Anda di halaman 1dari 13

Proposal Group Project Fisiologi Tumbuhan

Pengaruh Penanaman Arachis hypogea Terhadap Kesuburan Tanah


dan Laju Pertumbuhan Tanaman Lactuca sativa

Disusun oleh :

Retno Murniasih (19308141017)

Zain Almas Mazin Herdikaryanto (19308141030)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2020
BAB 1 : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesuburan Tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk
tanaman yang diinginkan, pada lingkungan tempat tanah itu berada. Tanah yang
memiliki tingkat kesuburan yang tinggi akan meningkatkan tingkat produktivitas dari
tanaman, segitupun sebaliknya.
Kacang merupakan tumbuhan yang masuk dalam salah satu komoditi di
Indonesia. Perlu diketahui bahwasannya tananam satu ini dapat mempengaruhi
kesuburan tanah. Hal ini disebabkan karena kacang tanah dapat melakukan simbiosis
menggunakan sel tumbuhan terhadap sebuah rhizobium, hasil dari simbiosis yang
dihasilkan adalah sebuah nodul dan nodul yang dihasilkan akan memproses
kandungan nitrogen secara bebas dari sebuah atmosfer menjadi sebuah bentuk yang
nantinya dapat digunakan.

Nantinya kacang tanah akan memberikan timbal balik dengan memberikan


asupan makanan bagi bakteri dengan protein, gula serta oksigen. Saat nodul pada akar
melakukan proses pemberian nitrogen bebas dari sebuah atmosfer dan kandungan
nitrogen dalam suatu tanahpun akan meningkat dengan sendirinya. Tanah yang
banyak mangandung nitrogen akan memiliki banyak kandungan humus yang nantinya
akan membuat kondisi tanah menjadi tanah yang subur. Dengan penjelasan diatas
maka tak heran bahwa tanah yang ditanami kacang tanah akan menjadi tanah yang
subur.

Selada (Lactuca sativa L) merupakan salah satu komoditi hortikultura yang


memiliki prospek dan nilai komersial yang cukup baik. Semakin bertambahnya
jumlah penduduk Indonesia serta meningkatnya kesadaran penduduk akan kebutuhan
gizi menyebabkan bertambahnya permintaan akan sayuran. Kandungan gizi pada
sayuran terutama vitamin dan mineral tidak dapat disubtitusi melalui makanan pokok,
Nazaruddin (2003).

Sedangkan selada merupakan tanaman yang akan digunakan untuk


mengetahui tingkat kesuburan tanah yang ditanam pada tanah bersama dengan
penanaman kacang tanah.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah penanaman kacang tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah?
2. Apakah perbedaan laju pertumbuhan tanaman selada yang ditanam di tanah yang
ada di sekitar tanaman kacang tanah dengan tanaman selada yang ditanam di tanah
yang tidak ditumbuhi tanaman kacang tanah?
C. Tujuan
1. Dapat mengetahui apakah penanaman kacang tanah dapat meningkatkan
kesuburan tanah.
2. Dapat mengetahui perbedaan laju pertumbuhan tanaman selada yang ditanam di
tanah yang ada di sekitar tanaman kacang tanah dengan tanaman selada yang
ditanam di tanah yang tidak ditumbuhi tanaman kacang tanah.
BAB II : KAJIAN TEORI
A. Dasar Teori
1. Kacang Tanah (Arachis hypogaea)
Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanamanpolong-
polongan atau legum dari famili Fabaceae, kedua terpenting setelah kedelai di
Indonesia. Kacang tanah merupakan sejenis tanaman tropika. Ia tumbuh secara
perdu setinggi 30 hingga 50 cm (1 hingga 1½ kaki) dan mengeluarkan daun-daun
kecil. Tanaman ini adalah satu di antara dua jenis tanaman budidaya selain kacang
bogor (Voandziea subterrane) yang buahnya mengalami pemasakan di bawah
permukaan tanah (Anonim, 2016).
Tanaman kacang tanah pada dasarnya dapat ditanam hampir di semua jenis
tanah, mulai tanah bertekstur ringan (berpasir), bertekstur sedang (lempung
berpasir), hingga bertekstur berat (lempung). Namun, tanah yang paling sesuai
untuk tanaman kacang tanah adalah yang bertekstur ringan dan sedang. Saat ini,
sebagian besar (lebih dari 500.000 hektar) budidaya kacang tanah di Indonesia
dilakukan di tanah Alfisol. Budidaya kacang tanah di beberapa daerah
menghadapi kendala berupa pH tanah yang tinggi (alkalis) yang banyak tersebar
di daerah sekitar gunung kapur, seperti di pantai utara dan bagian selatan Jawa
Timur dan Jawa Tengah dan DIY (Anonim, 2016).

Kacang tanah merupakan salah satu komoditas palawija yang mempunyai


nilai ekonomi tinggi dalam usaha pertanian. Kebutuhan akan kacang tanah
(Arachis hypogaea L.) sebagai salah satu produk pertanian tanaman pangan
setahun, diduga masih perlu ditingkatkan sejalan dengan kenaikan pendapatan dan
atau jumlah penduduk. Kemungkinan terjadinya peningkatan permintaan
dicerminkan dari adanya kecendrungan meningkatnya kebutuhan untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi langsung dan untuk memenuhi kebutuhan pasokan bahan
baku industri hilirnya, antara lain untuk industri kacang kering, industri produk
olahan lain yang siap dikonsumsi baik dalam bentuk asal olahan kacang, dalam
campuran makanan dan dalam bentuk pasta. (awal menurut Tajibu, T. 2013.
Kacang Tanah).
Sebagai tanaman budidaya, kacang tanah terutama dipanen bijinya yang
kaya protein dan lemak. Biji ini dapat dimakan mentah, direbus (di dalam
polongnya), digoreng atau disangrai. Di Amerika Serikat, biji kacang tanah
diproses menjadi semacam selai dan merupakan industri pangan yang
menguntungkan. Produksi minyak kacang tanah mencapai sekitar 10% pasaran
minyak masak dunia pada tahun 2003 menurut FAO. Selain dipanen biji
atau polongnya, kacang tanah juga dipanen hijauannya (daun dan batang) untuk
makanan ternak atau merupakan pupuk hijau (Anonim, 2016).
2. Selada (Lactuca sativa L.)
Selada (Lactuca sativa L.) adalah tanaman yang termasuk dalam famili
Compositae (Sunarjono, 2014). Sebagian besar selada dimakan dalam keadaan
mentah. Selada merupakan sayuran yang populer karena memiliki warna, tekstur,
serta aroma yang menyegarkan tampilan makanan. Tanaman ini merupakan
tanaman setahun yang dapat di budidayakan di daerah lembab, dingin, dataran
rendah maupun dataran tinggi. Pada dataran tinggi yang beriklim lembab
produktivitas selada cukup baik. Di daerah pegunungan tanaman selada dapat
membentuk bulatan krop yang besar sedangkan pada daerah dataran rendah, daun
selada berbentuk krop kecil dan berbunga (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Selada memiliki banyak manfaat antara lain dapat memperbaiki organ
dalam, mencegah panas dalam, melancarkan metabolisme, membantu menjaga
kesehatan rambut, mencegah kulit menjadi kering, dan dapat mengobati insomia.
Kandungan gizi yang terdapat pada selada adalah serat, provitamin A (karotenoid),
kalium dan kalsium (Supriati dan Herliana, 2014). Sebagian besar selada
dikonsumsi mentah dan merupakan komponen utama dalam pembuatan salad,
karena mempunyai kandungan air tinggi tetapi karbohidrat dan protein rendah
(Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
3. Pupuk Hayati
Pupuk hayati adalah nama kolektif untuk semua kelompok fungsional mikroba
tanah yang dapat berfungsi sebagai penyedia hara dalam tanah, sehingga dapat
tersedia bagi tanaman. Pemakaian istilah ini relatif baru dibandingkan dengan saat
penggunaan salah satu jenis pupuk hayati komersial pertama di dunia yaitu
inokulan Rhizobium yang sudah lebih dari 100 tahun yang lalu (Suriadikarta dan
Simanungkalit, 2006).
Rao dalam Lasrin (1977) mendefinisikan pupuk hayati sebagai bahan yang
mengandung sel hidup atau galur sel mikroba yang memiliki kemampuan untuk
menambat nitrogen maupun fosfat yang sukar larut. Penggunaan pupuk ini
biasanya dicampur dengan benih, tanah atau dengan kompos. Pengertian lain dari
pupuk hayati adalah bahan yang mengandung mikroba dan bermanfaat untuk
meningkatkan kesuburan tanah serta membantu pertumbuhan tanaman melalui
peningkatan aktivitas mikroba di dalam tanah. Kemungkinan penggunaan pupuk
hayati sebagai pengganti penggunaan pupuk kimiawi di Indonesia bukan
merupakan sesuatu yang mustahil di masa-masa mendatang (Supardan, 1996).
Rao (1986) menganggap sebenarnya pemakaian inokulan mikroba lebih tepat
dari istilah pupuk hayati. Definisi pupuk hayati adalah sebagai preparasi yang
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga Skripsi Kajian Aplikasi Pupuk Hayati
Dalam Meningkatkan Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Hijau (Vigna
radiata L.) Pada Polybag. Wilda Chusnia 9 mengandung sel-sel dari strain-strain
efektif mikroba penambat nitrogen, pelarut fosfat atau selulolitik yang digunakan
pada biji, tanah atau tempat pengomposan dengan tujuan meningkatkan jumlah
mikroba tersebut dan mempercepat proses mikrobial tertentu untuk menambah
banyak ketersediaan hara dalam bentuk tersedia yang dapat diasimilasi tanaman.
4. Bakteri Rhizobium sp.
Rhizobium sp. adalah bakteri tanah yang memiliki karakter yang unik yaitu
dapat hidup bersimbiosis pada akar tanaman Leguminosae dengan membentuk
bintil akar dan melakukan proses penambatan nitrogen (Suprapto, 1992). Bentuk
selnya batang dengan ukuran 0.5-0.9 x 1.2-3.0 µm, tidak membentuk spora,
bergerak bebas dengan menggunakan flagela, bersifat aerob, tumbuh baik pada
suhu 25-300C dan pH 6-7 (Bergey’s 1984).
Sejak orang mengetahui manfaat simbiosis Rhizobium sp. dengan tanaman
legum dalam memfiksasi N bebas di udara, penelitian-penelitian dalam bidang
fiksasi N secara biologis terus berkembang. Penelitian dilakukan untuk mencari
alternatif sumber N sehubungan dengan peningkatan produksi tanaman yang aman
dan ramah lingkungan. Kemampuan bakteri Rhizobium sp. mampu memberikan
unsur nitrogen dalam bentuk asam amino terhadap tanaman kedelai. Bakteri
Rhizobium sp. yang menginfeksi perakaran tanaman membentuk bintil akar
sebagai tempat tinggal dalam melaksanakan proses penambatan N dan dalam
hidupnya bakteri mendapatkan nutrisi dan energi dari hasil metabolisme tanaman
(Suharjo & Joko, 2001).
Penggunaan inokulan dapat memperbaiki kesuburan dan keseimbangan
hara dalam tanah. Penggunaan inokulan juga mampu meningkatkan kandungan
unsur N tanah total hingga 20% sehingga hasil produksi kedelai dapat
ditingkatkan hingga 30-45% bahkan pada tanah yang kurang subur produksi
kedelai mampu meningkat hingga 50% (Laporan kegiatan kedelai plus, 2005).
Menurut Sutanto (2002), bakteri Rhizobium sp. yang berasosiasi dengan
tanaman legum mampu memfiksasi 100-300 kg N / ha dalam satu musim tanam
dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. Permasalahan yang
perlu diperhatikan agar proses simbiosis dapat terjadi adalah kecocokan bakteri
Rhizobium sp. dengan tanaman inangnya. Beberapa faktor lain seperti pH tanah,
suhu, sinar matahari, ketersediaan unsur hara untuk aktifitas bakteri Rhizobium sp.
Inokulasi bakteri Rhizobium sp. pada benih (seperti produk legin) biasa
digunakan di Indonesia. Beberapa metode aplikasi bakteri Rhizobium sp. yaitu
pelapisan benih dan metode tepung inokulan. Aplikasi pelapisan pada benih
misalnya benih kedelai dibasahi dengan air secukupnya kemudian diberikan
bubuk bakteri Rhizobium sp. sehingga inokulan menempel pada permukaan benih.
Aktifitas bakteri Rhizobium sp. terjadi pada saat akar terinfeksi kemudian
membentuk bintil akar. Pembentukkan bintil akar terjadi 15 - 20 hari setelah
tanam (Adisarwanto, 2005).

B. Hipotesis
1. Tanaman selada yang ditanam dengan tanah bekas menanam kacang cenderung
akan tumbuh lebih subur dan sehat.
BAB III : METODE

A. Waktu dan Tempat Praktikum


1. Waktu :
2. Tempat : Green House Jurdik Biologi FMIPA UNY
B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi : Tanaman Selada
Menurut Arikunto (2006: 130) “populasi adalah keseluruhan objek
penelitian”. Penelitian hanya dapat dilakukan bagi populasi terhingga dan
subyeknya tidak terlalu banyak.
Populasi dalam penelitian ini adalah 6 bibit selada (Lactuca sativa). Peneliti
memilih bibit selada (Lactuca sativa) dikarenakan 6 bibit selada adalah jumlah
kesuluruhan objek dalam penelitian ini, yang akan menjadi variabel terikat, yaitu
dengan diamati dan dibandingkan pengaruh laju pertumbuhannya antara yang
ditanam di tanah bekas tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea) maupun yang
tidak.
2. Sampel
Menurut Sugiyono (2008: 118) “sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Namun dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan penelitian populasi dengan menggunakan seluruh populasi
bibit tanaman selada yang berjumlah 6 sebagai sampel seperti menurut teori yang
dikemukakan oleh Arikunto (2006: 134) “apabila jumlah subyeknya kurang dari
100, maka lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian
populasi, tetapi apabila jumlahnya lebih besar maka diambil sebanyak 10-15 %
atau 20-25 % atau lebih”.
C. Variabel dan Parameter
1. Variabel bebas
Variabel bebas (independen variabel) adalah variabel yang dalam sebuah
penelitian dijadikan penyebab atau berfungsi mempengaruhi variabel terikat.
Dengan kata lain, tinggi rendahnya nilai pada variabel terikat dapat tergantung
dari tinggi rendahnya nilai variabel bebas (Setiyadi, 2006: 107).
Sedangkan menurut Sugiyono (2012: 39) variabel bebas adalah variabel yang
mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel
dependen (variabel terikat). Variabel bebas biasanya dilambangkan dengan huruf
X.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kacang tanah (Arachis hypogaea),
karena dalam akar kacang tanah terjadi simbiosis dengan bakteri Rhizobium yang
akan menghasilkan senyawa Nitrogen sebagai pupuk hayati yang dapat
menyuburkan tanah. Sehingga dapat mempengaruhi laju pertumbuhan tanaman
selada sebagai variabel terikat.
2. Variabel terikat
Variabel terikat (dependen variabel) adalah variabel utama dalam sebuah
penelitian. Variabel ini akan diukur setelah semua pelakuan dalam penelitian
selesai dilaksanakan (Setiyadi, 2006: 106).
Sedangkan menurut Sugiyono (2012: 39) variabel terikat adalah variabel yang
dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel
terikat biasanya dilambangkan dengan huruf Y.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah laju pertumbuhan tanaman selada
karena tanaman selada berperan sebagai obyek yang akan dipengaruhi oleh pupuk
hayati berupa senyawa Nitrogen sebagai penyubur tanah yang dihasilkan dari
simbiosis antara bakteri Rhizobium dengan akat tanaman kacang tanah.
3. Variabel kontrol
Variabel kontrol adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan
memperlemah) hubungan antara variabel independen (bebas) dengan dependen
(terikat). Variabel ini disebut juga variabel independen kedua (Sugiyono, 2012:
39).
Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah kadar air dan intensitas cahaya
matahari karena dua elemen tersebut juga akan mempengaruhi tingkat laju tinggi
rendahnya pertumbuhan tanaman selada selain komponen utama yaitu tanaman
kacang tanah sebagai variabel bebas.
D. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Pot 3 buah
b. Cetok 1 buah
2. Bahan
a. Tanah secukupnya
b. 3 tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea)
c. 6 bibit selada (Lactuca sativa L.)
d. Air sebanyak 3 liter
E. Prosedur Penelitian
1. Persiapan penanaman tanaman Arachis hypogaea
a. Tiga tanaman Arachis hypogaea disiapkan.
b. Tiga buah media ditanami dengan ketentuan sebagai berikut
Media 1 = 2 tanaman Arachis hypogaea
Media 2 = 1 tanaman Arachis hypogaea
Media 3 = tanpa tanaman Arachis hypogaea
2. Perawatan tanaman Arachis hypogaea
a. Tanaman Arachis hypogaea ditempatkan di tempat dengan intensitas cahaya
cukup.
b. Tanaman Arachis hypogaea disiram 2 hari sekali.
c. Setelah 10 hari, tanaman Arachis hypogaea dicabut.
3. Penanaman tanaman Lactuca sativa
a. 6 bibit Lactuca sativa disiapkan
b. Bibit tersebut ditanam dengan ketentuan sebagai berikut :
Media 1 = pada tanah bekas 2 tanaman Arachis hypogaea
Media 2 = pada tanah bekas 1 tanaman Arachis hypogaea
Media 3 = pada tanah tanpa tanaman Arachis hypogaea
4. Perawatan tanaman Lactuca sativa
a. Tanaman ditempatkan di tempat dengan intensitas cahaya cukup
b. Tanaman Lactuca sativa disiram 2 hari sekali
5. Pengambilan data
a. Tanaman diamati selama 15 Hari
b. Tanaman dengan media yang berbeda dibandingkan tingkat kesuburannya.

F. Teknik Analisis Data


Teknik analisa data merupakan suatu langkah yang paling menentukan dari
suatu penelitian, karena analisa data berfungsi untuk menyimpulkan hasil  penelitian.
Analisis data dapat dilakukan melalui tahap berikut ini : 
1. Tahap Penelitian 
a. Perencanaan 
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 
1) Hipotesis dibuat untuk dibuktikan pada penelitian yang akan dilakukan.
2) Langkah Langkah dibuat untuk penelitian yang akan digunakan.
b. Pelaksanaan 
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 
1) Penelitian dilaksanakan sesuai dengan langkah -langkah yang telah disusun.
Setelah itu dilakukan uji coba dan menganalisis hasil Penelitian .
c. Evaluasi 
Pada tahap ini, dilakukan analisis Dan pengolahan data yang telah
dikumpulkan dengan metode yang telah ditentukan.
d. Penyusunan Laporan 
Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah menyusun
dan melaporkan hasil-hasil penelitian.
Daftar Pustaka

Adisarwanto,T. 2005. Budidaya dengan Pemupukkan yang efektif dan Pengoptimalan


Kedelai. Penebar Swadaya. Jakarta.

Agustinus Bambang Setiyadi. (2006). Metode Penelitian untuk Pengajaran. Bahasa Asing


Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif. Graha Ilmu.

Anonim. 2016/02/9/.http://agroteknologi.web.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanamankacang-tanah/. Diakses


pada tanggal 1 Juni 2016.

Arikunto (2006:130), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Bergey’s Manual of Systematic Bacteriology. 1984. Williams & Wilkins, Baltimore London.

Laporan Kegiatan Kedelai Plus. 2005. Pusat Penelitian Bioteknologi. LIPI. Cibinong.

Lasrin, H. 1997. Ketahanan Hidup Azotobacter Penambat Nitrogen pada Berbagai Bahan
Pembawa Serta Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea Mays).
Skripsi Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian IPB.

Nazaruddin, 2003. Budidaya dan Pengantar Panen Sayuran Dataran Rendah. Penebar
Swadaya. Jakarta. 142 hal.

Rao, N. S. 1982. Biofertilizers in Agriculture. Oxford & IBH Publishing Co. Oxford.

Rubatzky, V.E., dan Ma Yamaguchi, 1998, Sayuran Dunia : Prinsip, Produksi dan Gizi Jilid
II, ITB, Bandung. 200 hal

Sugiyono, (2008). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung Alfabeta.

Suharjo, Usman., Kris Joko. 2001. Efektifitas Nodulasi Rhizobium japonicum Pada Kedelai
Yang Tumbuh di Tanah sisa Inokulasi dan Tanah dengan Inokulasi Tambahan. Jurnal
Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia. 3(1): 31-35.

Sunarjono, H. 2014. Bertanam 36 Jenis Sayuran. Penebar Swadaya. Jakarta. 204 hal.

Supardan, 1996, Ilmu, Teknologi dan Etika, Gunung Mulia, Jakarta.

Suprapto, H.S. 1992. Bertanam Kedelai. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.

Supriati, Y dan E. Herlina. 2014. 15 Sayuran Organik Dalam Pot. Penebar Swadaya. Jakarta.
148 hal.

Suriadikarta, Didi Ardi., Simanungkalit, R.D.M. (2006).Pupuk Organik dan Pupuk Hayati.
Jawa Barat: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
Hal 2. ISBN 978-979- 9474-57-5.
Sutanto, R., 2002. Penerapan Pertanian Organik. Permasyarakatan dan Pengembangannya.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Tajibu, T. 2013. Kacanag Tanah. Budidaya Tanaman Kacang Tanah. Diakses pada tanggal 4 Mei 2016.

Anda mungkin juga menyukai