Anda di halaman 1dari 22

PSIKOLOGI KLINIS

PSIKOTERAPI PERILAKU
KELOMPOK 6

Dosen Pengampu :
Siti Syawaliah G, S.Psi., M.Psi.,Psikolog

Disusun Oleh :
Winona I.K Patanduk 4518091103

Nurfadilla Sapsuha 4518091021

Adha Irhamna Maladi 4518091026

KELAS C

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS BOSOWA
MAKASSAR
2020

1
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT yang


Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya
yang telah memberikan beribu nikmat sehingga Kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Psikoterapi Perilaku” tepat pada waktunya.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Psikologi
Klinis. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam menyusun makalah ini, sehingga kami bisa menyelesaikan
makalah ini dengan semaksimal mungkin.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah
ini, dengan adanya kekurangan tersebut kami senantiasa bersedia menerima
dengan lapang dada semua kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi mereka yang membaca.

Makassar, 25 Maret 2020


Penulis

Kelompok 6

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...............................................................................i
DAFTAR ISI ..............................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................1
A. Latar Belakang ................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...........................................................................2
C. Tujuan .............................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................4
A. Awal Mula Psikoterapi Behavioral..................................................4
B. Tujuan Psikoterapi Behavioral.........................................................8
C. Jenis Pengondisian...........................................................................11
D. Teknik-teknik Yang Dipakai Berdasarkan Pengondisian Klasik ....13
E. Teknik-teknik Yang Berdasarkan Pengondisian Instrumental .......15
F. Alternatif Terapi Behavioral............................................................18
BAB III PENUTUP ...................................................................................21
A. Kesimpulan .....................................................................................21
B. Saran ...............................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pada awal abad ke-19, muncul latihan penguasaan diri sebagai teknik
perubahan perilaku, teknik ini berawal dari teknik hukkuman untuk mengubah
dan merekonstruksi seseorang agar kembali seperti keadaan sebelumnya, salah
seorang psikiater bernama Benyamin Rush menggunakan teknik tersebut untuk
merawat penderita penyakit "mania". padahal ia adalah pelopor perubahan
pendekatan dengan dasar kemanusiaan pada penderita sakit jiwa. pada abad ke-19,
teknik hipnotis juga dipakai oleh Jean Martin Charcot (1825-1893) dan Hippolyte
Bernheim (1840-1919) yang orientasinya lebih jelas, bahwa gangguan-gangguan
kejiwaaan psikologis (yang terdapat di alam bawah sadar). pemahaman tersebut
kemudian melahirkan Sigmund Freud (1856-1939) yang melakukan revolusi
dalam dunia psikoterapi psikoanalisis sebagai teknik psikoterapi, pengaruh Freud
begitu lama sampai tahun 60-an dan banyak pusat=pusat yang mempelajari taknik
tersebut, permasalahan yang dihadapi klien adalah konflik yang ditekan atau yang
ditahan (repressed) di dalam alam tidak sadar untuk mencapai kesembuhan, hal-
hal yang ditekan atau ditahan dalam alam tidak sadar dikeluarkan (uncovering,
unlocking prosess) untuk diketahui dan kemudian dianalisis dan interprestasi,
pada tahun 60-an Psikoanalisis mulai memudar. pada tahun 60-an, berkembang
psikologi klinis dan psikologi konseling sebagai reaksi dari perubahan-perubahan
yang terjadi di masyarakat setelah perang dunia kedua. muncul Carl Rogers
konseling tidak langsung (nondirective conseling) dan pendekatan terpusat pada
klien (clien centeres approach) yang kemudian menjadi person centered
apporoach. pada saat hampir bersamaa, muncul terapi perubahan perilaku
(behavioral therapy, behavior modivitation), teknik yang bpserlawanan dengan
psikoanalisis. dan pada akhir tahun 50-an dan awal tahun 1960 mulai banyak
mendapat sambutan, masalah perilaku dipahami sebagai gejala yang muncul dan
dapat bisa diubah (malalui berbagai dasar teori belajar) dan kemudian
mempengaruhi keseluruhan kepribadian pribadi yang bersangkutan.

4
Psikoterapi adalah istilah umum yang mencakup keseluruhan metode dan
teknik yang digunakan dalam rentangan spektrum perawatan psikologi.
Penyembuhan dengan menggunakan alat fisik seperti obat-obatan, pembiusan,
penggunaan listrik, dan sebagiannya, tidak termasuk kedalam alat-alat psikologis,
walaupun hal itu merupakan efek yang bersifat psikoterapi. Terapi Kognitif-
Perilaku merupakan intervensi psikologis yang mengkombinasikan terapi kognitif
serta terapi perilaku untuk menangani masalah psikologis. Terapi Kognitif-
Perilaku mengajarkan individu untuk mengenali pengaruh pola pikir tertentu
dalam memunculkan penilaian yang salah mengenai pengalaman-pengalaman
yang ia temui, hingga memunculkan masalah pada perasaan dan tingkah laku
yang tidak adaptif (Rosenvald, Oei & Schmidt, 2007; Westbrook, Kennerley &
Kirk, 2007). Prinsip dasar dari Terapi Kognitif-Perilaku antara lain (Westbrook,
Kennerley & Kirk, 2007):
Terapi tingkah laku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur
yang berakar pada berbagai teori tentang belajar. Terapi ini menyertakan
penerapan yang sistematis prinsip-prinsip belajar pada pengubahan tingkah laku
kearah cara-cara yang adaptif. Sedangkan Stephen Palmer terapi perilaku
berpandangan bahwa semua perilaku, baik normal atau abnormal, dipelajari
melalui pengkondisian operan atau klasik. Gejala-gejalanya dilihat sebagai
perilaku yang tak diinginkan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Awal Mula Psikoterapi Behavioral ?
2. Apa Tujuan Psikoterapi Behavioral ?
3. Apa saja Jenis Pengondisian ?
4. Apa saja Teknik-teknik Yang Dipakai Berdasarkan Pengondisian Klasik ?
5. Apa saja Teknik-teknik Yang Berdasarkan Pengondisian Instrumental ?
6. Apa saja Alternatif Terapi Behavioral ?

5
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Awal Mula Psikoterapi Behavioral
2. Untuk mengetahui Tujuan Psikoterapi Behavioral
3. Untuk mengetahui Jenis Pengondisian
4. Untuk mengetahui Teknik-teknik Yang Dipakai Berdasarkan Pengondisian
Klasik
5. Untuk mengetahui Teknik-teknik Yang Berdasarkan Pengondisian
Instrumental
6. Untuk mengetahui Alternatif Terapi Behavioral

6
BAB II
PEMBAHASAN

A. Awal Mula Psikoterapi Behavioral

Psikoterapi behavioral adalah aplikasi klinis prinsip-prinsip perilaku, yang


memiliki akar teoritis dan eksperimental yang telah berusia ratusan tahun. Salah
satu tonggak bersejarah di dalam sejarah behaviorisme adalah hasil kerja Ivan
Pavlov yang berkontribusi pada akhir 1800-an dan awal 1900-an. Pavlov memulai
karirnya dengan aspriasi sama sekali tidak berkaitan dengan psikologi. Faktanya,
Pavlov adalah seorang fisiolog yang mempelajari pencernaan anjing. Melalui
pengalaman, anjing-anjing Pavlov belajar bahwa makan sering didahului oleh
stimulus tertentu : melihat kehadiran peneliti, suara makanan yang sedang
disiapkan, atau kejadian-kejadian serupa. Dengan cepat anjing-anjing akan
mengeluarkan air liur segera setelah mereka mempersiapkan sebuah stimulus yang
melalui pemasangan berulang-ulang dengan makanan. Ia kemudian menyadari
bahwa tanpa sengaja ia menemui sebuah fenomena yang mengagumkan, yang
akhirnya diberi label “pengondisian klasik”. Pengondisian klasik akhirnya
menggantikan peneliti tentang pencernaan yang sebelumnya jadi minat utama
Pavlov, dengan menggunakan bunyi bel sebagai precursor makanan.
Hasil karya Pavlov dan peneleti Rusia lainnya membuka jalan ke Amerika
Serikat melalui John Watson. Watson adalah salah satu tokoh menonjol pertama
di dunia psikologi Amerika yang mengatakan bahwa psikologi seharusnya hanya
mempelajari respons-respons yang dapat dilihat dan diobservasi serta stimulus
yang dapat dilihat dan dapat diobservasi, bukan kerja batin pikiran yang mungkin
terjadi di antaranya. Perasaan, pikiran, kesadaran dan proses-proses mental
internal lain sama sekali tidak cocok untuk kajian ilmiah, dan mereka juga tidak
sekuat pengondisian dalam menentukan perilaku (Hunt, 1993; Kazdin, 1978;
Watson, 1924).
Sementara Pavlov dan Watson menggiring pengondisian klasik menuju
bidang psiklogi, tipe pengondisian esensial kedua-pengondisian instrumental
diumumkan secara public oleh Edward Lee Thorndike dan B. F. Skinner.

7
Penelitian ,mereka didasarkan pada kucing, yang disebut hukum efek. Hukum
efek mengatakan bahwa semua organisme memperhatikan konsekuensi (efek)
tindakannya. Tindakan yang diikuti oleh konsekuensi menyenangkan lebih
berkemungkinan untuk terjadi lagi, sementara tindakan yang diikuti oleh
konsekuensi tidak menyenangkan kurang berkemungkinan terjadi lagi. Skinner
secara efektif mencurahkan banyak karyanya pada peneliti tentang hukum efek,
dan ia memberikan alasan yang kuat bahwa pengondisian instrumental,
mekanisme bagaimana hukum efek mempengaruhi perilaku, memiliki pengaruh
sebesar pengondisian klasik pada perilaku manusia. Jadi, melalui Pavlov, Watson,
Thorndike dan Skinner, behaviorisme berkembang dari penelitian dasar tentang
perilaku manusia menjadi sebuah bentuk psikoterapi terapan.

B. Tujuan Psikoterapi Behavioral

Tujuan utama psikoterapsi behavioral adalah perubahan perilaku yang


dapat diobservasi. Tujuan ini berlawanan dengan tujuan pendekatan psikodinamik
dan humanistik, yang masing-masing menekankan proses-proses mental internal
yaitu, masing-masing, membuat yang tidak sadar menjadi sadar dan membantu
perkembangan aktualisasi diri. Faktanya, muncul dan bangkitnya pendekatan
perilaku berasal dari ketidakpuasan terhadap banyak aspek pendekatan
psikodinamik yang mendominasi sepanjang awal dan pertengahan tahun 1990-an.
Penekanan pada empirisme
Terapis behavioral berpendapat bahwa kajian tentang perilaku manusia,
nor- mal atau abnormal, seharusnya bersifat ilmiah (Kazdin, 1978; Yates, 1970).
Dengan demikian, psikolog klinis yang menangani klien seharusnya menerapkan
metode-metode yang dapat dievaluasi secara ilmiah. Teori-teori tentang
penanganan masalah perilaku seharusnya dinyatakan sebagai hipotesis yang dapat
diuji; dengan cara ini, teori tersebut dapat didukung, dibantah, dimodifikasi, dan
diuji ulang. Sebaliknya, jika teori perubahan tidak dinyatakan sebagai hipotesis
yang dapat diuji, mereka kurang memiliki ketaatasasan ilmiah dan sebaiknya
digolongkan sebagai terkaan, inferensi atau bahkan dugaan semata. Berbagai
proses ilmiah tentu melibatkan pengumpulan data, tak terkecuali terapi behavioral.

8
Terapis behavioral secara reguler mengumpulkan data empiris tentang klien
mereka sebagai ukuran dasar di awal terapi, di berbagai titik selama terapi untuk
mengevaluasi perubahan-perubahan dari sesi ke sesi, dan di akhir terapi sebagai
penilaian final terhadap perubahan.
Mendefinisikan Masalah Secara Behavioral
Menurut terapis behavioral, perilaku klien bukan gejala masalah yang
mendasarinya perilaku itulah masalahnya. Sebagai contoh, Ryan, yang
mempunyai kebiasaan memeriksa pintu depan apartemennya sebelum tidur untuk
memastikan bahwa pintunya sudah dikunci. Menurut terapis behavioral, kebiasaan
Ryan untuk memeriksa pintu tepatnya adalah sebuah kebiasaan. Tidak perlu
menandai adanya sebuah masalah lebih dalam yang dapat didiagnosis di dalam
diri Ryan. Terapis behavioral hanya melihat sedikit manfaat dalam
mendefinisikan masalah Ryan sebagai sebuah gangguan obsesif-kompulsif,
karena dengan melakukan itu akan menyiratkan bahwa memeriksa pintu adalah
bagian dari sebuah klaster gejala yang memiliki sumber yang sama di dalam
pikiran Ryan. Terapis behavioral lebih suka untuk tidak membuat inferensi vang
tidak terbukti (sebenanya, tidak dapat dibuktikan) tentang penyebab internal
perilaku Ryan dan sebaliknya fokus secara eksklusif pada perilaku memeriksa
pintu itu sendiri sebagai masalah yang akan ditangani. Dari sudut pandang
perilaku, manfaat dari merndefinisikan masalah dalam batasan perilaku adalah
bahwa definisi semacam itu akan mempermudah dalam mengidentifikasi perilaku
target dan mengukur perubahan-perubahan di dalam terapi (Spiegler &
Guevremont, 2010). Definisi semacam itu akan sangat berbeda dengan definisi
tentang masalah yang ditunjukkan oleh klien. Sebagai contoh, Amber, seorang
klien berusia 30 tahun yang mencari bantuan dari Dr. Tyler, seorang terapis
behavioral, karena Amber percaya dirinya "menderita depresi". Amber memasuki
terapi dengan keyakinan bahwa depresi adalah sebuah entitas, "sesuatu" di dalam
pikirannya yang tidak dapat dilihat secara langsung tetapi memengaruhi dirinya
dengan banyak cara yang merugikan. la mengatakan bahwa "gejala-gejala" utama
depresinya adalah merasa sedih dan berpikir secara pesimis. Dr. Tyler
mendefinisikan kembali masalah-masalah Amber dengan dua cara penting.

9
Pertama, ia meminta Amber untuk mendeskripsikan perilaku-perilaku yang dapat
dilihat dan diukur yang paling ingin diubahrnya. Artinya, daripada fokus pada
perasaan dan pikiran-yang keduanya tidak dapat dilihat atau diukur secara
langsung, dan Amber diminta untuk fokus pada perilaku- perilaku yang terlalu
sering atau terlalu jarang dilakukannya. Dengan beberapa bantuan dari Dr. Tyler,
Amber dapat menyebutkan banyak perilaku semacam itu: terlalu banyak tidur,
terlalu sering tidak masuk kerja, terlalu sering menangis, dan terlalu sedikit
berolahraga. Karena masalah-masalah ini adalah tindakan- tindakan yang dapat
dilihat dan diukur, mereka adalah target-target ideal untuk intervensi perilaku.
Cara kedua yang dilakukan oleh Dr. Tyler dalam mendefinisikan kembali masalah
Amber adalah menjelaskan kepada Amber bahwa perilaku- perilaku tersebut
bukan gejala-gejala dari dari sebuah masalah yang lebih dalam; sebaliknya,
perilaku-perilaku itulah masalahnya. Setelah menetapkan acuan dasar-mengukur
frekuensi atau durasi tidur, presensi kerja, menangis, dan kegiatan olahraga
Amber sebelum penanganan Dr. Tyler melaksanakan terapi dengan merancang
dan mengimplementasikan intervensi-intervensi yang ditargetkan pada masing-
masing perilaku bermasalah Amber. Selama terapi berjalan, mereka mengukur
perilaku-perilaku Amber secara reguler dan membandingkan data tersebut dengan
acuan dasar untuk menilai kemajuannya.
Mengukur Perubahan yang Dapat Diamati
Terapis behavioral lebih fokus pada demonstrasi perubahan yang tampak
dari luar pada diri klien perilaku yang dapat dilihat, bukan proses-proses mental
yang tertutup (tidak dapat dilihat sebagai indikator perubahan klien). Terapis
behavioral tidak sekadar menolak introspeksi sebagai sarana untuk mangukur
perubahan di dalam terapi; mereka bahkan percaya bahwa introspeksi seharusnya
tidak memiliki peran sama sekali di dalam proses klinis. Oleh karena itu, ketika
mereka mempertimbangkan faktor-faktor penyumbang untuk masalah klien,
mereka lebih menekankan faktor-faktor lingkungan eksternal daripada ciri-ciri
kepribadian internal. Sebagai contoh, Jack, seorang laki- laki 40 tahun yang
mencari terapi dari Dr. Herrera, seorang psikolog klinis dengan orientasi perilaku.
Jack memiliki kelebihan berat badan sebanyak 100 pon dan 20 pon penambahan

10
berat badannya didapatnya selama tahun lalu. Ia menjelaskan kepada Dr. Herrera
bahwa ia telah sering mencoba mengurangi berat badannya, tetapi selalu
meninggalkan rutinitas olahraganya dan kembali ke kebiasaan makan tidak
sehatnya keripik, kue-kue, makanan cepat saji, dan sebagainya. Di titik tentang
karakteristik kepribadian Jack sebagai salah satu penyebab perilaku makan
berlebih ini sebagai contoh, seorang terapis psikodinamik mungkin
mempertimbangkan adanya fiksasi oral. Masalah dengan spekulasi semacam itu,
dilihat dari sudut pandang perilaku, adalah bahwa spekulasi tersebut tidak dapat
dibantah atau didukung, karena ia mendasarkan diri pada proses-proses mental
Jack, yang tidak dapat diamati secara langsung. Dr. Herrera tidak membuat
spekulasi semacam itu. Sebaliknya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya
kepada Jack melibatkan aspek-aspek lingkungan tempat Jack hidup, yang dapat
diamati. Dengan kata lain, kejadian-kejadian apa yang mendahului perilaku
makan keripik atau meninggalkan rutinitas olahraganya? Di dalam keadaan dan
kondisi seperti apa perilaku-perilaku yang tidak diinginkan itu terjadi?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menunjukkan dengan jelas bahwa Dr.
Herrera, sebagai seorang terapis behavioral, mencari penyebab masalah Jack
bukan di dalam diri Jack, tetapi di lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain,
kebiasaan terlalu sering makan tidak sehat dan terlalu jarang berolahraga itu
adalah respons terhadap stimulus dan konsekuensi dari dunia di sekitarnya, bukan
ekspresi adanya masalah internal di dalam kepribadiannya.

C. Dua Jenis Pengondisian

Terapis behavioral bersikeras bahwa perilaku kita adalah produk


sampingan dari pengondisian (pembelajaran). Jika pengondisian menjelaskan
semua perilaku, maka, pada dasarnya, juga menjelaskan perolehan perilaku
terganggu maupun bagaimana perilaku semacam itu dimodifikasi oleh psikologi
klinis. Terapis behavioral membedakan pengondisian menjadi dua jenis utama
yaitu klasik dan instrumental.

11
1. Pengondisian Klasik
Pengondisian klasik adalah tipe yang dicontohkan oleh studi-studi anjing Pavlov.
Di dalah studi tersrbut anjing belajar melalui pengalaman bahwa stimulus tertentu
(bunyi bel, misalnya) dan memprediksi bahwa makanan akan disodorkan, dan
akibatnya mereka mulai mengeluarkan air liur sebagai respon terhadap stimulus
tersebut. Bunyu bel, yang awalnya tidak membangkitkan respons apa pun pada
aning, telah menjadi sebuah stimulus terkondisikan, dan mengeluarkan air liur,
sebagai respon terhadap bunyi bel (bukan makanan), merupakan respons
terkondisikan.
Beberapa aspek pengondisian klasik layak untuk ditekankan :
a. Pertama, penting untuk dicatat bahwa pengondisian klasik adalah tipe belajar
yang agak pasif.
Contoh : Anjing-anjing Pavlov tidak perlu berbuat banyak untuk mengalami
pengondisian, selain bangun dan waspada. Nyaris seakan-akan pengondisian
klasik itu terjadi begitu saja pada mereka, kombinasi tertentu antara
panglihatan, bunyi, bau atau rasa yang terjadi begitu cepat, dan mereka
kebetulan ada di tempat itu.
b. Kedua, sejumlah variabel yang dapat mempengaruhi perilaku ada di seputar
proses pengondisian klasik.
Contoh : Sejauh mana seseorang memperlihatkan perilaku yang telah
dikondisikan secara klasik akan bergantung pada sejauh mana terjadinya
generalisasi atau diskriminasi. Generalisasi terjadi jika respons terkondisikan
dibangkitkan oleh stimulus yang serupa, tetapi tidak benar-benar sama,
dengan stimulus terkondisikan. Diskriminasi terjadi jika respons
terkondisikan tidak dibangkitkan oleh stimulus semacam itu.

2. Pengondisian Instrumental
Pengondisian instrumental (operant conditioning) terjadi ketika organisme
“beroperasi” di lingkungan, melihat akibat dari suatu oerilaku, dan memasukkan
konsekuensi-konsekuensi tersebut ke dalam keputusan tentang perilaku yang akan
datang. Secara sederhana, “prinsip dasar pendekatan operant adalah bahwa
perilaku adalah fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya”. Pengondisian

12
instrumental adalah gaya belajar yang lebih aktif dibandingkan pengondisian
klasik. Agar pengondisian instrumental terjadi, organisme harus mengambil
tindakan tertentu.
Skinner dan para pendukung pengondisian instrumental lain mengusulkan bahwa
konsekuensi membentuk semua perilaku, termasuk perilaku yang diberi label
abnormal. Akibatnya, semua tindakan kita ditentukan oleh kontingensi, oleh
pernyataan “jika… maka…“ termasuk tindakan-tindakan yang diberi label
abnormal. Dengan mengubah kontingensi atau merevisi pernyataan “jika…
maka…” yang mengontrol perilaku seorang klien, psikolog klinis dapat
menginduksi perubahan perilaku yang signifikan.
Jadi, pengondisian klasik maupun pengondisian instrumental dapat diterapkan
secara klinis untuk mengatasi perilaku-perilaku problematic atau tidak diinginkan
pada klien. Bahkan, kedua tipe pengondisian ini membentuk landasan untuk
sebagian besar teknik terapi perilaku.

D. Teknik-Teknik Yang Berdasarkan Pengondisian Klasik

Secara sederhana, terapi paparan adalah versi "hadapi ketakutanmu" para


psikolog klinis. Fobia, menurut terapis behavioral, sebaiknya dipahami sebagai
hasil pengondisian klasik: Sebuah stimulus tertentu (laba-laba, ketinggian, gelap,
dan lain-lain) dipasangkan dengan sebuah hasil aversif (kecemasan, kesakitan
Pemasangan ini bisa diperlemah dan akhirnya ditiadakan jika klien mengalami
salah satunya tanpa mengalami yang lainnya. Artinya, jika klien berulang kali
"dipaparkan" pada objek yang ditakuti dan hasil aversif yang diprakirakannya
tidak terjadi, maka klien tidak lagi mengalami respons ketakutannya, yang
merupakan cara yang lebih tepat dan rasional untuk bereaksi terhadap stimulus
yang seberamya tidak membahayakan tersebut (Hazlett-Stevens & Craske, 2008).
Sebagai contoh klinis, Wayne yang sebelumnya telah digambarkan memiliki
ketakutan terhadap anjing akibat dari sebuah serangan yang pernah dialaminya.
Tugas esensial bagi seorang terapis yang sedang melakukan terapi paparan adalah
memapari Wayne dengan stimulus terkait-anjing. Berdasarkan serangannya,
Wayne telah mengasosiasikan anjing dengan ketakutan, tetapi kebenarannya

13
adalah bahwa untuk sebagian besar anjing, ekspektasi ini sama sekali keliru.
Penghindarannya terhadap anjing sejak serangan itu telah menghilangkan
kesempatannya untuk melupakan asosiasi antara anjing dan ketakutan. Melalui
terapi paparan, terapis behavioral benar-benar memberinya kesempatan tersebut,
dan hasil paparan stimulus terkait anjingnya adalah bahwa hubungan antara anjing
dan ketakutan Wayne benar-benar sudah dilupakan. Terapis behavioral
mempunyai beberapa pilihan yang dapat diambil ketika melaksanakan terapi
paparan. Salah satu hal yang paling relevan melibatkan sifat imajinasi versus
stimulus in vito yang akan dipaparkan kepada klien. Dengan kata lain, klien dapat
diminta untuk membayangkan objek-objek yang membangkitkan kecemasan
(tanpa pernah dipapari dengan hal nyata) atau dapat dipapari dengan benda atau
situasi nyata (in vivo) yang telah menghasilkan ketakutannya (Hazlett-Stevens &
Craske, 2008; Spiegler & Guevremont, 2010). Di dalam kasus Wayne, paparan
imajinasi akan melibatkan visualisasi anjing atau benda-benda terkait-anjing,
sementara paparan in vivo berarti bahwa Wayne akan melihat, mendengar dan
menyentuh anjing secara langsung. Pilihan penting lain tentang terapi paparan
melibatkan sejauh mana klien akan dipapari dengan stimulus yang menginduksi
ketakutan: berangsur-angsur atau sekaligus.
Desensitisasi sistematis
Desensitisasi sistematis adalah sebuah penanganan yang juga digunakan
terutama untuk fobia dan gangguan kecemasan lain, sangat mirip dengan terapi
paparan faktanya, paparan stimulus yang membangkitkan ketakutan adalah salah
satu komponen kuncinya- tetapi, daripada sekadar memutuskan asosiasi antara
objek yang ditakuti dan perasaan aversif, desensitisai sistematis melibatkan
pemasangan-ulang (atau pengondisian-balik) objek yang ditakuti dengan sebuah
respons baru yang tidak sesuai dengan kecemasannya. Jika terapi paparan bekerja,
objek yang ditakuti pada akhirnya akan tidak dipasangkan dengan apa pun (bukan
dengan respons ketakutannya), tetapi, jika desensitisasi sistematis berhasil, objek
yang ditakuti dipasangkan dengan sebuah respons baru yang menggantikan dan
memblokir respons yang ditakuti (Head & Gross; McGlynn, 2002; Wolpe, 1958,
1969).

14
Latihan Ketegasan
Latihan ketegasan adalah aplikasi spesifik pengondisian klasik yang
menarget kecemasan sosial klien. Latihan ini paling cocok bagi orang-orang yang
perilaku sosialnya pemalu, aprehensif, atau tidak efektif memiliki dampak negatif
pada hidupnya. Secara praktis, latihan ini dapat membantu klien untuk meminta
pelayanan yang seharusnya (di restoran, misalnya), mengajak seseorang untuk
berkencan, meminta kenaikan gaji, berkomunikasi secara efektif dengan petugas
pelayanan kesehatan, atau mengatakan tidak pada tuntutan yang tidak masuk akal
dari seorang teman atau orang yang dicintai. Latihan ketegasan sudah pasti
memasukkan elemen-elemen terapi paparan, dan ini juga dapat termasuk elemen-
elemen desensitisasi sistematis (Duck- worth, 2008; Gambrill, 2002). Paparannya
dalam bentuk menghadapi ketakutan interpersonal. Artinya, orang yang memiliki
masalah dengan ketegasan biasanya menghindari situasi-situasi yang
membutuhkan ketegasan, sehingga de ngan sekadar memapari dirinya sendiri
pada situasi-situasi semacam itu dan menghasilkan jenis respons ketegasan,
berarti mereka telah mengambil langka maju yang signifikan. Komponen
pengondisian-balik desensititasi sistemas mungkin juga ikut berperan, yaitu
ketegasan menggantikan relaksasi sebagai respons baru yang menggantikan dan
menghambat kecemasan. Latihan ketegasan biasanya dimulai dengan instruksi-
instruksi langsung dari terapis behavioral yang mengajarkan kepada klien secara
spesifik tentang apa yang harus diucapkan dan dilakukan di dalam situasi tertentu.

E. Teknik-Teknik Yang Berdasarkan Pengondisian Instrumental


1. Manajemen Kontingensi

Kontingensi adalah pernyataan "jika... maka..." yang menurut terapis


behavioral, mengatur perilaku kita. Jadi, jika tujuannya adalah untuk mengubah
perilaku, salah satu cara yang kuat untuk melakukannya adalah dengan mengubah
kontingensi yang mengontrolnya. Psikoterapis behavioral menyebut proses ini
manajemen kontingensi. Semua perilaku terjadi karena konsekuensinya, dan jika
konsekuensi itu berubah, perilaku secara korespondensif juga berubah (Drossel,
Garrison-Diehn & Fisher, 2008; Kearney & Vecchio, 2002; Villamar, Donahue &

15
Allen, 2008). Kaum behavioris menekankan bahwa kontingensi yang kuat namun
sering terlupakan, seperti misalnya, "Jika saya berperilaku secara depresif, maka
saya akan menerima perhatian dari teman-teman dan keluarga dan saya terbebas
dari tanggung jawab", dapat berkontribusi pada perkembangan dan terpeliharanya
gangguan mental (misalnya, Anderson, 2007).
2. Penguatan dan Hukuman

Konsekuensi sebuah perilaku kata-kata yang melengkapi frasa "maka.."


didalam kontingensi dapat dikategorikan sebagai penguatan atau hukuman.
Penguatan didefinisikan sebagai konsekuensi tertentu yang membuat sebuah
perilaku lebih berkemungkinan untuk terjadi lagi di masa mendatang. Sebaliknya,
hukuman didefinisikan sebagai konsekuensi tertentu yang membuat sebuah
perilaku kurang berkemungkinan untuk terjadi lagi di masa mendatang. Penguatan
dan hukuman masing-masing dapat dibagi lebih lanjut menjadi dua jenis: positif
dan negatif (Higgins, 1999). Di dalam konteks ini, positif mengacu pada
menambahkan sebuah konsekuensi, sementara negatif mengacu pada
menghilangkan sebuah konsekuensi. Jadi, penguatan positif berarti "mendapatkan
sesuatu yang baik" (misalnya makanan), sementara penguatan negatif berarti
"kehilangan sesuatu yang buruk" (misalnya rasa sakit).
3. Ekstingsi

Ketika terapis behavioral mempertimbangkan kontingensi yang telah


mempertahankan sebuah perilaku atau kontingensi baru yang dapat
memodifikasinya, ia sering memperhatikan baik-baik isu-isu yang melibatkan
ekstingsi (pemunahan/peniadaan). Di dalam konteks manajemen kontingensi,
ekstingsi mengacu pada penghilangan sebuah penguatan yang diharapkan, yang
menghasilkan penurunan di dalam frekuensi sebuah perilaku (Kearney &
Vecchio, 2002: Po- ling, Ehrhardt & Jennings, 2002; Sturmey dkk., 2007).
4. Pembentukan

Manajemen kontingensi sering didasarkan pada penguatan perilaku target


untuk meningkatkan frekuensinya. Namun, kadang-kadang, perilaku targetnya
begitu kompleks, menantang, atau baru bagi klien sehingga, pada awal

16
penanganan, hal itu benar-benar tidak dapat dilakukan sepenuhnya. Didalam kasus
ini, terapis behavioral menggunakan pem- bentukan, yang melibatkan penguatan
pendekatan perilaku target. Dengan kata lain, pembentukan adalah sebuah
"langkah kecil" teknik penguatan terapis behavioral ke arah perilaku yang
diinginkan (Kazdin, 1980; Kearney & Vecchio, 2002; Sturmey dkk., 2007).
5. Aktivasi Behavioral

Aktivasi behavioral adalah sebuah bentuk terapi perilaku yang dirancang


untuk menangani depresi, yang telah menerima perhatian dan dukungan empiris
signifikan selama beberapa tahun terakhir (Dimidjian, Barrera, Martell, Muhus &
Lewinsohr 2011, Mazzacchelli, Kane & Rees, 2009). Ini didasarkan pada gagasan
sederhana namun kuat bahwa di dalam kehidupan sehari-hari orang yang
mengalami depresi, terdapat kekurangan penguatan positif. Jadi tujuan aktivas
behavioral adalah untuk meningkatkan frekuensi perilaku yang memperkuat klien
secara positif. Sebagai hasilnya, klien mengalami emosi-emosi yang lebih positif
dan menjadi terlibat lebih penuh di dalam hidupnya. Kecenderungan mereka
untuk menghindari pengalaman tidak menyenangkan berkurang seiring
terangkatnya depresi mereka (Craske, 2010: Dobson & Dobsein, 2009; Kanter
Busch & Rusch, 2009; Martell, 2008). CTautan Web 14.5 Webnite mengenai
Chris- topher Martell.)
6. Pembelajaran Observasional

Di dalam praktik klinis, pembelajaran observasional adalah sebuah teknik


ketika klien mengobservasi sebuah demonstrasi perilaku yang diinginkan dan
diberi kesempatan untuk menirunya (Freeman, 2002; Spiegler & Guevremont.
2010). Klien biasanya juga menerima umpan-balik konstruktif tentang usaha
peniruan ini. Orang yang bertindak sebagai model mungkin saja terapisnya, model
lain, atau model yang sudah direkam secara video atau audio. Efek-efek
pemodelan telah dipelajari secara ekstensif oleh Albert Bandura dan lain-lain,
yang menghasilkan badan penelitian yang cukup besar tentang variabel-variabel
kunci di dalam proses pemodelan. Strategi pembelajaran observasional
sebenarnya mengajarkan dua cara belajar yang berbeda kepada klien. Yang

17
pertama adalah imitasi, yaitu kien sekadar meniru perilaku yang dicontohkan.
Yang kedua adalah pembelajaran pengganti, yaitu klien mengamati bukan hanya
perilaku yang dicontohkan tetapi juga mengamati model yang menerima
konsekuensi untuk perilaku yang dicontohkannya. Dengan kata lain, bahkan tanpa
meniru, seorang klien dapat belajar untuk mengharapkan penguatan atau hukuman
untuk sebuah perilaku target dengan mengamati apa yang diterima model
(Freeman, 2002).

F. Berbagai Alternatif Terapi Behavioral


1. Konsultasi Behavioral

Konsultasi behavioral adalah sebuah cara yang tidak langsung bagi terapis
bevioral untuk memodifikasi perilaku seorang klien. Ini berbeda dengan
pelayanan-pelayanan klinis langsung dalam arti bahwa selalu ada tiga pihak yang
terlibat klien, penasihat (orang yang menerima konsultasi), dan konsultan.
Sebagian contoh yang kita lihat pada pembahasan sebelumnya (seperti Wendy
gadis yang tidak mau makan makanan yang sama dengan keluarganya)
melibatkan sebuah komponen konsultasi, tetapi di dalam konsultasi perilaku,
penasihat bertindak sebagai orang perantara, sedemikian rupa sehingga
konsultan/terapis dan klien kemungkinan tidak akan pernah saling bertemu.
Konsultasi perilaku adalah sebuah proses yang fleksibel, tetapi biasanya
melibatkan lima tahap (Ehrich dan Kratochwill, 2002) yaitu :
a) Inisiasi hubungan konsultasi, yaitu penetapan peran dan tanggung jawab
semua pihak.
b) Identifikasi masalah, yaitu penetapan perilaku target, biasanya melalui
pertanyaan-pertanyaan yang melibatkan siapa, apa, di mana, dan kapan
masalah perilaku terjadi. Acuan dasar dan tujuan juga ditentukan.
c) Analisis masalah, yaitu terpais mengidentifikasi penguatan kontingensi yang
mempertahankan perilaku saat ini.
d) Penerapan rencana, yaitu penasihat melaksanakan intervensi yang
direkomendasikan oleh konsultan.

18
e) Evaluasi rencana, yaitu konsultan dan penasihat mengukur kemajuan klien
dari acuan dasar dan ke arah tujuan.

2. Latihan bagi Orangtua

Latihan bagi orang tua adalah sebuah bentuk spesifik konsultasi


behavioral, yaitu orang tua mencari bantuan untuk perilaku permasalahan
anaknya. Rentang perilaku yang melibatkan pelatihan orangtua sangatlah luas,
termasuk berbagai masalah terkait tidur, mengompol, hiperaktivitas, perilaku
menentang dan memberontak, gagap, takut gelap, fobia sekolah, dan berbagai
keterampilan sosial (Schaefer & Briesmeister, 1989; Spigler & Gevremont, 2010).
Sebagai contoh pelatihan orang tua, simak Heather, seorang ibu tunggal
dari seorang anak laki-laki berusia 7 tahun, Danny, Heather mencari konsultasi
dari Dr. Ogden akibat perilaku tidur danny yang bermasalah. Heather menjelaskan
bahwa setiap malam danny menjalani spiritual tidur yang sama yang telah
dijalaninya selam bertahun-tahun, mengenakan piyamanya, menyikat gigi,
membaca dongeng bersama ibunya, dan mengucapkan selamat malam. Namun,
selama beberapa bulan terakhir danny mulai memanggil-manggil ibunya, “ibu aku
tidak bisa tidur”, setelah berbaring di tempat tidur selama sekitar 10 sampai 15
menit. Ketika Dr. Ogden menanyakan bagaimana heather merespons, ia
mengatakan bahwa ia sering mengizinkan danny untuk keluar dari kamar
tidurnya, berpikir bahwa danny sebenarnya belum benar-benar mengantuk. Secara
spesifik, heather menjelaskan bahwa ia sering membiarkan danny tidur-tiduran
bersamanya di sofa, di tempat mereka menonton TV dan makan cemilan selama
sekitar satu jam. Dr. Ogden melihat perilaku heather sangat memperkuat perilaku
danny dan menyarankan agar heather tidak lagi memberikan penguatan. Mereka
mendiskusikan bersama opsi-opsi lain yang layak dan memutuskan bahwa
opsiterbaik adalah tidak lagi mengizinkan danny untuk meninggalkan kamarnya
setelah waktu tidur.

19
3. Latihan bagi Pengajar

Latihan bagi pengajar sangat mirip dengan latihan bagi orangtua, tetapi
penekanannya pada perilaku yang terjadi di sekolah. Banyak perilaku bermasalah
semacam ini yang bersifat interpersonal atau disruptif, tetapi yang lain bersifat
akademik dan melibatkan penolakan untuk menyelesaikan tugas dan perilaku
terkait tugas lainnya. Seringkali, ketika terapis behavioral bertindak sebagai
konsultan bagi guru, tugas primernya adalah menganalisis dengan seksama
konsekuensi-konsekuensi perilaku anak. Artinya, konsultan perilaku sering kali
dapat membantu guru untuk melihat semua penguatan dan hukuman yang
diterima seorang anak untuk perilaku tertentu.

20
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Psikoterapi behavioral adalah aplikasi klinis prinsip-prinsip perilaku, yang


memiliki akar teoritis dan eksperimental yang telah berusia ratusan tahun.
Psikoterapi adalah istilah umum yang mencakup keseluruhan metode dan teknik
yang digunakan dalam rentangan spektrum perawatan psikologi. Tujuan utama
psikoterapi behavioral adalah perubaha perilaku yang dapat diobservasi. Terapis
behavioral lebih fokus pada demonstrasi perubahan yang tampak dari luar pada
diri klien perilaku yang dapat dilihat, bukan proses-prose mental yang tertutup.
Terapis behavioral bersikeras bahwa perilaku kita adalah produk sampingan dari
pengondisian (pembelajaran).

B. Saran

Penulis menyadari bahwa perlu lebih wawasan mengenai psikoterapi


perilaku, dimensi-dimensi pokok, dan mengenal cara terapi perilaku seseorang.
Penulis menyadari sebagai manusia biasa yang tak lepas dari kekurangan yang
membawa ketidaksempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan makalah yang
dimasa mendatang.

21
DAFTAR PUSTAKA

Pomerantz Andrew M. 2014. Psikologi Klinis Ilmu Pengetahuan, Praktik, dan


Budaya Edisi 3. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Rahman Abdur. 2014. Konsep Terapi Perilaku dan Self-Efficacy. Jurnal


Kependidikan Islam. Volume 4, Nomor 2.

22