Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI SEL DAN MOLEKULER

ISOLASI DNA TUMBUHAN

Disusun oleh :
Nama : Zain Almas Mazin Herdikaryanto
NIM : 19308141030
Kelas : Biologi B

PROGRAM STUDI BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2021
Bab I
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Setiap makhluk hidup pasti memiliki DNA yang merupakan asam
nukleat yang didalamnya mengandung materi genetik dan memiliki fungsi
dalam mengatur perkembangan biologis dari seluruh bentuk kehidupan.
DNA murni dari suatu sel jaringan makhluk hidup bisa didapatkan melalui
isolasi DNA. Isolasi DNA merupakan proses pemisahan molekul DNA dari
molekul lain pada inti sel yang bertujuan untuk visualisasi DNA, peninjauan
pola fragmentasi DNA, pembuatan pustaka genomik, rekayasa gen, dan
amplifikasi DNA. Terdapat tiga tahapan dasar dan dua tahapan tambahan
dalam proses isolasi DNA, yaitu preparasi ekstrak DNA, presipitasi dan
purifikasi DNA, serta pemisahan terhadap protein (dengan protease) dan
RNA (dengan RNAse).
Selanjutnya teknik elektroforesis bertujuan untuk memisahkan,
mengidentifikasi, mengkarekterisasi, dan mempurifikasi molekul DNA.
Elektroforesis adalah cara untuk mengamati DNA dengan bantuan sinar
ultraviolet. Proses pemisahan dengan elektroforesis ini sangat dibutuhkan
dalam teknologi DNA rekombinan yang juga didukung dengan aplikasi yang
canggih untuk pemisahan untai tunggal atau untai ganda molekul DNA.
Teknik yang digunakan untuk pengamatan DNA dalam penampakan
flouresensinya adalah teknik elektroforesis (Cheng and Zhang, 2008).

B. Tujuan
1. Mengetahui proses isolasi DNA tumbuhan
2. Mengetahui proses elektroforesis
3. Mengetahui hasil visualisasi isolasi DNA tumbuhan
Bab II
Tinjauan Pustaka

Isolasi DNA adalah proses pemisahan DNA dari sel atau virus. Isolasi
DNA merupakan langkah pertama dalam menganalisa DNA dengan
menggunakan metode elektroforesis atau PCR. Isolasi DNA juga dapat digunakan
untuk mendiagnosa penyakit, termasuk bawaan genetik. Isolasi DNA memiliki
banyak metode sesuai dengan sampel yang digunakan. Misalnya untuk isolasi
tumbuhan maka harus diketahui memiliki dinding sel untuk mengambil bagian
dalam khususnya DNA sebelumnya menghancurkan dinding sel nya dengan
menggunakan nitrogen cair dan sebelumnya digerus terlebih dahulu untuk
memudahkan hancurnya dinding sel tersebut. (Rice, 2010).
Kemudian apabila sel sudah lisis, DNA harus dijaga keadaan fisiologisnya
dalam lingkungan yang baik, yaitu dengan mencampurkannya dengan buffer yang
mengandung fenol dan kloroform. Sehingga DNA dapat bertahan dalam keadaan
utuh dan terjaga fisiologisnya. Lalu larutan dihomogenisasi dengan menggunakan
vortex, setelah itu larutan kembali disentrifuga, yang kemudian akan diperoleh
DNA berada di atas dan fasa organik atau pelet dengan fenol dan kloroform
berada di bawah. DNA yang telah dipisahkan setelah disentrifugasi diendapkan
menggunakan etanol, karena DNA tidak dapat larut dalam etanol, sehingga DNA
akan mengendap. Selanjutnya dilakukan pemurnian DNA, DNA dikeringkan, lalu
dilarutkan dalam buffer TE untuk presipitasi agar hasil dapat disimpan untuk
analisis DNA selanjutnya. Secara keseluruhan, tahapan isolasi DNA terdiri dari
pemecahan sel, pemisahan protein, pengendapan DNA, dan pemurnian DNA
(Rice, 2010).
Elektroforesis adalah teknik pemisahan molekul seluler berdasarkan
ukurannya dengan menggunakan listrik yang dialirkan pada suatu medium yang
mengandung sampel yang akan dipisahkan. Teknik elektroforesis dapat digunakan
dengan memanfaatkan muatan listrik yang ada pada makromolekul, misalnya
DNA yang bermuatan negatif (Yuwono, 2005).
Prinsip kerja elektroforesis yaitu pergerakan partikel-partikel bermuatan
negatif (anion) yang kemudian DNA akan bergerak menuju kutub positif (anoda),
sedangkan partikel- partikel bermuatan positif (kation) akan bergerak menuju
kutub negatif (anoda). Elektroforesis digunakan untuk mengamati hasil isolasi
DNA. Hasil elektroforesis berupa terbentuknya pita (band) yang merupakan
fragmen DNA hasil isolasi dan memperlihatkan potongan-potongan jumlah
pasangan basanya (Klug & Cummings 1994: 397).
Teknik elektroforesis menggunakan medium yaitu gel agarose. Terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi perpindahan partikel pada medium gel
tersebut, yaitu ukuran partikel, komposisi dan konsentrasi gel, kuat medan listrik,
densitas muatan, dan lain-lain. Semakin kecil partikel tesebut, maka pergerakan
akan semakin cepat, dikarenakan matriks gel mengandung jaringan kompleks
yaitu berupa pori-pori sehingga partikel-partikel tersebut dapat bergerak melalui
matriks (Brown 1992: 19). Sumber arus listrik searah (DC), matriks
elektroforesis, ruang untuk elektroforesis, larutan buffer, marker dan gel
digunakan dalam proses elektroforesis (Klug & Cummings 1994: A- 6).
Berikut adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi laju pergerakan
molekul DNA dalam proses elektroforesis:
1. Ukuran Molekul DNA
Molekul yang berukuran lebih kecil akan bergerak lebih cepat dalam
melewati gel dikarenakan hambatan yang dihadapi tidak lebih banyak
dibandingkan dengan molekul yang berukuran besar.
2. Konsentrasi gel
Gel agarose yang kaku diakibatkan karena semakin tingginya
konsentrasi agarosa yang digunakan, sehingga berakibat sulit untuk dilewati
molekul-molekul DNA. Konsentasi agarosa yang lebih rendah akan
memudahkan pemisahan DNA yang berukuran lebih besar sedangkan
konsentrasi agarosa yang lebih tinggi memudahkan pemisahan DNA yang
memiliki ukuran lebih kecil.
3. Bentuk molekul
Molekul DNA dengan bentuk elips atau fibril akan lebih cepat bergerak
dibandingkan dengan yang berbentuk bulat.
4. Densitas muatan
Densitas muatan yaitu muatan per unit volume molekul. Molekul DNA
dengan densitas muatan tinggi akan bergerak lebih cepat dibandingkan
molekul DNA dengan densitas muatan rendah.
5. Pori-pori gel
Semakin lambatnya pergerakan molekul DNA diakibatkan karena
semakin kecil pori-pori gel yang digunakan,
6. Voltase
Semakin tinggi tegangan listrik yang digunakan, maka akan semakin
cepat pergerakan molekul DNA.
7. Larutan buffer elektroforesis
Buffer dengan kadar ion tinggi akan menaikkan konduktansi listrik
sehingga mempercepat perpindahan DNA (Wolfe, 1993).
Dalam setiap percobaan memerlukan reagen yang berfungsi untuk
mendukung dan memudahkan proses percobaan serta berpengaruh dalam
menentukan hasil akhir dari percobaan, begitu juga dengan percobaan
elektroforesis. Reagen-reagen yang diperlukan dalam proses elektroforesis yaitu
gel agarosa, loading buffer, TAE, dan Etidium Bromida.
Pada percobaan, sampel DNA akan ditambahkan reagen loading dye
terlebih dahulu sebelum proses elektroforesis. Hal tersebut dilakukan karena
reagen loading dye memiliki peran penting dalam menghasilkan pita DNA yang
tajam. Terdapat tiga fungsi utama dari reagen loading dye yaitu untuk
menyediakan kerapatan agar sampel dapat bergerak dalam sumur gel,
menterminasi reaksi enzimatik sebelum elektroforesis, dan menyediakan cara
untuk melihat pergerakan molekul DNA saat elektroforesis (Surzycki, 2003).
Buffer TAE (Tris-Asetat-EDTA) memiliki peran dalam pemberian
sensitivitas dan kemampuan pemisahan yang tinggi. Molekul-molekul DNA dapat
bererak dengan baik di dalam gel dikarenakan Buffer TAE dapat memberikan ion
untuk konduktivitas listrik (Mitchelson and Cheng, 2001) selain itu larutan TAE
juga berperan sebagai penghantar arus pada media (Yuwono, 2005).
Setelah dielektroforesis, DNA akan divisualisasi menggunakan pewarna
ethidium bromida. Ethidium bromida dapat berikatan dengan kuat pada DNA dan
menghasilkan pendar sinar orange ketika dilihat dibawah sinar ultraviolet (Cheng
and Zhang, 2008). Oleh karena itu, larutan ethidium bromida berfungsi sebagai
reagen yang membantu visualisasi dalam proses elektroforesis DNA (Marks et al,
2000).
Dalam proses elektroforesis terkadang akan didapatkan hasil yang tidak
sesuai dengan harapan, baik berupa band/pita fragmen yang tidak terlihat, muncul
smear, ataupun terdapat anomali migrasi DNA. Berikut adalah faktor-faktor yang
menyebabkan band yang muncul pucat atau bahkan tidak muncul (Dube, 2010):
1. Jumlah atau konsentrasi DNA yang kurang. Hal ini dapat diatasi dengan
menambahkan jumlah DNA namun dengan syarat tidak melebihi 50 ng/ban.
2. Kontaminasi nuklease yang mengkibatkan DNA terdegradasi.
3. Penggunaan voltase yang terlalu rendah.
4. Panjang gelombang sinar ultraviolet yang tidak tepat untuk visualisasi
menggunakan pewarna ethidium bromida. Oleh karena itu, untuk hasil yang
baik sebaiknya digunakan panjang geombang 254 nm.
Munculnya smear merupakan hasil lain yang seringkali terjadi pada
percobaan elektroforesis yang gagal. Menurut Dube (2010), penyebab munculnya
smear pada percobaan elektroforesis DNA antara lain adalah:
1. Kontaminasi nuklease yang mengakibatkan degradasi DNA.
2. DNA yang dielektoforesis yang terlalu banyak.
3. Kondisi elektroforesis yang tidak tepat.
4. Terdapat terlalu banyak garam pada DNA.
5. DNA terkontaminasi protein.
6. Band DNA kecil berdifusi ketika pewarnaan berlangsung.
Sedangkan pada hasil elektroforesis yang menunjukkan anomali
perpindahan DNA, menurut Dube (2010), terdapat beberapa faktor yang
menyebabkan hal tersebut terjadi, antara lain yaitu:
1. Kondisi elektroforesis yang tidak tepat. Solusinya yaitu jangan menggunakan
voltase lebih dari 20 V/cm dan tetap menjaga agar temperatur di bawah 300 C
selama elektroforesis. Selain itu harus sering dicek apakah konsentrasi buffer
yang digunakan sudah tepat.
2. DNA terdenaturasi. Solusinya yaitu jangan pernah memanaskan DNA ketika
akan dilakukan elektroforesis.
Bab III
Metode

A. Alat dan Bahan


1. Isolasi DNA Tanaman Anggrek (Dendrobium antennatum)
a. Alat
 Timbangan analitik  Tip biru
 Tabung eppendorf  Microtube
 Vortex  Spin coloumn CB3
 Waterbath  Collection tube
 Steroform  Sarung tangan
 Mortal lateks
 Mikropipet  Masker
 Sentrifus
b. Bahan
 Sampel daun  3 uL b-
anggrek Mercaptoethanol
(Dendrobium  Kloroform
antennatum)  Buffer GD
 Alkohol 70%  Buffer PW
 Tisu  Buffer TE
 Buffer GP1  Freezer

2. Elektroforesis DNA Tumbuhan


a. Alat
 Gelas beker ukuran  Tank electrophoresis
250 mL  Kertas parafilm
 Timbangan analitik  Mikropipet
 Micowave  Power supply
 Cetakan untuk  UV Transluminator
agarose  Gel documenter
 Sentrifus
b. Bahan
 Sampel
 Agarose 0,25 gram
 Buffer TBE 0,5 mL
 1 uL DNA Staining (FloroSafe DNA Stain)
 Loading dye
 DNA ladder

B. Cara Kerja
3. Isolasi DNA Tanaman Anggrek (Dendrobium antennatum)

Diambil sampel daun anggrek (Dendrobium antennatum) yang paling muda

Daun anggrek disemprot dengan alkohol 70% kemudian diusap-usap dengan


tisu kering

Daun anggrek ditimbang sebanyak 0,2 gram dengan timbangan analitik

Buffer GP1 diambil sebanyak 3000 uL kemudian dimasukkan kedalam tabung


Eppendorf 15 mL

Diambil 3 uL b-Mercaptoethanol kemudian dimasukkan kedalam larutan GP1


yang ada di dalam tabung eppendorf

Kemudian divortex selama 20 detik agar larutan buffer GP1 dan b-


Mercaptoethanol homogen
Kemudian dipanaskan di dalam waterbath dengan suhu 65 C selama 20 menit.
Gunakan steroform agar tabung Eppendorf dapat berdiri

Digunakan alat penggerus mortal yang sudah disterilisasi untuk menggerus


sampel daun anggrek

Pipet 350 uL larutan buffer GP1 kedalam mortal kemudian diambil sampel
daun anggrek lalu digerus secara perlahan

Setelah sampel daun setengah hancur ditambahkan lagi buffer GP1 sebanyak
350 uL. Total larutan buffer GP1 yang digunakan persampel adalah 700 uL

Digunakan tip biru untuk mengambil sampel daun yang telah digerus halus,
sebelumnya dipotong terlebih dahulu ujung tip dengan gunting

Diambil sampel daun sedikit demi sedikit kemudian dimasukkan kedalam


microtube 1,5 mL

Kemudian sampel divortex selama 10-20 detik. Pastikan untuk menghilangkan


gumpalan-gumpalan dari daun

Sampel diinkubasi dengan waterbath selama 20 menit dengan suhu 65 C.


Pastikan sampel dibolak-balik setiap 10 menit

Ditambahkan 700 uL chloroform kemudian sampel dibolak-balik supaya


homogen
Sampel di sentrifuge selama 5 menit dengan kecepatan 12.000 rpm

Pipet supernatan (fraksi paling atas) kemudian dimasukkan kedalam


microtube 1,5 mL baru

Ditambahkan 700 uL buffer GP2 kemudian sampel dibolak-balik supaya


homogen

Diletakkan spin column CB3 ke collection tube. Kemudian diberi kode untuk
masing-masing sampel

Diambil semua larutan dari proses sebelumnya kemudian dimasukkan


kedalam tabung CB3 yang telah dipasang diatas collection tube

Ditutup tabung CB3 kemudian disentrifuge selama 30 detik dengan kecepatan


12.000 rpm

Dibuang filtrat hasil sentrifuge kemudian diletakkan kembali tabung CB3 ke


collection tube.

Ditambahkan 500 uL buffer GD kemudian di sentrifuge selama 30 detik


dengan kecepatan 12.000 rpm.

Dibuang filtrat hasil sentrifuge kemudian diletakkan kembali tabung CB3 ke


collection tube.
Ditambahkan 600 uL buffer PW ke tabung CB3 kemudian di sentrifuge
selama 30 detik dengan kecepatan 12.000 rpm.

Dibuang flow-through kemudian diletakkan kembali tabung CB3 ke tabung


collection tube lalu diulangi lagi step penambahan 600 uL buffer PW

Kemudian di sentrifuge selama 30 detik dengan kecepatan 12.000 rpm. Lalu


flow-through dibuang dan diletakkan kembali tabung CB3 ke collection tube

Di sentrifuge selama 2 menit dengan kecepatan 12.000 rpm kemudian dibuang


flow-through

Dibuka tutup CB3 lalu diamkan dalam suhu ruangan selama 15 menit untuk
mengeringkan membrane dengan sempurna.

Tabung CB3 dipindahkan ke microtube 1,5 mL yang baru. Pastikan microtube


baru yang akan digunakan telah diberi kode sampel.

Ditambahkan 100 uL buffer TE, pastikan saat penambahan benar-benar


ditambahkan tepat di bagian tengah membran tabung CB3.

Diinkubasi di suhu ruang selama 5 menit, kemudian di sentrifuge selama 2


menit dengan kecepatan 12.000 rpm

Tabung CB3 dibuang kemudian microtube yang berisi hasil isolasi DNA
ditutup dan disimpan di dalam freezer.
4. Elektroforesis DNA Tumbuhan

Ditimbang Agarose sebanyak 0,25 gram pada timbangan analitik

Setelah itu diletakkan pada gelas beker ukuran 250 mL.

Disiapkan 25 mL buffer TBE 0,5.

Kemudian dilarutkan 0,25 gram agarose pada 25 mL TBE 0,5.

Dipanaskan selama 1 menit menggunakan microwave.

Disamping itu disiapkan cetakan untuk gel agarose.

Agarose diambil dari microwave dan ditambahkan 1 uL DNA Staining.

Pada praktikum ini menggunakan FloroSafe DNA (Genetika Science)

Setelah itu dihomogenkan dengan menggoyangkan gelas beker, lalu


dituangkan pada cetakan.
Pastikan agarose tersebar rata ke seluruh cetakan dan tidak ada gelembung
udara.

Setelah itu diamkan agarose sekitar 45 menit sampai memadat.

Setelah gel agarose memadat, dilepaskan dari cetakan dan diletakkan pada
horizontal submarine tank electrophoresis.

Dipastikan meletakkannya dengan benar, yaitu dari kutub negative ke kutub


positif.

Setelah agarose diletakkan, ditambahkan buffer TBE 0,5 sampai agarose


tenggelam.

Disiapkan sampel, loading dye, DNA ladder, dan kertas parafilm.

Pada praktikum ini loading dye yang digunakan yaitu 2 uL/sampel. Loading
dye diambil menggunakan mikropipet dan diletakkan di atas kertas parafilm.

Diambil DNA Ladder 1 kb sebanyak 2 uL menggunakan mikropipet dan


dicampurkan dengan 2 uL loading dye yang sudah disiapkan di atas parafilm.

Setelah loading dye dan DNA Ladder tercampur, dimasukkan ke dalam


sumuran gel agarose menggunakan mikropipet.
Lakukan hal yang sama pada setiap sampel. Untuk komposisi yang digunakan
yaitu 4 uL sampel hasil isolasi + 2 uL loading dye.

Dimasukkan juga DNA Ladder 100 bp, dengan komposisi 2 uL DNA Ladder
+ 2 uL loading dye.

Tank electrophoresis ditutup dan disambungkan ke power supply. Kemudian


diatur dengan voltase 75 dan waktu 45 menit.

Setelah selesai, alat eletroforesis dimatikan dan gel agarose dibawa ke UV


Transluminator.

Agar hasil lebih jelas, gel agarose divisualisasikan menggunakan Gel


Documenter.

UV Tray dibersihkan menggunakan aquades.

Setelah itu diletakkan gel agarose pada UV Tray.

UV Tray dimasukkan ke dalam mesin Gel Documenter.


Kemudian dibuka aplikasi ‘Image Lab’ pada komputer.

Pada aplikasi Image lab diklik New > Select Nucleic Acid.

Kemudian dipilih Ethidium Bromide lalu klik Run.

Terakhir akan terlihat hasil visualisasi isolasi DNA Tumbuhan pada Gel
Documenter.
Bab IV
Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

M1 A B C D M2

Gambar 1. Hasil Visualisasi Isolasi Tumbuhan

B. Pembahasan
Pada praktikum mata kuliah Biologi Sel dan Molekuler mengenai
Isolasi DNA tumbuhan dan Elektroforesis DNA tumbuhan kali ini
menggunakan DNA tanaman cabai (Capsicum annum L) dan didapatkan
hasil visualisai isolasi DNA seperti yang telah terlampir pada bagian hasil di
atas. M1 adalah DNA Ladder dengan ukuran 1 kb dan M2 adalah DNA
ladder dengan ukuran 100 bp. Sedangkan A sampai D adalah hasil
visualisasi sampel isolasi tumbuhan.
Pada isolasi tumbuhan menggunakan UV Transluminator tidak seperti
pada isolasi DNA bakteri yang hanya menggunakan Gel Doc, namun
sebenarnya fungsinya sama. Hasil isolasi DNA yang didapat pada percobaan
kali ini dapat dilihat bahwa pada hasil sumuran kedua (isolasi DNA A) dan
sumuran ketiga (isolasi DNA B) menunjukkan bahwa DNA tumbuhan cabai
yang digunakan sehat. Kemudian pada sumuran keempat (isolasi DNA C)
dan sumuran kelima (isolasi DNA D) menunjukkan bahwa DNA tumbuhan
cabai tersebut tidak sehat karena terkena virus, maka terdapat penyakit pada
tanaman cabai. Pada praktikum ini menggunakan dua sampel, yaitu DNA
tanaman cabai sehat dan tidak sehat karena rencana dari isolasi ini akan
dilanjutkan dan diselidiki lebih lanjut untuk mengetahui apakah dari
tumbuhan cabai sehat dan tidak sehat ini terdapat perbedaan pada sekuensi
DNA-nya.
Fungsi alkohol absolut pada praktikum ini bertujuan untuk
mengencerkan buffer dari kit. Kemudian fungsi Eppendorf untuk
menampung GP1. Penggunaan daun muda dikarenakan senyawa
metabolitnya lebih sedikit sehingga tingkat keberhasilan lebih tinggi. Buffer
GP1 berfungsi untuk melisiskan dinding sel karena mengandung detergen
yang efektif melisiskan sampel tanaman yang mengandung banyak
polisakarida atau bias juga dengan menggunakan CTAB. b-Mercaptoethanol
ditambahkan dengan Buffer GP1 yang digunakan untuk menghilangkan
senyawa polifenol. Pada proses pelisisan isolasi DNA tanaman
menggunakan 2 cara, yaitu mekanik dan kimiawi. Secara mekanik yaitu
penumbukan menggunakan mortar, sedangkan secara kimiawi menggunakan
buffer. Fungsi kloroform untuk menghilangkan debris atau sisa dinding sel
serta dapat juga untuk mendenaturasi protein dan polisakarida. Sentrifugasi
berfungsi untuk memisahkan isolasi menjadi tiga fase, yaitu supernatant,
debris sel, dan klorofom. Pada isolasi DNA tumbuhan yang digunakan yaitu
supernatan karena supernatant adalah media yang mengandung DNA.
Kemudian Buffer GP2 ditambahkan pada supernatan yang berfungsi untuk
menetralisir.
Bab V
Penutup

A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum isolasi DNA yang telah dilakukan, maka dapat
ditarik kesimpulan:
1. Isolasi DNA adalah proses pemisahan DNA dari sel atau virus. Isolasi
DNA merupakan langkah pertama dalam menganalisa DNA dengan
menggunakan metode elektroforesis atau PCR. Isolasi DNA juga dapat
digunakan untuk mendiagnosa penyakit, termasuk bawaan genetik.
Isolasi DNA memiliki banyak metode sesuai dengan sampel yang
digunakan. Misalnya untuk isolasi tumbuhan maka harus diketahui
memiliki dinding sel untuk mengambil bagian dalam khususnya DNA
sebelumnya menghancurkan dinding sel nya dengan menggunakan
nitrogen cair dan sebelumnya digerus terlebih dahulu untuk memudahkan
hancurnya dinding sel tersebut. (Rice, 2010).
2. Elektroforesis merupakan teknik pemisahan molekul seluler berdasarkan
ukurannya dengan menggunakan listrik yang dialirkan pada suatu
medium yang mengandung sampel yang akan dipisahkan. Teknik
elektroforesis dapat digunakan dengan memanfaatkan muatan listrik
yang ada pada makromolekul, misalnya DNA yang bermuatan negatif
(Yuwono, 2005). Teknik elektroforesis menggunakan medium yaitu gel
agarose. Prinsip kerja elektroforesis yaitu pergerakan partikel-partikel
bermuatan negatif (anion) yang kemudian DNA akan bergerak menuju
kutub positif (anoda), sedangkan partikel- partikel bermuatan positif
(kation) akan bergerak menuju kutub negatif (anoda). Elektroforesis
digunakan untuk mengamati hasil isolasi DNA. Hasil elektroforesis
berupa terbentuknya pita (band) yang merupakan fragmen DNA hasil
isolasi dan memperlihatkan potongan-potongan jumlah pasangan basanya
(Klug & Cummings 1994: 397).
3. Hasil isolasi DNA yang didapat pada percobaan kali ini dapat dilihat
bahwa pada hasil sumuran kedua (isolasi DNA A) dan sumuran ketiga
(isolasi DNA B) menunjukkan bahwa DNA tumbuhan cabai yang
digunakan sehat. Kemudian pada sumuran keempat (isolasi DNA C) dan
sumuran kelima (isolasi DNA D) menunjukkan bahwa DNA tumbuhan
cabai tersebut tidak sehat karena terkena virus, maka terdapat penyakit
pada tanaman cabai. Pada praktikum ini menggunakan dua sampel, yaitu
DNA tanaman cabai sehat dan tidak sehat karena rencana dari isolasi ini
akan dilanjutkan dan diselidiki lebih lanjut untuk mengetahui apakah
dari tumbuhan cabai sehat dan tidak sehat ini terdapat perbedaan pada
sekuensi DNA-nya.

B. Saran
Ketika praktikum berlangsung, sebaiknya langkah-langkah kegiatan
praktikum dilakukan dengan sangat hati-hati dan sesuai dengan petunjuk
praktikum yang telah diberikan sehingga dapat mendapatkan hasil isolasi DNA
yang berhasil dan sempurna. Beberapa kesalahan dalam praktikum yang terjadi
dapat mengakibatkan pengaruh yang kurang baik hingga ketidakberhasilan
terhadap hasil isolasi maupun elektroforesis. Hal tersebut terutama dalam
penggunaan alat dan bahan yang harus sesuai dengan aturan yang telah
ditentukan dalam petunjuk praktikum.
Daftar Pustaka

Cheng, Liang and David Y. Zhang. 2008. Molecular Genetic Pathology. New
Jersey : Humana Press.
Dawn B, Marks. et al., 2000. Biokima Kedokteran Dasar. Jakarta, EGC.
Henry, Robert J. 2001. Plant Genotyping : The DNA Fingerprinting of Plants.
New York : CABI Publishing.
Klug, W. S. & M. R. Cummings. 1994. Concepts of genetics. 4th ed. Prentice
Hall, Englewood cliffs.
Lee, Steven.2013. DNA Extraction Methods. www.sjsu.edu/people/
steven.lee/ courses/c3/s0/ DNA%2520ExtractiEx.ppt.
Surzycki, S. 2003. Human Molecular Biologi Laboratory. Malden: Black Well
Publishing. Wolfe, S.L. 1993. “Molecular and cellular biology”.
Wadsworth Publishing Company, Belmont.

Anda mungkin juga menyukai