Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH PSIKOLOGI KLINIS

“Psikoterapi Psikodinamik”

Dosen Pengampu :

Siti Syawaliah Gismin S.Psi., M.Psi, Psikolog

Disusun Oleh : Kelompok 4

Syarifah Indah M (4518091141)

Moh. Fikri Haykal (4518091150)

UNIVERSITAS BOSOWA
FAKULTAS PSIKOLOGI
2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan kesehatan sehingga kami mampu
menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan tentang Teori Psikoterapi Psikodinamik. Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini, terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab
itu, kami berharap adanya kritik, saran atau usulan demi perbaikan makalah yang telah kami
buat di masa yang akan mendatang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sebelumnya kami memohon maaf apa bila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan.

Makassar, 24 Maret 2020

Penyusun,
Kelompok 4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam sejarah Psikodinamiklah yang pertama kali muncul dengan banyak
alasan. Selama sebagian besar paruh pertama tahun 1990-an, pendekatan
psikodinamik begitu dominannya sehingga praktis sinonim dengan psikoterapi itu
sendiri. Jadi, banyak terapi yang muncul selama dekade-dekade setelah itu,
termasuk terapi humanistik, behavioral dan kognitif yang merupakan reaksi
terhadap pendekatan psikodinamik.
Akan tetapi, di kalangan banyak psikologi klinis, psikoterapi psikodinamik
belum menikmati reputasi atau popularitas di antara berbagai psikoterapi. Hanya
ada sedikit keraguan bahwa Psikoanalisis dan terapi-terapi Psikodinamik yang lahir
darinya saat ini sedang berada dalam keadaan terkepung. Terlepas dari penurunan
relatif terapi Psikodinamik, terapi ini masih digunakan secara luas dan cukup
relevan, khususnya ini dikantung-kantung profesi tertentu melalui adaptasi metode
tradisional menjadi pendekatan baru yang lebih cocok dengan budaya
kontemporer, terapi initerus memberikan pengaruh signifikan pada Psikologi
klinis.

1.2 Rumusan Masalah


a) Apa itu Psikoterapi Psikodinamik ?
b) Apa tujuan Psikoterapi Psikodinamik ?
c) Bagaimana tahap-tahap Psikoseksual?
d) Bagaimana bentuk-bentuk Psikoterapi Psikodinamik ?
e) Seberapa baik hasil dari Psikoterapi Psikodinamik?

1.3 Tujuan Masalah


a) Untuk mengetahui apa itu Psikoterapi Psikodinamik
b) Untuk mengetahui apa tujuan Psikoterapi Psikodinamik
c) Untuk mengetahui bagaimana tahap-tahap Psikoseksual
d) Untuk mengetahui bagaimana bentuk-bentuk Psikoterapi Psikodinamik
e) Untuk mengetahui seberapa baik hasil dari Psikoterapi Psikodinamik
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Psikoterapi Psikodinamik


Sigmud Freud (1856-1939) adalah tokoh terkemuka di bidang Psikoterapi
Psikodinamik.. Istilah Psikoterapi Psikodinamik untuk mencakup terapi-terapi yang
sangat beragam. Penggunaan istilah ini merujuk secara luas pada karya rintisan
Sigmund Freud dan semua upaya yang dilakukan setelah itu untuk merevisi dan
memperluasnya. Jadi, ini akan termasuk pendekatan terapi asli Freud, yang dalam
bentuk klasiknya dikenal Psikoanalisis. Freud tentu memiliki banyak pewaris
intelektual, termasuk mereka yang sezaman dengannya ( seperti Carl Jung, Alfred
Adler dan Erick Erikson) diberbagai titik didalam evolusi teorinya oleh orang-
orang lain, istilah asli Freud, Psikoanalisis, digantikan oleh istilah-istilah seperti
Psikoterapi Psikoanalisis, terapi neo Fredian dan Psikoterapi Psikodinamik, yang
masing-masing telah menghasilkan istilah-istilah yang bahkan lebih spesifik lagi
untuk cabang-cabangnya.
Psikoterapi positif merupakan strategi terapi yang dilandasi oleh pendekatan
transkultural, psikodinamika, dan cognitive-behavioral untuk membangun emosi
positif, kekuatan karakter, dan kebermaknaan sebagai upaya mengatasi gangguan
klinis maupun hal-hal negatif (Peseschkian 1987). Psikoterapi positif memiliki
gagasan membentuk happiness. Menurut Seligman dkk (2006), psikoterapi positif
merupakan terapi yang terfokus pada upaya membentuk emosi positif, kekuatan
karakter, dan kebermaknaan dengan cara membangun hidup yang menyenangkan
(pleasant life), hidup yang mengikat pada aktivitas (enganged life), dan hidup
yang bermakna (pursuit of meaning) untuk mengatasi gangguan klinis maupun
hal-hal negative.

2.2 Tujuan Psikoterapi Psikodinamik


Tujuan utama Psikoterapi Psikodinamik adalah untuk membuat yang tidak
disadari menjadi disadari. Psikoterapis Psikodinamik membantu klien mereka agar
menjadi sadar akan pikiran, perasaan dan kegiatan-kegiatan mental lain yang tidak
disadari oleh klien pada saat terapi dimulai. Kata pemahaman, yang sering
digunakan oleh terapis maupun klien Psikodinamik, menangkap fenomena ini
melihat kedalam diri sendiri dan melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat
begitu kita menjadi sadar akan proses-proses yang tidak disadari, kita dapat
melakukan upaya untuk mengontrolnya secara sengaja, dan bukan mereka yang
mengontrol kita.
Ide fundamental ini, adanya ketidaksadaran adalah salah satu kontribusi
terpenting dan abadi Freud pada Psikologi klinis sebelum Freud, hanya sedikit
pengakuan dikalangan profesional kesehatan mental tentang kegiatan apapun yang
terjadi diluar kesadaran kita. Freud mengubah cara kita memikirkan tentang diri
sendiri dengan mengusulkan “Proses-proses mental yang berada diluar kesadaran
individu dan yang memiliki pengaruh penting dan kuat pada pengalaman yang
disadari” faktanya, mereka berpendapat bahwa proses-proses tak sadar mendasari
depresi, kecemasan, gangguan kepribadian, gangguan makanan dan semua bentuk
Psikoterapi lain yang Psikolog klinis. Jadi, mendapatkan akses pada proses tak
sadar adalah hal yang vital.

2.3 Tahap-Tahap Psikoseksual


Tahap-tahap perkembangan psikoseksual Freud – oral, anal, falik, latensi, dan
genital – adalah aspek-aspek yang paling luas diketahui dari teorinya dan juga
implikasi-implikasi yang paling relevan bagi psikolog klinis dan bagi pendekatan
psikoterapi psikodinamika pada khususnya. Di antara kelima tahap, ketiga tahap
pertama pada umumnya telah menerima perhatian lebih banyak dari psikoterapis
psikodinamik, khususnya tentang fiksasi yang merujuk pada ide bahwa ketika anak
melalui tahap-tahap perkembangan, mereka mungkin “terjebak” secara emosional
di salah satu tahap perkembangan sampai tingkat tertentu, dan mungkin terus
bergulat dengan isu-isu yang terkait dengan tahap itu selama bertahun-tahun,
bahkan sampai dewasa.
Tahap Oral
Selama anak berada di masa ini, anak akan mengalami semua sensasi
Kenikmatan melalui mulut dan feeding (memberi makan) (asi atau botol) adalah
isu utamanya. Anak-anak yang orang tuanya keliru dalam mengelola tahap ini
dapat memperlihatkan perilaku yang jelas-jelas "oral" di dalam hidupnya kelak:
merokok, makan berlebih, minum-minum, senang menggigit kuku, dan lain-lain.
Akan tetapi, banyak diantara konsekuensi-konsekuensi nya yang tidak begitu
tampak jelas. Menurut teori psikodinamik, salah satu isu utama di tahap ini adalah
ketergantungan. Bayi sangat bergantung pada orang lain untuk bertahan hidup dan
mendapatkan kenyamanan. Mereka tidak dapat makan, berpakaian, mandi,
melindungi atau mengurusi dirinya sendiri, sehingga mereka harus bergantung
pada orang dewasa dalam hidupnya. jika orang tua terlalu memanjakan anak di
tahap oral, anak dapat belajar bahwa bergantung pada orang lain selalu berhasil
dan, faktanya, bahwa orang-orang lain adalah semata-mata untuk memenuhi
kebutuhannya. Anak-anak semacam itu dapat mengembangkan kepribadian yang
terlalu mempercayai orang lain, naif, terlalu optimistik, sebagai orang dewasa,
akan membentuk hubungan sesuai dengan kecenderungan itu. Isu-isu oral ini,
khususnya dalam bentuk ekstrem, sering menjadi akar dari masalah-masalah
individual dan interpersonal klien dan merupakan fokus dari psikoterapi
psikodinamik.
Tahap Anal
Tahap ini menyusul tahap oral, yang terjadi ketika anak berumur sekitar 1,5
sampai 3 tahun. Latihan ke toilet adalah salah satu tugas utama tahap ini, tetapi
bukan satu-satunya cara untuk anak belajar mengontrol dirinya sendiri. Pada umur
ini, orang tua mulai membuat berbagai tuntutan terhadap anak tentang ucapan dari
perilaku mereka. Jika orang tua terlalu menuntut anak di tahap ini, anak dapat
menjadi terlalu mengkhawatirkan tentang ketepatan. Anak-anak ini sering tumbuh
menjadi orang dewasa yang berpikir secara obsesif dan berperilaku secara
kompulsif agar tetap terkontrol. Sebaliknya, jika orang tua terlalu lembek terhadap
anak di tahap ini, anak dapat menjadi lemah tentang organisasi, dan ciri sifat ini
dapat berlanjut sampai dewasa.
Tahap Falik
Tahap falik, yang terjadi Mulai umur 3 sampai 6 tahun, adalah salah satu
konsep Freud yang paling kontroversial. Faktanya, banyak diantara ide-ide yang
asalnya terkandung di dalam deskripsi Freud tentang tahap ini, khususnya ide-ide
yang bertalian erat dengan biologi spesifik-gender, telah banyak ditinggalkan dan
ditentang secara luas oleh para psikoterapi psikoinamik kontemporer. yang masih
tersisa adalah ide fundamental yang diimplikasikan oleh Oedipus kompleks dan
Elektra: anak-anak pada usia ini ingin memiliki hubungan yang dekat dan spesial
dengan orang tuanya. Respons orang tua terhadap keinginan anak ini adalah isu
krusial bagi psikolog klinis, karena respon orang tua ini secara kuat membentuk
pandangan anak tentang dirinya sendiri. anak semacam itu dapat tumbuh menjadi
orang dewasa yang pendapatnya tentang dirinya sendiri terlalu tinggi secara tidak
realistis sehingga mereka dianggap Arogan atau egoistik oleh orang lain.
Sebaliknya, orang tua yang menolak keinginan anak akan hubungan yang dekat
dan spesial dapat melukai rasa penghargaan diri anak. Anak semacam ini dapat
tumbuh menjadi orang dewasa yang kurang menilai rendah dirinya sendiri dan
merasa sangat tidak yakin dan meragukan dirinya sendiri. Seperti tahap-tahap
perkembangan psikoseksual lain, tahap falik sering memunculkan berbagai isu
yang didiskusikan di dalam psikoterapi psikodinamik, termasuk gangguan
gangguan seperti depresi, distimia, kecemasan, masalah hubungan, dan isu lain
yang dapat melibatkan berbagai pertanyaan tentang penghargaan diri.

2.4 Bentuk-Bentuk Psikoterapi Psikodinamik


Psikoterapi psikodinamik telah diciptakan kembali dalam berbagai bentuk yang
tak terhitung jumlahnya. kebanyakan revisi ini mengurangi tekanannya pada
elemen-elemen biologis dan seksual. Sebagai contoh, psikologi ego, yang
dicontohkan oleh Erik Erikson dan teori perkembangan delapan tahapnya, merevisi
tahap-tahap psikoseksual Freud untuk menyoroti hubungan sosial dan menekankan
kecenderungan adaptif ego atas dorongan berbasis kesenangan id. Revisi
pendekatan Freudian Line menyebalkan keraguan tentang teori-teori Freud tentang
perempuan dan perkembangan mereka. Sepanjang sejarahnya dan di dalam semua
variasinya yang begitu banyak, psikoterapi psikodinamik selalu menjadi bentuk
psychotherapy yang paling panjang/ paling lama dan paling mahal - ketidak
sesuaian bagi masyarakat kita saat ini, yang ditandai oleh keinginan untuk
mendapatkan hasil cepat dan perusahaan asuransi enggan untuk membayar
penanganan yang mereka anggap berlebihan. Akibatnya, sebagian besar variasi
terkini psikoterapi psikodinamik menekankan efisiensi. Secara kolektif, banyak
bentuk psikoterapi psikodinamik singkat telah menjadi jauh lebih lazim selama
bertahun-tahun belakangan ini dibanding versi ortodoks psikoanalisis Freudian
merupakan asal derivasinya.
Beberapa bentuk psikoterapi psikodinamik singkat tertentu telah mendapatkan
pelatihan signifikan selama beberapa tahun terakhir. Dua di antaranya secara rinci
sebagai contoh variasi psikoterapi psikodinamik kontemporer. Terapi interpersonal,
yang didasarkan pada aliran pemikiran psikodinamik interpersonal dengan Harry
Stack Sullivan adalah salah seorang tokohnya, dikembangkan pada 1980-an oleh
Gerald Klerman, Myrna Weissman, dan rekan-rekan sejawatnya. Terapi ini fokus
pada hubungan interpersonal dan ekspektasi peran saat ini dan cenderung kurang
menekankan sebagian aspek psikoterapi psikodinamik yang lagi tradisional yang
berkaitan dengan struktur intrapsikis dan fiksasi masa anak-anak. tapi ini menjadi
salah satu yang terdepan diantara terapi terapi psikodinamik dalam kaitannya
dengan efikasi yang didukung secara empiris. Selanjutnya psikoterapi dinamik
berbatas-waktu (Time limited Dynamic Psychotherapy) adalah aplikasi modern
dari apa yang disebut " pengalaman emosional kolektif". Seperti kebanyakan
bentuk psikoterapi psikodinamik yang lebih baru, TLDP biasasnya jauh lebih
singkat dibandingkan psikoanalisis klasik. Tugsd primer trapis adalah
mengidetifikasi “skrip” yang tampaknya tanpa sadar diikuti oleh klien. TLDP
berasumsi bahwa masalah klien paling tidak sebagian disebabkan oleh penerapan
skrip ini pada hubungan atau situasi yang tidak sesuai.

2.5 Hasil Psikoterapi Psikodinamik


Terlepas dari tantangan-tantangan metodologi ini, sudah ada banyak upaya
untuk mengukur hasil psikoterapi psikodinamik. Sebuah tinjauan skala besar
terhadap studi hasil psikodinamik dan psikoanalisis yang secara total mencakup
hampir 2000 klien yang ditangani oleh sekitar 500 terapis di berbagai macam
lingkungan, menunjukkan bahwa sebagian besar klien membaik secara substansial.
Tinjauan terhadap mutakhir terhadap studi-studi hasil psikoterapi psikodinamik
juga memuji Muji data yang mendukung penggunaannya pada beragam masalah
spesifik, termasuk depresi, bulimia, anoreksia, gangguan panik dan gangguan
kepribadian ambang – kondisi-kondisi klinis Kompleks jangka panjang yang dapat
mencakup lebih dari satu diagnosis. Akan tetapi, tinjauan lain tentang status terapi
psikodinamik menunjukkan bahwa jumlah studi yang baik secara empiris,
khususnya yang bagus pada sebuah gangguan tunggal yang didefinisikan dengan
baik, cukup sedikit – faktanya, bagi beberapa gangguan utama tidak ada satupun
studi empiris yang dikerjakan dengan baik – yang menunjukkan bahwa bukti-bukti
yang ada seharusnya diinterpretasikan dengan hati-hati.
Di dalam beberapa meta-analisis, terapi psikodinamik ditemukan efektif, tetapi
sedikit kurang efektif dibandingkan bentuk-bentuk terapi lain. Akan tetapi, sedikit
ketidak sesuaian ini menghilang ketika efek keberpihakan diperhitungkan yang
mengacu pada pengaruh bias dan preferensi peneliti sendiri tentang hasil studi
empirisnya. Biasanya, peneliti yang melaksanakan studi empiris tentang hasil
psikoterapi, termasuk meta-analisis, tidak mengikuti orientasi psikodinamik.
Sebaliknya, mereka cenderung behavioral atau kognitif, dua kategori tetapi yang
menemukan bahwa psikoanalisis sedikit lebih lemah di dalam beberapa meta-
analisis.
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Psikoterapi psikodinamik didirikan berdasarkan teori-teori Sigmund Freud. Ia
mengasumsikan keberadaan komponen tak-sadar yang kuat dari pikiran, dan tujuan
utama,nya adalah pemahaman atau membuat proses tak-sadar menjadi disadari. Ini
adalah sebuah pendekatan psikoterapi yang sangat inferensial, yaitu masalah dan
dampak terapi pada masalah itu sulit untuk dinilai secara objektif dan empiris.
Terapis psikodinamik sering menjalankan peran “layar kosong” untuk
memfasilitasi proses tranferensi ini dan berasumsi bahwa klien mungkin juga telah
mentransfernya pada orang lain yang berhubungan dengannya. Terapis
psikodinamik juga memberikan perhatian signifikan pada isu-isu klinis yang
mungkin timbul dari fiksasi di salah satu tahap perkembangan psikoseksual awal
(misalnya: oral, anal, falik). Psikoterapi psikodinamik secara tradisional relative
berjangka panjang, tetapi versi-versi yang lebih singkat, bukti-buktinya pun telah
terakumulasi untuk mendukung efikainya, terutama untuk pasien depresi. Secara
keseluruhan, sifat psikoterapi psikodinamik telah menghalangi pengumpulan data
hasil empiris, tetapi data yang telah terkumpul menunjukkan bahwa terapi ini
lebih-kurang sama efektifnya dengan bentuk-bentuk psikoterapi lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Pomerantz, A. M. (2013). Psikologi Klinis Ilmu Pengetahuan, Praktik, dan Budaya.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pamungkas, C., Wardhani, N., & Siswadi, A. G. (2017). Pengaruh Psikoterapi Positif
Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Subjektif Pada Wanita Dewasa Awal Yang
Belum Memiliki Pasangan. Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 9 no. 1.