Anda di halaman 1dari 23

PSIKOLOGI KLINIS

“TERAPI KELOMPOK DAN KELUARGA”

Dosen Pengampu:

Siti Syawaliah, M.Psi.,Psikolog

Disusun Oleh:

Kelompok 8 Kelas C

Shekinah Priska Hutapea 4518091126

A.Suci Paramitha 4518091132

Meliyana 4518091160

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS BOSOWA

MAKASSAR

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan
rahmat-Nya berupa kesempatan dan kesehatan sehingga kami mampu menyelesaikan makalah
ini dengan baik.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan tentang Terapi Kelompok dan Terapi Keluarga. Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini, terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu,
kami berharap adanya kritik, saran atau usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di
masa yang akan mendatang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sebelumnya kami memohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan.

Makassar, 26 Maret 2020

2
DAFTAR PUSTAKA

SAMPUL............................................................................................................................... 1

KATA PENGANTAR.......................................................................................................... 2

DAFTAR ISI......................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................... 4

1. LATAR BELAKANG............................................................................................... 4
2. RUMUSAN MASALAH........................................................................................... 4
3. TUJUAN PENULISAN............................................................................................. 5

BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................... 6

1. TERAPI KELOMPOK.............................................................................................. 6
2. TERAPI KELUARGA…………………………………………………………... 14

BAB III PENUTUP.............................................................................................................. 21

1. KESIMPULAN.......................................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................... 23

3
BAB I

PENDAHULUAH

1. LATAR BELAKANG
Manusia sebagai makhluk hidup sosial yang hidup berkelompok dimana satu
dengan yang lainnya saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan sosial. Kebutuhan
sosial yang dimaksud antara lain: rasa menjadi milik orang lain atau keluarga, kebutuhan
pengakuan orang lain, kebutuhan penghargaan orang lain dan kebutuhan pernyataan diri.
Secara alamiah individu selalu berada dalam kelompok, sebagai contoh individu berada
dalam satu keluarga. Dengan demikian pada dasarnya individu memelukan hubungan
timbal balik, hal ini bisa melalui kelompok. Penggunaan kelompok dalam praktek
keperawatan jiwa memberikan dampak positif dalam upaya pencegahan, pengobatan atau
terapi serta pemulihan kesehatan keseorang. Meningkatknya pengunaan terapeutik,
modalitas merupakan bagian dan memberikan hasil yang positif terhadap perubahan
perilaku pasien atau klien, dan meningkatkan perilaku adaptif dan mengurangi perilaku
maladaptive.
Menurut ahli keluarga yaitu Friedman (1998) menjelaskan bahwa keluarga dalam
memenuhi kebutuhan kehidupannya memiliki fungsi-fungsi dasar keluarga. Fungsi dasar
tersebut terbagi menjadi 5 fungsi yang salah satunya adalah fungsi affektif, yaitu fungsi
keluarga untuk pembentukan dan pemeliharaan kepribadian anak-anak, pemantapan
kepribadian orang dewasa serta pemenuhan kebutuhan psikologis para anggotanya.
Apabila fungsi affektif ini tidak bisa berjalan semestinya maka terjadi gangguan
psikologis yang berdampak pada kejiwaan dari keseluruhan unit keluarga tersebut.
Mengenai fungsi affektif ini banyak kejadian dalam keluarga yang memicu terjadinya
gangguan kejiwaan baik pada anggotanya maupun pada keseluruhan unit keluarganya,
contoh kejadian-kejadian tersebut seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga,
kultural, dll. Kejadian tersebut tidak semata-mata muncul tetapi selalu ada pemicunya,
dalam konsep keluarga yang biasanya menjadi pemicu adalah struktur nilai, struktur
peran, pola komunikasi, pola interaksi, dan iklim keluarga yang mendukung untuk
mencetuskan kejadian-kejadian yang memicu terjadinya gangguan kejiwaan pada
keluarga tersebut. Sehingga dalam menormalisasikan individu dalam kehidupannya baik
untk dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat sekitarnya dalam hubungan sosial.

2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang, maka dalam makalah ini penulis merumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1. Apa pengertian Terapi Kelompok dan Terapi Keluarga?
2. Bagaimana proses Terapi Kelompok dan Terapi Keluarga?
3. Apa manfaat dari Terapi Kelompok dan Terapi Keluarga?

4
3. TUJUAN PENULISAN
Tujuan yang hendak dicapai dalam makalah ini sebagai berikut :
1. Untuk pengetahui pengertian dari Terapi Kelompok dan Terapi Keluarga
2. Untuk mengetahui bagaimana proses Terapi Kelompok dan Terapi Keluarga
3. Untuk mengetahui manfaat dari Terapi Kelompok dan Terapi Keluarga
4. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Klinis

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. TERAPI KELOMPOK
a. Penekanan Interpersonal
Terapi kelompok dipraktikkan dengan beragam bentuk, termasuk adaptasi dari
banyak terapi individual yang sangat terkenal, seperti psikodinamik, perilaku, kognitif,
humanistik-eksistensial, dan banyak lagi yang lain (Hopper, Kaklauskas & Greene, 2008;
MacKenzie, 2002; Shaffer & Galinsky, 1989). Kebanyakan terapi kelompok ini sangat
menekankan interaksi interpersonal. Artinya, kebanyakan bentuk terapi kelompok
memanfaatkan fakta bahwa pengalaman terapi kelompok itu sendiri didasarkan pada
interaksi dengan orang lain. Intervensi terapis kelompok sering menyoroti bagaimana
para anggota kelompok merasakan, berkomunikasi dan membentuk hubungan satu sama
lain. Melebihi komponen lain, penekanan pada interaksi interpersonal inilah yang
membedakan terapi kelompok dengan terapi individual (Burlingame & Baldwin, 2011).
Sementara terapi individual terbatas pada interaksi dua orang antara klien dan terapis,
terapi kelompok memungkinkan jaringan hubungan yang jauh lebih kompleks untuk
berkembang. Di dalam terapi kelompok, seorang klien membentuk hubungan bukan
hanya dengan seorang terapis, tetapi juga dengan orang-orang lain yang ada di dalam
ruang terapi. Jadi, terapi kelompok melibatkan ragam respons interpersonal yang lebih
besar.

Faktor-faktor Terapeutik dalam Terapi Kelompok


Yalom (2005) mendeskripsikan 11 faktor terapeutik spesifik yang bermanfaat
bagi klien. Beberapa faktor sangat vital bagi pemahaman fundamental tentang terapi
kelompok seperti yang dideskripsikan dengan lebih rinci di sini. Faktor-faktor terapeutik
Yalom untuk psikoterapi kelompok
1. Pembangkitan harapan
2. Universalitas
3. Memberikan informasi
4. Alturisme
5. Rekapitulasi kolektif kelompok keluarga primer
6. Pengembangan teknik-teknik bersosialisasi
7. Perilaku imitatif
8. Pembelajaran interpersonal
9. Kohesivitas kelompok
10. Katarsis
11. Faktor-faktor esensial

6
Universitas

Klien dengan masalah psikologis sering kali percaya bahwa tak ada seorang pun
yang berkutat dengan masalah yang sama dengannya. Mereka mungkin tidak menyadari
persamaan masalah, gejala atau diagnosis mereka. Menemukan dirinya di sebuah ruangan
penuh orang-orang lain yang memiliki masalah serupa itu sana sudah dapat
menggembirakann. Yalom (2005) mendeskripsikan fenomena ini sebagai universalitas.

Jika kelompok diorganisasikan di seputar sebuah masalah tunggal—gangguan


makan, gangguan panik, ketergantungan bahan kimia, dan sebagainya—klien mungkin
segera mengalami perasaan “kami berada di dalam perahu yang sama”. Universalitas
dibangun menjadi kelompok homogen. Akan tetapi, di dalam kelompok heterogen,
universalitas mungkin tidak tampak jelas pada awalnya. Tetapi seiring waktu, klien-klien
di dalam kelompok heterogen sering kemudian menyadari bahwa meskipun di permukaan
gejala-gejala mereka berbeda, pada kenyataannya isu-isu fundamental yang
mendasarinya mungkin cukup mirip. Terlepas dari apakah kelompoknya homogen atau
heterogen, kelompok memberikan perasaan kepada para klien bahwa mereka tidak
sendirian, suatu hal yang tidak dapat diberikan oleh terapi individual.

Kohesivitas Kelompok

Kohesivitas kelompok mengacu pada perasaan saling terhubung di antara para


anggota kelompok. Perasaan saling terhubung satu sama lain ini ditandai oleh perasaan
kehangatan, kepercayaan penerimaan, rasa memiliki dan nilai di antara para anggota
kelompok. Berpastisipasi di sebuah kelompok berkelanjutan semacam ini akan
meningkatkan kesehatan psikologis.

Yalom (2005) dan yang lain (misalnya, Ormont, 1992) mengatakan bahwa
kohesivitas kelompok tidak harus berarti bahwa setiap interaksi kelompok harus sopan
dan santun. Faktanya, sebuah interaksi kelompok berkelanjutan yang tidak ditandai oleh
emosi negatif mungkin sebenarnya justru mengindikasikan bahwa kelompok itu
tidak/kurang memiliki kohesivitas. Kelompok terapi yang benar-benar kohesif—seperti
keluarga, kelompok kerja, atau tim yang kohesif—cukup kuat untuk menolerir
kemarahan, kesedihan, kecemburuan, kekecewaan, dan semacamnya. Mereka paham
bahwa ketika orang-orang menjadi bermakna bagi satu sama lain, mereka sering
membangkitkan perasaan-perasaan yang kuat, dan mereka mendorong diskusi tentang
perasaan-perasaan tersebut, bahkan ketika diskusi itu terasa tidak menyenangkan atau
terasa kikuk.

Kohesivitas memainkan peran yang sama di dalam terapi kelompok seperti peran
yang dimainkan oleh hubungan/aliansi terapeutik di dalam berapi individual. Di samping

7
menyembuhkan, kohesivitas juga mempersiapkan faktor-faktor penyembuh lain untuk
memberikan efeknya (Burlingame, McClandon & Alonso. 2011; Yalom, 2005). Akan
tetapi, sementara persepsi seorang klien tentang aliansi terapeutik di dalam terapi
individual hanya melibatkan satu orang lain. persepsi tentang kohesivitas kelompok
melibatkan banyak orang lain. Jadi, bagi terapis kelompok, sangat penting untuk tidak
hanya memelihara hubungan kolaboratif yang saling memercayai secara langsung dengan
klien, tetapi juga mendukung pengembangan sebuah kelompok tempat para klien juga
mengembangkan hubungan kolaboratif yang saling memercayai satu sama lain.

Pembelajaran Interpersonal

Belajar dari pengalaman interpersonal di dalam kelompok—pembelaiaran


interpersonal—adalah jantung dari terapi kelompok. Terapis kelompok mengasumsikan
bahwa masalah interpersonallah yang pertama-tama memberikan kontribusi pada alasan
klien untuk mencari terapi, bahwa kecenderungan interpersonal yang sama akan tampak
di dalam kelompok, dan bahwa pelajaran-pelajaran yang dipetik melalui interaksi dengan
sesama anggota kelompok akan digeneralisasikan ke kehidupan klien di luar kelompok.
Dalam pengertian sederhana, terapi kelompok memberikan kesempatan untuk "latihan
berhubungan". Mirip seperti sekelompok aktor yang berlatih sebelum tampil atau sebuah
tim atlet yang berlatih sebelum pertandingan, para anggota sebuah kelompok terapi
menggunakan pertemuan kelompok sebagai tempat untuk mengidentifikasi
kecenderungan hubungan yang bermasalah dan berusaha memperbaikinya. Dengan kata
lain, para anggota kelompok tidak hanya membicarakan tentang hubungan; mereka
membentuk hubungan satu sama lain dan berusaha memperbaiki hubungan-hubungan
tersebut dengan asumsi bahwa apa yang mereka dapatkan pada akhirnya juga akan
menguntungkan hubungan pribadi mereka di luar kelompok.

Mikrokosmos Sosial. Selama terapi kelompok berjalan, kelompok menjadi


sebuah mikrokosmos sosial untuk setiap anggota (Ormont, 1992; Yalom 2005). Dengan
kata lain, kecenderungan hubungan yang mengarakterisasikan hubungan klien dengan
orang-orang penting dalam kehidupan pribadi mereka—pasangan asmara, teman, rekan
kerja, anak, saudara kandung, dan sebagainya—diduga mengarakterisasikan hubungan
yang mereka bentuk dengan sama anggota kelompok mereka. Seperti dijelaskan Yalom
(2005),

Klien, seiring waktu, secara otomatis dan secara tak terhindarkan akan
memperlihatkan perilaku interpersonal maladaptif mereka di dalam kelompok terapi.
Mereka tidak perlu mendeskripsikan atau memberikan riwayat rinci tentang patologi
mereka: cepat atau lambat mereka akan menunjukkannya di depan mata para anggota
kelompok lainnya. (hlm. 32).

8
Jadi seorang klien dengan kecurigaan tanpa sadar bahwa istrinya akan
menghancurkan perkawinannya pada titik tertrntu mungkin juga akan menjadi terlalu
mencurigai sesama anggota kelompok, seorang klien yang perilaku agresif-pasifnya telah
menghancurkan banyak pertemanannya, dan seorang klien yang pesimisme telah
meyakinkan dirinya bahwa mencari pekerjaan yang memuaskan akan sia-sia belaka
mungkin secara pesimistis menganggap proses terapi kelompok itu sama sia-sianya.

Di sini dan saat ini karena kelompok berfungsi sebagai sebuah mikrokosmos
sosial, salah satu tugas esensial bagi terapis kelompok adalah terus-menerus menekankan
pada cara para anggota kelompok berhubungan satu sama lain di dalam konteks
kelompok. Jadi, alih-alih mendorong para klien untuk membicarakan tenang kejadian-
kejadian yang telah terjadi di dalam kehidupan mereka di luar kelompok (“di sana” dan
“kemudian”), terapis kelompok mengarahkan klien pada memeriksa hubungan di antara
para anggota kelompok di sini dan saat ini.

Secara spesifik, Yalom (2005) mempromosikan dua kegiatan di kalangan anggota


kelompok untuk memaksimalkan penggunaan di sini dan saat ini: interaksi (yang
disebutnya “pengalaman”) dan refleksi/diskusi tentang interaksi itu (yang disebutnya
"penerangan proses"). Dengan kata lain. melalui perjalanan alamiah interaksi terus-
menerus mereka, para anggota kelompok berkomunikasi secara langsung satu sama lain
—mungkin mengekspresikan kebahagiaan, kebosanan, ketidakpuasan, iri hati, rasa ingin
tahu, kebingungan atau kemarahan. Terapis kelompok mendesak para klien untuk
merefleksikan tentang proses ini, untuk membicarakan tentang cara para klien berbicara
satu sama lain, dan untuk saling memberi pencerahan kepada masing-masing anggota
tentang kecenderungan interpersonal mereka. Setelah belajar tentang kecenderungan
mereka, para klien mungkin memutuskan untuk mengubahnya, yang mungkin akan dapat
memperbaiki hubungan yang mereka miliki di dalam dan, akhimya, di luar kelompok.

Terapi kelompok adalah salah satu di antara sedikit situasi sosial ketika orang-
orang didorong untuk berbicara satu sama lain tentang cara mereka-mereka saling
berhubungan. Yang lebih sering, ini sangat didorong di dalam hubungan-hubungan
sosial. Sebagai contoh, orang-orang yang secara interpersonal menentang, mengusik, atau
membuat frustrasi mungkin melihat banyak hubungan berakhir tanpa menerima umpan
balik tentang perilaku mereka. Mereka mungkin menjauhkan teman, pasangan asmara,
atau teman kerja tanpa mendengarkan secara langsung dari mereka mengenai apa
tepatnya yang mereka lakukan yang menyebabkan pada matinya hubungan tersebut.
Untuk alasan ini, terapi kelompok memrepresentasikan sebuah kesempatan unik bagi
individu-individu untuk menerima umpan balik yang tulus dan jujur tentang perilaku
mereka dan dampaknya. Umpan balik ini sering kali memotivasi klien untuk mengubah
perilaku mereka, dan pada titik itu kelompok menjadi tempat untuk mengujicobakan dan
melatih respons baru untuk nantinya menusukkan respons-respons tersebut ke dalam
kehidupan mereka di luar terapi (Ormont, 1992; Yalom, 2005).

9
b. Isu-isu Praktis dalam Terapi Kelompok

Keanggotaan Kelompok

Kelompok biasanya terdiri atas 5 sampai 10 klien, dan banyak terapis kelompok
menemukan bahwa memiliki 7 sampai 8 anggota di dalam sebuah kelompok adalah ideal
(Brabender, 2002; Yalom, 2005). Kelompok bisa bersifat terbuka atau tertutup dalam hal
keanggotaan. Kelompok anggota terbuka memungkinkan para anggota untuk masuk atau
keluar dari kelompok kapan pun. Salah satu kekuatan kelompok semacam itu adalah
bahwa di titik mana pun, kelompok memasukkan pada berbagai tahap kemajuan. Jadi
seperti mahasiswa baru yang berbagi kelas dengan kakak-kakak angkatannya, para
anggota kelompok baru memiliki model-model berpengalaman untuk diikuti. Di dalam
kelompok anggota tertutup, seluruh anggota memulai dan mengakhiri terapi bersama-
sama, tanpa penambahan anggota baru selama prosesnya. Di dalam tipe kelompok ini,
kohesivitas dapat dibangun dan dipertahankan dengan lebih mudah dibandingkan
kelompok pendaftaran terbuka karena stabilitas keanggotaannya.

Kecuali jika sebuah kelompok memusatkan pada sebuah isu diagnostik tertentu,
terapis kelompok biasanya agak terbuka tentang klien-klien yang mereka pilih untuk
kelompok tertentu. Faktanya, variabilitas yang lebih besar dalam hal masalah yang
dialami dan variabel-variabel demografis dapat menciptakan mikrokosmos sosial yang
lebih realistis. Biasanya, karakteristik yang akan menyebabkan seorang terapis kelompok
untuk tidak memilih seorang calon anggota termasuk mereka yang akan mengganggu
kemampuan klien untuk berinteraksi dengan orang lain secara bermakna dan
merefleksikan tentang interaksi tersebut. Karakteristik semacam itu sering termasuk
psikosis, kerusakan otak organik, krisis akut, dan isu-isu pragmatis seperti perjalanan atau
transportasi yang akan mengganggu keikutsertaan reguler (Friedman, 1989; Yalom,
2005).

Mempersiapkan Klien untuk Terapi Kelompok

Secara klinis, akan arif untuk melakukan upaya terpadu untuk mempersiapkan
klien-klien baru untuk pengalaman terapi kelompok, untuk mengoreksi kesalahpahaman
dan memaksimalkan manfaat terapeutik (Brabender, Fallon & Smolar: 2004). Sebagain
klien mungkin keliru meyakini bahwa terapi kelompok adalah peringkat-kedua
(dibandingkan terapi individual), bahwa mereka akan sertamerta dipaksa untuk
mengungkapkan detail-detail intim pribadi kepada orang-orang asing, atau bahwa
berinteraksi dengan orang-orang lain dengan berbagai masalah psikologis entah
bagaimana akan memperburuk gejala-gejala mereka sendiri (MacKenzie, 2002). Di
dalam pertemuan-pertemuan individual pra-kelompok, terapis kelompok dapat
meyakinkan klien bahwa gagasan-gagasan semacam itu salah dan dapat memberikan data

10
yang realistis dan memberi semangat tentang seberapa baik terapi mereka bekerja untuk
kebanyakan klien. Di samping itu, terapis kelompok dapat memberi klien orientasi
tentang jenis-jenis kegiatan yang akan terjadi di dalam terapi kelompok dan perilaku-
perilaku yang dapat memaksimalkan manfaat yang mereka terima, seperti partisipasi aktif
dan kehadiran yang konsisten dan tepat waktu.

Tahap-tahap Perkembangan Kelompok Terapi

Seiring waktu, kelompok terapi cenderung berjalan melalui satu set tahapan yang
dapat diprediksi. Tahap-tahap ini telah diberi beragam label yang berbeda tetapi mereka
memiliki makna yang serupa. Secara umum, klien di tahap awal terapi kelompok berhati-
hati dan mengkhawatirkan tentang apakah mereka akan diterima ke dalam kelompok.
Setelah mereka mengatasi kekhawatiran awal ini, mereka masuk ke tahap kedua yaitu
saat ada kompetisi atau perebutan posisi tertentu di dalam urutan sosial. Akhirnya, tahap
kedua yang kompetitif ini melahirkan tahap ketiga ketika terbentuknya kohesivitas, para
anggota merasa memiliki hubungan yang dekat dan saling memercayai, dan sesi-sesi
kelompok menjadi produktif secara konsisten setelah para klien belajar tentang dan
memperbaiki keterampilan interpersonal mereka.

Koterapis

Di dalam setting terapi kelompok, dua terapis sering kali bersama-sama


memimpin sebuah kelompok tunggal. Penatalaksanaan semacam itu memiliki berbagai
kelebihan dan kekurangan potensial. Salah satu keuntungan koterapis adalah sekedar
hadirnya sepasang mata dan sepasang telinga kedua untuk mengamati begitu kayanya
komunikasi verbal dan nonverbal yang mau tak mau akan dihasilkan oleh seruangan
penuh klien. Keuntungan kedua melibatkan kemampuan untuk koterapis untuk
memberikan contoh hubungan kolaboratif untuk para anggota kelompok. Di antara
anggota kelompok yang model sebelumnya yang berupa tim dua-orang (orang tua dan
sebagainya) menggunakan taktik-taktik yang destruktif atau menyakiti, kekuatan dua
orang partner yang bekerja bersama-sama secara konstruktif bisa sangat meyakinkan.
Keuntungan ketiga, paling tidak bagi para klien yang tumbuh di dalam keluarga dengan
orangtua lengkap, adalah sebuah rekapitulasi kelompok keluarga. Dengan seorang
terapis laki-laki dan seorang koterapis perempuan, misalnya, sebuah kelompok dapat
menghasilkan dinamika yang sama seperti sebuah keluarga tradisional, dan bagaimana
klien dari keluarga semacam itu merespons masing-masing—koherapis memercayai yang
satu dan takut kepada yang lain, misalnya—dapat menunjukkan kecenderungan
interpersonal mereka dengan orang-orang penting lain di dalam kehidupan mereka
(Shapiro, 1999; Yalom, 2005).

Kelemahan potensial koterapi terjadi ketika para koterapis saling tidak


memercayai, saling bersaing, atau “saling menginjak kaki” dengan mendekati terapi

11
kelompok dengan orientasi-orientasi terapi yang tidak sesuai. Gaya mereka tidak perlu
identik—faktanya, kelompok dapat memetik manfaat dari terapis-terapis yang sedikit
berbeda namun saling melengkapi—tetapi para koterapis benar-benar perlu bekerja sama
dengan baik di dalam maupun di luar sesi. Akan tetapi, memimpin sebuah kelompok
sebagai seorang terapis solo juga merupakan praktik yang lazim dilakukan.

Sosialisasi Antarklien

Klien-klien yang bersosialisasi satu sama lain di luar kelompok berapi merupakan
masalah signifikan bagi terapis kelompok. Sering kali, terapis kelompok mengedukasi
para klien tentang masalah potensial ini dan melarangnya selama persiapan pra-
kelompok. Bagaimanapun juga, ini terjadi dengan frekuensi tertentu, seperti yang diduga
akan terjadi di kalangan para klien yang merasa semakin terhubung dengan orang-orang
baru.

Konsekuensi negatif sosialisasi di luar kelompok di antara para klien, baik yang
bersifat romantis atau platonis, banyak terjadi (Brabender dkk., 2004; Yalom, 2005).
Sebagai contoh, jika Karen dan Dena adalah anggota-anggota kelompok terapi yang sama
dan mengembangkan pertemanan di luar kelompok. mereka dapat menjadi lebih loyal
terhadap pertemanan mereka daripada dengan kelompok secara keseluruhan. Mereka
mungkin enggan untuk berkomentar secara terus-terang tentang perilaku temannya di
depan kelompok, atau mereka mungkin menyimpan pertukaran yang langsung dan
bermakna mereka untuk saat-saat pribadi daripada selama sesi-sesi kelompok. Dengan
cara ini, mereka dapat menjadi penonton daripada partisipan aktif di dalam proses
kelompok. Di samping itu, eksklusivitas hubungan mereka dapat memengaruhi para
anggota yang merasa “tersisih”. Terapis kelompok dapatmerespons sosialisasi di luar
kelompok, tetapi perilaku semacam itu juga dapat memberikan materi yang mermakna
untuk sesi-sesi terapi, khususnya jika perilaku menyimpang atas rahasia itu berkaitan
dengan alasan klien mencari penanganan.

c. Isu-isu Etik dalam Terapi Kelompok

Kerahasiaan

Di antara isu-isu etik yang secara khusus relevan dengan terapi kelompok,
kerahsaiaan mungkn adalah yang paling mengkhawatirkan. Fokusnya di sini bukan pada
terapis kelompok yang menjaga kerahasiaan klien, karena ini dipastikan dijamin oleh
etika dan standar profesi. Sebaliknya, fokusnya adalah pada kemungkman bahwa sesama
anggota kelompok melanggar kerahasiaan salah seorang klien (Brabander, 2002;
Brabender dkk., 2004; Lasky & Riva, 2006; Shaffer & Galinsky, 1989). Di awal, terapis
kelompok sering mensyaratkan klien secara tertulis untuk menyetujui menjaga

12
kerahasiaan materi dari sesi-sesi kelompok tetapi kontrak tersebut “nyaris tidak mungkin
untuk ditegakkan” (Shaffer& Galinsky, 1989, hlm. 266).

Konsekuensi seorang klien yang melanggar kerahasiaan klien lain secara serius
dapat memngaruhi kehidupan profesional atau pribadi klien yang kerahasiaannya
dilanggar. Di samping itu, pelanggaran semacam itu membuat kelompok terapi tampak
tidak aman dan tidak layak dipercaya, yang mengurangi pengungkapan-diri oleh klien-
klien lain. Jadi, penting bagi terapis kelompok untuk berusaha sekuat mungkin untuk
mencegah pelanggaran kerahasiaan semacam itu. Di samping meminta klien untuk
berkomitmen pada kerahasiaan selama persiapan pra-kelompok, tindakan preventif
terapis dapat termasuk mencontohkan perilaku yang tak tercela terkait kerahasiaan, sering
mengingatkan tentang kerahasiaan dan diskusi kelompok tentang setiap pelanggaran
kerahasiaan yang benar-benar terjadi (Brabender dkk., 2004; Knauss & Knauss, 2012).

Seberapa Baikkah Hasilnya?

Meskipun hasil terapi kelompok belum diteliti seekstensif terapi individual,


penelitian empiris yang ada menunjukkan bahwa terapi kelompok bekerja. Secara
spesifik, berbagai meta-analisis dan tinjauan seara konsisten lelah menemukan bahwa
terapi kelompok lebih unggul dibandingkan tanpa penanganan, dan secara umum sama
efektifnya dengan terapi individual. meskipun sebagain kecil studi komparatif telah
menemukan terapi individual sedikit lebih unggul (misalnya. Burlingame, Fuhriman &
Mosier 2003; Fuhriman & Burlingame, 1994; McDermut, Miller & Brown, 2001;
McRoberts, Burlingame & Hoag, 1998; Robingson, Berman & Neimeyer, 1990; Tillitski,
1990; Vandervoort & Fuhriman, 1991). Di samping itu ragam gangguan dan masalah
yang ditemukan dalam terapi kelompok sangat luas. Selain itu, seperti telah
dideskripsikan sebelumnya, penelitian empiris menujukkan bahwa kohesivitas di dalam
kelompok, yang sangat mirip dengan hubungan terapeutik di dalam terapi individual,
adalah salah satu kontributor utama bagi kesuksesan hasil terapi kelompok (Burlingame
dan kawan-kawan, 2011).

Patut dicatat bahwa, sementara hasil terapi kelompok dan individual sering kali
sebanding, terapi kelompok cenderung merupakan model terapi yang lebih murah.
Dengan cara ini, terapi kelompok mungkin adalah pendekatan terapi yang sangat efektif-
biaya (Brabender, 2002; Friedman, 1989).

13
B. Terapi Keluarga

Keluarga adalah satu kelompok individu yang terkait oleh ikatan perkawinan atau
darah, secara khusus mencakup seorang ayah, ibu dan anak. Sedangkan Therapy (terapi)
adalah suatu perlakuan dan pengobatan yang ditujukan kepada penyembuhan satu
kondisi patologi.

Menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam kamus Psikologi, terapi keluarga
adalah suatu bentuk terapi kelompok dimana masalah pokoknya adalah hubungan antara
pasien dengan anggota-anggota keluarganya. Oleh sebab itu seluruh anggota keluarga
dilibatkan dalam usaha penyembuhannya. Terapi ini secara khusus memfokuskan pada
masalah masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraanya
melibatkan anggota keluarga. Menurut D. Stanton dapat dikatakan sebagai terapi khusus
karena sebagaimana yang selalu dipandang oleh konselor, yang di dalam proses terapi
atau konseling melibatkan keluarga inti. Perez (1979: 25), mengemukakan pengertian
terapi keluarga (family therapy), terapi famili adalah suatu proses interaktif untuk
membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan dimana setiap anggota keluarga
merasakan kebahagiaan.

Tujuan Terapi Keluarga

Tujuan terapi keluarga oleh para ahli dirumuskan secara berbeda. Bowen
menegaskan bahwa tujuan terapi keluarga adalah membantu klien (anggota keluarga)
untuk mencapai individualitas, membuat dirinya menjadi hal yang berbeda dari sistem
keluarga. Menurut Glick dan Kessler (Goldenberg, 1983) mengemukakan tujuan umum
konseling keluarga adalah untuk:

a. Memfasilitasi komunikasi pikiran dan perasaan antar anggota keluarga.


b. Mengganti gangguan, ketidakfleksibelan peran dan kondisi
c. Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu yang ditunjukan
kepada anggota lainnya.
Berikut ini dikemukakan tujuan terapi keluarga secara umum:
a. Membantu anggota-anggota keluarga belajar dan menghargai secara emosional
bahwa dinamika keluarga adalah kait-mengkait di antara anggota keluarga.
b. Untuk membantu anggota keluarga agar menyadari tentang fakta jika satu anggota
keluarga bermasalah, maka akan mempengaruhi kepada persepsi, ekspektasi, dan
interaksi anggota-anggota lain
c. Agar tercapai keseimbangan yang membuat pertumbuhan dan peningkatan setiap
anggota.
d. Untuk mengembangkan penghargaan penuh sebagai pengaruh dari hubungan
parental.

14
Sistem Sebagai Masalahnya

Gerakan terapi keluarga awalnya timbul di pertengahan tahun 1900-an, gerakan


itu dianggap revolusioner. Tokoh-tokohnya dianggap mavericks (orang-rang yang
berpikir independen dan tidak konvensional) yang merumuskan sebuah cara untuk
mengonseptualisasikan masalah-masalah psikologis dan penyebabnya (Nichols, 2010).
Secara spesifik, mereka menentang gagasan yang diterima secara luas bahwa gejala-
gejala psikologis berasaldari dalam pikiran individu semata. Sebaliknya mereka percaya
bahwa gejala-gejala psikologis adalah produk sampingan dari keluarga-keluarga
disfungsional yang menjadi tempat tinggal lien (Kaslow, 2011). Seseorang individu
mungkin memperlihatkan gejala-gejala, tetapi masalahnya sebenarnya adalah milik
system secara keseluruhan (Rolland & Walsh,2009).

Terapis keluarga sebenarnya meminjam pendekatan system, yang artinya


keseluruhan lebih dari sekedar penjumlahan bagian-bagiannya, dari filsafat dan
sains(Becvar & Becvar, 1982; Laszlo, 1972; Rolland & Walsh,2009). Sentral bagi
pendekatan system ini adalah ide bahwa kausalitas sirkuler menjelaskan masalah-masalah
psikologis dengan lebih baik dibandingkan kausalitas linier. Kausalitas linier, yang
cenderung dianut oleh para terapis individu, mengatakan bahwa kejadian dari masalalu
menyebabkan atau menentukan kejadian saat ini secara langsung atau “jalur satu-
arah”.artinya, cara orangtua memperlakukan seorang nak menentukan perilaku
anaksetelah itu. Dilain pihak, kauusalitas sirkuuler mengatakan bahwa berbagai kejadian
saling memengaruhi secara berkelanjutan (lebih mirip seperti “jalur dua arah”). Jadi,
terapis keluarga cenderung percaya bahwa problematik,perilaku itu terpelihara dari waktu
ke waktu oleh interaksi yang berpengaruh secara terus-menerus diantara para anggota
keluarga.

Biasanya, terapi eluarga menunjuk pada pola komunikasi yang tidaksehat diantara
para anggota keluarga sebagai tipe interaksi yang memberikan kontribusi paling
signifikan pada masalah-masalah psikologis. Diawal sejarah terapi keluarga, banyak
teoretikus berusaha menghubungkan antara pola komunikasi tertentu dan hasil-hasil
patologis pada anggota keluarga. Dua contoh terkenal adalah teori ibu yang
skizofrenogenik (Froom-Reichmann,1948) ibu yang dingin dan otoritarian digabung
dengan ayah yang tidak efektif dianggap sebagai penyebab gejala-gejala skizofrenia pada
anak-anak-dan teori ikatan ganda (Bateson, Jackson, Haley & Weakland, 1956) orangtua
yang secara konsisten memberi anak-anak mereka perintah mutlak dengan pesan campur
aduk juga diduga menyebabkan gejalaa-gejala skizofrenia. Saat ini kedua teori ini tidak
anyak dianut atau didukung secara empiris, khususnya ketika temuan-temuan tentang
factor-faktor biologis yang mendasari skizofrenia telah ditetapkan. Akan tetapi, secara
histois merekatetap relevan sebagai upaya-upaya awal untuk mengaitkan pola
komunikasi keluarga dengan gejala-gejala penyakit mental pada individu.

15
Fitur penting laindari teori system yang ditetapkan pada terapi keluarga adalah
penekanannya pada fungsionalisme. Secara spesifik, tetapi keluarga percaya bahwa
meskipun gejala-gejala psikologis mungkin tampak maladaptif, mereka pada
kenyataannya fungsional di dalamlingkungan keluarga individu. Jadi, meskipun gejala-
gejalanya mungkin memenuhi kriteriaabnormal menurt Diagmostic and Statistical
Manual of Mental Disorder(DSM), tetapi dilihat dari konteks yang lebih besar, gejala-
gejala tersebut dalam hal tertentu sebenarnya bermanfaat bagi fungsi keluarga secara
keseluruhan. Sebagai contoh, simak sebuah keluarga yang perkawinan orangtuanya
goyah. Pertengkran yang meningkat sampai ketitik bahwa anak mereka merasa bahwa
perpisahan atau perceraian akan segera terjadi. Jika salah seorang anak mengembangkan
gangguan makan, gangguan pemusatan perhatian/ hiperaktivitas, atau gejala psikologis
yang lain, salah satu efek gejalanya mungkin adalah bahwa orangtuanya berhenti
bertengkar dan bersatu untuk fokus pada anak tersebut. Dengan cara ini, gejala-gejala
anak tersebut sebenarnya menjalankan maksud mengurangi konflik perkawinan dan
mempersatukan keluarga. Terapis keluarga tidak percaya bahwa anak-anak secara sadara
atau secara sengaja merencanakan masalah psikologis ini, tetapi menunjukkan bahwa
para anggota keluarga dapat mempersepsikan ketegangan dalam keluarganya sendiri dan
bahwa, pada tingkat tertentu, keterangan inidapat memberikan kontribusi pada
perkembangan berbagai masalahpsikologis pada anggota-anggota keluarga
tertentu(Goldenberg & Goldenberg, 2007;Nichols, 2010).

Ide bahwa para anggota keluarga dapat mempersepsikan ketegangan di


dalamkeluarga berkaitan erat dengan ide inti lain dari teori system : homeostasis.
Gagasan tentang homeostasis mengatakan bahwa system memiliki kemampuan untuk
meregulasi dirinya sendiri dengan mengembalikan dirinya sendiri ke zona nyaman atau
“titik tetap”. Termostant mungkin adalah contoh paling lazim untuk sebuah system
homeostasis. Jika termostant 72 derajat, system di program untuk mendeteksi variasi-
variasi dari temperature ini dan mengambil tindakan mendinginkan atau menghangatkan
ruangan untuk mengembalikan ketemperaturnya menjadi 72 derajat. Dengan cara yang
sangat mirip, keluarga memiliki zona nyaman emosional atau perilaku,dan ketika para
anggota keluargamendeteksi bahwa keluarganya menyimpang dari zona nyaman tersebut,
mereka mungkin mengambil tindakan untuk mengembalikannya. Terapis keluarga
seringmenyebut ini aksi umpan balik, dan perilaku-perilaku ini, jika dilihat secara
terpisah, memenuhi kriteria untuk sebuah gangguan mental ; beberapa diantaranya adalah
gangguan tingkah laku, gangguan pembangkangan oposisional, depresi atau
penyalahgunaan obat-obatan. Akan tetapi, menurut pandangan terapis keluarga,
jikagejala-gejala itu secara efektif mengembalikan keluarga tersebut ke cara berinteraksi
yang familiar, nyaman dan aman, maka merekamenjalankan fungsi yang berharga dan
serig kali tidak diakui di dalam konteks keluarga (Hanna, 2007).

16
Assesmen Keluarga

Praktik-praktik asesmen mungkin bervariasi menurut pendekatan terapi keluarga


tertentu yang di gunakan terapis, tetapi meteka biasanya focus pada isu-isu seperti
menetapkan masalah yang di hadapi, memahami keyakinan para anggota keluarga
tentang penyebab-penyebabnya, dan mengapresiai hubungan-hubungan di dalam
keluarga (Griffin, 2002).

Salah satu teknik yang membantu untuk memahami konfigurasi keluarga dan
hubungan-hubungan di dalam keluarga adalah genogram (McGoldrick, Gerson & Petry,
2008). Genogram adalah sebuah metode pensil dan kertas untuk membuat sebuah pohon
keluarga yang memasukkan informasi rinci tentang hubungan-hubungan antaranggota
keluarga selama paling sedikit tiga generasi. Secara umum genogram menggunakan
sebuah pendekatan notasi yang konsisten : laki-laki direpresentasikan oleh kotak dan
perempuan oleh lingkaran, hubungan direpresentasikan oleh garis antar dua individu, dan
kualitas hubungan ditunjukkan oleh tipe garis yang dipilih. Hasilnya tidak hanya
membantu dalam memahami kompleksitas keluarga, tetapi proses membuat sebuah
genogram juga dapat menjadi cara yang konstruktif bagi terapis untuk terlibat dengan
keluarga dan mulai membangun sebuah aliansi yang sehat.

Bagian esensial lain dariproses asesmen adalah mengapresiasi tahap


perkembangan keluarga saat ini. Seperti tahap-tahap perkembangan sekuensial yang
dikemukakan oleh banyak teoritikus untuk individu (seperti tahap-tahap psikoseksual
Freud atau delapan tahap psikososial Erikson).

Terapi Keluarga : Konsep Esensial

Kebanyakan pendekatan terapi individual yang dikenal luas juga telah diterapkan
di dalam konteks keluarga, termasuk gaya psikodinamik, humanistic eksistensial,
behavioral dan kognitif (Goldenberg & Goldenberg, 2007; Hanna, 2007; Nichols, 2010;
Rolland & Walsh, 2009). Griffin (2002) membagi gaya-gaya yang sangat beragam ini
menjadi tiga kategori luas :

 Gaya ahistoris, yang menekankan fungsi saat ini an kurang menekankan riwayat
keluarga (yang sangat lazim di dalam psikologi klinis kontemporer)
 Gaya historis, yang menekankan riwayat keluarga dan biasanya memiliki durasi lebih
panjang dibandingkan gaya ahistoris (termasuk terapi keluarga Bowenian /
intergenerasionaldan pendekatan psikodinamik)
 Gaya eksperiensial, yang menekankan pertumbuhan personal dan pengalaman
emosional di dalam dan di luar sesi (termasuk pendekatan Carl Whitaker dan Virginia
Satir.

17
Konsep-konsep klasik

Struktur keluarga. Setiap keluarga memiliki aturan tentang cara


pelaksanaannya. Secara kolektif, aturan-aturan ini dikenal sebagai struktur krluarga, dan
struktur keluarga itu cacat, masalah akan timbul di dalam hubungan diantara para anggota
keluarga dan mungkin termanifestasi sebagai gejala-gejala psikologis pada sebagian
anggota keluarga.

Terapis keluarga struktural menekankan subsistem di dalam keluarga dan batasan


diantara subsistemm tersebut. Salah satu tugas utama terapi keluarga strukturall adalah
mengungkapkan dan mengoreksi serta mengklarifikasi aturan-aturan keluarga, seringkali
dengan penekanan pada mengeembangkan sebuah hierarki kekuasaan yang jelas didalam
keluarga. Seperti organisasi perusahaan, militer, dan sebagainya keluarga berjalan dengan
lebih baik jika strukturnya jelas dan masuk akal.

Diferennsiiasi Diri. Keluaraga yang sehat memungkinkan setiap anggotanya


untuk menjadi dirinya sendiri tanpa mengorbankan kedekatan emosional dengan anggota-
anggota lain di keluarganya. Akan tetapi keluarga kadang-kadang mengalami masalah
dalam hal ini, yang menghasilkan anggota-anggota yang terlalu terikat satu sama lain
dalam arti emosional. Dengan kata lain alih-alih mencapai diferensiasi diri, para anggota
keluarga ini menyatu secara emosional. Keluarga semacam ini memiliki toleransi yang
rendah atas perbedaan dalam hal perasaan atau keyakinan; apa yang dipikirkan atau
dirasakan salah satu anggotanya akan dipikirkan atau dirasakan oleh seluruh anggota
keluarga tersebut.

Segitiga. Ketika dua orang sedang konflik, salah satunya mungkin memutuskan
untuk membawa masuk pihak ketiga untuk mendapatkan dukungan. Dalam keluarga
proses serupa terjadi, tetapi hal itu dapat mengakibatkan berbagai masalah signifikan,
khususnya bagi orangyang dipaksa masuk kedalam segitiga tersebut. Scenario yang lazim
dalam keluarga melibatkan ayah ibu yang terlibat konfflik dan seorang anak yang ditarik
ke salah satu pihak oleh ayah atau ibunya.

Pendekatan-Pendekatan Kontemporer

Terapi Terfokus Solusi. Terapi berfokus solusi berevolusi dari pendekatan terapi
keluarga strategis Don Jackson, Jay Haley dan Cloe Madanes, serta memiliki penekanan
pragmatis yang sama denganya (Goldenberg & Goldenberg, 2007; Nichols, 2010).
Namun, secara terapis keluarga strategis lebih focus pada masalah, terapis keluarga
terfokus solusi secara eksklusif lebih fokus pada solusi (Berg, 1994; deShazer, Dolan &
Korman, 2007).

18
Terapi terfokus solusi menggunakan sebuah daftar tugas-tugas dan pernyataan-
pernyataan spesifik untuk menarik perhatian pada solisi, bukan masalah. Pertanyaan-
pertanyaan berorientasi positif dan terstruktur semacam itu, bersama penekanan pada
resolusi cepat untuk masalah yang dihadapinya, telah memberikan kontribusi pada
semakin meningkatnya popularitas terapi terfokus solusi selama beberapa tahun terakhir
(Nichols, 2010).

Terapi naratif. Terapi yang juga sangat populer di kalangan terapis keluarga
kontemporer, terapi naratif menyoroti kecenderungan klien untuk menciptakan makna
tentang dirinya sendiri dan kejadian-kejadian dalam hidupnya dengan cara tertentu,
sebagian diantaranya dapat menyebabkan masalah psikologis. Seperti tersirat dalam
namanya, terapsnaratifi percaya bahwa cerita yang kita susun tentang kehidupan kita
sendiri adalah pengaruh yang kuat pada cara kita mengalami kejadian-kejadian baru.

Dalam beberapa hal, terapi naratif serupa dengan terapi kognitif dalam
penekanannya pada mengubah interpretasi klien tentang berbagai kejadian. Di dalam
teraapi naratif, interpretasi itu dilihat sebagai elemen-elemen esensial dan cerita
kehidupan klien, dan proses mengubahnya mirip dengan penguntingan. Meskipun
dianggap sebagai salah satu bentuk terapi keluarga, terapi naratif tidak menekankan
individu di dalam keluarga, dan juga cenderung menggarisbawahi upaya klien untuk
menolak kekuatan budaya atau masyarakat yang menekan (Nichils, 2010).

Isu-Isu Etik dalam Terapi Keluarga

Kompetensi Kultural

Terapis keluarga seharusnya mempunyai apresiasi dan penerimaan penuh atas


latar belakang budaya keluarga-keluarga yang di tanganinya, termasuk berbagai
karakteristik seperti etniisitas dan agama. Bagi terapis yang menangani keluarga,
apresiasi terhadap beberapa variabel budaya bida cukup kompleks tetapi vital bagi proses
terapi. Para anggota sebuah keluarga mungkin sebenarnya berasal dari atau saat ini hidup
di dunia yang berbeda. Keluarga tiga generasi yangtinggal dirumah yang sama mungkin
termasuk tiga tingkat akulturasi yang berbeda. Di dalam kasus-kasus ini, terapis keluarga
harus mampu mempertimbangkan budaya bukan hanya sebagai sebuah konteks masalah
yang dihadapi tetapi juga sebagai sebuah aspek yang secara potensial penting dari
masalah yang dihadapi itu sendiri.

Kerahasiaan

Secara spesifik, para anggota keluarga sering menemukan diri mereka di dalam
posisi sulit setelah mempelajari informasi dari salah seorang anggota keluarga di dalam

19
sebuah percakapan pribadi. Secara umum, sebaiknya menetapkan aturan-aturan dasar
untuk kerahasiaan selama proses persetujuaan tertulis awal.dengan cara itu, seluruh
anggota keluarga memahami bahwa terapis keluarga akan menangani percakapan pribadi
dengan cara tertentu. Sebagian terapis keluarga memilih untuk tidak pernah melakukan
percakapan pribadi dengan anggota keluarga secara individual, sementara yang lain
melakukannya. Sejauh terapis keluarga menjaga kerahasiaan komentar para anggota
keluarga, mereka menempatkan beban pada dirinya sendiri untuk mengingat selama sesi-
sesi bukan hanya apa yang mereka ketahui, tetapi juga bagaimana mereka mengetahuinya
dan seberapa banyak kebebasan yang mereka miliki dalam keluarga.

Keakuran Diagnosis

Diagnosis-diagnosis DSM berlaku untuk individu-individu yangmemiliki


gangguan, tetapi mereka menangani system keluarga yang terganggu. DSM tidak
memasukkan label-label diagnosis yang berlaku untuk keluarganya, dan tidak ada
alternatif yang diterima secara luas untuk DSM untuck mengategorikan masalah-masalah
keluargaatau hubungan. Oleh sebab itu, khususnya jika tekanan untuk memberikan sebuah
diagnosis untuk memenuhi syarat pembayaran dari perusahaan asuransi kesehatan, terapis
keluarga dapat mempertimbangkan untuk memberikan diagnosis DSM kepada salah
seorang anggota keluarga yang bersangkutan.

Terapis keluarga seringkali memiliki beberapa persyaratan yang dapat


dipertimbangkan dalam mendiagnosis dengan cara ini. Pertama, untuk mendiagnosis
hanyapasien yang diidentifikasi dapat memperkuat asumsi keluarga tersebut bahwa
mesalahnya bersifat individual, bukan sistematis. Di amping itu, pasien yang diidentifikasi
dapat merasa semakin terstigmatisasi. Dan diagnosis yang dibuat ketika kriteria DSM
tidak terpenuhi jelas mempresentasikan pelanggaran etis dan penipuan asuransi. Ketika
satu-satunya cara sebuah keluarga untuk membayar penanganan bergantung pada
diagnosis, ini bisa menjadi masalah yang sulit bagi terapis keluarga. Diskusi terbuka dan
jujur dengan keluarga selama proses persetujuan tertulis bisa membantu
menyelesaikannya (Wilcoxon dan kawan-kawan, 2007).

Seberapa Baikkah Hasilnya?

Studi-studi hasil terapi keluarga melibatkan semua kesulitan metodologis studi


hasil untuk terapi individual, ditambah satu factor komplikasi tambahan. Para anggota
keluarga mungkin memiliki pendapat yang cukup berbeda tentang hasilnya. Terlepas dari
tantangan-tantangan metodologis ini atauyang lain, banyak studi tentang efikasi terapi
keluarga telah dilakukan. Meskipun banyaknya penelitian tidak sebanyak terapi
individual, hasilnya secara umum sama : terapi keluarga berhasil. Secara lebih spesifik,
terapi keluarga cenderung lebih kurang sama efektifnya dengan kebanyakan modal terapi
lain, dan perbedaan diantara berbagai macam pendekatan terapi keluarga biasanya tidak

20
signifikan (Griffin, 2002; Shadish dkkk., 1993; Shadish, Ragsdale, Glaser Montgomery,
1995). Sebagian masalah spesifik yang berhasil ditangani oleh terapi keluarga termasuk
skizofrenia, perselisihan pasangan, depresiindividu terkait perelisihan pasangan,
kenakalan remaja, ganguan tingkah laku dan gangguan disruptif lain pada anak-anak, dan
banyak lagi yang lain (Glick, Berman, Clarkin 7 Rait, 2000; Goldenberg, 2007; Lebow,
2006). Seperti pada terapi individual, hubungan terapeutik yang kuat adalah salah satu
elemen kunci bagi keberhasilan terapi keluarga, seperti yang ditunjukkan oleh semakin
banyak studi empiris.

21
BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN
Terapi kelompok adalah psikoterapi yang dilakukan pada sekelompok klien
bersama-sama dengan jalan berdiskusi sama lain dipimpi oleh terapis atau petugas
kesehatan jiwa. Terapi ini memiliki tujuan salah satunga untuk meningkatkan fungsi
psikologis yaitu meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional
dengan perilaku defensive maupun untuk meningkatkan keterampilan hubungan sosial.
Salah satu bentuk intervensi Psikologi Keluarga adalah terapi keluarga. Terapi
keluraga merupakan salah satu terapi modalitas yang melihat masalah individu dalam
konteks lingkungan khususnya keluarga. Manfaat peran keluarga dalam proses terapi
pasien dapat diperbesar melalui terapi keluarfa. Dengan terapi keluarga diharapkan selain
bermanfaat untuk terapi dan rehabilitasi pasien juga dapat memperbaiki kesehatan mental
dari keluarga, termasuk tiap-tiap anggota keluarga dalam arti memperbaiki peran dan
fungsi atau hubungan interpersonalnya.

22
DARTAR PUSTAKA

Kartini Kartono, Bimbingan dan Dasar-Dasar Pelaksanaan Teknik Bimbingan Praktis,


(Jakarta: CV. Rajawali, 1985) hal. 42-45
Pomerantz M, Andrew. 2014. Psikologi Klinis Ilmu Pengetahuan, Praktik, dan Budaya
Edisi ke 3. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

23