Anda di halaman 1dari 16

“Psikologi Klinis Anak dan Remaja”

Dosen Pengampu : Siti Syawaliah, M.Psi.,Psikolog

OLEH :

Dhanyswara 4518091059

Gusti Ayu Putu Melanie Kristiantari 4518091069

Resky putri pamawang 4518091125

PSIKOLOGI 2018
UNIVERSITAS BOSOWA

1
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya yang telah memberikan beribu nikmat
sehingga Kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Psikologi Klinis anak dan
Remaja” tepat pada waktunya.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Psikologi Klinis.
Ucapan terima kasih Kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu Kami
dalam menyusun makalah ini, sehingga Kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan
semaksimal mungkin.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini,
dengan adanya kekurangan tersebut Kami senantiasa bersedia menerima dengan lapang
dada semua kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga makalah ini bermanfaat
bagi mereka yang membaca. Aamiin

Makassar, 26 Maret 2020

i
Daftar Isi

Kata Pengantar ………………………………………………………………… i

Daftar isi ……………………………………………………………………….. ii

Bab 1 : Pendahuluan

A. Latar Belakang …………………………………………………………. 1

B. Rumusan Masalah ………………………………………………………. 1

C. Tujuan Masalah ………………………………………………………. 1

Bab 2 : Isi

A. Isu Isu Psikologi Masa Kanak

kanak…………………………………………………….......................... 2

B. Penilaian pada Anak dan Remaja ……………………………………...... 3

C. Psikoterapi pada Anak dan Remaja…………………………………........ 8

Bab 3 : Penutup

A. Kesimpulan ……………………………………………………………….. 12

B. Saran ………………………………………………………………………. 12

Daftar Pustaka

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Anak berkembang melalui interaksi dengan lingkungan. Salah satu


lingkungan yang berperan adalah orang tua. Namun pada tahun terakhir jumlah
orang tua terutama ibu yang bekerja semakin meningkat; pada saat yang
bersamaan muncul kelompok atau lembaga yang menyelenggarakan pendidikan
di luar rumah untuk anak usia dini. Anak belajar melalui berbagai cara antara lain
melalui imitasi, melakukan sesuatu atau mencoba dan mengalami (Einon, 2005).
Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan
masa kehidupan orang dewasa yang ditandai dengan pertumbuhan dan
perkembangan biologis dan psikologis. Masa remaja ditandai dengan sejumlah
karakteristik penting yang meliputi pencapaian hubungan yang matang dengan
teman sebaya, dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita
dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, menerima keadaan fisik dan
mampu menggunakanya secara efektif, mencapai kemandirian emosional dari
orang tua dan orang dewasa lainnya, memilih dan mempersiapkan karier dimasa
depan sesuai dengan minat dan kemampuannya, mengembangkan sikap positif
terhadap pernikahan hidup berkeluarga dan memiliki anak, mengembangkan
keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga
negara, mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial dan
memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam
bertingkah laku

B. RUMUSAN MASALAH
1.Bagaimana Isu isu masa kanak-kanak
2.Bagaimana penilaian pada anak dan remaja
3.Bagaimana psikotrapi pada anak dan remaja

C. Tujuan
1.Untuk mengetahui bagaimana isu isu masa kanak-kanak
2.Untuk mengetahui bagaimana penilaian pada anak dan remaja
3.Untuk mengetahi bagaimana psikotrapi pada anak dan rema

1
BAB II
PEMBAHASAN

PSIKOLOGI KLINIS ANAK DAN REMAJA


Fokus klinik psikologi yang paling awal di buat oleh Lightner Wiwr pada akhir
1800 adalah asesmen dan penanganan anak dengan berbagai masalah belajar dan perilaku
(Reisman, 1991;Witmer 1907). psikologi klinis anak menerapkan keterampilan
profesional mereka dengan beragam cara. sebagian dari mereka mengkhususkan diri di
bidang Asesmen masalah masalah Yang berkaitan dengan fungsi perilaku, emosional
atau intelektual. Yang lain, terutama Terapis, menangani anak anak dan keluarga mereka
untuk membawa kemajuan yang berarti bagi hidup mereka. di sebagian kasus, kerja di
psikologi klinis anak tumpang Tindih dengan berbagai professi medis yang lain.

A. ISU-ISU PSIKOLOGIS MASA KANAK-KANAK


Gangguan masa kanak-kanak
Anak anak dan remaja tentu saja dapat didiagnosa dengan gangguan gangguan
yang tidak terdaftar di dalam kategori “ gangguan gangguan yang biasanya didiagnosa
untuk pertama kalinya pada masa bayi masa kanakkanak atau masa remaja”. depresi
mayor, gangguan stres Pascaterauma, gangguan stres, Penyalahgunaan obat obatan,
gangguan penyesuayan, phobia dan gangguan kecemasan adalah beberapa diantara
banyak masalah yang didiagnosa pada orang dewasa maupun anak-anak. di dalam kriteria
untuk gangguan stres Pascaterauma , DSM-IV-TR mencatat bahwa sementara orang
dewasa mungkin mengalami Kilas balik yang intrusive dan berulang kali terjadi, anak
anak mungkin ingat atau menghidupkan kembali traumanya melalui permainan repetitif
(Asosiasi Psikologi Amerika 2000).
Sebagian psikolog klinis yang menangani anak anak telah membagi masalah
masalah psikologis anak menjadi dua golongan besar gangguan eksternal dan gangguan
internal (Kadzin 2000). gangguan eksternal adalah gangguan ketika anak bertingkah
tanpa disadari dan sering menjadi gangguan bagi orang tua, guru atau anak lain.
Gangguan ini termasuk ADHD, gangguan tingkah laku dan gangguan pembangkangan.
Gangguan internal sering tidak dilihat dengan mudah karena lebih banyak melibatkan
pikiran dan perasaan yang maladaptif daripada perilaku keluar yang diseruptif.

Ketahanan dan Kerentanan


Faktor faktor yang berkontribusi pada kerentanan seorang anak terhadap berbagai
masalah psikologis telah menghasilkan sebuah daftar faktor faktor resiko yang mencakup
berbagai variabel di dalam maupun di sekitar anak.
 Faktor lingkungan, seperti kemiskinan, konflik emosional serius diantar orang tua,
orang tua tunggal, jumlah anak yang terlalu banyak, lingkungan tempat tinggal dan
sekolah yang buruk
 Faktor orang tua, seperti kesehatan fisik yang buruk, Kesehatan mental yang buruk
angka kecerdasan orang tua yang rendah dan kecenderungan hiper kritis pada
orang tua.

2
 Faktor anak, seperti masalah medis, temperamen yang sulit, IQ yang rendah,
prestasi akademik yang buruk dan kurangnya keterampilan.

B. PENILAIAN PADA ANAK DAN REMAJA


Perspekti Perkembangan
Berbagai masalah masalah anak anak mungkin memiliki makna yang berbeda
dan membutuhkan intervensi klinis yang berbeda, tergantung kelaliman mereka untuk
anak anak pada usia tertentu. Faktor faktor etnik atau kultural dapat mempengaruhi
kematangan anak, karena orang tua dan anggota keluarga yang lain dari sebuah budaya
tertentu mungkin mengharapkan anak berkembang dengan cepat atau lambat di daerah
tertentu (Pak Taylor, Ventura, NG 2010).

Asesmen Komperhensif
Informasi latar belakang dapat membantu psikolog untuk mengapresiasi seluruh
keadaan ketika muncul masalah yang dialami seorang anak. Sebagian informasi latar
belakang berkaitan dengan masalah yang dialami sementara sebagian lainnya lagi
konteks tual tapi juga kata penting. Berikut adalah contoh contoh pertanyaan yang
mungkin dicari jawabannya oleh psikolog klinis;
 Masalah yang dialami: apa tepatnya masalah yang dialami? apakah semua pihak
setuju dengan definisi masalah tersebut? Kapan masalah itu muncul? Bagi siapa
masalah ini paling meresahkan?
 Perkembangan: apa perkembangan fisik, kognitif, bahasa, dan sosial anak itu
sekarang? Apakah pernah ada abnormalitas perkembangan selama masa anak anak
atau periode prenatal? Apakah anak itu telah mencapai semua perkembangan pada
waktu yang diharapkan?
 Orang tua atau keluarga jadi dua apa karakteristik orang tua anak yang relevan?
Apa pola asuh yang digunakan? Apa faktor faktor psikologis medis dari orang tua
yang berperan didalam masalah gitu? Bagaimana anggota keluarga lain
mempengaruhi anak tersebut?
 Lingkungan: apa lingkungan lebih besar diluar keluarga itu? Apa faktor faktor
teknik atau budaya yang relevan yang memainkan peran di dalam perilaku anak
itu? Apakah ada peristiwa penting yang baru saja terjadi di dalam kehidupan anak
yang mungkin menjadi faktor bagi masalahnya saat ini?

Secara umum sebuah pendekatan pluralistik untuk menilai anak adalah praktik klinik
yang baik. Merrel (2008) menganjurkan sebuah pendekatan multisumber, multi metode,
multi lingkungan untuk asesmen anak. Assessment multi sumber melibatkan pihak
seperti orang tua, saudara, guru, personel sekolah lain, dan anak itu sebagai sumber
informasi entar masalahnya. Assessment multi metode melibatkan penggunaan metode
pengumpulan data yang berbeda oleh psikolog klinis seperti wawancara istrumen pensil
dan kertas yang dikerjakan oleh anak atau orang orang yang mengenal anak tersebut
dengan baik, observasi langsung terhadap perilaku anak dan teknik lain. Asesmen multi
lingkungan mengakui bahwa kadang masalah anak merembes ke seluruh aspek
kehidupannya tapi kadang spesifik untuk situasi tertentu. Jadi akan bijaksana untuk
mengumpulkan data dari rumah sekolah kantor dan lingkungan lain yang relevan.

3
Metode Asesmen
Psikolog klinis anak menggunakan berbagai alat dan teknik asesmen. Secara
umum, metode metode tersebut dapat dimasukkan ke dalam enam kategori besar yaitu
wawancara klinis, observasi perilaku, dalam peringkat perilaku, sekarang laporan diri,
teknik proyektif atau ekspresif, dan tes intelektual (cashel,2002,LaGreca dkk,.
2002,Merrell, 2008, Wodrich,1997).

Wawancara
Ketika Seorang psikolog klinisMenilai orang dewasa, sangat sering klien adalah
Satu-satunya orang yang diajak berbicara oleh psikolog. Prosesnya sangat berbeda dalam
asesmen anak, yaitu psikolog klinis biasanya tidak hanya mencari anak yang
bersangkutan tetapi juga orang orang lain yang, karena kontak mereka dengan anak,
dapat menjelaskan tentang masalah anak. Orang tua dan guru mungkin yang paling lazim,
tetapi tergantung masalah dan keadaannya, sejumlah orang lain juga dapat menyediakan
data yang relevan antara lain, saudara kandung, kakek atau nenek, Saudara saudara lain,
dokter anak, teman, petugas perawatan anak atau Tutor. Mohon cerai mereka yang
mengenal anak dengan baik Yaitu biasa disebut dengan informan begitulah sebutan
mereka dalam perang iniAdalah keterampilan vital bagi psikolog klinis. Ketika berbicara
dengan orang tua, sangat membantu untuk ber Empati dengan pengalaman mereka
dengan masalah anak, yang mungkin termasuk frustrasi atau kesedihan, dan mengoreksi
semua kesalahan konsepsi dengan meyakinkan mereka bahwa peran psikolog Bukan
untuk mencari siapa yang patut disalahkan, tetapi untuk bekerja secara konstruktif dan
kolaboratif bersama orang tua untuk memperbaiki masalahnya.
Tentang lancara dengan individu individu selain orang tua, selalu Esensial untuk
mendapatkan izin dari orang tua atau wali sebelum menghubungi mereka. Begitu kontak
terjadi, sebaiknya itu dilakukan saya professional, dengan penuh hormat, dan seringkas
mungkin. Ini terutama berlaku ketikaMenghubungi guru, Yang jadwal nya sering
membuat mereka tidak memiliki banyak waktu untuk tugas penting ini. Mengakui nilai
waktu mereka dengan menghubungi mereka selama periode perencanaan dan
berterimakasih atas usaha mereka setelahnya dapat memfasilitasi proses ini. Melawan
caraY anak itu sendiri jelas merupakan komponen Krusial, tetapi kadang kadang
menyimpang dari pekerjaan psikolog Klinis anak. Anak anak jarang merujuk dirinya
sendiri kepada seorang psikolog jauh lebih sering, juga itu berasal dari orang tua guru
atau dokter anak yang mengkhawatirkan tentang perilaku anak. Faktanya ketika anak
anak dibawa ke seorang psikolog klinis, biasanya fokusnya adalah pada perilaku yang
mengganggu dan bukan pada perilaku yang terganggu.
Jadi, sementara orang tua lain mungkin menginginkan anak untuk berubah, anak
itu sendiri mungkin tidak termotivasi atau bahkan menurutnya pada sebagian kasus, anak
mungkin cemas tentang wawancara tersebut dan tergantung umur dan pengalamannya,
mungkin dipengaruhi oleh konsepsi yang keliru bahwa psikologi akan melakukan sesuatu
yang mengerikan atau menyakitkan, seperti suntikan di kantor dokter anak.Untuk alasan
ini membangun hubungan baik akan sangat vital dalam wawancara anak (kendall,2012).
Bisa sangat membantu dia untuk melakukan obrolan ringan untuk membantu anak
merasa nyaman, tetapi tidak terlalu jauh sehingga Wawancaranya tidak akan

4
menyimpang dari maksudnya. Disamping itu, pembicaraan psikologi klinis seharusnya
cocok untuk anak, dan kosakatanya seharusnya jugaDapat dipahami oleh anak
(Kamphaus & Frick, 2005;villa & Reitman,2007). Yang lebih penting dari semuanya,
membahagiakan mereka, dan keinginan untuk bekerja bersama sama untuk memperbaiki
kehidupan mereka dapat membantu anak anak merasa nyaman di dalam stasiun cara
klinis. Ini berlaku terlepas apakah wawancaranya Terstruktur atau takterstruktur,Yang
keduanya lazim digunakan oleh psikolog klinis anak.

Observasi Perilaku
Anak melibatkan sebuah perilaku yang dapat di observasi secara langsung, seperti
di kebanyakan gangguan eksternal lisasi, psikolog klinis anak sering melakukannya.
Observasi perilaku mungkin mengharuskan mengunjungi lingkungan tempat masalah
perilaku itu terjadi, seperti sekolah atau rumah anak. Ketika sudah di sana, psikolog klinis
biasanya menggunakan sebuah metode sistematis-formal Untuk mengobservasi dan
menyandi perilaku anak. Ada beberapa sistem yang telah di publikasikan , Yang tersedia
bagi para psikolog klinis untuk maksud ini, termasuk formulir observasi langsung yang di
kembangkan bersama daftar perilaku anak, sistem observasi murid, yang merupakan
salah satu poin sistem asesmen berlaku untuk anak anak, sistem penyandian Interaksi
orang tua-anak Dan sistem fence koran interaksi sosial.
Sistem observasi perilaku bisa berbasis kejadian atau berbasis intervalnya di
dalam sistem berbasis kejadian, pengamat sekedar menghitung jumlah kejadian perilaku
target dalam kerangka waktu yang relatif panjang. Sebagai contoh, pengamat dapat
menghitung berapa kali seorang anak delapan tahun yang senang mengobrol berbicara
dengan teman kelasnya dalam waktu 30 min periode akademik selama jam sekolah.Di
dalam sebuah sistem berbasis intervalnya, pengamat membagi periode waktu lengkap
menjadi inter Fals intervalnya yang lebih kecil dan setelah itu mencatat apakah perilaku
target terjadi selama masing masing inter Fals. Jadi pengamat dapat membagi periode
waktu 30 min menjadi 30 Interpol, masing masing panjang 1 min, dan menentukan
jumlah menit dari waktu 30 Mei tersebut saat anak tersebut berbicara dengan teman
sekelasnya. Kedua jenis sistem ini memungkinkan si Colok klinis anak untuk mengukur
perilaku target secara empiris. Pendekatan sistematis langsung untuk menilai masalah ini
dapat terbukti merupakan pelangkap penting bagi Data tak langsung yang diperoleh dari
anak, orang tua, guru, dan lain lain.
Salah satu masalah terkait observasi langsung perilaku melibatkan reaktivitas.
Artinya perilaku anak mungkin berubah semata mata karena kesadaran mereka tentang
kehadiran pengamat. Jika relativitasnya kuat, observasi nya mungkin tidak falid. Jadi,
sekolah Kamis anak seringkali menunggu untuk memulai mencatat observasi mereka
sampai anak tampak menjadi terbiasa dengan kehadiran pengamat. Masalah reaktivitas
bisa sangat relevan di dalam situasi situasi ketika pengamat tampak memiliki latar
belakang budaya berbeda dibandingkan orang orang yang ada di dalam ruangan tempat
berlangsungnya observasi. Merrell (2008) Menawarkan contoh seorang psikolog klinis
yang mau share Fasih seorang anak di sebuah ruang kelas yang seluruh siswa yang
memiliki Etnisitas berbeda dengan psikolog klinis tersebut. Ketika observasi langsung
alami-Konser Fasih terhadap sebuah lokasi pelaku itu terjadi tidak praktis, psikolog klinis
akan sering kali menang kan pasti langsungAnalog. Konser Fasih langsung analog
biasanya berlangsung di dalam ruangan klinik, yang menjadi tempat simulasi situasi

5
kehidupan nyata. Menurut definisinya, observasi langsung analog mungkin tidak benar
benar sama dengan situasi dunia nyata tempat perilaku bermasalah itu timbul.
Bagaimanapun juga, ini dapat menjadi sebuah tambahan penting bagi deskripsi tangan
kedua tentang perilaku bermasalah yang dimaksud.

Skala Peringkat Perilaku


Sekalah peringkat perilaku adalah bentuk pensil dan kertas yang dikerjakan orang
tua, guru, orang dewasa lain tentang masalah yang dialami seorang anak. Mereka
biasanya terdiri atas sejumlah berlaku, yang masing masing diikuti oleh beberapa
responden responden milih salah satu yang paling sesuai dengan anak. Sebagai contoh,
sebuah sekalah peringkat prilaku mungkin memasukkan sebuah item Yang berbunyi
“anak itu mendorong anak anak lain”, Dan semua item pada sekalah ini mungkin diikuti
oleh semua skala lima poin yang terdiri atas sangat sering, sering, kadang kadang, jarang,
sangat jarang.
Dengan sejumlah skor skor dari berbagai sub sekalah dan sekarang sekarang cap,
psikolog klinis anak bisa mendapatkan data objektif untuk dibandingkan dengan standar
yang telah di Publikasikan untuk anak anak di Rentang umur tertentu. Diantaranya
sekalah penilaian berlaku yang paling lazim digunakan adalah versi versi orang tua dan
guru. Dari daftar perilaku anak anak, untuk beragam perilaku bermasalah, sistem asesmen
berlaku untuk anak anak juga untuk beragam perilaku bermasalah serta sekalah peringkat
Conners , Untuk masalah masalah terkait perhatian (Merrell& Harlacher,2008).
Keunggulan sekalah peringkat berlaku termasuk kenyamanan, tidak mahal dan
obyektifitasnya.kekurangan nya termasuk fakta bahwa mereka melarang responden untuk
mengelaborasi Respon respon mereka dan kemungkinan bahwa item item sekalah itu
tidak menangkap pelaku bermasalah anak secara akurat.

Skala Laporan Diri


Persis seperti asesmen orang tua yang sering melibatkan kuesioner untuk
dikerjakan secara langsung oleh Klien, Asesmen anak dan juga sering lakukan tentu saja
penggunaan yang ini mengasumsikan bahwa tingkat kemampuan membaca, rentan
perhatian, dan motivasi klien Untuk mengerjakan tes tersebut sesuai. Untuk alasan ini,
skala laporan diriLebih lazim digunakan pada remaja daripada anak anak yang lebih
muda (Cashel, 2002).
Skala laporan diriUntuk anak dan remaja cukup mirip dengan sekalah laporan diri
untuk orang dewasa. Faktanya, sebagian sekarang laporan diri dewasa yang paling lazim
digunakan termasuk inventori kepribadian Muktifase Minnesota (MMPI) dan inventori
muktiaksial klinis Millin (MCMI), Tersedia dalam versi remaja. Ini adalah tes tes pensil
dan kertas yang mengharuskan remaja membaca serang Kayan pertanyaan dan setelah itu
menandai respon benar atau salah atau beberapa pilihan pada sebuah kontinum yang
paling menggambar kan dirinya. Skor didapatkan dengan membandingkan pola skor skor
remaja Dengan data standar yang didasarkan pada Rentang umur. Versi remaja adalah
ukuran kepribadian berbasis luas yang panjang, tetapi sekarang laporan diri lain yang
digunakan pada remaja lebih singkat dan ditargetkan pada gejala gejala tertentu seperti
depresi dan kecemasan.
Seperti dengan orang dewasa, sekarang poran diri untuk menilai anak atau remaja
harus digunakan dengan cara yang kompeten secara kultural. Sebagai contoh, psikolog

6
klinis anak seharusnya memastikan bahwa anak lancar di dalam bahasa yang digunakan
dalam tes dan bahwa latar belakang budaya Direpresentasikan Di dalam data standar
yang akan dijadikan pembanding bagi respon Klien.

Teknik Proyektif Ekspresif


Teknik teknik proyektif dan ekspresif yang digunakan di dalam asesmen anak
anak termasuk tes tes yang sama yang digunakan pada orang dewasa, seperti teknik
bercak tinta Rorchach, tes Apersepsi tematik (TAT) , dan teknik Teknik melengkapi
kalimat, Maupun lain yang lebih eksklusif untuk anak anak. Tes Apersepsi Anak anak
adalah adapatasi tes bercerita di TAT Yang menampilkan toko toko binatang, bukan
manusia, yang meminta Klien klien muda Untuk bercerita. Alternatif yang lebih mutakhir
dan secara kultural untuk tes ini adalah tes Apersepsi Roberts. Temas Dirancang secara
khusus sebagai alternatif yang sensitif secara kultural untuk TAT. Klinisi dapat memilih
Diantara kartu kartu penuh warna yang digambarkan individu individu Non minoritas
atau Latin atau Afrika Amerika di berbagai macam situasi, yang meminta anak anak yang
berumur lima sampai 18 tahun untuk bercerita.
Kartu kartu Temas Masukan tingkat ambiguitas yang lebih rendah dibandingkan
TAT, Demikian rupa sehingga masing masing kartu berpusat pada sebuah tema,
lingkungan atau masalah tertentu. Data standar untuk Temas Spesifik budaya, dengan
standar yang diorganisasikan menurut umur, gender dan Etnisitas yang spesifik.
Disamping tes tes proyektif yang minta klien Untuk merespons dengan kata kata seperti
ini, kategori tes tes ini termasuk beberapa tes ekspresif yang meminta klien merespons
dengan gambar. Gambar gambar ini, bila di interpretasikan secara akurat dia kini mengo
munikasi kan informasi penting tentang kepribadian klien. Di dalam salah satu tes
semacam itu, tes menggambar orang tua klien diberi selembar kertas kosong dan
Diperintahkan untuk menggambar orang secara utuh. Serupa dengan itu, di dalam teknik
menggambar keluarga kinetik, gambarnya terdiri atas keluarga klien yang terlibat dalam
kegiatan tertentu, dan tes rumah pohon orang mengharuskan klien untuk menggambar
ketiga item yang disebutkan di dalam judulnya. Psikolog klinis anak menggunakan
gambar gambar yang dihasilkan oleh tes tes semacam ini untuk mengembangkan
hipotesis tentang fungsi psikologis klinis klien.

Tes-tes Intelektual
Tes tes intelektual untuk anak anak secara umum terdiri atas tes tes IQ Dan tes tes
prestasi, dan mereka berbeda dengan metode metode lain yang dideskripsikan di atas.
Sementara metode ada yang dideskripsikan ya atas menilai fungsi perilaku dan
emosional. Tes tes IQ dan prestasi menilai fungsi intelektual. Di dalam sebuah evaluasi
psikologis lengkap, seorang psikolog klinis anak mungkin menggunakan metode metode
dari semua jenis kategori ini, tetapi pada berapa Tipo evaluasi yang lazim dilakukan
seperti evaluasi disabilitas belajar, secara Eksklusif penekanannya adalah pada tes tes
intelektual. Tes IQ dan prestasiUntuk anak anak maupun orang dewasa dijelaskan secara
rinci. Di sini patut diulangi kembali bawa ketidaksesuaian Antara IQ yang pada dasarnya
adalah kemampuan intelektual dan prestasi yang pada dasarnya adalah apa yang dapat
dicapai anak secara akademik dan kriteria kunci untuk diagnose is diagnose is disabilitas
belajar.

7
Artinya jika prestasi akademik secara signifikan di bawah IQ di bidang tertentu
seperti membaca menulis atau matematika, maka sebuah diagnosis gangguan belajar
mungkin akan tepat. Di banyak negara bagian Dan distrik sekolah, diagnose is macam itu
menggolongkan anak SAR formal sebagai anak dengan disabilitas, yang pada Gilirannya
memungkinkan akses untuk pelayanan pendidikan khusus. Diantara tes tes intelektual
khusus, skala Inteligensi Wechsler Untuk anak anak- edisi keempat (WISC-IV) Versi
bahasa Spanyol telah dicatat sebagai sebuah kemajuan signifikan dibandingkan edisi edisi
WISCSebelumnya dan secara umum merupakan pilihan yang kuat untuk anak anak
berusia muda yang berbahasa Spanyol. Tes ini tunjukan pada anak anak yang orang
tuanya berasal dari beragam negara yang gunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa
dominan, termasuk Meksiko, Kuba. Republik Dominica, Puerto Rico, dan negara negara
lain di Amerika tengah dan Amerika Selatan. Kelemahan tes tes yang Terjemah kan
Semacam ini adalah bahwa meskipun item item nya.

C. PSIKOTERAPI PADA ANAK DAN REMAJA


Meskipun terapi pada anak-anak da temaja mungkin tampak cukup berbeda dengan terapi
pada orang dewasa, tetapi teknik-teknik yang di gunakan oleh kedua terapis sering kali
berasal dari teori-teori yang sama sebagai dasarnya. Artinya, pendekata-pendekatan
utama terapi termasuk psikodinamik, humanistik, behavioral dan kogniti, telah
menghasilkan bergai aplikasi untuk anak-anak maupun orang dewasa.

1. Terapi Kognitif-Behavioral untuk anak dan remaja


Dibandingkan jenis terapi anak lain, mereka mempresentasikan pergeseran ke arah
penanganan berbasis bukti dan penyadaran diri pada data empiris dengan kata lain
mereka telah mengakumulasi bukti-bukti bahwa mereka berhasil (chorpita dkk.,
2011). Terapi-terapi ini meilbatkan teknik-teknik behavioral maupun kognitif, dan di
banyak kasus kedua tipe teknik ini di gunakan sama-sama. Pada kebanyakan kasus
bukti-bukti empiris ini diperoleh di dalam studi-studi hasil psikoterapi yang
menerapkan penanganan berbasis panduan tertentu untuk gangguan tertentu.
Meskipun penanganan kognitif-behavioral telah di temukan bermanfaat untuk
beragam ganggguan pada anak-anak termasuk depresi dan ADHD. ahkan ada
penanganan-penanganan tertentu yang di dukung secara empiris untuk anak-anak
antara lain dengan ganggguan obsesif-kompulsif (OCD), gangguan panik, fobia
(termasuk fobia sekolah) dan fobia sosial. Ketika terapis kognitif-behavioral
memberikan pekerjaan rumah kepada klien anak mereka, mereka sering menggunakan
sistem penguatan yang jauh lebih disengaja untuk memastikan bahwa pekerjaan rumah
tersebut di kerjakan. Tergantung umur dan minat anak. Mereka dapat menggunakan
stiker, permen, hak istimewa, ata sekedar pujian untuk mendorong naka
menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan di antara sesi-sesi

2. Latihan Arahan Diri


Latihana arahan diri pada dasarnya adalah sebuah bentuk terapi kognitif yang
mengajarkan anak-anak untuk membicarakan tentang situasi-situasi yang diakibatkan
perilaku problematik mereka secara rinci, untuk meningkatkan kemungkinan perilaku
yang lebih disukai. Prosesnya melibatkan sebuah urutan langkah-langkah yaitu :

8
 Anak-anak mendengarkan berbagai intruksi yang diucapksn dengan keras dan
kemudian di masukkan sedikit demi sedikit ke dalam pikirannya sendiri.
Begitu sebuah perilaku atau situasi terget terindetifikasi terapis memulai
prosesnya dengan mencontohkan perilaku yang semestinya
 Anak mencoba perilaku tersebut. Dan terapis sekali lagi mengucapkan
intruksinya dengan keras
 Setalah hal ini dikuasai, anak mengucapkan intruksi tersebut keras-keras untuk
dirinya sendiri sambil mengerjakan perik]laku tersebut
 Selanjutnya anak membisikkan intruksi tersebut untuk dirinya sendiri dan
akhirnyaanak menyelesaikan perilaku itu secara diam-diam dengan hanya
intruksi dalam hati untuk dirinya sendiri
Latihan arahan diri “dirancang untuk menumbuhkan sikap mengatasi masalah dan
memunculkan strategi kognitif spesifik yang dapat digunakan klien di berbagai fase
respons stres mereka” (meichenbaum, 1985, hlm. 69). Alih-alih mengubah “kognisi”
itu sendiri, terapis yang menggunakan latihan arahan diri mengenalakn ‘pernyataan
diri” kepada klien mereka. Artinya ketika seorang anak menghadapi masalah atau
tantangan dan kurang memiliki keterampilan mengatasi masalah atau membuat
pernyaan diri yang meladaptif seperti misalnya “aku tidak bisa menangani ini” aatu
“aku tidak punya ide tentang apa yang hrus kukerjakan” atau “ aku akan terlibat
masalah”, maka kemungkinan perilaku yang semestinya pun merendah. Jika
pernyataan diri negatif itu dapat digantikan dengan pernyataan diri yang konstruktif
lebih membantu yang menuntun anak dalam melalui langkah-langkah yang di
perlukan, maka perilaku yan lebih disukaai jauh lebih mungkin terjadi.

3. Latihan Bagi Orang Tua


latihan bagi orang tua adalah sebuah bentuk terapi perilaku yang mengajarkan orang
tua untuk menggunakann teknik-teknik yang didasarkan pada pengondisian untuk
memodifikasi perilaku problematik anak mereka. Latihan bagi orang tua dimukai
dengan definisi yang jelas dan dapat diukur tntang perilaku bermasalah anak. Setelah
itu bersama dengan orang tua terapis melaksanakan sebuah analisis fungsional untuk
mencoba memahami kemungkinan-kemungkinan yang mempertahankan perilaku.
Selanjutnya sekali lagi bersama orang tua, terapis mengeskplorasi berbagai amcam
konsekuensi untuk perilaku tersebut. Orang tuan diajari tentang cara mebangun
berbagai kemungkinan dan mengomunikasinnya kepada anak. Banyak aspek
pengondisian dapat didiskusikan selama terapis mengedukasi orang termasuk
penguatan, hukuman, ekstingsi, generalisasi, diskriminasi, jadwal penguatandan
konsep-konsep lainnya. Di akhir prgram semacam itu latihan bagi orang yang sukses
tidak hanya mendaptkan perilaku yang lebih baik pada anak, tetapi juga orang tua
yang lebih kompoten dan percaya diri.

4. Terapi Parmainan
Terapi permainan adalah sebuah bentuk penanganan yang unik untuk klien anak-anak.
Terapi ini memungkinkan anak-anak untuk berkomu ikasi melalui tindakan dengan
objek-objek seperti rumah boneka, tokoh-tokoh dalam film dan binatang mainan,
bukan dengan kata-kata. Melalui permainan anak-anak dapat mengungkapkan

9
masalah-masalah emosional mereka psikolog klinis dan upaya-upaya mengatasinya.
brems (2008) mengatakan bahwa terapi permainan memiliki tiga fungsi dasar yaitu
pembentukan hubungan penting, pengungkapan perasaan dan pikiran dan
penyembuhan. Terapi permainan memiliki banyak bentuk tetapi dua bentuk yang
paling lazim di praktikan muncul dalam teori psikodinamik dan humanistik.
a. Terapi Permainan-Psikodinamik
Seperti didalam semua bentuk terapi psikodinamik tujuannya adalah membuat
yang tidak disadari menajadi disadari, tetapi pada anak-anak yang masih muda,
diasumsikan bahwa kurang memiliki keterampilan verbal dan rentang perhatian
untuk bercakap-cakap secara langsung dengan terapi tentang isu-isu mereka.
Dalam terapi permainan psikodinamik ruang brmain biasanya bersisi bergam
objek yang dapat dipilih untuk dimainkan anak. Terapi psikodinamik dapat
mencatat objek-objek yang di pilih anak khususnya jika ia tampak
mengindetikasi diri dengan kuat dengan mainan tertentu. Sebagai contoh
seorang anak yang memilih sebuah boneka rusak dan menunggunakannya
sebagai tokoh utama di dalam berbagai pertualangan pura-pura mungkin
memilikinrasa percaya diri yang rusak. Setelah objek tertentu dipilih terapis
memperhatikan baik-baik cara anak menggunakannya dan tindakan-tidndkan
dan tema-tema yang termanifestasi di dalam permainan anak merepresentasikan
isu-isu tak sadar laten. Interpertasi yang ditawarkan terapis kepada anak tentang
tindakan-tindakannya selama bermain dapat membantu mereka menyadari
proses-proses mental batin dan meningkatkan kemampuaanya untuk membuat
piliha-pilihan yang disengaja tentang perilaku di masa mendatang (marans dkk.,
2002; o’connor, 2000).
b. Terapi Permainan Humanistik
Terapi permainan humanisntik melibatkan banyak kegiatan, bahan-bahan dan
asumsi-asumsi yang sama dengan terapi bermain psidinamik. Anak bermain
dengan berbagai objek di ruang bermain, terapis berpartisipasi dan
mengobservasi, dan asumsi yang mendasari adalah bahwa kegiatan dan teman di
dalam permainan mengungkapkan kerja batin di dalam pikiran anak. Akan
tetapi, ada beberapa perbedaan kunci antara terapi bermain humanistik
(kadang0kadang disebut terapi bermain “terpusat anak”) dan terapi bermain
psikodinamik (o’connor, 2000). Meskipun interpretasi salah satu elemen kunci
terapi bermain psikoanalisis, terapis bermainhumanistik jarang menawarkan
interpretasi, karena mereka tidak memiliki tujuan primer yang sama dengan
terapis psikodinamik yaitu membuat hal yang tidak disadari menjadi di
sadari.alih-alih menginterpretasikan perilaku kline terapis bermain humanistik
cenderung merefleksi kan perasaan klien, terapis bermain humanistik cenderung
merefleksikan perasaan klien. Refleksi ini adalah salah satu bgian penting dari
tujuan terapi bermain humanistik secara keseluruhan, yang sama seperti terapi
humanistik untuk orang dewasa yaitu untuk memfasilitasi aktualisasi diri. Jadi,
selama terapis bermain bermain humanistik mengobservasi anak dan bermain
bersamanya, ia membangun hubungan yang menerima anak secara utuh
sebagaimana adanya.

10
Seberapa Baikkah Hasil Psikoterapi Untuk Anak dan Remaja?
Penelitian yang empiris dengan jumlah yang signifikan menunjukan bahwa
secara umum, efikasi psikoterapi untuk anak-anak dan remaja cukup kuat. Faktanya
tema-tema studi semacam itu serupa dengan tema studi-studi tentang hasil terapi untuk
orang dewasa. Anak-anak dan remaja yang menjalani psikoterapi secara konsisten
memeperlihatkan kemajuan signifikan dibadingkan anak-anak serupa yang tidak
menerima penanganan sama sekali. Yang paling sering, dalam berbagai meta-analisis dan
tinjauan, berbagai pendekatan terapi ditemukan memiliki efek-efek yang kira-kira
sebanding, kadang-kadang, efeksi penanganan perilaku ditemukan sedikit lebih tinggi
dibandingkan pendekatan non-verbal (carr, 2008; Evans dkk., 2005; Russ & Freedheim,
2002; Weisz, Weiss, Han, Granger & Morton, 1995).
Dengan tegasnya efikasi psikoterapi anak dan remaja secara umum, para peneliti
mengalihkan perhatian mereka ke pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik tentang
bentuk-bentuk terapi tertentu untuk masalah masalah yang di hadapi seperti gangguan
kecemasan, tetapi juga berbagai macam masalah yang di hadapi seperti gangguan
pembengkangan, depresi, hiperaktivitas, enueresis (mengompol), dan gangguan tidur
(Ollendick & Shirk, 2011; power, 2002). Serupa dengan itu, ketegori luas terapi bermain
telah memperlihatkan efikasi untuk beragam gangguan eksternalisasi maupun gangguan
internalisasi (Bratton, Ray Rhine & Jones, 2005; Ray, 2006). Secara lebih spesifik,
sejumlah teknik tertentu yang kebanyakan berorientasi perilaku, telah terbukti sukses
dalam menangani gangguan-gangguan tertentu (Curry & Becker, 2002, 2007; Rapee
dkk., 2009;Silverman & Pina, 2008; Smith, Barkely & Shapiro, 2006; Storch dkk., 2008)

 Desensitisasi sistematis, pemodelan dan restrukturisasi kognitif untuk fobia dan


gangguan-gangguan kecemasan lainnya.
 Paparan dan pencegahan respons untuk ocd
 Teknik-teknik latihan bagi orangtuan untuk gangguan perkembangan dan
gangguan tingkah laku
 Latihan bagi orangtua dan manajemen penguatan ruang kelas untuk ADHD
 Teknik-teknik kognitif behavioral dan terapi interpersonal untuk depresi masa
kanak-kanak
Menariknya sebagian masalah-masalah yang lazim pada masa kanak-kanan dan masa
remaja telah menerima perhatian signifikan dari para peneliti hasil terapi, sementara
masalah-masalah lainnya menerima perhatian jauh lebih sedikit.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Terapi dengan anak-anak dan remaja memiliki beragam bentuk kebanyakan
berdasarkan orientasi-orientasi dasar yang sama seperti bentuk-bentuk psikoterapi
orang dewasa terapi kognitif-perlaku untuk anak-anak telah mengakumulasikan
dukungan empiris untuk banyak gangguan, khususnya gangguan kecemasan.

B. Saran
Saran dari kelompok kamia ialah peran orang tua yang paling utama untuk
memperhatikan perilaku dan perkembangan sang anak dan di perlukan waktu
luang untuk menemani anak bermain agar anak tidak mereasa kesepian.

12
DAFTAR PUSTAKA

Pomerantz M. Andrew .(2014). Psikologi Klinis Ilmu Pengetahuan, Praktik, dan


Budaya Edisi 3. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Martani, W. (2012). Metode Stimulasi dan Perkembangan Emosi Anak Usia


Dini. JURNAL PSIKOLOGI, 39, 112 – 120

Fardi, M. & Hidayat, K,B. (2016). Konsep Diri, Adversity Quotient dan Penyesuaian
Diri pada Remaja. Jurnal Psikologi Indonesia, 5, 137 - 144

13