Anda di halaman 1dari 2

Bagaimana cara manajer mengukur ketidakpastian pada KVL?

Dua konsep yang bermanfaat bagi manajemen adalah marjin pengaman (margin of safety) dan
pengungkit operasi (degree of operating leverage). Kedua konsep ini dapat dipertimbangkan untuk
mengukur risiko. Masingmasing konsep mensyaratkan pengetahuan mengenai kos tetap dan kos
variabel.

A. Margin Pengaman (Margin of Safety)


Marjin pengaman adalah unit terjual atau diharapkan untuk terjual atau pendapatan yang dihasilkan
atau diharapkan untuk dihasilkan yang melebihi volume titik impas.
1. Margin Pengaman (Unit) = Proyeksi Unit Terjual – titik impas dalam unit.
2. Margin pengaman (Rp) = Proyeksi Pendapatan – titik impas dalam Rupiah
3. Rasio margin pengaman = Margin pengaman / pendapatan
Sebagai contoh, jika volume pada titik impas perusahaan adalah 200 unit dan perusahaan saat ini
menjual 500 unit. Maka marjin pengaman adalah 300 unit (500 – 200). Marjin pengaman juga dapat
dinyatakan dalam pendapatan penjualan. Jika volume titik impas adalah Rp20.000 dan pendapatan
saat ini adalah Rp350.000 maka marjin pengamannya adalah Rp150.000. Marjin pengaman dapat
dipandang sebagai ukuran kasar risiko.
Dalam kenyataannya selalu muncul peristiwa yang tidak diketahui ketika rencana disusun, yang
dapat menurunkan penjualan di bawah jumlah yang diharapkan. Jika marjin pengaman perusahaan
adalah besaran atas penjualan tertentu yang diharapkan di tahun depan, maka risiko menderita
kerugian apabila penjualan mengalami penurunan akan lebih kecil dibandingkan jika marjin
pengamanannya kecil. Manajer yang mengalami marjin yang rendah mungkin ingin
mempertimbangkan berbagai tindakan untuk meningkatkan penjualan atau mengurangi Kos.
Langkah-langkah tersebut akan meningkatkan marjin pengaman dan mengurangi risiko menderita
kerugian.

B. Pengungkit Operasi (Degree of Operating Leverage)


Dalam bidang keuangan, pengungkit operasi berkaitan dengan bauran relatif dari kos tetap dan kos
variabel suatu organisasi. Terkadang pertukaran kos tetap dengan kos variabel adalah suatu hal yang
mungkin untuk dilakukan. Pada saat kos variabel turun, marjin kontribusi per unit meningkat, yang
membuat kontribusi setiap unit yang dijual menjadi lebih tinggi. Dalam kasus demikian, fluktuasi
penjualan memiliki pengaruh yang meningkat atas profitabilitas. Jadi, perusahaan yang
merealisasikan kos variabel yang lebih rendah karena meningkatnya proporsi kos tetap, akan
menikmati kenaikan laba yang lebih besar pada saat penjualan meningkat dibandingkan dengan
perusahaan dengan proporsi kos tetap yang lebih rendah. Kos tetap digunakan sebagai pengungkit
untuk meningkatkan laba. Sayangnya, perusahaan dengan pengungkit operasi yang lebih tinggi juga
akan mengalami pengurangan laba yang lebih besar pada saat penjualan mengalami turun. Oleh
karena itu, pengungkit operasi merupakan penggunaan kos tetap untuk menciptakan perubahan
persentase laba yang lebih tinggi ketika aktivitas penjualan berubah. Semakin besar tingkat
pengungkit operasi, semakin banyak perubahan dalam aktivitas penjualan yang akan mempengaruhi
laba. Karena fenomena ini, bauran kos yang dipilih organisasi memiliki pengaruh yang berarti
terhadap risiko operasi terhadap tingkat laba. Tingkat Pengungkit Operasi untuk tingkat penjualan
tertentu dapat diukur dengan menggunakan rasio marjin kontribusi terhadap laba, sebagai berikut.
Tingkat pengungkit Operasi = Margin kontribusi/Laba
Jika kos tetap digunakan untuk mengurangi kos variabel sedemikian rupa sehingga margin kontribusi
meningkat dan laba menurun, maka tingkat pengungkit operasinya meningkat yang menandakan
adanya peningkatan risiko.
Tingkat operating leverage tersebut juga dapat digunakan untuk menghitung dampak kenaikan atau
penurunan penjualan terhadap laba operasi.
Laba setelah kenaikan adalah laba sebelum kenaikan + (DOL x % kenaikan x Laba sebelumnya).
Sumber: BMP EKMA4314 Akuntansi Manajemen Modul 4

Anda mungkin juga menyukai