi ketakutan internal.

Hayes (2004) menyajikan dua metafora yang mengklarifikasi prinsip-prinsip


dasar penerimaan di dalam ACT. Di dalam metafora pertama, ia meminta kita
untuk membayangkan pikiran-pikiran kita sebagai sebuah parade (pawai). Di dalam
parade ini kita adalah penonton, bukan peserta. Selama pikiran-pikiran kita
berbaris, kita melihat mereka, tetapi berapa lama kita dapat membiarkan pawai itu
mengalir tanpa bereaksi terhadapnya tanpa bergabung dengan pawai itu atau
mencoba menghentikannya atau terseret di dalamnya? Menurut Hayes, semakin
lama kita dapat mengakui pikiran-pikiran kita tanpa bereaksi, semakin besar pula
peluang kesejahteraan psikologis kita. Di dalam metafora kedua, Hayes
membandingkan proses menerima pengalaman internal dengan melompat dari
tangga, bukan menuruninya. Menuruni anak tangga terasa lebih aman, katanya,
karena kita senantiasa menjaga kendalinya. Melompat dari tangga menyerahkan
seluruh kendali pada gravitasi. Klien, menurut Hayes Hayes, perlu "latihan
melompat dalam kaitannya dengan pikiran, perasaan dan sensasi mereka. Artinya,
sedikit demi sedikit, mereka perlu berhenti berjuang untuk menjaga kontrol atas
pengalaman-pengalamannya dan percaya bahwa ke mana pun pengalaman
membawa mereka, mereka akan mampu mendarat dengan aman dan tetap pada
jalur yang semestinya. C di dalam ACT mengacu pada komitmen seseorang
terhadap nilai-nilai personalnya sendiri. Bagi banyak klien, klarifikasi harus ada
sebelum komitmen Artinya, terapi pertama-tama harus membantu klien
menemukan nilai-nilai personalnya. Setelah itu, klien disiapkan agar ia
berkomitmen.

Terapi Perilaku Dialektis

Terapi perilaku dialektis (Dialectical Behavior Therapy: DBT) secara khusus di


kembangkan oleh Marsha Linehan untuk menangani gangguan kepribadian
ambang (borderline personality disorder; BPD) (Koerner, 2012; Koerner &
Dimeff, 2007; Linehan, 1993a, 1993). Penanganan ini telah mencapai tingkat
dukungan empiris yang cukup kuat, sehingga ia sekarang dianggap sebagai
penanganan pilihan untuk BPD, dan dalam bentuk yang sudah diadaptasi juga
digunakan untuk gangguan-gangguan lain (Dimeff & Koemer, 2007; Kliem, Kröger
& Kos felder, 2010; Lynch, Trost, Salsman & Linchan, 2007, Paris, 2009).

DBT didasarkan pada konseptualisasi BPD sebagai sebuah masalah regulasi


emosional. Dengan kata lain, disebagian besar aspek kehidupannya, individu
individu dengan BPD berjuang untuk mengontrol intensitas perasaan mereka
(Linehan, 1993a). Disregulasi emosional dianggap berasal dari dua
sumber:predisposisi biologis dan lingkungan. Secara spesifik, komponen
lingkungan adalah lingkungan interpersonal yang turut dalam invalidasi. Artinya,
individu yang mengembangkan BPD sering kali datang dari keluarga yang
"mengomus nikasikan respons-respons khas individu tersebut terhadap berbagai
kejadian (khususnya respons emosionalnya) yang tidak benar, tidak pantas,
patologis atau tidak dianggap serius" (Koerner & Dimeff, 2007, hlm.3).
Lingkungan semacam itu mengajarkan kepada individu bahwa hanya reaksi-reaksi
emosional ekstrem yang akan memunculkan respons dari orang lain, sehingga
mereka sering mengomunikasikan ekspresi emosional yang sangat intens yang oleh
orang lain mungkin dianggap berlebihan atau tidak perlu. Ini dapat menjelaskan
mengapa individu-individu dengan BPD sangat menguras emosi terhadap teman-
teman dan keluarga (tanpa menyebut terapisnya) dan mengapa mereka sering
mengancam untuk dan melakukan percobaan bunuh diri (Wheelis, 2009),

Beberapa praktik inti bersifat sentral bagi DBT, yakni: pemecahan masalah,
validasi dan dialektika. Ketika terapis DBT bekerja bersama klien dalam peme
cahan masalah, mereka membantu klien "memikirkan" situasi-situasi penuh
tekanan yang dapat membangkitkan respons emosional ekstrem. Secara prag matis,
terapis mendorong klien untuk membuat strategi dengan kemungkinan hasil terbaik,
dengan mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika Jika mereka melampiaskan
impuls-impuls emosional versus mengambil tindakan yang lebi disengaja. Selain
itu, komponen pemecahan masalah DUT memasukkan tentang faktor-faktor yang
mungkin telah menghambat pemecahan masalah yang efektif di masa lalu dan
bagaimana klien dapat mengatasi faktor-faktose tersebut saat ini dan di masa
mendatang Komponen validasi DBT fokus pada perasaan perasaan klien yang
(seperti telah dikatakan sebelumnya) biasanya belum divalidasi di masa lalu
Dibandingkan dengan empati yang lazim di antara banyak terapi, validasi seperti
yang dipraktikkan di dalam DUT jauh lebih kuat Secara langsung dan persuasif
validasi mengomunikasikan kepada klien bahwa perasaannya adalah reaksi yang
penting dan sekaligus masuk akal untuk situasinya. Dialektika yang terlibat di
dalam DBT merujuk pada pertukaran antara klien dan terapis yang dimaksudkan
untuk mengatasi per saat perasaan simultan klien yang saling bertentangan dan
sampai pada kebe naran emosinya Sebagai contoh, klien mungkin menyatakan
keinginannya un tuk bunuh diri tetapi belum melakukannya Di dalam situasi
semacam itu, terapis DBT, dengan menyeimbangkan antara respek dan konfrontasi
dapat menegas kan bahwa klien memiliki keinginan untuk hidup dan mati dan
bersama klien dapat mendiskusikan tentang bagaimana keinginan keinginan yang
lebih sehat dapat diperkuat (Dimeff & Kocmer, 2007, Koerner, 2012: Koemer &
Dimef, 200/ Wheelis, 2009)
Linchan (1993b) memasukkan empat modul latihan keterampilan spesifik di dalam
DBT. Secara kolektif, mereka berkaitan erat dengan komponen-kompo nen in DBT
yang dideskripsikan di atas, tetapi mereka sebaiknya dideskripsi kan sebagal
strategi-strategi pemecahan masalah yang diajarkan terapis kepada kllen.
Keterampilan-keterampilan tersebut adalah:

 regulasi emosi, yang melibatkan identifikasi, pendeskripsian dan


penerimaan dan bukan menghindari emosi-emosi negatif;
 toleransi kesusahan, yang menekankan pengembangan teknik-teknik mene
nangkan diri dan pengendalian impuls untuk membantu klien-klien dengan
BPD meminimalkan perilaku-perilaku seperti usaha bunuh diri, menyakiti
diri sendiri, dan penyalahgunaan obat
 efektivitas interpersonal, yang membantu klien menentukan keterampilan-
keterampilan ketegasan social dengan tepat untuk membantuk klien-klien
dengan BPD meminimalkan perilaku-perilaku seperti usaha bunuh diri,
menyakiti diri sendiri, dan penyalahgunaa obat.
 keterampilan perhatian, yang mendorong klien untuk terlibat penuh di
dalam kehidupan mereka saat ini, termasuk pengalaman pengalaman
internal mereka, seperti perasaan, pikiran dan sensasi, tanpa penghindaran
atau evaluasi

Terapi Metakognitif

Di dalam terapi kognitif tradisional, seperti yang dipraktikkan oleh Albert Ellis,
keyakinan irasional dibangkitkan oleh sebuah peristiwa pengaktit" (A di dalam
model ABCDE). Ide utama di dalam praktik terapi metakognitif yang relatif baru
adalah bahwa peristiwa pengaktif tersebut bisa jadi adalah kognisi itu sendiri,
bukan kejadian eksternal tertentu. Mudahnya, orang-orang dapat menjadi depresi,
cemas atau tidak sehat secara psikologis karena reaksi terhadap pikirannya sendiri
dan bukan reaksi terhadap hal-hal yang terjadi pada dirinya (Fisher & Wells, 2009;
Wells, 2009). Jadi, kemungkinan penyebab ketidakbaha-giaan kita adalah pikiran
tentang pikiran sama besarnya dengan pikiran tentang kejadian eksternal Terapis
metakognitif sering menyebut sindrom atensi kognitif (cognitive attentional
syndrome; CAS), sebuah istilah yang mendeskripsikan sebuah gaya berpikir yang
murung, banyak merenung, dan problematik yang dapat menda sari banyak masalah
psikologis. CAS termasuk dua tipe pikiran spesifik tentang kekhawatiran, positif
maupun negatif-dan kedua-duanya menimbulkan ma salah. Keyakinan positif
tentang kekhawatiran mungkin saja berbunyi seperti ini, "Khawatir akan
membantuku mempersiapkan diri untuk masa depan. Kalau aku tidak khawatir aku,
aku bisa dibutakan oleh sesuatu. Hal terakhir yang ingin kulakukan adalah berhenti
khawatir" Keyakinan negatif tentang keha watiran mungkin saja berbunyi seperti
ini, "Oh, tidak, aku sudah mulai khawatir.

Begitu mulai, aku tidak pernah bisa menghentikannya. Ini akan menjadi hari yang
buruk. Kekhawatiran ini betul-betul tak terkendali". Apapun peristiwa eksternal
awalnya -tidak lulus ujian, kondisi kesehatan yang meresahkan, putus hubungan,
dan pengeluaran finansial diluar dugaan-pikiran klien tentang kejadian itu dapat
menumpuk dengan cepat, sedemikian rupa sehingga bukan hanya pikiran-pikiran
tentang kejadian tersebut, tetapi pikiran tentang pikiran mengenai kejadian tersebut
bisa menjadi pemicu kecemasan yang paling relevan. Oleh sebab itu, terapis
metakognitif menjadikan pikiran-tentang pikiran sebagai fokus utama intervensi
mereka.

Terapi metakognitif telah diterapkan terutama pada gangguan kecemasan termasuk


gangguan obsesif-kompulsif, gangguan stres pascatrauma, dan gangguan
kecemasan tergeneralisasi. Meskipun merupakan penanganan yang relatif baru
bakti-bukti untuk efektivitasnya untuk gangguan-gangguan ini telah mulai tampak
(Cark & Beck, 2010: Fisher & Wells, 2008; Wells dkk., 2008; Wells & King 2006).

Terapi Kognitif untuk Masalah Medis

Hubungan antara pikiran dan tubuh dapat sangat memengaruhi bagaimana individu
menangani masalah medis. Yang paling menarik bagi terapis kognitif adalah
keyakinan-keyakinan yang dipegang oleh pasien medis tentang penyakit.
cedera atau kondisi mereka. Bagaimana ini akan memengaruhi mereka. Bagai mana
anggota keluarga mereka akan merespons atau menghadapinya? Bagai mana
penanganannya akan bekerja? Apa efek-efek negatif penanganannya?

Jawaban-jawaban irasional untuk pertanyaan-pertanyaan ini dapat menghalangi


kesembuhan dan di samping itu, dapat menyebabkan kekhawatiran yang berlebihan
atau keputusasaan di dalam prosesnya. Dalam beberapa dekade terakhir, banyak
studi telah menunjukkan bahwa terapi kognitif dapat memiliki efek yang
menguntungkan secara signifikan pada proses penyembuhan dan pada akhirnya
prognosis pasien medis. Sebagai contoh, Jakes, Hallam, McKenna dan Hinchcliffe
(1992) menelaah efek terapi kognitif pada pasien-pasien dengan tinnitus, sebuah
masalah pendengaran yang meli batkan persepsi suara-suara yang berlebihan.
Sebagian pasien ini menjalani bentuk terapi kognitif singkat yang mengoreksi
keyakinan tidak logis mereka tentang penyakit tersebut. Dibandingkan pasien-
pasien yang tidak menerima terapi kognitif ini, mereka yang menerimanya
memperlihatkan kemajuan dalam tingkat penderitaan mereka terhadap tinnitus.
Terapi kognitif juga telah diterap kan dengan sukses ke banyak masalah medis lain,
termasuk sakit kepala kronis, nyeri kronis, sindrom pra-menstruasi, gangguan
seksual, cedera tulang belakang, dan cedera otak (Carter, Forys & Oswald, 2008;
Freeman & Greenwood, 1987; Jay, Elliott, Fitzgibbons, Woody & Siegel, 1995).
Sebagai contoh potensi terapi kognitif untuk mempengaruhi kehidupan para pasien
medis secara positif, simak Jackie, seorang perempuan 45 tahun yang baru-baru ini
didiagnosis kanker payudara di stadium yang sangat dini, Dapat dipahami jika
Jackie dibuat stres oleh diagnosis ini, tetapi sebagian keyakinan.

Awalnya tentang penyakit ini pada kenyataannya tidak logis, dan pikiran-pikiran
ini membuatnya lebih putus asa dibandingkan yang seharusnya. Sebagai contoh,
Jackie sangat yakin bahwa, "Aku akan mati", "Aku perlu kemoterapi.
Yang begitu menyakitkan dan menyengsarakan sehingga aku tidak akan sanggup
melewatinya", dan "Keluarga dan teman-temanku akan menjauhkan diri dariku jika
mereka tahu". Meskipun ini mungkin terjadi, Jackie mungkin menak sir
kemungkinannya terlalu tinggi dan di dalam prosesnya, meyakinkan dirinya sendiri
tentang skenario terburuk. Di dalam terapi kognitif dengan Dr. Richards, psikolog
klinisnya, Jackie menantang validitas keyakinan-keyakinannya dan belajar untuk
mengidentifikasi pikiran-pikiran yang tidak rasional dan mengganti mereka dengan
pikiran-pikiran yang lebih rasional. Di akhir perjalanan terapi pendeknya, Jackie
masih khawatir tentang kanker payudaranya tetapi tidak seekstrem sebelumnya. Ia
realistis, bukan pesimistis, "Aku bisa saja mati, tetapi kemungkinannya rendah
karena penyakit ini ditemukan sangat dini dan aku mendapatkan perawatan yang
baik"; "Aku mungkin tidak membutuhkan kemo terapi, dan bahkan jika
membutuhkannya, pasti akan sangat tidak menyenangkan tetapi masih dapat
ditolerir"; dan "Aku tidak mungkin memastikan bagaimana keluarga dan teman-
temanku akan bereaksi, tetapi perilaku mereka sebelumnya membuatku percaya
bahwa kebanyakan pasti akan cukup suportif Keyakinan keyakinan baru ini yang
bebas dari katastropisasi, pembesaran, pembacaan pikiran atau distorsi-distorsi
lainnya-menghasilkan keadaan psikologis yang lebih baik pada diri Jackie dan
diagnosis medis yang lebih baik pula.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Secara sederhana, tujuan terapi kognitif adalah berpikir logis. Lagi pula, kata
cognition (kognisi) pada dasarnya sinonim dengan kata thought (pikiran). Jadi,
terapis kognitif pada dasarnya mengasumsikan bahwa cara kita memikirkan tentang
berbagai kejadian menentukan cara kita merespons. Dengan kata lain, "interpretasi
dan persepsi individu-individu tentang situasi, peristiwa dan masalah saat ini
memengaruhi bagaimana mereka bereaksi”.

3.2 Saran
Oleh karena masih banyak kesalahan dalam pembuatan makalah ini maka kami
memohon saran dari pembaca agar dapat lebih baik kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA

Burns David D, M.D. (1998) TERAPI KOGNITIF Pendekatan Baru Bagi Penanganan Depresi,
Erlangga.

Pomerantz M. Andrew (2014). Psikologi Klinis Ilmu Pengetahuan, Praktik., dan


Budaya Edisi 3, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.