Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOLOGI REPRODUKSI

PERKEMBANGAN ALAT REPRODUKSI JANTAN ANGIOSPERMAE

Disusun oleh:
Nama : Zain Almas Mazin Herdikaryanto
NIM : 19308141030
Kelas : Biologi B

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2021
A. Latar Belakang
Tumbuhan melakukan reproduksi untuk kelangsungan hidupnya. Dari suatu tumbuhan
dapat diperoleh tumbuhan baru, dengan cara berkembang biak. Yang dapat menjadi tumbuhan
baru adalah suatu bagian tumbuhan, yang kemudian memisahkan diri atau oleh manusia
dengan sengaja dipisahkan dari tumbuhan yang lama. Bagian tubuh tumbuhan yang kemudian
dapat tumbuh menjadi individu baru dinamakan alat perkembangbiakan (Gembong,
2011:120).
Pada tumbuhan berbunga, bunga merupakan organ reproduksi generatif. Bunga
dikatakan sempurna apabila memiliki alat kelamin yang lengkap berupa putik dan benang sari.
Pada tumbuhan, benang sari merupakan alat kelamin jantan. Benang sari (stamen) terdiri dari
tangkai sari (filamen) dan kepala sari (antera). Antera merupakan bagian yang dapat
menghasilkan serbuk sari yang nantinya berperan untuk membuahi sel ovum. Menurut
Nugroho (2006), benang sari pada umumnya terdiri dari empat ruang yang berisi pollen yang
disebut dengan mikrosporangium dan satu tangkai yang mendukung antera disebut filamen
atau tangkai sari. Antera pada angiospermae umumnya terbagi dalam dua belahan dan tiap
belahan memiliki dua kantung sari. Antara dua belahan dihubungkan oleh jaringan steril yaitu
konektivum.
Pada tanaman angiospermae, mikrospora dan megaspora dibentuk dalam bunga.
Menurut Loveless (1999), pada Angiospermae serbuk sari dibentuk dalam anter. Meiosis pada
setiap sel induk spora menghasilkan pembentukan empat mikrospora. Kemudian masing –
masing berkembang menjadi serbuk sari ber sel dua dengan didinng luar yang kasar. Satu sel
serbuk sari disebut sel tabung, yang lain disebut sel generatif. Mikrospora akan terus
berkembang hingga siap untuk membuahi sel ovum. Oleh karena itu kami melakukan
pengamatan untuk mengetahui bagaimana perkembangan mikrospora muda hingga dewasa
serta membedakan strukturnya.
Tumbuhan dapat bereproduksi dengan menggunakan benang sari dan putik. Hal ini
membuat kami ingin mengetahui lebih dalam tentang alat reproduksi jantan yang dimiliki oleh
benang sari. Oleh karena itu kami melakukan pengamatan terhadap alat reproduksi jantan
angiospermae.
B. Tujuan
1. Mengamati struktur dan perkembangan antera.
2. Mengamati perkembangan mikrospora.
3. Mengamati morfologi serbuk sari

C. Dasar Teori
Kepala sari (antera) adalah bagian dari benang sari (stamen), tempat dihasilkannya
serbuk sari. Antera pada Angiospermae umumnya terbagi dalam dua belahan (cuping) dan
tiap belahan mempunyai dua kantung sari (mikrosporangia). Antara kedua belahan
dihubungkan oleh jaringan steril yang disebut konektivum. Pada saat antera masih sangat
muda, kepala sari terdiri atas sel-sel parenkimatis yang homogen, dikelilingi oleh epidermis.
Di antara sel-sel parenkimatis tersebut ada yang bersifat meristematis disebut sel-sel
arkesporium. Sel-sel tersebut terbentuk dari sel-sel hipodermal, dengan ukuran dan bentuk
yang berbeda dengan sel-sel di sekitarnya yaitu lebih besar, memanjang ke arah radial dan
mempunyai inti yang nyata. Sel-sel arkesporial membelah-belah secara periklinal membentuk
lapisan parietal primer ke arah luar dan lapisan sporogen primer ke arah dalam. Sel-sel parietal
primer membelah dengan dinding periklinal dan antiklinal menghasilkan beberapa lapisan sel,
biasanya 2 sampai 5 lapisan sel yang menyusun dinding kepala sari. Lapisan dinding kepala
sari dari luar ke dalam adalah sebagai berikut: epidermis, endotesium, lapisan tengah dan
tapetum.
Sel-sel sporogen primer mungkin langsung berfungsi sebagai sel-sel induk mikrospora
atau mengalami pembelahan-pembelahan lebih dulu agar dihasilkan sel-sel yang jumlahnya
lebih banyak. Sel induk mikrospora mengalami dua kali pembelahan meiosis sehingga
terbentuk tetrad mikrospora. Berdasarkan pembentukan dinding yang mengikuti pembelahan
meiosis dari sel induk mikrospora, dapat dibedakan dua tipe yaitu : (1) tipe suksesif, setiap
pembelahan inti diikuti oleh pembentukan dinding; (2) tipe simultan, dinding terbentuk
setelah pembelahan meiosis kedua. Pada sejumlah tumbuhan, pada saat antera masak
(sebelum pecah atau membuka) batas antara kedua kantung sari pada tiap belahan rusak
sehingga antera tetrasporangiat hanya memperlihatkan dua ruang.
Gambar 1. A-E Perkembangan kepala sari Chrysanthemum leucanthemum; e. epidermis; end.
endotesium; m. lapisan tengah; t. tapetum; sp. sel sporogen (Sumber: Maheswari cit. Hartanto
dkk., 2012

Gambar 2. Penampang melintang kepala sari tetrasporangiat yang menunjukkan


beberapa jaringan penyusun, ep=epidermis, end=endotesium, m=lapisan tengah,
tap=tapetum, sp=jaringan sporogen, kon=konektivum (Sumber: Bhojwani & Bhatnagar,
1978).

Tetrad mikrospora yang terbentuk dari proses mikrosporogenesis (pembelahan


meiosis sel induk mikrospora) biasanya tersusun tetrahidris atau isobilateral. Jarang
ditemukan susunan tetrad mikrospora dekusatus, bentuk T, atau linear. Kadang-kadang
dijumpai hasil pembelahan sel induk mikrospora kurang atau lebih dari empat mikrospora.
Jika ada inti yang mengalami stadium istirahat setelah pembelahan yang pertama, atau
pembentukan dinding yang tidak teratur yang menghasilkan spora berinti dua dan dua
mikrospora berinti satu, atau pembelahan hanya terjadi satu kali pada sel induk mikrospora
maka dihasilkan kurang dari empat mikrospora.
Umumnya mikrospora segera memisahkan diri satu sama lain setelah stadium
tetrad. Tetapi pada beberapa jenis tumbuhan mikrospora tetap berkumpul dalam tetrad
dalam waktu yang lama dan membentuk serbuk sari majemuk. Pada kebanyakan anggota
suku Asclepiadaceae dan Orchidaceae semua mikrospora dalam satu sporangium tetap
bersatu membentuk polinium. Pada Mimosaceae pada tiap sporangium dijumpai sejumlah
kumpulan mikrospora (masula), biasanya tiap masula terdiri atas 8-64 butir serbuk sari.
Serbuk sari mempunyai dua lapisan dasar dinding yaitu eksin dan intin. Intin
adalah lapisan dinding bagian dalam yang dibanngun dari bahan selulose. Eksin
merupakan lapisan dinding bagian luar yang tersusun oleh sporopolenin. Parameter yang
bisa kita peroleh dengan mengamati morfologi serbuk sari antara lain ukuran, bentuk,
ornamentasi (pola ukiran) eksin, tipe apertura, susunan unit serbuk sari dan sebagainya.
Manfaat mempelajari morfologi serbuk sari antara lain untuk membantu identifikasi
tumbuhan.
Untuk mempelajari morfologi serbuk sari, bentuk dan dinding terluar dari serbuk
sari harus dipertahankan. Untuk tujuan ini serbuk sari dibuat sediaan dengan cara
asetolisis. Setelah proses asetolisis, ciri-ciri alami eksin (dinding luar serbuk sari) lebih
jelas dibanding sebelum dilakukan asetolisis.

D. Alat dan Bahan


 Alat
1. Mikroskop 6. Pembakar spiritus
2. Gelas benda 7. Penjepit
3. Cover glass 8. Silet
4. Pinset 9. Pipet
5. Cawan petri 10. Korek api
 Bahan
1. Air

2. Antera Passiflora sp. dengan ukuran 1 mm; 2 mm; 4 mm; 5-7 mm; 1 cm; 1,2 cm;

1,5 cm; 1,8 cm; 3 cm; dan 4-5 cm.


3. Larutan HCL
4. Ethanol 70%
5. Asam asetic
6. Aseto carmin

E. Metode
Observasi

F. Prosedur
 Pengamatan struktur antera
1. Membuat sayatan melintang pada antera dengan salah satu ukuran.
2. Meletakkan hasil sayatan pada gelas benda.
3. Menetesi dengan air.
4. Mengamati di bawah mikroskop.
5. Mencatat dan memfoto hasil pengamatan.
6. Melakukan pengamatan pada semua antera dengan ukuran yang berbeda.
 Fiksasi antera

1. Diambil bunga Passiflora vitifolia Kunth. dengan ukuran 1 mm; 2 mm; 4 mm; 5-

7 mm; 1 cm; 1,2 cm; 1,5 cm; 1,8 cm; 3 cm; dan 4-5 cm.
2. kemudian dibelah dan diambil anteranya.
3. Dibuat cairan dari asam asetic dan ethanol 70% dengan perbandingan 1: 3.

4. Antera bunga Passiflora vitifolia Kunth. dan cairan yang dibuat dimasukkan

kedalam botol kecil.


5. Direndam selama 30 menit.
6. Setelah itu, antera dibilas dengan air bersih dan ditaruh dicawan.
7. Antera ditetesi dengan HCL 0.1%.
8. Kemudian dibakar hingga berasap dengan kira-kira suhu 60 C. Cairan HCL dibuang
0

dan antera dicuci kembali.


9. Antera di tetesi aseto carmin dan rendam selama 6 menit.
10. Antera yang sudah terwarnai dipindah ke gelas benda dan ditutup dengan kaca
penutup serta ditekan agar serbuk sari keluar dari antera.
11. Lalu diamati menggunakan mikroskop.

G. Hasil
Ukuran
Penampang Melintang Antera Tahap Perkembangan Antera dan
Kuncup
Mikrosporogenesis
Bunga
1 mm

2 mm
4 mm

5-7 mm

1 cm
1,2 cm
1,5 cm

1,8 cm

3 cm
4-5 cm

H. Pembahasan
Praktikum mata kuliah Biologi Reproduksi kali ini berjudul “Perkembangan Alat
Reproduksi Jantan Angiospermae” yang dilakukan secara virtual bertujuan untuk mengamati
struktur antera, mengamati perkembangan mikrospora, dan mengamati morfologi serbuk sari.
Bunga adalah alat perkembangbiakan secara generatif dari tumbuhan berbiji. Hal ini, karena
bunga mempunyai alat kelamin betina (carpel) dan alat kelamin jantan (stamen). Bunga
sebenarnya suatu cabang daun-daunnya telah berubah bentuk maupun fungsinya (Suroso Adi
Yudianto, 1992: 181).
Tumbuhan juga melakukan reproduksi untuk mempertahankan kelangsungan
hidupnya. Pada tumbuhan berbunga, bunga merupakan alat reproduksi seksual. Bunga
dikatakan lengkap apabila mempunyai daun kelopak, daun mahkota, benang sari, putik, dan
daun buah. Bunga terdiri dari bagian fertil, yaitu benang sari dan daun buah. Benang sari
merupakan alat kelamin jantan pada bunga. Benang sari (stamen) terdiri dari tangkai sari dan
kepala sari (antera). Benang sari pada umumnya terdiri empat ruang yang berisi pollen yang
disebut dengan mikrosporangium dan suatu tangkai yang mendukung antera disebut filamen
atau tangkai sari (Nugroho, 2006: 121).
Benang sari dan putik mengandung sporongia yang berturut-turut adalah ruang tempat
berkembangnya gametofit jantan dan betina. Gametofit jantan adalah serbuk sari yang
mengandung sel sperma yang terbentuk di dalam ruang kepala sari (anther) pada ujung serbuk
sari (Ashari, 2004:55).
Suatu antera yang muda terdiri atas suatu masa sel yang homogen dan dikelilingi oleh
lapisan epidermis. Selama perkembangan antera menghasilkan 4 lobus dan disetiap lobus
beberapa sel hipodermial menjadi lebih menarik perhatian dibanding yang lain karena
ukurannya yang besar, bentuk selnya memanjang ke arah radial dan intinya jelas. Sel-sel ini
adalah sel arkesporium. Sel-sel arkesporium membelah dengan dinding periklimal (sejajar
pemukaan) menghasilkan sel-sel parietal primer di sebelah luar dan sel-sel sporogen primer
disebelah dalam. Sel-sel parietal primer membelah lagi secara periklinal menghasilkan lapisan
parietal sekunder. Lapisan parietal sekunder inilah yang menghasilkan dinding antera
(Maheswari, 1950).
Sel sporogen primer membelah-belah lagi secara mitosis, dan sel-sel hasil pembahasan
mitosis menjadi sel induk mikrospora. Sel sporogin primer dapat langsung berfungsi sebagai
sel induk mikrospora tanpa mitosis. Setelah itu sel induk mikrospora membelah secara meiosis
menghasilkan tetrad mikrospora. Selanjutnya sel-sel dalam tetrad memisahkan diri menjadi
sel mikrospora yang soliter (Maheswari, 1950).

Gambar 8.4. Struktur dan perkembangan kepala sari pada tumbuhan Angiospermae
Keterangan:
A, B : Jaringan meristematis dikelilingi epidermis. Sel-selnya mempunyai inti yang jelas
C : Sel-sel hipodermal terdiferensiasi menjadi sel-sel arkesporium
D : Lapisan parietal primer dan sel spongen primer telah terbentuk
E : Lapisan parietal primer mulal membelah
E : epidermis, m: lapisan tengah, sp: sel sporogen primer, t: sel induk tapetum (Foster &
Gifford, 1974; Maheswari, 1950).
Pada praktikum ini antera bunga yang diamati yaitu antera dari bunga markisa
(Passiflora vitifolia Kunth.). Bunga markisa yang diamati ada berbagai macam ukuran kuncup
yaitu 1 mm; 2 mm; 4 mm; 5-7 mm; 1 cm; 1,2 cm; 1,5 cm; 1,8 cm; 3 cm; dan 4-5 cm.
Berdasarkan hasil pengamatan antera pada beberapa ukuran kuncup bunga

Passiflora sp. dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 1 mm

Keterangan: ep: epidermis, spp: sel parietal primer, ssp: sel sporogen primer, sa: sel
arkesporial
Pada antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth ukuran 1 mm merupakan
irisan melintang antera yang masih muda dimulai dari sel-sel yang masih homogen. Pada
gambar tersebut ditemukan epidermis, sel parietal primer, sel sporogen primer, dan sel
arkesporial. Kemudian membelah dan sudah mulai membentuk lekukan sehingga akan
nampak bentuk akhir, tiap sudut pada potongan antera akan terbentuk ruangan kantong
sari, akan nampak sel-sel yang lebih besar, lebih aktif dari sel-sel lain yang merupakan
cikal bakal yang akan menjadi ruangan dari natera beserta menjadi calon-calon serbuk
sari, bagian tengah merupakan sporogen yang nantinya akan menjadi serbuk sari, lalu
bagian pinggir merupakan dinding antera yang melindungi proses perkembangan serbuk
sari.
Susunan sel-sel masih homogen kemudian membesar karena terjadi pembelahan
sel penyusun antera. Selanjutnya akan mulai nampak bentuk yang akan datang dengan
munculnya lekukan. Lalu nampak di tiap sudut yang nantinya akan menjadi
mikrosoprangium, aka ada sel-sel yang lebih menonjol daripada yang lain (sitoplasma
padat atau pekat) menunjukkan bahwa sel tersebut aktif. Posisinya sejumlah lokasi sel-
sel tepat pada pembentukan mikrosoprangium yaitu berjumlah empat. Kemudian sudah
mulai membelah arkosporanya.
Menurut teori, sel-sel arkesporium membelah secara periclinal membentuk
lapisan parietal primer kearah luar dan lapisan sporogen primer kearah dalam. Sel-sel
parietal primer membelah dengan dinding periklinal dan antiklinal menghasilkan
beberapa lapisan sel, biasanya 2 sampai 5 lapisan sel yang menyusun dinding kepala sari.
Lapisan dinding kepala sari dari luar ke dalam adalah epidermis, endotesium, lapisan
tengah dan tapetum (Budiwati, 2011).

2. Antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 2 mm dan 4 mm

Keterangan: da: dinding antera, sss: sel sporogen sekunder, ep: epidermis, en: endotesium,
lt: lapisan tengah, t: tapetum

Antera pada kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth. ukuran 2 mm dan 4

mm memiliki struktur antera yang sama yang tersusun atas sel-sel parenkimatis yang
homogen dan dikelilingi oleh epidermis. Epidermis merupakan lapisan terluar kepala sari
yang mengalami pembelahan antiklinal. Mikrosporangianya sudah telihat jelas dengan
membentuk empat ruang (lokuli). Namun mikrospora masih tersusun dengan rapat hal itu
dikarenakan sel-sel sporogen masih belum membelah secara maksimal menjadi sel-sel
induk mikrospora. Lapisan dinding antera juga sudah terlihat, yang terdiri dari epidermis,
lapisan tengah, endotesium, dan tapetum, serta sudah terdapat sel sporogen sekunder.
Dinding antera terdiri dari beberapa lapisan sel yang merupakan turunan sel parietal
primer, kecuali epidermis yang dalam perkembangannya hanya membelah dalam bidang
antiklinal. Dua lapisan penting adalah endotesium, tepat dibawah epidermis dan tepatium
yang berbatasan dengan lokulus antera. Tapetum membantu dalam penyeluran makanan
saat perkembangan sel induk serbuk sari. Mekanisme pembukaan kantong sari diawali
pada saat atau selama dehidrasi antera endotesium kehilangan air. Endotesium
membentuk penebalan tak rata, terutama di dinding radial dan tangensial dalam.
Pengerutan diferensial yang terjadi, ketika antera mengering saat matang, memudahkan
terjadinya retakan atau celah pada antera untuk membebaskan serbuk sari. Lapisan tengah
sering disebut lapisan tertekan. Lapisan ini berada di bawah endotesium, biasanya
tersusun atas 1 sampai 3 lapis sel. Sel-sel ini biasanya menjadi pipih dan rusak karena
tertekan pada waktu sel-sel induk mikrospora melaksanakan pembelahan meiosis.
Menurut beberapa pustaka sel-sel lapisan tengah terdesak oleh endotesium ketika antera
masak.

3. Antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 5-7 mm

Keterangan: da: dinding antera, sim: sel induk mikrospora, t: tapetum


Pada antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 5-7 mm mikrospora
yang berada dalam mikrosporangia susunannya sudah renggang dan sebagian sudah tidak
berlekatan, sehingga berhamburan keluar dari mikrosporangia. Pada ukuran ini, dinding
anteranya juga lebih jelas lapisan-lapisannya. Di dalam mikrosporangia juga sudah
terlihat dengan jelas sel induk mikrospora. Sel induk mikrospora tersebut akan membelah
menjadi mikrospora.

4. Antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 1 cm

Keterangan: tm: tetrad mikrospora, dk: dinding kalosa, t: tapetum, en: endotesium, ep:
epidermis, sim: sel induk mikrospora
Pada antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 1 cm sel induk mikrospora
(2n) mengalami meiosis (mikrosporogenesis) menghasilkan tetrad mikrospora (n). Pada saat
meiosis terjadi pembentukan dinding kalosa yang memisahkan mikrospora pada susunan
tetrad mikrospora.
5. Antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 1,2 cm

Keterangan: im: inti mikrosopra, dm: dinding mikrospora, v: vakuola


Pada antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 1,2 cm sudah terlihat
jelas inti mikrospora, dinding mikrospora, dan vakuola. Dinding mikrospora semakin
menebal, antar mikrospora sudah semakin memisah, diikuti dengan vakuolisasi, serta
perpindahan inti mikrospora dari tengah menuju ke bagian yang berdekatan dengan dinding
sel.

6. Antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 1,5 cm

Keterangan: dm: dinding mikrospora, v: vakuola, im: inti mikrospora, t: tapetum


Pada antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 1,5 cm, tapetum masih
terlihat namun sudah mulai menghilang, epidermis sudah mulai tidak utuh lagi, inti
mikrospora sudah sepenuhnya berpindah ke pinggir atau tepi.
7. Antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 1,8 cm

Keterangan: t: tapetum, v: vakuola, ig: inti generatif, iv: inti vegetatif


Pada antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 1,8 cm inti mikrospora
sudah membelah menjadi dua sel, yaitu sel vegetatif dan sel generatif. Sel vegetatif lebih
besar daripada sel generatif dan terletak di bagian tengah, sel generatif letaknya di dekat
dinding sel. Masih terdapat tapetum namun sudah mulai menghilang.

8. Antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 3 cm

Keterangan: ep: epidermis, en: endotesium, t: tapetum, st: stomium, pn: polen
Pada antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 3 cm dapat dilihat
epidermis, endotesium, tapetum, stomium, dan polen. Tapetum terlihat masih tertinggal
sedikit dan hampir menghilang. Bahan penebalan dinding serbuk sari menurut Bhojwani dan
Bhatnagar (1978) selain dihasilkan dari aktivitas protoplasma mikrospora juga diperoleh dari
sekresi sel-sel tapetum. Hal ini bisa ditunjukkan bahwa pada saat serbuk sari masak dengan
tebal dinding maksimal, keberadaan sel tapetum semakin tidak nyata. Dan pada saat antera
masak lapisan tapetum hanya tinggal sisa-sisa dinding yang menempel pada dinding di
sebelah luarnya (endotesium).
Pada tahap ini sel vegetatif melanjutkan pertumbuhan. Organela sel bertambah
jumlah dan ukurannya, sedangkan vakuola kian menghilang. Sel generatif membelah secara
mitosis menghasilkan dua sel sperma. Sperma bisa dibentuk di dalam antera ataupun setelah
keluar antera. Jika sperma dibentukk sebelum polen keluar antera, maka polen akan dilepas
pada stadium tiga sel. Jika sperma terbentuk setelah keluar antera, maka polen dilepas dalam
keadaan dua sel. Umumnya pembelahan sel generatif terjadi setelah buluh polen menembus
stigma atau setelah mencapai kantong embrio (kantong lembaga).
Pada dinding kotak sari terdapat lapisan sel yang akan mengalami diferensiensi
lanjutan, atau bila tiba saatnya perkembangan selanjutnya akan berhenti. Lapisan sel tersebut
dinamakan stomium. Daerah stomium ini merupakan titik yang lemah, yaitu tempat
terpecahnya dinding kotak sarai. Di sebelah dalam lapisan stomium ternyta masih memiliki
sifat parenkimatis sehingga masih terdapat pertumbuhan.

9. Antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 4-5 cm

Keterangan: ep: epidermis, en: endotesium, st: stomium, pn: polen


Pada antera kuncup bunga Passiflora vitifolia Kunth.ukuran 4-5 cm dapat
ditemukan epidermis, endotesium, polen, dan stomium. Terlihat bahwa sebelum pecah, pada
dua ruangan pada setiap antera akan bergabung menjadi satu. Tapetum sudah sepenuhnya
menghilang dan sebagian besar polen sudah dibebaskan. Karena perbedaan tekanan akaibat
perbedaan tekanan akibat perbedaan pertumbuhan di bagian luar dan bagian dalam stomium
mengakibatkan lapisan itu pecah dan tepung sari berhamburan ke luar (Ashari, 1998).
I. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum Perkembangan Alat Reproduksi Jantan Angiospermae bunga
markisa (Passiflora vitifolia Kunth.), maka dapat dirarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Mengamati struktur dan perkembangan antera.
Sampel bunga markisa (Passiflora vitifolia Kunth.) yang terdiri dari 10 variabel
mulai dari kuncup sampai bunga mekar yang berasal dari tanaman yang sama maupun
tanaman yang berbeda diambil dan diukur panjangnya. Ukuran dari masing-masing sampel
yaitu mulai dari 1 mm; 2 mm; 4 mm; 5-7 mm; 1 cm; 1,2 cm; 1,5 cm; 1,8 cm; 3 cm; dan 4-
5 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anatomi antera pada masing-masing ukuran
kuncup sampai bunga mekar memiliki fase perkembangan yang berbeda. Pada ukuran
kuncup 1 mm sel-sel masih homogen. Pada fase tersebut ditemukan epidermis, sel parietal
primer, sel sporogen primer, dan sel arkesporial. Kemudian membelah dan sudah mulai
membentuk lekukan sehingga akan nampak bentuk akhir, tiap sudut pada potongan antera
akan terbentuk ruangan kantong sari. Pada kuncup 2 mm dan 4 mm memiliki struktur antera
yang sama yang tersusun atas sel-sel parenkimatis yang homogen dan dikelilingi oleh
epidermis. Mikrosporangianya sudah telihat jelas dengan membentuk empat ruang (lokuli).
Namun mikrospora masih tersusun dengan rapat hal itu dikarenakan sel-sel sporogen masih
belum membelah secara maksimal menjadi sel-sel induk mikrospora. Lapisan dinding
antera juga sudah terlihat, yang terdiri dari epidermis, lapisan tengah, endotesium, dan
tapetum, serta sudah terdapat sel sporogen sekunder. Pada kuncup ukuran 5-7 mm
mikrospora yang berada dalam mikrosporangia susunannya sudah renggang dan sebagian
sudah tidak berlekatan, sehingga berhamburan keluar dari mikrosporangia. Pada ukuran
kuncup 1 cm sel induk mikrospora (2n) mengalami meiosis (mikrosporogenesis)
menghasilkan tetrad mikrospora (n). Pada saat meiosis terjadi pembentukan dinding kalosa
yang memisahkan mikrospora pada susunan tetrad mikrospora. Pada kuncup 1,2 cm cm
sudah terlihat jelas inti mikrospora, dinding mikrospora, dan vakuola. Pada kuncup ukuran
1,5 cm, tapetum masih terlihat namun sudah mulai menghilang, epidermis sudah mulai
tidak utuh lagi, inti mikrospora sudah sepenuhnya berpindah ke pinggir atau tepi. Pada
kuncup 1,8 cm inti mikrospora sudah membelah menjadi dua sel, yaitu sel vegetatif dan sel
generatif. Pada kuncup 3 cm, dapat dilihat epidermis, endotesium, tapetum, stomium, dan
polen. Tapetum terlihat masih tertinggal sedikit dan hampir menghilang. Pada tahap ini
sudah tidak terlihat lagi sel vegetatif dan sel generatif. Sel vegetatif melanjutkan
pertumbuhan. Sel generatif membelah secara mitosis menghasilkan dua sel sperma. Pada
dinding kotak sari terdapat lapisan sel yang akan mengalami diferensiensi lanjutan, atau
bila tiba saatnya perkembangan selanjutnya akan berhenti. Lapisan sel tersebut dinamakan
stomium. Terakhir pada bunga mekar ukuraan 4-5 cm, dapat ditemukan epidermis,
endotesium, polen, dan stomium. Terlihat bahwa sebelum pecah, pada dua ruangan pada
setiap antera akan bergabung menjadi satu. Tapetum sudah sepenuhnya menghilang dan
sebagian besar polen sudah dibebaskan.
2. Mengamati perkembangan mikrospora.
Mikrospora adalah tahap awal dari serbuk sari atau struktur muda dari serbuk
sari. Mikrospora terdapat di dalam serbuk sari tepatnya di dalam mikrosporangium.
Terjadinya mikrospora melalui pembelahan meiosis, yang terdiri atas dua tahap.
Tahap pertama, pembelahan meiosis I, merupakan pembelahan reduksi karena dari 1
sel dengan 2n kromosom menjadi 2 sel dengan jumlah kromosom tereduksi menjadi n
kromosom. Pembelahan tahap kedua adalah pembelahan mitosis, yaitu dari satu sel
dengan n kromosom menjadi 2 sel dengan n kromosom, sehingga pembelahan reduksi
dari 1 sel dengan 2n kromosom menjadi 4 sel dengan n kromosom (Suryowinoto,
1990).
Perkembangan mikrospora diawali dengan pembelahan meiosis pada polen
mother cell menjadi empat (tetrad) mikrospora haploid (Kasha et.,al, 2001). Menurut
Reynold & Raghavan (1982) dalam Wahyuni & Indrianto (2004) ada empat tahapan
utama perkembangan mikrospora, yaitu sel induk mikrospora, tetrad, uninukleat, dan
binukleat
3. Mengamati morfologi serbuk sari
Bentuk serbuk sari dari bunga markisa (Passiflora vitifolia Kunth.) adalah tunggal
(monad).

J. Diskusi
1. Bagaimana susunan tetrad mikrospora pada Passiflora vitifolia Kunth.?
Jawab: Susunan tetrad mikrospora pada Passiflora vitifolia Kunth. adalah berbentuk
tetrahedral yang berisi empat calon serbuk sari. Tetrad mikrospora pada Passiflora
vitifolia Kunth. nampak depan seperti hanya berjumlah tiga, namun sebenarnya empat
dimana satu yang lainnya berada di belakang.
2. Mengapa antera tetrasporangiat yang sudah tua sebelum pecah/membuka hanya
memperlihatkan dua ruang sari?
Jawab: Pada sejumlah tumbuhan, saat antera masak (sebelum pecah atau membuka),
batas antara kedua kantung serbuk sari tiap belahan mengalami kerusakan sehingga antera
tetrasporangiat hanya memperlihatkan dua ruang serbuk sari.
3. Serbuk sari masak pada Passiflora vitifolia Kunth. berupa butir tunggal, tetrad, atau
poliad?
Jawab: Berupa butir tunggal (monad)

K. Tugas Mahasiswa
1. Buatlah skema terbentuknya lapisan-lapisan dinding antera dan sel induk mikrospora dari
preparat-preparat yang saudara amati!
Jawab:
2. Bagaimana membedakan serbuk sari tunggal (monad), tetrad, polinia dan polinaria?
Lengkapi penjelasan menggunakan gambar!
Jawab: Unit polen terbagi menjadi beberapa yaitu bentuk monad (tunggal), diad (ganda
dua), tetrad (ganda empat), dan polyad (banyak atau gerombol). Polen monad merupakan
polen yang berbentuk tunggal atau saling bebas satu sama lainnya (soliter) (Mikaf, 2013).
Serbuk sari tetrad berbentuk ganda empat yang saling melekat. Serbuk sari polinia
a. Monad (Tunggal)

b. Tetrad

c. Polinia
d. Polinaria

L. Daftar Pustaka
Adi Yudianto, Suroso.1992. Pengantar Cryptogamae (Sistemik Tumbuhan Rendah). Penerbit
Tarsiti Bandung.
Ashari, S. 2004. Biologi Reproduksi Tanaman Buah-Buahan Komersial. Malang. Bayumedia
Publishing. 202 hal.
Foster, A.S., and Gifford, E.M. 1973. Comparative Morphology of Vascular Plants. Second
Edition. San Francisco: W.H. Freeman and Company.
Gembong Tjitrosoepomo. (2011). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Loveless, A.R. (1999). Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik 2. Jakarta:
PT Gramedia.
Maheshwari, P. 1950. An Introduction to the Embryology of Angiosperma. First ed. Mc Graw
Hill Book Co. Inc. New York.
Suryowinoto, S. M. 1990. Petunjuk Laboratorium Pemuliaan Tanaman Secara In Vitro.
Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Wahyuni, K. D, dan Indrianto, A. 2004. Kandungan Amilum Mikrospora Anggrek
Dendrobium anita Selama Ontogeni Bunga dan Androgenesis. Sains dan
Sibernatika. Berkala Penelitian Pascasarjanna Ilmu-Ilmu Sains. Universitas
Gajah Mada. Yogyakarta.

Anda mungkin juga menyukai