Anda di halaman 1dari 21

PSIKOLOGI KLINIS

Dosen Pengampu : Siti Syawaliyah G, S.Psi., M. Psi., Psikolog

Di Susun Oleh :

Nama :
1. Natassya Dinda Novitasari (4518091065)
2. Muhammad Risal (45180911001)
3. Ayesha Audreyhan (4518091146)

KELAS C 2018

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR

2020/2021

1
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah


memberikan kekuasaan dan petunjuk-Nya dalam menyelesaikan tugas ini dengan
Tema “PSIKOLOGI KLINIS DAN KONSELING” dengan Judul “PSIKOLOGI
KESEHATAN VERSUS PENGOBATAN BEHAVIORAL” Selanjutnya salawat
beriringkan salam penulis persembahkan kepada nabi Muhammad SAW yang
telah membimbing umat manusia ke alam yang penuh ilmu pengetahuan.

Penulis menyadari akan kurangnya pengetahuan, pengalaman serta


keterbatasan lainnya baik dari segi isi, pembahasan, dan susunan rangkaian
kalimat-kalimatnya. Oleh karena itu, dengan berbesar hati penulis mengharapkan
dan menghargai kritik dan saran-saran yang sifatnya membangun untuk
menyempurnakan tulisan ini. Akhirnya, hanya kepada Allah SWT kita mohon
ampun, semoga selalu memberikan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

BAB 1 PENDAHULUAN 4
A. Latar belakang 4

B Rumus masalah 5

C Tujuan masalah 5

BAB 2 PEMBAHASAN 6

DEFINISI : PSIKOLOGI KESEHATAN VERSUS PENGOBATAN BEHAVIORAL


6

STRESS 6

STRESS DAN PENYAKIT FISIK 7

STRESS DAN PENANGANANNYA 9

DUKUNGAN SOSIAL 9

APLIKASI KLINIS 10

MANAJEMEN BERAT BADAN 10

ROKOK 12

PENYALAHGUNAAN DAN KETERGANTUNGAN ALKOHOL 14

MANAJEMEN RASA SAKIT DAN BIOFEEDBACK 14

KEPATUHAN TERHADAP ATURAN MEDIS 16

MENGHADAPI PROSEDUR MEDIS

BAB 3 20

KESIMPULAN 20

3
DAFTAR PUSTAKA 21

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang

Psikologi Kesehatan dikembangkan untuk memahami pengaruh


psikologis terhadap bagaimana seseorang menjaga dirinya agar tetap
sehat, dan mengapa mereka menjadi sakit dan untuk menjelaskan apa
yang mereka lakukan saat mereka jatuh sakit. Selain mempelajari hal-
hal tersebut di atas, psikologi kesehatan mempromosikan intervensi
untuk membantu orang agar tetap sehat dan juga mengatasi kesakitan
yang dideritanya.

Psikologi kesehatan tidak mendefinisikan sehat sebagai tidak


sakit. Sehat dilihat sebagai pencapaian yang melibatkan keseimbangan
antara kesejahteraan fisik, mental dan sosial. Psikologi kesehatan
mempelajari seleruh aspek kesehatan dan sakit sepanjang rentang
hidup. Psikologi kesehatan fokus pada pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan, seperti bagaimana mendorong anak mengembangkan
kebiasaan hidup sehat, bagaimana meningkatkan aktivitas fisik, dan
bagaimana merancang suatu kampanye yang dapat mendorong orang
lain memperbaiki pola makannya, maupun kesehatan mental remaja.

Dimana kita ketahui, remaja terkadang melakukan tindakan-


tindakan yang tidak realistis, bahkan cenderung melarikan diri dari
tanggung jawabnya. Perilaku mengalihkan masalah yang dihadapi dan
mengkonsumsi minuman beralkohol banyak dilakukan oleh kelompok

4
remaja, bahkan sampai mencapai tingkat ketergantungan
penyalahgunaan obat terlarang dan zat adiktif.

B. Rumus masalah

1. Apa yang dimaksud dengan psikologi kesehatan?


2. Bagaimana cara membuat perubahan positif dalam hidup?
3. Bagaimana cara untuk hidup efektif?
4. Apa kaitannya psikologi kesehatan dan motivasi?
5. Bagaimana cara menanam kebiasaan baik?

C. Tujuan masalah
1. Mengetahui psikologi kesehatan
2. Mengetahui cara membuat perubahan positif dalam hidup
3. Mengetahui cara untuk hidup efektif
4. Mengetahui kaitannya psikologi kesehatan dan motivasi
5. Mengetahui cara menanam kebiasaan baik

5
BAB 2

PEMBAHASAN

DEFINISI : PSIKOLOGI KESEHATAN VERSUS


PENGOBATAN BEHAVIORAL

Pengobatan Behavioral melibatkan integrase pengetahuan dari beragam


ilmu sosial, termasuk psikologi, sosiologi dan antropologi dengan pengetahian
dari disiplin-disiplin medis. Psikologi kesehatan adalah salah satu subdisiplin
pengobatan behavioral yang secara spesifik berhubungan dengan bagaimana
proses-proses psikologis (misalny, kognisi, suasana perasaan, jaringan sosial)
memengaruhi kesehatan dan penyakit. Tanggungjawab utama psikolog kesehatan
adalah pengembangan, asesmen, dan penerapan program-program yang dirancang
untuk mempromosikan kesehatan, dengan demikian, mereka sering bekerja
dirumah sakit atau klinik terspesialisasi utuk isu isu seperti pengelolaan berat
badan, menghentikan rokok, atau pengendalian rasa sakit. Psikolog kesehatan
melontarkan pertanyaan seperti “mengapa mahasiswa cenderung lebih sering
jatuh sakit disekitar minggu-minggu ujian?”. Psikolog klinis mungkin
menghabiskan hari-harinya untuk terlibat di dalam penelitian atau penerapan
kegiatan seperti mempromosikan perilaku sehat atau mencegah penyakit melalui
sarana-sarana seperti mengajrkan relaksasi atau keterampilan untuk
menghadapinya (coping).

STRESS

Psikolog kesehatan dewasa ini memiliki pilihan bidang yang luas yang
memungkinkan mereka berpraktif, tetapi itu tidak selalu terjadi. Aplikasi pertama
di bidang psikologi kesehatan berurusan dengan topik stress semata atau klinis
terhadap keadaan internal atau eksternal yang sulit atau banyak menuntut.

6
Meskipun istilah psikologi kesehatan dan pengobatan behavioral belum
dilontarkan sampai tahun 1970-an, ide bahwa stress dapat berdampak buruk pada
tubuh sudah muncul sejak lama. Walter Cannon mendeskripsikan tentang respons
melawan atau mengihndar. Ketika organisme memersepsi sebuah ancaman, tubuh
dengan cepat mengerahkan cadangan energy memlalui system safat simpatik dan
system endokrin untuk melawan atau menghindat. Untuk manusia primitive,
respons perilaku tubuh mungkin benar-benar melawan atau lari.

Durasi stesor bisa sangat bervariasi. Stress kronis mengacu pada sindorm
yang sangat lazim dialami, yang didefinisikan berdasarkan tigkat stress yang
tinggi dan tanpa henti secara konsisten, sering kali karena gaya hidup yang sibuk
dan bergerak cepat. Banyak orang memiliki pengetahuan langsung tentang stress
kronis. Sayangnya tubuh kita tidak dirancanf untuk menangani paparan stress
jangka panjang karena jangka waktunya cukup panjang, kita menjadi kelelahan
dan rentan terhadap penyakit. Hans Selye dalam rintisannya mengenai stress,
yang berkulminasi pada hipotesis sindorm adaptasi umum; ketika dihadapkan
pada sebuah pemicu stress sementara, system melawan atau menghindar kita
sering bekerja dengan sangat efektif, tetapi dengan paparan stress yang berulang
dan berkepanjangan, tubuh kita akhirnya rusak.

STRESS DAN PENYAKIT FISIK

Respons tubuh yang sama, yang awalnya memberi kita kemampuan untuk
menyelamatkan diri dari sebuah bahaya yang mendekat, telah menjadi kondisi
yang maladatif di dalam masyarakat kita, yang mengakibatkan penyakit pada
banyak orang. Dari seluruh kunjungan ke penyedia pelayanan kesehatan
merupakan hasil dari gangguan stress dan bahwa mereka yang stress enam kali
berkemungkinan untuk dibawa ke rumah sakit karena sakit fisik dibandingkan
mereka yang tidak stress.

7
Stress kronis dapat mengakibatkan :

 Meningkatnya kadar hormone tiroid, yang mengakibatkan insomnia dan


berkurangnya berat badan
 Menipisnya endorphin, yang mengakibatkan rasa sakit secara jasmaniah
 Berkurangnya hormone seks, yang mengakibatkan amenore atau
ketidaksuburan
 Matinya system pencernaan , yang mengakibatkan pusing, kembung dan
mulut kering
 Pelepasan kolestrol yang berlebihan dan dapat berkontribusi pada
penyumbatan arteri, tekanan darah meningkat sampai dengan 400%, stroke,
atau aneurisma

Disamping itu, salah satu efek paling membahayakn dari stress adalah
melemahnya system kekebalan imun kita. Stress mengaktifkan hipotalamus
pituitary-adrenal (HPA) aksis yang mempunyai kontrol pelepasan hormone
stress tubuh kita, kortisol. Kortisol bermanfaat dalam jumlah yang tepat, tetapi
stress kronis menyebabkan meningkatnya kadar kortisol, yang mengakibatkan
kemunduran pada sel T, yang esensial dalam system kekebalan. Ketika kadar
kortisol yang terdisregulasi menyebabkan menurunnya fungsi sel T, hasilnya
adalah melemahnya system kekebalan. Stress kronis lebih mudah membuat kita
sait dan berkemungkinan untuk terinfeksi virus ISPA. Efek stress merugikan pada
system kekebalan tubuh. Psikologi klinis dapat memainkan peran penting dalam
penanganan atau pencegahan penyakit – penyakit tersebut.

8
STRESS DAN PENANGANANNYA

Penanganan didefinsikan sebagai proses mengelola berbagai tuntunan


yang dinilai melampaui sumber daya yang dimiliki orang yang bersangkutan.
Kepribadian rentan-penyakit yang mengasumsikan orang-orang pada penyakit
terkait stress seperti arthritis, maag, dan penyakit jantung coroner. Profil
kepribadian yang dimaksud ditandai oleh kecemasan, depresi, pesimisme dan
permusuhan defensive yang nyata. Persepsi tentang stress (bukan derajat actual
stress) dapat memprediksi penyakit terkait stress. Para perempuan yang kanker
payudara, banyaknya stress psikologis maupun fisik yang merupakan penyebab
penyakit yang berhubungan secara signifikan dengan banyalnya control yang
dimiliki oleh para perempuan. Keterampilan penanganan sehat lain yang dapat
dibantu juga perembangan oleh psikolog kesehatan adalah penanganan terfokus
masalah. Penanganan focus masalah menekankan upaya konstruktif proaktif
untukmengambil tindakan sebuah situasi yang penuh stress. Pendekatan ini
dicontohkan pada orang yang meskipun sadar bahwa terjadinya badai sama sekali
diluar control mereka, tetap berusaha agar mempersiapkan diri seoptimal mungkin
dengan menyimpan stok darurat dan membuat rencana evakuasi dan komunikasi.
Hasilnya adalah bahwa dengan memegang control dan menekankan sesuatu
tentang masalah nya dan bukan sekedar merenungkannya, tubuh dan fikiran terasa
lebih baik.

DUKUNGAN SOSIAL

Dukungan sosial dapat di deskripsikan sebagai persepsi bahwa orang


memiliki hubungan dengan orang lain dapat menyediakan dukungan di waktu
krisis dan juga dapat berbagi nasib baik. Dukungan sosial adalah fenomena yang
paling banyak di dokumentasikan di bidang psikologi keseharan, manfaatnya bagi
kesehatan fisik adalah melimpah dan tak dapat diingkari. “kerusakan didalam
struktur dukungan sosial memicu kerusakan dalam system kekebalan tubuh”.

9
Sumber daya sosial terdiri atas tiga komponen : jaringan sosial, hubungan sosial
dan dukungan sosial.

Dukungan sosial mengacu pada kuantitas dan kualitas perhatian dan


bantuan yang dibawa oleh hubungan tersebut. Dihipotesiskan bahwa mungkin
dibandingkan perempuan, laki-laki berkemungkinan untuk mengalami penyakit
terkait stress setelah perceraian. Dan bahwa mereka yang memiliki jaringan sosial
kuat lebih berkemungkinan untuk mencurahkan isi hati pada orang lain. Dan
mengungkapkan berbagai manfaat bagi system kekebalan tubuh tampak setalah
mencurahkan pada seseorang. Studi-studi pada manusia telah menunjukkan hasil
serupa, sebagai contoh bayi premature yang dielus dan dipijat selama masih
tinggal di rumah sakit lebih sehat dan berat badannya leibih tinggi serta memiliki
lebih sedikit masalah fisik pada periode tindak lanjut 8 bulan dibandingkan
mereka mendapatkan perlakuan semacam itu. Dan sebuah studi melaporkan
bahwa orang dewasa yang menikmati sentuhan penuh kasih secara regular
memiliki jantuh lebih sehat, tekanan darah lebih rendah, dan merasakan lebih
sedikit stress.

Aplikasi Klinis

Pada bagian-bagian berikut ini akan meninjau sebagian aplikasi klinis


yang paling popular dari psikologi kesehatan. Di samping contoh-contoh
perkerjaan berbasis klien tradisional, psikologi kesehatan juga dapat bekerja
didala konteks sosio-budaya yang lebih luas utuk merancang undang-undang
kesehatan perilaku, kebajikan sekola dan tempat kerja, dan pembuatan kbijakan
tentang reformasi keperawatn kesehatan.

Menajemen Berat Badan

Di amerika serikat, kejadian obesitas dan kelebihan badan mencapai angka


tertinggi sepanjang sejarah. Saat ini, 67% orang dewasa Amerika kelebihan berat
badan atau obes(kegemukan), dan jumlahnya terus meningkat tiap tahunnya pada
populsi orang dewasa dana anak-anak. Risiko berat badan berlebih sangat banayak
dan telah didokumentasikan dengan baik obesitas diperkirakan menyebabkan

10
lbeih dari 400.000 kematian pertahun di Amerika Serikat. Dan biaya perawatan
kesehatan terkait obesitas diperkirakan sebesar 117 miliar atau 6% samai 10%
pengeluaran perawatan kesehatan nasional negara ini. Psikologi kesehatan
memainkan peran sangat penting di dalam upaya menanggulai krisis nasional ini.
Nutrisi dan kebugaran fisik yang baik tak pelak lagi bertanggung jawab untuk
mencapai dan menjaga berat badan yang sehat. Akan tetapi,penelitian terkini
menunjukkan bahwa masalahnya bukan bahwa oang Amerika tidak tahu tentang
apa yang dimaksud diet dan aturan berolahraga yang sehat, tetapi sebalikanya,
bahwa mereka mengalami kesulitan untuk berkomitmen pada perilaku-perilaku
semacam ini dalam jangka panajang.

Salah satu pendekatan yang lazim digunakan para psikolog kesehatan


dalam menangani orang-orang dengan kelebihan berat badan dikenal sebagai
ABCDS dalam penurunan berat badan: peningkatan aktivitas,perubahan
perilaku,perubahan kognitif, perubahan diet , dan dukungan-dukungan sosial.
Secara kolektif komponen-konponen ini mempresentasikan sebuah pendekatan
multifaset jangka panjang untuk menjaga berat badan sehat.

Sebuah penelitian baru yang menarik telah focus pada peran afirmasi nilai
dalam mempromosikan kesehatan fisik, termasuk menajemen berat badan.
Dengan menulis tentang-hal-hal yang paling dihargai dalam hidup (misalnya
hubungan,melayani orang lain), pasien akan memfokuskan perhatiannya pada
perasaan identitas pribadi dan nilai dirinya. Afrimasi-afirmasi ini mendukung
pengendalian-diri, karena berkosentrasi pada nilai yang paling dijunjung tinggi
dapat menghasilkan penurunan pada perilaku implusif yang tidak konsisten
dengan nilai-nilai itu dan yang hanya penguatan dalam jangka pendek. Sebuah
penelitian terkini yang patut dicatat menemukan bahwa setelah menyelesaikan
sebuah sesi afirmasi nilai-nilai, berat badan para perempuan berkurang secara
signifikan dan ukuran lingkar pinggang mereka lebih kecil dalam waktu 3 bulan
kemudian dibandingkan sesame perempuan di kelompok control yang tidak
melakukan afirmasi.

11
Rokok

Seperi obesitas, rokok adalah masalah kesehatan public yang sangat besar
di Amerika. Rokok saat ini daalah penyebab tunggal terbesar kematian yang
sebenarnya dapat dicegah, yang menjelaskan lebih dari 450.000 kematian di
Amerika Serikat setiap tahunnya. Merokok tela dibuktikan sebagai salah satu
faktor risiko pertama di dalam penyakit jantung, kanker, penyakit vasukuler,
stroke dan gangguan depresi mayor. Seperti halnya obesitas, masalah utamanya
bukan bahwa orang-orang tidak mengetahui bahaya merokok, sebaliknya, masalah
terletak pada implementasi sebuah perubahan perilaku yang sangat sulit berhenti
merokok. Sayangnya, begitu menjadi adiksi (kecandun), merork memegang
control yang sangat kuat atas aspek-aspek fisiologis,psikologis dan sosial dari
kehidupan si perokok. Sebagian senjata terkuat yang dimiliki para psikolog
kesehatan dalam memerangi merokok adalah pengganti nikotin,dukungan
sosial,manajemen stress dan pencegahan kekambuhan.

Penggantian nikotin melibatkan penggunaan alternative-alternatif untuk


rokok yang dijual di pasaran atau yang diresepkan oelh dokter, termasuk permen
karet atau koyok. Mekanisme di balik bentuk terapi ini rangkap dua untuk
memutus kebiasaan orang merokok dan sekaligus secara perlahan-lahan
membebaskan tubuh dari ketergantungan nikotin melalui dosis terkontrol yang
semakin dikurangi seiring waktu. Sebuah tinjauan komprehensif tentang efikasi
terhadap penggantian nikotin telah mendukungnya sebagai agen yang
menghasilkan pengurangan merokok secara signifikan. Para psikolog kesehatan
dapat membantu mengedukasi para klien tentang penelitian yang mendukung jenis
terapi ini,bagaimana kerjanya,dimana mendapatkannya (sebagian dapat dibeli
dipasaran,dan yang lain perlu diresepkan oleh dokter), dan efek sampingya
(misalnya,sakit kepala, jantung berdebar-debar). Disamping itu, mereka dapat

12
membantu klien untuk meruntuhkan semua penghalang potensial untuk mematuhi
terapi sebelum mulai (misalya,menimbang keterjangkauan dan kenyamanan
berbagai opsi).

Salah satu aspek pennting upaya menghentikan kobiasaan merokok adalah


ketersediaan jaringan dukungan sosial tanpa-rokok. Adanya perokok didalam
kelompok sosial telah dibuktikan merupanakan kerugian signifikan untuk upaya
menghentikan kebiasaan merokok dan juga presiksi yang signifikan untuk
kekambuhan. Membantu klien untuk menciptakan atau memperkuat jaringan
tanpa rokok sering kali adalah salah satu langkah penting untuk penanganan
penghentian kebiasaan merokok. Salah satu caranya adalah dengan
mengembangkan strategi pemecahan masalah untuk membatasi, mengakhiri, dan
menangani hubungan dengan perokok lainnya. Ini mungkin termasuk penetapan
aturan-aturan seperti merokok hanya diluar rumah dan diluar kendaraan keluarga.
Juga penting untuk membuat daftar jumlah dan kualitas kontak sosial yang tidak
morokok diberbagai macam situasi. Jika daftarnya pendek, membangun jaringan
sosial mungkin perlu terjadi. Klien akan didorong untuk diidentifikasi tempat-
tempat mereka biasanya merokok secara sosial dan merencanakan lokasi dan
kegiatan pengganti yang sama-sama memuaskan.

Perokok sering kali melaporkan bahwa mereka merokok karena


menganggap merokok itu membuat rileks dan mengurangi stress. Dengan
demikian, salag satu tugas penting psikolog kesehatan adalah bekerja sama-sama
klien untuk mengembangkan dan mempraktikan strategi pengganti merokok
alternative untuk relaksasi dan mengurangi stress sebelum si perokok memulai
proses berhenti merokok. Pencegahan kekambuhan seiring berjalan dengan
konsep ini, karena tujuannya adalah untuk memprediksi factor-faktor mana yang
kemugkinan akan memicu kekambuhan dan untuk mencegah terjadinya factor-
faktor tersebut. Mengingat salah satu pemicu paling lazim untuk kekambuhan
adalah merasa stress, maka penggunaan teknik-teknik menajemen sters dapat
memainkan peran yang kuat didalam pencegahan kekambuhan. ABC pencegahan

13
kekambuhan melibatkan penelaahan oleh klien dan psikolog kesehatan mental
tentang bergai kejadian yang terjadi sebelum dan setelah merokok.

Penyalahgunaan dan Ketergantungan Alkohol

Minum alcohol sesekali atau dalam jumlah sedang tidak dengan sendirinya
merupakan sebuah masalah alcohol. Pemakaian subtansi-subtansi alcohol menjadi
patologis jika kriteria penyalahgunaan atau ketergantungan terpenuhi.
Penyalahgunaan alcohol adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan
sebuah pola penggunaan alcohol yang telah menjadi maladaptive dan
mengakibatkan keluhan yang signifikan secara klinis. Ketergantungan alcohol
mengacu pada keadaan toleransi dan sakaw fisiologis dan maladaptive. Teleransi
ketika tubuh membutuhkan subtansi dengan jumlah yang semakin banyak untuk
mencapai efek yang diinginkan, dan sakaw terjadi ketika penghentian subtansi
menghasilkan gejala-gejala negative.

Sangat mirip dengan penghentian merokok, penanganan sukses alcoholism


termasuk komponen-komponen menajemen stress, pencegahan kekambuhan dan
dukungan sosial. Karena alcohol lazim digunakan untuk mengurangi
stress,psikolog kesehatan akan bekerjasama-sama klien untuk mengidentifikasi
aletrnatif yang lebih sehat untuk menanggulangi stress,seperti olahraga atau
menelpon seorang teman untuk berbicara. Mengidentifikasi tanda-tanda untuk
minm (datang keacara olahraga) dan mengembangkan strategi-strategi untuk
menghindarinya , menggunakan ABC pencegahan kekambuhan yang sama seperti
yang digunakan oleh pskolog kesehatan dengan klien penghentian merokok,
psikolog kesehatan akan membantu klien yang ingin berhenti minum untuk
mengidentifikasi dan, bilamana perlu,memperluas hubungan sosial non-peminum
dan opsi bersosialisasi yang bebas alcohol.

Sumber bantuan yang paing lazim dicari untuk masalah terkait alcohol, kelompok
pendukung swadaya pecandu alcohol (alcoholics anonymous;AA), memasukkan
banyak diantara strategi-strategi tersebut didalam rencana penanganannya. AA

14
adalah sebuah jaringan pecandu alcohol yang saat ini masih bermasalah atau yang
sudah sembuh, yang berbagai tujuan menolong drinya sendiri dan anggota-
anggota AA lainya agar tetap sadar, tidak terpengaruh alcohol. Meskipun
kelompok intidak berafiliasi dengan psikologi kesehatan, ia menggunakan banayk
prinsip yang sama, khususnya dukungan sosial dan pencegahan kekambuhan.
Salah satu perbedaan penting anatara AA dan psikologi kesehatan adalah bahwa
AA memasukkan sebuah komponen spiritual pada proses pemulihannya.

Salah satu perbedaan penting antara penanganan untuk merokok dan untuk
masalah alcohol adalah fakta bahwa alcohol memperlihatkan efek-efek pada otak
yang berbedar dengan efek-efek banyak subtansi lain, termasuk nikotin, dan
seorang pecandu mungkin mengalami efek samping sebagai akibat penyapihan
dari subtansi yang terlalu cepat. Oleh,sebab itu sebuah periode detoksifikasi yang
diawasi secara medis mungkin adalah tindakan pertama yang paling tepat guna
sebelum melaksanakan teknik kognitif-behavioral.

Menajemen Rasa Sakit Dan Biofeedback

Rasa sakit atau nyeri biasanya berlangsung 6 bulan atu lebih lama
memngaruhi sampai dengan 35% populasi. Mesikipun komponen besar
menajemen rasa sakit berbasis medis (misalnya,obat rasa sakit, operasi atau terapi
fisik), fakta bahwa depesi maupun keemasan memperburuk pengalaman rasa sakit
menunjukkan bahwa psikologi kesehatan saharusnya juga merupakan bagian
integral dari setiap rencana menajemen rasa sakit yang komprehensif.

satu teknik unik yang diterapkan psikologi kesehatan dalam bidang


manajemen rasa sakit adalah biofeedback. Maksud biofeedback adalah untuk
mencapai control atas tubuh melaui mengedukasi pasien tentang proses-proses
tubuh yang biasanya tidak mereka sadari. Untuk membawa proses-proses ini
menuju kesadaran, sebuah mesin biofeedback mengonversi sebagian aspek fungsi
fisiologis menjadi sebuah nada untuk didengar klien atau garis pada sebuah grafik
untuk dilihat klien.

15
Para kritikus latihan feedback mengatakan bahwa manfaatnya kalah oleh
biaya dan intesivitas waktunya. Untungnya, sebuah alternative yang ekonomis dan
relaitf cepat telah ditemukan didalam sebuah intervensi yang awalnya
dikembangkan bertahun-tahun yang lalu untuk gangguan kecemasan. Latihan
relaksasi melibatkan mengajari klien untuk secara sadar mengubah tubuhnya
menjadi keadaan ketegangan dan gairah yang lebih rendah. Ini dapat melibatkan
beragam aspek, termasuk imajinasi , “napas perut” yang dalam dan teerkontrol,
dan secara sistematis meregangkan dan kemudian mengendurkan berbagai otot
skeletal besar, seperti otot-otot dilengan dan tungkai. Latihan relaksasi telah
ditemukan sukses dalam mengurangi nyeri kronis, dan mungkin bekerja dengan
meningkatkan pelepasan opioid endogen, analgesic alamiah tubuh kita. Salah satu
manfaat tambahan latihan relaksasi, tentang stress yang berkaitan dengan nyeri
krons, adalah bahwa beberapa studi telah menemukan efek-efek relaksasi yang
menguntukngkan pada fungsi system kekebalan.

Penelitian pennebaker tentang efek-efek terapiutik atasa pengungkapan


keluhan kepada orang lain,juga termasuk gagasn bahwa menulis tentang kejadian
yang menimbulkan keluhan bisa bersifat katarsis dan bahkan mengubah fungsi
system kekebalan secara positif. Sebuah studi yang lebih mutakhir yang focus
pada nyeri kronis menemukan hasil-hasil serupa: para pasien nyeri kronis yang
menulis tentang perasaan marah mereka seputar rasa sakit, akan mengalami
peningkatan tingkat presepsi mengenai control dan penurunan pada tingkat
depresi . jadi, hanya dengan meluangkan waktu untuk membuat jurnal tentang
pikiran-pikiran seseorang diseputar rasa sakitnya dapat membantu mengurangi
sebagian penderitaan akibat rasa sakit tersebut.

FAKTOR-FAKTOR BUDAYA DALAM PSIKOLOGI KESEHATAN

Di semua aspek pekerjaan mereka, penting bagi psikolog kesehatan untuk


sepe nuhnya mengapresiasi dampak faktor-faktor budaya pada pengalaman terkait
kesehatan dan terkait-penyakit klien mereka. Faktanya, penelitian telah menun
jukkan bahwa intervensi psikologi kesehatan yang telah diadaptasi untuk ke

16
lompok-kelompok budaya tertentu biasanya lebih efektif dibandingkan inter
vensi-intervensi serupa yang belum diadaptasi secara kultural (Barrera, Castro,
Strycker & Robert, 2012). Sebagai sebuah titik keberangkatan, vital bagi psikolog
kesehatan untuk mengakui disparitas yang ada di dalam perawatan kesehatan di
antara berbagai kelompok etnik, maupun sikap-sikap divergen para anggota
kelompok-kelompok ini terhadap lembaga kesehatan. Ada perbedaan signifikan di
dalam kualitas perawatan kesehatan dan status kesehatan secara keseluruhan
berbagai kelompok etnik di dalam populasi Amerika Serikat, peringkat orang
orang kulit putih dan orang-orang Asia-Amerika mendekati puncak dan pering
kata orang-orang Afrika-Amerika dan orang-orang Amerika Asli mendekati dasar
di dalam peringkat status kesehatan secara keseluruhan (La Viest, 2005). Konteks
historis peringkat-peringkat ini, termasuk penindasan berabad-abad yang dide rita
oleh orang-orang Afrika-Amerika dan Amerika Asli di Amerika Serikat, tidak
dapat diabaikan begitu saja. Contoh yang relatif baru untuk penindasan ini
direpresentasikan oleh studi sifilis Tuskegee, Pelayanan Kesehatan Masyarakat
kat Amerika Serikat dengan sengaja berbohong menahan pemberian penangan an
yang memadai bagi ratusan laki-laki Afrika Amerika penderita sifilis sejak 1932
sampai dengan tahun 1972 sebagai upaya untuk mempelajari lebih banyak tentang
perjalanan penyakit tersebut.

Faktor-faktor historis ini jelas berkaitan dengan persepsi yang dimiliki


oleh para anggota kelompok-kelompok budaya ini tentang rumah sakit dan dokter.
Sebagai contoh, para pasien Afrika Amerika tampak memperlihatkan
ketidakpercayaan yang lebih besar terhadap sistem perawatan kesehatan di ban
dingin para pasien kulit putih (misalnya, LaVeist, 2005). Di dalam sebuah survei
terhadap para pasien medis (La Viest, Nickerson & Bowie, 2000), persen tase
pasien Afrika Amerika yang lebih besar secara signifikan dibandingkan pasien
kulit putih setuju dengan pernyataan, "Pasien kadang-kadang dibohongi atau
disesatkan di rumah sakit", "Rumah sakit sering kali ingin mengetahui lebih
banyak tentang urusan pribadi Anda dibandingkan yang sebenarnya perlu mereka
ketahui", "Rumah sakit kadang-kadang melakukan eksperimen yang merugikan

17
pada pasien tanpa sepengetahuan pasien", dan "Diskriminasi rasial di kantor
dokter lazim terjadi". Survei yang sama menemukan bahwa persentase pasien
Afrika Amerika yang lebih rendah dibandingkan pasien kulit putih setuju dengan
pernyataan, "Para dokter memberikan perlakuan yang sama kepada oráng-orang
Afrika Amerika dan kulit putih" dan "Di kebanyakan rumah sakit, orang Afrika
Amerika dan kulit putih menerima jenis perawatan yang sama". Bagi psikolog
kesehatan, apresiasi tentang perbedaan di antara berbagai kelompok pok budaya
terkait pengalaman dan sikap terhadap perawatan kesehatan ada lah salah satu
komponen esensial dari kompetensi kultural.

Faktor-faktor budaya juga dapat memainkan peran yang kuat dalam menen
tukan cara orang-orang yang sakit secara medis memahami sumber masalah
medisnya. Menurut Huff (1999), sumber-sumber penyakit yang dipersepsi dapat
dimasukkan ke dalam salah satu di antara empat kategori:

 Di dalam diri pasien-infeksi, cedera, atau iregularitas biomedis lain


 Alam-unsur-unsur lingkungan di sekitar seorang individu, seperti racun
atau faktor-faktor terkait-iklim
 Dumin sosial-konflik interpersonal dengan orang lain, khususnya mereka
yang memiliki hubungan dekat dengan individu
 Dunia supranatural-sihir, teluh, roh leluhur, dewa-dewa yang pendendam
misalnya

Huff (1999) menjelaskan bahwa di dalam budaya Barat, sangat umum bagi
individu-individu untuk mengatribusikan penyakit pada faktor-faktor di dalam
dirinya sendiri dan atribusi ini cukup konsisten dengan perawatan medis Barat
arus-utama, yang menekankan penyebab-penyebab biomedis penyakit. Namun, di
banyak budaya non-Barat, lazim bagi individu-individu untuk meng atribusikan
penyakit pada salah satu di antara ketiga kategori yang lain, masing masing
menempatkan penyebab penyakit di luar individu. Jadi, penting bagi psikolog
kesehatan untuk ingat bahwa di dalam budaya yang beragam, sebagian individu
akan memiliki lokus kontrol eksternal, bukan internal, terkait masalah kesehatan

18
mereka, yang mungkin bertentangan dengan asumsi-asumsi kedok teran Barat.
Apresiasi terhadap perbedaan ini, bersama penyesuaian yang ber korespondensi
dengan perbedaan tesebut dalam praktiknya, pada akhirnya dapat meningkatkan
kesehatan klien.

Psikolog kesehatan yang kompeten secara kultural juga mengapresiasi bahwa


dibandingkan klien-klien kulit putih, para anggota kelompok minoritas etnik
mungkin memiliki ekspektasi yang berbeda tentang tipe perawatan yang akan
mereka terima dan tipe interaksi yang akan mereka miliki dengan orang orang
yang merawat mereka (Huff, 1999, Kline & Huff, 1999). Sebagai contoh, di
banyak kelompok minoritas etnik terbesar di Amerika Serikat, penyandaran diri
pada penyembuh dan metode metode penyembuhan tradisional lazim ter jadi
Metode metode ini mungkin termasuk tanaman obat dan jamu, pijat, tusuk jarum,
tusuk jari, doa, kidung atau metode-metode lain. Disamping itu, metode metode
ini sering kali tidak melibatkan jenis pertanyaan-pertanyaan cepat ya/ tidak
berbasis-fakta yang menjadi ciri banyak interaksi dokter pasien di dalam budaya
Barat. Untuk mengatasi perbedaan ini, psikolog kesehatan dapat mema inkan
peran fasilitatif dengan mengedukasi petugas perawatan kesehatan mau pun klien
multi-budaya tentang ekspektasi pihak yang lain, sehingga mening katkan
efektivitas intervensinya.

Terakhir, penting bagi psikolog kesehatan untuk meneguhkan keputusan


mereka tentang bagaimana para klien dari beragam latar belakang etnik ini
memersepsikan penyakit mereka atau bagaimana mereka mendekati penangan an
mereka (Huff, 1999) Cara Barat tradisional untuk memahami penyakit hanya
salah satu di antara banyak cara, dan psikolog kesehatan yang sensitif secara
kultural juga mengakui validitas cara-cara pemahaman lainnya secara terbuka.

19
BAB 3

KESIMPULAN

Psikologi kesehatan fokus pada pemeliharaan dan peningkatan kesehatan,


seperti bagaimana mendorong individu mengembangkan kebiasaan hidup sehat,
bagaimana meningkatkan aktivitas fisik, dan bagaimana merancang suatu
kampanye yang dapat mendorong orang lain memperbaiki pola makannya.
Maupun kesehatan mental. Individu yang salah penyesuaian dirinya terkadang
melakukan tindakan-tindakan yang tidak realistis, bahkan cenderung melarikan
diri dari tanggung jawabnya. Perilaku mengalihkan masalah yang dihadapi dengan
mengkonsumsi minuman beralkohol banyak dilakukan oleh kelompok remaja,
bahkan sampai mencapai tingkat ketergantungan penyalahgunaan obat terlarang
dan zat adiktif.

20
DAFTAR PUSTAKA

King A Laura. 2010. Psikologi Umum, Buku 2. Jakarta : Salemba Humanika.

21