Anda di halaman 1dari 15

SESMEN INTELEKTUAL DAN NEUROPSIKOLOGI

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah


PSIKOLOGI KLINIS
Yang diampu oleh :
Sitti Syawaliyah Gismin, M.Psi., S.Psi., Psikolog

Disusun oleh :

Kelompok 2 / Kelas C

Muhammad Akbar 4518091013

Azzahra Elok Sujasman Putri 4519091092

Haerul Syafiq 4518091170

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS BOSOWA

TAHUN AKADEMIK 2020/2021

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“ASESMEN INTELEKTUAL DAN NEUROPSIKOLOGI” dengan baik, penulisan
makalah ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Psikologi Klinis.

Pada kesempatan ini, kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Ibu Sitti Syawaliyah Gismin, M.Psi., S.Psi., Psikolog selaku dosen pemgampu
mata kuliah Psikologi Klinis.

Demikian pula penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca guna
menjadi acuan agar penulis bisa menjadi lebih baik lagi di masa mendatang. Semoga
makalah ini dapat menambah wawasan para pembaca dan bisa bermanfaat untuk
perkembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan.

Penyusun

Kelompok 2

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................... 2

DAFTAR ISI......................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................... 4

A. Latar Belakang......................................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah................................................................................................... 4
C. Tujuan Penuliasan................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................... 5

A. Pengertian Asesmen dan Intelektual atau intelegensi.......................................... 5


B. Asesmen Intelektual/intelegensi.............................................................................. 5
C. Asesmen Neuropsikologi......................................................................................... 11

BAB III PENUTUP.............................................................................................................. 14

A. Kesimpulan............................................................................................................... 14
B. Saran......................................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................... 15

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mengukur performa kognitif telah menjadi salah satu ciri khas psikologi kin sejak
kelahirannya (Wood, Garb, & Nzworski, 2007). Pengetahuan tentang tingkat fungsi
kognitif klien, termasuk kekuatan dan kelemahannya, dapat membantu seseorang
psikolog klinis dalam diagnosis dan penanganan berbagai masalah yang terjadi. Beberapa
asesment, seperti misalnya asesmen untuk disabilitas belajar, retardasi mental dan bakat,
fokus pada isu-isu kognitif sejak awal. Pada asesmen-asesmen lain, seperti asesmen yang
fokus pada gangguan suasana perasaan atau perilaku disruptif, tes kognitif dapat
memberikan informasi kon tekstual yang penting.
Pembahasan ini fokus pada tiga jenis tes, masing-masing berkaitan dengan fungsi
kognitif dengan cara tertentu, tetapi masing-masing dengan maksud yang berbeda. Tes
inteligensi mengukur kemampuan-kemampuan intelektual klien. Tes prestasi, sebaliknya,
mengukur apa yang telah dicapai klien dengan kemampuan-kemampuan intelektualnya
tersebut. Tes neuropsikologis fokus pada isu- isu disfungsi kognitif atau otak, termasuk
efek-efek cedera dan penyakit otak.
B. Rumusan Masalah
Makalah ini akan focus membahas tentang :
a. Apa pengertian Asesmen, Intelegensi dan Neuropsikologi ?
b. Bagaimana melakukan Asesmen intelektual ?
c. Bagaimana melakukan Asesmen neuropsikologi ?
C. Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui pengertian Asesmen, Intelegensi dan Neuropsikologi ?
b. Untuk Mengetahui cara melakukan asesmen intelektual
c. Untuk mengetahui cara melakukan asesmen neuropsikologi

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Asesmen dan Intelektual/Intelegensi


Ada beberapa pengertian tentang asesmen menurut para ahli :
a. Menurut Robert M Smith (2002) “Suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan
anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hsil keputusannya
dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk
menyusun suatu rancangan pembelajaran.
b. Menurut James A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis “Proses sistematika dalam
mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan
kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang
sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun
program pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif.
Teori Intelegensi klasik yang terkenal adalah :
a. Spearman: kemampuan umum yang terbentuk akibat pendidikan
b. Thurstone (1921), inteligensi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri,
membayangkan beragam respon, dan kesadaran untuk memodifikasi penyesuaian diri.
Teori Intelegensi Kontemporer
David Wechsler (1958) mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk
bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi
lingkungannya secara efektif. Menurut Galton (1978) Intelegensi adalah kemampuan
kognitif yang dimiliki organisme untuk menyesuaikan diri secara efektif pada
lingkungan yang kompleks dan selalu berubah serta dipengaruhi oleh faktor genetic.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Asesmen intelektual adalah Kegiatan mengumpulkan dan
menilai data seseorang yang berkaitan dengan kemampuan kognitif atau kesadaran
secara sistematik yang dapat digunakan untuk layanan pendidikan.
B. Asesmen Intelektual/Intelegensi
a. Tes Inteligensi Wechsler
David Wechsler pertama kali memperkenalkan tes intelegensi yang dirancang
khusus digunakan untuk orang dewasa pada tahun 1939, yang

5
dinamaiWechsler-Bellevue Intelligence Scale (WBIS), disebut juga skala W-
B Skalaintelegensi Wechsler adalah tes yang diberikan secara individual
yang menilaiberbagai bidang kemampuan intelektual dan menciptakan
situasi dimana aspekkepribadian dapat diamati. Dengan kata lain, dapat dikatakan
bahwa skala intelegensiWechsler merupakan alat tes yang dikembangkan
untuk melihat individu secarakeseluruhan dan fokus pada proses bukan hanya
sekedar hasil skor tes. David Wechsler mengembangkan tiga alat tes intelegensi, yaitu
The WechslerAdult Intelligence Scale (WAIS) untuk usia 16-74 tahun, The Wechsler
IntelligenceScale for Children (WISC) untuk usia 6-16 tahun 11 bulan,
dan The WechslerPreschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI) untuk usia
3-7 tahun 3 bulan.Masing-masing skala terdiri dari minimum lima subtes dan
maksimum tujuh subtes.Tiga tes tersebut memiliki kesamaan pola, yaitu dengan lima
atau enam subtesyang menghasilkan skor Verbal (selanjutnya disingkat V)
dan skor Performansi(selanjutnya disingkat P). Kedua skor tersebut akan
menghasilkan skor skala total. Subtes-subtes itu hampir sama namun tidak
identik antara satu sama lain (untukmasing-masing tingkat usia). Skala
intelegensi Wechsler ini dianggap sebagai tespsikologi terbaik karena memiliki
sifat psikometrik dan menghasilkan informasi yangrelevan untuk para praktisi.
Sebagai hasilnya, skala intelegensi Wechsler menjadi tesyang paling sering
digunakan pada praktik klinis (Camara et al., 2000; Watkins et al.,1995).

Spesifikasi Tes

 Tujuan Tes
Tujuan skala inteligensi Wechsler adalah:
 Untuk mengukur potensi intelegensi subjek
 Menyediakan informasi penting mengenai kekuatan dan kelemahan
kognitif seseorang
 Membandingkan performa/kemampuan seseorang dalam berbagai
bidang sesuai dengan anggota usianya.
 Melalui interaksi klien dengan penguji dan material tes selain perolehan
fungsi intelektual seseorang, juga akan didapatkan sebuah kesan dari

6
self-esteem seseorang, behavioral idiosyncrasies, anxiety, social skills, dan
motivasi
 Subjek Tes
Subjek dalam skala inteligensi Wechsler adalah:
 Anak-anak usia 3-7 tahun 3 bulan dan usia 6-11 tahun 11 bulan
 Orang dewasa usia 16-74 tahun
 Subtes
Picture Completion
Dalam subtes pictures completion testee akan diminta untuk melengkapi
bagian-bagian gambar yang hilang sehingga gambar dapat menjadi gambar yang
utuh.
Aspek intelektual yang diukur pada subtes ini yaitu :
 Kemampuan membedakan hal esensial
 Daya konsentrasi visual
 Visual alertness
 Persepsi, kognisi, jugement, penundaan impuls, pengalaman kontak
lingkungan
 Visual organization Visual memory
Contoh :

b. Skala Intelegensi Stanford-Binet – Edisi Kelima

7
Revisi terkini Stanford-Binet dalam skala Intelegensi edisi kelima
memiliki banyak hal yang mirip dengan tes Wechsler. Tes ini diadministrasikan
secara tatap-muka dan orang demi orang. Tes ini menerapkan model intelegensi
hierarki intelegensi dan oleh sebab itu menghasilkan sebuah ukuran tunggal IQ
skala-lengkap.
Beberapa Skala Intelegensi Stanford-Binet memiliki perbedaan dalam
beberapa hal penting dengan tes Wechsler. Seperti SB5 yang tidak memiliki tiga
tes terpisah untuk tiga rentang umur yang berbeda, namun memiliki tes tunggal
yang mencangkup rentang kehidupan (umur 2-85+). Sampel standarnya seperti
tes-tes Wechsler. Perbedaan penting antara SB5 dan Tes Wechsler melibatkan
faktor-faktor dan subtes spesifik mereka. Tes Wechsler memiliki empat faktor
yang masing-masing menghasilkan sebuah skor indeks, SB5 memiliki faktor yang
dideskripsikan secara singkat:
 Penalaran Fluida – kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah baru.
 Pengetahuan – informasi umum yang diakumulasikan dari waktu ke
waktu melalui pengalaman personal, termasuk penddikan, rumah dan
lingkungan.
 Penalaran Kuantitatif – kemampuan untuk soal-soal numerik.
 Penalaran Visual-Spasial – kemampuan untuk menganalisis informasi
yang disajikan secara visual.
 Indeks Kecepatan Proses – ukuran kemampuan untuk memproses
informasi sederhana atau hafalan secara tepat dan akurat.
c. Tes Intelegensi lain: Isu Keadilan dan Budaya
Secara spesifik, tes-tes Wechsler, SB5, dan tes-tes IQ terkenal lainnya
mendapat kritik yang berpusat pada isu keadilan budaya. Tes-tes inidideskripsikan
menampilkan banyak subtes, khususnya tes-tes yang mengandalkan keterampilan
verbal, yang kurang menempatkan individu-individu dari kelompok budaya
minotitas pada posisi yang kurang menguntungkan. Padahal pembuat tes-tes ini
telah melakukan upaya yang signifikan untuk membuat edisi-edisi terkini tes
yang kurang terbias secara budaya atau bermuatan budaya. Salah satu contoh tes
yang menonjol adalah tes intelegensi Nonverbal Universal (UNIT).

8
Dipublikasikan pada tahun 1996 UNIT adalah tes intelegensi yang bebas bahasa.
Tes ini tidak mengharuskan bicara atau pemahaman bahasa yang sama antara
orang yang satu dan orang yang memberikan tes. UNIT diadministrasikan secara
perorangan dan secara tatap-muka, menggunakan intruksi delapan gestur tangan,
tertentu yang diajarkan didalam panduan tes dan didemonstrasikan dalam video
yang menyertainya.
UNIT cocok untuk anak berusia 5-17 tahun, UNIT terdiri atas enam objek
yang diorganisasikan menjadi model intelegensi dua tingkatan. Kedua tingkat itu
diidentifikasi sebagai memori dan reasoning. Ketiga subtes yang berkontribusi
pada tingkat ingatan adalah:
 Ingatan objek
 Ingatan spasial
 Ingatan simbolik
 Rancangan kubus
 Labirin
 Penalaran analogis
d. Tes Prestasi
 Prestasi versus Inteligensi
Inteligensi adalah apa yang dapat dicapai seseorang secara intelektual, mengacu
pada kapasitas kognitif seeorang. Prestasi adalah apa yang telah dicapai seseorang,
khususnya didalam jenis-jenis subjek yang dipelajari di sekolah. Psikolog klinis
sering mengatakan bahwa IQ memprediksi prestasi. Tes prestasi biasanya digunakan
secara bersamaan dengan tes inteligensi, termasuk skor standar dengan rata-rata 100
dan deviasi standar 15. Penggunaan WISC-IV sebagai ukuran inteligensi dan tes
prestasi individual wecsher - edisi ketiga (WIAT-III) sebagai ukuran prestasi.
Contohnya seperti di bawah ini :

Nama klien :
Umur :
Pendidikan :
Alasan untuk rujukan :
Metode-metode penilaian yang digunakan :
Informasi latar belakang :
Observasi perilaku : 9
Hasil-hasil tes :
Skor standar Skor subtes
IQ skala lengkap
Komposit pemahaman verbal
Persamaan
Perbendaharaan kata
Pemahaman
Komposit penalaran persepsi
Rancangan balok
Konsep-konsep gambar
Penalaran matriks
Komposit memori kerja

 Tes Prestasi Individual Wechsler - Edisi Ketiga


Tes prestasi individual Weschler (WIAT-III) merupakan sebuah tes prestasi
komperhensif untuk klien yang berusia 4 sampai 50 tahun. Dalam tes prestasi
Weschler (WIAT-III) dilakukan dengan perindividu secara tatap muka. Tes WIAT-III
berfungsi untuk megukur prestasi dalam bidang luas seperti, matematika, membaca,
bahasa tertulis, dan bahasa lisan. Masing-masing dari keempat bidang luas ini dinilai
dengan dua sampai empat subtes. Komposit matematika didapatkan dari dua subtes
yaitu, operasi numerik (seperti soal-soal matematika secara tertulis) dan
menyelesaikan soal-soal matematika (seperti soal cerita, pola numerik, statistik, dan
pertanyaan probablitas). Komposit membaca didapatkan dari tiga subtes yaitu,
membaca kata (seperti membaca kata-kata terpisah), penyajian kata semu (yang
menggunakan keterampilan fonetik untuk menyuarakan kata-kata tanpa arti, seperti
plore atau thrach), dan pemahaman pembacaan (seperti membaca kalimat atau
paragraf, memahami dan manjawab pertanyaan). Komposit bahasa tertulis

10
didapatkan dari tiga subtes yaitu, mengeja (mengeja kata-kata yang semakin sulit),
menyusun kalimat, dan menyusun esai (seperti menyusun kalimat, paragraf, atau
esai seperti yang diinstruksikan). Komposit bahasa lisan didapatkan dari dua subtes,
yaitu pemahaman dari mendengarkan (seperti memperhatikan informasi yang
disajikan secara lisan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan), dan
ekspresi lisan (seperti berbicara untuk mengulangi materi yang diucapkan, mengarang
cerita tentang gambar-gambar yang disajikan, menunjukkan arah).
Dalam tes WIAT-III menghasilkan skor standar pada skala yang sama seperti
kebanyakan tes intelegensi dengan rata-rata 100 dan deviasi standar 15. Tes WIAT-III
menghasilkan ekuivalensi umur dan kelas untuk setiap subtesnya. Tes tersebut
distandarisasi pada 3.000 orang terpilih yang sesuai dengan data Sensus Amerika
Serikat yang dilhat dari jenis kelamin, umur, ras, wilayah atau geografis, dan tingkat
pendidikan orangtua.Banyak subjek yang telah menjadi sampel standarisasi juga
mengerjakan skala intelegensi Weschler, sehingga WIAT-III dikaitkan dengan tes IQ
Weschler, yang memperkuat validitas perbandingan antara kedua tipe tes ini.
C. Asesmen Neuropsikologi
a. Tes Neuropsikologis
Neuropsikologi merupakan perpaduan atau gabungan dari ilmu yang mempelajari
tentang system syaraf manusia dan hal-hal yang berhubungan dengan perilaku dan
tingkahlaku dari manusia itu sendiri. Tes neuropsikologis merupakan tes yang
mempelajari hubungan antara otak dan perilaku dengan menggunakan prosedur tes yang
terstandarisasi dan objektif. Tes ini bertujuan untuk mengukur fungsi kognitif atau
gangguan otak. Dalam hal ini diperlukan kerja sama dengan seorang psikolog klinis yag
berpengalaman dengan tes neurospiskologs atau seorang neuropsikolog. Prosedur medis
seperti pemindaian computed tomography (CT) merupakan sebuah penggambaran medis
menggunakan tomografi di mana pemrosesan geometri digunakan untuk mengasilkan
sebuah gambar tiga dimensi bagian dalam sebuah objek dari satu seri besar gambar sinar-
X dua dimensi dalam satu putaran atau disebut axis. Magnetic resonance imaging (MRI)
merupakan pemeriksaan yang memanfaatkan medan magnet dan energi gelombang radio
untuk menampilkan gambar struktur tubuh dan organ dalam tubuh. Positron emission
tomography (PET) dapat menunjukkan bahwa sebagian otak tampak abnormal, tetapi tes

11
neuropsikologis menunjukkan bagaimana sebenarnya bagian otak tersebut berfungsi.
Tes-tes seperti diatas berguna untuk penilaian tertarget atas masalah-masalah yang
mungkin timbul dari cedera kepala, penggunaan jangka panjang obat-obatan dan alkohol,
dan penyakit otak degenartif
b. Baterai Lengkap Neuropsikologis
Ada banyak macam tes neuropsikologis yang masing-masing didesain untuk
memeriksa satu ranah atau beberapa ranah. Tetapi untuk mendapatkan gambaran lengkap
biasanya digunakan serangkaian tes atau baterai tes yang merupakan gabungan beberapa
macam tes. Dua baterai tes yang terkenal adalah Halstead -Reitan Neuropsychological
Battery (HRNB) dan Luria-Nebraska Neuropsychological. Halstead -Reitan
Neuropsychological Battery (HRNB) tes ini bertujuan untuk meneliti hubungan otak
dengan tingkah laku pada orang-orang yang mengalami gangguan organik. Rangkaian tes
ini memberi kemungkinan bagi psikolog untuk mengamati pola dari hasil-hasil yang
dikerjakan, dan bermacam-macam pola kekurangan performansi merupakan petunjuk
adanya tipe kekurangan organik tertentu. Rangkaian tes ini terdiri dari tiga tes yaitu, tes
kategori, tes ritme, dan tes performansi taktual. Luria-Nebraska Neuropsychological
Baterai (LNNB) tes ini mengungkapkan pola-pola kekurangan keterampilan yang
merupakan petunjuk tempat-tempat kerusakan otak organik. Tes ini digunakan`untuk
mengukur keterampilan-keterampilan taktil, konestetik, dan spasil, seperti keterampilan
motor yang kompleks, keterampilan mendengar untuk menemukan ritme-
ritme,keterampilan cara berbicara yang reseptif dan ekspresif, intelegensi umum, serta
fungsi ingatan
c. Pengukuran Singkat Neuropsikologis
Tes Bender Gestalt dipublikasikan pertama kali oleh Lauretta Bender pada tahun
1938. Kelebihan dari tes Bender Gestalt adalah dapat mengungkap kerusakan fungsi otak
dan gangguan emosi. Tes ini dapat dikenakan pada anak-anak. Prinsip Gestalt dalam tes
Bender Gestalt, adalah kemampuan mempersepsikan sebuah desain menjadi satu
kesatuan yang utuh. The Bender Gestalt Test digunakan untuk mengevaluasi kedewasaan
visual, keterampilan motorik integrasi visual, gaya menanggapi, reaksi terhadap frustrasi
(diagnosis klinis), kemampuan untuk mengoreksi kesalahan, dan organisasi keterampilan
perencanaan, dan motivasi. Menyalin angka memerlukan keterampilan motorik halus,

12
kemampuan untuk membedakan antara visual stimuli, kapasitas untuk mengintegrasikan
keterampilan visual dengan keterampilan motorik, dan kemampuan untuk mengalihkan
perhatian dari desain asli untuk apa yang sedang ditarik.
The Rey-Osterrieth complex figure (ROCF) adalah tes penilaian neuropsikologis
di mana peserta ujian diminta untuk menghasilkan gambar garis yang rumit, pertama
dengan menyalin dan kemudian dari memori. Rey-Osterrieth yang mana menggambar
menggunakan pensil warna warnidi berbagai titik di dalam tes, dengan cara ini pemeriksa
dapat menelusuri pendekatan klien terhadap tugas menyalin secara kompleks. Dalam tes
ini juga melatih komponen ingatan, yang mana setelah 3 sampai 60 menit setelah
menyalin bentuk, klien diminta untuk memproduksinya atau menggambarkan kembali
sesuai dengan yang di ingatannya.
Repetition Batery for Assesment of Neuropsychological Status (RBANS) tes ini
bertujuan untuk menguji kemampuan-kemampuan visual motorik, keterampilan verbal,
perhatian dan ingatan visual. Dalam tes ini dibutuhkan waktu 20 sampai 30 menit untuk
menyelesaikan dan mencakup 12 subtes di dalam 5 kategori. Subtesnya melibatkan tugas-
tugas seperti mempelajari 10 kata diberikan secara lisan, menyebutkan nama gambar-
gambar beragam benda, mengigat daftar angka yang diberikan secara lisan, mengingat
sebuah cerita yang sudah disampaikan 20 menit sebelumnya, serta menyalin gambar-
gambar visual.

13
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Asesmen adalah Suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim
untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hasil keputusannya dapat
digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk
menyusun suatu rancangan pembelajaran. Intelegensi adalah sebagai kemampuan
untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi
lingkungannya secara efektif. Neuropsikologi merupakan perpaduan atau gabungan dari
ilmu yang mempelajari tentang system syaraf manusia dan hal-hal yang berhubungan
dengan perilaku dan tingkahlaku dari manusia itu sendiri. Menurut Sumardi & Sunaryo
(2006) tujuan asesmen dilakukan adalah untuk Memperoleh data yang relevan, objektif,
akurat dan komprehensif tentang kondisi anak saat ini Mengetahui profil anak secara utuh
terutama permasalahan dan hambatan belajar yang dihadapi, potensi yang dimiliki,
kebutuhan-kebutuhan khususnya, serta daya dukung lingkungan yang dibutuhkan anak
Menentukan layanan yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan
khususnya dan memonitor kemampuannya.
B. Saran
Saran yang diajukan oleh kelompok kami adalah agar dalam melakukan asesmen
setiap pelaku asesmen dapat melakukannya dengan menjamin validitas maupun
reliabilitasnya agar hasil ukurannya dapat dipertanggung jawabkan serta dapat menjadi
acuan atau dasar yang berguna bagi bidang pendidikan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Pomerantz, Andrew M. (2014). Psikologi Klinis Ilmu Pengetahuan, Praktik, dan Budaya.
Yogyakarta : Sage
TSP Marzuki. (2014). Kualitas Kecerdasan Intelektual Generasi Pembaru Masa Depan. Malang :
Universitas Brawijaya Press

15